Anda di halaman 1dari 41

A. Apakah Pembiasan Cahaya Itu?

Pembiasan cahaya berarti pembelokan arah rambat cahaya saat melewati bidang batas dua
medium bening yang berbeda indeks biasnya.
Hal ini sudah Anda pelajari saat di SMP dulu, namun pada modul ini pembiasan cahaya akan
dibahas lebih mendalam. Pembiasan cahaya mempengaruhi penglihatan kita. Sebatang
tongkat yang sebagiannya tercelup di dalam kolam berisi air dan bening akan terlihat patah.

B. Hukum Snellius Pada Pembiasan

Seperti pada peristiwa pemantulan cahaya, pada pembiasan cahaya juga


dijumpai hukum Snellius. Misalkan cahaya merambat dari medium 1 dengan
kecepatan v1 dan sudut datang i menuju ke medium 2. Saat di medium 2
kecepatan cahaya berubah menjadi v2 dan cahaya dibiaskan dengan sudut
bias r seperti diperlihatkan pada Gambar 1 di bawah.

Gambar 1. Sinar yang berasal dari udara dibiaskan menjauhi garis normal
saat masuk ke dalam air.
Berdasarkan teori muka gelombang, rambatan cahaya dapat digambarkan
sebagai muka gelombang yang tegak lurus arah rambatan dan muka
gelombang itu membelok saat menembus bidang batas medium 1 dan
medium 2 seperti dipelihatkan Gambar 2 berikut:
Gambar 2. Muka gelombang pada peristiwa pembiasan.
Cahaya datang dengan sudut i dan dibiaskan dengan sudut r. Cepat rambat
cahaya di medium 1 adalah v1 dan di medium 2 adalah v2. Waktu yang
diperlukan cahaya untuk merambat dari B ke D sama dengan waktu yang
dibutuhkan dari A ke E sehingga DE menjadi muka gelombang pada medium
2. Oleh karenanya
BD = v1 t
AE = v2 t

Dari gambar 2 juga kita dapatkan bahwa = i dan = r sehingga

Bila kita bagi sin i dengan sin r kita akan peroleh

Persamaan pembiasan cahaya

dengan
i = sudut datang
r = sudut bias
v1 = kecepatan cahaya sebelum dibiaskan
v2 = kecepatan cahaya setelah dibiaskan
Pada tahun 1621 Snellius, seorang fisikawan berkebangsaan Belanda
melakukan serangkaian percobaan untuk menyelidiki hubungan antara sudut
datang (i) dan sudut bias (r) di atas. Hasil eksperimennya dibuat dalam tabel
di bawah.
Tabel 1: Hasil percobaan tentang pembiasan pada balok kaca.

i r i/r sin i sin r

18° 12° 1,50 0.309 0.208 1,49


26° 17° 1,53 0.438 0.292 1,50
36° 23° 1,57 0.588 0.391 1,50
43° 27° 1,59 0.682 0.454 1,50
47° 29° 1,62 0.731 0.485 1,51
50° 33° 1,67 0.819 0.545 1,50
60° 35° 1,71 0.866 0.574 1,51

Dari tabel di atas tampak bahwa harga pada tiap percobaan cenderung

sama, yakni 1,50 dengan kata lain bahwa harga bernilai tetap. Tetapan
itu disebut indeks bias.

Persamaan Hukum Pembiasan

dengan
i = sudut datang
r = sudut bias
n = indeks bias bahan

Persamaan di atas merupakan salah satu dari dua hukum pembiasan cahaya
yang selengkapnya dapat dirumuskan sebagai berikut:

Hukum Pembiasan Cahaya

1. Sinar datang, sinar bias dan garis normal terletak pada satu
bidang.
2. Perbandingan sinus sudut datang dan sinus sudut bias cahaya
yang memasuki bidang batas dua medium yang berbeda selalu
bernilai tetap (konstan).

Anda telah mempelajari bahwa indeks bias dibedakan atas indeks bias mutlak
dan indeks bias relatif. Sekedar mengingatkan, di bawah ini dijelaskan
kembali pengertian kedua indeks bias ini.
Indeks bias mutlak medium yaitu indeks bias medium saat berkas cahaya dari
ruang hampa melewati medium tersebut. Indek bias mutlak suatu medium
dituliskan nmedium. Indeks bias mutlak kaca dituliskan nkaca, indeks bias mutlak
air dituliskan nair dan seterusnya. Tabel 2 di bawah memperlihatkan indeks
bias mutlak beberapa zat.
Tabel 2. Indeks bias mutlak beberapa zat.
Medium Indeks bias mutlak
Udara (1 atm, 0° C) 1,00029
Udara (1 atm, 0° C) 1,00028
Udara (1 atm, 0° C) 1,00026
Air 1,33
Alkohol 1,36
Gliserin 1,47
Kaca kuarsa 1,46
Kaca kerona 1,52
Kaca flinta 1,65
Intan 2,42
Pada tabel terlihat bahwa tekanan dan suhu mempengaruhi indeks bias zat
khususnya udara. Perbedaan itu tampak kecil saja. Dalam modul ini, bias
udara sama dengan satu.

Indeks bias relatif adalah perbandingan indeks bias dua medium yang
berbeda. Indeks bias relatif medium kedua terhadap medium pertama
didefinisikan sebagai perbandingan indeks bias medium kedua terhadap
medium pertama.

Persamaan indek bias relatif dua medium

dengan
n21 = indeks bias relatif medium kedua terhadap medium pertama
n1 = indeks bias mutlak medium pertama
n2 = indeks bias mutlak medium kedua
Pada uraian sebelumnya telah kita dapatkan bahwa

Persamaan pembiasan cahaya dari medium 1 medium 2

Jadi, nilai tetap (konstan) pada penyataan kedua hukum pembiasan cahaya di
atas adalah indeks bias relatif antara dua medium seperti diuraikan
sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud satu bidang pada pernyataan
pertama dapat dijelaskan dengan melihat kembali gambar 2 di atas. Pada
gambar tersebut tampak sinar datang, sinar bias dan garis normal berada
pada satu bidang, yakni bidang batas. Cukup jelas, bukan?
Contoh:
1. Cepat rambat cahaya di medium A besarnya 2 x 108 m/s. Bila cepat rambat
cahaya di ruang hampa 3 x 108 m/s, berapakah indeks bias mutlak medium
itu?
Penyelesaian:
Cahaya datang dari ruang hampa menuju medium A dan indeks bias ruang
hampa (n1) kita anggap sama dengan indeks bias udara.
Diketahui : n1 = 1
v1 = 3 x 108 m/s
v2 = 2 x 108 m/s
Ditanya : n2 = ?
Jawab :

n2 = 1,5

Jadi, indeks bias medium tersebut adalah n2 = 1,5.


Contoh:
2. Berapakah kecepatan cahaya di suatu medium yang indek biasnya 1,6?
Penyelesaian:
Tanpa disebut atau dinyatakan dalam soal, kita harus sudah maklum bahwa
cepat rambat cahaya di ruang hampa adalah 3 x 108 m/s sehingga dari,

n=

kita dapatkan cepat rambat cahaya pada medium tersebut yakni,

v
=
= 1,88 x 108 m/s

Contoh:
3. Seberkas cahaya datang dari udara (nu = 1) ke dalam air (na = 1,33)
dengan sudut datang 30°. Tentukan besar sudut bias!

