Jelajahi eBook
Kategori
Jelajahi Buku audio
Kategori
Jelajahi Majalah
Kategori
Jelajahi Dokumen
Kategori
OLEH
Honesti Trijuniarni
H1A 007 022
Pembimbing
dr. H.Tatang.A. Hidayat, Sp.A
I. Identitas Pasien
Nama
: Bayi S
Jenis Kelamin
: Perempuan
Umur
: 1 hari
BBL
: 2250 gram
AS
: 7-9
Tanggal Lahir
No. MR
: 507667
Nama
Umur
Pendidikan/Berapa tahun
Pekerjaan
Ibu
Ny Sukamsiah
20 th
SMP
IRT
Ayah
Tn Puja
24 th
SMA
Tidak bekerja
V. Riwayat Persalinan :
Bayi lahir spontan di VK Teratai RSUP NTB, Apgar skor: 7-9, BBL 2250 gram.
tangis kuat (+), hipotermi (+), sianosis (-).
VI. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
: sedang
Kesadaran
: waspada
Ballard score
: 38-40 minggu
Score Down
GDS stik
: 27 mg%
Suhu
: 35,9 oC
DJ
: 140 x/menit
Respirasi
: 46 x/menit
2. Menilai Pertumbuhan :
Berat Badan
Panjang Badan : 46 cm
Lingkar Kepala : 32 cm
: 2250 gram
3. Penampakan Umum :
Aktivitas
: normal
Warna Kulit
: kemerahan
4. Kepala
Bentuk kepala : simetris, lonjong, lecet (-), ubun ubun besar terpisah, teraba
datar, sutura normal, craniosynostosis (-), molding (-), caput
sucendaneum (-), dan cephal hematom (-)
5. Leher
Rooting refleks (+), hematome pada m. SCM (-), pembesaran kel. Tiroid (-), leher
pendek (-).
3
6. Muka
Mata : katarak kongenital (-), SCB (-), conjunctivitis (-).
Hidung : atresia choana (-/-), napas cuping hidung (-/-), rhinore (-/-)
7. Thoraks
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Penilaian pernapasan : napas teratur (+), tachypnea (-), stridor (-), tarikan dinding
dada (-/-) subcostal, sianosis (-).
8. Jantung
S1S2 tunggal regular, mur mur (-), gallop (-).
9. Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi
10. Umbilicus
Tampak basah, warna kuning kehijauan (-), edema (-), kemerahan (-) pada pangkal
umbilicus.
11. Genitalia
Normal. Hipospadia (-), epispadia (-), hidrokel (-), rugae testis (+) halus.
12. Anus dan rektum
Anus (+), mekoninum (+) 24 jam pertama.
13. Ekstremitas
Normal. Syndactyli (-), polidactyli (-), talipes equinovarus (-/-)
14. Tulang belakang, pinggul dan system syaraf
Dalam batas normal
GDS
: 112 mg%
14 Maret 2013:
GDS
: 78 mg%
VIII. Diagnosis Kerja
BBLR dengan kehamilan aterm
KMK
Dismaturitas
Riwayat hipoglikemia
Riwayat hipotermia
IX. Rencana Terapi
Hari/ tgl
S
II
Aktifitas (+)
14/03/2013 Menangis
(+) kuat.
Respon (+).
Menyusu
(+) kurang
kuat
III
Aktifitas (+)
14/03/2013 Menangis
(+) kuat.
Respon (+).
Menyusu
(+)kuat
O
RR: 46 x/m
N: 142 x/m
T : 36 C
Kulit kemerahan
Retraksi
(-)
subcostal.
Sianosis (-)
RR: 42 x/m
N: 130 x/m
T : 36.6
Kulit kemerahan
Retraksi
(-)
subcostal.
Sianosis (-)
A
BBLR
KMK
Dismaturitas
Riwayat
hipoglikemia
Hipotermia
BBLR
KMK
Dismaturitas
Riwayat
dengan
kehamilan aterm
dengan
kehamilan aterm
P
Observasi
ASI
185
cc/hari
diberikan
minimal
setiap 3 jam.
