Anda di halaman 1dari 9

POLIHIDRAMNION

Definisi
Hidramnion atau polihidramnion adalah keadaan cairan amnion yang berlebihan,
yaitu lebih dari 2000 ml atau ICA lebih dari 24. Jumlah cairan yang berlebihan tersebut
dilaporkan dapat mencapai sebanyak 15 L. Penambahan air ketuban ini dapat mendadak
dalam beberapa hari yang disebut hidramnion akut atau secara perlahan-lahan yang disebut
hidramnion kronis. Bila dilihat dari usia kehamilan, hidramnion dikatakan akut bila terjadi
sebelum usia kehamilan 24 minggu dan dikatakan kronis bila diagnosis dibuat pada trimester
III.
Dahulu definisi hidramnion dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis, bukan
berdasarkan pemeriksaan jumlah cairan amnion yang diproleh dari pemeriksaan
ultrasonografi. Pada tahun 1984 Chamberlain dkk, mendefinisikan batas atas jumlah cairan
amnion normal adalah cairan ketuban yang mempunyai ukuran vertikal lebih dari sama
dengan 8 cm. Tahun 1987 Phelan dkk, memperkenalkan indeks cairan amnion (ICA/AFI=
Amnion Fluid Indeks) untuk menghitung volume cairan amnion. Dengan metode ICA
Carlson mendefinisikan diagnosis pasti hidramnion dengan ICA > 24 cm. Usia kehamilan
antara 26 39 minggu, batas atas normal pada ICA melampaui 24 cm, oleh karena itu kriteria
hidramnion yang lebih besar daripada 97,5% dihubungkan dengan usia kehamilan.
Insiden
Pada penelitian Hill dan rekan (1987) dari Klinik Mayo, lebih dari 9.000 pasien
prenatal yang menjalani pengukuran ultrasonik secara rutin hingga mendekati trimester
ketiga. Insiden (kasus) hydramnion menunjukan 0,9%. Hydramnion ringan ditetapkan
sebaga ukuran kantung antara 8 hingga 11 cm menurut dimensi vertikal yang terdapat 80%
dari kasus dengan adanya kelebihan cairan. Hydramnion sedang ditetapkan sebagai kantung
yang. hanva memuat sebagian kecil yang diukur pada kedalaman 12 cm hingga 15 cm, yang
ditemukan 15% dari kasus. Hanya 5% yang termasuk hydramnion berat yang ditetapkan
dengan fetus yang mengapung bebas (free-floating fetus) yang ditemukan pada kantung
cairan sedalam 16 cm atau lebih. Meskipun dua pertiga dari semua kasus termasuk idiopathic,
sepertiga kasus lainnya berhubungan dengan kelainan (anomali), diabetes maternal, atau
masa kehamilan multifetal (multifetal gestation). Golan dan rekan (1863) melaporkan hasil
penelitian serupa pada 14.000 wanita.

Klasifikasi
Berdasarkan onset hidramnion dibagi menjadi :
1

Akut
Onset tiba-tiba, dimana penambahan cairan ketuban terjadi mendadak dan uterus akan
mengalami distensi yang nyata dalam beberapa hari. Biasanya terjadi pada trimester II
dan kehamilan sering berakhir pada usia 28 minggu.

Kronik
Onset perlahan-lahan dan terjadi pada trimester III.
Berdasarkan Maksimum Vertical Pocket (MVP), hidramnion dibagi menjadi :
a

Hidramnion ringan : Ukuran vertikal kantong cairan amnion 8 11 cm.

Hidramnion sedang : Ukuran vertikal kantong cairan amnion 12 15 cm.

Hidramnion berat : Ukuran vertikal kantong cairan amnion > 16cm. Dan ditemukan
fetus yang bebas mengapung

Berdasarkan Indeks Cairan Amnion (ICA), hidramnion dibagi menjadi :


a

Meningkat (>24 cm)

Normal (10-24cm)

Rendah normal (5,1-9,9 cm)

Menurun (<5 cm)

Etiologi
Sampai sekarang etiologi hidramnion belum jelas, tetapi diketahui bahwa hidramnion
terjadi bila produksi air ketuban bertambah, bila pengaliran air ketuban terganggu atau keduaduanya. Ada beberapa fakta yang berpengaruh, antara lain :

Idiopathic (60%)

Sindrom genetik/Kelainan Janin (19%)


(Sistem Gastrointestinal, Sistem Saraf Pusat, Sistem Jantung, Sistem Genitourinary)

Kehamilan Rangkap (7,5%)

Diabetes (5%)

Macrosomia (4%)

Isoimmunisasi (1,7%)

