Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM FITOKIMIA 1

DISUSUN OLEH :
SANDI KARTIKA

1243050015

LINTANG OKTAVIA1243050027
SHAHNAZ NADIA

1243050029

DITA KARTIKA R

1243050034

FUNDI FAUZI

12430500

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
JAKARTA
2014
BAB I
Temulawak (Curcuma xanthorriza roxb)

I.

Tujuan
Memisahkan senyawa yang terdapat dalam simplisia berdasarkan kepolarannya

II.
o
o
o
o
o
o
o
o

Klasifikasi temulawak
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Zingiberales
Famili
: Zingiberaceae
Genus
: Curcuma
Spesies
: Curcuma xanthorriza robx
Nama daerah : Temulawak, koneng gede (sunda), temolabak (madura)

III.

Morfologi
Tanaman terna berbatang semu dengan tinggi hingga lebih dari 1m, tetapi kurang dari 2m.
Berwarna hijau atau coklat gelap. Akar rimpang terbentuk dengan sempuna dan bercabang
kuat, berwarna hijau gelap. Tiap batang memiliki daun 2-9 helai dengan bentuk bulat
memanjang sampai bangun lanset, panjang daun 31-84 cm dan lebar 10-18 cm. Panjang
tangkai daun termasuk helaian 43-80cm. Perbungaan lateral,tangkai ramping dan sisik
berbentuk garis, panjang tangkai 9-23 cm dan lebar 4- 13mm. Mahkota bunga berbentuk
tabung dengan panjang keseluruhan 4,5 cm. Helaian bunga berbentuk bundar memanjang
berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah. Panjang 1,25-2 cm dan
lebar 1cm.
IV.

Kandugan Kimia

Zat warna kuning 1-2% (kurkumin dan monodesmotoksikurkumin). Minyak atsiri 5%


( dengan komponen utama 1-siklo-isoprenemirsen 85%) kurkuminoid. Komponen minyak
atsiri lainnya b-kurkumenar-kurkumene, xhanthorrizol germakron.

V.
o
o
o
o
VI.

Khasiat
Antidiuretik
Anti inflamasi
Antioksidan
Anti hipertensi

Cara Kerja
A. Sari Hexan
Simplisia Hexan
Sari Hexan di uapkan

No
1.

Macam uji
Pemeriksaan minyak atsiri:

ampas di keringkaan
Teori
Terdapat bau

Hasil
+

Pengamatan
Bau khas temulawak

2.

3.

Sari hexan diuapkan ad


aromatis
kering dalam cawan uap +
alkohol
lalu
diuapkan
(sebagian untuk pemeriksaan
lemak)
pemeriksaan lemak dan asam Terdapat tetes-tetes
lemak :
minyak
larutan
alkohol
sisa
pemeriksaan minyak atsiri
diuapkan lalu dilakukan
penyabunan
dengan
penambahan KOH 0,5% dan
di refluks.
pemeriksaan
sterol
dan Sterol : cincin hijau
triterpenoid :
biru
-sari hexan diuapkan ad
Triterpenoid :
kering + acetat anhidrat + cincin ungu/merah
kloroform + as.sulfat(p)
melalui dinding tabung
-ekstrak dalam plat tetes +
as.sulfat (p) + as acetat
anhidrat

4.

5.

Pemeriksaan alkaloid base :


Sari hidrolisa + hcl,jika beni
ng langsung diuji, jika tidak +
amonium hidroksida (untuk
membusakan alkaloid) +
kloroform kocok. Ambil
lapisan kloroform + HCl 2N
ambil lapisan air bagi jadi 4
tabung :
1. Sebagai pembanding
2. + mayer
3. + dregendorf
4. + bouchardat
pemeriksaan kumarin :
ekstrak diuapkan ad kering +
air panas, dinginkan bagi jadi
2 tabung :
1) Sebagai pembanding
2) +NH4 10%
Lihat di UV

terdapat tetes minyak

cincin ungu merah

Terpen :
ungu/merah/coklat
Steroid : hijau/biru

Endapan putih
Endapan jingga
Endapan coklat
Terdapat
fluoresensi
kehijauan/kebiruan

Larutan ungu merahcoklat

Larutan bening
Larutan coklat
Larutan coklat
Ada fluoresensi
kehijauan

Kesimpulan
Skrining Fitokimia sari Hexan mengandung :
1.
2.
3.
4.
5.
B.
NO
1

Minyak atsiri
Terpen
Triterpen
Lemak dan asam lemak
Kumarin
SARI ETIL ASETAT
MACAM UJI
TEORI
Pemeriksaan tanin :
jika terjadi
Sari etil asetat + 3 tetes
perubahan : biru
FeCl3
kehijauan/kebiruan =
+ tanin

Pemeriksaan
gula
pereduksi
Sari etil asetat + 2 tetes
fehling A + 2 tetes Fehling
B,panaskan di waterbath

Pemeriksaan Alkaloid :
Simplisia halus + CHCl3 +
NH4OH
Saring ad di
peroleh ekstrak. Kemudian
ekstrak diuapkan + HCl
2N/H2SO4
2N.
Kocok,bagi
3tabung.
Kemudian masing-masing
di
reaksikan
dengan
Mayer,Dragendorf,Boucha
rdat
pemeriksaan emodol :
sari etil asetat di pekatkan
dinginkan + NH4OH
25%,kocok
Pemeriksaan flavonoid :
Ekstrak + HCl(p)
+ logam Mg - dinginkan +
amil alkohol

Terjadi endapan
merah bata = + gula
pereduksi

a) Mayer
:
endapan putih
b) Dragendorf :
endapan
coklat/jingga
c) Bouchardat :
endapan coklat

HASIL
-

PENGAMATAN
2 fase
Atas:coklat
kehitaman
Bawah : coklat
muda

Endaan merah bata

a) Lar.kuning
bening
b) Lar.coklat
kekuningan

c) Lar.coklat
tua

merah
adanya

Larutan merah

Akan terbentuk warna


merah,bila di + amil
alkohol :
Warna merah naik ke
atas : + flavonoid

Warna merah naik


ke atas

warna
menunjukan
emodol

Warna merah tetap di


bawah : + tanin dan
flavonoid
pemeriksaan kumarin :
Terdapat fluoresensi
ekstrak diuapkan ad kering
kehijauan/kebiruan
+ air panas, dinginkan bagi
jadi 2 tabung :
3) Sebagai
pembanding
4) +NH4 10%
pemeriksaan sterol dan
Sterol : cincin hijau
triterpenoid :
biru
-sari hexan diuapkan ad
Terpenoid : cincin
kering + acetat anhidrat +
ungu/merah
kloroform + as.sulfat(p)
melalui dinding tabung

-ekstrak dalam plat tetes +


as.sulfat (p) + as acetat
anhidrat

Terpen :
ungu/merah/coklat
Steroid : hijau/biru

Flouresensi kuning
kehijauan

Cincin merah

Larutan merah

Kesimpulan
skrining sari etil asetat temulawak mengandung :
1.
2.
3.
4.
5.

