Anda di halaman 1dari 37

Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Tingkat Nasional

KOPER DM POSKO PERAWATAN PENDERITA DIABETES MELITUS


SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PELAKSANAAN ASUHAN
KEPERAWATAN DM DIRUMAH DENGAN MENGADOPSI
KONSEP DIABETIC SELF MANAGEMENT EDUCATION
(DSME)

Diusulkan oleh:
Gina Apriana 1110321011/2011
Marissa Ulkhair 1311311089/2013
Bella Hartini Daulay 1311312042/2013

UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015

Abstrak

Data dari Global status report on Noncommunicable Disease (NCD) World


Health Organization (WHO) DM menempati peringkat ke-6 sebagai penyebab
kematian. International Diabetes Federation (IDF) memperhitungkan angka kejadian
DM di dunia pada tahun 2012 adala 371 juta jiwa, tahun 2013 meningkat menjadi
382 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2035 DM akan meningkat menjadi 592
juta jiwa (Trisyana, 2013).
Sebagai penyakit kronis, DM membutuhkan intervensi terapi seumur hidup
untuk mengelola penyakit dan mencegah komplikasi lebih lanjut (Triplitt dkk., 2005).
Menurut Perkeni (2006). Manajemen pengelolaan dan pencegahan komplikasi DM
sebagai penyakit kronis, memiliki potensi untuk mempengaruhi kualitas hidup.
Dalam hal ini, kualitas hidup seharusnya menjadi perhatian penting bagi para
profesional kesehatan karena dapat menjadi acuan keberhasilan dari suatu
tindakan/intervensi atau terapi (Coons, 2005).
Diabetes Self-Management Education (DSME) adalah suatu proses
berkelanjutan yang dilakukan untuk memfasilitasi pengetahuan, keterampilan,
dan kemampuan pasien DM untuk melakukan perawatan mandiri (Funnel,
2008). Tujuan umum DSME adalah mendukung pengambilan keputusan,
perilaku perawatan diri, pemecahan masalah dan kolaborasi aktif dengan tim
kesehatan untuk memperbaiki hasil klinis, status kesehatan, dan kualitas hidup
(Funnel, 2008). DSME akan tepat jika di berikan kepada masyarakat penderita
DM di rumah. Untuk itu diperlukannya peran perawat dalam dalam memberikan
asuhan keperawatan DM. KoPer DM Posko Perawatan Penderita Diabetes
Melitus dapat menjadi wadah perawat dalam memberikan asuhan keperawatan klien
di rumah. Perawat akan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya seperti
dokter, ahli gizi dan ahli farmasi, dan psikolog dalam memberikan pelayanan
kesehatan DM yang komprehensif. Koper DM akan mengaplikasikan metode Melalui
Koper DM diarapkan menjadi tempat berkumpul para penderita DM, saling
membantu, bercerita, dan memotivasi untuk mempertahankan pola hidup sehat. Hal
itu diharapkan mampu membentuk perilaku para penderita ke arah yang adaptif.
Keyword : Diabetes Melitus, Asuhan keperawatan, Manajemen, DSME, Pilar DM,
Posko

ii

Kata Pengantar
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya yang telah
dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul Koper
Dm Posko Perawatan Penderita Diabetes Melitus Sebagai Alternatif Dalam
Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Dm Dirumah Dengan Mengadopsi Konsep
Diabetic Self Management Education (Dsme). Karya tulis ini disusun untuk Lomba
Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Tingkat Nasional. Tujuan penulisan karya tulis ilmiah
ini adalah untuk memberikan kontribusi dalam pemberian layanan kesehatan asuhan
keperawatan diabetes mellitus.
Penulisan karya tulis ilmiah ini tidak terlepas dari peranan pihak-pihak yang
telah membantu. Maka dari itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Kedua orang tua penulis tercinta, atas segala doa restu yang selalu
menyertai langkah kami.
2. Dosen pembimbing yang selalu mendukung dan memotivasi dalam
pembuatan karya tulis ini.
3. Kakak-kakak pembimbing dan rekan-rekan sejawat yang telah memberikan
dorongan dalam pembuatan karya tulis ini.
4. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih sangat sederhana dan masih
banyak kekurangan. Namun, kami berharap agar tulisan ini dapat diterima dan
nantinya dapat berguna untuk semua pihak. Untuk itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan karya tulis ini.

Wassalamualaikum Wr.Wb.
Padang, 8 Mei 2015

Penulis
iii

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan i
Abstrak ii
Kata Pengantar iii
Daftar isi iv
PENDAHULUAN
Latar Belakang1
PerumusanMasalah 5
Tujuan 6
Manfaat 6
TINJAUAN PUSTAKA
A. Diabetes Melitus
1. Definisi. 7
2. Etiologi. 7
3. Manifestasi Klinis. 8
4. Komplikasi 8
B. DSME
1. Definisi DSME. 9
2. Tujuan DSME.. 9
3. Prinsip DSME.. 10
4. Standar DSME. 10
BAB III METODE PENULISAN......................................................................... 12
BAB IV PEMBAHASAN
iv

1.Analisis 13
2.Sintesis. 16
BAB V PENUTUP
1.Kesimpulan. 28
2.Saran 29
DAFTAR PUSTAK .................................................................................................. 30

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit gangguan metabolik kronis terutama
metabolisme karbohidrat yang disebabkan oleh berkurangnya atau ketiadaan hormon
insulin dari sel beta pankreas, atau akibat gangguan fungsi insulin, atau keduanya
(Sutedjo, A.Y. 2010). Diabetes mellitus dan komplikasinya telah menjadi masalah
masyarakat yang serius dan merupakan penyebab angka kesakitan, kematian dan
kecacatan diseluruh dunia. Hari diabetes sedunia diperingati tanggal 14 november dan
hari diabetes nasional diperingati tanggal 12 juli yang ditetapkan mulai dari tahun
2004. Peringatan diabetes ini menunjukkan bahwa diabetes merupakan masalah
kesehatan yang cukup serius yang terjadi disetiap Negara,baik Negara maju maupun
Negara berkembang termasuk Indonesia.
Data dari Global status report on Noncommunicable Disease (NCD) World
Health Organization (WHO) DM menempati peringkat ke-6 sebagai penyebab
kematian. International Diabetes Federation (IDF) memperhitungkan angka kejadian
DM di dunia pada tahun 2012 adala 371 juta jiwa, tahun 2013 meningkat menjadi
382 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2035 DM akan meningkat menjadi 592
juta jiwa (Trisyana, 2013). Jumlah pasien DM di Indonesia, menurut IDF
diperkirakan pada tahun 2000 berjumlah 5,6 juta dan pada tahun 2020 nanti akan
ada 178 juta penduduk yang berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi
prevalensi DM sebesar 4,6% akan didapatkan 8,2 juta pasien DM (Soegondo,
Soewondo & Subekti, 2009). Tingginya angka tersebut menjadikan Indonesia
peringkat keempat jumlah pasien DM terbanyak di dunia setelah Amerika
Serikat, India, dan Cina (Suyono, 2006). Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar
tahun 2007, diketahui bahwa 10,2% responden termasuk toleransi glukosa terganggu
(TGT), dengan 5,6% merupakan Diabetes.

Kemampuan tubuh pasien DM untuk bereaksi dengan insulin dapat


menurun, keadaan ini dapat menimbulkan komplikasi baik akut (seperti diabetes
ketoasidosis dan sindrom hiperosmolar nonketotik) maupun kronik (seperti
komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler, dan neuropati). Komplikasi kronik
biasanya terjadi dalam jangka waktu 5-10 tahun setelah diagnosa ditegakkan
(Smeltzer & Bare, 2008). Komplikasi kronik terjadi pada semua organ tubuh
dengan penyebab kematian 50% akibat penyakit jantung koroner dan 30% akibat
penyakit gagal ginjal. Selain itu, sebanyak 30% pasien diabetes mengalami
kebutaan akibat retinopati, 60 - 70% mengalami neuropati, dan 10% menjalani
amputasi tungkai kaki (LeMone & Burke, 2008; Smeltzer & Bare, 2008).
Komplikasi diabetes dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu genetik,
lingkungan,

