Anda di halaman 1dari 32

ACARA IV

UJI PERBANDINGAN JAMAK (MULTIPLE COMPARISON TEST)

A. Tujuan
Tujuan praktikum Uji Inderawi acara IV adalah mahasiswa mampu
melakukan uji pembedaan, khususnya uji perbandingan jamak (multiple
comparison test).
B. Tinjauan Pustaka
Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel
jika tidak ada populasi. Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang
akan kita teliti. Sampel ditentukan oleh peneliti berdasarkan pertimbangan
masalah, tujuan, hipotesis, metode dan instrument penelitian, disamping
pertimbangan waktu, tenaga, dan pembiayaan. Secara umum sampel yang
baik adalah yang dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi.
Ukuran sampel atau jumlah sampel yang diambil menjadi persoalan yang
penting manakala jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian
yang menggunakan analisis kuantitatif. Bagi data kuantitatif tentu saja teknik
pengolahan datanya menggunakan statistik. Apabila analisis yang digunakan
statistik, hendaknya disebutkan metode dan jenis statistiknya, misalnya
deskriptif atau inferensial, sedangkan berbicara tentang jenis statistiknya,
misalnya persen, rata-rata, korelasi, analisis varians atau yang lainnya
(Darmawan, 2013).
Alat pengumpulan data (angket) berfungsi mewakili peneliti untuk
menanyakan dan merekam jawaban responden, sehubungan dengan informasi
atau keterangan yang hendak dikumpulkannya. Dalam hubungan ini,
responden berfungsi sebagai pemberi keterangan tentang yang ditanyakan
oleh peneliti melalui angket yang disusun dan disebarkannya. Item
pertanyaan merupakan bagian angket yang meminta pengisian atau jawaban
dari responden. Isian jawaban responden itulah yang hendak dikumpulkan
oleh peneliti. Petunjuk pengisian merupakan bagian angket yang berfungsi
menjelaskan kepada responden tentang cara pengisian jawaban pada item
pertanyaan (Faisal, 1981).

Pengujian organoleptik menggunakan metode free choice proffiling.


Metode ini biasanya digunakan untuk produk yang belum ada kriteria
sensorinya, sehingga tujuannya mengumpulkan data dari deskripsi panelis
terlatih. Pemilihan metode ini meliputi analisis penampakan, warna, sensori
aroma dan rasa. Hal ini dilakukan untuk memperoleh deskripsi dari panelis
terhadap kesan penampakan, warna, aroma dan rasa. Untuk mengurangi
kebiasan hasil uji organoleptik maka panelis diminta beristirahat sebentar
diantara pencicipan
menghilangkan

sampel

kesan

rasa

dengan

minum

yang

masih

air

putih

melekat

untuk
dimulut

(Koesoemawardani, 2007).
Atribut sensori adalah karakteristik mutu suatu produk yang akan diuji,
misalnya aroma, flavor, rasa, warna, kerenyahan, dll. Sebelum memulai
analisis sensori perlu ditentukan dahulu atribut-atribut apa saja yang
menggambarkan mutu produk yang diharapkan. Cara pengujian sensori
adalah dengan menggunakan indra manusia, bisa dengan dilihat untuk atribut
warna, dengan dibaui untuk atribut aroma, dicicipi untuk atribut rasa, dan
diraba untuk atribut tekstur (Setyaningsih, 2010).
Tekstur adalah properti sensorik dan, dengan demikian, hanya manusia
(atau binatang dalam hal makanan hewan) dapat memahami dan
menjelaskan. Tekstur hanya dapat mendeteksi dan mengukur parameter fisik
tertentu yang kemudian harus ditafsirkan dalam hal persepsi sensorik.
Beberapa contoh parameter sensorik kekerasan, ketegasan, kelembutan
berada pada skala resistansi makanan untuk kekuatan tekan yang diterapkan.
Namun,

masih belum diketahui secara pasti apakah manusia bereaksi

terhadap stres fisik atau ketegangan, dan bagaimana mensimulasikan dengan


instrumen tingkat regangan tinggi berpengalaman dalam mulut, pertimbangan
yang sangat penting dengan bahan viskoelastik (yakni sebagian besar produk
makanan). Sulit untuk dibedakan skala yang batas-batas adalah antara keras
dan tegas, dan lembut. Beberapa sensorik parameter lainnya, misalnya
creaminess dan juiciness, mungkin tidak mudah untuk dibedakan. Beberapa
peneliti mendefinisikan creaminess terkait dengan ketebalan (yang tergantung

pada fisik viskositas) dan juiciness (yang tergantung pada kekuatan fisik
gesekan) (Szczesniak, 2002).
Pada uji perbandingan jamak atau majemuk, contoh yang akan
diperbandingkan lebih dari satu macam. Dua atau lebih contoh disajikan
secara bersamaan untuk kemudian diperbandingkan dengan contoh baku.
Pada uji perbandingan jamak jumlah panelis yang dipergunakan 515 orang
panelis terlatih dan 1520 orang untuk panelis agak terlatih. Hasil penilaian
dari panelis terhadap produk dikonversikan dalam bentuk skor. Selanjutnya
data dari setiap parameter tersebut diuji dengan menggunakan sidik ragam
atau analisis sebaran (Budijanto, 2010).
Uji perbandingan jamak dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana
atribut

mutu

(rasa,

warna,

penampakan,

aroma,

kekenyalan

dan

ekstensibilitas) dari sampel jika dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan uji


hedonik dilakukan

untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap

semua atribut mutu untuk masing-masing formula. Selain kedua uji tersebut
dilakukan pengujian oleh panelis untuk menilai urutan atribut mutu terhadap
sampel mulai dari yang paling penting hingga kurang penting. Uji ini
ditujukan untuk melihat bagaimana penerimaan panelis terhadap atribut mutu
apa yang menurut mereka paling penting dari sampel yang diujikan
(Mariyani, 2008).
Ada dua pendekatan untuk mengembangkan produk makanan:
pendekatan berorientasi proses dan pendekatan berorientasi konsumen.
Pendekatan berorientasi proses awalnya mengacu pada proses di mana
berbagai bahan yang sistematis bervariasi untuk membuat sejumlah produk
yang berbeda. Produk produk ini kemudian dinilai oleh panelis dari semua
kategori konsumen. Yang dinilai adalah keinginan konsumen serta berbagai
atribut produk. Data yang dihasilkan kemudian dianalisis dengan analisis
varians (ANOVA), regresi dan/atau analisis permukaan respon untuk
mendapatkan produk yang optimal dengan pengoptimalan formulasi.
Keuntungan dari pendekatan berorientasi proses adalah untuk mengontrol
parameter teknis dan dapat mengatur sebuah formulasi yang optimal
(Le, 2012).