Observasi
ASI
226
cc/hari
diberikan
minimal
setiap 3 jam.
hipoglikemia
Riwayat
hipotermia
DISKUSI
BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah)
Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500
gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam
1 (satu) jam setelah lahir.
Klasifikasi
BBLR dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Prematuritas murni
Adalah masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan
berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan
sesuai untuk masa kehamilan.
Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit dan komplikasi akibat kurang
matangnya organ karena masa gestasi yang kurang.
b. Dismaturitas
Adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk
masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan
merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya.
Hal ini disebabkan oleh terganggunya sirkulasi dan efisiensi plasenta, kurang
baiknya keadaan umum ibu atau gizi ibu, atau hambatan pertumbuhan dari
bayinya sendiri.
Epidemiologi
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh
kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian
BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi
dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. BBLR termasuk faktor
7
utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak
serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan. Angka
kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu
berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR
dengan rentang 2.1%-17,2 %. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka
BBLR sekitar 7,5 %. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada
sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7%.
Etiologi
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang
lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler,
kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR
1) Faktor ibu
a. Penyakit : Seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain
b. Komplikasi pada kehamilan : Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu seperti
perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran preterm.
c. Usia Ibu dan paritas : Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang
dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia
d. Faktor kebiasaan ibu : Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok,
ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika.
2) Faktor Janin
Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom.
3) Faktor Lingkungan
Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi, sosioekonomi dan paparan zat-zat racun.
Komplikasi
Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain :
Hipotermia
Hipoglikemia
Hiperbilirubinemia
8
Infeksi
Perdarahan intraventrikuler
Apnea of Prematurity
Anemia
Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi-bayi dengan berat lahir
Gangguan perkembangan
Gangguan pertumbuhan
Gangguan pendengaran
Diagnosis
Menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam jangka
waktu kurang lebih dapat diketahui dengan dilakukan anamesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
1) Anamnesis
Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk menegakkan mencari
etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya BBLR :
Umur ibu
Aktivitas
9
2) Pemeriksaan Fisik
Yang dapat dijumpai saat pemeriksaan fisik pada bayi BBLR antara lain :
o
Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa
kehamilan).
Kulit keriput.
3) Pemeriksaan penunjang
o Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain
o Pemeriksaan skor ballard
o Tes kocok (shake test), dianjur untuk bayi kurang bulan
o Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar elektrolit
dan analisa gas darah.
o Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan
kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom
gawat nafas.
o USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan kurang lebih
Penatalaksanaan/ terapi
1) Medikamentosa
Pemberian vitamin K1 :
10
Biarkan bayi menyusu pada ibu semau bayi. Ingat bahwa bayi kecil lebih
mudah merasa letih dan malas minum, anjurkan bayi menyusu lebih sering
(contoh; setiap 2 jam) bila perlu.
Pantau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai efektifitas
menyusui. Apabila bayi kurang dapat menghisap, tambahkan ASI peras dengan
menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.
Bayi Sakit
o
Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan IV, berikan
minum seperti pada bayi sehat.
Mulai berikan minum per oral pada hari ke-2 atau segera setelah bayi stabil.
Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi menunjukkan tanda-tanda
siap untuk menyusu.
Apabila masalah sakitnya menghalangi proses menyusui (contoh; gangguan
nafas, kejang), berikan ASI peras melalui pipa lambung :
Berikan ASI peras dengan cangkir/sendok. Bila jumlah yang dibutuhkan tidak
dapat diberikan menggunakan cangkir/sendok atau ada resiko terjadi aspirasi ke
dalam paru (batuk atau tersedak), berikan minum dengan pipa lambung.
Lanjutkan dengan pemberian menggunakan cangkir/ sendok apabila bayi dapat
menelan tanpa batuk atau tersedak (ini dapat berlangsung setela 1-2 hari namun
ada kalanya memakan waktu lebih dari 1 minggu)
Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (misal setiap 3 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan
ASI setiap kali minum.
Bayi Sakit
o
Beri ASI peras dengan pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah
cairan IV secara perlahan.
12
Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; tiap 3 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan
ASI setiap kali minum.
Beri ASI peras melalui pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah
cairan intravena secara perlahan.
Beri minum 8 kali dalam 24 jam (setiap 3 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum
o Berikan minum 12 kali dalam 24 jam (setiap 2 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba
untuk menyusui langsung.
Suportif
Hal utama yang perlu dilakukan adalah mempertahankan suhu tubuh normal (3):
o Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi,
seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar panas, inkubator atau
ruangan hangat yang tersedia di tempat fasilitas kesehatan setempat sesuai petunjuk.
o Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin
o Ukur suhu tubuh dengan berkala
o Yang juga harus diperhatikan untuk penatalaksanaan suportif ini adalah :
o Jaga dan pantau patensi jalan nafas
o Pantau kecukupan nutrisi, cairan dan elektrolit
o Bila terjadi penyulit, harus dikoreksi dengan segera (contoh; hipotermia, kejang,
gangguan nafas, hiperbilirubinemia)
o Berikan dukungan emosional pada ibu dan anggota keluarga lainnya
o Anjurkan ibu untuk tetap bersama bayi. Bila tidak memungkinkan, biarkan ibu
berkunjung setiap saat dan siapkan kamar untuk menyusui.
Pemantauan (Monitoring)
1) Pemantauan saat dirawat
a. Terapi
o Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan
o Preparat besi sebagai suplemen mulai diberikan pada usia 2 minggu
b. Tumbuh kembang
o Pantau berat badan bayi secara periodik
14
o Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama (sampai 10%
untuk bayi dengan berat lahir 1500 gram dan 15% untuk bayi dengan berat
lahir <1500
o Bila bayi sudah mendapatkan ASI secara penuh (pada semua kategori berat
lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari :
-
Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan peningkatan berat badan bayi agar
jumlah pemberian ASI tetap 180 ml/kg/hari
Ukur berat badan setiap hari, panjang badan dan lingkar kepala setiap
minggu.
15
Pencegahan
Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif adalah langkah
yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan :
o Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama
kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga
berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus
cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang
lebih mampu
o Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam
rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama
kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung
dengan baik
o Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur reproduksi
sehat (20-34 tahun)
o Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan
pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan
akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil.
Tanda kecukupan pemberian ASI:
o BAK minimal 6 kali/ 24 jam.
o Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI.
o BB naik pd 7 hari pertama sbyk 20 gram/ hari.
o Cek saat menyusui, apabila satu payudara dihisap ASI akan menetes dari
payudara yg lain.
Indikasi bayi BBLR pulang:
o Suhu bayi stabil.
o Toleransi minum oral baik terutama ASI.
o Ibu sanggup merawat BBLR di rumah.
16
1
60
80
Umur (hari)
3
100
120
2
80
100
4
120
140
5+
150
150
1
10
2
15
Umur (hari)
3
4
5
18 22 26
6
28
7
30
>2500
80 cc D10%
90 cc D10%
100 cc D10%
120-150 cc
HIPOTERMI
17
I. Definisi
Termoregulasi adalah kemampuan untuk menyeimbangkan antara produksi panas
dan hilangnya panas dalam rangka menjaga suhu tubuh dalam keadaan normal,
kemampuan ini sangatlah terbatas pada BBL. Suhu normal pada BBL 36,0 36,5 o C atau
96,7o F Suhu basal tubuh (rektal) antara 36,5-37,5 o C atau 97,7-99,5o F. Suhu aksilar bisa
0,5-1,0oC lebih rendah dari suhu rektal. Suhu tubuh normal terjadi jika ada keseimbangan
antara produksi panas dan hilangnya panas.
Hipotermia pada BBL adalah suhu di bawah 36,5 o C, yang terbagi atas :
hipotermia ringan (cold stress) yaitu suhu antara 36-36,5o C, Hipotermia sedang yaitu
suhu antara 32-36oC, dan hipotermia berat yaitu suhu tubuh <32oC.
