Anda di halaman 1dari 41

PENGUKURAN (MEASUREMENT)

Pada dasarnya pengukuran merupakan kegiatan penentuan angka bagi suatu objek
secara sistematik. Penentuan angka ini merupakan usaha untuk menggambarkan
karakteristik suatu objek. Kemampuan seseorang dalam bidang tertentu dinyatakan dengan
angka. Dalam menentukan karakteristik individu, pengukuran yang dilakukan harus
sedapat mungkin mengandung kesalahan yang kecil. Kesalahan yang terjadi pada
pengukuran ilmu-ilmu alam lebih sederhana dibandingkan dengan kesalahan pengukuran
pada ilmu-ilmu sosial. Kesalahan pada ilmu-ilmu alam sebagian besar disebabkan oleh alat
ukurnya, sedangkan kesalahan pengukuran dalam ilmu-ilmu sosial bisa disebabkan oleh
alat ukur, cara mengukur, dan keadaan objek yang diukur (Djemari Mardapi, 2008).
Pengukuran yang bersifat kuantitatif itu dapat dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu: (1) Pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu, seperti pengukuran
yang dilakukan oleh seorang penjahit mengenai panjang lengan, kaki, lebar bahu, ukuran
pinggang dan lain-lain. (2) Pengukuran yang dilakukan untuk menguji sesuatu, seperti
pengukuran untuk menguji daya tahan mesin sepeda motor, pengukuran untuk menguji
daya tahan lampu pijar, dan lain-lain. (3) Pengukuran untuk menilai yang dilakukan
dengan menguji sesuatu, seperti pengukuran kemajuan belajar peserta didik dalam rangka
mengisi nilai rapor yang dilakukan dengan menguji mereka dalam bentuk tes hasil belajar.
Pengukuran jenis ketiga inilah yang dikenal dalam dunia pendidikan (Anas Sudiyono,
1996).
Hal-hal yang termasuk evaluasi hasil belajar meliputi alat ukur yang digunakan,
cara menggunakan, cara penilaian, dan evaluasinya. Alat ukur yang digunakan bisa berupa
tugas-tugas rumah, kuis, ujian tengah semester (UTS), dan ujian akhir semester (UAS).
Pada prinsipnya, alat ukur yang digunakan harus memiliki bukti kesahihan (validitas) dan
kehandalan (reliabilitas) yang tinggi.
Kesahihan atau validitas alat ukur dapat dilihat dari konstruk alat ukur, yaitu
mengukur sesuatu yang direncanakan akan diukur. Menurut teori pengukuran, substansi
yang diukur harus satu dimensi. Aspek bahasa, kerapian tulisan tidak diskor atau
diperhitungkan bila tujuan pengukuran adalah untuk mengetahui kemampuan peserta didik
dalam mata pelajaran tertentu. Konstruksi alat ukur dapat ditelaah pada aspek materi,
teknik penulisan soal, dan bahasa yang digunakan. Pakar di bidangnya atau teman sejawat
merupakan penelaah yang baik untuk memberikan masukan tentang kualitas alat ukur yang
digunakan termasuk tes.

Kesahihan alat ukur juga bisa dilihat dari kisi-kisi alat ukur. Kisi-kisi ini berisi
materi yang diujikan, bentuk dan jumlah soal, tingkat berpikir yang terlibat, bobot soal,
dan cara penskoran. Kisi-kisi yang baik adalah yang mewakili bahan ajar. Untuk itu pokok
bahasan yang diujikan dipilih berdasarkan kriteria: (1) pokok bahasan yang esensial, (2)
memiliki nilai aplikasi, (3) berkelanjutan, (4) dibutuhkan untuk mempelajari mata
pelajaran yang lain. Hal lain yang penting adalah lamanya waktu yang disediakan untuk
mengerjakan soal ujian. Ada yang berpendapat, kisi-kisi ini sebaiknya disampaikan kepada
peserta didik.
Hasil pengukuran harus memiliki kesalahan yang sekecil mungkin. Tingkat
kesalahan ini berkaitan dengan kehandalan alat ukur. Alat ukur yang baik memberi hasil
konstan bila digunakan berulang-ulang, asalkan kemampuan yang diukur tidak berubah.
Kesalahan pengukuran ada yang bersifat acak dan ada yang bersifat sistematik. Kesalahan
acak disebabkan situasi saat ujian, kondisi fisik-mental yang diukur dan yang mengukur
bervariasi. Kondisi mental termasuk emosi seseorang bisa bersifat variatif, dan variasinya
diasumsikan acak. Hal ini untuk memudahkan melakukan estimasi kemampuan seseorang.
Kesalahan yang sistematik disebabkan oleh alat ukurnya, yang diukur, dan yang
mengukur. Ada guru yang cenderung membuat soal tes yang terlalu mudah atau sulit,
sehingga hasil pengukuran bisa underestimate atau overestimate dari kemampuan yang
sebenarnya. Setiap orang yang dites, teramsuk peserta didik, tentu memiliki rasa
kecemasan walau besarnya bervariasi. Apabila ada peserta didik yang selalu memiliki
tingkat kecemasan tinggi ketika dites, hasil pengukurannya cenderung underestimate dari
kemampuan yang sebenarnya.

PENILAIAN
A. Pengertian Penilaian
Penilaian adalah suatu kegiatan untuk membuat keputusan tentang hasil
pembelajaran dari masing-masing siswa, serta keberhasilan siswa dalam kelas secara
keseluruhan. Penilaian juga merupakan indikator keberhasilan guru dalam proses
pembelajaran (Supratiningsih dan Suharja, 2006). Menurut Davies (1981), pengertian
penilaian mengacu pada proses yang menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan,
keputusan, unjuk-kerja, proses, orang dan objek. Adapun Sujana (1990), membatasinya
sebagai suatu proses pemberian nilai terhadap objek tertentu berdasarkan suatu kriteria
yang tertentu pula. Untuk menentukan nilai suatu hasil pembelajaran, penilaian tidak selalu
dilakukan melalui proses pengukuran. Kegiatan penilaian dapat dilakukan dengan
membandingkan kriteria-kriteria yang berlaku tanpa perlu melakukan pengukuran terlebih
dulu.
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa tidak semua proses penilaian dilakukan
melalui pengukuran. Guru hendaknya mengetahui perbedaan aantara penilaian dan
pengukuran. Pengukuran

dalam

kegiatan

pembelajaran adalah

suatu

proses

membandingkan tingkat keberhasilan dengan ukuran keberhasilan dalam pembelajaran


yang telah ditentukan. Penilaian dalam pembelajaranadalah proses pembuatan keputusan
nilai keberhasilan dalam pembelajaran melalui kegiatan pengukuran atau pembandingan
dengan kriteria-kriteria yang berlaku. Maka dapat disimpulkan bahwa penilaian dapat
diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (tujuan, kegiatan,
keputusan, unjuk-kerja, proses, orang, objek, dan yang lain).
Setelah memahami tentang pengertian penilaian dan proses penilaian dalam
kegiatan pembelajaran. Kita juga perlu memahami kedudukan penilaian dalam proses
pendidikan. Proses pendidikan merupakan proses memanusiawikan anak manusia. Proses
prndidikan juga dapat dikatakan sebagai proses transformasi budaya dan peradaban untuk
mewujudkan tujuan pendidikan.Transformasi dalam pendidikan adalah proses untuk
membudayakan dan memberadabkan siswa sebagai anak manusia agar menjadi generasi
penerus bangsa yang baik.
Kegiatan penilaian dilakukan dengan memanfaatkan alat penilaian. Alat penilaian
yang baik adalah yang mampu mengukur keberhasilan proses pendidikan secara tepat dan
akurat. Syarat-syarat alat penilaian yang baik adalah :

1. Kesahihan (validity)
Kesahihan (validity) adalah ketepatan alat penilaian dalam mengukur tingkat
keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan kata lain, suatu alat penilaian
dikatakan sahih apabila ia dapat menilai apa yang seharusnya dinilai. Kesahihian suatu alat
penilaian dapat ditinjau dari 4 sisi, yaitu (a) kesahihan isi (content validation), (b)
kesahihan konstruksi (construction validity), (c) kesahihan yang ada sekarang (concurrent
validity), dan (d) kesahihan prediksi (prediction validity) (Arikunto, 1990).
2. Keterandalan (reliability)
Keterandalan (reliability) biasanya disebut dengan keajegan atau konsistensi.
Keterandalan suatu alat penilaian penting untuk diperhatikan. Alat penelitian yang handal
akan memberikan skor yang relatif sama/tetap pada setiap pelaksanaan penilaian. Faktorfaktor yang mempengaruhi tingkat reliabilitas suatu alat penilaian adalah :
a. Jika alat penilaian yang diberikan kepada siswa terlalu mudah, terlalu sukar, atau tidak
jelas, maka akan berpeluang memberikan skor yang tidak handal.
b. Jika siswa peserta penilaian tersebut memiliki karakteristik yang terlalu beragam,
maka hal ini juga berpeluang memberikan skor yang paling handal.
c. Jika standar penilaian yang digunakan pada masing-masing pelaksanaan kegiatan
penilaian tidak seragam, maka skor yang akan dihasilkan pun tidak handal.
d. Jika jumlah soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa terlalu sedikit,
maka hal ini berpeluang memberikan skor yang tidak handal.
Antara kesahihan dan keterandalan memiliki keterkaitan yang sangat erat. Suatu
alat penilaian yang sahih dapat dipastikan handal. Namun, alat penilaian yang handal
belum tentu sahih. Alat penilaian yang tidak handal dipastikan tidak dapat mengukur apa
pun, atau dengan kata lain alat penilaian tersebut tidak sahih.
3. Kepraktisan
Alat penilaian yang praktis dapat membantu guru dalam menyiapkan,
menggunakan, dan menginterpretasikan hasil penilaian. Kepraktisan ini dipengaruhi oleh
sejumlah faktor, yaitu penskoran, kemudahan dalam mengadministrasikan, waktu, dan
bentuk alat penilaian.
B. Tujuan Penilaian
Penilaian dalam pembelajaran PKn SD memiliki tujuan tersendiri, sehingga dalam
menjalankan tugas anda tidak kehilangan arah atau tidak lepas dari apa yang menjadi
tujuan anda. Tujuan penilaian dalam proses pembelajaran adalah :

