Anda di halaman 1dari 11

PENENTUAN VOLUME MOLAR PARSIAL

ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan penentuan volume molar parsial dari larutan natrium
klorida (NaCl) yang bertujuan untuk menentukan volume molar parsial larutan natrium
klorida (NaCl) sebagai fungsi rapat massa. Prinsipnya adalah dengan memanfaatkan
pengaruh suhu larutan terhadap rapat massanya. Pertama-tama dibuat 4 macam
konsentrasi larutan natrium klorida (NaCl), kemudian ditimbang piknometer kosong, lalu
dimasukkan 4 macam konsentrasi larutan natrium klorida (NaCl) ke dalam masingmasing piknometer. Panaskan keempat piknometer yang berisi larutan natrium klorida
(NaCl) dalam water bath pada suhu 35C selama 15 menit. Keluarkan piknometer,
dikeringkan, dan ditimbang kembali. Lakukan hal yang sama pada air sebagai
pembandingnya. Dari hasil percobaan diperoleh volume molar parsial larutan natrium
klorida (NaCl) 3 M ; 1,5 M ; 0,75 M ; dan 0,375 M berturut-turut adalah 43,96 mL ; 48,85
mL ; 51,98 mL ; dan 53,68 mL. Sedangkan volume molar parsial air berturut-turut 430,59
mL ; 163,57 mL ; 69,71 mL ; dan 36,28 mL.
Kata Kunci : volume molar parsial, piknometer, rapat massa, water bath

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan berbagai zat-zat
yang ada disekitar kita, zat-zat tersebut jarang sekali ditemukan dalam bentuk
murni atau dengan kata lain zat-zat tersebut ditemukan dalam bentuk
campuran antara dua zat atau lebih. Prinsip volume molar parsial menjadi
penting karena dengan prinsip volume molar parsial kita dapat mengetahui
sifat-sifat termodinamika zat yang ada dalam campuran tersebut. Zat-zat
tersebut umum ditemukan dalam bentuk larutan (padatan yg dilarutakan dalam
cairan), pelarut yang biasa dipakai adalah air. Sehingga sangat penting untuk
mengetahui sifat-sifat parsial zat tersebut.
1.2 Prinsip Percobaan
Prinsip percobaan penentuan volume molar parsial adalah dengan
memanfaatkan pengaruh suhu terhadap rapat massanya. Pada percobaan ini
digunakan larutan natrium klorida (NaCl), pertama-tama dibuat 4 macam
konsentrasi larutan natrium klorida (NaCl), kemudian ditimbang piknometer
kosong, lalu dimasukkan 4 macam konsentrasi larutan natrium klorida (NaCl)
ke dalam masin-masing piknometer. Panaskan keempat piknometer yang
berisi larutan natrium klorida (NaCl) dalam water bath pada suhu 35 C
selama 15 menit. Keluarkan piknometer, dikeringkan, dan ditimbang
kembali. Lakukan hal yang sama pada air sebagai pembandingnya.
1.3 Tujuan
Menentukan volume molar parsial larutan natrium klorida (NaCl) sebagai
fungsi rapat massa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Larutan dan Konsentrasi Larutan

Larutan adalah campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut. Suatu
larutan disebut campuran karena susunannya dapat berubah-ubah. Homogen
karena susunannya seragam sehingga tidak dapat diamati ada atau tidaknya
bagian yang berbeda. Sedangkan campuran heterogen permukaan-permukaan
tertentu dapat dideteksi antara beberapa fase yang terpisah (Hardjono, 2001).
Fase larutan yaitu pelarut (solvent) atau zat terlarut (solute) dapat berupa gas,
cair, atau zat padat (Sumardjo,2008). Suatu larutan yang konsentrasi zat
terlarut sama dengan kelarutannnya disebut larutan jenuh (saturated). Jika
konsentrasinya

lebih

rendah,

larutannya

disebut

larutan

tak

jenuh

(unsaturated), dan jika konsentrasi zat terlarut lebih besar dari larutan jenuh
disebut larutan lewar jenuh (supersaturated) (Goldberg, 2008)
Konsentrasi larutan adalah jumlah zat terlarut yang terdapat di dalam
sejumlah tertentu pelarut atau larutan. Konsentrasi larutan dapat dinyatakan
dengan berbagai cara. Salah satu satuan konsentrasi yang paling umum dalam
kimia adalah molaritas (M) (Chang, 2005). Molaritas menyatakan banyaknya
mol zat dalam satu liter larutan (Sumardjo, 2008).
2.2 Volume Molar Parsial
Volume molar parsial adalah kontribusi pada volume dari satu komponen
dalam sampel terhadap volume total. Volume molar parsial komponen suatu
campuran berubah-ubah tergantung pada komposisi, karena lingkunagan setiap
jenis molekul berubah dari a murni ke b murni. Perubahan lingkungan molekuler
dan perubahan gaya-gaya yang bekerja antara molekul inilah yang menghasilkan
variasi sifat termodinamika campuran jika komposisinya berubah (Atkins, 1993).
J
Ji
n1 T , P , n

( )

Ada 3 sifat termodinamik molar parsial utama, yakni (Dogra, 1990):


a. volume molar parsial dari komponen-komponen dalam larutan
b. entalpi molar parsial
c. energi bebas molar parsial
2.3 Piknometer
Piknometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur nilai massa jenis
atau densitas dari fluida. Cara menghitung massa fluida yaitu massa pikno berisi

fluida dikurangi massa pikno kosong. Piknometer terdiri dari 3 bagian yaitu
(While, 1988):
a. pikno
b. lubang (kapiler)
c. gelas (tabung ukur)
2.4 Analisis Bahan
2.4.1 Akuades (H2O)
Akuades merupakan cairan tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa dengan
rumus molekul H2O dan bersifat polar, sehingga merupakan pelarut yang baik
untuk bermacam-macam zat ; molekul air terikat oleh ikatan hidrogen satu sama
lain. Air membeku pada 0 oC, mendidih pada 100 oC, dan mempunyai kerapatan
(1 g cm-3) terbesar pada 4 oC (Pudjaatmaka, dkk, 1993 ; Wertheim, 2000).
2.4.2 Natrium klorida (NaCl)
Natrium korida adalah senyawa ionik sederhana berbentuk padatan rapuh dengan
titik leleh 801C. Dalam bentuk lelehan dan larutannya, senyawa ini dapat
menghantarkan arus listrik (Sutresna, 2008).

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan

dibuat 5 macam konsentrasi larutan NaCl

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah piknometer, labu ukur,
ditimbang piknometer kosong
gelas beker, pipet ukur, pipet volume, batang pengaduk, botol semprot, pipet tetes,
diisi piknometer sampai penuh dengan larutan yang akan
termometer, stopwatch, tali, dan water bath.
diukur rapat massanya
Bahan-bahandigantingkan
yang digunakan
pada percobaan
adalah
klorida
piknometer
di dalam ini
water
bath natrium
pada suhu
35C
(NaCl) dan akuades selama
(H2O). 15 menit
3.2 Prosedur Kerja
NaCl

diamati permukaan larutan di dalam piknometer harus masih


tetap penuh. Jika berkurang tambahkan larutan selama
piknometer masih di dalam water bath
dikeluarkan piknometer dari water bath dan cepat keringkan
ditimbang piknometer tersebut dengan menggunakan neraca
analitis
dilakukan pengerjaan 2 sd 7 di atas untuk penentuan rapat
massa air dan larutan NaCl yang telah dibuat pada pengerjaan

Hasil
3.3 Rangkaian Alat

Gambar 3.1 Pemanasan larutan dalam


Gambar 3.2 Piknometer
piknometer dengan menggunakan water bath

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Data Pengamatan
No. Piknometer

Konsentrasi
NaCl (M)

Massa Piknometer (gr)


Kosong

+ H2O

+ NaCl

23,0141

47,8556

50,6263

1,5

23,2261

47,8824

49,3036

0,75

23,0141

47,8556

48,5526

0,375

23,2261

47,8824

48,2551

4.2 Pembahasan
Volume molar parsial adalah kontribusi pada volume dari satu komponen
dalam sampel terhadap volume total. Volume molar parsial komponen suatu
campuran berubah-ubah tergantung pada komposisi, karena lingkunagan setiap
jenis molekul berubah dari a murni ke b murni. Perubahan lingkungan molekuler
dan perubahan gaya-gaya yang bekerja antara molekul inilah yang menghasilkan
variasi sifat termodinamika campuran jika komposisinya berubah (Atkins, 1993).

