Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA DASAR

ACARA VII
DARAH

Disusun oleh :
Kelompok XXXII
Citra Indriastuti

PT/06743

Anjar Riyanto

PT/06777

Elsa Dhesiyanna Dewi

PT/06787

Firdha Aulia

PT/06860

Asisten : Qorina
LABORATORIUM BIOKIMIA NUTRISI
BAGIAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

ACARA VII
DARAH
Tujuan Praktikum
Praktikum Darah ini bertujuan untuk mengetahui adanya zat-zat
protein dan bukan protein dalam serum darah, serta mengetahui pigmen
yang terkandung dalam darah.
Tinjauan Pustaka
Darah adalah cairan yang mengangkut zat-zat makanan ke segala
macam bagian tubuh dan menyediakan sarana dimana hasil sisa
metabolisme tubuh dapat diangkut dan dibuang (Tillman et al., 1998).
Darah tersusun atas plasma dan sel darah. Sel darah mencakup eritrosit,
leukosit, dan trombosit. Plasma darah mengandung sekitar 90% air dan
berbagai zat terlarut atau tersuspensi di dalamnya. Plasma merupakan
komponen penyusun darah yang memiliki komposisi sangat berbeda dari
cairan intrasel. Plasma mengandung sejumlah protein yang berperan
sangat penting untuk menghasilkan tekanan osmotik plasma. Tekanan
osmotik plasma yang ditimbulkan oleh protein disebut tekanan osmotik
koloid (Isnaeni, 2006).
Darah adalah jaringan yang beredar dalam system pembuluh darah
yang tertutup. Darah terdiri dari unsur-unsur sel darah merah, sel darah
putih, dan trombosit yang terdapat dalam medium cair (plasma) yang
merupakan campuran sangat kompleks, tidak hanya terdiri dari protein
sederhana, tetapi juga protein campuran, seperti glikoprotein dan berbagai
jenis lipo-protein. Protein plasma terdiri dari tiga bagian, yaitu fibrinogen,
albumin, dan globulin. Albumin merupakan bahan yang paling tinggi
konsentrasinya dan mempunyai berat molekul paling rendah disbanding
molekul protein utama plasma. Kandungan protein di dalam plasma darah
berkisar 2% hingga 3% dari bobot tubuh (Lisnawati, 2011).
Salah satu protein didalam plasma darah adalah fibribogen. Protein
ini berfungsi untuk penggumpalan darah ketika terjadi kebocoran

pembuluh darah saat luka. Penggumpalan terjadi karena fibrinogen


diubah menjadi fibrin yang disebabkan oleh trombin yang terdapat dalam
darah sebagai protrombin. Pembentukan trombin

dari protrombin

tergantung dengan dengan adanya tromboplastin darah dan ion Ca


(Poedjadi dan Titin, 2006).
Kerusakan pada pembuluh darah seperti cedera menyebabkan
protein pembekuan darah, kerusakan pembuluh darah menyetuskan tiga
urutan peristiwa untuk memperbaiki cedera dan mencegah kehilangan
darah.

Vasokonstriksi

berfungi

untuk

menurunkan

aliran

darah,

penggumpalan trombosit ditempat cedera, dan agregasi protein fibrin


membentuk suatu jaringan yang tidak larut atau bekuan darah ditempat
robekan . Homeostatis berfungsi untuk mempertahankan volume darah
yang konstan, memerlukan pengaktifan koagulasi darah yang cepat,
lokalisasi bekuan ketempat robekan pembuluh dan penghentian proses
secara cepat apabila bekuan terlalu terbentuk. Protein yang terlibat dalam
pengaktifan

pembekuan

darah,

misal

faktor

VIII

dan

trombin,

diklasifikasikan ke dalam tiga golongan : Protease, kofaktor protein, dan


protein pengatur (Dawn et. al., 1996).
Darah memiliki banyak fungsi, tapi yang paling utama dalah
sebagai alat transport terutama oksigen dan juga nutrient-nutrien dalam
tubuh. Darah terdiri dari berbagai macam susunan dan fungsinya, salah
satu komponen daram darah adalah sel darah merah yang berfungsi
sebagai transport nutrient. Komponen lainnya adalah sel darah putih yang
memiliki fungsi sebagai alat pertahanan tubuh dari gangguan penyakit
maupun virus. Komponen yang terakhir adalah plasma darah, dibagian ini
terkandung berbagai macam air dan mineral (Fujaya, 2004).

