Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Diabetes Melitus adalah salah satu penyakit yang berbahaya yang kerap
disebut sebagai silent killer selain penyakit jantung, Orang lazim
menyebutnya sebagai penyakit gula atau kencing manis. Sebelum
menjelaskan lebih lanjut soal penyebab dan cara perawatan pasien diabetes
melitus ada baiknya kita simak dulu definisi mengenai diabetes melitus itu
sendiri.
Diabetes melitus (DM) yang dikenal sebagai non communicable
disease adalah salah satu penyakit sistemik yang paling memprihatinkan di
Indonesia saat ini. Setengah dari jumlah kasus diabetes melitus tidak
terdiagnosis karena pada umumnya diabetes tidak disertai gejala sampai
terjadinya komplikasi. Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme
yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa
hilangnya toleransi karbohidrat (Silvia. Anderson Price, 1995).
Penyakit diabetes melitus semakin hari semakin meningkat dan hal ini
dapat dilihat dari meningkatnya frekuensi kejadian penyakit tersebut di
masyarakat.Diabetes melitus adalah salah satu penyakit yang paling sering
ditemukan di dunia khususnya di Indonesia pada saat ini.
Berdasarkan klasifikasi WHO, diabetes melitus terbagi atas beberapa
tipe yaitu diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, diabetes gestasional dan diabetes
tipe lainnya. Diabetes melitus tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling
banyak diderita masyarakat. Karena dari semua kasus diabetes pada populasi
di beberapa negara diketahui bahwa sekitar 90% adalah diabetes melitus tipe
2. Peningkatan ini umumnya terjadi di negara-negara berkembang disebabkan
karena pertumbuhan penduduk, proses penuaan, obesitas, diet serta pola
hidup yang tidak sehat.

1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu mengetahui tentang konsep dasar dan asuhan
keperawatan pada pasien diabetes mellitus, serta dapat mengaplikasikan
tindakan keperawatan pada pasien diabetes mellitus.
1.3 Manfaat
Agar mahasiswa mampu mengetahui tentang konsep dasar dan asuhan
keperawatan pada pasien diabetes mellitus, serta dapat mengaplikasikan
tindakan keperawatan pada pasien diabetes mellitus.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Diabetes mellitus adalah sekelompok kelainan yang ditandai dengan
peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia). Penyakit ini akibat
defisiensi atau penurunan efektivitas insulin. Insulin merupakan hormon yang
berperan dalam metabolisme glukosa dan disekresikan oleh sel Beta pada
pankreas. Kurangnya sekresi insulin dapat menyebabkan kadar glukosa darah
meningkat dan melebihi batas normal jumlah glukosa yang seharusnya ada
dalam darah. Kondisi ini mengarah pada hiperglikemia, yang dapat
menyebabkan terjadinya komplikasi metabolik akut seperti ketoasidosis
diabetik dan sindrom hiperglikemik hiperosmolar non-ketosis (HHNK).
Gangguan metabolik glukosa pada kasus diabetes mellitus akan
mempengaruhi

metabolisme

tubuh

yang

lain,

seperti

metabolisme

karbohidrat, protein, lemak dan air. Gangguan metabolisme tersebut akhirnya


menimbulkan kerusakan seluler pada beberapa jaringan tubuh. Hiperglikemia
jangka panjang dapat menunjang terjadinya komplikasi mikrovaskular kronis
(penyakit ginjal dan mata) serta komplikasi neuropati. Diabetes juga
berkaitan dengan suatu peningkatan kejadian penyakit makrovaskuler,
termasuk infark miokard, stroke, dan penyakit vaskuler perifer.

2.2 Klasifikasi
1. Tipe I: Insulin-Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)
a. 5% sampai 10% penderita diabetik adalah Tipe I. Sel-sel Beta dari
pankreas yang normalnya menghasilkan insulin dihancurkan oleh
proses autoimun, diperlukan suntikan untuk mengontrol kadar gula
darah.
b. Awitan mendadak biasanya terjadi sebelum usia 30 tahun.
c. Ditemukan adanya predisposisi yang diturunkan berkaitan dengan
HLA-DR3 dan HLA-DR4.
2. Tipe II: Non-Insulin-Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)

