Anda di halaman 1dari 45

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kekhadirat Allah SWT, karena pada


kesempatan ini CV. KREASI PLATINUM berdasarkan kontrak
layanan konsultansi Perencanaan Teknis Pasar Leling Barat dan Desa
Botteng Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat dari Dinas
Koperasi

Perindustrian

dan

Perdagangan,

dengan

ini

kami

mengajukan Laporan Akhir.


Laporan ini berisikan tentang petunjuk dan pedoman secara
teknis dan umum dalam pelaksanaan perencanaan ini sebelum
perencanaan di mulai di Lapangan dalam proses perencanaan di dua
titik yaitu Desa Leling Barat dan Desa Botteng Kabupaten Mamuju
Provinsi Sulawesi Barat secara terinci.
Akhirnya dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima
kasih kepada Kepala, Panitia dan seluruh Pegawai/ Staf Bidang
Perdagangan

Dinas

Koperasi

Perindustrian

dan

Perdagangan

Kabupaten Mamuju atas saran dan petunjuknya dalam penyelesaian


Laporan Akhir ini.

Laporan Akhir

Page 1

BAB 1.
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Berdasarkan Peraturan Menteri No. 91/M-DAG/PER/12/2014
tentang Juknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus selanjutnya
disebut DAK Bidang Sarana Perdagangan Tahun Anggaran 2015
dialokasian dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk
membantu

mendanai

kegiatan

bidang

perdagangan

yang

merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.


Kebijakan penggunanan DAK Bidang Sarana Perdagangan untuk
meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana perdagangan guna
meningkatkan kelancaran distribusi bahan kebutuhan pokok
masyarakat dalam rangka mendukung sistem logistik nasional,
pengamanan

perdagangan

dalam

negeri,

dan

peningkatan

kesejahteraan rakyat yang berkeadilan. Hal tersebut dicapai


dengan ;
1) Memantapkan ketersediaan dankondisi sarana distribusi untuk
mendukung kelancaran dan ketersediaan barang (khususnya
bahan

pokok)

sehingga

daya

beli

dan

kesejahteraan

masyarakat dapat terjaga, terutama di daerah yang memiliki

Laporan Akhir

Page 2

pottensi dan aktivitas perdagangan yang dilakukan secara


regular, serta daerah dengan kondisi sarana distribusi yang
tidak memadai secara kuantitas dan kualitas;
2) Memperluas sarana penyimpanan komoditas bagi petani dan
pengusaha kecil dan menengah untuk mendapatkan harga
terbaik dan menciptakan alternatif sumber pembiayaan guna
meningkatkan kesejahteraan, terutama di daerah sentra
komoditas yang termasuk dalam sistem resi gudang (SRG)
yang merupakan kegiatan yang berkaitan dengan penerbitan,
pengalihan, penjaminan, dan penyelesaian transaksi Resi
Gudang.
3) meningkatkan kuantitas dan kualitas peralatan, sarana dan
fasilitas

penunjang

kegiatan

tertib

ukur

sebagai

upaya

perlindungan konsumen, terutama di daerah yang memiliki


potensi Alat-alat Ukur, Takar, Timbang dan Perlengkapannya
(UTTP) yang cukup besar yang belum dapat ditangani serta
daerah dengan

kondisi

peralatan,

sarana,

dan fasilitas

kemetrologian yang kurang memadai; dan


Gubernur/bupati/walikota

diberikan

kewenangan

mengusulkan

kepada Menteri Perdagangan dalam melakukan perubahan


pemanfaatan antar subbidang sesuai ruang lingkup kegiatan DAK
Bidang Sarana Perdagangan sebagai akibat terjadinya force
majeur.
Laporan Akhir

Page 3

Pemerintah daerah menyediakan pembiayaan yang bersumber


dari

daerah

selain

dana

pendamping

sesuai

ketentuan

dan

prasarana

perundangan yang diperuntukkan bagi :


1) Biaya Operasional;
2) Biaya Perencanaan;
3) Biaya Pengawasan
4) Biaya Administrasi Pekerjaan;
5) Biaya

Pemeliharaan/perawatan

sarana

perdagangan;
6) Manajemen/pengelola Pasar dan gudang non SRG;
7) Penyiapan

tempat

penampungan

sementara

bagi

para

pedagang yang menjalankan aktivitas di lokai pasar tersebut;


8) Serta aspek lainnya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan DAK
Bidang Sarana Perdagangan.
Kebijakan Khusus Pembangunan dan Pengembangan Sarana
Distribusi Perdanganan Pasar diprioritaskan bagi kabupaten/kota
yang memiliki pasar tanpa bangunan, kabupaten/kota dengan
jumlah persentase pasar yang rusak, serta dengan memperhatikan
densitas penduduk.

Laporan Akhir

Page 4

BAB 2.
DASAR PETUNJUK TEKNIS
1. Pasar Berdasarkan Petunjuk Teknis

a. Pasar
Petunjuk teknis ini memberikan beberapa acuan umum dalam
merencanakan

kegiatan

pembangunan

dan

pengembangan sarana distribusi perdagangan berupa


pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah dan
Pemerintah Daerah, berupa Bangunan Utama Pasar, Sarana
Pendukung Lainnya, dan kios yang dimanfaatkan oleh
pedagang

kecil,

menengah,

swadaya

masyarakat

atau

koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan


proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar yang
meliputi:

1) Penentuan lokasi
Penentuan lokasi dalam pembangunan baru dan revitalisasi
Pasar (perluasan/renovasi) adalah sebagai berikut :

Laporan Akhir

Page 5

a) Telah memiliki embrio pasar, yang merupakan tempat


interaksi jual beli barang dagangan secara terus
menerus pada satu area/tempat yang tetap dan tidak
berpindah-pindah di suatu bangunan belum dalam
bentuk permanen atau dalam bentuk semi permanen;

b) Sesuai

dengan

Rencana

Tata

Ruang

Wilayah

kabupaten/kota setempat;
c) Lahan pasar merupakan lahan matang, siap bangun
dan tidak memerlukan pengurugan tanah;
d) Lahan merupakan milik / aset Pemerintah Daerah
Kabupaten Mamuju yang dibuktikan dengan sertifikat
kepemilikan yang sah dan tidak dalam keadaan
sengketa
e) Dalam hal lahan merupakan milik masyarakat adat
harus sudah ada penyerahan hak dari masyarakat adat
kepada

pemerintah

Kabupaten

Mamuju

untuk

dimanfaatkan bagi kepentingan umum (sarana distribusi


perdagangan) dan tidak dalam keadaan sengketa/
f) Tersedia akses jalan menuju pasar dan didukung
sarana transportasi umum.
g) Adanya surat jaminan dari pengelola pasar bahwa
pedagang yang direlokasi (pedagang lama) berhak
Laporan Akhir

Page 6

mendapatkan prioritas untuk menempati bangunan


pasar yang baru;
h) Berada di lokasi yang strategis dan dekat pemukiman
penduduk atau pusat kegiatan ekonomi masyarakat.