Evaluasi sensori dilakukan dengan sampel tertentu sebagai kontrol dan


beberapa sampel lain sebagai contoh untuk diuji dengan metode uji
perbandingan jamak menggunakan beberapa panelis. Perbedaan signifikan
diantara keseluruhan kontrol dan sampel control dievaluasi dengan multiples
comparison tables. Parameter yang biasa diuji adalah dari segi rasa, aroma,
warna, tekstur, tergantung dari kebutuhan dan tujuan penguji melakukan
analisa sensori tersebut (Salehifar, 2007).
Metode inferensi beberapa statistik dipisahkan menjadi dua jenis
utama, multiple confidence, interval metode dan metode uji multiple. Untuk
prosedur pengujian multiple telah disarankan beberapa jenis properti, tes
dianjurkan harus mempunyai beberapa tipe dalam rangka untuk memberikan
perlindungan yang memuaskan terhadap keputusan yang salah. Beberapa dari
mereka didasarkan pada keputusan teoritis konsepsi, sementara yang lain
didasarkan pada probabilitas membuat keputusan yang salah. Kita
mempelajari prosedur multiple test dan kita menggunakan jenis yang paling
umum terhadap kesalahan jenis pertama dengan meminta tes untuk melihat
kemungkinan kecil untuk menolak setiap hipotesis yang benar (Holm, 1979).
C. Metodologi
1. Alat
a. Sloki
b. Nampan
c. Cawan kecil
d. Borang
2. Bahan
a. Bolu Pandan
1. Kode 128 : 10 butir telur
2. Kode 212 : 6 butir telur
3. Kode 861 : 8 butir telur
4. Kode R : 12 butir telur
b. Air mineral
3. Cara Kerja
a. Penyaji
Disiapkan 4 sampel uji dan 1 sampel baku dengan
perlakuan berbeda. Kode 128 bolu pandan dengan 10 telur,
kode 212 dengan 6 telur, kode 816 dengan 8 telur, dan
sampel baku (R) dengan 12 telur

Masing-masing sampel bolu pandan dipotong dengan ukuran


Panelis
diberi
intruksi
untuk
mengisi
borang
uji
yang
sama
dan
disajikan
di atas
piring
kecil.
Setiap
piring
diberi
Diatur
Kode-kode
letak
piring
sampel
yang
dituliskan
berisi
sampel
pada
label
bolu
yang
pandan
ditempel
dan
sloki
diatas
yang
Disajikan
Disiapkan
sloki
yang
pula
berisi
borang
air
penelitian
mineral
sebagai
untuk
panelis
penetral
perbandingan
jamak
4piring
sampel
bolu
dengan
kode
yang
berbeda.
berisi kecil,
air mineral
sesuaidiatas
letak sampel
meja pengujian
ujinya.

b. Panelis

Ditulis nama, tanggal pengujian dan produk yang diuji pada kolom borang yang telah disediaka

m borang penilaian dengan teliti kemudian periksa kelengkapan sampel yang ada di hadapan. Jika belum len

mpel mulai diuji sesuai instruksi yang ada dalam borang penilaian. Hasil penilaian dituliskan pada borang yan

eriksa kembali apakah hasil pengujian sudah ditulis seluruhnya. Bila sudah lengkap, borang penilaian yang su

D. Hasil dan Pembahasan


1. Pengujian Paramater Warna
Tabel 4.1.1 Hasil Pengujian Uji Perbandingan Jamak Parameter Warna
Respon Sampel
Panelis
Total
128
212
861
1
5
6
4
15
2
4
7
6
17
3
2
8
3
13
4
6
8
7
21
5
3
8
7
18
6
5
8
6
19
7
6
8
6
20
8
2
5
2
9
9
6
8
7
21
10
6
9
7
22
11
5
9
6
20
12
4
7
6
17
13
3
8
6
17
14
2
8
6
16
15
4
7
5
16
16
5
7
6
18
17
3
7
6
16
18
6
9
6
21
19
2
8
6
16
20
4
9
6
19
21
5
7
6
18
22
6
9
7
22
23
4
6
3
13
24
2
6
4
12
25
3
8
6
17
26
6
8
4
18
27
4
8
3
15
Total
113
206
147
466
7,63
Rata-rata 4,185
0
5,444 5,753
Sumber: Laporan Sementara

Menurut Mariyani (2008) uji perbandingan jamak merupakan uji


yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui bagaimana atribut mutu
(rasa, warna, penampakan, aroma, kekenyalan dan ekstensibilitas) dari
sampel yang diuji jika dibandingkan dengan sampel kontrol. Menurut

Setyoningsih (2010) Uji (perbandingan jamak ini) digunakan untuk


mengetahui apakah ada perbedaan di antara satu atau lebih sampel uji
dengan sampel baku (kontrol) dan untuk memperkirakan besarnya
perbedaan yang ada. Mekanisme uji perbandingan jamak ini yaitu, satu
contoh dijadikan sebagai kontrol atau baku dan contoh yang lain dievakuasi
seberapa berbeda masingmasing contoh kontrol. Pada uji ini, pada panelis
disajikan satu buah contoh baku sebagai kontrol. Setelah itu, contoh dinilai
dengan menggunakan skala yang menunjukkan tingkat perbedaan dengan
contoh baku. Skala yang diterapkan mulai dari tidak ada perbedaan
sampai amat sangat berbeda. Panelis juga dapat diminta untuk
memberikan alasan mengapa mereka menganggap contoh ini berbeda dari
kontrol. Data yang diperoleh kemudian dapat dianalisis dengan
menggunakan ANOVA (Analysis of Variance).
Dalam melakukan penilaian dalam uji perbandingan jamak ini
panelis tidak diperkenankan membandingkan sampel antar uji. Panelis
diminta menilai sampel uji menggunakan skala 1-9. Nilai/skor tersebut
yaitu 1 untuk amat sangat lebih baik dari sampel baku, 2 untuk sangat
lebih baik dari sempel baku, 3 untuk lebih baik dari sampel baku, 4 untuk
intensitas agak lebih baik dari sampel baku, 5 untuk intensitas sama
dengan sampel baku, 6 untuk intensitas agak lebih buruk dari sampel baku,
7 untuk intensitas lebih buruk dari sampel baku, 8 untuk intensitas sangat
lebih buruk dari sampel baku, dan 9 untuk intensitas amat sangat lebih
buruk dari sampel baku.
Sampel yang digunakan pada uji perbandingan jamak (Multiple
Comparison Test) ini adalah bolu pandan, satu sampel baku dan tiga
sampel uji dengan kode sekaligus perlakuan yang berbeda-beda pula.
Disini ada tiga sampel yang digunakan, yaitu kode 128 merupakan bolu
pandan dengan 10 butir telur, kode 212 dengan 6 butir telur dan untuk
kode 861 menggunakan 8 butir telur. Sedangkan sampel baku (sampel R)
menggunakan 12 butir pada proses pembuatannya. Pengkodean sampel ini
bertujuan untuk mengurangi bias panelis dalam melakukan pengujian.
Pada uji perbandingan jamak ini menggunakan 30 panelis namun ada 3

