Anda di halaman 1dari 23

BAHAN KULIAH

ANALISA STRUKTUR 4
I. PENDAHULUAN
I.1. Umum
Secara umum struktur yang dimaksud dalam analisis struktur ialah struktur rangka, dan
dibagi menjadi : balok, rangka batang (truss) bidang dan ruang, portal (frame) bidang dan ruang,
kemudian balok grid (balok silang). Jenis struktur ini dapat dijelaskan seperti pada gambar I.1,
dan kategori ini dipilih karena masing-masing merupakan jenis struktur yang mempunyai ciriciri tersendiri. Untuk analisis struktur pada setiap kategori cukup berbeda, sehingga perlu
dibahas secara terpisah.

Setiap struktur rangka terdiri batang-batang yang panjangnya jauh lebih besar
dibandingkan dengan ukuran penampang lintangnya. Titik kumpul (joint) struktur dapat berupa
titik pertemuan batang, tumpuan maupun ujung bebas. Tumpuan dapat berupa jepit, sendi atau
rol, dan dalam kondisi tertentu tumpuan dapat bersifat elastis (semi kaku).

Gambar I.1. Jenis struktur : (a) balok, (b) rangka batang bidang, (c) rangka batang ruang, (d)
balok silang, (e) portal bidang dan (f) portal ruang.

Pertemuan antara batang-batang (joint) dapat merupakan pertemuan yang sifatnya kaku
(rigid), dapat juga merupakan pertemuan engsel (sendi). Pada struktur balok, portal (frame)
bidang/ruang joint merupakan pertemuan yang kaku, sedangkan pada struktur rangka batang
(truss) bidang/ruang joint merupakan pertemuan sendi. Sehingga pada struktur rangka batang
(truss) gaya-gaya dalam elemen yang terjadi hanya gaya aksial saja, sedangkan gaya-gaya yang
terjadi pada struktur balok maupun portal dapat berupa gaya aksial, momen lentur, gaya geser
dan torsi.
Pada pembahasan selajutnya strutkur yang ditinjau dianggap terdiri dari batang prismatis,
atau dengan kata lain setiap batang mempunyai sumbu yang lurus, yang seragam diseluruh
panjang batangnya. Untuk struktur dengan batang tidak prismatis akan dibahas pada analisis
struktur yang lain.

I.2. Aksi dan perpindahan


Aksi dan perpindahan digunakan untuk menjabarkan konsep dasar tertentu dalam analisis
struktur. Suatu aksi (gaya) biasanya berupa gaya atau kopel tunggal, tetapi aksi dapat juga
merupakan gabungan antara gaya dan kopel, beban merata atau gabungan aksi-aksi tersebut.
Selain aksi luar pada struktur, ada juga aksi dalam struktur, yang merupakan resultante
distribusi tegangan dalam yang meliputi : momen lentur, gaya geser, gaya aksial dan momen
puntir (torsi). Pada gambar I.2 balok kantilever dibebani pada ujung B dalam bentuk aksi P1 dan
M1, pada ujung jepit A akan terjadi gaya dan momen reaksi yang diberi notasi RA dan MA yang
digambarkan dengan tanda panah dan garis miring. Untuk menghitung gaya aksial N, momen
lentur M dan gaya geser V pada suatu potongan balok, misalnya di tengah bentang, perlu ditinjau
keseimbangan statis suatu bagian balok, salah satu cara misalnya dengan diagram benda bebas
(free body diagram) setengah bagian kanan balok seperti pada gambar I.2.(b).

Gambar I.2. Balok Kantilever


Beberapa contoh perpindahan balok prismatis yang disebabkan oleh aksi tertentu pada balok
diberikan pada Tabel I.1.

Tabel I.1. Perpindahan Balok Prismatis

I.3. Keseimbangan
Tujuan analisis struktur ialah untuk menentukan berbagai aksi pada struktur, seperti reaksi
tumpuan dari resultante tegangan (momen lentur, gaya geser dan sebagainya). Penyelesaian
yang tepat untuk besaran tersebut harus memenuhi syarat keseimbangan statis, yang bukan
hanya untuk keseluruhan struktur, tetapi juga untuk setiap bagian struktur sebagai benda bebas.

