Anda di halaman 1dari 13

AUDITING 2

PENGUJIAN SIKLUS PENJUALAN DAN


PENAGIHAN PIUTANG DAGANG

NAMA KELOMPOK :
KHUSNUL KHOTIMAH

(108 694 003)

INDAH NOVITASARI

(108 694 012)

LAILATUR ROHMAH

(108 694 028)

MOCH. BAGUS ALIM MS

(108 694 031)

SUHANDARINI SUGIONO

(108 694 034)

S1 AKUNTANSI 2010
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

PENGUJIAN SIKLUS PENJUALAN DAN PENAGIHAN PIUTANG DAGANG


1. METODOLOGI DESAIN PENGUJIAN SALDO
Bukti memadai yang dipakai dalam pengujian perincian saldo harus diputuskan
berbasis tujuan-dengan-tujuan (objective-by-objective). Dalam mendesain pengujian
perincian saldo piutang dagang, auditor harus memenuhi delapan tujuan audit-terkait saldo
piutang dagang (accounts receivable balance related audit objectives). Kedelapan tujuan
tersebut adalah:
1. Piutang dagang dalam neraca saldo sesuai dengan jumlah pada berkas utama, dan
jumlah totalnya secara tepat ditambahkan sesuai dengan buku besar (kecocokan
perincian)
2. Pencatatan piutang dagang yang terjadi (keberadaan)
3. Seluruh piutang dagang sudah dihitung (kelengkapan)
4. Jumlah piutang dagang yang tepat (akurasi)
5. Piutang dagang diklasifikasikan dengan benar (klasifikasi)
6. Pisah batas waktu piutang dagang yang tepat (pisah batas)
7. Piutang dagang dinyatakan dalam nilai yang dapat direalisasikan (nilai terealisasikan)
8. Klien memiliki hak atas piutang dagang (hak)
Berikut metodologi yang digunakan para auditor dalam mendesain pengujian yang
tepat untuk perincian saldo piutang dagang :
1) Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien yang Memengaruhi Piutang Dagang (Tahap I)
Pengujian atas piutang dagang didasarkan pada prosedur penilaian resiko audit agar
auditor memahami bisnis dan industri klien. Sebagai bagian dari pemahaman tersebut, auditor
mempelajari lingkungan bisnis dan industri klien serta mengevaluasi tujuan manajemen dan
proses bisnis untuk mengidentifikasi risiko bisnis klien yang secara signifikan dapat
mempengaruhi pelaporan keuangan, termasuk piutang dagang.
2) Menetapkan Salah Saji yang Dapat Diterima dan Mengevaluasi Risiko Bawaaan
(Tahap I)
Auditor terlebih dahulu memberikan penilaian awal mengenai materialitas untuk
keseluruhan laporan keuangan, lalu mengalokasikan jumlah yang dianggap material untuk
setiap akun neraca, termasuk piutang dagang. Alokasi ini disebut penentuan salah saji yang
dapat diterima (tolerable misstatement). Auditor menentukan risiko yang tak terhindarkan
untuk masing-masing akun (misalnya piutang dagang) dengan memepertimbangkan risiko
bisnis dan industri perusahaan klien. PSA 70 (SA 316) mengindikasikan bahwa auditor harus
bisa mengidentifikasi risiko pelanggaran dalam pengakuan pendapatan.
3) Mengevaluasi Risiko Pengendalian Dalam Siklus Penjualan dan Penagihan (Tahap I)
Auditor umumnya memperhatikan tiga aspek pengendalian internal, yaitu:
1. Pengendalian untuk menghindari atau mendeteksi pencurian
2. Pengendalian atas penetapan pisah batas
3. Pengendalian yang berhubungan dengan cadangan piutang tak tertagih

