Anda di halaman 1dari 34

WRAP UP

SKENARIO 2
KELOMPOK A-02

KETUA

Asep Aulia Rachman

(1102014041)

SEKRETARIS

Farida Fidiyaningrum

(1102011099)

ANGGOTA

Dedy Sumarlin

(1102013074)

Afifah Haris

(1102014003)

Ajeng Halida Kustari

(1102014011)

Andhika Shahnaz

(1102014023)

Asri Rahmania

(1102014044)

Awal Ramadhan

(1102014051)

Elvira Sari

(1102014084)

Kariza Gritania Sabila

(1102014141)

Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI
2014-2015

SKENARIO 2
REAKSI ALERGI
Seorang perempuan berusia 20 tahun, datang ke dokter dengan keluhan gatal-gatal
serta bentol-bentol merah yang hampir merata diseluruh tubuh, timbul bengkak pada kelopak
mata dan bibir sesudah minum obat penurun panas (Paracetamol). Pada pemeriksaan fisik
didapatkan Angioedema dimata dan bibir serta Urtikaria diseluruh tubuh. Dokter
menyarankan keadaan ini diakibatkan oleh reaksi alergi (hipersensitivitas tipe cepat),
sehingga ia mendapatkan obat antihistamin dan kortikosteroid. Dokter memberikan saran
agar selalu berhati-hati dalam meminum obat serta berkonsultasi dulu dengan dokter.

KATA SULIT
Angioedema : reaksi vaskular pada dermis bagian dalam atau jaringan subkutan atau
submukosa yang mengakibatkan edema yg disebabkan dilatasi dan
peningkatan permeabilitas kapiler.
Urtikaria

: suatu kondisi media yang ditandai dengan benjolan atau bekas yang
meradang, gatal dan kadang-kadang nyeri, yang dapat muncul dimanapun.

Hipersensitivitas: respon imun yang berlebihan yang tidak diinginkan, karena dapat
menimbulkan kerusakan tubuh.
Antihistamin : obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin dalam
tubuh, melalui mekanisme penghambatan bersaing pada reseptor
H-1, H-2 dan H-3.
Kortikosteroid : salah satu hormon steroid yang dibuat oleh korteks lapisan terluar dari
kelenjar adrenal.
PERTANYAAN
1. Kenapa pasien diberi antihistamin?
2. Mengapa dokter mengatakan pasien terkena reaksi hipersensitivitas tipe cepat?
3. Mengapa reaksi hipersensitivitas dapat timbul dan apakan penyebabnya?
4. Mengapa setelah minum paracetamol bibir dan kelopak mata membengkak?
5. Apakah efek samping dari kortikosteroid dan antihistamin?
6. Apa saja pemeriksaan tes alergi?
7. Apa saja gejala-gejala reaksi alergi tipe cepat atau hipersensitivitas tipe I?
8. Mengapa bisa timbul urtikaria, bagaimana mekanismenya?
9. Apa saja faktor yang menyebabkan hipersensitivitas tipe I?
10. Apa saja klasifikasi hipersensitivitas?
JAWABAN
1.

Untuk mengobati angioedema yang disebabkan oleh histamin yang dilepaskan oleh sel

mast dan basofil. Atau untuk memblok kerja histamin.


2. Karena reaksi timbul setelah minum obat dan berlangsung cepat dan singkat.
3. Pada reaksi hipersenditivitas tipe cepat, reaksi timbul karena adanya ikatan silang antara
IgE dengan alergen pada pajanan kedua yang merangsang sel mast dan basofil
menginduksi pelepasan mediator vaso aktif berupa histamin dalam jumlah banyak yang
ada didalam darah.
4. Karena histamin meningkatkan vasodilatasi pada kapiler darah, yang dimana
menyebabkan edema, yang seriong terjadi pada jaringan ikat longgar.
5. Efek samping kortikosteroid dapat berupa moon face, buffalo lumb, osteoporosis,
katarak, glukoma, gangguan saluran pencernaan, perubahan sistem kekebalan tubuh, dan
3

lain-lain. Sedangkan efek samping antihistamin diantaranya efek sedasi, peningkatan


asam lambung dan gangguan saluran cerna lainnya.
6. Skin prick test, tes mantoux, dll.
7. Gejala pada hipersensitivitas tipe 1 dapat berupa anafilaksis sitemik dan lokal seperti
rinitis, asma, urtikaria, alergi makanan dan ekzem.
8. Mekanismenya sama seperti angioedema, tetapi letaknya lebih superfisial (lapisan dermis
bagian atas).
9. Obat-obatan seperti penicilin dan b-laktam lain, enzim, antiserum, protamin, heparin
antibodi monoklonal, ekstrak alergen, insulin. Dapat juga karena makanan seperti
kerang, susu, ikan, telur, bahan asal gandum, dan kacang-kacangan. Sengatan serangga
dan tungau debu rumah juga dapat menyebabkan hipersensitivitas.
10. Menurut waktunya terbagi menjadi 3 yaitu lambat, intermediet, dan cepat. Sedangkan
menurut Gell and Coombs dibagi menjadi 4 yaitu hipersensitivitas tipe 1,2,3 dan 4.

HIPOTESIS
Reaksi alergi atau hipersensitivitas diklasifikasikan dalam beberapa golongan, reaksi
alergi tersebut disebabkan oleh beberapa factor, salah satunya adalah pemberian obat tertentu
yang dapat menimbulkan manifestasi seperti angioedema dan urtikarian yang dapat diatasi
dengan pemberian antihistamin dan kortikosteroid.

SASARAN BELAJAR
1. Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas
1.1.
Definisi hipersensitivitas
1.2.
Klasifikasi hipersensitivitas
2. Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas tipe 1
2.1.
Definisi hipersensitivitas tipe 1
2.2.
Mekanisme hipersensitivitas tipe 1
2.3.
Manifestasi hipersensitivitas tipe 1
3. Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas tipe 2
3.1.
Definisi hipersensitivitas tipe 2
3.2.
Mekanisme hipersensitivitas tipe 2
3.3.
Manifestasi hipersensitivitas tipe 2
4. Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas tipe 3
4.1.
Definisi hipersensitivitas tipe 3
4.2.
Mekanisme hipersensitivitas tipe 3
4.3.
Manifestasi hipersensitivitas tipe 3
5. Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas tipe 4
5.1.
Definisi hipersensitivitas tipe 4
5.2.
Mekanisme hipersensitivitas tipe 4
5.3.
Manifestasi hipersensitivitas tipe 4
6. Memahami dan menjelaskan farmakologi
6.1.
Antihistamin (definisi, farmako kinetic, farmako dinamik, efek samping,
klasifikasi, indikasi, kontra indikasi)
6.2.
Kortikosteroid (definisi, farmako kinetic, farmako dinamik, efek samping,
klasifikasi, indikasi, kontra indikasi)
7. Memahami dan menjelaskan Batasan Hukum untuk Menentukan Alternatif
Terbaik dari Dua Pilihan Sulit

1. Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas


1.1. Definisi hipersensitivitas
Hipersensitivitas adalah peningkatan reaktivitas atau sensitivitas terhadap antigen yang
pernah dipajankan atau dikenal sebelumnya. (Buku imunologi)
Atau respon imun ayng berlebihan dan yang tidak diinginkan karena dapat menimbulkan
kerusakan jaringan tubuh. (Buku IPD)

1.2. Klasifikasi hipersensitivitas

a.Menurut waktu timbulnya reaksi


- Reaksi cepat
Reaksi cepat terjadi dalam hitungan detik, menghilang dalam 2 jam. Ikatan silang antara
alergen dan IgE pada permukaan sel mast menginduksi penglepasan mediator vasoaktif.
Manifestasi reaksi cepat berupa anafilaksis sistemik atau anafilaksis berat.
- Reaksi intermediet
Reaksi intermediet terjadi setelah beberapa jam dan menghilang dalam 24 jam. Reaksi
intermediet diawali oleh IgG dan kerusakan jaringan pejamu yang disebabkan oleh sel
neutrofil atau sel NK. Manifestasi reaksi intermediet berupa :
Reaksi transfusi darah (eritroblastosis, fetalis, dan anemia hemolitik autoimun).
Reaksi Arthus lokal dan reaksi sistemik (serum sickness, vaskulitis nekrotis,
glomerulonefritis, artritis reumatoid dan LES).
- Reaksi lambat
Reaksi lambat terlihat sekitar 48 jam setalah terjadi pajanan dengan antigen yang terjadi
oleh aktivasi oleh sel Th. Pada DTH, sitokin yang dilepas sel T mengaktifkan sel efektor
makrofag yang menimbulkan kerusakan jaringan. Contoh reaksi lambat adalah dermatitis
kontak, reaksi M. Tuberkulosis dan reaksi penolakan tandur.
Perbedaan
Reaksi cepat
Reaksi intermediet
Reaksi lambat
Waktu timbul
Terjadi setelah
Terjadi setelah 48
Hitungan detik
reaksi
beberapa jam terpajan jam terpajan
6

b. Menurut Gell dan Coombs


- Reaksi hipersensitivitas tipe I atau reaksi cepat atau reaksi alergi.
- Reaksi hipersensitivitas tipe II atau reaksi sitotoksik.
- Reaksi hipersensitivitas tipe III atau reaksi kompleks imun.
- Reaksi hipersensitivitas tipe IV atau reaksi lambat.
Tipe I
Reaksi IgE
Ikatan silang antara
antigen dan IgE yang
diikat sel mast dan
basofil
melepas
mediator vasoaktif