18
BBL dengan gangguan saraf sentral, seperti perdarahan intrakranial, obatobatan asfiksia.
III.Patofisiologi
BBL dapat mengalami hipotermi melalui beberapa mekanisme, yang berkaitan
dengan kemampuan tubuh untuk menjaga keseimbangan antara produksi panas dan
kehilangan panas:
1. Penurunan produksi panas
Hal ini dapat disebabkan kegagalan dalam sistem endokrin dan terjadi penurunan
basal metabolisme tubuh, sehingga timbul proses penurunan produksi panas,
misalnya pada keadaan disfungsi kelenjar tiroid, adrenal dan pituitari.
2. Peningkatan panas yang hilang
Terjadi bila panas tubuh berpindah ke lingkungan sekitar, dan tubuh kehilangan
panas. Adapun mekanisme tubuh kehilangan panas dapat terjadi secara:
Konduksi :
Yaitu perpindahan panas yang terjadi sebagai akibat perbedaan suhu antara kedua
obyek. Kehilangan panas terjadi saat kontak langsung antara kulit BBL dengan
permukaan yang lebih dingin. Sumber kehilangan panas terjadi pada BBL yang
berada pada permukaan/alas yang dingin, seperti pada waktu proses penimbangan.
Konveksi :
Transfer panas terjadi secara sederhana dari selisih suhu antara permukaan kulit bayi
dan aliran udara yang dingin di permukaan tubuh bayi. Sumber kehilangan panas
disini dapat berupa: inkubator dengan jendela yang terbuka, atau pada waktu proses
transportasi BBL ke rumah sakit.
Radiasi:
Yaitu berpindah suhu dari suatu objek panas ke objek yang dingin, misalnya dari bayi
dengan suhu yang hangat dikeliling suhu lingkungan yang lebih dingin. Sumber
19
kehilangan panas dapat berupa suhu lingkungan yang dingin atau suhu inkubator
yang dingin.
Evaporasi:
Panas terbuang akibat penguapan, melalui permukaan kulit dan traktus respiratorius.
Sumber kehilangan panas dapat BBL yang basah setelah lahir, atau pada waktu
dimandikan.
3. Kegagalan termoregulasi secara umum disebabkan kegagalan hipotalamus dalam
menjalankan fungsinya dikarenakan berbagai penyebab. Keadaan hipoksia intrauterin/
saat persalinan/post partum, defek neurologik dan paparan obat prenatal (analgesik/
anestesi) dapat menekan respons neurologik bayi dalam mempertahankan suhu tubuhnya. Bayi sepsis akan mengalarni masalah dalam pengaturan suhu dapat menjadi
hipotermi atau hipertermi.
Gangguan salah satu atau lebih unsur-unsur termoregulasi akan mengakibatkan suhu
tubuh berubah, menjadi tidak normal. Apabila terjadi paparan dingin, secara fisiologis
tubuh akan memberikan respon untuk menghasilkan panas berupa:
1. Shivering thermoregulation,/ST
Merupakan mekanisme tubuh berupa menggigil atau gemetar secara involunter akibat
dari kontraksi otot untuk menghasilkan panas.
2. Non-shivering thermoregulation/NST
20
Merupakan mekanisme yang dipengaruhi oleh stimulasi sistem saraf simpatis untuk
menstimulasi proses metabolik dengan melakukan oksidasi terhadap jaringan lemak
coklat. Peningkatan metabolisme jaringan lemak coklat akan meningkatkan produksi
panas dari dalam tubuh.
3. Vasokonstriksi perifer
Mekanisme ini juga distimulasi oleh sistem saraf simpatis, kemudian sistem saraf
perifer akan memicu otot sekitar arteriol kulit utuk berkontraksi sehingga terjadi
vasokontriksi.
Keadaan ini efektif untuk mengurangi aliran darah ke jaringan kulit dan
mencegah hilangnya panas yang tidak berguna.
IV.
Diagnosis
Hipotermi ditandai dengan akral dingin, bayi tidak mau minum, kurang -aktif,
kutis
marmorota,
pucat,
tekipne
atau
takikardia.