Auditor harus menghubungkan risiko pengendalian atas tujuan audit-terkait transaksi


dan tujuan audit-terkait saldo, terutama untuk merencanakan risiko deteksi dan bukti-bukti
yang akan digunakan dalam pengujian princian saldo.
4) Mendesain dan Melakukan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas
Transaksi (Tahap II)
Hasil pengujian pengendalian menentukan apakah risiko pengendalian atas penjualan
dan penerimaan kas perlu direvisi. Auditor menggunakan hasil pengujian substantif atas
transaksi untuk menentukan apakah perencanaan risiko deteksi sudah memenuhi untuk setiap
tujuan audit-terkait saldo piutang dagang.
5) Mendesain dan Melakukan Prosedur Analitis (Tahap III)
Prosedur analitis biasanya dilakukan dalam tiga tahap audit: selama perencanaan, saat
pelaksanaan pengujian terperinci, dan saat menyelesaikan audit. Namun pada pembahasan
ini, membahas tentang prosedur analitis perencanaan dan prosedur analitis substantif saat
menjalankan pengujian terhadap akun-akun pada siklus penjualan dan penagihan. Prosedur
analitis umumnya dilakukan selama tahap pengujian diselesaikan setelah tanggal neraca,
namun sebelum dilakukan pengujian perincian saldo.
Auditor menjalankan prosedur analitis untuk seluruh siklus penjualan dan penagihan,
tidak hanya piutang dagang. Hal ini diperlukan karena terdapat hubungan erat antara laporan
laba/rugi dengan akun-akun pada neraca. Jika auditor mengidentifikasi adanya kesalahan
penyajian dalam penjualan atau pengembalian barang dagangan dengan menggunakan
prosedur analitis, piutang dagang kemungkinan besar akan menutupi kesalahan tersebut.
6) Mendesain dan Melakukan Pengujian Perincian Saldo Piutang Dagang (Tahap III)
Pengujian perincian yang tepat tehadap saldo bergantung pada faktor-faktor yang
disebutkan dalam kertas kerja. Risiko deteksi yang terencana untuk setiap tujuan audit-terkait
saldo piutang dagang secara subjektif ditentukan auditor untuk setiap faktor yang
mempengaruhinya.
Tugas menggabungkan faktor-faktor penentu risiko deteksi terencana cukup kompleks
karena pengukuran untuk setiap faktor bisa saja salah dan penentuan bobot untuk setiap
faktor sifatnya sangat subjektif. Sebaliknya, hubungan antar faktor dan risiko deteksi
terencana biasanya mudah dilakukan.
2. MENDESAIN PENGUJIAN PERINCIAN SALDO
Meskipun auditor menekankan akun-akun neraca dalam pengujian perincian saldo,
akun laporan laba/rugi tidak dilupakan karena akun laporan laba/rugi diuji sebagai produk
sampingan dari pengujian neraca.
Contoh:
Abi Hutagaluh, CPA, adalah auditor untuk PT Aksa Jaya, perusahaan grosir
pengelolaan besi. Ia menghitung laba kotor terhadap tiga lini produk dan menyajikan tabel
berupa informasi industri dari yang dipublikasikan.
Saat mendiskusikan hasilnya, kontroler menyebutkan bahwa PT Aksa Jaya biasanya
mencatat laba kotor lebih tinggi pada produk besi balok dibanding industrinya. Hal ini
disebabkan karena mereka terfokus pada pasar dimana mereka dapat menjualnya dengan

harga lebih tinggi dan tidak mengutamakan volume penjualan. Hal sebaliknya terjadi pada
besi lapis, dimana mereka memiliki sedikit pelanggan, dan pelanggan tersebut menginginkan
harga rendah dengan jumlah pembelian yang besar. Kontroler menyatakan bahwa kompetisi
yang berat menyebabkan turunnya laba kotor untuk besi lapis baik pada industri maupun
pada PT Aksa Jaya pada tahun 2011 dan 2012. PT Aksa Jaya sejak dulu memiliki laba kotor
yang rendah dibanding industri untuk besi lempengan hingga 2012, namun kemudian karena
labaa kotor meningkat karena laba kotor meningkat drastis karena karena penjualan yang
agresif.
Abi Hutagaluh mengamatio bahwa apa yang dikatakan kontroler itu masuk akal
berdasarkan fakta. Laba kotor atas besi balok untik industri cukup stabil sebesar 3,5 sampai 4
persen lebih rendah dari PT Aksa Jaya untuk setiap tahun. Laba kotor industri untuk kayu
lapis menurun setiap tahun, namun sekitar 10 persen lebih tinggi dari PT Aksa Jaya. Laba
kotor industri untuk besi lempeng stabil selama 3 tahun, namun laba kotor PT Aksa Jaya
meningkat dalam jumlah cukup besar.
Perubahan laba kotor pada PT Aksa Jaya dari 20,3 persen ke 23,9 persen menjadi
perhatian Abi Hutagaluh, lalu ia melakukan 3 prosedur berikut.
1. Menghitung kemungkinan kesalahan penyajian dan mengevalusi materialitas jumlahnya.
Ia menghitung (23,9% - 20,3%) x penjualan kayu lunak dan menyimpulkan bahwa
jumlah tersebut cukup material.
2. Mengidentifikasi potensi penyebab perubahan: kelebihan penyajian atas penjualan,
kelebihan penyajian atas persediaan (kurang saji atas harga pokok penjualan),
kekurangan penyajian atas pembelian (kurang saji atas harga pokok penjualan) atau
memang hasil penjualan yang memuaskan.
3. Memperhatikan potensi kelebihan penyajian atas penjualan dan persediaan dan kurang
saji atas pembelian besi lempengan. Hal ini membutuhkan pengujian audit subtantif lebih
dalam.