Gula pereduksi
Flavonoid
Kumarin
Terpenoid
Terpen

6. Emodol

C . Sari metanol
n
o
1
2

Macam uji
Pemeriksaan tanain
Sari methanol + feCl3 ( 3 tetes )
Pemeriksaan gula pereduksi

Teori
Biru kehijauan/hijau
tua + tanin
merah bata + gula

Hasi
l
-

Pengamatan
Hijau
kecoklatan
hijau tua

Sari methanol + 2 tetes fehling


A + 2 tetes Fehling B
dipanaskan
Pemeriksaan alkaloid
Simplisia halus + CHCl3 +
NH4OH saring diperoleh
ekstrak, kemudian ekstrak
diuapkan + HCL 2 N / H2SO4 2 N
, bagi menjadi 3 tabung
A. + Mayer
B. + Dragendrof
C. + bouchardat
Pemeriksan Flavonoid
Ekstrak + HCL (p) + logam Mg,
dinginkan + amil alcohol

Pemeriksaan emodol
Sari methanol dipekatkan ,
didinginkan + NH4OH 25 % ,
kocok
Pemeriksaan kumarin
Ekstrak diuapkan ad kering +
air panas dinginkan bagi
menjadi 2
a. Tabung 1 + NH4OH 10 %
b. Sebagai pembanding
Lihat di UV
Pemeriksaan sterol dan
triterpenoid
a. Sari methanol diuapkan
ad kering + CHCl3 dan
H2SO4 melalui dinding
b. Ekstrak dalam plat tetes
di + H2SO4

pereduksi

a. putih
b. coklat/ jingga
c. coklat
Terbentuk warna
merah jika + amil
alcohol
- Merah naik ke
atas +
Flavonoid
- Merah tetap di
bawah +
tannin, flavonoid
Terbentuk warna
merah + emodol

D. Hidrolisa

a. Cincin warna
- Hijau/merah +
terpenoid
- Hijau/biru +
steroid
b. Jika berwarna
- Ungu
merah/coklat
terpen
- Hijau biru
steroid

Lar. Bening
hijau
Lar. Jingga
Lar. Coklat
Lar. Hijau
pekat

Terdapat fluoresensi
kuning / kehijauan +
kumarin

Kesimpulan scrining sari methanol Seledri mengandung


1. Steroid

larutan hijau

Lar. Hijau
muda
-

Tidak ada
fluoresensi
kuning/hijau

Larutan hijau

Cincin hijau

Hijau / biru

No
1
2

Cara identifikas

teori

Pemeriksaan tanain
Biru kehijauan/hijau
Sari methanol + feCl3 ( 3
tua + tanin
tetes )
Pemeriksaan gula
merah bata + gula
pereduksi
pereduksi
Sari methanol + 2 tetes
fehling A + 2 tetes Fehling B
dipanaskan
Pemeriksaan alkaloid
Simplisia halus + CHCl3 +
NH4OH saring diperoleh
ekstrak, kemudian ekstrak
diuapkan + HCL 2 N / H2SO4 2
N , bagi menjadi 3 tabung
a. putih
A. + Mayer
b. coklat/ jingga
B. + Dragendrof
c. coklat

C. + bouchardat
Pemeriksan Flavonoid
Ekstrak + HCL (p) + logam Mg,
dinginkan + amil alcohol

Terbentuk warna
merah jika + amil
alcohol
-

Merah naik ke
atas +
Flavonoid

Pengamatan
Lar. Coklat
kekuningan

Lar. Hijau
coklat
kehitaman

Lar. Bening

Lar. merah
kecoklatan

Lat. coklat
kekuningan
Lar. Hijau

Pemeriksaan emodol
Sari methanol dipekatkan ,
didinginkan + NH4OH 25 % ,
kocok
Pemeriksaan kumarin
Ekstrak diuapkan ad kering +
air panas dinginkan bagi
menjadi 2
c. Tabung 1 + NH4OH 10
%
d. Sebagai pembanding
Lihat di UV
Pemeriksaan sterol dan
triterpenoid
a. Sari methanol
diuapkan ad kering +
CHCl3 dan H2SO4
melalui dinding

