Anda di halaman 1dari 20

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH


TOPIK
PARADIGMA POLISI SIPIL TERHADAP DELIBERASI HUKUM
PADA MASYARAKAT DEMOKRASI
JUDUL
OPTIMALISASI KEMAMPUAN PENYIDIK SAT RESKRIM POLRES X
GUNA MEMENUHI RASA KEADILAN DI MASYARAKAT
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA KEPERCAYAAAN MASYARAKAT
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Seiring digulirkannya reformasi nasional, telah mendorong masyarakat
untuk dapat berpartisipasi aktif mengawasi kinerja aparatur pemerintahan
dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Sebagai bagian dari fungsi
pemerintahan dibidang pemeliharaan kamtibmas, penegakan hukum dan
pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat 1, Polri tidak terlepas dari
semakin tingginya harapan dan tuntutan masyarakat terhadap kinerja Polri.
Terbangunnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri, dapat dilihat dari
seberapa besar partisipasi masyarakat dalam mendukung kebijakan, program
maupun kegiatan yang digulirkan Polri, dimana kepercayaan masyarakat saat
ini dirasakan masih sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh banyaknya sikap
dan tindakan sebagian oknum Polri yang belum mampu menampilkan sosok
sebagai pelindung, pengayom dan pelayan bagi masyarakat.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap Polri tidak dapat dilepaskan dari kemampuan Polri dalam memberikan
pelayanan secara maksimal. Sejalan dengan semakin kompleksnya tuntutan
masyarakat terhadap peningkatan kualitas pelayanan dari aparat kepolisian
1

Pasal 2 Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

khususnya dalam bidang penegakkan hukum yang menjadi fungsi kepolisian


dan para aktor penegak hukum, seringkali menimbulkan diskursus, baik
sebagai akibat penerapan substansi hukum yang bopeng, maupun sikap
perilaku aktor yang tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat, akan bergeser
ke ranah publik. Hal ini terlihat dari banyaknya laporan masyarakat tentang
kinerja aparat penyidik di Polres X, dimana dalam melakukan tupoksi sebagai
penegak hukum, penyidik Polres X kerap kali bertindak tidak berlandaskan
rasa keadilan yang pada akhirnya akan menurunkan kepercayaan masyarakat.
Menanggapi hal seperti diatas, dikarenakan rendahnya kemampuan
anggota Polres X dalam memahami paradigma polisi sipil yang berlandaskan
rasa keadilan, serta tata kelola dalam manajemen sumber daya yang kurang
baik juga menjadi faktor yang mempengaruhi kualitas penyidik Polres X. Oleh
karena itu Polres X harus segera melakukan upaya-upaya yang dapat
meningatkan kemampuan para penyidiknya guna mencapai kepercayaan
masyarakat.
2. Permasalahan
Dari uraian latar belakang tersebut, maka dapat diformulasikan pokok
permasalahan

dalam

penulisan

ini

yaitu

Bagaimana

optimalisasi

kemampuan penyidik Polres X guna memenuhi rasa keadilan di


masyarakat dalam rangka terwujudnya kepercayaan masyarakat ?
3. Pokok Persoalan
Guna memudahkan dalam pembahasan naskah karya perorangan ini maka
permasalahan yang telah dirumuskan tersebut diatas diuraikan ke dalam
beberapa persoalan, sebagai berikut :
a) Bagaimana kesiapan sumber daya yang ada di Polres X dalam
meningkatkan kemampuan penyidik guna memenuhi rasa keadilan di
masyarakat dalam rangka terwujudnya kepercayaan masyarakat ?
b) Bagaimana metode yang seharusnya diterapkan dalam meningkatkan
kemampuan penyidik Polres X guna memenuhi rasa keadilan di
masyarakat dalam rangka terwujudnya kepercayaan masyarakat ?
4. Ruang Lingkup
2