Tipe II
Reaksi sitotoksik
(IgG atau IgM)
Ab
terhadap
antigen permukaan
sel menimbulkan
destruksi
sel
dengan
bantuan
komplemen
atau
ADCC

Tipe III
Reaksi kompleks
imun
Kompleks
Ag-Ab
mengaktifkan
kompelemen
dan
respons
inflamasi
melalui
infiltrasi
masif neutrofil

Tipe IV
Reaksi selular

Sel
Th1
yang
disensitasi
melepas
sitokin
yang
mengaktifkan
makrofag atau sel Tc
yang berperan dalam
kerusakan jaringan.
Sel Th2 dan Tc
menimbulkan respons
sama
Manifestasi khas : Manifestasi khas : Manifestasi khas : Manifestasi khas :
anafilaksis sistemik reaksi
transfusi, reaski lokal seperti dermatitis otak, lesi
dan lokal seperti eritroblastosis
Arthus dan sistemik tuberkulosis
dan
rinitis,
asma, fetalis,
anemia seperti
serum penolakan tandur
urtikaria,
alergi hemolitik autoimun sickness, vaskulitis
makanan, dan ekzem
dengan
nekrosis,
glomeruloneftritis,
AR dan LES
Klasifikasi Gell dan Coombs yang dimodifikasi (Tipe I-VI)
Mekanisme
Gejala
Contoh
Tipe I: IgE
Anafilaksis, urtikaria,
Penisilin dan b-laktam lain,
angioedem, mengi,
enzim, antiserum, protamin,
hipotensi, nausea, muntah,
heparin antibodi monoklonal,
sakit abdomen, diare
ekstrak alergen, insulin
Tipe II:
Agranulositosis
Metamizol, fenotiazin
Sitotoksik (IgG dan
IgM)
Anemia hemolitik
Penisilin, sefalosporin, b-laktam,
kinidin, metildopa
Trombositopenia
Karbamazepin, fenotiazin,
tiourasil, sulfonamid,
antikonvulsan, kinin, kinidin,
parasetol, sulfonamid, propil
tiourasil, preparat emas
Tipe III:
Panas, urtikaria, atralgia,
b-laktam, sulfonamid, fenitoin,
Kompleks imun
limfadenopati
streptomisin
(IgG dan IgM)
Serum sickness
Serum xenogenik, penisilin,
globulin anti-timosit
7

Tipe IV:
Hipersensitivitas selular

Eksim (juga sistemik)


Eritema, lepuh, pruritus

Granuloma

Penisilin, anestetik lokal,


antihistamin tropikal, neomisin,
pengawet, eksipien (lanolin,
paraben). desinfektan
Salisilanilid (halogeneted), asam
nalidik
Barbiturat, kinin
Penisilin, emas, barbiturat, bblocker
Ekstrak alergen, kolagen larut

(LE yang diinduksi obat?)


Resistensi insulin

Hidralazin, prokainamid
Antibodi terhadap insulin (IgG)

Fotoalergi
Fixed drug eruption
Lesi makulopapular
Tipe V:
Reaksi granuloma
Tipe VI:
Hipersensitivitas
Stimulasi

2. Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas tipe 1


2.1. Definisi hipersensitivitas tipe 1
Reaksi hipersensitifitas tipe 1 adalah suatu reaksi yang terjadi secara cepat atau reaksi
anafilaksis atau reaksi alergi mengikuti kombinasi suatu antigen dengan antibodi yang
terlebih dahulu diikat pada permukaan sel basofilia (sel mast) dan basofil.
2.2. Mekanisme hipersensitivitas tipe 1
Mekanisme reaksi tipe I :
1. Fase sensitasi yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikat silang
oleh reseptor spesifik (Fc-R) pada permukaan sel mast/basofil.
2. Fase aktivasi yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang
spesifik dan sel mast/basofil melepas iosinya yang berisikan granul yang menimbulkan
reaksi. Hal ini terjadi oleh ikatan silang antara antigen dan IgE.
3. Fase efektot yaiotu waktu terjadi repons yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek
mediator-mediator yang dilepas sel mast/basofil dengan aktivitas farmakologik.

Pajanan dengan antigen mengaktifkan sel Th2 yang merangsang sel B berkembang menjadi
sel plasma yang memproduksi IgE. Molekul IgE yang dilepas diikat oleh FceR1 pada selt
mast dan basofil. Pajanan kedua dengan alergen menimbulkan ikatan sulang antara antigen
dan IgE yang diikat sel mast, memacu penglepasan mediator farmakologis aktif (amin
vasoaktif) dari sel mast dan basofil. Mediator-mediator tersebut menimbulkan kontraksi otot
polos, meningkatkan permeabilitas vaskular dan vasodilatasi, kerusakan jaringan dan
anafilaksis.

Mediator Hipersensitivitas tipe I :


a. Histamin
Histamin merupakan komponen utama granul sel mast dan sekitar 10% fdari berat granul.
Histamin yang merupakan mediator primer yang dilepas akan diikat oleh reseptornya.
9

Ada 4 reseptor histamin (H1, H2, H3, H4) dengan distribusi yang berbeda dalam jaringan
dan bila berikatan dengan histamin, menunjukan berbagai efek.
b. PG dan LT
PG dan LT yang dihasilkan dari metabolisme asam arakidonat serta berbagai sitokin
berperan pada fase lambat reaksi tipe I. PG dan LT merupakan mediator sekunder yang
kemudian dibentuk dari metabolisme asam arakidonat atas pengaruh fosfolipase A2. Efek
biologisnya timbul lebih lambat, namun lebih menonjol dan berlangsung lebih lama
dibanding dengan histamin. LT berperan pada bronkokonstriksi, peningkatan
permeabilitas vaskular dan produksi mukus.
c. Sitokin
Berbagai sitokin dilepas sel mast dan basofil seperti IL-3, IL-4, IL-5, IL-6, IL-10, IL-13,
GM-CSF dan TNF-. Beberapa diantaranya berperan dalam manifestasi klinis tipe I.
Sitokin-sitokin tersebut mengubah lingkungan mikro dan dapat mengerahkan sel
inflamasi seperti sel neutrofil dan eusonofil.
Mediator primer utama pada hipersensitivitas Tipe 1
Mediator

Efek

Histamin

Peningkatan permeabilitas kapiler, vasodilatasi, kontraksi otot


polos, sekresi mukosa gaster

ECF-A

Kemotaksis eosinofil

NCF-A

Kemotaksis neutrofil

Protease

Sekresi mukus bronkial, degradasi membran basal pembuluh


darah, pembentukan produk pemecah komplemen

PAF

Agregasi dan degranulasi trombosit, kontraksi otot polos paru

Hidrolase asam

Degradasi matriks ekstraseluler

Mediator sekunder utama pada Hipersensitivitas Tipe 1


Mediator

Efek

Sitokin

Aktivasi berbagai sel radang

Bradikinin

Peningkatan permebilitas kapiler,


vasodilatasi, kontraksi otot polos,
stimulasi ujung saraf nyeri

Prostaglandin D2

Kontrakso otot polos paru, vasodilatasi,


agregasi trombosit

Leukotrien

Kontraksi otot polos, peningkatan


permeabilitas, kemotaksis

10

2.3. Manifestasi hipersensitivitas tipe 1


Manifestasi khas : anafilaksis sitemik dan lokal seperti rinitis, asma, urtikaria, alergi makanan
dan ekzem.
a. Reaksi lokal
Reaksi lokal terbatas pada jaringan atau organ spesifik yang biasanya melibatkan
permukaan epiltel tempat alergen masuk.
b. Reaksi sitemik-anafilaksis
Anafilaksis adalah reaksi tipe I yang dapat fatal dan terjadi dalam beberapa menit saja.
Anafilaksis ditimbulkan IgE yang dapat mengancam nyawa. Reaksi dapat dipacu
berbagai alergen seperti makanan (asal laut, kacang-kacangan), obat atau sengatan
serangga juga lateks, latihan jasmani dan bahan diagnostik lainnya.
c. Reaksi pseudoalergi atau anafilaktoid
Reaksi sistemik umum yang melibatkan penglepasan mediator oleh sel mast yang terjadi
tidak melalui IgE. Mekanisme pseudoalergi merupakan mekanisme jalur efektor
nonimun. Secara klinis reaksi ini menyerupai reaksi tipe I seperti syok, urtikaria,
bronkospasme, anafilaksis, pruritus tetapi tidak berdasarkan atas reaksi imun.
Reaksi Alergi
Jenis Alergi

