Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN

KIMIA FARMASI ANALISIS II


GOLONGAN ANTIBIOTIK
RIFAMPISIN

Disusun oleh:
Risa Rahayuni

: 31110042

Resi Yuliasari

: 31110040

Sriwanti Atisah

: 31110048

STIKES BAKTI TUNAS HUSADA


TASIKMALAYA
2013-2014

RIFAMPISIN
A. Tujuan
Menentukan kadar rifampisin dalam bentuk tablet dengan menggunakan metode
titrasi iodometri.
B. Mekanisme Reaksi
Iod bebas seperti halogen lain dapat menangkap electron dari zat pereduksi,
sehingga iod sebagai oksidator. Ion I- siap memberikan electron dengan adanya zat
penangkap electron, sehingga I- bertindak sebagai zat pereduksi. Metoda iodometri dalam
analisis volumetri didasarkan pada proses oksidasi reduksi yang melibatkan:
I2(padat) + 2e 2IPada beberapa literature, sering reaksi ini dituliskan sebagai:
I3- + 2e 3IC. Dasar Teori
Kemampuan suatu terapi antimikrobial sangat bergantung kepada obat, pejamu, dan
agen penginfeksi. Namun dalam keadaan klinik hal ini sangat sulit untuk diprediksi
mengingat kompleksnya interaksi yang terjadi di antara ketiganya. Namun pemilihan
obat yang sesuai dengan dosis yang sepadan sangat berperan dalam menentukan
keberhasilan terapi dan menghindari timbulnya resistansi agen penginfeksi.
Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang
mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme,
khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Literatur lain mendefinisikan antibiotik
sebagai substansi yang bahkan di dalam konsentrasi rendah dapat menghambat
pertumbuhan dan reproduksi bakteri dan fungi. Berdasarkan sifatnya (daya hancurnya)
antibiotik dibagi menjadi dua:
1. Antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik yang bersifat destruktif terhadap
bakteri.
2. Antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang bekerja menghambat
pertumbuhan atau multiplikasi bakteri.
Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi/jamur,
yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotika saat
ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh
Sintesis Rifampisin pertamakali pada tahun 1957 di Itali dariSterptomycess
mediterranei. Rifampisin merupakan komponen mayor dari OAT aktivitas antimikroba
ikatan antara DNA dependent RNA polymerase dari mikobaterium, kemudian
menghambat sintesis awal RNA.

Rifampisin merupakan serbuk kristal merah-coklat dan sangat sedikit larut dalam air
dan sedikit larut dalam alkohol. Obat ini mempunyai pKa 7,9. Larut dalam kloroform,
DMSO, etil asetat, metanol, tetrahidrofuran. Dalam perdagangan, rifampisin tersedia dalam
bentuk serbuk steril untuk injeksi mengandung Natrium formaldehid, sulfoksilat, natrium
hidroksida yang ditambahkan untuk mengatur pH. Dalam perdagangan sediaan oral
rifampin tersedia sebagai obat tunggal, dalam bentuk kombinasi tetap dengan isoniazid,
serta dalam kombinasi tetap dengan isoniasid dan pirazinamid.

D. Alat dan Bahan


a. Alat
- Labu sentrifuge
- Statif
- Klem
- Buret coklat
- Pipet volume 10 ml
- Erlenmeyer 250 ml 3 buah
- Gelas kimia 250 ml 1 buah
- Gelas kimia 100 ml 1 buah
- Batang pengaduk
- Statif
- Pipet tetes
b. Bahan
- Rifampisin (No sampel R2)
- KI
- HCl 1 N
- Natrium tiosulfat
- Amilum
- Methanol
- Aquadestilata
E. Prosedur
Sampel
Timbang , kemudian
Sampel A

Sampel B

Masing-masing (+) kan metanol 10 ml

Sampel C

Dilarutkan dengan methanol 10 ml

Sentrifuge

Terbentuk 2 fasa :
- Fasa metanol

- Fasa endapan
Dekantasi
Ambil fase metanol

Titrasi iodometri

F. Data Hasil
Tidak diperoleh data pada praktikum ini.

G. Pembahasan
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar rifampisin, rifampisin
mempunyai rumus struktur yaitu sebagai berikut:

Dilihat dari strukturnya penentuan kadar rifampisin dapat ditentukan dengan


menggunakan instrument spektrofotometri karena rifampisin mempunyai ikatan rangkap
terkonjugasi. Dalam buku panduan ebook florey rifampisin dapat ditentukan kadarnya
menggunakan titrasi iodometri.
Sebelum dititrasi sampel dibagi menjadi 3 bagian, tujuannya untuk menetralisir
beberapa kesalahan yang terjadi pada saat pengerjaan. Sampel yang akan ditentukan
kadarnya yaitu rifampisin dengan no sampel R2. Setelah sampel dibagi 3 kemudian
sampel dilarutkan dengan methanol kemudian disentrifuge selama 15 menit, setelah

disentrifuge diambil fase metanolnya kemudian lakukan penentuan kadar rifsmpisin.