Ruang lingkup pembahasan dalam penulisan NKP ini, dibatasi pada upaya
Polres X untuk mengoptimalkan kemampuan penyidik guna memenuhi rasa
keadilan di masyarakat dalam rangka terwujudnya kepercayaan masyarakat
serta dibatasi hanya pada sumber daya manusia dan metode pada Polres X
saja.
5. Maksud dan Tujuan
a) Maksud : untuk memenuhi salah satu penugasan dalam rangka mengikuti
pendidikan Sespimmen Polri Dikreg ke-55 T. A. 2015.
b) Tujuan :
1) Menganalisa

sumber

daya

yang

ada

di

Polres

dalam

mengoptimalkan kemampuan penyidik guna memnuhi rasa keadilan di


masyarakat sehingga kepercayaan masyarakat dapat terwujud.
2) Menganalisa metode yang dilakukan Polres X dalam mengoptimalkan
kemampuan penyidik apakah telah sesuai sehingga terwujudnya
kepercayaan masyarakat.
6. Metode dan Pendekatan
a) Metode, deskriptif analisis yaitu metode yang mendasarkan pengumpulan
data/fakta

untuk

memperoleh

gambaran

permasalahan

yang

ada,

selanjutnya dikaji dan dianalisa guna menemukan solusi pemecahannya.


b) Pendekatan, melalui pendekatan manajemen kepolisian baik dibidang
pembinaan maupun operasional yang berlaku di lingkungan Polri.
7. Tata Urut
BAB IPENDAHULUAN
BAB II LANDASAN TEORI
BAB III KONDISI FAKTUAL
BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
BAB V KONDISI IDEAL
BAB VI UPAYA PEMECAHAN MASALAH
BAB VII PENUTUP
8. Pengertian-pengertian
3

a) Optimalisasi, istilah optimalisasi berasal dari kata optimal yang artinya


terbaik, tertinggi, dan paling menguntungkan.
b) Keadilan, adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu
hal, baik menyangkut benda atau orang. 2
c) Penyidik, adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat
pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undangundang untuk melakukan penyidikan. 3
d) Kepercayaan, mengandung pengertian anggapan atau keyakinan bahwa
yang dipercayainya itu benar atau nyata; sesuatu yang dipercayai; harapan
dan keyakinan (akan kejujuran, kebaikan, dsb); orang yang dipercayai
(diserahi sesuatu).
e) Masyarakat, adalah seluruh pihak, baik warga negara maupun penduduk
sebagai orang perorangan, kelompok maupun badan hukum yang
berkedudukan sebagai penerima manfaat pelayanan publik, baik secara
langsung maupun tidak langsung.

2 http://id.wikipedia.org/wiki/Keadilan diakses Mei 2015


3 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Pasal 1 angka 1
4

BAB II
LANDASAN TEORI
Dalam setiap penulisan ilmiah, dibutuhkan teori dan metode sebagai alat analisa.
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling
berhubungan

yang

menghadirkan

sebuah

pandangan

sistematis

mengenai

fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan


hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. 4
Sedangkan metode sendiri merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu
cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian, sebagai
upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan secara
ilmiah dan termasuk keabsahannya. 5 Pemilihan teori dan metode yang tepat tentu
akan menghasilkan suatu analisa yang akurat, sehingga memudahkan menarik
kesimpulan. Pada naskah dengan judul Optimalisasi kemampuan penyidik Polres
X guna memenuhi rasa keadilan di Masyarakat dalam rangka terwujudnya
kepercayaan masyarakat ini, akan menggunakan beberapa teori sebagai berikut :
9. Teori Keadilan dalam Perspektif Hukum
John Rawls mengembangkan gagasan mengenai prinsip-prinsip keadilan
dengan menggunakan sepenuhnya konsep ciptaanya yang dikenal dengan
posisi asali (original position) dan selubung ketidaktahuan (veil of
ignorance).6 Pandangan Rawls memposisikan adanya situasi yang sama dan
sederajat antara tiap-tiap individu di dalam masyarakat. Tidak ada pembedaan
status, kedudukan atau memiliki posisi lebih tinggi antara satu dengan yang
lainnya, sehingga satu pihak dengan lainnya dapat melakukan kesepakatan
yang seimbang, itulah pandangan Rawls sebagai suatu posisi asasli yang
bertumpu pada pengertian ekulibrium reflektif dengan didasari oleh ciri
rasionalitas (rationality), kebebasan (freedom), dan persamaan (equality) guna
mengatur struktur dasar masyarakat (basic structure of society). Sementara
4 http://id.wikipedia.org/wiki/Teori diakses mei 2015
5 Rosady Ruslan, Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2003), hal. 24
6 http://ugun-guntari.blogspot.com/2011/12/teori-keadilan-dalam-perspektif-hukum.html diakses Mei 2015
5