Materi dan Metode


Materi
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum darah antara lain
tabung reaksi , pipet, gelas ukur, kertas saring, corong, dan lampu spirtus.
Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum darah adalah
serum, larutan (NH4)2SO4 jenuh, darah ayam, air, larutan asam asetat,
indikator khlorofenol red, larutan HNO3 pekat, larutan AgNO3, NH4OH,
amonium molibdat, kalium oksalat, gliserol, bubuk Na 2CO3 bebas air,
larutan CuSO4 2,5%, larutan benzidin, dan larutan H2O2 3%.
Metode
Pengendapan
Pengendapan Globulin. Sebanyak 3 mL serum diisikan ke dalam
tabung reaksi kemudian ditambahkan 3 mL larutan (NH4)2SO4 jenuh.
Larutan digojog, endapan globulin yang terbentuk dipisahkan dengan cara
disaring. Sebagian filtrat disimpan untuk pecobaan albumin. Endapan
globulin dipisahkan dalam tabung kemudian dituangi sedikit air dan
digojog lagi hingga endapannya larut, kemudian diencerkan dengan air
dan dicatat reaksi yang terjadi.
Pengendapan Albumin. Ammonium sulfat padat ditambahkan
pada filtrat yang didapat dari percobaan sebelumnya. Larutan digojog
kemudian akan terbentuk endapan (albumin). Larutan disaring, endapan
dipindahkan ke dalam tabung, ditambahkan air, lalu digojog lagi. Endapan
yang larut diencerkan dan dibiarkan lalu diamati dan dicatat apakah
endapan larut atau tidak.
Zat-Zat Bukan Protein dalam Darah
Deproteinasi Serum Darah. Sebanyak 5mL darah ditambah
dengan 10mL air dididihkan kemudian ditambahkan setetes demi setetes
2% larutan asam asetat sehingga terjadi endapan. Endapan disaring lalu
ditetesi indikator khlorofenol merah kemudian diasamkan hingga pH
menunjukkan 5,4 (warna indikator tepat hilang), selanjutnya dididihkan

dan disaring. Filtrat (P.1) kemudian akan digunakan untuk percobaan


berikutnya.
Uji Khlorida. Satu tetes HNO3 pekat dan beberapa tetes larutan
AgNO3. ditambahkan kedalam filtrat (P.1) yang diperoleh dari percobaan
sebelumnya. Terbentuk larutan berwarna putih atau endapan putih.
Endapan dilarutkan dengan cara ditambahkan NH 4OH, kemudian diamati
perubahan yang terjadi.
Uji Fosfat. Beberapa tetes ammonium molibdat dan 1 tetes HNO 3
pekat dituang ke dalam tabung dan ditambahkan ke dalam filtrat (P.1).
Sampel dipanaskan, kemudian diamati perubahan yang terjadi.
Uji Kalsium. Beberapa tetes larutan kalium oksalat ditambahkan
ke dalam filtrat (P.1). Perubahan yang terjadi diamati.
Uji Glukosa. Sebanyak 2 tetes gliserol, sedikit bubuk Na 2CO3
bebas air dan 2 tetes 2,5% larutan CuSO 4 2mL ditambahkan ke dalam
filtrat (P.1). Sampel dididihkan. Perubahan yang terjadi diamati
Pigmen Darah
Uji Benzidin. Sebanyak 1 tetes darah diencerkan dengan 10mL air
kemudian diambil 1mL dan ditambahkan berturut-turut 1,5mL larutan
Benzidin dan 0,5mL larutan H2O2 3%. Perubahan yang terjadi diamati.

Hasil dan Pembahasan


Pengendapan
Pengendapan Globulin. Tujuan uji penggumpalan globulin adalah
untuk

mengetahui

adanya

globulin

dalam

plasma

darah

dan

karakteristiknya. Prinsip kerja dari pengendapan globulin adalah globulin


akan larut dalam air, larut dalam larutan garam encer, dan mengendap
dengan ammonium sulfat setengah jenuh. Hasil yang diperoleh pada
percobaan ini ketika tabung diisi plasma darah dan larutan (NH 4)2SO4
diperoleh sedikit endapan. Endapan yang diperoleh setelah disaring
ditambah dengan air ternyata larut.
Larutnya endapan ketika ditambah dengan air menunjukkan bahwa
di dalam serum terdapat globulin, sebab sifat globulin adalah larut larut
dalam air menandakan adanya globulin karena sifat globulin yang larut
dalam air, larut dalam larutan garam encer, dan mengendap dengan
ammonium sulfat jenuh. Fungsi pemberian (NH4)2SO4 adalah untuk
mendenaturasi protein atau untuk mengurangi daya larut globulin,
sehingga globulin terpisah sebagai endapan. Terbentuknya endapan dapat
dilakukan dengan cara penambahan asam, ion logam, dan pemanasan.
Pengendapan terjadi karena ion garam ammonium sulfat menarik molekul
air dan albumin menjauh dari globulin disebabkan ion garam ammonium
sulfat memiliki muatan berat jenih yang lebih besar dibanding protein
(Winarno, 2002). Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh
sesuai dengan literatur bahwa globulin larut dalam air, larutan garam
encer, dan mengendap dengan ammonium sulfat jenuh.
Pengendapan Albumin. Tujuan uji pengendapan albumin adalah
untuk

mengetahui

adanya

albumin

dalam

plasma

darah

dan

karakteristiknya. Prinsip kerja dari pengendapan albumin adalah albumin


akan larut dalam air, larutan garam dan setengah jenuh, tidak larut dalam
ammonium sulfat jenuh atau larutan garam yang sangat pekat yang lain.
Hasil yang diperoleh pada percobaan ini ketika filtrat globulin ditambah

ammonium sulfat padat berlebih menghasilkan endapan. Endapan yang


diperoleh setelah disaring dan ditambah air ternyata larut.
Nicholson, et.al. (2011) mengatakan bahwa albumin adalah plasma
protein yang paling berlimpah 55-60% jika dihitung dari serum protein.
Albumin mengandung rantai polipetida tunggal yang terdiri dari 585 asamasam amino. Rantai polipeptida tersebut dicirikan dengan tidak adanya
bagian karbohidrat, langkanya asam amino triptophan dan residu-residu
metionin, serta melimpahnya residu-residu lain seperti lisin, arginin, asam
glutamin, dan asam aspartin. Albumin dalam larutan berbeda bentuk.
Denaturasi albumin hanya terjadi pada perubahan temperatur, pH dan
lingkungan yang kimiawi atau ionik secara drastis
Larutnya endapan ketika ditambah dengan air menunjukkan bahwa
di dalam serum selain terkandung globulin juga mengandung albumin,
sebab sifat albumin adalah larut dalam air, larut dalam garam encer dan
jenuh, mengendap dalam ammonium sulfat jenuh atau larutan garam yang
sangat pekat. Larutan albumin dapat diendapkan dengan penambahan
ammonium sulfat hingga jenuh. Jadi, dapat disimpulkan bahwa hasil yang
diperoleh sesuai dengan literatur bahwa albumin larut dalam air, larut
dalam garam encer dan jenuh, mengendap dalam ammonium sulfat
jenuh atau larutan garam yang sangat pekat.
Zat-zat Bukan Protein dalam Serum Darah
Deproteinasi Serum Darah. Tujuan dari percobaan ini adalah
untuk menghilangkan protein dalam serum darah agar tidak mengganggu
uji-uji yang akan dilakukan selanjutnya. Darah diencerkan dengan
menggunakan akuades kemudian setetes demi setetes larutan asam
asetat ditambahkan hingga terbentuk endapan. Asam asetat berfungsi
untuk mengendapkan serum darah Tahap selanjutnya indikator khlorofenol
red diteteskan pada filtrat. khlorofenol red berfungsi sebagai indikator.
Cara kerja yang terakhir adalah dididihkan dan kemudian disaring. Hasil
yang diperoleh ketika serum darah ditambah air dan asam asetat yang
kemudian dididihkan, didapati adanya endapan pada larutan. Larutan

tersebut kemudian ditetesi indikator khlorofenol red dan diasamkan yang


menyebabkan terjadi perubahan warna menjadi kuning bening.
Denise et. al. (2010) menjelaskan bahwa metode deproteinasi
serum dilakukan untuk mengurangi konsentrasi protein dalam penentuan
zat non protein. Prosedur yang digunakan adalah menggabungkan radiasi
gelombang mikro dengan asam pada konsentrasi yang 10 kali lebih
rendah daripada konsentrasi asam deproteinasi pada metode biasa dan
menyebabkan reduksi protein lebih dari 99% dengan faktor pengenceran
yang sedikit. Reduksi dari protein membiarkan penggunaan program
pemanasan grafit yang cepat dan sederhana untuk menganalisis sampel
serum tanpa gangguan matrix.
Fungsi dari penambahan asam asetat dan pemanasan adalah
untuk proses penggumpalan, sebab di dalam darah terkandung protein.
Poedjiadi, (2009) mengatakan bahwa protein adalah senyawa yang akan
mengalami denaturasi dalam keadaan asam dan menggumpal apabila
dipanaskan. Penggumpalan terjadi ketika protein telah mencapai titik
isolistriknya. Titik isolistrik dalam darah adalah 4,88. Fungsi penambahan
indikator khlorofenol red adalah untuk mendapatkan pH di luar titik
isolistrik protein
Uji Khlorida. Tujuan uji khlorida adalah mengetahui adanya
senyawa khlorida dalam darah. Prinsip kerja dari uji khlorida adalalah
kalsium pada darah akan bereaksi dengan oksalat dari kalium oksalat
membentuk kalsium oksalat yang berwarna putih. Hasil yang diperoleh
pada percobaan ini ketika filtrat ditambah HNO 3 dan larutan AgNO3
didapati endapan warna putih pada larutan. Endapan yang diperoleh
ketika ditambah NH4OH ternyata larut.
Widiyanti dkk, (2012) mengatakan bahwa adanya endapan
berwarna putih pada larutan dikarenakan penambahan HNO 3 dan AgNO3
yang membentuk AgCl apabila direaksikan bersama dengan filtrat,
sehingga menimbulkan endapan warna putih dan larutan menjadi keruh.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut

Cl- + AgNO3 AgCl + NO3Fungsi penambahan HNO3 adalah untuk mencegah terjadinya
endapan perak fosfat pada larutan. Endapan akan larut ketika ditambah
NH4OH, sebab endapan AgCl bereaksi dengan NH4OH menjadi NH4Cl dan
AgOH dalam keadaan cair. Murray (2009) mengatakan bahwa perbedaan
jumlah kadar khlor tergantung pada pakan yang dikonsumsi spesies dan
jenis kelamin. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh sesuai
dengan literatur bahwa didalam darah mengandung khlorida.
Uji Fosfat. Tujuan uji fosfat adalah mengetahui adanya senyawa
fosfat dalam darah. Prinsip kerja dari uji fosfat adalah filtrat ditambah
dengan HNO3 dan ammonium molibdat akan membentuk ammonium
fosfomolibdat yang berwarna kuning. Hasil yang diperoleh dari percobaan
ini filtrat ditambah ammonium molibdat dan HNO 3 pekat yang kemudian
dipanaskan adalah timbul endapan warna kuning pada larutan. Ganong
(2003) mengatakan bahwa endapan kuning yang terbentuk pada larutan
merupakan endapan ammonium fosfomolibdat yang diperoleh dari reaksi
ammonium molibdat dan fosfat dalam filtrat. Penambahan HNO 3 berfungsi
untuk mencegah terjadinya endapan peroksida dan untuk melepaskan
ikatan fosfat dalam darah, sehingga dapat berikatan dengan ammonium
fosfomolibdat. Hasil yang diperoleh sesuai dengan literatur bahwa di
dalam darah mengandung fosfat.
Muchtadi (2008) menambahkan bahwa fosfor merupakan mineral
kedua terbanyak di dalam tubuh, yaitu % dari berat badan. Kurang lebih
85% fosfor di dalam tubuh terdapat sebagai garam kalsium fosfat, yaitu
bagian dari kristal hidroksiapatit di dalam tulang dan gigi yang tidak dapat
larut. Hidroksipatit memberi kekuatan dan kekakuan pada tulang. Fosfor di
dalam tulang berada dalam perbandingan 1:2 dengan kalsium. Fosfor
selebihnya terdapat di dalam semua sel tubuh, separuhnya di dalam otot
dan di dalam cairan ekstraseluler.
Uji Kalsium. Tujuan uji kalsium adalah mengetahui adanya kalsium
dalam darah. Prinsip kerja dari uji kalsium adalah filtrat ditambah kalium

