Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril , secara
tradisional keadaan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat
penghancuran dan penghilangan semua mikro organisme hidup.
Konsep ini
menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relative dan
kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikro organisme hanya dapat
diduga atas dasar proyeksi kinetis angka kematian mikroba.(Lachman , 1994 )
Secara parenteral volume besar umumnya diberikan lewat infus intravena untuk
menambah cairan tubuh , elektrolit atau untuk menambah nutrisi . Infus intravena
adalah sediaan parenteral dengan volume besar yang ditujukan untuk intravena. Pada
umumnya cairan infus intravena digunakan untuk pengganti cairan tubuh dan
memberikan nutrisi tambahan , untuk mempertahankan fungsi normal tubuh pasien
rawat inap yang membutuhkan asupan kalori yang cukup selama masa penyembuhan
atau setelah operasi selain itu juga sebagai pembawa obat obat lain .

1.2

Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan larutan infus ?
Bagaimana macam macam sediaan infus ?
Bagaimana cara pembuatan dan evaluasi mutu sediaan infus
Tujuan
- Mengetahui apa itu infus
- Mengetahui macam macam sediaan infus
- Mengetahui cara pembuatan infus dan evaluasi mutu sediaan infus
-

1.3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Sediaan Injeksi Volume Besar adalah larutan produk obat yang disterilisasi akhir
dan dikemas dalam wadah dosis tunggal dengan kapasitas 100 ml atau lebih dan
ditujukan untuk manusia. Parenteral volume besar meliputi infus intravena, larutan
irigasi, larutan dialisis peritonal & blood collecting units with antikoagulant (2).
Definisi yang diperluas dari sediaan parenteral volume besar adalah produk obat
dengan pembawa air dalam bentuk konterner dosis tunggal, disterilkan secara terminal
dengan kapasitas 100 mililiter atau lebih, yang digunakan atau diberikan kepada
manusia.
Infus adalah adalah pemasukan suatu cairan atau obat ke dalam tubuh melalui rute
intravena dengan laju konstan selama periode waktu tertentu. Infus dilakukan untuk
seorang pasien yang membutuhkan obat sangat cepat atau membutuhkan pemberian
obat secara pelan tetapi terus menerus. Pemberian obat atau cairan ke dalam tubuh
melalui mulut akan memasuki proses pencernaan terlebih dahulu sehingga tidak denga
cepat diserap oleh tubuh.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

h.
i.
j.

k.

Persyaratan Infus Intravena :


Sediaan steril berupa larutan atau emulsi
Bebas pirogen
Sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah
Infus emulsi dibuat dengan air sebagai fase luar, diameter fase dalam tidak lebih
dari 5.
Infus intravena tidak mengandung bakterisida dan zat dapar
Larutan untuk infus intravena harus jernih dan praktis bebas partikel.
Emulsi untuk infus intravena setelah dikocok harus homogen dan tidak
menunjukkan pemisahan fase, diameter globul fase terdispersi untuk infus
intravena harus dinyatakan.
Volume netto / volume terukur tidak kurang dari nilai nominal.
Penyimpanan dalam wadah dosis tunggal.
Penandaan :Etiket pada larutan yang diberikan secara intra vena untuk melengkapi
cairan, makanan bergizi, atau elektrolit dan injeksi manitol sebagai diuretika
osmotik, disyaratkan untuk mencantumkan kadar osmolarnya. Jika keterangan
mengenai osmolalitas diperlukan dlm monografi masing-masing, pada etiket
hendaknya disebutkan kadar osmolar total dlm miliosmol per liter.
Memenuhi syarat injeksi. Kecuali dinyatakan lain.

