Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH ORTHODONTI 2

EFEKTIVITAS KLINIS DARI ALAT TWIN BLOCK DALAM PENGOBATAN


MALOKLUSI KELAS II DIVISI 1

Penyusun :
Putri Bintang Pamungkas (04121004028)
Ahdiat Sukmawan (04121004030)
Septina Anggun Putri (04121004031)
Fadilla Ash Shiddieqi NS (04121004032)
Debby Aprilia (04121004033)
Aisyah Rahmania (04121004034)

Dosen Pembimbing
drg. Arya Prasetya Beumaputra, Sp. Ort.

FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

A. Maloklusi Kelas II Angle


1. Definisi
Maloklusi kelas II atau disebut juga distoklusi, yaitu ditandai dengan
tonjol mesiobukal dari molar pertama permanen atas beroklusi pada embrasure
dari tonjol mesiobukal dari molar pertama permanen bawah dan tepi distal dari
tonjol bukal premolar kedua bawah. klas II Angle dibagi dalam 2 golongan, yaitu
1) Divisi 1, dijumpai inklinasi gigi depan ke labial. Terdapat overjet yang besar
dimana ruangan diantara gigi depan atas dan gigi depan bawah terisi oleh jaringan
lunak dari bibir bawah; 2) Divisi 2, lengkung gigi bawah yang lebih ke distal dari
lengkung gigi atas dan gigi depan atas menjadi tegak atau inklinasi ke lingual
(Mochtar, 1974).
Maloklusi yang biasa muncul pada kelas II angle pada divisi 1 antara lain
adalah relasi yang distal dari mandibula, maxilla yang maju ke depan disertain
dengan lengkung gigi yang sempit dan palatum yang tinggi, gigi depan yang
protrusi, kadang-kadang ada diastema, overjet yang berlebihan, supraversi dari
gigi depan atas sehingga terdapat overbite, bibir atas yang pendek dan bibir bawah
mengenai bagian palatinal gigi depan atas(Mochtar, 1974).
B. Twin Block
1. Definisi
Twin blok merupakan alat yang terdiri dari plat atas dan bawah dengan
menggunakan bukal blok, bidang inklinasi untuk protusif mandibula (Heasman,
2003). Tujuan utama terapi dengan Twin Blok yaitu untuk menambahkan panjang
mandibula dengan menstimulasi kenaikan pertumbuhan kartilago kondilus dan
membatasi pertumbuhan maksila (Baccetti dkk sit Sidlauskas, 2005).
Twin blok dibuat untuk gigitan protrusif dengan mengubah bidang
inklinasi oklusal menggunakan bidang inklinasi akrilik pada blok gigitan oklusal
dengan tujuan memajukan mandibula untuk mengoreksi maloklusi kelas II
skeletal. Twin blok didesain untuk digunakan selama 24 jam dalam sehari untuk
mendapat manfaat yang maksimal dari seluruh tekanan fungsional dengan
menggunakan sistem alat sederhana yang diberikan pada gigi geligi, termasuk
tekanan mastikasi. (Clark, 2002).

2. Indikasi dan kontraindikasi


Indikasi penggunaan Twin blok antara lain koreksi maloklusi kelas II,
pengembangan vertikal, koreksi vertikaluntuk menutup open bite anterior,
ekspansi

lengkung

dan

menambahkan

panjang

lengkung(Clark

dkk.,

2004).Sekarang ini juga berkembang penggunaan twinblock untuk maloklusi


kelas 3.
Kontraindikasi pada pasien dengan asimetris wajah yang sering terlihat
pada pasien dengan unilateral cross bite dan inklinasi gigi insisivus maksila tidak
boleh terlalu verikal atau ke lingual, maksila tidak dalam posisi yang benar
karena menyebabkan twin block tidak stabil.
Walaupun sebagian besar maloklusi kelas II dapat dirawat dengan
menggunakan Twin Blok, namun ada beberapa pengecualian. Pemeriksaan profil
merupakan petunjuk klinis yang paling penting. Jika profil tidak membaik setelah
mandibula dimajukan, hal ini jelas merupakan kontraindikasi bagi pemajuan
mandibula fungsional, dan harus dicari perawatan alternatif lainnya (Clark,
2002).
3. Kelebihan dan kekurangan
Prinsip utama dari desain alat ini yaitu kesederhanaan. Penampilan pasien
jadi bertambah baik dengan menggunakan Twin blok yang pas. Twin blok
didesain untuk kenyamanan, estetis, dan efisien. Dengan memenuhi persyaratan
tersebut, Twin Blok akan memuaskan kedua belah pihak, baik pasien maupun
operator (Clark, 2002).
Kelebihan Twin blok yaitu nyaman, dapat dipakai setiap saat, termasuk
saat makan, perawatan lebih cepat dan mudah, estetis, dapat digunakan oleh
semua umur, lengkung rahang atas dan bawah dapat dikontrol, penggabungan
dengan alat ortodontik cekat lebih mudah dibanding alat fungsional lainnya
(Clark dkk., 2004).
Menurut Dyer dkk. (2002), Twin blok paling efektif dalam menghasilkan
perubahan vertikal dan sagital dibandingkan dengan alat fungsional lainnya.
Perubahan tersebut dicapai melalui perubahan skeletal mandibula dan
dentoalveolar disamping pertumbuhan normal.
Illing dkk. (1998) dalam jurnalnya menyebutkan salah satu kekurangan
Twin blok yaitu tidak dapat digunakan pada saat olahraga.

4. Perkembangan twin block


Teknik Twin blok menurut Clark dkk. (2004) adalah sebuah sistem yang
menggabungkan penggunaan blok rahang atas dan rahang bawah. Blok-blok
tersebut mereposisi mandibula dan mengalihkan arah tekanan oklusal untuk
mencapai koreksi maloklusi yang cepat. Alat ini merupakan alat lepasan yang
paling terkemuka, karena dapat mengoreksi maloklusi kelas II dengan cepat dan
mudah.
Twin blok memiliki berbagai macam desain, di mana desain tersebut
tergantung indikasi ataupun kondisi rongga mulut pasien. Desain awal twin blok
adalah desain yang diciptakan oleh Dr. Clark. Banyak dokter yang menyukai
desain Dr. Clark karena tidak menggunakan labial arch, sehingga pasien tidak
terganggu secara estetik. Bagian anterior tidak banyak terdapat akrilik, sehingga
pasien tidak terlalu terganggu saat berbicara. Klamer pada desain Dr. Clark
memberikan stabilitas yang baik serta retensi yang maksimum (Clark dkk, 2004).

Blok di bagian belakang, untuk


mengurangi gangguan di
anterior sehingga
meningkatkan kenyamanan
Tidak menggunakan molar
kedua sebagai
retensiasli twin
Gambar
1. Desain

Tidak ada akrilik di daerah


lingual sebelah posterior
untuk menghilangkan ketidak
nyamanan pada rahang bawah

blok oleh Dr. Clark.

Desain twin blok yang menjadi favorit orang dewasa adalah desain yang
dibuat oleh Dr. Broadbent dengan mengurangi akrilik yang berada di sekitar gigi
anterior sehingga pergerakan di daerah insisal menjadi lebih fleksibel dan pasien
lebih nyaman dalam berbicara (Clark dkk, 2004).
Dr. Mahony menciptakan desain twin blok yang memberi ruang bagi gigi
yang belum erupsi. Keuntungan dari desain ini adalah mengijinkan gigi premolar
bawah tumbuh sepanjang gigi molar bawah. Hal tersebut dapat mengurangi
kebutuhan alat saat tahap support. Adanya klamer di sepanjang rahang bawah
memberikan kekuatan tambahan bagi twin blok.

Pada bagian oklusal diberi

groove dan permukaan yang lebih kasar dengan tujuan memudahkan pasien saat
makan. Selain itu di daerah insisal diberi bitting surface yang bertujuan membantu
mastikasi. Labial arch pada rahang atas berperan sebagai tambahan retensi,
menjaga supaya insisal tetap pada lengkunganya serta menghentikan efek

headgear. Bukal groove pada akriliki bertujuan untuk mencegah distorsi pada
klamer, sehingga baik dokter ataupun pasien tidak perlu khawatir kehilangan
retensi (Clark dkk, 2004).
Desain standar untuk maloklusi kelas II divisi 1 dengan deep bite
Desain ini diindikasikan untuk gigi yang tidak berjejal dan rahang bawah
yang masih dalam masa perkembangan. Perkembangan rahang atas sekitar 2 mm
untuk menyesuaikan rahang bawah ketika oklusi kelas I sudah tercapai. Blok pada
twin blok berfungsi untuk mengkoreksi kelas II dan perkembangan vertikal. Pada
rahang atas terdapat sekrup ekspansi. Adanya jarak vertikal bertujuan agar molar
bawah ekstrusi dengan mengurangi blok pada molar atas sebanyak mm setiap
kontrol. Ekspansi rahang atas dengan memutar skrup 1 putaran setiap minggu
sampai rahang atas sesuai dengan rahang bawah.
Desain twin blok pada kasus kelas II divisi 1 dengan deep bite dan
lengkung rahang yang kecil maka baik pada rahang atas maupun plat rahang
bawah diberi sekrup ekspansi. Pada desain ini juga dilakukan pengurangan blok
pada gigi molar atas agar molar bawah erupsi. Pemutaran sekrup juga dilakukan 1
putaran setiap minggu, pada pasien anak-anak dapat dilakukan 2 putaran setiap
minggu hingga diperoleh lengkung rahang yang diharapkan.
Pada periode gigi bercampur dengan maloklusi kelas II maka dilakukan
ekspansi rahang. Pada plat atas dan bawah di beri sekrup di daerah midline.
Retensi sangat diharapkan pada periode gigi berjejal. Pada periode gigi bercampur
tidak memerlukan perkembangan rahang ke arah vertikal, sehingga blok pada gigi
molar tidak perlu dikurangi. Sekrup diputar satu putaran setiap minggu atau dua
kali dalam seminggu jika perlu.
Twin blok juga dapat digunakan untuk mengkoreksi maloklusi kelas II
dengan open bite pada region anterior. Pada kasus ini, sudut 70 pada bagian
interface sangat penting dan harus diperhatikan. Ada kemungkinan molar bawah
ekstrusi sehingga nantinya menimbulkan open bite. Untuk mencegah hal tersebut,
pada saat membuat gigitan pada malam, kenyamanan pasien saat dokter
melakukan reposisi mandibula sangat diperhatikan. Twin blok diberi labial arch
untuk menjaga gigi antertior tetap pada lengkung yang diharapkan. Crib
digunakan untuk menjaga lidah supaya tidak mendorong gigi anterior. Pada plat
rahang atas diberi sekrup di daerah midline untuk ekspansi rahang atas ke lateral.
Sama halnya dengan twin blok pada periode gigi bercampur, blok pada gigi molar

tidak perlu dikurangi, karena tidak membutuhkan perkembangan gigi ke arah


vertikal. Sekrup di aktifkan satu putaran setiap minggu.
5. Pembuatan gigitan pada twin block
Sebelum pemasukan desain twin blok ke lab, dokter perlu membuat bite
registration atau pencatatan gigitan yang sesuai dengan kondisi pasien. Dalam
pembuatan bite registration sebisa mungkin didapatkan gigitan yang baik, karena
akan berpengaruh pada keakuratan bentuk twin blok dan keefektifan dari
perawatan twin block atau dengan kata lain tidak perlu pengulangan tahapan
pembuatan twin blck bila saat insersi tidak sesuai dengan gigi pasien.
Cara untuk mendapatkan hasil pencatatan gigitan dapat dilakukan dengan
menggunakan malam yang dibentuk kotak yang cukup untuk menutup lengkung
rahang atas dari incisivus rahang atas hingga gigi molar satu permanen pada
kedua sisi lengkung rahang. Umumnya malam yang digunakan telah dibentuk
dengan ketebalan malam sekitar 8-10 mm (Shah dan Sandler, 2009).
Setelah itu malam dihaluskan dengan memasukkan ke dalam air hangat
sebentar lalu dimasukkan ke dalam mulut pasien hingga malam berada di palatal
gigi incisivus atas dan ditekan pada gigi-geligi rahang atas sampai masuk
sehingga di dapatkan tanda pada malam dari gigi incisivus hingga region molar
satu permanen. Hal ini akan membuat operator secara akurat menaruh pada model
studi (Shah dan Sandler, 2009).
Pada saat awal tahap penggigitan malam, pasien harus diinstruksikan
bagaimana cara untuk menggigit, karena untuk mengantisipasi terjadinya posisi
mandibula yang maju. Lalu mengecek agar pasien tetap nyaman menjaga kondisi
tersebut (Shah dan Sandler, 2009).
Pada kasus klas II divisi 1 yang ringan dimana overjed kecil atau dengan
kasus klas 2 divisi 2 aktivasi protrusi mungkin melebihi posisi edge to edge untuk
mendapat aktivasi otot yang cukup untuk mengoreksi relasi klas II pada segmen
bukal. Jika terdapat diskrepansi gigi anterior rahang atas dan bawah serta
penyebab diskrepansi tersebut makan harus dikoreksi. Jika diskrepansi gigi
tersebut dikoreksi kemudian hari maka harus membuat ulang pencatatan gigitan
malam (Shah dan Sandler, 2009).
Pencatatan gigitan yang benar pada midline dapat dibantu dengan
memberikan pasien kaca, khususnya jika prosedur ini diulang-ulang sebelum

memakai malam yang telah dihaluskan. Kemudian pasien diminta untuk


menggigit dengan posisi mandibula ke depan, tetapi hal ini dilakukan dengan
pelan-pelan sehingga beberapa intruksi penting untuk merubah posisi mandibula
dapat diberikan kepada pasien dan direspon dengan baik oleh pasien dengan
mereka menutup gigi mereka (Shah dan Sandler, 2009).
Setelah itu hasil penggigitan malam dikeluarkan dari mulut dan
menggunakan gunting atau alat pemotong malam untuk memotong setengah
bagian permukaan oklusal pada gigi posterior dan ujung incisal gigi anterior
(Shah dan Sandler, 2009).
Hal yang penting dalam tahap ini adalah tepi dari gigitan malam berakhir
pada permukaan oklusal gigi. Setelah memotong hasil gigitan malam, gigitan
tersebut perlu dicek ulang di dalam mulut pasien untuk memastikan posisi anteroposterior, lateral dan vertikal mandibula sudah didapatkan (Shah dan Sandler,
2009).

Gambar 2.1 Wax dilipat hingga ketebalan 8


10 mm

Gambar 2.3 Gigi rahang bawah diarahkan


pada posisi edge to edge

Gambar 2.2 Rahang atas dan palatum


dicetak

Gambar 2.4 Hasil akhir gigitan

Gambar 2.5 Tebal gigitan 7-8 mm

Pencatatan gigitan dapat juga dilakukan dengan menggunakan the


exactobiter atau projet bite gauge yang didesign untuk merekam catatan
interoklusal yang protrusif atau pencatatan gigitan pada wax untuk pembuatan
alat twin block (Clark, 2002). Dilakukan gigitan dengan hubungan incisal yang
edge to edge dengan 2-3 mm gigitan terbuka antara incisivus sentralis (Jena and
Duggal., 2010). Hal ini akan menyediakan ruang pada pemisahan anterior dari
incisivus dengan variasi pada openbite posterior ( Lee dkk., 2007).

Gambar 3. Projet bite gauge


6. Lama Perawatan
Waktu yang digunakan pada fase-fase perawatan dari alat Twin Block
dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Untuk fase aktif : penggunaan alat selama kurang lebih 6-9 bulan hingga
tercapai pengurangan overjet yang diinginkan dengan relasi gigi anterior yang
baik, dan hubungan oklusi distal
2. Untuk fase pendukung : penggunaan alat selama kurang lebih 3-6 bulan hingga
gigi molar rahang bawah memiliki oklusiyang baik dengan gigi molar rahang atas
dan gigi premolar rahang bawah erupsi untuk dapat berkontak dengan gigi
premolar rahang atas.
3. Untuk fase retensi : penggunaan alat selama 9 bulan, dan lama waktu
penggunaan dapat dikurangi jika kontak antara gigi-gigi rahang bawah terhadap
gigi-gigi rahang atas tercapai (Clark, 2002)

7. Cara Kerja Alat


Pada penggunaan alat twin block, biasanya diperlukan ekspansi lengkung
rahang atas untuk dapat menyesuaikan rahang bawah sehingga posisi protusif
dapat terkoreksi. Alat twin block yang digunakan pada rahang atas memiliki
skrew ekspansi untuk melebarkan rahang atas. Klamer delta diletakkan pada
molar atas, dan diberi tambahan klammer ball-ended pada daerah distal dari
kaninus, atau diletakkan di antara premolar atau gigi molar. Alat yang digunakan
pada rahang bawah merupakan twinblock yan g simple dengan klamer delta pada
daerah premolar pertama dank lamer ball-ended pada daerah mesial dari kaninus.

Gambar 4. Twin Block Rahang Atas

Gambar 5.Twin Block Rahang bawah

Gambar 6. Twin Block


Perawatan twin block bisa dikategorikan menjadi 2 tahapan perawatan.
Pada tahapan perawatan fase aktif, twin block digunakan untuk mengoreksi relasi
anteroposterior dan untuk mendapatkan vertikal dimensi yang tepat. Ketika fase
ini telah tercapai, maka twin block dilepas dan dilanjutkan fase

pendukung

dengan penggunaan alat Hawley yang dilengkapi dengan peninggi gigitan


anterior, yang kemudian digunakan untuk mendukung posisi gigi posterior sampai
gigi tersebut erupsi sempurna sehingga tercapai oklusi yang baik.
Tahap 1 Fase Aktif
Twin Block dapat digunakan sebagai alat untuk mengoreksi secara
fungsional posisi mandibula yang secara skeletal adalah maloklusi kelas 2
menjadi maloklusi kelas 1, menggunakan peninggi gigitan posterior yang terdapat
pada regio gigi posterior untuk membimbing mandibula sehingga memiliki
hubungan yang baik terhadap maksila. Pada semua mekanisme terapi fungsional,
koreksi sagital tercapai lebih dahulu sebelum koreksi vertical dari gigi posterior.
Dimensi vertical dapat dikoreksi dengan penggunaan bite blocks oklusal pada gigi
posterior

Gambar 7. Pengurangan bite blocks posterior alat Twin Block


Penggunaan bite blocks oklusal akan menambah dimensi vertical pada
orang dengan kasus maloklusi kelas II. Peningkatan dimensi vertical dapat tercapi
dengan cara pengurangan seidkit demi sedikit bagian bite block posterior rahang
atas. Pengurangan ini akan membuat gigi molar rahang bawah akan mengalami
erupsi sebagai usaha mendapatkan oklusi dengan gigi antagonisnya (Gambar.6).
Pengurangan dilakukan sedikit demi sedikit yaitu sekitar 1-2 mm, untuk
mencegah erupsi gigi molar bergerak kea raah lateral Pengurangan terus
dilakukan bila gigi molar rahang bawah sudah mengenai bite blocks posterior
yang sudah dikurangi pertama kali. Fase aktif akan berakhir bila gigi molar
rahang bawah berkontak dengan baik dengan gigi molar rahang atas dan
didapatkan koreksi overjet, dan overbite. Tahapan perawatan akan dilanjutkan
dengan fase pendukung.
Tahap 2- Fase Pendukung
Tujuan dari fase pendukung dari tahapan perawatan dengan alat Twin
Block adalah untuk mempertahankan hubungan yang benar antara inklinasi gigigigi anterior rahang atas dan bawah, sampai hubungan oklusi segmen bukal
tercapai. Pada fase ini, alat twin block pada rahang bawah dilepas, sedangkan alat
twin block pada rahang atas diganti dengan alat lepasan Hawley dengan peninggi
gigitan anterior (Gambar.7).

Gambar 8. Alat Hawley dengan peninggi gigitan anterior

Fungsi peninggi gigitan anterior selain untuk mempertahankan posisi gigi


anterior rahang bawah terhadap rahang atas, juga digunakan untuk mendapatkan

oklusi tepat dari gigi-gigi premolar : yang belum terkoreksi pada fase aktif ;
terhadap gigi premolar rahang atas (Gambar 8). Penggunaan busur labial sendiri
untuk membantu menjaga gigi anterior rahang bawah tidak tumbuh ke arah labial.
Perawatan fase pendukung akan berakhir bila semua gigi-gigi rahang bawah dapat
berkontak dengan baik dengan gigi-gigi rahang atas (Gambar 9).

Gambar 9. Pergerakan erupsi gigi


premolar bawah

Gambar 10. Kontak akhir gigi


rahang bawah dengan atas

Perawatan dengan menggunakan alat twin block dilanjutkan ke tahap akhir


yaitu tahap retensi. Tahap retensi inii menggunakan alat yang sama denganfase
pendukung yaitu alat Hawley dengan peninggi gigitan anterior. Apabila hubungan
antara gigi-gigi rahang bawah dan rahang atas sudah cukup adekuat, penggunaan
alat dapat dibatasi hanya digunakan pada malam hari saja.
Hasil Perawatan

DAFTAR PUSTAKA
Banks, P., and Carmichael, G., 1999. Stepwise Overjet Reduction with a Modified
Twin-Block Appliance, Journal of Clinical Ortodontics, 33(11):620-623

Bishara,
S.E.,2004.,
Textbook
Company,Philadelphia

of

Orthodontic,W.B

Saunders

Clark, W.J., 2002, Twin Block Functional Therapy, 2nd ed., Mosby, Sydney,
hal:20-21.
Clark, W., Broadbent, J., Mahony, D., Gerber, J., 2004, Twin Block Designs
Manual, Johns Dental Laboratories Technical Bulletin, 800/457-0504,
www.johnsdental.com.
Dewanto, Harkati. 1993. Aspek-aspek epidemiologi maloklusi.gadjah mada
University press: Yogyakarta
Dyer, F.M.V., Mckeown, H.F., Sandler, P.J., 2001, The Modified Twin Block
Appliance in the Treatment of Class II Division 2 Malocclusions, journal
of Orthodontics, Vol.28:271-280
Illing, H.M., Moris, D.O., Lee, R.T., 1998, A prospective evaluation of Bass,
Bionator and Twin Block appliances. Part Ithe hard tissues, European
Journal of Orthodontics, 20:501-516.
Jena, A.K and Duggal, R., 2010. Treatment Effects of Twin-Block and Mandibular
Protraction Appliance-IV in the Correction of Class II Maloclution, Angle
Ortodontist, 80(3):485- Kidner, G., Dibiase, A., Dibiase, D., 2003. Class
III Twin Block: A Case Series. Journal of Orthodontics. 30: 197
201.491.
Lee, R.T., Kyi, C.S., Mack, G.J., 2007. A Controled Trial of the Effects of the
Twin Block and Dynamax Appliance on the Hard and Soft Tissues, The
European Journal of Orthodontics, 2993):272-282
Mokhtar, Mundiyah., 1974, Penuntun Kuliah Orthodonti, Bagian Orthodonti
Fakultas
Kedokteran Gigi USU, Medan.
Shah, A.A., Sandler, J., 2009, How to Take a Wax Bite for a Twin Block
Appliance, Journal of Orthodontics, 36:10-12
Sidlauskas, A., 2005, The effects of the Twin-Block appliance treatment on the
skeletal and dentoalveolar changes in Class II Division 1 malocclusion,
Medicina (Kaunas), 41(5).

Terjemahan jurnal

EFEKTIVITAS KLINIS DARI ALAT TWIN BLOCK DALAM


PENGOBATAN MALOKLUSI KELAS II DIVISI 1
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas klinis perawatan
maloklusi Kelas II Divisi 1 dengan alat Twin block.
Bahan dan Metode : analisis radiografi cepahlometric dari 34 pasien maloklusi
Kelas II Divisi 1 yang dirawat dengan alat Twin block dilakukan sebelum dan
setelah perawatan. Sebuah kelompok kontrol yang didapat dari data perkembanga
normatif yang dipublikasikan oleh Bhatia dan Leighton. Efek perawatan dihitung
dengan mengurangkan perubahan pertumbuhan alami dari perubahan perawatan.
Hal ini kemudian dibandingkan dengan dua kali kesalahan metode untuk melihat
apakah perubahan pengobatan secara klinis signifikan.
Hasil: rata-rata panjang mandibula yang diukur dari titik Art ke titik Pog
meningkat 6,4 mm pada kelompok Twin-blok dibandingkan dengan 4,1 mm pada
kelompok kontrol. Overjet selama pengobatan berkurang 4,9 mm. Begitupun pada
rahang gigi Insisivus atas miring( tipping) mundur sebesar

6,7 dan pada

kelompok control, pertumbuhan alami proclinasi sebesar 2,4 . Lebih rendah gigi
Insisivus setelah perawatan tipping ke depan dan sudut antara sumbu panjang gigi
insisivus bawah dan bidang mandibula meningkat

3,3 , sedangkan pada

kelompok kontrol mereka tinggal hampir di posisi yang sama, proklinasi hanya
0,7 .
Kesimpulan:

alat Twin block klinis secara signifikan meningkatkan panjang

mandibula (efek 2,3 mm) dan mengurangi overjet (efek 4,9 mm). Modifikasi dari
alat Twin block dengan peluasan akrilik untuk menutupi tepi gigi Insisivus bawah
mengurangi tipping dentoalveolar dan memaksimalkan perubahan skeletal.
Kata kunci: maloklusi, pengobatan maloklusi dengan peralatan fungsional, blok
Twin.

PENDAHULUAN

Peralatan fungsional telah digunakan untuk pengobatan maloklusi Kelas II


Divisi 1 lebih dari seratus tahun. Meskipun sejarah panjang terus terjadi banyak
kontroversi terkait dengan modus tindakan dan efektivitas klinisnya. Mayoritas
pada studi klinis (1) diakui efek yang bermanfaat dari peralatan fungsional pada
perbedaan koreksi sagital, tetapi tetap dipertanyakan apakah hasilnya dapat
dikaitkan dengan perubahan tulang dibandingkan dengan kompensasi dari
dentoalveolar.

Studi

histologis

laboratorium

pada

hewan

menunjukkan

peningkatan yang signifikan dalam aktivitas selular saat rahang protrusi

(2)

dan

diyakini bahwa efek yang sama dapat diproduksi pada manusia (3). Beberapa
penelitian cephalometrik menunjukkan sejumlah kecil peningkatan pertumbuhan
signifikan secara statistik pada mandibula, jika alat fungsional digunakan. Tapi ini
dalam jumlah kecil mungkin, namun, signifikan secara klinis dalam total koreksi
maloklusi? Menurut Baumrind dan Frantz (4) perbedaan diamati anggap sebagai
hasil dari terapi setidaknya harus dua kali kesalahan metode (ME). Mereka
mengklaim bahwa dalam setiap kasus klinis tunggal, satu tidak bisa yakin bahwa
perbedaan yang diamati, misalnya di sudut ANB, adalah biologis daripada
kesalahan pengukuran, kecuali melebihi 2 ME atau 1,2 .
Alat sebagai kelompok kontrol. Dan untuk menilai faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan wajah selain terapi alat, maka perlu untuk memiliki
kelompok kontrol yang tepat. Kemungkinan untuk menggunakan individu yang
tidak ditangani dengan kasus Kelas II Divisi 1 sebagai kontrol dibatasi oleh
pertimbangan etika. Catatan pertumbuhan memanjang secara normatif alternatif
yang sesuai. Ini dipublikasikan melalui empat atlas pertumbuhan normatif: Ann
Arbor, Cleveland (Bolton), London (Inggris) dan Philadelphia. Disarankan untuk
mencocokkan kelompok kontrol dengan usia, jenis kelamin, waktu perawatan dan
wilayah geografis

(5).

. Publiaksi penelitian dengan alat Twin blok meskipun

popularitasnya naik, pnamun pada praktek klinis masih cukup terbatas

(6).

Tujuan

dari penelitian ini adalah untuk membandingkan perubahan cephalometri pada


pasien maloklusi Kelas II Divisi 1 diobati dengan alat

Twin blok dengan

perubahan pertumbuhan alami pada kelompok kontrol yang sesuai dan menilai
jika perubahan pengobatan secara klinis signifikan.
METODE DAN BAHAN

Pemilihan sampel. Kelompok yang diberi perlakuan terdiri dari 34 kasus


yang dirawat di Klinik Ortodonti, di universitas kedokteran Kaunas. Penelitian ini
melibatkan 15 anak laki-laki dan 19 anak perempuan mulai usia 9 tahun 3 bulan
sampai 10 tahun 8 bulan pada awal pengobatan (T1). Usia rata-rata pada awal
pengobatan adalah 10 tahun 2 bulan.
Kriteria untuk pasien inklusi (masuk) yang diberikan dalam penelitian ini adalah

Divisi Kelas II 1 Jenis gigi: oklusi distal molar dan kaninus

setidaknya lebar premolar;


Overjet> 5,0 mm, penonjolan gigi seri rahang atas;
Kelas II jenis skeletal, ANB sudut> 4 derajat;
Pengembangan oklusal - akhir campuran atau awal gigi permanen.
Protokol Perawatan:

Desain dasar dari alat Twin Block yang digunakan dalam penelitian ini
diilustrasikan dalam Gambar 1. Desain agak berbeda dengan alat Twin Block
konvensional Clark pada akrilik yang diperpanjang untuk menutupi tepi insisal
dari gigi seri bawah. Hal ini membantu untuk menghindari tipping dari insisivus
bawah dan meningkatkan retensi. Pegas Torquing yang digunakan untuk
mengontrol posisi insisivus atas.
Pasien diinstruksikan untuk mengubah sekrup

ekspansi maksila satu

putaran per minggu untuk mencapai koordinasi lengkungan atas dan bawah dalam
dimensi transversal. Waktu pengobatan aktif dengan alat Twin Block antara 9
sampai 14 bulan (rata-rata 12 bulan).
Analisis sefalometrik. Radiografi sefalometrik diambil pada awal
pengobatan (T1) dan setelah masa pengobatan aktif (T2). Sefalogram tersebut
diambil di oklusi sentris dalam kondisi standar (jarak film fokus konstan 1,50 m,
objek-film yang jarak 0,15 m). Struktur yang menentukan semua Cephalogram
diacak oleh penulis dengan pensil di foil asetat dan semua titik referensi yang
diperlukan ditandai. Radiografi yang dirunut secara lebih aneh secara acak untuk
mengurangi bias. Sebuah calliper geser digunakan untuk mengukur jarak antara
titik referensi dengan terdekat setengah milimeter. Pengukuran sudut dilakukan

pada derajat terdekat, menggunakan busur derajat. Ketika ada dua gambar dari
struktur, titik referensi ditempatkan pada titik tengah antara gambar. Tidak ada
koreksi dibuat untuk pembesaran radiografi (sekitar 8,2%) pada bidang median.
Poin dan bidang yang digunakan dalam analisis cephalometri ditampilkan dalam
Gambar 2. Analisis sefalometrik terdiri 16 variabel: SNA, SNB, ANB, overjet,
overbite, dasar rahang - jarak (PTM-ANS) dan (seni-A), basis mandibula - jarak
(Art-Pog) dan (Art-B), jumlah tinggi wajah anterior TAFH (N-ANS + ANS-ME),
tinggi wajah anterior rendah LAFHA (DAN-Me), proporsi wajah: rasio KIRI ke
TAFH (dihitung sebagai persentase), mandibula pesawat sudut ke basis kranial
(SN / Man), sudut bidang mandibula terhadap maksila (Max / Man), sudut
insisivus rahang atas terhadap RA (- seperti / Max), mandibula sudut gigi seri ke
pesawat rahang bawah (ii - ai / Man).
Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan Paket Statistik untuk
Ilmu Sosial untuk Windows (SPSS v8.0). Nilai-nilai berikut ini dihitung untuk
setiap variabel tunggal: mean, standar deviasi (SD), metode error (ME). Semua
nilai rata-rata dibandingkan sebelumnya (T1) dan setelah perawatan (T2) pada
blok Twin menggunakan Mann-Whitney U-test untuk statistik signifikan.
Signifikansi ditentukan pada tingkat kepercayaan 0,05, 0,01 dan 0,001. Efek
pengobatan (efek bersih) dihitung dengan mengurangkan pertumbuhan alami dari
perubahan pengobatan. Hal ini kemudian dibandingkan dengan dua kali kesalahan
metode untuk mengevaluasi apakah perubahan pengobatan secara klinis
signifikan.
Kesalahan metode. Intra-observer error metode dianalisis menggunakan
metode yang diusulkan oleh Bland dan Altman (8). Keandalan dari metode ini
diuji dengan menelusuri dan berukuran 20 Cephalogram lateral yang dipilih
secara acak dua kali. Diperkirakan kesalahan antara pengukuran dihitung dengan
rumus:

Gambar 1. Kontruksi alat twin blok

Tabel 1. Pengurusan sefalometri pada maloklusi kelas II divisi 1 sebelum


perawatan dengan twin blok

Tabel 2. Mean perubahan pada parameter sefalometri selama perawatan ( T2


kurang T1)

Hasil
Pengukuran sefalometri sebelum dan sesudah perawatan aplikasi Twin
Block sebaik seperti perubahan pertumbuhan alami yang cocok dengan grup
kontrol yang terlihat pada Tabel 1. Efek bersih dan signifikansi klinis ditunjukkan
pada Tabel 2. Rata-Rata panjang mandibula, yaitu yang diukur dari titik Art ke
titik Pog betambah sebanyak 6,4 mm pada grup Twin Block dibandingkan dengan
4,1 mm pada grup kontrol. Efek bersih perawatan yang didapatkan pada Art-Pog
adalah 2,3 mm dan hal ini signifikan secara klinisi. Hasil yang sama juga
didapatkan ketika dasar mandibula yang dinilai dari titik Art ke titik B: Efek
bersihnya adalah bertambah signifikan secara klinis dengan panjang 2,9 mm.
Pengukuran skeletal maksila menunjukkan sedikit perubahan pada panjang dasar
maksila. Efek bersih dari pengurangan dasar maksila, yaitu dari titik PTM ke ANS
adalah hanya 0,7 mm dan dari titik Art ke A hanya 0,6 mm.

Hubungan skeletal antara dasar maksila dan mandibula meningkat secara


signifikan, yaitu ditunjukkan oleh berkurangnya besar sudut ANB. Hal ini
disebabkan karena pertambahan signifikan secara statistic pada sudut SNB.
Karena pengurangan pada sudut SNA adalah signifikan secara statistik, tetapi
perubahan perawatan kurang dari 2ME.
Overjet selama perawatan berkurang hampir 5 mm dan perubahan
perawatan ini signifikan secara klinis. Dari perawatan Twin Block dihasilkan
pergerakan posterior dari insisivus atas. Relatif terhadap maksila, insisivus atas
miring ke belakang sebesar 6,7, sedangkan pada grup kontrol pertumbuhan alami
meprokilinasi mereka sebesar 2,4. Insisivus bawah setelah perawatan miring ke
depat dan sudut antara panjang aksis dari insisivus bawah dan bidang mandibula
bertambah sebesar 3,3, sedangkan tanpa perawatan (grup kontrol) mereka hanya
hampir dalam posisi yang sama, proklinasi hanya 0,7.

Perawatan cenderung menghasilkan pertambahan dalam dimensi fasial


vertikal. Pertambahan bersih dari tinggi fasial anterior bawah setelah perawatan
adalah 1,8 mm. Sudut bidang mandibula (SN/Man) tetap hampir tidak berubah
selama perawatan tetapi berkurang pada grup kontrol. Perubahan latter adalah
signifikan secara statistik, tetapi perubahan perawatan kurang dari 2ME. Rasio
TAFH dan LAFH berubah juga, tetapi tidak signifikan secara klinis.

Diskusi
Perbedaan kecil dalam hasil antara pasien yang diberi perawatan dengan
data perkembangan normatif menjadi signifikan secara statistik jika standar
deviasi adalah kecil atau nomor dalam studi tinggi. Perubahan signifikan secara
klinis dalam studi ini diperiksa untuk kriteria yang disarankan oleh Baumrind dan
Frantz, dimana efek perawatan seharusnya paling sedikit dua kali kesalahan
metode dan melebihi 1 atau 1mm.

Alat fungsional digunakan dengan harapan mengkoreksi maloklusi


skeletal klas II dengan meningkatkan perkebangan mandibula. Terdapat
perningkatan signifikan secara klinis dalam panjang mandibula yang diukur dari
titik Art ke titik Pog dan titik B. Perkembangan mandibula ini mungkin
berpengaruh untuk peningkatan sudut SNB dalam grup Twin Block sebesar 2
dibandingkan dengan peningkatan hanya 0,7 dalam grup kontrol. Perubahan
yang sama dalam Art-Pog ditemukan oleh beberapa peneliti. Insisivus bawah
dalam studi ini mengalami proklinasi sebesar 3,3 dan pergeseran lingual dari akar
insisivus bawah dapat membuat remodelling tulang alveolar bergerak ke point B
secara lingual dan mengurangi SNB. Jadi, peningkatan dari sudut SNB sebesar 2
dalam keadaan ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Peningkatan
perkembangan mandibula mungkin tidak bernilai terhadap pasien jika
perkembangan dinyatakan dalam arah vertikal. Studi ini menunjukkan beberapa
perkembangan fasial vertikal, tetapi yang paling penting dimana perubahan
perawatan dalam rasio LAFH/TAFH dalam grup studi kurang dari 2 ME. Hal ini
berarti sebanding dalam perkembangan muka bagian anterior atas dan bawah
secara vertikal tidak dipengaruhi oleh perawatan. Aplikasi Twin Block digunakan
dalam studi sebagian besar disediakan ke arah horizontal yang baik dari
perkembangan mandibula dan demikian pada dasarnya dikontibusikan ke koreksi
skeletal anteroposterior. Posisi vertikal dari molar dikontrol oleh Adam clasp yang
ditambahkan ke alat pada awal perawatan dan sangat berhati-hati dalam
merapikan basis akrilik setelah itu dalam tingkat berikutnya.
Dampak dari Twin Block dalam perkembangan maksila ke arah depan
dinilai oleh perubahan yang berati dalam panjang basis maksila dan besar sudut
SNA. Sedikit perubahan dalam sudut SNA dan panjang basis maksila
menunjukkan sedikit penahanan perkembangan maksila.
Studi menunjukkan bahwa aplikasi Twin Block mengurangi overjet oleh
kombinasi dari perubahan dentoalveolar dan skeletal. Gigi depan dimiringkan
secara signifikan dalam lengkung gigi atas dan lebih sedikit di bagian bawah.
Kemiringan lingual yang diinginkan dari insisivus atas dapat dijelaskan oleh
kontruksi Twin Block yang digunakan dalam studi. Pegas pemutar pada insisivus
atas kiranya dapat dihasilkan posisi retroklinasi palatal mereka. Kemiringan
lingual yang terlalu banyak dari insisivus bawah harus dibatasi sebagaimana
pengurangan potensial untuk perubahan orthopedik. Studi ini digunakan
pelindung akrilik untuk insisivus bawah dimana memberikan retensi rigid pada
bagian labial bawah. Namun, insisivus bawah telah dihasilkan proklinasi sebesar
3,3 pada grup perawatan dibandingkan sebesar 0,7 pada grup kontrol. Untuk
menghindari kemiringan dentoalveolar sepenuhnya dari insisvus bawah adalah
tujuan yang ideal, tetapi tidak terdapat studi yang dapat melaporkannya. Banyak
usaha yang telah dilakukan untuk mengurangi efek samping dari modifikasi
aplikasi Twin Block. Hasil yang terbaik didapatkan dengan menggunakan