Sedangkan
hipotermi
yang
21
Anamnesis
Bayi
terpapar
suhu
Bayi
suhu
terpapar
atau
panas
Pemeriksaan
Suhu tubuh 32 oC-36,4oC
Klasifikasi
Hipotermia sedang
Gangguan napas
Denyut jantung kurang dari
100 kali/menit
Malas minum
Letargi
Suhu tubuh < 32 oC
Hipotermia berat
tubuh
tidak
yang
berlebihan
dugaan sepsis)
stabil
berada
Bayi
terpapar
sinar
Fluktuasi
terjadi
sesudah
besar
pemancar panas.
Hipertermia
cekung,
lidah
dan
Malas minum
Denyut
jantung
>
160
kali/menit
Letargi
Iritabel
22
V. Manajemen Hipotermi
Hipotermi berat :
-
Segera hangatkan bayi dibawah pemancar panas yang telah dinyalakan sebelumnya,
bila mungkin. Gunakan incubator atau ruangan hangat, bila perlu.
Ganti baju yang dingin dan basah bila perlu. Beri pakaian yang hangat.
Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi sering diubah.
Pasang jalur IV dan beri cairan IV sesuai dengan dosis rumatan, dan infuse tetap
terpasang dibawah pemancar panas, untuk menghangatkan cairan.
Periksa kadar glukosa dara, bila kadar glukosa darah kurang 45 mg/dl tangani
hipoglikemia.
Nilai tanda kegawatan pada bayi setiap jam dan nilai juga kemampuan minum setiap
4 jam sampai suhu tubuh kembali dalam batas normal.
Ambil sample darah dan beri antibiotika sesuai denagan yang disebutkan dalam
penanganan kemungkinan besar sepsis.
Bila bayi tidak dapat menyusu, beri Asi peras dengan menggunakan salah satu
alternative cara pemberian minum.
Bila bayi tidak dapat menyusu sama sekali, pasang pipa lambung dan beri ASI
peras begitu suhu bai mencapai 35oC
Periksa suhu tubuh bayi tiap jam. Bila suhu naik paling tidak 0,5 oC/ jam, berarti
usaha manghangatkan berhasil, kemudian lanjutkan dengan memeriksa suhu bayi
stiap 2 jam.
Periksa juga suhu alat yang dipakai untuk mengangatkan dan suhu ruangan setiap
jam.
Pantau bayi selama 12 jam kemudian, dan ukur suhu tiap jam.
Pantau bayi selama 24 jam setelah penghentian antibiotika. Bila suhu bayi tetap
dalam batas normal dan bayi minum dengan baik dan tidak ada masalah lain yang
23
VI. Preventif
Langkah Promotif/Preventif untuk mencegah terjadinya hipotermia, yaitu : rawat bayi
kecil di ruang yang hangat (tidak kurang 25C dan bebas dari aliran angin), jangan
meletakkan bayi dekat dengan benda yang dingin (misal dinding dingin atau jendela)
walaupun bayi dalam inkubator atau di bawah pemancar panas, jangan meletakkan bayi
langsung di permukaan yang dingin (misalnya alasi tempat tidur atau meja periksa
dengan kain atau selimut hangat sebelum bayi diletakkan), pada waktu dipindahkan ke
tempat lain, jaga bayi tetap hangat dan gunakan pemancar panas atau kontak kulit dengan
perawat, berikan tambahan kehangatan pada waktu dilakukan tindakan (misalnya
menggunakan pemancar panas), ganti popok setiap kali basah, bila ada sesuatu yang
basah ditempelkan di kulit (mis. kain kasa yang basah), usahakan agar bayi tetap hangat,
jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin.
24
DAFTAR PUSTAKA
Azis, Abdul Latief. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bagian/SMF Kesehatan Anak,
edisi III. RSU Dokter Sutomo. Surabaya
Kosim, Sholeh. 2010. Buku Ajar Neonatologi, edisi pertama. Ikatan Dokter Anak
Indonesia. Jakarta
25