2.2 Jenis Infus


a. Larutan Elektrolit
- Larutan Dasar
- Larutan Starter untuk Ginjal
- Larutan Ful Elektrolit
- Larutan Pengganti Kalium
- Larutan untuk terapi dehidrasi hipotoni
- Larutan untuk terapi metabolit asidosis
b. Larutan Karbohidrat Alkohol dan Asam Amino
- Larutan glukosa atau dekstrosa
- Larutan gula invert
- Larutan fruktosa
- Larutan asam amino

Larutan sorbitol
Larutan manitol
c. Plasma Expander
Adalah cairan yang digunakan untuk menggantikan plasma darah yang hilang
akibat perdarahan, luka bakar, dll. Contoh : gelatin, dekstran, alginon,
polivinilpirolidon.
d. Emulsi Lemak
Diinfuskan jika terjadi kesulitan makan per oral, untuk memenuhi kebutuhan akan
kalori setiap harinya atau membantu fungsi lambung atau usus setelah operasi atau
pasien kekurangan gizi parah.
Persyaratan :
- Tetesan berukuran 0,1 1,0 mikrometer
- Emulgator seminimal mungkin
- Tonisitas dengan penambahan glukosa, sorbitol
2.3

Faktor Yang Harus Diperhatikan Dalam Pemberian Terapi Cairan Intravena


1. Dari Sisi Pasien.
Dari sisi pasien yang perlu diperhatikan adalah penyakit dasar pasien, status hidrasi
dan hemodinamik, pasien dengan komplikasi penyakit tertentu, dan kekuatan
jantung. Kesemua faktor ini merupakan hal yang harus diketahui dokter.
2. Dari Sisi Cairan
a. Kandungan elektrolit cairan
Elektrolit yang umum dikandung dalam larutan infus adalah Na +, K+, Cl, Ca2+, laktat
atau asetat. Jadi, dalam pemberian infus, yang diperhitungkan bukan hanya air
melainkan juga kandungan elektrolit ini apakah kurang, cukup, pas atau terlalu
banyak.
b. Pengetahuan dokter dan paramedis tentang isi dan komposisi larutan infus
sangatlah penting agar bisa memilih produk sesuai dengan indikasi masing-masing.
c. Osmolaritas cairan
Yang dimaksud dengan osmolaritas adalah jumlah total mmol elektrolit dalam
kandungan infus. Untuk pemberian infus ke dalam vena tepi maksimal osmolaritas
yang dianjurkan adalah kurang dari 900mOsmol/L untuk mencegah risiko flebitis
(peradangan vena). Jika osmolaritas cairan melebihi 900 mOsmol/L maka infus
harus diberikan melalui vena sentral.
3. Kandungan lain cairan.
Seperti disebutkan sebelumnya, selain elektrolit beberapa produk infus juga
mengandung zat-zat gizi yang mudah diserap ke dalam sel, antara lain: glukosa,
maltosa, fruktosa, silitol, sorbitol, asam amino, trigliserida. Pasien yang dirawat lebih
lama juga membutuhkan unsur-unsur lain seperti Mg 2+, Zn2+ dan trace element
lainnya.
4. Sterilitas cairan infus.
Parameter kualitas untuk sediaan cairan infus yang harus dipenuhi adalah steril,
bebas partikel dan bebas pirogen disamping pemenuhan persyaratan yang lain.
Pada sterilisasi cairan intravena yang menggunakan metoda sterilisasi uap panas,