Sounthend clasps dan pelindung akrilik pada insisivus bawah sebagaimana yang
dilakukan pada studi ini.
Jumlah dan hubungan timbal-balik antara potongan skeletal secara sagital dan
perubahan gigi yang berkontribusi dalam koreksi Klas II Divisi 1 menentukan
untuk membenarkan efektifitas dari perawatan Twin Block. Studi ini menunjukkan
bahwa dengan perawatan Twin Block sebagian besar koreksi overjet bersih 4,9
mm didapatkan dari perubahan skeletal: 0,7 mm pembatasan perkembangan
maksila pada PTM-ANS, 2,3 mm peningkatan panjang dasar mandibula pada ArtPog dan sisanya oleh perubahan dentoalveolar.

Kesimpulan
1. Alat Twin Block signifikan secara klinis meningkatkan panjang mandibula
(bersih 2,3 mm) dibandingkan dengan perkembangan normal.
2. Berkurang secara signifikan dalam overjet (efek bersih 4,9 mm) diamati
pada akhir perawatan terutama dengan Twin Block (~0,3 mm) akibat
perubahan skeletal.
3. Modifikasi dari alat Twin Block dengan perluasan akrilik untuk menutupi
ujung dari insisivus bawah mengurangi kemiringan dentoalveolar dan
memaksimalkan perubahan skeletal.

RINGKASAN
Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan perubahan sefalometri pada
pasien maloklusi Kelas II Divisi 1 diobati dengan alat Twin blok dengan perubahan
pertumbuhan alami pada kelompok kontrol yang sesuai dan menilai jika perubahan
pengobatan secara klinis signifikan.
Awalnya dilakukan pemilihan sampel yang terdiri dari 34 kasus, 15 anak laki-laki
dan 19 anak perempuan, usia 9 thn 3 bulan - 10 thn 8 bulan pada awal pengobatan (T1)
dengan kriteria: divisi Kelas II 1 Jenis gigi: oklusi distal molar dan kaninus setidaknya
lebar premolar;overjet> 5,0 mm, penonjolan gigi seri rahang atas; kelas II jenis skeletal,
ANB sudut > 4 derajat ; perkembangan oklusal - akhir fase campuran atau awal
pertumbuhan gigi permanen. Lalu selanjutnya pasien dirawat menggunakan desain Twin
Block standar dengan perawatan 9-12 bulan .Radiografi sefalometrik diambil pada awal
perawatan (T1) dan setelah masa perawatan aktif (T2) dalam keadaan oklusi sentris
dalam kondisi standar.
Data yang didapat kemudian dianalisis secara statistik menggunakan Paket
Statistik untuk Ilmu Sosial untuk Windows (SPSS v8.0). Nilai-nilai berikut ini dihitung
untuk setiap variabel tunggal: mean, standar deviasi (SD), metode error (ME).
Hasil signifikan didapat pada kebanyakan variabel (dilihat pada tabel 2).
Hubungan skeletal antara dasar maksila dan mandibula meningkat secara signifikan
dengan pemakaian Twin Block, yaitu ditunjukkan oleh berkurangnya besar sudut ANB.
Selain itu, verjet selama perawatan berkurang hampir 5mm dan perubahan perawatan ini
signifikan secara klinis dan sudut bidang mandibula (SN/Man) hampir tidak berubah
selama perawatan tetapi berkurang pada grup kontrol.
Studi ini menunjukkan bahwa dengan perawatan Twin Block sebagian besar
koreksi overjet bersih 4,9 mm didapatkan dari perubahan skeletal: 0,7 mm pembatasan
perkembangan maksila pada PTM-ANS, 2,3 mm peningkatan panjang dasar mandibula
pada Art-Pog dan sisanya oleh perubahan dentoalveolar sehingga dapat disimpulkan
aplikasi Twin Block efektif mengurangi overjet oleh kombinasi dari perubahan
dentoalveolar dan skeletal. Oleh karena itu juga, jumlah dan hubungan timbal-balik
antara potongan skeletal secara sagital dan perubahan gigi yang berkontribusi dalam
koreksi Klas II Divisi 1, menentukan efektifitas dari perawatan Twin Block.