Anda di halaman 1dari 21

TEKNOLOGI SEDIAAN SOLID

(Pembuatan Suppositoria Aminofilina)

Disusun oleh :

Maya Sari

(PO.71.39.0.13.026)

Melisa Widhia Astuti(PO.71.39.0.13.027)


Merita Nuraini

(PO.71.39.0.13.028)

Namiratu Zahra

(PO.71.39.0.13.029)

Nita Zahrawati

(PO.71.39.0.13.030)

Novika Rizki Nurfitria

(PO.71.39.0.13.031)

Kelas : Reguler 1A

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
PALEMBANG

I. Tujuan
Membuat sediaan suppositoria dengan Aminofilin sebagai zat aktif.
II. Prinsip
Pembentukan granul didasarkan pada efek kekuatan ikatan mobil-liquid
yang terbentuk antara partikel primer dalam aglomerat basah.
III. Teori
1

1. Pengertian Supositoria
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur,
umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melemak atau meleleh pada
suhu tubuh. (Farmakope Indonesia edisi III hal 32)
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang
diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak
atau melarut pada suhu tubuh. (Farmakope Indonesia edisi IV hal 16)
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk
yang diberikan melalui rektal, vagina, maupun uretra, berbentuk torpedo,
dapat melunak, melarut, atau meleleh pada suhu tubuh, dan efek yang
ditimbulkan adalah efek sistemik atau lokal. Bahan dasar yang digunakan
harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Semakin
pendek waktu melarut/mencair semakin baik karena efektivitas obat
semakin baik.
Bobot suppositoria kalau tidak dinyatakan lain adalah 3 g untuk
orang dewasa dan 2 g untuk anak kecil. Umumnya memiliki panjang 32 mm,
berbentuk silinder, dan kedua ujungnya tajam. Sedangkan untuk bayi dan
anak-anak ukurannya dari ukuran dan berat untuk orang dewasa.
Penyimpanan suppositoria dalam wadah tertutup baik dan di tempat yang
sejuk pada suhu 5-15 C agar suppositoria tidak menjadi lembek dan tidak
bisa digunakan.
Bahan dasar yang digunakan untuk membuat suppositoria harus
dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Bahan dasar yang
biasa digunakan adalah lemak cokelat (oleum cacao), polietilenglikol (PEG),
lemak tengkawang (oleum shorae) atau gelatin.
2. Keuntungan dan Kerugian Suppositoria
2.1 Keuntungan Suppositoria
Keuntungan sediaan obat dalam bentuk suppositoria antara lain :
Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan
Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung.

Obat dapat masuk langsung saluran darah dan ber akibat obat
dapat memberi efek lebih cepat daripada penggunaan obat per
oral
Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak
Bentuknya seperti terpedo mengunt sadarungkan

karena

suppositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya bila bagian


yang besar masuk melalui otot penutup dubur (Anief, 2005;
Syamsuni, 2005).
2.2 Kerugian Suppositoria
Kerugian sediaan obat dalam bentuk suppositoria antara lain :
Cara pakai tidak menyenangkan
Tidak dapat disimpan dalam suhu ruangan
Absorbsi obat sering tidak teratur

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Absorbsi Obat per Rektal


Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat per rectal :
a. Faktor fisiologis antara lain pelepasan uobat dari basis atau bahan
dasar,
metanolisme,
dalam

difusi

obat

melalui

mukosa,

detoksifikasi

atau

distribusi di cairan jaringan dan terjadinya ikatan protein di


darah atau cairan jaringan.

b. Faktor fisika kimia obat dan basis antara lain : kelarutan obat
kadar

obat dalam basis, ukuran partikel dan basis supositoria

(Syamsuni, 2005).