panelis yang harus dieliminasi karena data hasil pengujian yang diberikan
dalam borang tidak sesuai dengan intruksi yang diberikan, sehingga data
yang dapat diolah hanya dari 27 panelis saja.
Pada tabel 4.1.1 Hasil Pengujian Uji Perbandingan Jamak
Parameter Warna, menunjukkan jumlah dan rata-rata tiap kode sampel.
Pada sampel kode 128 didapat total nilai keseluruhan 113 dengan rata-rata
nilai 4,185. Untuk sampel kode 212 total nilai keseluruhannya adalah 206
dengan rata-rata nilai 7,630. Sampel terakhir dengan kode 861 total nilai
keseluruhannya 147 dengan rata-rata nilai 5,444. Nilai rata-rata dari semua
sampel menunjukkan intensitas yang ditunjukkan oleh panelis. Pada uji ini
nilai rata-rata yang tinggi menjelaskan bahwa memiliki intensitas tingkat
warna yang buruk, hal ini tergantung pada pemberian skala numerik yang
ada dalam penilaian. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pada segi
warna untuk kode 128 dianggap agak lebih baik dari sampel baku (R) dan
kode 861 sama dari sampel baku (R) dan untuk kode 212 dianggap lebih
buruk dari sampel baku (R). Sehingga diurutkan sampel dengan penilaian
warna terbaik hingga terburuk adalah sampel 128, sampel 861 dan yang
terakhir sampel 212.
Tabel 4.1.2 Daftar Sidik Ragam Sampel Bolu Pandan
Sumbe
df
JK
JKR
F hitung
F tabel 5%
r
Varian
Sampel
2
164,025
82,012
84,212
3,18
Panelis
26
86,395
3,323
3,412
1,71
Error
52
50,642
0,974
Total
80
301,062
86,309
Menurut Sugiyono (2009), hipotesis merupakan jawaban
sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan
masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Dikatakan
sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori.
Hipotesis dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang merupakan jawaban
sementara atas masalah yang dirumuskan. Hipotesis untuk uji ini adalah:
H0= tidak ada perbedaan antara sampel uji dengan sampel baku; dan
H1= ada perbedaan antara sampel uji dengan sampel baku.

Mekanisme pengambilan keputusan dapat digambarkan sebagai berikut:


Fhitung < Ftabel terima H0
Fhitung > Ftabel tolak H0
Untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang nyata pada
sample, nilai Fhitung diuji dengan Ftabel 5%. Pada tabel 4.1.2 Daftar Sidik
Ragam Sampel Cake Bolu Pandan dapat diketahui bahwa Fhitung untuk
sampel lebih besar dari Ftabel (Fhitung>Ftabel) yaitu 84,212>3,18. Dari segi
panelis besar Fhitung lebih besar dari Ftabel (Fhitung>Ftabel) yaitu 3,412>1,71. Hal
tersebut menunjukkan bahwa dari segi sampel dan panelis H 0 ditolak,
sehingga pada uji ini untuk parameter warna ada perbedaan nyata antara
sampel dengan sampel baku. Oleh karena itu, pengujian tersebut harus
dilanjutkan dengan Uji Duncan atau Duncans Multiple Range Test pada
ragam sampel untuk mengetahui sampel mana yang menghasilkan
perbedaan yang nyata diantara sampel-sampel yang lain.
Tabel 4.1.3 Nilai Rata-rata dari Contoh Nilai Jumlah Telur Menurut
Besarnya
A
B
C
Jumlah Butir Telur
10 butir 6 butir
8 butir
Skor Contoh
113
206
147
Rata-rata Contoh
4,185
7,630
5,444
Urutan Skor
1
3
2
Pada tabel 4.1.3 Nilai Rata-rata dari Contoh Nilai Jumlah Telur
Menurut Besarnya menunjukkan nilai dengan penambahan telur yang
berbeda pada setiap sampel. Pada sampel A bolu pandan yang
menggunakan 10 butir telur memiliki skor penilaian 113 dengan rata-rata
4,185. Untuk sampel B bolu pandan dengan 6 butir telur mendapat skor
penilaian 206 dengan rata-rata 7,630. Sedangkan untuk sampel C bolu
pandan yang menggunakan 8 butir telur mendapat skor 147 dengan ratarata 5,444. Nilai rata-rata dari semua sampel menunjukkan intensitas yang
ditunjukkan oleh panelis. Semakin besar nilai skor maka intensitasnya
semakin lebih buruk dari sampel baku. Dari data tersebut menunjukkan
bahwa pada segi warna untuk sampel A dengan kode 128 dianggap agak
lebih baik dari sampel baku (R), sampel C dengan kode 861 samadari
sampel baku (R) dan sampel B dengan kode 212 dianggap lebih buruk dari

sampel baku (R). Urutan penilaian terbaik hingga terburuk untuk


parameter warna pada ketiga sampel adalah kode sampel A, sampel C dan
sampel B. Hal ini berarti dapat diketahui bahwa penggunaan telur 10 butir
menghasilkan warna agak lebih baik dari sampel baku. Penggunaan telur 8
butir menghasilkan warna sama dari sampel baku, sedangkan penggunaan
6 butir menghasilkan warna agak lebih buruk dari sampel baku yang
menggunakan 12 butir telur.
Tabel 4.1.4 Nilai Rentangan Nyata Terdekat (Rp)
P
2
3
Ranges (5%)
2.83
2.98
LSR
0,537
0,566
Untuk memperoleh rentangan nyata terdekat (Least Significant
Ranges) dapat dicari dengan menggunakan tabel Duncans Multiple Range
Test dengan nilai range untuk nilai tengah 2 dan 3 pada tingkat probabilitas
5%. Nilai tengah 2 diperoleh ranges pada taraf 5% adalah 2,83; sedangkan
untuk nilai tengah 3 diperoleh ranges pada taraf 5% adalah 2,98. Setelah
itu kita dapat mencari nilai rentang nyata (LSR) dengan mengalikan nilai
tadi dengan standar error (SE). Standar error didapat dengan membagi
nilai jumlah kuadrat error dengan jumlah respon untuk tiap sampel
kemudian dikuadratkan. Sehingga Least Significant Ranges (LSR)
berturut-turut sebesar 0,537 dan 0,566. Selisih antara nilai rata-rata contoh
kemudian dibandingkan dengan Least Significant Ranges (LSR), rata-rata
contoh pada segi warna tersebut dinotasikan dalam persamaan:
AC=4,1855,444=1,259<0,566 ( tidak berbeda nyata )
AB=4,1857,630=3,445<0,537 ( tidak berbeda nyata )
BC=7,6305,444=2,186 >0,537(berbeda nyata)
Dari data diatas dapat diketahui bahwa sampel A tidak berbeda
nyata dengan sampel C, menunjukkan bahwa bolu pandan dengan jumlah
telur 10 butir tidak menghasilkan perbedaan warna yang nyata jika
dibandingkan dengan bolu pandan jumlah telur 8 butir. Begitu pula sampel
A dengan sampel B. Sampel A tidak berbeda nyata dengan sampel B, yang

artinya bolu pandan dengan jumlah telur 10 butir tidak menghasilkan


perbedaan warna yang nyata jika dibandingkan dengan bolu pandan
jumlah telur 6 butir. Berbeda dengan hasil perbandingan sampel B dengan
sampel C. Sampel B berbeda nyata dengan sampel C, yang artinya bolu
pandan dengan jumlah telur 6 butir menghasilkan perbedaan warna yang
nyata jika dibandingkan dengan bolu pandan jumlah telur 8 butir.

