Anda di halaman 1dari 27

analisa kualitas air ketel uap di PT.

Nalco Indonesia
ANALISA KUALITAS AIR KETEL UAP
DI PT. NALCO INDONESIA

Laporan Praktik Kerja Industri ditulis untuk memenuhi


sebagian prasyarat dalam menyelesaikan study
di SMK Analis Kimia Nusa Bangsa Bogor

Oleh
SUCI HANDAYANI
NIS: 07.08.100.23

YAYASAN PENGEMBANGAN KETERAMPILAN DAN MUTU KEHIDUPAN NUSANTARA


SMK ANALIS KIMIA NUSA BANGSA BOGOR
2010

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Praktek Kerja Industri


Di era globalisasi dan perkembangan zaman yang semakin ketat membawa

dampak

tersendiri bagi dunia pendidikan, khususnya yang terjadi di Negara Indonesia. Dimana sistem
pendidikan harus ditunjang dengan sarana dan prasarana yang dapat membantu siswa, untuk lebih
mengenal dunia kerja yang sesungguhnya. Adapun salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
menciptakan sumber daya manusia yang handal, terampil dan cekatan diantaranya dengan
mengadakan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) atau Praktek Kerja Lapangan (PKL) bagi Sekolah
Menengah Kejuruan.
PRAKERIN atau PKL adalah suatu sistem pendidikan keahlian professional yang memadukan
antara pendidikan disekolah dengan program penguasaan keahlian, yang diperoleh melalui kegiatan
bekerja langsung di dunia usaha atau industri, untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional
tertentu.
Sejalan dengan meningkatnya pembangunan di sektor industri maka tidak dapat dielakan
lagi sekolah-sekolah kejuruan, khususnya Sekolah Menengah Analis Kimia Nusa Bangsa Bogor harus
mampu menghadapi tuntutan dan tantangan yang senantiasa muncul dalam kondisi seperti sekarang
ini.
Mengingat tuntutan dan tantangan masyarakat industri di tahun-tahun mendatang akan
semakin meningkat dan bersifat padat pengetahuan dan keterampilan, maka pengembangan
pendidikan menengah kejuruan khususnya rumpun kimia analis harus difokuskan kepada kualitas
lulusan. Berkaitan dengan itu, maka pola pengembangan yang digunakan dalam pembinaan sistem
pendidikan menjadi sangat penting.
Adapun alasan penulis melakukan PRAKERIN di PT. Nalco Indonesia adalah dikarenakan PT.
Nalco Indonesia merupakan salah satu industri yang berkompeten dibidangnya, dimana sistem
kerjanya didukung dengan alat-alat yang sesuai dengan Standar Nasional dan Internasional.

1.2

Maksud dan tujuan pelaksanaan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN)


Praktik Kerja Industri (Prakerin) ini merupakan pendidikan terakhir yang harus ditempuh
oleh siswa SMK Analis Kimia Nusa Bangsa Bogor, di suatu lembaga penelitian maupun perusahaan
industri. Semua itu dimaksudkan untuk memperoleh tenaga analis yang siap pakai untuk menunjang
bidang pengawasan mutu industri di Indonesia.
Dalam kesempatan ini penulis berkesempatan untuk melaksanakan Prakerin 3 bulan, yaitu
terhitung mulai tanggal 01 Juli sampai 30 september 2010 di laboratorium QC/QA PT. Nalco
Indonesia yang berlokasi di Citeureup Bogor, Jawa Barat.
Adapun tujuan dilaksanakannya Praktek Kerja Industri (Prakerin) ini adalah:
1.

Meningkatkan kemampuan dan mutu keahlian siswa dalam dunia industri khususnya analis kimia,
sebagai bekal kerja dalam menghadapi era globalisasi.

2.

Menumbuh kembangkan dan memantapkan sikap profesional siswa dalam rangka memasuki
lapangan kerja

3.

Meningkatkan wawasan siswa pada aspek-aspek yang potensial dalam dunia kerja, antara lain:
struktur organisasi, disiplin, lingkungan, dan sistem kerja.

4.

Meningkatkan pengetahuan siswa dalam hal penggunaan instrument kimia analisis yang lebih
modern, dibandingkan dengan fasilitas yang tersedia di sekolah.

5.

Memperoleh masukan dan umpan balik guna memperbaiki dan mengembangkan pendidikan di
Sekolah Menengah Analis Kimia.

6.

Memperkenalkan fungsi dan tugas-tugas seorang analis kimia ( sebutan bagi lulusan Sekolah
Menengah Analis Kimia ) kepada lembaga-lembaga penelitian.

1.3

Tujuan Penulisan Laporan


Dalam proses akhirnya praktikan diharuskan membuat laporan dengan tujuan:

1.

Menambah perbendaharaan perpustakaan sekolah dan menunjang tujuan utama peningkatan


pengetahuan siswa angkatan selanjutnya.

2.

Memantapkan siswa dalam pengembangan dan penerapan pelajaran dari sekolah di institusi
tempat Prakerin.

3.

Mampu mencari alternatif lain dalam pemecahan masalah analisis kimia secara lebih rinci dan
mendalam.

4.

Dapat membuat laporan kerja dan mempertanggungjawabkannya.

1.4

Tinjauan Umum PT. Nalco Indonesia


1.4.1

Sejarah Berdirinya PT. Nalco Indonesia

Berdirinya Nalco Chemical Company diawali dengan terjadinya kerjasama antara Herbert
A. Kern dan Dr. Frederick Salathe, keduanya adalah ahli kimia. Mereka mendirikan Chicago
Chemical Company tahun 1920. Perusahaan ini memasarkan produk yang dinamakan Colline,
ditemukan oleh Dr. Alathe, untuk pabrik-pabrik di wilayah Chicago. Kemudian diketahui meskipun
produk ini sangat efektif untuk air di wilayah Chicago, namun ternyata belum dapat dipakai secara
universal. Setelah Kern mempelajari lebih jauh tentang Colline, ia menemukan senyawa yang
disebut Sodium Aluminate jauh lebih efektif dibanding Colline. Ia mulai memasarkan senyawa
ini sebagai Kerns Water Softener (KWS) Sodium Aluminate. Pada saat yang sama, P. Wilson Evans
menemukan bermacam-macam manfaat dari Sodium Aluminate, lalu ia mendirikan Aluminate
Sales Corporation pada tahun 1922 dan menjual sodium aluminate, terutama untuk perusahaan
kereta api yang digunakan untuk pengolahan air ketel uap. Evans dan Kerns keduanya memperoleh
paten untuk sodium aluminate cair. Dalam beberapa tahun, sodium aluminate dari Aluminate Sales
Corporation dihasilkan oleh pabrik baru yang didirikan ClearingIndustrial District.oleh Chicago
Chemical-Company.
Saat sodium aluminate cair berangsur-angsur mendatangkan keuntungan, Aluminate

Company of America (Alcoa) memimpin riset untuk produksi sodium aluminate kering, kemudian
diperoleh beberapa paten dan mulai dijual pada pemerintah. Tujuan dan kebijaksanaan Alcoa
sangat mirip dengan Chicago Chemical Company dan Aluminate Sales Corporation. Tahun 1928
dilakukan penggabungan diantara ketiganya menjadi National Aluminate Corporation (Nalco). Pada
bulan April tahun 1959 berdasarkan hasil persetujuan para pemegang saham, nama Nalco diubah
menjadi Nalco Chemical Company.
Nalco pertama kali memasuki pasaran internasional pada tahun 1932 dengan membentuk
Alfoc Ltd. dan Aluminium Ltd. untuk memperkenalkan metode-metode pengolahan air (water
threatment method) di Inggris. Selanjutnya perusahaan ini diambil alih oleh Imperial Chemical
Industries di Inggris yang kemudian menjadi mitra Nalco yang penting dalam perluasan ke seluruh
dunia.
Pada awal tahun 1980-an Divisi Internasional dari Nalco Chemical Company melakukan
rekonstruksi menjadi tiga wilayah untuk memperluas pemasaran. Ketiga wilayah tersebut adalah:
1.Nalco
2.Nalco
3.Nalco

Eropa
Pasifik
Amerika

meliputi

meliputi
Latin

meliputi

Eropa,
Timur
:

Timur
Jauh

Amerika

Tengah,
dan

dan

Pasifik

Selatan,Meksiko,dan

Afrika.
Selatan.
Karibia.