a. 90% sampai 95% penderita diabetik adalah Tipe II. Kondisi ini
diakibatkan oleh penurunan sensitivitas terhadap insulin atau akibat
penurunan jumlah pembentukan insulin.
b. Pengobatan pertama adalah diit dan olahraga; jika kenaikan kadar
glukosa darah menetap, suplemen dengan preparat hipoglikemik
(suntikan insulin dibutuhkan jika preparat oral tidak dapat
mengontrol hiperglikemia).
c. Terjadi sering pada mereka yang berusia lebih dari 30 tahun dan
pada mereka yang obesitas.
d. Tidak ada kaitannya dengan HLA, tetapi ada kecenderungan familial
untuk mendapat penyakit ini.
2.3 Etiologi
Penyebab Diabetes Melitus berdasarkan klasifikasi menurut WHO tahun
1995 adalah :
1. DM Tipe I (IDDM: DM tergantung insulin)
a. Faktor genetik / herediter
Faktor herediter menyebabkan

timbulnya

DM

melalui

kerentanan sel-sel beta terhadap penghancuran oleh virus atau


mempermudah perkembangan antibodi autoimun melawan sel-sel
beta, jadi mengarah pada penghancuran sel-sel beta.
b. Faktor infeksi virus
Berupa infeksi virus coxakie dan Gondogen yang merupakan
pemicu yang menentukan proses autoimun pada individu yang peka
secara genetik.
2. DM Tipe II (NIDDM: DM tidak tergantung insulin)
Terjadi paling sering pada orang dewasa, dimana terjadi obesitas
pada individu obesitas dapat menurunkan jumlah resoptor insulin dari
dalam sel target insulin diseluruh tubuh. Jadi membuat insulin yang
tersedia kurang efektif dalam meningkatkan efek metabolik yang biasa.
2.4 Patofisiologi
DM Tipe I

DM Tipe II

Reaksi Autoimun

Idiopatik, usia, genetil, dll

sel pancreas hancur

Jmh sel pancreas menurun


Defisiensi insulin

Hiperglikemia

Katabolisme protein meningkat

Lipolisis meningkat

Penurunan BB polipagi
Diuresis Osmotik
Glukosuria

Glukoneogenesis
meningkat

Kehilangan elektrolit urine

Gliserol asam lemak


bebas meningkat

Ketogenesis

Kehilangan cairan hipotonik


Ibarat suatu mesin, tubuh memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan
Polidipsi
ketoasidosis
Hiperosmolaritas
ketonuria
mengganti sel yang rusak.
Disamping itu tubuh juga memerlukan energi
supaya
sel tubuh dapat berfungsi dengan baik. Energi yang dibutuhkan oleh tubuh berasal
dari bahan makanan yang kita makan setiap hari. Bahan makanan tersebut terdiri
coma
dari unsur karbohidrat, lemak dan protein (Suyono,1999).
Pada keadaan normal kurang lebih 50% glukosa yang dimakan mengalami
metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air, 10% menjadi glikogen dan 20%
sampai 40% diubah menjadi lemak. Pada Diabetes Mellitus semua proses tersebut
terganggu karena terdapat defisiensi insulin. Penyerapan glukosa kedalam sel
macet dan metabolismenya terganggu. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar
glukosa tetap berada dalam sirkulasi darah sehingga terjadi hiperglikemia.
Penyakit Diabetes Mellitus disebabkan oleh karena gagalnya hormon
insulin. Akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak dapat diubah menjadi
glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi hiperglikemi. Ginjal
tidak dapat menahan hiperglikemi ini, karena ambang batas untuk gula darah
adalah 180 mg% sehingga apabila terjadi hiperglikemi maka ginjal tidak bisa
menyaring dan mengabsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Sehubungan dengan

sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine
yang disebut glukosuria. Bersamaan keadaan glukosuria maka sejumlah air hilang
dalam urine yang disebut poliuria. Poliuria mengakibatkan dehidrasi intra
selluler, hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien akan merasakan haus
terus menerus sehingga pasien akan minum terus yang disebut polidipsi.
Produksi insulin yang kurang akan menyebabkan menurunnya transport
glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan
karbohidrat, lemak dan protein menjadi menipis. Karena digunakan untuk
melakukan pembakaran dalam tubuh, maka klien akan merasa lapar sehingga
menyebabkan banyak makan yang disebut poliphagia. Terlalu banyak lemak yang
dibakar maka akan terjadi penumpukan asetat dalam darah yang menyebabkan
keasaman darah meningkat atau asidosis. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu
banyak hingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernapasan,
akibatnya bau urine dan napas penderita berbau aseton atau bau buah-buahan.
Keadaan asidosis ini apabila tidak segera diobati akan terjadi koma yang disebut
koma diabetik (Price,1995).

