Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK

VOLUM MOLAL PARSIAL

Nama
NIM
Kelompok
Asisten

: Ardian Lubis
: 121810301028
:6
: Yuda Anggi

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2014

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Molal atau molalitas didefinisikan sebagai jumlah mol zat terlarut per kg pelarut, berarti
merupakan perbandingan antara jumlah mol zat terlarut dengan massa pelarut dalam kilogram
sementara. Volum molar parsial adalah kontribusi pada volum, dari satu komponen dalam sampel
terhadap volum total. Volum molar parsial komponen suatu campuran berubah-ubah tergantung
pada komposisi, karena lingkungan setiap jenis molekul berubah jika komposisinya berubah dari
A murni ke B murni. Perubahan lingkungan molekuler dan perubahan gaya-gaya yang bekerja
antara molekul inilah yang menghasilkan variasi sifat termodinamika campuran jika
komposisinya berubah (Dogra, 1990).
Volume molal parsial suatu larutan adalah penambahan volume yang terjadi bila satu mol
komponen I ditambahkan pada larutan. Percobaan volume molal parsial bertujuan untuk
menentukan volume molal parsial larutan NaCl dalam berbagai konsentrasi yang dilakukan
dengan cara mengukur berat jenis larutan NaCl menggunakan piknometer (Brady, 1990).
Berdasarkan teori di atas, untuk mengetahui metode-metode penentuan volume molal
parsial yang merupakan sifat dari termodinamika molal parsial utama maka percobaan ini
dilakukan untuk mempermudah pemahaman teori yang ada serta menganalisis sekiranya tidak
terdapat korelasi antara hasil yang diperoleh di laboratorium dengan apa yang ada dalam teori
(Prahayu, 2013).

1.2 Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan volume molal parsial komponen dalam
larutan.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Safety Data Sheet


2.1.1 Natrium Klorida
Natrium klorida merupakan suatu senyawa kimia dengan rumus kimia NaCl. Sifat fisik dan
kimia yang dimiliki oleh NaCl yaitu berbentuk bubuk kristal padat yang sedikit berbau, berasa
garam, dengan warna putih. Bahan ini memiliki berat molekul 58,44 g/mol, titik didihnya 1413
C dan titik lelehnya 801 C. NaCl ini mudah larut dalam air dingin, air panas. Larut dalam
gliserol, dan amonia. Sangat sedikit larut dalam alkohol dan tidak larut dalam asam klorida.
Kasus kontak dengan NaCl, segera basuh kulit dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit
dengan mengeluarkan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Tutupi kulit yang teriritasi
dengan yg sesuatu melunakkan. Air dingin mungkin dapat digunakan dan pakaian dicuci sebelum
digunakan kembali benar-benar bersih sepatu sebelum digunakan kembali. Dapatkan perawatan
medis dengan segera jika terjadi kontak yang serius (Sciencelab, 2014).
2.1.2 Aquades
Aquades disebut juga Aqua Purificata (air murni) H2O dengan. Air murni adalah air yang
dimurnikan dari destilasi. Satu molekul air memiliki dua hidrogen atom kovalen terikat untuk
satu oksigen. Aquades merupakan cairan yang jernih, tidak berwarna dan tidak berbau. Aquades
juga memiliki berat molekul sebesar 18,0 g/mol dan PH antara 5-7. Rumus kimia dari aquades
yaitu H2O. Aquades ini memiliki allotrop berupa es dan uap. Senyawa ini tidak berwarna, tidak
berbau dan tidak meiliki rasa. Aquades merupakan elektrolit lemah. Air dihasilkan dari
pengoksidasian hidrogen dan banyak digunakan sebagai bahan pelarut bagi kebanyakan senyawa
(Sarjoni, 2003).