2) Batasan dan Karakteristik Pasar

Pembangunan dan pengembangan pasar tradisional/rakyat


harus berpedoman pada petunjuk teknis pelaksanaan DAK
Bidang Sarana Perdagangan. Agar petunjuk teknis ini dapat
tepat guna dan sesuai dengan pencapaian indikator kinerja
kegiatan

DAK

Bidang

Sarana

Perdagangan

Tahun

Anggaran 2015, maka karakteristik pasar yang diharapkan


dalam petunjuk teknis ini adalah pada pasar yang memiliki
karakteristik sebagai berikut:
a) Cakupan wilayah. Pembangunan/pengembangan pasar
berada dekat wilayah pemukiman yang diutamakan
pada tingkat kecamatan maupun pedesaan. Adapun
untuk mendukung pembangunan kawasan perbatasan,
lokasi pembangunan pasar diprioritaskan pada Lokasi
Prioritas yang tercantum pada Lampiran 1.3 petunjuk
teknis ini. Namun demikian, lokasi pembangunan pasar
tetap memperhatikan kriteria penentuan lokasi di atas.

Laporan Akhir

Page 7

b) Waktu beroperasi secara regular atau rutin atau minimal


beroperasi 2 (dua) sampai 3 (tiga) kali dalam seminggu.

c) Pasar heterogen yang diutamakan menjual komoditi


bahan kebutuhan pokok yang dijual secara eceran.

3) Lingkup Kegiatan
Kegiatan

pembangunan

dan

pengembangan

sarana

distribusi perdagangan (pasar) terdiri dari:


a. Pembangunan Baru
Pembangunan
Bangunan

Baru

Utama

hanya

Pasar

dan

diperbolekan
Sarana

untuk

Pendukung

Lainnya.
(1) Bangunan Utama Pasar
(2) Sarana Pendukung Lainnya meliputi:
(a) Kantor Pengelola
(b) Toilet /WC
(c) Tempat Beribadah (Musholla)
(d) Drainase (Ditutup dengan Grill)
(e) Tempat Penampungan Sampah Sementara
(f) Tempat Parkir

Laporan Akhir

Page 8

(g) Area Penghijauan;


(h) Instalasi/Sarana

Air

Bersih

dan

Jaringan/Instalasi Listrik.
Hal-hal yang tidak diperbolehkan dalam pembanguan
baru adalah sbagai berikut;
(1) Hanya membangun sarana pendukung lainnya;
(2) Pengurugan tanah dan pengaspalan jalan;
(3) Hanya membangun pagar;
(4) Hanya membangun taman;
(5) Hanya melakukan pengecatan;
(6) Hanya perbaikan atap;
(7) Hanya perbaikan /pembuatan lantai
b. Revitalisasi
Revitalisasi Pasar dapat berupa perluasan bangunan
pasar atau renovasi
(1) Perluasan Pasar
Perluasan pasar hanya dapat dilakukan terhadap
pasar yang tidak dapat lagi menampung pedagang
pada bangunan utama pasar yang lama.
Perluasan

pasar

hanya

diperbolehkan

untuk

Bangunan Utama Pasar dan bila dana masih


tersedia dapat dipergunakan untuk membangun
Sarana Pendukung lainnya;
Laporan Akhir

Page 9

(a) Bangunan Utama Pasar


(b) Sarana Pendukung Lainnya meliputi;
i.

Kantor Pengelola

ii.

Toilet /WC

iii.

Tempat Beribadah (Musholla)

iv.

Drainase (Ditutup dengan Grill)

v.

Tempat Penampungan Sampah Sementara

vi.

Tempat Parkir

vii.

Area Penghijauan;

viii.

Instalasi/Sarana

Air

Bersih

dan

Jaringan/Instalasi Listrik.
Hal-hal yang tidak diperbolehkan dalam perluasan
pasar sebagai berikut;
i.

Hanya

membangun

sarana

pendukung

lainnya;
ii.

Pengurugan tanah dan pengaspalan jalan;

iii.

Hanya membangun pagar;

iv.

Hanya membangun taman;

v.

Hanya melakukan pengecatan;

vi.

Hanya perbaikan atap;

vii.

Hanya perbaikan /pembuatan lantai

(2) Renovasi Pasar


Laporan Akhir

Page 10

Renovasi

adalah

melakukan

perbaikan

yang

diprioritaskan terhadap bangunan utama pasar yang


meliputi

Los

(terdiri

Selasar/Koridor/Gang
sehingga

dapat

dari
yang

beberapa
sudah

meningkatkan

lapak),

tidak

nilai

layak,

aset

fisik

terhadap pasar; tanpa mengubah lokasi tempat


kedudukan bangunan Pasar (pasar berada pada
lokasi lama). Bila dana masih tersedia dapat
dipergunakan untuk membangun Sarana Pendukung
lainnya dan kemudian renovasi kios.

Syarat renovasi didasarkan atas rekomendasi


dari instansi yang membidangi pekerjaan umum
dan dibuktikan melalui foto terakhir, dimana
bangunan utama pasar sudah tidak dapat berfungsi
secara optimal. Renovasi pasar dapat dilakukan
untuk 1 (satu) di 1 lokasi utama atau paling banyak
di 3 (tiga) lokasi berbeda, dengan terlebih dahulu
menyiapkan tempat penampungan sementara bagi
para pedagang yang menjalankan aktivitas di lokasi
pasar tersebut dan memberikan prioritas kepada
pedagang lama Sarana Pendukung Lainnya meliputi:

Laporan Akhir

Page 11

(a) Kantor Pengelola,


(b) Toilet/WC,
(c) Tempat Ibadah (Musholla),
(d) Drainase (Ditutup dengan Grill),
(e) Tempat Penampungan Sampah Sementara,
(f) Tempat Parkir, (g) Area Penghijauan,
(h) Instalasi/Sarana Air Bersih dan Jaringan/Instalasi
Listrik.

Laporan Akhir

Page 12

BAB 3.
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1. Aspek Geografis dan Demografi


2.1.1. Letak dan Luas Wilayah

Secara Geografis Kabupaten Mamuju terletak pada Bagian Barat


Pulau Sulawesi dan berposisi pada bentangan Selat Makassar, yakni
1 38 110 2 54 552 Lintang Selatan, 11 54 47 13 5 35
Bujur Timur , Jakarta (0 0 0 , Jakarta = 160 48 28 Bujur Timur
Green Witch). Dengan batas wilayah :
a. Sebelah Utara dengan Kabupaten Mamuju Utara
b. Sebelah Timur dengan Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi
Selatan
c. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Majene, Kabupaten Tana
Toraja dan Kabupaten Mamasa
d. Sebelah Barat dengan Selat Makassar.

Kabupaten Mamuju dengan luas wilayah 801.406 Ha, secara


administrasi Pemerintahan, terdiri atas 16 Kecamatan, 143 Desa, 10
Kelurahan, dan 4 (UPT) Unit Pemukiman Transmigrasi. Diantara 16
Kecamatan yang ada di Kabupaten Mamuju, 15 kecamatan berada di
wilayah daratan dan 1 kecamatan di wilayah kepulauan.
Ibukota Kabupaten terletak di Kecamatan Mamuju. Berdasarkan
orbitasi, Kecamatan yang letaknya terjauh dari ibukota kabupaten
adalah Ibukota Kecamatan Karossa (Karossa) yaitu sejauh 171 Km,
Laporan Akhir

Page 13

dan ibukota kecamatan yang terdekat dari ibukota kabupaten adalah


Kecamatan Simboro yang berjarak 6 Km dari Mamuju.
Kabupaten Mamuju juga memiliki wilayah kepulauan yakni Kecamatan
Kepulauan

Bala-balakang,

yang

merupakan

pemekaran

dari

Kecamatan Simboro dan Kepulauan. Pulau-pulau yang termasuk


dalam wilayah Kecamatan Kepulauan Bala-balakang adalah Pulau
Salissingang,

Samataha,

Popoongang,

Saboyang,

Malamber,

Sumanga, Sabakatang, Ambo, Seloang, Lamudaan, Tapilagan dan


Pulau Lumu, yang letaknya di Selat Makassar dan berbatasan dengan
Pulau Kalimantan.
2.1.2. Luas Wilayah

Mengenai luas wilayah perkecamatan, jumlah Desa dan Kelurahan


serta UPT pada masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel
2.1 berikut ini :
Tabel 2. 1. Luas Wilayah, Jumlah Desa, Kelurahan dan UPT pada
Masing-masing Kecamatan di Kabupaten Mamuju
No.