konsep selubung ketidaktahuan diterjemahkan oleh John Rawls bahwa setiap


orang dihadapkan pada tertutupnya seluruh fakta dan keadaan tentang dirinya
sendiri, termasuk terhadap posisi sosial dan doktrin tertentu, sehingga
membutakan adanya konsep atau pengetahuan tentang keadilan yang tengah
berkembang. Dengan konsep itu Rawls menggiring masyarakat untuk
memperoleh prinsip persamaan yang adil dengan teorinya disebut sebagai
Justice as fairness. Konsep Rawls ini digunakan oleh penulis untuk
memberikan pemahaman tentang apa itu keadilan dalam hukum bagi para
penyidik Polres X dan digunakan pada Bab 3 dan 5.
10. Teori Analisis SWOT
Menurut Freddy Rangkuti, Analisis SWOT adalah suatu proses identifikasi
berbagai faktor baik eksternal maupun internal yang dilakukan secara
sistematis untuk merumuskan strategi organisasi. Analisis ini didasarkan pada
logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang
(Opportunity), akan tetapi secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan
(Weakness) dan kendala (Threats). 7 Proses pengambilan keputusan strategis
selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, dan kebijakan organisasi.
Dalam konteks penulisan kali ini, analisa SWOT ini digunakan pada Bab V dan
dapat digunakan

untuk

menganalisa

faktor-faktor yang

mempengaruhi

kemampuan penyidik Polres X dalam memenuhi rasa keadilan di masyarakat


rangka terwujudnya kepercayaan masyarakat
11. Teori Manajemen
George R. Terry mengemukakan bahwa manajemen adalah proses untuk
mencapai tujuan-tujuan organisasi yang telah ditetapkan melalui kegiatan
perencanaan

(Planning),

(Actualizing),

dan

pengorganisasian

pengendalian

(Organizing),

(Controlling).

Lebih

Pelaksanaan
lanjut

Terry

mengungkapkan bahwa, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh


suatu perusahaan, maka diperlukan suatu sarana (tools) yang terdiri 6M yaitu
Man (sumber daya manusia), money (anggaran/keuangan), material (sarana
prasarana), machines (mesin), method (metode), dan market (pasar). Namun,
untuk kali ini penulis menggunakan teori manajemen pada Bab IV dan hanya

7 Freddy Rangkuti, Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis (2004).


6

mengambil unsur manajemen yang diterapkan pada Polres X yang diuraikan


sebagai berikut :

Man

(sumber

daya

manusia),

merupakan

faktor

yang

paling

penting/menentukan karena manusia yang membuat tujuan dan manusia


pula yang melakukan proses manajemen untuk tujuan mereka.

Method

(metode),

merupakan

suatu

tata

cara

kerja

yang

dapat

memperlancar jalannya pekerjaan para manajer, di mana metode dapat


dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan suatu tugas dengan
memberikan

berbagai

pertimbangan-pertimbangan

kepada

sasaran,

fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu serta anggaran dan kegiatan
usaha.
12. Teori Manajemen Strategis
Wheelen and Hunger menyebutkan bahwa dalam menyusun suatu strategi
harus meliputi setidaknya 3 (tiga) tahapan. Ketiga tahapan dimaksud adalah:
formulasi, implementasi, dan evaluasi serta pengendalian strategi. 8 Dijelaskan
lebih lanjut bahwa formulasi strategi terdiri dari: (1) merumuskan visi dan misi
organisasi; (2) menentukan sasaran; (3) memformulasikan strategi; (4)
merumuskan kebijakan. Kemudian implementasi strategi terdiri dari: (1)
menyusun program pelaksanaan atau action plan; (2) menentukan dukungan
anggaran; (3) merumuskan prosedur kerja.
Model formulasi strategi dari Wheelen and Hunger akan digunakan oleh penulis
dalam upaya-upaya penyusunan visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi
dan action plan terkait dengan optimalisasi kemampuan penyidik Polres X
guna memenuhi rasa keadilan di masyarakat dalam rangka terwujudnya
kepercayaan masyarakat.