1. Mengetahui kedudukan siswa dalam kelompok di kelasnya. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui kedudukan siswa di dalam kelompok/kelasnya, apakah ia termasuk dalam
kategori rendah, sedang, atau tinggi.
2. Sebagai balikan bagi guru untuk mengetahui kettepatan pemilihan metode dan program
yang digunakan.
Pada tujuan ini guru harus melakukan introspeksi diri. Hasil introspeksi diri
tersebut digunakan sebagai balikan pada diri anda sendiri untuk melakukan perbaikanperbaikan demi peningkatan kualitas pembelajaran.
3. Mendiagnosa kendala yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran.
Selaku pendidik harus mampu mencari penyebab letidakberhasilan siswa. Juga
harus mampu menganalisis kendala apa saja yang dialami sehingga ia tidak dapat
berhasil secara optimal.
4. Mendapatkan informasi yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menempatkan
dan menentukan langkah berikutnya terhadap siswa.
Sebagi guru harus supel dan komunikatif terhadap semua orang, khusnya orang
yang berada disekitar siswa. Supaya memudahkan dalam mencari informasi tentang
berbagai hal yang berkaitan dengan siswa. Sehingga kita mempunyai cukup bekal untuk
membantu keberhasilan siswa.
C. Fungsi Penilaian
Fungsi penilaian dalam proses pembelajaran :
1. Sebagai bahan diagnosis dan pengembangan
Hasil penilaian dapat digunakan sebagai dasar mendiagnosis kelemahan dan
keunggulan siswa, serta hambatan yang menyertainya. Hasil ini juga dapat digunakan
sebagai bahan pengembangan kualitas pembelajaran siswa.
2. Sebagai bahan seleksi
Hasil penilaian dapat digunakan sebagai dasar seleksi penempatan siswa menurut
jenis jurusan atau jabatannya.
3. Sebagai bahan pertimbangan kenaikan kelas
Hasil penilaian dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan apakah siswa
yang bersangkutan dapat naik kelas atau tidak. Wujudnya adalah nilai atau skor dalam
rapor siswa.
4. Sebagai bahan pertimbangan untuk penempatan
Hasil penilaian dapat digunakan sebagai dasar seleksi penempatan siswa
berdasarkan kemampuan yang mereka miliki.
D. Prinsip Penilaian

Penilaian merupakan langkah terakhir untuk menentukan sejauh mana tujuan


pembelajaran dapat diukur. Di bawah ini akan dijelaskan mengenai prinsip-prinsip
penilaian :
1. Penilaian hendaknya memiliki prinsip objektif
Dalam melakukan suatu penilaian, hendaknya guru bertindak adil dan tidak
pandang bulu. Terhadap siapa pun, standar penilaian yang digunakan guru harus harus
sama.
2. Penilaian hendaknya memiliki prinsip kejelasan
Dalam melakukan penilaian hendaknya guru memahami semuanya dengan jelas.
Supaya memudahkan guru dalam menyiapkan alat penilaian yang akan digunakan.
3. Penilaian hendaknya dikerjakan dengan seksama
Semua komponen untuk menilai siswa sudah disiapkan oleh guru secara cermat
dan seksama. Alat penilaian afektif atau psikomotor tidak sama dengan alat penilaian
kognitif, sehingga kalau guru sudah menyiapkannya dengan seksama maka tidak ada
siswa yang dirugikan.
4. Penilaian hendaknya menggunakan prinsip representative
Dalam menilai hendaknya guru mampu melakukannya secara menyeluruh. Semua
materi yang telah disampaikan dalam kegiatan pembelajaran di kelas harus dapat dinilai
secara representatif.
5. Penilaian hendaknya dilaksanakan dengan menggunakan prinsip terbuka
Apa pun bentuk soal yang dibagikan kepada siswa, hendaknya model penilaiannya
diinformasikan secara terbuka kepada siswa. Model penilaian yang dimaksud adalah
bobot skor masing-masing soal, sehingga siswa tahu mana soal yang harus
diselesaikaan terlebih dahulu karena skor yang tinggi.

E. Jenis Dan Teknik Penilaian Hasil Belajar


Sumber :Pedoman Penilaian Hasil Belajar di SD (Depdiknas;2007)-BSNP
1. Jenis Penilaian Hasil belajar
Penilaian hasil belajar dapat diklasifikasi berdasarkan cakupan kompetensi yang
diukur dan sasaran pelaksanaannya.
A.

Jenis Penilaian Berdasarkan Cakupan Kompetensi yang Diukur

Sebagaimana dijelaskan dalam PP. Nomor 19 tahun 2005 bahwa penilaian


hasil belajar oleh pendidik terdiri atas ulangan harian, ulangan tengah semester,
ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.
a. Ulangan Harian
Ulangan harian merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik secara
periodik untuk menilai/mengukur pencapaian kompetensi setelah menyelesaikan
satu kompetensi dasar (KD) atau lebih. Ulangan Harian merujuk pada indikator
dari setiap KD. Bentuk Ulangan harian selain tertulis dapat juga secara lisan,
praktik/perbuatan, tugas dan produk. Frekuensi dan bentuk ulangan harian
dalam satu semester ditentukan oleh pendidik sesuai dengan keluasan dan
kedalaman materi.
Sebagai tindak lanjut ulangan harian, yang diperoleh dari hasil tes
tertulis, pengamatan, atau tugas diolah dan dianalisis oleh pendidik. Hal ini
dimaksudkan agar ketuntasan belajar siswa pada setiap kompetensi dasar lebih
dini diketahui oleh pendidik. Dengan demikian ulangan ini dapat diikuti dengan
program tindak lanjut baik remedial atau pengayaan, sehingga perkembangan
belajar siswa dapat segera diketahui sebelum akhir semester.
Dalam rangka memperoleh nilai tiap mata pelajaran selain dengan
ulangan harian dapat dilengkapi dengan tugas-tugas lain seperti PR, proyek,
pengamatan dan produk. Tugas-tugas tersebut dapat didokumentasikan dalam
bentuk portofolio. Ulangan harian ini juga berfungsi sebagai diagnosis terhadap
kesulitan belajar siswa.
b. Ulangan Tengah Semester
Ulangan tengah semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah
melaksanakan 8 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan tengah
semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada
periode tersebut. Bentuk Ulangan Tengah Semester selain tertulis dapat juga
secara lisan, praktik/perbuatan, tugas dan produk.
Sebagai tindak lanjut ulangan tengah semester, nilai ulangan tersebut
diolah dan dianalisis oleh pendidik. Hal ini dimaksudkan agar ketuntasan belajar
siswa dapat diketahui sedini mungkin. Dengan demikian ulangan ini dapat
diikuti dengan program tindak lanjut baik remedial atau pengayaan, sehingga
kemajuan belajar siswa dapat diketahui sebelum akhir semester.
c. Ulangan Akhir Semester

Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik


untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester satu.
Cakupan

ulangan

akhir

semester

meliputi

seluruh

indikator

yang

merepresentasikan semua KD pada semester satu. Ulangan akhir semester dapat


berbentuk tes tertulis, lisan, praktik/perbuatan pengamatan, tugas, produk.
Sebagai tindak lanjut ulangan akhir semester adalah mengolah dan
menganalisis nilai ulangan akahir semester. Hal ini dimaksudkan untuk
mengetahui ketuntasan belajar siswa. Dengan demikian ulangan ini dapat diikuti
dengan program tindak lanjut baik remedial atau pengayaan, sehingga kemajuan
belajar siswa dapat diketahui sebelum akhir tahun pelajaran.
d. Ulangan Kenaikan Kelas
Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di
akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di
akhir semester genap. Cakupan ulangan kenaikan kelas meliputi seluruh
indikator yang merepresentasikan KD pada semester tersebut. Ulangan kenaikan
kelas dapat berbentuk tes tertulis, lisan, praktik/perbuatan, pengamatan, tugas
dan produk.
Sebagai tindak lanjut ulangan kenaikan kelas adalah mengolah dan
menganalisis nilai ulangan kenaikan kelas. Hal ini dimaksudkan untuk
mengetahui ketuntasan belajar siswa. Dengan demikian ulangan ini dapat diikuti
dengan program tindak lanjut baik remedial atau pengayaan, sehingga kemajuan
belajar siswa untuk hal-hal yang bersifat esensial dapat diketahui sedini
mungkin sebelum menamatkan sekolah.

B.

Jenis Penilaian Berdasarkan Sasaran


Berdasarkan sasarannya, penilaian hasil belajar dapat diklasifikasi atas
penilaian individual dan penilaian kelompok.

a.

Penilaian individual
Penilaian individual adalah penilaian yang dilakukan untuk menilai
pencapaian kompetensi atau hasil belajar secara perorangan. Penilaian
individual perlu memperhatikan nilai universal seperti: disiplin, jujur, tekun,
cermat, teliti, tanggungjawab, rendah hati, sportif, etos kerja, toleran, sederhana,

b.

bebas, antusias, kreatif, inisiatif, tanggap dan peduli dan lain-lain.


Penilaian kelompok

Penilaian kelompok adalah penilaian yang dilakukan untuk menilai


pencapaian kompetensi atau hasil belajar secara kelompok. Penilaian kelompok
perlu memperhatikan nilai universal seperti: kerjasama, menghargai pendapat
orang lain, kedamaian, cinta dan kasih sayang, toleran, dan lain-lain.
2. Teknik Penilaian
Penilaian hasil belajar dapat menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan
kompetensi dasar yang harus dikuasai. Ditinjau dari tekniknya, penilaian dibagi menjadi
dua yaitu tes dan non tes.
A. Teknik Tes
Teknik tes merupakan teknik yang digunakan melaksanakan tes berupa
pertanyaan yang harus dijawab, pertanyaan yang harus ditanggapi atau tugas yang
harus dilaksanakan oleh orang yang di tes. Dalam hal tes hasil belajar yang hendak
diukur adalah kemampuan peserta didik dalam menguasai pelajaran yang
disampaikan meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan.
Berdasarkan alat pelaksanaannya secara garis besar alat penilaian dengan
teknik tes dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a) Tes Tertulis
Tes tertulis adalah suatu teknik penilaian yang menuntut jawaban secara
tertulis, baik berupa pilihan maupun isian.

Tes tertulis dapat digunakan pada

ulangan harian atau ulangan tengah dan akhir semester atau ulangan kenaikan
kelas. Tes tertulis dapat berbentuk pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah, isian
singkat, atau uraian (essay).

Contoh-contoh tes tertulis sebagai berikut.


1. Pilihan ganda (Ilmu Pengetahuan Alam kelas IV)
Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan terjadinya perubahan wujud cair
Indikator

padat cair ; cair gas cair; padat gas.


: mendeskripsikan proses perubahan wujud dari padat ke

cair atau sebaliknya.


Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c atau d di depan jawaban yang
benar!
Air didinginkan sampai di bawah 0 Celcius akan .
a. mengembun
b. mendidih
c. membeku
d. menguap
2. Pilihan ganda (Pendidikan Kewarganegaraan kelas IV/2)

Kompetensi Dasar : Mengenal lembaga-lembaga negara dalam susunan


pemerintahan tingkat Pusat seperti MPR, DPR,
Indikator

Presiden, MA, MK dan BPK


: Menjelaskan tugas BPK.

Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c atau d di depan jawaban yang
benar!
Pemeriksa Keuangan Negara dilakukan oleh lembaga .
a. Dewan Perwakilan Rakyat
b. Badan Pemeriksa Keuangan
c. Mahkamah Agung
d. Mahkamah Konstitusi
3. Menjodohkan (Ilmu Pengetahuan Alam)
Kompetensi Dasar: Menjelaskan cara makhluk hidup menyesuaikan diri
dengan

lingkungan

atau

melindungi

diri

dari

musuhnya.
Pasangkan pernyataan pada lajur kiri dengan huruf di depan jawaban pada
kotak sebelah kanan, sehingga menjadi pasangan yang sesuai dan benar!

No
1.
2.
3.

Pernyataan
Cara beladiri kerbau
Cara beladiri walang sangit
Cara beladiri cicak

4.

Cara beladiri bunglon

Jawaban

Pilihan Jawaban
a.
b.
c.
d.

mengeluarkan bau
menanduk
merubah warna kulit
memutuskan ekor

4. Bentuk Isian (contoh Pendidikan Kewarganegaraan kelas V/1 )


Kompetensi Dasar : Menjelaskan pentingnya keutuhan Negara Kesatuan
Indikator

Republik Indonesia
: Menjelaskan bahwa Negara Kesatuan Republik

Indonesia merupakan Negara maritim.


Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar!
Contoh Negara Indonesia mempunyai wilayah lautan yang lebih luas
sehingga disebut negara ....
5. Bentuk Uraian (contoh Pendidikan Kewarganegaraan kelas VI/1)
Kompetensi Dasar
:
Menjelaskan proses Pemilu dan Pilkada
Indikator
: Menuliskan syarat-syarat sebagai pemilih dalam Pemilu
Kerjakanlah soal-soal di bawah ini sesuai perintah!
Tuliskan empat syarat sebagai pemilih dalam Pemilu!
b) Tes Lisan

Tes lisan adalah teknik penilaian

hasil belajar

yang pertanyaan dan

jawabannya atau pernyataannya atau tanggapannya disampaikan dalam bentuk


lisan dan spontan. Tes jenis ini memerlukan daftar pertanyaan dan pedoman
pensekoran.
c) Tes Praktik/Perbuatan
Tes praktik/perbuatan adalah teknik penilaian hasil belajar yang menuntut
peserta didik mendemontrasikan kemahirannya atau menampilkan hasil
belajarnya dalam bentuk unjuk kerja. Tes praktik/perbuatan dapat berupa tes
identifikasi, tes simulasi dan tes petik kerja. Tes identifikasi dilakukan untuk
mengukur kemahiran mengidentifikasi sesuatu hal berdasarkan fenomena yang
ditangkap melalui alat indera. Tes simulasi digunakan .untuk mengukur
kemahiran bersimulasi memperagakan suatu tindakan. Tes petik kerja digunakan
untuk mengukur kemahiran mendemonstrasikan pekerjaan yang sesungguhnya.
Contoh tes praktik/perbuatan dapat berupa kegiatan tes untuk mengukur
kemahiran berpidato, menari, menyanyi, melukis, menggambar, berolahraga,
bercerita, membaca puisi, menulis dan lain-lain. Tes kinerja diukur dengan
menggunakan bentuk instrumen lembar observasi.
Contoh format tes praktik/perbuatan sebagai berikut :
Lembar tes praktik/perbuatan
Indikator: Kemampuan membaca puisi
Tanggal

:..........................................
Jumlah

Aspek yang dinilai


No
.

Nama

Pelafalan dan
Penghayatan

pengintonasia

n
4

Rentang nilai

0 40

0 40

skor

Ratarata
skor

Penampilan
5

0 - 20

Keterangan :
Kolom 1, Nomor

= Nomor urut siswa

Kolom 2, Nama

= Nama siswa

Kolom 3, Penghayatan

= Penghayatan isi puisi yang dibaca


(mimik, gerak tangan, gerak tubuh )

Kolom 4, pelafalan dan pengintonasian

= Penggunaan lafal dan intonasi

Kolom 5, Penampilan

= Kostum, sopan santun, penggunaan


peraga.

Kolom 6, Jumlah Sko

= Merupakan jumlah dari kolom 3, 4,


dan 5

Kolom 7, Rata-rata Skor

= Merupakan hasil rata-rata dari


jumlah skor dibagi aspek yang
dinilai.

B. Teknik Nontes
Teknik nontes merupakan teknik penilaian untuk memperoleh gambaran
terutama mengenai karakteristik, sikap, atau kepribadian. Selama ini teknik nontes
kurang digunakan

dibandingkan teknis tes. Dalam proses pembelajaran pada

umumnya kegiatan penilaian mengutamakan teknik tes. Hal ini dikarenakan lebih
berperannya aspek pengetahuan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan
yang dilakukan guru pada saat menentukan siswa.

Seiring dengan berlakunya

kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang didasarkan pada standar


kompetensi dan kompetensi dasar maka teknik penilaian harus disesuaikan dengan:
kompetensi yang diukur;
aspek yang akan diukur, pengetahuan, keterampilan atau sikap;
kemampuan siswa yang akan diukur;
sarana dan prasarana yang ada.
Teknik penilaian nontes dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Pengamatan/observasi
Pengamatan/observasi adalah teknik penilaian yang dilakukan oleh
pendidik dengan menggunakan indera secara langsung. Observasi dilakukan
dengan cara menggunakan instrumen yang sudah dirancang sebelumnya.
Contoh aspek yang diamati pada pelajaran Matematika:
ketelitian;
kecepatan kerja;
kerjasama;
kejujuran.
Contoh aspek yang diamati pada pelajaran Bahasa Indonesia
kerapian dan kebenaran tulisan;
kesantunan berbahasa;
kecermatan berbahasa.

Contoh

aspek

yang

diamati

pada

pelajaran

Pendidikan

Kewarganegaraan;

kedisiplinan;
tanggung jawab;
kerjasama;
inisiatif;
toleransi;
kebersihan dan kerapihan.

Alat/instrumen untuk penilaian melalui pengamatan dapat menggunakan skala


sikap dan atau angket (kuesioner).
Skala sikap
Skala sikap adalah alat penilaian hasil belajar yang berupa sejumlah
pernyataan sikap tentang sesuatu yang jawabannya dinyatakan secara berskala,
misalnya skala tiga, empat atau lima.
Pengembangan skala sikap dapat mengikuti langkah-langkah sebagai
berikut.
1)Menentukan objek sikap yang akan dikembangkan skalanya misalnya sikap
terhadap kebersihan.
2)Memilih dan membuat daftar dari konsep dan kata sifat yang relevan
dengan objek penilaian sikap. Misalnya : menarik, menyenangkan, mudah
dipelajari dan sebagainya.
3)Memilih kata sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala.
4)
Menentukan skala dan penskoran.
Contoh :
Penilaian skala sikap terhadap kebersihan.
No

Pernyataan

1.

Rumah sebaiknya dirawat kebersihannya

2.

setiap hari
Kebersihan rumah menjadi tanggung

3.

jawab semua anggota keluarga


Ruang kelas perlu dijaga kebersihannya

4.

setiap hari
Kebersihan

5.

tanggung jawab setiap anggota kelas


Setiap siswa sebaiknya melaksanakan

ruang

kelas

menjadi

tugas piket dengan penuh rasa tanggung

Skala
3
4

No

Pernyataan

Skala
3
4

jawab
Anak yang lalai melaksanakan tugas

6.

piket harus menggantinya pada waktu


lain
Keterangan :
1.
2.
3.
4.
5.

sangat tidak setuju


tidak setuju
kurang setuju
setuju
sangat setuju

Angket (kuesioner)
Angket adalah alat penilaian hasil belajar yang berupa daftar pertanyaan
tertulis untuk menjaring informasi tentang sesuatu, misalnya tentang latar
belakang keluarga siswa, kesehatan siswa, tanggapan siswa terhadap metode
pembelajaran, media, dan lain-lain.
Contoh angket
Nama

: ..

Kelas

: ..

Petunjuk Pengisian angket!


Pilihlah salah satu jawaban yang sesusai dengan Anda dengan memberi tanda
silang (X) pada huruf a, b, c atau d.
1.

Air minum di keluargamu berasal dari ....


a. sumur
b. kemasan
c. hujan
d. sungai
2. Air mandi di keluargamu berasal dari ....
a. sumur
b. kemasan
c. hujan
d. sungai
3. Buku dan alat tulismu disiapkan oleh ....
a. orang tua
b. pembantu
c. kakak
d. saya sendiri

4. Tempat tidurmu dirapikan oleh ....


a. orang tua
b. pembantu
c. kakak
d. saya sendiri
5. Setiap hari rumahmu dibersihkan oleh ....
a. orang tua
b. pembantu
c. saudara
d. seluruh anggota keluarga
2. Penugasan
Penilaian dengan penugasan adalah suatu teknik penilaian yang menuntut
peserta didik melakukan kegiatan tertentu di luar kegiatan pembelajaran di
kelas. Penilaian dengan penugasan dapat diberikan dalam bentuk individual atau
kelompok. Penilaian dengan penugasan dapat berupa tugas atau proyek.
Tugas
Tugas adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara terstruktur di
luar kegiatan kelas, misalnya tugas membuat ringkasan cerita, menulis puisi,
menulis cerita, mengamati suatu obyek, dan lain-lain. Hasil pelaksanaan tugas
ini bisa berupa hasil karya, seperti: karya puisi, cerita; bisa pula berupa laporan,
seperti: laporan pengamatan.
Pelaksanaan pemberian tugas perlu memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1)Banyaknya tugas setiap mata pelajaran diusahakan agar tidak memberatkan
siswa karena memerlukan waktu untuk istirahat, bermain, belajar mata
pelajaran lain, bersosialisasi dengan teman, dan lingkungan sosial lainnya.
2)Jenis dan materi pemberigan tugas harus didasarkan kepada tujuan
pembemberian tugas yaitu untuk melatih siswa menerapkan atau
menggunakan

hasil

pembelajarannya

dan

memperkaya

wawasan

pengetahuannya. Materi tugas dipilih yang esensial sehingga siswa dapat


mengembangkan keterampilan hidup yang sesuai dengan bakat, minat,
kemampuan, perkembangan, dan lingkungannya.
3)Diupayakan pemberian tuga dapat mengembangkan kreatifitas dan rasa
tanggung jawab serta kemandirian.