Tahun 1980-an didirikan juga Nalco Asia Tenggara yang berpusat di Singapura dan Anikem di
Afrika Selatan untuk memperluas perusahaan. Satu cabang baru, PT Nalco Perkasa didirikan di
Indonesia, selain itu didirikan juga Nalco Chemical India Limited di Kalkuta.

Pada awal berdirinya, Nalco hanya menjual sodium aluminate untuk industri pengolahan air
ketel uap dan untuk pengolahan air yang digunakan dalam lokomotif uap. Sekarang Nalco telah
menjadi pemasok bahan kimia khusus untuk pengolahan air dan melayani industri-industri kayu dan
kertas, industri pengolahan air, pembangkit listrik, perminyakan serta pertambangan Saat ini
produk Nalco dijual di lebih dari 120 negara diseluruh dunia.
Keterlibatan Nalco Chemical Company di Indonesia dimulai pada awal tahun 1970-an
dengan masuknya produk-produk Nalco ke Indonesia. Adanya permintaan produk yang terus
meningkat menyebabkan Nalco Chemical Company mendirikan PT Nalco Perkasa. Pada tahun 1986,
Nalco Chemical Company mendirikan pabrik dan fasilitas laboratorium bekerja sama dengan PT
Astenia, sebuah perusahaan dibawah Napan Group Company yang bergerak di berbagai bidang
industri

dan

jasa.

Kantor Pusat PT. Nalco Perkasa terletak di Landmark Building Tower B 30th Floor Jl. Jendral
Sudirman No. 1 Jakarta. Dikantor pusat untuk bagian teknisi, pemasaran, dan manajemen.
Sedangkan untuk pabrik pembuatan, pembelian, kantor akuntan dan laboratorium berlokasi di.
Pahlawan, Desa Karang Asem Timur, Citeureup, Bogor.
PT Nalco Perkasa bergerak dalam bidang produksi bahan-bahan kimia khusus yang
digunakan untuk pengolahan air (water treatment), pembangkit tenaga (power generator), sistem
pendingin (cooling water), industri kayu dan kertas (pulp and paper industry), industri logam (metal
industry), industri pengolahan dan kilang minyak (refinery and petroleum industry).

Dalam perkembangannya, tahun 1994 PT Nalco Perkasa telah meraih sertifikat ISO 9002.
Pada tahun 1999 perusahaan Perancis, Suez, membeli Nalco Chemical Company dan tahun
berikutnya 100% menjadi PMA. Perusahaan tersebut pada tahun 2001 berganti nama menjadi ONDEO
NALCO, anggota dari ONDEO, perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Suez dan
bergerak dibidang pengolahan air. Terhitung mulai bulan Januari 2001 PT Nalco Perkasa resmi
berganti nama PT ONDEO Nalco Indonesia.
Seiring dengan adanya pergantian kembali pemilik perusahaan, nama PT. Ondeo Nalco
Indonesia pun diganti namanya menjadi PT. Nalco Indonesia pada tanggal 1 Januari 2004.

1.4.2

Misi dan tugas


PT. Nalco Indonesia mencanangkan misi ikut mengemban kebijaksanaan global Nalco untuk

memenuhi kebutuhan para pelanggan dengan produk dan pelayanan yang sesuai dengan persyaratan
yang telah disepakati bersama.
Tugas utama PT. Nalco Indonesia adalah menyelenggarakan fungsi penjualan, pelayanan,
produksi, dan administrasi secara tepat sejak awal, setiap kali sesuai dengan rencana.

Gambar 1. Logo PT. Nalco Indonesia

1.4.3

Kebijakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja


PT. Nalco Indonesia adalah perusahaan yang dipercaya untuk pencegahan kecelakaan dan
kerugian. Kesempurnaan dan dorongan yang aktif dari semua tingkatan manajemen dan dari seluruh
pegawai Nalco menghendaki untuk pencegahan kecelakaan dan kerugian. Setiap manajer dan
pengawas mempunyai rasa tanggung jawab dan motivasi untuk memberikan keselamatan dan
kesehataan kerja bagi setiap pegawainya. Nalco menghendaki setiap pegawainya untuk
memperhatikan dan mengutamakan keselamatan diri sendiri, perusahaan.

PT. Nalco Indonesia akan memimpin semua operasi keselamatan untuk mencegah kerugian
bagi pegawai dan yang lainnya dan menghindari kerugian kepemilikan guna melindungi kepentingan
umum. PT. Nalco Indonesia selalu berusaha untuk menjaga kesehatan dan keselamatan dalam
lingkungan pekerjaan. PT. Nalco Indonesia akan mengadakan pelatihan untuk semua pegawai dan

mereka yang melekukan pelatihan kerja dalam mempersiapkan fungsi keselamatan dalam
lingkungan pekerjaan mereka.

Tujuan
a.

dari

keselamatan

adalah

Mencegah kecelakaan pada karyawan dan masyarakat luas.


b.

c.

program
Melindungi kepentingan umum.

Memelihara keyakinan pelanggan didalam kemampuan kita untuk bekerja dengan selamat.
d.

Mencegah kerusakan kepemilikan.

e.

Mengurangi ongkos-ongkos yang ditimbulkan akibat kecelakaan-kecelakaan.

f.

Memenuhi peraturan-peraturan pemerintah pusat dan daerah yang berkenaan dengan


keselamatan dan kesehatan.

1.4.4

Lokasi dan Tata Letak Perusahaan


Untuk bagian teknisi, pemasaran, dan manajemen PT. Nalco Indonesia kantor pusatnya
terletak di Landmark Building Tower B 30th Floor Jl. Jendral Sudirman No.1 Jakarta. Sedangkan
untuk pabrik pembuatan, pembelian, kantor akuntan, dan laboratorium berlokasi di Jl. Pahlawan,
Desa karang Asem Timur, Citeureup Bogor, Jawa Barat.

Bagian
Kantor
Pabrik
Laboatorium
Tempat penyimpanan (gudang) tertutup dan terbuka
Kantin dan ruang tenis meja
Area pengolahan air limbah
Area hijau dan lain-lain

Luas (m2)
990
792
216
3168
216
200
14418

Tabel

1.

Gambaran
Umum
Areal

PT.

Nalco
Indonesia.

Sumber : Data Statistik PT. Nalco Indonesia


Kantor pusat Nalco Chemical Company berada di Naperville, Illionis, USA. sedangkan kantor
pusat Nalco Pacific berada di Singapura, tepatnya di 21 Gul Lane, Jurong Town, Singapore.

1.4.5

Struktur Organisasi

Struktur organisasi sangat penting artinya bagi suatu perusahaan kecil, menengah ataupun
besar. Suatu perusahaan akan mencapai tujuan dengan cara efektif dan efisien apabila didalamnya
terdapat sistem manajemen yang baik dan teratur. Untuk kepentingan itu pada setiap perusahaan
diperlukan adanya struktur organisasi tertentu yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan
perusahaan.
PT Nalco Indonesia dalam kegiatan produksinya dipimpin oleh seorang Executive Director,
Chief Chemist (bagian laboratorium), dan Finance (keuangan). Laboratorium dipimpin oleh seorang
manager laboratorium yang membawahi QC Chemist, Analytical laboratorium, dan Laboratorium
Mikrobiologi.

Gambar 2. Struktur Organisasi PT. Nalco Indonesia.

1.4.6
a.

Administrasi Laboratorium & Alur Kerja QA/QC


Fungsi Laboratorium Quality Assurance/Quality Control :
1). Mengontrol dan memeriksa bahan baku.

2). Mengontrol mutu produk selama dan sesudah proses produksi.