gaya

hidup

dan

faktor

yang

mengakibatkan

terlambatnya

pengelolaan DM seperti tidak terdiagnosanya DM, walaupun sudah

yang

terdiagnosa tetapi tidak menjalani pengobatan secara teratur. Di negara maju


terdapat 50% pasien tidak terdiagnosa DM, dan kemungkinan jumlah tersebut
lebih besar di negara berkembang seperti Indonesia (Soegondo, Soewondo &
Subekti, 2009).
Sebagai penyakit kronis, DM membutuhkan intervensi terapi seumur hidup
untuk mengelola penyakit dan mencegah komplikasi lebih lanjut (Triplitt dkk., 2005).
Menurut Perkeni (2006), pilar penatalaksanaan diabetes diantaranya meliputi terapi
gizi medis atau pengaturan makan, latihan jasmani, intervensi farmakologis dan
edukasi. Selain itu, kepatuhan pasien juga merupakan faktor penentu keberhasilan
manejemen DM. Sementara menurut Asti (2006), pengobatan diabetes memerlukan
waktu yang lama dan sangat kompleks sehingga seringkali pasien tidak patuh dan
cenderung menjadi putus asa dengan program terapi yang lama, kompleks dan tidak
menghasilkan kesembuhan. Tujuan utama pengobatan penderita dengan penyakit
kronik bukan hanya

bersifat kuratif, namun terutama memperbaiki keluhan,

ketidakmampuan serta keterbatasan akibat penyakit yang terus berlanjut. Oleh karena
itu, penilaian suatu pengobatan atau program yang baru tidak hanya faktor biodemik
saja, tetapi meliputi juga dimensi sosiomedik seperti kemampuan pekerjaan sehari-

hari, produktivitas kemampuan berperan sosial, kemampuan intelektual, stabilitas


emosi dan kepuasan hidup. Tujuan pengobatan diabetes melitus adalah untuk
mengurangi resiko komplikasi penyakit mikrovaskuler dan makrovaskuler, untuk
memperbaiki gejala, mengurangi kematian dan meningkatkan kualitas hidup (Triplitt
dkk., 2005).
Manajemen pengelolaan dan pencegahan komplikasi DM sebagai penyakit
kronis, memiliki potensi untuk mempengaruhi kualitas hidup. Dalam hal ini, kualitas
hidup seharusnya menjadi perhatian penting bagi para profesional kesehatan karena
dapat menjadi acuan keberhasilan dari suatu tindakan/intervensi atau terapi (Coons,
2005). Penanganan pasien dengan penyakit kronis saat ini lebih berfokus pada
pasien

(patient-centered

care).

Petugas

kesehatan,

termasuk

perawat

menganggap pasien sebagai orang yang paling tahu kondisi kesehatannya dan
menghargai pengalaman subjektif pasien sebagai suatu yang relevan untuk
mempertahankan kesehatan atau membantu proses penyembuhan pasien. Pasien
adalah orang yang ikut aktif berperan dalam usaha meningkatkan kesehatannya
dimana pasien bekerjasama dengan perawat untuk menentukan intervensi yang
tepat dandiperlukan (Rawlins, William, & Beck,1993 dalam Potter & Perry,
2005).
Upaya pencegahan ini memerlukan keterlibatan semua pihak untuk
mensukseskannya baik dokter, perawat, ahli gizi, keluarga, dan pasien itu
sendiri. Perawat sebagai edukator sangat berperan untuk memberikan informasi
yang tepat pada pasien DM tentang penyakit, pencegahan, komplikasi,
pengobatan, dan pengelolaan DM termasuk didalamnya memberi motivasi dan
meningkatkan efikasi diri (Suyono, 2006; Wu et al, 2006).
Terapi edukasi kepada pasien merupakan bentuk edukasi untuk menolong
pasien (atau sekelompok pasien dan keluarganya) untuk mengelola terapi mereka dan
mencegah komplikasi yang dapat dicegah, sekaligus meningkatkan kualitas hidup.
Edukasi

dapat

diberikan

melalui

suatu promosi

kesehatan.

Promosi

kesehatan merupakan proses pemberdayaan atau memandirikan masyarakat


agar

dapat memelihara

dan

meningkatkan

kesehatannya. Proses

pemberdayaan atau memandirikan masyarakat tidak hanya terbatas pada


pemberian informasi (seperti pendidikan kesehatan) tetapi juga upaya untuk
merubah perilaku dan sikap seseorang, sehingga promosi kesehatan
meningkatkan

dapat

kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor seseorang

(Maulana, 2009)
Saat ini telah dibentuk suatu edukasi manajemen mandiri diabetes (Diabetes
Self-Management Education/DSME), merupakan bentuk edukasi yang ditekankan
pada kedekatan antara pasien dengan yang merawatnya. Terdapat beberapa standar
atau pedoman DSME ini. International Diabetes Federation telah mempublikasikan
International Curiculum for Diabetes Health Profesional Education. Meski telah
terdapat beberapa pedoman, tetapi tidak ada deskripsi yang telah distandarkan,
sehingga program ini seringkali disebut sebagai intervensi yang kompleks, bentuk
kerja nya selalu berubah, tergantung dari model pendekatan yang digunakan,
ketrampilan edukator, latar belakang pasien dan sebagainya. (Steinbekk, Rygg,
Lisulo, Rise, & Fretheim, 2012)
DSME adalah suatu proses berkelanjutan yang

dilakukan

untuk

memfasilitasi pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan pasien DM untuk


melakukan perawatan mandiri (Funnel, 2008).
prosesmemberikan

pengetahuan

perawatan diri secara mandiri

kepada
untuk

DSME

merupakan

suatu

pasien mengenai aplikasi strategi

mengoptimalkan

kontrol metabolik,

mencegah komplikasi, dan memperbaiki kualitas hidup pasien DM (Sidani,


2009). Tujuan

umum

DSME

adalah

mendukung pengambilan keputusan,

perilaku perawatan diri, pemecahan masalah dan kolaborasi aktif dengan tim
kesehatan untuk memperbaiki hasil klinis, status kesehatan, dan kualitas hidup
(Funnel, 2008).
DSME akan tepat jika di berikan kepada masyarakat penderita DM di
rumah. Untuk itu diperlukannya peran perawat dalam dalam memberikan asuhan
keperawatan DM yang tepat. Perawat diharapkan membuat suatu inovasi -inovasi
dalam manajemen asuhan keperawatan dengan mengarah pada peningkatan
kualitas hidup penderita, dan penumbuhan kesadaran diri penderita diabetes mellitus

di rumah. Posko Perawatan Penderita Diabetes Melitus dapat menjadi wadah


perawat dalam memberikan asuhan keperawatan klien di rumah. Perawat akan
berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya seperti dokter, ahli gizi dan ahli
farmasi, dan psikolog dalam memberikan pelayanan kesehatan DM yang
komprehensif. Melalui Koper DM para penderita diabetes mellitus bisa berkumpul
dan saling membantu serta memotivasi untuk mempertahankan pola hidup sehat. Hal
itu diharapkan mampu membentuk perilaku para penderita ke arah yang adaptif.
Perawat dapat memberikan intervensi kepada klien baik di posko maupun ke rumahrumah.
Perawat membangun dukungan, kolaborasi, dan koalisi sebagai suatu
mekanisme peningkatan peran serta aktif masyarakat dalam perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi implementasi Koper DM. Masyarakat sebagai
mitra, ikut serta dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan kesehatan sehingga
dapat meningkatkan dukungan dan penerimaan terhadap kolaborasi profesi kesehatan
dengan masyarakat. Dalam upaya penanganan DM baik di level keluarga, kelompok,
maupun komunitas. Pihak-pihak dinaungi oleh stakesholder (Puskesmas, Dinas
Kesehatan Kota, Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, Pemerintah Kota),
donatur/sponsor, sektor terkait, organisasi masyarakat (TP-PKK, Lembaga Lansia
Indonesia/LLI, Perkumpulan Diabetisi, atau dan tokoh masyarakat setempat.
Program-program yang dilakukan di Koper DM merupakan aplikasi dari
DSME dan penatalaksanaan pilar DM yang dikembangkan dalam sebuah kegiatankegiatan yang dapat menunjang kesehatan penderita DM. Dengan demikian, Koper
DM akan menjadi solusi yang baik dalam membantu perawat dalam mengembangkan
manajemen asuhan keperawatan DM pada masyarakat.

2. Rumusan Masalah
Bagaimana mengembangkan Inovasi KOPER DM (Posko Perawatan
Penderita Diabetes Melitus) sebagai alternatif dalam pelaksanaan Asuhan
Keperawatan DM di rumah dengan mengadopsi konsep Diabetes Self Management
Education (DSME).

