Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I
PENDAHULUAN
Peternakan merupakan salah satu sub sektor perekonomian yang cukup
besar

perananya

dalam

memenuhi

dan

memperbaiki

gizi

masyarakat.

Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan akan pentingnya gizi


mempengaruhi peningkatan permintaan protein hewani yakni daging dan telur
Keberhasilan pembibitan ayam pedaging di pengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya pengetahuan yang menunjang, manajement usaha yang baik,
dan pencegahan penyakit. Usaha pembibitan ayam pedaging tidak hanya
memelihara ayam untuk menghasilkan daging yang banyak, tetapi harus mampu
memproduksi daging dan dengan kualitas yang baik.
Faktor Bioscurity dan sanitasi mempunyai peranan penting dalam usaha
peternakan hal ini karna agen penyakit biasanya berasal dari bakteri, virus, atau
mikroorganisme lain di bawa dari luar area perkandangan sehingga perlu di
lakukan bioscurity dan sanitasi di setiap peternakan agar keberhasilan peternakan
lebih tinggi dan karna dalam biosecurity dan sanitasi secara tidak langsung
mencegah agen penyakit dan lebih murah biyaya di bandingkan dengan
mengobati ternak yang sudah terkena penyakit yang di pastikan memerlukan
biyaya yang besar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Ayam Pembibit Parent stock


Ayam Parent Stock adalah Ayam Induk penghasil ayam komersial yang

merupakan hasil silangan pada peternak grand parent stock (Suryani dan
Santoso, 1999). North (1990) menyatakan bahwa terdapat dua tipe ayam parent
stock (pembibit) yaitu tipe ayam pembibit pedaging dan tipe ayam pembibit
petelur. Menurut Dirjen Peternakan (1992) pembibit adalah kegiatann untuk
menghasilkan bibit ternak bukan untuk keperluan sendiri dan pembibit hanya
boleh dilakukan oleh perusahaan peternakan dan tidak dibatasi jenis dan
jumlahnya . Ciri Ayam pembibit yang baik adalah mempunyai produksi yang
tinggi, tingkah laku lincah, riang, aktifmencari makan, cepat dewasa kelamin,
masa bertelur lama, bentuk badan tegap, mata terlihat cerah, dan masa rontok bulu
lambat (Chan dan Zamrowi, 2000). Pemeliharaan ayam pembibit embutuhkan
pemeliharaan khusus yaitu meliputi kecukupan dalam suplai pakan, kesesuaian
temperatur lingkungan, suplai udara, yang di dukung oleh manajemen
perkandangan yang sesuai serta perlindungan dari kemungkinan serangan parasit
dan penyakit luar (Tobing, 2000).

2.2.

Manajement Pemeliharaan Ayam Pembibit


Manajemen Pemeliharaan ayam pembibit pada hakekatnya tidak jauh

berbeda dengan ayam petelur komersil, yaitu untuk menghasilkan telur yang
setinggi- tingginya. Namun terdapat perbedaan peinsip dalam hal biologis telur,
yaitu telur yang di hasilkan peternakan pembibit selain harus tinggi produksinya
juga harus menghasilkan telur dengan ferilitas dan daya tetas yang tinggi pula.
Selain itu, telur juga harus bebas bibit penyakit yang dapat di tularkan induk
melalui telur yang dapat menular kepada bibit anak ayam hasil tetasan
(Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
Berdasarkan sistem ventilasi atau dinding kandang, ada dua macam yaitu
kandang tertutup (close house) dan kandang terbuka (open house). Kandang
tertutup adalah kandang yang semua dinding kandangnya tertutup. Sistem
ventilasi atau pergerakan udaranya tergantung sepenuhnya pada kipas yang
dipasang. Kandang yang terbuka adalah semua dinding kandangnya terbuka.
Kondisi dalam kandang sangat di pengaruhi oleh luar kandang (Sudaryani dan
Santoso, 2010). Lantai kandang sebaiknya di buat dari tembok, selain mudah di
bersihkan juga baik untuk mencegah perkembangan penyakit. Perssyaratan lain
seperti ventilasi kandang yang baik, kelembapan litter sekitar 20-25%, cahaya
yang cukup terang pelu di perhatikan dengan baik. Ayam petelur biasanya di
pelihara dalam sistem litter. Perlengkapan kandang yang harus ada pada kandang
pada kandang ayam petelur pembibit tidak berbeda dengan ayam petelur komeril,
yaitu tempat ransum, tempat minum dan sarang yang digunakan unuk bertelur,

serta ruang penyimpanan telu untuk di fumigasi (Kartasudjana dan Suprijatna,


2006).
2.3.

Biosecurity
Asal kata biosecurity yaitu bio artinya hidup dan security artinya

perlindungan atau pengamanan. Jadi biosecurity adalah sejenis program yang


dirancang untuk melindungi kehidupan. Menurut Segal (2008) biosecurity
mempunyai tiga prinsip yaitu isolasi, pengendalian lalu lintas dan sanitasi. Isolasi
atau pemisahan merupakan tindakan untuk menciptakan lingkungan dimana
unggas terlindungi dari pembawa penyakit (carrier) seperti manusia, unggas
tertular, udara, air, dan lain-lain. Pengendalian lalu lintas, meliputi pengendalian
lalu lintas manusia, ternak, peralatan dan kendaraan masuk dan keluar. Prinsip
biosecurity yang terakhir adalah sanitasi. Tindakan yang dapat dilakukan adalah
pembersihan dan desinfeksi secara teratur kandang, peralatan dan kendaraan serta
menjaga kebersihan pekerja. Biosecurity adalah usaha-usaha pencegahan
penyebaran penyakit ke dalam area perkandangan dengan menjaga fasilitas yang
dapat memperkecil lalu lintas mikroorganisme (bakteri, virus, hewan) melintasi
batasnya .
Ruang lingkup biosecurity peternakan meliputi :
1) Biosecurity konseptual, adalah dasar seluruh program pengendalian
penyakit seperti: lokasi kandang suatu peternakan, pengaturan jenis dan
umur ternak,
2) Biosecurity struktural, adalah sesuatu yang berhubungan dengan
konstruksi kandang, arah kandang /tata letak peternakan, pemisahan

/batas-batas unit peternakan, pengaturan saluran limbah peternakan, alat


sanitasi dan dekontaminasi, sarana dan prasarana kandang,
3) Biosecurity operasional, merupakan implementasi sistem operasional dan
prosedur (SOP) manajemen untuk pengendalian penyakit. Ketiganya harus
berjalan sinergis agar memperoleh hasil yang optimal.