3). Merawat kondisi kerja dan kalibrasi untuk semua alat yang digunakan untuk Quality Control.
4). Melakukan pengembangan produk.
5)

Membuka keputusan dalam menangani bahan-bahan yang tidak memenuhi SAP dan melakukan
tindakan korektif untuk mencegah terulangnya kembali.

6). Bekerjasama dengan bagian purchasing officer dalam kualifikasi syarat-syarat pemasukan barang.

Alur kerja dimulai ketika sejumlah produk atau bahan baik dari bagian Purchasing, Ware
House, maupun bagian Production datang ke laboratorium Quality Control yang disertai dengan
dokumen-dokumen.
Setelah menerima sampel produk atau bahan yang disertai dengan dokumennya, kemudian
mempersiapkannya untuk QC analisis. Dengan melihat Standar Assurance Prosedure (SAP) untuk
spesifikasi produk atau bahan tersebut. Selanjutnya dilakukan analisis. Hasilnya dituangkan dalam
QC data base dan dilaporkan keputusan bagus atau tidaknya produk yang dianalisis kepada
pembawa sampel, kemudian membuat rentained sample.

Bila syarat-syarat produk atau bahan terpenuhi maka dokumen-dokumen yang dibawa
disetujui.

Akan

tetapi

jika

tidak

memenuhi

spesifikasi maka.
1). Ditolak, jika yang tidak memenuhi spesifikasi adalah raw material.
2). Diperbaiki, jika yang tidak memenuhi spesifikasi adalah final batch.

Akan tetapi, jika tidak bisa diperbaiki maka produk terserbut ditaruh di Work In Progress
(WIP), dan kemudian membuat Corrective Action Request (CAR).
Hasil

Jenis Sampel
Final Batch

OK, Semua parameter uji


masuk spesifikasi

Incoming RM
Returned FG
New RM

NOT OK, satu atau lebih

Final Batch

parameter uji tidak sesuai


dengan spesifikasi

Incoming RM
Returned FG
New RM

Tindakan
Menyetujui Batch sheet, membaharui QC
database,membuat retain sample
Menyetujui GRN, membaharui QC database,
membuat retain sample
Menyetujui RMA
Menyetujui NVA
a. Sampling ulang & Analisis
b. Adjust, Sampling ulang & Analisis
c. Jika tidak bisa druming batal& kirim ke
WIP, lakukan koreksi
Menolak RM, GRN tidak disetujui
RMA tidak disetujui, kirim FG ke WIP
Menolak newRM,NVA tidak disetujui

b.
Laporan
QC

Tabel 2. Laporan QC (Quality Control)

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1

Sistem Pemanas
Dalam proses industri, air banyak sekali digunakan untuk berbagai keperluan, misalnya, air
baku pada industri air minum, pemutar turbin pada pembangkit tenaga listrik, alat bantu utama
dalam kerja pada proses proses industri, dan pengisi ketel uap yang menghasilkan uap, yang
digunakan sebagai sumber tenaga di industri ataupun untuk proses kimia lainnya yang memerlukan
panas. Selain itu air juga digunakan sebagai penghasil dan penyerap energi kalor (pendingin) di
industri pada umumnya
Air di alam tidak ada yang dalam keadaan murni, karena air merupakan pelarut universal
yang dapat melarutkan berbagai zat. Oleh karena itu perlu dilakukan usaha untuk menghilangkan
mineral- mineral yang dapat menyebabkan kerak dan korosi pada sistem pemanas.

2.1.1

Definisi Ketel Uap (Steam Boiler)


Pembangkit uap pada umumnya disebut ketel uap ( steam boiler) adalah tungku dalam
berbagai bentuk dan ukuran yang digunakan untuk menghasilkan uap lewat penguapan air untuk
dipakai pada pembangkit tenaga listrik lewat turbin, proses kimia, dan pemanasan dalam produksi.
Ketel uap terdapat dalam berbagai macam ukuran, dari yang kecil hingga yang mudah dibawa,
sampai kepada satuan-satuan instalasi raksasa.
Ketel uap berfungsi sebagai sistem konversi energi kimia dari bahan bakar menjadi energi
panas. Ketel uap terdiri dari 2 komponen utama, yaitu :

a.

Dapur sebagai alat merubah energi kimia menjadi energi panas

b.

Alat penguap (evaporator) yang merubah energi pembakaran (energi panas) menjadi energi
potensial uap. Kedua komponen ini telah dapat memungkinkan sebuah ketel uap berfungsi.

Adapun komponen lainnya adalah :


a.

Corong asap dengan sistem tarikan gas asapnya, memungkinkan dapur berfungsi secara efektif.

b.

Sistem pemipaan, memungkinkan sistem penghantaran kalor yang efektif antara nyala api atau
gas panas dengan air ketel.

c.

Sistem pemanas uap lanjut, system pemanas udara pembakaran serta sistem pemanas air pengisi
ketel, yang berfungsi sebagai alat untuk menaikkan efisiensi ketel.
Agar sebuah ketel uap dapat beroperasi dengan aman, perlu adanya sistem pengamanan
yang disebut apedansi.

2.1.2

Sistem-Sistem yang terdapat pada Ketel Uap


a. Sistem Pengolahan Pendahuluan ( Pretreatment System )
Sistem pengolahan pendahuluan ( Pretreatment System ) adalah semua proses yang dilakukan
untuk menghilangkan zat-zat yang tidak diinginkan yang terdapat dalam air yang berasal dari
sumber air yang digunakan untuk keperluan industri. Proses pengolahan ini adalah sebagai berikut :

1). Filtrasi, untuk memisahkan partikel yang berukuran besar dan kecil.
2). Koagulasi/floakulasi, untuk mengendapkan partikel-partikel koloid.
3). Klarifikasi dan filtrasi, untuk memisahkan endapan koloid dengan filtrat yang selanjutnya masuk ke
proses demineralisasi.
4). Demineralisasi, untuk menghilangkan mineral-mineral yang terlarut dalam air. Demineralisasi ini
mencegah terjadinya kerak dalam pipa atau ketel uap dan mengurangi sifat korosi air. Proses ini
menggunakan resin penukar ion. Mekanisme penukaran ion terjadi secara sederhana dan merupakan
reaksi setimbang, oleh karena proses penukaran bergantung pada perbedaan kekuatan interaksi
antara ion-ion dengan resin.
b.

Sistem Air Umpan ( Feed Water System )


Setelah proses demineralisasi, air diubah menjadi uap, panas disalurkan ke air dalam

deaerator yang merupakan bagian dari sistem umpan. Di deaerator gas-gas yang terlarut dalam air
dihilangkan, terutama oksigen merupakan penyebab utama korosi. Deaerator ini tidak dapat
menghilangkan keseluruhan gas terlarut, oleh karena itu perlu ditambahkan suatu bahan kimia
khususnya untuk mengusir gas-gas yang ada sampai batas yang diperbolehkan untuk masuk kedalam
ketel uap. Gas- gas ini dapat dihilangkan oleh deaerator karena gas mempunyai kelarutan kecil
pada temperatur tinggi.
c.

Sistem Ketel Uap dan Pembuangan ( Boiler and Blowdown system )


Air yang keluar dari deaerator digunakan sebagai air pengisi ketel. Didalam ketel uap ini
akan terjadi proses pemanasan sehingga air diubah menjadi uap. Panas disalurkan ke air dalam
boiler, dan uap yang dihasilkan terus menerus. Uap yang dihasilkan ini digunakan untuk berbagai
hal, seperti penggerak turbin atau untuk proses kimia yang memerlukan panas. Feed water boiler

dikirim ke boiler untuk menggantikan uap yang hilang. Saat uap meninggalkan air boiler, partikel
padat yang terlarut semula dalam feed water boiler tertinggal. Tindakan pembuangan (blowdown)
dilakukan bila parameter melewati batas yang ditentukan sehingga air ketel harus dibuang.
Pembuangan (blowdown) dilakukan selama periode waktu tertentu tercapai parameter yang
memenuhi syarat untuk air ketel yang diimbangi dengan menambahkan air segar yang sesuai dengan
parameter untuk air ketel.

d.