Kecamatan

Luas

Prosentas

Desa/

(Ha)

UPT

Kelurahan

1.

Tapalang

50.411

6,29

2.

Tapalang Barat

12.714

1,59

3.

Mamuju

16.024

2,00

4.

Simboro

9,169

1,14

6/1

5.

Kalukku

46.199

5,76

11/1

6.

Kalumpang

177.821

22,19

13

7.

Bonehau

95.076

11,86

8.

Papalang

16.043

2,00

9.

Sampaga

9.594

1,20

Laporan Akhir

Page 14

10.

Pangale

23.252

2,90

11.

Tommo

58.828

7,34

14

12.

Budong-Budong

114.043

14,23

11

13.

Topoyo

54.388

6,79

15

14.

Tobadak

10.013

1,25

15.

Karossa

106.931

13,34

11/2

16.

Kep. Bala-balakang

9.000

0,11

801.406

100,00

143/4

10

Jumlah

2.1.3. Topografi
Keadaan topografi Kabupaten Mamuju pada umumnya adalah daerah
dengan curah hujan tinggi dan daerah yang tidak curam dengan
kisaran kemiringan antara 15 persen - 45 persen. Kondisi ini
mempengaruhi topografi wilayah sehingga bervariasi mulai dari
daerah datar, landai dan daerah agak curam. Hal ini juga
mempengaruhi tingkat kepekaan tanah terhadap erosi, yakni daerah
yang cukup stabil, daerah yang terancam dan daerah yang rentan
erosi.
Bagian wilayah dengan kemiringan lereng antara 0 2 persen luas
terbesar terdapat di wilayah Kecamatan Budong-Budong, yakni
30.048 Ha atau 26,55 persen. Sedang untuk kemiringan lereng antara
2 persen - 15 persen terdapat di Kecamatan Kalumpang seluas
25.066 Ha atau 30,52 persen dan bagian wilayah dengan kemiringan
antara 15 persen - 25 persen luas terbesar juga berada di Kecamatan
Kalumpang yakni 105.735 Ha atau 47,01 persen. Untuk kemiringan di
atas 40 persen juga terdapat di Kecamatan Kalumpang yakni 77.890
Ha.

Laporan Akhir

Page 15

Jika dicermati konfigurasi wilayah Kabupaten Mamuju menurut


kemiringan lereng, maka bagian wilayah yang termasuk datar adalah
bagian sebelah Barat yang berbatasan dengan Selat Makassar.
Sebaliknya, semakin ke Timur secara gradual juga tingkat kemiringan
ini semakin tinggi dengan kondisi lahan yang bergelombang dan
berbukit.
Ditinjau dari aspek ketinggian wilayah, Kabupaten Mamuju dapat
dibedakan menjadi 6 (enam) zona masing-masing zona dengan
ketinggian antara 0 25 m, zona antara 25 m 100 m, zona dengan
ketinggian antara 100 m 500 m, zona dengan ketinggian 500 m
1.000 m, zona dengan ketinggian antara 1.000 m 1.500 m dan zona
dengan ketinggian di atas 1.500 m.
Secara umum berdasar zona ketinggian di atas menunjukkan bahwa
pada Bagian Selatan sebagian besar mempunyai ketinggian di bawah
100 m, sedang semakin ke Utara ketinggiannya semakin meningkat
rata-rata di atas 500 m. Secara proporsional, ketinggian wilayah
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
a. Zona ketinggian 0 25 M dengan luas 35.875 Ha atau 4,43 persen
b. Zona ketinggian 25 m 100 m dengan luas 130.186 Ha atau 16,06
persen
c. Zona ketinggian 100 m 500 m dengan luas 206.106 Ha atau 25,46
persen
d. Zona dengan ketinggian 500 m 1.000 m dengan luas 159.769 Ha
atau 19,71 persen
e. Zona dengan ketinggian 1.000 m 1.500 m dengan luas 128.669
Ha atau 16,06 persen
f. Zona dengan ketinggian di atas 1.500 m dengan luas 148.714 Ha
atau 16,06 persen

2.1.4. Tanah dan Kandungan Geologi

Laporan Akhir

Page 16

Berdasar data geologi Kabupaten Mamuju, jenis tanah di daerah ini


dapat digolongkan 5 (lima) jenis, yakni tanah Alluvial, Regosol,
Andosol dan tanah Mediteran. Kandungan dari masing-masing jenis
tanah tersebut dapat dilihat pada tabel 2.2
Tabel : 2.2. Jenis & Kandungan Tanah di Kabupaten Mamuju.
No.

Jenis Tanah Keterangan

1.

Aluvial

Bahan induk endapan liat dan pasir endapan (lanau)


dan endapan marin dengan bentuk wilayah pada
umumnya datar termasuk kelas satu (tidak peka erosi)

2.

Regosol

Bahan induk endapan pasir tufa volkan masam


sampai intermediat dan tufa volkan alkali, bentuk
wilayah berombak, bergelombang sampai berbukit
termasuk kelas lima (sangat peka erosi)

3.

Rensial

Bentuk wilayah berbukit dengan bahan induk tuff dan


kapur karang bertuffa termasuk kelas lima (sangat
peka erosi)

4.

Andosol

Bentuk wilayah bergunung dan bahan induk tufa


vulkan masam dan alkali termasuk kelas empat (peka
erosi)

5.

Mediteran

Bentuk wilayah berombak sampai bergelombang


dengan bahan induk tufa vulkan masam sampai
intermediat, servih bertufa, kompleks serpi bertufa,
kompleks servih batuan pasir dan tufa batuan pletonik,
basah termasuk kelas tiga (agak pekah erosi)

Sedang untuk kandungan geologi di Kabupaten Mamuju secara garis


besarnya dibagi menjadi 2 (dua), yakni kelompok bahan galian
konstruksi dan kelompok galian industri. Berdasar data pada

Laporan Akhir

Page 17

Departemen Pertambangan dan Energi, diketahui bahwa untuk


kelompok bahan galian konstruksi meliputi :
a. Granodiorit, tersebar di daerah Salubiro dan Bulukaling Kecamatan
Karossa dengan perkiraan cadangan volume sebesar 58.443.750
meter kubik.
b. Granit, tersebar di daerah Takandeang dan Pasada Kecamatan
Tapalang serta di daerah Kamande, Lebeng, Sulumayang Kecamatan
Kalukku dan di Tamasapi, Takaurangang Kecamatan Mamuju serta di
Kecamatan Simkep dengan perkiraan volume sekitar 59.218.780
meter kubik.
c. Batu Gamping, tersebar di daerah Sulunggadua, Marabau,
Kalukambeo, Botteng Kecamatan Mamuju, di Pakarawang Kecamatan
Kalumpang, dan di Takandeang, Tajimane Kecamatan Tapalang
dengan perkiraan volume sekitar 342.635.800 meter kubik.
d.