8 Wheelen, Thomas and Hunger, J. David, 2004 International Edt. Strategic Management and Business Policy. New Jersey:
Pearson Prentice. Hal.108

BAB III
KONDISI FAKTUAL
13. Kemampuan SDM Penyidik
Reformasi menuju Polri yang profesional seiring dengan berbagai tuntutan
masyarakat demokratis berupa transparansi, akuntabilitas kinerja, supremasi
hukum,

bersifat

protagonis

dan

menjunjung

tinggi

HAM,

telah

diimplementasikan dengan langkah-langkah perubahan yang meliputi 3 aspek


sebagai berikut :
1) Aspek

Instrumental

(filosofis,

doktrin,

kewenangan,

kompetensi,

kemampuan fungsi, iptek)


2) Aspek Struktural (institusi, organisasi, susunan dan kedudukan)
3) Aspek Kultural (manajemen sumber daya, manajemen operasional, sistem
pengawasan oleh masyarakat)
Dari ketiga aspek tersebut, hal yang terpenting dan membutuhkan perhatian
khusus adalah aspek kultural yang menjadi landasan paradigma polisi sipil
yang dapat mewujudkan reformasi birokrasi Polri dalam rangka memberikan
pelayanan prima khususnya dalam penegakkan hukum kepada masyarakat
yang berlandaskan keadilan

yang pada

akhirnya

akan meningkatkan

kepercayaan masyarakat terhadap Polri.


Namun kondisi yang nyata saat ini di Polres X tentang paradigma baru
polisi sipil belum sepenuhnya diimplementasikan secara menyeluruh oleh
penyidik Polres X dalam memberikan penegakan hukum yang berlandaskan
rasa keadilan, hal ini terindikasi dengan banyaknya penyimpangan yang
dilakukan seperti yang diuraikan sebagai berikut :
a) Masih adanya

Budaya

86 , yaitu

upaya-upaya

penyalahgunaan

wewenang penyelidikan dan/atau dengan maksud dan tujuan tertentu demi


kepentingan pribadi penyidik maupun penyidik pembantu.
b) Masih adanya Intervensi atasan , yaitu intervensi penyidikan oleh atasan
yang berupa perintah tertentu seringkali memiliki legitimasi yang lebih kuat
daripada prosedur yang ada dalam hal penanganan suatu perkara tindak
pidana. Bentuk intervensi tersebut antara lain dengan memerintahkan
seorang penyidik mengubah status seseorang yang semula sebagai

tersangka menjadi saksi atau juga sebaliknya tanpa didasarkan fakta


hukum yang terdapat dalam penyidikan suatu perkara tindak pidana
c) Masih adanya Budaya setoran , yaitu suatu mekanisme penyalahgunaan
wewenang oleh para penyidik pada fungsi Reskrim Polres X dengan
menerima sejumlah uang tertentu secara rutin (mingguan, atau bulanan)
dari seorang pelaku tindak pidana tertentu yang biasanya berupa praktikpraktik bisnis ilegal,seperti perjudian, illegal logging, illegal mining,
pelanggaran

HaKi

(distributor/pedagang

DVD

bajakan,

barang

elektronikpalsu, dll), usaha prostitusi terselubung (berkedok sebagai tempat


spa and massage, salon kecantikan, hotel, dll), serta perdagangan
minuman keras (di kafe, diskotik, atau night club,dll).
d) Sikap penyidik yang cenderung mengesampingkan penanganan perkaraperkara yang dianggap tidak ada uangnya , sepertimisalnya perkaraperkara street crime yang memang menguras tenaga dan biaya yang tidak
sedikit dan lebih mengutamakan perkara-perkara yang ada uangnya,
seperti perkara-perkara terkait dengan sengketa hak kepemilikan atas
suatu lahan tanah tertentu, dll.
14. Metode Dalam Meningkatkan Kemampuan Penyidik
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, dalam meningkatkan kemampuan
penyidik Polres X guna memberikan rasa keadilan dalam penegakaan hukum
perlunya suatu metode yang tepat guna sehingga kepercayaan masyarakat
meningkat. Namun melihat kasus yang terjadi pada penyidik Polres X seperti
pembahasan di atas, adanya suatu metode yang tidak tepat guna seperti yang
diuraikan sebagai berikut :
a) Sistem Pendidikan Fungsi Reskrim yang Belum Kompetitif, Tidak
seluruhnya dari para penyidik maupun penyidik pembantu pada fungsi
Reskrim Polres X pernah mengenyam pendidikan dasar kejuruan fungsi
Reskrim sebagaimana yang diselenggarakan Polri. Fakta yang terjadi di
lapangan, justru seringkali para anggota Polres X yang tidak berdinas
pada fungsi Reskrim yang dikirim oleh kesatuannya untuk mengikuti
pendidikan dimaksud dan setelah selesai tidak juga diangkat sebagai
penyidik atau penyidik pembantu pada fungsi Reskrim di kesatuan
dimaksud.
9