Merah tetap di
bawah +
tannin, flavonoid
Terbentuk warna
merah + emodol

hasi
l
-

Terdapat fluoresensi
kuning / kehijauan +
kumarin

a. Cincin warna
- Hijau/merah +
terpenoid
- Hijau/biru +
steroid

Lar. Kuning
terang

Terdapat
fluoresensi
kuning
kehijauan

Cincin hijau

b. Ekstrak dalam plat


tetes di + H2SO4 pekat
dan asam acetat
anhidrat

b. Jika berwarna
- Ungu
merah/coklat
terpen
-

Lar. hijau

Hijau biru
steroid

Kesimpulan scrining sari hidrolisa Seledri mengandung


1. Kumarin
2. Steroid

Kromatografi Lapis Tipis


Prinsip Percobaan
Pemisahan dengan tehnik kromatografi lapis tipis didasarkan pada adsorpsi larutan (fase
gerak atau eluennya) terhadap adsorbens yang di gunakan, dimana Adsorbens dilapiskan pada
lempeng kaca yang bertindak sebagai penunjang fase diamnya.
Teori Dasar
Dalam analisis kimia suatu bahan, maka akan sering dihadapkan pada pekerjaan-pekerjaan
seperti menghilangkan konstituen pengganggu atau mengisolasikannya maupun memekatkan
konstituen yang dikehendaki sebelum dilakukuan identifikasi maupun pengukuran
jumlahnya. Untuk melakukan analisis kimia tersebut maka kita harus menggunakan suatu
metode agar dapat menentukan hasil yang tepat, kromatografi salah satunya, dan dapat pula
digunakan sebagai analisa secara kuantitatif.
Kromatografi adalah suatu metoda untuk separasi yang menyangkut komponen suatu contoh
di mana komponen dibagi-bagikan antara dua tahap, salah satu yang mana adalah keperluan
selagi gerak yang lain. Di dalam gas kromatografi adalah gas mengangsur suatu cairan atau
tahap keperluan padat. Di dalam cairan kromatografi adalah campuran cairan pindah
gerakkan melalui cairan yang lain, suatu padat, atau suatu gel agar. Mekanisme separasi
komponen mungkin adalah adsorpsi, daya larut diferensial, ion-exchange,
penyebaran/perembesan, atau mekanisme lain (David. 2001).
Teknik kromatografi merupakan teknik pemisahan yang sangat sensitif, yang dapat
memisahkan campuran kompleks, seperti minyak bumi yang merupakan campuran dari
ratusan senyawa yang terkandung di dalamnya, dan masih banyak lagi keunggulan lainnya.
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu tehnik yang sederhana dan banyak digunakan.
Metode ini menggunakan lempeng kaca atau lembaran plastik yang ditutupi penyerap untuk
lapisan tipis dan kering bentuk silika gel, alomina, selulosa dan polianida. Untuk menotolkan
larutan cuplikan pada lempeng kaca, pada dasarnya dgunakan mikro pipet/ pipa kapiler.
Setelah itu, bagian bawah dari lempeng dicelup dalam larutan pengulsi di dalam wadah yang
tertutup (Chamber) (Rudi, 2010)

Kromatografi lapis tipis digunakan untuk memisahkan komponen-komponen atas dasar


perbedaan adsorpsi atau partisi oleh pase diam dibawah gerakan pelarut pengembang. Pada
dasarnya KLT sangat mirip dengan kromatografi kertas , terutama pada cara pelaksanaannya.
Perbedaan nyatanya terlihat pada fase diamnya atau media pemisahnya, yakni digunakan
lapisan tipis adsorben sebagai pengganti kertas. Bahan adsorben sebagai fasa diam dapat
digunakan silika gel, alumina dan serbuk selulosa. Partikel selika gel mengandung gugus
hidroksil pada permukaannya yang akan membentuk ikatan hidrogen dengan molekul polar
air. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang
mana dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet. Fase gerak merupakan pelarut atau
campuran pelarut yang sesuai.
Pada identifikasi noda atau penampakan noda, jika noda sudah bewarna dapat langsung
diperiksa dan ditentukan harga Rf. Rf merupakan nilai dari Jarak relative pada pelarut. Harga
Rf dihitung sebagai jarak yang ditempuh oleh komponen dibagi dengan jarak tempuh oleh
eluen ( fase gerak ) untuk setiap senyawa berlaku rumus sebagai berikut:
Rf juga menyatakan drajat retensi suatu komponen dalam fase diam. Karenan itu Rf juga
disebut factor referensi.
Pemisahan campuran dengan cara kromatografi didasarkan pada perbedaan kecepatan
merambat antara partikel-partikel zat yang bercampur pada medium tertentu. Dalam
kehidupan sehari-hari pemisahan secara kromatografi dapat kita temui pada rembesan air
pada dinding yang menghasilkan garis-garis dengan jarak ternentu.
Ada dua cara untuk menyelesaikan analisis sampel yang tidak berwarna:
Menggunakan pendarflour
Mungkin anda masih ingat apa yang telah saya sebutkan bahwa fase diam pada sebuah
lempengan lapis tipis seringkali memiliki substansi yang ditambahkan kedalamnya, supaya
menghasilkan pendaran flour ketika diberikan sinar ultraviolet (UV). Itu berarti jika anda
menyinarkannya dengan sinar UV, akan berpendar.
Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada kromatogram berada, meskipun bercakbercak itu tidak tampak berwarna jika dilihat dengan mata. Itu berarti bahwa jika anda
menyinarkan sinar UV pada lempengan, akan timbul pendaran dari posisi yang berbeda
dengan posisi bercak-bercak. Bercak tampak sebagai bidang kecil yang gelap.
Sementara UV tetap disinarkan pada lempengan, anda harus menandai posisi-posisi dari
bercak-bercak dengan menggunakan pinsil dan melingkari daerah bercak-bercak itu. Seketika
anda mematikan sinar UV, bercak-bercak tersebut tidak tampak kembali.
Penunjukkan bercak secara kimia
Dalam beberapa kasus, dimungkinkan untuk membuat bercak-bercak menjadi tampak dengan
jalan mereaksikannya dengan zat kimia sehingga menghasilkan produk yang berwarna.
Sebuah contoh yang baik adalah kromatogram yang dihasilkan dari campuran asam amino.

Kromatogram dapat dikeringkan dan disemprotkan dengan larutan ninhidrin. Ninhidrin