3. Tujuan
a. Membantu

penderita

DM

mampu

dalam

pengambilan

keputusan,

pemecahan masalah dan memfasilitasi pengetahuan, keterampilan, dan


kemampuan klien DM untuk melakukan perawatan mandiri
b. Memfasilitasi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan DM di rumah
yang berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya.
4. Manfaat
a. Bagi perawat
Perawat mendapatkan wadah dalam melaksanakan perannya sebagai pemberi
asuhan keperawatan, edukator, koordinator, dan kolaborator

untuk

masyarakat penderita DM. Perawat dapat mengembangkan manajemen asuhan


keperawatan pada pasien DM di rumah
b. Bagi masyarakat
Meningkatkan kemampuan dan kemandirian fungsional klien diabetisi melalui
pengembangan kognisi dan kemampuan merawat dirinya sendiri. Adanya
perubahan perilaku (pengetahuan, sikap dan tindakan) dan kemandirian
masyarakat dalam upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status
kesehatannya di masa mendatang
c. Bagi puskesmas
Mensukseskan program puskesmas sebagai pelayanan kesehatan primer
secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.
d. Bagi pemerintah
Dapat mewujudkan pembangunan kesehatan nasional agar terwujudnya
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya sehingga tercapainya
Indonesia sehat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Diabetes Melitus
1. Defenisi
Diabetes Melitus adalah penyakit gangguan metabolik terutama metabolisme
karbohidrat yang disebabkan oleh berkurangnya atau ketiadaan hormon insulin dari
sel beta pankreas, atau akibat gangguan fungsi insulin, atau keduanya (Sutedjo, A.Y.
2010). Diabetes Melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan
insulin baik absolut maupun relatif (Syahbudin,2009).
2.Etiologi
Faktor-faktor penyebab diabetes melitus antara lain genetika, faktor
keturunan memegang peranan penting pada kejadian penyakit ini. Apabila orang tua
menderita penyakit diabetes mellitus maka kemungkinan anak-anaknya menderita
diabetes mellitus lebih besar. Virus hepatitis B yang menyerang hati dan merusak
pankreas sehingga sel beta yang memproduksi insulin menjadi rusak. Selain itu
peradangan pada sel beta dapat menyebabkan sel tidak dapat memproduksi insulin.
Faktor lain yang menjadi penyebab diabetes melitus yaitu gaya hidup, orang
yang kurang gerak badan, diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat, kegememukan
dan kesalahan pola makan. Kelainan hormonal, hormon insulin yang kurang
jumlahnya atau tidak diproduksi.
3. Manifestasi Klinis
Menurut Sutedjo, A.Y. (2010) gejala awal Diabetes Melitus dengan keluhan
khas Diabetes Melitus yaitu:
a. Poliuria (banyak kencing) terutama malam hari sehingga mengganggu tidur.
b. Polidipsi (banyak minum) dan selalu merasa haus
c. Poliphagi (banyak makan) dan sering merasa lapar
d. Berat badan turun drastis tanpa penyebab yang jelas
Keluhan tidak khas diabetes melitus :

a.

Sering kesemutan (paraestesi), sering merasa lemas, cepat lelah dan sering
mengantuk.

b.

Sering gatal/ pruritus pada kulit terutama daerah anus, alat kelamin (anogenital),
dan telinga, serta pada wanita sering terjadi keputihan.

c.

Kalau terjadi infeksi, sering sulit sembuh atau berkepanjangan, terlebih pada
penderita Diabetes Melitus lama.

d.

Mengalami gangguan penglihatan sehingga sering ganti kaca mata

4. Komplikasi Diabetes Melitus


Berdasarkan mulai timbulnya dan lamanya perjalanan, komplikasi diabetes
digolongkankan menjadi komplikasi mendadak (akut) dan komplikasi menahun
(kronik). Terdapat beberapa kelainan yang mendasari komplikasi kronis,yaitu
makroangiopati diabetic (kelainan pada pembuluh darah besar) ; mikroangiopati
diabetic (kelainan pada pembuluh darah kecil-halus),dan neuropati diabetic
(kelainannya terdapat pada saraf) (kariadi, 2009).
a) Komplikasi mendadak (Akut)
Komplikasi akut, komplikasi yang datang nya mendadak tanpa aba-aba.
Yang termasuk komplikasi akut adalah:
1) Hipoglikemia
2) Ketoasidosis Diabetik
3) Diabetic Hyperosmolar syndrome (DHS)
b) Komplikasi Menahun (Kronis)
Menurut Kariadi (2009), Komplikasi kronis biasanya muncul setelah 10-15
tahun sejak diagnosis diabetes. Namun pada diabetes tipe 2, sering kali beberapa
komplikasi kronis sudah ada sewaktu pasien pertama kali didiagnosis menderita
diabetes,karena sudah lama menderita diabetes tanpa gejala yang jelas sehingga
komplikasipun tidak terpantau.
Yang termasuk komplikasi kronik adalah :
1) Kerusakan Ginjal (Nephropathy)
2) Penyakit pembuluh darah perifer

3) Kerusakan Saraf (Neuropati)


a) Neuropati Otonom Kardiovaskuler
b) Neuropati Otonom Gastrointestinal
c) Neuropati Otonom Genitourinarius
d) Neuropati Perifer
5. Pilar Penatalaksanaan DM
Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia yang telah disusun oleh
PERKENI tahun 2011, Pilar penatalaksanaan Diabetes Melitus meliputi 1) Edukasi,
2) Terapi Gizi Medis, 3) Latihan jasmani, 4) Intervensi farmakologi.

B. Diabetes Self Management Education (DSME)


1. Definisi DSME
Diabetes Self

Management

Education

(DSME) adalah suatu proses

berkelanjutan yang dilakukan untuk memfasilitasi pengetahuan, keterampilan, dan


kemampuan pasien DM untuk melakukan perawatan mandiri (Funnell et.al., 2008).
Menurut Sidani & Fan (2009), DSME merupakan suatu proses pemberian edukasi
kepada pasien mengenai aplikasi strategi perawatan diri secara mandiri untuk
mengoptimalkan kontrol metabolik, mencegah komplikasi, dan memperbaiki kualitas
hidup pasien DM.

2.

Tujuan DSME

Tujuan DSME adalah mengoptimalkan kontrol metabolik dan kualitas hidup


pasien dalam upaya mencegah komplikasi akut dan kronis, sekaligus mengurangi
penggunaan biaya perawatan klinis (Norris et.al., 2002). Menurut Funnell et.al.
(2008) tujuan umum DSME adalah mendukung pengambilan keputusan, perawatan
diri, pemecahan masalah, dan kolaborasi aktif dengan tim kesehatan untuk
meningkatkan hasil klinis, status kesehatan, dan kualitas hidup.
3.

Prinsip DSME

Prinsip utama DSME menurut Funnell et.al. (2008) adalah pendidikan DM efektif
dalam memperbaiki hasil klinis dan kualitas hidup pasien meskipun dalam jangka

10

pendek, DSME telah berkembang dari model pengajaran primer menjadi lebih teoritis
yang berdasarkan pada model pemberdayaan pasien, tidak ada program edukasi yang
terbaik namun program edukasi yang menggabungkan strategi perilaku dan
psikososial terbukti dapat memperbaiki hasil klinis, dukungan yang berkelanjutan
merupakan aspek yang sangat penting untuk mempertahankan kemajuan yang
diperoleh pasien selama program DSME, dan penetapan tujuan-perilaku adalah
strategi efektif mendukung selfcare behaviour.
4. Standar DSME
DSME memiliki 10 standar yang terbagi menjadi 3 domain (Funnell et.al.,
2008; Haas et.al., 2012) yaitu:
a. Struktur
a) standar 1 (internal structure): DSME merupakan struktur organisasi, misi,
dan tujuan yang menjadikan DSME sebagai bagian dari perawatan untuk
pasien DM.
b) standar 2 (external input): kesatuan DSME harus menunjuk suatu tim untuk
mempromosikan kualitas DSME. Tim tersebut harus terdiri dari tenaga
kesehatan, pasien DM, komunitas, dan pembuat kebijakan.
c) standar 3 (access): kesatuan DSME akan mengidentifikasi kebutuhan
pendidikan kesehatan merupakan upaya untuk mendukung peningkatan
kualitas hidup bagi pasien DM. DSME mengidentifikasi kebutuhan
pendidikan

kesehatan

dari

populasi

target

dan

mengidentifikasi

sumbersumber yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.


d) standar 4 (program coordination): koordinator DSME akan ditunjuk untuk
mengawasi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi DSME. Koordinator
yang ditunjuk harus memiliki kemampuan akademik dan pengalaman dalam
perawatan penyakit kronis dan manajemen program edukasi.
b. Proses
a)

standar 5 (instructional staff): DSME dapat dilakukan oleh satu atau lebih
tenaga kesehatan. Edukator DSME harus memiliki kemampuan akademik
dan pengalaman dalam memberikan edukasi dan manajemen DM atau

11

harus

memiliki

sertifikat

sebagai

edukator.