Besi balok
Besi
lempengan
Besi lapis

Persentase
Laba
Kotor
PT Aksa
Industri
Jaya
36,4
32,4

Persentase
Laba
Kotor
PT Aksa
Industri
Jaya
36,4
32,5

Persentase
Laba
Kotor
PT Aksa
Industri
Jaya
36,00
32,3

23,9

22,0

20,3

22,1

20,5

22,3

40,3

50,1

44,2

54,3

45,4

55,6

Konfirmasi atas piutang dagang merupakan pengujian terpenting terhadap perincian


piutang dagang. Kita akan mendiskusikan konfirmasi secara singkat sambil mempelajari
pengujian yang memadai untuk setiap tujuan audit terkait saldo.
a) Piutang Dagang Ditambahkan secara Tepat dan Sesuai dengan Berkas Utama dan
Buku Besar
Pengujian atas piutang dagang dan cadangan kerugian piutang dilakukan
berdasarkan neraca saldo. Sebuah neraca saldo menyajikan saldo piutang dagang pada
tanggal neraca, termasuk data saldo piutang untuk setiap pelanggan disertai perincian
saldo untuk kurun waktu antara tanggal penjualan dan tanggal neraca.

b) Piutang Dagang Dicatat Sesuai Keberadaannya


Konfirmasi atas saldo tagihan pelanggan merupakan pengujian paling penting
untuk menentukan keberadaan piutang dagang yang dicatat. Ketika pelanggan tidak
menanggapi konfirmasi, maka auditor perlu memeriksa dokumen pendukung untuk
mengecek pengiriman barang, juga menguji bukti penerimaan kas selama masa tenggang
(subsequent) untuk mengetahui apakah pembayar sudah dilakukan.
c) Piutang Dagang Dicatat secara Lengkap
Jika seluruh penjualan kepada pelanggan tidak dimasukkan dalam jurnal
penjualan, maka kurang saji pada piutang dagang tidak dapat diungkap melalui
pengujian perincian saldo. Contoh: Auditor jarang mengirimkan konfirmasi piutang
dagang kepada pelanggan dengan saldo nol, sebagian karena hasil penelitian
menyebutkan bahwa pelanggan biasanya tidak merespons permintaan konfirmasi
yang menunjukkan saldo mereka kurang.
d) Akurasi Piutang Dagang
Konfirmasi rekening yang diambil dari neraca saldo merupakan bentuk pengujian
perincian saldo yang paling umum dilakukan untuk mengetahui akurasi piutang dagang.
Bila pelanggan tidak merespon permintaan konfirmasi, auditor dapat melihat data
pendukung untuk memperoleh keyakinan atas keberadaan piutang tersebut.
e) Piutang Dagang Diklasifikasikan dengan Benar
Umumnya, auditor dapat mengevaluasi klasifikasi piutang dagang dengan mudah,
yaitu dengan menelaah neraca saldo untuk piutang yang jumlahnya material dari afiliasi,
karyawan, direktur atau pihak terkait lainnya.
f) Penetapan Pisah Batas (Cutoff) Piutang Dagang secara Tepat
Auditor perlu melakukan tiga pendekatan dalam menetapkan dalam kewajaran
pisah batas, yaitu:
1. Menetapkan kriteria pisah batas yang tepat.
2. Mengevaluasi apakah klien telah melakukan prosedur yang memadai untuk
menentukan tingkat kewajaran pisah batas.
3. Menguji apakah pisah batas yang ditetapkan adalah tepat.
g) Piutang Dagang Dinyatakan dalam Nilai Terealisasi
GAAP mensyaratkan perusahaan mencatat piutang dagang dalam jumlah tertinggi
yang dapat ditagih. Nilai terealisasi piutang dagang sama dengan jumlah total piutang
dagang dikurangi dengan cadangan piutang tak tertagih. Untuk melakukan evaluasi ,
auditor seringkali menyiapkan skedul audit yang menganalisis cadangan piutang tak
tertagih seperti dalam Figur 14-4.
Figur 14-4
Dalam contoh ini analisis dilakukan mengindikasi adanya nilai cadangan yang
dinyatakan kurang saji (understated). Hal ini disebabkan karena klien sulit menentukan
cadangan atau karena faktor ekonomi. Perlu dicatat bahwa potensi kurang saji pada
cadangan dapat dilihat dari prosedur analitis pada 14-3 untuk PT Perkasa Prima.
h) Klien Berhak atas Piutang Dagang
Umumnya, pelanggan tidak tahu-menahu tentang hal tersebut, sehingga
konfirmasi piutang pun tidak dapat memberikan kejelasan. Untuk mendpatkan informasi