Misalnya ditinjau benda bebas yang menahan beberapa aksi. Resultante semua aksi ini
dapat berupa gaya, kopel, atau keduanya. Jika benda bebas tersebut berada dalam keseimbangan
statis, maka resultante vektor gaya dan vektor momen harus nol. Vektor dalam ruang dapat
diuraikan dalam ketiga komponen sumbu yang saling tegak lurus, misalnya arah X, Y dan Z. Jika
resultante gaya dan resultante momen sama dengan nol, maka persamaan keseimbangan statis
adalah :
Fx = 0

Fy = 0

Fz = 0

Mx = 0

My = 0

Mz = 0

.....................(1-1)

Enam persamaan tersebut merupakan persamaan keseimbangan statis dalam tiga dimensi
yang dapat diterapkan pada sembarang benda bebas seperti struktur secara keseluruhan, bagian
dari struktur, batang tunggal atau titik kumpul struktur.
Apabila benda bebas ditinjau pada suatu bidang, dan semua vektor kopel tegak lurus pada
bidang yang bersangkutan, maka hanya ada tiga persamaan keseimbangan. Misalnya ditinjau
benda bebas pada bidang X-Y, maka akan diperoleh persamaan keseimbangan :
Fx = 0
karena persamaan Fz = 0, Mx = 0

Fy = 0
dan

My

Mz = 0
=

..........................(1-2)

dengan

sendirinya

telah

terpenuhi.

I.4. Kesepadanan
Syarat kesepadanan menyatakan kontinuitas perpindahan di seluruh bagian struktur, dan
kadang-kadang disebut syarat geometris. Syarat kesepadanan ini harus dipenuhi pada semua titik
kumpul (joint). Pada tumpuan, perpindahan struktur harus konsisten dengan kondisi tumpuan,
misalnya pada tumpuan jepit tidak akan terjadi translasi dan rotasi sumbu batang. Pada bagian
dalam struktur, misalnya pada titik kumpul struktur yang dihubungkan kaku (rigid), translasi
dan rotasi kedua batang harus sama besarnya.

I.5. Ketidak-tentuan Statis


Tujuan analisis struktur secara umum ialah untuk menentukan reaksi tumpuan dan
resultante tegangan dalam. Apabila kedua hal tersebut dapat ditentukan dengan persamaan
statika, maka struktur bersifat statis tertentu.
Pada umumnya struktur dalam praktek bersifat statis tak tertentu. Ketidak-tentuan struktur
dapat bersifat luar, dalam atau keduanya. Suatu struktur disebut tidak tertentu luar apabila
jumlah komponen reaksinya melebihi jumlah persamaan keseimbangan. Oleh karena itu, pada
struktur ruang akan bersifat statis tak tertentu bila jumlah komponen reaksinya lebih dari enam,
dan pada struktur bidang bersifat statis tak tertentu jika jumlah komponen reaksinya lebih dari
tiga. Gambar I.3 merupakan contoh struktur statis tak tertentu luar.

Gambar I.3. Struktur statis tak tentu luar

Karena jumlah persamaan keseimbangan statis hanya tiga, maka ada satu gaya kelebihan
yang tidak dapat dihitung dengan persamaan statika, sehingga struktur pada gambar I.3 bersifat
statis tak tertentu luar.
Pada beberapa struktur dibuat sedemikian rupa, sehingga resultante tegangan pada
penampang tertentu dibuat sama dengan nol. Syarat ini menambah sebuah persamaan
keseimbangan statis, dan dapat untuk menentukan sebuah komponen reaksi yang lain.
Struktur pada gambar I.4. secara eksternal bersifat statis tertentu, tetapi secara internal
bersifat statis tak tertentu. Rangka batang (truss) pada gambar I.4(a), gaya batangnya tidak dapat
dihitung hanya dengan persamaan statika. Apabila salah satu batang diagonal dihilangkan
(dipenggal), gaya-gaya batang dapat dihitung dengan persamaan statika. Jadi rangka batang
tersebut bersifat statis tak tertentu dalam. Portal (frame) pada gambar I.4(b) bersifat statis tak
tertentu dalam berderajad tiga, dan akan menjadi statis tertentu bila salah satu batangnya
dipenggal, misalnya batang CD. Pemenggalan batang CD ini merupakan pelepasan (release) tiga
buah resultante tegangan yaitu : gaya aksial, gaya geser dan momen lentur. Jumlah pelepasan
yang dibutuhkan agar struktur menjadi statis tertentu merupakan derajad ketidak tentuan.