2. Pengujian Parameter Rasa


Tabel 4.2.1 Hasil Pengujian Uji Perbandingan Jamak Parameter Rasa
Respon Sampel
Panelis
Total
128
212
861
1
6
3
5
14
2
6
3
2
11
3
3
8
3
14
4
4
5
5
14
5
4
7
6
17
6
6
3
4
13
7
7
4
6
17
8
3
3
2
8
9
4
2
7
13
10
5
7
4
16
11
6
4
3
13
12
5
7
6
18
13
6
6
3
15
14
7
3
6
16
15
4
6
5
15
16
6
7
7
20
17
2
4
1
7
18
6
9
7
22
19
3
2
2
7
20
4
6
4
14
21
5
3
6
14
22
7
6
4
17
23
7
3
5
15
24
7
3
5
15
25
6
8
7
21
26
6
8
4
18
27
1
4
2
7
Total
136
134
121
391
4,48
Rata-rata 5,037 4,963
1
4,827
Sumber: Laporan Sementara

Penilaian kedua merupakan penilaian dari segi rasa bolu pandan.


Pada tabel 4.2.1 Hasil Pengujian Uji Perbandingan Jamak Parameter
Rasa, menunjukkan jumlah dan rata-rata tiap kode sampel. Dari hasil
penilaian 27 panelis diperoleh total nilai untuk sampel kode 128 total

nilainya sebesar 136 dengan rata-rata 5,037. Untuk sampel kode 212 total
nilai keseluruhannya adalah 134 dengan rata-rata nilai 4,963. Sampel
terakhir dengan kode 861 total nilai keseluruhannya yaitu 121 dengan
rata-rata nilai 4,481. Nilai rata-rata dari semua sampel menunjukkan
intensitas yang ditunjukkan oleh panelis. Pada uji ini nilai rata-rata yang
tinggi menjelaskan bahwa memiliki intensitas rasa yang buruk, hal ini
tergantung pada pemberian skala numerik yang ada dalam penilaian. Dari
data diatas dapat disimpulkan bahwa pada segi rasa untuk kode 861
dianggap agak lebih baik dari sampel baku (R), sampel kode 212 sama
dari sampel baku (R) dan untuk sampel kode 128 dianggap lebih buruk
dari sampel baku (R). Sehingga dapat diurutkan sampel dengan penilaian
rasa dari yang paling baik adalah sampel 861, sampel 212 dan yang
terakhir sampel 128.
Tabel 4.2.2 Daftar Sidik Ragam Sampel Bolu Pandan
Sumbe
df
JK
JKR
F hitung
r
Varian
Sampel
2
4,914
2,457
0,950
Panelis
26
136,247
5,240
2,028
Error
52
134,420
2,585
Total
80
257,581
10,282
Hipotesis untuk uji ini adalah:

F tabel 5%
3,18
1,71

H0= tidak ada perbedaan antara sampel uji dengan sampel baku; dan
H1= ada perbedaan antara sampel uji dengan sampel baku.
Mekanisme pengambilan keputusan dapat digambarkan sebagai berikut:
Fhitung < Ftabel terima H0
Fhitung > Ftabel tolak H0
Untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang nyata pada
sample, nilai Fhitung diuji dengan Ftabel 5%. Pada tabel 4.1.2 Daftar Sidik
Ragam Sampel Bolu Pandan dapat diketahui bahwa Fhitung untuk sampel
lebih kecil dari Ftabel (Fhitung<Ftabel) yaitu 0,950<3,18. Hal tersebut
menunjukkan bahwa dari sampel panelis H0 diterima, sehingga untuk
parameter rasa tidak ada perbedaan nyata antara sampel uji dengan
sampel baku. Dari segi panelis besar Fhitung lebih besar dari Ftabel
(Fhitung>Ftabel) yaitu 2,028>1,71. Hal tersebut menunjukkan bahwa dari segi

panelis H0 ditolak, sehingga untuk parameter rasa ada perbedaan nyata


pada panelis. Oleh karena itu, pengujian tersebut harus dilanjutkan
dengan Uji Duncan atau Duncans Multiple Range Test pada ragam
sampel untuk mengetahui sampel mana yang menghasilkan perbedaan
yang nyata diantara sampel-sampel yang lain.
Tabel 4.2.3 Nilai Rata-rata dari Contoh Nilai Jumlah Telur Menurut
Besarnya
A
B
C
Jumlah Butir
Telur
10 butir 6 butir
8 butir
Skor Contoh
136
134
121
Rata-rata Contoh
5,037
4,963
4,481
Urutan Skor
3
2
1
Pada tabel 4.2.3 Nilai Rata-rata dari Contoh Nilai Jumlah Telur
Menurut Besarnya menunjukkan nilai dengan penambahan telur yang
berbeda pada setiap sampel. Pada sampel A bolu pandan yang
menggunakan 10 butir telur memiliki skor penilaian 136 dengan rata-rata
5,037. Untuk sampel B bolu pandan dengan 6 butir telur mendapat skor
penilaian 134 dengan rata-rata 4,963. Sedangkan untuk sampel C bolu
pandan yang menggunakan 8 butir telur mendapat skor 121 dengan ratarata 4,481.
Nilai rata-rata dari semua sampel menunjukkan intensitas yang
ditunjukkan oleh panelis. Semakin besar nilai skor maka intensitas
rasanya semakin lebih buruk dari sampel baku. Dari data tersebut
menunjukkan bahwa pada segi rasa untuk sampel C dengan kode 861
dianggap agak lebih baik dari sampel baku (R), sampel B dengan kode
212 sama dari sampel baku (R) dan sampel A dengan kode 128 dianggap
lebih buruk dari sampel baku (R). Urutan penilaian terbaik hingga
terburuk untuk parameter rasa pada ketiga sampel adalah kode sampel C,
sampel B dan sampel A. Hal ini berarti diketahui bahwa penggunaan telur
8 butir menghasilkan rasa agak lebih baik dari sampel baku. Penggunaan
telur 6 butir menghasilkan rasa yang sama dari sampel baku, sedangkan
penggunaan 10 butir menghasilkan rasa agak lebih buruk dari sampel
baku yang menggunakan 12 butir telur.