Patofisiologi
Meskipun terdapat mekanisme untuk masuk atau keluarnya cairan ke dalam ruang
amnion, hanya terdapat dua sumber penting dan dua rute penting sebagai jalan cairan amnion
selama masa kehamilan terakhir. Dua sumber penting dari cairan amnion adalah urine janin
dan cairan paru-paru dengan melibatkan kontribusi kecil yang disebabkan pada sekresi
melalui katup oral-nasal fetal. Dua rute penting dari cairan amnion akan memindahkan fetal
swallow dan penyerapannya ke dalam perfusi permukaan fetal pada plasenta. Jalur potensial
akhir untuk pertukaran antara cairan amnion dengan darah maternal pada dinding uterus.
Jalur terakhir berhubungan dengan jalur transmembran, sedangkan rute untuk pertukaran
antara cairan amnion dengan darah fetal pada permukaan fetal plasenta berhubungan dengan
jaiur intra-membran rute selanjutnya telah disesuaikan yang melibatkan semua pertukaran
pasif antara cairan amnion dengan darah fetal yang mungkln terjadi pada permukaan lain
seperti kulit fetal dan umbilical cord. Dua Pertukaran pasif selanjutnya tidak memperlihatkan
hubungan bermakna selama masa gestasi (masa kehamilan).
Maka, terdapat enam rute dimana air dan larutan mungkin akan masuk atau keluar
dari ruang amnion. Pada setiap rute, air dan larutan selalu bergerak atau pindah dengan arah
yang sama (misalnya arus gabungan) kecuali untuk jalur intra-membran dan jalur transmembran, air atau larutan mana yang dapat pindah dengan arah yang berlawanan (misalnya
arus osmotic air dan diffusi larutan). Satu rute terbesar yang mempengaruhi volume cairan
amnion adalah urin janin, rute lain yang cukup bermakna adalah penelanan oleh janin dan
reabsorpsi usus, diketahui dari adanya debris epidermal termasuk lanugo pada mekonium.
Dimana terdapat jalur intramembanous (amnion dengan plasenta janin maupun amnion
dengan tali pusat dan kulit janin), sekresi dari traktus respiratorius, sekresi oral-nasal, dan
jalur transmembranous (amnion dengan darah ibu) yang turut berperan dalam mengatur
jumlah volume cairan amnion.
Volume cairan amnion dikendalikan dengan sejumlah cara. Pada awal kehamilan,
rongga amnion akan terisi oleh cairan yang komposisinya serupa dengan komposisi cairan
ekstrasel. Selama trimester pertama transfer air dan molekul kecil lainnya tidak berlangsung
hanya lewat selaput amnion tetapi juga melalui kulit fetus.
Pada trimester kedua, janin mulai memperlihatkan kegiatan urinasi, menelan dan menghisap
cairan amnion. Proses ini hampir selalu mempunyai peranan penting dalam mengendalikan

volume cairan amnior meskipun sumber utama cairan amnion pada kasus hidramnion
dianggap terdapat pada epitel amnion, namun perubahan riwayat dalam amnion atau
perubahan kimia pada cairan amnion tidak ditemukan.
Menelan pada janin diperkirakan menjadi salah satu mekanisme untuk mengendalikan
volume cairan amnion. Kebenaran teori ini dibuktikan dengan hidramnion terjadi saat refleks
menelan terganggu, misalnya pada kasus atresia esophagus. Namun demikian, refleks
menelan bukan satu-satunya mekanisme untuk nencegah terjadinya hidramnion.
Pada anensefalus dan spina bifida, peningkatan transudasi cairan dari meningen yang
terbuka ke dalam rongga amnion adalah faktor penyebab hidramnion. Keadaan lain yang
mungkin menerangkan terjadinya hidramnion pada anensefalus adalah refleks menelan hilang
serta pengeluaran urin berlebihan yang dapat terjadi akibat stimulasi pada pusat serebrospinal
yang kehilangan penutup pelindungnya dan penekanan pada efek antidiuretik karena
kekurangan sekresi vasopresin arginin.
Pada janin dengan facial clefts (palatoschisis dll) ataupun dengan massa di leher,
reflek menelan akan lebih susah sampai hilang. Tumor pada plasenta seperti chorioangioma
juga dapat menyebabkan hidramnion. Tumor tersebut berasal dari satu vili yang terdiri dari
pembuluh-pembuluh darah dan jaringan penyambung yang hyperplasia. Keadaan tersebut
dapat meningkatkan transudasi cairan ke kantung amnion.
Pada hidramnion yang berkaitan dengan kehamilan kembar monozigot, dikemukakan
hipotesis yang mengatakan bahwa salah satu janin yang menggunakan bagian terbesar dari
sirkulasi darah bagi kedua janin akan mengalami hipertrofi jantung yang selanjutnya akan
mengakibatkan peningkatan pengeluaran urin. Naeye dan Blane (1972) menemukan dalam
sindrom tersebut tubulus renal yang berdilatasi, kandung kemih yang membesar dan
peningkatan ekskresi urin dalam periode neonatus dini, yang semuanya menunjukkan bahwa
peningkatan produksi urin janin bertanggungjawab terhadap terjadinya hidramnion.
Hasil pengamatan Duonhoelter dan Prichard (1976) terhadap janin yang normal
mempunyai potensi untuk pertukaran cairan dengan volume yang relatif besar akibat inspirasi
cairan amnion. Paru-paru yang hiperplastik dapat mengganggu lintasan pengeluaran cairan
amnion ini.
Hidramnion yang sering dijumpai pada diabetes maternal selama trimester ketiga
tetap tidak jelas penyebabnya. Diyakini dengan peningkatan gula darah ibu, gula darah fetus