bereaksi dengan asam amino menghasilkan senyawa-senyawa berwarna, umumnya coklat
atau ungu.
Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali dan kemudian ditempatkan pada
wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan tutupan gelas arloji) bersama dengan kristal
iodium. Uap iodium dalam wadah dapat berekasi dengan bercak pada kromatogram, atau
dapat dilekatkan lebih dekat pada bercak daripada lempengan. Substansi yang dianalisis
tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.
Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali dan kemudian ditempatkan pada
wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan tutupan gelas arloji) bersama dengan kristal
iodium. Uap iodium dalam wadah dapat berekasi dengan bercak pada kromatogram, atau
dapat dilekatkan lebih dekat pada bercak daripada lempengan. Substansi yang dianalisis
tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.
Penggunaan kromatografi lapis tipis untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa
Anggaplah anda mempunyai campuran asam amino dan ingin menemukan asam amino-asam
amino tertentu yang terkandung didalam campuran tersebut. Untuk sederhananya, mari kira
berasumsi bahwa anda mengetahui bahwa campuran hanya mungkin mengandung lima asam
amino.
Setetes campuran ditempatkan pada garis dasar lempengan lapis tipis dan bercak-bercak kecil
yang serupa dari asam amino yang telah diketahui juga ditempatkan pada disamping tetesan
yang akan diidentifikasi. Lempengan lalu ditempatkan pada posisi berdiri dalam pelarut yang
sesuai dan dibiarkan seperti sebelumnya. Dalam gambar, campuran adalah M dan asam
amino yang telah diketahui ditandai 1-5.
Bagian kiri gambar menunjukkan lempengan setelah pelarut hampir mencapai bagian atas
dari lempengan. Bercak-bercak masih belum tampak. Gambar kedua menunjukkan apa yang
terjadi setelah lempengan disemprotkan ninhidrin.
Tidak diperlukan menghitung nilai Rf karena anda dengan mudah dapat membandingkan
bercak-bercak pada campuran dengan bercak dari asam amino yang telah diketahui melalui
posisi dan warnanya. Dalam contoh ini, campuran mengandung asam amino 1, 4 dan 5.
Fase diam-jel silika
Jel silika adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon dihubungkan oleh atom
oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Namun, pada permukaan jel silika, atom silikon
berlekatan pada gugus -OH.
Permukaan jel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan
hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana halnya gaya van
der Waals dan atraksi dipol-dipol.

Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium oksida. Atom aluminium
pada permukaan juga memiliki gugus -OH. Apa yang kita sebutkan tentang jel silika
kemudian digunakan serupa untuk alumina.
Penentuan jumlah komponen senyawa dapat dideteksi dengan kromatografi lapis tipis (KLT)
dengan menggunakan plat KLT yang sudah siap pakai. Terjadinya pemisahan komponenkomponen pada KLT dengan Rf tertentu dapat dijadikan sebagai panduan untuk memisahkan
komponen kimia tersebut dengan menggunakan kolom kromatografi dan sebagai fasa diam
dapat digunakan silika gel dan eluen yang digunakan berdasarkan basil yang diperoleh dari
KLT dan akan lebih baik kalau kepolaraan eluen pada kolom kromatografi sedikit dibawah
kepolaran eluen pada KLT (Lenny, 2006)
Pada hakekatnya KLT merupakan metoda kromatografi cair yang melibatkan dua fasa yaitu
fasa diam dan fasa gerak. Fasa geraknya berupa campuran pelarut pengembang dan fasa
diamnya dapat berupa serbuk halus yang berfungsi sebagai permukaan penyerap
(kromatografi cair-padat) atau berfungsi sebagai penyangga untuk lapisan zat cair
(kromatografi cair-cair). Fasa diam pada KLT sering disebut penyerap walaupun berfungsi
sebagai penyangga untuk zat cair di dalam sistem kromatografi cair-cair. Hampir segala
macam serbuk dapat dipakai sebagai penyerap pada KLT, contohnya silika gel (asam silikat),
alumina (aluminium oksida), kiselgur (tanah diatomae) dan selulosa. Silika gel merupakan
penyerap paling banyak dipakai dalam KLT (Iskandar, 2007)
Tujuan
1. Pemisahan senyawa dari suatu kelompok senyawa
2. Identifikasi zat yang terkandung dalam senayawa
3. Mencari eluent yang cocok untuk kromatografi kolom
4. Identifikasi senayawa
Alat dan bahan
1. Lempeng KLT
2. Pipa kapiler
3. Gelas ukur
4. Corong
5. Kertas saring
6. Chamber

7. Lampu UV
Bahan
1. Ekstrak Hexan , etil acetat, methanol dan ekstrak hidrolisa
2. Eluen :

Hexan ; etil acetat ( 7: 3 atau 5 : 5)


Butanol ; CH3COOH ; Air

(4 : 1 : 5 )

CHCl3 ; methanol (5:5)


Cara kerja
1. Ekstrak yang digunakan untuk KLT dipekatkan terlebihdahulu dengan cara
diuapkan di waterbath
2. Plat KLT disiapkan dengan ukuran 5x1 cm
3. Tandai dengan pensil, batas bawah dan batas atas pada plat
4. Totolkan ekstrak dengan menggunakan pipa kapiler yang telah dikecilkan
lubangnya dengan dibakar. Keringkan sebentar di udara terbuka
5. Isi chamber dengan eluen kemudian jenuhkan eluen dengan cara menambahakan
kertas saring ke dalam chamber
6. Masukan plat yang telah ditotolkan ekstrak ke dalam chamber yang berisi eluent
tersebut. Elusidasi sampai tanda batas atas pada plat KLT
7. Amati noda yang terbentuk secara visual dibawah sinar UV dan disemprotkan
dengan pereaksi / penampak noda yang sesuai
8. Hitung Rf yang didapat
Data pengamatan
Eluen = 3,5 cm

( eluen = Hexan : Etil Acetat )

a. Hexan

: spot 1 = 0,6 cm
Spot 2 = 0,9 cm

b. Etil acetat

: spot 1 = 0,4 cm
: spot 2 = 0,3 cm

c. Methanol

: spot 1 = 0,2 cm
: spot 2 = 0,3 cm

d. Hidrolisa

: sspot = 0,3 cm

Perhitungan
1. Hexan
-

Rf1

= 0,6 : 3,5 = 0,171 cm

HRf1 = 0,171 x 100 % = 17,1 %


-

Rf2

= 0,9 : 3,5 = 0,257 cm

HRf2 = 0,257 x 100 % = 25,7 %


2. Etil acetat
-

Rf1

= 0,4 : 3,5 = 0,114 cm

HRf1 = 0,114 x 100% = 11,4 %


-

Rf2

= 0,3 : 3,5 = 0,085 cm

HRf2 = 0,085 x 100 % = 8,57 %


3. Methanol
-

Rf1

= 0,2 x 3,5 = 0,057 cm

HRf1 = 0,057 x 100%= 5,7 %


-

Rf2

= 0,3 : 3,5 = 0,085 cm

HRf2 = 0,085 x 100 % = 8,57 %


4. Hidrolisa
-

Rf1

= 0,3 : 3,5 = 0,085 cm

HRf1 = 0,085 x 100 % = 8,57 %

BAB II
Seledri (Apium Graveolens)
VII.

