Anda di halaman 1dari 15

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PELITA HARAPAN


LAPORAN PENDAHULUAN

Nama: Florensia Simamora


NIM : 50120080020
I. TINJAUAN TEORITIS MEDIS
A. DEFINISI
Neoplasma atau kanker adalah pertumbuhan baru atau massa yang tidak normal akibat
proliferasi sel-sel yang beradaptasi tanpa memiliki keuntungan dan tujuan. Neoplasma
terbagi atas jinak atau ganas. Neoplasma ganas disebut juga sebagai kanker (Price, 2005).
Karsinoma Recti merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang
khusus menyerang bagian Recti yang terjadi akibat gangguan proliferasi sel epitel yang
tidak terkendali (Nettina, 2005).
Kanker kolorektal adalah tumbuhnya sel-sel ganas dalam tubuh di dalam permukaan usus
besar atau rektum. Kebanyakan kanker usus besarberawal dari pertumbuhan sel yang tidak
ganas biasa disebut adenoma yang dalam stadium awal membentuk polip atau sel yang
tumbuh sangat cepat (Brunner&Suddarth, 2001).
B. ETIOLOGI
Penyebab pasti kanker kolorektal belum diketahui secara pasti, namun faktor resiko dan
faktor predisposisi telah teridentifikasi. Faktor resiko yang mungkin adalah adanya riwayat
kanker payudara dan tumor uterus dalam keluarga dan riwayat penyakit usus inflamasi
kronis. Faktor predisposisi yang penting adalah adanya hubungan dengan kebiasaan makan,
karena insiden kanker kolorektal terjadi 10 kali lebih banyak pada penduduk dunia barat
yang mengkonsumsi lebih banyak makanan yang mengandung karbohidrat refined dan
rendah serat kasar, dibandingkan penduduk primitif (Afrika) dengan diet kaya serat kasar.
Pada diet rendah serat, tinggi karbohidrat refined mengakibatkan perubahan pada flora feses
dan perubahan degradasi garam-garam empedu atau hasil pemecahan protein & lemak,
dimana sebagian dari zat-zat ini bersifat karsinogenik. Diet rendah serat juga menyebabkan
pemekatan zat yang berpotensi karsinogenik dalam feses yang bervolume lebih kecil. Selain
itu, massa transisi feses yang meningkat menyebabkan kontak zat yang berpotensi
karsinogenik dengan mukosa usus bertambah lama.

Kanker kolon dan rektum, terutama adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel usus)
dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak
jaringan normal dan meluas ke dalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari
tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain, terutama hati. Kanker kolorektal
dapat menyebar melalui beberapa cara, yaitu:
1. Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih
2. Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon
3. Melalui aliran darah, biasanya ke hati karena kolon mengalirkan darah ke sistem portal
4. Penyebaran secara transperitoneal
5. Penyebaran ke luka jahitan, insisi abdomen atau lokasi drain
C. KLASIFIKASI
Pertumbuhan kanker menghasilkkan efek sekunder, meliputi penyumbatan lumen usus
dengan obstruksi dan ulserasi dinding usus serta pendarahan. Penetrasi kanker dapat
menyebabkan perforasi dan abses serta timbulnya metastase pada jaringan lain. Prognosis
relative baik bila lesi terbatas pada mukosa dan submukosa pada saat reseksi dilakukan dan
jauh lebih jelek jika telah terjadi metastase ke kelenjar limfe. Kanker kolorektal dapat
digolongkan berdasarkan metastasenya, antara lain:
1. Stadium A: tumor dibatasi pada mukosa dan submukosa
2. Stadium B: kanker yang sudah menembus usus ke jaringan di luar rektal tanpa keterlibatan
nodus limfe
3. Stadium C: invasi ke dalam sistem limfe yang mengalir regional
4. Stadium D: metastase regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas dan tidak dapat
dioperasi lagi
D. MANIFESTASI KLINIS
Semua karsinoma kolorektal dapat menyebabkan ulserasi, perdarahan, obstruksi
bila membesar atau invasi menembus dinding usus dan kelenjar-kelenjar regional. Kadangkadang bisa terjadi perforasi dan menimbulkan abses dalam peritoneum. Keluhan dan
gejala sangat tergantung dari besarnya tumor. Tumor pada recti dan kolon asendens dapat
tumbuh sampai besar sebelum menimbulkan tanda-tanda obstruksi karena lumennya lebih
besar daripada kolon desendens dan juga karena dindingnya lebih mudah melebar.
Perdarahan biasanya sedikit atau tersamar. Bila karsinoma Recti menembus ke daerah ileum
akan terjadi obstruksi usus halus dengan pelebaran bagian proksimal dan timbul nausea atau

