Anda di halaman 1dari 19

1

OTORITAS SUNNAH DALAM ISLAM

Makalah

Di Ajukan dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliyah Hadits Tarbawi


Dosen : Dr. Hj. Enizar, MA

Di Susun Oleh:

Nama : HERI ATMUJI


NPM : 2000920664

PROGRAM STUDY ILMU TARBIYAH PASCA SARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)


RADEN INTAN BANDAR LAMPUNG
1431 H / 2010 M
2

OTORITAS SUNNAH DALAM ISLAM

1. PENDAHULUAN

Manusia dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan.


Sumber dari pengetahuan tersebut ada dua macam yaitu naqli dan aqli. Sumber yang
bersifat naqli ini merupakan pilar dari sebagian besar ilmu pengetahuan yang
dibutuhkan oleh manusia baik dalam agamanya secara khusus, maupun masalah
dunia pada umumnya. Dan sumber yang sangat otentik bagi umat Islam dalam hal ini
adalah Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw.
Allah telah memberikan kepada umat kita pendahulu yang selalu yang selalu
menjaga Al-Qur’an dan hadits Nabi. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan
memegang janji. Sebagian diantara mereka mencurahkan perhatian terhadap Al-
Qur’an dan ilmunya yaitu para mufassir. Dan sebagian lagi memprioritaskan
perhatiannya untuk menjaga hadits Nabi dan Ilmunya, mereka adalah para ahli hadits.
Para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in sangat perhatian untuk menjaga
hadits-hadits Nabi dan periwayatannya dari generasi ke generasi yang lain, karena
mempunyai pengaruh yang besar terhadap agama. Mereka selalu mengajak untuk
mengikuti cara hidup dan perilaku Rasulullah, sebagaimana firman Allah swt :

    


) : ‫ )األحزاب‬  
Artinya :
“ Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu kalian.”(QS. Al-Ahzab : 21).
Mereka juga diperintahkan untuk mengerjakan apa yang dibawa oleh nabi dan
dilarang untuk mengerjakan semua larangan beliau.
3

  


   
) : ‫ (احلشر‬
Artinya :
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang
dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah.”(QS. Al-Hasyr : 7)
Dari dua keterangan ayat di atas maka dapat dipahami bahwasanya pada diri
Raslullah itu terdapat teladan yang baik yang dapat dijadikan sebagai teladan hidup
bagi umatnya. Serta Rasulullah pun telah mengajarkan apa-apa saja yang harus
dilakukan oleh umatnya dan apa-apa saja yang dilarangnya.
Daripada sumber hukum Islam yang otentik bagi umat Islam yaitu, Al-Qur’an,
As-Sunnah (Al-Hadits) serta akal pikiran (ra’yu) manusia yang memenuhi syarat
untuk berijtihad karena mempergunakan jalan (metode) yang telah ditetapkan.
Dari ketiga sumber hukum Islam di atas hanya As-Sunnah (Al-Hadits) saja
yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini.
Hadits ialah segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi walaupun hanya
sekali saja terjadinya dalam sepanjang hidupnya, dan walaupun hanya diriwayatkan
oleh seorang saja.1
Adapun sunnah, sebenarnya adalah sebutan bagi amaliyah yang mutawatir,
yakni cara Rasulullah melaksanakan suatu ibadat yang dinukilkan kepada kita dengan
amaliyah yang mutawatir pula. Nabi melaksanakannya bersama para sahabat,
kemudian para sahabat melaksanakannya. Kemudian diteuskan oleh para tabi’in,

1
Tengku Muhammad Hasby Ash-Shidieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist, Pustaka
Rizki Putra, Semarang, 1997, hlm. 21.
4

walaupun lafadz penukilannya tidak mutawatir, namun cara pelaksanaanya


mutawatir. 2
Inilah yang dihendaki dengan As-Sunnah dalam hadits Nabi saw. :

ِ َ‫لََقل ْدتَرْكت فِي ُكم اَمري ِن لَن ت‬


ِ ‫ كِتَاب‬,‫ضلُّواماإِ ْن ََتَ َّس ْكتُم ِبِِما‬
‫اهلل‬ َ َ ْ َْ ْ َْ ْ ْ ْ ُ َ
)‫َو ُسنَّةَ َر ُس ْوِل ِِ ِه ( رواه مالك‬
Artinya :
“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua hal yang sekali-kali kamu tidak akan
sesat selama kamu berpegang kepadanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.”
(HR. Malik).
Bila ditinjau dari segi subjek yang menjadi sumber asalnya, maka pengertian
Hadits dan Sunnah sama. Yakni sama-sama berasal dari Rasulullah saw. Dengan
dasar inilah, maka ulama Ahlul Hadits berpendapat bahwa “Haditsa identik dengan
Sunnah”.
Bila ditinjau dari segi kualitas amaliyah dan periwatannya, maka hadits berada
di bawah Sunnah. Sebab, Hadits merupakan suatu berita tentang suatu peristiwa yang
disandarkan kepada Nabi, walaupun hanya sekali saja beliau mengerjakannya dan
walaupun hanya diriwayatkan oleh seorang saja. Sedangkan Sunnah, merupakan
suatu amaliyah yang terus-menerus diamalkan oleh generasi berikutnya sampai
kepada kita.
Bila ditinjau sari kekuatan hukumnya, maka hadits berada dibawah Sunnah.
Oleh karena itu, apabila lafadz hadits sengaja dipisah dari Sunnah, kemudian urutan
secara kronologis tentang sumber hukum Islam, maka urutanya sebagai berikut :
1. Al-Qur’an
2. As-Sunnah
3. Al-Hadits.

2
Ibid., hlm. 21.
5

Tetapi bila istilah Hadits tidak dipisahkan dari Sunnah, maka urutan kronologi
sumber hukum Islam adalah :
1. Al-Qur’an
2. As-Sunnah.3

2.PEMBAHASAN

2.1 Kedudukan Sunnah (Hadits) Dalam Sumber Ajaran Islam

Dr. Musthafa As-Siba’iy dalam “As-Sunnah wamaknatuha fit Tasyri‟il


Islamiy” halaman 343, menyatakan : bahwa umat Islam zaman dahulu dan zaman
sekarang telah sepakat, terkecuali sekelompok orang yang berpaling menyalahinya,
bahwa sunah Rasul yang berupa sabda, perbuatan, dan pengakuan itu, merupakan
salah satu sumber hukum Islam.”4
Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa Hadits/Sunnah Rasul
tersebut adalah merupakan sumber hukum Islam atau sebagai dasar-dasar pokok dari
Syari’at Islam. Diantaranya ialah :
    
) : ‫ (النسأ‬   
Artinya :
“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan
seizin Allah”. (QS. An-Nisa : 64)

  


) : ‫ (ال عمران‬ 
Artinya :

3
M.Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadist, Angkasa, Bandung, 1994, hlm. 15-16.
4
M.Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadist, Angkasa, Bandung, 1994, hlm. 45.
6

“Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat”. (QS. Ali Imran :
132)
Kaum muslimin sepakat bahwa segala ucapan, perbuatan atau takrir yang
bersumber dari Rasulullah tentang masalah syari’at atau masalah kepemimpinan dan
pengadilan, yang sampai kepada kita dengan sanad yang sahih, menjadi hujjah bagi
kaum muslimin, dan sebagai sumber syari’at di mana para mujtahid dapat menggali
hukum syari’at yang berkaitan dengan perbuatan hamba.5
Maka sunnah adalah sumber yang kedua dari sumber-sumber hukum Islam,
dan kedudukannya berada setelah Al-Qur’an dan wajib diikuti sebagaimana wajibnya
mengikuti Al-Qur’an.
Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa As-Sunnah adalah hujjah, antara lain :
1. Nash-nash Al-Qur’an : Allah telah memerintahkan untuk mengikuti Rasul-Nya
dan menaatinya. Allah swt. Berfirman :
  
   
) : ‫ (احلشر‬
Artinya :
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang
dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah.”(QS. Al-Hasyr : 7)

 
   
  
  
Artinya :
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan
ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur : 63).

5
Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Sudi Ilmu Hadist, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta,
2004, hlm, 30.
7

2. Perbuatan Sahabat : para sahabat r.a. pada masa hidup Rasulullah saw, menaati
semua perintah dan larangannya, dan mereka tidak membeda-bedakan antara
hukum yang diwahyukan oleh Allah dalam Al-Qur’an yang bersumber dari
Rasulullah saw. Allah swt. Berfirman :
    
 : ‫(النجم‬     

) -

Artinya :
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-
Najm : 3 - 4)
Dan demikian pula kondisi mereka setelah meninggalnya Rasulullah saw.,
mereka tetap kembali kepada Al-Qur’an untuk mencari hukum di dalamnya. Dan bila
tidak mendapatkan padanya mereka merujuk kepada Sunnah Rasulullah.
3. Adanya perintah Allah yang mujmal (global) yang membutuhkan penjelasan dari
Rasulullah saw. Di dalam Al-Qur’an banyak terdapat nash-nash yang mujmal,
yang berisi kewajiban dan perintah-perintah Allah kepada manusia, sedangkan
Al-Qur’an tidak menjelaskan pelaksanaannya, seperti perintah shalat, zakat, puasa
dan haji.
 
 
 
) : ‫ (النّور‬ 
Artinya :
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya
kamu diberi rahmat.” (QS. An-Nur : 56)
8

  


:‫(البقراة‬   

)
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa.” (QS. Al-
Baqarah : 183)
   
  
) : ‫ (ال عمران‬ 
Artinya :
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi)
orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran : 97)
Maka, seandainya As-Sunnah itu bukan sebagai hujjah bagi kaum muslimin
yang wajib diikuti, tentunya tidak mungkin terlaksana semua perintah Al-Qur’an,
kewajiban-kewajibannya, dan tidak mungkin pula ditaati semua hukumnya. Dari As-
Sunnahlah kita mengetahui secara rinci waktu-waktu shalat, jumlah rakaatnya,
waktunya dan lain sebagainya. Dengan demikian dapat ditetapkan, bahwa yang benar
datang dari Rasulullah menjadi hujjah yang wajib diikuti. Jika Rasulullah wajib
diikuti dalam kapasitasnya sebagai Rasul, maka wajib pula mengikuti semua hukum-
hukum darinya.

2.2 Kedudukan dan Fungsi Sunnah (Hadits) Menurut Fuqoha, Ahli Hadits, Ahli
Kalam, dan Ilmuwan Modern
As-Sunnah menurut ulama Usul Fiqh adalah apa yang bersumber dari Nabi
saw. selain Al-Qur’an, baik berupa perkataan, perbuatan atau pengakuan beliau.
9

As-Sunnah menurut Ulama Hadits adalah apa yang disandarkan kepada Nabi
saw. Berupa perkataan, perbuatan, pengakuan, sifat atau sirah beliau.6
Kedudukan As-Sunnah menurut jumhur ulama menyatakan bahwa As-Sunnah
menempati urutan yang kedua setelah Al-Qur’an.
Untuk hal ini Al-Suyuthi dan Al-Qasimi mengemukkan argumentasi rasional
dan argumentasi tekstual. Diantara argumentasi itu adalah sebagai berikut :
a. Al-Qur’an bersifat qath‟i al-wurud, sedangkan As-Sunnah bersifat dzhanni al-
wuru. Karena itu yang qath’i harus didahulukan daripada yang dzanni.
b. Al-Sunnah berfungsi sebagai penjabaran Al-Qur’an. Ini harus diartikan bahwa
yang menjelaskan berkedudukan setingkat di bawah yang dijelaskan.
c. Ada beberapa hadits dan atsar yang menjelaskan urutan dan kedudukan As-
Sunnah setelah Al-Qur’an.
d. Al-Qur’an sebagai wahyu dari sang Pencipta, Allah swt, sedang hadits berasal
dari sang pencipta lebih tinggi kedudukannya daripada yang berasal dari
hamba utusan-Nya.7
Selanjutnya ada beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits nabi yang menyatakan
bahwa kedudukan As-Sunnah sebagai sumber kedua setelah Al-Qur’an dalam ajaran
Islam.
 
  
 
) : ‫ (النسأ‬ 
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan
ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa : 59)

6
Ibid., hlm. 29.
7
Catatan Kuliah Umum pada Program Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
dibawah bimbingan Dr.H.M. Quraisy Shihab, 1992.
10

    


    
  
) : ‫(النسأ‬
Artinya :
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah.
dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu
untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa : 80)
Selanjutnya dalam hadits Nabi dijelaskan :

ِ ‫ كِتَاب‬,‫ضلُّواماإِ ْن ََتَ َّس ْكتُم ِبِِما‬


ِ ِ ‫لََقل ْدتَرْك‬
‫اهلل‬ َ َ ْ َ ْ َ‫ت فْي ُك ْم اَْمَريْ ِن لَ ْن ت‬
ُ َ
)‫َو ُسنَّةَ َر ُس ْوِل ِِ ِه ( رواه مالك‬
Artinya :
“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua hal yang sekali-kali kamu tidak akan
sesat selama kamu berpegang kepadanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.”
(HR. Malik).
Selanjutnya pengertian sunah Nabi dalam pandangan Al-Qaradawi selalu
berkembang dan ruang lingkupnya dinamis, karena pada awalnya bermakna umum
lalu berkembang kepada makna spesifik. Ia membahas makna sunah secara
mendalam, baik dari aspek kebahasaan dan istilah maupun perkembangan lingkup
pemaknaannya. Menurutnya, pada awal islam Sunnah hanya didefinisikan secara
umum, yaitu : “jalan yang ditempuh oleh nabi Muhammad saw untuk melaksanakan
petunjuk dan agama kebenaran, yang dibawanya dari Allah swt.8
Dalam kesempatan lain ia mendefinisikan sunnah sebagai berikut :

8
Alamsyah, Membongkar Otoritas Sunnah Nabi Perspektif Yusuf Al-Qaradawi, Fakta Press,
Bandar Lampung, 2009, hlm. 92-93.
11

“Metode Nabi, baik yang bersifat teoritis atau praktis, yang dilakukannya dalam
rangka memahami agama Allah swt dan melaksanakannya dalam segala aspek
kehidupan.9
Dari pembahasan di atas yang dikemukakan oleh Qaradawi maka substansi
dari apa yang disebut sunah Nabi bukan pada bentuk seperti ucapan, perbuatan atau
ketetapan sehari-hari, sebab semua itu hanya merupakan ekspresi atau perwujudan
praktis dari sunah itu sendiri. Sunah Nabi tidak lain adalah jalan hidup, metode dan
pola pikir. Laporan tentang bentuk-bentuk sunah tersebut dinamakan sebagai hadits.10
Sedangkan fungsi sunah menurut Al-Qaradawi menyatakan, untuk memahami
fungsi sunah harus berangkat dari pemahaman yang benar tentang fungsi Nabi
Muhammad saw. Menurutnya, funsi utama dari Nabi saw. Adalah menjelaskan isi
kandungan Al-Qur’an, baik secara teoritis mapun teknis praktis. Fungsi Nabi saw
tersebut selanjutnya terlihat dari wujudnya dalam bentuk Sunnahnya.11
Sejalan dengan mayoritas muhaddisin dan fuqoha‟, ia merinci fungsi khusus
dari Al-Sunnah kepada tiga macam, yaitu :
1. Memperkuat ajaran-ajaran yang dibawa oleh Al-Qur’an.
2. Menjelaskan ajaran-ajaran Al-Qur’an dengan cara merinci petunjuk yang
masih mujmal, atau muntakhsis yang masih „am, atau mentaqyid ayat yang
masih mutlak.
3. Menetapkan hukum yang tidak disebut di dalam Al-Qur’an.
Dengan tiga kategori di atas, berarti Al-Qaradawi mengakui fungsi Sunnah
Nabi tidak semata menerapkan dan menjelaskan Al-Qur’an, tetapi juga menetapkan
hukum atas persoalan yang belum diatur di dalam Al-Qur’an. Dengan fungsi ketiga
ini, maka peran Nabi saw adalah independen dan mandiri. Walaupun demikian ia

9
Ibid., hlm. 93.
10
Ibid., hlm. 97.
11
Ibid., hlm. 100.
12

tidak keluad dari fungsi pokoknya sebagai seorang yang diberi mandat untuk menjadi
penafsir utama dan pertama atas Al-Qur’an.12

2.3 Fenomena Munculnya Ingkar Sunnah

Ingkar sunnah terdiri dari dua kata yaitu Ingkar dan Sunnah. Ingkar, Menurut
bahasa, artinya “menolak atau mengingkari”, berasal darikata kerja, ankara-yunkiru.
Sedangkan Sunnah, menurut bahasa mempunyai beberapa arti diantaranya adalah,
“jalan yang dijalani, terpuji atau tidak,” suatu tradisi yang sudah dibiasakan dinamai
sunnah, meskipun tidak baik. Secara definitif Ingkar al-Sunnah dapat ddiartikan
sebagai suatu nama atau aliran atau suatu paham keagamaan dalam masyarakat Islam
yang menolak atau mengingkari Sunnah untuk dijadikan sebagai sumber san dasar
syari’at Islam.13
Secara bahasa pengertian hadits dan sunnah sendiri terjadi perbedaan
dikalangan para ulama, ada yang menyamakan keduanya dan ada yang membedakan.
Pengertian keduanya akan disamakan seperti pendapat para muhaditsin, yaitu suatu
perkataan, perbuatan, takrir dan sifat Rauslullah saw. Sementara Nurcholis Majid
berpendapat bahwa yang terjadi dalam sejarah Islam hanyalah pengingkaran terhadap
hadits Nabi saw, bukan pengingkaran terhadap sunnahnya. Norcholis Majid
membedakan pengertian hadits dengan Sunnah. Sunnah menurut beliau adalah
pemahaman terhadap pesan atau wahyu Allah dan teladan yang diberikan Rasulullah
dalam pelaksanaannya yang membentuk tradisi atau sunnah. Sedangkan hadits
merupakan peraturan tentang apa yang disabdakan Nabi saw. atau yang dilakukan
dalam praktek atau tindakan orang lain yang di diamkan beliau (yang diartikan
sebagai pembenaran).

12
Ibid., hlm. 102.
13
M. Noor Sulaiman PL, Antologi Ilmu Hadits, Cet. I, Penerbit. Gaung Persada Press,
Jakarta, 2008, hlm. 200.
13

Kata “Ingkar Sunnah” dimaksudkan untuk menunjukkan gerakan atau paham


yang timbul dalam masyarakat Islam yang menolak hadits atau sunnah sebagai
sumber kedua hukum Islam.14

Sejarah Ingkar Sunnah

a. Ingkar Sunnah Pada Masa Periode Klasik


Pertanda munculnya “Ingkar Sunnah” sudah ada sejak masa sahabat, ketika
Imran bin Hushain (w. 52 H) sedang mengajarkan hadits, seseorang menyela untuk
tidak perlu mengajarkannya, tetapi cukup dengan mengerjakan al-Qur’an saja.
Menanggapi pernyataan tersebut Imran menjelaskan bahwa “kita tidak bisa
membicarakan ibadah (shalat dan zakat misalnya) dengan segala syarat-syaratnya
kecuali dengan petunjuk Rasulullah saw. Mendengar penjelasan tersebut, orang itu
menyadari kekeliruannya dan berterima kasih kepada Imran.
Sikap penampikan atau pengingkaran terhadap sunnah Rasul saw yang
dilengkapi dengan argumen pengukuhan baru muncul pada penghujung abad ke-2
Hijriyah pada awal masa Abbasiyah.15
Di Indonesia, pada dasawarsa tujuh puluhan muncul isu adanya sekelompok
muslim yang berpandangan tidak percaya terhadap Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Dan tidak menggunakannya sebagai sumber atau dasar agama Islam. Pada akhir tujuh
puluhan, kelompok tersebut tampil secara terang-terangan menyebarkan pahamnya
dengan nama, misalnya, Jama‟ah al-Islamiah al-Huda, dan Jama‟ah al-Qur‟an dan
Ingkar Sunnah, sama-sama hanya menggunakan al-Qur’an sebagai petunjuk dalam
melaksanakan agama Islam, baik dalam masalah akidah maupun hal-hal lainnya.
Mereka menolak dan mengingkari sunnah sebagai landasan agama.16

14
Suyitno, Studi Ilmu-Ilmu Hadits, Cet. I, IAIN Raden Fatah Press, Palembang, 2006, hlm.
275.
15
Ibid,, hlm. 277.
16
Log. Cit, Antologi Ilmu Hadits, hlm. 200.
14

Imam Syafi’i membagi mereka kedalam tiga kelompok, yaitu :


1. Golongan yang menolak seluruh Sunnah Nabi SAW.
2. Golongan yang menolak Sunnah, kecuali bila sunnah memiliki kesamaan
dengan petunjuk al-Qur’an.
3. Mereka yang menolak Sunnah yang berstatus Ahad dan hanya menerima
Sunnah yang berstatus Mutawatir.17
Dilihat dari penolakan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kelompok
pertama dan kedua pada hakekatnya memiliki kesamaan pandangan bahwa mereka
tidak menjadikan Sunnah sebagai hujjah. Para ahli hadits menyebut kelompok ini
sebagai kelompok Ingkar Sunnah.
Argumen kelompok yang menolak Sunnah secara totalitas
Banyak alasan yang dikemukakan oleh kelompok ini untuk mendukung
pendiriannya, baik dengan mengutip ayat-ayat al-Qur’an ataupun alasan-alasan yang
berdasarkan rasio. Diantara ayat-ayat al-Qur’an yang digunakan mereka sebagai
alasan menolak sunnah secara total adalah surat an-Nahl ayat 89 :
 
  

“Dan kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur‟an) untuk menjelaskan
segala sesuatu….”
Kemudian surat al-An’am ayat 38 yang berbunyi:
    
 
“…Tidaklah kami alpakan sesuatu pun dalam al-Kitab…”

Menurut mereka kepada ayat tersebut menunjukkan bahwa al-Qur’an telah


mencakup segala sesuatu yang berkenaan dengan ketentuan agama, tanpa perlu

17
M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadits, Bandung: Angkasa 1991, hlm. 141.
15

penjelasan dari al-Sunnah. Bagi mereka perintah shalat lima waktu telah tertera dalam
al-Qur’an, misalnya surat al-Baqarah ayat 238, surat Hud ayat 114, al-Isyra’ ayat 78
dan lain-lain.18
Adapun alasan lain adalah bahwa al-Qur’an diturunkan dengan berbahasa
Arab yang baik dan tentunya al-Qur’an tersebut akan dapat dipahami dengan baik
pula.
Argumen kelompok yang menolak hadits Ahad dan hanya menerima hadits
Mutawatir.
Untuk menguatkan pendapatnya, mereka menggunakan beberapa ayat al-
Qur’an sebagai dallil yaitu, surat Yunus ayat 36:
     
  
“…Sesungguhnya persangkaan itu tidak berfaedah sedikitpun terhadap
kebenaran”.
Berdasarkan ayat di atas, mereka berpendapat bahwa hadits Ahad tidak dapat
dijadikan hujjah atau pegangan dalam urusan agama. Menurut kelompok ini, urusan
agama harus didasarkan pada dalil yang qath’i yang diyakini dan disepakati bersama
kebenarannya. Oleh karena itu hanya al-Qur’an dan hadits mutawatir saja yang dapat
dijadikan sebagi hujjah atau sumber ajaran Islam.

b. Ingkar Sunnah pada Periode Modern


Tokoh- tokoh kelompok Ingkar Sunnah Modern (akhir abad ke-19 dan ke-20)
yang terkenal adalah Taufik Sidqi (w. 1920) dari Mesir, Ghulam Ahmad Parvez dari
India, Rasyad Khalifah kelahiran Mesir yang menetap di Amerika Serikat, dan
Kasasim Ahmad mantan ketua partai Sosialis Rakyat Malaysia. Mereka adalah tokoh-
tokoh yang tergolong pengingkar Sunnah secara keseluruhan. Argumen yang mereka

18
Syuhudi Ismail, Hadits Nabi Menurut Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya, Jakarta :
Gema Insani Press, hlm. 16.
16

keluarkan pada dasarnya tidak berbeda dengan kelompok ingkar sunnah pada periode
klasik.
Tokoh-tokoh “ Ingkar Sunnah “ yang tercatat di Indonesia antara lain adalah
Lukman Sa’ad (Dirut PT. Galia Indonesia) Dadang Setio Groho (karyawan Unilever),
Safran Batu Bara (guru SMP Yayasan Wakaf Muslim Tanah Tinggi) dan Dalimi
Lubis (karyawan kantor Departemen Agama Padang Panjang).19
Sebagaimana kelompok ingkar sunnah klasik yang menggunakan argumen
baik dalil naqli maupun aqli untuk menguatkan pendapat mereka, begitu juga
kelompok ingkar sunnah Indonesia.20 Diantara ayat-ayat yang dijadikan sebagai
rujukan adalah surat an-Nisa’ ayat 87 :
   

Menurut mereka arti ayat tersebut adalah “Siapakah yang benar haditsnya
dari pada Allah”.
Kemudian surat al-Jatsiayh ayat 6:
   
 
Menurut mereka arti ayat tersebut adalah “Maka kepada hadits yang manakah
selain firman Allah dan ayat-ayatnya mereka mau percaya”.

Selain kedua ayat diatas, mereka juga beralasan bahwa yang disampaikan
Rasul kepada umat manusia hanyalah al-Qur’an dan jika Rasul berani membuat
hadits selain dari ayat-ayat al-Qur’an akan dicabut oleh Allah urat lehernya sampai
putus dan ditarik jamulnya, jamul pendusta dan yang durhaka. Bagi mereka Nabi
Muhammad tidak berhak untuk menerangkan ayat-ayat al-Qur’an, Nabi Hanya
bertugas menyampaikan.

19
M. Amin Djamaluddin, Bahaya Ingkar Sunnah, Jakarta: Ma’had ad-Dirasati al-Islamiyah,
1986, hlm. 1.
20
Ibid, hlm. 45 dan 27.
17

c. Lemahnya Argumen Para Pengingkar Sunnah


Ternyata argumen yang dijadikan sebagai dasar pijakan bagi para pengingkar
sunnah memiliki banyak kelemahan, misalnya :
1. Pada umumnya pemahaman ayat tersebut diselewengkan maksudnya sesuai
dengan kepentingan mereka. Surat an-Nahl ayat 89 yang merupakan salah
satu landasan bagi kelompok ingkar sunnah untuk maenolak sunnah secara
keseluruhan. Menurut al-Syafi’i ayat tersebut menjelaskan adanya kewajiban
tertentu yang sifatnya global, seperti dalam kewajiban shalat, dalam hal ini
fungsi hadits adalah menerangkan secara tehnis tata cara pelaksanaannya.
Dengan demikian surat an-Nahl sama sekali tidak menolak hadits sebagai
salah satu sumber ajaran. Bahkan ayat tersebut menekankan pentingnya
hadits.
2. Surat Yunus ayat 36 yang dijadikan sebagai dalil mereka menolak hadits ahad
sebagai hujjan dan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan istilah zhanni
adalah tentang keyakinan yang menyekutukan Tuhan. Keyakinan itu
berdasarkan khayalan belaka dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara
ilmiah. Keyakinan yang dinyatakan sebagai zhanni pada ayat tersebut sama
sekali tidak ada hubungannya dan tidak ada kesamaannya dengan tingkat
kebenaran hasil penelitian kualitas hadits. Keshahihan hadits ahad bukan
didasarkan pada khayalan melainkan didasarkan pada metodologi yang dapat
dipertanggung jawabkan.21