Edukator

DSME

mempersiapkan materi yang akan disampaikan secara berkelanjutan.


b) standar 6 (curriculum): penyusunan kurikulum harus menggambarkan fakta
DM, petunjuk praktek, dengan kriteria untuk hasil evaluasi dan akan
digunakan sebagai kerangka kerja DSME. Pengkajian kebutuhan pasien
DM dan pre-DM akan mengindentifikasi informasi-informasi yang harus
diberikan kepada pasien.
c)

standar 7 (individualization): pengkajian individual dan perencanaan


edukasi akan dilakukan oleh kolaborasi antara pasien dan edukator untuk
menentukan

pendekatan

pelaksanaan

mendukung

manajemen

pasien.

DSME

Strategi

dan

yang

strategi

dalam

digunakan

adalah

mempertimbangkan aspek budaya dan etnis pasien, usia, pengetahuan,


keyakinan dan sikap, kemampuan belajar, keterbatasan fisik, dukungan
keluarga, dan status finansial pasien. Pengkajian, perencanaan edukasi, dan
intervensi akan didokumentasikan pada dokumen DSME.
d)

Standar 8 (ongoing support): perencanaan follow-up pasien untuk


mendukung DSME akan dilakukan dengan kolaborasi antara pasien dan
edukator. Hasil follow-up tersebut akan diinformasikan kepada seluruh
pihak yang terlibat dalam DSME.

c. Hasil
a) Standar 9 (patient progress): kesatuan DSME akan mengukur keberhasilan
pasien dalam mencapai tujuan dan hasil klinis pasien dengan menggunakan
teknik pengukuran yang tepat untuk mengevaluasi efektivitas dari DSME.
b) standar 10 (quality improvement): Kesatuan DSME akan mengukur
efektivitas proses edukasi dan mengidentifikasi peluang untuk perbaikan
DSME dengan menggunakan perencanaan perbaikan kualitas DSME
secara

berkelanjutan

yang

menggambarkan

berdasarkan kriteria hasil yang dicapai.

peningkatan

kualitas

12

BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA

Sumber-sumber Gagasan Penyusunan Karya Ilmiah


Sumber gagasan penysunan karya ilmiah di sini adalah berbagai informasi baik
teoritis maupun realistis-empiris yang menimbulkan inspirasi untuk menyusun karya
ilmiah ini. Sumber-sumber informasi dapat diperoleh dari :
a. Inferensi atau pengalaman
Pengalaman pribadi di Lapangan dan pengalaman para perawat, dokter dan
tenaga kesehatan lainnya selama praktik di area komunitas.
b.

Observasi
Pengamatan langsung terhadap suatu kejadian, atau fenomena yang terjadi.
Kegiatan observasi itu dilakukan dengan terjun langsung atau melibatkan diri ke
lapangan. Proses observasi harus dilakukan dengan sadar (terencana) dan terukur.

c.

Pustaka
Sumber pustaka yang diperoleh dari buku, media cetak, proquest, Repository
dan google cendekia. Untuk mendapatkan bahan penuluisan karya ilmiah ini dari
sumber membaca kritis.

d.

Deduksi dari suatu teori


Pernyataan-pernyataan umum dari suatu kesimpulan suatu teori tertentu yang
sudah umum dan diyakini kebenarannya. Penulis karya ilmiah berkeinginan
untuk membuktikan simpulan teori tersebut pada hal lain.

f.

Laporan penelitian
Sumber dari laporan penelitian adalah sumber yang merupakan laporan dari
suatu penelitian yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dengan membaca
laporan penelitian tersebut memperoleh masalah lain yang dapat kita jadikan
bahan karya ilmiah ini.

13

BAB IV
PEMBAHASAN

1. Analisis
Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar.
Data dari studi global menunjukan bahwa jumlah penderita Diabetes Melitus pada
tahun 2011 telah mencapai 366 juta orang. Jika tidak ada tindakan yang dilakukam,
jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 552 juta pada tahun 2030 (IDF,
2011). Diabetes mellitus telah menjadi penyebab dari 4,6 juta kematian. Selain itu
pengeluaran biaya kesehatan untuk Diabetes Mellitus telah mencapai 465 miliar USD
(IDF, 2011). Pada tahun 2006, terdapat lebih dari 50 juta orang yang menderita DM
di Asia Tenggara (IDF, 2009). Jumlah penderita DM terbesar berusia antara 40-59
tahun (IDF, 2011)
DM tergolong penyakit kronis dan biasanya sering disebut dengan the silent
killer karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan
berbagai macam keluhan. Klien dengan DM dapat mengalami berbagai komplikasi
jangka panjang jika diabetesnya tidak dikelola dengan baik. Penyakit yang akan
ditimbulkan antara lain gangguan penglihatan mata, katarak, penyakit jantung, sakit
ginjal, impotensi seksual, luka sulit sembuh dan membusuk/gangren, infeksi
paruparu, gangguan pembuluh darah, stroke dan sebagainya. Tidak jarang, penderita
DM yang sudah parah menjalani amputasi anggota tubuh karena terjadi pembusukan
(Depkes,2005)
Dukungan tenaga pelayanan kesehatan terutama perawat merupakan aspek
penting dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan klien DM. Perawat memiliki
tanggung jawab dalam memberikan edukasi kepada klien terkait penyakitnya. Namun
fakta yang banyak terjadi di pusat pelayanan kesehatan di Indonesia seperti di RS di
Medan pada tahun 2014 adalah belum adanya kegiatan pendidikan kesehatan bagi
pasien DM yang terstruktur karena jumlah klien DM melebihi dari jumlah perawat.
Pendidikan kesehatan yang selama ini dilakukan tanpa persiapan atau spontan,
biasanya dilakukan pada saat pasien akan dipulangkan saja, tidak memiliki format

14

khusus untuk dokumentasi pendidikan kesehatan pada pasien DM dan perawat


ruangannya belum pernah mendapatkan pelatihan untuk pendidikan kesehatan khusus
untuk pasien DM. Selanjutnya belum ada pengawasan ataupun evaluasi terhadap
pelaksanaan pendidikan kesehatan tersebut (Sulistriyani, 2014).
Perawat memiliki peran kunci sebagai edukator dalam memberikan intervensi
kepada klien DM. Tugas perawat edukator diabetes adalah memberikan pendidikan
kesehatan mengenai pengelolaan diabetes secara mandiri secara berkala, intervensi
perilaku, dan konseling dan coaching pengelolaan diabetes secara mandiri (Mensing,
2007). Namun pada kenyataannya, pelaksanaan pendidikan kesehatan untuk klien
DM jarang dilaksanakan oleh perawat di rumah sakit. Pemberian pendidikan
kesehatan yang rendah dan tidak maksimal dapat menimbulkan berbagai masalah
yaitu, pasien mengeluh cemas saat dilakukan prosedur tindakan karena sebelumnya
tidak diberi penjelasan mengenai penyakit klien dan ketakutan tentang penyakitnya,
banyak klien yang kembali ke rumah sakit dengan keadaan semakin parah karena
sebelumnya perawat tidak memberikan pendidikan kesehatan penyakit selama di
rumah.
Selain tenaga kesehatan, keluarga di rumah memiliki peran yang cukup krusial
dalam perawatan klien DM. Peran keluarga yatu dengan memberi bantuan dalam
proses perawatan dan pengobatan. Dalam menjalankan peran ini keluarga seharusnya
melakukan serangkaian kegiatan yang mendukung upaya kesembuhan pasien. Namun
tidak semua keluarga berperan secara maksimal dalam pemeliharaan kesehatan
anggotanya, termasuk mengenal masalah tentang Diabetes Mellitus, mengambil
keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat, memberikan keperawatan kepada
anggota keluarganya yang sakit hingga mempertahankan suasana rumah yang
kondusif bagi kesehatan klien dengan DM. Sehingga dapat mengakibatkan
komplikasi penyakit akibat defisit perawatan pada klien DM.
Di Indonesia, dalam Konsesus Pengelolaan Diabetes 2011, edukasi yang
diberikan perawat kepada klien diupayakan untuk merubah perilaku klien. Edukasi
merupakan dasar utama untuk pengobatan dan pencegahan DM yang sempurna.
Program DSME saat ini lebih sering dilaksanakan di rumah sakit atau puskesmas