Gambar I.4. Struktur statis tak tertentu dalam

I.6. Ketidak-tentuan Kinematis


Bila suatu struktur yang terdiri dari beberapa batang dibebani, maka titik-titik kumpul
(joint) akan mengalami perpindahan dalam bentuk putaran sudut dan translasi. Suatu sistem
perpindahan joint disebut bebas, bila setiap perpindahan dapat bernilai sembarang dan bebas
terhadap yang lainnya. Jumlah perpindahan joint yang bebas pada struktur disebut derajad
ketidak-tentuan kinematis atau jumlah derajad kebebasan. Jumlah ini sama dengan jumlah
derajad kebebasan yang berupa putaran sudut dan translasi (kebebasan goyangan).
Gambar I.5 merupakan contoh portal untuk menetukan jumlah derajad kebebasan. Joint A
dan D adalah jepit, joint B dan C masing-masing mempunyai tiga komponen perpindahan yaitu :
translasi arah horisontal, vertikal dan putaran sudut. Jika perubahan panjang batang akibat gaya
aksial diabaikan, keenam perpindahan akan saling bergantung, karena translasi joint B dan C
arahnya tegak lurus terhadap arah batang semula. Jika suatu nilai sembarang diberikan pada
salah satu arah perpindahan translasi, maka tiga perpindahan lainnya dapat ditentukan dengan
hubungan geomteris.
Contoh portal Gambar I.5 tersebut mempunyai putaran sudut pada joint B dan C saling
tidak tergantung, tetapi perpindahan translalsi pada joint B dan C saling tergantung. Jadi portal
tersebut mempunyai dua derajad kebebasan putaran sudut di B dan C, dan satu derajad
kebebasan goyangan, sehingga ketidak-tentuan kinematisnya berderajad tiga. Jika perubahan
bentuk aksial tidak diabaikan, maka keempat perpindahan translasi tidak saling bergantung, dan
derajad ketidak-tentuan kinematisnya menjadi enam.
Ketidak-tentuan kinematis dan ketidak-tentuan statis tidak boleh dirancukan satu dengan
yang lain. Sebagai contoh portal pada gambar I.5(a) mempunyai enam komponen reaksi di A
dan D, sehingga derajad ketidak-tentuan statisnya tiga. Jika jepitan di A diganti sendi, maka
derajad ketidak-tentuan statisnya akan berkurang satu. Tetapi hal ini akan memyebabkan
terjadinya putaran sudut (rotasi) di A, sehingga derajad ketidak-tentuan kinematisnya bertambah
satu. Pada umumnya dengan pelepasan derajad ketidak-tentuan statis akan menambah derajad
ketidak-tentuan kinematis. Oleh karena itu semakin besar ketidak-tentuan statis, akan semakin
memudahkan dalam analisis struktur dengan metode perpindahan.

Gambar I. 5. Ketidak-tentuan Kinematis Portal Bidang

I.7. Persamaan Derajad Ketidak-tentuan


Untuk menentukan derajad ketidak-tentuan berbagai macam struktur dapat dilakukan
dengan cara pemeriksaan atau dengan menentukan jumlah pelepasan yang diperlukan untuk
membuat struktur menjadi statis tertentu. Pada struktur yang jumlah batangnya banyak,
pendekatan semacam itu akan menjadi sulit, sehingga penggunaan prosedur yang formal akan
lebih banyak membantu.
Pada struktur rangka batang (truss) bidang dengan m buah batang dan j buah joint
(termasuk tumpuan). Jumlah gaya yang tidak diketahui ialah tiga kompo-nen reaksi dan gaya
pada setiap batang, yaitu 3 + m. Pada tiap joint terdapat persamaan keseimbangan Fx = 0 dan
Fy = 0, penjumlahan ini adalah untuk seluruh komponen gaya, baik gaya dalam maupun gaya
yang di luar struktur. Sehingga jumlah persamaam keseluruhan adalah 2 j.
Pada struktur statis tertentu, jumlah persamaan statika sama dengan jumlah yang tidak
diketahui, ialah :
2j=m+3

........................(1-3)

Apabila struktur dalam kondisi stabil, jumlah batang dan jumlah komponen reaksi r dapat
ditukar, sehingga secara keseluruhan syarat
2j=m+r

.........................(1-4)

harus dipenuhi agar struktur bersifat statis tertentu. Dengan demikian derajad ketidak-tentuan
struktur dapat dituliskan dengan :
i = (m + r) 2 j

......................... (1-5)

Gambar I. 6. Gaya-gaya ujung pada rangka, (a) rangka batang (truss), (b) portal bidang dan (c)
portal ruang

Pada rangka batang ruang, tiga persamaan keseimbangan ialah seperti pada persamaan (11) : Fx = 0 , Fy = 0 dan Fz = 0, sedangkan jumlah persamaaan keseluruhan adalah 3 j,
dan syarat statis tertentu ialah :
3j=m+r

...............(1-6)

Sehingga derajad ketidak-tentuannya ialah :


i = (m + r) 3 j

...............(1-7)

Persamaan seperti (1-5) dan (1-7) dapat juga diturunkan untuk portal dengan joint yang
kaku. Pada portal bidang, setiap joint kaku mempunyai dua persamaan gaya dan satu persamaan
momen. Resultante tegangan pada setiap batangnya dapat ditentukan bila tiga dari enam gaya
ujung diketahui, sehingga tiap batang memberi-kan tiga gaya dalam yang tidak diketahui. Suatu
portal bidang yang kaku akan bersifat statis tertentu, jika
3j=3m+r