4. Pembagian Suppositoria berdasarkan Tempat Pemberiannya


Penggolongan suppositoria berdasarkan tempat pemberiannya dibagi
menjadi:
1. Suppositoria Rectal
Suppositoria rectal untuk dewasa berbentuk berbentuk
lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih
3

kurang 2 g (anonim, 1995). Suppositoria untuk rektum umumnya


dimasukkan dengan jari tangan. Biasanya suppositoria rektum
panjangnya 32 mm (1,5 inchi), dan berbentuk silinder dan kedua
ujungnya tajam. Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk
peluru,torpedo atau jari-jari kecil, tergantung kepada bobot jenis
bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP
sebesar

untuk

yang

menggunakan

basis

oleum

cacao

(Ansel,2005).
2. Suppositoria Vaginal
Umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot
lebih kurang 5,0 g dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau
yang dapat bercampur dalam air seperti polietilen glikol atau gelatin
tergliserinasi. Suppositoria ini biasa dibuat sebagai pessarium .
( Anonim,1995; Ansel, 2005).
3. Suppositoria Uretra
Suppositoria untuk saluran urine yang juga disebut bougie.
Bentuknya ramping seperti pensil, gunanya untuk dimasukkan ke
dalam saluran urine pria atau wanita. Suppositoria saluran urin pria
berdiameter 3- 6 mm dengan panjang 140 mm, walaupun ukuran ini
masih bervariasi satu dengan yang lainnya. Apabila basisnya dari
oleum cacao maka beratnya 4 gram. Suppositoria untuk saluran
urin wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria, panjang

70 mm dan beratnya 2 gram, bila digunakan oleum cacao sebagai


basisnya ( Ansel, 2005).
4. Suppositoria untuk Hidung dan Telinga
Suppositoria untuk hidung dan untuk telinga disebut juga
kerucut telinga, keduanya berbentuk sama dengan suppositoria
uretra hanya ukuran panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm.
suppositoria telinga umumnya diolah dengan basis gelatin yang
mengandung gliserin. Namun, suppositoria untuk obat hidung dan
telinga jarang digunakan (Ansel, 2005).

5. Persyaratan Basis Suppositoria


Sifat ideal bahan dasar/ basis yang digunakan antara lain:
1. Tidak mengiritasi
2. Mudah dibersihkan
3. Tidak meninggalkan bekas
4. Stabil
5. Tidak tergantung PH
6. Dapat bercampur dengan banyak obat
7. Secara terapi netral
8. Memiliki daya sebar yang baik/ mudah dioleskan
9. Memiliki kandungan mikrobakteri yang kecil (10 2 / g ) dan tidak ada
enterobakteri Pseudemonas aeruginosa dan S.aureus
6. Macam-Macam Basis Suppositoria
a. Suppositoria Lemak Coklat
Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan
mencampur bahan obat yang dihaluskan ke dalam minyak padat pada
5

suhu kamar dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk sesuai,
atau dibuat dengan minyak dalam keadaan lebur dan membiarkan
suspensi yang dihasilkan menjadi dingin di dalam cetakan. Sejumlah
zat pengeras yang sesuai dapat ditambahkan untuk mencegah
kecenderungan beberapa obat, (seperti kloralhidrat dan fenol)
melunakkan bahan dasar. Yang penting, suppositoria meleleh pada
suhu tubuh.
Perkiraan bobot suppositoria yang dibuat dengan lemak coklat,
dijelaskan dibawah ini. Suppositoria yang dibuat dari bahan dasar
lain, bobotnya lebih berat dari pada bobot yang disebutkan dibawah
ini.
Suppositoria rektal. Suppositoria rektal untuk dewasa berbentuk
lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih
kurang 2 g.
Suppositoria vaginal. Umumnya berbentuk bulat atau bulat telur
dan berbobot lebih kurang 5 g, dibuat dari zat pembawa yang larut
dalam air atau yang dapat bercampur dalam air, seperti polietilen
glikol atau gelatin tergliserinasi. Ukuran berkisar, panjang 1,25
1,5 inchi dan diameter 5/8 inchi
1. Tujuan penggunaan (ovula)
Biasanya digunakan untuk lokal dengan efek sebagai antiseptik,
kontrasepsi, anastetik lokal, dan pengobatan penyakit infeksi
seperti trichomonal, bakteri danmonilial.
2. Absorpsi Vagina
Absorpsi sediaan vaginal terjadi secara
mukosa. Proses