15

sehingga diberikan kepada klien DM saat proses discharge planning saat klien di
rumah sakit saja. Namun program ini belum seutuhnya berjalan dengan baik di
lingkungan komunitas terutama keluarga karena belum adanya organisasi yang
terbentuk berupa Tim Edukator Diabetes. Untuk saat ini tim tersebut hanya ada di
rumah sakit, pada tingkat puskesmas belum ada secara resmi.
Puskesmas merupakan unit pelaksana dari kerja dinas kesehatan untuk sebuah
wilayah kerja. Sebagai pelayanan kesehatan di tingkat primer, puskesmas berfungsi
sebagai penggerak pembangunan yang berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan
masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama pada masyarakat. Pada
umumnya puskesmas menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk berobat.
Selain mengobati penyakit, puskesmas juga berperan aktif dalam mencegah
terjadinya penyakit. Banyak program yang di lakukan oleh puskesmas salah satunya
adalah pemberian pendidikan kesehatan bagi klien DM dan keluarga. Namun
program tersebut belum sepenuhnya berjalan di masyarakat. Sebuah penelitian
mengenai gambaran karakteristik dan penatalaksanaan pasien DM rawat jalan di
Puskesmas Balangnipa Kabupaten Sinjai pada tahun 2010, mendapatkan bahwa
seluruh klien tidak pernah mendapatkan pendidikan kesehatan mengenai diabetes
melitus

dan

penyuluhan/konsultasi

gizi.

Tidak

berjalannya

sistem

penyuluhan/konsultasi pasien disebabkan karena kurangnya tenaga kesehatan di


puskesmas tersebut yang disibukkan dengan kegiatan lapangan. Ini menjadi salah
satu potret bahwa puskesmas belum menjalankan fungsi memelihara dan
meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.

16

2. Sintesis
Menanggapi permasalahan yang terjadi, diperlukan suatu metode yang tepat
dalam penanganan DM di area komunitas yaitu di rumah. Perawat berperan sebagai
pembaharu dalam pelayanan kesehatan seyogyanya menciptakan inovasi dalam
manajemen asuhan keperawatan pada klien dengan DM. Dalam penerapannya,
diperlukan sebuah wadah untuk memfasilitasi masyarakat penderita DM untuk
mendapatkan asuhan keperawatan yang komprehensif.
Posko Perawatan Diabetes Melitus (Koper DM) dapat dijadikan sebagai solusi
inovatif dalam pemberian layanan kesehatan kepada penderita DM. Koper DM akan
dikoordinatori oleh perawat dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya
seperti dokter, ahli gizi, farmasi dan psikolog. Tim kesehatan ini memiliki peran dan
fungsinya masing- masing dalam mensukseskan program asuhan keperawatan DM.
Kolaborasi ini akan memberikan kontribusi dalam pemberian layanan yang bermutu
dan menghasilkan outcome yang terbaik. Program Koper DM akan memberikan
penatalaksanaan DM yang mengacu pada 4 pilar yaitu edukasi, terapi gizi medis,
latihan jasmani dan intervensi farmakologis.
Edukasi merupakan pilar pertama dalam tatalaksana DM yang akan membawa
perubahan perilaku sehat klien dan keluarga yang dilakukan secara komprehensif
untuk meningkatkan motivasi perilaku sehat. Perawat sebagai edukator membantu
klien dalam meningkatkan pemahaman klien tentang pengertian, penatalaksana secara
umum, perencanaan makan, aktivitas fisik yang perlu dilakukan, obat obatan untuk
mengendalikan kadar glukosa darah, pemantauan glukosa darah, komplikasi,
perawatan kaki.
Dalam pelaksanaan pilar kedua yaitu terapi gizi medis, perawat berkolaborasi
dengan ahli gizi dalam pengaturan makan pada klien DM. Perawat memantau
makanan yang dikonsumsi oleh klien DM adalah makanan yang seimbang, sesuai
dengan kebutuhan kalori masing masing individu, dengan memperhatikan ketepatan
jadwal makan, jenis dan jumlah makanan. Pelaksanaan pilar yang ketiga, Koper DM
akan memfasilitasi perawat dalam memberikan program latihan jasmani bagi klien
DM seperti berjalan santai, jogging, bersepeda dan berenang. Perawat berkolaborasi

17

dengan dokter dan ahli farmasi pada pilar ke empat dalam memberikan intervensi
farmakologis. Dokter memberikan terapi medis dengan menentukan jenis obat dan
dosisnya, sedangkan perawat memberikan edukasi cara mengkonsumsi obat dan
kapan waktu meminum obat.
Keberhasilan pengelolaan DM tergantung pada motivasi dan kesadaran klien itu
sendiri untuk melakukan manajemen perawatan diri yang dirancang untuk
mengontrol gejala dan menghindari komplikasi. Diabetes Self Management
Education (DSME) merupakan komponen penting dalam perawatan klien DM dan
diperlukan dalam upaya memperbaiki status kesehatan klien.
DSME menjadi sebuah proses yang berkelanjutan yang dilakukan untuk
memfasilitasi pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan klien DM untuk perawatan
mandiri, dengan memberikan aplikasi strategi perawatan diri untuk mengoptimalkan
kontrol metabolik, mencegah komplikasi dan memperbaiki kualitas hidup. DSME
dapat mendukung klien dalam mengambil keputusan, memecahkan masalah dan
kolaborasi aktif dengan tim kesehatan untuk memperbaiki hasil klinis.
Penerapan Koper DM akan menggunakan metode konseling, intervensi perilaku
dengan menggunakan pedoman DSME sesuai dengan International Curiculum for
Diabetes Health Profesional Education oleh Internasional Diabetes Federation.

1) Struktur Koper DM :
1. Ketua

: Orang yang memimpin jalannya program, mengontrol,

mengarahkan, mengawasi serta bertanggunggung jawab terhadap semua


program
2. Sekretaris

: Orang yang membantu ketua dalam jalannya pelaksanaan

program
3. Bendahara

: Orang yang bertugas mengatur bidang keuangan, keluar

masuknya sumber dana dan budgeting dalam pelaksanaan program.


4. Koordinator

: Koordinator akan ditunjuk untuk mengawasi perencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi dari DSME. Koordinator akan mempersiapkan

18

pengetahuan dan pengalaman dalam perawatan penyakit kronis dan


pendidikan dalam program pengelolaan mandiri penderita DM
5. Edukator

: Orang yang mempunyai pendidikan dan pengalaman dalam

manajemen edukasi dan diabetes atau memiliki sertifikat edukator diabetes


6. Penasehat

: Sebuah kelompok penasehat untuk meningkatkan kualitas.

Kelompok penasehat tersebut adalah profesi kesehatan, penderita diabetes,


masyarakat dan stakeholder.

Penasehat

Ketua

Tim Posko

Sekretaris

Bendahara

Koordinator

Edukator

Tim Kunjungan
Rumah

2) Proses dalam Koper DM


1. Koper DM melaksananakan DSME diberikan oleh satu atau lebih tenaga
kesehatan (perawat, dokter, ahli gizi dan farmasi). Tenaga kesehatan akan
mempersiapkan pengetahuan dan pengalaman baru dalam pendidikan
kesehatan secara berkelanjutan dan manajemen untuk penderita DM.
2. Koper DM membuat Penulisan kurikulum yang mencerminkan pedoman
praktek dengan kriteria hasil berfungsi sebagai kerangka DSME .
3. Penilaian individual dan rencana pendidikan akan dikembangkan bersama
oleh diabetesi dan petugas kesehatan untuk secara langsung memilih
intervensi yang tepat yang berhubungan dengan pendidikan kesehatan dan
strategi dukungan manajemen diabetisi secara mandiri.

19

4. Ukuran rencana tindak lanjut untuk dukungan manajemen secara mandiri


yang dilakukan secara terus menerus akan meningkatkan kerjasama antara
petugas kesehatan dan diabetisi

3) Hasil yang dicapai Koper DM


1. Tim edukator mengukur keberhasilan pasien dan pencapaian tujuan dengan
menggunakan ukuran yang tepat untuk mengevaluasi efektifitas dari
pemberian pendidikan kesehatan
2. Tim edukator mengukur efektifitas proses pendidikan kesehatan dan
memberikan kesempatan untuk

mengembangkan dengan mencatat

peningkatan kualitas rencana secara berkelanjutan yang berkembang dan


tinjauan sistematika dokumen dari kesatuan data proses dan hasil.