Alergen Umum

Gambaran

Anafilaksis

Obat, serum, kacang-kacangan

Edema dengan peningkatan


permeabilitas kapiler, okulasi
trakea , koleps sirkulasi yang dapat
menyebabkan kematian

Urtikaris akut

Sengatan serangga

Bentol, merah

Rinitis alergi

Polen, tungau debu rumah

Edema dan iritasi mukosa nasal

Asma

Polen, tungau debu rumah

Konstriksi bronkial, peningkatan


produksi mukus, inflamasi saluran
nafas

Makanan

Kerang, susu, telur, ikan, bahan Urtikaria yang gatal dan potensial
asal gandum
menjadi anafilaksis

Ekzem atopi

Polen, tungau debu runah,


beberapa makanan

Inflamasi pada kulit yang terasa


gatal, biasanya merah dan ada
kalanya vesikular

11

3. Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas tipe 2


3.1. Definisi hipersensitivitas tipe 2
Reaksi tipe II disebut juga reaksi sitotoksik terjadi oleh karena dibentuk antibodi jenis igG
atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel penjamu.
3.2. Mekanisme hipersensitivitas tipe 2
Reaksi diawali oleh reaksi antara ab dan determinan antigen yang merupakan bagian dari
membran sel tergantung apakah komplemen/ molekul asesori dan metabolisme sel dilibatkan.
Mekanisme reaksi hipersensitivitas tipe 2 ini memiliki 2 jalur, yaitu :
a. Melalui jalur ADCC

b. Melalui jakur aktifitas kompleks

Reaksi hipersensitivitas sitotoksik


12

Waktu reaksi : menit - jam


Contoh: reaksi transfusi, drug-induced hemolytic anemia, granulositopenia, dan
trombositopenia
Diperantarai IgM atau IgG dan komplemen
Fagosit dan sel K punya peran
Interaksi antigen-antibodi pd permukaan sel, IgM atau IgG dgn antigen yang juga
merupakan bagian integral membran sel atau telah terserap atau menyatu menjadi
membran.
Mengaktifkan sistem komplemen dan sel yang terlibat dihancurkan.
Terapi: anti-inflamasi dan agen immunosupresif

Ag masuk tubuh menempel pada sel tertentu merangsang terbentuknya Ig G


atau Ig M mengaktifkan komplemen menimbulkan lisis
Gejala klinis

13

3.3. Manifestasi hipersensitivitas tipe 2


Reaksi Tranfusi
Bila golongan darah A mendapat transfuse golongan B terjadi reaksi transfuse, oleh karena
anti B isohemaglutinin berikatan dengan sel darah B yang menimbulkan kerusakan darah
direk oleh hemolysis massif intravascular. Dalam beberapa jam hemoglobin bebas dapat
ditemukan dalam plasma dan disaring melalui ginjal dan menimbulkan hemoglobinuria.
Beberapa hemoglobin diubah menjadi bilirubin yang pada kadar tinggi bersifat toksik.
Gejala khasnyaberupa demam, menggigil, nausea, bekuan dalam pembuluh darah, nyeri
pinggang bawah dan hemoglobunuria.
Penyakit Hemolitik Pada Bayi Baru Lahir
Penyakit ini ditimbulkan oleh inkompitibilitas Rh dalam kehamilan, yaitu bila ibu dengan
golongan Rh negative dengan janin bergolongan Rh positif.
Anemia Hemolitik
Antibiotika tertentu seperti penisilin, sefalosporin dan streptomisin dapat diabsorbsi
nonspesifik pada protein membrane SDM yang membentuk kompleks serupa molekul
hapten pembawa. Pada beberapa penderita, kompleks membentuk antibody yang
selanjutnya mengikat obat pada SDM dan dengan bantuan komplemen menimbulkan lisis
dengan dan anemia progresif.

14

4. Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas tipe 3


4.1. Definisi hipersensitivitas tipe 3
Reaksi hipersensitivitas tipe III atau yang disebut juga reaksi kompleks imun adalah reaksi
imun tubuh yang melibatkan kompleks imun yang kemudian mengaktifkan komplemen
sehingga terbentuklah respons inflamasi melalui infiltrasi masif neutrofil.
4.2. Mekanisme hipersensitivitas tipe 3
Dalam keadaan normal kompleks imun dalam sirkulasi diikat dan diangkut eritrosit ke
hati, limpa dan dimusnahkan oleh sel fagosit mononuklear. Di hati, limpa, paru tanpa
komplemen. Kompleks besar mudah dan cepat dimusnahkan oleh makrofag dalam hati
dibandingkan dengan kompleks kecil. Karena itu dapat lebih lama berada dalam sirkulasi.
Diduga gangguan fungsi fagosit merupakan salah satu penyebab mengapa kompleks tersebut
sulit dimusnahkan. Biasanya kompleks imun berada di dalam sirkulasi untuk jangka lama
tidak berbahaya, permasalahan akan timbul bila kompleks imun tersebut mengendap di
jaringan.
1. Kompleks imun mengendap di dinding pembuluh darah.
Makrofag yang diaktifkan kadang belum dapat menyingkirkan kompleks imun sehingga
makrofag dirangsang terus menerus untuk melepas berbagai bahan yang dapat merusak
jaringan. Kompleks imun terdiri atas antigen dalam sirkulasi dan IgM atau IgG3 (dapat
juga IgA) diendapkan di membran basal vaskular dan membran basal ginjal yang dapat
menimbulkan reaksi inflamasi lokal dan luas.
Kompleks yang terjadi dapat menimbulkan :
Agregasi trombosit
Aktivasi makrofag
Perubahan permeabilitas vaskular
Aktivasi sel mast
Produksi dan penglepasan mediator inflamasi dan kemotaktik
Influks neutrophil
2. Kompleks imun mengendap di jaringan.
Hal yang memungkinkan terjadi ialah ukuran kompleks imun kecil dan permeabilitas
vaskular yang meningkat, antara lain karena histamin yang dilepas sel mast.
Kompleks imun melepas C3a dan C5a (anafilatoksin) dan merangsang basofil dan
trombosit melepas berbagai mediator antara lain histamin yang meningkatkan permeabilitas
vaskular.
Kompleks imun tersebut juga mengaktifkan komplemen yang melepaskan berbagai
mediator terutama macrophage chemotactic factor. Makrofag yang dikerahkan tempat
tersebut akan merusak jaringan sekitarnya. Antigen dapat berasal dari infeksi kuman patogen
yang persisten (malaria), bahan yang terhirup (spora jamur yang menimbulkan alveolitis
alergik ekstrinsik) atau dari jaringan sendiri (penyakit autoimun).
Kompleks imun terbentuk setiap kali antibody bertemu dengan antigen, tetapi dalam
keadaan normal pada umumnya kompleks ini segera disingkirkan secara efektif oleh jaringan
15

retikuloendotel, tetapi ada kalanya pembentukan kompleks imun menyebabkan reaksi


hipersensitivitas.
Keadaan imunopatologik akibat pembentukan kompleks imun dalam garis besar dapat
digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu :
1) Dampak kombinasi infeksi kronis yang ringan dengan respons antibody yang lemah,
menimbulkan pembentukan kompleks imun kronis yang dapat mengendap di berbagai
jaringan.
2) Komplikasi dari penyakit autoimun dengan pembentukan autoantibodi secara terus
menerus yang berikatan dengan jaringan self.
3) Kompleks imun terbentuk pada permukaan tubuh, misalnya dalam paru paru, akibat
terhirupnya antigen secara berulang kali.
Pada reaksi hipersensitivitas tipe III, antibodi bereaksi dengan antigen bersangkutan
membentuk kompleks antigen antibodi yang akan menimbulkan reaksi inflamasi. Aktivasi
sistem komplemen, menyebabkan pelepasan berbagai mediator oleh mastosit. Selanjutnya
terjadi vasodilatasi dan akumulasi PMN yang menghancurkan kompleks. Di lain pihak proses
itu juga merangsang PMN sehingga selsel tersebut melepaskan isi granula berupa enzim
proteolitik diantaranya proteinase, kolegenase, dan enzim pembentuk kinin. Apabila
kompleks antigen-antibodi itu mengendap dijaringan, proses diatas bersamasama dengan
aktivasi komplemen dapat sekaligus merusak jaringan sekitar kompleks. Reaksi ini dapat
terjadi saat terdapat banyak kapiler twisty (glomeruli ginjal, kapiler persendian).