mengenai hak klien atas piutangnya, auditor perlu mendiskusikan dengan klien,
melakukan konfirmasi ke bank, atau memeriksa kontrak utang sebagai bukti bahwa
piutang dagang dipakai sebagai jaminan dan memeriksa berkas korespondensi.
i) Penyajian dan Pengungkapan Piutang Dagang
Pengujian dari keempat tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan
dilakukan sebagai bagian dari penyelesaian terhadap audit. Contohnya, ketika pengujian
penjualan dan piutang dagang dilakukan, auditor harus memahami dan mengevaluasi
kewajaran kebijakan klien atas pengakuan pendapatan untuk mengetahui
pengungkapannya secara wajar dalam laporan keuangan.
3. KONFIRMASI PIUTANG DAGANG
Konfirmasi piutang merupakan konsep yang telah dibahas dalam diskusi mengenai
desain pengujian perincian saldo piutang dagang. Tujuan utama konfirmasi piutang dagang
adalah untuk memenuhi tujuan keberadaan, akurasi, dan pisah batas.

Persyaratan Standar Auditing

Standar auditing mensyaratkan konfirmasi piutang dagang dalam kondisi normal. PSA
07 (SA 330) menyebutkan tiga pengecualian terhadap persyaratan konfirmasitersebut, yaitu:
1. Piutang dagang jumlahnya tidak material
Hal ini biasa terjadi pada perusahaan tertentu, misalnya toko diskon dengan penjualan
tunai dan kartu kredit.
2. Auditor mempertimbangkan bahwa konfirmasi merupakan bukti yang tidak efektif
karena tingkat respon yang rendah atau tidak dapat diandalkan.
Dalam industri tertentu, seperti rumah sakit, tingkat respon untuk konfirmasi ini
sangat rendah.
3. Kombinasi dari tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian adalah rendah dan
bukti substantif lain dapat diakumulasikan sebagai bukti yang cukup.
Jika klien memiliki pengendalian internal efektif dan risiko bawaan yang cukup
rendah terhadap siklus penjualan dan penagihannya.

Jenis-Jenis Konfirmasi

a) Konfirmasi Positif
Konfirmasi positif adalah komunikasi yang ditujukan kepada debitor ubutk meminta
konfirmasi secara langsung apakah saldo yang disebutkan dalam konfirmasi tersebut benar
atau salah. Adapun pembagian konfirmasi positif yaitu:
-

Formulir konfirmasi kosong


Konfirmasi tagihan

b) Konfirmasi Negatif
Konfirmasi negatif juga ditujukan kepada debitor, tetapi hanya meminta respons jika
debitor tidak menyetujui jumlah yang dinyatakan dalam konfirmasi. Konfirmasi negatif
biasanya digunakan untuk audit rumah sakit, toko ritel, dan industri lain yang piutang
dagangnya berhubungan dengan masyarakat umum.