21
Mustafa Siba’i, Sunnah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam, diterjemahkan
oleh Nurcholis Majid, Jakarta: Pustaka Pirdaus, 1993, hlm. 122-125.
18

III
PENUTUP

Dari hasil pemaparan makalah di atas maka dapat penulis pahami bahwa,
kedudukan Sunnah (Hadits) dalam sumber ajaran Islam menempati urutan yang
kedua setelah Al-Qur’an. Sunah memiliki fungsi yang sangat penting dalam rangka
menetapkan suatu hukum yang masih bersifat umum dari Al-Qur’an. Sunah
merupakan segala yang berasal dari Rasulullah baik perkataan, perbuatan dan
ketetapan rasul. Dengan demikian dapat ditetapkan, bahwa yang benar datang dari
Rasulullah menjadi hujjah yang wajib diikuti oleh seluruh umatnya. Sehingga tidak
akan tergolong ke dalam orang-orang Ingkar Sunnah atau umat yang tidak menerima
dan melaksanakan sunah Rasulullah.
Kaitannya materi dalam makalah di atas dengan unsur pendidikan, yang dapat
penulis kutip dari pendapat Fadhil Al-Jamali dalam bukunya Tarbiyat al-Insan al-
Jadid : menyatakan sebagai berikut : “pada hakikatnya al-Qur’an itu adalah
merupakan perbendaharaan yang besar untuk kebudayaan manusia, terutama bidang
kerohanian. Pada umumnya Al-Qur’an adalah merupakan kitab pendidikan
kemasyarakatan, moril (akhlak) dan spiritual (kerohanian)”. Dari pernyataan tersebut
dapat penulis pahami bahwa kedudukan sunah sebagai penjelasan dari pada ayat-ayat
Al-Qur’an yang masih bersifat umum sehingga dapat memberikan tuntunan yang
jelas dalam rangka mengajarkan atau mendidik umat Islam untuk menjalani
kehidupan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.
19

DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, Membongkar Otoritas Sunnah Nabi Perspektif Yusuf Al-Qaradawi, Fakta


Press, Bandar Lampung, 2009

Catatan Kuliah Umum pada Program Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
dibawah bimbingan Dr.H.M. Quraisy Shihab, 1992.

M. Amin Djamaluddin, Bahaya Ingkar Sunnah, Jakarta: Ma’had ad-Dirasati al-


Islamiyah, 1986

M. Noor Sulaiman PL, Antologi Ilmu Hadits, Cet. I, Penerbit. Gaung Persada Press,
Jakarta, 2008

M. Syuhudi Ismail, Hadits Nabi Menurut Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya,


Jakarta : Gema Insani Press

--------, Pengantar Ilmu Hadist, Angkasa, Bandung, 1994

Mustafa Siba’i, Sunnah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam,


diterjemahkan oleh Nurcholis Majid, Jakarta: Pustaka Pirdaus, 1993

Suyitno, Studi Ilmu-Ilmu Hadits, Cet. I, IAIN Raden Fatah Press, Palembang, 2006

Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Sudi Ilmu Hadist, Pustaka Al-Kautsar,


Jakarta, 2004

Tengku Muhammad Hasby Ash-Shidieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist,


Pustaka Rizki Putra, Semarang, 1997