b) Sistem Recruitment Tanpa Berdasarkan Kompetensi (Competency Base),


Hingga saat ini, Polres X tidak menerapkan kriteria-kriteria tertentu yang
dapat digunakan sebagai standar penialaian terkait dengan kompetensi
seorang anggota Polres X untuk dapat ditugaskan pada fungsi tertentu,
termasuk fungsi Reskrim, baik dari sisi psikologis, intelektual maupun
aspek-aspek terkait lainnya.
c) Tidak adanya standarisasi mekanisme Reward and Punishment, bekerja
sebagai seorang penyidik maupun penyidik pembantu bagi seorang
anggota Polri memiliki kekhasan tersendiri, antara lain dalam hal
pengungkapan berbagai perkara tindak pidana, seperti halnya yang terjadi
pada suatu kasus pembunuhan, pada saat tersebutlah tergantung harapan
besar dari keluarga korban khususnya maupun masyarakat pada umumnya
agar para penyidik dan/atau penyidik pembantu pada fungsi Reskrim Polri
mampu mengungkap kasus tersebut. Namun faktanya pemberian reward
and punishment tidak dilakukan secara adil
d) Standard Operational Prosedure yang tidak jelas dipakai, sebagai contoh
kecil masih adanya salah kaprah dalam penyelesaian kasus, dimana yang
menjadi ranah penyidik diambil alih oleh penyidik pembantu karena adanya
suatu perintah dari penyidik utama.
15. Implikasi
Masih kurang optimalnya kemampuan penyidik Polres X guna memenuhi rasa
keadilan di masyarakat, seperti yang dijelaskan dalam pembahasannya terkait
sumber daya manusia serta metode yang dilakukan tidak efektif, tentunya akan
memunculkan suatu permasalahan baru seperti berikut :
a) Tujuan Polri untuk merivitalisasi birokrasi Polri akan terhambat karena
kepercayaan masyarakat menurun, yang diakibatkan oleh para anggotanya
baik di tingkat atas maupun bawah seperti di Polres X
b) Visi dan Misi Polres X juga akan terhambat, hal ini dikarenakan kemampuan
para penyidiknya masih tetap sama, dalam hal ini para penyidik akan selalu
melakukan penyalahgunaan wewenang dalam bertugas

10

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Melihat kondisi faktual Polres X saat ini sebagaimana tersebut di atas, masih
terdapat berbagai kekurangan yang memerlukan perbaikan dan peningkatan dalam
meningkatkan kemampuan penyidik Polres X. Kekurangan atau berbagai
kelemahan tersebut disebabkan oleh setidak-tidaknya dua faktor, yaitu faktor yang
berasal dari dalam (internal) dan faktor yang berasal dari luar (external). Faktor
internal yang berpengaruh terhadap kondisi perubahan mind set and culture set
tersebut adalah faktor kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness), diantaranya
adalah sumber daya organisasi seperti faktor manusia/SDM (man), anggaran
(money), sarana dan prasarana (material) dan sistem dan metode atau cara
bertindak (method). Sedangkan faktor-faktor berpengaruh yang berasal dari luar
(aspek eksternal) adalah faktor peluang/kesempatan (opportunity) dan faktor
kendala/ ancaman (threats), diantaranya adalah faktor Asta-Gatra (geografi,
demografi dan sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya,
keamanan). Oleh karenanya, pisau analisis yang paling sederhana untuk mengurai
masalah tersebut sehingga diperoleh jawaban alternatif pemecahan masalah, yaitu
dengan menggunakan Analisis SWOT
16. Faktor Internal
a) Kekuatan (strength)
1) Adanya paradigma baru yaitu paradigma polisi sipil
2) Tersedianya kuantitas anggota Polres X yang berguna untuk
regenerasi Penyidik dan
3) Tersedianya anggaran dalam menunjang pelaksanaan penyidikan
kasus
4) Tersedianya sarana dan prasarana yang berbasis iptek
b) Kelemahan (weakness)
1) Lemahnya pemahaman anggota penyidik Polres X terhadap perubahan
paradigma baru yaitu paradigma polisi sipil
2) Masih adanya anggota penyidik menyalahi wewenang yang memilih
suatu kasus perkara dengan tujuan materi
3) Proses rekrutmen penyidik yang tidak berbasis kompetensi