Tabel 4.2.4 Nilai Rentangan Nyata Terdekat (Rp)


P
2
3
Ranges (5%)
2.83
2.98
LSR
0,876
0,922
Untuk memperoleh rentangan nyata terdekat (Least Significant
Ranges) dapat dicari dengan menggunakan tabel Duncans Multiple
Range Test dengan nilai range untuk nilai tengah 2 dan 3 pada tingkat
probabilitas 5%, selanjutnya dikalikan dengan standar error rata-rata
contoh (SE). Dari perhitungan diperoleh SE rata-rata adalah sebesar
0,309. Untuk taraf 5% nilai tengah 2 diperoleh ranges sebesar 2,83 dan
nilai tengah 3 adalah 2,98. Dari data tersebut diperoleh Least Significant
Ranges (LSR) berturut-turut sebesar 0,876 dan 0,922. Selisih antara nilai
rata-rata contoh kemudian dibandingkan dengan Least Significant Ranges
(LSR), rata-rata sampel pada segi rasa tersebut dinotasikan dalam
persamaan:
AC=5,0374,481=0,556<0,922 ( tidak berbeda nyata )
AB=5,0374,963=0,074<0,876( tidak berbed a nyata)
BC=4,9634,481=0,482<0,876(tidak berbeda nyata)
Dari data diatas dapat diketahui bahwa sampel A tidak berbeda
nyata dengan sampel C, menunjukkan bahwa bolu pandan dengan jumlah
telur 10 butir tidak menghasilkan perbedaan rasa yang nyata jika
dibandingkan dengan bolu pandan dengan jumlah telur 8 butir. Selisih
sampel A dan B juga tidak berbeda nyata, yang artinya bolu pandan
dengan jumlah telur 10 butir tidak menghasilkan perbedaan rasa yang
nyata jika dibandingkan dengan bolu pandan jumlah telur 6 butir. Begitu
juga selisih yang terakhir untuk sampel B dan C. Sampel B dan C tidak
berbeda nyata, yang artinya bolu pandan dengan jumlah telur 6 butir tidak
menghasilkan perbedaan rasa yang nyata jika dibandingkan dengan bolu
pandan jumlah telur 8 butir.

3. Pengujian Parameter Aroma


Tabel 4.3.1 Hasil Pengujian Uji Perbandingan Jamak Parameter Aroma
Respon Sampel
Panelis
Total
128
212
861
1
4
2
4
10
2
5
6
6
17
3
8
7
5
20
4
5
5
5
15
5
5
5
4
14
6
4
6
5
15
7
7
6
2
15
8
3
2
3
8
9
4
5
4
13
10
3
7
6
16
11
3
4
2
9
12
5
6
5
16
13
7
6
7
20
14
2
1
3
6
15
4
6
5
15
16
7
4
3
14
17
4
3
2
9
18
6
4
4
14
19
3
3
1
7
20
5
6
6
17
21
5
2
4
11
22
6
4
5
15
23
6
3
5
14
24
2
2
6
10
25
5
7
6
18
26
6
4
3
13
27
1
1
6
8
Total
125
117
117
359
4,33
Rata-rata 4,630 4,333
3
4,320
Sumber : Laporan Sementara

Penilaian ketiga merupakan penilaian dari segi aroma bolu


pandan. Pada tabel 4.3.1 Hasil Pengujian Uji Perbandingan Jamak
Parameter Aroma, menunjukkan jumlah dan rata-rata tiap kode sampel.
Dari hasil penilaian 27 panelis diperoleh total nilai untuk sampel kode

128 total nilainya sebesar 125 dengan rata-rata 4,630. Untuk sampel kode
212 dan kode 861 memiliki total nilai keseluruhan yang sama yaitu 117
dengan rata-rata nilai 4,333. Nilai rata-rata dari semua sampel
menunjukkan intensitas yang ditunjukkan oleh panelis. Pada uji ini nilai
rata-rata yang tinggi menjelaskan bahwa memiliki intensitas aroma yang
buruk, hal ini tergantung pada pemberian skala numerik yang ada dalam
penilaian. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa untuk parameter
aroma, sampel kode 212 dan 861 dianggap agak lebih baik dari sampel
baku (R), sedangkan untuk sampel kode 128 dianggap sama dengan
sampel baku (R). Sehingga dapat diurutkan sampel dengan penilaian
aroma dari yang paling baik adalah sampel 212, sampel 861 dan yang
terakhir sampel 128.
Tabel 4.3.2 Daftar Sidik Ragam Sampel Bolu Pandan
Sumbe
df
JK
JKR
F hitung
F tabel 5%
r
Varian
Sampel
2
1,581
0,791
0,402
3,18
Panelis
26
127,877
4,918
2,496
1,71
Error
52
102,419
1,970
Total
80
231,877
7,679
Untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang nyata pada
sample, nilai Fhitung diuji dengan Ftabel 5%. Pada tabel 4.3.2 Daftar Sidik
Ragam Sampel Bolu Pandan dapat diketahui bahwa Fhitung untuk sampel
lebih kecil dari Ftabel (Fhitung<Ftabel) yaitu 0,402<3,18. Hal tersebut
menunjukkan bahwa dari segi sampel H0 diterima, sehingga untuk
parameter aroma tidak ada perbedaan nyata antara sampel uji dengan
sampel baku. Sebaliknya dari segi panelis besar Fhitung lebih besar dari
Ftabel (Fhitung>Ftabel) yaitu 2,496>1,71. Hal tersebut menunjukkan bahwa dari
segi panelis H0 ditolak, sehingga untuk parameter aroma ada perbedaan
nyata pada panelis. Oleh karena itu, pengujian tersebut harus dilanjutkan
dengan Uji Duncan atau Duncans Multiple Range Test pada ragam
sampel untuk mengetahui sampel mana yang menghasilkan perbedaan
yang nyata diantara sampel-sampel yang lain.

Tabel 4.3.3 Nilai Rata-rata dari Contoh Nilai Jumlah Telur Menurut
Besarnya
A
B
C
Jumlah Butir
Telur
10 butir 6 butir
8 butir
Skor Contoh
125
117
117
Rata-rata Contoh
4,630
4,333
4,333
Urutan Skor
3
1
2
Pada tabel 4.3.3 Nilai Rata-rata dari Contoh Nilai Jumlah Telur
Menurut Besarnya menunjukkan nilai dengan penambahan telur yang
berbeda pada setiap sampel. Pada sampel A bolu pandan yang
menggunakan 10 butir telur memiliki skor penilaian 125 dengan rata-rata
4,630. Untuk sampel B bolu pandan dengan 6 butir telur mendapat skor
penilaian 117 dengan rata-rata 4,333. Untuk sampel C bolu pandan yang
menggunakan 8 butir telur mendapat skor yang sama dengan sampel B
yaitu 117 dengan rata-rata 4,333.
Nilai rata-rata dari semua sampel menunjukkan intensitas yang
ditunjukkan oleh panelis. Semakin besar nilai skor maka intensitas
aromanya semakin lebih buruk dari sampel baku. Dari data tersebut
menunjukkan bahwa pada segi aroma untuk sampel B dengan kode 212
dan sampel C dengan kode 861 dianggap agak lebih baik dari sampel
baku (R), sedangkan sampel A dengan kode 128 dianggap sama dengan
sampel baku (R). Urutan penilaian terbaik hingga terburuk untuk
parameter aroma pada ketiga sampel adalah sampel B, sampel C dan
sampel A. Hal ini berarti dapat diketahui bahwa penggunaan 6 dan 8 butir
telur menghasilkan aroma yang agak lebih baik dari sampel baku.
Sedangkan untuk penggunaan telur 10 butir menghasilkan aroma yang
sama dari sampel baku yang menggunakan 12 butir telur.
Tabel 4.3.4 Nilai Rentangan Nyata Terdekat (Rp)
P
2
3
Ranges (5%)
2.83
2.98
LSR
0,764
0,805
Untuk memperoleh rentangan nyata terdekat (Least Significant
Ranges) dapat dicari dengan menggunakan tabel Duncans Multiple
Range Test dengan nilai range untuk nilai tengah 2 dan 3 pada tingkat