Tujuan
Memisahkan senyawa yang terdapat dalam simplisia berdasarkan kepolarannya

VIII.
o
o
o
o
o
o
o
o

Klasifikasi temulawak
Divisi
: Spermatophyta
Subdivisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Apiales
Famili
: Apiaceae
Genus
: Apium
Spesies
: Apium graveolens
Nama daerah : Saladri (sunda) dan seledri (jawa)

IX.

Morfologi
Batang
: Tidak berkayu, beralus beruas, bercabang, tegak, hijau pucat
Daun
: Tipis majemuk, daun muda melebar atau meluas dari dasar, hijau
mengkilat, segmen dengan hijau pucat, tongkai di semua atau kebanyakan
daun merupakan sarung
Daun bunga : Putih kehijauan atau putih kekuningan
Bunga
: Tunggal dengan tangkai yang jelas, sisi kelopak yang tersembunyi
Akar
: Tebal
X. Kandugan Kimia

Seluruh herba seledri mengandung glikosida apiin (glikosida flavon), isoquersetin dan
umbeliferon. Juga mengnadung mannite, mosite, asparagines glutamine, choline, linamarose,
pro-vitamin A, vitamin dan vitamin B. kandungan asam-asam dalam minyak atsiri pada biji
natra lain, asan-asam resin, asam-asam lemak terutama pamitat, oleat, linoleat dan
petroselinat. Senyawa kumarin lain ditemukan dalam biji, yaitu bergapten, seslin,
isomperatorin, oshenol dan isopimpinelin.

XI.
o
o
o
o
o
o

XII.

Khasiat
Pemicu enzim pencernaan
Penambah nafsu makan
Peluruh air seni
Penurun tekanan darah
Mengurangi rasa sakit pada reumatik dan gout
Antikejang

Cara Kerja
A. Sari Hexan
Simplisia Hexan
Sari Hexan di uapkan

No

Macam uji

ampas di keringkaan
Teori

Hasil

Pengamatan

1.

2.

3.

4.

Pemeriksaan minyak atsiri:


Terdapat bau
Sari hexan diuapkan ad
aromatis
kering dalam cawan uap +
alkohol
lalu
diuapkan
(sebagian untuk pemeriksaan
lemak)
pemeriksaan lemak dan asam Terdapat tetes-tetes
lemak :
minyak
larutan
alkohol
sisa
pemeriksaan minyak atsiri
diuapkan lalu dilakukan
penyabunan
dengan
penambahan KOH 0,5% dan
di refluks.
pemeriksaan
sterol
dan Sterol : cincin hijau
triterpenoid :
biru
-sari hexan diuapkan ad
Triterpenoid :
kering + acetat anhidrat + cincin ungu/merah
kloroform + as.sulfat(p)
melalui dinding tabung

Bau seledri

terdapat tetes minyak

cincin hijau

-ekstrak dalam plat tetes +


as.sulfat (p) + as acetat
anhidrat

Terpen :
ungu/merah/coklat
Steroid : hijau/biru

Larutan hijau

Pemeriksaan alkaloid base :


Sari hidrolisa + hcl,jika beni
ng langsung diuji, jika tidak +
amonium hidroksida (untuk
membusakan alkaloid) +
kloroform kocok. Ambil
lapisan kloroform + HCl 2N
ambil lapisan air bagi jadi 4
tabung :
5. Sebagai pembanding
6. + mayer

Endapan putih

Endapan jingga
Endapan coklat

Terdapat
fluoresensi
kehijauan/kebiruan

Larutan putih
kekuningan
Larutan orange
Larutan coklat
kekuningan
Tidak ada fluoresensi
kehijauan

7. + dregendorf
8. + bouchardat
5.

pemeriksaan kumarin :
ekstrak diuapkan ad kering +
air panas, dinginkan bagi jadi
2 tabung :

5) Sebagai pembanding
6) +NH4 10%
Lihat di UV
Kesimpulan
Skrining Fitokimia sari Hexan mengandung :
1. Minyak atsiri
2. Sterol
3. Steroid

B. SARI ETIL ASETAT


NO
1

MACAM UJI
TEORI
Pemeriksaan tanin :
jika terjadi
Sari etil asetat + 3 tetes
perubahan : biru
FeCl3
kehijauan/kebiruan =
+ tanin

Pemeriksaan
gula
pereduksi
Sari etil asetat + 2 tetes
fehling A + 2 tetes Fehling
B,panaskan di waterbath

Pemeriksaan Alkaloid :
Simplisia halus + CHCl3 +
NH4OH
Saring ad di
peroleh ekstrak. Kemudian
ekstrak diuapkan + HCl
2N/H2SO4
2N.
Kocok,bagi
3tabung.
Kemudian masing-masing
di
reaksikan
dengan
Mayer,Dragendorf,Boucha
rdat
pemeriksaan emodol :
sari etil asetat di pekatkan
dinginkan + NH4OH
25%,kocok
Pemeriksaan flavonoid :
Ekstrak + HCl(p)
+ logam Mg - dinginkan +

Terjadi endapan
merah bata = + gula
pereduksi

HASIL
-

PENGAMATAN
Larutan kuning, ada
hijaunya diatas
seperti bentuk
cincin

Endapan hijau

a)Mayer : endapan
putih
b)Dragendorf:
endapan
coklat/jingga

a) endapan hijau

c)Bouchardat :
endapan coklat

warna
menunjukan
emodol

merah
adanya

Akan terbentuk warna


merah,bila di + amil
alkohol :

b) Lar.kuning keruh
-

d)
e)
f) c) endapan hijau
tua

Larutan hijau
bening

amil alkohol

Warna merah naik ke


atas : + flavonoid
Warna merah tetap di
bawah : + tanin dan
flavonoid
pemeriksaan kumarin :
Terdapat fluoresensi
ekstrak diuapkan ad kering
kehijauan/kebiruan
+ air panas, dinginkan bagi
jadi 2 tabung :
7) Sebagai
pembanding
8) +NH4 10%
pemeriksaan sterol dan
Sterol : cincin hijau
triterpenoid :
biru
-sari hexan diuapkan ad
Terpenoid : cincin
kering + acetat anhidrat +
ungu/merah/coklat
kloroform + as.sulfat(p)
melalui dinding tabung
-ekstrak dalam plat tetes +
as.sulfat (p) + as acetat
anhidrat

