Anda di halaman 1dari 28

STROKE

A. KONSEP DASAR

DEFINISI
Cedera serebrovaskular atau stroke meliputi awitan tiba-tiba defisit
neurologis karena insufisiensi suplai darah ke suatu bagian dari otak.
Insufisiensi suplai darah disebabkan oleh trombus, biasanya sekunder
terhadap arterisklerosis, terhadap embolisme berasal dari tempat lain
dalam tubuh, atau terhadap perdarahan akibat ruptur arteri (aneurisma)
(Lynda Juall Carpenito, 1995).
Menurut WHO. (1989) Stroke adalah disfungsi neurologi akut
yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak
dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal pada otak yang
terganggu.

ETIOLOGI
Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan stroke antara lain :
1. Thrombosis Cerebral.
Thrombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami
oklusi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapa
menimbulkan

oedema

dan kongesti di sekitarnya.Thrombosis

biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau bangun tidur.
Hal ini dapat terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan
penurunan

tekanan

darah

yang

dapat

menyebabkan

iskemi

serebral.Tanda dan gejala neurologis seringkali memburuk pada 48
jam setelah thrombosis.
Beberapa keadaandibawah ini dapat menyebabkan thrombosis
otak :
a. Atherosklerosis
Atherosklerosis

adalah mengerasnya pembuluh darah serta

berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah.
Manifestasi klinis atherosklerosis bermacam-macam. Kerusakan
dapat terjadi melalui mekanisme berikut :
 Lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya
aliran darah.
1

 Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadi thrombosis.
 Merupakan

tempat

terbentuknya

thrombus,

kemudian

melepaskan kepingan thrombus (embolus)
 Dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian
robek dan terjadi perdarahan.
b. Hypercoagulasi pada polysitemia
Darah bertambah kental , peningkatan viskositas /hematokrit
meningkat dapat melambatkan aliran darah serebral.
c. Arteritis( radang pada arteri )
2. Emboli
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak
oleh bekuan darah, lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal
dari thrombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri
serebral. Emboli tersebut berlangsung cepat dan gejala timbul kurang
dari 10-30 detik. Beberapa keadaan dibawah ini dapat menimbulkan
emboli :
a. Katup-katup jantung yang rusak akibat Rheumatik Heart Desease.
(RHD)
b. Myokard infark
c. Fibrilasi,. Keadaan aritmia menyebabkan berbagai bentuk
pengosongan ventrikel sehingga darah terbentuk gumpalan kecil
dan sewaktu-waktu kosong sama sekali dengan mengeluarkan
embolus-embolus kecil.
d. Endokarditis oleh bakteri dan non bakteri, menyebabkan
terbentuknya gumpalan-gumpalan pada endocardium.
3. Haemorhagi
Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan
dalam ruang subarachnoid atau kedalam jaringan otak sendiri.
Perdarahan ini dapat terjadi karena atherosklerosis dan hypertensi.
Akibat pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan perembesan
darah kedalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan,
pergeseran dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan ,sehingga
otak akan membengkak, jaringan otak tertekan, sehingga terjadi infark
otak, oedema, dan mungkin herniasi otak.
2

Penyebab perdarahan otak yang paling lazim terjadi : a. b. hipertensi dan DM. heart tidak teratur atau jenis penyakit jantung lainnya. Aneurisma Berry. tekanan darah terlalu tinggi. Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migrain.  FAKTOR RESIKO Faktor-faktor resiko stroke dapat dikelompokan sebagai berikut :: 1. Kelainan katup. d. Akibat adanya kerusakan pada arteri. b. c.Inggris bahwa penduduk yang mengalami stroke disebabkan kondisi-kondisi sebagai berikut : 1. Penyebab emboli MCI. TIA. Iskemik Heart Attack 30% 3 . Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis. b. Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis. Penyebab haemorhagic. Cardiac Pulmonary Arrest c. Hipertensi yang parah.biasanya defek kongenital. 4. Ruptur arteriol serebral. 4. Penyebab timbulnya thrombosis. Malformasi arteriovenous. aneurisma pada arteri dan penurunan faktor pembekuan darah (leukemia. suplai darah menurun pada ektremitas. sehingga darah arteri langsung masuk vena. Cardiac output turun akibat aritmia 5. pengobatan dengan anti koagulan ) 5. 3. Spasme arteri serebral . Dari hasil data penelitian di Oxford. 2. e. terjadi hubungan persambungan pembuluh darah arteri. Hipoksia setempat a. yang disertai perdarahan subarachnoid. akibat hipertensi yang menimbulkan penebalan dan degenerasi pembuluh darah. yairtu usia. Tekanan darah tinggi tetapi tidak diketahui 50-60% 2. polisitemia.. Hypoksia Umum a. Bukti-bukti yang menyatakan telah terjadi kerusakan pembuluh darah arteri sebelumnya : penyakit jantung angina.