...............(1-8)

Derajad ketidak-tentuannya ditentukan dengan


i = (3 m + r) 3 j

...............(1-9)

Dalam persamaan (1-9) ini j adalah jumlah semua joint yang kaku termasuk tumpuan, dan m
adalah jumlah batang. Pada portal ruang, tiap joint yang kaku mempunyai tiga persamaan gaya
dan tiga persamaan momen. Resultante tegangan di setiap batang dapat ditentukan apa-bila
enam dari duabelas gaya diketahui, sehingga setiap batang memberikan enam gaya
yang tidak diketahui. Portal ruang bersifat statis tertentu apabila :
6j=6m+r

.............(1-10)

dan derajad ketidak-tentuannya ditentukan dengan


i = (6 m + r) 6 j

.............(1-11)

I. 8. Metode Energi
Dalam ilmu mekanika energi didefinisikan sebagai kapasitas untuk melakukan kerja, dan
kerja adalah hasil kali suatu gaya dengan jarak kearah gerak gaya. Pada benda padat yang
berdeformasi (berubah bentuk), tegangan yang dikalikan dengan luas adalah gaya, sedangkan
deformasi adalah jarak. Hasil kali kedua besaran ini merupakan kerja dalam (internal work)
yang dilakukan oleh benda akibat gaya luar. Kerja dalam ini disimpan dalam benda sebagai
energi deformasi elastis dalam atau energi regangan elastis (elastic strain energi). Kemudian
dengan menggunakan azas kekekalan energi dan menyamakan kerja dalam dan kerja luar akan
diperoleh defleksi batang yang dibebani aksial, lenturan dan geser.
Pemecahan masalah dengan menyamakan kerja luar dan kerja dalam, terbatas pada
kejadian hanya satu gaya saja yang bekerja pada batang. Oleh karena itu prosedur yang umum
digunakan ialah dengan kerja maya (virtual work).
Pada gambar I.7(a) ditinjau sebuah elemen kecil tak berhingga, yang mengalami tegangan
normal x . Gaya yang bekerja pada permukaan kanan atau kiri elemen ialah ialah x dy dz ,

dengan dy dz adalah luas kecil tak berhingga dari elemen tersebut. Karena gaya tersebut elemen
akan bertambah panjang/pendek sebesar x dx, dengan x adalah regangan pada arah x. Bila
elemen tersebut terdiri dari bahan yang elastis linier, maka tegangan akan sebanding dengan
regangan, seperti ditunjukkan pada gambar I.7(b). Apabila gaya yang diberikan berangsurangsur dari nol sampai besaran tertentu, maka gaya rata-rata yang bekerja pada elemen ketika
terjadi deformasi besarnya adalahx dy dz / 2. Gaya rata-rata ini jika dikalikan dengan jarak
yang ditempuh akan merupakan kerja yang dilakukan pada elemen tersebut. Pada benda yang
elastis sempurna tidak ada energi yang hilang, sedang kerja yang dila-kukan pada elemen
disimpan sebagai energi regangan dalam yang dapat dikembali-kan. Jadi energi regangan dalam,
diberi notasi U, untuk sebuah elemen kecil tak berhingga yang mengalami tegangan arah sumbu
tunggal (uniaxial) dapat dituliskan sebagai :

dengan dv adalah volume elemen.

Gambar I. 7. Elemen dan Energi Regangan

Dengan menyusun kembali persamaan (1-12), akan diperoleh energi regangan yang
disimpan dalam sebuah benda elastis per-satuan volume bahan, atau kerapatan energi
regangannya (strain energy density) Uo . Sehingga :

Pernyataan ini secara grafis dapat ditafsirkan sebagai luas dibawah garis miring pada
diagram tegangan-regangan pada gambar I.7(b). Sedangkan luas yang dibatasi oleh garis miring
dan sumbu tegangan pada digarm tersebut disebut energi komplementer (complementary
energy), yang diberi notasi U*. Untuk bahan yang elastis linier U=U*, sedangkan untuk bahan
yang tidak elastis linier seperti pada gambar I.7(c) U U*.
Pada benda yang elastis akan berlaku Hukum Hooke, sehingga x = E x, maka
persamaan (1-13) dapat ditulis :

Pada bahan tertentu substitusi nilai tegangan pada batas proporsional kepersamaan (1-14) akan
memberikan indeks kemampuan bahan untuk menyimpan atau menyerap energi tanpa deformasi
permanen. Besaran yang diperoleh tersebut dinamakan Modulus Kelentingan (Modulus of
Resilience) dan digunakan untuk membedakan bahan-bahan dengan mempertimbangkan
pemakaian energi yang harus diserap oleh bahan. Sebagai contoh baja yang mempunyai kuat
proporsianal 200 MPa dan modulus E = 2 . 105 MPa, akan mempunyai modulus kelentingan
sebesar :

