Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGUE HEMORHAGIC FEVER (DHF)

Disusun Oleh :
HILMA ZAHRA
220112140510

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXIX


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2015

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DHF

A. Pengertian
Dengue Hemorhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh virus dengue dengan gejala demam tinggi mendadak disertai
manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan syock, nyeri otot dan
sendi dan kematian (Cristianti,1995). Penyakit ini ditularkan lewat nyamuk
Aides aegepty yang menbawa virus dengue (antropad bone virus) atau disebut
arbo virus.

B. Penyebab
Virus dengue tergolong dalam family Flaviviridae dan dikenal ada 4
serotipe. Dengue 1&2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia
II, sedangkan dengue 3 & 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun
1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitif
terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksilat, stabil pada suhu 700C
(Djamin, 2013).
Vektor utama dengue di Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti, di
samping pula Aedes albopictus. Vektor ini mepunyai ciri-ciri (Djamin,2013):
Badannya kecil, badannya mendatar saat hinggap.
Warnanya hitam dan belang-belang.
Menggigit pada siang hari.
Gemar hidup di tempat tempat yang gelap.
Jarak terbang <100 meter dan senang mengigit manusia.
Bersarang di bejana-bejana berisi air jernih dan tawar seperti bak mandi,
drum penampung air, kaleng bekas atau tempat-tempat yang berisi air
yang tidak bersentuhan dengan tanah.
Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk sekitar 10 hari.

C. Tanda dan gejala


Tanda dan gejala penyakit DHF adalah :
Adapun tanda dan gejala dari Demam dengue adalah (Khair, 2013):
Demam tinggi 5-7 hari.

Perdarahan, terutama perdarahan bawah kulit ; ptekie, ekhimosis,


hematoma.
Epistaksis, hematemesis, melena, hematuria.
Mual, muntah, tidak ada napsu makan, diare, konstipasi.
Nyeri otot, tulang dan sendi, abdomen dan ulu hati.
Sakit kepala.
Pembengkakan sekitar mata.
Pembesaran hati, limpa dan kelenjar getah bening.
Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah
menurun, gelisah, capillary reffil time lebih dari dua detik, nadi cepat dan
lemah).

Pada bayi dan anak-anak kecil biasanya berupa:


Demam disertai ruam-ruam makulopapular.
Pada anak-anak yang lebih besar dan dewasa, bisa dimulai dengan demam
ringan atau demam tinggi (>390C) yang tiba-tiba dan berlangsung selama
2 - 7 hari, disertai sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri sendi
dan otot, mual-muntah dan ruam-ruam.
Bintik-bintik perdarahan di kulit sering terjadi, kadang kadang disertai
bintik-bintik perdarahan di farings dan konjungtiva.
Penderita juga sering mengeluh nyeri menelan, tidak enak di ulu hati,
nyeri di tulang rusuk kanan dan nyeri seluruh perut.

Kadang-kadang demam mencapai 40 - 410C dan terjadi kejang demam


pada bayi.

D. Klasifikasi DHF menurut WHO


Derajat I
Derajat satu bisanya ditandai dengan demam mendadak 2-7 hari disertai
dengan gejala tidak khas dan manifestasi perdarahan yang dapat diuji
tourniquet positif.

Derajat II
Derajat I ditambah gejala perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain.

Derajat III
Derajat 2 ditambah dengan kegagalan sirkulasi ringan, yaitu nadi cepat dan
lemah, tekanan nadi menurun ( < 20 mmHg), hipotensi (systole < 80 mmHg)
disertai kulit yang dingin,lembab dan penderita menjadi gelisah.

Derajat IV
Derajat 3 ditambah syok berat dengan nadi yang takteraba dan tekanan darah
yang tak dapat diukur, dapat disertai dengan penurunan kesadaran, sianotik
dan asidosis.
Derajat 1 dan 2 disebut DHF tanpa renjatan,sedang 3 dan 4 disebut DHF
dengan renjatan atau DSS.