Penyelesaian
Diketahui : nu = 1
na = 1,33
i = 30°
Ditanya : r = ?
Jawab : Berkas sinar berasal dari udara menuju air jadi n =n =1 dan
1 u
n2=na=1,33.

Berdasarkan hukum Snellius,


= =

sin r = =
r = 22,1°

Besar sudut bias r = 22,1° di atas tentunya didapat dengan bantuan


kalkulator atau tabel trigonometri pada matematika. Anda tentu dapat
melakukannya.
Contoh:
4. Seberkas sinar datang dari udara ke lapisan minyak yang terapung di air
dengan sudut datang 30°. Bila indeks bias minyak 1,45 dan indeks bias air
1,33, berapakah besar sudut sinar tersebut di dalam air?
Penyelesaian:
Pada kasus ini mula-mula berkas sinar merambat di udara lalu masuk ke
lapisan minyak yang terapung di permukaan air, baru kemudian sinar masuk
ke dalam air. Jadi, sebelum sampai ke dalam air sinar mengalami dua kali
pembiasan seperti diperlihatkan gambar di bawah.

Gambar 3.
Berkas sinar memasuki air dari udara
melalui lapisan minyak mengalami dua
kali pembiasan.

Pembiasan pertama, berkas sinar datang dari udara ke minyak dengan n1 = 1


dan n2 = 1,45 serta i1 = 30°, kita hitung besar sin r1,

sin r1 =
= 0,345.
Dalam hal ini kita tidak membutuhkan besar sudut r1, sebab untuk langkah
pengerjaan berikutnya justru nilai sin r, yang dibutuhkan.
Pembiasan kedua, berkas sinar datang dari minyak ke air dengan n1 = 1,45
dan n2 = 1,33, dan dari gambar di atas tampak besar i2 = r1 atau sin i2 = sin
r1, kita hitung besar r2

sin r2 = = 0,375
r2 = 22°

Contoh:
5. Cepat rambat cahaya di dalam kaca 2,00 x 108 m/s dan cepat rambat
cahaya di dalam air 2,25 x 108 m/s.
Tentukan:
a) indeks bias relatif air terhadap kaca
b) indeks bias relatif kaca terhadap air
Penyelesaian:
Diketahui : vkaca = 2,00 x 108 m/s

vair = 2,25 x 108 m/s


Ditanya :
a) nair-kaca

b) nkaca-air
Jawab :

a) nair-kaca
=

= 0,89
b) nkaca-air
=

= 1,13

Mudah, saja bukan? Coba Anda kerjakan latihan di bawah ini!


1. Berdasarkan tabel 1, tentukanlah cepat rambat cahaya pada medium
alkohol, kaca flinta dan intan!
2. Berdasarkan tabel 1, tentukanlah indeks bias relatif air terhadap alkohol
dan indeks bias relatif kaca korona terhadap air!
Bila Anda kerjakan dengan baik latihan di atas, akan Anda dapatkan jawaban
latihan nomor 1 berturut-turut 2,21x108m/s, 1,82x108m/s dan 1,24x108 m/s,
serta jawaban untuk latihan nomor 2 berturut-turut 0,98 dan 1,14.

Medium Optik Kurang Rapat dan Medium Optik Lebih Rapat

Di samping menunjukkan perbandingan cepat rambat cahaya di dalam suatu medium,


indeks bias juga menunjukkan kerapatan optik suatu medium. Semakin besar indeks bias
suatu medium berarti semakin besar kerapatan optik medium tersebut.
Di samping itu, diketahui pula bahwa cahaya merambat lebih cepat pada medium yang
kerapatan optiknya kecil. Jadi, dengan melihat data pada tabel 2 di atas, kaca merupakan
medium optik lebih rapat bila dibandingkan air, sedangkan udara merupakan medium
kurang rapat bila dibandingkan kaca dan air. Cobalah Anda bandingkan kerapatan optik
antara medium yang satu terhadap medium yang lain yang ada pada tabel 2.

Bila cahaya merambat dari medium kurang rapat ke medium yang lebih rapat, cahaya akan
dibiaskan mendekati garis normal, sebaliknya bila cahaya merambat dari medium lebih
rapat ke medium kurang rapat akan dibiaskan menjauhi garis normal seperti diperlihatkan
gambar 4.
(a)

(b)
Gambar 4.
(a) Cahaya dibiaskan mendekati garis normal.
(b) Cahaya dibiaskan menjauhi garis normal.

. Pembiasan dan Warna Cahaya

Mari kita lanjutkan pelajaran dengan melihat kemungkinan adanya hubungan antara
pembiasan dan warna cahaya. Anda telah pahami bahwa besar cepat rambat cahaya sama
dengan frekuensi dikalikan dengan panjang gelombangnya atau v = f.λ sehingga dari
persamaan,

n21 =
kita dapatkan

Pada kenyataannya frekuensi cahaya tidak mengalami perubahan saat cahaya melewati
bidang batas dua medium. Artinya perubahan kecepatan cahaya berhubungan dengan
perubahan panjang gelombangnya saja. Jadi,

Persamaan indeks bias relatif sebagai perbandingan


panjang gelombang cahaya
λ 1= panjang gelombang cahaya pada medium 1
λ 2= panjang gelombang cahaya pada medium 2

Panjang gelombang cahaya menentukan kesan warna tertentu pada mata kita. Ada banyak
sekali warna cahaya yang merentang dari warna merah, jingga, kuning, hijau, biru sampai
ungu. Setiap warna memiliki panjang gelombang sendiri-sendiri yang besarnya berbeda
satu terhadap lainnya. Merah memiliki panjang gelombang terbesar, sedangkan ungu paling
kecil. Tabel 3 memperlihatkan warna benda dan panjang gelombang yang dimilikinya. Anda
harus berhati-hati dalam membaca tabel ini. Bila Anda sebut warna merah misalnya, merah
yang mana? Sebab ada merah darah, ada juga merah jambu. Itu sebabnya data pada
kolom 2 tabel 3 menggunakan rentang panjang gelombang. Satu hal yang harus Anda catat
adalah satu warna tertentu hanya memiliki satu panjang gelombang tertentu saja.
Tabel 3. Panjang gelombang warna cahaya.

Merah 630 - 700 nm


Jingga 590 - 630 nm
Kuning 570 - 590 nm
Hijau 500 - 570 nm
Biru 450 - 500 nm
Ungu 400 - 450 nm

Masih ingat apa yang dimaksud nm? Ya, nanometer atau sepuluh pangkat minus sembilan
meter (10-9 m)!
Contoh:
1. Berkas sinar merambat di udara dengan kecepatan 3 x 108 m/s dan frekuensi 4,62 x

1014 Hz menuju permukaan air yang indeks biasnya . Tentukan panjang gelombang
cahaya:
a) saat berada di udara
b) saat berada di air!
Penyelesaian:
Diketahui : c = 3 x 108 m/s
f = 6 x 1014 Hz
nu = n1 = 1

na = n2 =
Ditanya : a) λ u =?
b) λ a =?

Jawab : a) c = λ .f
λ u = 6,5 x10-7 m
Jadi, panjang gelombang cahaya di udara adalah
λ 1 = 6,5 x 10-7 m.
b) Panjang gelombang cahaya di dalam air (λ ) bila panjang gelombang cahaya
2
di udara λ 1 = 6,5 x 10-7 m

Jadi, panjang gelombang cahaya di dalam air adalah 4,86 x 10-7 m. Mudah
saja, bukan?

Latihan
Seberkas cahaya merah (λ = 633 nm) yang berasal dari laser helium-neon memasuki
lempeng kaca dengan sudut datang 30°. Jika indeks bias kaca = 1,56, tentukanlah:
a) panjang gelombang cahaya di dalam kaca;
b) sudut bias;
c) kelajuan cahaya di dalam kaca!
Untuk menjawab soal latihan di atas Anda anggap laser merah merambat dari udara ke
kaca, indeks bias udara = 1 dan cepat rambat cahaya di udara =
3x108 m/s. Gunakan persamaan-persamaan yang ada pada contoh-contoh yang telah
diberikan, maka akan Anda dapatkan jawaban untuk:
a) 406 nm (pembulatan);
b) 18,7° dan
c) 1,92 x 108 m/s.
Pemendekan Semu Akibat Pembiasan

Bila Anda perhatikan kaki teman Anda yang terendam di dalam air, akan tampak lebih
pendek dari keadaan sesungguhnya. Saat Anda melihat koin atau sesuatu yang berada di
dasar bak mandi, tampak mereka lebih dangkal. Gejala yang disebut pemendekan semu ini
terjadi karena pembiasan di mana cahaya merambat dari medium optik yang lebih rapat ke
medium optik yang kurang rapat, misalnya dari air ke udara. Gambar 5 memperlihatkan
rambatan cahaya pada peristiwa pemendekan semu ini.
Gambar 5. Benda di dalam air diamati dari udara akan terlihat lebih dangkal
dari kedalaman sesungguhnya.
Pada gambar 5, A dan B adalah dua orang pengamat yang berbeda posisi, namun keduanya
ada di medium udara dan benda yang mereka amati ada dalam air.

karena

maka,

Padahal telah Anda pahami bahwa

=
sehingga,
Persamaan pemendekan semu untuk pengamat A

dengan
h' = tinggi bayangan semu yang dilihat oleh pengamat pada posisi A
h = tinggi benda sesungguhnya
n1 = indeks bias medium tempat benda berada
n2 = indeks bias medium tempat pengamat berada
i = sudut datang
r = sudut bias
Untuk pengamat B yang posisinya tegak lurus dengan benda, besar sudut datang i akan
sama dengan nol, begitu juga sudut bias r akan sama dengan nol pula sehingga persamaan
pemendekan semu berubah menjadi

Persamaan pemendekan semu untuk pengamat B


Jadi, baik Pengamat A maupun Pengamat B tidak melihat posisi benda yang sebenarnya,
kedua pengamat ini sama-sama melihat benda lebih dangkal dari posisi sebenarnya.
Contoh:
2.

Sebuah batu terletak di dasar sebuah kolam berisi air (na = ) sedalam 2 m. Pada
kedalaman berapakah batu itu dilihat oleh pengamat di atas permukaan air, jika:
a) posisi mata pengamat tegak lurus dengan batu;
b) posisi mata pengamat membentuk sudut 30° dengan garis normal.

Penyelesaian:
Gunakan gambar 5 di atas untuk membayangkan posisi batu dan pengamat.
Diketahui :
na = n1 =
nu = n2 = 1
h=2m
Ditanya : a. hI bila i = 0° (pengamat berada di B)
b. hI bila r = 30° (pengamat berada di A)
Jawab :
a. Gunakan persamaan pemendekan semu untuk pengamat pada posisi B

atau h' = h.

= 2x
= 1,5 m

Jadi bila dilihat dari arah tegak lurus, ke dalaman batu 1,5 m. Lebih pendek dari
kedalaman sesungguhnya, bukan?

b. Gunakan persamaan pemendekan semu untuk pengamat pada posisi A

x
Besar sudut i belum diketahui, jadi harus dicari dengan menggunakan hukum Snellius,
yakni

= atau

Dengan menggunakan kalkulator atau Tabel matematika kita dapatkan besar sudut

datang i dari sin i , yakni i = 22,02°. Kedalaman semu h' kini dapat kita tentukan

= 1,4 m
Jadi, menurut pengamat dengan posisi mata 30° terhadap garis normal kedalaman batu
hanya 1,4 m.

Bagaimana, menarik bukan? Kedalaman batu ternyata terlihat berbeda-beda bergantung


posisi pengamatnya. Nah, sekarang bagaimana kalau pengamat di dalam air melihat benda-
benda di udara?
Pemanjangan semu akibat pembiasan

Bila pengamat berada di medium optik lebih rapat mengamati benda yang berada pada
medium optik kurang rapat, misalnya pengamat di dalam air mengamati benda di udara,
maka benda akan terlihat lebih panjang dari keadaan sesungguhnya (gambar 6). Peristiwa
ini disebut pemanjangan semu.

Gambar 6. Pengamat yang berada di medium optik lebih rapat melihat benda
yang berada pada medium optik kurang rapat lebih panjang dari keadaan sesungguhnya.
Sama seperti pemendekan semu, persamaan untuk pemanjangan semu dapat diturunkan
berdasarkan hukum-hukum pembiasan dan hasilnya adalah kebalikan dari persamaan
pemendekan semu, seperti pada contoh berikut ini.
Contoh:
1 Dona sedang menyelam di kolam renang
. pada kedalaman 0,5 m dari permukaan air

(na= ), sementara Tuti yang berbaring di


atas papan loncat kolam renang itu tegak
lurus dengan Dona pada ketinggian 3 m dari
permukaan air. Berapakah jarak antara Dona
dan Tuti menurut Dona?

Penyelesaian:
Dono melihat dirinya berada 0,5 m dari permukaan air kolam, tetapi melihat Toto tidak
berada pada posisi 3,5 m di atas permukaan air sebab berkas cahaya yang datang dari Toto
mengalami pembiasan sebelum sampai ke mata Dono. Akibatnya ketinggian Toto yang
sesungguhnya 3,5 m dari permukaan air akan dilihat oleh Dono lebih tinggi lagi.
Diketahui : nu = n1 = 1

na = n2 =

h=2m
Ditanya : h' = ?
Jawab :

atau h' = h.

= 5,33 m
Jarak antara Dono dan Toto sama dengan 5,33 m ditambah 0,5 m yaitu 5,83 m. Jarak ini
lebih besar dibanding jarak sebenarnya yang hanya 4,50 m.

Latihan
Pada contoh di atas, tentukanlah jarak antara Toto dan Dono menurut Toto!
Cobalah kerjakan latihan di atas dengan mengingat bahwa pembiasan bagi Toto hanya
mempengaruhi ketinggian Dono dari permukaan air saja. Anda dapatkan jawabannya, yakni
4,375 m.

Pemantulan Total

Sebelumnya sudah diuraikan bahwa saat cahaya merambat dari medium optik lebih rapat
ke medium optik kurang rapat dengan sudut datang tertentu, cahaya akan dibiaskan
menjauhi garis normal. Artinya sudut bias akan selalu lebih besar dibandingkan sudut
datang. Bila sudut datang cukup besar, maka sudut bias akan lebih besar lagi, Apa yang
terjadi, bila sudut datang terus diperbesar?

Gambar 7. Cahaya dibiaskan menjauhi garis normal, semakin besar sudut datang semakin besar sudut
bias.
Sebelumnya Anda harus catat bahwa pada umumnya saat cahaya merambat dari medium 1
ke medium 2, tidak semua berkas cahaya dibiaskan sebagian ada yang dipantulkan. Artinya
di samping terjadi pembiasan terjadi juga pemantulan dengan besar sudut pantul yang
selalu sama dengan sudut datang sesuai dengan hukum pemantulan. Hal ini sudah Anda
pelajari di modul sebelumnya. Kali ini fokus perhatian kita pada peristiwa pembiasannya.
Nah, bila sudut datang terus diperbesar, maka suatu saat sinar bias akan sejajar dengan
bidang yang berarti besar sudut biasnya 90°. Sekali lagi apabila sudut datang diperbesar,
maka tidak ada lagi cahaya yang dibiaskan, sebab seluruhnya akan dipantulkan. Sudut
datang pada saat sudut biasnya mencapai 90° ini disebut sudut kritis atau sudut batas dan
pemantulan yang terjadi disebut pemantulan total atau pemantulan sempurna. Pada
gambar 7 di atas sudut i3 adalah sudut kritis (ik) sebab besar sudut r3 = 90°. Besar sudut
kritis untuk setiap bahan akan berbeda-beda karena indeks bias mereka yang berbeda-
beda. Besar sudut itu dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut.
Bila kita terapkan hukum Snellius pada gambar 5 kita dapatkan:
n1 sin ik = n2 sin r3
n1 sin ik = n2 sin 90°
Persamaan sudut kritis
dengan
ik = sudut kritis medium lebih rapat (asal sinar datang)
n1 = indeks bias medium kurang rapat (tempat sinar bias)
n2 = indeks bias bahan lebih rapat (asal sinar datang)
n1> n2
Contoh:
1. Berkas sinar datang dari intan ke udara. Bila indeks bias intan = 2,4 dan indeks bias
udara = 1 tentukan sudut kritis pada intan!
Penyelesaian:
Diketahui : n1 = 2,4
n2 = 1

Ditanya : ik = ?
Jawab :

sin ik =

sin ik = = 0,417

ik = 24,6°

Jadi, sudut kritis untuk intan adalah 24,6°. Artinya bila sinar datang dari intan menuju
udara dengan sudut datang lebih besar dari 24,6°, maka sinar-sinar tersebut akan
dipantulkan kembali ke intan. Oleh karenanya, intan dibentuk sedemikian sehingga hampir
semua sinar datang ke permukaannya membentuk sudut yang lebih besar dari 24,6°
sehingga sinar yang datang ke intan setelah masuk ke permukaan dalamnya akan
dipantulkan sempurna. Akibatnya intan tampak berkilauan.

Gambar 8. Intan berkilauan akibat pemantulan sempurna.


Pemantulan total diterapkan pada banyak alat optik antara lain periskop, teleskop,
mikroskop, dan teropong binokuler. Dewasa ini dikembangkan pemakaian serat optik. Serat
optik adalah pipa kecil dan panjang terbuat dari plastik atau kaca yang digunakan untuk
penyalur cahaya. Serat optik terdiri dari inti serat yang terbuat dari kaca berkualitas dan
berindeks bias tinggi yang dibungkus oleh lapisan tipis kaca yang indeks biasnya lebih
rendah serta bagian luar serat yang terbuat dari plastik atau bahan lain untuk melindungi
inti serat. Cahaya dapat melewati serat optik dari ujung yang satu ke ujung yang lain
meskipun serat optik itu dibengkokkan (Gambar 9.a). Endoskop (Gambar 9.b) dibuat
dengan memanfaatkan serat optik. Dengan bantuan endoskop para dokter dapat melihat
bagian dalam tubuh manusia (misalnya lambung) dan bahkan memotretnya. Dalam
teknologi komunikasi serat optik digunakan untuk mengirim sinyal-sinyal komunikasi.

(a) (b)
Gambar 9.
(a) Serat optik; (b) Endoskop: alat untuk melihat bagian dalam tubuh manusia.
Demikianlah telah diuraikan kepada Anda apa yang dimaksud dengan pembiasan, indeks
bias mutlak dan indeks bias relatif, medium optik lebih rapat dan medium optik kurang
rapat, hukum-hukum pembiasan dan pemantulan total atau pemantulan sempurna. Bacalah
kembali uraian di atas bila masih ada yang belum Anda pahami. Bila seluruh uraian di atas
telah Anda pahami kerjakanlah tugas di bawah ini dengan sebaik-baiknya.

Lensa Tipis

Permukaan sebuah lensa dapat berupa bola, parabola atau silinder. Namun uraian materi
modul ini hanya membicarakan lensa tipis dengan permukaan-permukaannya merupakan
permukaan bola. Lensa dibedakan atas lensa positif atau lensa cembung (gambar 19.a) dan
lensa negatif atau lensa cekung (gambar 19.b).
Gambar 19.
(a) Lensa positif terdiri dari: 1) lensa bikonveks (cembung ganda); 2) plankonfeks (cembung-datar); dan
3) cembung-cekung (konfeks-konkaf).
(b) Lensa negatif terdiri dari: 4) bikonkaf (cekung ganda); 5) plan-konkaf (cembung-datar); dan 6) cekung-
cembung (konkaf-konveks).
Lensa positif disebut juga lensa konvergen karena lensa positif mengumpulkan berkas sinar
(gambar 19.a), sedangkan lensa negatif disebut lensa divergen karena menyebarkan berkas
sinar (gambar 19.b).

(a)

(b)

Gambar 20. (a) Lensa konvergen mengumpulkan berkas sinar


(b) lensa divergen menyebarkan berkas sinar.
Untuk penyederhanaan, lensa cembung di tulis (+) dan lensa cekung (–).
Gambar 21. Gambar sederhana lensa (a) lensa positif (b) lensa negatif.
Perhatikan perbedaan letak titik F1 dan F2 pada kedua jenis lensa pada Gambar 21 di atas.
Hal ini disebabkan karena berdasarkan perjanjian berkas sinar datang dari sebelah kiri lensa
dan permukaan lensa yang pertama kali ditembus oleh berkas sinar tersebut, titik fokusnya
dilambangkan dengan F1.

Berkas Sinar Istimewa

Seperti pada cermin lengkung, pada lensa dikenal pula tiga berkas sinar istimewa. Pada
lensa positif tiga sinar istimewa tersebut adalah:

Gambar 24. Tiga berkas sinar istimewa pada lensa positif.


1. Sinar datang sejajar sumbu utama akan dibiaskan melalui fokus utama.
2. Sinar datang melalui fokus utama dibiaskan sejajar sumbu utama.
3. Sinar datang melalui pusat optik akan diteruskan tanpa dibiaskan.

Pada lensa negatif tiga sinar istimewa itu adalah:

Gambar 25. Tiga berkas sinar istimewa pada lensa negatif.


1. Sinar datang sejajar sumbu utama akan dibiaskan seolah-olah sinar bias itu berasal dari
fokus utama F1.
2. Sinar datang menuju fokus utama F2 akan dibiaskan sejajar sumbu utama.
3. Sinar datang melalui pusat optik akan diteruskan tanpa dibiaskan .
Berkas sinar-sinar istimewa di atas dibutuhkan saat kita hendak menentukan bayangan
suatu benda yang dibentuk oleh lensa dengan cara melukis seperti dijelaskan berikut ini.

Melukis pembentukan bayangan pada lensa

Gambar 26. Pembentukan bayangan pada lensa positif untuk benda yang
diletakkan antara F2 dan 2 F2.
Benda AB pada gambar 26 di atas diletakkan di depan lensa positif pada jarak s dari pusat
optik O. Untuk melukis bayangan benda AB sebenarnya cukup digunakan 2 dari 3 sinar
istimewa saja. Namun pada gambar 26 di atas, tampak ketiga sinar istimewa itu
ditampilkan. Bayangan benda AB, yakni A'B' terbentuk pada jarak s' dari pusat optik.
Tampak bahwa titik B’ yang merupakan bayangan dari titik B terbentuk dari perpotongan
tiga sinar istemewa. Cobalah Anda telusuri perjalanan tiga sinar istimewa tersebut pada
gambar 26 agar Anda lebih memahaminya.
Kita tak perlu melukis tiga sinar istimewa untuk menentukan bayangan titik A, sebab benda
AB merupakan garis lurus yang tegak lurus pada sumbu utama. Jadi titik A' langsung kita
tentukan begitu kita temukan titik B'. Caranya dengan menarik garis tegak lurus melalui
sumbu utama dari titik B' itu. Nah, titik perpotongan dua garis inilah yang merupakan titik
A’ sebagaimana tampak pada gambar 26 di atas.
Bagaimana, mau mencoba melukis bayangan untuk benda AB dengan posisi yang berbeda
dari gambar 26? Cobalah Anda perhatikan gambar 27 di bawah! Apa persamaan dan
perbedaan antara gambar 27 ini dengan gambar 26?

Gambar 27. Pembentukan bayangan oleh lensa positif untuk benda yang diletakkan pada jarak lebih
besar dari jarak antara pusat optik ke titik 2F2.
Bila Anda perhatikan dua gambar itu akan tampak persamaan dan perbedaan kedua
gambar tersebut. Kesamaannya adalah bahwa bayangan kedua benda terbentuk sebagai
hasil pembiasan pada lensa yang dilukis menggunakan tiga sinar istimewa. Kesamaan yang
lain adalah bahwa bayangan yang terbentuk posisinya terbalik dari posisi bendanya.
Selanjutnya pada kedua gambar tampak benda di sebelah kiri atau di depan lensa,
sedangkan bayangannya ada di sebelah kanan atau di belakang lensa.
Sementara perbedaan antara kedua gambar dijelaskan sebagai berikut.
Pada gambar 26 benda diletakkan pada jarak antara titik F2 dan 2F2, sedangkan pada
gambar 27 benda diletakkan pada jarak yang lebih besar dari jarak antara pusat optik ke
titik 2F2. Bayangan yang terbentuk pada gambar 26 berukuran lebih besar dari bendanya,
sedangkan bayangan yang terbentuk pada gambar 27 ukurannya lebih kecil bila
dibandingkan ukuran bendanya.
Bagaimana kalau posisi benda AB berada antara pusat optik dan titik F2?

Gambar 28. Pembentukan bayangan pada lensa positif bila benda diletakkan
antara pusat optik O dan fokus utama F2.
Pada gambar 28 tampak bayangan A'B' yang terbentuk ada di depan lensa, tidak di
belakang lensa seperti gambar terdahulu dan bayangan tampak tegak (tidak terbalik) serta
lebih besar dari ukuran bendanya. Cara melukis bayangannya secara prinsip sebenarnya
sama, yakni menggunakan tiga sinar istimewa. Hanya saja untuk mendapatkan bayangan
benda A'B' garis-garis yang merupakan sinar-sinar bias dari tiga sinar istimewa tersebut
harus diperpanjang ke belakang (garis putus-putus). Nah, perpotongan tiga garis putus-
putus itulah yang merupakan titik bayangan B'. selanjutnya sama seperti gambar-gambar
terdahulu bayangan A'B' dilukis dengan menarik garis A'B'.

Latihan
Cobalah Anda lukis bayangan benda AB bila posisinya:
a. tepat di fokus utama F2 dan
b. tepat di titik 2F2 lensa positif.
Saat benda di fokus utama, Anda tidak dapat melukis bayangan. Anda hanya mendapatkan
berkas sinar istimewa setelah dibiaskan oleh lensa positif yang merupakan dua sinar yang
sejajar. Dikatakan bahwa bayangan berada di jauh tak terhingga. Pada saat posisi benda
tepat di titik 2F2 bayangan ada di belakang lensa tepat di titik 2F1 dan ukurannya akan
sama dengan ukuran bendanya.
Untuk lensa negatif, sifat-sifat bayangan dari suatu benda sejati di depan lensa selalu
tegak, diperkecil dan maya seperti diperlihatkan gambar 29. Menggeser posisi benda AB
digeser mendekati atau menjauhi pusat optik hanya merubah ukuran bayangan, namun
tidak akan merubah sifat-sifat bayangan (silakan Anda mencobanya).

Gambar 29. Sifat bayangan dari suatu benda sejati di depan lensa negatif selalu maya,
tegak diperkecil.
Berkaitan dengan pembentukan bayangan pada lensa, tabel 1 di bawah memuat berbagai
kemungkinan posisi benda dan posisi bayangan serta sifat bayangan tersebut. Anda dapat
memeriksa kebenaran tabel tersebut dengan mencoba melukis sendiri bayangan benda
pada posisi-posisi benda sesuai dengan data pada tabel tersebut.
Tabel 1. Jarak benda jarak bayangan dan sifat bayangan pada lensa.
Jenis
Jarak benda (s) Sifat bayangan
lensa
Positif Antara pusat optik dan fokus utama (F) Maya, tegak, diperbesar
Positif Tepat di fokus utama Bayangan di jauh tak terhingga
Positif Antara F dan 2F Nyata, terbalik, diperbesar
Positif Tepat di 2F Nyata, terbalik, sama besar
Positif Antara 2F dan jauh tak terhingga Nyata, terbalik, diperkecil
Positif Di jauh tak terhingga Nyata, terbalik, diperkecil
Negatif Antara pusat optik dan jauh tak terhingga Maya, tegak, diperkecil
. Dalil Esbach

Seperti pada pemantulan cahaya, pada pembiasan cahaya juga digunakan dalil Esbach
untuk membantu Anda menentukan posisi dan sifat-sifat bayangan yang dibentuk oleh
lensa positif. Untuk lensa nomor ruang untuk benda dan nomor ruang untuk bayangan
dibedakan. Nomor ruang untuk benda menggunakan angka Romawi (I, II, III, dan IV),
sedangkan untuk ruang bayangan menggunakan angka Arab (1, 2, 3 dan 4) seperti pada
gambar berikut ini:

Gambar 30. Penomoran ruang menurut Dalil Esbach.


Seperti tampak pada gambar 30 untuk ruang benda, ruang I antara pusat optik dan F2,
ruang II antara F2 dan 2F2 serta ruang III di sebelah kiri 2F2, sedangkan ruang IV benda
(untuk benda maya) ada di belakang lensa. Untuk ruang bayangan, ruang 1 antara pusat
optik dan F1, ruang 2 antara F1 dan 2F1 serta ruang 3 di sebelah kanan 2F1, sedangkan
ruang 4 (untuk bayangan maya) ada di depan lensa.
Sama seperti pada pemantulan cahaya pada cermin lengkung, posisi bayangan ditentukan
dengan menjumlahkan nomor ruang benda dan nomor ruang bayangan, yakni harus sama
dengan lima. Misalnya benda berada di ruang II, maka bayangan ada di ruang 3.
Lengkapnya dalil Esbach untuk lensa dapat disimpulkan sebagai berikut.

Dalil Esbach

1. Jumlah nomor ruang benda dan nomor ruang bayangan sama dengan lima.
2. Untuk setiap benda nyata dan tegak:
a. Semua bayangan yang terletak di belakang lensa bersifat nyata dan terbalik.
Semua bayangan yang terletak di depan lensa bersifat maya dan tegak.
b.
3. Bila nomor ruang bayangan lebih besar dari nomor ruang benda, maka ukuran
bayangan lebih besar dari bendanya dan sebaliknya.
Contoh:
Sebuah benda diletakkan pada jarak 25 cm di depan sebuah lensa positif yang fokus
utamanya 10 cm. Tentukan sifat-sifat bayangan yang terbentuk!
Penyelesaian:
Dari data soal dapat disimpulkan bahwa benda diletakkan di ruang III, yakni di suatu titik
antara 2F dan dan tak terhingga (lihat gambar 30 di atas). Oleh karena jumlah nomor ruang
benda dan nomor ruang bayangan harus lima, berarti bayangan ada di ruang 2 (di belakang
lensa). Jadi, sesuai dengan dalil Esbach sifat bayangan adalah nyata dan terbalik (karena di
belakang lensa) serta diperkecil (nomor ruang bayangan lebih kecil dibandingkan nomor
ruang benda).

Persamaan Lensa Tipis

Untuk lensa tipis yang permukaannya merupakan permukaan bola persamaan-persamaan


yang berkaitan dengan hubungan antara jarak benda (s), jarak bayangan (s') dan jarak
fokus (f) serta perbesaran bayangan benda (M) diturunkan dengan bantuan geometri dapat
dijelaskan berikut ini.

Gambar 31. Pembiasan pada lensa tipis yang permukaannya


merupakan permukaan bola.
Pada gambar 31 di atas lensa tipis mempunyai dua permukaan lengkung yakni permukaan
ABC dan permukaan ADC, sementara ketebalan lensa yakni BD dapat diabaikan. Titik C1
dan C2 berutur-turut merupakan titik pusat kelengkungan lensa ABC dan ADC, sedangkan
R1 dan R2 adalah jari-jari kelengkungan permukaan-permukaan tersebut. Bayangan suatu
benda yang diletakkan di titik O di depan lensa tersebut terbentuk setelah berkas sinar dari
O yang menuju lensa dibiaskan dua kali oleh lensa tersebut.

Berkas sinar yang berasal dari O ketika melewati permukaan ABC dibiaskan sedemikian
sehingga terbentuk bayangan di titik I1. Oleh permukaan ADC bayangan I1 itu di anggap
benda dan dibiaskan oleh permukaan ADC sedemikian sehingga terbentuk bayangan akhir
di titik I2. Berdasarkan persamaan permukaan lengkung kita dapatkan persamaan untuk
permukaan ABC,

Untuk permukaan ADC

Ingat, n1 adalah indeks bias medium di mana lensa berada dan n2 adalah indeks bias lensa
(tepatnya indeks bias bahan lensa)! Seperti telah dikatakan sebelumnya, karena yang
sedang dibicarakan adalah lensa tipis, maka ketebalan lensa (BD) diabaikan. Akibatnya
jarak BI1 = DI1 sehingga ketika dua persamaan untuk dua permukaan lensa tipis di atas
dijumlahkan, suku-suku yang mengandung BI1 atau DI1 pada kedua persamaan itu dapat
dihilangkan (karena berlawanan tanda) lalu akan diperoleh,

Pada gambar 31 di atas OB adalah jarak benda (s) dan DI2 adalah jarak bayangan (s'),
maka

atau

Bila ruas kiri dan ruas kanan sama-sama kita bagi dengan n1 akan kita peroleh,
Persamaan lensa tipis
dengan
s = jarak benda
s' = jarak bayangan
n1 = indeks bias medium sekeliling lensa
n2 = indeks bias lensa
R1 = jari-jari kelengkungan permukaan pertama lensa
R2 = jari-jari kelengkungan permukaan kedua lensa

Persamaan lensa tipis di atas berlaku hanya untuk sinar-sinar datang yang dekat dengan
sumbu utama lensa (sinar-sinar paraksial) dengan ketebalan lensa jauh lebih kecil
dibandingkan dengan jari-jari kelengkungannya.

Jarak Fokus Lensa-lensa


Fokus lensa (F) didefinisikan sebagai letak bayangan jika bendanya berada di titik tak
hingga. Jarak fokus lensa (f) adalah jarak dari pusat optik ke titik fokus (F). Jadi bila s = ~,
maka f = s’. Bila kita masukkan data ini pada persamaan lensa tipis di atas, maka kita
peroleh,

karena = 0, maka

Persamaan fokus lensa tipis


dengan
f = jarak fokus lensa
n1 = indeks bias medium sekeliling lensa
n2 = indeks bias lensa
R1 = jari-jari kelengkungan permukaan pertama lensa
R2 = jari-jari kelengkungan permukaan kedua lensa

Dalam menggunakan dua persamaan lensa tipis di atas, gunakan perjanjian tanda berikut
ini.
s = Benda bertanda positif (+) jika benda terletak di depan lensa (benda nyata).
Benda bertanda negatif (–) jika benda terletak di belakang lensa (benda maya).
s = Bayangan bertanda positif (+) jika bayangan terletak di belakang lensa (bayangan
s' =
nyata).
Bayangan bertanda negatif (–) jika benda terletak di depan lensa (bayangan maya).
s' =
Jarak fokus bertanda positif (+) untuk lensa positif (lensa cembung).
Jarak fokus bertanda negatif (–) untuk lensa negatif (lensa cekung).
f=
Jari-jari bertanda positif (+) untuk permukaan lensa yang cembung.
f=
Jari-jari bertanda negatif (–) untuk permukaan lensa yang cekung.
R=
Jari-jari tak terhingga untuk permukaan lensa yang datar.
R=
R=

Bila kedua persamaan fokus lensa tipis di atas kita gabungkan, maka akan didapat
persamaan baru yang dikenal sebagai persamaan pembuat lensa, yaitu

Persamaan perbesaran lensa tipis

Perbesaran Bayangan
Persamaan untuk menentukan perbesaran bayangan untuk lensa sama dengan persamaan untuk
cermin lengkung, yakni:

Persamaan perbesaran lensa tipis


dengan
s = jarak benda
s' = jarak bayangan
h = tinggi benda
h' = tinggi bayangan
Contoh 1:
Sebuah lensa tipis bikonveks mempunyai jarak fokus 8 cm. Sebuah benda yang tingginya 2
cm diletakkan di depan lensa itu. Tentukan posisi dan tinggi bayangan yang terbentuk jika
benda diletakkan pada jarak a. 12 cm dan dan b. 20 cm!
Penyelesaian:
Diketahui : f = 8 cm
h = 2 cm

Ditanyakan : a. h' = ?
b. s' = ?

Jawab:
a.
s' = 24

Tinggi bayangan dapat ditentukan dari persamaan perbesaran,

h' = -4 (Tanda minus berarti bayangan terbalik)


Jadi, tinggi bayangan 4 cm atau dua kali tinggi bendanya. Artinya terjadi perbesaran
sebesar 2 kali. Bila Anda perhatikan, tanda pada s' dan h' negatif sehingga dari
keseluruhan data yang didapatkan ini dapat disimpulkan bahwa bayangan bersifat
nyata, diperbesar, terbalik dan berada di belakang lensa. Coba bandingkan kesimpulan
ini dengan kesimpulan yang akan Anda peroleh bila menggunakan Dalil Esbach!
b. Posisi dan tinggi bayangan untuk s = 20 cm
Bila kita gunakan Dalil Esbach dapat kita simpulkan bahwa sifat bayangan yang
terbentuk adalah nyata, terbalik dan diperkecil di ruang 2. Mengapa? Sebab jarak fokus
lensa f = 8 cm, jarak titik 2F dari pusat optik yang merupakan batas ruang II hanya 16
cm, sedangkan jarak benda = 20 cm yang berarti ada di ruang III. Mari kita buktikan
dengan menggunakan persamaan pembuat lensa!
s' = 13,33 cm

Tinggi bayangan dapat ditentukan dari persamaan perbesaran,

Jadi posisi bayangan 13,33 cm dengan tinggi hanya 1,33 cm yang berarti bersifat nyata,
diperkecil dan terbalik di belakang lensa. Sifat-sifat ini sama seperti sifat-sifat bayangan
yang kita peroleh dari Dalil Esbach di atas.

Latihan
Untuk soal Contoh 2 di atas, cobalah Anda buktikan bahwa bila benda diletakkan 4 cm dari
pusat optik, maka posisi dan tinggi bayangan yang terbentuk adalah 8 cm dan 4 cm!

Contoh 2:
Sebuah lensa bikonveks (cembung-cembung) mempunyai jari-jari kelengkungan R1 = 20
cm dan R2 = 30 cm terbuat dari kaca dengan indeks bias = 1,5. Tentukan jarak fokus lensa
tersebut!
Penyelesaian:
Gunakan perjanjian tanda untuk jari-jari kelengkungan R1 dan R2 sebagaimana dijelaskan di
atas. Karena jenis lensa cembung-cembung, maka kedua jari-jari kelengkungan tersebut
bernilai positif.

Diketahui : R1 = +20 cm
R2 = +30 cm
n1 = 1
n2 = 1,5

Ditanyakan : f =?
Jawab :

= 0,5 x

f = 24 cm

Jadi, fokus lensa positif sebesar 24 cm.


Contoh 3:
Sama dengan soal contoh 2, namun untuk lensa bikonkaf (cekung-cekung).
Penyelesaian:
Untuk lensa cekung-cekung berarti R1 dan R2 bernilai negatif,

Diketahui : R1 = -30 cm
R2 = -20 cm
n1 = 1
n2 = 1,5

Ditanyakan : f =?

Jawab :

= 0,5 x -

f = -24 cm

Jadi, fokus lensa negatif sebesar -24 cm.


Contoh 4:
Sama dengan soal contoh 2, namun untuk lensa konveks-konkaf (cekung-cembung)
Penyelesaian:
Untuk lensa cekung-cembung berarti R1 bernilai positif (permukaan lensa cembung) dan R2
bernilai negatif (permukaan lensa cekung),

Diketahui : R1 = +30 cm
R2 = -20 cm
n1 = 1
n2 = 1,5

Ditanyakan : f =?

Jawab :

= 0,5 x

f = -120 cm

Jadi, fokus lensa negatif sebesar -120 cm.


Latihan
Untuk soal Contoh 2 di atas coba Anda buktikan bahwa jika jenis lensanya cembung-cekung
jarak fokusnya positif sebesar 120 cm!

Bagaimana, dapat? Ya, jangan berhenti mencoba dan berusaha agarAnda dapat
mengerjakan soal latihan di atas. Baru setelah itu Anda istirahat sebentar atau langsung
mempelajari soal contoh berikut ini.
Contoh 5:
Bayangan nyata yang dibentuk oleh lensa cembung-datar mempunyai ukuran 2 kali
bendanya. Jika salah satu jari-jari kelengkungan lensa yang indeks biasnya 1,52 itu adalah
52 cm, tentukan jarak benda di depan lensa!
Penyelesaian:
Perbesaran benda M = 2, maka dari persamaan besaran kita dapatkan s' = 2s. Kemudian
bersama data soal yang lain data ini kita masukan ke persamaan fokus lensa tipis.
Diketahui : M=2
R1 = ~
R2 = -52 cm
n1 = 1
n2 = 1,52
s' = 2s

Ditanyakan : s =?

Jawab :

s = = 150 cm
Jadi, jarak benda 150 cm di depan lensa (sebab jarak s bertanda positif).
Contoh 6:
Sebuah lensa dengan indeks bias 1,5 mempunyai jarak fokus 20 cm di udara. Hitung jarak

fokusnya jika lensa tersebut dicelupkan dalam air n = !


Penyelesaian:
Sekilas soal ini tampak sulit karena data soalnya sangat sedikit (tidak ada jari-jari
kelengkungan dan jenis lensanya), namun justru karena itu soal ini sangat mudah. Anda
hanya perlu menggunakan cara perbandingan, yakni perbandingan persamaan fokus lensa
untuk medium udara dan medium air.
Diketahui : n1 = nudara = 1

n1' = nair =
n2 = 1,52
f = 20 cm.
Ditanyakan : f' =?

Jawab :

Jari-jari kelengkungan lensa tidak mengalami perubahan saat lensa di udara atau di saat di
air sehingga dapat dihilangkan dari persamaan, kita peroleh

f' = 4 x 20 = 80 cm

Jadi, fokus lensa lensa di dalam air adalah 80 cm. Ini lebih besar dibandingkan saat lensa
berada di udara.

Nah, demikianlah beberapa contoh penerapan persamaan lensa, mudah-mudahan Anda


dapat memahaminya dengan baik.

Kuat Lensa

Kuat lensa berkaitan dengan sifat konvergen (mengumpulkan berkas sinar) dan divergen
(menyebarkan sinar) suatu lensa. Untuk Lensa positif, semakin kecil jarak fokus, semakin
kuat kemampuan lensa itu untuk mengumpulkan berkas sinar. Untuk Lensa negatif,
semakin kecil jarak fokus semakin kuat kemampuan lensa itu untuk menyebarkan berkas
sinar. Oleh karenanya kuat lensa didefinisikan sebagai kebalikan dari jarak fokus,

Persamaan kuat lensa


dengan
P = kuat lensa dalam satuan dioptri
f = jarak fokus lensa dalam satuan meter

Contoh 1:
Sebuah lensa bikonveks (cembung-cembung) mempunyai jari-jari kelengkungan 9 cm dan
18 cm. Sebuah benda diletakkan pada jarak 24 cm di depan lensa dan bayangan yang
terbentuk merupakan bayangan nyata 24 cm di belakang lensa itu. Tentukan fokus, kuat
lensa dan indeks bias lensa itu!
Penyelesaian:
Diketahui : R1 = +9 cm
R2 = 18 cm
s = 24 cm
s' = 24 cm
n1 = 1

Ditanya : a. f = ?
b. P = ?
c. n2 = ?

Jawab:
a. jarak fokus lensa dapat dihitung dengan menggunakan persamaan pembuat lensa

= +

f = 12 cm.
Jadi jarak fokus lensa adalah 12 cm.

b. Kuat lensa

f = 12 cm = 0,12 m

= 8,33 dioptri
Jadi kuat lensa sama dengan 8,33 dioptri.

c. Indeks bias lensa ditentukan dengan menggunakan persamaan fokus lensa


x 6 = (n2 - 1)

n2 = 0,5 + 1 = 1,5
Jadi indeks bias lensa di udara sama dengan 1,5.