Prinsip percobaan penentuan volume molar parsial adalah dengan


memanfaatkan pengaruh suhu terhadap rapat massanya. Pada percobaan ini
digunakan larutan natrium klorida (NaCl) dan air sebagai pembandingnya.
4.2.1 Analisis Prosedur
Prosedur kerja pada percobaan ini adalah pertama-tama buat 4 macam
konsentrasi larutan NaCl yaitu 3 M ; 1,5 M ; 0,75 M ; 0,375 M dengan cara
melarutkan padatan NaCl dengan akuades. Tujuan dari bermacam-macam
konsentrasi larutan NaCl adalah untuk melihat pengaruh konsentrasi terhadap
rapat massa larutan NaCl. Kemudian dipanaskan piknometer kosong di dalam
oven selama 1 jam pada suhu 100 C, untuk menghilangkan pengotornya
khususnya air, agar piknometer yang ditimbang bebas dari zat pengotor. Lalu
timbanglah piknometer kosong tersebut. Pada percobaan ini digunakan 2 buah
piknometer yaitu piknometer nomor 2 dan 5. Kemudian isi piknometer dengan
akuades dan timbang piknometer tersebut. akuades pada piknometer harus terisi
penuh/jangan ada rongga udara di dalam kapiler piknometer. Lalu gantungkan
piknometer di dalam water bath pada suhu 35 C selama 15 menit, tujuan
dipakai suhu 35 C adalah agar pengukuran sesuai dengan kondisi ruangan tempat
pengukuran sehingga akan diperoleh nilai pengukuran yang lebih tepat, kemudian
posisikan piknometer agar seluruh bagian piknometer berada di bawah permukaan
air di dalam water bath, hati-hati jangan sampai air dalam water bath masuk ke
dalam piknometer, karena jika air dalam water bath memasuki piknometer yang
berisi akuades akan mempengaruhi nilai massa piknometer yang berisi akuades.
Lalu amati permukaan larutan di dalam piknometer harus masih tetap penuh jika
berkurang tambahkan larutan selama piknometer masih di dalam water bath.
Kemudian keluarkan piknometer dati dalam water bath dan cepat keringkan
dengan tisu, lalu timbang piknometer tersebut dengan menggunakan neraca
analitis. Lakukan pengerjaan yang sama untuk penentuan rapat massa larutan
NaCl yang telah dibuat dari keempat macam konsentrasi.
4.2.2 Analisis Hasil
Menurut Dogra (1990), ada tiga sifat termodinamik molar parsial utama, yaitu :
a. volume molar parsial dari komponen-komponen dalam larutan
b. entalpi molar parsial

c. energi bebas molar parsial


Sifat-sifat molar parsial dapat ditentukan dengan beberapa metode sebagai berikut
(Tim Praktikum Kimia Fisika II, 2014):
a. Metode Grafik
Dengan metode ini volume V dialurkan sebagai fungsi komposisi larutan.
Volume larutan diukur pada variasi penambahan jumlah suatu komponen
yang sudah ada dalam sistem dengan tetap mempertahankan komposisi
total semua komponen penyusunnya. Jika aluran tersebut menghasilkan
suatu garis lurus linier, maka besarnya volume molar parsial dari
komponen yang ditambahkan itu adalah sama dengan kemiringan garis
tersebut.
b. Metode Analitik
Jika harga sifat ekstensif dapat dinyatakan sebagai suatu fungsi aljabar dari
komposisi sistem, maka sifat molar parsial dapat dihitung secara analitik.
X2 V 2
V 1=
d X 2 +C 1
X 21 X 2

