Anda di halaman 1dari 86

Volume 4 No.

2 Septeember 2009
Akreditasi No. 222/AU1/P2MBI/08/2009

ISSN : 1907 4352

JURNAL
PERMUKIMAN
Model Pengembangan Hunian Vertikal Menuju Pembangunan Perumahan
Berkelanjutan
Oleh : Tito Murbaintoro, M. Syamsul Maarif, Surjono H. Sutjahjo, Iskandar Saleh
Peningkatan Peran Lembaga Lokal Dalam Rangka Pembangunan Permukiman Di
Perdesaan
Oleh : Aris Prihandono
Pembangunan Rumah Susun Dalam Mendukung Aktivitas Ekonomi Perkotaan (Studi
Kasus Kota Bandung)
Oleh : Heni Suhaeni
Infrastruktur Pecinan yang Mudah Diakses Mendukung Pariwisata yang Aksesibel
Oleh : Inge Komardjaja
Komparasi Nilai Partial OTTV pada East-Wall Berbasis U-Value = 2,6 dengan UValue = 1,6
Oleh : Wied Wiwoho Winaktoe
Analisa Data Variabel Sosial Bidang Permukiman
Oleh : Yulinda Rosa
Keefektifan Pengolahan Antara Abu Terbang dengan Karbon Aktif terhadap
Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK), Warna dan Logam Berat Air Lindi Sampah
Oleh : Tibin R. Prayudi

Jurnal
Permukiman

Vol. 4

No. 2

Hal.
72-154

Bandung
September
2009

ISSN : 19074352

JURNAL PERMUKIMAN
Volume 4 No. 2 September 2009

PELINDUNG
PEMIMPIN REDAKSI
DEWAN PENELAAH NASKAH
Ketua
Anggota

MITRA BESTARI

ISSN : 1907 4352

Kepala Pusat Litbang Permukiman


Kepala Bidang Standar dan Diseminasi
Prof. R. Dr. Suprapto, MSc. FPE. (Bidang Fisika dan Keselamatan
Bangunan, Pusat Litbang Permukiman)
1. Lasino, ST. APU. (Bahan Bangunan, Pusat Litbang
Permukiman)
2. Andriati Amir Husin, MSi. (Bahan Bangunan, Pusat Litbang
Permukiman
3. Ir. Nurhasanah S., MM. (Teknologi dan Manajemen
Lingkungan, Pusat Litbang Permukiman)
4. Dr. Anita Firmanti, MT. (Bahan Bangunan, Pusat Litbang
Permukiman
5. Ir. Arief Sabaruddin, CES. (Perumahan dan Permukiman,
Pusat Litbang Permukiman
6. Dra. Inge Komardjaja, Ph. D. (Permukiman dan Aksesibilitas,
Pusat Litbang Permukiman)
7. Ir. Lya Meilany S., MT. (Teknologi dan Manajemen
Lingkungan, Pusat Litbang Permukiman
8. Ir. Silvia F. Herina, MT. (Rekayasa Teknik Sipil, Pusat Litbang
Permukiman)
9. Dra. Sri Astuti, MSA. (Bangunan dan Lingkungan, Pusat
Litbang Permukiman
10. Ir. Maryoko Hadi, MT. (Struktur dan Konstruksi, Pusat Litbang
Permukiman
1.
2.
3.
4.

REDAKSI PELAKSANA

Prof. R.
Dr. Ir. Bambang Subiyanto, M. Agr. (Bahan
Bangunan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Ir. Iswandi Imran, MASc. Ph. D. (Rekayasa Struktur, Institut
Teknologi Bandung)
Dr. Ir. Tri Padmi (Teknik Lingkungan, Institut Teknologi
Bandung)
Ir. Indra Budiman Syamwil, MSc. Ph. D. (Perumahan dan
Permukiman, Institut Teknologi Bandung)

Drs. Duddy D. Kusumo, MBA., Dra. Roosdharmawati, Adang Triana

Jurnal Permukiman
Telah diterbitkan sejak tahun 1985 dengan nama Jurnal Penelitian Permukiman.
Tahun 2006 berubah nama menjadi Jurnal Permukiman dengan jumlah terbitan 3 (kali) dalam setahun
yaitu pada bulan Mei, September, dan November

JURNAL PERMUKIMAN
Volume 4 No. 2 September 2009

ISSN : 1907 4352

Daftar Isi

Hal.

Model Pengembangan Hunian Vertikal Menuju Pembangunan Perumahan Berkelanjutan ..


Oleh : Tito Murbaintoro, M. Syamsul Maarif, Surjono H. Sutjahjo, Iskandar Saleh

72 - 87

Peningkatan Peran Lembaga Lokal Dalam Rangka Pembangunan Permukiman Di Perdesaan ..


Oleh : Aris Prihandono

88 - 101

Pembangunan Rumah Susun Dalam Mendukung Aktivitas Ekonomi Perkotaan (Studi Kasus Kota
Bandung)
Oleh : Heni Suhaeni

102 - 109

Infrastruktur Pecinan yang Mudah Diakses Mendukung Pariwisata yang Aksesibel ..


Oleh : Inge Komardjaja

110 - 120

Komparasi Nilai Partial OTTV pada East-Wall Berbasis U-Value = 2,6 dengan U-Value = 1,6
Oleh : Wied Wiwoho Winaktoe

121 - 127

Analisa Data Variabel Sosial Bidang Permukiman


Oleh : Yulinda Rosa

128 - 140

Keefektifan Pengolahan Antara Abu Terbang dengan Karbon Aktif terhadap Kebutuhan Oksigen
Kimia (KOK), Warna dan Logam Berat Air Lindi Sampah .
Oleh : Tibin R. Prayudi

141 - 148

JURNAL PERMUKIMAN
Volume 4 No.2 September 2009

ISSN : 1907 4352

Pengantar Redaksi
Sebagai pembuka kami menyajikan tulisan mengenai pembangunan model pengembangan hunian vertikal
menuju pembangunan perumahan berkelanjutan dan implikasinya terhadap kebijakan pembangunan perumahan
bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Tulisan ini disampaikan oleh Tito Murbaintoro, M. Syamsul Maarif,
Surjono H. Sutjahjo, dan Iskandar Saleh dengan judul Model Pengembangan Hunian Vertikal Menuju
Pembangunan Perumahan Berkelanjutan.
Upaya pembangunan perumahan dan permukiman yang melibatkan kapasitas dan kapabilitas lembaga-lembaga
formal harus disertai langkah seleksi karena terkait dengan internalisasi muatan baru. Beberapa kriteria dapat
dijadikan referensi dalam pemilihan lembaga yaitu : tingkat kemapanan, kondisi unsur-unsur kelembagaan, dan
efektivitas organisasi. Tulisan ini berjudul Peningkatan Peran Lembaga Lokal Dalam Rangka Pembangunan
Permukiman Di Perdesaan yang ditulis oleh Aris Prihandono.
Heni Suhaeni memaparkan hasil penelitiannya dalam tulisan yang berjudul Pembangunan Rumah Susun Dalam
Mendukung Aktivitas Ekonomi Perkotaan dengan konsep dasarnya adalah penataan ruang yang menghasilkan
kualitas lingkungan perkotaan yang sehat dengan penggunaan lahan yang efisien.
Infrastruktur Pecinan yang Mudah Diakses Mendukung Prinsip Pariwisata yang Aksesibel menjadi bahan tulisan
Inge Komardjaja dimana pecinan mempunyai potensi besar menjadi kawasan pariwisata, serta berpegang pula
pada prinsip pariwisata yang aksesibel maka wisatawan lokal dan mancanegara yang menyandang cacat akan
tertarik mengunjungi pecinan.
Wied Wiwoho Winaktoe menyajikan hasil penelitian mengenai Komparasi Nilai Partial_OTTV pada East-Wall
Berbasis U-Value = 2,6 dengan U-value = 1,6. OTTV sebagai prosedur standar konservasi energi yang
dikukuhkan sebagai prosedur vital dalam praktik rancang bangun.
Guna mendapatkan pembangunan perumahan dan permukiman yang berkelanjutan diperlukan analisa sosial
dengan menggunakan dua metode analisa : deskriptif dan induktif. Yulinda Rosa membahas masalah tersebut
dalam tulisannya yang berjudul Metode Analisa Data Variabel Sosial Bidang Permukiman.
Tulisan penutup dalam edisi ini, Tibin R. Prayudi membahas tentang Keefektifan Pengolahan Antara Abu
Terbang dengan Karbon Aktif terhadap Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK), Warna dan Logam Berat Air Lindi
Sampah. Penggunaan abu terbang dan karbon aktif dalam dosis tertentu dapat menurunkan kandungan KOK,
warna dan logam berat air buangan rumah tangga.

Alamat Redaksi

Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Badan Litbang Dep. Pekerjaan Umum
Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kab. Bandung 40393 PO Box 812 Bandung 40008, Indonesia
Telp. 022-7798393 (4 saluran), Fax. 022-7798392, Email : kapuskim@bdg.centrin.net.id

Akreditasi
Jurnal Permukiman ditetapkan sebagai Majalah Berkala Ilmiah : TERAKREDITASI C
Nomor : No. 222/AU1/P2MBI/08/2009
Berdasarkan Kutipan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Nomor : 816/D/2009 Tanggal 28 Agustus 2009
(Masa berlaku hingga Agusrus 2010)

Abstrak
UDC
69.058.4
Mur Murbaintoro, Tito
M
Model pengembangan hunian vertikal menuju
pembangunan perumahan berkelanjutan/Tito Murbaintoro et.al. --Jurnal Permukiman. --Vol. 4 No. 2
September 2009.--Hal. 72-87. -- Bandung : Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, 2009.
76 hlm
: ilus; 25 cm
Abstrak
: hlm. 72
ISSN
: 1907-4352
I. SETTLEMENT II. BUILDING 1. Maarif, M. Syamsul
2. H. Sutjahjo, Sujono 3. Saleh, Iskandar 4. Judul
Pengembangan hunian vertikal merupakan salah satu
alternatif strategi memenuhi kebutuhan perumahan bagi
masyarakat terutama Masyarakat Berpenghasilan Rendah
(MBR), mengurangi backlog, dan mengoptimalkan
pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Berkaitan hal
tersebut dilakukan kajian model pengembangan hunian
vertikal di Kota Depok. Penelitian bertujuan untuk
membangun model pengembangan hunian vertikal menuju
pembangunan perumahan berkelanjutan dan implikasinya
terhadap kebijakan pembangunan perumahan bagi MBR.
Kata kunci : Hunian vertikal, RTH, MBR, backlog,
berkelanjutan
UDC
69.032.2
Suh Suhaeni, Heni
p
Pembangunan rumah susun dalam mendukung
aktivitas ekonomi perkotaan studi kasus kota Ban
dung/Heni Suhaeni.-- Jurnal Permukiman. --Vol. 4
No. 2 September 2009.--Hal. 102-109.--Bandung :
Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman,
2009.
76 hlm
: ilus; 25 cm
Abstrak
: hlm. 102
ISSN
: 1907-4352
I. MULTISTOREY BUILDINGS
1. Judul
Pembangunan rumah susun dalam mendukung aktivitas
ekonomi perkotaan dapat dijalankan dengan cara
pembangunannya harus mampu mewadahi kebutuhan
ruang bagi semua kelompok penduduk perkotaan yang
selama ini tinggal, bekerja, membentuk dan membangun
aktivitas ekonomi di kota tersebut.
Kata kunci : Penataan ruang, aktivitas ekonomi, perkotaan

UDC
69.721
Win Winaktoe, Wied Wiwoho
k
Komparasi nilai partial ottv pada east wall berbasis u-value=2,6 dengan u-value=1,6/Wied Wiwoho
Winaktoe.-- Jurnal Permukiman.-- Vol. 4 No. 2 September 2009.-- Hal. 121-127.-- Bandung : Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, 2009.
76 hlm
: ilus; 25 cm

UDC
69.058.4
Pri Prihandono, Aris
p
Peningkatan peran lembaga lokal dalam rangka
pembangunan permukiman di perdesaan/Aris Prihandono.--Jurnal Permukiman.--Vol. 4 No. 2 September 2009.--Hal. 88-101.--Bandung : Pusat Pelitian dan Pengembangan Permukiman, 2009.
76 hlm
: ilus; 25 cm
Abstrak
: hlm. 88
ISSN
: 1907-4352
I. SETTLEMENT
II. ECONOMIC
1. Judul
Pelibatan kelembagaan lokal dalam pembangunan
permukiman sangat relevan, namun perlu seleksi. Lembaga
harus memenuhi kriteria : tingkat kemapanan, kondisi
unsur kelembagaan, efektivitas organisasi. Internalisasi
peran baru dilakukan melalui pemberdayaan namun harus
memperhatikan tipe kelembagaan dan kinerjanya. Bentuk
pemberdayaan dapat berupa asistensi, fasilitasi, atau
promosi. Sedangkan materi pemberdayaan meliputi materi
umum, inti dan penunjang.
Kata kunci : Tipe lembaga, seleksi, pemberdayaan

UDC
338.48
Kom Komardjaja, Inge
i
Infrastruktur pecinan yang mudah diakses mendukung prinsip pariwisata yang aksesibel/Inge Komar
djaja.-- Jurnal Permukiman.-- Vol. 4 No. 2 September
2009.-- Hal. 110-120.--Bandung : Pusat Penelitian
dan Pengembangan Permukiman, 2009.
76 hlm
: ilus; 25 cm
Abstrak
: hlm. 110
ISSN
: 1907-4352
I. TOURIST
II. DISABLED PEOPLE
1. Judul
Pecinan perlu ditata berdasarkan perencanaan yang
matang dan pelaksanaan yang cermat. Dengan berprinsip
pada pariwisata yang aksesibel, wisatawan lokal dan
mancanegara yang menyandang cacat tertarik untuk
mengunjungi pecinan. PBB mengatakan para penyandang
cacat mempunyai hak yang sama dengan mereka yang
tidak cacat untuk berwisata. Penelitian ini menggunakan
metode kualitatif untuk dapat mengidentifikasi problem
penyandang cacat. Pecinan yang ramah cacat mendukung
prinsip accessible tourism.
Kata kunci : Penyandang cacat, keterbatasan mobilitas,
pecinan, pariwisata, aksesibilitas
UDC
613.87
Ros Rosa, Yulinda
m
Metode analisa data variabel sosial bidang permu
kiman/Yulinda Rosa.-- Jurnal Permukiman.-- Vol. 4
No. 2 September 2009.-- Hal. 128 -140.-- Bandung :
Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman,
2009.
76 hlm
: ilus; 25 cm

Abstrak
: hlm. 121
ISSN
: 1907-4352
I. BUILDINGS II. ARCHITECTURE
1. Judul
Dinding-timur pada iklim tropika-lembab dipersyaratkan
untuk memiliki nilai u-value=2,0 yang sebenarnya sulit
tercapai karena struktur dinding yang popular (plesterbata-plester) cenderung memiliki u-value=2,6. Prosedur
riset menghasilkan temuan : model dinding u-value=2,6
(partial OTTV=21,28 W/m), u-value=1,6 (partial
OTTV=12,95 W/m). Konklusi u-value < 2 menghasilkan
partial OTTV lebih kecil ketimbang u-value > 2.
Kata kunci : Termal, transmitansi, u-value, dinding, OTTV
UDC
54.188
Pra Prayudi, Tibin R
k
Keefektifan pengolahan antara abu terbang dengan karbon aktif terhadap kebutuhan oksigen kimia
(KOK) warna dan logam berat air lindi sampah/Tibin
R. Prayudi.-- Jurnal Permukiman.-- Vol. 4 No. 2 September 2009.-- Hal. 141- 148.-- Bandung : Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, 2009.
76 hlm
: ilus; 25 cm
Abstrak
: hlm. 141
ISSN
: 1907-4352
I. CHEMISTRY
II. OXYGEN
1. Judul
Penelitian eksperimental dilakukan di laboratorium, dengan
pengadukan abu terbang dan karbon aktif dengan air lindi
sampah pada kecepatan 100 rpm selama satu jam, pada
dosis 15, 25, 35, 50, 100 dan 150 mg/liter. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dengan pemakaian abu terbang akan
lebih efektif dalam menurunkan KOK, warna, Zn, dan CU
air lindi, sedangkan karbon aktif lebih efektif dalam
menurubkan Fe air lindi.
Kata kunci : Abu terbang, karbon aktif, air lindi, kebutuhan
oksigen kimia (KOK)

Abstrak
: hlm. 128
ISSN
: 1907-4352
I. SOCIAL
II. DESCRIPTIVE ANALYSIS
1. Judul
Data variabel sosial bidang permukiman merupakan data
kualitatif. Analisa deskriptif dilakukan dengan terlebih
dahulu membuat distribusi frekuensi. Beberapa metode
yang biasa digunakan dalam pembuatan frekuensi variabel
sosial, diantaranya adalah dengan menggunakan nilai skor
kumulatif dari seluruh item yang digunakan untuk
mengukur variabel tersebut dan metode srtrugles.
Kata kunci : Variabel sosial, data kualitatif, kuesioner,
analisa deskriptif, skor, kumulatif

Abstract
UDC
69.058.4
Mur Murbaintoro, Tito
M
Model of the development of vertical residential
for the sustainable of housing development /Tito Murbaintoro et.al. --Jurnal Permukiman. --Vol. 4 No. 2
September 2009.--Page. 72-87.-- Bandung : Research
Institute for Human Settlements, 2009.
76 pages
: ilus; 25 cm
Abstract
: page 72
ISSN
: 1907-4352
I. SETTLEMENT II. BUILDING 1. Maarif, M. Syamsul
2. H. Sutjahjo, Sujono 3. Saleh, Iskandar 4. Title
Vertical residential development is one of the alternative
strategies to meet the need of housing for people,
especially low income people, decrease the backlog and
optimizing the need of open green space. Relating to that
reason, the study on model of the development of vertical
residential was carried out in Depok city. The research was
purposed to create a model of the development of vertical
residential for the sustainable of housing development and
its impact to the housing development policy for the low
income people.

UDC
69.058.4
Pri Prihandono, Aris
p
Improving the role of local institution in term of
settlement development in rural area/Aris Prihandono
--Jurnal Permukiman.--Vol. 4 No. 2 September 2009.
--Page. 88-101.--Bandung : Research Institute for
Human Settlements, 2009.
76 pages
: ilus; 25 cm
Abstract
: page 88
ISSN
: 1907-4352
I. SETTLEMENT
II. ECONOMIC
1. Title
Involvement the local institution in developing settlements
is relevant very much to current sitation. However, it
requires stick selection. The criteria of selection include :
level of establishment, condition of organization
components, effectiveness of organization. Internalization
of the new roles can be carried out through empowerment
of the local level institution. Nevertheless, it must take
types of the institution and its performance into
consideration. Nature of the empowerment can be
assistance, facilitation, and promotion. While substances of
empowerment consist of general, major, and minor one.

Keywords : Vertical residential, open green space, low


income people, backlog, model, sustainable
UDC
69.032.2
Suh Suhaeni, Heni
p
Development of multistorey to support urban eco
nomy activity case study of Bandung/Heni Suhaeni. -Jurnal Permukiman.-- Vol. 4 No. 2 September 2009.-Page 102-109.--Bandung : Research Institute for
Human Settlements, 2009.
76 pages
: ilus; 25 cm
Abstract
: page 102
ISSN
: 1907-4352
I. MULTISTOREY BUILDINGS
1. Title
Multistorey development can support the activities of urban
economy if development of multi-storey is able to
accommodate all different groups of people with multi
levels of socio-economy and live, work, shape and develop
economy activities in such urban area.

Keywords : Institution types, selection, empowerment

Keywords : Spatial planning, economy activity, urban

UDC
69.721
Win Winaktoe, Wied Wiwoho
k
Comparasion between the east-walls partialOTTV at u-value of 2.6 and u-value of 1.6/Wied Wiwoho Winaktoe.-- Jurnal Permukiman.-- Vol. 4 No. 2
September 2009.-- Page 121-127.-- Bandung :
Research Institute for Human Settlements, 2009.
76 pages
: ilus; 25 cm
Abstract
: page 121

UDC
338.48
Kom Komardjaja, Inge
i
The easily accessed infrastructure of Chinatown
espouses the principle of accessible tourism/Inge Komardjaja.-- Jurnal Permukiman.-- Vol. 4 No. 2 September 2009.-- Page 110-120.-- Bandung : Research
Institute for Human Settlements, 2009.
76 pages
: ilus; 25 cm
Abstract
: page 110
ISSN
: 1907-4352
I. TOURIST
II. DISABLED PEOPLE
1. Title
Revitalizing Chinatown has to be done from a wellprepared planning and accurate implementation. Carrying
out the principle of accessible tourism may attract local and
foreign disabled tourists. The UN declares that disabled
people have the same right as the non-disabled people to
visit tourist sites. This study has employed the qualitative
method to identify the real problems of disabled people.
Chinatown that is disabled-friendly espouses the principle
of accessible tourism.
Keywords : Disabled people, limited mobility, Chinatown,
tourism, accessibility
UDC
613.87
Ros Rosa, Yulinda
m
Method analysis variable data of the structured
social settlement/Yulinda Rosa.-- Jurnal Permukiman.
-- Vol. 4 No. 2 September 2009.-- Page 128 -140.-Bandung : Research Institute for Human Settlements,
2009.
76 pages
: ilus; 25 cm
Abstract
: page 128

ISSN
: 1907-4352
I. BUILDINGS II. ARCHITECTURE
1. Title
East wall at hot-humid climate is required to have u-value
of 2.0 which is actually difficult to achieve considering the
popular walls structure (plaster-brick-plaster) tends to
have u-value of 2.6. The finding of this research : wall with
u-value of 2.6 produces partial OTTV of 21.28 W/m and
u-value of 1.6 produces partial OTTV of 12.95 W/ m. The
conclusion is that the lower the u-value is then the smaller
partial OTTV would be.
Keywords : Thermal, transmittance, u-value, wall, OTTV
UDC
54.188
Pra Prayudi, Tibin R
k
Leachate treatment effectively between fly ash
and activated carbon on chemical oxygen demand,
colour and heavy metal from leachate/Tibin R. Prayudi.-- Jurnal Permukiman.-- Vol. 4 No. 2 September
2009.-- Page 141- 148.-- Bandung : Research Institute for Human Settlements, 2009.
76 pages
: ilus; 25 cm
Abstract
: page 141
ISSN
: 1907-4352
I. CHEMISTRY
II. OXYGEN
1. Title
The batch experiments were run in different glass flask of
500 ml capacity using the string speed on 100 rpm. A
known volume of sample was treated with different doses
of fly ash or activated carbon 15, 25, 35, 50, 100, and 150
mg/litre. The result could be concluded that fly ash is more
effective adsorbent for decreasing COD, colour, Zn and Cu
concentration in leachate but activated carbon is more
effective for decreasing Fe concentration in leachate.
Keywords : Fly ash, activated carbon, leachate, chemical
oxygen demand (COD)

ISSN
: 1907-4352
I. SOCIAL
II. DESCRIPTIVE ANALYSIS
1. Title
Variable data of the structured social settlement is
qualitative data. Descriptive analysis is done by first
making a frequency distribution. Some methods use in
creating the frequency distribution of social variables such
as using the value of the cumulative score of all items used
the measure these variables, and the struggles method.
Keywords : Social variable, qualitative data, questionnaire,
descriptive analysis, cumulative score

A
Abu terbang = 141, 142, 143, 144, 147, 148
Accessibility = 110
Activated carbon = 141
Air lindi = 141, 142, 144, 145, 147, 148
Aksesibilitas = 110, 111, 113
Aktivitas ekonomi = 102, 104, 105, 107, 108, 109
Analisa deskriptif = 128, 130, 131, 137

Indeks Subyek
(Subject Index)

B
Backlog = 72, 76, 77, 82
Berkelanjutan = 72
C
Chemical oxygen demand (COD) = 141, 142
Chinatown = 110, 114
Cumulative score = 128
D
Data kualitatif = 128
Descriptive analysis = 128
Dinding = 121, 122, 123
Disabled people = 110
E
Economy activity = 102
Empowerment = 88
F
Fly ash = 141, 143, 144
H
Hunian vertikal = 72, 74, 76, 77, 78, 80, 81, 82, 83, 85
I
Institution types = 88
K
Karbon aktif = 141, 142, 143, 147, 148
Keterbatasan mobilitas = 110
Kebutuhan oksigen kimia (KOK) = 141, 144, 147, 148
Kuesioner = 128, 129, 130
L
Leachate = 141
Limited mobility = 110
Low income people = 73
M
MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) = 72
Model = 72

O
OTTV = 121, 122, 123, 124, 125, 126
Open green space = 73
P
Pariwisata = 110, 111, 114, 118
Pecinan = 110, 111, 112, 113, 115, 116
Pemberdayaan = 88, 91, 92, 94, 96
Penataan ruang = 102, 103
Penyandang cacat = 110, 111, 112, 113, 115, 116, 117,
118, 119
Perkotaan = 102, 103, 104, 108, 109
Q
Qualitative data = 128
Questionnaire = 128
R
RTH (Ruang Terbuka Hijau) = 72, 73, 74, 75, 76, 77, 82,
84, 85, 86
S
Seleksi = 88
Selection = 88
Skor kumulatif = 128, 133, 137
Social variable =128
Spatial planning = 102,
Sustainable = 73, 82, 85
T
Termal = 121, 122
Thermal = 121,
Tipe lembaga = 88
Tourism = 110
Transmitansi = 121, 122
Transmittance = 121
U
Urban = 102
U-value = 121, 124, 125, 126
V
Variabel sosial = 128, 129, 130
Vertical residential = 73
W
Wall = 121

PEDOMAN UNTUK PENULIS


UMUM

Redaksi menerima naskah karya ilmiah IPTEK bidang Permukiman, baik dari dalam maupun di
luar lingkungan Pusat Litbang Permukiman
Naskah belum pernah diterbitkan di media cetak lainnya
Penulis bertanggung jawab sepenuhnya terhadap isi tulisan
Naskah disampaikan ke redaksi dalam bentuk naskah tercetak hitam putih sebanyak 3 rangkap
Penelaah berhak memperbaiki naskah tanpa mengubah isi dan pengertiannya dan akan
berkonsultasi dahulu dengan penulis apabila dipandang perlu untuk mengubah isi naskah
Jika naskah disetujui untuk diterbitkan, penulis harus segera menyempurnakan dan
menyampaikannya kembali ke redaksi beserta file-nya dengan program MS-Word paling
lambat satu minggu setelah tanggal persetujuan
Naskah yang dimuat menjadi milik Pusat Litbang Permukiman
Naskah yang tidak dapat dimuat akan diberitahukan kepada penulis dan naskah tidak akan
dikembalikan, kecuali ada permintaan lain dari penulis

NASKAH
Bahasa : Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia dilengkapi dengan abstrak dan kata kunci dalam Bahasa
Indonesia dan Bahasa Inggris.
Format : Jumlah halaman naskah maksimum 10 halaman tercetak dalam kertas putih ukuran B5 pada
satu permukaan dengan satu spasi. Naskah yang ditulis terbagi atas 2 kolom yang terpisah oleh jarak
tengah 1 cm. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 2 cm. Jenis huruf yang digunakan
Tahoma.
Judul (14 pt, Capital, bold) dan Sub Judul (12 pt, bold) : Judul dibuat tidak lebih dari dua baris dan
harus mencerminkan isi tulisan. Nama, instansi dan alamat (instansi dan e-mail) penulis dicantumkan di
bawah judul.
Abstrak (9 pt, Italic) : Abstrak dibuat tidak lebih dari 200 kata yang memuat metodologi yang digunakan,
temuan-temuan pokok hasil penelitian, serta mengungkapkan konklusi dan rekomendasi pokok. Abstrak
dilengkapi dengan kata kunci.
Isi Naskah (9 pt) : Susunan isi naskah meliputi : Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Metoda Penelitian,
Hasil, Analisis dan Pembahasan, Kesimpulan dan Saran, Daftar Pustaka.
Tabel : Judul tabel dan keterangan ditulis dengan jelas dan singkat. Tabel harus diberi nomor. Nomor
dan judul tabel diletakkan pada posisi center. Tabel harus diberi nomor. Antara judul tabel dan kalimat
sebelumnya dan juga antara tabel dan judul tabel diberi jarak satu spasi
Gambar dan Foto : Gambar dan foto harus diberi nomor, judul atau keterangan dengan jelas. Ukuran
gambar dan foto disesuaikan dengan besar kolom. Nomor, judul atau keterangan gambar dan foto
diletakkan pada posisi center. Gambar dan foto harus mempunyai ketajaman yang baik, ukurannya
dapat diperbesar dan diletakkan ditengah kertas, memotong kolom. Antara gambar/foto dan judul atau
keterangan gambar/foto diberi jarak satu spasi.
Daftar Pustaka : Daftar pustaka ditulis sesuai dengan urutan menurut abjad nama pengarang dengan
mencantumkan tahun penerbitan, judul terbitan, penerbit, dan kota terbit.