Proyek
Proyek adalah suatu

tugas yang melibatkan kegiatan perancangan,

pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu.
Contoh proyek antara lain: melakukan pengamatan pertumbuhan dan
perkembangan tanaman, percobaan foto sintesis tumbuhan dan perkembangan
tanaman, mengukur tinggi pohon dan lebar sungai menggunakan klinometer.
Contoh keterampilan yang dinilai dalam pelaksanaan suatu proyek
1. Tahap Persiapan

: kemampuan membuat perencanaan, merancang kegiatan,


dan mengembangkan suatu ide.

2. Tahap Produksi

kemampuan

memilih

dan

menggunakan

bahan,

peralatan, dan langkah-langkah kerja.


3. Tahap Pelaporan

: kemampuan melaporkan hasil pelaksanaan proyek,


kendala yang dihadapi, kelengkapan dan keruntutan
laporan.

No.
1.

Nama
Mirna Sari Dewi

Persiapan

Pelaksanaan

Pelaporan

0 20
18

0 40
35

0 40
37

3. Produk
Penilaian produk adalah suatu

Nilai Akhir
80

penilaian terhadap keterampilan

menghasilkan suatu produk dalam waktu tertentu sesuai dengan kriteria yang
telah ditetapkan baik dari segi proses maupun hasil akhir.
Tahap-tahap penilaian produk
1)Tahap Persiapan, meliputi: penilaian terhadap kemampuan peserta didik
dalam hal merencanakan, menggali dan mengembangkan gagasan serta
mendesain produk
2)Tahap Pembuatan, meliputi: penilaian terhadap kemampuan peserta didik
dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik
3)Tahap Hasil, meliputi penilaian terhadap kemampuan peserta didik
membuat produk sesuai kegunaan dan kriteria yang telah ditentukan
Contoh Produk Pendidikan Kewarganegaraan (Kelas V/1)
Kompetensi Dasar

: Memberikan contoh peraturan perundang-undangan

tingkat pusat dan daerah, seperti pajak, anti korupsi,


lalu lintas, larangan merokok.
Indikator

: Membuat rambu lalu lintas

Tugas

: Siswa dibentuk dalam kelompok, setiap kelompok


lima orang. Kelompok bertugas untuk membuat
sebuah produk salah satu rambu lalu lintas

(1) Tahap Persiapan


a. Kelompok menyediakan alat-alat untuk membuat rambu lalu lintas
misal kertas, triplek, kayu, lem, cat, pewarna, penggaris, dan
sebagainya.
b. Kelompok membagi tugas sesuai rencana memproduk rambu lalu
lintas (semua anggota kelompok mempunyai beban tugas masingmasing)
(2)

Tahap pembuatan
a. Masing-masing anggota kelompok mengerjakan tugasnya
b. Menggabungkan hasil kerja individu untuk menjadi sebuah produk
rambu lalu lintas
c. Merapikan, memperindah hasil produk rambu lalu lintas.

(3)

Tahap pemajangan
a. Mempresentasikan proses produk rambu lalu lintas
b. Menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang proses produksi
c. Memajang produk di kelas

No
.

Nama

Persiapan

Produksi

0 20

0 - 50

Pemajanga
n

1.

Kelompok I

15

45

0 30
30

2.

Kelompok II

20

50

30

Nilai
Akhir
90
100

4. Portofolio
1) Pengertian
Portofolio merupakan kumpulan karya siswa yang tersusun secara
sistematis dan terorganisasi yang diambil selama proses pembelajaran.
Portofolio

digunakan

oleh

pendidik

dan

siswa

untuk

memantau

perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa dalam mata


pelajaran tertentu. Portofolio menggambarkan perkembangan prestasi,

kelebihan dan kekurangan kinerja siswa, seperti kreasi kerja dan karya
siswa lainnya.
2) Bagian-bagian Portofolio
Bentuk fisik dari portofolio adalah folder, bendel, atau map yang
berisikan dokumen. Agar portofolio siswa mudah dianalisis untuk
kepentingan penilaian, maka idealnya perlu diorganisir dalam beberapa
bagian sebagai berikut.
a) Halaman Judul
Pada halaman depan map portofolio adalah judul atau cover portofolio
berisi nama siswa, kelas, dan sekolah.
b) Daftar isi dokumen
Pada halaman dalam dari judul berisi daftar isi dokumen yang berada
dalam map portofolio.
c) Dokumen Portofolio
Bendel dokumen portofolio berisi kumpulan semua dokumen siswa baik
hasil karya siswa, lembar kerja (worksheet), koleksi bacaan, koleksi
lukisan, maupun lembaran-lembaran informasi yang dipakai dalam
kegiatan belajar mengajar.
d) Pengelompokan Dokumen
Dokumen-dokumen dalam portofolio perlu dikelompokkan, misalnya
berdasarkan mata pelajaran, sehingga mudah untuk mendapatkannya bila
diperlukan. Agar kelompok dokumen mudah diorganisir, maka perlu
diberi pembatas, misalnya dengan kertas berwarna. Batasan tersebut
sangat berguna untuk memisahkan antara dokumen satu kelompok
dengan kelompok yang lain. Tidak semua berkas karya siswa
didokumentasikan tetapi hanya karya siswa yang terpilih saja. Penentuan
karya siswa yang terpilih merupakan kesepakatan antara pendidik dan
siswa.
e) Catatan Pendidik dan Orangtua
Pada dokumen yang relevan baik yang berupa lembar kerja, hasil karya,
maupun kumpulan dokumen yang dipelajari siswa terutama yang berupa
tugas dari pendidik harus terdapat catatan/komentar/nilai dari pendidik
dan tanggapan orang tua. Lebih baik lagi jika terdapat catatan/tanggapan
siswa yang bersangkutan, dengan demikian pada setiap dokumen

terdapat informasi lengkap tentang masukan dari pendidik dan tanggapan


dari orang tua. Setiap siswa juga dapat memasukkan dokumen yang
diperoleh secara mandiri, misalnya diperoleh dari buku bacaan atau
majalah yang membuat anak tertarik untuk mempelajari atau
mengoleksinya. Sehingga dalam portofolio siswa, dokumen tidak hanya
berasal dari pendidik atau pelajaran semata, tetapi juga bisa berisi
kumpulan koleksi siswa yang bersangkutan sesuai dengan minat dan
bakatnya. Dengan demikian, portofolio siswa akan berbeda antara satu
dengan

yang

lain,

tergantung

dari

keaktifan

siswa

dalam

mengembangkan bakat dan minatnya serta keaktifannya dalam belajar.


Dari portofolio ini diperoleh informasi tentang bakat dan minat,
kelebihan dan kekurangan dari setiap siswa yang sangat membantu
pendidik dalam melakukan pembinaan kemampuan individu.
Catatan pendidik, siswa, dan orang tua dapat langsung dituliskan pada
dokumen yang ada, atau ditulis secara terpisah pada kertas kecil yang
ditempelkan atau disatukan pada dokumen.
Contoh catatan pendidik, siswa dan orang tua pada hasil menggambar
yang dimasukkan sebagai dokumen portofolio adalah sebagai berikut.
Catatan/Tanggapan
Pendidik

Siswa

Bentuk artistik bagus, Waktunya kurang!

Orang Tua/Wali
Murid
Perlu banyak berlatih.

teknik pewarnaan perlu


ditingkatkan.
3) Penggunaan Portofolio
Perlu ditegaskan bahwa portofolio bukan menggantikan sistem
penilaian yang ada. Portofolio yang berisi dokumen-dokumen selama siswa
belajar dalam kurun waktu tertentu, dipilih kembali untuk dilampirkan dan
dilaporkan kepada orang tua bersama rapor.
Pada akhir suatu periode, misalnya semester, portofolio dianalisis
dan hasil analisis berupa catatan komentar guru tentang informasi proses
dan hasil belajar siswa selama periode tersebut.
F. Hasil Belajar

Apa sebenarnya definisi atau pengertian hasil belajar?? Banyak kalangan


menyamakan hasil belajar dengan prestasi belajar. Hal ini tidak dapat dibenarkan.
Sesungguhnya pengertian prestasi belajar itu itu sendiri lebih luas hasil belajar, karena
prestasi belajar merupakan hasil belajarsecara keseluruhan yang biasa disebut dengan
Indeks Prestasi (IP). Sedangkan hasil belajar adalah kemampuan dalam menerima
pembelajaran terhadap satu bidang studi (mata pelajaran).
Hasil belajar umumnya dapat didefinisikan sebagai kemampuan seorang siswa
dalam menerima pembelajaran di sekolah, di mana kemampuan itu dapat diukur melalui
suatu tes atau ujian dengan menggunakan skala point. Hasil belajar merupakan
kemampuan yang diperoleh individu setelah proses belajar berlangsung, yang dapat
memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan
keterampilan siswa sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya
Hamalik (1995) mengatakan bahwa hasil belajar dapat didefinisikan sebagai
perubahan tingkah laku subjek yang meliputi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor
dalam situasi tertentu berkat pengalamannya berulang-ulang.
Sudjana (2005) mengatakan bahwa hasil belajar dapat didefinisikan sebagai
perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotor yang
dimiliki siswa setelah menerima pengalamanbelajarnya.
Kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Kemampuan kognitif (cognitive domain) adalah kawasan yang berkaitan dengan aspekaspek intelektual atau secara logis yang biasa diukur dengan pikiran atau nalar.
Kawasan ini terdiri dari :
a. Pengetahuan (Knowledge), mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari
dan disimpan dalam ingatan.
b. Pemahaman (Comprehension), mengacu pada kemampuan memahami makna
materi.
c. Penerapan

(Application),

mengacu

pada

kemampuan

menggunakan

atau

menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut
penggunaan aturan dan prinsip.
d. Analisis (Analysis), mengacu pada kemampuan menguraikan materi ke dalam
komponen-komponen atau faktor penyebabnya, dan mampu memahami hubungan
di antara bagian yang satu dengan lainnya sehingga struktur dan aturannya dapat
lebih dimengerti.
e. Sintesis (synthesis), mengacu pada kemampuan memadukan konsep atau
komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru.

f. Evaluasi (Evaluation), mengacu pada kemampuan memberikan pertimbangan


terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu.
2. Kemampuan afektif (The affective domain) adalah kawasan yang berkaitan dengan
aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan
sebagainya. Kawasan ini terdiri dari:
a. a Kemampuan

menerima

(Receiving),

mengacu

pada

kesukarelaan

dan

kemampuan memperhatikan respon terhadap stimulasi yang tepat.