vomitus. Harus dibedakan dengan karsinoma pada kolon desendens yang lebih cepat
menimbulkan obstruksi sehingga terjadi konstipasi (Nettina, 2010).
E. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Usus besar merupakan salah satu dari organ pencernaan manusia. Sistem pencernaan
atau sistem gastrointestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam
manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan
energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang
tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses pencernaan dari tubuh.
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan
rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.
Usus besar terdiri dari :

Kolon asendens (kanan)

Kolon transversum

Kolon desendens (kiri)

Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)


Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa

bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi
membuat zat-zat penting, seperti vitamin Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari
usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri
didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir
dan air, dan terjadilah diare.
Usus Buntu (sekum)
Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, buta) dalam istilah anatomi adalah suatu
kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus
besar.
Umbai Cacing (Appendix)
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi pada organ
ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis yang parah dapat
menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau
peritonitis (infeksi rongga abdomen). Dalam anatomi manusia, umbai cacing atau dalam
bahasa Inggris, vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah hujung buntu tabung

yang menyambung dengan caecum. Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap
embrio. Dalam orang dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi
dari 2 sampai 20 cm. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi ujung umbai cacing
bisa berbeda bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di
peritoneum. Banyak orang percaya umbai cacing tidak berguna dan organ vestigial
(sisihan), sebagian yang lain percaya bahwa apendiks mempunyai fungsi dalam sistem
limfatik.
Rektum dan anus
Rektum (Bahasa Latin: regere, meluruskan, mengatur) adalah sebuah ruangan yang
berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini
berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong
karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon
desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang
air besar (BAB). Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam
rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan
defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke usus besar,
di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode
yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi. Orang dewasa dan anak yang
lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami
kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan
lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian
anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Pembukaan
dan penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses
defekasi (buang air besar BAB), yang merupakan fungsi utama anus (Tortora &
Derrickson, 2006).
F. PATOFISIOLOGI
Penyebab jelas kanker kolorectal belum diketahui secara pasti, namun makanan
merupakan faktor yang penting dalam kejadian kanker tersebut yaitu berkorelasi dengan
faktor makanan yang mengandung kolesterol dan lemak hewan tinggi, kadar serat yang
rendah, serta adanya interaksi antara bakteri di dalam usus besardengan asam empedu dan
makanan, selain itu dapat juga dipengaruhi oleh minuman yang beralkohol, khusus besarnya
bir.