11

4) Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan tidak konsisten dan


kurang menyeluruh
17. Faktor Eksternal
a) Peluang (opportunity)
1) Dukungan Pemda dalam upaya mendukung peningkatan kualitas
penyidik
2) Tingginya harapan masyarakat akan anggota Polri yang profesional,
mandiri, akuntabel dalam pelaksanaan tupoksinya
3) Dukungan yang tinggi dari insan pers terkait peningkatan kemampuan
penyidik
4) Adanya lembaga-lembaga eksternal yang dapat membantu Polres X
dalam peningkatan kemampuan penyidik
b) Tantangan (threats)
1) Masih adanya sebagian masyarakat yang pesimis terkait peningkatan
kemampuan penyidik
2) Masih

rendahnya

partisipasi

masyarakat

dalam

melaporkan

penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh penyidik Polres X


3) Masih adanya pemberitaan media massa yang kurang proporsional
terhadap Polri sehingga cenderung memojokkan dan menurunkan
kepercayaan masyarakat terhadap Polri.
4) Berbagai isu negatif yang berkembang di tengah masyarakat yang
dapat melemahkan citra kepemimpinan Polri, seperti markus, mafia
peradilan, korupsi dan sebagainya.

12

BAB V
KONDISI IDEAL
18. Kemampuan SDM Penyidik
Sebagaimana yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945, yang
bermakna Negara melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia ;Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyatnya, Negara berkedaulatan rakyat; dan Negara berdasar atas
Ketuhanan YME, yang secara jelas menjadi nilai fundamental supremasi
hukum.9 Atas dasar itulah yang menjadi landasan paradigma baru kepolisian
dimana dalam menjalankan tupoksinya sebagai penegak hukum harus menjadi
alat negara bukan alat pemerintah yang berkuasa. Dalam proses penegakan
hukum, tidak terlepas dari peranan media masa, dimana kasus-kasus hukum
menjadi diskursusus publik untuk menentukan yang adil dan yang tidak adil,
yang etis dan non-etis, yang moral dan amoral. hal ini yang disebut dengan
intervensi.
Sehubungan hal tersebut, kondisi ideal yang diharapkan pada setiap
anggota

Polres

menyesuaikan

X,

dalam

dengan

rasa

penegakan
keadilan

hukum

seharusnya

masyarakat

sebagai

mampu
prasyarat

mewujudkan keadilan sosial, yang dinamakan deliberasi hukum. Pemahaman


tentang deliberasi hukum ini pada setiap anggota khususnya penyidik Polres
X dapat meningkatkan kemampuannya dalam memberikan rasa keadilan di
masyarakat sehingga memiliki sifat dan perilaku sebagai berikut :
a) Hilangnya Budaya 86 , yaitu hilangnya upaya-upaya penyalahgunaan
wewenang penyelidikan dan/atau dengan maksud dan tujuan tertentu demi
kepentingan pribadi penyidik maupun penyidik pembantu.
b) Berkurang dan bahkan hilangnya Intervensi atasan , dimana dalam
pelaksanaan penyelidikan kasus tertentu didasarkan fakta hukum yang
terdapat dalam penyidikan suatu perkara tindak pidana
c) Tidak adanya Budaya setoran , yaitu suatu mekanisme dimana tidak
adanya lagi penyalahgunaan wewenang oleh para penyidik pada fungsi
Reskrim Polres dengan menerima sejumlah uang tertentu secara rutin
9 Pembukaan UUD 1945 Pasal 1 ayat 3
13

d) Berkurang dan hilangnya sikap penyidik yang memilih penanganan


perkara-perkara yang dianggap tidak ada uangnya dengan yang ada
uangnya.
19. Metode Dalam Meningkatkan Kemampuan Penyidik
Dalam meningkatkan kemampuan penyidik Polres X dalam memenuhi rasa
keadilan juga diperlukan suatu metode atau cara-cara yang tepat. Dengan
metode atau cara yang tepat juga merupakan indikator yang dapat
meningkatkan kepercayaan masyarkat terhadap Polri, khususnya Polres X,
dimana keberhasilan metode tersebut dapat dilihat dalam uraian sebagai
berikut :
a) Sistem Pendidikan Fungsi Reskrim yang Kompetitif, diharapkan seluruh
anggota penyidik Polres X pernah mengeyam pendidikan kejuruan
penyidikan pada fungsi Reskrim dan bagi anggota yang telah selesai
mengikuti diklat penyidikan diharapkan mampu mengimplementasikan pada
fungsi Reskrim sehingga regenerasi tetap terjaga.
b) Sistem Recruitment Berdasarkan Kompetensi (Competency Base), Dalam
upaya mencetak penyidik yang handal Polres X membuat suatu darft atau
sistem standarisasi kriteria sebagai penyidik yang meliputi aspek psikologis,
intelektual maupun aspek-aspek terkait lainnya.
c) Jelasnya standarisasi mekanisme Reward and Punishment, dengan
jelasnya