Kesadaran umummnya baik. 3. biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat. DM 9% Kemudian ada yang menunjukan bahwa yang selama ini dianggap berperan dalam meningkatkan prevalensi stroke ternyata tidak ditemukan pada penelitian tersebut diantaranya. 2. Stroke Haemorhagi. adalah: 1.3. orang mengatakan bahwa latihan dapat mengurangi resiko terjadinya stroke. Penyakit arteri lain 23% 5. Kesadaran pasien umumnya menurun. namun bisa juga terjadi saat istirahat. namun tidak ada bukti secara medis yang menyatakan hal ini. Latihan. Riwayat keluarga. Menurut perjalanan penyakit atau stadiumnya: 4 . Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder . pria dan wanita mempunyai resiko yang sama terkena serangan stroke tetapi untuk MCI jelas pria lebih banyak daripada wanita. Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid. Stroke Non Haemorhagic Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral. 2. Seks dan seksual intercouse. Stroke dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala kliniknya.  KLASIFIKASI 1. b. Merokok. yaitu : a. 4. Namun dalam penelitian tersebut tidak ada bukti yang menyatakan hal tersebut berkaitan secara langsung. baru bangun tidur atau di pagi hari. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif. Obesitas. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu. memang merokok dapat merusak arteri tetapi tidak ada bukti kaitan antara keduanya itu. 5. Dinyatakan kegemukan menimbulkan resiko yang lebih besar. TIA 24% 4. Walaupun memang latihan yang terlalu berat dapat menimbulkan MCI. Heart Beat tidak teratur 14% 6.

Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali oleh serangan TIA berulang. 5 . atau darah dapat beku pada area yang stenosis. Jika terjadi septik infeksi akan meluas pada dinding pembukluh darah maka akan terjadi abses atau ensefalitis . Karena thrombosis biasanya tidak fatal. thrombus dapat berasal dari flak arterosklerotik .  PATOFISIOLOGI Infark serbral adalah berkurangnya suplai darah ke area tertentu di otak. Stroke involusi: stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Iskemia jaringan otak yang disuplai oleh pembuluh darah yang bersangkutan. Edema dan kongesti disekitar area.a. c. emboli. jika tidak terjadi perdarahan masif. 1. Area edema ini menyebabkan disfungsi yang lebih besar daripada area infark itu sendiri.CVA. Oklusi pada pembuluh darah serebral oleh embolus menyebabkan edema dan nekrosis diikuti thrombosis. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam. 2. Dengan berkurangnya edema pasien mulai menunjukan perbaikan. perdarahan dan spasme vaskuler) atau oleh karena gangguan umum (hipoksia karena gangguan paru dan jantung). atau jika sisa infeksi berada pada pembuluh darah yang tersumbat menyebabkan dilatasi aneurisma pembuluh darah. dimana aliran darah akan lambat atau terjadi turbulensi. Proses dapat berjalan 24 jam atau beberapa hari. Luasnya infark bergantung pada faktor-faktor seperti lokasi dan besarnya pembuluh darah dan adekuatnya sirkulasi kolateral terhadap area yang disuplai oleh pembuluh darah yang tersumbat. Suplai darah ke otak dapat berubah (makin lmbat atau cepat) pada gangguan lokal (thrombus. Atherosklerotik sering/cenderung sebagai faktor penting terhadap ortak. Thrombus dapat pecah dari dinding pembuluh darah terbawa sebagai emboli dalam aliran darah. Thrombus mengakibatkan . Stroke komplit: dimana gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau permanen . Hal iniakan me yebabkan perdarahan cerebral. TIA ( Trans Iskemik Attack) gangguan neurologis setempat yang terjadi selama beberapa menit sampai beberapa jam saja. Edema dapat berkurang dalam beberapa jam atau kadang-kadang sesudah beberapa hari. b.

Perubahan disebabkan oleh anoksia serebral dapat reversibel untuk jangka waktu 4-6 menit. Perdarahanintraserebral yang sangat luas akan menyebabkan kematian dibandingkan dari keseluruhan penyakit cerebro vaskuler. Perdarahan pada otak lebih disebabkan oleh ruptur arteriosklerotik dan hipertensi pembuluh darah. Jika sirkulasi serebral terhambat. Perubahan irreversibel bila anoksia lebih dari 10 menit. dapat berkembang anoksia cerebral..jika aneurisma pecah atau ruptur. Anoksia serebral dapat terjadi oleh karena gangguan yang bervariasi salah satunya cardiac arrest. 6 .

PATHOFISIOLOGI STROKE OKLUSI PENURUNAN PERFUSI JARINGAN CEREBRAL ISKEMIA HIPOKSIA Metebolisme anaerob Nekrosis jaringan otak aktifitas elektrolit terganggu VOLUME CAIRAN BERTAMBAH Asam laktat Pompa Na dan K gagal meningkat Na dan K influk EDEMA CEREBRAL RETENSI AIR TIK meningkat Perbedaan antara infark dan perdarahan otak sebagai berikut : GEJALA(ANAMNESA) Permulaan Waktu Peringatan Nyeri Kepala Kejang Kesadaran menurun Gejala Objektif Koma Kaku kuduk Kernig pupil edema Perdarahan Retina INFARK Sub akut Bangun pagi + 50% TIA Kadang sedikit Infark +/- PERDARAHAN Sangat akut Lagi aktifitas + ++ +++ Perdarahan ++ ++ + + + Pemeriksaan Laboratorium Darah pada LP + + Kemungkinan pergeseran 7 .