Kanker kolon dan rektum terutama berjenis histopatologis (95%) adenokarsinoma


(muncul dari lapisan epitel dalam usus besar = endotel). Munculnya tumor biasanya dimulai
sebagai polip jinak, yang kemudian dapat menjadi ganas dan menyusup, serta merusak;
jaringan normal dan meluas ke dalam struktur sekitarnya. Tumor dapat berupa masa
polipoid, besar, tumbuh ke dalam lumen, dan dengan cepat meluas ke sekitar usus besar
sebagai striktura annular (mirip cincin). Lesi annular lebih sering terjadi pada bagi
rektosigmoid, sedangkan lesi polipoid yang datar lebih sering terjadi pada sekum dan kolon
asendens. Kanker kolorektal dapat menyebar melalui beberapa cara yaitu:
1.Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih
2.Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon
3.Melalui aliran darah, biasanya ke hati karena kolon mengalirakan darah ke system portal.
4.Penyebaran secara transperitoneal
5.Penyebaran ke luka jahitan, insisi abdomen atau lokasi drain.
(McCance & Huether, 2006 ).
G. PENATALAKSANAAN DAN PENGOBATAN MEDIS
Pengobatan pada stadium dini memberikan hasil yang baik.
1.Pilihan utama adalah pembedahan
Satu-satunya pengobatan definitif adalah pembedahan reseksi dan biasanya diambil
sebanyak mungkin dari kolon, batas minimal adalah 5 cm di sebelah distal dan proksimal
dari tempat kanker. Untuk kanker di sekum dan kolon asendens biasanya dilakukan
hemikolektomi kanan dan dibuat anastomosis ileo-transversal. Untuk kanker di kolon
transversal dan di pleksura lienalis, dilakukan kolektomi subtotal dan dibuat anastomosis
ileosigmoidektomi. Pada kanker di kolon desendens dan sigmoid dilakukan hemikolektomi
kiri dan dibuat anastomosis kolorektal transversal. Untuk kanker di rektosigmoid dan
rektum atas dilakukan rektosigmoidektomi dan dibuat anastomosis. Desenden kolorektal.
Pada kanker di rektum bawah dilakukan proktokolektomi dan dibuat anastomosis
kolorektal.
2.Kolostomi
Kolostomi merupakan tindakan pembuatan lubang (stoma) yang dibentuk dari pengeluaran
sebagian bentuk kolon (usus besar besar) ke dinding abdomen (perut), stoma ini dapat
bersifat sementara atau permanen. Tujuan Pembuatan Kolostomi adalah untuk tindakan
dekompresi usus besar pada kasus sumbatan atau obstruksi usus besar. Kolostomi digunakan
sebagai anus setelah tindakan operasi membuang rektum karena adanya tumor atau penyakit

lain dan untuk membuang isi usus besarsebelum dilakukan tindakan operasi berikutnya
untuk penyambungan kembali usus besar (sebagai stoma sementara).
Jenis-Jenis Kolostomi.
1.Jenis kolostomi berdasarkan sifatnya:
a. Sementara
Indikasi untuk kolostomi sementara :
1). Hirschprung disease
2). Luka tusuk atau luka tembak
3). Atresia ani letak tinggi
4). Mempertahankan kelangsungan anastomosis distal usus besar setelah tindakan
operasi (mengistirahatkan usus besar).
5). Memperbaiki fungsi usus besar dan kondisi umum sebelum dilakukan tindakan operasi
anastomosis.
b. Permanen
Indikasi untuk kolostomi permanen : Penyakit tumor ganas pada kolon yang tidak
memungkinkan tindakan operasi reseksi-anastomosis usus besar.
Jenis kolostomi berdasarkan letaknya :
Colostoy Asendens

Colostomy Transversal Colostomi Desendens

Lokasi

Colon Asendens

Colon Tansversum

Colon Desendens

Konsistensi

Cair atau lunak

Lunak

Padat

feses
Iritasi kulit

Mudah terjadi, karena Mungkin terjadi karena Kadang terjadi


kontak dengan enzim lembab terus menerus

Komplikasi

pencernaan
Striktur atau retraksi
stoma

Jenis kolostomi berdasarkan tekhnik pembuatan :


a. Single Barreled Colostomy
b. Double Barreled Colostomy
c. Loop Colostomy

Perawatan Pasca Operasi Kolostomi

Keseimbangan cairan dan elektrolit.

Perawatan kulit.

