Anda di halaman 1dari 7

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)

A. Latar Belakang
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku
yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang
menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong
dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan masyarakat. Program PHBS
merupakan upaya untuk mengubah perilaku masyarakat agar mendukung
peningkatan derajat kesehatan. Derajat kesehatan masyarakat yang masih
belum optimal pada hakikatnya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, perilaku
masyarakat, pelayanan kesehatan dan genetika..
Penelitian Djatmiko, 2008, menunjukkan masalah implementasi strategi
promosi kesehatan adalah masih rendahnya tingkat kepedulian dan
pengetahuan ibu rumah tangga tentang kesehatan, masih rendahnya tingkat
pengetahuan dari petani dan buruh tani akan kesehatan, minimnya sarana dan
prasarana kesehatan, masih rendahnya kreativitas dan inovasi dari petugas
Puskesmas, kurangnya perhatian yang diwujudkan melalui kunjungan rutin ke
rumah warga dan tidak adanya pengawasan atau monitoring dari petugas
Puskesmas setelah dilakukan penyuluhan atau masalah sosial.
Diperlukan pendekatan yang paripurna (komprehensif), lintas program dan
lintas sektor, serta mobilisasi sumber daya yang luar biasa di semua tingkat
administrasi pemerintahan, institusi pendidikan, sarana dan prasarana
kesehatan, serta warga setempat.
B. Definisi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Perilaku sehat adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk
memelihara dan mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari
ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam Gerakan Kesehatan Masyarakat.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku
yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang

menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong


dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan masyarakat.
PHBS di sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh
peserta didik, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran
sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah
penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan
lingkungan sehat.
PHBS merupakan salah satu strategi yang dapat ditempuh
untuk menghasilkan kemandirian di bidang kesehatan baik
pada masyarakat maupun pada keluarga, artinya harus ada
komunikasi antara kader dengan keluarga/masyarakat untuk
memberikan informasi dan melakukan pendidikan kesehatan.
C. Tujuan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Tujuan PHBS di sekolah untuk meningkatkan dukungan dan peran aktif
peserta didik, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah dalam mewujudkan
lingkungan sehat.
D. Manfaat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Manfaat PHBS di sekolah:
a) Bagi Sekolah
Terciptanya sekolah yang bersih dan sehat sehingga peserta
didik, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah terlindungi

dari berbagai gangguan dan ancaman penyakit.


Meningkatnya semangat proses belajar-mengajar yang

berdampak pada prestasi belajar peserta dididk.


Citra sekolah sebagai institusi pendidkan

semakin

meningkat sehingga mampu menarik minat orang tua.


Meningkatkan citra pemerintah di bidang pendidikan.
Menjadi percontohan sekolah sehat bagi daerah lain.
b) Bagi Rumah Tangga
Anggota keluarga meningkat kesehatannya dan tidak
mudah sakit.
2

Anak tumbuh dengan sehat dan cerdas.


Pengeluaran biaya rumah tangga dapat difokuskan untuk
pemenuhan gizi keluarga, pendidikan dan modal usaha

untuk peningkatan pendapatan keluarga.


c) Bagi Pemerintah Kabupaten/Kota
Peningkatan presentase sekolah sehat menunjukkan kinerja

dan citra pemerintah kabupaten/kota yang baik.


Biaya yang tadinya dialokasikan untuk menanggulangi
masalah-masalah
pengembangan

kesehatan
lingkungan

dapat
sekolah

dialihkan
yang

sehat

untuk
dan

penyediaan sarana pelayanan kesehatan di lingkungan

sekolah yang bermutu dan terjangkau.


Kabupaten/kota dapat dijadikan pusat pembelajaran bagi
daerah lain dalam pengembangan PHBS di sekolah.

E. Pergerakan Pelaksanaan (Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan


Sehat (PHBS))
Di tatanan sekolah, pembinaan PHBS dilaksanakan secara terintegrasi dengan
kegiatan pengembangan dan pembinaan sekolah sehat dan dokter cilik.

Pemberdayaan
Pemberdayaan di tatanan sekolah dilakukan terhadap peserta didik,

guru, dan masyarakat lingkungan sekolah. Prosesnya diawali dengan


pemberdayaan terhadap kelompok guru melalui pengorganisasian
untuk membentuk atau merevitalisasi lingkungan sehat di sekolah.
Pemberdayaan peserta didik dilaksanakan dalam berbagai kesempatan,
Bina suasana
Bina suasana di tatanan sekolah dilakukan oleh peserta didik, guru,
dan masyarakat lingkungan sekolah Bina suasana dapat dilakukan
dengan pemanfaatan media seperti spanduk, poster, pembuatan dan
pemeliharaan taman obat.
Advokasi
Advokasi dilakukan oleh fasilitator dari kecamatan/kabupaten/kota
terhadap para kepala sekolah dan intitusi pendidikan, agar mereka

berperanserta dalam kegiatan bina suasana. Advokasi juga dilakukan


terhadap para orangtua peserta didik.
Langkah-langkah advokasi :
1. Tentukan sasaran yang akan diadvokasi
2. Siapkan informasi data kesehatan yang menyangkut PHBS
3. Lakukan advokasi dengan cara yang menarik
4. Simpulkan dan sepakati hasil advokasi
5. Buat ringkasan eksekutif dan sebarluaskan kepada sasaran
F. Pemantauan dan Evaluasi
Keberhasilan pembinaan PHBS diukur dan dievaluasi melalui PHBS di
tatanan sekolah. Pemantauan pembinaan PHBS di tatanan

sekolah

dilaksanakan dengan memanfaatkan kegiatan lomba antar sekolah yang


berlangsung setiap tahun dan berjenjang. Panitia lomba antar sekolah diberi
tugas tambahan untuk mengevaluasi pembinaan PHBS di sekolah. Di samping
itu juga melalui pencatatan dan pelaporan PHBS dalam SIKNAS dari
Kementerian Kesehatan dan data Profil Desa dari Kementerian Dalam Negeri.
Namun demikian hasil akhir ini sangat dipengaruhi oleh hasil PHBS di tatanan
lain.
Evaluasi dilakukan terhadap dampak pembinaan PHBS, yaitu yang berupa
perubahan perilaku peserta didik, guru, dan masyarakat di lingkungan sekolah.
Penilaian sekolah sehat digunakan 7 dari 10 indikator PHBS yang terdiri dari:
1) Cuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun

Kapan Saja Harus Mencuci Tangan


-

Setiap tangan kotor ( setelah pegang uang, binatang, atau


berkebun)

Setelah buang air besar

Sebelum makan dan sesudah makan

Manfaat Cuci Tangan


-

Membunuh kuman yang ada di tangan

Mencegah penularan penyakit seperti diare, disentri, kolera,


tipus, cacingan, penyakit kulit, dan lain-lain.

7 Langkah Cuci Tangan yang Benar Berdasarkan WHO


4

Basahi kedua telapak tangan setinggi pertengahan lengan


memakai air yang mengalir, ambil sabun kemudian usap dan
gosok kedua telapak tangan secara lembut.

Usap dan gosok kedua punggung tangan secara bergantian.

Gosok sela-sela jari hingga bersih.

Bersihkan ujung jari secara bergantian dengan mengatupkan.

Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian.

Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok


perlahan.

Bersihkan kedua pergelangan tangan secara bergantian dengan


cara memutar, kemudian diakhiri dengan membilas seluruh
bagian tangan dengan air bersih yang mengalir lalun keringkan
memakai handuk atau tisu.

2) Mengkosumsi Jajanan yang Bersih


Jajan bagi anak merupaka hal yang paling sering dilakukan, dan hal ini
dapat membahayakan apabila jajanan yang mereka konsumsi tidak sehat.
3) Buang Sampah pada Tempatnya
Buang sampah pada tempatnya merupakan cara sederhana untuk menjaga
kebersihan lingkungan.
4) Olahraga Teratur
Memelihara kesehatan fisik dan mental agar tetap sehat dan tidak mudah
sakit, serta membantu memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan
fisik di usia sekolah.
5) Menimbang Berat Badan dan Mengukur Tinggi Badan setiap 6 Bulan
Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan merupakan salah satu
upaya untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak.
6) Menggunakan Toilet Bersih
Toilet merupakan sanitasi dasar penting yang harus dimiliki setiap
masyarakat. Pentingnya buang air di toilet yang bersih adalah untuk
menghindari berbagai jenis penyakit yang timbul karena sanitasi yan
buruk.
5

Penggunaan toilet yang bersih membutuhkan peran serta peserta


didik, guru, dan petuga kebersihan agar tercipta toilet yang bersih, sehat,
dan tidak menjadi tempat bersarangnya lalat dan serangga yang dapat
menjadi penular penyakit diare, demam berdarah dengue, kolera, tipus,
disentri, cacingan, infeksi saluran cerna, penyakit kulit, dan lain-lain.
7) Tidak Merokok di Sekolah
Rokok mengandung kurang lebih 4.000 elemen-elemen, dan setidaknya
200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada
rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Oleh karena itu,
kebiasaan merokok harus dihindarkan sejak dini mulai dari tingkat
sekolah.
Peran serta guru sangat penting dalam menghindarkan kebiasaan
merokok. Salah satu cara, guru yang merupakan perokok aktif tidak
diperkenankan merokok di area sekolah sehingga guru tetap menjadi
teladan bagi peserta didiknya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih


dan Sehat (PHBS). Jakarta: 2011.
2. Depkese RI. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. Bakti
Husada. Pusat Promosi Kesehatan. akarta 2006.
6

3. Djatmiko, Febri. Upaya Peningkatan Strata Perilaku Hidup Bersih dan


Sehat Tingkat Rumah Tangga Melalui Strategi Promosi Kesehatan
(Studi Kasus Pengembangan Desa Siaga di Desa Jebed Selatan,
Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah).
Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 2008.
4. Depkes RI. Buku Saku Rumah Tangga Sehat dengan PHBS. Pusat
Promosi Kesehatan. Jakarta. 2007