ada dua pendekatan yang banyak digunakan, yaitu overkill dan non-overkill
(bioburden-based).
a. Overkill adalah Pendekatan yang dilakukan untuk membunuh semua mikroba,
dengan prosedur sterilisasi akhir pada suhu tinggi yaitu 121oC selama 15 menit. .
Dengan cara ini, hanya cairan infus yang mengandung elektrolit tidak akan
mengalami perubahan. Namun cara ini sangat berisiko dilakukan pada cairan infus
yang mengandung nutrisi seperti karbohidrat dan asam amino karena bisa jadi nutrisi
tersebut pecah dan pecahannya menjadi racun. Misalnya saja larutan glukosa
konsentrasi tinggi. Pada pemanasan tinggi, cairan ini akan menghasilkan produk
dekomposisi yang dinamakan 5-HMF atau 5-Hidroksimetil furfural yang pada kadar
tertentu berpotensi menimbulkan gangguan hati. Selain suhu sterilisasi yang terlalu
tinggi, lama penyimpanan juga berbanding lurus dengan peningkatan kadar 5-HMF
ini.
b.Non-overkill :
sesuai dengan perkembangan kedokteran yang membutuhkan jenis cairan yang
lebih beragam contohnya cairan infus yang mengandung nutrisi seperti karbohidrat
dan asam amino serta obat-obatan yang berasal dari bioteknologi, maka
berkembang juga teknologi sterilisasi yang lebih mutakhir yaitu metoda Non-Overkill
atau disebut juga Bioburden, dimana pemanasan akhir yang digunakan tidak lagi
harus mencapai 121 derajat, sehingga produk-produk yang dihasilkan dengan
metoda ini selain dijamin steril, bebas pirogen, bebas partikel namun kandungannya
tetap stabil serta tidak terurai yang diakibatkan pemanasan yang terlampau tinggi.
Dengan demikian infus tetap bermanfaat dan aman untuk diberikan.
2.4

Analisa Pre - formulasi


-

Cara Kerja Obat : keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah komposisi
elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung cairan
ekstraseluler. Natrium merupakan kation utama dari plasma darah dan menentukan
tekanan osmotik. Klorida merupakan anion utama di plasma darah. Kalium merupakan
kation terpenting di intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf dan otot. Elektrolitelektrolit ini dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada dehidrasi dan syok
hipovolemik termasuk syok perdarahan.
Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok
hipovolemik. Ringer laktat menjadi kurang disukai karena menyebabkan hiperkloremia dan
asidosis metabolik, karena akan menyebabkan penumpukan asam laktat yang tinggi
akibat metabolisme anaerob.
Kontraindikasi : hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, asidosis laktat.
Reaksi yang merugikan : edema jaringan pada penggunaan volume yang besar,
biasanya paru-paru.
Peringatan dan Perhatian : Not for use in the treatment of lactic acidosis. Hati-hati
pemberian pada penderita edema perifer pulmoner, heart failure/impaired renal function &
pre-eklamsia.

BAB III
PRE FORMULASI

3.1 Zat Aktif


1. Acidum Lacticum ( Handbook of Pharmaceutical Excipient hal.355 )
Sumber FI edisi III. Hal. 54 dan Handbook of Pharmaceutical Exipients 650

Rumus Empiris : C3H6O3

Berat Molekul : 90

Pemerian
: Praktis tidak berbau atau berbau lemah ,tidak berwarna atau
sedikit kuning berwarna , cairan kental higroskopis , cairan menguap

Kelarutan
: Mudah larut dalam air, dalam etanol 95% dan dalam eter.

Fungsi
: Mengasamkan agen dan acidulant (aditif makanan yang
menurunkan Ph untuk memberikan rasa pahit

Khasiat
: Antiseptikum alat pencernaan

Stabilitas
: Asam laktat bersifat higroskopis dan akan membentuk produk
kondensasi seperti asam polylactic pada kontak dengan air . kesetimbangan
antara asam polylactic dan asam laktat tergantung pada konsentrasi dan suhu .
Pada suhu tinggi asam laktat akan membentuk laktida , yang mudah dihidrolisis
kembali menjadi asam laktat.

Inkompatibilitas : Tidak kompatibel dengan oksidator , iodida , dan albumin .


bereaksi keras dengan asam fluorida dan asam nitrat .

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

pH
: 5,0 - 7,0

Konsentrasi
: 0.0121.16 %

Sisa pemijaran : Tidak lebih dari 0,02%


2. Natrii Hydroxydum (NaOH)
Sumber FI edisi III. Hal. 412 dan Handbook of Pharmaceutical Exipients hal.649

Pemerian
: bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering,
keras rapuh dan menunjukkan reaksi Natrium yang tertera pada reaksi
identifikasi.