Jika ada iritasi kulit harus dikaji secara tepat guna sehingga tindakan yang diambil tepat.
Prinsip pencegahan kulit sekitar stoma :
a. Pencegahan primer bertujuan untuk proteksi : Bersihkan dengan perlahan- lahan, gunakan
skin barier, ganti segera kantong bila terjadi kebocoran / rembes atau penuh.
b. Pencegahan sekunder / penanganan kulit yang sudah terjadi kerusakan. Kulit dengan
eritema : ganti kantong kolostomi setiap 24 jam, bersihkan ku1it dengan air hangat pakai
kapas dan keringkan, gunakan kantong kolostomi yang tidak menimbulkan alergi ku1it yang
erosi, sama dengan eritema tetapi setelah dibersihkan olesi daerah erosi dengan zalf
misalnya zinksalf.
3. Radioterapi
Setelah dilakukan tindakan pembedahan perlu dipertimbangkan untuk melakukan radiasi
dengan dosis adekuat. Memberikan radiasi isoniasi pada neoplasma. Karena pengaruh
radiasi yang mematikan lebih besar pada sel-sel kanker yang sedang proliferasi, dan
berdiferensiasi buruk, dibandingkan terhadap sel -sel normal yang berada di dekatnya, maka
jaringan normal mungkin mengalami cidera da1am derajat yang dapat ditoleransi dan dapat
diperbaiki, sedangkan sel-sel kanker dapat dimatikan, selanjutnya dilakukan kemoterapi.
4. Kemoterapi
Kemoterapi yang diberikan ialah 5-flurourasil (5-FU). Belakangan ini sering dikombinasi
dengan leukovorin yang dapat meningkatkan efektifitas terapi. Bahkan ada yang
memberikan 3 macam kombinasi yaitu: 5-FU, levamisol, dan leuvocorin. Dari hasil
penelitian, setelah dilakukan pembedahan sebaiknya dilakukan radiasi dan kemoterapi.
5. Penatalaksanaan Diet
1.

Cukup mengkonsumsi serat, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Serat dapat

melancarkan pencemaan dan buang air besar sehingga berfungsi menghilangkan kotoran
dan zat yang tidak berguna di usus besar, karena kotoran yang terlalu lama mengendap di
usus besar akan menjadi racun yang memicu sel kanker.
2. Kacang-kacangan (lima porsi setiap hari)

3.Menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi terutama yang
terdapat pada daging hewan.
4. Menghindari makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik, karena hal tersebut dapat
memicu sel karsinogen atau sel kanker.
5. Menghindari minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan.
6. Melaksanakan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.
(Brown & Edward,2005).
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Endoskopi. Pemeriksaan endoskopi perlu dikerjakan, baik sigmoidoskopi maupun
kolonoskopi. Gambaran yang khas karsinoma atau ulkus akan dapat dilihat dengan jelas
pada endoskopi, dan untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan biopsi.
Radiologi. Pemeriksaan radiologi yang dapat dikerjakan antara lain adalah : foto dada dan
foto kolon (barium enema). Pemeriksaan foto dada berguna selain untuk melihat ada
tidaknya metastasis kanker pada paru juga bisa digunakan untuk persiapan tindakan
pembedahan. Pada foto kolon dapat dapat terlihat suatu filling defect pada suatu tempat atau
suatu striktura.
Ultrasonografi (USG). Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi ada tidaknya
metastasis kanker kelenjar getah bening di abdomen dan di hati.
Histopatologi. Selain melakukan endoskopi sebaiknya dilakukan biopsi di beberapa
tempat untuk pemeriksaan histopatologis guna menegakkan diagnosis. Gambaran
histopatologi karsinoma kolorektal ialah adenokarsinoma, dan perlu ditentukan differensiasi
sel.
Laboratorium. Tidak ada petanda yang khas untuk karsinoma kolorektal, walaupun
demikian setiap pasien yang mengalami perdarahan perlu diperiksa Hb. Tumor marker
(petanda tumor) yang biasa dipakai adalah CEA. Kadar CEA lebih dari 5 mg/ ml biasanya
ditemukan karsinoma kolorektal yang sudah lanjut. Berdasarkan penelitian, CEA tidak bisa
digunakan untuk mendeteksi secara dini karsinoma kolorektal, sebab ditemukan titer lebih
dari 5 mg/ml hanya pada sepertiga kasus stadium III. Pasien dengan buang air besar lendir
berdarah, perlu diperiksa tinjanya secara bakteriologis terhadap shigella dan juga amoeba.