2.3.1. Sarana Biosecurity


Sarana biosecurity terdiri dari fumigasi dan desinfeksi. Fumigasi
(Pengertian menurut PP No. 82 Tahun 2000 Penjelasan Pasal 1 angka 21): adalah
upaya yang dilakukan untuk membebaskan media pembawa dari jasad renik
dengan cara pemberian uap fumigan, antara lain seperti KMnO4. Teknik sterilisasi
fumigasi di pakai untuk memusnahkan mikroba pada ruangan maupun material
dengan sifat-sifat tertentu. Desinfeksi adalah suatu kegiatan untuk mematikan atau
menghentikan pertumbuhan hama penyakit pathogen yang terdapat pada
bermacam-macam permukaan (Benda hidup dan benda mati) dengan mengunakan
desinfektansia.

2.4.

Sanitasi
Sanitasi merupakan usaha pemeliharaan kesehatan dengan menjaga

kebersihan lingkungan sekitar untuk mencegah penyebaran penyakit. Sanitasi


dilakukan pada lingkungan unit farm, peralatan farm dan personal (Rasyaf, 1995).

Prinsip sanitasi yaitu bersih secara fisik, bersih secara kimiawi (tidak mengandung
bahan kimia yang membahayakan) dan bersih secara mikrobiologis.
2.4.1. Sanitasi di Pintu Gerbang
Menurut Fadilah (2013) pintu gerbang suatu kawasan peternakan
merupakan salah satu titik awal keberhasilan kawasan tersebut terhindar dari
serangan suatu penyakit. Pintu gerbang harus selalu dalam keadaan terkunci.
Tidak setiap kendaraan atau orang bisa masuk ke kawasan farm. Di pintu gerbang
biasanya telah dipasang atau dibangun peralatan untuk proses sanitasi sebagai
berikut :
1. Peralatan sprayer dan bak celup (dipping) ban untuk kendaraan. Dengan
peralatan ini setiap kendaraan yang masuk kawasan farm dapat
didesinfeksi dari segala arah. Peralatan sprayer bekerja baik secara
otomatis maupun secara manual. Kendaraan yang telah diizinkan masuk
ke suatu kawasan farm harus disemprot terlebih dahulu dan melalui bak
yang airnya telah diberi desinfektan. Program sanitasi yang biasa
dilakukan di pintu gerbang adalah cara pengasapan (fogging) dengan
desinfektan dengan alat jet fogger
2. Ruang sprayer, tempat mandi, dan tempat ganti pakaian. Tempat ini
digunakan untuk karyawan atau tamu yang akan masuk ke area kandang.
Mereka diwajibkan melalui sprayer (shower) yang dirancang khusus untuk
orang, kemudian mandi dan berganti pakaian dengan pakaian bersih yang

telah disediakan farm. Semua pakaian dan barang yang tidak digunakan
disimpan dalam tempat penyimpanan (lockers).
3. Tempat parkir dan ruang tamu yang dibangun di luar kawasan farm
digunakan untuk kendaraan dan orang yang tidak diizinkan masuk area
perkandangan.

2.4.2. Sanitasi di Lingkungan Kandang


Sanitasi lingkungan kandang dilakukan oleh petugas kebersihan untuk
menjaga kebersihan lingkungan guna mengurangi populasi bibit penyakit (Abidin,
2003). Berikut ini merupakan kegiatan sanitasi yang harus dilakukan di sekitar
dan dalam unit farm
1. Melakukan penyemprotan desinfektan di dalam dan disekitar area farm
secara rutin (2-3 hari sekali). Penyemprotan yang rutin bertujuan untuk
menekan perkembangbiakan organisme yang ada. Hal ini dilakukan karena
banyak organisme yang tidak tahan terhadap desinfektan.
2. Membatasi lalu lalang karyawan, mobil, peralatan, dan perpindahan
karyawan
3. Membasmi binatang pembawa penyakit dan memusnahkan sarangnya
4. Menjaga kebersihan di sekitar dan dalam area farm beserta peralatan yang
digunakan dalam produksi
5. Menjaga air dalam parit dan kubangan agar selalu mengalir
6. Mengontrol parasit yang menyerang dari luar seperti kutu, lalat, nyamuk
dan kumbang kecil. Banyak program pengontrolan parasit luar (external

parasite control) yang biasa dilakukan diantaranya menggunakan


antiparasit (antipar, cyperkiller, atau sevin). Mengontrol kutu ayam bisa
juga dilakukan menggunakan belerang (sulfur) dengan dosis 1 kg belerang
untuk 20 m2 luasan kandang.

2.4.3. Sanitasi Peralatan

Sanitasi ini dilakukan untuk menjaga dan mengantisipasi penyebaran bibit


penyakit di lingkungan peternakan yang disebabkan oleh penggunaan sarana dan
prasarana secara bergantian di masing-masing kandang. Sanitasi peralatan farm
dilakukan dengan penyemprotan menggunakan air bersih maupun desinfektan
(Sudaryani dan Santosa, 1994). Peralatan dan alat transportasi cukup berbahaya
karena membawa debu dan kotoran yang dapat menjadi media penyebaran
penyakit, sehingga harus dibersihkan dan didesinfeksi sebelum diizinkan masuk
dan digunakan.
2.4.4. Sanitasi Pekerja
Sanitasi dilakukan kepada setiap pekerja yang ada. Hal ini dimaksudkan
agar mobilitas pekerja tetap terjaga dalam kondisi bebas penyakit sehingga
penyebaran kuman penyakit bisa terhindarkan. Setiap orang baik pegawai maupun
pengunjung, peralatan dan kendaraan yang keluar masuk area perkandangan harus
dihapus hama dengan baik. Usaha pembibitan ayam wajib dilengkapi dengan alat

penyemprot atau pembasuh mobil untuk menghilangkan debu-debu yang


menempel yang mungkin membawa bibit penyakit (Prayitno dan Yuwono, 1997)
2.5.

Desinfektan
Desinfektan adalah zat-zat kimiawi yang digunakan untuk mendesinfeksi.

Desinfektan untuk desinfeksi pada benda-benda mati seperti peralatan farm, alat
transportasi, lantai, air minum adalah dengan mengunakan zat kimiawi yang
bersifat germicides (germ = hama pathogen) yang meliputi zat-zat yang bersifat
bakterisida, fungisida, sporosida, dan amubasid. Contohnya adalah klor, karbol,
lisol dan formalin. Samberg dan Meroz (1995) menyatakan bahwa selain
menggunakan formalin, terdapat alternatif lain bahan kimia yang bisa digunakan
sebagai desinfektan, diantaranya Chlorine dioxide; Phenolic compounds;
Quatenary ammonium compounds; Iodophorus, glutaraldehyde dan peracetic
acid; Ozone; serta Hydrogen peroxide.
2.5.