Dengan pertimbangan yang sama, luas dibawah diagram tegangan-regangan yang lengkap
akan memberikan suatu pengukuran kemampuan bahan untuk menahan beban energi sampai
patah (rusak). Hal ini disebut ketangguhan (toughness). Sehingga makin besar luas total yang
ada dibawah diagram tegangan-regangan, makin tangguh bahan tersebut. Dalam daerah tak
elastis, hanya sebagian kecil energi yang dapat diserap oleh bahan dan dapat dikembalikan lagi.
Kebanyakan energi tersebut tersebar kedalam bahan yang berdeformasi permanen dan hilang
menjadi panas. Hal ini ditunjukkan seperti pada gambar I.7(c).

II. METODE FLEKSIBILITAS

2.1 Persamaan Aksi dan Perpindahan


Hubungan yang ada antara aksi dan perpindahan berperan penting dalam analisa struktur
dan banyak dipakai dalam metode gaya dan kekakuan. Cara yang mudah untuk menyatakan
hubungan antara aksi pada struktur dan perpindahan struktur ialah dengan persamaan aksi dan
perpindahan. Sebagai contoh persamaan ini, ditinjau pegas elastis linier pada gambar II.1. Aksi
A menekan pegas sehingga timbul perpindahan D di ujung pegas tersebut. Hubungan antara A
dan D dapat dinyatakan dengan persamaan perpindahan, sebagai berikut:
D=FA

.............(2-1)

Dalam persamaan ini, F adalah fleksibilitas pegas dan diindentifikasikan sebagai


perpindahan akibat satu satuan aksi A.

Gambar II. 1. Pegas Elastis Linier


Hubungan antara aksi A dan perpindahan D untuk pegas pada Gambar II.1 dapat dituliskan
dengan persamaan aksi yang menyatakan A dalam D :
A=SD

.............. (2-2)

Dalam persamaan ini, S adalah kekakuan pegas yang diidentifikasikan sebagai aksi yang
dibutuhkan untuk menimbulkan perpindahan satu satuan. Terlihat dari persamaan (2-1) dan (22) bahwa fleksibilitas dan kekakuan pegas merupakan kebalikan (invers) antara satu dengan
lainnya, yaitu :

Satuan fleksibilitas pegas ialah panjang dibagi gaya, sedang satuan kekakuan ialah gaya
dibagi panjang.

Hitungan di atas, yaitu persamaan (2-1) sampai (2-3), yang diterapkan pada pegas juga
akan berlaku bagi struktur elastis linier yang dibebani aksi tunggal. Contohnya ialah balok
bertumpuan sederhana dengan gaya terpusat A di tengah bentang pada Gambar II. 2(a).
Perpindahan D dalam gambar merupakan defleksi vertikal ke bawah di titik tempat A bekerja
pada balok. Jadi dalam contoh ini, perpindahan D tidak hanya selaras dengan A tetapi juga
diakibatkan oleh A. Persamaan aksi dan perpindahan di atas, yaitu persamaan (2-2) dan (2-1)
berlaku untuk balok pada Gambar II. 2(a), asal fleksibilitas F dan kekakuan S ditentukan secara
tepat. Dalam hal ini fleksibiltas F adalah perpindahan akibat beban satu satuan seperti pada
gambar II. 2(b). Sehingga :

Gambar II. 2. Fleksibilitas dan Kekakuan Balok dengan Aksi Tunggal

Kekakuan S sama dengan invers dari fleksibilitas, adalah aksi yang dibutuhkan untuk
memberikan perpindahan satu satuan, lihat gambar II.2(c), sehingga :

2.2 Matrik Fleksibilitas


Ditinjau struktur balok seperti pada gambar II. 3 yang dibebani A1 dan A2 pada ujung
bebas. Beban satuan yang selaras dengan A1 dan A2 masing-masing di-tunjukkan pada gambar
II. 3(b) dan gambar II. 3(c). Perpindahan akibat beban satu satuan ini dan yang selaras dengan
aksi A1 dan A2 adalah koefisien fleksibilitas, pada gambar ditunjukkan dengan F11, F21, F12
dan F22.