4) Komponen Koper DM
1. Pendidikan Dasar tentang diabetes
Koper DM melaksanakan pemberian edukasi kepada klien. Edukasi yang
diberikan bertujuan untuk promosi hidup sehat sehingga dapat mengubah prilaku
klien sebagai bagian yang penting dalam pengelolaan penyakit DM secara holistik.
Edukasi ini dilakukan oleh tim edukator DM. Edukator diabetes telah mengikuti
pelatihan/kursus dalam menangani DM dan menangani komplikasi yang terjadi pada
Diabetisi. Edukator DM akan menjelaskan mengenai definisi, patofisiologi dasar
diabetes, alasan pengobatan dan komplikasi yang muncul. Selain itu, edukator DM
juga selalu mengupdate pengetahuan melalui kegiatan atau pelatihan yang dilakukan
oleh PERKENI (Persatuan Ahli Endokrin Indonesia) guna berpartisipasi dalam
pendekatan penanganan diabetes terbaru dan terkini.
2. Pengobatan
Koper DM dalam program pengobatan memberikan edukasi mengenai definisi,
tipe, dosis, cara menyimpan dan cara penyuntikan insulin kepada klien. Selain itu
juga edukasi mengenai bagaimana dosis dan waktu mengkonsumsi obat hipoglikemik
oral.

20

3. Monitoring
Kegiatan monitoring yang dilakukan dalam Koper DM berupa edukasi
mengenai apa saja yang perlu dilakukan oleh diabetisi, pengertian, tujuan, dan hasil
dari pemeriksaan berkala (monitoring). Peralatan yang digunakan, frekuensi, waktu
pemeriksaan juga merupakan aspek penting yang harus diperhatikan oleh edukator
dalam program monitoring sehingga akan memberikan dampak hasil dan dapat
menyusun strategi lanjutan.
4. Manajemen Nutrisi
Koper DM menjalankan program konsultasi nutrisi dan diet praktis bagi
Diabetisi, Konsultan nutrisi juga akan memberikan waktu untuk mendiskusikan diet
dan penyusunan menu yang mudah, sehat dan menyenangkan bagi diabetisi. edukasi
kepada klien mengenai fungsi nutrisi bagi tubuh, pengaturan diet, kebutuhan kalori,
jadwal makan, manajemen nutrisi ketika sedang sakit, kontrol berat, gangguan makan
dan lain-lain.
5. Olahraga dan Aktivitas
Koper DM melalui program olahraga dan aktivitas akan memberikan edukasi
kepada klien mengenai kebutuhan evaluasi medis sebelum melakukan olahraga,
gangguan alas kaki dan peralatan pelindung dalam olahraga, lakukan pemeriksaan
pada kaki dan sepatu setiap kali selesai olahraga. Di Koper DM juga akan
memfasilitasi sarana yang nyaman dalam melakukan senam kesehatan Diabetes
dipandu oleh instruktur senam Diabetes yang berpengalaman. Olahraga yang teratur
pada Diabetisi bermanfaat untuk menurunkan kadar gula darah, mengontrol berat
badan dan meningkatkan kebugaran serta daya tahan tubuh
6. Stres dan Psikososial
Klien DM cenderung mengalami distress yang berlebihan setelah mengetahui
bahwa

menderita penyakit yang kronik. Rasa khawatir terhadap penyakit dapat

menimbulkan gangguan psikologis pada klien DM. Koper DM memiliki tim edukator
yang akan memberi intervensi dan membantu klien dalam identifikasi faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya distres, dukungan keluarga dan lingkungan serta
kepatuhan pengobatan.

21

7. Perawatan kaki
Salah satu bagian yang kronik dari Diabetes adalah kaki Diabetes. Foot
Therapy sebagai salah satu metode bagaimana merawat kaki penderita diabetes dapat
mengurangi resiko infeksi kaki pada klien. Koper DM melalui program Foot Therapy
akan memberikan edukasi mengenai insidensi, penyebab, tanda dan gejala, cara
mencegah, komplikasi, pengobatan, rekomendasikan pada pasien unuk melakukan
perawatan kaki dengan

jadwal pemeriksaan berkala.

8. Sistem pelayanan kesehatan dan sumber daya


Selain sebagai pusat perawatan penderita DM, Koper DM juga sebagai pusat
informasi penderita DM yang memberikan informasi tentang tenaga kesehatan dan
sistem pelayanan kesehatan yang ada di lingkungan klien yang dapat membantu
klien.

5) Program Kegiatan Koper DM

N
o

Nama
Program

Deskripsi
Program edukasi berupa penyuluhan
penyuluhan seputar DM yang dikemas
dalam bentuk seminar, talkshow, tanya
jawab dan konsultasi dari tim edukator dan
instruktur. Perawat akan memberikan
edukasi kepada diabetisi dengan topik yang
berbeda setiap minggunya. Program ini
dilaksanankan di posko dan datang
mengunjungi rumah klien (door to door)

Apa
1
Kabar DM ?

Re
2
Check DM

Kegiatan
berupa
monitoring
dan
pemeriksaaan berkala kadar gula darah
klien. Perawat mengingatkan klien untuk
selalu mengecek gula darah secara rutin.
Pemeriksaan ini dilaksanankan di posko dan
datang mengunjungi rumah klien (door to
door).

Jadwal
Program

Penanggung
jawab

2x

Perawat

sebulan

1x
semingg
u

Perawat

22

DM
3
Clinic

DM Diety

Sprorty
5
DM

Curhat
6
DM

Program pengobatan untuk wadah bagi


klien dalam berkonsultasi mengenai
pengobatan klinis. Perawat berkolaborasi
dengan dokter dalam pemberian resep obat
dan insulin sesuai dengan gejala klien.
Perawat
bertugas
membantu
dalam
meningkatkan kepatuhan klien dalam
meminum obat.
Program konsultasi nutrisi dan diet yang
tepat untuk penderita DM. Perawat
berkolaborasi dengan ahli gizi dalam
memberikan intervensi kepada klien dalam
penyusunan menu yang sehat dan sesuai
dengan pengaturan diet, menghitung
kebutuhan kalori, mengatur jadwal makan,
manajemen nutrisi ketika sedang sakit.
Perawat akan bekerja sama dengan keluarga
di rumah untuk membantu dalam melakukan
dan mendisiplinkan diet ini. Perawat akan
melakukan kunjungan dan survei ke rumah
untuk mengecek dan mengevaluasi program
ini secara berkala.
Kegiatan berolah raga bersama klien
diabetisi seperti jalan santai, senam
kesehatan diabetes yang dipandu oleh
instruktur senam. Perawat akan memberikan
intervensi kepada klien untuk dengan
mengajak ikut serta aktif dalam kegiatan ini
agar meningkatkan kebugaran serta daya
tahan tubuh klien.
Kegiatan yang dalam bentuk bercerita
mengenai
masalah-masalah
yang
menyebabkan klien stress yang dialami
selama menderita DM. Perawat menggali
koping klien terhadap untuk mengatasi
stressor klien. Selain itu perawat juga
memotivasi
keluarga
untuk
selalu
memberikan dukungan psikososial kpada
klien. Perawat sebagai tim edukator akan
datang ke rumah untuk memberikan
intervensi.

Setiap

Dokter dan

Hari

Perawat

1x

Perawat

semingg

dan ahli gizi

1x

Perawat

semingg

dan

instruktrur
olahraga

1x
semingg
u

Perawat

23

Selain itu klien akan dibuatkan pertemuan


sengan diabetisi lainhya sehingga dapat
berbagi cerita dengan sesama diabetisi
lainnya.
Foot Care

7
.

Melakukan perawatan kaki dengan jadwal


pemeriksaan kesehaatan kaki yang berkala
untuk mencegah terjadinya komplikasi
seperti Pheripheral neurophathy dan ulkus
pada kaki. Perawat akan memberikan
intervensi senam kaki DM untuk klien
secara rutin baik di rumah maupun di posko.
Perawat akan memandu gerakan-gerakan
pada senam kaki tersebut.

2x

perawat

seminng
ui

6) Asuhan Keperawatan
Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan
hubungan kerja sama antara perawat dengan klien dan keluarga, untuk mencapai
tingkat kesehatan yang optimal. Proses keperawatan tindakan yang berururutan yang
dilakukan secara sistemastis dengan latar belakang pengetahuan komprehensif untuk
mengkaji

status

kesehatan klien, mengidentifikasi

masalah dan

diagnosa,

merencanakan intervensi, mengimplementasikan rencana dan mengevaluasi rencana


sehubungan dengan proses keperawatan pada klien dengan DM.