Pustaka berupa judul buku :


Sukandarrumidi, 2006, Batubara dan Pemanfaatannya, Gajah Mada University Press,
Yogyakarta

Pustaka berupa majalah/jurnal ilmiah/prosiding :


Saayman, H.M. and J.A. Oatley, 1976, Wood Adhesive from Wattle Bark Extract, For Prod, J.26
: 27-33

MODEL PENGEMBANGAN HUNIAN VERTIKAL MENUJU


PEMBANGUNAN PERUMAHAN BERKELANJUTAN
Tito Murbaintoro1, M. Syamsul Maarif2, Surjono H. Sutjahjo2, Iskandar Saleh1
E-mail : titomur@yahoo.com
1) Kementrian Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia, Jl. Raden Patah I/1 Kebayoran Baru-Jakarta Selatan
2) Guru Besar Sekolah Pasca Sarjana-Institut Pertanian Bogor, Jl. Darmaga, Bogor 16680
Tanggal masuk naskah: 21 Januari 2009, Tanggal disetujui: 09 Agustus 2009

Abstrak

Pengembangan hunian vertikal di Kota Depok merupakan salah satu alternatif strategi memenuhi
kebutuhan perumahan bagi masyarakat terutama Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR),
mengurangi backlog, dan mengoptimalkan pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Penelitian ini
bertujuan untuk membangun model pengembangan hunian vertikal menuju pembangunan perumahan
berkelanjutan dan implikasinya terhadap kebijakan pembangunan perumahan bagi MBR. Metode analisis
data yang digunakan meliputi analisis deskriptif, analisis statistika, analisis finansial, analisis input-output
(I-O), dan analisis sistem dinamik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kota Depok
memiliki potensi minat yang besar terhadap hunian vertikal namun tingkat keterjangkauan terutama
MBR masih sangat rendah. Untuk meningkatkan keterjangkauan masyarakat dalam memiliki hunian,
maka peran pemerintah sangat diperlukan terutama dalam pemberian bantuan dan insentif kepemilikan
hunian. Pembangunan perumahan juga memberikan dampak ganda (multiplier effect) terhadap
pembangunan di Kota Depok dan daerah sekitarnya. Dampak tersebut antara lain tingginya
pembangunan perumahan, meningkatnya pendapatan masyarakat, dan tingginya tingkat penyerapan
tenaga kerja akibat pembangunan perumahan. Peningkatan kebutuhan jumlah hunian, serta backlog
perumahan di Kota Depok menunjukkan kecenderungan pertumbuhan mengikuti kurva eksponensial
pada tahun simulasi 2001 sampai tahun 2025. Untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat di
Kota Depok khususnya MBR dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan mempertahankan
ketersediaan lahan RTH pada tingkat tertentu, skenario yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan
RTH sampai pada luasan 5000 ha, dengan mendorong pertumbuhan hunian vertikal melalui subsidi
bunga sebesar 8% dan subsidi uang muka sebesar Rp 10.000.000 Rp 13.000.000.

Kata kunci : Hunian vertikal, RTH, MBR, backlog, model, dan berkelanjutan

Abstract

Vertical residential development in Depok city is one of the alternative strategies to meet the need of
housing for people, especially low income people, decrease the backlog and optimizing the need of open
green space. The research was purposed to create a model of the development of vertical residential for
the sustainable of housing development and its impact to the housing development policy for the low
income people. The methods used to analyze the data were descriptive analysis, statistical analysis,
financial analysis, input-output (I-O) analysis and dynamic system analysis. The result of the research
showed that people in Depok city had great interest in having vertical residential, however the
affordability of low income people, were still low. To increase the peoples purchasing power,
participation of the government is greatly necessary especially in form of incentive and housing subsidy.
Housing development also resulted in multiplier effects for the development of Depok city and its
surrounding area, such as the high supply of housing, increasing of people income, and the higher
absorption level of manpower related the housing development. The increasing number of shelters

72

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

need as well as housing backlog in Depok city tended to grow similarly with the exponential curve in the
simulation years of 2001-2025. To meet the need of housing in Depok city, especially for the low income
people, with consideration to their ability and maintaining the open green space at certain level, the
scenario that could be done is utilization of the open green space up to 5000 ha, with support to the
vertical residential growth through subsidizing the interest of 8% as well as down payment in the range
of Rp 10,000,000 to Rp 13,000,000.

Keywords : Vertical residential, open green space, low income people, backlog, model, sustainable

PENDAHULUAN
Pemenuhan kebutuhan rumah bagi setiap
keluarga (shelter for all) dan pengembangan
perumahan yang berkelanjutan (sustainable
housing development) sudah menjadi agenda
global yang harus diwujudkan oleh setiap
negara. Persoalan lain yang sangat mendasar
adalah pemenuhan kebutuhan rumah yang
terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan
rendah (MBR). Hal ini juga menjadi perhatian
berbagai pemangku kepentingan di dunia
sebagaimana dicanangkan pada The 12th
Session of the Commission on Sustainable
Development (CSD 12) tanggal 14-30 April 2004
di New York, yakni to achieve significant
improvements in the living conditions of the
poorest population groups, in particular slum
inhabitants, by the year 2020 (Butters, 2003).
Perwujudan pembangunan perumahan dan
permukiman
berkelanjutan,
tidak
dapat
dilepaskan dari pembangunan perkotaan secara
keseluruhan, apalagi bila dikaitkan dengan
ketersediaan
lahan
yang
merupakan
sumberdaya alam yang tidak terbarukan. Salah
satu indikator pembangunan berkelanjutan yang
dimotori oleh United Nations Centre for Human
Settlements (UNCHS) adalah memberikan
rekomendasi tentang bagaimana menetapkan
indikator lingkungan untuk pembangunan
perumahan, permukiman dan perkotaan.
Indikator lingkungan perkotaan yang terkait
dengan sustainibilitas lingkungan perkotaan
adalah terpenuhinya luas ruang terbuka
(km2)/% (Junaidi, 2000). Ketersediaan ruang
terbuka hijau (RTH) merupakan salah satu
indikator utama penelitian dalam melakukan
analisis pembangunan perumahan berkelanjutan.
Indikator lain adalah tingkat keterjangkauan

Model Pengembangan Hunian (Tito Murbaintoro)

masyarakat untuk menyewa atau membeli


hunian serta pendapat masyarakat tentang
hunian yang diminati. Hal ini terkait dengan tiga
pilar konsep pembangunan berkelanjutan yakni
pembangunan yang telah mempertimbangkan
secara seimbang tiga dimensi berkelanjutan
yaitu ekologi/lingkungan, ekonomi dan sosial
(Munasinghe, 1993).
Sejalan
dengan
upaya
pembangunan
perumahan,
permukiman
dan
perkotaan
berkelanjutan Kementerian Negara Lingkungan
Hidup (Meneg LH) bekerjasama dengan UNDP
(United Nations Development Programme) telah
menerbitkan Agenda 21 Sektoral (nasional),
yaitu agenda permukiman untuk pengembangan
kualitas hidup secara berkelanjutan yang salah
satunya
mengamanatkan
perlu
upaya
melindungi masyarakat dari praktek-praktek
spekulasi dan monopoli penguasaan tanah
(Meneg LH, 2000). Ini menunjukkan komitmen
pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia
untuk mewujudkan pembangunan perumahan,
permukiman dan perkotaan berkelanjutan.
Beberapa pemikiran tersebut diatas sudah
barang tentu memberikan konsekuensi logis
pada pengendalian pembangunan perumahan
dan permukiman di perkotaan agar dapat
memenuhi persyaratan kota yang termasuk
kategori
kota
berwawasan
lingkungan
(sustainable city) antara lain : tetap terjaga
ketersediaan ruang terbuka hijau yang cukup di
kawasan perkotaan (sustainable land use
planning and management serta sustainable
housing and urban development), terpenuhinya
kebutuhan hunian yang layak dan terjangkau
bagi seluruh masyarakat (affordable low cost
housing) dan terwujudnya kehidupan sosial
kemasyarakatan yang harmonis dan efisien

73

(compact city) melalui pengembangan hunian


vertikal. Pengembangan hunian vertikal di kota
besar dan metro sudah menjadi kebutuhan yang
sangat mendesak, problem ketersediaan lahan
merupakan faktor pendorong bagi berbagai
pemangku
kepentingan
untuk
segera
memikirkan pola pengembangan perumahan
dan permukiman yang selama ini masih
didominasi oleh pengembangan hunian tapak
(landed). Sudah banyak terjadi perubahan
fungsi lahan pertanian produktif menjadi
kawasan perumahan yang pada gilirannya akan
mengakibatkan degradasi lingkungan.
Untuk menjawab persoalan tersebut penelitian
tentang pengembangan hunian vertikal menuju
pembangunan perumahan berkelanjutan telah
dilakukan di Kota Depok, Jawa Barat, Indonesia
sejak 2004 yang lalu. Pemilihan Kota Depok
sebagai lokus penelitian didasarkan pada
beberapa pertimbangan antara lain : merupakan
salah satu dari 15 kota besar di Indonesia yang
pertumbuhannya sangat pesat antara tahun
1990-2000 (Silas, 2001), sebagai salah satu kota
penyangga ibukota yang sangat strategis,
tingkat penduduk komuter termasuk kategori
tinggi, kondisi RTH dan kerusakan lahan
pertanian masih belum terlalu parah, yaitu
terdapat 49 % RTH (Wihana, 2008), merupakan
wilayah yang menjadi incaran pengembangan
perumahan karena berada di selatan Jakarta,

dan termasuk salah satu wilayah penanganan


Bogor-Puncak-Cianjur (Bopuncur).
Kerangka penelitian ini dirancang dalam
kerangka teori pembangunan berkelanjutan,
yang menyatakan bahwa konsep pembangunan
yang seimbang adalah pembangunan yang telah
mempertimbangkan tiga dimensi berkelanjutan
yaitu ekologi/lingkungan, ekonomi dan sosial.
Tujuan
utama
penelitian
ini
adalah
mengembangkan model hunian vertikal menuju
pembangunan perumahan berkelanjutan dan
implikasinya terhadap kebijakan pembangunan
perumahan bagi MBR. Dalam menyusun model
tersebut, ada beberapa tujuan antara yang
mendukung
terwujudnya
tujuan
utama
penelitian ini yaitu : menganalisis tingkat
manfaat pengembangan hunian vertikal pada
suatu
wilayah
kota
dikaitkan
dengan
ketersediaan RTH, menganalisis tingkat minat
masyarakat untuk tinggal di hunian vertikal,
menganalisis
tingkat
kelayakan
finansial
pengembangan hunian vertikal pada suatu
wilayah kota, khususnya yang terjangkau oleh
MBR, menganalisis dampak pembangunan
perumahan terhadap perekonomian daerah Kota
Depok, mendisain model pengembangan hunian
vertikal
secara
berkelanjutan.
Secara
diagramatis kerangka pemikiran tersebut dapat
dilihat pada gambar 1 berikut ini:

Gambar 1. Pengembangan Hunian Vertikal Menuju Pembangunan Perumahan Berkelanjutan

74

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Hasil penelitian telah memberikan gambaran


nyata
tentang
bagaimana
pembangunan
perumahan di kota besar dan metro harus
ditangani secara komprehensif. Hal lain yang
juga perlu mendapat
perhatian
adalah
sumbangan pemikiran tentang arah kebijakan
pembangunan perumahan yang harus di
tetapkan oleh regulator di tingkat kota serta
implikasinya kepada pembangunan perumahan
bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)
dan
pembangunan
perkotaan
secara
keseluruhan.

Pengembangan Hunian Vertikal pada


Suatu Wilayah Kota Dikaitkan dengan
Ketersediaan RTH

Pengembangan hunian vertikal pada suatu


wilayah kota dikaitkan dengan ketersediaan RTH
sangat
terkait
erat
dengan
indikator
pembangunan perumahan, permukiman dan
perkotaan. Oleh karena itu untuk menilai suatu
kota diperlukan indikator-indikator yang dapat
digunakan untuk mengukur tingkat kelayakan
suatu kota, antara lain mengukur kinerja;
mengkaji tren; memberi informasi; menetapkan
target; membandingkan kondisi atau tempat;
peringatan dini; dan menyusun pilihan strategis
dalam pembangunan kota (Banerjeen, 1996
dalam Junaidi,
2000). Kajian indikator
pembangunan perkotaan di beberapa negara
menunjukkan bahwa salah satu indikator yang
terkait dengan aspek lingkungan adalah
ketersediaan RTH yang memadai bagi penduduk
kota. Indikator lingkungan perkotaan yang
terkait
dengan
sustainibilitas
lingkungan
perkotaan adalah terpenuhinya luas ruang
terbuka dalam km2 (Junaidi, 2000). Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Zoeraini, fungsi
hutan kota sebagai bagian dari RTH dapat
menyerap hasil negatif dari kota antara lain :
suhu kota, kebisingan, debu, dan hilangnya
habitat burung (Zoeraini, 2005). Belum ada
standar baku yang mengatur tentang kebutuhan
RTH di suatu kota, tetapi data empiris di
beberapa kota dunia menunjukkan bahwa
kebutuhan RTH di suatu kota antara 6-10
m2/kapita (Ditjen Penataan Ruang, 2005).,
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang

Model Pengembangan Hunian (Tito Murbaintoro)

Penataan Ruang telah mengamanatkan untuk


menyediakan RTH publik minimal 20 % dari luas
kota dan RTH privat minimal 10 % dari luas
kota.
Secara umum kondisi RTH kota-kota di
Indonesia menunjukkan tingkat ketersediaan
yang belum optimal. Kurang optimalnya
pemenuhan kebutuhan ruang terbuka hijau
(RTH) dapat dilihat dari luas RTH di beberapa
kota di Indonesia yang mengalami penurunan
secara signifikan dalam 30 tahun terakhir, dari
35 % pada awal tahun 1970-an menjadi kurang
dari 10 % terhadap luas kota secara
keseluruhan (Kirmanto, 2005). Apabila ditinjau
dari kondisi kuantitas RTH di beberapa negara,
rasio RTH kota-kota metro di Indonesia sangat
jauh lebih rendah dibandingkan dengan kotakota di Jepang (5 m2 / penduduk), Inggris (711.5 m2 / penduduk) dan Malaysia (2 m2 /
penduduk). Fakta lain yang terkait dengan
ketersediaan RTH adalah cukup tingginya lahan
pertanian yang beralih fungsi menjadi kawasan
perumahan dan permukiman serta industri. Data
empiris juga menunjukkan bahwa alih fungsi
lahan pertanian terbesar adalah wilayah Jawa
Barat yang merupakan salah satu lumbung padi
nasional (Hatmoko, 2004). Kondisi tersebut di
atas merupakan konsekuensi dari lebih tingginya
nilai ekonomi lahan (land rent) untuk industri,
perumahan dan permukiman dibandingkan
untuk penggunaan lainnya (Barlowe, 1986).
Disamping itu, pengembangan properti selama
ini menggunakan konsep highest and best use
(Grasskamp dalam Jarchow, 1991) yaitu
pemanfaatan lahan didasarkan pada kegunaan
yang paling menguntungkan secara ekonomi
dan memiliki tingkat pengembalian usaha
(return) yang lebih tinggi dibandingkan dengan
fungsi lain. Teori lain menyatakan bahwa dalam
konteks land economics, land value sangat
dipengaruhi oleh hubungan komplementer
antara land rent dengan transportation cost
(Alonso, 1964). Kondisi tersebut dapat dilihat
juga dari tren kenaikan harga tanah di Perum
Perumnas Depok pada tahun 1990 an, dalam
waktu dua tahun mencapai 75 % (Gandi, 1994
dalam Winarso, 2001). Berdasarkan penelitian

75

yang dilakukan selama 40 tahun terakhir


pendapatan bersih tanah per m2 untuk real
estate, 200 kali lipat dibandingkan untuk
pertanian (Agroindonesia, 2004). Disamping
indikator sustainabilitas lingkungan perkotaan
yang bersifat komprehensif, UNCHS juga telah
mengembangkan indikator untuk lingkungan
perumahan pada tahun 1993 (Junaidi, 2000).
Indikator lingkungan perumahan antara lain :
luas lantai per orang dan portofolio kredit
perumahan. Dalam konteks luas lantai per orang
dan ketersediaan RTH di suatu kota, maka
pengembangan hunian vertikal akan dapat
menjaga sustainabilitas lingkungan perkotaan.

Kecenderungan berkurangnya RTH dan alih


fungsi lahan pertanian produktif juga terjadi di
Kota Depok, tetapi menurut data yang diperoleh
dari pemerintah Kota Depok ketersediaan RTH
di Kota Depok sampai saat ini masih cukup baik
yakni sekitar 49% dari seluruh wilayah Kota
Depok. Kalau tidak dikendalikan secara dini,
maka Kota Depok akan mengalami degradasi
lingkungan seperti halnya kota metro lain di
Indonesia. Tren ketersediaan RTH Kota Depok
selama kurun waktu lima tahun (2000-2005)
menunjukkan penurunan yang cukup signifikan
terutama untuk lahan pertanian sebagaimana
dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.
Penurunan Lahan Pertanian Kota Depok Tahun 2000-2005
Tahun
Lahan Pertanian
(Ha)
2000
2001
2002
2003
2004

2005

Sawah Teknis

926,58

931,00

931,00

907,00

907,00

785,00

Sawah Non Teknis

401,68

401,00

401,00

380,00

380,00

187,50

1.527,35

1.501,05

1.420,30

1.357,65

1.285,12

1.272,80

Perkebunan

Sumber : Pemerintah Kota Depok, 2006 diolah

Penurunan ketersedian RTH untuk lahan


pertanian yang terdiri dari sawah teknis, sawah
non teknis dan perkebunan terus terjadi,
walaupun pada awalnya cenderung mengalami
peningkatan seperti sawah teknis pada tahun
2000 seluas 926,58 Ha meningkat menjadi
931,00 Ha pada tahun 2001 dan bertahan
sampai tahun 2003, tetapi pada tahun 2004 luas
sawah teknis tersebut mengalami penurunan.
Untuk sawah non teknis dan perkebunan sejak
tahun 2000 cenderung mengalami penurunan.
Tren penurunan luas RTH ini menunjukkan
bahwa semakin lama luas RTH di Kota Depok
akan semakin menurun yang disebabkan oleh
kebutuhan
lahan
untuk
pengembangan
perumahan dan kebutuhan lainnya seiring
dengan tren pertambahan ijin lokasi dan ijin
mendirikan bangunan di Kota Depok. Beruntung
Kota
Depok
masih
memiliki
kebijakan
penambahan taman kota yang setiap tahunnya
meningkat sebagaimana dilihat pada tabel 2.

76

Tabel 2.
Ketersediaan RTH untuk Taman Kota
Tahun 2000-2005
Tahun

Taman Kota (Ha)

2000

12,05

2001

12,36

2002

18,35

2003

22,16

2004

26,57

2005

61,75

Sumber : Pemerintah Kota Depok, 2006 diolah

Dilain pihak kebutuhan akan rumah di Kota


Depok menunjukkan angka yang cukup besar.
Pemenuhan kebutuhan rumah di suatu kota
dapat dilihat dari backlog dan pertumbuhan
kebutuhan rumah akibat bertambahnya keluarga
baru di suatu kota. Disamping itu, perlu
dianalisis juga jumlah rumah tangga yang
termasuk kategori komuter. Kota Depok

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

termasuk kota yang tingkat pertumbuhan


penduduknya relatif tinggi, yaitu 3,7% per
tahun. Hal ini menyebabkan pertumbuhan
kebutuhan rumah di Kota Depok cukup tinggi.
Data BPS tahun 2003 menunjukkan bahwa dari
234.733 rumah tangga, dengan tingkat
pertumbuhan penduduk 3,7 % per tahun maka
angka kebutuhan rumah per tahun kurang lebih
10.375 unit rumah, disamping itu backlog rumah
menunjukkan angka cukup tinggi. Pertumbuhan
jumlah
penduduk
yang
mengakibatkan
bertambahnya keluarga baru setiap tahunnya
sebagaimana dilihat pada tabel 3.

Dengan tetap berupaya memenuhi kebutuhan


rumah untuk seluruh keluarga disatu pihak dan
menjaga
kualitas
lingkungan
terutama
ketersediaan ruang terbuka hijau sebagai salah
satu indikator lingkungan perkotaan yang
berkelanjutan di lain pihak, maka model
pengembangan hunian vertikal perlu segera
diterapkan untuk kota-kota yang masih memiliki
ruang terbuka hijau yang cukup dan tingkat
pertumbuhan kebutuhan rumah yang cukup
signifikan setiap tahunnya.
Dengan pembangunan perumahan secara
vertikal maka akan membantu mengurangi laju
pengurangan lahan RTH. Pembangunan hunian
vertikal dengan satuan luas lahan yang relatif
lebih kecil dibandingkan dengan hunian tapak
memberi peluang untuk menyediakan rumah
lebih banyak sehingga backlog dapat ditekan.
Secara simulatif dengan memasukkan hunian
vertikal dalam pembangunan perumahan di Kota
Depok dapat menurunkan backlog hingga
mencapai 8.207 unit rumah pada tahun 2025.
Pada kondisi tersebut ketersediaan RTH dapat
ditekan yaitu sebesar 4.174 ha (20.83%). Hasil
simulasi model pengembangan hunian vertikal di
Kota Depok sebagaimana dilihat pada tabel 4.

Tabel 3.
Jumlah dan Tingkat Pertumbuhan Penduduk
Kota Depok
No.

Jumlah Pertumbuhan
Sub Pusat
Penduduk Penduduk
Pengembangan
(Jiwa)
(%/Tahun)

1.

Cimanggis

435.477

3,36

2.

Sawangan

214.601

5,29

3.

Limo

190.359

4,88

4.

Pancoran Mas

278.943

3,04

5.

Beji

201.363

6,45

6. Sukmajaya
345.500
Sumber: RTRW Kota Depok, 2000-2010

2,70

Tabel 4.
Tabel Simulasi Pembangunan Hunian Vertikal dalam Perencanaan Pembangunan Perumahan
di Kota Depok
Backlog
Tahun

Tanpa rumah
vertikal
(Unit)

RTH

Dengan
rumah
vertikal
(Unit)

Persen
Tanpa rumah
terhadap luas
vertikal
kota
(Ha)
(%)

Dengan
rumah
vertikal
(Ha)

Persen
terhadap luas
kota
(%)

2001

100.753

100.753

9.833

49.07

9.833

49.07

2005

111.759

104.806

9.215

45.99

9.278

46.30

2010

120.766

101.162

8.272

41.28

8.445

42.14

2015

124.686

87.238

7.103

35.45

7.426

37.06

2020

118.645

57.498

5.671

28.30

6.191

30.90

2025

102.410

8.207

4.061

20.27

4.174

20.83

Model Pengembangan Hunian (Tito Murbaintoro)

77

Tingkat Minat Masyarakat


Tinggal di Hunian Vertikal

untuk

Minat menghuni rumah bagi setiap individu dan


keluarga tidak hanya dilihat bahwa mereka
tinggal secara fisik di rumah, tetapi merupakan
proses pembentukan jatidiri manusia secara
utuh dan merupakan tempat persemaian
keluarga dan budaya masyarakat. Oleh karena
itu menghuni rumah sangat terkait dengan
proses pembentukan ruang (Crowe, 1997),
sehingga menghuni rumah merupakan fungsi
dari tempat/ lokasi, waktu dan temporal (secara
fungsional dapat dirumuskan sebagai berikut :
pembentukan ruang = f (place, locality, time,
temporal)). Jadi sangat tergantung dari persepsi
dan makna yang dirasakan oleh manusia
(Crowe, 1997 dalam Mas Santosa, 2001). Proses
pembentukan ruang juga akan menemukan
konflik antara tradisi dan modernitas sehingga
pada gilirannya akan memudarkan identitas kota
yang sangat terkait dengan aspek lokalitas
(Correa, 2000 dalam Mas Santosa, 2001). Jadi
identitas kota sangat dipengaruhi oleh bentuk
kota (urbanform), kultur dan kepadatan kota.
Pada beberapa pendapat terdahulu fenomena
sosio kultural dan fisikal merupakan kekuatan
yang membentuk arsitektur tradisional (Oliver,
1987) dan pada kenyataannya arsitektur
tradisional merupakan proses yang mampu
menunjukkan interaksi antara manusia dan
lingkungannya, dan bentuk interaksi tersebut
secara gradual berubah karena terkait dengan
konteksnya (Rapoport, 1994).
Bertolak dari beberapa pemikiran tersebut,
aspek sosial sebagai salah satu pilar
pembangunan berkelanjutan menjadi salah satu
unsur
yang
penting
didalam
meneliti
pengembangan hunian vertikal di kawasan
perkotaan. Penelitian ini mengungkap seberapa
besar minat masyarakat Kota Depok tinggal di
hunian vertikal. Memperhatikan beberapa hal
penting sebagaimana diuraikan diatas, penelitian
tentang minat masyarakat Kota Depok untuk
tinggal di hunian vertikal dititik beratkan pada
tiga aspek yaitu persepsi, motivasi, dan lokasi.
Hasil penelitian tentang persepsi masyarakat
atas hunian vertikal menunjukkan bahwa

78

mayoritas responden masyarakat Kota Depok


masih berpendapat bahwa rumah susun dan
apartemen merupakan bangunan yang sangat
berbeda/ berbeda (>70%), rumah susun akan
menimbulkan kekumuhan baru (70,5%). Dilain
pihak persepsi masyarakat bahwa tinggal di
rumah susun dapat memberikan kepuasan
(42%) dan sudah merasa memiliki/ menghuni
rumah (40%), memberikan peluang untuk dapat
ditingkatkan
persepsi
masyarakat
atas
keberadaan rumah susun. Hasil penelitian
tentang motivasi masyarakat untuk tinggal di
hunian vertikal menunjukkan bahwa mayoritas
responden masyarakat Kota Depok memiliki
motivasi yang sangat besar untuk tinggal di
hunian vertikal bila dibandingkan dengan tinggal
di rumah tapak dengan kondisi rumah tapak
yang kumuh (>70%), atau jauh dari tempat
kerja/ sekolah, atau harga sewa rumah susun
yang lebih murah daripada tinggal di rumah
tapak sewa (>60%). Hasil penelitian tentang
lokasi hunian vertikal yang diminati masyarakat
menunjukkan bahwa mayoritas responden
masyarakat Kota Depok memiliki keinginan
untuk tinggal di rumah susun yang berada dekat
dengan tempat kerja / sekolah (>70%), atau
rumah susun ditengah kota (>60%), atau
memiliki akses kereta api/ jalan tol (>50%), dan
dikawasan yang tenang (76,3%) dibandingkan
dengan tinggal di hunian tapak yang memiliki
karakteristik sebaliknya.
Kenyataan tersebut diatas menunjukkan bahwa
potensi masyarakat Kota Depok tinggal di
hunian
vertikal
sangat
besar
apabila
pengembangan hunian vertikal dilakukan secara
terencana dengan memperhatikan faktor-faktor
yang mempengaruhi tingkat persepsi, motivasi
masyarakat dan pemilihan lokasi hunian vertikal.
Aspek lain yang masih harus menjadi
pertimbangan
adalah
kemiripan
proses
pembentukan ruang hunian vertikal bagi MBR
dan proses pembentukan ruang kampung yang
memiliki ciri hampir sama yaitu didaerah yang
berkepadatan tinggi, di lingkungan urban/
perkotaan, mayoritas tumbuh secara informal
khususnya untuk masyarakat berpenghasilan
rendah. Kampung merupakan wujud yang

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

menunjukkan suatu proses terbentuknya ruang


di daerah berkepadatan tinggi yang tumbuh
secara informal di lingkungan urban tropis,
sehingga lokasi penetapan tatanan lingkungan
pembentukan ruang mengikuti kepercayaan /
kebiasaan yang sifatnya turun temurun (Mas
Santosa, 2001). Pada hunian tradisional, ruang
utama yang berfungsi sebagai ruang keluarga
sangat mendominasi aktifitas anggota keluarga
(Mas Santosa, 2001). Oleh karena itu konsep
kampung susun menjadi sesuatu ide yang harus
dikembangkan terutama untuk memfasilitasi
hunian vertikal bagi masyarakat berpenghasilan
rendah.

Tingkat Kelayakan dan Keterjangkauan


Pengembangan
Hunian
Vertikal
Bagi Masyarakat Berpenghasilan
Rendah
Kebutuhan akan hunian harus disesuaikan
dengan kemampuan untuk memiliki atau
menyewa hunian yang ditunjukkan oleh tingkat
Indeks keterjangkauan (IK) =
Dimana :

IK
IK
IK
IK

< 3,0
3,1 - 4,0
4,1 - 5,0
> 5,1

=
=
=
=

Hunian
Hunian
Hunian
Hunian

keterjangkauan masyarakat untuk memiliki


rumah melalui kredit/ pembiayaan pemilikan
rumah (KPR) atau membayar sewa. Aspek ini
sangat penting, tinjauan aspek ekonomi sebagai
salah satu pilar pembangunan berkelanjutan
mejadi sangat penting untuk dikaji secara
mendalam dan komprehensif. Oleh karena itu
indeks keterjangkauan yang selama ini telah
dikembangkan oleh beberapa lembaga di
beberapa negara menjadi salah satu hal yang
penting
untuk
dipertimbangkan.
Indeks
keterjangkauan
(median
multiple)
yang
merupakan perbandingan antara median harga
rumah (median house price) dan median
pendapatan
keluarga
setahun
(median
household income multiple) telah mengalami
kenaikan secara tajam di beberapa negara
(Wendell Cox and Hugh Pavletich, 2007).
Idealnya median harga rumah 3 (tiga) kali atau
kurang dari median pendapatan keluarga selama
setahun. Secara umum indeks keterjangkauan
dapat di bagi kedalam empat kategori, yakni :
Median harga rumah

Median penghasilan masyarakat pertahun


terjangkau oleh masyarakat
agak terjangkau oleh masyarakat
tidak terjangkau oleh masyarakat
sangat tidak terjangkau oleh masyarakat

(Sumber : Brash, 2008 dan Sirmans, 1989)

Kondisi tersebut menjadi menarik apabila


dikaitkan dengan perkiraan perhitungan indeks
keterjangkauan
di
negara
kita.
Untuk
menghitung indeks keterjangkaun secara
nasional membutuhkan analisis data secara
nasional. Median penghasilan masyarakat secara
nasional yang pernah diolah pada tahun 2002
adalah sebesar Rp 950.000 (HOMI, 2002) dan
pada saat tersebut harga rumah yang berhak
disubsidi adalah Rp. 42 juta,-. Apabila
diasumsikan median harga rumah sebesar harga
rumah yang dapat disubsidi, maka perkiraan
angka indeks keterjangkauan masyarakat
berpenghasilan rendah secara nasional adalah
3,6 yang menunjukkan bahwa pemilikan rumah

Model Pengembangan Hunian (Tito Murbaintoro)

untuk masyarakat berpenghasilan rendah harus


mendapat intervensi dari pemerintah dalam
bentuk subsidi perumahan atau subsidi silang
dengan kompensasi harga kawasan komersial
atau hunian komersial. Dengan data median
income tahun 2004 (dengan asumsi kenaikan
pendapatan sebesar 10%) sebesar Rp.
1.045.000 dan harga rumah bersubsidi saat itu
sebesar Rp. 49 juta,- maka perkiraan angka
indeks keterjangkauan meningkat menjadi 3,9.
Bila dikaitkan kondisi saat ini dengan harga
rumah bersubsidi sebesar Rp. 55 juta,-, angka
indeks keterjangkauan diperkirakan meningkat
menjadi
>
4.
Hal
ini
menunjukkan
perkembangan
indeks
keterjangkauan
di

79

Indonesia juga mengalami peningkatan secara


nasional sebagaimana terjadi di beberapa
negara yang berarti kemampuan masyarakat
untuk akses KPR semakin menurun.
Selain melalui kredit/pembiayaan pemilikan
rumah, pemenuhan kebutuhan hunian bagi
masyarakat berpenghasilan rendah juga dapat
dilakukan melalui program hunian sewa. Untuk
mengembangkan hunian vertikal sewa bagi
masyarakat berpenghasilan rendah/rumah susun
sederhana
sewa
(rusunawa)
perlu
mempertimbangkan tingkat kelayakan investasi
rusunawa yang terjangkau oleh masyarakat
berpenghasilan
rendah.
Ukuran
tingkat
kelayakan investasi secara finansial dapat dilihat
dari beberapa indikator antara lain net present
value (NPV) yang merupakan nilai netto
investasi saat ini, internal rate of return (IRR)
yang merupakan tingkat pengembalian yang
diinginkan dan payback period (PBP) yang
merupakan periode pengembalian investasi.
Hasil simulasi investasi menunjukkan bahwa
pembangunan rumah susun sewa sederhana
(rusunawa) untuk MBR yang diasumsikan
mampu membayar sewa < Rp. 300.000,-/bulan
menghasilkan nilai IRR, NPV dan PBP yang tidak
menarik bagi investor, yakni IRR 9%, 6% dan 4% (untuk usia ekonomis 30, 20 dan 10 tahun),
dengan payback period 13 tahun. Investasi
rusunawa baru menunjukkan angka yang cukup
menarik apabila tarif sewa menjadi > Rp.
2.500.000,-/bulan yang menghasilkan nilai IRR,
NPV dan PBP yang menarik bagi investor, yakni
IRR 32%, 32% dan 29% (untuk usia ekonomis
30, 20 dan 10 tahun), dengan payback period 4

tahun. Kondisi ini tidak mungkin diterapkan


kepada MBR, oleh karena itu investasi rusunawa
masih
harus
membutuhkan
intervensi
pemerintah. Kondisi ini tidak jauh berbeda
dengan yang terjadi di Kota Depok, bahwa tren
harga rumah dan pendapatan masyarakat Kota
Depok masih menunjukkan bahwa masyarakat
berpenghasilan rendah Kota Depok masih
membutuhkan intervensi dari pemerintah daerah
melalui kebijakan subsidi atau insentif di tingkat
kota.

Dampak Pembangunan Perumahan


terhadap Perekonomian Daerah Kota
Depok

Lingkungan perkotaan secara geografis, sosialbudaya, dan sosial ekonomi merupakan


kawasan yang sangat kompleks. Pertumbuhan
penduduk yang cukup tinggi di Kota Depok
menuntut penyediaan perumahan yang layak
huni yang tinggi pula. Dalam pembangunan
perumahan ini, diharapkan memberikan dampak
ganda (Multiplier Effect) terhadap perekonomian
daerah terutama dari segi output, income, dan
employment.
Dampak
pembangunan
perumahan terhadap struktur ekonomi di Kota
Depok dianalisis dari 36 sektor yang didasarkan
pada transaksi domestik atas dasar harga
produsen (juta rupiah) pada tahun 2006 yang
diturunkan dari Tabel IO Nasional.
Hasil
penelitian menunjukkan sebagai berikut :
Nilai
pengganda
output,
income
dan
employment tipe I dan II sebagaimana dilihat
pada tabel 5.

Tabel 5.
Dampak Pembangunan Perumahan terhadap Struktur Pembangunan Ekonomi Total Output, Income,
Employment, dan Value Added di Kota Depok
Dampak Pengganda (Multiplier Effect)
Kode
Nama Sektor
Output
Income
Employment
Sektor
Tipe I
Tipe II
Tipe I
Tipe II
Tipe I
Tipe II
Perumahan Dibangun
18
1.302
1.368
1.367
1.438
1.543
1.641
Pengembangan
Perumahan Permanen
19
1.297
1.363
1.361
1.431
1.542
1.640
Swadaya
20
Perumahan Tidak Permanen
1.299
1.365
1.364
1.434
1.543
1.641
31
Real Estate
1.220
1.276
1.295
1.362
1.473
1.639

80

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Dampak output untuk empat sektor terbesar


perumahan yaitu perumahan yang dibangun
oleh pengembang, perumahan permanen
swadaya, perumahan tidak permanen, dan real
estate memiliki nilai output yang relatif sama
baik pada pengganda tipe I maupun tipe II
dengan nilai output rata-rata lebih besar dari
satu. Sektor perumahan yang dibangun oleh
pengembang memiliki nilai output yang lebih
besar kemudian diikuti oleh bentuk perumahan
lainnya. Hal ini berarti bahwa dampak
pembangunan perumahan terhadap output telah
memberikan keuntungan bagi pertumbuhan
ekonomi wilayah termasuk penciptaan lapangan
kerja bagi Kota Depok.
Tenaga kerja dalam analisis I-O pada prinsipnya
sama dengan definisi yang digunakan dalam
sensus penduduk sejak tahun 1990, yaitu
penduduk yang berumur 10 tahun ke atas yang
bekerja dengan maksud memperoleh atau
membantu memperoleh penghasilan, sekurangkurangnya satu jam secara tidak terputus dalam
seminggu yang lalu (BPS, 2005). Tenaga kerja
merupakan salah satu faktor produksi yang
memiliki peran yang sangat penting. Tenaga
kerja memiliki hubungan linier dengan output
yang dihasilkan dalam suatu proses produksi,
sehingga naik turunnya output disuatu sektor
akan berpengaruh terhadap naik turunnya
jumlah tenaga kerja di sektor tersebut.
Tabel 5 menunjukkan nilai pengganda tenaga
kerja rata-rata lebih besar dari nilai satu baik
dampak pengganda tipe I maupun tipe II
dengan nilai masing-masing 1,543 (tipe I) dan
1,641 (tipe II) untuk perumahan yang dibangun
pengembang, 1,542 (tipe I) dan 1,640 (tipe II)
untuk perumahan permanen swadaya, dan
1,543 (tipe I) dan 1,641 (tipe II) untuk
perumahan tidak permanen, serta 1,473 (tipe I)
dan 1,639 (tipe II) untuk real estate. Hal ini
berarti bahwa kebutuhan tenaga kerja di sektor
perumahan sangat besar, baik tenaga kerja
yang berasal dari dalam wilayah Kota Depok
maupun yang berasal dari luar wilayah Kota
Depok.

Model Pengembangan Hunian (Tito Murbaintoro)

Model Pengembangan Hunian Vertikal


secara Berkelanjutan

Sistem merupakan agregasi obyek yang saling


berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu
(Maarif dan Tanjung, 2003). Pengertian lain
sistem adalah suatu entitas yang terkait dengan
suatu tujuan tertentu yang terdiri atas sub-sub
sistem yang saling terkait (Maarif dan Tanjung,
2003). Pendekatan sistem sangat bermanfaat
untuk suatu pengambilan keputusan. Dalam
pendekatan sistem umumnya ditandai oleh dua
hal, yaitu : (1) mencari semua faktor penting
yang ada dalam mendapatkan solusi yang baik
untuk menyelesaikan masalah; (2) dibuat suatu
model kuantitatif untuk membantu keputusan
secara rasional (Eriyatno, 2003). Model dapat
diartikan sebagai suatu perwakilan atau abtraksi
dari sebuah obyek atau situasi aktual, yang
memperlihatkan hubungan-hubungan langsung
maupun tidak langsung serta kaitan timbal balik
(sebab akibat). Sebagai suatu abstraksi dari
suatu realitas, maka wujud model dapat lebih
kompleks atau kurang kompleks daripada
realitas itu sendiri. Lengkap tidaknya suatu
model bergantung pada apakah model tersebut
dapat mewakili berbagai aspek dari realitas itu
sendiri. Dalam hal ini semakin dapat mewakili
realitas, maka suatu model dapat dikatakan
semakin lengkap. Dasar utama pengembangan
model adalah untuk menemukan peubahpeubah yang penting dan tepat dalam
membangun model. Untuk menirukan perilaku
suatu gejala atau proses dibuat simulasi model.
Simulasi ini bertujuan untuk memahami gejala
atau proses tersebut, membuat analisis dan
meramalkan perilaku gejala atau proses tersebut
di masa depan.
Salah satu situasi aktual yang dapat
diabstraksikan melalui suatu pemodelan adalah
pengembangan hunian vertikal di lingkungan
perkotaan yang secara geografis, sosial-budaya,
dan sosial ekonomi merupakan kawasan yang
sangat kompleks untuk diramalkan gejala-gejala
atau proses yang akan terjadi dimasa yang akan
datang khususnya di Kota Depok. Dalam model
pengembangan
hunian
vertikal
tersebut,
beberapa
peubah-peubah
yang
saling

81

berhubungan antara satu dengan lain baik


langsung maupun tidak langsung meliputi
pertumbuhan penduduk, ketersediaan lahan,
kebutuhan rumah yaitu rumah tapak dan rumah
vertikal (rusun dan apartemen), ketersediaan
rumah,
backlog,
MBR,
masyarakat
berpenghasilan menengah (MBM), masyarakat
berpenghasilan atas (MBA), subsidi rusun, dan
harga rumah, serta minat untuk memiliki rumah.
Model pengembangan hunian vertikal di Kota
Depok dibangun dalam tiga (3) sub model yaitu
sub model pertumbuhan penduduk dan RTH,
dan sub model kebutuhan perumahan, dan sub
model kebutuhan lahan hunian di Kota Depok.
Hasil simulasi model menunjukkan bahwa
penduduk Kota Depok akan meningkat terus
dari 1.204.687 jiwa menjadi 2.487.515 jiwa
pada tahun 2025 dengan asumsi rata-rata
tingkat kelahiran penduduk sebesar 4 %
pertahun dan tingkat kematian rata-rata 1 %
pertahun. Tingkat pertumbuhan penduduk Kota
Depok yang semakin meningkat setiap tahun
akan
berimplikasi
terhadap
kebutuhan
penggunaan lahan dan kebutuhan rumah.
Ketersediaan lahan di Kota Depok yang semakin
terbatas akan menyebabkan ketersediaan lahan
tersebut menjadi faktor pembatas terhadap
tingkat pertumbuhan penduduk Kota Depok.
Dalam model dibatasi daya dukung lahan
sebesar 5000 jiwa/ha dan apabila melebihi dari
kapasitas tersebut maka perlu dilakukan
tindakan untuk mengatasi laju pertumbuhan
penduduk yang semakin meningkat. Sementara
itu dilihat dari tingkat kebutuhan rumah
menunjukkan ketidakseimbangan antara total
rumah yang tersedia dengan jumlah penduduk.
Jumlah penduduk Kota Depok pada tahun 2001
berjumlah 1.204.687 jiwa (BPS Kota Depok,
2007) sedangkan total rumah yang tersedia
belum mencapai jumlah KK yang membutuhkan
unit rumah. Hal tersebut menyebabkan
terjadinya backlog unit rumah dan ini akan
terjadi peningkatan secara terus-menerus
sampai pada tahun 2025. Pertumbuhan
kebutuhan rumah yang sangat signifikan adalah
rumah sederhana sehat (RSH) yang diikuti
dengan rumah menengah (RTM), selanjutnya

82

rumah mewah (RTA). Pada kondisi eksisting,


Kota
Depok
belum
secara
spesifik
mengembangkan hunian vertikal. Oleh karena
itu pada simulasi kondisi eksisting jumlah rusun
dan apartemen tidak ada.
Pada tahun 2001 belum terlihat pembangunan
rumah tersebut di atas dan baru terlihat pada
tahun 2002 yang terus mengalami peningkatan
sampai pada tahun simulasi 2025, masingmasing RSH sebesar 134.369 unit, RTM sebesar
123.883 unit, dan RTA sebesar 24.776 unit.
Semakin meningkatnya kebutuhan rumah
tersebut akan berdampak terhadap perluasan
kawasan terbangun dan semakin menurunnya
Ruang
Terbuka
Hijau
(RTH).
Untuk
mengantisipasi semakin menurunnya RTH maka
pengembangan perumahan diarahkan pada
pengembangan
hunian
vertikal.
Dalam
pengembangan hunian vertikal ini dipengaruhi
oleh minat masyarakat untuk tinggal di hunian
vertikal. Sedangkan minat ini sangat dipengaruhi
oleh motivasi, persepsi, dan lokasi hunian.
Untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi
masyarakat
di
Kota
Depok
khususnya
masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)
dengan
mempertimbangkan
kemampuan
masyarakat untuk memiliki rumah dan
mempertahankan ketersediaan lahan RTH, maka
skenario terbaik yang dapat dilakukan adalah
memanfaatkan RTH sampai pada luasan 40005000 ha, dengan mendorong pertumbuhan
hunian vertikal melalui subsidi bunga minimal
sebesar 8% dan subsidi uang muka sebesar Rp
10.000.000 Rp 13.000.000.

IMPLIKASI KEBIJAKAN
Seluruh
proses
analisis
dan
simulasi
komprehensif pengembangan hunian vertikal
menuju
pembangunan
perumahan
yang
berkelanjutan
membawa
implikasi
dan
konsekuensi logis kepada penentuan arah
kebijakan pembangunan perumahan secara
menyeluruh di Kota Depok. Secara filosofis
kerangka implikasi kebijakan tersebut dapat
dikaitkan dengan pemikiran tentang spatial
arrangement and sustainable development

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

(Haryadi, 1997). Kebijakan dan strategi


merupakan intervensi dari pemerintah (pusat,
propinsi, kabupaten/ kota) dalam sistem
aktivitas di masyarakat agar dapat berjalan
seimbang. Sebagaimana dipahami bersama
bahwa sistem aktifitas dimasyarakat sangat
dipengaruhi oleh gaya hidup yang bersumber
pada kultur masyarakat. Dan semuanya itu tidak
terlepas dari daya dukung lahan (land capacity).
Ada beberapa pendekatan tentang analisis
implikasi kebijakan ini terutama yang berkaitan
dengan pengembangan hunian vertikal, antara
lain : generic policies dan compact cities. Salah
satu pendekatan analisis kebijakan yang
digunakan pada penelitian ini adalah konsep
kebijakan generik. Menurut Weimer dan Vining
(1999), kebijakan generik (generic policies)
adalah berbagai macam tindakan pemerintah
yang dilakukan untuk memecahkan masalah
yang dihadapi dan biasanya berupa suatu
strategi umum. Karena masalah kebijakan

biasanya bersifat kompleks dan kontekstual,


maka kebijakan generik seharusnya berfikir
secara menyeluruh dan mendorong terwujudnya
suatu perspektif yang luas dan pada gilirannya
akan membantu mencari solusi yang berujung
pada suatu keadaan yang spesifik
untuk
menghasilkan alternatif kebijakan yang dapat
dilaksanakan secara berkelanjutan. Ada lima hal
penting yang termasuk dalam kebijakan generik,
yakni : i) peraturan perundangan; ii)
pembebasan, fasilitasi dan simulasi pasar; iii)
pajak dan subsidi; iv) penyediaan barang
melalui mekanisme nonpasar; v) asuransi dan
jaring pengaman.
Dengan menggunakan pendekatan kebijakan
generik sebagaimana diuraikan diatas, maka
penerapan
kebijakan
generik
dalam
pengembangan
hunian
vertikal
menuju
pembangunan perumahan berkelanjutan dapat
dilihat pada tabel 6 dibawah ini:

Tabel 6.
Kebijakan Generik Pengembangan Hunian Vertikal Menuju Pembangunan
Perumahan Berkelanjutan
Kelompok
Kebijakan
Generik

Karakteristik Kebijakan

Jenis Kebijakan

Penerapan Kebijakan

Peraturan
Perundangan

Kebijakan Konstitusi
(constitutive policies)
berisi pengaturan umum
bagi masyarakat luas,
semua mendapat
keuntungan bersama, yang
melanggar akan
menanggung resiko

Konstitusi dan
Regulasi Umum

Peraturan Daerah dan atau Peraturan


Walikota tentang :
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Pengaturan arah kebijakan
pembangunan kota
Pembangunan hunian vertikal
Ijin lokasi
Ijin Mendirikan Bangunan
Ijin Penghunian Bangunan
Fee dampak pembangunan

Pembebasan,
Fasilitasi dan
Simulasi Pasar
(Freeing,
Facilitating
Markets)

Kebijakan Distribusi
(distributive policies),
berisi keputusan yang
bersifat tidak memaksa
(noncoercive decisions),
dalam kondisi dan situasi
yang stabil

Deregulasi
Legalisasi
Privatisasi
Alokasi
Existing
Goods
Penciptaan Barang
Baru yang dapat
dipasarkan
Simulasi Pasar

Peraturan Daerah dan atau Peraturan


Walikota tentang :
Pengaturan kemitraan pemerintah,
swasta dan masyarakat dalam
pembangunan perumahan
Pengaturan pemanfaatan komponen
dan tenaga kerja lokal
Pengaturan regionalisasi dan klasifikasi
jenis pekerjaan di bidang perumahan
Pengaturan pendataan dan pencatatan
hak property

Model Pengembangan Hunian (Tito Murbaintoro)

83

Lanjutan Tabel 6
Kelompok
Kebijakan
Karakteristik Kebijakan
Generik

Jenis Kebijakan

Penerapan Kebijakan

Subsidi dan Pajak Kebijakan Regulasi


(iregulatory policies),
berisi keputusan yang
bersifat memaksa
(coercive decisions),
dalam kondisi yang kurang
stabil

Regulasi khusus

Peraturan Daerah dan atau Peraturan


Walikota tentang :
Subsidi bunga/ uang muka
Subsidi infrastruktur
Insentif retribusi dan pajak daerah

Penyediaan
Barang melalui
Mekanisme
Nonpasar

Kebijakan Redistribusi
(redistributive policies),
berisi keputusan yang
bersifat memaksa
(coercive decisions),
dalam kondisi yang tidak
stabil

Redistribusi

Peraturan Daerah dan atau Peraturan


Walikota tentang :
Subsidi silang pembangunan
perumahan
Pengaturan pemanfaatan lahan untuk
perumahan

Asuransi dan
Kebijakan Redistribusi
Jaring Pengaman (redistributive policies),
berisi keputusan yang
bersifat memaksa
(coercive decisions),
dalam kondisi yang tidak
stabil

Redistribusi

Peraturan Daerah dan atau Peraturan


Walikota tentang :
Subsidi premi asuransi KPR
Pembangunan rumah susun sederhana
sewa (rusunawa) bersubsidi
Pembangunan rumah sosial (panti
jompo, panti sosial dll)

KESIMPULAN DAN SARAN


Hasil penelitian telah memberikan gambaran
nyata
tentang
bagaimana
pembangunan
perumahan di kota besar dan metro harus
ditangani secara sistemik dan holistik dalam
rangka mewujudkan pembangunan perumahan
yang berkelanjutan. Dari penelitian ini dapat
disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Pembangunan perumahan yang didominasi
oleh hunian tapak di suatu wilayah
perkotaan, sangat berpengaruh pada
ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) dan
pada gilirannya akan mengabaikan konsep
pembangunan
berkelanjutan.
Ada
kecenderungan penurunan jumlah RTH yang
sangat signifikan terutama untuk lahan
pertanian. Secara simulatif, pembangunan
hunian vertikal menjadi solusi alternatif
untuk dapat mempertahankan ketersediaan
RTH
disatu
pihak
dan
pemenuhan
kebutuhan rumah bagi masyarakat dilain
pihak.

84

2. Minat masyarakat untuk tinggal di hunian


vertikal merupakan proses pembentukan
jatidiri manusia secara utuh dan sangat
terkait dengan proses pembentukan ruang
yang terkadang akan menimbulkan konflik
antara tradisi dan modernisasi. Secara
teoritis dan hasil penelitian di lapangan
menunjukkan bahwa minat menghuni
rumah dalam konteks pembentukan ruang
sangat tergantung dari persepsi dan
motivasi masyarakat serta lokasi hunian.
Masih ada peluang cukup tinggi minat
masyarakat untuk tinggal di hunian vertikal,
tetapi
dibutuhkan
perencanaan
yang
matang dan terpadu. Konsep kampung
susun menjadi penting, karena diharapkan
menjadi model kombinasi pengembangan
hunian vertikal secara fisik dan proses
pembentukan jatidiri melalui pembentukan
ruang secara sosial.
3. Pemenuhan
kebutuhan
hunian
bagi
masyarakat, sangat dipengaruhi oleh tingkat
keterjangkauan masyarakat untuk menyewa

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

atau mimiliki rumah. Secara simulatif,


kemampuan masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan
rumahnya
membutuhkan
intervensi pemerintah melalui bantuan
/subsidi perumahan atau subsidi silang
pengembangan kawasan perumahan dan
permukiman.
4. Pembangunan
perumahan
memberikan
dampak pengganda (multiplier effect)
terhadap perekonomian kota. Dampak
tersebut dilihat dari tingginya angka
permintaan dan penawaran terhadap
perumahan,
meningkatnya
pendapatan
masyarakat dan terciptanya lapangan kerja
bagi masyarakat kota.
5. Pertumbuhan populasi penduduk kota
menunjukkan kecenderungan mengikuti
kurva eksponensial yang konsekuensinya
akan meningkatkan kebutuhan akan rumah
bagi masyarakat, dilain pihak dengan
meningkatnya kawasan terbangun melalui
pembangunan perumahan akan mengurangi
RTH. Secara simulatif melalui model
pengembangan hunian vertikal, maka
pembangunan dapat dikendalikan sesuai
dengan skenario kebijakan yang ditetapkan
oleh pemerintah kota setempat dan pada
gilirannya akan menjaga keseimbangan
antara pemenuhan kebutuhan rumah bagi
setiap keluarga (shelter for all) yang
tejangkau (affordable) di satu sisi dan
pengembangan perumahan yang berkelanjutan
(sustainable housing development) di sisi
lain.
Dalam
konteks
pembangunan
perumahan di perkotaan, pengembangan
hunian
vertikal
diharapkan
dapat
mewujudkan
kehidupan
sosial
kemasyarakatan yang harmonis dan efisien
(konsep compact city).
Memperhatikan hasil penelitian dan kebutuhan
pemenuhan kebutuhan rumah di lokus penelitian
yakni di Kota Depok, beberapa saran dapat
disampaikan sebagai pertimbangan dalam
merumuskan
kebijakan
pembangunan
perumahan di perkotaan. Saran ini akan dapat
memberikan inspirasi juga bagi kota-kota yang
memiliki karakteristik hampir sama untuk

Model Pengembangan Hunian (Tito Murbaintoro)

melakukan kajian dan perumusan kebijakan


pembangunan perumahan di wilayahnya.
1. Arah kebijakan pembangunan perkotaan
perlu dipikirkan secara komprehensif, baik
yang bersifat konstitusi dan regulasi
maupun substantif antara lain dengan mulai
mengembangkan konsep pembangunan
kota yang kompak (compact city)
2. Penerapan ketentuan yang tegas atas
peraturan
perundang-undangan
(law
enforcement) untuk menjamin kepastian
hukum bagi para pemangku kepentingan di
bidang perumahan, baik yang berkaitan
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
maupun ketentuan teknis lainnya yang
berimplikasi pada perijinan.
3. Pengaturan kemitraan pemerintah, swasta
dan masyarakat harus dikembangkan secara
berkelanjutan agar minat investor dan
masyarakat akan hunian vertikal meningkat
secara berkelanjutan. Hal ini dibutuhkan
karena investasi di bidang perumahan
sangat membutuhkan peran berbagai pihak
terutama investasi dari sektor swasta
termasuk pengembangan konsep subsidi
silang.
4. Pengembangan hunian vertikal di suatu kota
masih membutuhkan peran dari pemerintah
(pusat, propinsi dan kota) secara sinergis
untuk dapat membantu masyarakat yang
berpenghasilan menengah bawah dan
berpenghasilan rendah dalam bentuk
bantuan /subsidi perumahan
5. Minat masyarakat untuk tinggal di hunian
vertikal masih perlu ditingkatkan seiring
dengan upaya pemenuhan kebutuhan
rumah secara vertikal melalui proses
pemberdayaaan dan peningkatan kapasitas
pengelola hunian vertikal agar lebih
profesional sehingga meningkatkan persepsi
masyarakat terhadap hunian vertikal.
6. Perlu penelitian lebih lanjut tentang :
a. ukuran indeks keterjangkauan dengan
pendekatan fraksi pendapatan dan
harga rumah, serta faktor pengeluaran
rumah tangga atas biaya transport
b. rumusan kebijakan operasional setiap
tingkatan
jajaran
birokrasi
di

85

pemerintah kota selaku regulator dan


kebijakan pengembangan kerjasama
dengan mitra kerja pemerintah kota
c. posisi
kontribusi
sektor/bidang
perumahan terhadap perekonomian
suatu kota
d. pengembangan sumber pembiayaan
perumahan di suatu kota dengan
memperhatikan potensi lokal
e. rencana rinci kawasan perumahan yang
memperhatikan optimalisasi ketersediaan
RTH sesuai dengan standar yang
disepakati dan daya dukung lingkungan
dimasing masing bagian wilayah kota

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2003. Manajemen Penelitian. Rineka
Cipta. Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2005. Kerangka Teori dan
Analisis Tabel Input Output. Badan Pusat
Statistik. Jakarta.
Butters,
C.
2003.
Sustainable
Human
Settlements Challenges for CSD, working
paper in the 12th Session of the
Commission on Sustainable Development
(CSD 12). NABU. New York.
Ditjen Penataan Ruang. 2005. Kajian Konsepsi
Ruang Terbuka Hijau. Jakarta
Djunaedi,
A.
2000.
Indikator
Indikator
Lingkungan Perkotaan : Belajar dari
Pengalaman Negara-negara Lain. Pusat
Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas
Gajah Mada. Yogyakarta.
Eriyatno. 2003. Ilmu Sistem, Meningkatkan Mutu
dan Efektivitas Manajemen. Jilid Satu. Edisi
Ketiga. IPB Press. Bogor.
Eryatno dan F. Sofyar. 2007. Riset Kebijakan,
Metode Penelitian untuk Pascasarjana. IPB
Press. Bogor. 79 hal.
Hatmoko, W. 2004. Indonesia Bisa Kelaparan :
Alih Fungsi Lahan Pertanian di Jabar
Tertinggi. Pikiran Rakyat. 30 September.
Jakarta.
HOMI Project. 2002. Laporan Studi Pasar
Perumahan
di
Indonesia,
Direktorat
Jenderal Perumahan dan Permukiman.
Jakarta.

86

Kantor Meneg Lingkungan Hidup. 2000. Agenda


21
Sektoral
Permukiman,
untuk
Pengembangan Kualitas Hidup secara
Berkelanjutan. Proyek Agenda 21 Sektoral.
Jakarta.
Kirmanto, D. 2002. Pembangunan Perumahan
dan
Permukiman
yang
Berwawasan
Lingkungan Strategis dalam Pencegahan
Banjir di Perkotaan, disampaikan dalam
Seminar Peduli Banjir FOREST Jakarta 25
Maret 2002.
Kirmanto, D. 2005. Peran Ruang Publik Dalam
Pengembangan Sektor Properti dan Kota.
Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta
Maarif, M.S. 2003. Bahan Kuliah Analisis
Kebijakan dan Kelembagaan Lingkungan,
Program Studi PSL IPB.
Maarif, M.S. dan H. Tanjung. 2003. Teknikteknik Kuantitatif untuk Manajemen. Hal.
164-168. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Jakarta.
Pemerintah Kota Depok. 2004. Identifikasi
Pemanfaatan Ruang Kota Depok. Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah. Depok.
Peraturan Daerah Kota Depok. 2001. Rencana
Tata Ruang Wilayah Kota Depok 20002010. Depok.
Peraturan Menteri Kehutanan, No. P-03/MenhutV/2004 tentang Pedoman Pembuatan
Tanaman Penghijauan Kota, Gerakan
Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan.
Peraturan Pemerintah Nomor 67 tahun 2005
tentang Kerjasama Pemerintah dengan
Badan
Usaha
dalam
Penyediaan
Infrastruktur.
Peraturan Pemerintah Nomor 80. 1999. Kawasan
Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun
yang Berdiri Sendiri. Jakarta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota.
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok. 20002010.
Santosa,
M.
2001.
Lingkungan
Tropis
Berkepadatan Tinggi : Lokalitas, Tradisi,
dan Modernitas. Pusat Penelitian Ligkungan
Hidup, Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Silas, J. 2001. Toll Road and the Development of
New Settlements, the Case of Surabaya

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Compared to Jakarta. J Humanities and


Social Sciences of Southeast Asia and
Oceania. KITLV.
Undang Undang No. 26 tahun 2007 tentang
Penataan Ruang
Undang-Undang R.I. Nomor 23 Tahun 1997
tentang Lingkungan Hidup
Undang-Undang R.I. Nomor 25 Tahun 2000
tentang Propenas
Undang-Undang R.I. Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang
Undang-Undang R.I. Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah
United Nation for Environment Programme,
2000. Agenda 21-Promoting Sustainable

Model Pengembangan Hunian (Tito Murbaintoro)

Human Settlement Development. Chapter


7.
Winarso, H. 2001. Access to Main Roads or Low
Cost Land Residential Land Developers
Behaviour in Indonesia. J Humanities and
Social Sciences of Southeast Asia and
Oceania. KITLV.
Winarso, H. dan B. Kombaitan. 2001. The Large
Scale
Residential
Land
Development
Process in Indonesia, The Case of
Jabotabek. Paper prepared for World
Planning Schools Congress. Shanghai.
www. Agroindonesia.com. Tanggal 21/12/2004
Zoeraini, D.I. 2005. Tantangan Lingkungan dan
Lansekap Hutan Kota. Bumi Akasara.
Jakarta.

87

PENINGKATAN PERAN LEMBAGA LOKAL DALAM RANGKA


PEMBANGUNAN PERMUKIMAN DI PERDESAAN
Oleh : Aris Prihandono

Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Makassar


Jl. Urip Sumohardjo No. 32 (Komplek PDAM), Panaikang Makassar
E-mail : arisprihandono@yahoo.com
Tanggal masuk naskah: 20 Oktober 2008, Tanggal disetujui: 02 Juni 2009

Abstrak

Pelibatan kelembagaan lokal tingkat desa dalam pembangunan perumahan dan permukiman sangat
relevan dengan situasi saat ini karena kapasitas dan kapabilitas lembaga-lembaga formal yang ada
sangat terbatas. Sekalipun demikian upaya tersebut harus disertai langkah seleksi yang hati-hati karena
terkait dengan internalisasi muatan baru. Hasil kajian adalah bahwa sejumlah kriteria dapat dijadikan
referensi dalam pemilihan lembaga, yakni: tingkat kemapanan, kondisi unsur-unsur kelembagaan, serta
efektivitas organisasi. Selanjutnya dilakukan penyusunan substansi dan metode pemberdayaan setelah
tipe-tipe kelembagaan dan faktor yang berpengaruh terhadap kinerja lembaga diketahui. Bentuk
pemberdayaan dapat berupa asistensi, fasilitasi, atau promosi. Sedangkan materi pemberdayaan
meliputi tiga hal, yaitu materi umum, yakni materi yang diperlukan dalam proses peningkatan wawasan
pengelola lembaga tanpa membedakan tipologi lembaga; materi inti adalah materi yang dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan peningkatan kapasitas dan sinergi lintas program; materi penunjang adalah
materi dasar yang secara normatif harus sudah dikuasai oleh calon peserta.
Kata Kunci : Tipe lembaga, seleksi, pemberdayaan

Abstract

The involvement of the local institutions for housing development in rural areas is relevant to the
current situation because of limitation of authorized housing institutions capacity and capability in
serving ordinary people. However, the involvement must be followed by strict selection due to it concern
with accommodation of new areas. The selection can refer to a number of criteria such as the level of
establishment, condition of organization components, and effectiveness of the organization. Then,
empowerment material must be formulated after the identification of the traditional types and factors
that influence the performance of the organization. The empowerment can be materialized in the three
aspects, namely assistance, facilities, and promotion. The substance of empowerment includes the
general, main course, and supportive materials. The first one is the substance needed in promoting
participants view without distinguishing the traditional institution type. The second one is the substance
required to improve the capacity of the organization and synergy of programs. The last one is the basic
material that normatively must be mastered by participants.
Keywords : Institution types, selection, empowerment

PENDAHULUAN
Pembangunan ekonomi yang memprioritaskan
pertumbuhan
sektor
jasa
dan
industri
manufaktur secara cepat ternyata membawa
dampak yang tidak diinginkan antara lain
percepatan
urbanisasi
(punctuated
urbanization). Percepatan urbanisasi ini secara

88

tidak terasa banyak menyerap sumber daya


yang
dimiliki
perdesaan
oleh
kawasan
perkotaan, baik sumber daya alam maupun
sumber daya manusia (Sunarno, 2003).
Proses urbanisasi yang tidak terkontrol berakibat
pada terdesaknya lahan pertanian khususnya
pada kawasan perdesaan yang berbatasan

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

langsung dengan kawasan perkotaan. Tingginya


angka urbanisasi menurut Survei Penduduk
Antar Sensus (SUPAS) 1998 telah mencapai
40 %, padahal pada tahun 1995 baru mencapai
37,5 %. Konversi kawasan pertanian menjadi
kawasan perkotaan merupakan konsekuensi
yang tidak dapat dihindarkan lagi, dimana
tingkat konversi ini di kawasan Pantai Utara
Jawa (Pantura) mencapai 20% per tahun.
Akibat yang cukup memprihatinkan dari kondisi
di atas adalah Indonesia harus mengimpor
produk-produk pertanian untuk memenuhi
kebutuhan dalam negerinya. Tercatat Indonesia
harus mengimpor kedelai sebanyak 1.277.685
ton pada tahun 2000 dengan nilai nominal
sebesar US$ 275 juta. Pada tahun itu juga
Indonesia ternyata juga harus mengimpor
sayur-sayuran senilai US$ 62 juta dan buahbuahan senilai US$ 65 juta.
Menurut Sunarno (2003) kondisi tersebut harus
segera diubah, paradigma pembangunan yang
memprioritaskan perkotaan sebagai satusatunya mesin pembangunan yang handal harus
direvisi. Pembangunan perdesaan harus mulai
didorong guna mendukung pertumbuhan
ekonomi
yang
seimbang,
sekaligus
mengeliminasi dampak urban bias yang telah
terjadi selama ini.
Jumlah desa yang secara administratif mencapai
61.690 buah pada REPELITA VI saat ini sudah
waktunya untuk diberikan perhatian yang
proporsional. Secara konseptual sebenarnya
sudah cukup banyak teori yang dikembangkan
untuk tujuan pembangunan perdesaan, antara
lain: Program Pengembangan Wilayah Terpadu
(PPWT); Program Pengembangan Kawasan
Sentra Produksi/ Kawasan Andalan (PPKSP/KA);
Program Pengembangan Kawasan Tertinggal
(PPKT);
Program
Pengelolaan
Kawasan
Pengembangan Ekonomi Terpadu (PPKAPET);
Program Pengembangan Ekonomi Masyarakat di
Daerah (PPEMD), serta Poverty Alleviation
through Rural Urban Linkage (PARUL); Desa
Pusat Pertumbuhan (DPP); serta Pembangunan
Agropolitan.

Peningkatan Peran Lembaga (Aris Prihandono)

Secara keseluruhan program-program di atas


lebih
berorientasi
pada
peningkatan
pertumbuhan ekonomi regional, khususnya pada
kawasan perdesaan. Dari aspek ke PU-an,
Departemen Pekerjaan Umum telah mendukung
program tersebut melalui penyediaan prasarana
dasar, antara lain pembangunan prasarana
jalan, irigasi, serta air bersih. Namun dari aspek
perumahan secara spesifik nampaknya belum
diprogramkan.
Pada pihak lain, jika suatu kawasan meningkat
pertumbuhan ekonominya, maka secara alamiah
permintaan akan rumah juga meningkat.
Permintaan tersebut tentu bervariasi dari
wilayah satu ke wilayah yang lain, baik jumlah
permintaan, dimensi, bahan baku, disain,
maupun harga rumahnya. Hingga saat ini
masyarakat
memenuhi
sendiri
keperluan
tersebut dan tidak ditemukan terjadinya konflik
yang berarti karena lahan, dan kebutuhan lain
cukup tersedia. Dengan semakin berkembangnya
jumlah penduduk dan semakin terbatasnya
sumber-sumber yang diperlukan maka suatu
saat pasti akan terjadi konflik. Namun sampai
sejauh ini kemampuan lembaga perumahan
formal dalam mengendalikan perumahan di
perdesaan sangat minim. Jika demikian, maka
pertanyaan penelitian yang muncul adalah :
lembaga apa yang dapat mengatur perumahan
dan permukiman di kawasan perdesaan selain
lembaga formal tersebut ?

PERUMUSAN MASALAH
Penerapan berbagai program pembangunan di
kawasan
perdesaan
diharapkan
dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya
secara keseluruhan. Kesejahteraan ini pada
gilirannya akan berimbas pada peningkatan
kebutuhan rumah pada
kawasan yang
bersangkutan.
Dari
aspek
kelembagaan,
lembaga
perumahan
daerah
khususnya
pemerintah daerah mempunyai kemampuan
yang tidak memadai untuk menyediakan
perumahan maupun mengendalikannya. Bahkan
menurut hasil penelitian Pusat Litbang
Permukiman (2004) masih ada lembaga
perumahan
yang
tidak
mempunyai

89

bagian/bidang yang menangani


perumahan, khususnya untuk
berpenghasilan rendah.

penyediaan
masyarakat

Secara umum pelaksanaan program-program


pembangunan ekonomi di perdesaan selalu
memanfaatkan pengaruh yang kuat dari tokohtokoh masyarakat atau lembaga lokal yang
sudah diakui keberadaannya oleh masyarakat
setempat. Jika dikaitkan dengan issu kebutuhan
rumah sebagaimana di bahas pada alinea di
atas, maka masalah yang dihadapai adalah
bahwa lembaga-lembaga lokal yang ada masih
berkiprah pada domain ekonomi dan sosial, dan
bukan
berkiprah
pada
penyelenggaraan
perumahan di wilayah perdesaan. Sehingga
muncul pertanyaan penelitian sebagai berikut :
Seberapa
besar
keberadaan
lembaga
perumahan
mampu
mengantisipasi
permintaan ?
Seberapa
besar
potensi
dan
resiko
pemanfaatan lembaga ?

TUJUAN PENELITIAN
Mengetahui karakteristik lembaga-lembaga
lokal dan nilai-nilai budaya yang mendukung
pengendalian pembangunan perumahan di
kawasan perdesaan

Mendapatkan rumusan konsep pemberdayaan


lembaga
lokal
di
perdesaan
dalam
pengendalian pembangunan perumahan dan
permukiman di wilayahnya.

TINJAUAN PUSTAKA
Dalam pandangan ahli komunikasi, Rogers dan
Shoemaker (1981), proses pemberdayaan
masyarakat dikenal sebagai difusi inovasi yang
menurutnya terdiri dari 4 (empat) tahap, yaitu:
Pengenalan, dimana seseorang mengetahui
adanya inovasi dan memperoleh beberapa
pengertian tentang bagaimana inovasi itu
berfungsi;
Persuasi dimana seseorang membentuk sikap
berkenan atau tidak berkenan terhadap
inovasi;
Keputusan, dimana seseorang terlibat dalam
kegiatan yang membawanya pada pemilihan
untuk menerima atau menolak inovasi;
Konfirmasi, dimana seseorang mencari
penguat bagi keputusan inovasi yang telah
dibuatnya. Pada tahap ini mungkin terjadi
seseorang merubah keputusannya jika ia
memperoleh informasi yang bertentangan.
Secara diagramatis tahap-tahap tersebut
dapat digambarkan sebagai berikut.
Terus mengadopsi
Adopsi
Diskontinuansi

Sumber Komunikasi
Variabel Penerima:
1. Sifat-sifat pribadi
2. Sifat sosial
3. Kebutuhan inovasi
4. dan lain-lain
Sistem Sosial:
1. Norma/nilai budaya
2. Toleransi
3. Kesatuan komunikasi

Pengenalan
I

Persuasi
II

Keputusan
III

Konfirmasi
IV

Mengadopsi terlambat
Menolak
Ciri-ciri Inovasi dlm
pengamatan
penerima
1. Keuntungan
2. Kompatibilitas
3. Kompleksitas
4. Trialabilitas
5. Observabilitas

Tetap menolak

Diagram 1. Proses Keputusan Inovasi (Rogers dan Shoemaker: 1981)

90

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Pemberdayaan yang ideal sebenarnya akan


terjadi seperti proses difusi tersebut. Namun
pada masyarakat yang miskin khususnya akses
terhadap inovasi maupun sumber-sumber untuk
mengadopsi inovasi sangat terbatas. Oleh
karena itu difusi inovasi harus diiringi oleh
langkah lain yakni pemberdayaan individu dari
tahap yang paling esensial, seperti penyadaran
akan kebutuhan hidupnya, menghimpun diri
agar mempunyai kekuatan moral dan hukum,
menggali sumberdaya modal internal dan
eksternal yang ada, dan sebagainya. Proses
pendampingan dalam pemberdayaan ini menjadi
icon
yang
sangat
penting,
karena
pembelajaran untuk mengadopsi inovasi secara
kolektif maupun individu akan lebih mudah
diterima dengan cara pendampingan ini.

Lingkup
substansi dan
prioritas
pembangunan

Identifikasi
struktur
masalah perkim
perdesaan

Identifikasi
karakteristik
fisik perdesaan

Indikasi
program fisik
perumahan

Pola
pengembangan
kelembagaan

Indikasi pola
pengembangan
lembaga dengan
lingkup perumahan
permukiman

Pola
pengembangan
program
pembiayaan /
mobilisasi modal
/efisiensi

Identifikasi
modal sumber
daya

Identifikasi
lembaga
pembangunan
di perdesaan
dan nilai
budaya yang
dianut

Dalam konteks diskusi ini, maka yang dianggap


sebagai penerima inovasi (adopter) adalah
lembaga lokal yang dapat berupa lembaga
formal di tingkat desa/kelurahan atau lembaga
adat yang sudah mendapatkan legitimasi
masyarakat, sehingga pengaruhnya terhadap
kehidupan bersama dalam masyarakat yang
bersangkutan tidak diragukan lagi. Secara lebih
spesifik, lembaga termaksud terlibat di dalam
kegiatan
program-program
pembangunan
perdesaan, baik yang bersifat ekonomis, sosial,
maupun keagamaan. Dengan demikian maka
akan lebih mudah jika lembaga yang menjadi
sasaran penelitian ini adalah lembaga yang
terlibat dalam program yang dikategorikan
berhasil.

Konsep
pengembangan
pembiayaan

Reorientasi
kegiatan
lembaga

Gambar 2. Model Alur Penyusunan Konsep Pemberdayaan Lembaga Perumahan di Perdesaan

Peningkatan Peran Lembaga (Aris Prihandono)

91

Tahap-tahap adopsi inovasi sebagaimana telah


diuraikan di atas akan lebih efektif jika diiringi
dengan tindakan pemberdayaan lembaga,
karenanya
perlu
dirumuskan
pedoman
pemberdayaan yang mengacu pada akar
permasalahan serta kondisi sosial-ekonomi yang
melingkupi lembaga atau individu yang
menerima
inovasi.
Perumusan
konsep
pemberdayaan berangkat dari titik yang sama
yakni keberadaan lembaga-lembaga yang akan
menerima inovasi bersama dengan kondisi
ekonomi dan sistem sosial yang menopang
berdirinya lembaga-lembaga penerima inovasi.
Dalam konteks ini inovasi dari luar yang
dianggap perlu didifusikan adalah kebijakan,
peraturan-peraturan, NSPM yang berlaku saat
ini di bidang perumahan dan permukiman,
termasuk teknologi RISHA yang dihasilkan Pusat
Litbang Permukiman baru-baru ini. Tentu saja
sebelum diputuskan menjadi inovasi utama
dalam difusi, maka substansi inovasi tersebut
perlu dikaji ciri-ciri inovasinya, yaitu: apakah
menguntungkan bagi adopter, sepadan dengan
sistem yang ada, tidak terlalu rumit, bisa diujicobakan, serta dapat diamati prosesnya.

METODE PENELITIAN
Secara umum penelitian ini akan menerapkan
metode Non probability sampling, yaitu
penelitian yang tidak didasarkan pada teori
kemungkinan (probability sampling). Alasan
penerapan metode ini adalah bahwa populasi
penelitian yaitu jumlah desa/kecamatan yang
telah
menerapkan
konsep
pembangunan
perdesaan
sebagaimana
diuraikan dalam
pendahuluan relatif kecil dibandingkan dengan
jumlah desa di Indonesia secara keseluruhan,
serta cukup terbatas informasi yang tersedia
tentang kondisi sampel. Dua metode sampling
digunakan untuk menentukan lokasi studi, yaitu
expert sampling dan snowball sampling.
Ekspert sampling dilakukan dalam rangka
menelusuri dan menelaah konsep-konsep
pembangunan pedesaan serta lokasi aplikasi
konsep tersebut. Sedangkan snowball sampling
dilakukan dalam rangka menentukan lokasi lain

92

serta sumber-sumber data lain yang dianggap


relevan untuk dikaji.
Berkaitan dengan sampel lokasi di atas, untuk
tujuan penelitian ini diambil sampel lokasi yang
mewakili daerah yang pernah menerapkan
konsep-konsep pembangunan perdesaan yakni:
pengembangan ekonomi melalui peran pondok
pesantren; pengembangan ekonomi berbasis
kekerabatan; pengembangan ekonomi berbasis
unit
koperasi
pemerintah
dan
adat;
pengembangan
perumahan
berdasarkan
proyek/program pemerintah; pengembangan
ekonomi
berbasis
koperasi
masyarakat,
pengembangan ekonomi kemitraan masyarakatperusahaan swasta nasional. Daerah tersebut
tersebar di berbagai propinsi di Indonesia,
antara lain:

Jawa Barat
Jawa Timur
Nusa Tenggara Timur
Riau
Sumatera Utara

:
:
:
:
:

2
1
1
1
2

desa
desa
desa
desa
desa

Metode pengumpulan data dalam pendekatan


kualitatif menurut Maxwell 1996 (dalam
Soehartono, DR. Irawan. 2002) banyak
menggunakan apa yang disebut metode
trianggulasi, yakni pengumpulan data yang
berasal dari berbagai sumber dan menggunakan
berbagai metode, seperti wawancara, observasi
dan dokumentasi. Hal ini dimaksudkan untuk
saling mengeliminasi kelemahan-kelemahan
yang
terdapat
dalam
setiap
metode
pengumpulan data.
Merinci lebih lanjut metode pengambilan data
di atas, maka pengumpulan data pada studi ini
akan menerapkan beberapa metode yang lazim
digunakan pada riset sosial, yakni (Arikunto,
1998: 92-93).
a. Analisis dokumen (dokumentasi), atau disebut
juga content analysis yakni analisis yang
menekankan pada pemahaman isi dokumen,
peraturan-peraturan, hukum, dan keputusan.
Pada umumnya teknik ini dibantu dengan
pedomen dokumentasi dan check list.
b. Wawancara bebas terpimpin, yakni wawancara
dengan
pejabat,
ahli,
dan
pemuka

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

c.

d.

masyarakat/adat yang berkompeten dengan


topik studi, menggunakan panduan daftar
pertanyaan
terbuka.
Peneliti
dapat
mengembangkan topik-topik pertanyaan sesuai
dengan kondisi lapangan.
Observasi sistematis, yaitu pengamatan
suatu kejadian/obyek dengan menggunakan
pedomen sebagai instrumen pengamatan.
Pedomen observasi berisi sebuah daftar
obyek atau kejadian yang akan diamati.
Lebih jauh daftar tersebut dapat berupa
check list suatu obyek dimana pengamat
tinggal memberi tanda pada obyek yang
muncul, atau dapat pula peneliti menulis
kejadian secara cermat pada kolom/ space
yang sudah disediakan.
Panel (focuss group discussion), yaitu
diskusi terpandu yang melibatkan individu
yang mempunyai otoritas atas informasi
yang diperlukan dalam studi ini. Dalam
bahasa lain cara ini disebut juga
sarasehan,
yang
pada
prinsipnya
melakukan diskusi dengan gaya yang tidak
terlalu formal (misalnya bentuk forum
duduk bersama melingkar/ lesehan) namun
mempunyai arah dan sasaran yang jelas
(Maxwell, 1996). Secara teknis metode
analisa dapat dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu
memo,
kategorisasi,
dan
kontektualisasi. Memo merupakan catatancatatan kecil diluar masalah data, namun
dapat membantu proses berpikir secara
analitis, seperti catatan tentang metode,
teori, konsep, yang sekiranya terkait
dengan data.

Kategorisasi dalam kajian ini sebenarnya adalah


pemberian kode (coding), namun berbeda
tujuannya dengan penelitian kuantitatif, yaitu
memisahkan atau memecah (fracture) data dan
mengaturnya data ke dalam kategori-kategori
tertentu yang memudahkan perbandingan di
dalam atau antar kategori, dan bertujuan untuk
mengembangkan konsep teoritis. Bentuk lain
dari kategorisasi adalah pemilahan data
(sorting) berdasarkan tema atau isue-isue
tertentu. Hal yang penting dalam kategorisasi ini
adalah bahwa data harus dijaga original

Peningkatan Peran Lembaga (Aris Prihandono)

contextnya, dengan mengkaitkan memo dan


kategori lainnya.
Kontektualisasi merupakan upaya memahami
atau mencari makna data pada konteksnya,
menggunakan berbagai metode identifikasi
hubungan antar elemen teks (data) yang
berbeda. Beberapa contoh metode identifikasi
tersebut antara lain: beberapa tipe studi kasus;
analisa diskursus (wacana); analisa narasi;
analisa mikro etnografi. Kondisi umum dari
keseluruhan analisa di atas antara lain bahwa
metode-metode
tersebut
tidak
hanya
memfokuskan pada relasi kesamaan data yang
dapat mengelompokkan data ke dalam kategorikategori tertentu, tetapi juga hubungan antar
pernyataan
(statement)
dalam
konteks
keseluruhan. Tampilan data hasil pengumpulan
data dapat berupa matrik, tabel, dan jaringan
kerja (network).

HASIL SURVEI DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan kajian lapangan, baik menyangkut
berbagai program yang sudah dan sedang
dikembangkan di beberapa wilayah perdesaan,
serta pengamatan implementasi programprogram tersebut di lokasi-lokasi kajian,
terdapat beberapa hal pokok yang terkait
dengan substansi penelitian ini, antara lain
menyangkut fenomena umum perumahan dan
permukiman di wilayah perdesaan, bagaimana
program-program dijalankan, dan bagaimana
kelembagaan lokal yang berperan dalam
implementasi tersebut (Lihat lampiran).
Atas dasar pokok-pokok pembahasan tersebut,
maka hasil kajian lapangan studi ini dapat
dikelompokkan menjadi beberapa tipe sebagai
berikut :
Kelompok Kelembagaan Berbasis Ekonomi
Mewakili kelompok ini adalah Kelompok
Swadaya Masyarakat (KSM) Koperasi Tani
Margaluyu yang berada di Dusun Sukahurip,
Desa Batulawang Kecamatan Pataruman
Kota Administratif Banjar Kabupaten Ciamis.
Awal berdirinya Koperasi tersebut adalah
adanya kebutuhan dan permasalahan yang

93

sama, yang secara kebetulan terjadi pada


satu area geografis yang sama.

memadai penjalankan program-program


yang sifatnya swadaya dan lestari. Entry
point
inovasi
dapat
melalui
proses
pendampingan itu sendiri jika sedang
berlangsung kegiatan pemberdayaan, atau
melalui KSM yang sudah mapan jika
memang KSM sudah ada.

Kelompok
yang
sudah
established
demikian (didirikan sejak tahun 1972)
mempunyai pengaruh dan kredibilitas yang
sangat tinggi ditengah kerabat-kerabatnya,
oleh karena itu menyisipkan pesan-pesan
kebijakan perumahan permukiman dengan
cara yang mudah dipahami oleh kelompok
ini akan sangat efektif mencapai sasaran.

Melalui uji coba pemberdayaan kelembagaan


yang diwakili oleh lokasi Pondok Pesantren
Al-Itifaq, Kecamatan Rancabali menunjukkan
bahwa hubungan sosial yang berkembang di
masyarakat telah mampu mendudukkan
posisi pondok pesantren ini menjadi motor
bagi lingkungan masyarakat yang ada di
sekitarnya. Lebih lanjut, meskipun masih
dalam proses pengembangan, lembaga ini
akan juga berperan dalam mengembangkan
program-program penyelenggaraan perumahan
dan permukiman.

Karena sistem organisasi dan sistem suksesi


yang sudah mapan, maka mempelajari
sistem yang ada dan segenap prestasi yang
telah diraih merupakan pencarian entry point
yang perlu diperhatikan secara hati-hati.
Walaupun data lapangan maupun hasil
lokakarya antar-pelaku menunjukkan bahwa
fenomena yang ada belum mengarah
sepenuhnya
pada
penyelenggaraan
perumahan dan permukiman, namun melalui
fasilitas-fasilitas
yang
ada
seperti
dibentuknya banyak koperasi, bantuan
fasilitas pada masyarakat, maka sebenarnya
kebijakan koperasi yang telah dibentuk dan
kebijakan kesejahteraan koperasi dapat
diarahkan menuju kepentingan pembangunan
perumahan permukiman.

Kelompok Kelembagaan Berbasis Sosial


Kelompok ini saat sekarang menjadi tipe
yang paling dominan karena angin otonomi
dan
sustainable
development
yang
berkembang di negara-negara sedang
berkembang di seluruh belahan dunia.
Mewakili kelompok ini adalah pembangunan
rumah swadaya di Desa Karangsong,
Indramayu; pelaksanaan KIP progresif di
Surabaya; dan masih banyak lagi kegiatan
lain terutama program yang berkaitan
dengan Gerakan Nasional Pembangunan
Satu Juta Rumah (GNSP).
Karakteristik dari Kelompok ini adalah
adanya
kelompok
pendamping
yang
memberdayakan atau bahkan membentuk
satu KSM di tengah-tengah masyarakat,
hingga mempunyai kemampuan yang

94

Kelompok Kelembagaan Berbasis Birokrasi


Dalam studi lapangan tipe organisasi seperti
ini ditemukan di daerah Sumatera Utara,
yakni
pilot
project
Pemberdayaan
Masyarakat
bidang
perumahan
dan
permukiman melalui program Desa Binaan,
dengan lokasi terpilih Desa Hinai Kanan,
Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat,
Propinsi Sumatra Utara dan pilot project
Desa Pagar Batu sebagai Desa Binaan oleh
pemda setempat dengan menjalankan
program pembangunan berbagai sektor
secara
terpadu
melalui
pendekatan
pemberdayaan masyarakat.
Kedua pilot project tersebut dapat dikatakan
merupakan pendekatan konvensional yang
telah dilakukan di berbagai tempat,
khususnya di Jawa pada dasa warsa 80-an.
Karakterisitik
programnya
adalah
menggunakanan jalur birokrasi yang ada
untuk pelaksanaan program seperti dinas
terkait, aparat kecamatan dan kelurahan,
yang dananya sudah dialokasikan dari pusat.
Entry point inovasi kebijakan maupun
peraturan-peraturan
dapat
melewati
birokrasi. Titik kritisnya adalah apakah
birokrasi yang ada mampu membina

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

masyarakat secara kontinyu sampai tingkat


akar rumput. Kopulasi lembaga tradisional
dengan birokrasi pemerintah dapat terjadi
pada kasus ini. Fenomena tersebut diwakili
oleh menyatunya lembaga adat dan lembaga
pemerintahan seperti yang terjadi di Nusa
Tenggara Timur. Melalui kredibilitas kepala
adat yang sekaligus menjadi camat, maka
program pembangunan ekonomi dapat
berjalan, termasuk penggerakan koperasi
desa.

Kelompok Kelembagaan Berbasis Nilai Lokal


Dalam kasus lain, Desa Selaawi di Kabupaten
Garut
mampu
survive
membangun
daerahnya dengan modal pengembangan
nilai lokal gotong-royong secara spontan
yang sampai saat ini masih terpelihara
dengan baik.
Pada
pengembangan
dan
penguatan
kelembagaan lokal yang ada sebaiknya
memang tetap mengakomodasi nilai-nilai
lokal yang masih berkembang ini, sehingga
langkah
penting
dalam
menyusun
kelembagaan lokal ini adalah bagaimna
mensinergikan
kepentingan
untuk
mempertahankan nilai-nilai lokal yang ada
dengan kepentingan kelembagaan formal
yang ada (pemerintah daerah). Keberadaan
lembaga lokal dengan segala nilai yang
mendasari
kinerjanya
tetap
harus
dipertahankan dan aktualisasikan dengan
permasalahan yang ada saat ini. Jika
masalah permukiman dapat dikedepankan
sebagai salah satu masalah utama, maka
intersepsi muatan baru lembaga tradisional
berupa perbaikan aspek permukiman dapat
dijalankan, sebagaimana terjadi pada kasus
di Garut.

Kelompok Kelembagaan Berbasis Kesehatan


Kelompok Pos Pelayanan Kesehatan Terpadu
(Posyandu) yang berkembang secara baik di
Lumajang merupakan fenomena yang
mewakili kelompok ini. Karakteristik dari
kelompok ini adalah bahwa KSM sudah
sangat mapan dan mempunyai kredibilitas
yang tinggi di tengah masyarakat. Namun

Peningkatan Peran Lembaga (Aris Prihandono)

demikian, dari aspek pendanaan sangat


tergantung pada pemerintah.
Hingga saat ini, aspek perumahan yang
ditangani KSM ini adalah aspek sanitasi dan
air bersih, dan penyuluhan aspek kesehatan
lingkungan. Dengan model pendekatan
Gerbang Mas, maka peranan KSM ini dapat
ditingkatkan lebih jauh untuk tujuan
pembangunan perumahan.
Salah satu program yang dikembangkan
melalui fungsi dan peran lembaga kesehatan
adalah kasus di Posyandu Kelurahan Ledeng,
dimana keberadaan lembaga ini mampu
untuk mendorong masyarakat sekitarnya
untuk
menyelenggarakan
lingkungan
permukiman dengan baik. Dengan demikian,
pengembangan kelembagaan yang sekiranya
dapat
mengakomodasi
kepentingan
perumahan dan permukiman dapat bermula
dari keberadaan lembaga kesehatan ini,
yang selanjutnya perlu disinergikan dengan
kepentingan
kelembagaan
pemerintah
daerah setempat.
Atas dasar pembahasan di atas, maka
disimpulkan bahwa diperlukan pemberdayaan
kelembagaan untuk menambahkan muatanmuatan bari di bidang perumahan dan
permukiman.
Substansi
pemberdayaan
termaksud disusun dalam bentuk konsep modul
sebagai berikut :
Tujuan
Menyiapkan tenaga penanggung jawab,
pelaksana,
fasilitator
dan
pendamping
peningkatan
kapasitas
kelembagaan
perumahan dan permukiman di tingkat desa,
sesuai dengan kebutuhan daerah.
Diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini
peserta mampu menyusun rencana tindak di
tingkat
kabupaten/kota
karena
telah
mengetahui tahapan kegiatan, kemampuan
dan pola pembagian tanggung jawab diantara
pelaku ditingkat kota/kabupaten untuk
menyelenggarakan
kegiatan
peningkatan
kapasitas
kelembagaan
ditingkat
desa/kelurahan apabila diperlukan.

95

Kelompok Sasaran
Peserta kegiatan ini adalah tenaga teknis dari
lingkungan pemerintah daerah, profesional,
pendamping masyarakat, akademisi dan
praktisi bidang perumahan dan permukiman
di tingkat kota/kabupaten, yang karena tugas
atau profesinya bertanggung jawab terhadap
kinerja layanan bidang perumahan dan
permukiman.
Kerangka Umum Pelatihan
Kegiatan pelatihan untuk pelatih akan
membahas tiga kelompok materi yaitu materi
umum, materi inti dan materi penunjang.
Materi Umum
Materi umum adalah materi yang diperlukan
dalam
proses
peningkatan
kapasitas
kelembagaan perumahan dan permukiman
tanpa membedakan tIpologi pemberdayaan
yang akan dipakai. Termasuk dalam katagori
materi umum adalah pemahaman tentang
kemasyarakatan, kelembagaan, perumahan
dan Permukiman serta penyiapan program.
Dengan bekal ini diharapkan pelatih akan
mengetahui tata cara dan proses untuk :
1. Mengenali, membangun jejaring dan
kelompok masyarakat
2. Identifikasi
kondisi
kelembagaan
perumahan dan permukiman di tingkat
Desa secara mandiri
3. Pembangunan perumahan dan permukiman
di tingkat desa
4. Sinergi
perencanaan dan kerjasama
lintas program

Materi Inti
Materi inti adalah materi yang dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan peningkatan sinergi
lintas program sesuai dengan tipologi
pemberdayaan kelembagaan perumahan dan
permukiman ditingkat desa. Oleh karenanya
ada empat jenis materi inti yang diberikan
yaitu
1. Materi
peningkatan
kelembagaan
berbasis pembinaan / pemberdayaan
ekonomi
2. Materi
peningkatan
kelembagaan
berbasis pembinaan / pemberdayaan
sosial
3. Materi
peningkatan
kelembagaan
berbasis pembinaan / pemberdayaan nilai
lokal / kekerabatan
4. Materi
peningkatan
kelembagaan
berbasis pembinaan / pemberdayaan
kesehatan
Materi Penunjang
Materi penunjang adalah materi dasar yang
secara normatif harus sudah dikuasai oleh
calon peserta dari dinas/ instansi teknis
tingkat kabupaten/kota, akan tetapi dirancang
menjadi bagian pelatihan sebagai materi
pelengkap
yang
disampaikan
untuk
penyegaran.
1. Perencanaan kegiatan pembangunan fisik
2. Perencanaan keuangan masyarakat
3. Perencanaan peningkatan kapasitas sosial
4. Monitoring, evaluasi dan pengendalian
kegiatan

Tahapan, Metode Pelatihan, dan Alat Bantu


Tahapan
Metoda
Alat Bantu
Global
Kuesioner
Form kuesioner
Persiapan
Kesepakatan & penugasan
Form kesepakatan dan penugasan dari kepala daerah
Profil daerah, kasus kegiatan pembangunan perumahan
Diskusi dan curah
Umum
dan permukiman, hasil olahan kuesioner
pendapat
Kerangka diskusi kelompok dalam bentuk power point
Diskusi interaktif +
Inti
Makalah, referensi, profil lapangan, games.
kunjungan lapangan
Diskusi kelompok,
Penunjang presentasi dan
pembahasan

96

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Peserta
Untuk menjamin efektivitas pelaksanaan maka
kegiatan pelatihan dibatasi pada kelas kecil
dengan jumlah peserta tidak lebih dari 25
orang dengan proporsi asal peserta yang
seimbang serta mewakili empat tipologi
kelembagaan yang ada.
Peserta adalah :
1. Berasal dari daerah yang diwakilinya
2. Bertugas secara langsung menangani
bidang perumahan dan permukiman baik
pada lingkup perencanaan, pemrograman,
pelaksanaan
pembangunan,
dan
pengawasan.

Rancangan Kegiatan
Kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari
proses
penyiapan
tenaga
/
institusi
pendamping bagi penggabungan kegiatan
pengelolaan perumahan dan permukiman
ditingkat desa kepada kegiatan yang ada dan
lembaga
ditingkat
desa yang dianggap
mempunyai potensi yang cukup. Dengan
demikian kegiatan akan berisi pengenalan
permasalahan permukiman dan peningkatan
kapasitas serta efektivitas kelembagaan.
Secara rinci kegiatan yang akan dilakukan
meliputi :

Tahapan

Modul

Substansi

1. Umum

Kesepakatan kegiatan
dan pengenalan peserta

Sesi ini dirancang sebagai pembuka dan dasar untuk


terbangunnya
jejaring
pendamping
dan
sekaligus
memberikan bekal kemampuan kepada peserta untuk
melaksanakan:

Proses untuk membangun jejaring dan kelompok


masyarakat

Identifikasi kondisi kelembagaan perumahan dan


permukiman di tingkat desa secara mandiri

Dasar pembangunan
perumahan dan
permukiman

Sesi ini dimaksudkan untuk memberikan dasar teknis sistem


perumahan dan permukiman pada tingkat desa; mencakup
aspek lahan dan tata ruang, sosial dan kelembagaan,
ekonomi dan pembiayaan, serta teknis teknologis dan
pengembangan bahan bangunan lokal. Diharapkan peserta
dapat menambah wawasan/ dan pemahaman tentang:

Pembangunan perumahan dan permukiman di tingkat


desa

Sinergi perencanaan dan kerjasama lintas program

Karakteristik tipologi
desa + kunjungan ke
salah satu desa

Sesi ini merupakan inti dari pelatihan, yang menjelaskan


temuan penelitian dan analisa lapangan, sebagai dasar kerja
pendamping di lapangan kelak.

Pemahaman struktur
dan proses pendukung
berdasarkan masing
masing tipologi

Sesi ini merupakan pendalaman dari sesi sebelumnya yang


berisi tentang karakteristik perumahan dan permukiman
perdesaan serta keterkaitannya dengan sektor/ kondisi yang
akan di padukan.

2. Inti

Peningkatan Peran Lembaga (Aris Prihandono)

97

Lanjutan
Tahapan

3. Aplikasi

Modul

Substansi

Analisa kesesuaian dan


identifikasi peluang
sinergi

Sebagai penutup dari bagian inti, sesi ini disampaikan


dengan harapan peserta mampu mendampingi pemangku
kepentingan tingkat desa untuk menyelenggarakan
pembangunan perumahan dan permukiman melalui proses
sinergi dengan modal yang dimilikinya.

Penyusunan strategi

Sesi ini merupakan penunjang aplikasi berupa teknis, proses


dan tahapan sehingga peserta mampu mendampingi
pemangku
kepentingan
lokal
menyusun
strategi
pembangunan perumahan dan permukimannya
Sesi ini merupakan penunjang aplikasi berupa teknis, proses
dan tahapan sehingga peserta mampu mendampingi
pemangku kepentingan lokal menyusun rencana tindak
peningkatan kualitas perumahan dan permukimannya
sebagai program terpadu dengan sektor/ kegiatan/ modal
yang menjadi unggulannya.
Sesi ini merupakan penunjang aplikasi berupa teknis, proses
dan tahapan sehingga peserta mampu mendampingi
pemangku
kepentingan
lokal
menyusun
proses
penyepakatan diantara pemangku kepentingan lokal sesuai
dengan kondisi dan kemampuannya.

Penyusunan rencana
tindak

Penyepakatan
kerjasama

KESIMPULAN
Berbagai tipe kelembagaan sebenarnya telah
eksis diperdesaan, antara lain kelompok
kelembagaan berbasis ekonomi, berbasis sosial,
berbasis birokrasi, berbasis nilai lokal, serta
berbasis kesehatan. Beberapa lembaga telah
dari awal berkecimpung dalam masalah
perumahan, namun pada umumnya mempunyai
bidang kegiatan sosial, ekonomi, dan kesehatan.
Usaha mengkaitkan penanganan masalah
perumahan terhadap lembaga yang mempunyai
bidang kegiatan non perumahan memang belum
pernah dilakukan di lokasi studi, namun upaya
ke arah tersebut sebenarnya akan sangat
bermanfaat
mengingat
hingga
saat
ini
pelayanan masalah perumahan oleh lembaga
formal masih terbatas di kawasan perkotaan.
Berdasarkan
hasil
penelaahan
studi,
penambahan muatan pelayanan masalah
perumahan
terhadap
lembaga-lembaga
perdesaan
yang
sudah
mapan
sangat
dimungkinkan. Namun perlu pemberdayaan

98

terhadap
manajemen
personilnya.

dan

kemampuan

Penyiapan modul pemberdayaan harus mengacu


kepada tipologi kelembagaan di atas dan
kebutuhan yang diperlukan, karena orientasi
kegiatan dan nilai-nilai yang menjadi landasan
kerja tiap tipe lembaga berbeda. Substansi
modul meliputi substansi umum, inti, dan
aplikasi.
Substansi
umum
membahas
kesepakatan-kesepakatan, introduksi dan dasardasar pembangunan perumahan. Substansi inti
berisikan karakteristik/ tipologi desa dan
kunjungan ke salah satu desa, pemahaman
struktur dan proses pendukung berdasarkan
masing masing tipe, analisa kesesuaian dan
identifikasi peluang sinergi. Substansi aplikasi
terdiri atas penyusunan strategi, penyusunan
rencana tindak, penyepakatan kerjasama.
Konsep pemberdayaan di atas masih harus
dijabarkan lagi dalam bentuk modul dengan
metode penyusunan yang tepat disertai
pengkayaan materi sesuai dengan keperluan.

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Akhirnya, agar substansi modul relevan dan


aktual dengan permasalahan yang dihadapi,
maka modul perlu di ujicobakan dengan
melibatkan pelaku-pelaku yang berkompeten.
Jadi lembaga-lembaga lokal yang ada di
perdesaan sebenarnya bisa menjadi agen
pembangunan perumahan diperdesaan jika
dilakukan seleksi dengan ketat kemapanannya,
serta dilakukan pemberdayaan dengan mengacu
pada modul-modul pemberdayaan yang telah
disusun, mengadaptasikan modul dan metode
pemberdayaan dengan tipe lembaga yang ada,
serta melibatkan pihak-pihak yang berkompeten
secara kontinyu dan serius.
Konsistensi dan keseriusan pemberdayaan
lembaga inilah yang menjadi tulang punggung
penepisan resiko kegagalan peningkatan peran
lembaga
perdesaan
dalam
mengurusi
pembangunan perumahan.

Peningkatan Peran Lembaga (Aris Prihandono)

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Monografi Desa Putrajawa, Kecamatan Selaawi,
Kabupaten Garut.
Pusat Litbang Permukiman. 2005. Pembangunan
Model Permukiman Perdesaan Melalui Peran
Kelembagaan dan Potensi Budaya Setempat
(Laporan Penelitian). Bandung.
Pusat Litbang Permukiman. 2004. Pengkajian Sistem
Pembiayaan dan Pengelolaan Perumahan
(Laporan Penelitian). Bandung.
Riyadi, Dedi M. Masykur. Et.al. 2000. Prosiding
Diseminasi dan Diskusi: Program-program
Pengembangan Wilayah dan Ekonomi
Masyarakat di Daerah. Jakarta: Bappenas
Soehartono, DR. Irawan. 2002. Metode Penelitian
Sosial. Bandung: Penerbit PT Remaja
Rosdakarya
Kumpulan Artikel Pembangunan Ekonomi Lokal

99

LAMPIRAN

Tabel 1.
Identifikasi Kondisi Perumahan Permukiman Desa
Lingkungan/ Fisik

Individu/KK/rumah

Kelompok/Lingkungan

No
1

100

Ekonomi/ Usaha

kualitas rumah substandar ( 40


% semi-permanen)
sebagian desa memiliki potensi
bahan bangunan lokal yang bisa
diterapkan
nilai rumah sebagai aset di
perdesaan lebih kecil dibanding di
perkotaan
status legal rumah informal (adat,
girik, tanpa IMB)

jaringan prasarana sarana


terbatas
sarana/ sumber air tidak terkelola
sarana infrastruktur banyak yang
kurang sesuai dengan pola/
struktur perdesaan
kegiatan hunian belum
memperhatikan persyaratan
lingkungan (limbah, ternak,
pupuk)
batas kavling individual lebih
fleksibel dan masih bisa
dimanfaatkan untuk sarana/
prasarana lingkungan/ bersama

Sosial/ Kemasyarakatan

basis agro informal,


margin kecil, potensi
usaha kecil untuk
meningkatkan
pendapatan rumah
tangga
peluang transfer modal
dari tenaga kerja
produktif yang bermigrasi
ke kota

panjangnya rantai
birokrasi modal sampai
ke tingkat desa,
mengecilkan/
melambatkan
penyediaan modal yang
dibutuhkan
diperlukan penguatan
lembaga lokal untuk
memobilisasi dana-dana
pembangunan desa

water borne disease tinggi


karena rendahnya water and
sanitation service
kesadaran terhadap kesehatan
dan kebersihan terbatas
transisi pola kehidupan urbanrural
keterbatasan persepsi,
keterampilan dan akses kepada
penciptaan lapangan kerja
alternatif
kesadaran yang mengelola
water and sanitation bersama
terbatas
paternalistik dan nilai lokal
potensial
kebersamaan dengan gotong
royong tinggi

Tabel 2.
Pengembangan Program Perumahan Permukiman Perdesaan Di Lokasi Studi
Lokasi
Kelembagaan
Program
Lingkup
Stakeholder
Hasil
Studi
Lokal
Jawa
Rumah

Perbaikan/
KSM/ BKM/
Supplier
Perbaikan/
Barat
Swadaya,
pengembangan
Pesantren/
Bahan
pengembangan
PKL,
perumahan
Paguyuban/
Pimpro
perumahan
Pesantren
permukiman
Koperasi
Pusat
Penguatan
(Lingkungan

Pengembangan
Dinas2
lembaga lokal
Bermartabat)
masyarakat
terkait
Sistem
perguliran
Jawa
Gerbang Mas

Advokasi
Organisasi
Dinas2
Membangun
Timur

Pengembangan
masyarakat
terkait
kemitraan
masyarakat
(yang ada)
Fasilitasi
program
posyandu
Pengembangan
program PKL

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Lanjutan Tabel 2
Lokasi
No
Program
Studi
3 Sumatera Desa Binaan
Utara

Lingkup

Riau

PKPS-BBM (iP)
Rumah
Swadaya
PKL, PPD,
UED-SP

NTT

IDT, PIP, PPK,


Pengembangan wilayah
perdesaan

Perbaikan/
pengembangan
perumahan
permukiman
Pengembangan
masyarakat
Perbaikan/
pengembangan
perumahan
permukiman
Pengembangan
masyarakat
Pengembangan
ekonomi desa

Perbaikan/
pengembangan
perumahan
permukiman
Perbaikan
infrastruktur
Pengembangan
masyarakat
Pengembangan
ekonomi desa

Peningkatan Peran Lembaga (Aris Prihandono)

Kelembagaan
Stakeholder
Lokal
KSM/ BKM/
Dinas2
TPM/ LPD
terkait

Hasil

KSM/ BKM/
LKMD/ UDP/
KKPA/ PNM

Lembaga
Perkreditan
Desa, KUD,

Tim
Koordinasi
(Pusat,
Propinsi,
Kabupaten/
Kota)
Satker
(Propinsi,
Kabupaten/
Kota)
Dinas2
Terkait
Camat/
Lurah/
Dinas2
terkait

Perbaikan/
pengembangan
perumahan
Penguatan
lembaga lokal
Perbaikan/
pengembangan
perumahan
Penguatan
lembaga lokal
& Kemitraan
Penguatan
ekonomi desa

Perbaikan/
pengembangan
perumahan
Penguatan
lembaga lokal
& kemitraan
Penguatan
ekonomi desa
Perbaikan
infrastruktur

101

PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN


DALAM MENDUKUNG AKTIVITAS EKONOMI PERKOTAAN
(Studi Kasus Kota Bandung)
Oleh : Heni Suhaeni

Pusat Litbang Permukiman, Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan Kab. Bandung 40393
E-mail : heni.puskim@yahoo.co.id
Tanggal masuk naskah: 01 Desember 2008, Tanggal disetujui: 04 September 2009

Abstrak

Konsep dasar pembangunan rumah susun perkotaan adalah penataan ruang yang menghasilkan kualitas
lingkungan perkotaan yang sehat dengan penggunaan lahan yang efisien. Masalahnya adalah
pembangunan rumah susun tidak pernah memperhitungkan kelompok-kelompok sasaran secara jelas.
Padahal aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan di kota-kota besar Indonesia pada umumnya didukung
dan digerakkan oleh berbagai kelompok dan strata sosial ekonomi masyarakat yang beragam. Kajian
ini mengidentifikasi struktur aktivitas ekonomi penduduk mayoritas dan kecenderungannya dalam
membentuk & membangun pola-pola aktivitas ekonomi perkotaan, serta pembangunan rumah susun
yang seperti apa yang dapat
mendukung aktivitas ekonomi perkotaan tersebut.
Kajian ini
menggunakan data statitistik, dan metoda yang digunakan adalah metoda penelitian induktif. Hasil dari
kajian ini menunjukkan bahwa ternyata aktivitas yang dominan penduduk Kota Bandung bergerak di
sektor perdagangan dan industri pengolahan, terutama industri pengolahan skala rumah tangga sektor
non formal. Oleh sebab itu pembangunan rumah susun sebaiknya diarahkan secara terintegrasi untuk
mendukung dan mengakomodasi kebutuhan ruang sebagai unit hunian dan sebagai ruang ekonomi
produktif perkotaan di Kota Bandung.
Kata kunci : Penataan ruang, aktivitas ekonomi, perkotaan

Abstract

The basic concept of multistorey development in urban area is the proper spatial order that result in the
quality of healthy environment and the land used efficiency in urban area. Unfortunately, the multistorey
development has never considered the target groups clearly. Meanwhile urban areas in Indonesia mostly
are supported and propelled by different groups of people with multi levels of socio-economic status
and activities. This paper identifies the structure of urban economy activities, the pattern of the
majority of inhabitants that shape and develop economy activities of urban area, and the development
of multistorey that can support economy activities of the urban lifes. This reseach uses statistic data
and inductive method. The result of the research indicates that the major economy activities of the
people in Bandung are engaged in trading sector and industrial manufatories, especially small
industries or home industries. Therefore, the multistorey development should be led to support and
accommodate the spatial need for dweling units and economic pruductive in Bandung city.
Keywords : Spatial planning, economy activity, urban

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Pembangunan rumah susun di Indonesia dapat


ditelusuri melalui Undang-undang nomor 16

102

tahun 1985 tentang Rumah Susun, Peraturan


Pemerintah nomor 4 tahun 1988 tentang Rumah
Susun, Instruksi Presiden (Inpres) nomor 5
tahun 1990 tentang Peremajaan Permukiman
Kumuh yang Berada di atas Tanah Negara, dan

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Keputusan Presiden (Kepres) nomor 22 tahun


2006 mengenai Tim Koordinasi Percepatan
Pembangunan Rumah Susun.
Kepres nomor 22 tahun 2006 intinya adalah
membentuk tim koordinasi pembangunan
dengan prioritas pembangunan adalah :
kawasan
perkotaan
dengan
jumlah
penduduk diatas 1,5 juta jiwa,
memiliki lahan di lokasi strategis untuk
membangun rumah susun
peruntukan lahannya untuk permukiman
dan memiliki nilai ekonomi tinggi
disetujui oleh walikota atau bupati sebagai
lokasi rusun, dan Pemda juga mempunyai
komitmen membangun dengan memberikan
aneka insentif,
terlayani
oleh
infrastruktur
dan
suprastruktur perkotaan.
Seluruh Undang-undang, Peraturan Pemerintah,
Inpres
ataupun
Kepres
terkait
dengan
pembangunan rumah susun intinya merupakan
ketentuan ketentuan pokok dan peraturan
pelaksanaan
yang
bertujuan
untuk
mempercepat dalam memenuhi kebutuhan
perumahan
melalui pembangunan rumah
susun. Penggunaan lahan pun bisa lebih efisien,
terutama dalam penyediaan prasarana dan
sarana pendukungnya. Kelompok sasaran
penghuni rumah susun lebih ditujukkan kepada
kelompok-kelompok masyarakat berpenghasilan
rendah atau menengah ke bawah. Akan tetapi,
sejauh ini ketentuan-ketentuan pokok dan
peraturan pelaksanaan yang telah diterbitkan
tidak menjelaskan secara rinci batasan
kelompok-kelompok sasaran untuk pembangunan
rumah susun tersebut. Padahal aktivitas
ekonomi perkotaan di kota-kota Indonesia
umumnya
didukung dan digerakkan oleh
berbagai kelompok dan strata sosial ekonomi
masyarakat yang beragam sebagai sebuah ciri
khas kehidupan perkotaan di Indonesia.

Identifikasi Masalah

Dalam perspektif
pembangunan ekonomi
perkotaan di Indonesia, kehadiran rumah susun
dapat dijadikan sebagai faktor pendukung
bergeraknya aktivitas ekonomi perkotaan,

Pembangunan Rumah Susun (Heni Suhaeni)

karena pemilihan dan penempatan lokasi rumahrumah susun yang tepat diantara berbagai
pusatpusat kegiatan ekonomi perkotaan dapat
meningkatkan nilai-nilai efisiensi terhadap nilai
lahan, jaringan transportasi dan infrastruktur
perkotaan, juga terhadap biaya pembangunan
ekonomi dan sosial.
Selain itu, sifat rumah susun yang mampu
mewadahi dan mengakomodasi kebutuhan
ruang untuk tempat tinggal masyarakat
perkotaan secara lebih terkendali, terencanakan,
padat dan terkonsentrasi
pada lokasi-lokasi
yang tepat.
Kondisi seperti tersebut di atas dengan
penataan ruang yang tepat dapat menciptakan
kualitas lingkungan perkotaan lebih sehat.
Oleh sebab itu kajian ini lebih difokuskan
pada:
1. identifikasi
struktur
aktivitas-aktivitas
ekonomi perkotaan yang dominan yang
dilakukan
oleh
mayoritas
penduduk
perkotaan Kota Bandung dan kecenderungan
penduduknya dalam membentuk dan
membangun pola-pola aktivitas ekonomi
dan ruang perkotaan,
2. pembangunan rumah susun seperti apa
yang dapat mendukung aktivitas ekonomi
perkotaan Kota Bandung.

Metodologi

Kajian ini menggunakan metoda induktif,


yaitu metoda yang digunakan bertitik tolak
dari data yang sifatnya spesifik untuk ditarik
suatu kesimpulan yang sifatnya umum dengan
menggunakan data statitik Kota Bandung
tahun 2005. Kota Bandung dipilih sebagai
studi kasus,
karena Bandung merupakan
salah satu kota yang diusulkan dapat
membangun rumah susun di wilayahnya
berkaitan dengan jumlah penduduk yang terus
meningkat.

Tujuan

Menyusun konsep pembangunan rumah susun


yang dapat mendukung aktivitas ekonomi
penduduk mayoritas perkotaan.

103

TINJAUAN PUSTAKA
Aktivitas Penduduk Perkotaan

Pacione (2001) menyebutkan bahwa aktivitas


ekonomi perkotaan di negara yang sedang
berkembang umumnya berlangsung dalam dua
katagori, yaitu :
Pertama, sektor formal yang merupakan
aktivitas ekonomi perkotaan yang memerlukan
modal tinggi untuk dapat berproduksi, dimana
setiap kegiatan produksi, distribusi, dan
konsumsi
atas barang-barang
dan jasa
dilaksanakan dalam skala yang besar yang
merupakan aktivitas sektor formal. Contohnya
aktivitas perbankan, perdagangan ekspor-impor,
industri modern perkotaan dan transportasi.
Aktivitas ekonomi seperti ini sering disebut
dengan aktivitas sektor formal (Macharia, 2007).
Aktivitas-aktivitas ekonomi seperti ini terwujud
karena
menguasai dan memanfaatkan
kemajuan teknologi oleh para pelaku industri
dan mampu menyelenggarakan akses terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
sementara sebagian lainnya
tidak dapat
memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut
karena berbagai keterbatasan.
Menurut Macharia (2007) aktivitas pada sektor
formal ini sudah sejak lama dikenal oleh
pemerintah dan terus berlangsung menjadi
pilihan, karena dianggap lebih menguntungkan
dan nyata.
Kedua, sektor informal, yaitu aktivitas ekonomi
yang tidak memerlukan modal yang tinggi, tidak
menggunakan pelayanan jasa yang modern.
Secara umum berada pada level retail dalam
skala perdagangan kecil serta merupakan
aktivitas-aktivitas sektor informal.
Aktivitas
sektor informal ini mempunyai karakteristik
antara lain aktivitasnya dalam skala kecil
dilakukan di rumah, menggunakan anggota
keluarga, kerabat atau tetangga sekitarnya
sebagai tenaga kerja. Objek yang dipasarkan
jumlahnya terbatas, bekerja sendiri dan atas
inisiatif naluri sendiri.
Aktivitas sektor informal pada umumnya tumbuh
subur di negara yang sedang berkembang.

104

Aktivitas sektor informal ini menurut Macharia


(2007) masih harus terus diperjuangkan agar
memperoleh pengakuan dan perhatian dari
pemerintah atas keberadaannya.
Dalam banyak hal, aktivitas ekonomi sektor
informal dapat memberikan kontribusi terhadap
PDRB kota, dapat menyediakan kesempatan
kerja yang lebih luas, serta dapat memberikan
income bagi keluarga (Macharia, 2007). Sektor
informal ini pun dapat menjadi inspirasi dalam
menjalani kehidupan kawasan perkotaan dengan
kemampuan yang terbatas. Bahkan menurut
Rukmana
(2004),
perencana
perkotaan
seharusnya
dapat mengakomodasi aktivitas
sektor informal ini sebagai bagian dari ekonomi
perkotaan, karena sebesar 64% dari total
ketenagakerjaan di Indonesia bergerak dalam
sektor informal perkotaan.

Pembangunan Rumah Susun Indonesia

Di Indonesia, kehadiran rumah susun sudah


sejak lama ada, tetapi hanya terbatas di kotakota besar dengan jumlah satuan rumah susun
yang terbatas, sehingga belum dikenal secara
merata oleh seluruh masyarakat. Sementara itu,
masyarakat selama ini sudah sejak lama terbiasa
membangun unit hunian secara individual dan
mandiri. Hampir 70% penduduk membangun
sendiri rumah yang ditempatinya dengan pola
hunian 80% merupakan rumah tunggal tidak
bertingkat
(Statistik
Perumahan
dan
Permukiman, 2004).
Tahun 1990, ketika pembangunan rumah susun
untuk kelompok masyarakat berpenghasilan
rendah dikenalkan melalui program urban
renewal,
hasilnya menunjukkan bahwa
pembangunan rumah susun menghadapi banyak
kendala.
Kendala-kendala tersebut mulai dari
proses
sosialisasi, land re-adjustment, pematangan
lahan, biaya konstruksi sampai pengelolaan dan
pemeliharaan bangunan rumah susun paska
konstruksi
serta
cara
penghuniannya
menghadapi kesulitan dan hambatan (Pusat
Litbang Permukiman,
1999).
Status
kepemilikan unit hunian pun yang merupakan

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

komponen paling penting


untuk dapat
memberikan
kepastian
hukum
masih
merupakan hal yang sulit teratasi, karena waktu
itu belum memiliki ketentuan-ketentuan dasar
hukum, sehingga seringkali hal tersebut tidak
dapat dirumuskan dan diantisipasi sejak awal
perencanaan, sehingga
menjadi
masalah
dikemudian hari.
Pada sisi calon penghuni, secara finansial unit
hunian rumah susun memerlukan biaya lebih
tinggi jika dibandingkan dengan rumah yang
selama ini biasa dibangun oleh penduduk secara
individual karena perbedaan standar yang
dipakai. Selain itu, biaya konstruksi, operasional
dan pemeliharaan rumah susun pada dasarnya
lebih tinggi daripada rumah biasa. Padahal ratarata upah pekerja wilayah perkotaan yang
penghasilannya mencapai Rp 2 juta atau lebih
hanya 4,3% (Pusdata, 2008)
Hambatan lainnya dalam pembangunan rumah
susun adalah masalah kebiasaan, budaya, atau
gaya hidup masyarakat untuk beradaptasi
dengan ruang vertikal yang ruang geraknya
serba terbatas.
Akan tetapi sejak kebijakan percepatan
pembangunan perumahan seribu tower yang
dituangkan dalam Kepres nomor 22 tahun 2006
mengenai
Tim
Koordinasi
Percepatan
Pembangunan Rumah Susun dan disertai
dengan lahirnya model konsolidasi lahan
perkotaan
horizontal
menjadi
vertikal
berserifikat, maka pembangunan rumah susun
perkotaan dapat diharapkan bukan hanya
mampu menciptakan penataan ruang yang
menghasilkan kualitas lingkungan yang aman
dan sehat, tetapi juga mampu mendukung
aktivitas-aktivitas ekonomi perkotaan secara
optimal dan terutama menguntungkan bagi
semua pihak.

Housing Adjustment Factors

Hartshorn (1992)
dan Pacione (2001)
menyebutkan 3 (tiga) faktor yang dapat
mempengaruhi seseorang mampu beradaptasi
dengan unit huniannya, yaitu faktor pertama
yang didasarkan pada karakteristik unit hunian

Pembangunan Rumah Susun (Heni Suhaeni)

yang mampu memenuhi kebutuhan akan fungsi


ruang bagi yang bersangkutan. Contohnya,
sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan
anak (anak-anak) memilih unit hunian 2 (dua)
kamar tidur agar dapat mewadahi dan
menjalankan aktivitas sesuai dengan fungsi dan
perannya masing-masing. Faktor kedua adalah
status kepemilikan, terutama dari status unit
hunian sewa atau hak milik, karena secara
psikologis dan legalitas dapat memberikan rasa
aman
dan
kepastian
hukum
untuk
menempatinya.
Faktor ketiga,
lokasi unit
hunian yang memiliki nilai aksesibilitas tinggi
terhadap
pusat kegiatan, seperti akses
terhadap tempat kerja, sekolah, pasar atau
pusat kegiatan lainnya yang membantu
mempermudah beradaptasi dengan tempat
hunian.
Hartshorn (1992)
dan
Pacione
(2001)
menjelaskan bahwa perubahan siklus kehidupan
dan
alasan
pekerjaan
juga
dapat
mempengaruhi seseorang untuk pindah dan
memilih tempat tinggal baru. Contohnya kaum
muda yang masih lajang pada umumnya
merupakan kelompok yang memiliki mobilisasi
tinggi yang bersedia untuk memilih unit hunian
rumah sewa dengan single bed room, atau
pasangan suami istri yang belum memiliki anak.
Akan tetapi berbeda dengan pasangan suami
istri yang mempunyai
anak (anak-anak),
dimana apabila anak-anaknya masih berusia
balita akan berbeda dengan orang tua yang
mempunyai anak-anak berusia remaja, karena
anak-anak yang beranjak remaja membutuhkan
ruang yang lebih luas dibandingkan dengan
anak-anak balita.
Kondisi tersebut sangat
berpengaruh terhadap keputusan orang tua
dalam
memilih unit hunian
yang akan
ditempatinya.
Di Jakarta pembangunan rumah susun sudah
menjadi kebutuhan, karena ketersediaan lahan
perkotaan yang semakin sulit dan mahal.
Pembangunan rumah susun atau apartemen
sudah dilakukan sejalan dengan perkembangan
Kota Jakarta sebagai mega city. Aktivitas
ekonomi pada sektor jasa sudah menjadi faktor
dominan bagi Jakarta. Segala bentuk sistem

105

pelayanan jasa dituntut untuk berjalan lebih


cepat dan efisien.
Pembangunan rumah susun atau apartemen
dapat menjadikan beberapa kawasan di Kota
Jakarta sebagai compact city, dimana struktur
dan pola ruang kota pada beberapa kawasan
dapat mengalir lebih optimal, sistemik dan
membantu penduduk bergerak lebih cepat.
Compact city adalah kawasan inti yang padat
yang mampu mewadahi lebih banyak penduduk,
sehingga penduduk lebih berdaya dalam
menjalankan aktivitas aktivitasnya karena sistem
jaringan yang tercipta adalah sistem jaringan
yang aksesibel (Jenks, et. al. 2002). Akan
tetapi, belum semua kawasan perkotaan di
wilayah DKI Jakarta dapat berkembang seperti
yang diharapkan. Hal tersebut bergantung pada
profil kotanya masing-masing, karena faktorfaktor seperti keragaman budaya, strata sosial
masyarakat yang sangat lebar dan struktur
aktivitas
ekonomi
yang
variatif
sangat
berpengaruh dalam membentuk struktur dan
pola ruang kota.

Data dan Pembahasan

Bandung sebagai ibu kota propinsi Jawa Barat


beriklim sejuk, dan berlokasi pada ketinggian
791 1050 m di atas permukaan laut, berjarak
sekitar 180 Km dari Kota Jakarta (Badan Pusat
Statistik, 2005). Kemudahan akses menuju
Kota Bandung, serta daya tarik yang dimiliki
Kota Bandung telah mampu mendorong
meningkatkan kunjungan wisata domestik
ataupun manca negara ke Kota Bandung
sebagai kota tujuan wisata fashion dan kuliner.
Hal tersebut dapat dilihat dari data kunjungan
wisata yang meningkat tajam setelah dibukanya
jalan tol Cipularang (Badan Pusat Statistik,
2005).
Disisi lain, sejalan dengan perkembangan kota,
aktivitas
ekonomi
yang
dominan
dan
berkembang di Kota Bandung adalah sektor
perdagangan
33,85%,
sektor
industri
pengolahan 25,34%, dan pelayanan jasa
19,75% (lihat Tabel 1).

106

Tabel 1.
Lapangan Usaha
Penduduk Kota Bandung 2005
Lapangan Usaha
Orang
Penduduk
Pertanian
22.645
Industri Pengolahan
Listrik, Gas dan air
Konstruksi
Perdagangan

%
2.5

229.038

25.34

2.588

0.28

50.466

5.58

306.031

33.85

Transportasi & Komunikasi

58.230

6.44

Keuangan

49.819

5.51

Pelayanan Jasa
185.042
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2005

19.75

Kondisi-kondisi tersebut saling mendukung dan


memperkuat berkembangnya aktivitas ekonomi
perkotaan Kota Bandung pada sektor-sektor
tersebut di atas.
Sektor industri pengolahan sendiri menunjukkan
bahwa 98% dari sektor industri pengolahan
merupakan kegiatan industri kecil non formal
atau sebesar
24,16% dari lapangan usaha
penduduk Kota Bandung (lihat Tabel 2).
Kegiatan industri kecil non formal ini
merupakan kegiatan industri rumah tangga
(home industry) yang memberikan penghasilan
bagi keluarga, kerabat atau tetangga terhadap
24,16% penduduk yang berusaha di Kota
Bandung.
Tabel 2.
Sektor Industri Pengolahan
Kota Bandung
Sektor Industri
Unit
Pengolahan
Industri besar
15

0.17

Industri menengah

15

0.17

Industri kecil formal

138

1.56

Industri kecil non formal


8832
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2005

98.09

PDRB terbesar Kota Bandung pun dihasilkan dari


sektor perdagangan yang cenderung terus
meningkat, serta sektor industri pengolahan
dan sektor pelayanan jasa (lihat Grafik 1).

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

2003

2004

Jasa-jasa

Keuangan & jasa perusahaan

Transportasi & komunikasi

Perdagangan

Bangunan & konstruksi

Listrik & air minum

Industri pengolahan

Pertanian

40
35
30
25
20
15
10
5
0

2005

Grafik 1 PDRB Kota Bandung Per


Sektor Perode 2003-2005
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2005

Jenis-jenis industri yang menyerap ribuan


tenaga kerja kota Bandung dari data statistik
dapat terlihat penyebarannya yang menyebar di
beberapa kecamatan yang berada di wilayah
Bandung timur, seperti Cicadas, Ujung Berung,
Arcamanik, dan
Kiaracondong. Sedangkan
industri pengolahan makanan tersebar di 18
kecamatan lainnya dalam skala besar dan kecil,
serta pusat kegiatan perdagangan yang tersebar
di 16 kecamatan di Kota Bandung.

HASIL ANALISIS
Berdasarkan pada data yang telah diolah dan
dianalisis secara statistik, maka hasil kajian
menunjukkan hasil-hasil sebagai berikut :
1. Aktivitas ekonomi Kota Bandung yang
dominan dan mendasar adalah sektor industri
pengolahan sebesar 25,34%. Sektor industri
pengolahan
ini
ternyata
menghasilkan
aktivitas ekonomi yang spesifik kota atau

Pembangunan Rumah Susun (Heni Suhaeni)

negara yang sedang berkembang. Hal ini


ditandai dengan
98% dari industri
pengolahan merupakan aktivitas industri kecil
non formal atau jenis industri pengolahan
skala rumah tangga yang menyerap ratusan
ribu tenaga kerja keluarga, kerabat dan
tetangga sekitarnya dengan kebutuhan dan
biaya modal yang murah (atau sebesar
24,16%
penduduk
Kota
Bandung).
Sedangkan
2%
dari
sektor
industri
pengolahan adalah aktivitas-aktivitas industri
pengolahan skala besar dan menengah.
Walaupun angka prosentasenya hanya 2%
saja, tetapi ternyata menyerap ratusan ribu
tenaga kerja setingkat buruh juga.
Sektor
perdagangan
sebesar
33,85%
merupakan turunan dari sektor industri
pengolahan dan telah melahirkan aktivitas
ekonomi
lainnya yang bersifat formal
maupun non formal.
Sektor pelayanan jasa sekitar 20% yang
berkembang di Kota Bandung merupakan
aktivitas-aktivitas
penunjang
sektor
perdagangan dan industri pengolahan. Di
negara-negara maju, sektor pelayanan jasa
umumnya
merupakan
aktivitas
utama
ekonomi perkotaan, karena bentuk pelayanan
jasa yang berlangsung lebih banyak
memanfaatkan penguasaan teknologi dan
keahlian, sedangkan di negara sedang
berkembang aktivitas pelayanan jasa lebih
banyak memanfaatkan tenaga kerja (fisik)
dan keterampilan manusia untuk menunjang
berlangsungnya aktivitas ekonomi yang
sedang berjalan, sehingga kebutuhan ruang
ekonomi produktifnya pun berbeda.
Implikasi
dari
aktivitas-aktivitas sektor
tersebut di atas terhadap struktur dan pola
ruang perkotaan Kota Bandung adalah :
- munculnya kebutuhan ruang sebagai
ruang produksi sektor non formal yang
juga dapat merangkap sebagai ruang
hunian keluarga dalam jumlah yang besar.
- munculnya kebutuhan ruang sebagai
kawasan perdagangan non formal yang

107

jumlahnya bisa lebih


perdagangan formal.

besar

daripada

- dimungkinkannya
terjadi
pergerakan
manusia dari tempat tinggal (kawasan
perumahan) ke tempat kerja kawasan
industri dan perdagangan dalam jumlah
besar. Hal ini dimungkinkan, karena adanya
penyebaran
aktivitas ekonomi pada
beberapa sektor di beberapa kecamatan,
akan
tetapi
pembangunan
kawasan
perumahan malah menyebar terlepas secara
horizontal ke pinggiran kota.
Seperti telah dinyatakan sebelumnya bahwa
secara teoritis compact city adalah kawasan inti
yang padat dan mampu mewadahi lebih banyak
penduduk, agar penduduk lebih berdaya dalam
menjalankan
aktivitas-aktivitasnya,
karena
didukung oleh sistem jaringan yang aksesibel.
Struktur dan pola ruang kota yang dibangun
dalam compact city adalah sistem jaringan
dimana setiap titik mampu akses terhadap titiktitik lainnya, dan pada setiap titik yang
dibangun adalah merupakan kawasan atau
bangunan-bangunan vertikal yang mempunyai
nilai efisiensi dan fungsi ruang tinggi terhadap
penggunaaan lahan dan aktivitas ekonomi
perkotaan.
Aktivitas sektor formal dan non formal pada
sektor perdagangan, industri pengolahan dan
pelayanan jasa memiliki jumlah yang besar dan
memiliki signifikansi yang positif dalam
menyerap atau menyediakan kesempatan kerja
serta dapat dinyatakan sebagai penggerak
ekonomi Kota Bandung.
Keterkaitan aktivitas ekonomi perkotaan
dengan pembangunan perumahan susun
adalah dalam hal penataan ruang untuk skala
bangunan dan kawasan sepantasnya dirancang
untuk dapat mengakomodasi kebutuhan unit
hunian dan unit ekonomi produktif
pada
simpul-simpul
yang
melahirkan
sistem
pergerakan yang lebih efisien dalam skala
kawasan.
Hal tersebut sangat penting untuk dijadikan
pertimbangan, karena selama ini pembangunan

108

perumahan susun yang terbangun


lebih
terfokus hanya untuk merumahkan orang pada
satu titik lokasi yang tersedia tanpa
mempertimbangkan kaitannya dengan aktivitas
ekonomi sehari-hari yang
dijalankannya,
sehingga kurang mendukung aktivitas ekonomi
bagi penduduk yang selama ini bergerak dan
tinggal di kawasan perkotaan.
2. Pembangunan rumah susun sebagai faktor
pendukung aktivitas ekonomi perkotaan sangat
signifikan
apabila
pembangunannya
memperhatikan penduduk mayoritas seperti
tersebut diatas, karena dominasi penduduk Kota
Bandung kebanyakan bekerja pada sektorsektor tersebut di atas, dan selayaknya tempat
tinggal dan tempat ekonomi produktif bagi
penduduk mayoritas diakomodasi oleh kota
dengan mempertimbangkan sistem pergerakan
ekonomi perkotaan. Hal tersebut dimaksudkan
untuk mencegah terjadinya pergerakan yang
tidak efisien, tidak optimal dalam jumlah yang
besar setiap harinya, serta untuk mengurangi
biaya ekonomi tinggi.
Rumah susun yang dibangun sepantasnya
dirancang dengan mempertimbangkan faktorfaktor adjustment yaitu disesuaikan dengan
kebutuhan ruang penduduk, sehingga rumah
susun yang dibangun tidak terbatas hanya
rumah susun dengan hanya satu kamar saja.
Hal ini penting dipertimbangkan, karena visi
dasar pembangunan rumah susun seharusnya
ditujukan untuk seluruh penduduk kota yang
jumlahnya terus meningkat.
Selain itu,
efisiensi penggunaan lahan dan
penciptaan tata ruang yang aman dan sehat dapat
terwujudkan bila didukung oleh seluruh penduduk
kota. Penduduk pun akan dapat merasakan arti
dari city for all, karena perlakuan kesetaraan
ataupun hak-hak sebagai warga negara untuk
dapat tetap tinggal di kawasan perkotaan.
Lebih dari itu, pembangunan rumah susun untuk
wilayah Kota Bandung perlu memperhitungkan
karakteristik aktivitas-aktivitas ekonomi penduduk
perkotaan khas kota yang sedang berkembang,
agar proses pembangunan rumah susun tidak
menghilangkan, ataupun meminggirkan secara

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

sistematis penduduk yang selama ini ikut


berperan serta dalam aktivitas pembangunan
ekonomi perkotaan.

calon penghuni, contohnya satu, dua, atau


tiga kamar tidur. Hal ini dimaksudkan agar
unit hunian rumah susun mampu mewadahi
kebutuhan seluruh masyarakat kota (city for
all).

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan

Dari hasil kajian diperoleh kesimpulan dan fakta


bahwa :
1. Struktur
aktivitas
ekonomi
penduduk
perkotaan Kota Bandung lebih didominasi
oleh
sektor-sektor perdagangan, industri
pengolahan, terutama industri pengolahan
skala rumah tangga atau sektor informal
serta sektor pelayanan jasa.
Aktivitas-aktivitas
ekonomi
tersebut
melahirkan ribuan tenaga kerja formal dan
informal
yang
perlu
diwadahi
atau
diakomodasi kebutuhan ruangnya dalam skala
bangunan dan kawasan, agar kelangsungan
aktivitas ekonomi masyarakat dan kota
berjalan optimal.
2. Pembangunan rumah susun sebagai faktor
pendukung aktivitas ekonomi perkotaan
sangat signifikan apabila pembangunan
rumah susun tersebut disesuaikan dengan
karakteristik kebutuhan ruang untuk unit
hunian ataupun ruang sebagai ruang
produktif
masyarakat perkotaan dalam
skala bangunan ataupun kawasan.

Saran

Konsep dasar pembangunan rumah susun


perkotaan adalah penataan ruang kota yang
menghasilkan kualitas lingkungan perkotaan yang
sehat dengan penggunaan lahan yang efisien.
Oleh sebab itu, pembangunan rumah susun
adalah
satu-satunya pilihan, dan dalam
pembangunannya
sangat
perlu
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

Rumah susun yang dibangun dapat


memberikan beberapa pilihan ruang kepada
semua keluarga / masyarakat perkotaan

Pembangunan Rumah Susun (Heni Suhaeni)

Perlu kajian lebih lanjut pada skala


kecamatan pada lokasi yang strategis dan
padat penduduk dikaitkan dengan tingkat
keswadayaan,
keterjangkauan,
atau
kepemilikan modal ekonomi dan sosial
masyarakat, agar dapat diprediksi dan
diperhitungkan bahwa penduduk awal masih
tetap dapat dipertahankan dan tidak
terpinggirkan.

DAFTAR PUSTAKA
________, (2005), Bandung Dalam Angka 2005,
Badan Pusat Statistik Bandung.
________,(2004), Statistik Perumahan dan
Permukiman 2004, Badan Pusat Statistik,
Jakarta.
_________, (2008), Buku Induk Statistik
Pekerjaan Umum (BIS PU),
Sekretariat
Jenderal Pusat Pengolahan Data (Pusdata).
Jenks, M., Burton,. E., dan Williams, K. (2002),
The Compact City, A Sustainable Urban
Form, Spon Press, London.
Keputusan Presiden (Kepres) nomor 22 tahun
2006 mengenai Tim Koordinasi Percepatan
Pembangunan Rumah Susun.
Macharia, K. (2007). Tension Created by the
Formal and Informal Use of Urban Space.
The Case Of Nairobi, Kenya, Journal of
Third World Studies. http://findarticle s.com
Pacione, M. (2001), Urban Geography a Global
Perspective, Routledge, London
Peraturan Pemerintah nomor 4 tahun 1988
tentang Rumah Susun,
Pusat Litbang Permukiman (1999),
Laporan
Akhir:
Kemitraan
Dalam
Peremajaan
Kawasan Kumuh Perkotaan, Pusat Penelitian
dan Pengembangan Permukiman, Bandung.

109

INFRASTRUKTUR PECINAN YANG MUDAH DIAKSES


MENDUKUNG PRINSIP PARIWISATA YANG AKSESIBEL
Oleh: Inge Komardjaja

Pusat Litbang Permukiman, Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan Kab. Bandung 40393
E-mail: ikomard@gmail.com
Tanggal masuk naskah: 09 Februari 2009, Tanggal disetujui: 29 Mei 2009

Abstrak

Pecinan mempunyai potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan pariwisata yang menarik.
Secara ekonomi, kawasan wisata yang direncana dan dikelola dengan baik memberikan keuntungan
yang berarti bagi pemerintah setempat. Demikian pula halnya dengan pecinan yang perlu ditata
berdasarkan perencanaan matang dan pelaksanaan yang cermat. Dengan berpegang pada prinsip
pariwisata yang aksesibel, wisatawan lokal dan mancanegara yang menyandang cacat akan tertarik
untuk mengunjungi pecinan. PBB mengatakan para penyandang cacat mempunyai hak yang sama
dengan mereka yang tidak cacat untuk berwisata. Penyandang cacat mempunyai keterbatasan mobilitas
fisik, sehingga membutuhkan infrastruktur fisik yang mudah dan aman diakses. Dalam kenyataan,
penyandang cacat tidak diberikan kesempatan yang setara untuk mengunjungi pecinan serta menikmati
fasilitas dan suasana yang ditawarkan. Mereka mengalami kesulitan untuk bergerak secara mandiri,
karena infrastruktur fisik kawasan pecinan tidak bebas hambatan. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif untuk dapat mengidentifikasi problem penyandang cacat. Hasil analisis data menunjukkan
mereka masih mengalami marjinalisasi karena tidak dapat menggunakan atau kesulitan mengakses
infrastruktur disitu. Desain universal menciptakan infrastruktur yang aksesibel yang memberikan
kemudahan bagi semua golongan masyarakat, tanpa kecuali, seperti orang jompo, orang yang baru
sembuh dari penyakit berat, anak kecil yang belajar jalan atau pendorong gerobak. Pecinan yang
ramah-cacat (disabled-friendly) mendukung prinsip accessible tourism.
Kata Kunci : Penyandang cacat, keterbatasan mobilitas, pecinan, pariwisata, aksesibilitas

Abstract

Chinatown has the potential to become an attractive tourist site. From the point of economy, tourist
sites that are well-planned and well-managed provide significant benefits for the local government.
Revitalizing Chinatown has to be done from a well-prepared planning and accurate implementation.
Carrying out the principle of accessible tourism may attract local and foreign tourists who are disabled.
The UN emphasizes that disabled people have the same right as the non-disabled people to visit tourist
sites. Disabled people have limited physical mobility and thus, are in need of accessible and safe
physical infrastructures. In reality, disabled people are marginalized against the non-disabled, because
the former does not get the opportunity to come to Chinatown and be able to enjoy the facilities and
ambience of the site. They experience difficulties to move around independently, because the
infrastructures are not barrier-free. This study has employed the qualitative method to identify the real
problems of disabled people. The result of the data analysis points out that they are still marginalized
against the non-disabled in the use of Chinatowns infrastructures. The universal design creates
accessible infrastructures which will also facilitate other groups of the society, such as elderly people,
persons recovering from a serious illness, toddlers who learn to walk, or cart pushers. Chinatown that is
disabled-friendly upholds the principle of accessible tourism.
Keywords : Disabled people, limited mobility, Chinatown, tourism, accessibility

110

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Karena Indonesia adalah anggota PBB, tulisan


ini diawali dengan pernyataan yang dikeluarkan
oleh United Nations Convention on the Rights of
Persons with Disabilities (CRPD) tentang
pariwisata. CRPD mengungkapkan secara
khusus pentingnya isu aksesibilitas fisik dan
program aksesibilitas dalam hal pariwisata untuk
orang yang menyandang cacat (travel, disability,
law, United Nations 2008). Artikel 30 dari
konvensi ini menyebutkan partisipasi dalam
kehidupan budaya, rekreasi, waktu senggang
dan olahraga dan menyatakan, antara lain,
bahwa negara yang menjadi anggota PBB perlu
mendukung hak penyandang cacat untuk
berpartisipasi dalam kehidupan budaya atas
dasar kesetaraan dengan orang yang non-cacat.
Untuk itu perlu disediakan fasilitas supaya
penyandang cacat dapat:
mengakses dan menikmati hal-hal yang
bersifat budaya
mengakses program televisi, film, teater
dan aktivitas budaya lainnya
mengakses
tempat
penyelenggaraan
kesenian dan pelayanan terkait budaya,
seperti
teater,
museum,
bioskop,
perpustakaan
dan
pariwisata,
serta
mengakses
monumen
dan
tempat
peninggalan sejarah.
CRPD juga mengatakan penyandang cacat
mempunyai hak setara dengan orang yang tidak
cacat untuk mengakses tempat olahraga,
rekreasi dan wisata.
Pada tahun 2000-an beberapa pemerhati
penyandang cacat dan pariwisata merumuskan
prinsip pariwisata yang aksesibel (accessible
tourism). Pariwisata yang aksesibel merupakan
upaya untuk meyakinkan bahwa tempat
pariwisata, produk dan pelayanan pariwisata
dapat diakses oleh semua orang dengan
memerhatikan
keterbatasan
fisik,
tingkat
kecacatan dan usia (Wikipedia. Accessible
Tourism).
Salah satu destinasi pariwisata yang banyak
mendapat kunjungan adalah pecinan yang ada

Infrastruktur Pecinan (Inge K.)

di kota-kota besar. Di Australia, Kota Broome,


memiliki pecinan yang dikenal karena mutiara,
galeri dan warung kopi. Pecinan ini dikunjungi
banyak wisatawan yang ditemukan di restoran,
warung kopi dan toko. Contoh lain adalah New
York, dimana pecinannya menarik banyak orang
ketika diadakan festival Bulan Musim Gugur.
Pecinan ini merupakan komunitas Cina terbesar
di belahan Barat dan terletak di kawasan paling
tua di Manhattan. Pecinan ini didirikan pada
tahun 1870an oleh imigran Cina dan
menawarkan pengalaman historis dan kultural
yang sangat unik (diambil dari Lower Manhattan
Development Corporation).
Menurut Greed (1999) perencanaan sosial kota
perlu memerhatikan kebutuhan kelompok
minoritas dalam masyarakat, sehingga tulisan ini
mefokuskan pada penyandang cacat. Alasannya,
karena sekarang semakin banyak penyandang
cacat berani keluar rumah. Keberadaan
mereka di ruang publik cukup signifikan untuk
dimasukkan kedalam perencanaan kota. Dari
semua
kelompok
minoritas,
penyandang
cacatlah yang paling memerlukan perubahan
lingkungan fisik menjadi bebas hambatan
(Davies 1999: 77). Para penyandang cacat ini
mempunyai mobilitas fisik terbatas, sehingga
membutuhkan
infrastruktur
yang
mudah
diakses. Sehubungan dengan lingkungan
binaan, yang diperlukan adalah solusi yang
inklusif yang mengintegrasikan mereka kedalam
masyarakat (ibid.).
Kelompok minoritas etnis yang berperan dalam
perencanaan
sosial
kota
adalah warga
keturunan Cina. Mereka berkelompok di
berbagai kawasan kota, sehingga terbentuklah
kawasan khusus yang disebut pecinan. Di
Indonesia, sebelum Perang Dunia II, mereka
bermukim dan bekerja di kawasan ini. Umumnya
orang Cina suka berdagang dan usaha yang
sering ditekuni adalah membuka toko. (Istijanto
Oei, 2008: vii). Karena di banyak negara
pecinan dikembangkan menjadi kawasan
pariwisata,
pecinan
di
Indonesia
juga
mempunyai potensi pariwisata. Di Jakarta salah
satu pecinan adalah Glodok yang dijadikan
kawasan
pariwisata.
Direktorat
Jenderal

111

Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum,


mendukung rencana untuk menata kembali
pecinan Glodok. Untuk maksud ini, penyediaan
infrastruktur yang baik akan menambah daya
tarik pecinan untuk dikunjungi. Wisatawan cacat
pun bisa menikmati hal-hal yang ditawarkan
oleh pecinan. Dalam tulisan ini, pecinan menjadi
contoh kasus kawasan pariwisata yang kerap
didatangi wisatawan. Pecinan yang aksesibel
dimaksudkan supaya orang dengan mobilitas
terbatas, seperti penyandang cacat, dapat
mengunjungi kawasan ini dengan mudah dan
aman.
Suatu studi di Inggris menunjukkan bahwa isu
penyandang cacat dapat dikaitkan dengan
perencanaan untuk pariwisata dan aktivitas
budaya (Davies 1999: 82). Atas dasar ini, tulisan
ini mengulas pecinan sebagai kawasan wisata
dimana
penyediaan
infrastruktur
perlu
memerhatikan
mobilitas
terbatas
dari
penyandang cacat.

Permasalahan

Bagi orang yang tinggal diluar pecinan, kawasan


ini bisa menjadi magnet karena mungkin ada
bangunan bersejarah, kelenteng, toko obat Cina
serta tersedianya sumberdaya sosial-budaya
seperti festival dan kuliner (Davidson & Maitland
1999: 209). Karena penyandang cacat
mempunyai
hak
mendatangi
pecinan,
lingkungan fisik harus mudah diakses. Pada
kenyataan, infrastruktur yang ada tidak
aksesibel karena, misalnya, trotoarnya tinggi
dan sempit. Atau ada satu anak tangga didepan
pintu masuk toko, ram yang dibangun curam,
atau tidak tersedia toilet duduk di tempat
makan.

Maksud

Mendapatkan strategi untuk menata kembali


kawasan pecinan, sehingga bisa menjadi tempat
pariwisata yang aksesibel bagi penyandang
cacat.
Tujuan
Mengembangkan gagasan agar infrastruktur
pecinan, sebagai kawasan pariwisata, di kotakota besar di Indonesia mudah diakses serta

112

disediakan fasilitas yang sesuai dengan


kebutuhan penyandang cacat. Infrastruktur
yang aksesibel juga mudah digunakan oleh kuli
untuk menurunkan barang dagangan dari
kendaraan, penjual makanan dengan gerobak,
orang yang mendorong troli, orang yang
memanggul pikulan, anak kecil dan orang yang
sudah jompo.

METODE PENELITIAN
Pertanyaan penelitian (research question) dalam
tulisan ini adalah:
Mengapa pecinan merupakan kawasan yang
penting dalam perkembangan kota?
Bagaimana penyandang cacat dapat dengan
mudah mengakses pecinan yang juga
merupakan kawasan pariwisata?
Untuk mengulas pertanyaan-pertanyaan ini
dipakai metode kualitatif. Alasannya, penelitian
ini belum dilakukan, sehingga pada tahap ini
masalah yang sebenarnya belum teridentifikasi
dengan tepat. Penelitian sosial ini berupaya
menjawab
pertanyaan
mengapa
dan
bagaimana agar dapat mendeskripsikan dan
mengerti kelompok penyandang cacat dan
kebutuhannya.

Penelitian Kualitatif

Menurut Strauss & Corbin (1990: 17 20)


penelitian kualitatif dipakai untuk semua jenis
penelitian yang hasilnya tidak diperoleh melalui
prosedur statistik atau cara kuantitatif lainnya.
Penelitian kualitatif bisa merujuk kepada riwayat
hidup, pengalaman dan perilaku orang. Juga
bisa membahas secara mendalam tentang
fungsi organisasi, pergerakan sosial atau
hubungan interaktif. Pengumpulan data bisa
dilaksanakan melalui wawancara dan observasi.
Walaupun data kualitatif bisa diolah secara
statistik, tetapi pembahasan dalam tulisan ini
merupakan prosedur analisis yang nonmatematik. Selain observasi dan interview, studi
ini juga mempelajari dokumen dan buku yang
relevan
dengan
pecinan
dan
mobilitas
penyandang cacat.

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Ada banyak alasan yang valid untuk melakukan


penelitian kualitatif. Salah satu alasan untuk
meneliti fenomena sosial secara kualitatif adalah
dengan mempelajari sifat dari problem
penelitian. Penelitian tentang pengalaman
seseorang, misalnya pengalaman merawat
orang jompo, sebaiknya dilakukan secara
kualitatif agar emosi dan pikirannya dapat
diekspresikan dengan bebas. Untuk masalah
pecinan dan penyandang cacat, penelitian ini
mengungkapkan pengalaman penyandang cacat
yang mempunyai mobilitas terbatas ketika
mengunjungi dan ketika berada di kawasan
pecinan yang penuh hambatan fisik. Sejauh
mana kebutuhannya akan kepariwisataan
pecinan yang bebas hambatan ? Metode ini
dipakai untuk menggali dan mengerti hal-hal
yang ada dibelakang suatu fenomena. Kelebihan
metode kualitatif adalah potensinya untuk
menggali hal-hal kecil dari suatu fenomena yang
sulit ditelusuri melalui metode kuantitatif.
Tiga komponen dasar dalam penelitian kualitatif
adalah :
data, yang dapat diperoleh dari berbagai
sumber. Wawancara dan observasi adalah
sumber yang paling sering dipakai
prosedur analitis atau interpretatif. Dalam
prosedur ini data diberi makna melalui
peng-kode-an dan sampel yang diperlukan
bersifat non-statistik
laporan tertulis dan penyampaian hasil
secara lisan.

Metode Kualitatif untuk Penelitian


Pecinan dan Penyandang Cacat

Metode
kualitatif
tidak
bersifat
menggeneralisasi, tapi bertujuan menggali informasi
melalui obrolan informal antara pewawancara
dan responden. Untuk itu perlu dipersiapkan
daftar pertanyaan sebagai pegangan wawancara
supaya obrolan tadi tidak menyimpang dari
pertanyaan penelitian. Karena metode kualitatif
tidak memakai sistem sampling seperti yang
berlaku dalam metode kuantitatif, maka jumlah
orang yang diwawancara untuk in-depth
interview tergantung dari kejenuhan informasi
yang
diperoleh
(saturated
information).

Infrastruktur Pecinan (Inge K.)

Diperkirakan jumlah orang yang diwawancara


kurang dari sepuluh.
Data yang terkumpul akan dianalisis dengan
cara peng-kode-an (coding), yaitu mencari
makna dari hasil wawancara. Kode-kode ini bisa
memberikan masukan tentang pengalaman dan
harapan kelompok penyandang cacat tentang
aksesibilitas
pecinan
sebagai
kawasan
pariwisata.

Metode di Lapangan

Studi tentang pecinan dan penyandang cacat


merupakan penelitian yang pertama kali
dilakukan. Tahap awal dari studi ini difokuskan
pada identifikasi permasalahan untuk memberi
pengarahan pada penelitian ini. Hal ini dilakukan
dengan :
mengunjungi instansi pemerintah di Jakarta
dan Bandung untuk memperoleh informasi
apakah ada rencana untuk menjadikan
pecinan sebagai kawasan pariwisata. Juga
ditanyakan apakah peraturan pemerintah
mengenai
penataan
ruang
sudah
dirumuskan, serta wilayah mana saja di
Jakarta dan Bandung yang lazim disebut
sebagai pecinan. Apakah Pedoman Teknis
Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan
Gedung dan Lingkungan (Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum 2006) diikuti
dalam
menyusun
perencanaan
dan
diterapkan dalam pelaksanaan di lapangan ?
mengobservasi beberapa wilayah di Jakarta
dan
Bandung,
dimana
mayoritas
penghuninya adalah warga keturunan Cina.
Sebagai pegangan menentukan kawasan
pecinan, dipakai karakteristik berupa tokotoko dan tempat makan Cina. Juga menilai
kondisi aksesibilitas ke dan didalam pecinan
serta mengamati keberadaan penyandang
cacat di kawasan ini.
mendatangi orang pribadi yang mempunyai
perhatian khusus pada isu pecinan dan
orang dengan mobilitas fisik terbatas.
Disamping itu, menghubungi orang pribadi
yang menghuni kawasan pecinan.

113

KAJIAN PUSTAKA
Kepariwisataan

Ciri-ciri sebuah kota ditandai oleh kondisi


ekonomi dan sosial yang berbeda-beda, karena
penduduknya terdiri dari berbagai golongan
ekonomi, kelompok etnis dan gender. Dimanamana orang Cina mendominasi suatu kawasan
untuk dijadikan tempat tinggal dan tempat
melakukan kegiatan ekonomi. Kawasan ini
dikenal sebagai pecinan atau Chinatown.
Sejarah pecinan bisa dikaitkan dengan
kolonialisme
perdagangan
(mercantile
colonialism). Pada zaman dahulu bangsa Eropa
pergi ke negara-negara di Asia Tenggara
mencari komoditas yang mempunyai nilai
dagang tinggi. Umumnya, komoditas yang
dipilih merupakan produk alam di negara asal,
seperti rempah-rempah, sutera dan gula.
Komoditas ini sering didapatkan bukan melalui
perdagangan, tetapi dengan merampas. Karena
komoditas ini dikuasai oleh masyarakat Cina,
maka bangsa Eropa harus mendekati mereka.
(Drakakis-Smith 2000: 35). Pariwisata juga
merupakan
komoditas
ekonomi
yang
menguntungkan karena nilai eksotis, kebutuhan
orang akan rekreasi serta kepentingan politik
negara yang menjadi tujuan pariwisata.
Eksotisme membawa orang kedalam aktivitas
penjelajahan, petualangan dan penemuan baru.
Tidaklah
mengherankan
kalau
eksotisme
kawasan pariwisata ditampilkan dalam bentuk
asli (Spillane 1994: 13-15).
Jelaslah, pecinan terbentuk karena warga
keturunan Cina meraih kesuksesan dalam
perdagangan mereka. Hampir di tiap negara di
semua benua terdapat kelompok masyarakat
Cina yang menghuni dan bekerja di suatu
kawasan tertentu. Ciri khas pecinan ditandai
dengan banyaknya penduduk yang membuka
toko. Mereka menggantungkan hidup dari usaha
toko dan berhasil dengan sukses dalam
perdagangan (Istijanto Oei, 2008).

Perencanaan Pariwisata

Sebuah kota bisa berkembang menjadi tempat


pariwisata melalui berbagai cara. Kebanyakan

114

perencana
memang
dengan
sengaja
mengembangkan
kota
menjadi
tempat
pariwisata karena terdorong untuk menciptakan
lapangan kerja yang baru dan meningkatkan
kesejahteraan kota. Para usahawan dan
pengembang kadang dapat melihat adanya
potensi pariwisata di bagian kota tertentu demi
meraih keuntungan bagi mereka sendiri. Hotel,
tempat seminar, toko, restoran, pusat rekreasi
dan tempat hiburan pun dibangun. Pada
kenyataannya, fasilitas-fasilitas ini lebih banyak
dipakai oleh penduduk setempat daripada
wisatawan. Akhir-akhir ini muncul isu-isu global
tentang lingkungan hidup (environmentalism)
dan isu berkelanjutan (sustainability). Pariwisata
berkelanjutan
(sustainable
tourism)
memperlihatkan sejajar dengan pembangunan
berkelanjutan (Davidson dan Maitland 1999:
208 & 210). Prinsip-prinsip pembangunan
berkelanjutan masih diperdebatkan tentang
pengertian dan apa yang perlu dilakukan
(Goodall dan Stabler 1997 dalam Davidson dan
Maitland
1999:
211).
Supaya
pecinan
berkelanjutan, hal-hal
berikut ini
perlu
diperhatikan:
potensi pariwisata untuk pembaharuan
kondisi populasi pecinan dan keterlibatan
mereka
dalam
perencanaan
dan
manajemen
pengembangan kemitraan untuk perencanaan
dan manajemen pariwisata pecinan.
Perencanaan pariwisata melibatkan banyak
aktor dan pelaksanaannya memerlukan beragam
peraturan.
Perencanaan
ini
memerlukan
karakteristik sebagai berikut:
visi
supaya
pelaksanaannya
tidak
menyimpang;
kemitraan: pemerintah-pemerintah, pemerintahswasta dan swasta-swasta;
cakupan strategi yang luas dan yang
bersifat lintas departemen;
strategi yang action-oriented, non-statutory
dan jangka waktu yang pendek;
penekanan diberikan pada kemitraan dan
project-based organizations.
(Davidson dan Maitland 1999: 220).

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Hierarki Kebutuhan Menurut Maslow

(terkait dengan kebutuhan penyandang cacat)


Maslow (1943 dalam Ross 1998: 28)
mengemukakan lima tingkat dalam hierarki
kebutuhan, yaitu kebutuhan fisiologis, rasa
aman, cinta, penghargaan dan perwujudan
jatidiri (self-actualization). Terkait dengan
penyandang cacat, mereka pun mempunyai
kebutuhan untuk menyatakan diri melalui
kepuasan diri dan perwujudan jatidiri; dalam hal
ini melalui kegiatan pariwisata. Mengapa
penyandang cacat ingin melakukan perjalanan
wisata ? Menurut Dann (1977 dalam Ross 1998:
31-32) ada dua faktor yang membuat mereka
melakukan perjalanan, ialah faktor pendorong
dan faktor penarik. Faktor pendorong membuat
penyandang cacat ingin bepergian, sedangkan
faktor penarik adalah faktor yang memengaruhi
kemana penyandang cacat akan pergi. Dann
berpendapat ada dua alasan pokok yang
membuat orang ingin bepergian, yaitu anomi
dan peningkatan ego (ego enhancement).
Karena orang hidup dalam masyarakat anomi,
ada kebutuhan untuk melakukan interaksi sosial
yang tidak ditemui di tempat tinggalnya. Itu
sebabnya ada kebutuhan untuk pergi jauh dari
lingkungan rumah. Peningkatan ego berasal dari
kebutuhan untuk diakui. Kalau di rumah,
seseorang telah mempunyai posisi tertentu, di
tempat pariwisata ia dapat menjadi orang lain.
Ia dapat melarikan diri ke alam fantasi pada
saat ia berlibur serta memuaskan diri dengan
berbagai jenis perilaku yang mungkin sulit
dilakukan di rumah.
Suatu negara yang mengembangkan industri
pariwisata akan berhadapan dengan beragam
wisatawan. Sumberdaya ekonomi dan kondisi
alam harus sesuai dengan keinginan dan
kebutuhan bermacam orang yang akan
berdarmawisata. Karena tiap negara mempunyai
situasi yang unik, maka kondisi tertentu di suatu
negara tidak serupa dengan kondisi negara lain
(Spillane 1994: 33-34). Biasanya wisatawan
tertarik untuk datang ke suatu lokasi karena ciriciri berikut ini: keindahan alam, iklim yang
nyaman, kebudayaan, sejarah, suku bangsa
tertentu serta aksesibilitas, yaitu kemudahan

Infrastruktur Pecinan (Inge K.)

untuk mengakses lokasi tadi (Spillane 1994: 64).


Bagi penyandang cacat pencapaian yang mudah
ke lokasi wisata dan fasilitas yang aksesibel
didalam lokasi wisata menjadi alasan paling
pokok untuk mau mengunjungi suatu lokasi.

Pecinan
Cacat

dan

Masalah

Penyandang

Di banyak negara, termasuk Indonesia, pecinan


mempunyai daya tarik untuk dikunjungi karena
bermacam alasan, tergantung dari kebutuhan
pengunjung, antara lain: kuliner Cina, rempah
dan obat Cina, tempat peribadatan kelenteng
dan festival sehubungan dengan suatu
peringatan atau perayaan. Pertanyaannya
adalah Apakah infrastruktur kawasan pecinan
memberi kemudahan mobilitas sehingga dapat
dikunjungi oleh penyandang cacat ? Apakah
kawasannya bebas hambatan (barrier-free)
sehingga pemakai kursi roda dapat berkeliling
sendiri tanpa bantuan orang (independent)?
Disabled World (2008) menyebutkan kota
Vancouver di Kanada sebagai salah satu kota
yang paling aksesibel di dunia bagi wisatawan
yang mempunyai keterbatasan mobilitas.
Vancouver juga menjadi salah satu kota di dunia
yang paling culturally-diverse, karena terjadi
pembauran antara berbagai bangsa dan
kebudayaan. Kota ini memiliki Chinatown nomor
dua terbesar di Amerika Utara. Bagi orang yang
memakai kursi roda, yang berjalan dengan
tongkat putih (untuk orang tuna netra), yang
berjalan dituntun anjing atau yang memakai
hearing aids, maka pecinan di Vancouver adalah
tempat yang nyaman dan aman. Tempat-tempat
wisata dan transportasi umum mudah diakses.
Bus kota berlantai rendah dan dilengkapi ram
yang secara mekanis bisa diturunkan supaya
pemakai kursi roda bisa masuk tanpa kesulitan.
Pada tahun 2008 bus terakhir yang tidak dapat
diakses oleh pemakai troli tidak difungsikan lagi.
Jumlah parkir khusus ditambah dan izin parkir
yang dimiliki wisatawan asing berlaku juga di
Vancouver.
Infrastruktur
yang
tidak
mendiskriminasi
pemakai,
memberikan
kebebasan penuh kepada wisatawan cacat
untuk jalan-jalan sendiri dan menikmati

115

Vancouver. Karena kota ini sangat ramah-cacat,


pecinannya mendukung prinsip pariwisata yang
aksesibel.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pecinan di Jakarta dan Bandung

Survei telah dilaksanakan di Jakarta dan


Bandung. Berdasarkan kajian pustaka dan
kompilasi data, isu pecinan tidak hanya
menyangkut soal pelestarian kebudayaan Cina,
tapi juga merupakan bagian dari perencanaan
dan pengembangan kota. Sejauh mana peran
pecinan di sebuah kota, tergantung dari sejarah
terbentuknya kawasan ini dan kontribusi yang
diberikan
kepada
perekonomian
dan
pengembangan
kota
itu.
Karena
yang
diutamakan adalah perekonomian kota, sejak
awal pecinan memang tidak direncanakan
menjadi kawasan yang mudah diakses oleh
penyandang cacat.
Di Jakarta, Glodok-Pancoran menjadi bagian dari
Kota Tua DKI Jakarta yang telah ditata kembali
menjadi kawasan yang banyak dikunjungi
orang. Bagi orang yang tidak menyandang cacat
badan, pencapaian ke Jalan Pancoran mudah.
Dengan berdirinya puluhan toko obat tradisional
Cina, jalan ini menjadi wisata pengobatan atau
wisata belanja obat Cina. Banyak toko obat
dimiliki secara turun temurun, bahkan ada yang
memiliki toko obat lebih dari empat generasi.
Ditambah lagi dengan sejumlah tempat makan
khas Cina, Glodok-Pancoran dapat menyebutkan
diri sebagai kawasan wisata. Faktor yang
mendukung pembentukan pecinan adalah
bahwa kota yang letaknya dekat laut berpotensi
besar
mempunyai
pecinan
yang
terus
berkembang. Demikian pula dengan DKI Jakarta
yang
mengembangkan
pecinan
menjadi
kawasan wisata belanja obat Cina dan kuliner.
Saat ini pecinan ini tidak dapat atau sulit diakses
oleh orang yang mempunyai keterbatasan
dalam mobilitas.
Di
Bandung,
kurang
ada
faktor-faktor
pendukung yang mengembangkan pecinan
menjadi industri pariwisata. Walaupun terdapat
beberapa kawasan yang mayoritas penghuni

116

adalah masyarakat keturunan Cina yang


menjalankan bisnis dengan sukses, namun tidak
sampai menarik wisatawan untuk sengaja
mengunjungi pecinan. Berbeda dengan pecinan
Glodok-Pancoran yang pada tahun 1980an
didatangi sejumlah artis Hong Kong yang
menjadi pelanggan pelbagai restoran. Daya tarik
seperti ini belum kelihatan di pecinan Bandung.
Orang mendatangi pecinan karena suatu
keperluan, bukan karena ingin menikmati hal-hal
yang ditawarkan oleh pecinan. Potensi Bandung
kearah pariwisata ada, sekurangnya kuliner,
mengingat bahwa makanan dan kudapan khas
Cina selalu diminati orang. Di kawasan dengan
mayoritas Cina juga terdapat beberapa toko
obat tradisional Cina, walaupun tidak sebanyak
seperti di Glodok-Pancoran. Pemerintah kota
perlu
membuat
perencanaan
untuk
merevitalisasi pecinan menjadi aksesibel.
Penelitian yang in-depth perlu dilakukan agar
dapat memberikan masukan dan umpan balik
kepada pengambil keputusan dan pembangun
untuk menginklusikan lingkungan yang bebas
hambatan kedalam perencanaan.