Gambar II. 3. Balok dengan Koefisien Fleksibiltas

Dengan menggunakan prinsip superposisi (bahan dianggap elastik linier), setiap


perpindahan pada gambar II. 3 dapat dinyatakan sebagai jumlah perpindahan akibat beban A1
dan A2 yang bekerja secara terpisah. Perpindahan D1 dan D2 dapat dituliskan sebagai :

D11 adalah perpindahan yang selaras dengan A1 dan diakibatkan oleh A1, D12 adalah
perpindahan yang selaras dengan A1 yang diakibatkan oleh A2. D21 adalah perpindahan yang
selaras dengan A2 yang diakibatkan oleh A1, D22 adalah perpindahan yang selaras dengan A2
dan diakibatkan oleh A2.
Setiap suku perpindahan pada ruas kanan persamaan (2-6) adalah fungsi linier dari salah
satu beban, yaitu setiap perpindahan berbanding langsung dengan salah satu beban. Misalnya
D12 adalah perpindahan akibat A2 sendiri, yang nilainya sama dengan A2 dikalikan koefisien
tertentu. Apabila koefisien tersebut diberi notasi F, maka persamaan (2-5) dapat dituliskan
dengan :

Koefisien F pada persamaan (2-7) disebut dengan koefisien fleksibiltas atau untuk
mudahnya disebut fleksibiltas. Pada struktur yang dibebani dengan n aksi dan menyebabkan n
perpindahan yang selaras, dapat dibentuk persamaan sebagai berikut :

Pada persamaan (2-8), koefisien fleksibilitas Fij adalah perpindahan ke-i (perpindahan
yang selaras dengan aksi ke-i) akibat satu satuan aksi ke-j. Koefisien tersebut bernilai positif jika
searah dengan arah positif aksi ke-i. Dalam bentuk matrik, persamaan (2-8) dapat ditulis :

atau secara ringkas dapat ditulis dengan :

D=FA

.............(2-10)

D = matrik dengan ordo n x 1


F = matrik dengan ordo n x n
A = matrik dengan ordo n x 1
Sebagai catatan, untuk membedakan notasi matrik dengan skalar, maka untuk notasi matrik
ditulis dengan huruf tebal (bold).
Koefisien fleksibiltas pada diagonal matrik F disebut koefisien fleksibiltas langsung,
yang menyatakan perpindahan akibat aksi satu satuan yang selaras. Koefisien fleksibiltas yang
lain disebut koefisien fleksibilitas silang, yang menyatakan perpindahan akibat aksi satu satuan
yang tidak selaras dengan perpindahan tersebut. Jadi untuk fleksibiltas langsung i = j, sedang
untuk fleksibiltas silang i j.

2.3 Metode Fleksibilitas pada Balok


Untuk menentukan kelebihan gaya reaksi pada balok statis tak tertentu seperti pada
gambar II. 5(a) dapat dilakukan dengan metode fleksibiltas. Pada gambar II. 5(a) reaksi yang
terjadi pada struktur ada empat, dua pada sendi A, satu pada rol B dan satu lagi pada rol C,
sehingga struktur merupakan statis tak tertentu berderajad satu. Karena beban arahnya vertikal,
maka reaksi di A arah horisontal tidak perlu ditinjau. Reaksi di B (RB) diambil sebagai
kelebihan statis (redundant), walaupun dapat juga dipilih reaksi pada C. Setelah kelebihan RB
diambil maka akan diperoleh struktur statis tertentu seperti pada gambar II. 5(b) dan struktur ini
disebut struktur terlepas (released structure). Akibat beban w struktur terlepas pada joint B akan
terjadi defleksi sebesar B seperti gambar II. 5(b), yang besarnya :

Gambar II. 5. Balok dengan tiga dukungan


Sebenarnya pada joint B ini tidak ada defleksi, karena joint B merupakan dukungan,
sehingga reaksi pada B harus sedemikian rupa sehingga defleksi ke atas akibat RB harus sebesar
B , lihat gambar II. 5(c). Dengan prinsip super-posisi perpindahan akhir pada joint B pada
struktur terlepas adalah resultante perpindahan akibat beban w dan reaksi RB. Perpindahan ke
atas akibat RB ialah :

Dengan menyamakan dua persamaan B akan diperoleh :

Sehingga reaksi RB adalah :

Setelah reaksi RB diperoleh, maka reaksi-reaksi yang lain dapat dihitung dengan
persamaan

keseimbangan

statis.

Persamaan

(2-11)

disebut

persamaan

kesepadanan

(compatibility), yang menyatakan bahwa perpindahan ke bawah akibat beban w sama dengan
perpindahan ke atas akibat reaksi kelebihan. Pada kasus balok dengan tiga tumpuan seperti pada
gambar II. 5(a) tersebut dapat juga diselesaikan dengan dengan pendekatan lebih umum sebagai
berikut. Pertama perpindahan akibat satu satuan RB dihitung, kemudian perpindahan ini
dikalikan dengan RB untuk menentukan perpindahan akibat RB. Prosedurnya akan lebih umum
dan sistematis bila perjanjian tandanya konsisten dengan aksi dan perpindahan di B. Jadi dengan
memberi gaya satu satuan pada joint B yang selaras dengan RB akan terjadi perpindahan B,
yang besarnya ialah :

Perpindahan akibat RB yang bekerja pada struktur ialah B RB , dan perpindahan akibat
beban luar w ialah :

Perpindahan ini tandanya negatif karena arahnya ke bawah. Superposisi perpindahan


akibat beban luar w dan reaksi RB harus menghasilkan perpindahan nol pada joint B. Jadi
persamaan kesepadanannya ialah :

Sehingga akan diperoleh :

tanda positif artinya reaksi RB arahnya ke atas.


