Anda di halaman 1dari 2

FARMAKOKINETIK ANTIBIOTIK

1. Golongan Penisilin
Amoksisilin diabsorbsi dengan baik melalui saluran gastrointestinal, dimana kloksasilin hanya
sebagian diabsorbs. Kekuatan pengikatan pada protein dari dua obat ini berbeda amoksisilin 20%
berikatan pada protein, dan kloksasilin tinggi berikatan pada protein >90% . toksisitas obatdapat
terjadi jika obat-obat lain yang tinggi berikatan pada protein dipakai bersamaan dengan
kloksasilin. Kedua obat ini mempunyai waktu paruh yang singkat. 70% dari amoksisilin
diekskresikan ke dalam urin; kloksasilin diekskresikan ke dalam empedu dan urin.
2.

Sefalosporin
Kebanyakan sefalosporin mudah dirusak asam lambung sehingga harus diberikan parenteral.
Obat yang dapat diberika per oral ialah sefaleksin, sefradin, sefadroksil, sefaklor, dan sefiksim.
Distribusi sefalosporin ke seluruh tubuh baik, tetapi hanya generasi III yang dapat mencapai
kadar terapi pada meningitis. Obat ini dapat melewati sawar uri dan air susu ibu (ASI), diekskresi
melalui ginjal. Sekresi tubuler sefalosporin dihambat probenesid.

3. Aminoglikosida
Aminoglikosida tidak diserap pada pemberian oral. Neomisin digunakan untuk infeksi
intralumen usus. Sejumlah kecil obat terikat protein plasma. Pada payah ginjal obat inidapat
terakumulasi dalam plasma dan dapat menimbulkan efek toksik pada telinga dan ginjal, karena itu
dosis harus dikurangi. Distribusi ke seluruh tubuh secara merata, kecuali susunan saraf pusat dan
mata, diekskresi melalui urin terutama dalam bentuk utuh.
4. Tetrasiklin
Absorpsi, pada pemberian oral baik, tetapi tidak sempurna. Absorpsinya terganggu oleh makanan
yang berasal dari susu karena tetrasiklin membentuk senyawaan dengan ion kalsium yang sukar
diserap. Hal yang sama juga terjadi bila dimakan bersama antasida yang mengandung aluminium
dan magnesium serta sediaan yang mengandung besi.
Distribusi, tetrasiklin terkonsentrasi di hati, ginjal, limpa, dan kulit. Tetrasiklin terikat pada
jarinngan yang sedang mengalami kalsifikasi misalnya gigi dan tulang, dan juga pada tumor yang
mengandung kalsium tinggi. Penetrasi ke cairan tubuh cukup adekuat. Semua tetrasiklin dapat
mencapai cairan serebrospinal tetapi kadarnya tidak cukup tinggi. Minosiklin kadarnya cukup
tinnggi di otak dan juga air mata serta saliva, sehingga digunakan pada pasien dengan karier
meningokokus. Semua tetrasiklin melewati plasenta dan terkonsntrasi di tulang serta bakal gigi
janin.
Nasib, tetrasiklin dimetabolisme di hati serta dikonjugasi oleh glukoronid. Tetrasiklin dan
metabolitnya disekresi melalui empedu, direabsorpsi di usus halus dan mengalami filtrasi
glomerular.
Doksisiklin tidak mengalami kumulasi bila diberikan pada penderita dengan gangguan ginjal.

5. Kloramfenikol
Kloramfenikol dapat diberi oral atau suntikan. Absorpsi pada pemberian oral sempurna karena
obat ini bersifat lipofilik. Metabolisme di hati dan diekskresi melalui ginjal, 10 % diekskresi
dalam bentuk utuh.
6. Eritromisin
Eritromisin dalam bentuk basa diserap baik melalui usus, dirusak asam lambung dan absorpsinya
terganggu oleh adanya makanan. Agar tidak dirusak asam lambung biasanya eritromisin dibuat
dalam bentuk tablet bersalut atau dalam bentuk garam esternya, yaitu stearat atau etilsuksinat.
Ekskresinya terutama melalui hati.
7. Klindamisin
Klindamisin diabsorpsi baik pada pemberian per oral, didistribusi ke seluruh jaringan kecuali
cairan serebrospinal. Kadar terapi tidak dicapai di otak, walaupun pada peradangan selaput otak.
Dapat berpenetrasi ke tulang walaupun tidak ada peradangan. Obat ini dimetabolisme di hati dan
diekskresi melalui empedu dan urin. Dapat terjadi akumulasi obat pada penderita gangguan
fungsi ginjal dan gagal hati.
8. Quinolon
Sekitar 70% dari siprofloksasin hidroklorida (Cipro) diabsorpsi melalui saluran gastrointestinal.
Obat ini mempunyai efek pengikatan pada protein yang rendah dan mempunyai waktu paruh
yang cukup singkat yaitu 3-4 jam. Sekitar setengah dari obat ini diekskresikan tanpa mengalami
perubahan ke dalam urin.
Sumber :
Suniarti. DF. Et al. Farmakologi Kedokteran gigi. 2012. Jakarta;Badan Penerbit FKUI. Hal. 73-87
Kee. JL, Hayes. ER. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. 1996. Jakarta;EGC. Hal. 32343