2.2 Volume Molal Parsial


Volum molar parsial adalah kontribusi pada volum, dari satu komponen dalam sampe
terhadap volum total. Volum molar parsial komponen suatu campuran berubah-ubah tergantung
pada komposisi, karena lingkungan setiap jenis molekul berubah jika komposisinya berubah dari
a murni ke b murni. Perubahan lingkungan molekuler dan perubahan gaya-gaya yang bekerja
antara molekul inilah yang menghsilkan variasi sifat termodinamika campuran jika komposisinya
berubah (Atkins, 1994).
Molal atau molalitas didefinisikan sebagai jumlah mol zat terlarut per kg pelarut. Berarti
merupakan perbandingan antara jumlah mol zat terlarut dengan massa pelarut dalam kilogram.

Jadi, jika ada larutan 1,00 molal maka larutan tersebut mengandung 1,00 mol zat telarut dalam
1,00 kg pelarut.
Secara matematik, volume molal parsial didefinisikan sebagai

Dimana

adalah volume molal parsial dari komponen ke-i. Secara fisik

berarti kenaikan

dalam besaran termodinamik V yang diamati bila satu mol senyawa i ditambahkan ke suatu
sistem yang besar, sehingga komposisinya tetap konstan.
Pada temperatur dan tekanan konstan, persamaan di atas dapat ditulis sebagai
dan dapat diintegrasikan menjadi

. Arti fisik dari integrasi ini

adalah bahwa ke suatu larutan yang komposisinya tetap, suatu komponen n1, n2,..., ni ditambah
lebih lanjut, sehingga komposisi relatif dari tiap-tiap jenis tetap konstan. Karenanya besaran
molal ini tetap sama dan integrasi diambil pada banyaknya mol (Dogra.1990).
Ada tiga sifat termodinamik molal parsial utama, yakni:
(i) Volume molal parsial dari komponen-komponen dalam larutan (juga disebut sebagai
panas differensial larutan)
(ii) Entalpi molal parsial
(iii) Energi bebas molal parsial (potensial kimia). Sifat-sifat ini dapat ditentukan dengan
bantuan metode grafik, menggunakan hubungan analitik yang menunjukkan V dan ni,
dan menggunakan suatu fungsi yang disebut besaran molal nyata yang ditentukan
sebagai:
atau
Dimana

adalah volume molal untuk komponen murni (Basuki, 2003).

Apabila suatu volume yang besar dari air murni ditambahkan 1 mol H2O, maka
volumenya bertambah 18 cm3 dan kita dapat mengatakan bahwa 18 cm3 mol-1 adalah volume
molar air murni. Walaupun mengatakan demikian, jika kita menambahkan 1 mol H2O ke dalam
etanol murni yang volumenya besar, maka pertambahan volume hanya 14 cm3. alasan dari
perbedaan kenaikan volume ini adalah volume yang ditempati oleh sejumlah tertentu molekul air
bergantung pada molekul-molekul yang mengelilinginya. Begitu banyak etanol yang ada
sehingga setiap molekul H2O dikelilingi oleh etanol murni, kumpulan molekul-molekul itu
menyebabkan etanol hanya menempati ruang sebesar 14 cm3. kuantitas 14 cm3 mol-1 adalah
volume molar parsial air dalam etanol murni, yaitu volume campuran yang dapat dianggap
berasal dari suatu komponen (Atkins, 1994).
Massa jenis suatu zat dapat ditentukan dengan berbagai alat salah satunya adalah
dengan menggunakan piknometer. Piknometer adalah suatu alat yang terbuat dari kaca,
bentuknya menyerupai botol parfum atau sejenisnya. Piknometer merupakan alat yang digunakan
untuk mengukur nilai massa jenis atau densitas fluida. Terdapat beberapa macam ukuran dari
piknometer, tetapi biasanya volume piknometer yang banyak digunakan adalah 10 ml dan 25 ml,
dimana nilai volume ini valid pada temperatur yang tertera pada piknometer tersebut. Volume

