Anda di halaman 1dari 16

LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Meningkatkan Pemahaman Siswa Tentang Operasi Penjumlahan


Dan Pengurangan Pecahan Desimal Kelas IV SD Negeri II Sebalor Kec. Bandung
Kab.Tulungagung Melalui Metode Ceramah, Tanya Jawab, dan Penugasan.

Karya tulis diajukan untuk memenuhi


persyaratan dalam mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas

Tulungagung, .................................20....
Kepala
SD Negeri II Sebalor

_________________

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. JUDUL : Meningkatkan Pemahaman Siswa Tentang Operasi Penjumlahan


Dan Pengurangan Pecahan Desimal Di Kelas IV SD Negeri II
Sebalor Kec. Bandung Kab. Tulungagung Melalui Metode Ceramah,
Tanya Jawab Dan Penugasan.
B. BIDANG KAJIAN

: Strategi dan Desain Pembelajaran.

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Sebagai salah satu komponen dalam pendidikan, eksistensi guru menjadi hal
yang begitu penting peranannya. Guru bukan saja bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses belajar mengajar di dalam kelas, melainkan juga bertanggung
jawab terhadap keberhasilan proses belajar mengajarnya. Oleh karena itu,
walaupun pada

hakekatnya

murid

yang

belajar, namun

gurulah

yang

bertanggungjawab bahwa proses belajar itu terjadi dengan baik pada setiap siswa
(Nasution, 1982:92). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mutu pendidikan
banyak bergantung pada mutu guru dalam membimbing proses belajar siswa.
Matematika merupakan ilmu yang universal yang mendasari perkembangan
teknologi modern, mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu dan
memajukan daya pikir manusia. Tujuan dari pelajaran matematika pada
hakekatnya adalah untuk memotivasi serta membekali peserta didik dengan
kemampuan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, teori peluang dan
matematika diskrit, serta berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, dan
mempunyai

kemampuan

bekerjasama.

Sebagai

pengetahuan,

matematika

mempunyai ciri-ciri khusus antara lain abstrak, deduktif, konsisten, hierarkis, dan
logis. Soejadi (1999) menyatakan bahwa keabstrakan matematika karena obyek
dasarnya abstrak, yaitu fakta, konsep, operasi dan prinsip. Ciri keabstrakan
matematika beserta ciri lainnya yang tidak sederhana, menyebabkan matematika
tidak mudah dipelajari, dan pada akhirnya banyak kurang tertarik terhadap
matematika.
Begitu pentingnya pelajaran matematika, maka dalam melakukan proses
belajar mengajar guru harus lebih sensitif dalam menyesuaikan sasaran-sasaran
serta melalui pendekatan-pendekatan instruksional sesuai keperluan para siswa.
Gatot Muhsetyo (2007) menjelaskan bahwa pembelajaran matematika adalah
proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian
kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang
bahan matematika yang dipelajari.

Untuk memperoleh kompetensi tentang pembelajaran matematika tersebut,


diantaranya siswa harus dapat menguasai konsep konsep penjumlahan dan
pengurangan, salah satunya tentang pecahan desimal. Dalam pembelajaran materi
pecahan desimal, siswa harus mampu menguasai konsep-konsep penjumlahan dan
pengurangan, terutama tentang letak koma di belakang angka, serta dapat
menggunakannya dalam pemecahan masalah sehari hari.
Berdasarkan pengamatan penulis, dalam mengajarkan konsep-konsep
penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal di SD Negeri II Sebalor tidak
semua siswa dapat dengan mudah menguasainya. Berbagai masalah timbul dalam
proses belajar mengajar. Masalah yang timbul salah satunya anak masih lemah
pengetahuannya tentang pecahan desimal, yaitu tentang proses penjumlahan dan
pengurangan pecahan desimal antara satu angka dengan dua angka dibelakang
koma. Selain permasalahan di atas , permasalahan lain yang timbul adalah siswa
belum paham tentang letak koma pada hasil penjumlahan dan pengurangan
pecahan desimal. Pada hasil evaluasi penjumlahan pecahan desimal antara satu
angka dengan dua angka di belakang koma banyak di temukan kesalahan letak
koma. Begitu pula pada hasil pengurangannya. Pada evaluasi pun siswa yang
mendapat nilai di atas 50 hanya 40 %. Hal ini menunjukan rendahnya tingkat
penguasaan siswa terhadap materi pelajaran matematika.
Untuk mengatasi permasalahan pada pembelajaran matematika tersebut,
guru dituntut untuk memperbaiki proses pembelajaran tentang penjumlahan dan
pengurangan pecahan desimal. Guru dengan kemampuannya harus mampu
memperbaiki permasalahan tersebut dengan menerapkan berbagai metode
pembelajaran agar proses pembelajaran mendapat hasil yang memuaskan.
B. PERUMUSAN MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH
a. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, diperoleh rumusan
masalah pada pembelajaran Matematika pada materi operasi penjumlahan dan
pengurangan pecahan desimal, yaitu :