Batu

Pasir,

tersebar

di

daerah

Kombiling,

Kalukumbeo,

Salupangkang dan Topoyo Kecamatan Topoyo, di Barakang Pangale,


Bajo Kecamatan Pangale, di Salumabongi, Ranga-Ranga dan
Balakalumpang

Kecamatan

Kalukku

dengan

volume

sekitar

630.887.500 meter kubik.


e. Konglomerat, tersebar di daerah Passapa, Tangkau, Topoyo Baru
di Kecamatan Budong-Budong, di daerah Lebeng, Gentungan
Kecamatan Kalukku dan Rangas, Tumuki Kecamatan Mamuju serta
Tapana, Tamao dan Pempioang Kecamatan Tapalang dengan volume
sekitar 134.475.000 meter kubik.
f. Breksi Vulkanik, tersebar di daerah Belang-belang, Guliling,
Rantedango, Sinyonyoi Kecamatan Kalukku, dan Bone-Bone, Sodo,
Bayor-Bayor Kecamatan Mamuju dengan volume sekitar 154.462.500
meter kubik.

Laporan Akhir

Page 18

Sementara untuk kelompok bahan galian industri meliputi :


a. Batu Sabak, tersebar di daerah Tobinta, Salubejau dan Salubarana
Kecamatan Karossa dengan cadangan volume sekitar 22.050.000
meter kubik.
b. Sekis, tersebar di daerah Tabolang, Kalando dan Batusitanduk
Kecamatan

Budong-Budong

dengan

cadangan

volume

sekitar

2.200.000 meter kubik.


c. Batu Gamping, terdapat di daerah Salupangkang Kecamatan
Topoyo dengan cadangan volume sekitar 5.625.000 meter kubik.
d. Tuff, tersebar di daerah Boang, Sumare, Tinaungan Kecamatan
Simkep dan di Nipa-nipa, Pansiangan Kecamatan Tapalang Barat
dengan cadangan volume sekitar 15.581.250 meter kubik.
e. Lempung, tersebar di daerah Karossa, Benggaulu, Durikumba,
Lara, Salubarana dan Tomemba Kecamatan Karossa dengan
cadangan volume sekitar 1.297.575.000 meter kubik.
2.1.5. Hidrologi dan Klimatologi

Secara klimatologis Kabupaten Mamuju tidak memiliki perbedaan


dengan daerah lain di Indonesia yaitu hanya dikenal dua musim, yaitu
musim kemarau dan penghujan. Pada bulan Juni sampai dengan
September arus angin bertiup dari Australia dan tidak banyak
mengandung uap air, sehingga mengakibatkan musim kemarau.
Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin
yang banyak mengandung uap air berhembus dari Asia dan
Samudera Pasifik sehingga terjadi musim hujan.
Curah hujan di Kabupaten Mamuju tertinggi terjadi pada bulan Januari
sebesar 3 926,0 mm kubik dengan hari hujan 111. Sedangkan curah
hujan terendah terjadi pada bulan Maret 1 422 mm kubik dengan
Laporan Akhir

Page 19

jumlah hari hujan 72, dan mempunyai kelembaban udara berkisar


antara 70 persen sampai 80 persen atau rata-rata kelembaban udara
berkisar 75 persen.
Keadaan alam Kabupaten Mamuju secara garis besar beriklim tropis.
Suhu udara berkisar antara 27 31 derajat Celcius atau rata-rata 29
derajat Celcius. Kelembaban udara rata-rata antara 70 persen - 80
persen, kecepatan angin 10,8 km/jam dan tekanan udara berkisar
1.010,7 Milibar serta penyinaran matahari mencapai 75,8persen.
Menurut klasifikasi Schmitt dan Ferguson type iklim di Kabupaten
Mamuju bervariasi B, C, D dan E seperti tabel 2.3.
Tabel 2. 3. Data Type Iklim Kabupaten Mamuju
No.

Type Iklim

Bulan Basah

Bulan Kering

Luas (Ha)

1.

B1

7 9 bulan

Di bawah 2 bulan

485.226

2.

C1

5 6 bulan

Di bawah 2 bulan

331.205

3.

D1

3 4 bulan

Di bawah 2 bulan

108.612

4.

E1

di bawah 3 bulan

Di bawah 2 bulan

36.679

5.

B2

7 9 bulan

Di bawah 3 bulan

60.063

6.

C2

5 6 bulan

2 3 bulan

83.994

Sedangkan untuk curah hujan di Kabupaten Mamuju adalah 1.000 mm


per hari dan rata-rata hari hujan sebanyak kurang lebih 114 hari per
tahun. Mengenai data curah hujan tersebut dapat dilihat pada tabel
2.4.

Tabel 2. 4.
Rata-Rata Curah Hujan Per Tahun di Kabupaten Mamuju, 2009
No.

Bulan

Laporan Akhir

Curah Hujan

Hari Hujan

Page 20

1.

Januari

3142

13

2.

Februari

7986

10

3.

Maret

8456

4.

April

12.917

12

5.

Mei

11.109

10

6.

Juni

3.771

7.

Juli

4.263

8.

Agustus

3.440

9.

September

2.518

10.

Oktober

6.524

11.

November

11.156

12

12.

Desember

11.093

11

2.1.6. Potensi Pengembangan Wilayah


Kabupaten Mamuju memiliki karakteristik wilayah yang agak berbeda
dengan yang lainnya. Karakteristik inilah yang menjadi modal daya
saing bagi Kabupaten Mamuju.
Wilayah Kabupaten Mamuju yang membentang dari Kec. Tapalang
sampai Kec. Karossa. Dan dari arah pantai sampai pada pegunungan
seperti Kec. Kalumpang. Kawasan nelayan sepanjang garis pantai di
pantai barat. Kawasan pertanian pangan di dataran rendah seperti
Kec. Kalukku, Kec. Pangale, Kec. Tommo. Kawasan perkebunan di
dataran lereng-lereng dan perbukita yang tidak terlalu tinggi seperti
Kec. Karossa, Kec. Tobadak, Kec. Budong-budong bagian atas.
Di samping keberagaman fisik juga keberagaman etnis seperti Jawa,
Madura, Bali, Lombok, Sunda, Batak, Bugis, Makassar, Toraja, Timor
dan lokal Mandar-Mamuju. Demikian juga keberagaman budaya dan
agama yang kesemuanya tadi memberikan pengaruh terhadap
pengelolaan sumber daya alam yang ada di tempat tersebut.