Terpen :
ungu/merah/coklat
Steroid : hijau/biru

Larutan hijau

Flouresensi kuning
kehijauan

Cincin hijau

Larutan hijau

Kesimpulan
skrining sari etil asetat seledri mengandung :
1. Kumarin
2. Steroid

C . Sari metanol
n
o
1
2

Macam uji
Pemeriksaan tanain
Sari methanol + feCl3 ( 3 tetes )
Pemeriksaan gula pereduksi
Sari methanol + 2 tetes fehling
A + 2 tetes Fehling B
dipanaskan
Pemeriksaan alkaloid
Simplisia halus + CHCl3 +

Teori
Biru kehijauan/hijau
tua + tanin
merah bata + gula
pereduksi

Hasi
l
-

Pengamatan
Hijau
kecoklatan
hijau tua
larutan hijau

NH4OH saring diperoleh


ekstrak, kemudian ekstrak
diuapkan + HCL 2 N / H2SO4 2 N
, bagi menjadi 3 tabung
E. + Mayer
F. + Dragendrof
G. + bouchardat
Pemeriksan Flavonoid
Ekstrak + HCL (p) + logam Mg,
dinginkan + amil alcohol

Pemeriksaan emodol
Sari methanol dipekatkan ,
didinginkan + NH4OH 25 % ,
kocok
Pemeriksaan kumarin
Ekstrak diuapkan ad kering +
air panas dinginkan bagi
menjadi 2
c. Tabung 1 + NH4OH 10 %
d. Sebagai pembanding
Lihat di UV
Pemeriksaan sterol dan
triterpenoid
c. Sari methanol diuapkan
ad kering + CHCl3 dan
H2SO4 melalui dinding

d. Ekstrak dalam plat tetes


di + H2SO4

d. putih
e. coklat/ jingga
f. coklat
Terbentuk warna
merah jika + amil
alcohol
- Merah naik ke
atas +
Flavonoid
- Merah tetap di
bawah +
tannin, flavonoid
Terbentuk warna
merah + emodol

Terdapat fluoresensi
kuning / kehijauan +
kumarin

e. Cincin warna
- Hijau/merah +
terpenoid
- Hijau/biru +
steroid
f.
-

Jika berwarna
Ungu
merah/coklat
terpen
Hijau biru
steroid

Lar. Bening
hijau
Lar. Jingga
Lar. Coklat
Lar. Hijau
pekat

Lar. Hijau
muda
-

Tidak ada
fluoresensi
kuning/hijau

Larutan hijau

Cincin hijau

Hijau / biru

Kesimpulan scrining sari methanol Seledri mengandung


2. Steroid

H. Hidrolisa
No
1

Cara identifikas
Pemeriksaan tanain
Sari methanol + feCl3 ( 3

teori
Biru kehijauan/hijau
tua + tanin

hasi
l
-

Pengamatan
Lar. Coklat
kekuningan

tetes )
Pemeriksaan gula
merah bata + gula
pereduksi
pereduksi
Sari methanol + 2 tetes
fehling A + 2 tetes Fehling B
dipanaskan
Pemeriksaan alkaloid
Simplisia halus + CHCl3 +
NH4OH saring diperoleh
ekstrak, kemudian ekstrak
diuapkan + HCL 2 N / H2SO4 2
N , bagi menjadi 3 tabung
d. putih
D. + Mayer
e. coklat/ jingga
E. + Dragendrof
f.

F. + bouchardat
Pemeriksan Flavonoid
Ekstrak + HCL (p) + logam Mg,
dinginkan + amil alcohol

coklat

Terbentuk warna
merah jika + amil
alcohol
-

Merah naik ke
atas +
Flavonoid

Lar. Hijau
coklat
kehitaman

Lar. Bening

Lar. merah
kecoklatan

Lat. coklat
kekuningan
Lar. Hijau

Pemeriksaan emodol
Sari methanol dipekatkan ,
didinginkan + NH4OH 25 % ,
kocok
Pemeriksaan kumarin
Ekstrak diuapkan ad kering +
air panas dinginkan bagi
menjadi 2
g. Tabung 1 + NH4OH 10
%
h. Sebagai pembanding
Lihat di UV
Pemeriksaan sterol dan
triterpenoid
c. Sari methanol
diuapkan ad kering +
CHCl3 dan H2SO4
melalui dinding
d. Ekstrak dalam plat
tetes di + H2SO4 pekat
dan asam acetat
anhidrat

Merah tetap di
bawah +
tannin, flavonoid
Terbentuk warna
merah + emodol

Terdapat fluoresensi
kuning / kehijauan +
kumarin

c. Cincin warna
- Hijau/merah +
terpenoid
- Hijau/biru +
steroid
d. Jika berwarna
- Ungu
merah/coklat