E. Pemeriksaan Diagnostik
-

Darah Lengkap = Hemokonsentrasi ( Hemaokrit meningkat 20 % atau


lebih ) Thrombocitopeni ( 100. 000/ mm3 atau kurang )

Serologi = Uji HI ( hemaaglutinaion Inhibition Test )

Rontgen Thorac = Effusi Pleura

F. Pathways

G. Penatalaksanaan
a. Derajat I dan II

Pemberian cairan yang cukup dengan infus RL dengan dosis 75 ml/kg


BB/hari untuk anak dengan berat badan kurang dari 10kg atau bersama
diberikan oralit, air buah atau susu secukupnya, atau pemberian cairan
dalam waktu 24 jam antara lain sebagai berikut :
1. 100 ml/kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 kg
2. 75 ml/kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 26-30 kg
3. 60 ml/kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 kg
4. 50 ml/kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 kg

Pemberian obat antibiotik apabila adanya infeksi sekunder

Pemberian antipiretik untuk menurunkan panas.

Apabila ada perdarahan hebat maka berikan darah 15 cc/kg BB/hari.

b. Derajat III

Pemberian cairan yang cukup dengan infus RL dengan dosis 20 ml/kg


BB/jam, apabila ada perbaikan lanjutkan peberian RL 10 m/kg
BB/jam, jika nadi dan tensi tidak stabil lanjutkan jumlah cairan
berdasarkan kebutuhan dalam waktu 24 jam dikurangi cairan yang
sudah masuk.

Pemberian plasma atau plasma ekspander (dekstran L ) sebanyak 10


ml/kg BB/jam dan dapat diulang maksimal 30 ml/ kg BB dalam 24
jam, apabila setelah 1 jam pemakaian RL 20 ml/kg BB/jam keadaan
tekanan darah kurang dari 80 mmHg dan nadi lemah, maka berikan
cairan yang cukup berupa infus RL dengan dosis 20 ml/kg BB/jam jika
baik lanjutkan RL sebagaimana perhitungan selanjutnya.

Apabila 1 jam pemberian 10 ml/kg BB/jam keadaan tensi masih


menurun dan dibawah 80 mmHg maka penderita harus mendapatkan
plasma ekspander sebanyak 10 ml/kgBB/jam diulang maksimal 30
mg /kg BB/24 jam bila baik lanjutkan RL sebagaimana perhitungan
diatas

c. Derajat IV

Pemberian cairan yang cukup dengan infus RL dengan dosis 30


ml/kgBB/jam, apabila keadaan tekanan darah baik, lanjutkann RL
sebanyak 10 ml/kgBB/jam.

Apabila keadaan tensi memburuk maka harus dipasang. 2 saluran


infuse dengan tujuan satu untuk RL 10 ml/kgbb/1jam dan satunya
pemberian

palasma

ekspander

atau

dextran

L sebanyak

20

ml/kgBB/jam selam 1 jam,

Apabila keadaan masih juga buruk, maka berikan plasma ekspander 20


ml/kgBB/jam,

Apabila masih tetap memburuk maka berikan plasma ekspander 10


ml/kgBB/jam diulangi maksimun 30 ml/kgBB/24jam.

Jika setelah 2 jam pemberian plasma dan RL tidak menunjukan


perbaikan maka konsultasikan kebagian anastesi untuk perlu tidaknya
dipasang central vaskuler pressure atau CVP.

H. Asuhan Keperawatan pada pasien DHF


Pengkajian
-

Kaji riwayat Keperawatan

Kaji adanya peningkatan suhu tubuh, tanda perdarahan , mual muntah,


tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan tanda tanda renjatan
( denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab,
terutama pada ekstremitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran )

10

Diagnosa Keperawatan
1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan infeksi
virus.
2. Nyeri berhubungan dengan gangguan metabolisme pembuluh darah
perifer.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada napsu makan.
4. Potensial terjadi perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.
5. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan
permeabilitas kapiler, muntah dan demam.
6. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan tubuh.
7. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak.

11

Rencana Intervensi Keperawatan


N
o
1

Diagnosa
Keperawatan
Peningkatan
suhu tubuh
(hipertermia)
berhubungan
dengan infeksi
virus.

Perencanaan
Intervensi

Tujuan
Tujuan: Anak menunjukkan

1. Observasi tanda-tanda vital : suhu,

tanda-tanda vital dalam batas

nadi, tensi dan pernapasan setiap 3

normal.

jam atau sering lagi.


2. Berikan

2.

penjelasan

mengenai

Kriteria

hasil:

penyebab demam atau peningkatan

Mendemonstrasikan

suhu

suhu tubuh.

dalam batas normal, bebas


dari kedinginan.