Laporan Akhir

Page 21

2.1.6.1. Kawasan Perkotaan

Dengan melihat dengan keberagaman fisik dan non fisik Kabupaten


Mamuju maka berdasarkan kajian rancangan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Mamuju 2011-2031, bahwa untuk pengembangan
sistem Perkotaan sebagai berikut :
a. Pusat Kegiatan Nasional Promosi (PKNp) = Mamuju, Tampa
padang dan Belang-Belang.
b. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) :
1) Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) Tapalang dan sekitarnya, yang
terdiri dari Kecamatan Tapalang, dan Tapalang Barat.
2) Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) Kalumpang dan sekitarnya, terdiri
dari Kecamatan Bonehau, dan Kecamatan Kalumpang.
3) Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) Pangale dan sekitarnya, terdiri
dari Kecamatan Pangale, Kecamatan Sampaga, Kecamatan Papalang
dan Kecamatan Tommo.
4) Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) Topoyo dan sekitarnya, terdiri
dari Kec. Topoyo, Kec. Budong-budong, Kec. Tobadak dan Kec.
Karossa.
c. Pusat Pelayanan Lingkungan merupakan pusat-pusat kegiatan
yang meliputi masing-masing kecamatan di Kabupaten Mamuju.

Kemudian untuk pengembangan wilayah pada sistem Perkotaan


adalah :
(1) Berpusat di Kota Mamuju dengan wilayah pengaruh Kecamatan :
Mamuju, Tampa padang dan Belang-Belang, PKNp MATABE
diarahkan untuk :
a. Kawasan terpadu kegiatan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK) Pelabuhan Belang-Belang.

Laporan Akhir

Page 22

b. Perdagangan;
c. Pergudangan;
d. Petikemas;
e. Simpul intermoda transportasi laut, udara, darat dan kereta api.
(2) Pusat pengembangan di Kota Galung Kecamatan Tapalang, Pusat
Pelayanan Kawasan (PPK) Tapalang dan sekitarnya diarahkan untuk :
a. Pusat pengembangan perikanan laut;
b. Pengembangan tanaman perkebunan (kakao/cokelat);
c. Pengembangan tanaman pangan (padi dan sayur-sayuran);
d. Pengembangan obyek wisata pantai.
(3) Pusat pengembangan di Kota Kalumpang Ibukota Kecamatan
Kalumpang, Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) Kalumpang dan
sekitarnya diarahkan untuk:
a. Pengembangan kawasan industri rumah tangga (Home Industries);
b. Pengembangan tambang galian mineral (batu bara, emas, besi, dan
galian golongan C);
c. Pengembangan PLTA;
d. Pengembangan perkebunan tanaman tahunan (kopi, kemiri, kakao
dan mangga);
e. Pengembangan perikanan tambak (budi daya ikan air tawar);
f. Pengembangan peternakan;
g. Pengembangan lokasi wisata sejarah dan alam.
(4) Pusat Pengembangan di Pangale, Pusat Pelayanan Kawasan
(PPK) Pangale dan sekitarnya, diarahkan :
a. Pengembangan pertanian tanaman pangan;
b. Pengembangan perkebunan;
c. Pengembangan tanaman buah-buahan, perikanan darat (budi daya
tambak);
d. Pengembangan wisata tirta (pantai).

Laporan Akhir

Page 23

(5) Pusat pengembangan di Kota Topoyo, Pusat Pelayanan Kawasan


(PPK) Topoyo dan sekitarnya diarahkan :
a. Pusat pengembangan tanaman perkebunan (Kelapa Sawit, Kakao,
dan Jeruk);
b. Pengembangan Perikanan darat (tambak) dan laut;
c. Pengembangan tanaman pangan dan holtikultura;
d. Pengembangan hasil hutan (kayu, rotan dan damar);
e. Pengembangan wisata tirta/pantai dan alam (air terjun).

2.1.6.2. Kawasan perdesaan


Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan
utama pertanian, termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan
susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan,
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan
ekonomi. Berdasarkan karakterisitknya, kawasan perdesaan di
Kabupaten Mamuju berada di Kec. Tapalang, Kec. Tapalang Barat,
Kec. Bonehau, Kec. Kalumpang, Kec. Papalang, Kec. Sampaga, Kec.
Tommo, Kec. Budong- Budong, Kec. Pangale, Kec.Topoyo, Kec.
Karossa dan Kec. Tobadak dan sebagian di wilayah Kec. Simboro,
Kec. Mamuju, Kec. Kalukku, dengan jumlah desa secara keseluruhan
sebanyak 143 desa.
2.`1.7. Pola ruang
Pola ruang merupakan alokasi pemanfaatan ruang yang prinisipnya
merupakan perwujudan dari upaya pemanfaatan sumberdaya alam di
suatu wilayah melalui pola pemanfaatan yang diyakini dapat
memberikan suatu proses pembangunan yang berkelanjutan.
2.1.7.1. Kawasan Lindung
Berdasarkan kajian dalam rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Mamuju 2011-2031, Kawasan lindung adalah kawasan
yang

ditetapkan

Laporan Akhir

dengan

fungsi

utama

melindungi

kelestarian

Page 24

lingkungan hidup dan pengelolaannya dilakukan melalui upaya


penetapan, pelestarian dan pengendalian pemanfaatan kawasan
lindung yang dilakukan untuk mencegah timbulnya fungsi lingkungan
hidup.
Pola ruang untuk kawasan lindung meliputi :
a. Kawasan Hutan Lindung;
b.

Kawasan

yang

memberi

perlindungan

terhadap

kawasan

bawahannya;
c. Kawasan perlindungan setempat;
d. Kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan kawasan
cagar budaya;
e. Kawasan rawan bencana alam;
f. Kawasan lindung geologi;
g. Kawasan lindung lainnya.
Pengaturan kawasan lindung
Kawasan hutan lindung memiliki pengaturan sebagai berikut:
a. Hutan lindung yang telah ada berdasarkan peraturan atau
perundangan yang berlaku tetap dipertahankan.
b. Penggunaan lahan yang telah ada (pemukiman, sawah, tegalan,
tanaman tahunan, dan lain-lain) dalam kawasan ini perlu adanya
pembatasan pendirian bangunan baru untuk pemukiman, sehingga
fungsi lindung yang diemban dapat dilaksanakan.
c. Penggunaan lahan yang akan mengurangi fungsi konservasi secara
bertahap dialihkan fungsinya sebagai kawasan lindung sesuai
kemampuan dana yang ada.
d. Penggunaan lahan baru tidak diperkenankan bila tidak menjamin
fungsi lindung terhadap hidrologis, kecuali jenis penggunaan yang
sifatnya tidak bisa dialihkan (menara TV, jaringan listrik, telepon, air
minum, dll) hal tersebut tetap memperhatikan azas konservasi.