Berat Molekul : 40

Kelarutan
: Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P

Fungsi
: Alkalizing agent; buffering agent.

Khasiat
: Zat tambahan

Stabilitas
: Natrium hidroksida harus disimpan dalam wadah kedap
udara bukan logam di tempat yang sejuk dan kering. Bila terkena udara, natrium
hidroksida cepat menyerap kelembaban dan mencair, tetapi kemudian menjadi
padat lagi karena penyerapan karbon dioksida dan pembentukan natrium
karbonat.

Inkompatibilitas : Natrium hidroksida adalah basa kuat dan tidak sesuai dengan
senyawa yang mudah mengalami hidrolisis atau oksidasi. Ini akan bereaksi
dengan asam, ester, dan eter, terutama dalam larutan berair.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Konsentrasi
:

pH
: pH _ 12 (0.05% w/w aqueous solution);
pH _ 13 (0.5% w/w aqueous solution);
pH _ 14 (5% w/w aqueous solution).
3. Natrii Chloridum (NaCl)
Sumber FI edisi III. Hal.403 dan Handbook of Pharmaceutical Exipients hal.637

Pemerian
: hablur heksahedral tidak berwarna atau serbuk hablur putih;
tidak berbau; rasa asin.

Berat Molekul : 58,5

Kelarutan: Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih dan dalam
lebih kurang 10 bagian gliserol P; sukar larut dalam etanol 95% P

Fungsi
: Pengisotonis

Khasiat
: Sumber ion klorida dan ion natrium

Inkompatibilitas : Larutan natrium klorida bersifat korosif untuk besi. Mereka


juga bereaksi membentuk endapan dengan garam perak, timbal, dan merkuri.
Zat pengoksidasi kuat membebaskan klorin dari larutan diasamkan natrium
klorida. Kelarutan Methylparaben pengawet antimikroba menurun dalam larutan
natrium klorida dan viskositas gel karbomer dan solusi dari hidroksietil selulosa
atau hidroksipropil selulosa dikurangi dengan penambahan natrium klorida.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Konsentrasi
: kurang dari sama dengan 0.9%

pH
: 6,7 - 7,3

Susut pengerian : Tidak lebih dari 0,5%


4. Kalii Chloridum (KCl)
Sumber FI edisi III. Hal. 329 Handbook of Pharmaceutical Exipients

Pemerian
: Hablur berbentuk kubus atau berbentuk prisma; tidak
berwarna atau serbuk butir putih; tidak berbau; rasa asin, mantap di udara.

Berat Molekul : 74,5

Kelarutan: Larut dalam 3 bagian air; sangat mudah larut dalam air mendidih;
praktis tidak larut dalam etanol mutlak P dan dalam eter P.

Khasiat
: Sumber ion kalium

Stabilitas
:

Inkompatibilitas : Kalium klorida bereaksi hebat dengan bromin trifluorida dan


dengan campuran asam sulfat dan kalium permanganat . Kehadiran asam
klorida , natrium klorida , dan magnesium klorida menurunkan kelarutan kalium
klorida dalam air Larutan encer bentuk kalium klorida endapan dengan timbal
dan perak garam . Intravena solusi kalium klorida berair tidak kompatibel dengan
hidrolisat protein .

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.

Konsentrasi
:

pH
: 7,0
5. Calcii Chloridum (CaCl2)
Sumber FI edisi IV. Hal. 160 Handbook of Pharmaceutical Exipients hal. 89

Pemerian
: Hablur; tidak berwarna; tidak berbau; rasa agak pahit; melelh
basah.

Berat Molekul : 111

Kelarutan
: Mudah larut dalam air, dalam etanol, dan dalam etanol
mendidih; sangat mudah larut dalam air panas.