absorpsi

dipengaruhi

oleh

pasif

fisiologi,

melalui
pH,

dan

kelarutan dan kontanta partisi obat. Permukaan vagina dilapisi oleh


lapisan film air (aqueous film) yang volume, pH dan komposisinya
dipengaruhi oleh umur, siklus menstruasi, dan lokasi. pH vagina
meningkat secara gradien yaitu pH 4 untuk anterior formix dan pH
5 di dekat cervix. Pada umumnya ovula digunakan untuk efek lokal.
6

Tapi beberapa penelitian menunjukkan ada beberapa obat yang


dapat berdifusi melalui mukosa dan masuk dalam peredaran darah.
Sebagai contoh, kadar propanolol dalam plasma untuk sediaan ovula
lebih besar dibandingkan dengan rute oral pada dosis yang sama.
(Husas, Pharmaceutical Dispensing, hal. 117)
Suppositoria dengan bahan lemak coklat harus disimpan dalam
wadah tertutup baik, sebaiknya pada suhu dibawah 30 derajat
(suhu kamar terkendali).
b.Pengganti Lemak Coklat
Suppositoria dengan bahan dasar jenis lemak, dapat dibuat dari
berbagai minyak nabati, seperti minyak kelapa atau minyak kelapa
sawit yang dimodifikasi dengan esterifikasi, hidrogenasi, dan
fraksionasi hingga diperoleh berbagai komposisi dan suhu lebur
(misalnya minyak nabati terhidrogenasi dan lemak padat). Produk ini
dapat dirancang sedemikian hingga dapat mengurangi terjadinya
ketengikan. Selain itu sifat yang diinginkan seperti interval yang
sempit antara suhu melebur dan suhu memadat dan jarak lebur juga
dapat dirancang umtuk penyesuaian berbagai formulasi dan keadaan
iklim.
c.Suppositoria Gelatin Tergliserinasi
Bahan obat dapat dicampur ke dalam bahan dasar gelatin
tergliserinasi, dengan menambahkan sejumlah tertentu kepada
bahan pembawa yang terdiri dari lebih kurang 70 bagian gliserin,
20 bagian gelatin dan 10 bagian air. Suppositoria ini harus disimpan
dalam wadah tertutup rapat, sebaiknya pada suhu dibawah 35
derajat.
d.Suppositoria dengan Bahan Dasar Polietilen Glikol
Beberapa kombinasi polietilen glikol mempunyai suhu lebur lebih
tinggi dari suhu badan telah digunakan sebagi bahan dasar
7

suppositoria. Karena pelepasan dari bahan dasar lebih ditentukan


oleh disolusi dari pada pelelehan, maka massalah dalam pembuatan
dan penyimpanan jauh lebih sedikit dibanding massalah yang
disebabkan oleh jenis pembawa yang melebur. Tetapi polietilen
glikol dengan kadar tinggi dapat memperpanjang waktu disolusi
sehingga menghambat pelepasan. Pada etiket suppositoria polietilen
glikol

harus

digunakan,

tertera

petunjuk

basahi

dengan

meskipun

dapat

disimpan

tanpa

air

sebelum

pendinginan,

suppositoria ini harus dikemas dalam wadah tertutup rapat.


e. Suppositoria dengan Bahan Dasar Surfaktan
Beberapa surfaktan nonionik dengan sifat kimia mendekati
polietilen glikol dapat digunakan sebagai bahan pembawa
suppositoria. Contoh surfaktan ini adalah ester asam lemak
polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat. Surfaktan ini
dapat digunakan dalam bentuk tunggal atau kombinasi dengan
pembawa suppositoria lain untuk memperoleh rentang suhu lebur
yang lebar dan konsistensi. Salah satu keuntungan utama pembawa
ini adalah dapat terdispersi dalam air. Tetapi harus hati-hati dalam
penggunaan surfaktan, karena dapat meningkatkan kecepatan
absorpsi obat atau dapat berinteraksi dengan molekul obat yang
menyebabkan penurunan aktivitas terapetik.
f.Suppositoria Kempa atau Suppositoria Sisipan
Suppositoria vaginal dapat dibuat dengan cara
mengempa massa serbuk menjadi bentuk yang sesuai. Dapat juga
dengan cara pengkapsulan dalam gelatin lunak. (FI ed. IV hal 1617)