Laporan Akhir

Page 25

Adapun Kawasan hutan lindung di Kabupaten Mamuju sebesar


689.440,37 ha, dengan perlindungan kawasan bawahannya meliputi
kawasan konservasi dan resapan air yang memiliki pengaturan antara
lain:
a. Di areal hutan produksi dengan pengelolaan yang baik;
b. Di areal kebun/ tegalan dikembangkan diversifikasi tanaman
tahunan perkebunan dan tanaman tahunan buah-buahan yang sesuai
dan pencegahan erosi;
c. Di areal lahan kritis diusahakan perkerasan dan penanaman
tanaman tahunan perkebunan, buah-buahan atau tanaman kayukayuan untuk bangunan/ perkakas rumah tangga.
d. Di areal permukiman diusahakan dengan cara :
1) Pemeliharaan teras sebaik mungkin;
2) Penanaman pohon buah-buahan, perkebunan maupun kayukayuan dipekarangannya;
3) Minimal tersedia sebagian lahan pekarangan untuk serapan air
hujan.
2.1.7.2. Kawasan Perlindungan
(1) Kawasan perlindungan setempat meliputi :
a. Kawasan sempadan sungai;
b. Kawasan terbuka hijau kota.
(2) Kawasan sempadan sungai terletak di :
a. Kawasan sekitar Sungai Karama anak sungainya;
b. Kawasan sekitar Sungai Budong-Budong dan anak sungainya.
(3) Kawasan terbuka hijau kota adalah ruang terbuka hijau di
Kabupaten Mamuju termasuk adalah Ruang Terbuka Hijau Jalan,
Ruang Terbuka Hijau milik pihak Swasta dan Ruang Terbuka Hijau
Sawah Lestari. Pengembangan penggunaan lahan saat ini di
beberapa wilayah yang ada di Sulawesi Barat, temasuk dalam hal ini
adalah Kabupaten Mamuju, mulai mengarah pada upaya untuk

Laporan Akhir

Page 26

mempertahankan lahan sawah yang saat ini sudah mulai banyak


berubah fungsi.
2.1.7.3. Kawasan Budidaya

Kawasan Budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi


utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber
daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan.
Dalam pola ruang wilayah Kabupaten Mamuju terdapat beberapa
kawasan yang merupakan kawasan budidaya strategis. Adapun
kawasan budidaya strategis tersebut antara lain :
2.1.7.3.1. Kawasan hutan produksi
(1) Kawasan peruntukan hutan produksi terdiri dari :
a. hutan produksi terbatas;
b. hutan produksi biasa;
c. hutan produksi yang dapat dikonversi.
(2) Kawasan hutan produksi terbatas di Kabupaten Mamuju memiliki
luas total 254.599,28 Ha
(3) Kawasan hutan produksi biasa tetap di Kabupaten Mamuju
memiliki luas total 64.810,59 Ha.
(4) Kawasan hutan yang dapat dikonversi, di Kabupaten Mamuju
memilki luas 36.829,66 Ha.
2.1.7.2.2. Kawasan hutan rakyat
Kawasan hutan rakyat yang dapat dikonversi di Kabupaten Mamuju
memiliki luas 682,92 Hektar.
2.1.7.2.3. Kawasan pertanian
(1) Kawasan peruntukan pertanian, meliputi: sawah, tegalan (tanah
ladang), kebun campur, perkebunan, pengembangan holtikultura,
peternakan, perikanan, serta kawasan lainnya.

Laporan Akhir

Page 27

(2) Kawasan peruntukan pertanian lahan sawah diarahkan sebagai


berikut : Sawah beririgasi teknis yang ditetapkan sebagai kawasan
lahan abadi pertanian pangan terletak di Kecamatan : Kalukku,
Pangale, dan Tommo.

2.1.7.2.4. Kawasan Perkebunan


Kawasan peruntukan perkebunan terletak di :
a. Sentra tanaman kakao berada di Kec. Karossa, Kec. Tommo dan

Kec. Mamuju;
b. Sentra tanaman kelapa sawit berada di Kec. Tobadak, Kec.
Budong-Budong dan Kec.Karossa;
c. Sentra tanaman kelapa berada di Kec. Tapalang, Kec. Papalang
dan Kec. Mamuju.
2.1.7.2.5. Kawasan Perikanan
Kawasan peruntukan perikanan dan peternakan terdiri dari :
1. Kawasan peruntukan perikanan meliputi : perikanan tangkap,
perikanan budi daya air payau, dan perikanan budi daya air tawar.
a. Rencana pengelolaan perikanan tangkap di Kabupaten Mamuju
diarahkan sepanjang pantai barat Pantai Mamuju dengan lokasi
khususnya di Kec. Mamuju, Kec. Simboro, Kep. Bala-Balakang dan
kemudian Kec. Kalukku, Kec. Tapalang, Kec. Tapalang Barat, Kec.
Papalang, Kec. Sampaga, Kec. Pangale, Kec. Topoyo dan Kec.
Karossa.
b. Rencana pengelolaan perikanan laut di Kabupaten Mamuju
diarahkan di Kec. Mamuju, Kec. Simboro, Kec. Bala-Balakang dan
Kec. Budong-Budong.
2.1.7.2.6. Pertambangan

Laporan Akhir

Page 28

Kawasan peruntukan pertambangan meliputi : pertambangan bahan


galian golongan bahan galian konstruksi dan golongan bahan galian
industri. Adapun jenis dan pertambangan bahan galian di Kabupaten
Mamuju adalah sebagai berikut :
(1) Kelompok Bahan Galian Konstruksi

Granodiorit

Tersebar di daerah Salubiro dan Bulukaling


Kecamatan

Karossa

dengan

perkiraan

cadangan sebesar 58.443.750 m3.


Granit

Tersebar di daerah Takandeang dan Pasada


KecamatanTapalang;

di

daerah

Kamande,

Le'beng, Sulumayang KecamatanKalukku, dan


Tamasapi,

Takaurang

Kecamatan

Mamuju

serta di Kecamatan Simkep dengan cadangan


volume 59.218.780 m9.
Batu Gamping

Tersebar di daerah Salunggadua, Marabau,


Kalukambeo,

Botteng

Kecamatan

Mamuju;

daerah Pakarawang Kecamatan Kalumpang


dan daerah Takandeang, Tajimane Kecamatan
Tapalang, dengan cadangan volume sekitar
342.635.800 m3.
Batu Pasir

Tersebar di daerah Kombiling, Kalukumbeo,


Salupangkang, dan Topoyo KecamatanTopoyo,
daerah Barakan, dan Bajo Kecamatan Pangale,
daerah

Salumabongi,

Ranga-Ranga,

dan

Balakalumpang Kecamatan Kalukku, dengan


cadangan volume 630.887.500 m.
Konglomerat

Tersebar di daerah Passapa, Tangkau, dan


Topoyo

Baru

Kecamatan

Budong-Budong,

daerah Le'beng, dan Gentungan Kecamatan

Laporan Akhir

Page 29

Kalukku; daerah Rangas Kecamatan Simkep


daerah Tumuki Kecamatan Mamuju; serta
Tapana, Tamao, dan Pembloang KecTapalang,
dengan cadangan volume 134.475.000 m3.
Breksi Vulkanik

Tersebar di daerah Belang-Belang, Guliling,


Rantedango, Sinyonyoi Kecamatan Kalukku,
daerah Bone-Bone, So'do, dan Bayor-Bayor
Kecamatan Mamuju dengan cadangan volume
sekitar 154.462.500 m3.

(2) Kelompok Bahan Galian Industri

Batu Sabak

Tersebar di daerah Tobinta, Salubejau dan


Salubarana

Kecamatan

Karossa

dengan

cadangan volume sebesar 22.050.000 m3.


Sekis

Tersebar di daerah Tobalang, Kalanda, dan


Batusitanduk

Kecamatan

Budong-Budong;

dengan cadangan volume sebesar 2.200.000


m3.
Batu Camping

Terdapat di daerah Salupangkang Kecamatan


Topoyo dengan cadangan volume sebesar
5.615.000 m3.

Tufa

Tersebar di daerah Boang, SLimare, Tinaungan


KecamatanSimkep dan di daerah Nipa-Nipa,
Pasiangan Kecamatan Tapalang Barat, dengan
cadangan volume 15.581.250 m3.