Pada persamaan (2-14) menyatakan bahwa B adalah perpindahan akibat satu unit beban
yang selaras dengan RB , sedangkan B adalah perpindahan akibat beban luar w. Apabila
derajad ketidak-tentuan statis struktur lebih dari satu, pendekatan dalam contoh tersebut harus
diorganisir lebih lanjut, dan notasi yang lebih umum harus digunakan. Untuk jelasnya ditinjau
pada kasus contoh 2-2 sebagai berikut.

Contoh 2-2 : Balok dengan kedua ujung dijepit pada gambar II. 6(a), dengan modulus elastis E
dan momen inersia potongan I. Momen-momen ujung diambil sebagai redundant dengan notasi
R1 dan R2 , dan akan dihitung besarnya momen-momen ujung tersebut.

Gambar II. 6. Balok Contoh 2-2


Arah positif R1 dan R2 ditentukan searah jarum jam, dan dengan bantuan Tabel I.1 dapat
ditentukan koefisien-koefisen sebagai berikut.

Analog dengan persamaan (2-14) akan diperoleh persamaan : {Q} + [F] {R} = 0 dengan
{Q} adalah matrik perpindahan akibat beban luar, [F] adalah matrik perpindahan akibat gaya
satu satuan yang selaras dengan R1 dan R2 (matrik fleksibiltas), dan {R} adalah matrik reaksi
sebagai redundant.

III. METODE SLOPE DEFLECTION


III. 1. Umum
Untuk analisis struktur statis tak tertentu dikenal beberapa metode. Salah satunya ialah
Metode Slope Deflection, atau sering disebut dengan Metode Defleksi Lereng. Pada prinsipnya
Metode Slope Deflection ialah metode untuk menentukan momen-momen ujung batang pada
portal (frame).
Beberapa anggapan pada analisis struktur dengan Metode Slope Deflection ialah :
1. Semua joint dihubungkan secara kaku (rigid);
2. Sudut pada pertemuan batang besarnya tetap sama setelah mengalami rotasi akibat
pembebanan dan sebelum adanya pembebanan (gambar III.1);
3. Perubahan akibat gaya aksial dan akibat gaya geser diabaikan;
4. Rotasi-rotasi pada joint besarnya belum diketahui, yang merupakan bilangan anual yang
harus dihitung;
5. Jumlah momen ujung pada setiap joint sama dengan nol ( M = 0), kecuali pada tumpuan
yang berdiri sendiri.

Gambar III. 1. Balok Menerus dan Portal

Pada setiap penampang batang akan terjadi gaya aksial, momen dan gaya geser. Karena
pengaruh gaya aksial dan gaya geser diabaikan, maka untuk analisis struktur yang dominan
adalah pengaruh momen lentur. Untuk menentukan gaya-gaya reaksi dan tegangan dalam harus
dipenuhi syarat-syarat statika dan syarat geometri, seperti yang telah dijelaskan. Selanjutnya
untuk analisis dengan Metode Slope Deflection diperlukan pengertian tentang Momen Jepit
Ujung (Fixed End Momen) seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

III. 2. Momen Jepit Ujung (Fixed End Momen = Momen Primer)


Momen Jepit Ujung (Momen Primer) ialah momen pada batang yang ujungnya dijepit
sempurna. Pada gambar III. 2 (a) diperlihatkan sebuah balok dengan ujung A dijepit dan ujung B
rol, maka momen MFAB pada jepitan A disebut momen primer akibat beban P.
Pada gambar III. 2 (a) A = 0, karena dukungan pada A jepit. Untuk mennetukan momen
ujung A, jepitan di A dilepas, sehingga struktur se-perti pada gambar III. 2 (b) dan hubungan
A1 dan B1 seperti yang diberikan pada tabel I.1 kasus nomor 8, sebagai berikut :

Gambar III.2. Balok Jepit-Rol

Akibat momen ujung pada A pada gambar III. 2(c), akan diperoleh hubungan seperti pada tabel
I.1 pada kasus nomor 4, sebagai berikut :

III. 3. Persamaan Slope Deflection


Momen ujung batang pada struktur dipengaruhi oleh beban luar pada batang, rotasi ujung
dekat, rotasi ujung jauh dan perpindahan joint. Hal ini dapat dijelaskan seperti pada gambar
III.3.