7. Nilai Tukar
8

Pada pembuatan supositoria menggunakan cetakan, volume


supositoria harus tetap. Tetapi, bobotnya beragam tergantung pada
jumlah dan bobot jenis yang dapat diabaikan, misalnya ekstrak belladonea
dan garam alkaloid. Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui bobot
minyak cokelat yang mempunyai volume yang sama dengan 1 g obat.
Nama Obat
Acidum Boricum
Garam Alkaloid
Bismuth Subgallas
Ichtammolum
Tanninum
Aethylis Aminobenzoas
Aminoplhylinum
Bismuth Subnitras
Sulfonamidum
Zinci Oxydum

Nilai Tukar Oleum Cacao per 1 g


0.65
0.7
0.37
0.72
0.68
0.68
0.86
0.20
0.60
0.25

Dalam praktik, nilai tukar beberapa obat adalah 0.7 kecuali untuk
garam Bismuth dan Zink Oksida. Untuk larutan nilai tukarnya dianggap
satu. Jika supositoria mengandung obat atau zat padat yang banyak,
pengisisan pada cetakan berkurang dan jika dipenuhi dengan campuran
massa, akan diperoleh jumlah obat yang melebihi dosis. Oleh sebab itu,
untuk membuat supositoria yang sesuai dapat dilakukan dengan cara
menggunakan perhitungan nilai tukar (Syamsuni hal 161).

8. Penggunaan Aminophylin Suppositoria


8.1 Penggunaan Aminophylin
Aminophylin suppositoria biasa digunakan sebagai obat asma.
8.2 Efek Samping
Mual dan muntah, pada overdose terjadi efek sentral (gelisah,
sukar tidur, tremor, dan konvulsi) serta gangguan pernapasan, juga
efek kardiovaskuler seperti tachycardia, aritmia, dan hipotensi
(Tjay, 2002).
8.3 Mekanisme Aksi
Aminofilin sebagai bronkodilator, memiliki 2 mekanisme aksi
utama di paru yaitu dengan cara relaksasi otot polos dan menekan
stimulan yang terdapat pada jalan nafas (suppression of airway
stimuli). Mekanisme aksi yang utama belum diketahui secara pasti.
Diduga efek bronkodilasi disebabkan oleh adanya penghambatan 2
isoenzim yaitu phosphodiesterase (PDE III) dan PDE IV. Sedangkan
efek selain bronkodilasi berhubungan dengan aktivitas molekular
yang lain. Aminofilin juga dapat meningkatkan kontraksi otot
diafragma dengan cara peningkatan uptake Ca melalui Adenosinmediated Chanels
9. Farmakologi
9.1 Farmakokinetik
Absobsi : diabsorbsi dengan baik setelah pemberian oral. Absorbsi
daribentuk dosis lepas lambat bersifat lama tetapi smepurna. Absorbsi
darisupposutoria rectal tidak menentu dan tidak diandalkan.
Distribusi : distribusi secara luas sebagai teofilin,
plasenta,konsentrasi dalam asi 70% dari kadar plasma.

10

menembus

Metabolisme dan Ekskresi : dimetabilosme dihati menjadi kafein, yang


dapat terakumulasi pada neonatas. Metabolismenya diekskresi melalui
ginjal.
9.2 Farmakodinamik
Menyebabkan relaksasi

otot

polos,

terutama

otot

polos

bronkus,

merangsang otot jantung, dan meningkatkan diuresis.

10.Monografi Bahan-Bahan dan Zat Aktif dalam Pembuatan Suppositoria


Aminofilin
a. Aminofilin
Pemerian : serbuk; putih atau agak kekuningan; bau lemah mirip
amoniak; rasa pahit.
pH :
Sinonim : Aminophyllinum, Aminofillina
Khasiat : Antiasma
Kelarutan : Larut dalam kurang 5 bagian air, jika dibiarkan mungkin
menjadi keruh, praktis tidak larut dalam etanol (95%) P dan dalam eter
P.
OTT :
Kadar

b. Polietilen Glycol 400


Pemerian : cairan kental jernih, tidak berwarna atau praktis tidak
pH

berwarna, bau khas lemah, agak higroskopis


: 4,5-7,5 (5% b/v)

Sinonim

: PEG 400, Poliglikol 400, Makrogol 400, Carbowax

Khasiat : Pembawa
Kelarutan : Larut dalam air, dalam etanol 95% P dan dalam aseton P,
dalam glikol lain dan dalam hidrokarbon aromatik, praktis
tidak larut dalam eter P dan dalam hidrkarbon alifatik.

OTT :
Kadar
: 60%
Titik beku : 4-8C
Titik leleh :

11

c. Polietilen Glycol 4000


Pemerian : serbuk licin putih atau potongan kuning gading, praktis tidak
pH

berbau, tidak berasa


: 4,5-7,5 (5% b/v)

Sinonim

: PEG 4000, Poliglikol 4000, Makrogol 4000, Carbowax

Khasiat : Pembawa
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol 95% P dan dalam
kloroform P, praktis tidak larut dalam eter.

OTT :
Kadar
: 40%
Titik beku :
Titik leleh :

12

IV. METODELOGI KERJA


1. Alat dan Bahan
Alat

Bahan

Mortir
Stamper
Gelas ukur
Cawan
Pengaduk kaca
Neraca analitik gram
Anak timangan
Sendok plastik
Perkamen
Pemanas air ( kompor gas

Aminofillin
PEG 4000
PEG 400

dan tabung gas )


Alluminium foil
Cetakan Suppositoria

2. Data Perhitungan dan Penimbangan Bahan


1.Formulasi
Berdasarkan Formularium Nasional edisi II hal 43 :
Tiap suppositorium mengandung :
Aminophyllinum

250 mg

Suppositorium dasar yang cocok q.s

2.Formulasi yang diterapkan


Tiap suppositorium mengandung :
Aminophyllinum
PEG 400
PEG 4000

200 mg
13

60%
40%

3.Data Perhitungan Bahan


Perhitungan untuk 1 suppositoria :
1. Aminofilin = 200 mg
2. Basis

= 3 g 0,2 g = 2,8 g

PEG 400 60% = Error: Reference source not found


PEG 4000 40% = Error: Reference source not found
Suppositoria yang akan dibuat sebanyak 12 untuk perhitungan

ditambahkan 1 menjadi 13 jadi perhitungannya sebagai berikut :


1. Aminofilin

= Error: Reference source not found

2. Basis

= Error: Reference source not found


= Error: Reference source not found
= Error: Reference source not found

PEG 400 60% = Error: Reference source not found


PEG 4000 40% = Error: Reference source not found

4.Data Penimbangan Bahan


No
1
2
3

Bahan
Aminofilin
= 2600 mg
PEG 400 60% = 21840 mg
PEG 4000 40% = 14560 mg

Paraf

V. PEMBUATAN
Cara membuat suppositoria Aminofillin dengan metode cetak tuang adalah
sebagai berikut :
1. Siapkan semua alat dan bahan
2. Lelehkan PEG 400 dan 4000 di atas penangas air pada suhu 36 (massa
jangan sampai menjadi minyak)
3. Setelah meleleh tambahkan Aminofilin di dalam mortir gerus homogen
14

4. Tuangkan massa tersebut ke dalam cetakan tembaga yang telah dilapisi


paraffin liquidum
5. Tunggu sampai dingin dan sediaan sedikit menciut lalu lepaskan dari
cetakan dan kemas sediaan dengan alumunium foil lalu simpan di lemari
pendingin.