Penetapan Waktu (Timing)

Untuk melakukan audit berbasis ketepatan waktu, biasanya diperlukan konfirmasi


akun-akun selama tanggal interim. Hal ini dapat dilakukan jika pengendalian internal
dirasakan sudah memadai dan dapat dipastikan bahwa penjualan, penerimaan kas, dan kresit
lainnya dicatat dengan benar antara tanggal konfirmasi dan akhir periode akuntansi.

Keputusan Pengambilan Sampel

Jumlah sampel merupakan faktor utama yang mempengaruhi sampel dalam


melakukan konfirmasi piutang dagang terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu:
-

Salah saji yang dapat diterima


Risiko yang tak terhindarkan
Risiko pengenadalian
Risiko deteksi yang diperoleh dari pengujian substantif lainnya
Tipe konfirmasi
Pemilihan Sampel Pengujian. Beberapa tingkatan sampel diperlukan bagi hampir
seluruh jenis konfirmasi. Dalam melakukan pendekatan untuk memilih tingkatan
sampel, auditor perlu mempertimbangkan besaran nominal akun per individu dan
jangkawaktu peredaran piutang dagang.

Auditor perlu berhati-hati dan menghindari pengaruh dari klien saat memilih sampel
untuk konfirmasi piutang dagang. Jika klien berusaha menghalangi auditor melakukan
konfirmasi pada pelanggan tertentu, maka auditor perlu mempertimbangkan kemungkinan
bahwa klien ingin menutupi salah saji fiktif atas piutang dagang.

Menjalankan Pengendalian

Setelah sampel konfirmasi ditentukan, auditor tetap perlu melakukan pengendalian


konfirmasi hingga dikembalikan dari pelanggan. Jika klien membantu menyiapkan
konfirmasi, memasukkan surat konfirmasi ke dalam amplop tertutup, atau melekatkan cap
pada amplop, auditor harus melakukan pengawasan ketat.

Analisis Perbedaan

Ketika permintaan konfirmasi dikembalikan oleh pelanggan, auditor menentukan


alasan jika ditemukan perbedaan. Dalam banyak kasus, perbedaan tersebut dikarenakan beda
waktu antara pencatatan klien dan pelanggan.
Jenis perbedaan yang biasa terjadi pada hasil konfirmasi meliputi:
1. Pembayaran sudah dilakukan
Perbedaan biasanya terjadi ketika pelanggan sudah melakukan pembayaran sebelum
tanggal konfirmasi, tetapi klien belum menerima pembayaran saat pencatatan sebelum
tanggal konfirmasi.
2. Barang belum diterima
Perbedaan ini biasanya timbul karena klien mencatat penjualan pada tanggal
pengiriman dan pelanggan mencatat pada tanggal barang diterima.

3. Pengembalian barang
Kesalahan klien dalam mencatat memo kredit dapat terjadi karena beda atau
kesalahan pencatatan retur dan cadangan penjualan.
4. Kesalahan klerikal dan jumlah yang dipertentangkan
Perbedaan yang terjadi dalam laporan pencatatan klien biasanya terjadi ketika
pelanggan menyatakan terjadinya kesalahan atas harga barang, kerusakan barang,
jumlah barang yang tidak diterima, dan lain-lain.

Pengambilan Kesimpulan

Ketika masalah perbedaan telah diselesaikan, termasuk perbedaan yang ditemukan


saat melakukan prosedur alternatif, auditor harus melakukan evaluasi ulang terhadap
pengendalian internal. Selain itu, perlu dipastikan bahwa sampel yang diambil dapat
mewakili populasi dengan benar. Keputusan akhir tentang piutang dagang dan penjualan
adalah mengenai apakah bukti memadai telah diperoleh melalui pengujian pengendalian dan
pengujian substantif atas transaksi, prosedur analitis, prosedur pisah batas, konfirmasi, dan
pengujian substantif lain.
4. MENGEMBANGKAN PENGUJIAN ATAS PROGRAM AUDIT TERPERINCI
Kita akan menggunakan kasus PT Perkakas Prima guna mengilustrasikan
pengembangan prosedur program audit untuk pengujian perincian dalam siklus penjualan dan
penagihan. Prosedur ini ditentukan atas dasar pengujian pengendalian dan pengujian
substantif atas transaksi, seperti diilustrasikan dalam Bab 14 dan 15, dan prosedur analitis
yang dijelaskan di bagian awal bab ini.
Mira Abadi, seorang auditor senior, menyiapkan kertas kerja perencanaan bukti dalam
Figur 14-7 sebagai panduan dalam memutuskan seberapa luas pengujian perincian saldo
tersebut. Informasi dari setiap baris adalah sebagai berikut.