Mekanismenya :
Komplek imun mengaktifkan trombosit, makrofag dan komplemen
Komplemen melepaskan C3a dan C5a yang merangsang sel mast dan basofil
mengeluarkan mediator, sehingga terjadi anafilatoksin
Anafilaktosin bersama trombosit menyebabkan vasodilatasi
Anafilaktoksin juga dapat menarik neutrofil, neutrofil akan merusak jaringan
Komplemen juga dapat langsung merusak jaringan
Makrofag melepaskan IL-1

16

4.3. Manifestasi hipersensitivitas tipe 3


a. Reaksi lokal atau fenomen arthus.
Arthus menyuntikkan serum kuda ke dalam kelinci intradermal berulangkali dan menemukan
reaksi yang makin hebat di tempat suntikan.
Mula-mula hanya terjadi eritem ringan dan edema dalam 2-4 jam sesudah suntikan. Reaksi
tersebut menghilang esok hari. Suntikan kemudian menimbulkan edema yang lebih besar
dan suntikan yang ke 5-6 menimbulkan perdarahan dan nekrosis yang sulit sembuh. Hal ini
disebut fenomena Arthus yang merupakan bentuk reaksi dari kompleks imun.
Pada pemeriksaan mikroskopis, terlihat neutrofil menempel pada endotel vaskular dan
bermigrasi ke jaringan tempat kompleks imun diendapkan. Reaksi yang timbul berupa
kerusakan jaringan lokal dan vaskular akibat akumulasi cairan (edem) dan SDM (eritema)
sampai nekrosis. Reaksi tipe arthus dapat terjadi intrapulmoner yang diinduksi kuman,
spora jamur atau protein fekal kering.
C3a dan C5a (anafilatoksin) yang terbentuk pada aktivasi komplemen dapat
meningkatkan permeabilitas pembuluh darah yang menimbulkan edem. C3a dan C5a juga
berfungsi sebagai faktor kemotaktik. Neutrofil dan trombosit mulai dikerahkan di tempat
reaksi dan menimbulkan statis dan obstruksi total aliran darah. Sasaran anafilatoksin adalah
pembuluh darah kecil, sel mast, otot polos dan leukosit perifer yang menimbulkan kontraksi
otot polos, degranulasi sel mast, peningkatan permeabilitas vaskular dan respon tripel
terhadap kulit. Neutrofil yang diaktifkan memakan kompleks imun bersama dengan
trombosit yang digumpalkan melepas berbagai bahan seperti protease,kolagenase dan
bahan vasoaktif. Akhirnya terjadi perdarahan yang disertai nekrosis jaringan setempat.
Suntikan obat memacu pembentukan
kompleks imun.
1. kompleks
imun
mengaktifkan
komplemen jalur klasik.
2. Komplemen diikat sel mast.
3. dan menimbulkan degranulasi dan oleh
neutrofil yg memacu kemotaksis.
4. dan melepas enzim litik.

Dengan pemeriksaan imunofluoresen, antigen,antibodi dan berbagai komponen


komplemen dapat ditemukan di tempat kerusakan pada dinding pembuluh darah. Bila kadar
komplemen atau jumlah granulosit menurun, maka kerusakan khas dari arthus tidak terjadi.
Reaksi Arthus di dalam klinik dapat berupa vaskulitis.
b. Reaksi tipe III sistemik -serum sickness
17

Antigen dalam jumlah besar yang masuk ke dlm sirkulasi darah dapat membentuk
kompleks imun. Bila antigen jauh berlebihan dibandingkan antibodi, kompleks yang
dibentuk adalah lebih kecil yang tidak mudah untuk dibersihkan fagosit sehingga dapat
menimbulkan kerusakan jaringan di berbagai tempat. Dahulu reaksi ini lebih sering terlihat
pada pemberian antitoksin yang mengandung serum asing seperti antitetanus atau antidifteri
asal kuda.

Gambar Hubungan antara pembentukan kompleks imun dan timbulnya gejala pada serum
sickness.
Antigen dalam jumlah besar disuntikkan ke dalam kelinci pada hari 0. Bila antibodi yang
diproduksi membentuk kompleks dengan antigen yang diendapkan di ginjal,sendi dan
kapiler. Gejala serum sickness( biru muda) berhubungan dengan puncak pembentukan
kompleks imun. Bila kompleks imun dibersihkan, antibodi bebas ditemukan dalam
sirkulasi (garis putus-putus) dan gejala serum sickness berkurang. Gejala serum sickness
berupa demam, lemah, vaskulitis sistemik (ruam) dengan edema dan eritema,
limfadenopati, artritis dan kadang glomerulonefritis.
Antibodi disini biasanya jenis IgG atau IgM. Antigen (Ag) dan antibodi (Ab) bersatu
membentuk kompleks imun. Kompleks imun melepas C3a dan C5a (anafilatoksin) dan
merangsang basofil dan trombosit melepas berbagai mediator antara lain histamin.
Mediator lainnya dan MCF ( C3a,C5a,C5,C6,C7) mengerahkan polimorf yang melepas
enzim proteolitik dan protein polikationik, kompleks imun lebih mudah di endapkan di
tempat-tempat dengan tekanan darah yang meninggi dan disertai putaran arus, misalnya :
kapiler glomerulus, bifurkasi pembuluh darah, pleksus koroid dan korpus silier mata. Pada
LES tempat endapan adalah ginjal. Pada artitis reumatoid, sel plasma dalam sinovium
membentuk anti-IgG dan membentuk kompleks imun di sendi. Beberapa penyakit
kompleks imun.

18

5. Memahami dan menjelaskan hipersensitivitas tipe 4


5.1. Definisi hipersensitivitas tipe 4
Merupakan hipersensitivitas tipe lambat yang timbul lebih dari 24 jam setelah tubuh terpajan
dengan antigen.
5.2. Mekanisme hipersensitivitas tipe 4
Reaksi hipersensitivitas tipe IV dibagi dalam:
DTH yang terjadi melalui sel CD4+ dan T Cell Mediated Cytolisis yang terjadi melalui sel
CD8+.
1. DTH (Delayed Type Hypersensitivity) Tipe IV
Merupakan hipersensitivitas granulamatosis. Biasanya terjadi terhadap bahan yang tidak
dapat disingkirkan dari rongga tubuh seperti talkum dalam rongga peritonium dan
kolagen sapi dari bawah kulit.
a. Fase Sensitasi, membutuhkan 1-2 mingu setelah kontak primer; Th diaktifkan oleh
APC melalui MHC-II.
Berbagai APC seperti sel Langerhans (SD di kulit) dan makrofag menangkap antigen
dibawa ke kelenjar limfoid regional untuk dipresentasikan ke sel T sel T
teraktivasi CD4+ diaktifkan, berikatan dengan sel TDTH sel T tersensitasi
CD8+ beberapanya diaktifkan
b. Fase Efektor, pajanan ulang dengan antigen menginduksi sel efektor
Sel T tersensitasi (Th1) mengeluarkan sitokin (misal IFN-, TNF-) makrofag &
sel inflamasi nonspesifik lain teraktivasi

Pada beberapa hal, antigen asing tidak mudah dibersihkan sehingga respons DTH
memanjang dan dapat merusak jaringan pejamu dan menimbulkan reaksi granuloma.
Granuloma terbentuk bila makrofag terus menerus diaktifkan dan menempel satu
19

sama lainnya yang kadang membentuk sel datia yang, mendorong jaringan normal
dari tempatnya, membentuk nodul yang dapat diraba dan melepas sejumlah besar
enzim litik yang merusak jaringan sekitar. Pembuluh darah dapat dirusak dan
menimbulkan nekrosis.
2. T Cell Mediated Cytolisis (penyakit CD8+)
Sel CD8+/CTL/Tc yang langsung membunuh sel sasaran. Cenderung terbatas beberapa
organ saja dan biasanya tidak sistemik.
5.3. Manifestasi hipersensitivitas tipe 4