b. Sambutan (Responding), merupakan sikap mahasiswa dalam memberikan respon
aktif terhadap stimulus yang datang dari luar, mencakup kerelaan untuk
memperhatikan secara aktif dan perpartisipasi dalam suatu kegiatan.
c. Penghargaan (Valueving), mengacu pada penilaian atau pentingnya kita
mengaitkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti
menerima, menolak, atau tidak memperhitungkan. Tujuan-tujuan tersebut dapat
diklasifikasikan menjadi sikap yang apresiasi.
d. Pengorganisasian (Organizing), mengacu pada penyatuan nilai sebagai pedoman
dan pegangan dalam kehidupan.
e. Karakteristik nilai (Characterization by value), mencakup kemampuan untuk
menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik pribadi
(internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur
kehidupannya.
3. Kemampuan psikomotor (The psychomotor domain) adalah kawasan yang berkaitan
dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot
(neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari:
a. Persepsi (Perseption), mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang
tepat antara dua perangsang atau lebih, berdasarkan perbedaan antara ciri-ciri fisik
yang khas pada masing-masing rangsangan.
b. Kesiapan (Ready), mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam
keadaan akan memulai sesuatu gerakan atau rangkaian gerakan.
c. Gerakan terbimbing (Guidance response), mencakup kemampuan untuk melakukan
suatu rangkaian gerak-gerik, sesuai dengan contoh yang diberikan (imitasi)
d. Gerakan yang terbiasa (Mechanical response), mencakup kemampuan untuk
melakukan sesuatu rangkaian gerak-gerik dengan lancar, karena sudah dilatih
secukupnya, tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan.
e. Gerakan kompleks (Complexs response), mencakup kemampuan

untuk

melaksanakan suatu keterampilan, yang terdiri atas beberapa komponen,dengan


lancar, tepat, dan efisien.

f. Penyesuaian pola gerak (Adjusment), mencakup kemampuan untuk mengadakan


perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan kondisi setempat atau dengan
menunjukkan suatu taraf keterampilan yang telah mencapai kemahiran.
g. Kreatifitas (Creativity), mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerakgerik yang baru, seluruhnya atas dasar prakarsa dan sendiri.
G. Dasar Penilaian dalam Proses Pendidikan
Dasar atau alasan fungsi penilaian dalam proses pendidikan dikelompokkan
menjadi tiga bagian, yaitu dasar psikologis, didaktis, dan administratif.
1) Dasar Psikologis
Secara psikologis orang selalu butuh mengetahui sudah saampai sejauh manakah
dia berjalan menuju kepada tujuan yang ingin atau yang harus dicapainya. Masalah
kebutuhan psikologi akan pengetahuannya mengeai hasil usaha yang telah dilakukan
dapat ditinjau dari dua segi, yaitu:
a. Dari segi anak didik
b. Dari hasil-hasil penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa
anak-anak, terutama dalam masa remaja, belum dapat mandiri pribadi
(Zelfstanding), mereka membutuhka pendapat orang-orang yang lebih dewasa
dalam menentukan sikap dan tingkah lakunya, dalam mengadakan orientai dalam
sesuatu situasi tertentu.
c. Dari segi pendidik
Orang tua atau wali murid merupakan yang paling bertanggung jawab mengenai
pendidikan anak-anaknya atau anak tanggungannya. Karena, pertimbanganpertimbangan teknis harus menyerahkan sebagian tugasnya kepada lembaga
pendidikan. Disamping yang telah dikemukakan itu sebagai pendidik yang
professional yang melaksanakan tugas pendidik yang dipikul kepadanya, guru juga
butuh mengetahui hasil-hasil usahanya itu sebagai pedoman dalam menjalankan
uasaha-usaha yang lebih lanjut.
2) Dasar Didaktis
Mengenai dasar didaktis ini dapat ditinjau dari dua segi pula, yaitu :
a) Ditinjau dari sedi anak diidik
1. pengetahuan mengenai akan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai pada
umumnya berpengaruh baik terhadap pekerjaan-pekerjaan selanjutnya, artinya
menyebabkan prestasi-prestasi yang selanjutnya lebih baik(mursell 1946:267268)

2. murid tahu akan kekuatan dan kelemahannya dan dengan pimpinan guru dia,
terutama murid-murid yang sudah agak besar, akan dapat mempergunakan
pengetahuannya itu untuk kemajuan prestasinya.
b) Dipandang dari segi pendidik atau guru
Dengan menilai hail atau kemajuan murid-muridnya, sebenarnya guru tidak
hanya menilai hasil usaha muridnya saja tetapi sekaligus dia juga menilai hasil-hasil
usahanya sendiri. Penilaian itu adalah untuk:
1. Membantu guru dalam, menilai readiness anak terhadap sesuatu mata pelajaran
tertentu,
2. Mengetahui status anak didalam kelasnya,
3. Membantu guru dalam menempatkan murid dalam suatu kelompok pelajar
tertentu didalam kelanya; berdasarkan pada kesamaan kesukaran yang dihadapi
atau kesamaan kemampuan dalam kecakapan-kecakapan tertentu,
4. Membantu guru didalam usaha memperbaiki metode belajar dan mengajarnya,
5. Membantu guru dalam memberikan pengajaran tambahan atau pengajaran
pembinaan.
3) Dasar Administratif
Orang menilai hasil-hasil pendidikan itu juga mempunyai dasar administratif.
Dengan adanya penilaian yang rumusannya berwujud rapor itu, maka dapat dipenuhi
berbagai kebutuhan administrasi itu yag pokok-pokoknya sebagai berikut;
a)Memberikan data untuk dapat menentukan status anak didik didalam kelasnya,
misalnya apakah dia naik kelas atau tidak, apakah dia lulus ujian atau tidak.
b)
Memberikan ikhtisar mengenai segala hasil usaha yang dilakukan oleh
sesuatu lembaga pendidikan.
c)Merupakan inti laporan tentang murid-murid kepada orang tua atau pejabat
pemerintah yag berwenang, guru-guru dan juga murid-muridnya.
H. Pendekatan Penilaian
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan penilaian hasil
belajar, yaitu penilaian yang mengacu kepada norma (Penilaian Acuan Norma atau normreferenced assessment) dan penilaian yang mengacu kepada kriteria (Penilaian Acuan
Kriteria atau criterion referenced assessment). Perbedaan kedua pendekatan tersebut
terletak pada acuan yang dipakai. Pada penilaian yang mengacu kepada norma, interpretasi
hasil penilaian peserta didik dikaitkan dengan hasil penilaian seluruh peserta didik yang
dinilai dengan alat penilaian yang sama. Jadi hasil seluruh peserta didik digunakan sebagai
acuan. Sedangkan, penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan, interpretasi hasil

penilaian bergantung pada apakah atau sejauh mana seorang peserta didik mencapai atau
menguasai kriteria atau patokan yang telah ditentukan. Kriteria atau patokan itu
dirumuskan dalam kompetensi atau hasil belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi.
Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, pendekatan penilaian yang
digunakan adalah penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan. Dalam hal ini
prestasi peserta didik ditentukan oleh kriteria yang telah ditetapkan untuk penguasaan
suatu kompetensi. Meskipun demikian, kadang kadang dapat digunakan penilaian acuan
norma, untuk maksud khusus tertentu sesuai dengan kegunaannya, seperti untuk memilih
peserta didik masuk rombongan belajar yang mana, untuk mengelompokkan peserta didik
dalam kegiatan belajar, dan untuk menyeleksi peserta didik yang mewakili sekolah dalam
lomba antar-sekolah.
I. Ruang Lingkup Penilaian Hasil Belajar
Hasil belajar peserta didik dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah (domain), yaitu:
(1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan
logika - matematika), (2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan
antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan (3)
domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan
visual-spasial, dan kecerdasan musikal).
Sejauh mana masing-masing domain tersebut memberi sumbangan terhadap sukses
seseorang dalam pekerjaan dan kehidupan ? Data hasil penelitian multi kecerdasan
menunjukkan bahwa kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika-matematika yang termasuk
dalam domain kognitif memiliki kontribusi hanya sebesar 5 %. Kecerdasan antarpribadi
dan kecerdasan intrapribadi yang termasuk domain afektif memberikan kontribusi yang
sangat besar yaitu 80 %. Sedangkan kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spatial dan
kecerdasan musikal yang termasuk dalam domain psikomotor memberikan sumbangannya
sebesar 5 %. Namun, dalam praxis pendidikan di Indonesia yang tercermin dalam proses
belajar-mengajar dan penilaian, yang amat dominan ditekankan justru domain kognitif.
Domain ini terutama direfleksikan dalam 4 kelompok mata pelajaran, yaitu bahasa,
matematika, sains, dan ilmu-ilmu sosial. Domain psikomotor yang terutama direfleksikan
dalam mata-mata pelajaran pendidikan jasmani, keterampilan, dan kesenian cenderung
disepelekan. Demikian pula, hal ini terjadi pada domain afektif yang terutama
direfleksikan dalam mata-mata pelajaran agama dan kewarganegaraan.

J. Penilaian Hasil Belajar Masing-Masing Kelompok Mata Pelajaran


a. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran agama dan akhlak nulia serta
kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui:
a)Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan
afeksi dan kepribadian peserta didik.
b)
Ujian, ulangan, dan atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif pesrta
didik.
b. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknoogi
diukur melalui ulangan, penugasan, dan atau bentuk lain yang sesuai dengan
karakteristik materi yang dinilai.
c. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui
pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan
afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik.
d. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan
dilakukan melalui
a)Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan
psikomotorik dan afeksi peserta didik;dan
b)
Ulangan, dan atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik

EVALUASI

1. Pengertian Evaluasi
Pengertian eveluasi adalah: sebuah istilah pembuatan penetapan tentang nilai yang
menunjukkan sebuah rentang segala prosedur yang sistematis , yang digunakan untuk
memperoleh informasi umum mengenai belajar siswa dan pembelajaran yang telah di
lakukan oleh guru , baik menggunakan penelitian data dengan cara ( pengamatan ,
penganalisaan data ,penilaian penampilan atau proyek ). dan pembentukan nilai serta
pertimbangan mengenai kemajuan belajar siswa untuk menentukan ketetapan atau
keputusan alternative mengenai belajar siswa baik kwalitatif maupun kwantitatif sehingga
dapat mengetahui mutu dan evektivitas atau nilai suatu program pembelajaran yang telah
di lakukan atau penentu keputusan terhadap langkah pembelajaran yang akan datang.
Tidak ada satupun guru yang tidak ingin berhasil dalam proses mengajar, tentunya
semua guru sangat mengharapkan sekali keberhasilan belajar mengajar itu, guru yang
masa bodoh terhadap anak didiknya adalah cermin kurang tanggung jawabnya seorang
guru menjabat sebagai profesinya, gurung yang tidak mau tahu dengan perkembangan
pendidikan anak didiknya adalah tanda guru yang tidak peduli taerhadap tantangan zaman
yang terus merongrong anak didiknya.
Seringkali dikacaukan antara pengertian penilaian (evaluation). Menurut Oemar
Hamalik dalam bukunya Kurikulum dan Pembelajaran evaluasi adalah suatu upaya untuk
mengetahui berapa banyak hal-hal telah dimiliki oleh siswa dari hal-hal yang telah
diajarkan oleh guru. Menurut Norman E. Grounloud; evaluasi adalah suatu proses yang
sistematik dan berkesinambungan untuk mengetahui efisien kegiatan belajar mengajar dan
efektifitas dari pencapaian tujuan instruksi yang telah ditetapkan. Menurut Edwin Wond
dan Gerold W. Brown; evaluasi pendidikan atau proses untuk menentukan nilai dari segala
sesuatu yang berkenaan dengan pendidikan. Evaluasi adalah proses pengukuran dan
penilaian untuk mengetahui hasil belajar yang telah dicapai seseorang.
Evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004: 1) adalah kegiatan untuk
mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut
digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Dalam
bidang pendidikan, evaluasi sebagaimana dikatakan Gronlund (1990: 5) merupakan proses
yang sistematis tentang mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan informasi untuk
menentukan sejauhmana tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa. Menurut Djemari