Sistem Kondesat (Condesate system)


Uap dari steam boiler sebagian besar digunakan untuk keperluan proses produksi di industri
dan sebagian lagi masuk kedalam kondensor dan mengalami pengembunan menjadi air kondensat
yang akan masuk kembali kedalam deaerator yang kemudian digunakan sebagai air umpan untuk
steam boiler. Zat-zat yang tidak diinginkan banyak terkandung didalam air kondesat biasanya
adalah : oksigen, karbondioksida, senyawa pengkhelat, garam-garam yang terlarut misalnya garamgaram natrium yang terbawa oleh uap air yang dapat menyebabkan korosi pada sistem kondensat
yang dapat dihilangkan dengan penambahan bahan-bahan kimia.
Korosi merupakan akibat dari sifat air dan logam yang ada pada sistem. Akibat dari korosi
dapat menyebabkan timbulnya endapan sehingga kecepatan arus alir air akan berkurang dan lamalama akan mengalami kerusakan pada sistem.

2.2

Korosi
Korosi adalah suatu peristiwa kerusakan atau penurunan kualitas suatu bahan logam yang
disebabkan oleh terjadi reaksi dengan lingkungan. Biasanya proses korosi berlangsung secara
elektrokimia yang terjadi secara simultan pada daerah anoda dan katoda yang membentuk
rangkaian arus listrik tertutup.
Terjadinya korosi atau pengkaratan pada sumber air atau air yang didistribusikan melalui
saluran pipa air biasanya berarti pelarutan lapisan saluran pipa tersebut karena terjadinya kontak
dengan air yang lunak, beralkalinitas rendah, dan mengandung oksigen.
2.2.1

Bentuk bentuk Korosi


Korosi yang terjadi pada logam dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat logam berada.

Pada tempat yang berbeda, akan terjadi korosi yang berbeda pula. Bentuk-bentuk korosi antara lain
: korosi umum, korosi pitting, korosi galvanic, korosi cracking.
a.

Korosi umum
Korosi ini menyerang bagian logam secara merata pada permukaan. Korosi ini relative tidak
berbahaya, namun lama kelamaan korosi ini dapat mengendap dan akibatnya terjadi korosi yang
berbahaya.

b.

Korosi pitting

Jenis korosi ini yang paling sulit diprediksi, akibat dari korosi ini adalah terbentuknya lubang-lubang
kecil pada permukaan logam yang terkorosi, yang semakin lama akan semakin dalam dan akibatnya
dapat mengakibatkan kebocoran
c.

Korosi Galvanik
Korosi ini terjadi karena proses elektrokimia dua macam logam yang berbeda potensial dihubungkan
langsung didalam elektrolit yang sama. Dimana elektron mengalir dari logam kurang mulia (anoda)
menuju metal yang lebih mulia (katoda), sehingga laju korosi pada logam yang kurang mulia lebih
tinggi daripada logam yang lebih mulia.

d.

Korosi Cracking
Korosi cracking adalah jenis korosi yang dapat mengakibatkan terjadinya suatu retakan pada suatu
logam. Retakan ini terjadi akibat adanya tekanan yang tinggi, sehingga mengakibatkan terjadinya
ketegangan pada logam. Korosi terjadi pada suhu 60C, namun dapat pula terjadi pada suhu
ruangan.

2.3

Kerak
Kerak merupakan salah satu masalah yang umum terjadi pada sistem boiler. Kerak adalah
pengendapan mineral-mineral kristal yang dihasilkan apabila konsentrasi ion-ion dalam larutan yang
melampaui daya larutnya (NALCO COMPANY, 2005).
Penyebab utama terbentuknya kerak adalah silikat-silikat dan garam-garam kalsium dan
magnesium. Terbentuknya kerak pada sistem boiler termasuk hal yang sangat serius karena jika
didiamkan kerak itu akan melapisi seluruh permukaan sistem boiler. Dan hal ini akan
mengakibatkan berkurangnya transfer panas. Kerak yang tidak terkontrol akan semakin tebal,
sehingga akan menyumbat ke saluran-saluran dalam sistem.

2.4

Metode Analisis
2.4.1

Titrimetri
Titrimetri atau volumetri adalah penentuan jumlah atau kadar suatu ion atau unsur yang

dimana dasar perhitungannya adalah jumlah volume larutan baku standar yang tepat habis bereaksi
dengan volume larutan analat.
2.4.2

Intrument
Analisis instrument adalah analisis dengan menggunakan alat instrument, sehingga memiliki
ketepatan yang lebih daripada analisis dengan cara konvensional.

2.5

Dasar Teori Alat


2.5.1

pH Meter

pH menunjukan kadar asam atau basa dalam suatu larutan melalui konsentrasi ion hydrogen
(H ) ( ALAERTS dan SANTIKA, 1984). Prinsip pH meter adalah sama dengan potensiometer, tetapi
+

yang diukur pada alat pH meter adalah potensial larutan yang disebabkan oleh adanya aliran
elektron akibat peristiwa pertukaran ion yang terjadi pada elektroda. Potensial larutan yang diukur
diubah menjadi satuan pH.
Penentuan pH secara potensiometri didasarkan pada pengukuran tegangan gerak elektrik
suatu sel elektrokimia, yaitu mengandung larutan yang tidak diketahui pHnya sebagai elektrolit dan
dua buah elektroda. Apabila telah dikalibrasi dengan baik maka larutan buffer yang sesuai dapat
diketahui pHnya, sedangkan pH larutan yang tidak diketahui itu dapat dibaca langsung dari skala.
Adapun kedua elektroda yang dipakai untuk membentuk sel elektrokimia tersebut mempunyai
peranan berbeda dalam pengukuran.
Elektroda terdiri dari :
a.

Elektroda Penunjuk / Indikator


Elektroda yang mempunyai potensial yang bergantung pada larutan. Bila elektroda ini digabungkan
dengan elektroda pembanding dapat menunjukan potensial larutan contoh.

b.

Elektroda Pembanding
Mempunyai potensial yang tetap dan tidak tergantung pada larutan yang diukur. Biasanya setiap
pengukuran harus didahului dengan kalibrasi yaitu dengan larutan buffer yang nilai pHnya harus
sedekat mungkin dengan nilai pH yang diuji. Apabila tidak sedang digunakan, elektroda harus
disimpan didalam larutan KCl jenuh.

2.5.2

Konduktometer
Konduktivitas adalah kemampuan air untuk menghantarkan arus listrik. Besarnya

konduktivitas di dalam larutan sebanding dengan kadar zat terlarut yang mengion didalam air, baik
yang mengion secara sempurna maupun yang tidak. Air murni tanpa adanya ion yang terlarut
didalamnya, tidak dapat menghantarkan arus listrik. Dengan meningkatnya jumlah ion yang terlarut
didalam air, konduktivitas air akan meningkat dan korosivitas pun akan meningkat. ( NALCO
COMPANY, 2005).
Prinsip kerja konduktometer adalah suatu cara analisis kuantitatif yang berdasarkan daya
hantar listrik (DHL) dalam suatu larutan. Hukum yang mendasari analisis ini adalah hukum ohm
yang menyatakan :
Besarnya arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar berbanding lurus dengan beda
potensial diantara kedua ujung penghantar dan dipengaruhi oleh jenis penghantar.
Dapat dinyatakan :

Dimana :

R= Tahanan
V= beda potensial
I= kuat arus

2.5.3

Spektrofotometer
Spektrofotometer adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer

menghasilkan spectrum warna dari panjang gelombang tertentu sedangkan fotometer adalah alat
pengukur intensitas cahaya yang diserap atau ditransmisikan. Jadi spektrofotometri adalah
pengukuran yang berdasarkan intensitas warna dari larutan yang diukur.
Spektrofotometer dibagi dalam lima bagian yaitu :
a. Sumber cahaya
b. Monokromator

c. Tempat sample
d. Detektor
e. Recorder
Sumber cahaya yang biasa digunakan pada spektrofotometer adalah lampu wolfram yang
menghasilkan sinar dengan panjang gelombang diatas 375 nm atau lampu deuterium (D2) yang
memiliki panjang gelombang dibawah 375 nm. Sinar yang dipancarkan dipusatkan pada sebuah
cermin datar yang kemudian dipantulkan dan diteruskan melalui monokromator. Monokromator
berfungsi untuk mengubah cahaya polikromatik menjadi cahaya monokromatik sesuai dengan
panjang gelombang yang dipakai pada saat pengukuran. Bila sebuah cahaya polikromatik melalui
sebuah prisma maka akan terjadi penguraian atau disperse cahaya.
Kuvet merupakan tempat contoh atau wadah sample, syarat-syarat yang terpenting pada
kuvet adalah
a.