stabdarisasi

Reward

and

Punishment

diharapkan

dapat

meningkatkan motivasi penyidik dalam melaksanakan tupoksinya


d) Jelasnya Standard Operational Prosedure yang dipakai, dengan membuat
SOP yang jelas diharapkan tidak ada lagi salah kaprah dalam penyelesaian
suatu perkara, sehingga penyidik utama melakukan tupoksinya seperti yang
sudah ditetapkan begitupula penyidik pembantu.
20. Kontribusi
Keberhasilan

suatu

metode

yang

diterapkan

oleh

Polres

dalam

meningkatkan kemampuan penyidiknya berpeluang untuk memberikan suatu


kontribusi yang nyata dirasakan bagi organisasi seperti uraian di bawah ini :

14

a) Tujuan Polri dalam mereformasi birokrasinya dapat berjalan secara efektif


dan efisien, karena setiap anggota Polri mampu memahami dan
menimplementasikan paradigma polisi sipil
b) Visi dan Misi yang dicanangkan oleh Polres X dapat tercapai, selain itu
kemampuan setiap penyidik Polres X telah tercapai karena setiap anggota
penyidik telah mampu memberikan rasa adil di masyarakat dalam setiap
penangan suatu perkara.

15

BAB VI
UPAYA PEMECAHAN MASALAH
21. VISI
Terwujudnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri (Polres X) melalui
optimalisasi kemampuan penyidik Polres X dalam memenuhi rasa keadilan di
masyarakat
22. MISI
a) Meningkatkan kemampuan penyidik Polres X guna memenuhi rasa
keadilan

di

masyarakat

dalam

rangka

terwujudnya

kepercayaan

masyarakat
b) Menciptakan metode yang tepat untuk mengoptimalkan kemampuan
penyidik Polres X guna memenuhi rasa keadilan di masyarakat dalam
rangka terwujudnya kepercayaan masyarakat
23. TUJUAN
a) Terciptanya Penyidik yang profesional guna memenuhi rasa keadilan di
masyarakat dalam rangka terwujudnya kepercayaan masyarakat
b) Terciptanya Metode yang tepat guna meningkatkan kemampuan penyidik
Polres X guna memenuhi rasa keadilan di masyarkat dalam rangka
terwujudnya kepercayaan masyarakat
24. SASARAN
a) Seluruh

penyidik

Polres

diharapkan

mampu

meningkatkan

kemampuannya dalam memenuhi rasa keadilan di masyarakat dalam


rangka mewujudkan kepercayaan masyarakat
b) Seluruh metode yang digunakan dalam rangka terwujudnya kepercayaan
masyarakat
25. KEBIJAKAN
a)

Melakukan peningkatan pemahaman penyidik terkait paradigma polisi sipi

b)

Melakukan rekrutmen penyidik yang berbasis kompetensi

c)

Melakukan diklat penyidik pada fungsi Reskrim bagi seluruh calon penyidik
Baru

d)

Melakukan kerjasama dengan stakeholder terkait tentang peningkatan


kemampuan penyidik, paradigma polisi sipil yang berbasis rasa keadilan

16

26. STRATEGI
a)

Matrik TOWS

17

KEKUATAN

INTERNAL
1.

Adanya paradigma baru yaitu paradigma polisi sipil

2.

Tersedianya kuantitas anggota Polres X yang berguna


untuk regenerasi Penyidik dan

3.

EKSTERNAL

4.

KELEM
1.

Lemahnya pemahaman anggo

perubahan paradigma baru yai


2.

Masih adanya anggota peny

memilih suatu kasus perkara d

Tersedianya anggaran dalam menunjang pelaksanaan


penyidikan kasus

3.

Proses rekrutmen penyidik yan

4.Tersedianya sarana dan prasarana yang berbasis

4.