1. Bagaimana cara meningkatkan pemahaman siswa tentang operasi


penjumlahan pecahan desimal melalui metode ceramah, Tanya jawab dan
penugasan ?
2. Bagaimana cara meningkatkan pemahaman siswa tentang operasi
pengurangan pecahan desimal melalui metode ceramah, Tanya jawab dan
penugasan ?
b. Pemecahan Masalah
Pendekatan pemecahan masalah adalah suatu cara yang digunakan untuk
menyelesaikan dan menjawab permasalahan yang dihadapi. Dalam hal ini
permasalahan-nya adalah tentang Penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal.
Adapun pendekatan pemecahan masalah yang dimaksud adalah pendekatan
pemecahan masalah yang mengacu pada pendekatan Polya yaitu memahami
masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan sesuai rencana dan
memeriksa kembali proses dan hasil yang diperoleh.
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan penguasaan siswa dalam
pembelajaran Matematika. Untuk lebih jelasnya tujuan penelitian ini adalah sebagai
berikut :
a. Memotivasi siswa agar senang dengan pelajaran matematika.
b. Siswa dapat menguasai berbagai konsep penghitungan pada pembelajaran
matematika.
c. Siswa bisa melakukan operasi penjumlahan pecahan desimal.
d. Siswa bisa melakukan operasi pengurangan pecahan desimal.
e. Siswa dapat menentukan letak koma pada hasil penjumlahan dan pengurangan
pecahan desimal.
D. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Setelah melaksanakan penelitian pada mata pelajaran matematika, serta
melakukan perbaikan perbaikan pada proses pembelajaran, diperoleh manfaat
sebagai berikut :

a. Manfaat Penelitian Bagi Sekolah


Sebagai bahan masukan bagi sekolah ( SD ) untuk mengetahui dan menyiapkan
alat bantu / peraga dalam mata pelajaran matematika. Selain itu, sebagai tolak ukur
keberhasilan sekolah dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan untuk
masa sekarang dan masa yang akan datang.
b. Manfaat Penelitian bagi Guru
1.

Tujuan

pembelajaran

matematika

tentang

operasi

penjumlahan

dan

pengurangan pecahan desimal tercapai.


2.

Guru dapat menemukan berbagai metode pembelajaran sebagai upaya


memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar mengajar untuk waktu sekarang
dan waktu yang akan datang.

c. Manfaat Penelitian Bagi Siswa


1.

Pengetahuan siswa tentang konsep-konsep penghitungan pada pelajaran


matematika bertambah.

2.

Siswa merasa mendapat perhatian khusus dari guru sehingga akan timbul
motivasi untuk belajar.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
Penelitian Tindakan Kelas ini dikaji dari berbagai buku sumber yang relevan dengan
permasalahan yang sedang dibahas. Adapun landasan teoritis yang mendukung
terhadap permasalahan tersebut adalaha sebagai berikut :
a.