Scan (misalnya, MRI, CZ:gallium) dan ultrasound: Dilakukan untuk tujuan diagnostik,
identifikasi metastatik, dan evaluasi respons pada pengobatan.
Biopsi (aspirasi, eksisi, jarum): Dilakukan untuk diagnostik banding dan menggambarkan
pengobatan dan dapat dilakukan melalui sum-sum tulang, kulit, organ dan sebagainya.
Jumlah darah lengkap dengan diferensial dan trombosit: Dapat menunjukkan anemia,
perubahan pada sel darah merah dan sel darah putih: trombosit meningkat atau berkurang.
Sinar X dada: Menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer
(Doengeos, Moorhouse,& Geisler,2000)
I. KOMPLIKASI
Komplikasi pada pasien dengan kanker kolon yaitu:
1. Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus besar parsial atau lengkap.
2. Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan penyebaran langsung.
3. Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekitar kolon yang
menyebabkan hemorragi.
4. Perforasi usus besar dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses.
5. Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok.
II. TINJAUAN TEORITIS KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Aktivitas/istirahat
Gejala:
- Kelemahan, kelelahan/keletihan
- Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur
misalnya nyeri, ansietas dan berkeringat malam hari.
- Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi.
Sirkulasi:
Gejala:
- Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas
Tanda:
- Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah.
Integritas ego:

Gejala:
- Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres (merokok,
minum alkohol, menunda pengobatan, keyakinan religius/spiritual)
- Masalah terhadap perubahan penampilan (alopesia, lesi cacat, pembedahan)
- Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa
bersalah, kehilangan kontrol, depresi.
Tanda:
- Menyangkal, menarik diri, marah.
Eliminasi:
Gejala:
- Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi
Tanda:
- Perubahan bising usus, distensi abdomen
- Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah
Makanan/cairan:
Gejala:
- Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian zat aditif dan bahan
pengawet)
- Anoreksia, mual, muntah
- Intoleransi makanan
Tanda:
- Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot
Nyeri/ketidaknyamanan:
Gejala:
- Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat tergantung proses penyakit
Keamanan:
Gejala:
- Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika.
Tanda:
- Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia
Interaksi sosial
Gejala:
- Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan)
- Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

Penyuluhan/pembelajaran:
- Riwayat kanker dalam keluarga
- Masalah metastase penyakit dan gejala-gejalanya
- Kebutuhan terapi pembedahan, radiasi dan sitostatika.
- Masalah pemenuhan kebutuhan/aktivitas sehari-hari

2. Diagnosa Keperawatan
1. Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus
sekunder terhadap proses keganasan usus.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status
hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus.
3. Ansietas (uraikan tingkatannya) b/d faktor psikologis (ancaman perubahan status
kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis
(proses neoplasma)
4. Koping individu tak efektif b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang
adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem
pendukung tak adekuat)
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang
pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.
3. Rencana Asuhan Keperawatan
1. Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus
sekunder terhadap proses keganasan usus.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x 24 jam diharapkan intesitas
diare menjadi berkurang sampai hilang
Kriteria hasil: menunjukkan berat badan stabil, napsu makan klien meningkat, tidak
terjadi kelemahan, klien dapat beraktivitas secara normal

Intervensi
1.Bantu kebutuhan defekasi (bila tirah
baring siapkan alat yang diperlukan
dekat tempat tidur, pasang tirai dan
segera buang feses setelah defekasi)

Rasional
Defekasi tiba-tiba dapat terjadi tanpa tanda
sehingga perlu diantisipasi dengan
menyiapkan keperluan klien.