Tidak berwarna atau transparan sehingga dapat menstransmisikan semua cahaya

b.

Tahan terhadap bahan-bahan kimia

c.

Mempunyai ketebalan permukaan yang sama


Detector berfungsi mengubah cahaya menjadi arus listrik, detector yang biasa digunakan
adalah photo tube. Sinyal listrik yang dibaca oleh detector maka akan diterjemahkan oleh recorder.

Hukum yang mendasari analisis secara spektrofotometri adalah:


Hukum Lambert- Beer
Bila suatu cahaya monokromatis melalui suatu media yang transparan, maka bertambah
turunnya intensitas cahaya yang dipancarkan sebanding dengan bertambahnya tebal dan
konsentrasi media.

Persamaan dari hukum ini adalah :


A = e . t. C
Dimana :
A:

absorbansi

e:

indeks absorbansi molar (moleculer extinction coefficient atau molar absorbansi indeks )
t:

tebal media

C:

konsentrasi

Prinsip kerja spektrofotometer secara umum yaitu cahaya yang dipancarkan dari sumber
cahaya masuk ke monokromator dan didispersikan oleh suatu prisma menjadi cahaya monokromatis.
Cahaya yang telah menjadi monokromatis ditransmisikan ke kuvet, dan didalam kuvet sebagian
cahaya diadsorpsi, dipantulkan dan ditransmisikan. Cahaya yang ditransmisikan akan melalui
detektor yang kemudian akan diubah menjadi sinyal listrik yang tercatat oleh detektor dan akan
diterjemahkan oleh rekorder.

2.6.

Parameter-Parameter Uji
Ada beberapa hal yang dapat menentukan kualitas air untuk boiler, beberapa parameter
untuk mengontrol kualitas air boiler, yaitu :

2.6.1

Derajat Keasaman (pH)


pH adalah suatu parameter yang menyatakan banyaknya ion OH- didalam suatu larutan.
Derajat keasaman atau pH menunjukan suatu larutan itu mempunyai sifat basa, asam ataukah
netral. Nilai pH berkisar antara 0-14. pH yang bersifat asam memiliki nilai pH <7 sedangkan yang
bersifat basa mempunyai nilai pH >7, jika pH = 7 maka bersifat netral.
pH larutan dapat diukur dengan beberapa cara. Secara kualitatif pH dapat diperkirakan
dengan kertas Lakmus (Litmus) atau suatu indikator (kertas indikator pH). Seraca kuantitatif
pengukuran pH dapat digunakan elektroda potensiometrik.Elektroda ini memonitor perubahan
voltase yang disebabkan oleh perubahan aktifitas ion hidrogen (H+) dalam larutan.
Pengukuran pH sangat penting dilakukan pada sistem pemanas atau boiler karena
mengingat terbentuknya kerak dan korosi pada sistem yang sangat dipengaruhi oleh pH. Jika pH
rendah ion-ion kesadahan sangat cepat untuk membentuk kerak dengan ion-ion alkalinitas pada
sistem boiler. Sedangkan bila pH tinggi akan terjadi endapan pada sistem boiler dan akan
menempel ke dinding pipa sehingga lama kelamaan akan banyak yang mengendap dan akan
menghambat proses perpindahan panas.

2.6.2

Konduktivitas
Konduktivitas adalah kemampuan air untuk menghantarkan arus listrik, besarnya

konduktivitas sama dengan besar ion-ion yang terlarut didalamnya, baik yang mengion secara
sempurna ataupun yang tidak. Sebagai penghantar arus listrik didalam air adalah kation dan anion
yang merupakan hasil ionisasi senyawa elektrolit atau padatan anorganik yang terlarut didalam air.
Semakin banyak garam-garam yang terionisasi didalam air maka semakin besar arus listrik yang
dihantarkan.

Daya hantar larutan dipengaruhi oleh temperatur. Setiap kenaikan 1 0C akan menyebabkan
daya hantar listrik, sehingga pengukuran konduktivitas air harus disertai dengan pengukuran
temperatur.

2.6.3

Alkalinitas
Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan nilai

pH larutan (Alaerts dan Ir. S. Sumetri. S). Alkalinitas mampu menetralisir keasaman di dalam air,
Secara khusus alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pembufferan
dari ion bikarbonat, dan tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air. Ketiga ion tersebut
dalam air akan bereaksi dengan ion hydrogen sehingga menurunkan kemasaman dan menaikkan pH.
Ada 3 macam alkalinitas yaitu :
a.

M-alkalinitas, adalah total alkalinitas yaitu yang disebabkan oleh ion bikarbonat, karbonat dan
hidroksida.

b.

O-alkalinitas, adalah jumlah hidroksida dalam larutan.

c.

P-alkalinitas, adalah ion hidroksida dan karbonat.


Penetapan alkalinitas dilakukan secara volumetri, yaitu dengan titrasi yang menggunakan
H2SO4 sebagai titrannya. Ion hidroksil dalam contoh merupakan hasil hidrolisis zat terlarut. Ion ini
dapat dinetlalisir dengan standar asam

Reaksi :
2OH- + H2SO4

SO42- + 2H2O

2CO3

2HCO3- + SO42-

2-

+ H2SO4

2HCO3 - + H2SO4

SO42- + 2 H2CO3

Campuran antara bikarbonat dan karbonat dapat dititrasi menggunakan HCl dengan
penambahan indukator PP dan MM. Pada penitaran dengan PP, ion karbonat bereaksi dengan HCl
membentuk bikarbonat, kemudian pada penitaran dengan MM ion bikarbonat yang terbentuk dan
yang ada pada sampel akan bereaksi seluruhnya dengan HCl.
Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan nilai
pH larutan. Sama halnya dengan larutan bufer, alkalinitas merupakan pertahanan air terhadap
pengasaman. Alkalinitas adalah hasil reaksi-reaksi terpisah dalam larutan hingga merupakan sebuah
analisa makro yang menggabungkan beberapa reaksi. Alkalinitas dalam air disebabkan oleh ionion karbonat (CO32- ), bikarbonat (HCO3- ), hidroksida (OH-) dan juga borat (BO 33-), fosfat (PO43-),
silikat dan sebagainya. Alkalinitas diukur dengan cara titrasi dengan asam yang distandarisasi
sampai titik akhir metil merah (MM) pada sekitar pH 4.3 dan dicerminkan sebagai mg/L sebagai
CaCO3. Sebagian besar air beralkalinitas tinggi juga mempunyai pH alkalin (pH >7).

2.6.4

Kesadahan

Kesadahan adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion kalsium
(Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Selain ion kalsium dan magnesium,
penyebab kesadahan juga karena adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam bervalensi
banyak) seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn dalam bentuk garam sulfat, klorida dan bikarbonat dalam
jumlah kecil.
Pada boiler, kandungan ion-ion kesadahan dapat menyebabkan timbulnya kerak pada
dinding boiler, hal ini terjadi karena bereaksi dengan ion-ion alkalinitas. Bila kerak terjadi pada
boiler maka akan mengakibatkan berkurangnya laju perpindahan panas dan akan terjadi kelebihan
panas pada bagian tertentu saja sehingga dapat menyebabkan tekanan dan akan terjadi ledakan
karena tekanan tinggi. Maka dari itu, kesadahan pada air boiler tidak boleh over dari limit yang
sudah ditetapkan.
Metode yang digunakan pada penetapan kadar hardness, adalah metode titrasi
kompleksometri, pada titrasi ini terjadi reaksi pembentukan kompleks antara ion logam dengan ion
yang mempunyai elektron bebas yang dinamakan ligan. Jumlah ligan yang diikat oleh logam
bergantung pada kemampuan ion logam mengikat ligan tersebut. Titrasi ini menggunakan EDTA
(Ethylene Diamine Tetra Acetic Acid) sebagai titrannya.