Motivasi
Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu. Jadi motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang
mendorong seseorang untuk belajar (Noehi Nasution, 1995 : 8). Secara
tradisional kita dapat membedakan adanya dua macam motivasi, yaitu motivasi
instrinsik dan motivasi ekstrinsik.
Motivasi instrinsik adalah motivasi yang ditimbulkan diri orang yang
bersangkutan, tanpa rangsangan atau bantuan dari orang lain.
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang ditimbulkan dari rangsangan atau
dorongan orang lain. Motivasi instrinsik pada umumnya lebih efektif dalam
mendorong seseorang untuk belajar dari pada motivasi ekstrinsik.
Peranan guru sebagai motivator dalam proses belajar mengajar sangatlah tepat,
sebab siswa dalam belajarnya kadang-kadang perlu mendapat motivasi dari
gurunya atau guru harus merangsang siswanya untuk lebih giat belajar dan
tidak mudah menyerah. Strategi belajar yang diterapkan guru harus
memungkinkan membangkitkan semangat siswa, misalnya melalui permainan.
Tujuan pengajaran umum matematika di SD diantaranya ialah siswa memiliki
kegemaran belajar matematika (Depdikbud, 1994/1995 : 48).

b.

Pengertian Belajar
Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu kalau padanya terjadi perubahan
tertentu, misalnya dari tidak dapat naik sepeda menjadi bisa naik sepeda, dari
tidak dapat menggunakan kalkulator menjadi dapat menggunakan kalkulator,
dan lain-lain. Namun tidak semua perubahan yang terjadi pada diri seseorang
terjadi karena orang tersebut telah belajar. Noehi Nasution (1995 : 2)
mengemukakan ciri-ciri kegiatan yang disebut belajar yaitu :

(a) Belajar adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu
yang belajar, baik aktual maupun potensial.
(b) Perubahan itu pada dasarnya berupa didapatkannya kemampuan baru yang
berlaku dalam waktu yang relatif lama.
(c) Perubahan itu terjadi karena usaha.
Selanjutnya belajar dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang
memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil
dari terbentuknya respon utama. Dengan syarat bahwa perubahan atau
munculnya tingkah baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau
oleh adanya perubahan sementara karena sesuatu hal.
c.

Pengertian Belajar Matematika


Matematika adalah suatu pelajaran yang tersusun secara logis, berjenjang dari
yang palig mudah hingga yang paling rumit. Dengan demikian pelajaran
matematika tersusun sedemikian rupa sehingga pengertian terdahulu mendasari
pengertian berikutnya.
Russefendi (1984 : 25) mengatakan bahwa : Program matematika supaya
diberikan secara bertahap agar si anak secara bertahap dapat mengkondisikan
konsep-konsep melalui kegiatan praktis maupun teoritis. Selanjutnya Herman
Hudoyo (1990 : 5) berpendapat bahwa : belajar matematika haruslah
menekankan

pada

pengertian

konsep-konsep

matematika

dan

proses

matematika melalui pemecahan masalah.


d.

Pengertian Desimal
Kata desimal berasal dari Bahasa Latin, yaitu decem yang artinya sepuluh.
Penggunaan sepuluh diduga dipengaruhi jumlah jari tangan kiri dan tangan
kanan ( atau kaki kiri dan kaki kanan ), dan menandai banyaknya lambing
dasar yang disebut angka (digit).
Sistem numerasi desimal adalah sistem numerasi yang berbasis sepuluh,
artinya bilangan 10 dipakai sebagai acungan pokok dalam melambangkan dan
menyebut bilangan. System ini berasal dari system Hindu Arab, berawal dari
India sekitar tahun 300 SM, berkembang di Timur Tengah (Bagdad) sekitar
tahun 750, sekitar abad 8 mulai digunakan di Spanyol (Spain) dan kemudian

berkembang di Eropa, serta mempunyai lambang baku sekitar pertengahan


abad 20 melalui penggunaan mesin ketik (typewriter) Untuk menulis naskah.
e.

Pecahan Desimal
Lambang bilangan rasional dalam notasi desimal disebut pecahan desimal.
Bilangan rasional dalam pecahan desimal dapat dibedakan menjadi :
1. Desimal berakhir (terminating decimal), yaitu desimal-desimal yang
mengandung sejumlah terhingga angka.
2. Pecahan berulang/periodic, yaitu desimal-desimal yang mengandung
serangkaian terhingga angka-angka yang berulang-ulang secara tak
terhingga.
3. Notasi desimal merupakan notasi yang

bersifat posisional, yaitu

menggunakan dasar nilai tempat, dan menggunakan basis sepuluh.


4. Notasi desimal dapat diperluas sehungga dapat dipergunakan untuk
menyatakan bilangan-bilangan yang nilainya kurang dari satu.
5. Desimal yang berakhir atau yang berulang selalu dapat dinyatakan sebagai
pecahan p : q dengan p, q Z dan q 0.
6. Desimal desimal yang tidak berakhir dan tidak berulang bukan merupakan
bilangan rasional sehingga dapat dinyatakan sebagai pecahan p : q dengan p,
q dengan p, q Z dan q 0.
7. Operasi penjumlahan dan pengurangan desimal mempunyai pola yang sama
dengan operasi-operasi yang sama pada bilangan bulat, tetapi perlu
memperhatikan peletakan atau penempatan tanda koma yang benar untuk
membedakan yang bulat dan yang tidak bulat.
8. Pembelajaran desimal dapat menggunakan bahan-bahan manipulatif atau
peraga yang dipakai pada pembelajaran bilangan rasional.

BAB III

RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN


A. Rencana dan Prosedur Penelitian
1. Subyek Penelitian, Tempat, Waktu dan Lama Tindakan
Pelaksanaan penelitian pembelajaran dilaksanakan pada siswa kelas IV di
SD Negeri II Sebalor Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung. Dengan
Jumlah siswa 15 orang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan.
Sedangkan yang menjadi topik penelitian tindakan kelas ini adalah
meningkatkan pemahaman siswa tentang operasi penjumlahan dan pengurangan
pecahan desimal melalui metode ceramah, tanya jawab dan penugasan. Prosedur
penelitian ini berlangsung selama 1 Bulan dari tanggal 1 Mei sampai 31 Mei 2013.
2. Prosedur Penelitian
Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini adalah model kemmis dan
M.Taggart dengan system spiral repleksi diri yang dimulai dengan cara tindakan,
pengamatan, refleksi, perencanaan kembali ( Kasbolah, 1998/1999 : 113).
Dalam model Kemmis dan M.Taggart ini, penelitian menggunakan dan
mengembangkan siklus (cycle) dengan dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai
dengan perubahan ke arah peningkatan dan perbaikan proses pembelajaran.
Sebelum dalam tahap siklus, dilaksanakan studi kelayakan sebagai penelitian
pendahuluan dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah dan ide yang tepat
dalam pengembangan proses pembelajaran di kelas.
Adapun alur penelitian ini dimulai dengan studi pendahuluan, hasilnya
dipertimbangkan untuk kemudian menyusun rencana tindakan, dilanjutkan dengan
pelaksanaan tindakan, observasi pelaksanaan tindakan, refleksi proses dan hasil
tindakan. Ini adalah sebagai siklus pertama belum menyelesaikan permasalahan,
maka dilanjutkan dengan siklus kedua, dimana rencana tindakannya berdasarkan
hasil refleksi dari siklus pertama. Demikian penelitian dilakukan siklus demi siklus
sampai permasalahan penelitian dapat dipecahkan.

Siklus kegiatan ini dapat digambarkan sebagai berikut :

PTK model Kemmis dan M. Taggart (Kasbolah, 1998/1999:144).


RENCANA
TINDAKAN
REFLEKSI
SIKLUS I
OBSERVASI

PELAKSANAAN
TINDAKAN

RENCANA
TINDAKAN
REFLEKSI
SIKLUS II
OBSERVASI

B. Jadwal Penelitian

PELAKSANAAN
TINDAKAN

No.

Kegiatan

1.

Identifikasi Masalah

2.
3.
4.
5.

Analisis dan
rumusan masalah
Menyusun rencana

Tanggal

Ket.

Mei

Mei

pembelajaran
Mempersiapkan alat
dan bahan
Menyusun instrumen
penelitian

Mei

Mei
X

Mei

Mei

6.

Melaksanakan PTK

7.