Dematitis kontak
Merupakan penyakit CD8+ yang terjadi akibat kontak dengan bahan yang tidak berbahaya
seperti formaldehid, nikel, bahan aktif pada cat rambut (contoh reaksi DTH).
Hipersensitivitas tuberkulin
Bentuk alergi spesifik terhadap produk filtrat (ekstrak/PPD) biakan Mycobacterium
tuberculosis yang apabila disuntikan ke kulit (intrakutan), akan menimbulkan reaksi ini
berupa kemerahan dan indurasi pada tempat suntikan dalam 12-24 jam. Pada individu
yang pernah kontak dengan M. tuberkulosis, kulit akan membengkak pada hari ke 7-10
pasca induksi. Reaksi ini diperantarai oleh sel CD4+.
Reaksi Jones Mote
Reaksi terhadap antigen protein yang berhubungan dengan infiltrasi basofil yang
mencolok pada kulit di bawah dermis, reaksi ini juga disebut sebagai hipersensitivitas
basofil kutan. Reaksi ini lemah dan nampak beberapa hari setelah pajanan dengan protein
dalam jumlah kecil, tidak terjadi nekrosis jaringan. Reaksi ini disebabkan oleh suntikan
antigen larut (ovalbumin) dengan ajuvan Freund.

20

6. Memahami dan menjelaskan farmakologi


6.1. Antihistamin (definisi, farmako kinetic, farmako dinamik, efek samping,
klasifikasi, indikasi, kontra indikasi)
Saat diketahui bahwa histamin mempengaruhi banyak proses fisiologik dan patologik,
maka dicarikan obat yang dapat mengantagonis efek histamine. Epinefrin merupakan anti
histamin pertama yang digunakan. Ada banyak anti histamin dan banyak yang digunkanan
dalam terpai, tetapi efeknya tidak banyak berbeda. Misalnya antergen, neoantergen,
difenhidramin, dan tripelenammin dalam dosis terapi efektif untuk mengobati edema, eritem
dan pruritus tetapi tidak dapat melawan efek hiperekskresi asam lambung akibat histamin.
Setelah beberapa waktu, ditemukan antihistamin baru yaitu burimamid, metiamid, dan
simetidin yang dapat menghambat sekresi asam lambung akibat histamin. Kedua jenis
antihistamin ini bekerja secara kompetitif dengan menghambat antihistamin dan reseptor H 1
atau H2.
Antagonis Reseptor H1 (AH1)

Farmakodimanik
Antagonis reseptor terhadap histamine. AH1 mengahambat efek histamine
pada pwmbuluh darah, bronkus dan bermacam macam otot polos; selain itu
jenis ini bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain
yang disertai penglepasan histamine endogen berlebihan.
Otot polos. Secara umum AH1 efektif menghambat kerja histamine pada otot
Permeabilitas kapiler. Peninggian permeabilitas kapiler dan edema akibat
histamine, dapat dihambat dengan efektif oleh AH1.
Kelenjar eksokrin. Efek perangsangan histamine terhadap sekresi cairan
lambung tidak dapat dihambat oleh AH1
Susunan saraf pusat. AH1 dapat merangsang maupun menghambat SSP. Efek
perangsangan yang kadang kadang terlihat biasanya adalah insomnia, gelisah
dan eksitasi. Dosis terapi AH1 umumnya menyebabkan penghambatan SSP dengan
gejala misalnya kantuk, berkurangnya kewaspadaan dan waktu reaksi yang
lambat.
Anestetik local. AH1 yang baikse bagai anestetik local adalah prometizin dan
piritamin. Efeknya membutuhkan kadar yang lebih tinggi daripada sebagai
antihistamin.
Antikoalergenik. Efek ini tidak memadai untuk terapi, tetapi efek antikoalergenik
ini dapat timbul pada beberapa pasien berupa mulut kering, kesukaran miksi dan
impotensi.
System kariovaskular. Dalam dosis terapi, AH1 tidak memperlihatkan efek yang
berarti pada system kardiovaskular.

Farmakokinetik
AH1 diabsorbsi secara baik. Efeknya timbul 15 30 menit setelah pemberian oral dan
maksimal setelah 1 2 jam. Lama kerja AH 1 generasi I setelah pemberian dosis tunggal
umumnya 4-6 jam. Kadar tertinggi pada paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot,
dan kulit biasanya lebih rendah. Tempat utama biotransformasi AH1 ialah hati, tetapi
dapat juga pada paru paru dan ginjal. AH 1 dieksresi melalui urin setelah 24 jam,
terutama dalam bentuk metabolitnya.
21

Indikasi
AH1 berguna untuk pengobatan simptomatik berbagai penyakit alergi dan mencegah
atau mengobati mabuk perjalanan.
Penyakit alergi. Berguna untuk mengobati alergi tipe eksudatif akut misalnya pada
polinosis dan urtikaria. Efeknya bersifat paliatif, membatasi dan menghambat efek
histamine yang dilepaskan sewaktu reaksi antigen-antibodi terjadi. AH 1 tidak
berpengaruh terhadap intensitas reaksi antigen-antibodi yang merupakan penyebab
berbagai gangguan alergi.
Mabuk perjalanan dan keadaan lain. AH1 tertentu misalnya difenhidramin,
dimenhidrat, derivate piperazin dan prometazin dapat digunakan untuk mencegah dan
mengobati mabuk perjalanan udara laud an darat. Karena AH1
memiliki
antikolinergik yang kuat, maka diduga sebagian besar efek terhadap mabuk perjalanan
didasarkan oleh efek antikolinergiknya. Untuk mencegah mabuk perjalanan,
sebaiknya diberikan setengah jam sebelum perjalanan.

Efek samping
Pada dosisi terapi, semua AH1 menimbulkan efek samping walaupun jarang bersifat
serius dan kadang kadang hilang bila pengobatan diteruskan. Efek samping yang paling
serius adalah sedasi, yang justru menguntungkan pasien yang dirawat di RS atau pasien
yang membutuhkan banyak tidur.
Efek samping yang berhubungan dengan efek sentral AH 1 ialah vertigo, tinnitus,
lelah, penat, inkoordinasi, penglihatan kabur, diplopia, euphoria, gelisah, insomnia, dan
tremor.

Kontraindikasi
Sopir atau pekerja yang memerlukan kewaspadaan yang menggunkan AH 1 perlu
diperingatkan tentang kemungkinan timbulnya kantuk. AH1 sebagai campuran pada resep,
harus digunakan secara hati hati karena efek AH 1 yang bersifat aditif dengan alcohol,
obat penenang, atau hipnotik sedative.

Klasifikasi
Golongan dan contoh
obat

Etanolamin
- Karbiknoksamin
- Difenhidramin
- Dimenhidrinat
Etilenediamin
-pirilamin
-tripelenamin

Dosis
dewasa

Aktivitas
antikolinergi
k
ANTIHISTAMIN GENERAASI I
4-8 mg
3-4 jam
+++
25-50 mg
4-6 jam
+++
50 mg
4-6 jam
+++

25-50 mg
25-50 mg

Masa
kerja

4-6 jam
4-6 jam

+
+

Komentar

Sedasi ringan sampai sedang


Sedasi kuat, anti-motion
sickness
Sedasi kuat, anti-motion
sickness
Sedasi kuat
Sedasi kuat

22

Piperazin
- hidroksizin
- siklizin
- meksizlin

25-100
mg
25-50 mg
25-50 mg

6-24 jam
4-6 jam
12-24 jam

?
_
_

Sedasi kuat
Sedasi ringan, anti-motion
sickness
Sedasi ringan, anti-motion
sickness

Alkilamin
- klorfeniramin
- bromfeniramin

4-8 mg
4-8 mg

4-6 jam
4-6 jam

+
+

Sedasi ringan, komponen obat


flu
Sedasi ringan

Derivate fenotiazin
- prometizin

10-25 mg

4-6 jam

+++

Sedasi kuat, antimetik

Lain-lain
- siproheptadin
- mebhidrolin
napadisilat

4 mg
50-100
mg

6 jam
4 jam

+
+

Sedasi sedang, juga


antiserotonin

ANTIHISTAMIN GENERASI II
- astemizol
- feksofenadin
Lain-lain
- loratadin
- setirizin