Mardapi (2004: 19) evaluasi adalah proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui
pencapaian belajar kelas atau kelompok.
Dari pendapat di atas, ada beberapa hal yang menjadi ciri khas dari evaluasi yaitu:
1. Sebagai kegiatan yang sistematis, pelaksanaan evaluasi haruslah dilakukan secara
berkesinambungan. Sebuah program pembelajaran seharusnya dievaluasi disetiap
akhir program tersebut,
2. Dalam pelaksanaan evaluasi dibutuhkan data dan informasi yang akurat untuk
menunjang keputusan yang akan diambil. Asumsi-asumsi ataupun prasangka. bukan
merupakan landasan untuk mengambil keputusan dalam evaluasi, dan
3. Kegiatan evaluasi dalam pendidikan tidak pernah terlepas dari tujuan-tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Karena itulah pendekatan goal
oriented merupakan pendekatan yang paling sesuai untuk evaluasi pembelajaran.
Dalam sebuah buku yang berjudul teknik evaluasi pendidikan karya M.Chabib
Thoha, beliau mengatakan bahwa Evaluasi berasal dari kata evaluation yang berarti suatu
tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu, apakah sesuatu itu mempunyai
nilai atau tidak. Menurut istilah evaluasi berarti kegiatan yang terencana untuk mengetahui
keadaan suatu objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan
tolak ukur tertentu guna memperoleh kesimpulan. Evaluasi pendidikan dan pengajaran
adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar
yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif
atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Hasilnya diperlukan untuk membuat
berbagai putusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Selain pengertian di atas ternyata pengertian evaluasi pendidikan merupakan proses
yang sistematis dalam :

Mengukur tingkat kemajuan yang dicapai siswa, baik ditinjau dari norma
tujuan maupun dari norma kelompok

Menentukan apakah siswa mengalami kemajuan yang memuaskan kearah


pencapaian tujuan pengajaran yang diharapkan.

2. Tujuan Evaluasi
Segala sesuatu yang di lakukan pasti mempunyai tujuan dan fungsi yang akan di
capai, pastinya semua aktifitas tidak ingin hasilnya sia-sia, begitupun dengan evaluasi, ada
tujuan dan fungsi yang ingin di capai, Evaluasi telah memegang peranan penting dalam
pendidikan dan memiliki tujuan-tujuan tertentu :

1.

Memberikan informasi tentang kemajuan siswa dalam mencapai tujuantujuan belajar melalui berbagai kegiatan belajar.

2.

Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk membina kegiatankegiatan belajar siswa lebih lanjut, baik keseluruhan kelas maupun masing-masing
individu.

3.

Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui


kemampuan siswa, menetapkan kesulitan-kesulitannya dan menyarankan kegiatankegiatan remedial (perbaikan).

4.

Memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk


mendorong motivasi belajar siswa dengan cara mengenal kemanjuannya sendiri dan
merangsangnya untuk melakukan upaya perbaikan.

5.

memberikan informasi tentang semua aspek tingkah laku siswa, sehingga


guru dapat membantu perkembangannya menjadi warga masyarakat dan pibadi yang
berkualitas.

6.

Memberikan informasi yang tepat untuk membimbing siswa memilih


sekolah, atau jabatan yang sesuai dengan kecakapan, minat dan bakatnya.
Dr.muchtar buchori Med. Mengemukakan bahwa tujuan khusus evaluasi
pendidikan ada 2 yaitu :
a)

Untuk mengetahui kemajuan peserta didik setelah ia mengalami


pendidikan selam jangka waktu tertentu

b)

Untuk mengetahui tingkat efisiensi metode-metode pendidikan yang


dipergunakan pendidik selam jangka waktu tertentu tadi.
Maju dan mundurnya belajar peserta didik, dapat diketahui pula kedudukan mereka

dalam kelompoknya dan juga dapat dipakai pula untuk mengadakan perencanaan yang
realistik dalam mengarahkan dan mengembangkan masa depan mereka. Selanjutnya
dengan diketahuinya efektifitas dan efisiensi metode-metode yang digunakan dalam
pendidikan,

guru

telah

mendapatkan

pelajaran

yang

cukup

berharga

untuk

menyempurnakan metode-metode yang sudah baik, dan memperbaiki kekurangankekurangan metode yang tidak efektif.
Untuk mengetahui keberhasilan belajar maka kita harus melihat beberapa criteria
keberhasilan belajar. menurut sudjana (2004),
1. apakah hasil belajar yang diperoleh Nampak dalam bentul perubahan tingkah laku
secara menyeluruhan.

2. apakah hasil belajar yang dicapai dapat diaplikasikan dalam kehidupan


3. apakah hasil belajar yang dicapai dapat bertahan lama diingat dan mengendap
dalam pikiran serta cukup mempengaruhi prilaku
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan penilaian hasil
belajar, yaitu penilaian yang mengacu kepada norma (Penilaian Acuan Norma atau normreferenced assessment) dan penilaian yang mengacu kepada kriteria (Penilaian Acuan
Kriteria atau criterion referenced assessment). Perbedaan kedua pendekatan tersebut
terletak pada acuan yang dipakai. Pada penilaian yang mengacu kepada norma, interpretasi
hasil penilaian peserta didik dikaitkan dengan hasil penilaian seluruh peserta didik yang
dinilai dengan alat penilaian yang sama. Jadi hasil seluruh peserta didik digunakan sebagai
acuan. Sedangkan, penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan, interpretasi hasil
penilaian bergantung pada apakah atau sejauh mana seorang peserta didik mencapai atau
menguasai kriteria atau patokan yang telah ditentukan. Kriteria atau patokan itu
dirumuskan dalam kompetensi atau hasil belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi.
Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, pendekatan penilaian yang
digunakan adalah penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan. Dalam hal ini
prestasi peserta didik ditentukan oleh kriteria yang telah ditetapkan untuk penguasaan
suatu kompetensi. Meskipun demikian, kadang kadang dapat digunakan penilaian acuan
norma, untuk maksud khusus tertentu sesuai dengan kegunaannya, seperti untuk memilih
peserta didik masuk rombongan belajar yang mana, untuk mengelompokkan peserta didik
dalam kegiatan belajar, dan untuk menyeleksi peserta didik yang mewakili sekolah dalam
lomba antar-sekolah.
3. Fungsi Evaluasi
Evaluasi merupakan bagian penting dalam suatu system instruksional. Karena itu,
penilaian mendapat tanggung jawab untuk melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut :
1)

Fungsi Eduktif : Evaluasi adalah suatu subsistem dalam system pendidikan


yang bertujuan untuk memperoleh informasi tentang keseluruhan system dan/atau
salah satu subsistem pendidikan. Bahkan dengan evaluasi dapat diungkapkan hal-hal
yang tersembunyi dalam proses pendidikan.

2)

Fungsi Institusional : Evaluasi berfungsi mengumpulkan informasi akurat


tentang input dan output pembelajaran di samping poroses pembelajaran itu sendiri

3)

Fungsi Diagnostik : Dengan evaluasi dapat diketahui kesulitan masalahmasalah yang sedang dihadapi oleh siswa dalam proses/kegiatan belajarnya.

4)

Fungsi Administratif : Menyediakan data tentang kemajuan belajar siswa, yang


pada gilirannya berguna untuk memberikan sertifikasi (tanda kelulusan) dan untuk
melanjutkan studi lebih lanjut dan atau untuk kenaikan kelas.

5)

Fungsi Kurikuler : Berfungsi menyediakan data dan informasi yang akurat dan
berdaya guna bagi pengembangan kurikulum (perencanaan, uji coba di lapangan,,
implementasi, dan revisi.

6)

Fungsi MAnajemen : Komponen evaluasi merupakan bagian integral dalam


system menajemen, hasil evaluasi berdaya guna sebagai bahan bagi pimpinan untuk
membuat keputusan manajemen pada semua jenjang menajemen.

A. Fungsi evaluasi bagi siswa


Bagi siswa, evaluasi digunakan untuk mengukur pencapaian keberhasilannya
dalam mengikuti pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Dalam hal ini ada dua
kemungkinan :
a. Hasil bagi siswa yang memuaskan
Jika siswa memperoleh hasil yang emuaskan, tentunya kepuasan ini ingin
diperolehnya kembali pada waktu yang akan datang. Untuk ini siswa akan
termotifasi untuk belajar lebih giat agar perolehannya sama bahkan meningkat pada
masa yang akan datang. Namun, dapat pula terjadi sebaliknya, setelah memperoleh
hasil yang memuaskan siswa tidak rajin belajar sehingga pada waktu berikutnya
hasilnya menurun.
b. Hasil bagi siswa yang tidak memuaskan
Jika siswa memperoleh hasil yang tidak memuaskan, maka pada kesempatan
yang akan datang dia akan berusaha memperbaikinya. Oleh karena itu, siswa akan
giat belajar. Tetapi bagi siswa yang kurang motivasi atau lemah kemauannya akan
menjadi putus asa
B. Fungsi evaluasi bagi guru
a. Dapat mengetahui siswa manakah yang menguasai pelajran dan siswa mana pula
yang belum. Dalam hal ini hendaknya guru memberikan perhatian kepada siswa
yang belum berhasil sehingga pada akhirnya siswa mencapai keberhasilan yang
diharapkan.
b. Dapat mengetahui apakah tujuan dan materi pelajaran yang telah disampaikan itu
dikuasai oleh siswa atau belum.