15

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN


Untuk menguji kestabilan sediaan suppositoria dilakukan beberapa evaluasi
yaitu :
1. Uji Homogenitas
Di ambil tiga titik bagian suppositoria misalnya titik atas tengah dan
bawah atau kanan tengah kiri masing-masing bagian diletakkan pada
kaca objek kemudian di amati di bawah mikroskop.
Suppositoria 1

Suppositoria 2

Suppositoria 3

Suppositoria 4

Suppositoria 5

Suppositoria 6

Suppositoria 7

Suppositoria 8

Suppositoria 9

Suppositoria 10

Suppositoria 11

Suppositoria 12

2. Uji Waktu Hancur

16

Uji waktu hancur dilakukan dengan cara memasukkan supositoria ke air


yang memiliki suhu sama seperti tubuh manusia yaitu air dengan suhu
37 selama 3 menit untuk suppositoria berbasis Oleum Cacao dan 15
menit untuk suppositoria berbasis PEG.
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Lama Waktu Hancur

17

Paraf

3. Uji Keseragaman Bobot


Uji keseragaman bobot dilakukan dengan cara menimbang suppositoria
satu per satu kemudian menghitung rata-rata berat suppositoria.
Setelah itu hitung persentase kelebihan masing-masing suppositoria
terhadap berat rata-rata suppositoria. Dalam hal ini penyimpangan
keseragaman variasi bobot yang didapat tidak boleh lebih dari 5%.

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Berat Suppositoria

4. Uji Kerapuhan

18

Paraf

Uji kerapuhan dilakukan dengan cara memotong suppositoria secara


horizontal.
No.
Sangat Rapuh

Kerapuhan
Agak Rapuh

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

19

Paraf
Tidak Rapuh

IX. DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI (1979). Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia: Jakarta.
Kniazi, Sarfaraz (2009). Volume One Second Edition Handbook of Pharmaceutical

Manufacturing Formulation Compressed Solid Products . New York: Informa


Healthcare USA.
Rowe C Raymond., Sheskey J Paul., & Quinn E Marian (2009). Handbook of

Pharmaceutical Excipients Sixth Edition. London : Pharmaceutical Press and


American Pharmacists Association
Kasim Fauzi, M.Kes., Apt dkk (2013). Informasi Spesialite Obat Indonesia Volume 48.
Jakarta: PT. Innovative Scientific Futuristic Informative Penerbitan

http://fakfarmasiuit.blogspot.com/2012/06/tugas-pendahuluan-suppositoria.html
(diakses tanggal 5 Juni 2014)

http://farmasiblogku.blogspot.com/2010/01/bab-i-pendahuluan-1.html (diakses tanggal


5 Juni 2014)

http://www.slideshare.net/yosephinep/suppositoriadocx (diakses tanggal 5 Juni 2014)

http://likefarmasi.blogspot.com/2013/04/praktikum-suuppositoria.html (diakses 7 Juni


2014)

20

Brosur :
Bronchilaria
Indikasi:
Menghilangkan atau mencegah gejala gejala asma dan
bronkhaspasme yang bersifat reversible yang berhubungan
dengan bronklasttia kronis dan efisema.
Komposisi:
Tiap suppositoria mengandung :

Aminophylinum
200 mg
Zat tambahan yang cocok q.s
Efek Samping:

Perhatian:
Penggunaan kepada pasien dengan kondisi memiliki sejarah
penyalahgunaan obat kerusakan hati dan ginjal
kecenderungan dalam neuriatis.

Cara Pemakaian :
Bukalah pembungkusnya dan masukkan 1 suppositoria ke
dalam dubur, satu kali sehari sebelum tidur.
Dosis :
Dosis maksimal 500 mg/1500mg
Atau menurut petunjuk dokter.
Penyimpanan:
Simpan pada suhu 15-25C.
No. Reg : DKL 1410100234 A1
No. Batch : 05143402
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
Di Produksi oleh :
PT. MonataFarma
Palembang-Indonesia

21