Gambar III. 3. Rotasi dan Translasi Joint pada Balok

Momen MAB dan MBA pada ujung-ujung batang pada gambar III. 3 (a) meru-pakan hasil
superposisi gambar III. 3(b), III. 3(c ), III. 3(d) dan III. 3(e). Dengan menggunakan tabel I.1
dapat ditentukan :

Perjanjian tanda untuk momen, rotasi, translasi dan reaksi gaya ditentukan sebagai berikut:
1. Momen searah jarum jam diberi tanda negatif, sedang momen berlawanan arah jarum
jam diberi tanda positif;

2. Rotasi searah jarum jam diberi tanda positif, rotasi berlawanan arah jarum jam diberi
tanda negatif;
3. Translasi ke kanan/atas diberi tanda positif, translasi ke kiri/bawah diberi tanda negatif;
4. Reaksi arah ke kanan dan ke atas diberi tanda positif, sedang reaksi arah kekiri dan
kebawah diberi tanda negatif.

III. 4. Metode Slope Deflection Tanpa Translasi Joint


Pada struktur portal (frame) atau balok, kadang-kadang dijumpai struktur yang tidak
mengalami translasi joint. Hal ini disebabkan oleh adanya pengekangan, atau karena sifat
simetris dari struktur. Pada gambar III. 1(a), balok tidak mengalami translasi pada joint, karena
dukungan sendi maupun rol tidak berpindah tempatnya kearah tegak lurus sumbu batang. Pada
gambar III. 1(b), joint-joint bebas dapat juga tidak mengalami translasi ke arah horisontal
maupun vertikal. Translasi arah vertikal pada joint bebas tidak ada karena pada bagian bawah
ditahan oleh dukungan jepit, sedangkan translasi horisontal dapat juga tidak terjadi apabila
kekakuan, geometri dan beban yang diberikan pada struktur simetris.

Pada struktur yang tidak mengalami translasi joint sering disebut dengan struktur yang
tidak goyang. Pada struktur semacam ini berarti tidak ada tranlasi () ke arah tegak lurus
sumbu batang, sehingga persamaan Slope Deflection pada persamaan (3-10) nilai R = 0. Untuk
selanjutnya akan diberikan beberapa kasus struktur yang tidak mengalami translasi joint.

III. 5. Metode Slope Deflection Dengan Transalasi Joint


Pada struktur yang sebagian joint-nya mengalami translasi joint, nilai R (=/L) pada
batang yang berhubungan dengan joint tersebut tidak sama dengan nol. Hal ini dapat terjadi pada
balok menerus yang salah satu dukungannya berpindah tempat atau pada portal yang mengalami
goyangan akibat bentuk struktur dan pembebanan yang tidak simetris.
Balok menerus seperti pada gambar III. 6, dukungan pada joint D turun, sehingga batang
CD dan DE nilai RCD 0 dan RDE 0 . Untuk batang BC nilai RBC = 0 karena dukungan
B dan C tidak berubah tempatnya. Pada balok menerus biasanya perpindahan (translasi) joint ini
nilainya diberikan (diketahui), sehingga nilai R yang merupakan rasio dan L langusng dapat
dihitung.
Portal pada gambar III. 7 merupakan portal yang mengalami translasi ke arah horisontal
pada joint-joint B dan C. Nilai pada joint B dan C besarnya belum diketahui, sehingga
besaran ini merupakan bilangan anu yang harus dihitung. Jadi pada portal yang mengalami
goyangan, derajad kebebasan kinematiknya akan bertambah sesuai dengan jumlah goyangan
yang terjadi. Untuk menentukan nilai R syarat kesepadanan yang harus dipenuhi ialah jumlah
gaya horisontal harus sama dengan nol ( FH = 0).
Pada portal gambar III. 7(a) besaran yang harus dihitung ialah B , C dan R, karena
dukungan A dan D jepit, nilai A dan D = 0. Dari syarat kesepadanan pada joint B dan C
akan diperoleh dua persamaan. Dua persamaan tersebut belum cukup untuk menyelesaikan nilainilai B , C dan R. Satu lagi persamaan untuk menye-lesaikan kasus tersebut ialah
persamaan goyangan FH = 0 HA + HD + P = 0. Pada portal dengan dua tingkat akan
diperoleh nilai goyangan R1 dan R2. Sehingga untuk memenuhi persamaan diperlukan syarat
kesepadanan tiap-tiap joint dan persamaan goyangan tingkat atas dan tingkat bawah. Untuk
selanjutnya akan diberikan beberapa contoh kasus seperti berikut.

Anda mungkin juga menyukai