Gambar 5. Rumus Molekul EDTA

Kesadahan total yang diakibatkan adanya ion Ca


bermuatan

2+

2+

dan ion Mg2+ serta ion-ion yang

. Penetapan kesadahan total ini dengan menggunakan EDTA sebagai titran. Indikator

yang digunakan adalah Eriochrome Black T (EBT), yang dapat membentuk kompleks dengan ion
kesadahan dan memberikan warna merah anggur. EDTA juga sebagai pengompleks dengan ion-ion
kesadahan. Pada saat titik akhir, semua indikator akan terlepas dari ion-ion kesadahan kelebihan
satu tetes titran akan membuat indikator bereaksi dengan titran dan akan menghasilkan warna
kompleks yaitu warna biru. Kondisi ini adalah menunjukan titik akhir titrasi. Pada penetapannya
digunakan larutan buffer pH 10 ( etanol amina 20% dan HCl 1,5%) dan indikator EBT.
Sedangkan pada kesadahan kalsium yaitu diakibatkan oleh ion Ca 2+ saja. Pada penetapan ini
dilakukan pengaturan pH terlebih dahulu agar pHnya tinggi sehingga ion Mg 2+ tidak ikut terukur,
karena pada pH tinggi ion Mg2+ akan mengalami pengendapan menjadi Mg(OH)2. EDTA akan bereaksi
dengan Ca2+ membentuk kelat yang bermuatan

2-

. Indikator murexide yang akan membentuk

kompleks dengan Ca2+ dan memberikan warna merah anggur. Pada saat titrasi, posisi indikator
digantikan oleh molekul EDTA yang membentuk kelat dengan Ca. Ketika titik akhir, Ca semuanya

telah terikat dengan EDTA, dan akan langsung bereaksi dengan indikator murexide membentuk
kompleks yang berwarna ungu.

2.6.5

Sulfit
Ion sulfit didalam boiler untuk mengalihkan terjadinya reaksi redoks yaitu oksidator akan

lebih dahulu mengoksidasi sulfit sebelum mengoksidasi logam.

Reaksi : 2H2SO3 + O2 2H2SO4

Pada penetapan sulfit metode yang digunakan adalah titrasi, sample air akan direaksikan
dengan KI dalam suasana asam dan diberi indikator kanji lalu dititar dengan KIO 3. Dalam titrasi ini,
KI akan membebaskan iod, yang kemudian iod akan mengoksidasi sulfit menjadi sulfat, titik
akhirnya dengan perubahan warna menjadi biru
Reaksi penetapan sulfit:
KIO3 + 5KI + 6 HCl --> 6KCl + 3 I2 + 3 H2O
SO32- + I2 + H2O --> SO42- + 2HI

2.6.6

Silika

Silika merupakan salah satu penyebab terbentuknya deposit. Air yang mengandung silika
sangat sulit diendapkan. Apabila air mengandung silica akan menyebabkan terbentuknya kerak yang
tebal dan padat.
Air akan bereaksi dengan pereaksi sil 1 yang mengandung molybdenum, lalu bereaksi
dengan pereaksi sil 2 yang berisi citric acid dan akan bereaksi dengan pereaksi sil-3 yang berisi
amino acid, dab akan membentuk senyawa kompleks yang akan diukur pada panjang gelombang 816
nm.
Reaksi penetapan silika :
H2SiO3 + 3 H2O --> H8SiO6

H8[Si(Mo2O7)6] + 12(NH4)2SO4 + 12H2O

2.6.7

Besi
Didalam air besi bersifat zat terlarut sebagai fero (fe 2+) atau feri (fe3+), bila terjadi kontak
antara air dengan besi akan dihasilkan fero oksida yang larut dalam air dan gas hidrogen. Fero
oksida bergabung dengan air dan sebagian dari oksigen yang biasanya terdapat dalam air dapat
membentuk feri hidroksida yang diendapkan kembali pada bagian lain dari pipa atau terbawa dalam
air.
Pada penetapan besi menggunakan metode spektrofotometri phenantrolin,
adalah, dengan mereduksi semua ion Fe dalam air menjadi Fe

2+

prinsipnya

dengan menggunakan hidroksilamin

dalam suasana asam. Ion Fe 2+ dalam air pada pH 3,2-3,3 akan membentuk kompleks warna merah,
warna kompleks besi-phenantrolin diukur pada panjang gelombang 510 nm.
Reaksi penetapan besi :
4 Fe

3+

+ 2 NH2OH.HCl --> 4 Fe

2+

+ N2O + H2O + 4 H+ + 2 HCl

Fe2+ + 3 C12H8N2 --> [ (C12H8N2) 3 Fe ]2+

2.6.8

Ortho Pospat
Metode ini dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri.
Reaksi Penetapan Ortho pospat :
2PO43- + 24 (NH4)2 MoO4 + 3H2 --> 2(NH4)3 PO4 + 24 MoO3 + 42NH3 + 24H2O
2(NH4)3PO4 + 24 MoO3 + as.askorbat --> biru molibdenum + dehidro as.askorbat

Reaksi ini akan membentuk senyawa kompleks phospomolibdat, selanjutnya senyawa


kompleks ini akan direduksi oleh senyawa asam askorbat membentuk warna biru kompleks
molibdenum. Intensitas warna yang terbentuk diukur pada panjang gelombang 880 nm dengan
menggunakan spektrofotometer visible.

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

an Tempat Pelaksanaan PRAKERIN


Pelaksanaan Praktek Kerja Industri dilakukan di PT. NALCO INDONESIA yang bertempat di
Citeureup, Bogor dengan waktu pelaksanaan dimulai tanggal 1 juli 2010 sampai dengan 30
september 2010.
Sample yang dianalisa adalah sample air ketel uap medium preasure, yang didapat dari
beberapa perusahaan.

3.2

Cara kerja
3.2.1 Penetapan derajat keasaman (pH)
a. Alat dan bahan
alat-alat yang digunakan:
1). Beaker glass
2). Elektroda
3). pH meter
Bahan-bahan yang digunakan :
1)

Air demin

2)

Sample air boiler


b. Cara kerja

1). Dicelupkan elektroda ke dalam sample air boiler dan dibiarkan sampai penunjuk stabil.
2). Dibaca nilai pH yang muncul pada pH meter.

3.2.2 Penetapan Conductivity (Daya Hantar Listrik)


a. Alat dan bahan
Alat-alat yang digunakan :
1)

Beaker glass

2)

Konduktometer
Bahan yang digunakan :

1)

Air demin

2)

Sample air boiler


b. Cara kerja

1)

Alat dihidupkan dan dibiarkan 15menit

2)

Elektroda dibilas dengan demin dan dilap dengan menggunakan tisu

3)

Alat konduktometer dikalibrasi terlebih dahulu dengan menggunakan larutan standar 40 umhos,
600 umhos dan 3000 umhos.

4)

Elektroda dibilas dengan demin dan dilap dengan menggunakan tisu

5)

Dicelupkan kembali elektroda ke beaker glass yang berisi sample air boiler, nilai yang tampak
pada layar dibiarkan stabil lalu dicatat.