10 mg
60 mg

<24 jam
12-24 jam

_
_

Mulai kerja lambat


Risiko aritmia lebih rendah

10 mg
5-10 mg

24 jam
12-24 jam

Masa kerja lebih lama

Antagonis Reseptor H2 (AH2)


AH2 bekerja mengahambat sekresi asam lambung. Burimamid dan metilamid merupakan
antagonis reseptor H2 yang pertama kali ditemukan, namun Karena toksik maka tidak
digunakan di klinik. Antagonis resepetor H2 yang digunakan sekarang ini adalah simetidin,
ranitidine, famotidine, dan nizatidin.
Simetidin dan Ranitidin
a. Farmakodinamik
Simetidin dan ranitidine menghambat reseptor H2 secara selektif dan
reversible. Perangsangan reseptor H2 akan merangsang sekresi asam lambung,
sehingga pada pemberian simetidin atau ranitidine sekresi asam lambung
dihambat.
b. Farmakokinetik
Bioavailbilitas oral simetidin sekitar 70%, sama dengan setelah pemberian IV
atau IM. Absorbs simetidin diperlambat oleh makanan, sehingga simetidin
diberikan bersama atau segera setelah makan dengan maksud untuk

23

memperpanjang efek pada periode pasca makan. Sekitar 50-80% dari dosis IV dan
40% dari dosis oral simetidin dieksresi dalam bentuk asal urin.
Bioavaibilitas oral ranitidine sekitar 50% dan meningkat pada pasien penyakit
hati. Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam 1-3 jam setelah pengguna 150 mg
ranitidine secara oral, dan yang terikat pada protein plasma hanya 15%. Ranitidine
dan metabolitnya dieksresi terutama melalui ginjal, sisanya melalui tinja.
c. Indikasi
Efektif untuk mengatasi gejala akut tukak duodenum dengan pemberian satu
kali sehari yang diberikan pada malam hari. Dan mempercepat penyembuhannya
dengan memberikan simetidin 800 mg, ranitidine 300 mg, famotidine 40 mg, atau
nizatidin 300 mg satu kali sehari selama 8 minggu. Dengan dosis lebih kecil
umunya dapat membantu mencegah kambuhnya tukak duodenum.
d. Efek samping
Insidens efek samping kedua obat ini rendah dan umumnya berhubungan
denga penghambatan terhadap reseptor H2; beberapa efek samping tidak
berhubungan dengan penghambatan reseptor yaitu, nyeri kepala, pusing, malaise,
myalgia, mual, diare, konstipasi, ruam kulit, pprirotus, kehilangan libido, dan
impoten.
e. Kontraindikasi
Karena eksresi antagonis reseptor H2 terutama melalui ginjal maka pada
pasien gangguan fungsi ginjal dosis perlu dikurangi.
Simetidin dapat menyebabkan berbagai gangguan SSP terutama pada pasien
usia lanjut atau dengan penyakit hati atau ginjal. Gejala gangguan SSP berupa
slurred speech, somnolen, letargi, gelisah, bingung, disorientasi, agitasi,
halusinasi, dan kejang. Gejala tersebut dapat hilang atau membaik bila pengobatan
dihentikan.
Famotidine
a. Farmakodinamik
Sama seperti simetidin dan ranitidine, tetapi tiga kali lebih poten daripada
simetidin.
b. Farmakokinetik
Mencapai kadar puncak di plasma kira kira dalam dua jam setelah
penggunaan decara oral, massa paruh eliminasi 3 8 jam dan bioavaibilitasnya
40-50%. Setelah dosis oral tunggal, sekitar 25 % dari dosis ditemukan dalam
bentuk asal di urin. Pada pasien gagal ginjal berat masa paruh eliminasi dapat
melebihi 20 jam.
c. Indikasi
Efektivitas obat ini untuk tukak duodenum dan tukak lambung setelah 8
minggu pengobatan sebanding dengan ranitidine dan simetidin. Famotidine juga
mengurangi kekambuhan tukak duodenum yang secara klinis bermakna.
d. Efek samping
Efek samping famotidine biasanya ringan dan jarang terjadi, misalnya sakit
kepala, pusing, konstipasi, dan diare. Obat ini tidak menimbulkan efek
antiandrogenik.
Nizatidin
a. Farmakodinamik
24

Potensi nizatidin dalam menghambat asam lambung kurang lebih sama dengan
ranitidine.
b. Farmakokinetik
Bioavaibilitas oral nizatidin lebih dari 90% dan tidak dipengaruhi oleh
makanan atau antikolinergik. Klirens menurun pada pasien uremik dan usia lanjut.
Kadar puncak salam serum setelah pemberian oral dicapai dalam 1 jam, masa
paruh plasma sekitar 1 jam dan lama kerja sampai 10 jam. 90% dari dosis yang
digunakan ditemukan di urin dalam 16 jam.
c. Indikasi
Efektivitas untuk pengobatan gangguan asam lambung sebanding dengan
ranitidine dan simetidin. Dengan pemberian satu atau dua kali sehari biasanya
dapat menyembuhkan tukak duodenalum dalam 8 minggu dan dengan pemberian
satu kali sehari dapat mencegah kekambuhan.
d. Efek samping
Nizatidin umumnya jarang menimbulkan efek samping. Efek samping ringan
dalam saluran cerna dapat terjadi.

6.2. Kortikosteroid (definisi, farmako kinetic, farmako dinamik, efek samping,


klasifikasi, indikasi, kontra indikasi)

Definisi
Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di bagian
korteks kelenjar adrenal sebagai tanggapan atas hormon adrenokortikotropik (ACTH)
yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis, atau atas angiotensin II. Hormon ini berperan
pada banyak sistem fisiologis pada tubuh, misalnya tanggapan terhadap stres, tanggapan
sistem kekebalan tubuh, dan pengaturan inflamasi, metabolisme karbohidrat, pemecahan
protein, kadar elektrolit darah, serta tingkah laku.
Kortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok :
berdasarkan atas aktivitas biologis yang menonjol darinya, yakni glukokortikoid
(contohnya kortisol) yang berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak,
dan protein, juga bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan
fosfolipid, serta dapat pula menurunkan kinerja eosinofil.
Kelompok lain dari kortikosteroid adalah mineralokortikoid (contohnya aldosteron),
yang berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam di
ginjal. Beberapa kortikosteroid menunjukkan kedua jenis aktivitas tersebut dalam
beberapa derajat, dan lainnya hanya mengeluarkan satu jenis efek.
Hormon kortikosteroid dihasilkan dari kolesterol di korteks kelenjar adrenal yang
terletak di atas ginjal. Reaksi pembentukannya dikatalisis oleh enzim golongan sitokrom
P450.

Farmakokinetik
Perubahan struktur kimia sangat mempengaruhi kecepatan absorpsi, mulai kerja dan
lama kerja karena juga mempengaruhi afinitas terhadap reseptor dan ikatan protein.

25

Glukokortikoid dapat di absorpsi melalui kulit, sakus konjungtiva dan ruang sinovial.
Penggunaan jangka panjang atau pada daerah kulit yang luas dapat menyebabkan efek
sistematik, antara lain supresi korteks adrenal.

Farmakodinamik
- Kortikosteroid mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak.selain itu
juga mempengaruhi fungsi sistem kardiovaskular, ginjal, otot lurik, sistem saraf dan
organ lain.
- Dalam klinik umumnya kortikosteroid dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu
glukokortikoid dan mineralokortikoid.
Efek utama glukokortikoid ialah pada penyimpanan glikogen hepar dan efek
anti-inflamasi, sedangkan pengaruhnya pada keseimbangan air dan elektrolit
kecil.
Efek pada mineralokortikoid ialah terhadap keseimbangan air dan elektrolit,
sedangkan pengaruhnya pada penyimpanan glikogen hepar sangat kecil.
- Sediaan kortikosteroid dapat dibedakan menjadi 3 golongan berdasarkan massa
kerjanya.
Sediaan kerja singkat mempunyai masa paruh biologis kurang dari 12 jam.
Sediaan kerja sedang mempunyai masa paruh biologis antara 12-36 jam.
Sediaan kerja lama mempunyai masa paruh biologis lebih dari 36 jam.