3. Berikan

3.
penjelasan

keluarga tentang

kepada

hal-hal

yang

dapat dilakukan untuk mengatasi


demam.
4. Catatlah

asupan

dan

keluaran

anak untuk

banyak

cairan.
5. Anjurkan

minum paling tidak 2,5 liter tiap


24 jam dan jelaskan manfaat bagi

12

1.

4.
5.

6.

Rasional
Suhu 38,9-41,1oc menunjukkan
proses penyakit infeksius akut.
Pola demam dapat membantu
dalam diagnosis.
Untuk memberikan
pengetahuan pemahaman
tentang penyebab dan
memberikan kesadaran
kebutuhan belajar.
Perubahan dapat lebih tampak
oleh orang terdekat, meskipun
adanya perubahan dapat dilihat
oleh orang lain yang jarang
kontak dengan pasien.
Untuk mengetahui
keseimbangan cairan baik
intake maupun output.
Untuk mempercepat proses
penguapan melalui urine dan
keringat, selain itu
dimaksudkan untuk mengganti
cairan tubuh yang hilang.
kompres air dingin dapat
memberikan efek vasodilatasi

anak.
6. Berikan

kompres

dingin

pada

daerah axila dan lipatan paha.


7. Anjurkan agar anak tidak memakai
selimut dari pakaian yang tebal.
8. Berikan terapi cairan intravena dan

pembululuh darah.
7. Untuk memudahkan dalam
proses penguapan.
8. Pemberian terapi cairan
intravena untuk mengganti
cairan yang hilang dan obatobatan sebagai preparat yang di
formulasikan untuk penurunan
panas.

obat-obatan sesuai dengan program


2

Nyeri
berhubungan
dengan
gangguan
metabolisme
pembuluh darah
perifer.

Tujuan
: Nyeri
berkurang atau terkontrol
Kriteria hasil : Anak tidak
menunjukkan tanda-tanda
nyeri

dokter.
1. Kaji tingkat nyeri yang dialami
anak dengan menggunakan skala
nyeri (0-10). Biarkan anak
memutuskan tingkat nyeri yang
dialami. Tipe nyeri yang dialami
dan respons anak terhadap nyeri.
2. Atur posisi yang nyaman dan
usahakan situasi yang tenang.
3. Ciptakan suasana yang gembira
pada anak, alihkan perhatian anak
dari rasa nyeri (libatkan keluarga)
misalnya: membaca buku,
mendengar musik, dan menonton
TV.
4. Berikan kesempatan pada anak
untuk berkomunikasi dengan

13

1. Mengindikasi kebutuhan untuk


intervensi dan juga tanda-tanda
perkembangan resolusi
komplikasi.
2. Posisi yang nyaman dan situasi
yang tenang dapat mengurangi
rasa nyeri atau mengurangi
stimulus nyeri.
3. Untuk mengurangi rasa nyeri
pada anak.
4. Dapat menguragi ansietas dan
rasa takut, sehingga
mengurangi persepsi akan
intensitas rasa sakit.
5. Memberikan penurunan
nyeri/tidak nyaman.

5.
3

Gangguan
pemenuhan
kebutuhan
nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh
berhubungan
dengan mual,
muntah, tidak
ada napsu
makan.

Tujuan
: Anak
menunjukkan tanda-tanda
kebutuhan nutrisi yang
adekuat.
Kriteria hasil
: Anak
mengkonsumsi jumlah
makanan yang adekuat.

1.
2.
3.

4.
5.
6.
7.
8.

teman-temannya atau orang


terdekat.
Berikan obat-obat analgetik
(kolaborasi dengan dokter).
Kaji keluhan mual, sakit menelan,
dan muntah yang dialami oleh
anak.
Berikan makanan yang mudah
ditelan, seperti bubur dan tim, serta
dihidangkan selagi masih hangat
Menganjurkan kepada orang tua
untuk memberikan makanan
dengan teknik porsi kecil tetapi
sering.
Menimbang berat badan setiap hari
pada waktu yang sama, dan dengan
skala yang sama.
Mempertahankan kebersihan mulut
pasien
Mempertahankan pentingnya
intake nutrisi yang adekuat untuk
penyembuhan penyakit.
Jelaskan pada keluarga manfaat
makanan/ nutrisi bagi anak
terutama saat sakit.
Catatlah jumlah/porsi makanan
yang dihabiskan oleh pasien setiap
hari.