3.2.3 Penetapan Alkalinitas


a. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan :
1)

Erlenmeyer 300 ml

2)

Gelas ukur 50 ml
Bahan yang digunakan :

1)

Indikator PP dan MM

2)

Larutan Standar H2SO4 0,02 N

3)

Sample air boiler

b.
1)

Cara kerja :
Diambil sample air boiler sebanyak 50 ml dengan menggunakan gelas ukur lalu dimasukkan ke
dalam Erlenmeyer

2)
3)

Dibubuhi 3 tetes indikator PP


Dititar dengan menggunakan larutan standar H 2SO4 0,02 N hingga warna merah hilang (a ml)

4)

Kemudian contoh dibubuhi 3 tetes indikator MM.

5)

Penitaran dilanjutkan kembali hingga warna merah (b ml)

3.2.4

Penetapan Kesadahan Total

a. Alat dan bahan


Alat yang digunakan :
1)

Buret 50 ml

2)

Erlenmeyer 300 ml

3)

Gelas ukur 50 ml

Bahan yang digunakan :


1)

Indikator EBT( Eriochrome Black T )

2)

Larutan buffer pH 10

3)

Larutan EDTA 0,01 M

4)

Sample air boiler

b.

Cara kerja :

1). Diambil sample air boiler sebanyak 50 ml dengan menggunakan gelas ukur lalu dimasukkan ke
dalam erlenmeyer.
2). Ditambahkan 2 ml Larutan buffer pH 10 sebanyak 2 ml
3). Dibubuhi indikator EBT sampai titrat berwarna ungu
4). Dititar dengan larutan EDTA 0,01 M sampai larutan berubah warna menjadi biru

3.2.5

Penetapan kesadahan kalsium

a. Alat dan bahan


Alat yang digunakan :
1)

Buret 50 ml

2)

Erlenmeyer 300 ml

3)

Gelas ukur 50 ml
Bahan yang digunakan :

1)

Indikator EBT( Eriochrome Black T )


2)

Larutan buffer pH 10

3)

Larutan EDTA 0,01 M

4)

Sample air boiler

b.

Cara kerja :

1). Diambil sample air boiler sebanyak 50 ml dengan menggunakan gelas ukur lalu dimasukkan ke
dalam erlenmeyer.
2). Ditambahkan 2 ml NaOH 1N dan kemudian ditambahkan indikator murexide sampai berwarna merah
muda.

3). Dititar dengan larutan EDTA 0,01 M sampai laruran berubah warna menjadi ungu.

3.2.6 Penetapan Sulfit


a. . Alat dan Bahan
Alat yang digunakan :
1)

Buret 50 ml

2)

Erlenmeyer 300 ml

3)

Gelas ukur 50 ml
Bahan yang digunakan :

1) Air demin
2) Indikator kanji

arutan H2SO4 6,5 %

ample air boiler

1). Diambil sample air boiler sebanyak 50 ml dengan

menggunakan gelas ukur lalu dimasukkan

kedalam erlenmeyer.
2). Ditambahkan 2 ml larutan H2SO4 6,5% dan larutan KI lalu ditambah indikator kanji.
3). Dititar dengan menggunakan larutan kalium iodat 0,02 M sampai larutan berubah warna menjadi
biru, ml titran pada skala buret adalah konsentrasi pada sulfit pada satuan ppm.

3.2.7 Penetapan Besi


a. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan :
1) Kuvet
2) Spektrofotometer
Bahan yang digunakan :
1) Air demin
2) Pereaksi Fe-HL (phenantrolin & hidroksilamin)
3) Sample air boiler
b. Cara kerja
1). Disiapkan dua buah kuvet, kuvet satu untuk blanko, kuvet dua untuk sample.
2). Sample air boiler sebanyak 10 ml dimasukkan ke dalam kuvet satu sebagai blanko.
3). Sample air sebanyak 10 ml dimasukkan ke dalam kuvet dua sebagai sample, ditambahkan 1 bantal
pereaksi Fe-HL, dikocok dan didiamkan selama 3 menit.

4). Sample diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang gelombang 510 nm.
Dicatat nilai yang tampak pada layar, nilai yang tampak adalah konsentrasi besi dalam air dengan
satuan ppm.

3.2.8 Penetapan Orthopospat


a. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan :
1) Kuvet
2) Spektrofotometer
Bahan yang digunakan :
1) Air demin
2) Larutan HCl 1:1
3) Larutan TP-1 (bismuth nitrat, HNO3 pekat, ammonium molibdat)
4) Larutan XP-2 (asam askorbat)
5) Sample air boiler
b. Cara kerja
1). Disiapkan dua buah kuvet, kuvet satu untuk blanko, kuvet dua untuk sample.
2). Sample air sebanyak 25 ml dimasukkan ke dalam kuvet satu sebagai blanko, ditambahkan 2 ml HCl
1:1 dan 14 tetes
XP-2.
3). Sample air sebanyak 25 ml dimasukkan ke dalam kuvet dua sebagai sample, ditambahkan 2 ml TP-1
dan 14 tetes XP-2.
4). Didiamkan selama 10 menit.
5). Sample diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible dengan panjang gelombang 890 nm,
nilai yang yang tampak adalah konsentrasi orthopospat dalam air dengan satuan ppm.

3.2.9 Penetapan Silika Low Range


a. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan :
1) Kuvet
2) Spektrofotometer

Bahan yang digunakan :


1) Air demin
2) Pereaksi sil-1 (molibdenum)
3) Pereaksi sil-2 (asam sitrat)
4) Pereaksi sil-3 (asam amino)
5) Sample air boiler
b. Cara kerja

1). Disiapkan dua buah piala gelas plastik, piala gelas satu untuk blanko, piala gelas dua untuk sampel.
2). Sampel air boiler masing-masing sebanyak 10 ml dimasukkan kedalam piala gelas plastik untuk
blanko dan sampel. Ditambahkan pereaksi sil-1 sebanyak 14 tetes ke dalam masing-masing piala
gelas. Didiamkan selama 4 menit.
3). Ditambahkan 1 bantal pereaksi sil-2, pada masing-masing piala gelas. Didiamkan selama 1 menit.
4). Larutan yang sudah ditambahkan pereaksi, masing-masing dimasukkan kedalam kuvet, untuk kuvet
yang berisi sampel ditambahkan sil-3, didiamkan selama 1 menit.
5). Sample diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible dengan panjang gelombang 815 nm,
nilai yang yang tampak adalah konsentrasi orthopospat dalam air dengan satuan ppm.

4.2

Pembahasan
4.2.1 Derajat keasaman (pH)
Pada penetapan derajat keasaman ini dilakukan dengan metode potensiometri. Pengukuran

pH sangat penting untuk dikontrol karena pH berfungsi untuk menentukan tingkat laju korosi yang
terjadi dan berpengaruh tehadap pembentukan kerak dan korosi.
Dari data yang didapat nilai pH pada air boiler dari beberapa perusahaan banyak yang tidak
masuk ke dalam limit yang sudah ditetapkan, nilai yang didapat ada yang dibawah limit dan ada
pula yang melewati limit. Ini dikarenakan mungkin ada kontaminasi yang terjadi didalam sistem
boiler, dan ini akan berakibat rusaknya pada sistem boiler yaitu kebocoran pada pipa-pipa, larutnya
pipa akan menyebabkan karat pada pipa dan akhirnya terjadi kebocoran, oleh karena itu pH harus
dikontrol agar kebocoran pipa tidak terjadi oleh asam dan pembentukan kerak..
Apabila pH naik maka alkalinitas pun akan naik, dan korosi akan berjalan dengan cepat.
Pada pH rendah akan terjadi korosi dan pada pH tinggi akan terjadi kerak. Selain itu pH tinggi
menimbulkan busa, sehingga akan menimbulkan carry over. Korosi yang berkelanjutan akan
mengakibatkan bocornya pipa dan mengurangi efisiensi perpindahan panas. Untuk mencegah
terjadinya korosi dapat dilakukan dengan penambahan bahan kimia penghambat korosi (corrosion
inhibitor).