probabilitas 5%, selanjutnya dikalikan dengan standar error rata-rata


contoh (SE). Dari perhitungan diperoleh SE rata-rata adalah sebesar
0,270. Berdasarkan tabel tabel 4.3.4 Nilai Rentangan Nyata Terdekat
(Rp) dapat diketahui untuk taraf 5% nilai tengah 2 diperoleh ranges
sebesar 2,83 dan nilai tengah 3 adalah 2,98. Dari data tersebut diperoleh
Least Significant Ranges (LSR) berturut-turut sebesar 0,764 dan 0,805.
Selisih antara nilai rata-rata contoh kemudian dibandingkan dengan Least
Significant Ranges (LSR), rata-rata sampel pada segi rasa tersebut
dinotasikan dalam persamaan:
AC=4,6304,333=0,297<0,805 ( tidak berbeda nyata )
AB=4,6304,333=0,297<0,764 (tidak berbeda nyata )
BC=4,3334,333=0< 0,764 ( tidak berbeda nyata )
Dari data diatas dapat diketahui bahwa sampel A tidak berbeda
nyata dengan sampel C, menunjukkan bahwa bolu pandan dengan jumlah
telur 10 butir tidak menghasilkan perbedaan aroma yang nyata jika
dibandingkan dengan bolu pandan dengan jumlah telur 8 butir. Selisih
pada sampel A dan B juga tidak berbeda nyata, yang artinya bolu pandan
dengan jumlah telur 10 butir tidak menghasilkan perbedaan aroma yang
nyata jika dibandingkan dengan bolu pandan jumlah telur 6 butir. Begitu
juga selisih pada B dan C tidak berbeda nyata, yang artinya bolu pandan
dengan jumlah telur 6 butir tidak menghasilkan perbedaan aroma yang
nyata jika dibandingkan dengan bolu pandan jumlah telur 8 butir.
Selanjutnya ditinjau juga untuk parameter tekstur. Tekstur dalam
sebuah kue sangat tergantung dengan banyaknya jumlah telur yang
digunakan dalam proses pembuatannya. Telur merupakan bahan
terpenting yang paling berkontribusi terhadap kemampuan adonan dalam
mengikat atau menangkap udara dan mengemulsikan bahan lain (terigu,
gula, lemak, dan udara) ke dalam cairan yang terdapat di dalam telur.
Kestabilan emulsi ini bergantung pada keseimbangan komposisi bahan
pembuat bolu pandan terhadap telur. Tepung terigu dan telur (putih telur)

bertindak sebagai pembangun rangka pada bolu pandan dan memberi


sifat keras (toughness) sedangkan lemak dan gula memberikan sifat
lembut (tenderness) pada bolu pandan. Karena disini yang kita
bandingkan hanya jumlah butir telur yang digunakan pada bahan pembuat
bolu pandan, maka dapat disimpulkan bahwa semakin banyak jumlah
telur yang digunakan maka akan semakin padat rongga antar bolu pandan
dan tekstur bolu pandan semakin lembut. Sampel 128 yaitu bolu pandan
dengan 10 butir telur memiliki rongga yang padat dan tekstur yang paling
lembut, kemudian sampel 816 yaitu bolu pandan dengan 8 butir telur
memiliki tekstur lembut dibawah sampel 128, dan yang terakhir sampel
kode 212 yaitu bolu pandan dengan 6 butir telur memiliki tekstur sedang
(tidak begitu lembut) dan berongga sedang. Sehingga dapat disimpulkan
untuk parameter tekstur sampel yang memiliki penilaian terbaik hingga
terburuk berturut-turut adalah sampel 128, sampel 816, dan sampel 212.

4. Pengujian Parameter Overall


Tabel 4.4.1 Hasil Pengujian Uji Perbandingan Jamak Parameter Overall
Respon Sampel
Panelis
Total
128
212
861
1
4
2
3
9
2
6
7
6
19
3
4
8
3
15
4
5
6
5
16
5
5
7
6
18
6
4
5
5
14
7
6
4
3
13
8
3
3
2
8
9
4
3
4
11
10
4
7
6
17
11
3
2
3
8
12
4
6
5
15
13
6
6
4
16
14
3
7
4
14
15
4
6
5
15
16
6
4
4
14
17
5
4
3
12
18
6
7
6
19
19
3
3
3
9
20
3
8
6
17
21
5
2
3
10
22
3
8
7
18
23
6
4
3
13
24
6
3
5
14
25
5
7
6
18
26
6
7
4
17
27
1
2
3
6
Total
120
138
117
375
4,33
Rata-rata 4,444 5,111
3
4,630
Sumber: Laporan Sementara

Selain warna, rasa, aroma dan tekstur parameter terakhir yang juga
harus diberikan oleh panelis yaitu penilaian overall. Pada tabel 4.4.1
Hasil

Pengujian

Uji

Perbandingan

Jamak

Parameter

Overall,

menunjukkan jumlah dan rata-rata tiap kode sampel. Dari hasil penilaian
27 panelis diperoleh total nilai untuk sampel kode 128 total nilainya

sebesar 120 dengan rata-rata 4,444. Untuk sampel kode 212 memiliki
total nilai 138 dengan rata-rata 5,111. Sementara sampel kode 861
memiliki total nilai keseluruhan yang lebih rendah dari sampel
sebelumnya yaitu 117 dengan rata-rata nilai 4,333.
Nilai rata-rata dari semua sampel menunjukkan intensitas yang
ditunjukkan oleh panelis. Pada uji ini nilai rata-rata yang tinggi
menjelaskan bahwa memiliki intensitas atribut overall yang buruk, hal ini
tergantung pada pemberian skala numerik yang ada dalam penilaian. Dari
data diatas dapat disimpulkan bahwa untuk parameter overall, sampel
kode 861 dan 128 dianggap agak lebih baik dari sampel baku (R),
sedangkan untuk sampel kode 212 dianggap sama dari sampel baku (R).
Sehingga dapat diurutkan sampel untuk penilaian overall dari yang paling
baik adalah sampel kode 861, sampel kode 128 dan yang terakhir sampel
kode 212.
Tabel 4.4.2 Daftar Sidik Ragam Sampel Bolu Pandan
Sumbe
df
JK
JKR
F hitung
F tabel 5%
r
Varian
Sampel
2
9,556
4,778
2,707
3,18
Panelis
26
117,556
4,521
2,561
1,71
Error
52
91,777
1,765
Total
80
218,889
11,064
Untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang nyata pada
sample, nilai Fhitung diuji dengan Ftabel 5%. Pada tabel 4.4.2 Daftar Sidik
Ragam Sampel Bolu Pandan dapat diketahui bahwa Fhitung untuk sampel
lebih kecil dari Ftabel (Fhitung<Ftabel) yaitu 2,707<3,18. Hal tersebut
menunjukkan bahwa dari segi sampel H0 diterima, sehingga untuk
parameter overall tidak ada perbedaan nyata antara sampel uji dengan
sampel baku. Sebaliknya dari segi panelis besar Fhitung lebih besar dari
Ftabel (Fhitung>Ftabel) yaitu 2,561>1,71. Hal tersebut menunjukkan bahwa dari
segi panelis H0 ditolak, sehingga untuk parameter overall ada perbedaan
nyata pada panelis. Oleh karena itu, pengujian tersebut harus dilanjutkan
dengan Uji Duncan atau Duncans Multiple Range Test pada ragam