Lar. Kuning
terang

Terdapat
fluoresensi
kuning
kehijauan

Cincin hijau

terpen
-

Lar. hijau

Hijau biru
steroid

Kesimpulan scrining sari hidrolisa Seledri mengandung


3. Kumarin
4. Steroid

Kromatografi Lapis Tipis


Prinsip Percobaan
Pemisahan dengan tehnik kromatografi lapis tipis didasarkan pada adsorpsi larutan (fase
gerak atau eluennya) terhadap adsorbens yang di gunakan, dimana Adsorbens dilapiskan pada
lempeng kaca yang bertindak sebagai penunjang fase diamnya.
Teori Dasar
Dalam analisis kimia suatu bahan, maka akan sering dihadapkan pada pekerjaan-pekerjaan
seperti menghilangkan konstituen pengganggu atau mengisolasikannya maupun memekatkan
konstituen yang dikehendaki sebelum dilakukuan identifikasi maupun pengukuran
jumlahnya. Untuk melakukan analisis kimia tersebut maka kita harus menggunakan suatu
metode agar dapat menentukan hasil yang tepat, kromatografi salah satunya, dan dapat pula
digunakan sebagai analisa secara kuantitatif.
Kromatografi adalah suatu metoda untuk separasi yang menyangkut komponen suatu contoh
di mana komponen dibagi-bagikan antara dua tahap, salah satu yang mana adalah keperluan
selagi gerak yang lain. Di dalam gas kromatografi adalah gas mengangsur suatu cairan atau
tahap keperluan padat. Di dalam cairan kromatografi adalah campuran cairan pindah
gerakkan melalui cairan yang lain, suatu padat, atau suatu gel agar. Mekanisme separasi
komponen mungkin adalah adsorpsi, daya larut diferensial, ion-exchange,
penyebaran/perembesan, atau mekanisme lain (David. 2001).
Teknik kromatografi merupakan teknik pemisahan yang sangat sensitif, yang dapat
memisahkan campuran kompleks, seperti minyak bumi yang merupakan campuran dari
ratusan senyawa yang terkandung di dalamnya, dan masih banyak lagi keunggulan lainnya.
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu tehnik yang sederhana dan banyak digunakan.
Metode ini menggunakan lempeng kaca atau lembaran plastik yang ditutupi penyerap untuk
lapisan tipis dan kering bentuk silika gel, alomina, selulosa dan polianida. Untuk menotolkan
larutan cuplikan pada lempeng kaca, pada dasarnya dgunakan mikro pipet/ pipa kapiler.
Setelah itu, bagian bawah dari lempeng dicelup dalam larutan pengulsi di dalam wadah yang
tertutup (Chamber) (Rudi, 2010)
Kromatografi lapis tipis digunakan untuk memisahkan komponen-komponen atas dasar
perbedaan adsorpsi atau partisi oleh pase diam dibawah gerakan pelarut pengembang. Pada
dasarnya KLT sangat mirip dengan kromatografi kertas , terutama pada cara pelaksanaannya.

Perbedaan nyatanya terlihat pada fase diamnya atau media pemisahnya, yakni digunakan
lapisan tipis adsorben sebagai pengganti kertas. Bahan adsorben sebagai fasa diam dapat
digunakan silika gel, alumina dan serbuk selulosa. Partikel selika gel mengandung gugus
hidroksil pada permukaannya yang akan membentuk ikatan hidrogen dengan molekul polar
air. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang
mana dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet. Fase gerak merupakan pelarut atau
campuran pelarut yang sesuai.
Pada identifikasi noda atau penampakan noda, jika noda sudah bewarna dapat langsung
diperiksa dan ditentukan harga Rf. Rf merupakan nilai dari Jarak relative pada pelarut. Harga
Rf dihitung sebagai jarak yang ditempuh oleh komponen dibagi dengan jarak tempuh oleh
eluen ( fase gerak ) untuk setiap senyawa berlaku rumus sebagai berikut:
Rf juga menyatakan drajat retensi suatu komponen dalam fase diam. Karenan itu Rf juga
disebut factor referensi.
Pemisahan campuran dengan cara kromatografi didasarkan pada perbedaan kecepatan
merambat antara partikel-partikel zat yang bercampur pada medium tertentu. Dalam
kehidupan sehari-hari pemisahan secara kromatografi dapat kita temui pada rembesan air
pada dinding yang menghasilkan garis-garis dengan jarak ternentu.
Ada dua cara untuk menyelesaikan analisis sampel yang tidak berwarna:
Menggunakan pendarflour
Mungkin anda masih ingat apa yang telah saya sebutkan bahwa fase diam pada sebuah
lempengan lapis tipis seringkali memiliki substansi yang ditambahkan kedalamnya, supaya
menghasilkan pendaran flour ketika diberikan sinar ultraviolet (UV). Itu berarti jika anda
menyinarkannya dengan sinar UV, akan berpendar.
Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada kromatogram berada, meskipun bercakbercak itu tidak tampak berwarna jika dilihat dengan mata. Itu berarti bahwa jika anda
menyinarkan sinar UV pada lempengan, akan timbul pendaran dari posisi yang berbeda
dengan posisi bercak-bercak. Bercak tampak sebagai bidang kecil yang gelap.
Sementara UV tetap disinarkan pada lempengan, anda harus menandai posisi-posisi dari
bercak-bercak dengan menggunakan pinsil dan melingkari daerah bercak-bercak itu. Seketika
anda mematikan sinar UV, bercak-bercak tersebut tidak tampak kembali.
Penunjukkan bercak secara kimia
Dalam beberapa kasus, dimungkinkan untuk membuat bercak-bercak menjadi tampak dengan
jalan mereaksikannya dengan zat kimia sehingga menghasilkan produk yang berwarna.
Sebuah contoh yang baik adalah kromatogram yang dihasilkan dari campuran asam amino.

Kromatogram dapat dikeringkan dan disemprotkan dengan larutan ninhidrin. Ninhidrin