2.5 Manifestasi klinis


2.5.1 Diabetes Tipe I:
1. Hiperglikemia berpuasa
2. Glukosuria, dieresis osmotik, poliuria, polidipsia, dan polifagia
3. Keletihan dan kelemahan
4. Ketoasidosis diabetik (DAK) menyebabkan tanda-tanda nyeri
abdomen, mual, muntah, hiperventilasi, napas bau buah; jika
tidak ditangani, perubahan tingkat kesadaran, koma, kematian
2.5.2 Diabetes Tipe II:
1. Lambat (selama tahunan), intoleransi glukosa progresif
2. Gejala-gejala seringkali ringan dan dapat letih, mudah
tersinggung, poliuria, polidipsia, luka pada kulit yangsembuhnya
lambat, infeksi vaginal, atau penglihatan kabur (jika kadar
glukosa sangat tinggi).
2.6 Komplikasi
6

Diabetes Mellitus bila tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan


komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata, ginjal, jantung, pembuluh
darah kaki, saraf, dan lain-lain (Corwin, 2000).
Komplikasi yang berkaitan dengan kedua tipe diabetes digolongkan
sebagai berikut:
1. Komplikasi akut:
a. Hipoglikemia
b. Ketoasidosis diabetik (DKA)
c. Sindrom hiperglikemik hiperosmolar non-kerotic (HHNK)
2. Komplikasi kronis
a. Mikrovaskular (penyakit pembuluh darah kecil): mengenai ginjal
dan mata
b. Makrovaskular (penyakit pembuluh darah besar): mengenai
sirkulasi koroner, vascular serebral, dan vaskular perifer)
c. Penyakit neuropati; mengenai saraf sensorik-motorik dan autonomi
serta menunjang masalah seperti impotensi dan ulkus pada kaki
2.7 Penatalaksanaan medik
Diabetes Mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan
berbagai penyakit dan diperlukan kerjasama semua pihak ditingkat pelayanan
kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan berbagai usaha dan
akan diuraikan sebagai berikut :
1. Perencanaan Makanan
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang
seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak yang sesuai dengan
kecukupan gizi baik yaitu:
a. Karbohidrat sebanyak
b. Protein sebanyak
c. Lemak sebanyak

60 70 %
10 15 %
20 25 %

Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur,


stress akut dan kegiatan jasmani. Untuk kepentingan klinik praktis,

penentuan jumlah kalori dipakai rumus Broca yaitu Barat Badan Ideal =
(TB-100)-10%, sehingga didapatkan:
a.

Berat badan kurang: < 90% dari BB Ideal

b.

Berat badan normal: 90-110% dari BB Ideal

c.

Berat badan lebih: 110-120% dari BB Ideal

d.

Gemuk: > 120% dari BB Ideal


Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut

diatas dibagi dalam beberapa porsi yaitu :


a.
b.
c.
d.

Makanan pagi sebanyak


Makanan siang sebanyak
Makanan sore sebanyak
2-3 porsi makanan ringan sebanyak

20%
30%
25%
10-15 % diantaranya.

Kolesterol < 300 mg/H, kandungan serat 25 gr/H, Konsumsi


garam dibatasi ( ada hipertensi).
2. Latihan Jasmani
Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu)
selama kurang lebih 30 menit yang disesuaikan dengan kemampuan dan
kondisi penyakit penyerta. Sebagai contoh olah raga ringan adalah
berjalan kaki biasa selama 30 menit, olehraga sedang berjalan cepat
selama 20 menit dan olah raga berat jogging.
3. Obat Hipoglikemik
a. Sulfonilurea
Obat golongan sulfonylurea bekerja dengan cara :
1) Menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan.
2) Menurunkan ambang sekresi insulin.
3) Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan
glukosa.
Obat golongan ini biasanya diberikan pada pasien dengan BB normal
dan masih bisa dipakai pada pasien yang beratnya sedikit lebih.
b. Biguanid
Preparat yang ada dan aman dipakai yaitu metformin. Sebagai
obat tunggal dianjurkan pada pasien gemuk (imt 30), untuk pasien