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal pelaksanaan asuhan keperawatan. Perawat
melakukan kunjungan rumah atau klien mendatangi posko untuk mendapat kan datadata kondisi klien. Perawat melakukan observasi sejak pengkajian awal dan
merupakan proses yang terus menerus selama melakukan kunjungan. Lingkungan
klien diabetisi yang perlu diobservasi yaitu keadaan klien diabetisi, kondisi rumah,
interaksi antar keluarga, tetangga dan komunitas. Hasi pengkajian diperlukan untuk
menyusun dan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi pada klien diabetisi.
Pengkajian yang dilakukan meliputi: data subjektif dan data objektif. Data subjektif

24

meliputi informasi penting tentang kesehatan dan pola fungsional kesehatan.


Sedangkan data objektif terdiri dari hasil pemeriksaan fisik yang terkait dengan rasio
tinggi/berat

badan,

tanda

vital,

pemeriksaan

mata,

integumen,

respirasi,

kardiovaskuler, gastrointestinal, urinarius, neurolohi, muskuloskeletal dan gangguan


fungsi seksual serta hasil pemeriksaan laboratoriumnya lainnya.
Pengkajian mengenai kondisi klien, kesadaran klien tentang DM, kebutuhan
belajar pasien dan keluarga. Pengkajian meliputi: usia, pekerjaan, strssor, gaya hidup,
evaluasi kesehatan umum, sikap tentang kesehatan umum, sikap tentang kesehatan,
perilaku self care, kemampuan gaya belajar, keinginan untuk belajar, penerimaan
DM, pengetahuan terbaru tentang DM, kebutuhan keterampilan, sikap dan tujuan,
latar belakang budaya, bahasa, dan situasi keterampilan, sikap dan tujuan, latar
belakang budaya, bahasa, dan situasi ruamh. Selain itu perlu dikaji keterbatasan fisik,
kognitif dan emosional pasien. Pengkajian keluarga yang berkaitan dengan tugas
keluarga dibidang kesehatan, yaitu Mengetahui Kemampuan keluarga untuk
mengenal masalah kesehatan, mengetahui kemampuan keluarga dalam mengambil
keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat, untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan keluarga kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit,
untuk mengetahui kemampuan keluarga memelihara/memodifikasi lingkungan rumah
sehat, Untuk mengetahui kemampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan
kesehatan di masyarakat.

2. Diagnosa Keperawatan
Dari hasil pengkajian Asuhan Keperawatan maka diagnosa keperawatan yang
mungkin muncul pada kasus seperti, :
Ketidakefektifan

Pemeliharaan

kesehatan;

ketidakefektifan

pengelolaan

kesehatan diri, kesiapan untuk mengembangkan manajemen kesehatan diri;


manajemen regimen terapeutik tidak efektif; cemas b.d kurang menyadari konflik
nilai/tujuan hidup, perubahan status kesehatan; ketegangan peran pemberi rawat (care
giver) b.d penyakit kronis, masalah kognitif/psikologis, ketidakmampuan dalam
memenuhi harapan sendiri/ oranglain; koping tidak efektif b.d tidak adekuat

25

menghadapi stressor, ketidakmampuan beradaptasi; distress spiritual b.d penyakit


kronis; inefektif regimen terapeutik b.d ketidakberdayaan, kurang pengetahuan.
Kekurangan volume cairan tubuh b.d diuresis osmotik; Perubahan status nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral;
Resiko infeksi b.d hyperglikemia; Resiko tinggi terhadap perubahan persepsi sensori
b.d ketidakseimbangan glukosa/insulin dan atau elektrolit; Kelelahan b.d penurunan
produksi energi metabolik; Ketidakberdayaan b.d penyakit jangka panjang/progresif
yang tidak dapat diobati, ketergantungan pada orang lain; Kurang pengetahuan
tentang

penyakit,

prognosis

dan

kebutuhan

pengobatan

b.d

kurangnya

pemajanan/menginat, keselahan interpretasi informasi.


Diagnosa keperawatan pada keluarga seperti Ketidakmampuan keluarga
mengenal masalah DM yang terjadi pada keluarga berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan keluarga tentang arti, tanda atau gejala penyakit Diabetes Mellitus;
Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi
penyakit Diabetes Mellitus berhubungan dengan keluarga tidak memahami mengenai
sifat, berat dan luasnya masalah Diabetes Melitus; Ketidakmampuan keluarga
merawat anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan keluarga tentang cara pencegahan dan perawatan Diabetes Mellitus;
Ketidakmampuan keluarga dalam memelihara atau memodifikasi lingkungan yang
dapat mempengaruhi penyakit Diabetes Mellitus berhubungan dengan kurangnya
pemahaman keluarga tentang pengaruh lingkungan terhadap faktor pencetus Diabetes
Melitus; Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan guna
perawatan dan pengobatan DM berhubungan dengan sikap keluarga yang kurang
tepat terhadap pelayanan atau petugas kesehatan atau kurangnya pengetahuan
keluarga tentang pentingnya segera datang ke tempat pelayanan kesehatan untuk
pengobatan penyakit Diabetes Mellitus.

3. Intervensi keperawatan
Pertama kali membuat perencanaan Intervensi keperawatan mencakup tujuan
umum dan khusus yang didasarkan pada masalah yang dilengkapi dengan criteria dan

26

standar yang mengacu pada penyebab. Selanjutnya merumuskan tindakan


keperawatan yang berorientasi pada criteria dan standar. Bentuk intervensi yang dapat
diberikan dalam bentuk prevensi, terapi modalitas, terapi komplementer. Dalam
pelaksanaannya menggunakan pedoman DSME.
Prevensi dapat dalam bentuk seperti pertama Prevensi primer; ditujukan bagi
orang-orang yang termasuk kelompok risiko tinggi, yakni mereka yang belum
menderita tetapi berpotensi untuk menderita DM. Perawat mengenalkan faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap timbulnya DM dan upaya yang perlu dilakukan untuk
menghilangkan faktor-faktor tersebut, kedua; Prevensi sekunder bertujuan untuk
mencegah atau menghambat timbulnya penyulit dengan tindakan deteksi dini dan
memberikan intervensi keperawatan sejak awal penyakit. Penyuluhan mengenai DM
dan pengelolaannya secara mandiri memegang peran penting untuk meningkatkan
kepatuhan pasien. Ketiga, Prevensi tersier; apabila sudah muncul penyulit menahun
DM,

maka

perawat

komunitas

harus

berusaha

mencegah

terjadinya

kecacatan/komplikasi lebih lanjut dan merehabilitasi pasien sedini mungkin, sebelum


kecacatan tersebut menetap.
Pelaksanaan terapi modalitas. Terapi modalitas yang diterapkan seperti
manajemen nyeri, perawatan gangren, perawatan luka baru, perawatan luka kronis,
latihan peregangan, range of motion, dan terapi hiperbarik.
Terapi komplementer (complementary and alternative medicine/CAM). Terapi
komplementer adalah penyembuhan alternatif untuk melengkapi atau memperkuat
pengobatan konvensional maupun biomedis (Cushman & Hoffman, 2004; Xu, 2004)
agar bisa mempercepat proses penyembuhan. Pengobatan konvensional (kedokteran)
lebih mengutamakan penanganan gejala penyakit, sedangkan pengobatan alami
(komplementer) menangani penyebab penyakit serta memacu tubuh sendiri untuk
menyembuhkan penyakit yang diderita (Sustrani, Alam & Hadibroto, 2005). Terapi
komplementer yang dapat perawat berikan seperti Terapi herbal, akupunktur.
Edukasi kepada klien diabetisi dan keluarga mengenai membahas pengetahuan
dasar tentang DM (definisi, etiologi, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis,
patofisiologi,

diagnosis,

pencegahan,

pengobatan,

komplikasi);

pengaturan

27

nutrisi/diet dan aktivitas/latihan fisik yang dapat dilakukan; perawatan kaki dan
monitoring yang perlu dilakukan; dan manajemen stress dan dukungan psikososial,
dan akses pasien terhadap fasilitas pelayanan kesehatan.

4. Implementasi
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi,
dilakukan serangkaian kegiatan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah
status kesehatan. Koper DM menyiapkan program-program yang dapat membantu
perawat dalam melakukan implementasi. Perawat bertugas mengatur jadwal kegiatan
klien sesuai dengan kebutuhan dan status kesehatannya. Penatalaksana yang
diberikan beradaptasi dengan pilar DM dan program DSME. Peran perawat adalah
mendorong kemandirian diabetisi dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan dan
ketrampilan pengelolaan DM sehingga keluhan dan gejala penyakit DM berkurang
serta mencegah komplikasi akut dan kronis.