( )

c. Metode Intersep
Harga V dialurkan terhadap X1, intersep pada X1

0 memberikan V2 dan

pada X2
1 memberikan Vi, dari persamaan :
V
V 2=V X 1
X1

[ ]

d. Metode Volume Molar


Persamaan volume molar nyata , dapat dituliskan sebagai berikut :
=

ww 0
1
1000
m 2
x
d
m
w0we

))

dengan w0 = massa piknometer + massa air


we = massa piknometer kosong
w = massa piknometer + massa larutan
Dari hasil percobaan diperoleh volume molar parsial larutan natrium
klorida (NaCl) 3 M ; 1,5 M ; 0,75 M ; dan 0,375 M berturut-turut adalah 43,96 mL
; 48,85 mL ; 51,98 mL ; dan 53,68 mL. Sedangkan volume molar parsial air
berturut-turut 430,59 mL ; 163,57 mL ; 69,71 mL ; dan 36,28 mL. Dari data dapat
disimpukan bahwa semakin besar konsentrasi larutan NaCl, maka volume molar

parsialnya akan semakin besar. Karena dengan bertambahnya konsentrasi larutan


NaCl, maka densitas dari larutan tersebut juga akan semakin besar. Sedangkan
dari volume molar parsial air, dengan bertambahnya konsentrasi larutan NaCl,
maka volume molar parsial akan berkurang. Volume parsial larutan NaCl
berbanding terbalik dengan volume molar parsial air. Jika volume molar parsial
larutan NaCl bertambah, maka volume molar parsial air akan berkurag, begitu
juga sebaliknya.
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Dari hasil percobaan diperoleh volume molar parsial larutan natrium
klorida (NaCl) 3 M ; 1,5 M ; 0,75 M ; dan 0,375 M berturut-turut adalah 43,96 mL
; 48,85 mL ; 51,98 mL ; dan 53,68 mL. Sedangkan volume molar parsial air
berturut-turut 430,59 mL ; 163,57 mL ; 69,71 mL ; dan 36,28 mL. Dari data dapat
disimpukan bahwa semakin besar konsentrasi larutan NaCl, maka volume molar
parsialnya akan semakin besar. Karena dengan bertambahnya konsentrasi larutan
NaCl, maka densitas dari larutan tersebut juga akan semakin besar. Sedangkan
dari volume molar parsial air, dengan bertambahnya konsentrasi larutan NaCl,
maka volume molar parsial akan berkurang
5.2 Saran
Pada percobaan selanjutnya disarankan untuk mengganti natrium klorida (NaCl)
dengan fenol (C6H5OH).

DAFTAR PUSTAKA
Atkins. 1993. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Dogra. 1990. Kimia Fisik dan Soal-soal. Jakarta : UI Press.
Goldberg. 2008. Kimia untuk Pemula Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga.
Hardjono. 2001. Kimia Dasar. Yogyakarta : UGM Press.
Pudjaatmaka, dkk. 1993. Kamus Kimia. Jakarta : Balai Pustaka.
Sumardjo. 2008. Pengantar Kimia. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sutresna, Nana. 2008. Kimia SMA Kelas X. Bandung : Grafindo Media Pratama.
Wertheim, dkk. 2000. Kamus Kimia Bergambar. Jakarta : Erlangga.
While, Frank M. 1988. Mekanika Fluida Edisi Kedua Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

JAWABAN PERTANYAAN
1. Karena termostat berfungsi sebagai penstabil suhu, pada percobaan ini
menggunakan water bath pada suhu 35 C, karena suhu ruangan berkisar
antara 30-35 C, sehingga pengukuran akan semakin tepat.
2. Pada percobaan ini tidak dilakukan penambahan larutan ke dalam
piknometer, hal ini disebabkan larutan yang ada dalam piknometer tidak
mengalami pengurangan volume. Biasanya ketika suatu larutan
dipanaskan, maka larutan tersebut akan memuai. Sehingga volume di
dalam piknometer berkurang, namun pada percobaan volume pada
piknometer masih tetap penuh.