Efek samping
o Efek samping dapat timbul karena peenghentian pemberian secara tiba-tiba atau
pemberian terus-menerus terutama dengan dosis besar.
o Pemberian kortikosteroid jangka lama yang dihentikan tiba-tiba dapat menimbulkan
insifisiensi adrenalm akut dengan gejala demam, malgia, artralgia dan malaise.
o Komplikasi yang timbul akibat pengobatan lama ialah gangguan cairan dan elektrolit ,
hiperglikemia dan glikosuria, mudah mendapat infeksi terutama tuberkulosis, pasien
tukak peptik mungkin dapat mengalami pendarahan atau perforasi, osteoporosis dll.
o Alkalosis hipokalemik jarang terjadi pada pasien dengan pengobatan derivat
kortikosteroid sintetik.
o Tukak peptik ialah komplikasi yang kadang-kadang terjadi pada pengobatan dengan
kortikosteroid. Sebab itu bila bila ada kecurigaan dianjurkan untuk melaakukan
pemeriksaan radiologik terhadap saluran cerna bagian atas sebelum obat diberikan.

Klasifikasi
Meskipun kortikosteroid mempunyai berbagai macam aktivitas biologik, umumnya
potensi sediaan alamiah maupun yang sintetik ditentukan oleh besarnya efek retensi
natrium dan penyimpanan glikogen di hepar atau besarnya khasiat anti-inflamasinya.
Sediaan kortikosteroid sistemik dapat dibedakan menjadi tiga golongan berdasarkan masa
kerjanya, potensi glukokortikoid, dosis ekuivalen dan potensi mineralokortikoid.
Tabel perbandingan potensi relatif dan dosis ekuivalen beberapa sediaan
kortikosteroid
Kortikosteroid

Potensi
Mineralkortikoid

Glukokortikoid

Lam
a
kerj

Dosis
ekuivalen
(mg)*
26

Glukokortikoid
Kortisol
(hidrokortison)

20

Kortison

0,8

0,8

25

6--metilprednisolon

0,5

Prednisone

0,8

Prednisolon

0,8

Triamsinolon

Parametason

10

Betametason

25

0,75

Deksametason

25

0,75

Aldosteron

300

0.3

Fluorokortison

150

15.0

2.0

Desoksikortikosteron
asetat

20

0.0

Mineralokortikoid

Keterangan:
* hanya berlaku untuk pemberian oral atau IV.
S = kerja singkat (t1/2 biologik 8-12 jam)
I = intermediate, kerja sedang (t1/2 biologik 12-36 jam)
L = kerja lama (t1/2 biologik 36-72 jam)
Pada tabel diatas terlihat bahwa triamsinolon, parametason, betametason, dan
deksametason tidak mempunyai efek mineralokortikoid. Hampir semua golongan
kortikosteroid mempunyai efek glukokortikoid. Pada tabel ini obat disusun menurut
kekuatan (potensi) dari yang paling lemah sampai yang paling kuat. Parametason,
betametason, dan deksametason mempunyai potensi paling kuat dengan waktu paruh 3672 jam. Sedangkan kortison dan hidrokortison mempunyai waktu paruh paling singkat
yaitu kurang dari 12 jam. Harus diingat semakin kuat potensinya semakin besar efek
samping yang terjadi.5
Efektifitas kortiksteroid berhubungan dengan 4 hal yaitu vasokonstriksi,
antiproliferatif, immunosupresif dan antiinflamasi. Steroid topikal menyebabkan
vasokontriksi pembuluh darah di bagian superfisial dermis, yang akan mengurangi
eritema. Kemampuan untuk menyebabkan vasokontriksi ini biasanya berhubungan
dengan potensi anti-inflamasi, dan biasanya vasokontriksi ini digunakan sebagai suatu
tanda untuk mengetahui aktivitas klinik dari suatu agen. Kombinasi ini digunakan untuk
membagi kortikosteroid topikal mejadi 7 golongan besar, diantaranya Golongan I yang
paling kuat daya anti-inflamasi dan antimitotiknya (super poten). Sebaliknya golongan
VII yang terlemah (potensi lemah).

27

Berikut tabel penggolongan kortikosteroid topikal berdasarkan potensi klinis


Klasifikasi
Golongan 1: (super poten)

Golongan II: (potensi tinggi)

Nama Dagang
Diprolene ointment
Diprolene AF cream
Psorcon ointment
Temovate ointment
Temovate cream
Olux foam
Ultravate ointment
Ultravate cream
Cyclocort ointment
Diprosone ointment
Elocon ointment
Florone ointment
Halog ointment
Halog cream
Halog solution
Lidex ointment
Lidex cream
Lidex gel
Lidex solution
Maxiflor ointment
Maxivate ointment
Maxivate cream
Topicort ointment
Topicort cream
Topicort gel

Golongan III: (potensi tinggi)

Nama Generik
0,05% betamethason dipropionate
0,05% diflorasone
diacetate
0,05% clobetasol propionate
0,05% halobetasol propionate
0,1% amcinonide
0,05% betamethasone dipropionate
0,01% mometasone fuorate
0,05% diflorasone diacetate
0,01% halcinonide
0,05% fluocinonide

0,05% diflorasone diacetate


0,05% betamethasone dipropionate
0,25% desoximetasone
0,05% desoximetasone

Golongan IV: (potensi medium)

Aristocort A ointment
Cultivate ointment
Cyclocort cream
Cyclocort lotion
Diprosone cream
Flurone cream
Lidex E cream
Maxiflor cream
Maxivate lotion
Topicort LP cream
Valisone ointment

Golongan V: (potensi medium)

Aristocort ointment
Cordran ointment
Elocon cream
Elocon lotion
Kenalog ointment
Kenalog cream
Synalar ointment

0,1% triamcinolone acetonide


0,005% fluticasone propionate
0,1 amcinonide
0,05% betamethasone dipropionate
0,05% diflorosone diacetate
0,05% fluocinonide
0,05% diflorosone diacetate
0,05% betamethasone dipropionate
0,05% desoximetasone
0,01% betamethasone valerate
0,1% triamcinolone acetonide
0,05% flurandrenolide
0,1% mometasone furoate
0,1% triamcinolone acetonide
28

Westcort ointment

Golongan VI: (potensi medium)

Golongan VII: (potensi lemah)

Cordran cream
Cutivate cream
Dermatop cream
Diprosone lotion
Kenalog lotion
Locoid ointment
Locoid cream
Synalar cream
Tridesilon ointment
Valisone cream
Westcort cream
Aclovate ointment
Aclovate cream
Aristocort cream
Desowen cream
Kenalog cream
Kenalog lotion
Locoid solution
Synalar cream
Synalar solution
Tridesilon cream
Valisone lotion

0,025% fluocinolone acetonide


0,2% hydrocortisone valerate
0,05% flurandrenolide
0,05% fluticasone propionate
0,1% prednicarbate
0,05% betamethasone dipropionate
0,1% triamcinolone acetonide
0,1% hydrocortisone butyrate
0,025% fluocinolone acetonide
0,05% desonide
0,1% betamethasone valerate
0,2% hydrocortisone valerate
0,05% aclometasone
0,1% triamcinolone acetonide
0,05% desonide
0,025% triamcinolone acetonide
0,1% hydrocortisone butyrate
0,01% fluocinolone acetonide
0,05% desonide
0,1% betamethasone valerate

Obat topical dengan


hidrokortison, dekametason,
glumetalone, prednisolone,
dan metilprednisolone

Indikasi
Dari pengalaman klinis diajukan 6 prinsip yang harus diperhatikan sebelum obat ini
digunakan :
Untuk tiap penyakit pada tiap pasien, dosis efektif harus ditetapkan dengan trial dan
error dan harus di evaluasi dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan penyakit.
Suatu dosis tunggal besar kortikosteroid umumnya tidak berbahaya.
Penggunaan kortikosteroid untuk beberapa hari tanpa adanya kontraindikasi spesifik,
tidak membahayakan kecuali dengan dosis sangat besar.
Bila pengobatan diperpanjang sampai 2 minggu atau lebih dari hingga dosis melebihi
dosis substisusi, insidens efek samping dan efek letal potensial akan bertambah.
Kecuali untuk insufisiensi adrenal, penggunaan kortikosteroid bukan merupakan
terapi kausal ataupun kuratif tetapi hanya bersifat paliatif karena efek antiinflamasinya.
Penghentian pengobatan tiba-tiba pada terapi jangka panjang dengan dosis besar,
mempunyai risiko insufisiensi adrenal yang hebat dan dapat mengancam jiwa pasien.
29

Kontraindikasi
Sebenarnya sampai sekarang tidak ada kontraindikasi absolut kortikosteroid.
Pemberian dosis tunggal besar bila diperlukan selalu dapat dibenarkan, keadaan yang
mungkin dapat merupakan kontraindikasi relatif dapat dilupakan, terutama pada keadaan
yang mengancam jiwa pasien.
Bila obat akan diberikan untuk beberapa hari atu beberapa minggu, kontraindikasi
relatif yaitu diabetes melitustukak peptik/duodenum, infeksi berat, hipertensi atau
gangguan sistem kardiovaskular lainnya.