sampel untuk mengetahui sampel mana yang menghasilkan perbedaan


yang nyata diantara sampel-sampel yang lain.
Tabel 4.4.3 Nilai Rata-rata dari Contoh Nilai Jumlah Telur Menurut
Besarnya
A
B
C
Jumlah Butir
Telur
10 butir 6 butir
8 butir
Skor Contoh
120
138
117
Rata-rata Contoh
4,444
5,111
4,333
Urutan Skor
2
3
1
Pada tabel 4.4.3 Nilai Rata-rata dari Contoh Nilai Jumlah Telur
Menurut Besarnya menunjukkan nilai dengan penambahan telur yang
berbeda pada setiap sampel. Pada sampel A bolu pandan yang
menggunakan 10 butir telur memiliki skor penilaian 120 dengan rata-rata
4,44. Untuk sampel B bolu pandan dengan 6 butir telur mendapat skor
penilaian 138 dengan rata-rata 5,111. Sedangkan untuk sampel C bolu
pandan yang menggunakan 8 butir telur mendapat skor yang lebih rendah
dari sampel A dan B yaitu 117 dengan rata-rata 4,333.
Nilai rata-rata dari semua sampel menunjukkan intensitas yang
ditunjukkan oleh panelis. Semakin besar nilai skor maka intensitas secara
keseluruhan (overall) semakin lebih buruk dari sampel baku. Dari data
tersebut menunjukkan bahwa secara keseluruhan (overall), sampel C
dengan kode 861 dan sampel A dengan kode 128 dianggap agak lebih
baik dari sampel baku (R), sedangkan sampel B dengan kode 212
dianggap sama dengan sampel baku (R). Urutan penilaian terbaik hingga
terburuk secara keseluruhan (overall) pada ketiga sampel adalah sampel
C, sampel A dan sampel B. Hal ini berarti dapat diketahui bahwa
penggunaan 8 dan 10 butir telur secara keseluruhan (overall)
menghasilkan penilaian yang agak lebih baik dari sampel baku.
Sedangkan untuk penggunaan 6 butir telur secara keseluruhan (overall)
menghasilkan penilaian yang agak lebih baik dari sampel baku yang
menggunakan 12 butir telur.

Tabel 4.4.4 Nilai Rentangan Nyata Terdekat (Rp)


P
2
3
Ranges (5%)
2,83
2,98
LSR
0,724
0,763
Untuk memperoleh rentangan nyata terdekat (Least Significant
Ranges) dapat dicari dengan menggunakan tabel Duncans Multiple
Range Test dengan nilai range untuk nilai tengah 2 dan 3 pada tingkat
probabilitas 5%. Nilai tengah 2 memiliki nilai 2,83 dan nilai tengah 3
memiliki nilai 2,98. Setelah itu kita dapat mencari nilai rentang nyata
(LSR) dengan mengalikan nilai tadi dengan standar error (SE). Standar
error didapat dengan membagi nilai jumlah kuadrat error dengan jumlah
respon untuk tiap sampel kemudian dikuadratkan. Dari perhitungan
diperoleh SE rata-rata adalah sebesar 0,256. Setelah itu barulah dapat
dihitung nilai Least Significant Ranges (LSR) berturut-turut sebesar 0,724
dan 0,763. Selisih antara nilai rata-rata contoh kemudian dibandingkan
dengan Least Significant Ranges (LSR), rata-rata sampel pada segi rasa
tersebut dinotasikan dalam persamaan:
AC=4,4444,333=0,111< 0,763 ( tidak berbeda nyata )
AB=4,4445,111=0,667<0,724 ( tidak berbeda nyata )
BC=5,1114,333=0,778> 0,724 ( berbeda nyata )
Dari data diatas dapat diketahui bahwa sampel A tidak berbeda
nyata dengan sampel C, menunjukkan bahwa bolu pandan dengan jumlah
telur 10 butir secara overall tidak menghasilkan perbedaan yang nyata
jika dibandingkan dengan bolu pandan dengan jumlah telur 8 butir.
Begitu pula sampel A dengan sampel B. Sampel A tidak berbeda nyata
dengan sampel B, yang artinya bolu pandan dengan jumlah telur 10 butir
secara

overall

tidak

menghasilkan

perbedaan

yang

nyata

jika

dibandingkan dengan bolu pandan jumlah telur 6 butir. Berbeda dengan


selisih B dan C yang menghasilkan perbedaan yang nyata, yang artinya
bolu pandan dengan jumlah telur 6 butir secara overall menghasilkan

perbedaan yang nyata jika dibandingkan dengan bolu pandan jumlah telur
8 butir.
E. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari praktikum acara IV Uji Perbandingan
Jamak (Multiple Comparison Test) ini antara lain:
1. Uji perbandingan jamak adalah uji dengan menggunakan satu sampel baku
sebagai pembanding dan dua atau lebih sampel uji untuk dievaluasi
seberapa berbeda dengan sampel baku.
2. Sampel yang digunakan pada uji perbandingan jamak adalah bolu pandan
dengan perbedaan pada pemberian jumlah telur kedalamnya. Sampel
pertama dengan kode 128 berisi 10 butir telur, pada sampel kedua dengan
kode 212 berisi 6 butir telur, sampel ketiga dengan kode 861 berisi 8 butir
telur dan sampel sebagai sampel baku (R) berisi 12 butir telur.
3. Pada parameter warna, urutan sampel dengan penilaian terbaik hingga
terburuk adalah sampel 128, sampel 861 dan sampel 212.
4. Pada parameter rasa, urutan sampel dengan penilaian terbaik hingga
terburuk adalah sampel 861, sampel 212 dan sampel 128.
5. Pada parameter rasa, urutan sampel dengan penilaian terbaik hingga
terburuk adalah sampel 212, sampel 861 dan yang terakhir sampel 128.
6. Pada parameter tekstur, urutan sampel dengan penilaian terbaik hingga
terburuk adalah sampel 128, sampel 861 dan sampel 212.
7. Pada parameter overall, urutan sampel dengan penilaian terbaik hingga
terburuk adalah sampel 861, sampel 128 dan sampel 212.
8. Untuk semua parameter (warna, rasa, aroma, dan overall) tidak terdapat
perbedaan yang nyata antarsampel bolu pandan, karena selisih antara nilai
rata-rata contoh yang didapat lebih kecil dari nilai Least Significant
Ranges (LSR).