bereaksi dengan asam amino menghasilkan senyawa-senyawa berwarna, umumnya coklat
atau ungu.
Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali dan kemudian ditempatkan pada
wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan tutupan gelas arloji) bersama dengan kristal
iodium. Uap iodium dalam wadah dapat berekasi dengan bercak pada kromatogram, atau
dapat dilekatkan lebih dekat pada bercak daripada lempengan. Substansi yang dianalisis
tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.
Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali dan kemudian ditempatkan pada
wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan tutupan gelas arloji) bersama dengan kristal
iodium. Uap iodium dalam wadah dapat berekasi dengan bercak pada kromatogram, atau
dapat dilekatkan lebih dekat pada bercak daripada lempengan. Substansi yang dianalisis
tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.
Penggunaan kromatografi lapis tipis untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa
Anggaplah anda mempunyai campuran asam amino dan ingin menemukan asam amino-asam
amino tertentu yang terkandung didalam campuran tersebut. Untuk sederhananya, mari kira
berasumsi bahwa anda mengetahui bahwa campuran hanya mungkin mengandung lima asam
amino.
Setetes campuran ditempatkan pada garis dasar lempengan lapis tipis dan bercak-bercak kecil
yang serupa dari asam amino yang telah diketahui juga ditempatkan pada disamping tetesan
yang akan diidentifikasi. Lempengan lalu ditempatkan pada posisi berdiri dalam pelarut yang
sesuai dan dibiarkan seperti sebelumnya. Dalam gambar, campuran adalah M dan asam
amino yang telah diketahui ditandai 1-5.
Bagian kiri gambar menunjukkan lempengan setelah pelarut hampir mencapai bagian atas
dari lempengan. Bercak-bercak masih belum tampak. Gambar kedua menunjukkan apa yang
terjadi setelah lempengan disemprotkan ninhidrin.
Tidak diperlukan menghitung nilai Rf karena anda dengan mudah dapat membandingkan
bercak-bercak pada campuran dengan bercak dari asam amino yang telah diketahui melalui
posisi dan warnanya. Dalam contoh ini, campuran mengandung asam amino 1, 4 dan 5.
Fase diam-jel silika
Jel silika adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon dihubungkan oleh atom
oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Namun, pada permukaan jel silika, atom silikon
berlekatan pada gugus -OH.
Permukaan jel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan
hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana halnya gaya van
der Waals dan atraksi dipol-dipol.

Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium oksida. Atom aluminium
pada permukaan juga memiliki gugus -OH. Apa yang kita sebutkan tentang jel silika
kemudian digunakan serupa untuk alumina.
Penentuan jumlah komponen senyawa dapat dideteksi dengan kromatografi lapis tipis (KLT)
dengan menggunakan plat KLT yang sudah siap pakai. Terjadinya pemisahan komponenkomponen pada KLT dengan Rf tertentu dapat dijadikan sebagai panduan untuk memisahkan
komponen kimia tersebut dengan menggunakan kolom kromatografi dan sebagai fasa diam
dapat digunakan silika gel dan eluen yang digunakan berdasarkan basil yang diperoleh dari
KLT dan akan lebih baik kalau kepolaraan eluen pada kolom kromatografi sedikit dibawah
kepolaran eluen pada KLT (Lenny, 2006)
Pada hakekatnya KLT merupakan metoda kromatografi cair yang melibatkan dua fasa yaitu
fasa diam dan fasa gerak. Fasa geraknya berupa campuran pelarut pengembang dan fasa
diamnya dapat berupa serbuk halus yang berfungsi sebagai permukaan penyerap
(kromatografi cair-padat) atau berfungsi sebagai penyangga untuk lapisan zat cair
(kromatografi cair-cair). Fasa diam pada KLT sering disebut penyerap walaupun berfungsi
sebagai penyangga untuk zat cair di dalam sistem kromatografi cair-cair. Hampir segala
macam serbuk dapat dipakai sebagai penyerap pada KLT, contohnya silika gel (asam silikat),
alumina (aluminium oksida), kiselgur (tanah diatomae) dan selulosa. Silika gel merupakan
penyerap paling banyak dipakai dalam KLT (Iskandar, 2007)
Tujuan
5. Pemisahan senyawa dari suatu kelompok senyawa
6. Identifikasi zat yang terkandung dalam senayawa
7. Mencari eluent yang cocok untuk kromatografi kolom
8. Identifikasi senayawa
Alat dan bahan
8. Lempeng KLT
9. Pipa kapiler
10. Gelas ukur
11. Corong
12. Kertas saring
13. Chamber

14. Lampu UV
Bahan
3. Ekstrak Hexan , etil acetat, methanol dan ekstrak hidrolisa
4. Eluen :

Hexan ; etil acetat ( 7: 3 atau 5 : 5)


Butanol ; CH3COOH ; Air

(4 : 1 : 5 )

CHCl3 ; methanol (5:5)


Cara kerja
9. Ekstrak yang digunakan untuk KLT dipekatkan terlebihdahulu dengan cara
diuapkan di waterbath
10. Plat KLT disiapkan dengan ukuran 5x1 cm
11. Tandai dengan pensil, batas bawah dan batas atas pada plat
12. Totolkan ekstrak dengan menggunakan pipa kapiler yang telah dikecilkan
lubangnya dengan dibakar. Keringkan sebentar di udara terbuka
13. Isi chamber dengan eluen kemudian jenuhkan eluen dengan cara menambahakan
kertas saring ke dalam chamber
14. Masukan plat yang telah ditotolkan ekstrak ke dalam chamber yang berisi eluent
tersebut. Elusidasi sampai tanda batas atas pada plat KLT
15. Amati noda yang terbentuk secara visual dibawah sinar UV dan disemprotkan
dengan pereaksi / penampak noda yang sesuai
16. Hitung Rf yang didapat
Data pengamatan
Eluen = 3,5 cm

( eluen = Hexan : Etil Acetat )

e. Hexan

: spot 1 = 0,6 cm
Spot 2 = 0,9 cm

f. Etil acetat

: spot 1 = 0,4 cm
: spot 2 = 0,3 cm

g. Methanol

: spot 1 = 0,2 cm
: spot 2 = 0,3 cm

h. Hidrolisa

: sspot = 0,3 cm

Perhitungan
5. Hexan
-

Rf1

= 0,6 : 3,5 = 0,171 cm

HRf1 = 0,171 x 100 % = 17,1 %


-

Rf2

= 0,9 : 3,5 = 0,257 cm

HRf2 = 0,257 x 100 % = 25,7 %


6. Etil acetat
-

Rf1

= 0,4 : 3,5 = 0,114 cm

HRf1 = 0,114 x 100% = 11,4 %


-

Rf2

= 0,3 : 3,5 = 0,085 cm

HRf2 = 0,085 x 100 % = 8,57 %


7. Methanol
-

Rf1

= 0,2 x 3,5 = 0,057 cm

HRf1 = 0,057 x 100%= 5,7 %


-

Rf2

= 0,3 : 3,5 = 0,085 cm

HRf2 = 0,085 x 100 % = 8,57 %


8. Hidrolisa
-

Rf1

= 0,3 : 3,5 = 0,085 cm

HRf1 = 0,085 x 100 % = 8,57 %

Anda mungkin juga menyukai