14

1. Untuk memberikan nutrisi


yang optimal meskipun
kehilangan napsu makan serta
memotivasi anak agar mau
makan.
2. Memudahkan proses menelan
dan meringankan kerja
lambung untuk mencerna
makanan dan menghindari rasa
mual.
3. karena porsi biasanya
ditoleransi dengan lebih baik.
4. Untuk membantu status nutrisi.
5. Untuk merangsang napsu
makan.
6. Untuk menghindari intoleransi
makanan.
7. Makanan merupakan
penambahan tenaga bagi orang
sakit.
8. Untuk mengetahui jumlah
intake makanan dan penentuan
dalam pemberian diet dan
selanjutnya.

Potensial terjadi
perdarahan
berhubungan
dengan
trombositopenia.

Tujuan
:
terjadi perdarahan

tidak

Gangguan
keseimbangan
cairan dan
elektrolit
berhubungan
dengan
permeabilitas
kapiler, muntah
dan demam.

Tujuan : Anak
menunjukkan terpenuhinya
tanda-tanda kebutuhan cairan

Kriteria hasil :
Jumlah
trombosit dalam batas normal.

Kriteria hasil
:
- Anak mendapatkan cairan
yang cukup
- Menunjukkan tanda-tanda
hidrasi yang adekuat yang
dibutuhkan dengan tandatanda vital dan turgor kulit
yang normal, membran
mukosa lembab.

1. Monitor penurunan trombosit yang


di sertai dengan tanda klinis.
2. Monitor jumlah trombosit setiap
hari.
3. Berikan penjelasan mengenai
pengaruh trombositopenia pada
pada anak.
4. Anjurkan anak untuk banyak
istirahat.

1. Monitor keadaan umum pasien.


2. Observasi tanda-tanda vital setiap
2-3 jam.
3. Perhatikan keluhan pasien seperti
mata kunang-kunang, pusing,
lemah, ekstremitas dingin dan
sesak napas.
4. Mengobservasi dan mencatat
intake dan output.
5. Memberikan hidrasi yang adekuat
sesuai dengan kebutuhan tubuh.
6. Monitor nilai laboratorium :
elektrolit darah, serum albumin.

15

1. Untuk mengetahui
perkembangan penyakit
apabila terjadi perdarahan
bawah kulit.
2. Mengetahui nilai batas normal
dan perkembangan penyakit.
3. Penjelasan yang akurat tentang
trombositopenia merupakan
faktor penyebab terjadinya
syok apabila terjadi penurunan
trombosit yang hebat.
4. Memberikan relaksasi untuk
anggota organ tubuh serta
membantu dalam proses
penyembuhan.
1. Untuk mengetahui
perkembangan penyakit.
2. Untuk meningkatkan hidrasi
dan mencegah dehidrasi.
3. Untuk mengetahui perubahan
yang terjadi bila adanya
kekurangan cairan sehingga
mendapatkan perawatan lebih
baik.
4. Untuk menentukan status
hidrasi
5. Menentukan adanya
ketidakseimbangan cairan dan

1.

Gangguan
aktivitas seharihari
berhubungan
dengan
kelemahan
tubuh.

7. Mempertahankan intake dan output


yang adekuat.
8. Monitor dan mencatat berat badan.
9. Pasang infus dan beri terapi cairan
intravena jika terjadi perdarahan
(kolaborasi dengan dokter).

Tujuan

mendapat

1.

Anak

istirahat

yang

adekuat
Kriteria hasil :
- Anak melakukan aktivitas
yang

sesuai

dengan

Bantulah anak untuk memenuhi


kebutuhan aktivitas sehari-hari
seperti: mandi, makan dan
eliminasi, sesuai dengan tingkat
keterbatasan anak.
2. Libatkan keluarga dalam
memenuhi kebutuhan anak
3. Dekatkan dan siapkan alat-alat
yang dibutuhkan di dekat anak

kemampuan.
- Kebutuhan istirahat anak
terpenuhi.