juga meningkat, kemudian terjadi diuresis yang berlebihan sehingga akhirnya menyebabkan
hidramnion.
Gejala Klinik
Gejala klinik pada hidramnion terjadi karena faktor mekanik sebagai akibat
penekanan uterus yang besar terhadap organ-organ sekitarnya. Keluhan sesak akan dirasakan
karena penekanan diafragma akibat uterus yang terlalu besar. Penekanan vena-vena yang
besar menyebabkan edema terutama di kedua tungkai dan abdomen. Kadangkala, oliguri
berat dapat terjadi akibat obstruksi ureter oleh uterus yang besar.
Pada hidramnion akut, distensi tersebut dapat menimbulkan gangguan yang cukup
serius sehingga mengancam keselamatan ibu. Tanpa adanya penanganan, rasa nyeri akan
menjadi begitu intensif dan gejala dispnoe menjadi begitu berat sehingga pada kasus-kasus
ekstrim ibu hanya bisa bernafas dalam keadaan tegak. Ibu dapat menjadi sangat gelisah akibat
desakan tekanan uterus yang sangat tegang pada organ-organ yang berdekatan.
Pada hidramnion kronis, penumpukan cairan berlangsung secara bertahap dan pasien
dapat mentoleransi distensi abdomen yang berlebihan dan hanya merasa sedikit tidak
nyaman.
Gejala-gejala yang umum terjadi pada hidramnion meliputi pertumbuhan cepat pada uterus
dimana tinggi uterus lebih tinggi dari waktu amenoreanya, ketidaknyamanan dalam abdomen,
kontraksi uterus. Pada hidramnion palpasi anak sulit dan bunyi jantung sering tidak terdengar.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis yang lengkap dan pemeriksaan fisik dapat
juga denganultrasound dengan mengukur kantong cairan amnion untuk menghitung volume
total.
Hidramnion Akut
A Anamnesis
1

Abdomen membesar melebihi usia kehamilan

Abdomen membesar dalam beberapa hari

Biasanya terjadi pada usia kehamilan dibawah 20 minggu

Nyeri perut karena perut tegang

Mual dan muntah

Pada proses akut dan perut besar sekali bisa menyebabkan syok

Pemeriksaan Fisik

Tinggi fundus uteri melebihi usia kehamilan

Edema tungkai, mungkin bersama dengan tanda-tanda preeklamsia

10 Bisa ditemui tanda-tanda syok karena proses akut


11 Palpasi bagian kecil janin sulit dan bunyi jantung sulit terdengar.
Hidramnion Kronik
1

Anamnesis

Dyspnoe.terutama pada posisi berbaring

Palpitasi

Edema pada tungkai, vulva, perut dan hemoroid

Pemeriksaan Fisik
Mungkin terdapat tanda-tanda preeklamsia

Inspeksi

Abdomen terlihat besar, sangat buncit, tidak sesuai umur kehamilan

Kulit abdomen dapat terlihat tegang, mengkilat, dengan striae yang lebar

Palpasi

Fundus lebih tinggi dari usia kehamilannya

Fluid thrill dapat dirasakan di semua tempat

Bagian-bagian janin, presentasi dan letak sukar dikenal karena banyaknya cairan

Kesalahan letak janin dapat terjadi karena janin dapat bergerak bebas.

Auskultasi

Denyut jantung sukar didengar atau kalau dapat terdengar halus sekali.

Pemeriksaan dalam

Serviks terdorong ke atas dan dilatasi

Ketuban terasa tegang dan menonjol bila diraba melalui lubang pembukaan.