DAFTAR PUSTAKA
Budijanto, Slamet. dkk. 2010. Penentuan Umur Simpan Seasoning menggunakan
Metode Accelerated Shelf-Life Testing (A SLT) dengan Pendekatan Kadar
Air Kritis. Jurnal Teknologi Pertanian, Vol.11 (2): 71 77.
Darmawan, Deni. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung. PT Remaja
Rosdakarya.
Faisal, Sanapiah. 1981. Dasar dan Teknik Menyusun Angket. Surabaya. Usaha
Nasional.
Holm, Sture. 1979. A Simple Sequentially Rejective Multiple Test Procedure.
Jurnal Scand J Statist 6: 65-70, 1979. Chalmers University of Technology,
Goteborg.
Kosoemawardani, Dyah. 2007. Analisis Sensori Rusip dari Sungai Liat Bangka.
Jurnal Teknologi dan Industri Hasil Pertanian, Vol.12 (2): 36-44.
Le, M.T., et al. 2012. Question on IPM: A Case Study on Lemon Juice. Journal of
Integrating on Sensory Evalusation, Vol.1 (1): 29-37.
Mariyani, Neny. 2008. Studi Pembuatan Mie Kering Berbahan Baku Tepung
Singkong dan Mocal (Modified Cassava Flour). Jurnal Sains Terapan,
Vol.1 (3): 1-8.
Salehifar, M. Shahedi, M. 2007. Effects of Oat Flour on Dough Rheology, Texture
and Organoleptic Properties of Taftoon Breads. Jurnal Agric. Sci.
Technol. (2007) Vol. 9: 227-234. Islamic Republic of Iran.
Setyaningsih, Dwi., Anton Apriyantono dan Maya Puspita Sari. 2010. Analisa
Sensori untuk Industri Pangan dan Agro. Bogor. IPB Press.
Szczesniak, Alina Surmacka. 2002. Texture is a Sensory Property. Food Quality
and Preference, Vol.13 (1): 215225.

LAMPIRAN
1. Perhitungan Tabulasi Data Penilaian Warna
4662
217156
Faktor
Koreksi(FK
)=
=
=2680,938

( 27 ) (3)
81
2

113 + 206 +147


JK Sampel=
2680,938=164,025
27

JK Panelis=

JK Total=( 5 2+ 4 2+ +4 2+ 32 )2689,938=301,062

JKE=301,062164,02586,395=50,642

df sampel=31=2

df panelis=271=26

df error=2 x 26=52

df total=2+26+52=80

JKR Sampel=

164,025
=82,012
2

JKR Panelis=

86,395
=3,323
26

JKR Error=

Fhitung Sampel=

15 +17 + +18 +15


2680,938=86,395
3

50,642
=0,974
52
82,012
=84,21160742
0,974

3,322887
=3,412
0,974

Fhitung Panelis=

Standar Error (SE)=

Nilai LSR ( p=2 )=2,83 x 0,189=0,537

Nilai LSR ( p=3 )=2,98 x 0,189=0,566

AC=4,1855,444=1,259<0,566 ( tidak berbeda nyata )

AB=4,1857,630=3,445<0,537 ( tidak berbeda nyata )

BC=7,6305,444=2,186 >0,537(berbeda nyata)

0,974
27

= 0,189

2. Perhitungan Tabulasi Data Penilaian Rasa


3912 152881
Faktor
Koreksi(FK
)=
=
=1887,420

( 27 )( 3 )
81

JK Sampel=

136 2+134 2+ 1212


1887,420=4,914
27

JK Panelis=

14 2+ 112 + +182 +72


1887,420=136,247
3

JK Total=( 62+ 62 ++ 42 +22 ) 1887,420=275,580

JKE=275,5804,914136,247=134,420

df sampel=31=2

df panelis=271=26

df error=2 x 26=52

df total=2+26+52=80

JKR Sampel=

4,914
=2,457
2

JKR Panelis=

136,247
=5,240
26

JKR Error=

Fhitung Sampel=

2,457
=0,950
2,585

Fhitung Panelis=

5,240
=2,028
2,585

Standar Error ( SE)=

Nilai LSR ( p=2 )=2,83 x 0,309=0,876

Nilai LSR ( p=3 )=2,98 x 0,309=0,922

AC=5,0374,481=0,556<0,922 ( tidak berbeda nyata )

AB=5,0374,963=0,074<0,876( tidak berbeda nyata)

BC=4,9634,481=0,482<0,876(tidak berbeda nyata)

134,420
=2,585
52

2,585
27

= 0,309

3. Perhitungan Tabulasi Data Penilaian Aroma


3592 128881
Faktor
Koreksi(FK
)=
=
=1591,123

( 27 )( 3 )
81

JK Sampel=

1252 +117 2+ 1172


1591,123=1,581
27

JK Panelis=

102 +17 2+ +132 +82


1591,123=127,877
3

JK Total=( 4 2+5 2+ +32 +62 ) 1591,123=231,877

JKE=231,8771,581127,877=102,419

df sampel=31=2

df panelis=271=26

df error=2 x 26=52

df total=2+26+52=80

JKR Sampel=

1,581
=0,791
2

JKR Panelis=

127,877
=4,918
26

JKR Error=

Fhitung Sampel=

0,791
=0,402
1,970

Fhitung Panelis=

4,918
=2,496
1,970

Standar Error (SE)=

102,419
=1,970
52

1,970
27

= 0,270

Nilai LSR ( p=2 )=2,83 x 0,270=0,764

Nilai LSR ( p=3 )=2,98 x 0,270=0,805

AC=4,6304,333=0,297<0,805 ( tidak berbeda nyata )

AB=4,6304,333=0,297<0,764 (tidak berbeda nyata )

BC=4,3334,333=0< 0,764 ( tidak berbeda nyata )

4. Perhitungan Tabulasi Data Penilaian Overall


2
375
140625
Faktor Koreksi(FK )= ( 27 )( 3 ) = 81 =1736,111

JK Sampel=

1202 +1382 +117 2


1736,111=9,556
27

JK Panelis=

9 2+19 2+ +172 +62


1736,111=117,556
3

JK Total=( 4 2+5 2+ +32 +62 ) 1736,111=218,889

JKE=218,8899,556117,556=91,777

df sampel=31=2

df panelis=271=26

df error=2 x 26=52

df total=2+26+52=80

JKR Sampel=

9,556
=4,778
2

117,556
=4,521
26

JKR Panelis=

JKR Error=

Fhitung Sampel=

4,778
=2,707
1,765

Fhitung Panelis=

4,521
=2,561
1,765

Standar Error (SE)=

Nilai LSR ( p=2 )=2,83 x 0,256=0,724

Nilai LSR ( p=3 )=2,98 x 0,256=0,763

AC=4,4444,333=0,111< 0,763 ( tidak berbeda nyata )

AB=4,4445,111=0,667<0,724 ( tidak berbeda nyata )

91,777
=1,765
52

1,765
27

= 0,256

BC=5,1114,333=0,778> 0,724 ( berbeda nyata )