Pengawasan dan pengendalia

iptek

dan kurang menyeluruh

PELUANG

1.

Dukungan Pemda dalam upaya mendukung peningkatan


kualitas penyidik

2.

Tingginya harapan masyarakat akan anggota Polri yang


profesional,

mandiri,

akuntabel

dalam

pelaksanaan

tupoksinya

3.

Dukungan yang tinggi dari insan pers terkait peningkatan


kemampuan penyidik

4.

Adanya lembaga-lembaga eksternal yang dapat membantu


Polres X dalam peningkatan kemampuan penyidik
ANCAMAN

1.

Masih adanya sebagian masyarakat yang pesimis terkait


peningkatan kemampuan penyidik

2.

Masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan


penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh penyidik
Polres X

3.

Masih adanya pemberitaan media massa yang kurang


proporsional

sehingga

cenderung

memojokkan

kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

4.

Berbagai

isu

masyarakat

negatif

dapat

yang

berkembang

melemahkan

citra,

di

tengah

seperti,

mafia

peradilan,

b)

Formulasi Strategi

1) Jangka Pendek (0-6 bulan)


a. Mengeliminir penyelewengan wewenang penyidik
b. Meningkatkan kualitas penyidik secara profesional
c. Meningkatkan kinerja penyidik
2) Jangka Sedang (0-12 bulan)
a. Membangun komunikasi dan Kemitraan dengan Masyarakat
b. Meningkatkan peran lembaga eksternal dalam mengawasi kinerja
penyidik
3) Jangka Panjang (0-18 bulan)
a. Memantapkan pengawasan dan pengendalian internal
b.
18

c)
27. ACTION PLAN
a)

Untuk mengimplementasikan kebijakan strategi yang telah dirumuskan

sebelumnya, maka dalam rangka mengoptimalkan kemampuan penyidik guna


memenuhi rasa keadilan di masyarkat dalam mewujudkan kepercayaan
masyarakat, selanjutnya akan dituangkan dalam action plan, sebagai berikut :
a) Jangka Pendek (0-6 bulan)
1) Mengeliminir penyelewengan wewenang penyidik
a) Kapolres

memerintahkan

KasiPropam

untuk

kepada

menyiapkan

Kabagops,
suatu

Kabagren

sistem

yang

dan
dapat

membatasi penyidik agar tidak dapat menyalahgunakan wewenang


dalam proses penyidikan
b) Kapolres secara berkala bersama Kabagops dan KasiPropam
untuk selalu mengontrol kegiatan penyidikan suatu kasus dalam
rentang waktu minimal 1 bulan sekali
c) Kapolres memerintahkan kepada Kabagops, Kabagren untuk
merencanakan dan menggelar sosialisasi tentang pemahaman
paradigma polisi sipil secara intens dalam rentang waktu 1 bulan
sekali agar penyidik dapat memahami perubahan yang dilakukan
oleh Polri
2) Meningkatkan kualitas penyidik secara profesional
a) Kapolres memerintahkan kepada Kabasumda, Kabagops untuk
medata jumlah penyidik yang ada dengan membandingkan tingkat
penyelesaian perkasus. ini bertujuan untuk menganaliasis sejauh
mana kebutuhan penyidik yang dilakukan dalam satu bulan sekali
b) Kapolres memerintahkan kepada Kabagops, Kabagsumda dan
Kabagren untuk mendata jumlah anggota yang belum memiliki
pendidikan dan pelatihan penyidikan pada fungsi Reskrim agar
segera mengikuti pelatihan dan pendidikan penyidikan
c) Kapolres

memerintahkan

kepada

Kabagops,

Kabagren,

Kabagsumda untuk membuat sebuah aturan atau sistem terkait


dalam perekrutan anggota penyidik baru yang berbasis kompetensi
3) Meningkatkan kinerja penyidik

19

a) Kapolres

memerintahkan

kepada

Kabagren,

Kasikeu

untuk

menetapkan standarirsasi terkait reward and punishment bagi para


anggota penyidik
b) Kapolres
b) Jangka Sedang (0-12 bulan)
1) Membangun komunikasi dan Kemitraan dengan Masyarakat
2) Meningkatkan peran lembaga eksternal dalam mengawasi kinerja
penyidik
c) Jangka Panjang (0-18 bulan)
b)

Memantapkan pengawasan dan pengendalian internal

20