Salah saji yang dapat diterima. Ketentuan awal atas materialitas adalah dia atas Rp
442.000.000 (sekitar 6 % dari laba operasi sebesar Rp 7.370.000.000). Ia
mengalokasikan Rp 265.000.000 ke audit piutang dagang (lihat jilid 1, Bab 7, Tabel 73).
Risiko audit yang bisa diterima. Mira menentukan risiko audit yang dapat diterima
adalah tinggi karena perusahaan dalam kondisi keuangan yang bagus, stabilitas
keuangan yang tinggi, dan pengguna laporan keuangan hanya sedikit.
Risiko bawaan. Mira menentukan bahwa tingkatan risiko yang tak terhindarkan
adalah medium untuk keberadaan dan pisah batas karena hal-hal yang perlu
diperhatikan mengenai pengakuan pendapatan dalam PSA 70. Mira juga menentukan
risiko yang tak terhindarkan adalah medium untuk nilai realisasi. Pada tahun-tahun
sebelumnya, klien membuat penyesuaian audit atas cadangan piutang tak tertagih
karena terbukti kurang saji.risiko bawaan untuk tujuan lain ditetapkan rendah.
Risiko pengendalian. Penentuan risiko ppengendalian untuk setiap tujuan audit adalah
sama denga Figur 13-6 (Jilid 1). (Perlu diingat bahwa hasil uji pengendalian dan
pengujian substantif atas transaksi pada Bab 13 adalah konsisten dengan penentuan
risiko pengendalian awal yang ditetapkan auditor, kecuali pada akurasi dan nilai
realisasi penjualan).
Pengujian substantif atas hasil transaksi. Hasil pengujian ini juga diambil dari Figur
13-6. (Perlu diingat Bab 13 bahwa seluruh hasil diterima kecuali tujuan akurasi dan
pisah batas untuk penjualan).

Prosedur analitis. Lihat Tabel 14-2 dan 14-3.


Risiko deteksi terencana dan bukti audit terencana. Dua baris ini ditujukan untuk
setiap tujuan berdasarkan kesimpulan dan baris lainnya.

Tabel 14-4 menunjukkan pengujian proram audit perinci untuk piutang dagang, sesuai
tujuannya, dan untuk cadangan piutang tak tertagih. Program audit mereflesikan kesimpulan
atas bukti audit terencana terhadap kertas kerja perencanaan bukti dalam Figur 14-7.
Tabel 14-5 menunjukkan program audit dalam format kinerja. Prosedur auditnya sama
dengan yang ada dalam Tabel 14-4 kecuali pada prosedur 2, yaitu merupakan prosedur
analitis. Angka dalam penjelasan merupakan referensi silang antara kedua tabel tersebut.

Keberadaan

Kelengkapan

Akurasi

Klasifikasi

Pisah batas

Nilai terealisasi

Hak

perincian Kecocokan

Figur 14-7 (Kertas Kerja Perencanaan Bukti untuk Menentukan Pengujian Perincian
Saldo PT Perkakas Prima-Piutang Dagang)

Risiko audit
yang
dapat
diterima

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Risiko
bawaan

Renda
h

Menenga
h

Renda
h

Rendah

Renda
h

Menenga
h

Menenga
h

Rendah

Risiko
pengendalian
-penjualan

Renda
h

Menenga
h

Renda
h

Tinggi

Renda
h

Menenga
h

Tinggi

Tidak
berlaku

Risiko
pengendalian
-penerimaan
kas

Renda
h

Menenga
h

Renda
h

Rendah

Renda
h

Rendah

Tidak
berlaku

Tidak
berlaku

Risiko
pengendalian
pengendalian
tambahan

Tidak
ada
hasil

Tidak ada
hasil

Tidak
ada
hasil

Tidak ada
hasil

Tidak
ada
hasil

Tidak ada
hasil

Tidak ada
hasil

Rendah

Pengujian
substansif
atas
transaksipenjualan

Hasil
baik

Hasil baik

Hasil
baik

Fair baik

Hasil
baik

Hasil
tidak
diterima

Tidak
berlaku

Tidak
berlaku

Pengujian
substantive

Hasil
baik

Hasil baik

Hasil
baik

Hasil baik

Hasil
baik

Hasil baik

Tidak
berlaku

Tidak
berlaku

atas
transkasipenerimaan
kas
Prosedur
analitis

Hasil
baik

Hasil baik

Hasil
baik

Hasil baik

Hasil
baik

Hasil baik

Tidak
berlaku

Rendah

Hasil
tidak
diterima
Rendah

Risiko
deteksi
terencana
untuk
pengujian
perincian
saldo

Tinggi

Menenga
h

Tinggi

Menenga
h

Tinggi

Bukti audit
terencana
untuk
pengujian
perincian
Saldo

Renda
h

Menenga
h

Renda
h

Menenga
h

Renda
h

Tinggi

Tinggi

Rendah

Tinggi

Salah saji yang ditoleransi Rp 265.000.000

Tabel 14-4
Tujuan Audit-Terkait Saldo dan Program Audit untuk PT Perkakas Prima-Siklus
Penjualan dan Penagihan (Format Desain)
Tujuan Audit-Berkaitan dengan Saldo

Prosedur Audit

Piutang dagang dalam neraca saldo jumlahnya


sama dengan berkas utma terkait, dan totalnya
ditambahkan denga benar serta samsa dengan
perincian buku besar.

Menelusuri 10 akun dari neraca saldo ke akunakun berkas utama (6).


Menjumlahkan ke bawah dua halaman neraca
saldo dan menghitung total seluruh halaman
(7).
Menelusuri saldo ke buku besar (8).

Piutang dagang muncul pada neraca saldo Melakukan konfirmasi piutang dagang dengan
(keberadaan).
menggunakan konfirmasi positif. Melakukan
konfirmasi untuk semua saldo diatas Rp
100.000.000 dan sisanya diambil sampel secara
acak (10).
Melakukan prosedur alternatif untuk seluruh
konfirmasi yang tidak ditanggapi pada

permintaan kedua (11).


Melakukan telaah atas piutang dagang dalam
neraca saldo untuk akun yang nilainya besar
atau tidak lazim (1).
Piutang dagang ada di dalam neraca saldo Menelusuri lima akun dalam berkas utama
(kelengkapan).
piutang dagang ke neraca saldo (9).
Jumlah piutang dagang dalam neraca saldo Melakukan konfirmasi piutang dagang dengan
adalah akurat (akurasi).
menggunakan konfirmasi positif. Melakukan
konfirmasi untuk semua saldo diatas Rp
100.000.000 dan sisanya diambil sampel secara
acak (10).
Melakukan prosedur alternatif untuk seluruh
konfirmasi yang tidak ditanggapi pada
permintaan kedua (11).
Melakukan telaah atas piutang dagang dalam
neraca saldo untuk akun yang nilainya besar
atau tidak lazim (1).
Piutang
dagang
pada
neraca
saldo Melakukan telaah daftar piutang dalam neraca
diklasifikasikan dengan benar (klasifikasi).
saldo untuk piutang wesel atau piutang pada
pihak terkait (3).
Melakukan tanya jawab dengan manajemen
apakah ada piutang pada pihak terkait atau
piutang jangka panjang yang termasuk dalam
neraca saldo (4).
Transaksi dalam siklus penjualan dan Memilih 20 transaksi terakhir atas penjualan
penagihan dicatat pada periode yang benar dari jurnal penjualan tahun berjalan dan dicatat
(pisah batas).
pada periode yang benar (pisah batas).
Memilih 20 transaksi pertama dari masa jeda
tahun berjalan dan menelusurinya ke dokumen
pengiriman masing-masing, serta melakukan
pengecekan terhadap tanggal pengiriman
aktual dan tanggal pencatatn yang benar (14).
Menelaah retur dan cadangan penjualan yang
jumlahnya besar sebelum dan setelah tanggal
neraca untuk menentukan apakah transaksi ini
dicatat pada periode yang benar (15).
Piutang dagang dinyatakan
realisasinya (nilai terealisasi).

dalam

nilai Menelusuri 10 akun dari neraca saldo ke


berkas utama piutang dagang untuk menguji
perhitungan umur piutang dan saldonya (6).

Menjumlahkan ke bawah kolom umur piutang


dalam neraca saldo dan menghitung total
seluruh halaman (7).
Menjumlahkan kesamping kolom umur
piutang (7).
Mendiskusikan bagaimana kecenderungan
kolektibilitas dari tagihan-tagihan lama dengan
manajer kredit. Menguji penerimaan kas
selama masa tenggat dan berkas kredit pada
tagihan jatuh tempo lebih dri 90 hari dan
melakukan evaluasi apakah piutang dagang
tersebut masih bisa tertagih (12).
Mengevaluasi apakah cadangan mencukupi
setelah melakukan prosedur audit lain dalam
mengetahui kolektibilitas piutang (13).
Klien mempunyai hak atas piutang dagang Menelaah notulensi rapat pimpinan untuk
yang ada di dalam neraca saldo (hak).
mengetahui indikasi adanya piutang yang
dijaminkan (5).
Melakukan tanya jawab dengan manajemen
jika ada piutang yang dijaminkan (5).

Tabel 14-5
Program Audit untuk Pengujian Perincian Saldo PT Perkakas Prima-Siklus Penjualan
dan Penagihan (Format Kinerja)

1. Melakukan telaah atas piutang dagang dalam neraca saldo untuk akun yang nilainya
besar atau tidak lazim.
2. Membuat prosedur analitis yang diindikasikan dalam skedul audit ke depan (tidak
termasuk) dan menindaklanjuti setiap perubahan penting dari tahun sebelumnya.
3. Menelaah piutang dalam daftar neraca saldo untuk wesel dan piutang pada pihak terkait.
4. Melakukan tanya jawab dengan manajemen apakah ada piutang kepada pihak terkait,
wesel, atau piutang jangka panjang yang termasuk dalam neraca saldo.
5. Menelaah notulensi rapat pimpinan dan melakukan tanya jawab dengan manajemen jika
ada piutang yang dijaminkan.
6. Menelusuri 10 akun dari neraca saldo ke piutang dagang untuk menghitung umur piutang
dan saldonya.
7. Menjumlahkan ke bawah (foot) saldo dari dua halaman neraca saldo pada kolom
perhitungan umur piutang dan saldo, menghitung total keseluruhan, dan menghitung
kesamping (cross-foot) saldo perhitungan umur piutang.
8. Menelusuri saldo ke buku besar
9. Menelusuri lima akun dalam berkas utama piutang dagang ke neraca saldo.
10. Melakukan konfirmasi positif atas piutang dagang . Mengonfirmasi seluruh akun diatas
Rp 100.000.000 dan melakukan pengambilan sampel acak terhadap sisanya.
11. Melakukan prosedur alternatif untuk seluruh konfirmasi yang tidak ditanggapi pada
permintaan kedua.
12. Mendiskusikan bagaimana kecenderungan kolektibilitas dari tagihan-tagihan lama
dengan manajer kredit. Menguji penerimaan kas selama masa tenggat dan berkas kredit
pada tagihan jatuh tempo lebih dri 90 hari dan melakukan evaluasi apakah piutang
dagang tersebut masih bisa tertagih.
13. Mengevaluasi apakah cadangan mencukupi setelah melakukan prosedur audit lain dalam
mengetahui kolektibilitas piutang.
14. Memilih 20 transaksi terakhir atas penjualan dari jurnal penjualan tahun berjalan dan
dicatat pada periode yang benar (pisah batas). Memilih 20 transaksi pertama dari masa
jeda (subsequent) tahun berjalan dan menelusurinya ke dokumen pengiriman masingmasing, serta melakukan pengecekan terhadap tanggal pengiriman aktual dan tanggal
pencatatn yang benar.
15. Menelaah retur dan cadangan penjualan yang jumlahnya besar sebelum dan setelah
tanggal neraca untuk menentukan apakah transaksi ini dicatat pada periode yang tepat.