Vaksinasi
Vaksinasi

merupakan

upaya

pencegahan

penyakit

dengan

cara

memasukkan vaksin ke dalam tubuh ayam. Menurut Suprijatna et al. (2005),


vaksinasi didefinisikan sebagai suatu kegiatan memasukkan bibit penyakit
(mikroorganisme) tertentu yang telah dilemahkan ke dalam tubuh ternak dalam
rangka menumbuhkan kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu tersebut.
Vaksinasi pada DOC biasanya dilakukan dengan metode injeksi subcutan (pada
pangkal leher bagian belakang) atau spray. Menurut Rasyaf (1995), vaksinasi
dengan injeksi dilakukan di bawah kulit leher, sebab anak ayam yang baru

10

menetas hanya memiliki sedikit daging pada dada dan paha. Fadilah dan
Fatkhuroji (2013) menambahkan bahwa cara melakukan vaksinasi bisa melalui
tetes mata (intra-ocular), tetes hidung (intra nasal), suntik bawah kulit dan melalui
mulut (oral).
2.6.

Penanganan Limbah
Limbah peternakan ada dua macamyaitu limbah padat dan cair. Feses

sebagai alah satu limbah dapat dimanfaatkan sebagai campuran bahan pakan
ternak atau pupuk tanaman. Beberapa jenis limbah lain seperti pelastik, botol obat,
limbah cair obat dimasukan kedalam wadah sendiri (Sunarti dan Wahono, 1997).
Ayam yang mati (bangkai) harus dibakar di tungku untuk mengoptimalkan
program pencegahan penyakit (Lesson dan Summer, 2000).
Metode pembuangan unggas mati di industri perunggasan yaitu dengan
dikubur, dikubur dangkal, dibakar dan dipotong untuk di daur ulang sebagai pakan
ternak limbah kulit telur dihancrkan dan dikubur dalam tanah, tetapi beberapa di
rubah menjadi pakan ternak (mulyantini, 2010). Lubang penguburan bangkai
harus mempunyaikedalaman minimal 1,5 meter dan ditaburi kapur sebelum
ditutup rapat dengan tanah. Lubang harus berada di dalam lokasi peternakan dan
berjarak minimal 20 meter dari kandang terdekat dan jauh dari penduduk untuk
mencegah polusi maupun penyebaran penyakit; apabila dilakukan pembakaran,
maka sedapat mungkin dilakukan didalam lubang yang telah dipersiapkan atau
menggunakan

insenerator

40/Permentan/OT.140/7/2011)

(Peraturan

Mentri

Pertanian

No

11

2.7

Evaluasi Keberhasilan

2.7.1

Produksi Telur
Setiap ayam mempunyai standar produksi maksimal yang dapat

dicapainya. Iklim yang panas dan lembab di Indonesia membuat ayam petelur,
yang umumnya berasal dari wilayah subtropis, menderita sehingga produksi tidak
setinggi di negara asalnya. Hen Day merupakan membandingkan produksi telur
yang di peroleh hari itu dengan jumlah ayam yang hidup pada hari itu. Hen Day
mencerminkan produksi nyata dari ayam yang hidup atau jumlah yang ada
sekarang (Fadilah, 2004).
Hen Day merupakan indikasi produksi telur yang baik. Apabila produksi
telur ayam terus menerus di bawah standar, sedangkan ransum berkualitas baik
maka kemungkinan penyebab lainya adalah penyakit. Pencegahan penyakit
melalui sanitasi yang ketat perlu dilakukan sedini mungkin (Rasyaf, 2000).
Setelah mencapai puncak produksi, peresentase produksi hen day menurun secara
konstan dengan laju penurunan 1% per minggu. Pada saat ayam berumur 65
minggu, presentase produksi hen day telah berada di bawah angka 50% (Cobb,
2003).
2.7.2

Mortalitas
Mortalitas adalah jumlah ayam yang mati hari itu di bagi jumlah mula -

mula, dan dikalikan 100% (Rasyaf, 2009). Hal ini dapat berasal dari dalam
peternakan itu sendiri seperti penyakit, manajemen yang salah, cuaca, dan

12

cekaman panas, sedangkan dari luar peternakan,seperti racun yang terkandung di


dalam pakan atau ransum ( Sudaryani dan Santoso, 2003).
Mortalitas diukur secara kuantitatif, mortalitas kualitatif selama masa
bertelur adalah 0,5% dan maksimal 0,8% agar total mortalitas kumulatif di bawah
2% yaitu standar mortalitas untuk kondisi daerah tropis. Untuk menekan
mortalitas serendah itu, penyakit asal parasit dapat dihindari dengan cara vaksinasi
pada umur dan vaksin yang tepat, serta menghindari keracunan ransum dengan
cara memilih ransumyang tepat, penyimpanan ransum yang baik, pemberian
vitamin dan mineral pada air minum (Rasyaf, 2000). Mortalitas ayam dapat
disebabkan oleh perilaku kanibalisme. Kanibalisme biasanya di tandai dengan
mematuk bulu ayam lain. Kanibalisme disebabkan oleh kondisi stres, Kepadatan
ayam dalam suatu kandanag, intensitas cahaya, kekurangan nutrisi dan air minum
(Ensminger, 1992).

13

BAB III
METODOLOGI
Praktek Kerja Lapangan tentang Manajemen Sanitasi dan Biosecurity di
Hatchery dilaksanakan pada 05 Agustus 05 September 2014 di PT. Charoen
Pokphand jaya farm, Desa Jatirejo, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen
3.1.

Materi
Materi yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan ini adalah ayam

parent stock pada PT. Charoen Pokphand Jaya Farm, Desa Jatirejo, Kecamatan
Masaran, Kabupaten Sragen dan alat tulis untuk mencatatat data hasil wawancara.
PT. Charoen Pokphand dipilih karena merupakan salah satu perusahaan
peternakan terbesar dan terkemuka serta memenuhi standar di Indonesia.
3.2.

Metode
Metode yang digunakan dalam melakukan kegiatan Praktek Kerja

Lapangan adalah dengan partisipasi aktif dengan melakukan kegiatan rutin dan
melakukan pencatatan data di PT. Charoen Pokphand. Pengumpulan data primer
dilakukan dengan cara wawancara langsung dengan karyawan maupun staf
perusahaan berdasarkan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Data
primer meliputi keadaan umum perusahaan baik tinjauan perusahaan, lokasi
perusahaan maupun fasilitas perusahaan, manajemen sanitasi dan biosecurity.

14

Data Sekunder diperoleh dari catatan perusahaan dan monografi perusahaan. Data
sekunder meliputi denah lokasi perusahaan, struktur organisasi perusahaan, lay
out perusahaan dan data produksi. Data yang diperoleh kemudian diolah,
dianalisis, secara deskriptif dan dibandingkan dengan pustaka, kemudian disusun
menjadi sebuah laporan Praktek Kerja Lapangan.

15

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.

Profil Perusahaan

4.1.1. Letak Geografis


PT. Charoen Pokphand jaya farm, Desa Jatirejo, Kecamatan Masaran,
Kabupaten Sragen, Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten Kabupaten Sragen memiliki
letak geografis sebagai berikut : 715' - 730' LS, 11045' - 11110' BT ,ibukotanya
terletak di Sragen, sekitar 30 km sebelah timur Kota Surakarta . Batas wilayah
kabupaten ini yaitu :
Utara

: Kabupaten Grobogan

Selatan

: Kabupaten Karanganyar

Timur

: Kabupaten Ngawi

Barat

: Kabupaten Boyolali

Kabupaten Sragen memiliki luas wilayah 941,55 km2 dengan ketinggian


109 m di atas permukaan laut beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata
mencapai <3000 mm/tahun. Suhu rata-rata berkisar antara 28oC - 35oC. Suhu
maksimum 36oC dan suhu minimum 24oC dan dengan kelembaban udara berkisar
65% - 92%.

16

PT. Charoen Pokphand Jaya Farm, Sragen mempunyai letak geografis


yang cukup strategis untuk kegiatan distribusi dan pemasaran, karena terletak
dipinggir jalan raya.
4.1.2. Sejarah Perusahaan
Perusahaan Charoen Pokphand Group ini pertama kali berdiri di Bangkok
pada tahun 1921, berkembang kemudian sampai ke Hongkong, Thailand dan
kemudian dibuka cabang di Indonesia yang berada di Jl. Ancol Barat VIII No.1.
Cabang perusahaan di Indonesia sendiri sebanyak 152 unit perusahan yang
bergerak di berbagai bidang usaha. Bidang usaha tersebut antara lain : bidang
usaha pertanian, peternakan (agrobisnis), aquabisnis maupun yang terbaru adalah
bidang komunikasi dan teknologi. Perusahaan ini mempunyai misi meningkatkan
intelektual masyarakat melalui nutrisi yang bagus dari kualitas makanan yang
tinggi serta peningkatan pendapatan perkapita. Mengingat kebutuhan konsumsi
akan protein hewani terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk tiap
tahunnya yaitu sekitar 3% per tahun, maka hal tersebut menjadikan suatu peluang
yang

sangat

menguntungkan bagi

perusahaan

sehingga

diwilayah

Jawa

Tengah secara bertahap di bangunlah cabang perusahaan yang bergerak dibidang


pembibitan ayam (breeding farm) dan salah satunya yaitu di PT. Charoen
Pokphand Jaya Farm Sragen.
Perusahaan Pembibitan Ayam ( Breeding Farm ) PT. Charoen Pokphand
Jaya Farm Sragen didirikan pada tanggal 1 Februari 2011 yang berlokasi di Desa
Jirapan, Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen. Luas lahan keseluruhan yaitu 25

17

Ha dengan bangunan kandang berjumlah 20 kandang. Perusahaan ini merupakan


perusahaan yang bergerak di bidang pembibitan ayam broiler, dengan strain ayam
yang

dibudidayakan

adalah

ayam

ras

pedaging Parents

Stock dengan

strain Ross dan Cobb.


Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Perusahaan Breeding PT. Charoen
Pokphand Jaya Farm Sragen antara lain sebagai berikut :
1.

Bangunan kandang yang terdiri atas 20 kandang, yang terbagi menjadi


4 flock ( flock A, flock B, flock C dan flock D )

2.

Kantor

3.

Gudang,

4.

Asrama karyawan (mess)

5.

Pos satpam

6.

Ruang sanitasi

7.

4 unit truk untuk pengangkutan pakan

8.

1 unit truk pengangkutan telur

9.

Gudang telur

10. Ruang fumigasi telur


11. Holding room
12. Ruang cuci (washing room)
13. Tempat pembakaran ayam
14. Mushola.
Sumber air berasal dari sumur artesis yang airnya akan mengalir terus untuk
ditampung dalam tangki air sehingga peternakan tidak mengalami kesulitan air.
Sumber tenaga listrik berasal dari PLN (Perusahaan Listrik Negara) dan dua buah
generator sebagai cadangan bila sewaktu-waktu aliran listrik dari PLN padam

18

4.1.3. Struktur Organisasi


PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Sragen di pimpin oleh seorang Jendral
Manajer yang bernama Susilo Wijayanto, SPt dan dibantu oleh seorang manajer
yang bernama Ir Taufik Hidayat yaitu sebagai kepala unit farm. Kepala unit
farm bertugas mengawasi seluruh kegiatan yang berhubungan dengan produksi
dan operasional farm dibantu supervisor produksi.Supervisor produksi bertugas
mengawasi kegiatan operator dan bertanggung jawab seluruh kegiatan di farm.
Kegiatan supervisor dibantu

oleh

asisten

yang

menjabat

sebagai Chief

flock ( kepala flok ). Staf administrasi bertugas mencatat kegiatan perusahaan


yang berhubungan dengan kegiatan produksi, penerimaan dan pengeluaran
keuangan, membuat laporan harian, mingguan, bulanan serta mengeluarkan surat
jalan. Operator bertugas menjalankan kegiatan di lapangan.
Supervisior yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kebijakan yang
telah ditetapkan oleh manager, mengawasi tata laksana kegiatan dan memberikan
laporan kepada manager terhadap masing-masing unit dibawah koordinasinya.
Terdapat 4 orang supervisior yang ada di PT. Charoen Pokphand Farm Sragen 1
yang dibagi berdasarkan unit-unit tertentu, yaitu supervisior holding, supervisior
setter, supervisior mekanik dan supervisior produksi (pull chick). Supervisior
biasanya adalah lulusan sarjana peternakan.
Koordinatror lapangan yang bertugas untuk membantu supervisior dalam
melakukan pengawasan maupun ikut membantu dalam melaksanakan kegiatan

19

produksi secara langsung. Koordinator lapangan disebut juga sebagai asisten


supervisior dimana perannya bisa menggantikan supervisior saat sedang cuti.
Personalia and General Affair Unit atau yang disebut juga PGA unit yang
bertanggung jawab terhadap penerimaan pegawai baru, tamu perusahaan,
administrasi kantor, surat menyurat dan kegiatan PKL atau magang.
Supply Chain Management atau yang disebut juga dengan SCM yaitu
yang bertanggung jawab terhadap semua pengiriman DOC ke konsumen. SCM
berhubungan langsung dengan bagian marketing pusat.
Karyawan yang bertugas untuk menangani secara langsung seluruh
kegiatan perusahaan pada masing-masing unitnya yaitu : karyawan holding, setter
man, karyawan pull chick, karyawan vaksin, washer dan office girl, streplesman,
dan cleaning service, serta driver.
Bagian keamanan yang mempunyai tanggung jawab terhadap keamanan
lokasi perusahaan selama proses beroperasinya perusahaan. Baik keamanan proses
berlangsungnya produksi, karyawan, sarana dan prasarana serta alat-alat
transportasi di perusahaan dan ikut mengawasi dalam penerapan program
biosecurity.
4.2.

Biosecurity
Berdasarkan hasil praktik kerja lapangan diperoleh bahwa kegiatan

biosecurity di PT. Charoen Pokphand jaya farm Sragen diterapkan dengan sangat
baik. Terdapat 2 komponen kegiatan biosecurity diantaranya kontrol lalu lintas,
dan sanitasi. Lokasi Farm memiliki pagar yang tinggi yang menutupi sekeliling

20

perusahaan dari lingkungan luar. Selain itu, terdapat peraturan bahwa pekerja
yang tinggal di dalam mess maupun tamu tidak boleh memelihara atau membawa
masuk hewan peliharaan kedalam area perusahaan untuk menghindari terjadinya
penularan penyakit.
Kontrol lalu lintas bisa dilihat dari ketatnya pengawasan terhadap
kendaraan yang keluar masuk perusahaan, dimana setiap kendaraan yang masuk
harus melapor terlebih dahulu, selain itu setiap kendaraan yang masuk harus
melalui car spray dan melewati dipping kendaraan. Kendaraan yang masuk
melalui car spray akan otomatis disemprot dengan menggunakan campuran air
dan Bromo Kuat dengan perbandingan 1 L : 2 ml. Hal ini sesuai dengan pendapat
Fadilah dan Polana (2004) yang menyatakan bahwa kendaraan yang telah
diizinkan masuk kedalam unit perusahaan diwajibkan untuk disemprot atau
dispray dengan air yang telah diberi desinfektan.

Ilustrasi 1. Biosecurity di pintu masuk

Hal yang sama juga dilakukan terhadap pekerja ataupun tamu yang masuk
ke lingkungan Farm, harus melalui 2 shower, yaitu shower pertama yang terdapat
di pintu masuk satu dan shower kedua sebelum masuk kandang.

21

Ilustrasi 2. Ruang shower (range 1)

Ilustrasi 3. Ruang shower (range 2)

Barang-barang bawaan seperti hp, dompet dan tas harus dimasukan


terlebih dahulu ke dalam box ultraviolet sebelum masuk Farm.

Ilustrasi 3. Box ultraviolet


Hal tersebut diatas dengan pendapat Segal (2008) yang menyatakan bahwa
biosecurity mempunyai tiga prinsip yaitu isolasi, pengendalian lalu lintas dan
sanitasi.

Isolasi atau pemisahan merupakan tindakan untuk menciptakan

lingkungan dimana unggas terlindungi dari pembawa penyakit (carrier) seperti

22

manusia, unggas tertular, udara, air, dan lain-lain. Pengendalian lalu lintas,
meliputi pengendalian lalu lintas manusia, ternak, peralatan dan kendaraan masuk
dan keluar. Prinsip biosecurity yang terakhir adalah sanitasi. Tindakan yang dapat
dilakukan adalah pembersihan dan desinfeksi secara teratur kandang, peralatan
dan kendaraan serta menjaga kebersihan pekerja.

4.3.

Sanitasi

4.3.1. Sanitasi Ruangan dan Lingkungan


Lingkungan sangat mempengaruhi keberhasilan suatu usaha peternakan.
PT. CPJF Sragen menggunakan sistem pemeliharaan all in all out (satu unit satu
priode ternak). Apabila tamu mengunjungi peternakan dari kandang yang tua,
maka tamu tidak diperbolehkan mengunjungi kandang yang muda, apabila ingin
mengunjungi kandang yang lebih muda maka tamu harus mandi di shower dan
mengganti pakaian agar tidak menyebabkan penyakit.
Pemilihan lokasi PT.Charoen Pokphand Jaya Farm Sragen sudah
memenuhi syarat yang baik, karna peemilihan lokasi peternakan yang cukup jauh
dari peternakan lain. Peternakan ini di batasi oleh pagar yang cukup tinggi dan
kokoh guna menghindari kontaminasi dari luar yang dapat mempengaruhi
kesehatan ayam. Kandang di bangun cukup jauh dari jalan utama (yang banya di
gunakan pengangkutan ayam lain) dan kandang jauh dari danau yang
memungkinkan sebagai perlintasan burung yang bermigrasi.

23

Tanaman liar dan rumput dilakukan pemotongan secara berkala dan tidak
dibiarkan tumbuh tinggi, karna jika di biarkan tumbuh tinggi maka rumput dapat
mendeposit air sehingga akan menyebabkan kelembapan menjadi tinggi dan akan
mendatangkan serangga atau burung. Pengendalian tikus dan lalat di lakukan,
karna hewan ini dapat menyebarkan penyakit pada ternak. Pengendalian tikus
dilakukan dengan memberikan racun tikus dan untuk pengendalian lalat
menggunakan obat lalat sagita. Menurut Lesson dan Summer (2000), kebersihan
lingkungan harus senantiasa di perhatikan, antara lain dengan memotong rumput
hingga 3-4 cm dan menyingkirkan peralatan kandang yang sudah tua .
Pengontrolan terhadap area peternakan juga di lakukan setiap hari oleh
security dan petugas kesehatan hewan agar tetap terjaga dengan baik. Menurut
Tobing (2002), kondisi lingkungan peternakan akan mempengaruhi kondisi dari
ternak. Lingkungan sekitar kandang harus disesuaikan dengan konsep biosekuritas
yang ada.

24

4.3.2. Sanitasi Pekerja dan Kendaraan

Ilustrasi 4. Sanitasi Pekerja

Ilustrasi 5. Sanitasi kendaraan

Berdasarkan hasil praktik kerja lapangan diperoleh bahwa sanitasi pekerja


Hatchery dilakukan sebelum dan setelah bekerja. Sebelum bekerja atau ketika
akan memasuki area Farm, pekerja wajib masuk ke ruang shower untuk
membersihkan diri dan berganti pakaian. Pekerja harus melewati 2 ruang shower
yang didalamnya terdapat spray otomatis yang menyemprotkan campuran air dan
BKC dengan dosis 1 L : 2 ml, setelah itu mengeringkan diri dengan handuk dan
memakai pakaian khusus serta sepatu yang sudah disediakan. Setelah selesai
bekerja atau ketika akan keluar dari Farm, pekerja diwajibkan mandi dan
membersihkan diri dalam kamar mandi khusus. Hal tersebut diatas tidak hanya
berlaku untuk pekerja saja tetapi juga untuk tamu dan setiap orang yang akan
memasuki Farm tanpa terkecuali. Thai Agricultural Standard (2009) menyatakan

25

bahwa karyawan atau tamu yang masuk ke dalam area perusahaan harus melewati
rosedur desinfeksi dan mengganti pakaian dengan pakaian khusus yang telah
disediakan. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Frame (2010) yang
menyatakan bahwa para pekerja harus datang untuk bekerja baru mandi dan
mengenakan pakaian baru yang telah dicuci yang belum pernah kontak dengan
unggas sebelumnya. Alas kaki dan baju harus diubah dengan sepatu dan baju
hatchery yang telah disediakan di pintu masuk, tangan harus dicuci dan disterilkan
sebelum mulai bekerja. Prayitno dan Yuwono (1997) menambahkan bahwa
sanitasi dilakukan kepada setiap pekerja yang ada. Hal ini dimaksudkan agar
mobilitas pekerja tetap terjaga dalam kondisi bebas penyakit sehingga penyebaran
kuman penyakit bisa terhindarkan.
Kendaraan yang masuk ke area peternakan atau farm harus melewati
shower (terdapat 2 shower) yang menyemprotkan disinfektan. Shower kendaraan
menggunkan detergen. Sebelum melewati shower semua kendaraan yang akan
masuk area peternakan saat di pintu masuk gerbang untuk spedah motor akan di
siram dengan disinfektan namun untuk mobil di siram menggunakan pompa air
bertekanan tinggi untuk menghilangkan tanah dan kotoran.
Penyemprotan kendaraan di shower di lakukan untuk menghilangkan debudebu kendaraan dan membunuh mikroorganisme pembawa agen penyakit yang di
bawa dari luar area peternakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2002),
yang menyatakan bahwa setiap kendaraan harus melewati alat pembasuh
kendaraan yang telah disediakan di depan pintu gerbang farm untuk

26

menghilangkan debu-debu dari badan kendaraan yang mungkin membawa


penyakit.
Pengemudi truk yang melakukan pengiriman pakan, alat-alat kandang dll
dari luar area kandang dilarang memasuki area kandang. Truk yang digunakan
untuk pengiriman pakan, gas dll di larang masuk area kandang, dan terdapat truk
khusus yang membawa pakan, peralatan kandang, gas dll ke kandang dan tidak
pernah keluar dari area peternakan untuk mencegah kontaminasi penyakit dari
luar area peternakan. Menurut Hubbard ISA (2005), truk atau kontainer harus di
cuci dan didesinfektan sebelum memasuki area peternakan. Truk pakan menjadi
perhatian utama karna mudah membawa debu dari luar yang dapat
menkontaminasi pakan.

4.3.3. Sanitasi Peralatan

Ilustrasi 6. Sanitasi Alat Kandang 1

Ilustrasi 7. Sanitasi Alat Kandang 2

PT. Charoen Pokphan Jaya Farm Sragen menggunakan tipe kandang


bertipe closed house (kandang sistem tertutup) yang di lengkapi dengan cooling

27

pad. Cooling pad selain berfungsi mencegah heat stress (cekaman panas), juga
dapat menjaga kelembapan dalam kandang, karna di atas cooling pad terdapat
saluran air untuk menyemprotkan air saat kelembapan rendah sehingga partikelpertikel air pun ikut terbawa kedalam kandang. Air tersebut merupakan larutan
desinfektan yang berfungsi membunuh/ membasmi mikroorganisme dalam udara
dan dalam kandang sehingga cooling pad dapat berfungsi untuk menyaring debu
yang masuk dan mengalirkan udara yang bersih kedalam kandang karna cooling
pad diberi desinfektan berupa virkon secara berkala, sanitasi peralatan dilakukan
secara total, pembersihan pipa nipple pada awal priode produksi dan pembersihan
mangkokan nipple setiap satu minggu sekali dengan busa yang telah diberi
desinfektan. Lemari fumigasi juga setiap hari harus di bersihkan. Pembersihan
sangkar di lakukan setiap satu minggu sekali namun apabila sewaktu-waaktu
kotor maka harus segera di bersihkan. Setiap minggunya dalam satu hari
dilakukan penyeleksian terhadap ayam yang lemah, ayam yang mati langsung di
lakukan bedah bangkai oleh petugas kesehatan hewan atau di buang langsung dan
di bakar langsung oleh petugas khusus kebersihan.Menurut Nuroso (2010),
pembersihan, pencucian, dan penyemprotan kandang serta peralatan kandang di
perlukan setlah selesai panen, di perkuat oleh Suprijatna (2005), kebersihan
peralatan dan perlengkapan kandang harus di kontrol sesering mungkin, terutama
saat dilakukan kegiatan pemberian pakan.

4.4.

Vaksinasi

28

Berdasarkan hasil praktik kerja lapangan diperoleh bahwa vaksinasi


dilakukan pada Charoen pokphand jaya farm sragen (ilustrasi...) telah terprogram
dengan baik dan teratur sesuai dengan umur ayam. Kegiatan vaksin dipimpin oleh
orang yang berkompeten. Vaksin dan perlakuan di lakukan secara optimum serta
botol vaksin di musnahkan setelah dipakai.
Pada saat vaksin berlangsung petugas vaksin menyeleksi ayam yang
kurang baik, kemudian di pisahkan dengan sekat laring yang terdapat di pojok
kandang yang nantinya akan di jual , namun jika ayam tersebut bobot hidup nya
dirasa kecil dan tidak sesuai dengan rata-rata di pen tersebut maka yang di
lakukan adalah dipindahkan ke pen khusus untuk bobot yang kecil.

Ilustrasi 8. Vaksinasi

Ilustrasi 9. Vaksinasi

Metode vaksin yang digunakan paa ayam pembibit (parent stock) broiler
adalah melalui tetes mata (intra oculer/IO), suntikan pada otot (intra muscule/IM)
untuk kill vaksin dan suntikan bawah kulit (subcutan/SC) untuk kill vaksin.
Menurut Sudaryani dan Santoso (2003), vaksin adalah proses memasukan bibit
penyakit yang sudah mati (vasksinasi pasif) atau bibit penyakit yang sudah di
lemahkan (vaksinasi aktif) kedalam tubuh ayam, baik melalui injeksi, tusuk sayap,
mencampurkan dengan air minum maupun melalui tetes mata, mulut, ataupun