yang berat lebih (imt 27-30) dapat juga dikombinasikan dengan


golongan sulfonylurea.
c. Insulin
Indikasi pengobatan dengan insulin adalah :
1)Semua penderita DM dari setiap umur (baik IDDM maupun
NIDDM) dalam keadaan ketoasidosis atau pernah masuk
kedalam ketoasidosis.
2)DM dengan kehamilan/ DM gestasional yang tidak terkendali
dengan diet (perencanaan makanan).
3)DM yang tidak berhasil dikelola dengan obat hipoglikemik oral
dosif maksimal. Dosis insulin oral atau suntikan dimulai dengan
dosis rendah dan dinaikkan perlahan lahan sesuai dengan hasil
glukosa darah pasien. Bila sulfonylurea atau metformin telah
diterima sampai dosis maksimal tetapi tidak tercapai sasaran
glukosa

darah

maka

dianjurkan

penggunaan

kombinasi

sulfonylurea dan insulin.


4)Penyuluhan untuk merancanakan pengelolaan sangat penting
untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Edukator bagi pasien
diabetes yaitu pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan
dan keterampilan yang bertujuan menunjang perubahan perilaku
untuk meningkatkan pemahaman pasien akan penyakitnya, yang
diperlukan untuk mencapai keadaan sehat yang optimal.
Penyesuaian keadaan psikologik kualifas hidup yang lebih baik.
Edukasi merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan
diabetes (Bare & Suzanne, 2002)
2.8 Pemeriksaan penunjang
1. Glukosa darah: meningkat 200-100 mg/dL atau lebih.
2. Aseton plasma (keton): positif secara mencolok.
3. Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meningkat.
4. Osmolalitas serum: meningkat tapi biasanya kurang dari 330 mOsm/l
5. Elektrolit:
a. Natrium: mungkin normal, meningkat atau menurun.
b. Kaliaum: normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler),
selanjutnya akan menurun.

6.

c. Fosfor: lebih sering menurun.


Hemoglobin glikosilat: kadarnya meningkat 2 sampai 4 kali lipat dari
normal yang mencermikan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan
terakhir (lma hidup SDM) dan sangat bermanfaat dalm membedakan
DKA dengan kontrol yang tidak adekuat versus DKA yang

7.

berhubungan dengan insiden (misalnya ISK baru).


Gas darah arteri: biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada

8.

HCO3 (asidosis metabolik) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.


Trombosit darah: Ht mungkin meningkat (dehidrasi), leukositosis,

9.

hemokonsentrasi, merupakan respon terhadap stres atau infeksi.


Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal (dehidrasi/penurunan

fungsi ginjal)
10. Amilase darah: mungkin meningkat yang mengidikasikan adanya
pankreatitis akut sebagai penyebab dari DKA.
11. Insulin darah: mungkin menurun atau bahkan sampai tidak ada (pada
tipe I) atau normal sampai tinggi (pada tipe II) yang mengindikasikan
insufisiensi

insulin

atau

gangguan

dalam

penggunaannya

(endogen/eksogen). Resisten insulin dapat berkembang sekunder


terhadap pembentukan antibodi (autoantibodi).
12. Pemeriksaan fungsi tiroid: peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat
meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
13. Urine: gula dan aseton positif; berat jenis dan osmolalitas mungkin
meningkat.
14. Kultur dan sensitifitas: kemungkinan adanya infeksi pada saluran
kemih, infeksi pernapasan, dan infeksi pada luka.