30

7. Memahami dan menjelaskan Batasan Hukum untuk Menentukan Alternatif


Terbaik dari Dua Pilihan Sulit

Maslahah
Kitab al-Mustashfa, Imam al-Ghazali mengemukakan penjelasan tentang almaslahah yaitu: Pada dasarnya al-maslahah adalah suatu gambaran untuk
mengabil manfaat atau menghindarkan kemudaratan, tapi bukan itu yang kami
maksudkan, sebab meraih manfaat dan menghindarkan kemudaratan terseut
bukanlah tujuan kemasalahatan manusia dalam mencapai maksudnya. Yang kami
maksud dengan maslahah adalah memelihara tujuan syara.
Ungkapan al-Ghazali ini memberikan isyarat bahwa ada dua bentuk
kemaslahatan, yaitu
Kemasalahatan menurut manusia, dan
Kemaslahatan menurut syariat.
Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah dikisahkan bahwa seorang Anshar
terluka di perang Uhud. Rasulullah pun memanggil dua orang dokter yang ada di kota
Madinah, lalu bersabda, Obatilah dia.
Dalam riwayat lain ada seorang sahabat bertanya,Wahai Rasulullah, apakah
ada kebaikan dalam ilmu kedokteran? Rasullah menjawab, Ya,
Begitu pula yang diriwayatkan dari Hilal bin Yasaf bahwa seorang lelaki
menderita sakit di zaman Rasulullah. Mengetahui hal itu, beliau bersabda,
Panggilkan dokter. Lalu Hilal bertanya, Wahai Rasulullah, apakah dokter bisa
melakukan sesuatu untuknya? Ya, jawab beliau. (HR Ahmad dalam Musnad:
V/371 dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf: V/21)
Hilal meriwayatkan bahwa Rasulullah mnjenguk orang sakit lalu bersabda,
Panggilkan dokter! kemudian ada yang bertanya, Bahkan engkau mengatakan hal
itu, wahai Rasulullah? Ya, jawab beliau.
Berdasarkan pemaparan di atas, tampak jelas bagaimana Rasulullah
menganjurkan kita untuk berobat dan berusaha menggunakan ilmu kedokteran yang
diciptakan Allah untuk kita. Kita juga ditekankan agar tidak menyerah pada penyakit
karena Rasulullah bersabda, Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai
Allah daripada mukmin yang lemah. (HR Muslim (34) dan Ahmad: II/380)
Di antaranya yang ada di Musnad Ahmad. Hadits Ziyadah bin Alaqah dari
Usamah bin Syuraik menuturkan,Aku berada bersama Nabi lalu datanglah
sekelompok orang Badui dan bertanya,Wahai Rasulullah, apakah kita boleh berobat?
Rasulullah menjawab, Ya, wahai hamba Allah, berobatlah. Sesungguhnya Allah
tidak menciptakan penyakit kecuali Allah menciptakan obatnya, kecuali satu macam
penyakit. Mereka bertanya,Apa itu? Rasulullah menjawab,Penyakit tua.(HR
Ahmad dalam Musnad : IV/278, Tirmidzi dalam Sunan (2038))
Nabi bersabda,Setiap penyakit pasti ada obatnya. Jika obat tepat pada
penyakitnya maka ia akan sembuh dengan izin Allah. (HR Muslim: I/191)
Abu Hurairah meriwayatkan secara marfu, Tidaklah Allah menurunkan panyakit
kecuali menurunkan obatnya.(HR Bukhari: VII/158)
Dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda, Kesembuhan ada pada tiga hal, minum
madu, pisau bekam, dan sengatan api. Aku melarang umatku menyengatkan api.
(HR Bukhari dan Muslim)
Dari firman Allah disini dapat dipahami: bahwasanya agama islam di bagun
untuk kemaslahatan artinya : semua syariat dalam perintah dan larangannya serta
31

hukum-hukumnya adalah untuk mashoolihi (manfaat-manfaat) dan makna


masholihi adalah : jamak dari maslahat artinya : manfaat dan kebaikan.
Misal : Allah melarang minuman keras dan judi karena mudharat (bahayanya) lebih
besar dari pada manfaatnya, sebagaimana dikatakan dalam QS : Al-Baqorah :219


2:219. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada
keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa
keduanya lebih besar dari manfaatnya.
1. Firman Allah taala :
(157 : )
Dan dia menghalalkan yang baik bagi mereka serta mengharamankan bagi mereka
segala sesuatu yang buruk ( al araf : 157 )
Rokok termasuk hal yang buruk dan membahayakan diri sendiri , dan orang lain
serta tak sedap baunya.
2. ( 195 : )
Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan ( al baqoroh
: 195)
Rokok mengakibatkan penyakit yang bisa membinasakan seperti kanker, penyakir
paru-paru dan lain sebagainya.
3. ( 29 : )
Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah terhadap kalian Maha
menyayangi ( an nisa : 29 )
Rokok bisa membunuh penghisapnya secara perlahan-lahan
4. ( 19 : )
Dosa keduanya ( minuman keras dan judi ) lebih besar dari pada manfaatnya. (QS
Al-Baqoroh : 219 )
Rokok bahayanya lebih besar dari pada manfaatnya baik bagi dirinya sendiri
ataupun orang lain.
5. ( 26 : )
Janganlah menghambur-hamburkan ( hartamu ) dengan boros, sesungguhnya
pemborosan itu adalah saudaranya syaithon. (QS Al-Isra : 26 )
Membeli rokok adalah merupakan pemborosan dan pemborosan termasuk
perbuatannya syaithon.
6. Rasulullah Shallallahualaihi wasallam bersabda :
tidak boleh membahayakan diri sendiri ataupun orang lain
Merokok membahayakan si perokok, menganggu orang lain dan membuang-buang
harta.
7. Sabda Nabi Muhammad Shallallahualaihi wasallam :
( ) ( )
Allah membenci untukmu perbuatan menyia-yiakan harta. ( HR bukharimuslim ).
Merokok adalah menyia-nyiakan harta dan dibenci Allah.
8. Sabda Rasulullah Shallallahualaihi wasallam :

( )
Perumpamaan kawan duduk yang baik dengan kawan duduk yang jelek ialah
seperti pembawa minyak wangi dengan peniup api (tukang pandai besi) (HR
Bukhari-Muslim)
Perokok adalah kawan duduk yang jelek yang meniup api yang bisa membakar
orang di sekitarnya ataupun menyebabkan bau yang tidak sedap.
32

9. ( )
Barang siapa menghirup (meminum) racun hingga mati maka racun itu akan berada
di tangannya lalu dihirupkan slama-lamanya di neraka jahannam. (HR Muslim).
Rokok mengandung racun (nikotin) yang membunuh penghisapnya perlahan-lahan
dan menyiksanya.
10. Sabda Rasulullah Shallallahualaihi wasallam :
( )
Barang siapa makan bawang putih atau bawang merah hendaknya menyingkir
(menjauh) dari kita dan menjauhi masjid kami dan duduklah dirumah. (HR
Bukhari-Muslim).
Rokok lebih busuk baunya dari pada bawang putih ataupun bawang merah .
11. Sebagian besar ahli fiqh mengharamkan rokok, sedang yang tidak
mengaharamkan rokok belum melihat bahayanya yang nyata yaitu penyakit kanker
dan paru-paru yang bisa membunun penghisapnya.

Al-Quran obat terbaik


Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman. Dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada
orang-orang zalim selain kerugian. (Al-Isra:82)
Dalam hal ini Rasulullah bersabda, Di dalam tubuh terdapat segumpal darah,
jika ia baik maka seluruh tubuh akan menjadi baik.(HR Bukhari: I/153 (53) dalam
Fathul Bari)
Mafsadah
Al-mafsadah, yaitu sesuatu yang banyak keburukkannya.

33

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi, Elysabeth. (2009). Farmakologi dan Terapi. Edisi
V, Jakarta : Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI
Sudoyo AW, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi V Jilid I. Jakarta:
InternaPublishing
Baratawidjaja, Karnen Garna, Iris Rengganis. 2010. Imunologi Dasar. Ed. 9.
FKUI:Jakarta.
Robbins SL, Cotran RS, Kumar V. 2004. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta: EGC
http://thifalblog.wordpress.com/2011/02/11/agama-ini-dibangun-untuk-kebaikan-danmaslahat-dalam-penetapan-syariatnya-dan-untuk-menolak-kerusakan/

34