29

hidung. Pelaksanaan vaksin dilakukan saat ayam dalam keadaan sehat, pemberian
vaksin juga sesuai dengan dosis yang di anjurkan.
Vaksin yang diberikan untuk ayam pembibit (parent stock) broiler setiap
fase berbeda-beda karna saat pkl ayam pembibit sedang dalam fase grower yaitu
pada umur 11 minggu vaksin yang diberikan adalah (ILT+Reo Kill) dengan cara
IO+IM. Menurut Suprijatna et al. (2005), vaksinasi didefinisikan sebagai suatu
kegiatan memasukkan bibit penyakit (mikroorganisme) tertentu yang telah
dilemahkan ke dalam tubuh ternak dalam rangka menumbuhkan kekebalan tubuh
terhadap penyakit tertentu tersebut. Vaksinasi pada biasanya dilakukan dengan
metode injeksi subcutan (pada pangkal leher bagian belakang) atau spray. Rasyaf
(1995) menambahkan bahwa, vaksinasi dengan injeksi dilakukan di bawah kulit.
Menurut Fadilah et al (2007) Penyakit yang tidak boleh peternakan ayam pada
priode

pemanasan

(0-3

minngu)

yaitu

Avian

Colibacillosis,

Avian

Encephalomyelitis, Fowl Thypoid, Fowl Cholera, dan Pullorum. Pada piode


pertumbuhan (4-20 minggu) adalah Flu Burung, Fowl pox, Coryza, IB, Gumboro,
ILT, Mareks, ND. Sedangkan ayam priode produsksi (>20 minggu) adalah
penyakit

Egg

Drop,

Syndrome,

Leucocytozoonosis,

Osteoporosis,

dan

Pneumorvirus Infection.
4.5.

Penanganan Limbah
Penanganan limbah di PT. Charoen pokphand jaya farm Sragen sudah

baik.
Terdapat limbah padat dan limbah cair. Limbah padat berupa bangkai ayam, litter
yang sudah tidak terpakai, bekas vaksin dan obat, dan kotoran ayam. Sedangkan

30

limbah cair berupa air sisa pencucian kandang, oli bekas, dan air buangan
domistik (ilustrasi 16 dan 17).

Ilustrasi 10. Limbah Botol plastic

Ilustrasi 11. Tempat Pembakaran


limbah

Penanganan limbah padat seperti bangkai ayam dilakukan dengan


membakarnya di tungku pembakaran. Pembedahan dilakukan secara berkala
untuk mengetahui kondisi ayamdan menganalisa penyakit yang menyerang ternak.
Bekas kemasan vaksin an obat di celupkan kedalam desinfektan, lalu di buang dan
di bakar. Kotoran ayam tidak di buang melainkan di tampung dari awal masa
stater sampai produksi lalu di jual sebagai pupuk. Litter tidak terpakai langsung di
buang dan di bakar.
Limbah cair seperti air bekas cuci kandang atau alat kandang langsung di
alirkan ke kolam penampung di belakang kandang sebagai resapan. Limbah oli
bekas di buang langsung. Air buangan dari WC, Shower, dan dapur di buat
resapanya. Menurut Sunarti dan Wahono (1997), limbah peternakan ada 2 yaitu
limbah padat dan limbah cair. Feses sebagai salah satu bentuk limbah dapat
dimanfaatkan sebagai campuran pupuk tanaman dan campuran pakan ternak.

31

Beberapa jenis limbah lain seperti platik, botol obat, limbah cair obat
dimasukan kedalam wadah khusus. Menurut Mulyatini (2010), metode
pembuangan unggas mati di industri perunggasan yaitu dikubur, dkubur dangkal,
di bakar, dan di potong untuk di daur ulang sebagai pakan ternak limbah kulit
telur di hancurkan dan di kubur dalam tanah, namun bisa di daur ulang sebagai
pakan ternak.
4.6

Indikator Keberhasilan

4.6.1

Produksi Telur
Produksi telur sangat menentukan keberhasilan suatu peternakan ayam
pembibit. Semakin tinggi produksi telur maka semakin baik peternakan
tersebut dalam pegelolaanya.
Ayam yang dipelihara di PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Sragen
adalah

ayam Parents Stocks

rain Ross dan Cobb 500.

Produk

yang

dihasilkan oleh perusahaan ini adalah telur tetas (hatchingeggs). Dimana


telur telur tersebut akan dikirimkan ke bagian hatchery yang beralamat
di Salatiga. DOC yang dihasilkan dari telur tetas inilah yang kemudian
akan dijual sebagai ayam pedaging final stock yang dipelihara di
peternakan komersil.
Pada saat dilakukan Praktek Perusahaan (PP) ayam yang telah
berproduksi baru 6 kandang yaitu kandang 1, 2 , 3, 4, 5 dan 6. Sedangkan
ayam di kandang 7 sampai kandang 17 sedang dalam pertumbuhan dan
untuk kandang 18, 19 dan 20 masih dalam tahap persiapan. Namun

32

produksi telur ayam kandang 1,2,3,4,5, dan 6 belum mencapai puncak


produksi
Tabel 3. Rata-rata Produksi Telur kandang 1 sampai 6 PT. Charoen
Pokphand Jaya Farm Sragen pada Tahun 2013
Nomor
Kandang

Umur Ayam
(Minggu)

Produkstivitas
(%)

Rata-rata
Produksi
Per Hari

(butir)
1
2
3
4
5
6

29
28
25
24
22
22

86,54
80,12
78,34
72,47
34,76
16,72

7.500
7.000
6.500
6.200
4.500
2.500

Sumber data : PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Sragen, 2013


Berdasarkan tabel dari hasil pencatatan dapat diketahui bahwa produksi
telur rata - rata tahun 2013 fase produksi 16,72-86,54%. Hal ini menunujukan
bahwa produksi telur sudah baik sebagai indikator kebehasilan peternakan.
Standar produksi telur ayam Ross saat puncak sebesar 86,5% dan ayam Cobb
sebesar 85,5%. Produksi telur pada saat puncak yaitu pada umur 28- 31 minggu
dan produksi telur akan menurun setelah melewati puncak produksi nya. Menurut
Cobb (2003), setelah mencapai puncak produksi, presentase produksi hen day
menurun secara konstan dengan laju penurunan sebesar 1% per minggu. Pada saat
ayam berumur 65 minggu, presentase produksi hen day telah berada di bawah
angka 50%.