10

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELLITUS
3.1 Pengkajian
c.1.1 Riwayat Penyakit Sekarang
1. Sejak kapan pasien mengalami tanda dan gejala penyakit
diabetes melitus dan apakah sudah dilakukan cara untuk
mengatasi gejala tersebut.
2. Apakah pernah melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4
kg.
3. Apakah

pernah

pankreatitis,

mengalami

neoplasma,

penyakit

pankreas

trauma/pancreatectomy,

seperti
penyakit

infeksi seperti kongenital rubella, infeksi citomegalovirus, serta


sindrom genetik diabetes seperti Sindrom Down.
4. Penggunaan obar-obatan atau zat kimia seperti glukokortikoid,
homon tiroid, dilantin, nicotinic acid.
5. Hipertensi lebih dari 140/90 mmHg atau hiperlipidemia,
6.
7.
8.
9.
c.1.2

kolesterol atau trigliserida lebih dari 150 mg/dl.


Perubahan pola makan, minum, dn eliminasi urine.
Apakah ada riwayat keluarga dengan penyakit Diabetes Melitus.
Adakah riwayat luka yang lama sembuh.
Penggunaan obat Diabetes Melitus sebelumnya.

Keluhan Utama Pasien Saat Ini


1. Nutrisi
Peningkatan nafsu makan, mual, muntah, penurunan atau
peningkatan berat badn, banyak minum air putih dan rasa haus.
2. Eliminasi
Perubhan pola berkemih (poliuria), nokturia, kesulitan
berkemih, diare.
3. Neurosensori
Nyeri kepala,

parathesia,

kesemutan

pada

ekstremitas,

penglihatan kabur, gangguan penglihatan.


4. Integumen
Gatal pada kulit, gatal pada sekitar penis dan vagina, luka
gangren.
5. Muskuloskeletal
Kelemahan dan keletihan.
6. Fungsi Seksual

11

Ketidakmampuan ereksi (impoten), regiditas, penurunan libido,


kesulitan orgasme pada wanita.
3.2 Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
3.2.1 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan tidak adekuatnya produksi insulin.
Tujuan: kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.
Kriteria hasil:
1. Pasien mengungkapkan tidak ada mual dan nafsu makan baik.
2. Berat badan pasien dalam rentng ideal.
3. Intake makanan sesuai dengan kebutuhan tubuh, Indeks Massa
Tubuh (BMI)
4. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
5. Nilai Hb dalam batas normal.
6. Kadar glukosa tubuh dalam rentang toleransi.
Data yang mungkin muncul:
1. Mual dan tidak nafsu mkan.
2. Intake kalori kurang dari kebutuhan tubuh.
3. Berat badan 10 sampai 20% dibawah berat badan ideal.
4. Hiperglikemia.
5. Hb kurang dari normal.

Intervensi
Kaji status nutrisi pasien.

Rasional
Menentukan kebutuhan

nutrisi

pasien.
Timbang berat badan pasien dan Berat badan indikator status nutrisi
lakukan secara berkala 3 hari sekali pasien. dapat menentukan Basal
atau sesuai indikasi.

Massa Indeks dan merencanakan

Ukur body massa indeks pasien.

terapi nutrisi.
Kebutuhan nutrisi tubuh ditentukan

Identifikasi

faktor-faktor

mempengaruhi

status

juga oleh BMI.


yang Banyak faktor yang mempengaruhi
nutrisi status

pasien.

sehingga

perlu

diketahui penyebab kurang nutrisi


dan

Monitoring

nutrisi

gula

darah

merencanakan

pemenuhan

nutrisi.
pasien Perubahan kadar gula darah dapat

secara periodik sesuai indikasi.

terjadi setiap saat serta dapat


menentukan

perencanaan
12

Monitor

nilai

kebutuhan kalori.
yang Penurunan
albumin

labotarium

indikasi

terkait dengan status nutrisi seperti penurunan protein, penurunan Hb


albumin,

Hb,

transferring, indikasi penurunan leukosit darah,

elektrolit.

penurunan

transferring

indikasi

penurunan serum protein. Kadar


otassium dan sodium menurun
pada malnutrisi.
Monitor kadar serum lipid seperti Peningkatan kadar lemak dapat
kolesterol

total,

low

density meningkatkan

resiko

penyakit

lipoprotein (LDL) kolesterol, high jntung dan stroke.


density

lipoprotein

(HDL)

kolesterol, dan trigliserida.


Kaji pengetahuan pasien
keluarga tentang diet diabetik.

dan Pasien

DM

rentan

terjadi

komplikasi sehingga pasien dan


keluarga

harus

memahami

komplikasi akut dan kronik.


Kaji pola makan dan aktivitas Aktivitas latihan yang
pasien.

rutin

membantu menurunkan komplikasi


penyakit jantung dan menurunkan

kadar gula darah.


Konsultasikan dengan ahli diet Ahli gizi lebih kompeten dalam
untuk

mengidentifikasi

dan penentuan

dan

merencanakan

merencanakan kebutuhan nutrisi kebutuhan nutrisi pasien.


pasien.
Libatkan

pasien

dan

dalam merencanakan
nutrisi.

keluarga Keluarga dan pasien merupakan


kebutuhan subjek dan objek yang dapat
menentukan sesuai dengan sumber
daya

yang

memberikan
program

dimiliki
keyakinan
nutrisi

dan
rencana
dapat

dilaksanakan.
Laksanakan program terapi seperti Pengobatan adalah bagian yang
pemberin obat antidiabetik atau tidak terpisahkan dari peningkatan

13

insulin.
Monitoring

tanda-tanda

status nutrisi pasien.


adanya Pemberian obat antidiabetik atau

hipoglikemia.
Berikan

insulin

pendidikan

dapat

menimbulkan

hipoglikemia.
kesehatan Pasien kooperatif dalam program

tentang diet DM, obat-obatan dan pemulihan status nutrisi.


resiko tidak mentaati apa yang
sudah diprogramkan dan program
aktivitas.
Berikan dukungan yang positif jika Memberikan motivasi dan percara
pasien

mampu

melaksanakan diri

program nutrisi dengan benar.


3.2.2 Resiko

pasien

untuk

tetap

melaksanakan program diet.

ketidakseimbangan

cairan

berhubungan

dengan

hiperglikemia dan poliuria.


Tujuan: pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan.
Kriteria hasil:
1. Pola BAK normal
2. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
3. Konsentrasi urine normal.
4. Berat badan pasien stabil atau tidak ada penurunan berat badan.
5. Intake cairan 1500 3000 ml/hari
6. Kadar gula darah dalam rentang toleransi
Data yang mungkin muncul:
1. Pasien sering BAK
2. Pasien sering haus dan minum
3. Konsentrasi urine meningkat
4. Penurunan berat badan
5. Kulit kering, turgor kulit kurang
6. Kadar gula darah meningkat
7. Penurunan tekanan darah
8. Peningkatan nadi

Intervensi
Rasional
Kaji pola eliminasi urine pasien, Menentukan status ciran tubuh.
konsentrasi urine, keadaan turgir kulit
pasien.
Timbang berat badan pasien setiap Penurunan bert badan mudah sekali
hari.

terjadi pada pasien dengan kehilangan


cairan.

14

Monitor intake dan output cairan Menentukan


pasien.

kebutuhan

dan

keseimbangan cairan tubuh. Defisit


volume ciran menunjukkan penurunan
filtrasi glomerulus dan aliran darah ke
ginjal

yang

dapat

mengakibatkan

oliguria atau anuria.


Anjurkan pasien untuk minum dengan Pemenuhan kebutuhan cairan tubuh.
jumlah yang cukup (1500-3000 ml)
Monitoring tanda vital.

Kekurangan cairan dapat menurunkan


tekanan darah, sinus takikardia dapat

Monitor

keadaan

albumin

elektrolit.

terjadi pada hipovolemia.


dan Penurunan
albumin

indikasi

penurunan protein, penurunan Hb


indikasi penurunan eritrosit darah,
penurunan
penurunan

transferring
serum

protein.

insikasi
Kadar

potassium dan sodium menurun pada


Laksanakan
pemberian

program
insulin

malnutrisi.
pengobtan Menurunkan
atau

antidiabetik.
3.2.3 Resiko

kadar

gula

darah

obat sehingga efektif dalam mengatasi


poliuria.

kerusakan

integritas

kulit

berhubungan

dengan

neuropati sensori perifer, defisit fungsi motorik, neuropati


otonomik.
Tujuan: pasien dapat mempertahankan integritas kulit.
Kriteria hasil:
1. Keadaan jaringan kulit utuh.
2. Neuropati tidak ada.
3. Tidak terjadi luka/ulkus diabetikus.
4. Vaskularisasi perifer baik.
5. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
6. Kebersihan kulit baik, keadaaan kuku baik dan utuh.
7. Keadaan kaki utuh.
Data yang mungkin muncul:
1. Neuropati perifer
2. Vaskularisasi perifer kurang
3. Gangguan fungsi motorik
4. Adanya tanda kaki charcot
15

Intervensi
Rasional
Kaji penampilan atau keadaan dan Kaki merupakan bagian tubuh yang
kebersihan kki pasien.

sering mengalami gangguan integritas

Kaji keadaan kuku pasien.

kulit pada pasien DM.