4.2.2 Konduktivitas
Pengukuran dilakukan dengan metode konduktometri dengan alat konduktometer.
Pengukuran konduktivitas bertujuan untuk mengetahui kemampuan air dalam menghantarkan arus
listrik. Dengan mengetahui nilai konduktivitas dapat diketahui banyaknya ion-ion yang terlarut
didalam air tersebut. Konduktivitas sebanding dengan kadar zat terlarut dalam bentuk ion.
Dari data yang didapat ada beberapa nilai konduktivitas yang tetap dibawah limit yang
telah ditetapkan maka dengan nilai konduktivitas yang terkontrol akan dihasilkan uap panas yang
baik dan dapat meminimalisasi korosi. Hal ini menunjukan bahwa kation dan anion yang berada
dalam air boiler masih dapat dikendalikan. Namun ada pula yang melewati batas limit yang telah

ditetapkan tapi hal ini seimbang dengan nilai pH yang tinggi, namun lama-kelamaan dapat
menyebabkan terjadinya korosi, semakin besar nilai konduktivitas maka semakin cepat terjadinya
korosi. Salah satu cara yang dapat dilakukan agar nilai konduktivitas selalu berada dalam rentang
limit kontrol adalah dengan dilakukan blowdown (pembuangan lumpur dan kotoran yang ada
didalam ketel uap) pada sistem boiler.

4.2.3 Alkalinitas
Penetapan alkalinitas dilakukan secara titrimetri. Alkalinitas disebabkan oleh ion
bikarbonat, dan tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air. Ketiga ion tersebut dalam air
akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga menurunkan kemasaman dan menaikkan pH.
Alkalinitas berhubungan dengan pH air, jika alkaliniti rendah berarti pH air tinggi dan
sebaliknya. Untuk itu alkalinitas air ketel harus diatur sedemikian rupa sehingga pH air normal.
Karena pada pH rendah akan terjadi korosi dan pada pH tinggi akan terjadi buih.
Analisa yang dilakukan pada penetapan alkalinitas adalah titrasi asam basa, dengan
menggunakan H2SO4 0.02 N sebagai titran. Asam sulfat ini merupakan asam kuat maka akan
menetralkan ion-ion alkalinitas yang merupakan basa sampai titik akhir titrasi dengan pH 4.3
sampai 8.3.
Dari data yang didapat alkalinitas sudah cukup baik, nilai alkalinitas rendah dan masih bisa
ditolerir namun pada air ketel uap milik beberapa pabrik nilai alkalinitas cukup tinggi dan tidak
sebanding dengan nilai kesadahannya, sehingga dikhawatirkan akan menyebabkan karat pada pipa.
Kadar alkalinitas yang rendah dan tidak seimbang dengan kesadahan dapat menyebabkan
terbentuknya kerak CaCO3 pada dinding pipa, sehingga dapat memperkecil penampang basah pipa.
Sedangkan kadar alkalinitas yang tinggi dapat menyebabkan karat pada pipa, untuk mencegal hal
ini perlu dilakukan blowdown.

4.2.4 Kesadahan.
Kesadahan total karena disebabkan adanya ion-ion Ca 2+, Mg 2+, Mn 2+, Fe

2+

dan semua kation

yang bermuatan positif dua.


Dari data yang didapat pada penetapan kesadahan baik total maupun kalsium, tidak ada
yang masuk kedalam limit yang telah ditetapkan. Dan ini dapat menyebabkan terbentuknya kerak
dan endapan pada sistem ketel uap, sehingga akan mengurangi efisiensi perpindahan panas dari
udara yang mengalir dalam pipa ke air. Maka upaya yang dapat dilakukan dengan melakukan
blowdown.

4.2.5 Silika
Pada penetapan silika, menggunakan metode spektrofotometri dengan menggunakan
spektrofotometer visible DR 2800 dan diukur pada panjang gelombang 815 nm. Sampel air ketel uap
direaksikan dengan menggunakan asam dan molIbdenum, membentuk warna biru. Intensitas warna

yang terbentuk secara otomatis akan dibandingkan dengan internal standar silika yang ada didalam
alat. Nilai yang tertera pada layar merupakan nilai kadar silika dalam satuan ppm.
Dari data yang didapat pada penetapan silika, hanya satu data yang tidak masuk ke dalam
limit yang telah ditetapkan, yaitu data air ketel uap milik PT."S", Silika dalam sistem pemanas perlu
dikontrol karena dapat menyebabkan kerak silika yang keras dalam sistem, apabila didiamkan lamakelamaan akan menyumbat saluran dalam sistem.

4.2.6 Besi
Pada penetapan besi, dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri, dengan
menggunakan alat spektrofotometer DR 2800 diukur pada panjang gelombang 510 nm.
Berdasarkan hasil yang didapat, pada penetapan besi nilai tersebut masih dibawah limit
yang telah ditetapkan. Kadar besi harus dikontrol karena merupakan indikator terjadinya korosi
pada sistem pemanas. Korosi dapat menurunkan efisiensi perpindahan panas dan terjadinya
kebocoran pada pipa sistem.

4.2.7 Pospat
Penetapan pospat dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri dengan
menggunakan alat spektrofotometer DR 2800 pada panjang gelombang 890 nm.
Berdasarkan data yang didapat, tidak memenuhi limit yang telah ditetapkan, namun hal ini
tidak menjadi masalah karena pospat tidak merugikan bagi sistem pemanas, karena sifat pospat
dapat membentuk kompleks dengan zat-zat penyebab terjadinya karat dan endapan, maka pospat
merupakan zat anti kerak dan anti karat.

4.2.8 Sulfit
Penetapan sulfit dilakukan dengan menggunakan metode titrasi. Sulfit didalam ketel uap
sebagai oksidator karena untuk mengurangi atau menghilangkan oksigen terlarut didalam air, sulfit
akan bereaksi dengan oksigen menjadi sulfat.
Dari data yang didapat, hampir semua kadar sulfit masuk kedalam limit yang telah
ditetapkan namun ada beberapa data yang nilainya tidak masuk ke dalam limit ada yang hasilnya
rendah dan ada pula diatas limit, hasil yang sangat rendah mungkin pada penambahan pereaksi
yang mengandung sulfit sangat sedikit sehingga oksigen banyak yang terlarut di dalam air.
Jika kekurangan dosis sulfit maka dapat menyebabkan korosi dalam sistem boiler, dan jika
bila kelebihan Dosis Sulfit maka dapat menyebabkan kehilangan energi karena blowdown boiler
harus lebih banyak untuk menurunkan kandungan padatan terlarut dalam air boiler.

BAB V
PENUTUP

5.1

KESIMPULAN
Boiler merupakan alat yang mengubah air menjadi uap, dan uap tersebut digunakan untuk
menggerakan mesin-mesin turbin. Boiler mempunyai beberapa masalah misalnya, korosi, kerak, dan
deposit. Hal ini dapat diatasi dengan menjaga kualitas air yang masuk kedalam boiler. Didalam
suatu perusahaan sudah ditetapkan beberapa parameter untuk menjaga kualitas air yang masuk ke
dalam boiler.
Dari beberapa perusahaan kualitas air boiler sudah cukup baik namun masih ada beberapa
pabrik dengan kualitas air boilernya kurang memenuhi syarat yakni nilai hampir semua parameter
melebihi limit.

5.2

SARAN
Kondisi air ketel uap untuk beberapa perusahaan sudah cukup baik, namun masih ada
beberapa parameter yang tidak masuk ke dalam yang telah ditetapkan. Maka penulis memberikan
saran agar selalu menjaga kualitas air ketel uap. Untuk mencegah terjadinya masalah-masalah yang
ada di sistem yang dikarenakan ada beberapa nilai yang tidak masuk kedalam limit yang telah
ditetapkan maka agar dilakukan blowdown dan menambahkan suatu zat aktif dalam sistem boiler,
agar boiler dapat bekerja secara maksimal.
Selain itu, penulis berharap agar terus bekerja sama dan tetap terjalin baik silaturahmi
antara SMK Analis Kimia Nusa Bangsa Bogor dengan PT. Nalco Indonesia. Serta dapat memberikan
kesempatan bagi lulusan SMK Analis Kimia Nusa Bangsa untuk bekerja di PT. Nalco Indonesia.