Lempung

Tersebar

di

daerah

Karossa,

Benggaulu,

Durikumba, Lara,
Salubarana
dengan

Laporan Akhir

dan

Tomemba

cadangan

Kec.

volume

Karossa
sebesar

Page 30

1.297.575.000 m3.

Laporan Akhir

Page 31

BAB 4.
PERENCANAAN BANGUNAN PASAR
Beberapa aspek utama yang diperlukan diperhatian dalam kegiatan
Perencanaan Bangunan Pasar, yaitu;
a) Kebutuhan Ruang yaitu terkait dengan ketersedian fasilitas
ruang bagi para pedagang, pengelola, pengunjung pasar dan
sarana pendukung;
b) Aksesibilitas

Pasar,

yaitu

terkait

dengan

pengaturan

kemudahan pencapaian pengunjung ke tempat komoditi yang


dibutuhkan;
c) Sirkulasi

Pedagang,

yaitu

terkait

dengan

pengaturan

kemudahan keluar masuk barang milik pedagang dari area


bongkar muat ke tempat los pasar;
d) Drainase ditutup dengan grill;
e) Pemasangan listrik sesuai SNI 04-0225-1987 Peraturan Umum
Installasi Listrik 1987 (PUIL 1987);
f) Sirkulasi

Kendaraaan,

yaitu

terkait

dengan

pengaturan

kemudahan keluar masuk kendaraan pedagang, pengunjung


dan pelayanan bongkar muat dan pengangkutan sampah; dan
g) Terdapat area penghijauan di dalam lahan pasar.

Laporan Akhir

Page 32

Perencanaan Pasar meliputi hal-hal sebagai berikut;


a) Gambar Perecnanaan pasar;

Gambar 1 Contoh Perencanaan Pasar

Kebutuhan utama ruang dalam pasar dapat dijelaskan sebagai


berikut:
(1) Los Pasar, dengan penataan yang baik, antara lain;
(2) Letak los sebagai area pasar dapat dibuat dua muka;
(3) Letak los yang berbatasan dengan kavling tanah hak orang
lain sebaiknya dibuat satu muka

Laporan Akhir

Page 33

b) Papan Nama Pasar;


Pembuatan atau pemasangan papan nama pasar yang didanai
melalui Dana Alokasi Khusus Bidang Sarana Perdagangan
sebagaimana contoh tercantum dalam Gambar 4, senantiasa
berpedoman pada kriteria dan ketentuan sebagai berikut;
(1) Setiap unit pasar yang dibangun, harus dibuat papan nama
pasar

dengan

mencantumkan

logo

Kementerian

Perdagangan, nama pasar dan logo Pemerintah Daerah


Setempat.
(2) Papan nama pasar tersebut dapat berbentuk;

Laporan Akhir

Page 34

a. Papan nama/plank;
b. Prasasti atau
c. Gapura
(3) Adapun tata desain papan nama pasar dengan penjelasan
sebagai berikut;
a. Ukuran papan nama, prasasti atau gapura, dibuat
secara proporsional, disesuaikan dengan bangunan
fisik pasar;
b. Ukuran logo Kementerian Perdagangan Republik
Indonesia,

dibuat

secara

proporsional

dan

ditempatkan pada sisi sebelah kiri papan nama


pasar;
c. Nama pasar dibuat dan ditempatkan secara simetris
di bagian atas papan nama. Dibawah tulisan nama
pasar

ditambahkan

KERJSAMA

kalimat

KEMENTERIAN

DIBANGUN

ATAS

PERDAGANGAN

DENGAN PEMERINTAH KABUPATEN MAMUJU


MELALUI

DANA

ALOKASI

KHUSUS

BIDANG

SARANA PERDAGANGAN TAHUN 2015


d. Ukuran Logo Pemerintah Daerah (Pemda), dibuat
secara proporsional dan ditempatkan pada sisi
sebelah kanan papan nama pasar; dan

Laporan Akhir

Page 35

e. Papan nama pasar ditempatkan di depan akses


masuk pasar agar dapat dengan mudah diliat oleh
masyarakat.

c) Sarana pendukung lainnya


Penataan Sarana Pendukung Lainnya yang baik, meliputi halhal sebagai berikut:
(1) Toilet/MCK
Pemisahan toilet laki-laki dan perempuan dengan papan
penanda identitas (sign board)

(2) Tempat Penampungan Sampah Sementara


Tempat penampungan sampah sementara memiliki volume
yang dapat menampung seluruh sampah pasar per hari

(3) Sarana Ibadah/Mushola

Laporan Akhir

Page 36

Sarana Ibadah/Mushola ditempatkan di salah satu sudut


pasar yang strategis dan apabila memungkinkan lokasinya
berjauhan dengan aktivitas jual beli namun masih berada
dalam lokasi pasar.

(4) Sirkulasi Udara dan Pencahayaan


Hal hal yang perlu diperhatikan dalam mengatur pasar
terkait dengan sirkulasi udara dan pencahayaan, adalah
seabgai berikut;
(a) Posisi bangunan los dalam pasar apabila
memungkinkan

disesuaikan

dengan

ara

mata angin yang bertiup sehingga dapat


membuat udara sekitar pasar dapat mengalir
dengan baik.
(b) Pencahayaan

dalam

hendaknya

dapat

pemanfaatan

intensitas

bangunan

pasar

mengoptimalkan
sinar

matahari

sebagai sumber pencahayaan bagi ruangruang di pasar.


(c) Aspek pencahayaan selain memperhatikan
kenyamanan pengunjung sebaiknya juga
menghemat energi dengan tidak hanya
bergantung pada pasokan energi listrik.
Laporan Akhir

Page 37

Laporan Akhir

Page 38

BAB 5.
PEMANTAUAN, EVALUASI DAN
PELAPORAN
1. Pemantauan

Pemantauan teknis DAK Bidang Sarana Perdagangan Tahun


Anggaran 2015 merupakan kegiatan untuk memastikan pelaksanaan
DAK

Bidang

Sarana

Perdagangan

di

Provinsi/Kabupaten/Kota

penerima dilaksanakan tepat sasaran dan sesuai dengan kaidahkaidah yang ditetapkan dalam Petunjuk Teknis DAK Bidang Sarana
Perdagangan Tahun 2015.

Pemantauan juga dimaksudkan untuk mengidentifikasi permasalahan


yang timbul dalam pelaksanaan DAK Bidang Sarana Perdagangan
dan solusi pemecahan masalah, sehingga dapat sedini mungkin
dihindari kegagalan pelaksanaan.
Ruang lingkup pemantauan pada aspek teknis meliputi:
a.

kesesuaian antara pelaksanaan kegiatan DAK Bidang Sarana


Perdagangan dengan rencana penggunaan kegiatan yang ada
dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD);

Laporan Akhir

Page 39

b.

kesesuaian pemanfaatan DAK Bidang Sarana Perdagangan


dalam

Dokumen

Pelaksanaan

AnggaranSatuan

Kerja

Perangkat Daerah (DPA-SKPD) dengan petunjuk teknis; dan


c.

pelaksanaan di lapangan, serta realisasi waktu pelaksanaan,


lokasi dan sasaran pelaksanaan dengan perencanaan.

Pemantauan DAK Bidang Sarana Perdagangan dapat dilakukan


dengan 4 (empat) cara, yaitu:
a. Pemerintah Provinsi melaksanakan review atas laporan triwulan
yang disampaikan oleh Bupati/Walikota;
b.