Pasien DM sering

mengalami

gangguan imunitas sehingga infeksi


jamur mudah terjadi, termasuk pada
kuku.
Kaji integritas kulit pasien, catat Autonomik neuropati menyebabkan
warna

kulit,

ada

atau

tidaknya kulit menjadi kering, kulit mudah

ulserasi, dermatitis.
pecah serta terjadi infeksi.
Kaji keadaan dan bentuk kaki apakah Nuropati
motorik
menyebabkan
ada bentuk kaki charcot, catat adanya kelemahan otot dan artropi sehingga
pembentukan kalus.

terjadi

perubahan

Tekanan

pada

bentuk
kaki

kaki.

berlebihan

menimbulkan kalus yang akan mudah


menjadi luka.
Kaji status sirkulasi vaskuler kaki Pasien DM mudah
dengan palpasi, pulpasi, ultrasound arteriosklerosis
doppler.
Kaji adanya edema.
Kaji

keadaan

sensasi

menjaga kebersihan kulit.


Anjurkan pasien untuk
kulit

sehingga

terjadi

penurunan suplai darah ke kaki.


Keadaan
edema
mempermudah

menggunakan monofilament.
Anjurkan kepada pasien

kelembaban

menimbulkan

kaki

terjadinya luka.
dengan Gangguan sensasi merupakan resiko
tinggi terjadi luka.
untuk Mengurangi resiko infeksi dan terjadi
perlukaan.
menjaga Kulit kaki yang kering beresiko terjadi
dengan luka.

menggunakan lotion.
Anjurkan pasien untuk melakukan Meningkatkan sirkulasi darah pada
latihan senam kaki DM.
kaki.
Anjurkan pasien untuk menggunakan Mengurangi

trauma

dan

terjadi

alas kaki yang lebih lembut atau perlukaan.


sepatu yang tidak keras.

16

Instruksikan kepada pasien untuk Mengurangi resiko trauma karena


menghindari resiko terjadi trauma gangguan sensasi neuropati.
seperti penggunaan kompres hangat,
minum minuman yang panas.

3.2.4 Resiko tidak efektifnya regimen terapeutik berhubungan dengan


baru terpapar DM, pengobtan medik dan kurang pengetahuan
tentang diabetes dan pengobatannya.
Tujuan: pasien dapat memperlihatkan

kemampuan

untuk

mempertahankan gula darh dalam rentang toleransi dan dapat


menunjukkan pengetahuan tentang perawatan diri pada pasien DM.
Kriteri hasil:
1. Pasien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala DM
2. Pasien memahami penyebab dan perjalanan penyakit DM
3. Pasien memahami kriteria penyakit DM
4. Pasien memahami resiko atau komplikasi yang mungkin terjadi
pada pasien DM
5. Pasien memahami cara pengukuran gula darah
6. Pasien mengerti terapi yang diberikan
7. Pasien memahami perawatan pasien dengan DM
Data yang mungkin muncul:
1. Pasien pertama kali mengalami DM
2. Pasien mengatakan tidak mengetahui penyakit DM, pengobatan
dan perawatannya
3. Pasien mengalami komplikasi penyakit DM

Kaji

Intervensi
Rasional
latar belakang pendidikan Memahami
dan

mengukur

pasien dan pengetahuan pasien kemampuan apa saja yang harus


tentang penyakit DM.
disampaikan kepada pasien.
Kaji faktor resiko penyakit DM Informasi awal yang penting untuk
yang dialami pasien.
perencanaan intervensi lebih lanjut.
Kaji komplikasi yang mungkin Informasi adanya komplikasi pada
timbul pada pasien DM seperti pasien DM merupakan indikator
hipertensi, penyakit jantung, ginjal, pasien mengalami DM pada masa
stroke, gangguan penglihatan dan yang lama.