Menganalisis Data

Mei

8.

Merefleksikan
Merencanakan

Mei

9.
10.

Perbaikan
Menyusun Laporan

Mei
X

Mei

C. Biaya Penelitian
a. 15 lembar Kertas HVS 70 gsm

= Rp. 1.000,-

b. 1 lembar Kertas karton warna putih

= Rp. 2.500,-

c. 1 buah Spidol Marker warna hitam

= Rp. 5.500,+

Total Keseluruhan

D. Personalia Penelitian

= Rp. 9.000,-

Penelitian ini dilakukan oleh peneliti sendiri dengan dibantu oleh seorang guru yang
menjadi subyek penelitian.
1. Judul Penelitian

: Meningkatkan Pemahaman Siswa Tentang Operasi


Penjumlahan Dan Pengurangan Pecahan Desimal di Kelas
IV SD Negeri I Gandong Kec. Bandung Kab. Tulungagung
Melalui Metode Ceramah, Tanya Jawab Dan Penugasan.

2. Peneliti
Nama

: EKO WAHYUDIONO

Pangkat/Gol

:-

NIP

:-

Sekolah

: SD Negeri II Sebalor

Alamat Sekolah

: Desa Sebalor Kec. Bandung Kab. Tulungagung

Alamat Rumah

: Desa Ngadisuko Kec. Durenan Kab. Trenggalek

D. Daftar Pustaka

Asep Herry Hernawan, dkk. (2008).

Modul 10. Pengembangan Kurikulum dan

Pembelajaran: Perumusan Tujuan Pembelajaran. Jakarta ; Penerbit Universitas


Terbuka.
Gatot Muhsetyo, dkk. (2007). Pembelajaran Matematika SD. Jakarta ; Penerbit
Universitas Terbuka.
Hamalik, (1982). Mengajar: Azas-Metode-Teknik. Bandung ; PT. Pustaka Martiana.
IGAK Wardani, dkk. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta ; Penerbit Universitas
Terbuka.
Kasbolah, K. (1998). Penelitian Tindakan Kelas. Malang : Depdiknas.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 Sekolah Dasar Kelas IV, Dinas
Pendidikan Kabupaten Karawang.
M. Khafid dan Suyuti (2006). Buku Pelajaran Matematika Penekanan pada Berhitung
untuk Sekolah Dasar Kelas IV; Penerbit Erlangga.
Tim FKIP. (2008). Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta ; Penerbit
Universitas Terbuka.
Zaini.M. Sani dan Siti M. Amin (2006). Buku Matematika SD untuk Kelas IV ;
Penerbit ESSIS.

E. Lampiran

Surat Izin penelitian dari Kepala Sekolah

RPP

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG


DINAS PENDIDIKAN
UPT DINAS PENDIDIKAN KECAMATAN BANDUNG

SEKOLAH DASAR NEGERI II SEBALOR


Desa Sebalor Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung
Kode Pos 66274

SURAT IZIN PENELITIAN


Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama

: MUKAYAT

NIP

Pangkat / Gol. Ruang : Pembina Tk. I / IV b


Jabatan
Unit Kerja

: Kepala Sekolah
: SDN II Sebalor, Kec. Bandung, Kab. Tulungagung

Memberikan izin penelitian untuk penyusunan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) kepada :
Nama

: EKO WAHYUDIONO

NIP

:-

Pangkat / Gol.Ruang : Unit Kerja

: SDN II Sebalor, Kec. Bandung, Kab. Tulungagung

Waktu Penelitian

: 1 Mei 2013 s/d 31 Mei 2013

Judul PTK

: Meningkatkan Pemahaman Siswa Tentang Operasi


Penjumlahan Dan Pengurangan Pecahan Desimal Kelas
IV SD Negeri II Sebalor Kec. Bandung
Kab.Tulungagung Melalui Metode Ceramah, Tanya
Jawab, dan Penugasan..

Demikian surat keterangan ini saya buat dengan sebenarnya untuk dapat digunakan
sebagaimana mestinya.
Gandong,
April 2013
Kepala SDN II Sebalor

MUKAYAT
NIP.