Khasiat
: Sumber ion kalsium

Stabilitas
: Kalsium klorida secara kimiawi stabil; Namun, hal itu harus
dilindungi dari kelembaban.

Inkompatibilitas : Kalsium klorida tidak kompatibel dengan karbonat larut,


fosfat, sulfat, dan oksalat. Ini bereaksi hebat dengan bromin trifluorida, dan
reaksi dengan seng melepaskan gas hidrogen meledak. Ini memiliki reaksi
eksotermis dengan air, dan ketika dipanaskan untuk dekomposisi itu
memancarkan asap beracun klorin.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.

Konsentrasi
pH

:
: Antara 4,5 dan 9,2

3.2 Zat Tambahan


1. Aqua pro injeksi
Sumber FI edisi IV. Hal. 112 Handbook of Pharmaceutical Exipients 768

Pemerian
: cairan, jernih, tidak berwarna; tidak berbau

Fungsi
: Pembawa

Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal, dari kaca atau plastik, tidak lebih
besar dari 1 liter. Wadah kaca sebaiknya dari kaca Tipe I atau Tipe II.

pH
: 5,0 7,0
3.3 Pendekatan Formulasi
1. infus Ringer Laktat ini bertujuan untuk mengganti cairan tubuh atau pengganti
elektrolit pada kasus dehidrasi.
2. Infus harus bebas pirogen karena pirogen menyebabkan kenaikan suhu tubuh yang
nyata, demam, sakit badan, kenaikan tekanan darah arteri, kira-kira 1 jam setelah
injeksi. Untuk menghilangkan pirogen dilakukan sterilisasi bebas pirogen
menggunakan carbon aktif (carbo adsorben).

BAB IV
FORMULASI

4.1 Formula
1) Injeksi Natrium Laktat Majemuk ( Injeksi Ringer Laktat )
Tiap 500 ml mengandung :
R/
Acidum Lacticum
1,2 ml
Natrii Hydroxydum
575 mg
Natrii Chloridum
3g
Kalii Chloridum
200 mg
Calcii Chloridum
135 mg
Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal

Catatan

: 1.

Ditambahkan Asam Klorida 0,1 N hingga pH 5,0 7,0.


2. Mengandung ion bikarbonat dihitung sebagai laktat 29 mEq,
ion kalium 5 mEq, ion kalsium 8 mEq, ion klorida 111 mEq dan
ion natrium 131 mEq per L.
3. Tidak boleh mengandung bakterida.
4. Disterilkan dengan Cara sterilisasi A, segera setelah dibuat.
5. Bebas pirogen
Fornas Edisi Kedua 1978, halaman : 206
2) Resep baru
R/
Acidum Lacticum
Natrii Hydroxydum
Natrii Chloridum
Kalii Chloridum
Calcii Chloridum
Carbo Adsorbens
Aqua Pro Inject ad
m.f.infus No III
da in infus 500 ml

1,2 ml
575 mg
3g
200 mg
135 mg
0,1 %
500 ml

4.2 Perhitunngan Tonisitas


a. CaCl2

0,135
500

b. Asam laktat

1,2
500

x 100% = 0,24%

c. KCl

0,2
500

x 100% = 0,04%

d. NaOH

0,575
500

x 100% = 0,027%

E = 0,70
E = 0,55

E = 0,76

x 100% = 0,115%

E = 1,44

= 0,9 - (C.E)
= 0,9 [(0,027 x 0,70) + (0,04 x 0,76) + (0,24 x 0,55) + (0,115 x 1,44)]
= 0,9 - [0,0189 + 0,0304 + 0,132 + 0,1656 ]
= 0,9 0,3469
= 0,5531 gr/100ml