Lensa Gabungan

Suatu lensa gabungan merupakan gabungan dari dua atau lebih lensa dengan sumbu
utamanya berhimpit dan disusun berdekatan satu sama lain sehingga tidak jarak antara
lensa yang satu dengan lensa yang lain (d = 0). Untuk mendapatkan persamaan gabungan
perhatikan gambar 32 berikut ini.

Gambar 32. Pembentukan bayangan pada dua lensa yang disusun


sangat berdekatan d = 0.
Lensa (1) dan lensa (2) pada gambar 32 digabung dengan sumbu utama berhimpit tanpa
ada jarak antara keduanya (d = 0). Sebuah benda AB diletakkan pada jarak s1 dari kedua
lensa itu. Pembiasan pada lensa (1) membentuk bayangan A'B' pada jarak s1. Bagi lensa
(2) bayangan A'B' merupakan benda yang jaraknya -s2 dari lensa (Tanda minus karena
benda di belakang lensa). “Benda” ini lalu dibiaskan oleh lensa (2) sehingga terbentuk
bayangan A''B'' pada jarak s’2 dari lensa itu. Dengan menggunakan persamaan pembuat
lensa kita dapatkan,

karena
maka,

atau

Dua buah lensa di atas dapat dianggap sebagai sebuah lensa yang merupakan gabungan
kedua lensa itu dengan s1 = s merupakan jarak benda lensa gabungan dan s'2 = s'
merupakan jarak bayangan pada lensa tersebut seperti tampak pada gambar 33.

Gambar 33. Lensa gabungan.


Karenanya persamaan lensa gabungan berdasarkan gambar 33 ini adalah:

dikaitkan dengan persamaan sebelumnya kita peroleh,

Akhirnya kita dapatkan persamaan lensa gabungan dengan sumbu utama berhimpit,

Untuk lensa gabungan dari 3 lensa atau lebih persamaan terakhir di atas dapat diubah
menjadi,
Persamaan fokus lensa gabungan

Harus diingat bahwa dalam menggunakan persamaan ini jenis lensa perlu diperhatikan.
Untuk lensa positif (lensa cembung), jarak fokus (f) bertanda plus, sedangkan untuk lensa
negatif (lensa cekung), jarak fokus bertanda minus. Perhatikan contoh soal berikut ini!

Contoh 1:
Antara dua lensa positif yang jarak fokusnya 6 cm dan 10 cm disisipkan sebuah lensa
negatif dengan fokus 8 cm. Tentukan jarak fokus lensa gabungan dan kuat lensa gabungan
tersebut!
Penyelesaian:
Diketahui : f1 = +6 cm
f2 = -8 cm
f3 = +10 cm

Ditanya : fgab dan Pgab = ?

Jawab:

fgab = = 7,06 cm

Jadi, fokus lensa gabungan sama dengan 7,06 cm atau 7,06 x 10–2 m.

Kuat lensa gabungan adalah,

P=
=

= 14,17 dioptri.

Bagaimana, mudah saja bukan?

berasi Sferis

Apa yang sudah kita bicarakan tentang pembentukan bayangan pada lensa tipis sejauh ini
adalah pembentukan bayangan oleh sinar-sinar paraksial atau sinar-sinar yang dekat
dengan sumbu utama lensa sehingga bayangan yang terbentuk terkesan sangat jelas dan
tajam. Pada kenyataannya, bayangan yang dibentuk oleh lensa tidak selalu tajam, bahkan
bisa saja terlihat kabur (buram). Cacat bayangan seperti ini disebabkan oleh berkas sinar
yang jauh dari sumbu utama tidak dibiaskan sebagaimana yang diharapkan. Berkas sinar
sejajar yang jauh dari sumbu utama dibiaskan lensa tidak tepat di fokus utama, tetapi
cenderung untuk mendekati pusat optik (Gambar). Semakin jauh dari sumbu utama, berkas
sinar sejajar ini akan semakin mendekati pusat optik lensa. Cacat inilah yang disebut
aberasi sferis.

Gambar 34. Aberasi sferis Berkas sinar sejajar yang jauh dari sumbu utama dibiaskan lensa tidak tepat di
fokus utama, tetapi cenderung untuk mendekati pusat optik.
Selain aberasi sferis, dikenal juga beberapa cacat lensa yang lain seperti astigmatisme,
distorsi dan aberasi kromatis. Astigmatisme adalah kelainan pembentukan bayangan dari
suatu benda titik yang jauh dari sumbu utama. Bayangan dari benda titik tidak berupa titik,
tetapi dapat berupa ellips, lingkaran atau garis. Distorsi atau kelengkungan medan terjadi
bila bayangan dari suatu benda yang datar (pipih) yang jauh dan tidak terletak pada sumbu
utama lensa tampak melengkung sedangkan aberasi kromatis terjadi bila berkas sinar
polikromatik yang melewati lensa tidak hanya dibiaskan, tapi juga diuraikan warna-warni
seperti warna pelangi. Setiap warna akan mempunyai titik fokus yang berbeda-beda dimana
warna merah mempunyai fokus paling jauh dan warna ungu mempunyai fokus paling dekat
ke pusat optik.

Sampai di sini selesai sudah uraian materi Kegiatan 3 yang juga merupakan kegiatan
terakhir modul ini. Selanjutnya, silakan kerjakan tugas di bawah ini.

Kegiatan Laboratorium

Untuk menyelidiki jarak fokus dan sifat-sifat bayangan yang dibentuk oleh lensa cembung
lakukanlah eksperimen berikut ini.

Keterangan:
1 = Bangku optik
2 = Lilin sebagai benda
3 = Lensa cembung
4 = Kertas putih sebagai layar

Aturlah posisi lensa dan lilin pada jarak tertentu (s). Pastikan bayangan lilin terbentuk di
layar. Carilah bayangan api lilin yang tampak paling terang di layar lalu ukurlah jarak dari
lilin ke layar yang merupakan jarak bayangan (s’). Amati pula bayangan api kecil pada
layar, apakah tampak terbalik atau tegak, diperbesar atau diperkecil.
Lakukanlah langkah-langkah di atas berulang-ulang untuk jarak benda (s) yang berbeda-
beda. Masukkan data yang Anda peroleh ke dalam tabel-tabel di bawah.

Tabel 2: Data Percobaan Lensa Cembung

No s(cm) s'(cm)
+
1 2 3 4 5 6
1. - - - - -
2. - - - - -
3. - - - - -
4. - - - - -
5. - - - - -
6. - - - - -
7. - - - - -
8. - - - - -
9. - - - - -
10. - - - - -
Rata-rata
Tentukanlah jarak fokus lensa dengan cara memasukkan harga rata-rata + pada kolom

6 tabel di atas ke dalam persamaan lensa tipis: = + .


Dari data tabel yang Anda dapatkan, selidiki pula kebenaran dalil Esbach tentang sifat-sifat
bayangan pada lensa cembung.

Selanjutnya, buatlah grafik hubungan antara dan , menggunakan data pada tabel
tersebut. Bila Anda benar, maka grafik yang akan Anda peroleh adalah seperti tampak pada
gambar 35.

Gambar 35. Grafik hubungan antara dan , pada lensa cembung.