c. Dapat mengetahui ketepatan metode yang digunakan dalam menyajikan bahan


pelajaran tersebut.
d. Bila dari hasil evaluasi itu tidak berhasil, maka dapat dijadikan bahan remidial.
Jadi, evaluasi dapat dijadikan umpan balik pengajaran.
C. Fungsi evaluasi bagi sekolah
a. Untuk mengukur ketepatan kurikulum atau silabus. Melalui evaluasi terhadap
pengajaran yang dilakukan oleh guru, maka akan dapat diketahui apakah ketepatan
kurikulum telah tercapai sesuai dengan target yang telah ditentukan atau belum.
Dari hasil penilaian tersebut juga sekolah dapat menetapkan langkah-langkah untuk
perencanaan program berikutnya yang lebih baik.
b. Untuk mengukur tingkat kemajuan sekolah. Sudah barang tentu jika hasil penilaian
yang dilakukan menunjukkan tanda-tanda telah terlaksananya kurikulum sekolah
dengan baik, maka berarti tingkat ketepatan dan kemajuan telah tercapai
sebagaimana yang diharapkan. Akan tetapi sebaliknya jika tand-tanda itu
menunjukkan tidak tercapainya sasaran yang diharapkan, maka dapat dikatakan
bahwa tingkat ketepatan dan kemajuan sekolah perlu ditingkatkan.
c. Mengukur keberhasilan guru dalam mengajar. Melalui evaluasi yang telh
dilaksanakan dalam pengajaran merupakan bahan informasi bagi guru untuk
mengetahui tingkat keberhasilan dalam melaksanakan pengajaran.
d. Untuk meningkatkan prestasi kerja. Keberhasilan dan kemajuan yang dicapai dalm
pengajaran akan mendorong bagi sekolah atau guru untuk terus meningkatkan
prestasi kerja yang telah dicapai dan berusaha memperbaiki kelemahan dan
kekurangan yang mungkin terjadi.
Dalam evaluasi semua komponen dalam pendidikan layak dan harus
dijadikan sebagai objek dan subjek evaluasi pendidikan, yaitu :

Siswa, dapat menjadi subjek evaluasi bagi dirinya sendiri dan bagi guru serta
sekolahnya dan dapat juga menjadi bagian dari objek evaluasi yang dilakukan
oleh guru dan sekolahnya.

Guru, dapat menjadi subjek evaluasi bagi program dan cara-cara dia mengajar,
keberhasilannya dan juga dpat menjadi objek evaluasi oleh siswa dan
sekolahnya.

Sekolah, dapat menjadi subjek evaluasi bagi siswa dan guru-guru yang ada
didalamnya serta dapat juga menjadi sasaran atau objek evaluasi dari siswa dan
guru yang bernaung didalamnya.
Setelah semua tugas evaluasi kita lakukan kita akan banyak memetik manfaat

dari evaluasi itu, baik bagi siswa, guru maupun sekolah yang seandainya kita
mengambil benang merah dari nya kita akan mengetahui apa-apa yanga harus dan yang
tidak harus lagi kita lakukan untuk kedepannya.
4.

Prinsip - Prinsip Evaluasi dalam Pendidikan


Menurut Arikunto (2010: 24) ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan
evaluasi yaitu adanya triangulasi:
a.
b.
c.

Tujuan pembelajaran
Kegiatan pembelajaran atau KBM
Evaluasi

1. Hubungan antara tujuan dengan KBM


Kegiatan belajar-mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar
disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai. Dengan
demikian, anak panah yang menunjukkan hubungan antara keduanya mengarah pada
tujuan dengan makna bahwa KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari
tujuan ke KBM, menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.
2. Hubungan antara tujuan dengan evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan
sudah tercapai. Dengan makna demikian maka anak panah berasal dari evaluasi
menuju ke tujuan. Di lain sisi, jika dilihat dari langkah, dalam menyusun alat evaluasi
3.

ia mengacu pada tujuan yang sudah dirumuskan.


Hubungan antara KBM dengan evaluasi
Seperti yang sudah disebutkan dalam poin (a), KBM dirancang dan disusun
dengan mengacu pada tujuan yang telah dirumuskan. Telah disebutkan pula dalam
poin (b) bahwa alat evaluasi juga disusun dengan mengacu pada tujuan. Selain
mengacu pada tujuan, evaluasi juga harus mengacu atau disesuaikan dengan KBM
yang dilaksanakan. Sebagai misal, jika kegiatan belajar-mengajar dilakukan oleh guru
dengan menitikberatkan pada keterampilan, evaluasinya juga harus mengukur tingkat

5.

keterampilan siswa, bukannya aspek pengetahuan.


Sasaran Evaluasi
Sasaran evaluasi hasil belajar siswa adalah penguasaan kompetensi. Dalam hal ini
kompetensi diartikan sebagai;

a.

Seperangkat tindakan cerdas penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai
syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di

b.

bidang pekerjaan tertentu (SK. Mendiknas No. 045/U/2002),


Kemampuan yang dapat dilakukan oleh peserta didik yang mencakup pengetahuan,

keterampilan dan perilaku,


c. Integrasi domain kognitif, afektif dan psikomotorik yang direfleksikan dalam perilaku.
Mengacu pengertian kompetensi tersebut, maka hasil belajar siswa mencakup ranah
kognitif, psikomotorik dan afektif yang harus dikuasai oleh setiap siswa setelah
pembelajaran berlangsung sesuai dengan rencana pembelajaran yang disusun oleh
guru.

6.

Teknik Evaluasi

1) Teknik Non-Tes
Non tes adalah alat mengevaluasi yang biasanya di gunakan untuk menilai aspek
tingkah laku termasuk sikap, minat, dan motivasi. Ada beberapa non-tes sebagai alat
evaluasi, diantaranya:
a) Skala Bertingkat
Skala bertingkat menggambarkan suatu nilai yang berwujud angka terhadap suatu
hasil penentuan. Kita dapat menilai hampir segala aspek dengan skala. Dengan
maksud agar pencatatannya

objektif, maka penilaian

terhadap

penampilan

atau

pengambaran kepribadian seseorang disiapkan dalam bentuk skala.


b) Kuesioner
Kuesioner juga dapat diartikan angket yang digunakan sebagai alat bantu dalam
rangka pengukuran dan penilaian hasil belajar. Dengan adanya angket yang harus diisi
oleh siswa maka guru akan mengetahui keadaan, pengalaman, pengetahuan dan tingkah.
Angket atau soal kuesioner dapat di berikan secara langsung dan dijawab atau diisi
langsung oleh objeknya, ini dikatakan kuesioner langsung. Dan jika angket atau soal
kuesioner dikirim dan diisi oleh orang lain (sanak saudaranya), namun soalnya dituju
untuk objek, ini disebut kuesioner tidak langsung. Dengan cara tes ini lebih menghemat
waktu dan tenaga.
c) Daftar Cocok
Daftar cocok adalah deretan pertanyaan yang singkat serta mudah dipahami oleh
penjawabnya dengan cara menconteng saja.
Contoh: Berikanlah tanda conteng pada kolom yang sesui dengan pendapatnya.

Pendapat pernyataan penting biasa Tidak penting


1. Rajin belajar
2. Suka membaca
3. Sering bolos
4. Cepat memahami
d)

Wawancara
Wawancara juga disebut dengan interview, secara umum adalah proses pengumpulan

keterangan yang dilakukang dengan tanya jawab lisan sepihak, bertatap muka langsung,
dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Wawancara dapat dibedakan dengan dua
jenis:
1. wawancara terpimpin,yang materi pertanyaannya telah terstruktur dengan tujuannya
2. wawacara bebas, yang materi yang ditanyakan bebas tidak terstruktur akan tetapi
mempunyai tujuan. Objeknya bisa pada siswa langsung atau orang tuanya.
e) Pengamatan
Pengamatan atau observasi adalah sebuah cara menghimpun data yang dilakukan oleh
guru kepada peserta didiknya dengan cara pengamatan yang teliti dan mencatat hasil
pengamatan secara sistematis. Observasi atau pengamatan dapat dibedakan menjadi 3
bentuk:
1.

Pengamatan partisipan adalah pengamatan yang pengamatnya langsung memasuki


dan mengikuti kegiatan yang sedang diamati. Seperti pengamatan tentang pertanian,

maka pengamat harus bergabung menjadi petani.


2. Pengamatan sistematik adalah observasi dimana faktor yang diamati sudah didaftar
secara sistematis, dan sudah diatur menurut kategorinya. Pengamatan ini dilakukan
3.

di luar dari kelompok yang ingin diamati.


Pengamatan eksperimental akan terjadi jika pengamat tidak berpartisipasi dalam
kelompok. Dalam hal ini ia dapat mengendalikan unsur-unsur penting dalam situasi
sedemikian rupa sehingga situasi dapat diatur sesuai dengan tujuan evaluasi.

f)

Riwayat hidup
Riwayat hidup juga bisa kita katakan curiculum vitae (CV) atau gambaran hidup

peserta didik, dalam segala aspek. Dengan mengkaji atau menganalisis dokumen atau
riwayat hidupnya maka seorang guru akan dapat menarik kesimpulan tentang tingkah laku
atau kepribadian dan sikap dari peserta didik. Soal-soal yang biasa digunakan seperti.
Nama siswa, status dalam keluarga, agama yang dianut, prestasinya dll.
2) Teknik Tes

Sebagai alat pengukur dan penilai, tes ada beberapa macam model menurut pemakain
dan waktu atau kapan digunakannya tes tersebut Model-model tes tersebut, yaitu:
a) Tes Diagnostik
Tes ini adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa
sehingga dengan mengetahui kelemahan siswa tersebut, maka kita bisa memperlakukan
siswa tersebut dengan tepat. Materi tes yang ditanya dalam tes diagnostik biasanya
mengenai hal-hal tertentu yang juga merupakan pengalaman sulit bagi siswa. Tes ini dapat
dilaksanakan dengan cara lisan, tulisan, atau dengan mengkolaborasi kedua cara
tes. Dalam catatan, tes ini hanya untuk memeriksa, jika hasil pemeriksaan tersebut
membuktikan kelemahan daya serap siswa terhadap suatu pembelajaran. Maka akan
dilakukan pembimbingan secara khusus kepadanya.
b) Tes Formatif
Tes ini merupakan tes hasil belajar yang tujuannya untuk mengetahui sejauh mana
siswa menguasai pelajaran setelah mengikuti proses pembelajaran dalam jangka
waktu yang telah ditentukan, tes ini dilaksanakan biasanya di tengah-tengah perjalanan
program pembelajaran. Tes ini juga disebut dengan ujian harian. Materi tes ini adalah
materi yang telah di sampaikan kepada siswa sebelumnya. Soalnya bisa dalam tingkat
mudah maupun sulit. Dalam tes ini, jika siswa telah menguasai materi yang telah diajarkan
dengan baik, maka guru akan menyampaikan materi selanjutnya. Dan apabila materi
belum dapat dikuasai secara menyeluruh, maka guru harus mengajarkan bagian materi
yang belum dipahami.
c) Tes Sumatif
Tes ini tidak asing bagi siswa, karena tes ini adalah tes akhir dari program
pembelajaran. Tes ini juga bisa disebut EBTA, tes akhir semestes, UAN. Tes ini
dilaksanakan pada akhir program pembelajaran. Seperti setiap akhir semester, akhir tahun.
Materinya yang dites adalah materi yang telah diajarkan selama satu semester. Dengan
demikian materi ini lebih banyak dari materi yang ada pada tes formatif. Tes ini biasanya
dilakukan dengan cara tulisan, dan biasanya siswa memperoleh soal yang sama satu
sama lain. Tes ini memiliki tingkat tes yang sukar atau lebih berat dari tes formatif.
Dengan ada tes ini maka kita bisa menentukan peringkat atau rangking siswa selama
program pembelajaran, dan juga tes ini menentukan kelayakan seorang siswa untuk
mengikuti program pembelajaran selanjutnya.

7.

Prosedur Evaluasi
Prosedur yang dimaksud adalah langkah-langkah pokok yang harus ditempuh dalam
kegiatan evaluasi, yaitu:
1) Membuat perencanaan, yang meliputi: menyusun kisi-kisi dan uji coba.
Untuk menyusun kisi-kisi ini sebelumnya guru harus mempelajari silabus mata
pelajaran karena tidak mungin kisi-kisi dibuat tanpa adanya silabus. Guru harus
memperhatikan domain dan jenjang kemampuan yang akan diukur, kemudian guru
membuat soal yang sesuai dengan kisi-kisi, menyusun lembar jawaban siswa, membuat
kunci jawaban, dan membuat pedoman pengolahan skor. Selanjutnya melaksanakan uji
coba.
2) Pelaksanaan evaluasi
Dalam pelaksanaan evaluasi guru (tes maupun non tes) guru harus memperhatikan
tempat dan suasana atau dapat menyusun tata tertib pelaksanaan evaluasi.
3) Pengolahan data
Setelah semua data kita kumpulkan data tersebut harus diolah. Mengolah data
berarti ingin memberikan nilai dan makna mengenai kualitas hasil pekerjaan murid-murid.
4) Penafsiran hasil evaluasi
Penafsiran tehadap suatu hasil evaluasi harus didasarkan atas kriteria tertentu yang
disebut norma. Berdasarkan norma ini kita dapat menafsirkan bahwa peserta didik
mencapai taraf kesiapan yang memadai atau tidak, ada kemajuan yang berarti atau
tidak,serta ada kesulitan atau tidak.
5) Laporan
Semua kegiatan dan hasil evaluasi harus dilaporkan kepada berbagai pihak yang
berkepentingan. Dimaksudkan agar hasil yang dicapai dapat diketahui oleh berbagai pihak
dan dapat menentukan langkah selanjutnya.

8.

Penyebab Kegagalan Guru dalam Melakukan Evaluasi


Selama ini guru mengadakan penilaian hanya untuk mencari angka atau nilai untuk
anak didik. Apabila anak banyak memperoleh nilai dibawah 6 (enam), maka guru
menganggap bahwa anak didiklah yang gagal dalam menyerap materi pelajaran atau
materi pelajaran terlalu berat, sehingga sukar dipahami oleh anak. Kalau anak yang
memperoleh nilai dibawah 6 mencapai 50% dari jumlah anak, hal ini sudah merupakan
kegagalan guru dalam melaksanakan evaluasi di akhir pelajaran. Apa penyebab hal ini bisa
terjadi ?

1) Guru kurang menguasi materi pelajaran. Sehingga dalam menyampaikan materi


pelajaran kepada anak kalimatnya sering terputus-putus ataupun berbelit-belit yang
menyebabkan anak menjadi bingung dan sukar mencerna apa yang disampaikan oleh
guru tersebut. Tentu saja di akhir pelajaran mareka kewalahan menjawab pertanyaan
atau tidak mampu mengerjakan tugas yang diberikan. Dan akhirnya nilai yang
diperoleh jauh dari apa yang diharapkan.
2) Guru kurang menguasai kelas, Guru yang kurang mampu menguasai kelas mendapat
hambatan dalam menyampaikan materi pelajaran, hal ini dikarenakan suasana kelas
yang tidak menunjang membuat anak yang betul-betul ingin belajar menjadi
terganggu.
3) Guru enggan mempergunakan alat peraga dalam mengajar. Kebiasaan guru yang tidak
mempergunakan alat peraga memaksa anak untuk berpikir verbal sehingga membuat
anak sulit dalam memahami pelajaran dan otomatis dalam evaluasi di akhir pelajaran
nilai anak menjadi jatuh.
4) Guru kurang mampu memotivasi anak dalam belajar sehingga dalam menyampaikan
materi pelajaran, anak kurang menaruh perhatian terhadap materi yang disampaikan
oleh guru, sehingga ilmu yang terkandung di dalam materi yang disampaikan itu
berlalu begitu saja tanpa ada perhatian khusus dari anak didik.
5) Guru menyamaratkan kemampuan anak di dalam menyerap pelajaran. Setiap anak
didik mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menyerap materi pelajaran. Guru
yang kurang tanggap tidak mengetahui bahwa ada anak didiknya yang daya serapnya
di bawah rata-rata mengalami kesulitan dalam belajar.
6) Guru kurang disiplin dalam mengatur waktu. Waktu yang tertulis dalam jadwal
pelajaran, tidak sesuai dengan praktek pelaksanaannya,. Waktu untuk memulai
pelajaran selalu telat, tetapi waktu istirahat dan jam pulang selalu tepat atau tidak
pernah telat.
7) Guru enggan membuat persiapan mengajar atau setidaknya menyusun langkahlangkah dalam mengajar, yang disertai dengan ketentuan-ketentuan waktu untuk
mengawali pelajaran, waktu untuk kegiatan proses dan ketentuan waktu untuk akhir
pelajaran.
8) Guru tidak mempunyai kemajuan untuk menambah atau menimba ilmu misalnya
membaca buku atau bertukar pikiran dengan rekan guru yang lebih senior dan
profesional guna menambah wawasannya.

9) Dalam tes lisan di akhir pelajaran, guru kurang trampil mengajukan pertanyaan
kepada murid, sehingga murid kurang memahami tentang apa yang dimaksud oleh
guru.
10) Guru selalu mengutamakan pencapaian target kurikulum. Guru jarang memperhatikan
atau menganalisa berapa persen daya serap anak terhadap materi pelajaran tersebut.

HUBUNGAN PENGUKURAN, PENILAIAN DAN EVALUASI


1. Perbedaan Pengukuran, Penilaian (assessment), dan Evaluasi
Hubungan antara pengukuran (measurement), penilaian (assessment), dan evaluasi
(evaluation) bersifat hirarkis. Pengukuran membandingkan hasil pengamatan dengan
criteria tertentu. Penilaian menjelaskan dan menafsirkan hasil pengukuran, sedangkan
evaluasi adalah penetapan nilai atau implikasi suatu perilaku, bisa perilaku individu atau
lembaga. Sifat yang hirarkis ini menunjukkan bahwa setiap kegiatan evaluasi melibatkan
penilaian dan pengukuran. Penilaian berarti menilai sesuatu, sedangkan menilai itu
mengandung arti mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mendasarkan diri pada
ukuran atau kriteria tertentu.
2. Contoh Pengukuran, Penilaian (assessment), dan Evaluasi
Contoh dalam Pendidikan
Objek yang diukur : siswa dan metode yang digunakan guru.
Guru memberikan ujian (sekumpulan soal) yang akan menghasilkan skor berupa angka.
Soal:
1. Langkah pertama dalam melakukan penelitian adalah . . .
a. Menyusun kerangka
b. Merumuskan hipotesis dan tujuan
c. Merumuskan masalah
d. Mengumpulkan data
e. Menganalisis data
2. Hasil suatu kegiatan ilmiah harus disajikan dalam sebuah dokumen disebut . . .
a. Laporan ilmiah
b. Teori
c. Data
d. Hipotesis
e. Kesimpulan
3. Berikut ini yang bukan termasuk dalam sistematika penulisan laporan ilmiah adalah .
a. Pendahuluan
b. Teori
c. Eksperimen
d. Pembahasan
e. Wawancara
4. Berikut ini yang termasuk perilaku ilmiah ketika di laboratorium, kecuali . . .
a. Menggunakan jas laboratorium
b. Menggunakan sepatu tertutup
c. Menggunakan pelindung mata saat mencampurkan atau memanaskan bahan
kimia
d. Mereaksikan bahan kimia berbahaya di luar lemari asam
e. Mencuci tangan setelah percobaan selesai

5. Alat laboratorium yang digunakan untuk mengukur larutan dengan volume tertentu
yang memerlukan ketepatan tinggi adalah . . .
a. Gelas Ukur
b. Erlenmeyer
c. Pipet tetes
d. Gelas beker
e. Pipet volumetrik
Kunci Jawaban:
1. C. Merumuskan masalah
2. A. Laporan ilmiah
3. E. Wawancara
4. D. Mereaksikan bahan kimia berbahaya di luar lemari asam
5. E. Pipet volumetric
Jika siswa benar menjawab soal maka skornya 2 untuk setiap soal. Jika siswa salah
menjawab soal maka skornya 0 untuk setiap soal.
Patokan penilaian:
A = >8,5 10
B = >7,0 8,5
C = >5,5 7,0
D = <5,5
Siswa dinyatakan lulus jika mendapat nilai A dan B. Siswa dinyatakan tidak lulus jika
mendapat nilai C, dan D.

Nama
Siswa
Aa
Bb
Cc
Dd

1
2
2
0
2

2
2
2
2
2

Skor
3
0
2
0
0

4
2
2
2
2

5
2
2
2
2

Total

Nilai

skor
8
10
8
8

Huruf
B
A
B
B

Keterangan
Lulus
Lulus
Lulus
Lulus

Berdasarkan total skor tersebut maka budi adalah siswa paling cerdas di kelas tersebut
pada materi pengenalan kimia.
Metode yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran sudah efektif

yang

ditunjukkan dengan 100% siswa telah lulus dalam materi tersebut.


Guru dan siswa melakukan kegiatan pembelajaran bersama-sama merupakan objek yang
akan diukur dengan alat ukur berupa ujian (sekumpulan soal) akan menghasilkan alat

ukur berupa angka. Untuk mengambil keputusan, angka yang diperoleh ditransformasikan
ke dalam nilai A, B, C, dan D.
Evaluasi hasil belajar merupakan proses mulai dan menentukan objek yang diukur,
mengukurnya, mencapai hasil pengukuran, mengambil keputusan lulus tidaknya siswa,
dan efektif tidaknya metode yang digunakan guru.