Perhitungan mEq
a. NaCl

500
1000

x 3000 mg = 6000 mg

x Na+

6000 x 23
58,5

x Cl-

60002358,97

x mEq Na+

2358,97 x 1
23

= 2358,97 mg ion
= 3641,03 mg ion
= 102,56 mEq 102 mEq

x mEq Cl-

3641,03 x 1
35,5

= 102,56 mEq 102 mEq

b. KCl

500
1000

x 200 mg = 400 mg

xK

400 x 39
74,5

x Cl-

400209,39 = 190,61 mg ion

x mEq K+

209,39 x 1
39

= 5,36mEq 5 mEq

190,61 x 1
35,5

= 5,36 mEq 5 mEq

x mEq Cl

= 209,39 mg ion

c. CaCl2

500
1000

x 135 mg = 270 mg

x Ca+

270 x 40
111

x Cl-

27097,29 = 172,71 mg ion

x mEq Ca2+

97,29 x 2
40

= 4,8mEq

x mEq Cl-

172,71 x 1
35,5

= 4,8 mEq

= 97,29 mg ion

d. Asam Laktat dihitung dari NaHCO3 (ion bikarbonat)

500
1000

x 1,2 ml = 2,4 ml = 2400 mg

x Na+

x HCO3-

x mEq Na+

2400 x 23
84
2400

x mEq HCO3-(Laktat- )=
e. Total
Laktat K+
Ca2+
Cl-

657,14

657,14 1
23
1742,86 1
61

= 29 mEq
= 5 mEq
= 4,8 mEq
= 4 + 5 + 102 = 111 mEq

= 657,14 mg ion
= 1742,86 mg ion
= 28,57mEq
= 28,57 mEq 29 mEq

Na+

= 102 + 29 = 131 mEq

4.3 Perhitungan Formula


Yang dibuat per botol
= 500 ml + (500 x
Yang diisikan
= 500 ml + (500 x

20
100

) = 600 ml x 3 botol = 1800 ml

2
100

) = 510 ml

0,04
100

Dilebihkan 5 %

5
720 mg+720 mg=756 mg
100

b. Kalsium Klorida

0,027
100

Dilebihkan 5 %

5
486 mg+ 486 mg=510,3 mg
100

c. Natrium Hidroksida

0,115
100

Dilebihkan 5 %

5
2070 mg+2070 mg=2173,5 mg
100

0,24
100

5
4320mg+ 4320 mg=4536 mg
100

0,1
100

a. Kalium klorida

d. Asam Laktat
Dilebihkan 5 %
e. Carbo Adsorben
4.4 Penimbangan
a. Kalium klorida
b. Kalsium klorida
c. Natruim Hidroksida
d. Asam Laktat
e. Carbo Adsorben

x 1800 = 0,72 g = 720 mg

x 1800 = 0,486 g = 486 mg

x 1800 = 2,07 g = 2070 mg

x 1800 = 4,32 g = 4320 mg

x 1800 ml = 1,8 gr

= 756 mg 750 mg
= 510,3 mg 510 mg
= 2173,5 mg 2170 mg
= 4536 mg 4530 mg
= 1800 mg

4.5 Formula Lengkap


R/ Kalium Klorida
756 mg
Kalsium Klorida
510,3 mg
Natrium Hidroksida 2173,5 mg
Asam Laktat
4536 mg
Carbo Adsorben
1800 mg
Aqua Pro Inject ad 500 ml

BAB V
PROSEDUR KERJA
5.1 Sterilisasi Awal
No

Alat yang diperlukan

Cara Sterilisasi

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Gelas ukur
Corong
Kapas/Pipet
Kertas saring
Kertas perkamen
Botol Infus
Erlenmeyer
Beaker glass
Sendok spatula
Gelas arloji
Pinset
Pengaduk kaca
Aqua pro inject
Karet pipet dan botol

Autoclave 30
Autoclave 30
Autoclave 30
Autoclave 30
Autoclave 30
Autoclave 30
Oven 30
Oven 30
Flambeer 20
Flambeer 20
Flambeer 20
Flambeer 20
Didihkan 15
Dididihkan 15