oksalat akan membentuk kalsium oksalat. Hal tersebut dapat terjadi


karena ion Ca mempunyai muatan positiif (+2) lebih tinggi daripada ion
K(+). Hasil yang diperoleh pada percobaan ini ketika filtrat ditambah
larutan kalium oksalat terbentuk sedikit endapan putih. Endapan berwarna
puth itu disebabkan filtrat bereaksi dengan kalium oksalat membentuk
kalsium oksalat. Reaksi yang terbentuk adalah
K2C2O4 + Ca2+ CaC2O4 + 2K+
(Widiyanti dkk, 2012).
Hasil yang diperoleh sesuai dengan literatur bahwa di dalam darah
mengandung kalsium. Mierlo, et. al. (2012) menjelaskan bahwa kalsium
berperan dalam regulasi tekanan darah, tetapi pentingnya kebutuhan
kalsium untuk mencegah tekanan darah tinggi masih diperdebatkan.
Kalsium adalah faktor kunci dalam regulasi fungsi kardiovaskularis dan
perubahan dalam metabolisme kalsium telah dilaporkan dalam hipertensi
pada manusia maupun hipertensi eksperimental.
Uji Glukosa. Tujuan uji glukosa adalah mengetahui adanya
glukosa dalam darah. Prinsip kerja pada uji ini adalah endapan merah
bata ynag terbentuk dikarenakan glukosa darah mereduksi larutan
benedict yang kemudian membentuk Cu 2O yang berwarna merah bata.
Hasil yang diperoleh pada percobaan ini ketika filtrat ditambah gliserol
dengan bubuk Na2CO3 dan larutan CuSO4 yang kemudian dididhkan
adalah larutan berwarna merah bata tanpa disertai endapan. Seharusnya
larutan didapati endapan merah bata setelah dipanaskan. Tidak adanya
endapan pada larutan dikarenakan beberapa faktor, seperti pemanasan
yang kurang lama.
Widiyanti dkk., (2012) mengatakan bahwa endapan merah bata
yang terbentuk pada larutan dikarenakan glukosa darah dapat mereduksi
larutan benedict membentuk Cu2O ditandai warna merah bata. Witasari et.
al. (2009) menambahkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
kenaikan glukosa darah adalah kandungan serat dalam makanan, proses
pencernaan, cara pemasakannya, ada atau tidaknya zat anti terhadap

penyerapan makanan sebagai zat anti nutrien, perbedaan interprandial,


waktu makan dengan lambat atau cepat, pengaruhnya intoleransi glukosa
dan pekat tidaknya makanan.
Pigmen darah
Uji Benzidin. Tujuan uji benzidin adalah mengetahui adanya
pigmen darah (Hb). Prinsip kerja dari uji benzidin adalah H 2O2 akan
mengalami dekomposisi menjadi 2H2O dan O2 karena adanya Hb didalam
darah,lalu O2 yang bebas akan mengoksidasi benzidin menjadi derivatnya
yang berwarna hijau atau biru. Kadar normal hemoglobin ayam yaitu 7,013,0 g/dl. Satyaningtijas et. al. (2010) mengatakan bahwa reaksi oksidatif
dapat merusak hemoglobin, enzim (terutama kelompok sulfhidril), dan lipid
membran. Kerusakan oksidatif membran juga dapat mengakibatkan
hemolisis intravaskular atau eritrofagositosis dan pemendekan masa
hidup eritrosit. Hasil yang diperoleh pada percobaan ini ketika darah yang
diencerkan ditambah larutan benzidin dan larutan H 2O2 adalah larutan
berwarna kuning. Fungsi dari penambahan H2O2 adalah sebagai oksidator
untuk mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+ yang reaksinya sebagai berikut.
Fe2+ + H2O2

Fe3+ + OH- + OH

Hasil yang diperoleh sesuai dengan yang dikemukakan Dwi (2013)


yang mengatakan bahwa H2O2 mengalami dekomposisi menjadi 2H 2O dan
O2 yang menunjukkan adanya Hb dalam darah. O 2 mengoksidasi benzidin
menjadi derivatnya yang berwarna hijau atau biru. H 2O2 akan berubah
menjadi air dan oksigen apabila tidak ditemukan Fe 2+ .