17

gangguan seksual.
Kaji adanya neuropati sensorik, Mengetahui resiko terjadinya luka
neuropati motorik dan otonom.
diabetik.
Eksplorasi pengetahuan psien tanda Menggali kemampuan pasien dalam
dan

gejala

DM,

penyebab, menganal

tanda

dan

gejala,

pengobatan, cara pengukuran gula pengobatan dan cara pengukuran


darah.
Jelaskan

kepada

pasien

gula darah.
dan Memberikan informasi yang jelas

keluarga tanda dan gejala DM, kepada pasien.


penyebab,

pengobatan,

cara

pengukuran gula darah.


Jelaskan kepada pasien tentang Latihan dapat menurunkan kadar
aktivitas atau olahraga.

HbA1c, meningkatkan sensitivitas


insulin, menurunkan resiko penyakit
jantung dan mempertahankan berat

Jelaskan tentang diet pasien DM.

badan.
Diet dapat membantu menurunkan

Jelaskan tentang obat-obatan DM

dan mengatur kadar glukosa darah.


Dosis obat dan resiko pemberian
obat

antidiabetes

penting

disampaikan kepada pasien agar


lebih kooperatif dalam perawatan
Ajarkan
mengukur

kepada
gula

pasien
darah

mandiri.
Ajarkan

dan gula darah dapat terkontrol.


cara Pasien DM harus dapat mengontrol
secara gula darah secara mandiri sehingga
dapat

kepada

pasien

mengantisipasi

komplikasi.
cara Pasien terhindar

dari

resiko
resiko

penanggualangan resiko komplikasi komplikasi.


seperti resiko terjadinya luka.
Lakukan evaluasi tentang
latihan, pemberian obat.

diet, Mengetahui
terhadap

ketaatan

program

yang

pasien
sudah

dilakukan.

18

19

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Diabetes mellitus adalah sekelompok kelainan yang ditandai dengan
peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia). Penyakit ini akibat defisiensi
atau penurunan efektivitas insulin. Penyakit Diabetes Mellitus disebabkan oleh
karena gagalnya hormon insulin. Akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak
dapat diubah menjadi glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi
hiperglikemi. Gangguan metabolik glukosa pada kasus diabetes mellitus akan
mempengaruhi metabolisme tubuh yang lain, seperti metabolisme karbohidrat,
protein, lemak dan air. Gangguan metabolisme tersebut akhirnya menimbulkan
kerusakan seluler pada beberapa jaringan tubuh. Diabetes Mellitus jika tidak
dikelola dengan baik akamn menimbulkan berbagai penyakit dan diperlukan
kerjasama semua pihak ditingkat pelayanan kesehatan.

4.2 Saran
Dari segi asuhan keperawatan yang sudah terbukti bahwasannya tindakan
keperawatan juga sangat memberikan kontribusi yang besar bagi kesembuhan
pasien, hendaknya tindakan keperawatan tersebut senantiasa dipertahankan
terlebih bila bisa untuk ditingkatkan agar proses penyembuhan pasien dapat
berlangsung lebih cepat.
Kecermatan serta ketelitian dalam pemberian tindakan keperawatan juga
harus benar-benar diperhatikan agar pasien hanya menerima dampak positifnya
tanpa merasakan dampak negatifnya. Tindakan edukasi oleh perawat kepada
pasien dan keluarganya juga perlu diperhatikan melihat banyak penyakit yang
menyerang pasien karena pasien dan keluarganya tidak mengetahui secara pasti
mengenai penyakit yang dideritanya sehingga keadaan pasien menjadi lebih
parah.

20

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, E. Marilynn dan MF. Moorhouse. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan.


(Edisi III). EGC: Jakarta.
Bare & Suzanne, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2 (Edisi
8). EGC: Jakarta
Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma. 2004. Bebas Diabetes Mellitus ala
Hembing. KDT: Jakarta
Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan medical-bedah: Buku Saku untuk
Brunner dan Suddarth. EGC: Jakarta
Corwin,. J. Elizabeth. 2001. Patofisiologi. EGC: Jakarta
Tarwoto, Ns, S.Kep, M.Kep, dkk. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem
Endokrin. TIM: Jakarta

21