Awal

Paraf Pengawas
Paraf
Akhir
Paraf

5.2 Pembuatan
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Sterilkan alat yang diperlukan dengan cara sterilisasi masing masing.
3. Timbang Asam Laktat, larutkan dengan sebagian Aqua Pro Inject dalam erlenmeyer
steril yang telah dikalibrasi 600 ml. (M1)
4. Timbang NaCl, larutkan dengan sebagian Aqua Pro Inject dalam beaker glass. (M2)
5. Timbang KCl, larutkan dengan sebagian Aqua Pro Inject dalam beaker glas. (M3)
6. Timbang CaCl2, larutkan dengan sebagian Aqua Pro Inject dalam beaker glass.
(M4)
7. Masukkan M2, 3, dan 4 ke dalam erlenmeyer (M1), ad larut.

8. Lakukan pengecekan pH dengan pH yang diharapkan 5,0 0,7. Jika dibawah range
lakukan penambahan NaOH qs, jika diatas range lakukan penambahan HCl qs.
9. Tambahkan sisa Aqua Pro Inject ke dalam larutan di erlenmeyer ad 600 ml.
10. Tambahkan karbo adsorben yang sebelumnya sudah diaktifkan di oven selama 5
10 menit ke dalam erlenmeyer.
11. Lakukan sterilisasi bebas pirogen dengan mendidihkan larutan bersama carbon aktif
di api bebas selama 15 menit pada suhu 600 700C, tutup dengan gelas arloji.
Lakukan pengadukan sesekali dengan pengaduk kaca.
12. Lakukan penyaringan dengan kertas saring yang ujung nya sudah dibasahi dengan
aquadest steril, penyaringan dilakukan langsung di gelas ukur.
13. Masukkan larutan yang sudah disaring ke dalam botol infus ad 510 ml.
14. Tutup botol dengan karet penutup, lapisi dengan kertas perkamen, ikat campagne
15. Lakukan sterilisasi dengan cara sterilisasi A selama 30 menit.
16. Beri etiket dan penandaan
5.3 Sterilisasi Bebas Pirogen
No
1

Sediaan

Cara

Infus Ringer Laktat

Dididihkan pada
suhu 600 700C
selama 15 menit

Awal

Paraf Pengawas
Paraf
Akhir

Paraf

5.4 Sterilisasi Akhir


No
1

Sediaan
Infus Ringer Laktat

Cara
Sterilisasi A

Awal

Paraf Pengawas
Paraf
Akhir

Paraf

BAB VI
EVALUASI
6.1 Uji pH
Bertujuan untuk mengetahui apakah nilai asam basa sediaan sudah sesuai dengan
ketentuan. Pengujian ini menggunakan pHmeter.
6.2 Uji Kejernihan
Dilakukan dengan meletakkan sediaan di depan kertas warna hitam (untuk zarah putih)
dan diamati apakah ada partikel melayang.
6.3 Uji Keseragaman Bobot
Dilakukan dengan cara menuangkan kembali isi infus kedalam gelas piala yang sudah
dikalibrasi sesuai volume awal.
6.4 Tabel Evaluasi Sediaan
Pengujian
pH
Kejernihan
Keseragaman
Bobot

Botol 1

Botol 2

Botol 3

DAFTAR PUSTAKA

Kniazi, Sarfaraz (2009). Volume One Second Edition Handbook of Pharmaceutical


Manufacturing Formulation Compressed Solid Products. New York: InformaHealthcare
USA.
Rowe C Raymond., Sheskey J Paul., & Quinn E Marian (2009). Handbook of
Pharmaceutical Excipients Sixth Edition. London : Pharmaceutical Press and
American Pharmacists Association
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Ed. III. Jakarta: Depkes RI.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. Ed. IV. Jakarta: Depkes RI
Formularium Nasional, Edisi Kedua : tahun 1978
Anief, M.1987. Ilmu Mercik Obat. Yogyakarta: UGM Press.
Anief, M.2000.Farmasetika. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.