Metode yang digunakan pada penentuan kadar ini yaitu metode titrasi Redoks
(iodometri). Tirasi redoks ini didasarkan pada perpindahan elektron antara analit.
Penentuan titik akhirnya dapat menggunakan indikator yang dapat berubah warnanya
dengan adanya kelebihan titran.
Pada titrasi redoks ini ada beberapaa jenis yang melibatkan berbagai senyawa,
namun pada penentuan kadar rifampisin ini digunakan titrasi yang melibatkan Iodium
atau bisa disebut titrasi iodometri.
Titrasi iodometri ini merupakan titrasi tidak langsung dan digunakan untuk
menetapkan senyawa-senyawa yang mempunyai potensial oksidasi yang lebih besar
daripada sistem iodium-iodida aatu senyawa-senyawa yang bersifat oksidator. Pada titrasi
ini, sampel yang bersifat oksidator direduksi dengan kalium iodida berlebih dan akan
mernghasilkan iodium yang selanjutnya dititrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat.
Banyaknya volume natrium tiosulfat yang digunakan sebagi titran setara dengan iodium
yang dihasilkan dan setara dengan banyaknya sampel.
Pada praktikum ini dilakukan standarisasi natrium tiosulfat, iod bebas bereaksi
dengan larutan natrium tiosulfat sbb:
2Na2S2O3 + I2 2 NaI + Na2S4O6
Pada reaksi tersebut terbentuk senyawa natrium tetrationat Na2S4O6, garam dari
asam tetrationat. Reaksi iodometri yang paling penting ini dapat ditulis dalam bentuk ion
sbb:
2S2O3- + I2 2I- + S4O62S2O3- 24O6- + 2e
Ketika larutan Na2S2O3 dititrasi dengan larutan iod warna coklat yang
karakteristik dari iod menjadi hilang. Ketika semua Na2S2O3 telah teroksidasi, maka
kelebihan larutan iod akan menjadikan cairan tersebut berwarna kuning pucat. Kelebihan
iod pada akhir titrasi memberikan warna yang samar, sehingga penetapan titik akhir
titrasi menjadi sukar. Karena itu digunakan reagen yang sensitif terhadap iod sebagai
indikator yaitu larutan kanji atau amylum. Pada titrasi dengan adanya larutan kanji titik
ekivalen ditentukan dengan adanya warna biru yang tetap pada kelebihan penambahan
iod satu tetes. Sebaliknya, dimungkinkan juga untuk menitrasi larutan iod dengan
tiosulfat sampai kelebihan satu tetes tiosulfat menghilangkan warna biru larutan. Larutan
kanji harus ditambahkan pada saat akhir titrasi mendekati ekivalen, ketika iod tinggal
sedikit dan larutan yang dititrasi berwarna kuning. Jika larutan kanji ditambahkan pada

awal titrasi, ketika masih banyak terdapat iod dalam larutan, maka sejumlah besar
senyawa iod-kanji yang terbentuk akan bereaksi lambat dnegan tiosulfat.
Natrium tiosulfat distandarisasi dengan kalium bikromat, diproduksi iodin bebas
dari hasil reduksi bikromat, sebagai berikut:
Cr2O72- + 6I- + 14H+ 2Cr3+ + 3I2 + 7H2O
Pada titrasi iodometri perlu diawasi pHnya. Larutan harus dijaga supaya pHnya
lebih kecil dari 8 karena dalam lingkungan yang alkalis iodium bereaksi dengan
hidroksida membentuk iodida dan hipoiodit dan selanjutnya terurai menjadi iodida dan
iodat yang akan mengoksidasi tiosulfat menjadi sulfat, sehingga reaksi berjalan tidak
kuantitatif. Adanya konsentrasi asam yang kuat dapat menaikkan oksidasi potensial anion
yang mempunyai oksidasi potensial yang lemah sehingga direduksi sempurna oleh
iodida. Dengan pengaturan pH yang tepat dari larutan maka dapat diatur jalannya reaksi
dalam oksidasi atau reduksi dari senyawa.
Indikator yang digunakan dalam proses standarisasi ini adalah indikator amilum
1%. Penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan
agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar dititrasi
untuk kembali ke senyawa semula.
Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang
mudah menuap. Pada titik akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran
sehingga warna biru mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas. Penggunaan
indikator ini untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat titik
akhir titrasi. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks
iodium-amilum memiliki kelarutan yang kecil dalam air, sehingga umumnya
ditambahkan pada titik akhir titrasi. Jika larutan iodium dalam KI pada suasana netral
dititrasi dengan natrium thiosulfat, maka :
I3- + 2S2O32- 3I- + S4O62S2O32- + I3- S2O3I- + 2I2S2O3I- + I- S4O62- + I3S2O3I- + S2O32- S4O62- + ITetapi setelah dilakukan praktikum titrasi ini gagal kemungkinan disebabkan oleh
beberapa faktor diantaranya I2 tidak terbentuk, karena I2 mudah menguap kemungkinan I2
habis menguap sebelum titik akhir titrasi terjadi, atau karena I 2 habis bereaksi dengan
sampel.
H. Kesimpulan

Kadar rifampisin dengan no sampel R2 tidak dapat ditentukan kemungkinan


disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya I2 tidak terbentuk, karena I2 mudah menguap
kemungkinan I2 habis menguap sebelum titik akhir titrasi terjadi, atau karena I 2 habis
bereaksi dengan sampel.

I. Daftar Pustaka
Widodo, Didik Setiyo., dan Lusiana, Retno Ariadi., (2010). Kimia Analisis Kuantitatif.
Graha Ilmu: Yogyakarta
Anonim (2007). British Pharmacopoeia, one & two Edition. Hal 5206

Anonim. Analytical Profiles of Drug Substances, Vol 05. Hal 467


Anonim. Antibiotika
http://id.wikipedia.org/wiki/Antibiotika
(akses tanggal 26 maret 2013 jam 20:26)
Anonim. Titrasi iodometri
http://catatankimia.com/catatan/titrasi-iodometri.html
(akses tanggal 26 maret 2013 jam 20:30)