5. Evaluasi
Sesuai dengan rencana tindakan yang diberikan, tahap penilaian dilakukan
untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak/belum berhasil maka perlu disusun rencana
baru yang sesuai. Perawat memantau Indikator keberhasilan intervensi DSME klien
diabetisi dalam lingkup keluarga melalui performa aktivitas sehari-hari, pencapaian
tujuan intervensi keperawatan, perawatan mandiri, adaptasi, dan partisipasi klien
dalam kehidupan sosialnya.

28

BAB V
PENUTUP

1. Kesimpulan
Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit yang sangat memerlukan perawatan,
para penderita diabetes penting untuk diberikan edukasi, pelayanan kesehatan yang
bermutu dan menghasilkan outcome yang terbaik. Posko Perawatan Penderita
Diabetes Melitus (Koper DM) merupakan inovasi dalam pemberian layanan
kesehatan kepada penderita DM. Koper DM telah dikemas sebagai wadah yang
menerapkan

menggunakan

metode

konseling,

intervensi

perilaku

dengan

menggunakan pedoman DSME sesuai dengan International Curiculum for Diabetes


Health Profesional Education oleh Internasional Diabetes Federation.
Penatalaksanaan yang diberikan beradaptasi dengan pilar DM dan programprogram yang ada dalam DSME dalam pelaksanaannya akan dikoordinatori oleh
perawat dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan
pelayanan kepada para klien diabetisi. Program-program kegiatan Koper DM untuk
para diabetisi antara lain Apa kabar DM, Re Check DM, DM clinic, DM diety,
Sporty DM, Curhat DM, Foot Care. Program-program ini merupakan kegiatan yang
mendorong kemandirian diabetisi dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan dan
keterampilan pengelolaan DM sehingga keluhan dan gejala penyakit DM berkurang
serta mencegah komplikasi akut dan kronis. pemberian tindakan asuhan keperawatan
dilakukan secara sistemastis dengan latar belakang pengetahuan komprehensif untuk
mengkaji

status

kesehatan klien, mengidentifikasi

masalah dan

diagnosa,

merencanakan intervensi, mengimplementasikan rencana dan mengevaluasi rencana


sehubungan dengan proses keperawatan pada klien dengan DM. Koper DM akan
menjadi solusi yang baik dalam membantu perawat dalam mengembangkan
manajemen asuhan keperawatan DM pada masyarakat.

29

2. Saran
Karya Tulis Ilmiah ini disarankan kepada:
1. Pemerintah
-

Pemerintah dapat memberikan bantuan dana untuk pelayanan kesehatan


ditingkat primer.

Dinas kesehatan dan menteri kesehatan dapat lebih menggencarkan kebijakankebijakan untuk mensukseskan pelayanan promotif dan preventif seperti
koper DM ini.

2. Perawat
-

Perawat perlu meningkatkan keterampilan DSME dan komunikasi terapeutik


untuk meningkatkan ketaatan klien diabetisi dan keluarganya dalam
pengelolaan diabetes.

Perawat perlu menentukan indikator keberhasilan intervemsi DSME dalam


lingkup keluarga melalui performa aktivitas sehari-hari, pencapaian tujuan
intervesi keperawatan, perawatan mandiri, adaptasi, dan partisipasi klien
dalam kehidupan sosialnya.

3. Puskesmas
-

Meningkatkan pelayanan tingkat primer dalam masyarakat dan ikut serta


dalam mensukseskan program-program Koper DM.

30

DAFTAR PUSTAKA

ADA. 2007. Clinical Practise Recommendation : Report of the Expert Committee on


the Diagnosis and Classifications of Diabetes Mellitus Diabetes Care. USA :
ADA, 2-24.
Elements: A Meta-analysis. Canadian Journal of Diab. 2009; 33 (1): 18-26.

Funnell, M. M., et.al. (2008). National standards for diabetes self-management


education. Diabetes Care (Volume 31, Supplement 1 : p. S87-S94).
Funnell, M. M., et.al. 2008. National Standards for Diabetes Self-Management Education.
Diabetes Care Volume 31 Supplement 1: p. S87-S94.
International Diabetes Federation. 2005. Panduan Global untuk Diabetes Tipe 2.
Terjemahan oleh Dr. Benny Kurniawan. Brussels: International Diabetes Federation.

Kariadi, Sri Hastuti. (2009). Diabetes: Panduan Lengkap Untuk Diabetisi. Jakarta:
Mizan Utama
LeMone & Burke. 2008. Medical surgical nursing: Critical thinking in client care, Edisi 4. New
Jersey: Pearson Prentice Hall.
Maulana, H. D. J. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC.

PERKENI. (2011). Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes mellitus tipe 2


di Indonesia. Jakarta
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). 2006. Konsensus Pengelolaan
Diabetes Mellitus tipe 2 di Indonesia 2006. Jakarta.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2011. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan
Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta: PB. PERKENI.

Pradana soewondo. 2006. Ketoasidosis Diabetik. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Ed: Aru W. Sudoyo, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Marcellus
Simadibrata K, Siti Setiati. Jakarta: Pusat Penerbitan departemen Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. H. 1874 76
Rondhianto, 2011. Tesis: Pengaruh Diabetes Self management Education dalam
Discharge Planning Terhadap Self Efficacy dan Self Care Behaviour Pasien
DM Type 2. Program S tudi Magister Keperawatan Fakultas Keperawatan
Universitas Airlangga Surabaya.

31

Schumacher, E.P. & Jasksonville, S. (2005). Diabetes SelfManagement Education: The key to
living well diabetes. Diunduh pada tanggal 30 April 2015 dari
http://www.dcmsonline.org/jaxmedicine/2005journals/Diabetes/diab05jpteducation.pdf
Shigaki, C., Krusel, R.L., Mehr, D., Sheldon, K.M., Ge, B., Moore, C., and Lemaster, J.
(2010). Motivation and diabetes selfmanagement (abstract). Diunduh pada tanggal 30
april 2015 dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pumed/20675362.
Sicree, R.,Shaw, J., & Zimmet P. 2009. The Global Burden. IDF Diabetes Atlas 4th Ed.
Sidani S, Fan L. Effectiveness of Diabetes Self-management Education Intervention
Sidani, S. & Fan, L. 2009. Effectiveness of Diabetes Self-management Education
Intervention Elements: A Meta-analysis. Canadian Journal of Diabetes Volume 33 (1):
p. 18-26.

Smeltzer & Bare . (2008).Textbook of Medical Surgical Nursing Vol.2. Philadelphia:


Linppincott William & Wilkins
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner dan
Suddarth Volume 2, Edisi 8. Terjemahan oleh Agung Waluyo, dkk. Jakarta: EGC.
Soegondo, S., Soewondo, P., & Subekti, I. (2009). Penatalaksanaan diabetes melitus
terpadu. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Suiraoka.IP.2012. Penyakit Degeneratif. Nuha Medika: Yogyakarta


Sutanto. (2010). Cekal (cegah dan tangkal) Penyakit Modern: Hipertensi, Stroke,
Jantung, Kolesrerol dan Diabetes (gejala-gejala, pencegahan dan pengendalian).
Yogyakarta: Nuha Medika
Sutedjo, A.Y. 2010. 5 strategi Penderita Diabetes mellitus Berusia Panjang. Cetakan:
5. Yogyakarta: Kanisius.
Suyono, S. (2006). Buku ajar ilmu penyakit dalam. (Edisi 3). Jakarta; Pusat penerbit
Departemen Penyakit Dalam FKUI.

Syahbudin, S (2009). Diabetes Melitus dan pengelolaannya. Cetakan 2, Pusat


Diabetes & Lipid RSUP Nasional Dr. Ciptomangunkusumo. Jakarta: FKUI
Tandra, hans. (2008). Segala Sesuatu yang Harus Anda Ketahui tentang Diabetes.
Jakarta : PT Gramedia Pustaka Umum
Yuanita, Alfinda. 2013. Pengaruh Diabetes Self Management Education (Dsme)
Terhadap Resiko Terjadinya Ulkus Diabetik Pada Pasien Rawat Jalan Dengan
Diabetes Mellitus (Dm) Tipe 2. Skripsi. Jakarta: Universitas Jember

Anda mungkin juga menyukai