Pemeriksaan Penunjang
Ultrasonografi (USG)
Hidramnion, asites dan kista ovarium yang besar dapat dibedakan tanpa kesulitan
dengan USG Cairan amnion yang banyak dapat dilihat sebagai ruang non-echoik yang besar
dan abnormal. Kadang-kadang abnormalitas janin seperti anensefalus atau defek neural tube
lainnya, ataupun anomali traktus. gastrointestinal dapat terlihat.
Hidramnion dinilai dengan cara semikuantitatif untuk menghitung volume cairan
amnion berdasarkan indeks cairan amnion (ICA) > 24 cm. Pertama kali digambarkan oleh
Phelan dkk, metode ini membagi uterus menjadi 4 kuadran dengan umbilikus dan linea nigra
sebagai titik acuan dan memperhitungkan ICA dengan menjumlahkan kantung vertikal
maksimum (MVP) dari masing-masing kuadran.
Penilaian ICA:
Meningkat (>24 cm), Normal (10-24 cm), Rendah normal (5,1-9,9 cm), Menurun ( <5 cm)
Radiografi
Daerah radiolusen yang luas di sekeliling skeleton janin menunjukkan adanya
hidramnion meskipun massa jaringan lunak seperti tumor juga dapat memberikan gambaran
yang sama. Adanya kelainan kongenital anensefalus mudah terdeteksi dengan pemeriksaan
ini.
Amniografi dengan bahan kontras Hypaque dapat membantu mengenali cairan
amnion yang berlebihan, tumor jaringan lunak yang menonjol dari tubuh janin dan kegiatan
menelan pada janin. Namun sekarang pemeriksaan ini kurang populer.
Pemeriksaan darah
ABO dan Rh Rhesus isoimunisasi dapat menyebabkan hydrops fetalis dan asites pada janin.
Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan hidramnion adalah untuk mengatasi ketidaknyamanan,
mengetahui

penyebabnya

dan

untuk

menghindari

dan

mengatasi

komplikasinya.

Penatalaksanaan spesifik hidramnion dapat dilakukan berdasarkan keadaan kehamilan,


keadaan umum dan riwayat penyakit ibu, derajat penyakit, toleransi untuk pengobatan
spesifik, prosedur dan terapi. Pada hidramnion harus melakukan monitoring ketat jumlah

cairan amnion. Hidramnion ringan jarang membutuhkan terapi. Bahkan hidramnion sedang
terkadang tidak membutuhkan terapi walaupun ada ketidaknyamanan sampai saat persalinan
atau sampai ketuban pecah. Apabila rasa ketidaknyamanan benar-benar mengganggu, maka
dibutuhkan bed rest ataupun hospitalisasi.
Amniosintesis (memasukkan jarum melalui uterus dan masuk ke kantong cairan
amnion) dilakukan untuk mengurangi ketidaknyamanan ibu dengan melakukan drainase
cairan amnion. Amniosintesis dapat dilakukan berulang, terutama dilakukan pada hidramnion
akut. Cairan amnion dapat dikeluarkan sebanyak 500 cc/jam, dapat mencapai 1500 2000 cc
sekali pengeluaran. Ibu dengan hidramnion dimana bayinya menderita cacat kongenital,
dilakukan terminasi kehamilan tanpa mempedulikan usia kehamilan.
Penatalaksanaan

lain

dari

hidramnion

adalah

pemakaian

indomethasin.

Indomethasin (1,5mg/kgBB/hari) mengurangi produksi cairan paru-paru dan meningkatkan


penyerapan, serta mengurangi produk urin fetus, serta meningkatkan aliran cairan yang
melintasi membran fetus. Tetapi terapi ini sangat potensi menyebabkan penutupan lebih awal
dari duktus arteriosus fetalis.
Komplikasi
Komplikasi ibu antara lain persalinan preterm, pregnancy-induced hypertension, ketuban
pecah dini kesulitan bernapas. Komplikasi intraparturn antara lain solutio plasenta, prolaps
tali pusat, inersia uteri, insufisiensi plasenta dan bertambahnya insiden sectio caesar.
Perdarahan post partum adalah komplikasi yang paling dikhawatirkan. Kematian janin dapat
terjadi, dimana penyebab utama kemartian janin adalah kelainan kongenital yang tidak
memungkinan janin untuk hidup serta prematuritas.
Prognosis
Pada umumnya semakin berat hidramnion, semakin tinggi angka mortalitas perinatal,
sehingga bayi dalam kehamilan dengan derajat berat menunjukkan prognosis yang lebih
buruk. Dalam beberapa penelitian oleh Hill dkk (1987), hampir sebanyak 80 % ibu dengan
hidramnion ringan melahirkan bayi sehat dan atern Sebaliknya, separuh ibu dengan
hidramnion sedang hingga berat mempunyai janin dengan kelainan. Meskipun hasil
pemeriksaan penunjang tidak tampak kelainan, tidak menjamin prognosis yang balk pada
janin, karena insidens terjadinya malformasi janin sekitar 15 20 % (Landy dkk 1987).
Penyebab prognosis kurang baik ialah cacat bawaan, prematuritas, prolapsus funikuli,

eritroblastosis, preeklamsi, diabetes mellitus. Prognosis yang buruk pada ibu dikarenakan
bahaya terjadinya solutio plasenta. inersia uteri, perdarahan postpartum.