4.6.2 Mortalitas

33

Mortalitas pada peternakan ayam pembibit merupakan salah satu indikator


keberhasilan suatu perusahaan peternakan. Semakin rendah tingkat mortalitas
pada ayam maka dapat menandakan bahwa tingkat keberhasilan dalam
mengelolah peternakan sudah baik. Data mortalitas ayam jantan dan betina dapat
dilihat pada tabel 4. Data mortalitas selama 10 minggu untuk seluruh kandang
flock 4 terdapat pada lampiran 4
Tabel 4. Data Mortalitas PT. Charoen Pokhand Jaya Farm, Sragen
Umur
(Minggu)

Mortalitas
Betina

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

0,69
0,23
0,15
0,40
0,08
0,08
0,05
0,10
0,05
0,06

Jantan
0,34
1,73
0,87
1,81
0,42
0,16
0,89
0,73
0,22
0,94

Berdasarkan data primer yang di peroleh dari hasil pencatatan di PT.CPJF


Sragen menunjukan bahwa rata-rata mortalitas dari 7 kandang pada flock 4 umur
2 sampai 11 minggu pada betina adalah 0,19% dan pada jantan 0,8%. Tingkat
mortalitas yang terdapat di PT. CPJF cukup rendah maka dapat menandakan
tingkat keberhasilan dalam mengelolah peternakan sudah baik. Standar mortalitas
ayam pembibit (Parent Stock) broiler fase stater dan grower di PT.CPJF Sragen
yaitu 0,10%-0,13%. Menurut Rasyaf (2000), mortalitas harus di ukur secara
kuantitatif, mortalitas kumulatif selama masa bertelur adalah 0,5% dan maksimal

34

0,8% agar total mortalitas kumulatif di bawah 2% yaitu standar mortalitas untuk
kondisi tropis.
Mortalitas pada ayam PT.CPJF Sragen tidak disebabkan oleh penyakit,
melainkan karna adanya penyakit, melainkan disebabkan oleh tali rafia,
persaingan reproduksi dan tingkat kedudukan pejantan maupun betina satu dengan
yang lain(strata sosial ayam), karna ayam yang kuat akan mengalahkan ayam
yang lemah, serta sikap mematuk unggas lain dan kanibalisme. Pelaksanaan
biosekuritas di peternakanini sudah baik, hal ini ditandai dengan mortalitas yang
tidak disebabkan oleh penyakit. Menurut Ensminger (1992), mortalitas ayam
dapat disebabkan oleh prilaku kanibalisme. Kanibalime bisa menjadi masalah
serius pada ayam pembibit broiler. Kanibalisme biasanya ditandai dengan
mematuk bulu ekor ayam lain dan bagian tubuh lain. Kanibalisme disebabkan
oleh kondisi stres, kepadatan ayam, kepadatan ayam dalam suatu kandang,
intensitas cahaya, kekurangan nutrisi dan minum.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

35

5.1.

Simpulan
Berdasarkan praktik kerja lapangan yang telah dilakukan dapat

disimpulkan bahwa manajemen sanitasi dan biosecurity pada perusahaan


peternakan ayam pembibit (parent stock) di PT. CPJF Sragen sudah diterapkan
dengan baik dan sesuai dengan standar manajement pemeliharaan yang di
tetapkan oleh pemerintah. Pelaksanaan biosekuritas yang dilakukan meliputi,
biosekuritas kandang, peralatan, orang, kendaraan, lingkungan peternakan,
penanganan limbah dan vaksinasi. Indikator keberhasilan ayam dapat dilihat dari
produksi rata-rata tahun 2013 fase produksi yaitu

16,72-86,54%. Presentase

mortalitas ayam yaitu pada betina 0,19 % dan jantan 0,8%.


5.2.

Saran
Dalam penerapan aspek-aspek sanitasi dan biosecurity sebaiknya seluruh

karyawan memiliki kesadaran yang tinggi, sehingga dapat mematuhi peraturan


yang berlaku dan bekerja tanpa menunggu suverpisor dan tanpa harus ditegur
dahulu oleh manager.

36

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2003.Meningkatkan Produktifitas Ayam Ras Petelur. Agromedia Pustaka,


Jakarta.
Chan, H dan M. Zamrowi. 2000. Pemeliharaan dan cara pembibitan Ayam
Petelur. Citra Harta Prima, Jakarta.
Cobb. 2003.Cobb 500 Breeder Management Guide. Cobb - Vantress Inc., Siloam
Spring Arkansas
Dirjen Peternakan. 1992. Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin
dan pendapatan Usaha Peternakan (Tidak di terbitkan)
Fadilah, R., A. Polana, S. Alam. 2007a. Aneka Penyakit Pada Ayam dan Cara
mengatasinya. Agro Media pustaka, Jakarta
Fadilah, R., 2013. Beternak Ayam Broiler. Agromedia Pustaka, Jakarta
Fadilah, R. dan Fatkhuroji. 2013. Memaksimalkan Produksi Ayam Ras Petelur.
Agromedia Pustaka, Jakarta
Fadilah, R. dan Polana, A. 2004. Aneka Penyakit pada Ayam dan Cara
Mengatasinya. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Frame, David, D. 2010. Poultry and Game Bird Hatchery Sanitation and
Biosecurity. Utah State University Extension Poultry Specialist
Hubbard ISA. 2005. Broiler Manajement Guide. USA (tidak dipublikasikan)
Kartasudjana, R. Suprijatna, E. 2006. Manajement Ternak Unggas. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Lesson, S. Dan J. D. Summer. 2000. Broiler Brooder Production. University Book
Ontario, Canada
Rasyaf, M. 2000. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mulyantini, N. G. A. 2010. Ilmu Manajemen Ternak Unggas. Gajah Mada
University Press, Yogyakarta
Neroso. 2010. Panen Ayam Pedaging dan Produksi 2x Lipat.
Penebar swadaya, Jakarta

37

North, M. O. 1990. Comercial Chicken Production Manual. 2-nd Ed.


Publishing Co, West Port, Conn.
Rasyaf, M. 2000. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta.
Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewa, Penjelasan
Pasal 1 ayat 21
Prayitno, D. S dan Yuwono, W. E. 1997. Manajemen Kandang Ayam Ras
Pedaging. Trubus Agriwidya, Semarang
Rasyaf, M. 1995. Pengelolaan Farm. Kanisius, Yogyakarta.
Rasyaf, M. 2002. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.
Segal Y. 2008. Pengantar Biosekuriti. Food and Agriculture Organization of
United Nations
Sunarti, D. Dan I. Wahono. 1997. Manajemen kandang Ayam Ras Pedaging.
Trubus Agriwidya, Unggaran
Samberg, Y. dan Meroz, M. 1995. Application of Desinfectants in Poultry
Hatcheries.
Sudaryani, T.H, dan Santosa. 1994. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya,
Jakarta
Suprijatna, E.2005. Ayam Buras Kosring Petelur. Penebar Swadaya,
Jakarata
Suprijatna, E. U. Atmomarsono dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak
Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Thai Agricultural Standard. 2009. Good Agricultural Practice for Chicken Breeder
Farm. Published in the Royal Gazzete Vol. 126 Special Section 17D.
Tobing, V. 2002. Beternak Ayam Broiler Bebas Antibiotika; Mudah dan Bebas
Residu. Penebaran Swadaya, Jakarta.