molal pelarut murni yang dapat dihitung dari berat molekul (18,016 untuk air) dibagi dengan
berat jenis, pada keadaan yang diamati.untuk larutan tersebut dipenuhi
V = (1000 + mM2) / d dan n1V1o = 1000/do
Dengan d, do berturut-turut adalah berat jenis larutan, berat jenis air murni, sedangkan M2 adalah
berat molekul zarut. Dan nantinya akan didapatkan persamaan seperti berikut
= (M2 (1000/m) (d do / do) /d
= { M2 (M2 1000/m)[ (W Wo) / ( Wo We)]}/d
Persamaan ini digunakan jika untuk menghitung digunakan piknometer, disini W, Wo, We
berturut-turut adalah berat piknometer yang dipenuhi larutan, dipenuhi air dan piknometer
kosong ( Tim Kimia Fisika, 2014).

BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat

Piknometer

Labu ukur 200 mL

Erlenmeyer 250 mL

Gelas piala 250 mL dan 100 mL

Pipet 100 mL

Pengaduk

3.1.2 Bahan

Padatan NaCl

Aquades

3.1.2 Skema Kerja


a. Pembuatan Larutan NaCl
Larutan NaCl
-

Ditimbang NaCl untuk membuat larutan NaCl 3,0 M dengan volume 200 mL

Dilarutkan dalam 200 mL dengan menggunakan labu ukur 200 mL

Dilakukan pengenceran untuk mendapatkan larutan NaCl dengan konsentrasi


0,1875; 0,375; 0,75; 1,5 M

Hasil
b. Pengukuran dengan Piknometer
Piknometer
-

Ditimbang

Ditimbang piknometer yang terisi penuh dengan aquades

Ditimbang piknometer yang terisi penuh dengan larutan NaCl

Dicatat beratnya

Dicatat temperatur dalam piknometer

Hasil

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Konsen

massa

trasi

rata-

(M)

rata (g)

0,1875

V1

V2

(mL/mol)

(mL/

(mL/

mol)

mol)

-247,4

-164,9

0,167

0,395

-1,763

113,4

343,6

0,716

89,87

244,9

555,0

88,84

317,9

775,9

(g/mL)

(molal)

41,152

0,933

0,203

0,375

41,530

0,972

0,75

42,002

1,5

42,285

1,048

1,562

4.2 Pembahasan
Volume molal parsial adalah volume perbandingan antara pelarut dengan zat terlarut.
Volume molal parsial ditentukan oleh banyaknya mol zat terlarut yang terkandung dalam 1000
gram pelarut. Bahan yang digunakan pada percobaan kali ini adalah NaCl penggunaan NaCl
adalah sebagai zat terlarut dan aquades (H2O) sebagai pelarutnya.
Percobaan kali ini menggunakan variasi konsentrasi dari larutan NaCl. NaCl digunakan
sebagai bahan zat terlarut dikarenakan NaCl merupakan eletrolit kuat yang dapat teruarai menjadi
ion Na+ dan Cl- di dalam air dan mampu menyerap air tanpa adanya penambahan volume suatu
larutan, sehingga disebut dengan volume molal parsial semu. Reaksi yang terjadi pada langkah
ini adalah: :

NaCl(aq) Na+(aq) + Cl-(aq)

Variasi konsentrasi yang digunakan adalah 0,1875 M; 0,375 M; 0,75 M dan 1,5 M.
Variasi konsentrasi ini dapat diperoleh dengan cara mengencerkan larutan NaCl 3,0 M.
Pengenceran dapat didapatkan dengan persamaan berikut:

Penentuan volum molal larutan NaCl dapat diketahui dengan mengukur berat jenis dari
larutan NaCl. Pengukuran masa jenis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
konsentrasi dengan volum molal parsial. Pada percobaan ini, temperatur dari setiap larutan NaCl
diukur. Hal ini dilakukan untuk mengetahui d0 (berat jenis air pada berbagai temperatur). Pada
setiap temperatur yang berbeda maka nilai dari d0 berbeda. Berdasarkan data yang telah diperoleh
diketahui bahwa semakin besar konsentrasi NaCl dalam larutan maka densitas dari larutan
tersebut juga semakin besar. Perolehan data tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan
bahwa semakin besar konsentrasi maka masa jenisnya juga akan semakin besar. Hal tersebut
dikarenakan masa jenis NaCl lebih besar dibandingkan air (masa jenis NaCl = 58,5 g/dm3, masa

jenis air = 1,00 g/dm3) sehingga apabila komponen NaCl dalam larutan semakin banyak, masa
jenis dari larutan tersebut juga akan semakin banyak pula.
Langkah berikutnya yang dilakukan adalah mengukur berat jenis larutan NaCl untuk
masing-masing variasi konsentrasi. Pengukuran berat jenis larutan ini menggunakan piknometer.
Persamaan yang digunakan untuk menghitung berat jenis larutan ini adalah:

d adalah berat jenis larutan, W adalah berat piknometer dipenuhi larutan, We merupakan berat
piknometer kosong, d0 merupakan berat jenis pada temperatur tertentu sesuai literatur dan W0
merupakan piknometer yang diisi air. Volum larutan merupakan fungsi temperatur, tekanan dan
jumlah mol komponen. Artinya volum larutan dipengaruhi oleh temperatur, tekanan dan jumlah
mol komponen. Berat jenis larutan yang diperoleh dari hasil percobaan untuk masing-masing
konsentrasi antara lain, 0,933; 0,972; 1,091; dan 1,048 g/mL. Hasil ini menujukkan bahwa
semakin tinggi konsentrasi larutan maka densitasnya juga semakin besar. Hal ini disebabkan
karena semakin tinggi konsentrasi suatu larutan, menunjukkan jumlah partikel dalam larutan
tersebut semakin banyak. Namun pada konsentrasi 0,75 dan 1,5 terjadi kesalahan. Hal ini
ditunjukkan dengan lebih besarnya densitas pada konsentrasi 0,75 dari pada konsentrasi 1,5. Hal
ini bisa terjadi akibat kesalahan praktikan pada saat melakukan percobaan. Hasil perlakuan ini
dapat digunakan untuk menghitung molalitas larutan NaCl yang digunakan. Hal ini sesuai dengan
hasil praktikum, pada temperatur yang berbeda diperoleh volum molal yang berbeda dan pada
jumlah mol komponen yang berbeda, juga diperoleh volum molal yang berbeda. Untuk
menghitung molalitas larutan ini, dapat menggunakan persamaan sebagai berikut:

Molalitas larutan yang diperoleh untuk masing-masing konsentrasi antara lain, 0,203; 0,395;
0,716; dan 1,562 molal. Hasil ini menunjukkan bahwa molalitas (m) sebanding dengan
konsentrasi (M) dimana semakin besar konsentrasi (M) maka semakin besar pula molalitas (m)
larutannya.
Perlakuan selanjutnya yaitu menghitung volume molal semu (). Volume molal semu dapat
diperoleh dengan menggunakan persamaan sebagai berikut

Hasil perhitungan volume molal semu ini diperoleh untuk masing-masing konsentrasi yaitu
sebagai berikut, -247,4; 1,763; 89,87; dan 88,84 mL/mol. Hasil ini menunjukkan bahwa volume
molal semu berbanding terbalik dengan konsentrasi. Hal ini disebabkan karena zat terlarutnya
semakin banyak sehingga volume yang diperlukan untuk membentuk konsentrasi tertentu
semakin kecil sehingga didapatkan nilai volume molal semu yang kecil.

Volume molal semu zat terlarut dengan akar molalitas dapat diplotkan ke dalam grafik.
Grafik yang diperoleh berdasarkan data di atas adalah:

Gambar 2. Grafik antara volume molal semu dengan m1/2


Berdasarkan grafik tersebut, dapat dikatakan bahwa volume molal semu zat terlarut besar pada
saat akar molalitasnya rendah dan sebaliknya. Grafik tersebut memiliki gradien atau kemiringan
sebesar 366,47. Nilai ini dapat digunakan untuk menghitung volume molar komponen larutan.
Volume molal parsial larutan tidak dapat ditentukan secara langsung tetapi hampir setara
dengan volume molar parsial larutan, karena volume molar lebih mudah ditentukan sehingga
yang dihitung adalah volume molar larutannya. Volume molar pelarut ini dihitung dengan
persamaan:

Sedangkan untuk volume molar zat terlarut dihitung dengan menggunakan persamaan berikut ini:

Berdasarkan kedua persamaan tersebut, volume molar komponen larutan dihitung sehingga
volume molal komponen larutan secara tidak langsung juga dapat diketahui. Hasil perhitungan V1
untuk masing-masing konsentrasi dari konsentrasi terendah ke konsentrasi tinggi adalah -164,9;
113,4; 244,9; dan 317,9 mL/mol. Sedangkan untuk perhitungan V2 untuk masing-masing
konsentrasi dari konsentrasi terendah ke konsentrasi tinggi adalah 0,167; 343,6; 555,0; dan 775,9
mL/mol. Hasil ini menunjukkan bahwa konsentrasi berbanding terbalik dengan volume molar
parsial. Hal in disebabkan oleh komponen dari volume molal parsial itu sendiri, yang
didefinisikan sebagai :
Vi = (dV/dn)T,P,nj=i
Konsentrasi berhubungan dengan n (jumlah mol). Sehingga, pertambahan konsentrasi akan
memperkecil volume molal parsial
Grafik yang diperoleh dengan mengeplotkan volume molar pelarut dengan molalitas akan
disajikan berikut ini:

Gambar 2. Grafik antara volume molar pelarut (V1) dengan molalitas


Sedangkan untuk grafik volume molar zat terlarut akan disajikan di bawah ini:

Gambar 2. Grafik antara volume molar zat terlarut (V2) dengan molalitas

BAB 5. PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah volume molal parsial berbanding
terbalik dengan konsentrasi, berat jenis larutan dan molalitasnya, semakin besar konsentrasi
larutan, berat jenis larutan dan molalitasnya maka akan semakin kecil pula volume molal
parsialnya dan sebaliknya.

6.2 Saran
Saran untuk percobaan kali ini adalah praktikan harus lebih memahami prosedur kerja, teliti
dan cekatan dalam melakukan percobaan ini agar didapatkan hasil yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, 1994. Kimia Fisik. Jakarta : Erlangga
Basuki, Atastrina Sri. 2003. Buku Panduan Praktikum Kimia Fisika. Depok : Laboratorium Dasar
Proses Kimia Departemen Teknik Gas dan Petrokimia Fakultas Teknik Universitas
Indonesia.
Brady, James E. 1990. Kimia Universitas Asas dan Struktur Jilid 1. Jakarta : Binarupa Aksara.
Prahayu,

Kiki.

2013.

Volume

Molal

Parsial

http://kikiprahayu.blogspot.com/2013/12/volume-molal-parsial.html

[serial
[diakses

online].
pada

19

Oktober 2014].
Sciencelab. 2014. MSDS NaCl. [serial online]. www.sciencelab.com [diakses pada 19 Oktober
2014]
Tim Kimia Fisika. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Fisik 2. Jember : Universitas Jember.

LAMPIRAN

a). Pengenceran
Pengenceran
M1.V1= M2.V2
M1 = molaritas NaCl 3,0 M
M2 = Molaritas NaCl yang telah ditentukan
V2 = volume labu saat pengenceran (50 mL)
NaCl konsentrasi 1/16 dari NaCl 3,0 M
M1.V1

NaCl konsentrasi 1/8 dari NaCl 3,0 M

= M2.V2

M1.V1

3,0 M x V1 = (1/16 x 3,0 M) . 50 mL


V1

3,0 M x V1 = (1/8 x 3,0 M) . 50 mL

= 9,375 mL/3,0 = 3,125 mL

V1

NaCl konsentrasi 1/4 dari NaCl 3,0 M


M1.V1

= M2.V2
= 18,75 mL/3,0 = 6,25 mL

NaCl konsentrasi 1/2 dari NaCl 3,0 M

= M2.V2

M1.V1

= M2.V2

3,0 M x V1 = (1/4 x 3,0 M) . 50 mL

3,0 M x V1

= (1/2 x 3,0 M) . 50 mL

V1

V1

= 37,5 mL/3,0 = 12,5 mL

= 75 mL/3,0 = 25 mL

b). Berat Jenis Larutan

W = berat pikonometer penuh larutan NaCl


We = berat piknometer kosong
Wo = berat pikonmeter penuh dengan aquades
do = massa jenis air pada temperatur

Bahan

Pikno
+air

Ulang

Suhu
o

( C)

29

Massa
(g)

41,771

Bahan

Ulang

Pikno+

Suhu
o

Massa

( C)

(g)

29,8

40,753

NaCl

29,7

40,923

1/16

29,7

41,780

Rata - rata

29,7

41,152

Bahan

Suhu

Ulang

( C)

29,8

Massa
(g)

40,796

Pikno+

Bahan

Pikno+

Ulang

Suhu

Massa

( C)

(g)

29,7

42,005

29,7

42,002

NaCl

NaCl
1/8

29

41,893

29

41,903

29,5

42,000

29,3

41,530

Rata - rata

29,6

42,002

Rata - rata
Bahan

1/4

Ulang

Suhu (oC)

Massa (g)

31

42,267

30,2

42,306

30,3

42,283

30,5

42,285

Pikno +NaCl
1/2

Rata - rata

1). Konsentrasi NaCl 1/16 dari 3.0 M

0,933 g/mL
3). Konsentrasi NaCl 1/4 dari 3.0 M

/mL

2). Konsentrasi NaCl 1/8 dari 3.0 M

0,972 g/mL

4). Konsentrasi NaCl 1/2 dari 3.0 M

1,048 g/mL

b). Molalitas Larutan


molalitas larutan dapat diperoleh dri molaritas larutan yaitu sebagai berikut :

Dimana m = molalitas
M2 = berat molekul NaCl
M = konsentrasi NaCl

d = massa jenis NaCl


1). Konsentrasi NaCl 1/16 dari 3.0 M

= 0,203 molal

3). Konsentrasi NaCl 1/4 dari 3.0 M

= 0,716 molal

c). Penentuan Volume Molal semu

1). Konsentrasi NaCl 1/16 dari 3.0 M

= -247,4 mL/mol

2). Konsentrasi NaCl 1/8 dari 3.0 M

= -1,763 mL/mol

3). Konsentrasi NaCl 1/4 dari 3.0 M

= 89,87 mL/mol

4). Konsentrasi NaCl 1/2 dari 3.0 M

2). Konsentrasi NaCl 1/8 dari 3.0 M

= 0,395 molal
4). Konsentrasi NaCl 1/2 dari 3.0 M

= 1,562 molal

= 88,84 mL/mol

d). Penentuan Volume Molal Parsial

Dimana

sebesar 366,47 yang didapat dari grafik dimana y = 366,47x 308,49 dan R2 =

0,6295
1). Konsentrasi NaCl 1/16 dari 3.0 M

= -164,9 mL/mol

= 0,167 mL/mol
2). Konsentrasi NaCl 1/8 dari 3.0 M

= 113,4 mL/mol

= 343,6 mL/mol
3). Konsentrasi NaCl 1/4 dari 3.0 M

= 244,9 mL/mol

= 555,0 mL/mol
4). Konsentrasi NaCl 1/2 dari 3.0 M

= 317,9 mL/mol

= 775,9 mL/mol

Anda mungkin juga menyukai