Review

atas

laporan

triwulan

yang

disampaikan

oleh

Gubernur/Bupati/Walikota;
c. Kunjungan lapangan; dan
d. Forum koordinasi untuk menindaklanjuti hasil review laporan dan
atau kunjungan lapangan.

Evaluasi DAK Bidang Sarana Perdagangan merupakan evaluasi


terhadap pemanfaatan DAK Bidang Sarana Perdagangan untuk
memastikan

pelaksanaan

DAK

Bidang

Sarana

Perdagangan

bermanfaat bagi masyarakat di Kabupaten/Kota dengan mengacu


pada tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam dokumen
perencanaan pembangunan nasional serta sebagai masukan untuk
penyempurnaan kebijakan dan pengelolaan DAK Bidang Sarana
Laporan Akhir

Page 40

Perdagangan yang meliputi aspek perencanaan, pengalokasian dan


pelaksanaan DAK ke depan.

Ruang

lingkup

evaluasi

pemanfaatan

DAK

Bidang

Sarana

Perdagangan meliputi pencapaian sasaran kegiatan DAK berdasarkan


input, proses, output dan apabila dimungkinkan sampai outcome dan
dampaknya. Evaluasi DAK Bidang Sarana Perdagangan dapat
dilakukan dengan 4 (empat) cara, yaitu:
a. Pemerintah Provinsi melaksanakan review atas laporan akhir yang
disampaikan Bupati/Walikota;
b.

Review

atas

laporan

akhir

yang

disampaikan

oleh

Gubernur/Bupati/Walikota setiap akhir tahun pelaksanaan;


c. Studi evaluasi; dan
d. Forum koordinasi untuk menindaklanjuti hasil pemantauan dan atau
evaluasi pemanfaatan DAK Bidang Sarana Perdagangan.
Pemantauan dan evaluasi dilakukan oleh organisasi pelaksana
dan/atau tim koordinasi di tingkat Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota
sesuai dengan petunjuk teknis dalam Surat Edaran Bersama (SEB)
Meneg PPN/Kepala Bappenas, Menteri Keuangan dan Menteri Dalam
Negeri Tahun 2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan
Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus
(DAK).

Laporan Akhir

Page 41

2. Pelaporan

Sebagai alat untuk melaksanakan kegiatan pemantauan dan evaluasi,


pelaporan memiliki peranan penting dalam memberikan informasi
perkembangan sejauh mana pembangunan sarana perdagangan telah
dilaksanakan dalam suatu periode tertentu. Selain itu, pelaporan
dimaksudkan sebagai fungsi kendali dalam optimalisasi efektivitas
keikutsertaan daerah penerima anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK)
pembangunan sarana perdagangan dari tahun ke tahun. Oleh karena
itu, Petunjuk Teknis ini mengatur kewajiban daerah penerima agar
dapat memberikan laporan sesuai dengan perkembangan kondisi
terkini secara periodik. Pelaporan yang dimaksud dalam Petunjuk
Teknis ini terbagi atas 2 (dua), yaitu:

a. Laporan Triwulan

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005


tentang Dana Perimbangan, Kepala Daerah penerima DAK
juga

wajib

menyampaikan

laporan

triwulan

kepada

Kementerian Teknis. Laporan ini merupakan laporan yang


harus dipersiapkan oleh Kepala SKPD Kabupaten/Kota dan
Provinsi yang membidangi Perdagangan selaku penerima
DAK Bidang Sarana Perdagangan Tahun Anggaran 2015
sebagai penanggung jawab anggaran yang memuat
Laporan Akhir

Page 42

pelaksanaan kegiatan dan penggunaan DAK Bidang


Sarana

Perdagangan

dengan

format

sebagaimana

tercantum pada Lampiran 1.6 Petunjuk Teknis ini.

Laporan

Triwulan

tersebut

disampaikan

kepada

Gubernur/Bupati/Walikota dengan tembusan disampaikan


kepada:
1)

Menteri

Perdagangan

Perdagangan

Dalam

Pembangunan

dan

c.q.

Negeri

Direktur
untuk

Pengembangan

Jenderal

sub

bidang

Sarana

Distribusi

Perdagangan (Pasar Rakyat dan Gudang non SRG);


2) Menteri Perdagangan c.q. Kepala Badan Pengawas
Perdagangan
Pembangunan

Berjangka

Komoditi

Gudang,

Fasilitas

untuk

sub

bidang

dan

Peralatan

Direktur

Jenderal

Penunjangnya dalam Kerangka SRG;


3)

Menteri

Perdagangan

c.q.

Standardisasi dan Perlindungan Konsumen untuk sub


bidang Peningkatan Sarana Metrologi Legal;
4) Kepala SKPD Provinsi yang menangani Perdagangan.
Laporan

Triwulan

tersebut

disampaikan

selambat-

lambatnya 14 (empat belas) hari kalender setelah triwulan


yang bersangkutan berakhir.

Laporan Akhir

Page 43

Untuk kelancaran penyampaian, Laporan Triwulan juga


dapat

disampaikan

via

email

dak.perdagangan@kemendag.go.id

serta

ke
dilakukan

pelaporan online melalui sistem aplikasi DAK.


Sistem aplikasi DAK adalah aplikasi pelaporan kegiatan
Dana Alokasi Khusus yang dilakukan secara online untuk
memudahkan pelaporan kegiatan DAK yang dilakukan oleh
Satker penerima DAK Bidang Sarana Perdagangan yang
tersebar di Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.
Pelaporan DAK ini terdiri dari perencanaan kegiatan,
pelaporan realisasi keuangan, pelaporan kemajuan fisik
kegiatan,

pelaporan

kegiatan,

hingga

Pelaporan

DAK

kendala

penyajian
dapat

kegiatan,
laporan

diakses

http://dak.kemendag.go.id/.Adapun

dokumentasi

kegiatan.Aplikasi
dengan

penjelasan

alamat
mengenai

tata cara pelaporan secara online ini dapat dilihat Lampiran


1.7 Petunjuk Teknis ini.

b. Laporan Akhir

Laporan ini merupakan laporan pelaksanaan akhir tahun


setelah tahun anggaran berakhir, yang disampaikan oleh
SKPD Provinsi/Kabupaten/Kota penerima yang membidangi
Laporan Akhir

Page 44

Perdagangan selaku penerima alokasi DAK Bidang Sarana


Perdagangan

kepada

gubernur/bupati/walikota

dengan

tembusan disampaikan kepada:


1)

Menteri

Perdagangan

Perdagangan

Dalam

Pembangunan

dan

c.q.

Negeri

Direktur

untuk

Pengembangan

Jenderal

Sub

Bidang

Sarana

Distribusi

Perdagangan (Pasar dan gudang non SRG);


2) Menteri Perdagangan c.q. Kepala Badan Pengawas
Perdagangan
Pembangunan

Berjangka

Komoditi

Gudang,

Fasilitas

untuk Sub

Bidang

dan

Peralatan

Direktur

Jenderal

Penunjangnya Dalam Kerangka SRG;


3)

Menteri

Perdagangan

c.q.

Standardisasi dan Perlindungan Konsumen untuk Sub


Bidang Peningkatan Sarana Metrologi Legal;
4) Kepala SKPD Provinsi yang menangani Perdagangan.

Laporan Akhir

Page 45

Anda mungkin juga menyukai