2.Tingkatkan/pertahankan asupan cairan Mencegah timbulnya maslah kekurangan


cairan.
per oral.
3.Ajarkan tentang makanan-minuman
yang dapat memperburuk/mencetuskan diare.
4.Observasi dan catat frekuensi defekasi,
volume dan karakteristik feses.

Membantu klien menghindari agen pencetus


diare.
Menilai perkembangan maslah.

5.Observasi demam, takikardia, letargi, Mengantisipasi tanda-tanda bahaya perforasi


dan peritonitis yang memerlukan tindakan
leukositosis, penurunan protein serum,
kedaruratan.
ansietas dan kelesuan.
6.Kolaborasi pemberian obat-obatan
sesuai program terapi (antibiotika,
antikolinergik, kortikosteroid)

Antibiotika untuk membunuh/menghambat


pertumbuhan agen patogen biologik,
antikolinergik untuk menurunkan peristaltik
usus dan menurunkan sekresi digestif,
kortikosteroid untuk menurunkan proses
inflamasi

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status
hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selam 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan
nutrisi klien dapat terpenuh
Kriteria hasil: menunjukkan peningkatan berat badan/berat badan stabil, napsu
makan klien meningkat, Klien menunjukkan perilaku perubahan pola hidup
untuk mempertahankan berat badan yang sesuai
Intervensi
Rasional
1.Pertahankan tirah baring selama faseMenurunkan kebutuhan metabolik untuk
akut/pasca terapi
mencegah penurunan kalori dan simpanan
energi.
2.Bantu perawatan kebersihan rongga Meningkatkan kenyamanan dan selera makan.
mulut (oral hygiene).
Asupan kalori dan protein tinggi perlu
3.Berikan diet TKTP, sajikan dalam bentuk
diberikan untuk mengimbangi status
yang sesuai perkembangan kesehatan klien
hipermetabolisme klien keganasan.
(lunak, bubur kasar, nasi biasa)

4.Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai Pemberian preparat zat besi dan vitamin B12
indikasi (roborantia)
dapat mencegah anemia; pemberian asam
folat mungkin perlu untuk mengatasi
defisiensi karen amalbasorbsi.
5.Bila perlu, kolaborasi pemberian nutrisi Pemberian peroral mungkin dihentikan
parenteral.
sementara untuk mengistirahatkan saluran
cerna.
3. Ansietas (uraikan tingkatannya) b/d faktor psikologis (ancaman perubahan status kesehatan,
status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis (proses
neoplasma)
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawaatan kecemasan pada klien berkurang sampai
hilang dalam jangka waktu 1x24 jam
Kriteria hasil: klien bersikap tenang, klien dapat mengungkapkan perasaan yang dialami,
klien dapat beristirahat dengan baik, ekpresi wajah klien tidak cemas, klien kooperatif
dalam pelaksanaan tindakan keperawatan
Intervensi
Rasional
1.Orientasikan klien dan orang
Informasi yang tepat tentang situasi yang
terdekat terhadap prosedur rutin dan
dihadapi klien dapat menurunkan
aktivitas yang diharapkan.
kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan
sekitar dan membantu klien mengantisipasi
dan menerima situasi yang terjadi.
2.Eksplorasi kecemasan klien dan
berikan umpan balik.

Mengidentifikasi faktor pencetus/pemberat


masalah kecemasan dan menawarkan solusi
yang dapat dilakukan klien.

3.Tekankan bahwa kecemasan adalah Menunjukkan bahwa kecemasan adalah wajar


masalah yang lazim dialami oleh
dan tidak hanya dialami oleh klien satubanyak orang dalam situasi klien
satunya dengan harapan klien dapat
saat ini.
memahami dan menerima keadaanya.
4.Ijinkan klien ditemani keluarga
(significant others) selama fase
kecemasan dan pertahankan
ketenangan lingkungan.

Memobilisasi sistem pendukung, mencegah


perasaan terisolasi dan menurunkan
kecemasan.

5.Kolaborasi pemberian obat sedatif.

Menurunkan kecemasan, memudahkan


istirahat.