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa darah mengandung protein, yaitu globulin yang memiliki sifat larut
dalam air dan garam encer, tetapi tidak larut dalam garam jenuh, dan
albumin yang memiliki sifat larut dalam air dan garam jenuh, tetapi tidak
larut dalam garam jenuh. Darah juga mengandung khlorida yang
dibuktikan dengan uji khlorida menghasilkan endapan perak klorida,
mengandung fosfat yang dibuktikan dengan uji fosfat yang menghasilkan
endapan ammonium molibdat, mengandung kalsium yang dibuktikan
dengan uji kalsium yang menghasilkan kalsium oksalat, dan glukosa yang
dibuktikan dengan uji glukosa. Adanya pigmen darah dibuktikan dengan
uji benzidin yang menghasilkan turunan benzidin yang berwarna biru
karena oksidasi yang dilakukan oleh O2.

Daftar Pustaka
Dawn, Mark B., dan Allan D. Marks. 1996. Basic Medical Biochemistry A
Clinical Approach. Williams and Wilkins. New York.
Denise Bohrer, Paulo Ccero do Nascimento, and Solange Garcia
Pomblum. 2010. Deproteinization of Blood Serum By Acid
Treatment and Microwave Irradiation for The Determinationof
Aluminium By
Electrothermal
Atomicabsorption
Spectrometry.
Journal Analysis At Spectrom. Vol 13, 635-639.
Dwi. K. 2013. Darah. Taken from http://bisakimia.com on April 06, 2015 at
11.25 WIB.
Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan. PT Rineka Cipta. Jakarta.
Ganong, W. F. 2003. Fisiologi Kedokteran. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran.
Isnaeni, W. 2006. Fisiologi Hewan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Lisnawati, P. 2011. Study on Genetic Polymorphisms of North Sulawesis
Native Horse Blood Protein by using Polyacrylamide Gel
Electrophoresis. Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan.
Bogor. Institut Pertanian Bogor.
Mierlo L.A.J. van, L.R. Arends, M.T Streppel, M.P.A Zeegers, F.J Kok,
D.E. Grobbee, and J.M Geleijnse. 2012. Blood Pressure Response To
Calcium Supplementation: A Meta-Analysis Of Randomized
Controlled Trials. Journal of Human Hypertension. Vol 20, 571580.
Muchtadi, Deddy. 2008. Pengantar Ilmu Gizi. Alfabeta. Bandung Murray,
R.
K. 2009. Biokimia Harper. EGC. Jakarta.
Nicholson, J.P., M.R. Wolmarans, and G.R. Park. 2011. The Role of
Albumin
in Critical Ilness. British Journal of Anesteshia. Vol 85 (4).
Poedjiadi, Anna dan Supriyanti, F.M. Titin. 2009. Dasar-Dasar Biokimia.
Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta.
Poedjadi, Anna. 2006. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.
Satyaningtijas, A.S., Sus Dherti Widhyari , dan Ratna Delima Natalia.
2010. Jumlah Eritrosit, Nilai Hematokrit, Dan Kadar Hemoglobin Ayam
Pedaging Umur 6 Minggu Dengan Pakan Tambahan. Jurnal
Kedokteran Hewan ISSN : 1978-225X. Vol 4 (2).
Tilman, A. D., dan James B. Green. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Widiyanti, dkk. 2012. Materi Kuliah Biokimia. Taken from


http://widiyanti4ict.files.wordpress.com on April 6, 2015 at 11.10
WIB.
Winarno, F. G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta. Gramedia Pustaka
Utama.
Witasari, Ucik., S. Rahmawaty., S. Zulaekah. 2009. Hubungan Tingkat
Pengetahuan, Asupan
Karbohidrat
Dan
Serat
Dengan
Pengendalian
Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes
Melitus Tipe 2.
Fakultas Ilmu Kesehatan Univeritas Muhammadiyah
Surakarta. Surakarta.

Anda mungkin juga menyukai