16

elektrolit.
6. Menentukan adanya
ketidakseimbangannya cairan
dan elektrolit.
7. Pemenuhan kebutuhan cairan
menurunkan resiko dehidrasi.
8. merupakan indikator cairan
dan nutrisi.
9. Pemberian infus dimaksudkan
untuk mengganti cairan yang
hilang akibat kebocoran
plasma
1. Melindungi anak dari cedera
selama melakukan aktivitas
dan memungkinkan
penghematan energi atau
kelemahan tubuh.
2. Bantuan keluarga membuat
anak merasa aman secara moril
dan fisik serta membantu
perawat dalam memenuhi
kebutuhan pasien.
3. Memudahkan pasien dapat
mengambil keperluannya.

Perubahan

Tujuan

:Keluarga

proses keluarga menunjukkan


berhubungan
dengan
anak.

kondisi

vital

dalam

tanda-tanda
batas

normal

koping yang adatif.


Kriteria hasil :
-

Keluarga

menunjukkan

pemahaman tentang penyakit


dan terapinya
-

Keluarga

perilaku

menunjukkan

koping

terhadap anak.

positif

1. Mengkaji perasaan dan persepsi


orang tua atau anggota keluarga
terhadap situasi yang penuh stress.
2. Ijinkan orang tua dan keluarga
untuk memberikan respon secara
panjang lebar, dan identifikasi
faktor yang paling mencemaskan
keluarga.
3. Identifikasi koping yang biasa
digunakan dan seberapa besar
keberhasilannya dalam mengatasi
keadaan.
4. Tanyakan kepada keluarga apa
yang dapat dilakukan untuk
membuat anak atau keluarga
menjadi lebih baik atau dan jika
memungkinkan memberikan apa
yang diminta oleh kelurga.
5. Memenuhi kebutuhan dasar anak;
jika anak sangat tergantung dalam
melakukan aktivitas sehari-hari,
ijinkan hal ini terjadi dalam waktu
yang tidak terlalu lama. Kemudian
secara bertahap meningkatkan
kemandirian anak dalam
memenuhi kebutuhan dasarnya.

17

1. Karena hal ini biasanya terjadi


dalam proses penyesuaian dan
untuk menguatkan pemahaman
keluarga.
2. Agar keluarga mendapat
dukungan yang di butuhkan
sehingga kemampuan mereka
untuk mengatasi masalah dapat
dimaksimalkan.
3. Untuk memberikan dukungan
dan ketenangan sesuai
kebutuhan.
4. Untuk memberikan perawatan
yang optimal terhadap
intervensi lanjut.
5. Untuk memberikan dukungan
sehingga kemampuan anak
untuk melakukan koping dapat
di maksimalkan serta
menurunkan resiko
cedera.

I. Pencegahan DHF
Menghindari atau mencegah berkembangnya nyamuk Aedes Aegepty dengan
cara:
-

Rumah selalu terang

Tidak menggantung pakaian

Bak / tempat penampungan air sering dibersihkan dan diganti airnya


minimal 4 hari sekali

Kubur barang barang bekas yang memungkinkan sebagai tempat


terkumpulnya air hujan

Tutup tempat penampungan air

Perencanaan pemulangan dan PEN KES


-

Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktifitas sesuai dengan


tingkat perkembangan dan kondisi fisik anak

Jelaskan terapi yang diberikan, dosis efek samping

Menjelaskan gejala gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus


dilakukan untuk mengatasi gejala

Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan

18

DAFTAR PUSTAKA
Buku ajar IKA infeksi dan penyakit tropis IDAI Edisi I. Editor : Sumarmo, S
Purwo Sudomo, Harry Gama, Sri rejeki Bag IKA FKUI jkt 2002.
Christantie, Effendy. SKp, Perawatan Pasien DHF. Jakarta, EGC, 1995
Prinsip Prinsip Keperawatan Nancy Roper hal 269 267
Carpenitto,Lj. 2001, Diagnosa Keperawatan. Ed 6. EGC. Jakarta.
Effendi, C.1995. Perawatan klien DHF. EGC. Jakarta.
Ngatiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC. Jakarta.
Rampengan,TH & laurentz,LR 1997. Penyakit infeksi tropik pada Anak. EGC .
Jakarta
Tim pengajar perawtan Anak. 1999. Diktat Kuliah PSIK Perawatan Anak.

19