6.Pantau dan catat respon verbal dan


non verbal klien yang menunjukan
kecemasan.

Menilai perkembangan masalah klien.

4. Koping individu tak efektif b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang
adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem
pendukung tak adekuat)
Tujuan: setelah diberikan tindakan keperawatan klien dapat mengatasi stressor yang ada
dalam jangka waktu 3x24 jam
Kriteria hasil:hubungan saling percaya dapat terbina, klien dapat terbuka dan kooperatif
dengan tim medis, klien menunjukan sikap penerimaan terhadap penyakit
Intervensi
1.Bantu klien mengembangkan strategi
pemecahan masalah yang sesuai
didasarkan pada kekuatan pribadi dan
pengalamannya.

Rasional
Penderita kanker tahap dini dapat hidup survive
dengan mengikuti program terapi yang tepat
dan dengan pengaturan diet dan aktivitas yang
sesuai

2.Mobilisasi dukungan emosional dari


orang lain (keluarga, teman, tokoh
agama, penderita kanker lainnya)

Dukungan SO dapat membantu meningkatkan


spirit klien untuk mengikuti program terapi.

3.Kolaborasi terapi medis/keperawatan


psikiatri
bila
klien
mengalami
depresi/agresi yang ekstrim.

Terapi psikiatri mungkin diperlukan pada


keadaan depresi/agresi yang berat dan lama
sehingga
dapat
memperburuk
keadaan
kesehatan klien.

4.Kaji fase penolakan-penerimaan klien


terhadap penyakitnya (sesuai teori
Kubler-Ross)

Menilai perkembangan masalah klien.

5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang
pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan klien dan
keluarganya dapat mengetahui tentang penyakit yang diderita oleh klien
Kriteria hasil: Klien dan keluarga klien dapat memahami proses penyakit klien, klien dan
keluarga klien mendapatkan informasi yang jelas tentang penyakit yang diderita oleh
klien,klien dan keluarga klien dapat mematuhi proses terapeutik yang akan dilaksanakan
Intervensi
Rasional
1.Kaji tingkat pengetahuan klien/orang Proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh
terdekat dan kemampuan/kesiapanbelajar kesiapan fisik dan mental klien.
klien.
2.Jelaskan tentang proses penyakit, Meningkatkan pengetahuan
penyebab/faktor risiko, dan dampak masalah yang dialaminya.
penyakit terhadap perubahan status
kesehatan-sosio-ekonomi, fungsi-peran
dan pola interaksi sosial klien.

klien

tentang

3.Jelaskan tentang terapi pembedahan, Meningkatkan partisipasi dan kemandirian


radiasi dan kemoterapi serta efek klien untuk mengikuti program terapi.
samping yang dapat terjadi
4.Tekankan pentingnya mempertahan-kan Penderita kanker yang mengikuti program
terapi yang tepat dengan status gizi yang
asupan nutrisi dan cairan yang adekuat.
adekuat meningkatkan kualitas hidupnya
Daftar Pustaka
Brown, D., and Edward, H. (2005). Medical-Surgical Nursing: Assessment and Management of
Clinical Problems. Australia: Elsevier.
Brunner and Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah ed. 8 vol. 3. Jakarta: EGC
Corwin, E. (2007). Buku Saku Pathofisiologi. Jakarta: EGC.
Doengoes, Marylin E. (2000). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan (Edisi 3). Jakarta:
EGC.
Gale, D., & Charette, J., (1996). Rencana asuhan Kepeperawatan Onkologi. Jakarta: EGC
McCance, K., L. & Huether, S.,E. (2006). Pathophysiology; The biologic basis for disease in
adults and children. (5th ed.). USA: Elsevier.
Nettina,S,M. (2010).Lippinicot Manual Of Nursing Practice ninth edition. Philadelphia: Lippincot
Williams & wilkins.
Tortora,G & Derrickson,B. (2006). Principles Of Anatomy and Physiology. USA:Willey.
Smeltzer C. S., Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC