Anda di halaman 1dari 9

Modul 4

Judul : Aku ingin di pakai kawat gigi


Skenario
Wanita 17 tahun datang dengan keluhan gigi gingsul. Dokter
melakukan pemeriksaan orthodonti lengkap untuk menegakkan diagnosis
orthodonti. Pemeriksaan ekstraoral pasien mesochepalic dan dolicofacial.
Tampak asimetri wajah terutama pada rahang bawah, dan profil wajah
cembung. Pemeriksaan intraoral tampak palatum dalam, hubungan molar
dan kaninus klas I dengan malposisi dan malrelasi gigi. Midline gigi bawah
bergeser ke kanan.
Dokter spesialis orthodonsi membuat model studi dan model kerja.
Analisis kebutuhan ruang pada model studi di dapatkan kekurangan ruang
pada rahang atas sebesar 18mm dan rahang bawah 8mm. Dilakukan juga
peeriksaan penunjang dan analisis orthodonsi lainnya untuk menentukan
diagnostik orthodonti lengkap.
STEP 1
1. Mesochepalic
Memiliki wajah proporsi media, indeks 7,6-8,9.
Merupakan ukuran bentuk keala yang diperiksa dgn ekstraoral,
bentuk rata2 normal dental arch.
2. Dolicofasial
Memiliki wajah dengan panjang tidak proporsional.
Dibagi 3 : dolicosephalic : kepala pjg sempit, mesocephalic : pjg dan
bulat, braciphalic
3. Profil wajah cembung
Dua garis membentuk sudut dengan kecekungan jar lunak, akibat
dari maksilla yg prognatik/mandibula yg retrognatik seperti
maloklusi klas II
Titik pertemuan titik LCB sampai LCA berada di depan garis GL.
Ada 3 tipe :
- cembung
- lurus : dua garis membentuk garis lurus
- Cekung : dua garis membentuk cekung thd jaringan
4. Malposisi
Posisi gigi geligi tdk pada tempatnya/abnormal position.
5. Malrelasi
Abnormal relasi antara RA dan RB.

STEP 2
1. Klasifikasi dan etiologi maloklusi?
2. Cara mencegah maloklusi?
3. Dampak dari maloklusi?
4. Macam-macam profil wajah?
5. Hubungan asimetri wajah dengan profil wajah cembung?
6. Tujuan perawatan orthodonti?
7. Indikasi dan kontraindikasi di lakukan perawatan orthodonti?
8. Pemeriksaan EO dan IO meliputi apa saja dalam orthodonti?
9. Bagaimana saja cara mendiagnosa orthodonti?
10.
Apa saja pemeriksaan penunjang dan analisis orthodonti?
11.
Bagaimana cara membuat model study dan model kerja?
12.
Apa saja yang bisa di ukur dari model study?
13.
Perawatan yang dapat dilakukan pada kekurangan ruang RA
& RB?
STEP 3
1. Klasifikasi maloklusi?
Angle
- Klas I (neutroklusi): mesiobukal M1 permanen maksila menutupi
groove bukal M1 Permanen mandibula.
o Tipe 1 : gigi anterior berjejal, molar normal
o Tipe 2 : molar normal, gigi anterior lebih protusi
o Tipe 3 : ada crossbite anterior karena inklinasi ke arah
palatal
o Tipe 4 : Molar normal, tapi arh bukolingual ada crossbite
posterior.
o Tipe 5 : Molar1 teap normal, gigi posterior migrasi ke
mesial/mesial drifting
o Tipe 6 : adanya spacing dan openbite
Tanda : tonjol mesiobukal ada di celah mesiobukal groove M1 RB,
caninus ada di ruang distal gigi caninus bawah dan tepi mesial P1
- Klas II (distooklusi) : Cups M1 permanen RA menutupi cups m1
PERMANEN RB, dan aspek distal P1 RB.
Tanda : tonjol mesiobukal m1 RA pada ruangan di antara
mesiobukal M1 bawah dan tepi distal tonjol bukal p2 bawah,
lengkung gigi RB terletak lebih distal dari RA.
o Divisi 1 : protusi (maksila protrusi dan overjet lebar)
o Divisi 2 : retrusi (gigi anterior RA retrusi dan overbite
dalam)
Menurut simptom
o Div 1 : protrusi ggi atas, lengkung gigi sempit, palatum
sempit, perkembangan mandibula kurang, deepbite,
overjet, bibir atas pendek lebih naik, sering bernafas lewat
mulut.
o Div 2 : lengkung gigi bawah malrelasi distal, lengkung gigi
atas tidak begitu sepit, gigi berjejal, inklinasi ke lingual,

setengah dari I laterlal menutupi bag distal I central, deep


overbite, perkembangan mandibula normal, tidak ada
kebiasaan mouthbreathing, pertumbuhan ke arah vertikal
kurang.
- Klas III : cups mesiobukal M1 permanen RA beroklusi pd
interdental di antara ruang distal pada M1 permanen RB dan
aspek mandibula
o Tipe 1 : M1 permanen bawah mesiooklusi, anterior edge to
edge
o Tipe 2 : m1 tetap atas dan bawah mesiooklusi, anterior
normal
o Tipe 3 : hub gigi anterior bersilang, dagu maju ke depan.
Tanda : tonjol mesiobukal m1 atas beroklusi dengan distal m1
bawah dan tepi mesial tonjol m2 bawah, gigitan silang pd
relasi gigi anterior.
Normal oklusi : mesiobukal M1 RA ada di goroove M1 RB, midline
sejajar
2. etiologi maloklusi?
- Herediter
disproporsi ukuran gigi dan rahang menghasilkan malokulsi
berupa gigi berdesakan/diastem.
Posisi dan bentuk rahang atas dan bawah menghasilkan relasi
tdk normal.
Kelainan gigi seperti kekurangan/kelebihan jumlah gigi,
anodonsia.
Jumlah gigi mempengaruhi erupsi gigi permanen.
Bentuk gigi yang tiddak teratur mengakibatkan gigi tumbuh
berdesakan.
- Faktor lokal
Gigi sulung tanggal prematur, makin muda saat tanggal semakin
besar efek pada gigi permanen.
Persistensi gigi.
Trauma.
- Kebiasaan buruk
Kebiasaan berdurasi setidaknya 6 jam sehari (ex : menghisap
ibujari, mouth breathing, dll)
- Spesifik
o pertumbuhan gigi dan rahang, etiologi karena gangguan
pertumbuhan tulang saat. embrio.
o disfungsi otot, mengakibatkan pertumbuhan rahang
tergangg
o Gangguan perkembangan gigi
o Gigi sulung tanggal prematur
o Persistensi gigi
o Trauma pada gigi sulung
o Pengaruh jaringan lunak, misal makrodontia
- Genetik
perkembangan rahang yang berpengaruh ada ras.

- klas 1 : karena faktor lokal, sbg ciri khas ras tertentu


- Klas 2 : faktor genetik, banyak dipengaruhi faktor lingkungan.
- Klas 3 : faktor skeletal
3. Cara mencegah maloklusi?
Faktor yang perlu di ketahui
- Memperhatikan genetik
- Metabolisme seluler
- Asupan akanan & gizi
- Kesehatan
4. Dampak dari maloklusi?
- Rasa sakit : sulit menggerakkan rahang.
- Psikis : mengurangi rasa percaya diri.
- Fonetik : mempengaruhi kejelasan pengucapan huruf, mesio :
s,z,t,n ; disto : p,b, m.
- Estetik
- Fungsi : gangguan asupan makanan.
5. Macam-macam profil wajah?
Garis dahi dan titik A (ada di dalam bibir atas)
Titik pogonion : titik anterior dari dagu di daerah simphisis mandibula
Glabela : titik terendah dari dahi pada tengah2 di antara alis mata kanan
dan kiri
LCA : titik terdepan bibir atas
LCB : titik terdepan gigi bawah
- Straight : dua garis membentuk garis lurus, biasanya terjadi pada
penderita dengan relasi soft tissue brachifacial, mandibula low
olain angle, wajah kotak, postur bibir flat, RA dan RB harmonis,
gigi crowded, pertemuan LCB LCA berada tepat pada garis GLPOG
- Konkaf/Cembung : tjd pada kasus maloklusi klas 2, RA lebih maju
dari RB, atau RA & RB maju, diderita soft tissue dolicofasial,
bentuk panjang, high mandibular plain angle, dagu antara
anterior dan posterior tidak sama.
- Konkav/cekung : seperti pada kasus maloklusi klas 3, RB lebih
maju dari RA. Titik pertemuan LCB-LCA berada di belakang garis
GL-POG.
6. Tujuan perawatan orthodonti?
- Efisiensi fungsional
- Keseimbangan struktural : memelihara keseimbangan sistem
dentoalveolar,skeletal dan
- Estetik
- Menciptakan hubungan oklusi sebaik mungkin
o Menghilangkan susunan gigi berjejal
o Mengoreksi penyimpangan rotasidan apikal gigi geligi
o Mengoreksi hub incisal
o Menciptakan hub antar tonjol bukal yg baik
7. Indikasi dan kontraindikasi di lakukan perawatan orthodonti?
- Indikasi : ketika ada maloklusi.

Syarat : Gigi permanen harus sudah erupsi, OH baik, jar


periodontal baik, keadaan umum pasien baik tidak ada resorpsi
akar, sanggup kontrol rutin, menyatakan kesanggupan tindakan,
bersedia memakai alat ortho selama perawatan, menjaga OH,
sanggup mengisi inform consent.
- Kontra
8. Pemeriksaan EO dan IO meliputi apa saja dalam orthodonti?
- EO (melihat dari bentuk luar):
o Bentuk muka
o Tinggi muka
o Bentuk kepala
o Posisi rahang : protrusi/retrusif
o Otot mastikasi : hipotonus/hipertonus
o Pipi : cekung/menggelembung
o Gerakan mandibula
- IO :
o Relasi molar dinyatakan dengan kelas angle
o malrelasi lain (openbite, crossbite)
o Malposisi (supraversi, distoversi, mesioversi, bukoversi,
aksiversi, transversi)
o Sagital : ditinjau dari orbital plane, ada tidaknya protusi
Ringan : protrusi/retrusi kurang dari seperempat
mesiodistal dari gigi P
Tengah : protrusi/retrusi setengah lebar P
Keras
:
protrusi/retrusi
sama
lebar
dengan
mesiodistal P
o Transversal : ditinjau adanya construction/distruction,
karena perkembangan yg tidak baik sehingga lengkung gigi
tidak baik.
o Vertikal : di tinjau dari garis yang berhubungan dengan
tragus dan foramen infraorbitalis, tegak lurus orbital plane,
tegak lurus bidang orbita.
o Pemeriksaan jar lunak, keadaan lidah, pemeriksaan gingiva
(ada/tidak
pigmentasi),
laboratorium
(study model
(membantu melihat gigi), pemeriksaan rontgen (biasanya
panoramik), analisa ruang (membandingkan ruang yang
tersedia dan yang dibutuhkan))
Subjektif : anamnesa
Objektif : klinis dan penunjang
9. Bagaimana saja cara mendiagnosa orthodonti?
Di tentukan dengan bberapa analisa
- Umum
o Identitas
o Keluhan utama
o Keadaan sosial
o Riwayat kesehatan
o TB/BB
o Ras

o Bentuk skelet ( endomorfik : pendek berlemak, mesomorfik


: berotot, ektomorfik : langsing)
o Ada tidaknya penyakit
o Alergi
o Kelainan endokrin (pra/pasca-lahir)
o Tonsil (radang/tidak)
o Kebiasaan bernafas
- Lokal
o Bentuk kepala ( brachi, meso-cephalic)
o Simetri wajah (dr depan dan vertikal)
o Tipe wajah (ada 3)
o Tipe profil (lurus, cembung, cekung)
- Fungsional
o
- Model
- Cephalometri
Kriteria diagnostik esensial
- Anamnesis dan riwayat kasus
- Pemeriksaan & analisis klinis
- Khusus/lokal :IO & EO
- Analisis model studi (lebar mesiodistal gigi, panjang lengkung
gigi, panjang perimeter lengkung gigi)
- Analisis fotometri (profil, bentuk muka, bentuk kepala)
- Analisis foto rontgen (periapikal, bitewing, dll)
Kriteria diagnostik tambahan
- Analisis cephalometris (foto lateral, frontal, dll)
- Analisis elektromyografi (analisa otot)
- Radiografi pergelangan tangan (diagnosis umur pasien)
- Pemeriksaan lab ( tes endokrinologi, BMR)
Menurut Prof.
- EO diagnosis
- IO diagnosis
- Rontgen
diagnosis berdasar rontgen, mengetahui resorbsi akar, formasi
akar, apakah ada missing teeth)
- Cephalometric
diagnosis berdasar hubungan kranium, tulang maksila dan
mandibula.
Memberikan
informasi
pertumbuhan
dan
perkembangan seseorang, case analysis dan diagnoss, laporan
perawatan, menunjukkan facial type, relasi tulang rahang yang
mempengaruhi facial type.
10.
Analisis gigi berampur dan gigi permanen pada perawatan
orthodonti?
- Gigi permanen
o Teknik melihat kesimetrisan dalam transversal dan sagital.
o Teknik perbedaan ukuran lengkung (menghitung lengkung
mesialdistal gigi)
o Teknik analisis Bolton (pengaruh penutupan RA&RB)
o Analisis Howes (mengetahui basis apikal untuk gigi geligi)

o Indeks Pont (menentukan lebar lengkung ideal, dari


keempat gigi I RA
o Diagnostic set up (teknik menggambarkan ruang dlm 3
dimensi)
- Gigi campuran
o Metode Nance : dengan rontgen gigi C decidui, M1 decidui,
dan gigi pengganti c,p1,p2. Hasil normal RA 0,9 RB 1,7-2
o Metode Tanaka Johnston : mengetahui gigi c, p1, p2
permanen dengan menjumlahkan ...
o Metode Huckaba : melalui pembesaran gigi dengan x-ray.
o Metode Barendonk : lebar meiodistal gigi c dengan p
o Foto periapikal : dianalisis dari foto panoramik.
o Indeks Pont
o Metode Moyers
o Metode kombinasi/gabungan : menggabungkan radiografi
dengan perhitungan pada model studi, lebar mesiodistal
gigi c dan p yang akan erupsi.
o Analisa Korkhaus
o Kesling
o Thomson & Brodie
o Determinasi lengkung gigi
11.
Apa fungsi dan bagaimana cara membuat model study dan
model kerja?
Fungsi :
- Menjelaskan keadaan oklusi.
- Menentukan diagnosa kasus.
- Mengetahui bentuk & ukuran rahang.
- Mengetahui ukuran gigi.
- Mengetahui malposisi & malrelasi.
12.
Apa saja yang bisa di ukur dari model study?
- Bentuk dan ukuran rahang.
- Ukuran mesio distal gigi.
- Bentuk & ukuran lengkung gigi.
- Relasi molar.
- Malposisi gigi.
- Adanya kelainan bentuk gigi.
Gambar cephalometric
Karakteristik maloklusi profit ackerman
LI (semua nomor)
STEP 4
Pemeriksaan
IO

Pemeriksaan
EO

Model study & model


kerja

Analisa ortho

umum

lokal

fungsional

cephalometri

Orthodonti
1. Tujuan perawatan orthondonti
a. Efisiensi fungsional
Banyak maloklusi yang dapat mempengaruhi fungsi normal system stomatognatik.
Perawatan ortodontik seharusnya bertujuan untuk memperbaiki fungsi aparatus orofasial.
Perawatan prosthodontil bertujuan untuk mengembalikan fungsi pengunyahan akibat
tanggalnya gigi.
b. Keseimbangan struktural
Regio orofasial terisi oleh sistem dento-alveolar, jaringan skeletal dan jaringan lunak
termasuk muskulatur. Perawatan ortodontik yang baik akan memelihara keseimbangan dari
ketiga sistem tersebut begitu juga dengan perawatan prosthodontik.
c. Estetis
Alasan paling banyak dilakukan perawatan ortodontik dan prosthodontik adalah masalah
estetis untuk memperbaiki penampilan.
Ref: Bhalhaji. S. I. Orthodontic: Art & Scince.3rd Ed. 2006.
2. Indikasi dan Kontra Indikasi
a. Indikasi
1.Jika dirasakan perlu bagi subjek untuk mendapat posisi postural adaptasi mandibula
2.Jika ada gerak menutup translokasi mandibula dari posisi istirahat atau dari postural adaptasi
ke posisi interkuspal
3.Jika posisi gigi sedemikian rupa sehingga terbentuk mekanisme refleks yang merugikan
selama fungsi oklusal dari mandibula
4.Jika gigi-gigi menyebabkan kerusakan jaringan lunak
5.Jika gigi berjejal dan tidak teratur menyebabkan faktor predisposisi dari penyakit
periodontal/penyakit gigi

6.Jika penampilan pribadi kurang baik akibat posisi gigi


7.Jika posisi gigi menghalangi proses bicara yang normal
b. Kontra Indikasi
1.Jika prognosa dari hasil perawatan tersebut jelek sebab pasien kurang/tidak kooperatif
2.Jika perawatan hanya untuk memperpanjang waktu saja (jika perawatan ditunda sampai gigi
bercampur/gigi permanen) hasilnya sama saja
3.Jika perawatan akan mengakibatkan perubahan bentuk gigi
4.Jika perawatan akan mengganggu proses erupsi gigi permanen
Ref: Foster, T. D. Buku Ajar Ortodonsi. Jakarta: EGC. 1997