Kelainan bidang pandang sebelah kanan. Punksi lumbal 4. Hemiparese sebelah kiri tubuh. Rontgen kepala dan medula spinalis 2. glandula pineal Aneurisma AVM. Massa intrakranial densitas bertambah. stenosis Densitas berkurang Perbedaan perdarahan Intra Serebral(PIS) dan Perdarahan Sub Arachnoid (PSA) GEJALA Timbulnya PIS Dalam 1 jam 1-2 menit Nyeri Kepala Hebat Sangat hebat Kesadaran Menurun Menurun sementara Kejang Umum Sering fokal Tanda rangsangan +/- PSA +++ Meningeal.X foto Skedel Angiografi CT Scan. Mempunyai kerentanan terhadap sisi kolateral sehingga kemungkinan terjatuh ke sisi yang berlawanan tersebut. Mengalami hemiparese kanan b. Penilaian buruk c. 2. massa intra hemisfer/vasospasme. Stroke yang Hemifer kiri a. Disfagia global e. Stroke hemisfer Kanan a. b. Angiografi 8 . Oklusi. Perilaku lambat dan sangat hati-hati c. Afasia f. Mudah frustasi  PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. d. Elektro encephalografi 3. Hemiparese ++ +/- Gangguan saraf otak + +++ Jika dilihat bagian hemisfer yang terkena tanda dan gejala dapat berupa: 1.

harus dilakukan secepat mungkin pasien harus dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihanlatihan gerak pasif. Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat. PENGOBATAN PEMBEDAHAN Tujuan utama adalah memperbaiki aliran darah serebral : 1. papaverin intra arterial.  KOMPLIKASI 9 . 3. Evaluasi bekuan darah dilakukan pada stroke akut 4. b.5. membantu pernafasan. Anti agregasi thrombosis seperti aspirin digunakan untuk menghambat reaksi pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma. Endosterektomi karotis membentuk kembali arteri karotis . oksigenasi. 3. Magnetic Resonance Imaging  PENATALAKSANAAN STROKE Untuk mengobati keadaan akut perlu diperhatikan faktor-faktor kritis sebagai berikut 1. Dapat diberikan histamin. Berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan : a. 2. 4. 3. Computerized Tomografi Scanning ( CT. Merawat kandung kemih. termasuk usaha memperbaiki hipotensi dan hipertensi. Vasodilator meningkatkan aliran darah serebral ( ADS ) secara percobaan. kalau perlu lakukan trakeostomi. sedapat mungkin jangan memakai kateter. tetapi maknanya :pada tubuh manusia belum dapat dibuktikan. PENGOBATAN KONSERVATIF 1. yaitu dengan membuka arteri karotis di leher. Revaskularisasi terutama merupakan tindakan pembedahan dan manfaatnya paling dirasakan oleh pasien TIA. Ugasi arteri karotis komunis di leher khususnya pada aneurisma. 2. aminophilin. Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan lendir yang sering. Berusaha menemukan dan memperbaiki aritmia jantung. Mengontrol tekanan darah berdasarkan kondisi pasien. asetazolamid. Scan) 6. 2.

Eliminasi Perubahan kebiasaan Bab. kabur. Makanan/caitan : Nausea. b. daya sensori hilang. MCI. dyspalopia. Emosi labil. deformitas dan terjatuh 3. Berhubungan dengan immobilisasi . di lidah. perdarahan sub arachnoid. lapang pandang menyempit. gangguan penglihatan. suara usus menghilang. mudah lelah. Hidrocephalus B. e. Nyaman/nyeri Sakit kepala. dysfagia f. Neuro Sensori Pusing. Misalnya inkoontinentia urine. katup jantung. ASUHAN KEPERAWATAN 1. CHF. dislokasi sendi. hemiplegi. mudah marah. Dan hipertensi arterial. 2. respon yang tak tepat. distensi kandung kemih. Pengkajian a. Hilangnya daya sensori pada bagian yang berlawanan dibagian ekstremitas dan kadang-kadang pada sisi yang sama di muka. tenggorokan. kesulitan untuk mengekspresikan diri. vomiting. sinkope. dan intrakranial. g. dan susah tidur. infeksi pernafasan. Berhubungan dengan paralisis: nyeri pada daerah punggung. hilangnya rasa. konstipasi dan thromboflebitis. polisitemia. perubahan tingkah laku kelemahan. Berhubungan dengan kerusakan otak : epilepsi dansakit kepala. distensi abdomen. Aktivitas/istirahat : Klien akan mengalami kesulitan aktivitas akibat kelemahan. pipi.Setelah mengalami stroke pasien mungkin akan mengalmi komplikasi . paralisis. Sirkulasi Adanya riwayat penyakit jantung. Kelemahan dengan berbagai tingkatan. c. 4. anuria. dan Bak. nyeri pada daerah tertekan. disritmia. Integritas Ego. sakit kepala. komplikasi ini dapat dikelompokan berdasarkan: 1. tegang pada otak/muka 10 . d.

h. Perubahan persepsi dan orientasi. melindungi jalan nafas. 2) Mencegah/meminimalkan komplikasi. sampai Tidak mampu mengambil keputusan. Tujuan Akhir keperawatan 1) Meningkatnya fungsi serebral dan menurunnya defisit neurologis. perdarahan. Respirasi Ketidakmampuan menelan. ketidakmampuan mengatur Tidak mampu kebutuhan menelan nutrisi. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Dx. Ketidakmampuan berkomunikasi 2. 11 .1. 3) Menunjukan berkurangnya kerusakan/defisit. kognitif. prognosis. batuk. 4. j. pengobatan dan kebutuhan rehabilitasi. i. vasospasme dan edema otak 1. Gangguan perfusi jaringan otak berhubungan dengan oklusi otak. 4) Memberikan dukungan terhadap proses mekanisme koping dan mengintegrasikan perubahan konsep diri. 3. Aspirasi irreguler.ronchi. 5) Memberikan informasi tentang proses penyakit. 3) Kebutuhan sehari-hari terpenuhi baik oleh dirinya maupun orang lain. 4) Mekanisme koping positip dan mampu merencanakan keadaan setelah sakit 5) Mengerti terhadap proses penyakit dan prognosis. Interaksi sosial Gangguan dalam bicara. Prioritas Keperawatan 1) Meningkatkan perfusi serebri dan oksigenasi yang adekuat. 2) Mencegah dan meminimalkan komplikasi dan kelumpuhan permanen. whezing. suara nafas. Tujuan 1) Mempertahankan/meningkatkan tingkat kesadaran. 3) Membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. dan fungsi motorik sensorik 2) Menunjukan kestabilan tanda-tanda vital dan tidak adanya peningkatan TIK. Keamanan Sensorik motorik menurun atau hilang mudah terjadi injury.

Hipotensi dapat terjadi karena syok atau kolapsnya sirkulasi. Reaksi pupil diatur oleh syaraf ke tiga kranial (okulomorik) yang menunjukan keutuhan batang otak. Dapat pula memperkirakan peningkatan TIK yang mungkin berhubungan dengan thrombosis CVA. 6) catat perubahan pandangan seperti pandangan kabur. amati ukuran. 3) Monitor vital sign: hipertensi atau hipotensi. penyebaran dan kerusakan syaraf kranial. Ketidakaturan dapat menunjukan lokasi peningkatan TIK dan membutuhkan intervensi lebih lanjut meliputi support pernafasan. Penyebab menentukan intervensi yang akan dilaksanakan. d. 5) Evaluasi pupil. bentuk dan irama seperti cheyne stokes. atau formasi bekuan. penurunan perfusi serebral dan potensial peningkatan TIK. Intervensi 1) Tentukan faktor penyebab gangguan yang berhubungan dengan situasi individu.ukuran pypil menunjukan keseimbangan antara parasimpatis dan simpatis.Auskultasi denyut jantung dan irama. Hipertensi atau hipotensi dapat merupakan faktor pencetus.. Bendungan pada arteri subklavialdapat tejadi karena perbedaan tekanan pada kedua lengan. Gejala yang bervariasi dapat terjadi karena penekanan cerebral atau adanya cedera pada area vasomotor otak.serta adnya murmur Perubahan denyut jantung terutama bradikardi dapat terjadi karena kerusakan otak. Perubahan tanda-tanda neurologis atau kegagalan setelah serangan mungkin memerlukan tindakan pembedahan serta memerlukan perawatan kritis untuk memonitor TIK. Disritmia dan mur-mur karena penyakitjantung sebagai pencetus CVA (seperti stroke setelah MI atau dari disfungsi katup). Respon terhadap cahaya merupakan kombinasi fungsi dari sayaraf ke dua dan ketiga kranial. 2) Monitor status neurologi dan bandingkan dengan standar Kaji perubahan status kesadaran dan potensial terjadinya peningkatan TIK berguna untuk menentukan lokasi. penyebab koma. bandingkan tekanan antara kedua lengan. gangguan lapang pandang dan persepsi pandang Gangguan spesifik pada penglihatan dipengaruhi oleh gangguan area 12 .2. Peningkatan TIK terjadi karena edema jaringan. 4) Amati respirasi. ketajaman dan reaksi terhadap cahaya.

9) Cegah mengedan yang terlalu kuat. b. Istirahat mutlak dan ketenangan dibutuhkan untuk mencegah perdarahan kembali pada kasus haemorrhagic. batasai pengunjung dan aktivitas sesuai dengan indikasi. kelelahan. iritabilitas dan onset kejang Merupakan indikasi iritasi meningen terutama pada perdarahan. 7) Posisi kepala ditinggikan sedikit dengan posisi netral ( hanya tempat tidurnya saja yang ditinggikan ) Menurunkan tekanan artrial dengan membantu drainase vena dan dapat peningkatkan sirkulasi ferfusi cerebral. karena managemen secara berlebihan akan meningkatkan perluasan kerusakan jaringan. Berikan latihan diantara periode istirahat batasi durasi pelaksanaan prosedur. Stimulasi yang terus menerus akan meningkatkan TIK. heparin. Valvasa manuver akan meningkatkan TIK dan berisiko terjadinya perdarahan kembali. kontra indikasi meliputi hipertensi karena akan meningkatkan resiko perdarahan c. papverin. bantu dengan latihan nafas. Antihypertensi Digunakan pada hyperteni kronis. d. twitching. yang dapat menyebabkan vasodilatasi cerebral dan peningkatan tekanan formasi edema. prerasaan aman dan dampak dari intervensi. untuk mencegah lisis bekuan darah dan perdarahan kembali. 8) Pertahankan istirahat di tempat tidur. Berikan pengobatan sesuai dengan indikasi Antikoagulan seperti. 10) Kaji adanya kaku kuduk. Berikan oksigen bila ada indikasi Menurunkan hipoksemia. warfarin sodium. Biasa digunakan untuk meningkatkan aliran darah otak dan mencegah terjadinya embolus. e. beri lingkungan yang tenang. Berikan antibiotika seperti Aminocaproic acid ( amicar ) Digunakan pada kasus haemorhagic. antiplatelets agen atau dypridamole.otak. Kolaborasi : a. Peripheral vasodilator seperti cyclandilate. Kejang merupakan akibat dari peningkatan TIK. isoxsuprine Digunakan untuk meningkatkan sirkulasi kolteral atau menurunkan 13 .

2) Rubah posisi tiap 2 jam. jari dan telapak tangan serta kali. 2) Mempertahankan kekuatan dan fungsi area yang sakit serta kompensasi bagian tubuh yang lain. 3) Berikan posisi prone satu atau dua kali sehari jika pasien dapat mentolerir. Dilantin. Steroid. DX. meningkatkan sirkulasi. a. Sisi yang sakit biasanya kekurangan sirkulasi dan sensasi yang buruk serta lebih mudah terjadi kerusakan kulit/dekubitus. flaciad. LED. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keadaan neurologi muskuler kelemahan . Monitor hasil laboratorium sesuai dengan indikasi seperti prothrombin. Snjurkan latihan meliputi latihan otot quadriceps/gluteal ekstensi. paralisis. h. 4) Mulai ROM. b. Memmbantu memelihara fungsi ekstensi panggul sdan membantu bernafas. dexamethazone ( Decadon ) Digunakan untuk mengontrol edema cerebral g. Meminimalkan atropi otot. Tujuan : 1) Mempertahankan posisi dan fungsi optimal dengan tidak adanya kontraktur dan footdrop. Dapat digunakan untuk mengontrol kejang atau sebagai sedative action. Intervensi 1) Kaji kemampuan fungsional otot. 2. Aktif/pasif untuk semua ekstremitas . 4) Mempertahankan integritas kulit. paraestesia.vasopasme f. Membantu memberikan informasi tentang fektivitas pemberian obat. Berikan penitoin. Phenobarbital. ( supinasi. sidelying ) terutama pada bagian yang sakit Dapat menurunkan resiko iskemia jaringan injury. 3) Menunjukan perilaku aktivitas yang lebih baik. menurunkan resiko hiperkalsiurea dan osteoporosis pada 14 . membantu mencegah kontraktur. Klasifikasi dengan skala 0-4 Mengidentifikasi kekuatan /kelemahan dapat membantu memberi informasi yang diperlukan untuk membantu pemilihan intervensi karena tehnik yang berbeda digunakan untuk flacid dan spastis paralisis.

pasien dengan haemorhagic. 14) Anjurkan pasien untuk membantu melatih sisi yang sakit dengan ektremitas yang sehat. Dapat merangsang bagian yang sakit dan mengoptimalkan bagian yang sehat. gunakan footboard selama periode placid paralisis. 12) Bantu pasien duduk jika tanda-tanda vital stabil. Flaccid atau footdrop paralisis dapat dan memfasilitasi dikurangi dengan menyangga kepala. 7) Evaluasi penggunaan dan kebutuhan terhadap bantuan posisi dan atau pembatas selama fase spastic paralisis Kontraktur fleksi terjadi karena otot fleksor lebih kuat dari otot ekstensor. Menurunkan stimulasi fleksi jari-jari dan memelihara jari dan jempol pada posisi fungsional. membantu memelihara ekstremitas pada posisi fungsional dan mengosongkan kandung kemih yang mengurangi terjadinya batu buli-buli dan resiko infeksi karena stasis urine 13) Observasi sisi yang sakit seperti warna. Membantu menstabilkan tekanan darah. 15 . dan sembuh dengan lama. 11) Pertahankan kaki pada posisi netral dengan trochanter. 5) Sangga ekstremitas pada posisi fungsional. kecuali pada stroke haemorhagic. atau tanda lain seperti perubahan sirkulasi. Mencegah terjadinya rotasi eksternal pinggul. Jaringan yang edema sangat mudah mengalami trauma. pertahankan posisi kepala netral. 10) Letakan gulungan padat pada telapak tangan dengan jari-jari menggengam. dimana spastis 6) Gunakan segitiga penyangga lengan pada pasien dengan posisi tegak Penggunaan segitiga penyangga lengan selama masa flaccid paralisis akan menurunkan resiko subluksasi. 8) Tempatkan bantal di bawah aksila sampai lengan bawah Mencegah abduksi bahu dan fleksi siku 9) Elevasi lengan dan tangan Dapat meningkatkan aliran balik vena dan mencegah terjadinya formasi edema. Dapat mencegah pengembalian kontraktur fungsi. edema.

koordinasi dan kekuatan 2. Program secara individual akan sesuai dengan kebutuhan pasien baik dalam perbaikan deficit keseimbangan . Dapat membantu pengem. latihan dengan alat bantu dan ambulasi pasien. dengan melengkapi dapat 16 . 3. tidak mampu mengucapkan kata-kata.3. 3) Mampu menggunakan bahasa isyarat. Gangguan komunikasi verbal atau tulis berhubungan dengan gangguan sirkulasi cerebral. Memperbaiki spastisitas pada sisi yang sakit. komunikasinya secara tidak sadar.balian kekuatan otot dan peningkatan kontrol otot volunter. Konsul dengan ahli therapi fisik. Dx. untuk latihan aktif. Bantu dengan stimulasi elektrik seperti TENS unit sesuai dengan indikasi. tidak mampu mengidentifikasi obyek. Berikan relaksasi otot. menulis atau mengartikan bahasa.Kolaborasi 1. area dan kerusakan pada area broca ) 2) Bedakan afasia dengan dsiatria Dapat menentukan pilihan intervensi pada tipe gangguan. a. 3) Dengan percakapan yang salah dan lengkap Pasien dapat kehilangan kemampuan untuk memonitor ucapannya. Tujuan 1) Pasien dapat menunjukan pengertian terhadap masalah komunikasi 2) Mampu mengekspresikan perasaannya. Tidak mampu berkomunikasi dengan tulisan. gangguan sirkulasi tidak dapat berbicara disatria. menyebutkan nama. kehilangan kontrol tonus otot facial atau oral dan kelemahan secara umum. 2. pasien mungkin mempunyaimasalah dalam mengartikan kata-kata 9 afasia. Membantu menentukan kerusakan area pada otak dan menentukan kesulitan pasien dengan sebagian atau seluruh proses komunikasi. gangguan neuromuskuler. Intervensi  Independen 1) Kaji tipe disfungsi misalnya : pasien tidak mengerti tentang kata-kata atau masalah berbicara atau tidak mengeti bahasa sendiri. Ditandai dengan 1. antispasmodik sesuai dengan indikasi seperti baclopen. b. wernicke. dantrolene.

8) Beri peringatan bahwa pasien di ruang ini mengalami gangguan berbicara. bila tidak mampu untuk menulis suruh pasien untuk membaca kalimat pendek. sediakan bel khusus bila perlu. tidak menyebabkan pasien marah dan tidak menyebabkan rasa frustasi. Memberikan komunikasi dasar sesuai dengan situasi individu. gerakan bibir.bar dan mendemonstrasikan secara visual gerakan tangan. misalnya pasien dapat mengenal benda tersebut tetapi tidak mampu menyebutkan namanya. 6) Perdengarkan bunyi yang sederhana seperti “sh……cat” Mengidentifikasi disatria komponen berbicara ( lidah. 5) Perintahkan pasien untuk menyebutkan nama suatu benda yang diperlihatkan. ekspresif. Menguji ketidakmampuan menulis ( agrafia ) dan deficit membaca (alexia ) yang juga merup[akan bagian dari afasia reseptif dan ekspresif. Menguji afasia. 9) Memilih metode komunikasi alternatif misalnya menulis pada papan tulis. 7) Suruh pasien untuk menulis nama atau kalimat pendek. menggam.merealisasikan pengertian pasien mengklarifikasikan asi/arti 4) Katakan untuk mengikuti perintah secara sederhana seperti tutup matamu dan lihat ke pintu Untuk menguji afasia reseptif. 10) Antisipasi dan bantu kebutuhan klien Membantu menurunkan frustasi oleh karena ketergantungan atau ketidakmampuan berkomunikasi. Memajukan stimulasi komunikasi ingatan dan kata-kata. Berikan waktu pasien untuk berespon. 12) Berbicara dengan nada normal dan hindari ucapan yang terlalu cepat. gunakan pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak dan perhatikan respon klien Mengurangi kebingungan atau kecemasan terhadap banyaknya informasi. 11) Ucapkan langsung kepada klien berbicara pelan dan tenang. 13) Menganjurkan pengunjung untuk berkomunikasi dengan pasien 17 . Pasien tidak dipaksa untuk mendengar. kontrol pernafasandapat mempengaruhi artikulasi dan mungkin tidak terjadinya afasia ekspresif ). Untuk kenyamanan berhubungan dengan ketidakmampuan berkomunikasi.

Defiicit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan neuromuskuler.misalnya membaca surat. 2) Pasien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan. Menurunkan isolasi sosial dan mengefektifkan komunikasi. mandi. Membantu dalam mengantisipasi dan merencanakan pertemuan kebutuhan individual. membicarakan keluarga.4. b. menurunnya kekuatan dan kesadaran. Pasien memerlukan empati. 14) Membicarakan topik-topik tentang keluarga pekerjaan dan hobi. melipat atau memakai pakaian.. 3) Menyadarkan tingkah laku/sugesti tindakan pada perlindungan kelemahan. kehilangan kontrol otot/koordinasi ditandai oleh kelemahan untuk ADL. tetapi perlu mengetahui perawatan yang 18 . 2) Hindari apa yang tidak dapat dilakukan pasien dan bantu bila perlu. positip untuk usahanya. 15) Perhatikan percakapan pasien dan hindari berbicara secara sepihak Memungkinkan pasiendihargaikarena kemampuan intelektuialnya masih baik. DX. Intervensi  Independen 1) Kaji kemampuan dan tingkat penurunan dalam skala 0-4 untuk melakukan ADL.. Tujuan : 1) Pasien dapat menunjukan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan merawat diri.untuk mempraktekan ketrampilan praktis dalam berkomunikasi. beri feedback. Pasien dalam keadaan cemas dan tergantung hal ini dilakukan untuk mencegah frustasi dan harga diri klien. Meningkatkan pengertian percakapan dan kesempatan. 3) Mengidentifikasi personal/masyarakat yang dapat membantu. a. Mengkaji kemampuan verbal individual dan sensori motorik dan fungsi kognitif untuk mengidentifikasi deficit dan kebutuhan therapi. mengatur suhu air. Seperti makan.  Kolaborasi : Konsul ke ahli therapi bicara. Pertahankan suport pola pikir ijinkan pasien melakukan tugas.

. Perubahan penerimaan respon verbal dan non verbal. Penilaian negatif terhadap tubuh. 7) Kaji kemmampuan komunikasi untuk Bak. 3. 19 . pispot. kekuatan dan fungsi masa lalu. 2) Konsul ke dokter therapi okupasi Untuk mengembangkan therapi dan melelngkapi kebutuhan khusus.konsisten dalam menangani pasien. 4. 5. memandirikan pasien dan menganjurkan pasien untuk terus mencoba. DX. Kemampuan mengunakan urinal. Perubahan aktual dalam struktur dan fungsi. Mengurangi ketergantungan. jauhkan dari jalan Menjaga keamanan pasien bergerak di sekitar tempat tidur dan menurunkan resiko tertimpa perabotan. sikat dengan pegangan panjang. berhubungan dengan biophysical. 6) Beri kesempatan untuk menolong diri seperti menggunakan kombinasi pisau garpu. Gangguan harga diri. Ketidakmampuan berkomunikasi dengan perawat dapat menimbulkan masalah pengosongan kandung kemih oleh karena masalah neurogenik. 4) Rencanakan tindakan untuk deficit penglihatan seperti tempatkan makanan dan peralatan dalam suatu tempat. anjurkan minum dan meningkatkan aktivitas Meningkatkan latihan dan menol. Sekaligus meningkatkan harga diri. ekstensi untuk berpijak pada lantai atau ke toilet. 2. Berfokus pada penampilan. akan mampu melihat keluar masuknya orang ke ruangan. ketidak berdayaan dan merasa tidak ada harapan.ong mencegah konstipasi  Kolaboratif : 1) Pemberian supositoria dan pelumas feses/pencahar Pertolongan utama terhadap fungsi bowell atau Bab. perubahan persepsi kognitif ditandai dengan : 1. dekatkan tempat tidur ke dinding. Antarkanke kamar mandi bila kondidisi memungkinkan. Pasien akan mampu melihat dan memakan makanan. 8) Identifikasi kebiasaan Bab. 5) Tempatkan perabotan ke dinding. psikososial. kursi untuk mandi.

Membantu pasien untuk melihat bahwa perawat menerima kedua bagian sebagai bagian dari seluruh tubuh. Mendukung penolakan terhadap bagian tubuh atau perasaan negatif terhadap gambaran tubuh dan kemampuan yang menunjukan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional. 4) Catat ketika pasien menyatakan terpengaruh seperti sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah kematian. b. 2) Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi pada pasien. 3) Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaan termasuk hostility dan kemarahan. Intervensi :  Independen. Beberapa pasien dapat menerima dan mengatur perubahan fungsi secara efektif dengan sedikit penyesuaian diri. Kehilangan/ perubahan dalam pekerjaan 6.5. membantu pasien untuk mengenaL dan mulai mmenyesuaikan dengan perasaan tersebut. Menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi. 5) Pernyataan pengakuan terhadap penolakan tubuh. 6) Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan mengontrol lebih 20 . Mengijinkan pasien untuk merasakan adanya harapan dan mulai menerima situasi baru. 3) Mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang negatif. Tujuan : 1) Mampu menyatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi. 2) Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi. sedangkan yang lain mempunyai kesulitan membandungkan mengenal dan mengatur kekurangan. a. Tidak dapat menyentuh atau melihat bagian-bagian tubuh. mengingatkan kembali fakta kejadian tentang realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat. Menunjukan penerimaan.: 1) Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan.

Klien daspat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu masa mendatang. 9) Dukung penggunaan alat-alat yang dapat mengadaptasikan pasien.dari satu area kehidupan. Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu perkembangan harga diri serta mempengaruhi proses rehabilitasi. 21 . 10) Monitor gangguan tidur peningkatan kesulitan konsentrasi. Dapat mengindikasikan terjadinya depresi umunnya terjadi sebagai pengaruh dari stroke dimana memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut. alat bantu jalan. dan widhrawal. Dapat memfasilitasi perubahan peran yang penting untuk perkembamgan perasaan. Meningkatkan kemandirian untuk membantu pemenuhan kebutuhan fisik dan menunjukan posisi untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial. tas panjang untuk kateter. 8) Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi. tongkat. 7) Anjurkan orang yang terdekat untuk mengijinkan pasien melakukan sebanyak-banyaknya hal-hal untuk dirinya. lethargi.  Kolaborasi Rujuk pada ahli neuro psikologi dan konseling bila ada indikasi.

. Edisi VI. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan.DAFTAR PUSTAKA Doengoes M.Edisi 4. Rencana Asuhan Keperawatan “Pedoman untuk perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Linda Juall Carpenito. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Sylvia A. Patofisiologi Beberapa Gangguan Neurologi. Fakultas Ilmu Keperawatan UI. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik ( terjemahan ). EGC. Jakarta Hudak & Gallo. Jakarta Made Kariasa 1997. 1987. 1995. Hand Out Kursus Keperawatan Neurologi. 22 . Patofiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. 2000. Volume II. Jakarta.Buku 1. Price. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1995.

Diagnosa Keperawatan dan Prioritas . Kerusakan mobilitas fisik b/d kelemahan./dituntun. (27/302 tidak tanpak kelainan. otot. Tekanan Darah waktu menurun masuk 210/120. Suplai darah otak O. 2.: .Keterbatasan rentang gerak. kemudian Deposit tidak dapat digerakan Masalah ResikoGanggu ferfusi plak jaringan otak. kekuningan periksa ke dokter.GCS 456.: Jalan kekamar mandi dibantu Kelemahan secukupnya. hasil ST. 1. 23 . siang 160/90. Neuropati penurunan kekuatan / kontrol hemisfer Kerusakan mobilitas fisik. klien diminta (ateroma) masuk rumah Sakit karena menderita hypertensi dan DM.ANALISA DATA Tanggal 2-04-02 Data Etiologi S. O.: Klien merasakan kesemutan dan Oklusi pemb. Resiko gangguan ferfusi jaringan otak. tekanan darah sekarang pagi. lagi. Scan.drh baal pada kaki dan tangan an sebelah kiri 7 hari yl. b/d Suplai aliran darak otak menurun/defisit. 160/100. S.

latihan nafas. Tanda-tanda sirkulasi vital.Dd. istirahat tidur. .PERENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN Nama Klien : Tn. Resiko Kriteria Setelah Monitor gangguan dilakukan Terutama tekanan darah dan hipotensi ferfusi tidakan bandingkan tekanan antara faktor jaringan keperawatan ke dua lengan. khususnya Pertahankan tekanan darah tempat dengan membantu sensorik. otak. Menurunkan fungsi tinggikan 30 cm dengan arterial motorik dan posisi netral. vena. Vital sign. Hipertensi merupakan pencetus dapat terjadi karena resiko penekanan suplai darak gangguan atau otak ferfusi berkurang. Gejala yang bervariasi B/d selama 5 hari adanya atau otak cerebral adanya cedera pada area vasomotor otak. bantu dengan meningkatkan TIK. cerebral. Kriteria Hasil : Monitor status neurologi Antisipasi terhadap Mempertahan potensial terjadinya kan peningkatan TIK tingkat kesadaran. tidak tejadi. 24 . Kolaborasi : Berikan obat-obat an sesuai dengan program terapi dokter. tekanan drainase meningkatkan ferfusi di Stimulasi yang terus beri menerus menunjukan lingkungan kestabilan. dan akan yang tenang meningkatkan TIK batasi durasi pelaksanaan prosedur keperawatan Cegah mengedan yang Valvasa manuver akan terlalu kuat. Tujuan & Intervensi Keperawatan Rasional Keprwt. Mempertahan kan Atur posisi kepala. Ruang: Unit Stroke DX. batasi pengunjung .

25 . Kaji derajat Derajat mobilitas dilakukan ketidakmampuan fisik b/d tindakan kelemahan. Anjurkan klien untuk miring kanan atau kiri secara teratur. menjadi dasar keperawatan besarnya bantuan yang selama 5 hari diberikan perawat kelemahan Bantu menuntun fisik berkurang memenuhi klien Dapat meningktakan kebutuhan kenyamanan toileting.5 mg.Nicholin 1 amp. Kerusakan Setelah Copaten 3X 12. dan ketenangan pasien Lakukan perawatan kulit.iv Antihipertensi. dalam ketidakmampuan melakukan aktivitas. Tirah lihat bagian-bagian tubuh berisiko baring lama terhadap terutama bgian diatas tulang terjadinya dekubitus yang menonjol.

RR. Nadi:76/menit.: 16x/menit GCS. 10. Tekanan darah 160/100mmHg.Dd. Suhu:36.30 Mengganti infus asering flc. Nadi. 80X/menit.5 satu tablet Selasa 2 April 02 08. 10. GCS 456.8C.456 12. Mengobservasi vital sign.30 Mengambil darah vena u/BSN 2 jam PP 12. 36.II dengan 14 tts/menit 13. Tindakan Keperawatan Perawat tanggal.Tn.TINDAKAN KEPERAWATAN Nama Klien :. Dahlan D.00 Mengecek obat yang diminum klien Rabu 3-4-02 07. Ruangan : Unit Stroke DX. 456 12.00 Merapikan tempat tidur.00 Mengkaji keadaan klien Melaksanakan pemeriksaaan fisik dan tandatanda vital 12.30 Merapikan tempat tidur klien 26 . Suhu.Ahmad. 16X/menit. 1 April’02 10. Suhu.30 Membantu memberikan obat oral copaten 12. 36.Nadi: 76x/menit.jam Senin.:16x/menit GCS.00 Mengikuti fisioterapi exercise memberikan latihan gerak pada ektrimitas atas dan bawah yang mengalami kelemahan. RR.3C.5C.00 Observasi tanda vital Tekanan darah : 150/100 mmHg. RR.00 Mengobservasi vital sign : Tekanan darah 160/90mmHg./Hari.

27 . Nadi 70x/menit. 16x/menit suhu. Tekanan Darah : 160/90 mmHg. Nadi. 13.08.30.7C. 09. GCS. Mengikuti latihan gerak fisik Fisioterapi pasif aktif pada ektrimitas atas dan bawah bgn kiri. Infus di af 09. 36. 16x/menit.5 1 tab.00 Melakukan observasi vital sign. Melakukan observasi vital sign. 1 amp iv.1 C. 456.00 160/90 mmHg. RR. Suhu. 37. 12. 70x/menit.00 Memasukan obat Nicholin inj. RR. Tekanan Darah.00 Memberikan minum obat copaten 12.

Keperawatan 2 S. 16x/menit. O.. RR.EVALUASI Nama Klien : Tn. Ruang : Unit Stroke Hari.: 456. : Intervensi dilanjutkan. Suhu.7 C.00 Diagnose Keperawatan Dan Evaluasi DX.: Klien masih dalam keadaan tirah baring.: gangguan kebutuhan aktivitas hidup seharihari masih harius dibantu. Keperawatan 1 Nama Perawat Dahlan D.obat-obatan sudah diberikan. tapi tetap harus diwaspadai. DX. mual-mual tidak lagi.: Tekanan Darah 160/90 mmHg.Nadi. Tanggal Jam Jum’at 01-02 09.: Tanda-tanda gangguan ferfusi jaringan otak tidak terjadi.Ahmad S.. segala kebutuhan aktivitas hidup sehari-hari masih dibantu. P : Intervensi dilanjutkan. 28 . A. 36. GCS. _ceriah. mau ketawa O.. A.x/menit.: -Pusing.Dd. P.