Penyandang Cacat dan Desain Bebas


Hambatan

Bagian ini menerangkan mengapa penyandang


cacat memerlukan desain bebas hambatan. Dari
semua jenis kecacatan, penyandang cacat
tunadaksa (cacat pada kaki dan/ atau lengan)
yang paling serius mengalami hambatan
mobilitas. Kelompok tunadaksa dibagi dua subkelompok, yaitu: (lihat UNESCAP 1995: 10-11)
(i) penyandang cacat ambulan. Mereka bisa
jalan tanpa atau dengan alat bantu, seperti
tongkat, penyangga badan, brace atau
walking frame. Kadang mereka memerlukan
bantuan orang untuk mobilitas.
(ii) pemakai kursi roda. Mereka tidak bisa jalan
dan kadang memerlukan bantuan orang.
Untuk mobilitas, mereka tergantung pada
kursi
roda.
Karena
itu,
mereka
membutuhkan lingkungan binaan yang
dilengkapi ram; lif; pegangan tangan; ruang
toilet yang lebih luas; petunjuk yang jelas;
jalan setapak, pintu dan selasar yang lebar.
Fitur-fitur ini membuat pemakai kursi roda

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

mudah memasuki bangunan dan lingkungan


eksternal.
Dalam hal sirkulasi, pergerakan kursi roda
dipandang paling kritis. Penyandang cacat
ambulan, orang tunagrahita, orang tunanetra
dan orang tunarungu tidak memerlukan ruang
seluas seperti yang dibutuhkan orang untuk
memanuver kursi roda (UNESCAP 1995: 11).
Gedung, jalan, trotoar, transpor publik dan
sistem komunikasi merupakan komponen dari
lingkungan binaan. Barrier yang terdapat dalam
komponen
ini
menghambat
mobilitas
penyandang cacat (UNESCAP 1999: 3). Proses
perencanaan, pembangunan dan perancangan
jarang dianalisis sebagai dasar pengembangan
strategi yang baru. Biasanya proses dilakukan
semata-mata sebagai masalah teknis. Bila
perencanaan dan perancangan fisik serta
penyediaan infrastruktur dan transpor umum
dipahami sebagai kegiatan politis, besar
kemungkinan untuk mencapai inti permasalahan.
Sesungguhnya, hasil perencanaan lingkungan
yang positif merupakan konsekuensi dari
beberapa faktor yang menciptakan masyarakat
yang mempunyai perhatian pada kebutuhan
orang (a caring society). Masyarakat yang
demikian mengakui adanya: hak asasi manusia,
proses administratif yang kompleks yang
melibatkan banyak orang dan organisasi, dan
kesadaran untuk memelihara fasilitas setiap
hari. Dalam hal ini sikap terhadap penyandang
cacat dan orang jompo serta integrasi sosial
merupakan faktor-faktor penting (UNESCAP
1995: 1).
Lingkungan binaan merupakan suatu kontinuitas
dari ruang. Desain bebas hambatan berarti
memberikan kepada pemakai kemungkinan
untuk menggunakan ruang dalam proses
kontinuitas, yaitu mampu berjalan atau bergerak
tanpa hambatan. Akan tetapi, hak untuk
menggunakan ruang, atau disebut juga
aksesibilitas, dihambat bukan saja oleh barrier
fisik, tapi juga oleh aturan budaya, sosial dan
ekonomi yang kompleks (ibid.). Misalnya,
tangga yang tidak dilengkapi pegangan tangan

Infrastruktur Pecinan (Inge K.)

pada kedua sisi membuat orang tunadaksa tidak


bisa masuk sebuah gedung.

Sikap Masyarakat Harus Berubah

Karena penyandang cacat dan orang jompo


membentuk sektor populasi yang cukup besar,
pembangun jangan membuat perencanaan yang
memisahkan antara orang yang menyandang
cacat dan orang yang tidak menyandang cacat.
Pendekatan seperti merencanakan lingkungan
untuk penyandang cacat harus ditinggalkan,
karena
pendekatan
seperti
ini
akan
menghasilkan ram yang tidak direncanakan
sejak awal tapi kemudian terpaksa dibangun
dekat sebuah tangga. Bisa jadi menghasilkan
ram yang tidak landai. Penyandang cacat
menghendaki solusi desain yang inklusif yang
mengintegrasilan kebutuhan fisik mereka ketika
pembangun sedang dalam tahap perancangan.
Perlakuan seperti ini menghasilkan lingkungan
binaan yang lebih baik, tidak saja bagi para
penyandang cacat tapi untuk semua kelompok
masyarakat tanpa kecuali (Davies 1999:74-75).
Penyandang cacat tidak bisa lagi dinilai sebagai
model dengan masalah penyakit atau model
mengasihani mereka. Kira-kira satu dekade
yang lalu, berkembang prinsip model sosial dari
kecacatan (social model of disability). Dengan
model sosial ini, sikap masyarakat harus
berubah dari yang tadinya memandang
penyandang cacat sebagai orang sakit dan patut
dikasihani menjadi orang yang mempunyai hak
asasi manusia. Dengan pergeseran nilai seperti
ini, maka faktor yang membuat mereka tidak
bisa mengakses lingkungan binaan bukan
disebabkan kecacatannya melainkan barrier fisik
yang telah dibangun. Seorang penyandang cacat
dapat mengatakan Saya tidak bisa kuliah di
perguruan tinggi ini, karena ada tangga yang
mencegah saya masuk gedung ini. Jadi, para
profesional mempunyai peran besar dalam
membangun lingkungan binaan yang aksesibel.
Semua orang harus dapat mengakses bangunan
tanpa kesulitan dan tanpa bantuan, seperti
orang normal mengakses bangunan. Sebuah
ram harus dengan sendirinya disediakan dan
bukan sesuatu yang harus dimohon supaya

117

dibangun (Imrie 1996 dalam Davies 1999: 76,


terjemahan bebas) (Davies 1999:75-76).

Pecinan yang Aksesibel

Davies (1999:82) menyatakan dengan jelas


bahwa kecacatan dapat dikaitkan dengan
pariwisata dan aktivitas seni. Para pembangun
Kota Swindon, Inggris, berhasil menata
kembali sebuah museum kereta api sehingga
sangat mudah diakses oleh siapa pun, didalam
gedung maupun di lingkungan luarnya. Hal ini
pun bisa dilaksanakan di pecinan yang menjadi
kawasan pariwisata. Dalam proses penataan
kembali dan pembangunan, diselenggarakan
banyak
pertemuan
antara
kelompok
penyandang cacat dan para pembangun
setempat.
Kelompok
penyandang
cacat
bertahan pada prinsip aksesibilitas dan
menolak proposal yang tidak mendukung akses
dan integrasi mereka di masyarakat. Sejak
awal perencanaan, mereka berperan sebagai
penasehat bagi pembangun. Hasilnya, tidak
saja museum mudah diakses, tapi juga
gedung-gedung lain yang akan dibangun
menginklusikan
syarat-syarat
aksesibilitas.
Tempat parkir penyandang cacat ditempatkan
dekat pintu masuk yang ada ram; pintu masuk
dibuat ekstra lebar dan bisa dibuka otomatis
bila pemakai kursi roda menekan suatu tombol.
Sebagai hasil kerjasama antara pemakai dan
para profesional, opini dan usulan pemakai
dipertimbangkan untuk kemudian dilaksanakan.
Kerjasama seperti ini sangat penting, karena
ada desain tertentu yang hanya disadari
pemakai sebagai hambatan, tapi tidak
terpikirkan
tingkat
kesulitannya
oleh
pembangun (Davies 1999: 82-84). Proses
seperti ini patut diikuti dan disesuaikan untuk
mengubah lingkungan fisik pecinan menjadi
aksesibel.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan

Survei yang telah dilakukan di Jakarta dan


Bandung menunjukkan adanya perbedaan yang
signifikan
terhadap
keberadaan
pecinan
sebagai kawasan pariwisata. Memang, pecinan

118

di kota pantai lebih cepat berkembang dan


mudah
diidentifikasi,
karena
lokasinya
merupakan tempat yang mula-mula ditempati
oleh masyarakat Cina yang datang dari negara
asalnya. Dengan jiwa berdagang yang melekat
pada warga Cina, lokasi awal yang ditempati
tentunya akan mengalami perkembangan. Lama
kelamaan terbentuklah suatu pecinan yang
secara fisik mudah dikenal. Tidak demikian
dengan Kota Bandung yang terletak di
pegunungan.
Apa
pun
latar
belakang
terbentuknya pecinan, infrastruktur kawasan ini
dinilai tidak dapat diakses oleh penyandang
cacat.
Definisi tentang pecinan tidak dirumuskan
dengan suatu kepastian. Namun, dari penelitian
ini diambil kesimpulan bahwa suatu kawasan
disebut pecinan apabila kawasan itu mempunyai
karakteristik sebagai berikut:
kawasan didominasi oleh warga keturunan
Cina
adanya aktivitas bisnis
adanya perayaan dan upacara tradisional
Cina.
Secara umum, pecinan adalah kawasan
perdagangan
dan
tempat
makan
yang
mempunyai daya tarik bagi penduduk lokal dan
para wisatawan untuk memenuhi berbagai
keperluan, dari kebutuhan sehari-hari hingga
sekedar melihat-lihat dan makan-makan. Karena
atraktif,
pecinan
perlu
menghapuskan
diskriminasi fisik terhadap semua pengunjung,
lebih-lebih karena pecinan adalah kawasan
pariwisata. Tidak hanya orang non-cacat yang
diperkenankan datang, tetapi juga mereka yang
mengalami hambatan mobilitas berhak datang.
Secara tidak langsung, lingkungan yang penuh
barrier menolak kedatangan penyandang cacat.
Menjadi cacat fisik atau cacat mental bukan
pilihan seseorang. Orang yang sehat dan lincah,
tiba-tiba bisa jatuh dari tangga dan mengalami
kelumpuhan pada kedua kakinya. Akibatnya, ia
harus memakai kursi roda seumur hidup. Itu
sebabnya, penyediaan infrastruktur yang aman
dan mudah dipakai harus secara otomatis diimplementasikan ketika membangun lingkungan
binaan.

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Saran

Untuk mengembangkan pecinan menjadi


kawasan pariwisata, ada empat hal yang perlu
dilakukan,
yaitu
menyusun
masterplan,
mengadakan
sosialisasi,
menyediakan
infrastruktur dan mengembangkan pecinan
(Kompas, 2008).
Masterplan
diperlukan
supaya
arah
revitalisasi dan aksesibilitas pecinan jelas.
Sosialisasi diberikan kepada masyarakat
supaya
memahami
dan
menyadari
pentingnya penataan kembali pecinan.
Penting pula membangkitkan kesadaran
publik bahwa penyandang cacat harus
diperlakukan setara dengan warga lain.
Kalau tidak ada sosialisasi, masyarakat tidak
bisa
mendukung
dan
membantu
kesuksesan revitalisasi dan aksesibilitas.
Misalnya,
penghuni
sebuah
rumah
mengambil inisiatif menjaga rumahnya,
yang merupakan bangunan tua, dengan
memperbaiki rumahnya setiap tahun. Atas
kesadaran sendiri, ia menyediakan biaya
perbaikan rumah.
Infrastruktur
perlu
difasilitasi
oleh
pemerintah dengan membangun jalan,
jaringan listrik, telepon, saluran air bersih.
Karena penyandang cacat mempunyai
kebutuhan khusus, perlu disediakan fasilitas
ram, pegangan tangan pada kedua sisi
tangga dan toilet umum yang luas agar bisa
digunakan oleh pemakai kursi roda dan
orang yang berjalan dengan tongkat
penyangga
(kruk).
Bila
pembangun
mengabaikan Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum 2006 tentang Pedoman Teknis
Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan
Gedung dan Lingkungan, maka perlu ada
sanksi berat. Untuk mengembangkan
pecinan menjadi menarik, perlu ada
aktivitas masa kini, seperti membuka jasa
penginapan, tempat makan, kafe dan
pertokoan.
Pengembangan berbagai faktor pecinan
secara serentak, termasuk sosial dan
budaya,
merupakan
kunci
untuk
menghidupkan pecinan sebagai tempat
wisata.

Infrastruktur Pecinan (Inge K.)

Pemangku
kepentingan
(stakeholders)
diajak berdialog merumuskan konsep.

Penerapan desain universal sangat tepat diimplementasikan di pecinan. Desain ini bukan
merupakan desain untuk penyandang cacat
saja, melainkan semua orang, tanpa kecuali.
Orang harus dapat menggunakannya tanpa ia
merasa dirinya aneh dimasyarakat umum.
Peniadaan barrier menguntungkan bermacam
kelompok sosial supaya mereka mempunyai
kebebasan bergerak di lingkungan fisik dengan
aman. Ram yang landai didepan pintu masuk
hotel tidak saja digunakan wisatawan yang
memakai kursi roda, tapi juga tamu yang
membawa koper. Pecinan yang mudah diakses
tentunya mendukung prinsip pariwisata yang
aksesibel.

DAFTAR PUSTAKA
Accessible Tourism. Wikipedia, the Free
Encyclopedia. Internet dibuka 24 Maret
2009
Davidson, R. dan R. Maitland. 1999. Planning
for Tourism in Town and Cities. Dalam
Greed, C. H. (Ed) Social Town Planning,
London and New York: Routledge, hal. 208220
Davies, L. 1999. Planning for Disability: BarrierFree Living. Di Greed, C. H. (Ed) Social
Town Planning, London and New York:
Routledge, hal. 74-89
Disabled World. 2008, December 12. A Disability
and Seniors Information Community.
Internet dibuka 29 Januari 2009
Drakakis-Smith, D. 2000. Third World Cities
second edition, London and New York:
Routledge
Greed, C. H. (Ed). 1999. Social Town Planning,
London and New York: Routledge
Istijanto Oei. 2008. Rahasia Sukses Toko
Tionghoa, Jakarta: Penerbit PT Gramedia
Pustaka Utama
Kompas. 2008, 16 September. Sejarah Kota
Menanti Senyum Ratu dari Timur , hal. 14
Puslitbang Permukiman, Departemen Pekerjaan
Umum, Kab. Bandung. Laporan Akhir

119

Kegiatan Inovasi 2008 Pecinan di Bandung


sebagai Potensi untuk Industri Pariwisata
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
30/PRT/M/2006, 1 Desember 2006 tentang
Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas
pada Bangunan Gedung dan Lingkungan,
Jakarta: Direktorat Penataan Bangunan dan
Lingkunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya
Ross, G. F.; penerjemah Marianto Samosir.
1998.
Psikologi
Pariwisata,
Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia

120

Travel, disability, law, United Nations. 2008, 21


Maret. Sumbernya : http://blogs.bootsnall.
com/Scott+Rains/tourism-in-the-unitednations-convention-on-the-rights-ofpersons-with-disabilities-crpd.html. Internet
dibuka 26 Mei 2009
UNESCAP (United Nations Economic and Social
Commission for Asia and the Pacific). 1999.
Promotion of Non-Handicapping Physical
Environments for Disabled Persons: pilot
projects in three cities, New York: United
Nations

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

KOMPARASI NILAI PARTIAL-OTTV PADA EAST-WALL


BERBASIS U-VALUE= 2,6 DENGAN U-VALUE= 1,6
Oleh: Wied Wiwoho Winaktoe

Departemen Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia


Kampus Universitas Indonesia Depok 16424, E-mail: woho@mailcity.com
Tanggal masuk naskah: 09 Februari 2009, Tanggal disetujui: 07 April 2009

Abstrak

Secara teoritik, dinding-Timur (obyek simulasi) iklim tropika-lembab dipersyaratkan untuk memiliki nilai
u-value = 2,0 yang sebenarnya sulit tercapai karena struktur dinding yang popular (plester-bata-plester)
cenderung memiliki u-value = 2,6. Peningkatan kuantitas u-value tersebut terkait dengan penurunan
kuantitas resistance value (R) melalui hubungan 1/R = u-value; hal ini berarti bahwa nilai-resistensi
dinding akan (selalu) sulit menahan laju transfer-panas (OTTV-partial). Riset ini ditujukan untuk
mendefinisikan dampak u-value > 2,0 (yakni 2,6) atau u-value < 2,0 (yakni 1,6) terhadap OTTV-partial,
kasus dinding-Timur bangunan gedung. Prosedur riset mencakup sejumlah tahapan, yakni: (a) model
dinding-Timur yang bernilai u-value >2 (yakni 2,6) dan WWR = 0,40 diformulasi lalu divisualisasikan
menggunakan Ecotect v5.50; (b) model dinding-Timur yang bernilai u-value < 2 (yakni 1,6) dan WWR
= 0,40 diformulasi lalu divisualisasikan menggunakan Ecotect v5.50, (c) dinding-Timur dengan uvalue=2,6 menjadi input dalam OTTV ver 1; kalkulasi partial OTTV menghasilkan nilai 21,28 W/m 2, (d)
dinding-Timur dengan u-value=1,6 menjadi input dalam OTTV ver 1; kalkulasi partial OTTV
menghasilkan nilai 12,95 W/m2. Konklusi: U-value < 2 menghasilkan partial OTTV lebih kecil ketimbang
u-value > 2; oleh karena itu struktur ber-u-value < 2 menerima transfer-panas parsial jauh lebih kecil
karena memiliki resistensi panas yang jauh lebih besar
Kata-kunci : Termal, transmitansi, u-value, dinding, OTTV

Abstract

Theoretically, East-wall (object of simulation) in hot-humid climate was required to had u-value of 2,0
which was difficult to obtain since the structure of popular wall (plaster-brick-plaster) would reach uvalue of 2,6. The increasing quantity of u-value denoted the decreasing quantity of resistance value (R)
since 1/R = u-value meanwhile the consequence of the increasing u-value towards heat-transmittance
value is interesting to find because u-value contributes to overall thermal transmittance value (OTTV). It
was therefore this research was directed to find the impact of either u-value > 2,0 (i.e. 2,6) or u-value
< 2,0 (i.e. 1,6) towards the OTTV at East-wall.
Procedures involved certain steps: (a) modelling East-wall with u-value of 2,6; (b) modelling East-wall
with u-value of 1,6; (c) put u-value of 2,6 into partial OTTV calculation using software of OTTV v1; (d)
put u-value of 1,6 into partial OTTV calculation using software of OTTV v1.
Results are (1) u-value of 2,6 produces partial OTTV of 21,28 W/m 2 and (2) u-value of 1,6 produced
partial OTTV of 12,95 W/m2. These come up with the conclusions that (1) u-value < 2,0 tends to
produce smaller partial OTTV compared to u-value > 2,0 and (2) the smaller u-value being created then
the smaller heat-transmittance will be at the partial OTTV of East-wall.
Keywords : Thermal, transmittance, u-value, wall, OTTV

Komparasi Nilai Partial (Wied Wiwoho W.)

121

INTRODUKSI
Iklim Tropika-Lembab

Indonesia terdeskripsi sebagai region beriklim


tropika lembab yang bercirikan radiasi tinggi
(>900 W/m2) (Olgyay 1963:175) namun
velositas angin yang tak stabil di pusat kota ( 0
m/det atau >30 m/det) (Satwiko, et al, 2000).
Tropika lembab merupakan iklim yang tersulit
untuk ditangani dari sudut desain termal; variasi
diurnal sering mencapai 5-7 deg C, bahkan
kurang dari nilai tersebut. Hal terbaik yang
dapat dicapai oleh desainer ialah memastikan
bahwa kondisi indoor tak lebih buruk daripada
kondisi outdoor yang menerima peneduhan
(Szokolay 1980:334). Pada tropika lembab 68%
beban termal berada di atas ambang thermal
comfort; overheated period terjadi pada 9.0015.00 saat global irradiance mencapai 800
wh/m2 (Santosa, 2000).
Partial OTTV
OTTV merupakan prosedur standar mengenai
konservasi energi yang menetapkan bahwa
panas yang memasuki suatu selubung bangunan
harus bernilai 45 W/m2. Perihal konservasi
energi maka tema ini merupakan standar yang
mesti dipenuhi dalam praktik jasa-konstruksi
dan desain bangunan gedung (Anonim 1998);
ketentuan yang sama sebenarnya telah
ditunjukkan oleh sejumlah referensi dalam dunia
praktik profesi Arsitek Amerika, misal referensi
tentang analisis ekonomi energi(Anonim 1982a),
HVAC, teknik evaluasi energi bangunan, energi
dan rekayasa tapak(Anonim 1982d), atau
analisis energi (Watson, 1993).
Ketetapan mengenai OTTV telah wajib
diterapkan sejak 1993 (Anonim 1993);
selanjutnya standar ini disempurnakan pada
tahun 2000 (Anonim 2000) yang kian
mengukuhkan peran vital prosedur ini dalam
praktik rancang-bangun. Ekuasi OTTV yang
paling mutakhir memuat sejumlah variabel yang
nilai-nilainya dapat diperoleh melalui tetapan
tertentu (default) maupun kalkulasi sesuai
kondisi tertentu (customize).

122

Partial OTTV (OTTVi) merupakan kalkulasi OTTV


pada faade tertentu yang menjadi input
lanjutan dalam total OTTV (kalkulasi OTTV pada
seluruh selubung). Rumus partial OTTV yakni:
OTTVi

[(Uw x (1-WWR)] x TDek + (SC x


WWR x SF) + (Uf x WWR x T)

Nomenklatur

= absorbtansi radiasi matahari


Uw

= transmitansi termal dinding tak


tembus cahaya (Watt/m2.K).
Nilai Uw didapatkan dari rumus
Uw=1/Rtotal (resistivitas). Nilai Rtotal
didapatkan dari jumlah R, R=t/k.
Dimana t adalah tebal bahan dan k
adalah konduktivitas. Nilai t dan k
berdasarkan jenis lapisan luar
dinding yang dipakai.
WWR = perbandingan luas jendela dengan
luas seluruh dinding luar pada
orientasi yang ditentukan.
WWR=luas jendela/luas dinding tak
tembus cahaya.
TDEk
SC

= beda temperatur ekuivalen (K).


= koefisien
fenetrasi.

peneduh

dari

sistem

Mempunyai nilai tetap SC=0,5.


SF

= faktor radiasi matahari (W/m2)

Uf

= transmitansi
(W/m2.K).

termal

fenestrasi

Nilainya didapatkan dengan metode


perhitungan yang sama dengan Uw.
T

= beda
temperatur
perencanaan
antara bagian luar dan bagian
dalam.
T = 5 deg C.

U-value merupakan salah satu input yang paling


membutuhkan rutinitas dalam kalkulasi OTTVi;
memahami kecenderungan implikatif dari uvalue terhadap OTTVi pada fase pra-kalkulasi
maupun
pada
fase
penentuan
strategi

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

pengendalian nilai OTTV akan sangat membantu


desainer agar sejak awal merancang komponen
dinding
yang
mampu
mereduksi
nilai
perpindahan panas.
Software OTTV ver1
Prosedur kalkulasi partial OTTV maupun total
OTTV sangat menguras energi dan waktu;
pada sisi lain, pengabaian terhadapnya takkan
membawa manfaat apapun karena OTTV
merupakan sarana konservasi energi pada
bangunan gedung, bahkan di sejumlah negara
ASEAN, OTTV menjadi persyaratan wajib untuk
memperoleh Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).
Berdasar hal tersebut software OTTV ver 1
(Winaktoe,
2008)
diformulasi
guna
meningkatkan kapabilitas desainer perihal
pemetaan
nilai
perpindahan-panas
dan
menemukan lokus serta variabel yang
berpotensi sebagai solusi problem OTTV.

TEORI
Keseluruhan bangunan sebaiknya berbobot
ringan guna mempermudah pendinginan saat
malam, yakni pada waktu suhu-tinggi sangat
sulit ditoleransi ketimbang pada waktu siang
hari. Dinding Timur dan Barat sebaiknya (a)
tak memuat jendela guna mempersulit
penetrasi radiasi dari altitude-rendah matahari,
(b) memiliki permukaan reflektif, (c) insulasi
resistif (Szokolay 1980:334).
Pada iklim yang memiliki rentang suhu-tinggi,
dinding eksternal sebaiknya menyertakan
kalkulasi time lag guna memoderasi suhu
internal (Evans 1980:101). Demi respon yang
cepat serta kapasitas penyimpanan-panas yang
rendah maka ketebalan dinding homogen
sebaiknya < 100mm (lebih diprioritaskan bila
bernilai < 75mm meski terdapat kesulitan
penerapannya). (Evans 1980:101)
Pada tropika-lembab, konstruksi dinding yang
ringan pula tipis akan sangat ideal bila
dipergunakan pada ruang tidur karena
pendinginan secara cepat dibutuhkan saat
malam (Givoni, 1998:397). Pada ruang yang
dimanfaatkan siang hari maka kemampuan

Komparasi Nilai Partial (Wied Wiwoho W.)

penyimpanan-panas yang tinggi akan menjadi


faktor yang menguntungkan karena ia akan
meredukasi peningkatan suhu udara internal.
Pada ruang yang dimanfaatkan saat siang, sore,
dan malam (misal: ruang keluarga, dapur, serba
guna) maka dinding internal yang ringan
sangatlah diprioritaskan sebagai pilihan. (Evans
1980:102)
Tabel 1 .
Properti Termal Dinding
di Iklim Tropika Lembab
Element, Climate and
Condition

U
Value

q/l

Time
lag

West wall

2.0

3.0

0-5

East, south and north


walls

2.0

4.0

0-5

Walls shaded from direct


solar radiation

2.8

0-14

(Sumber: EVANS 1980: 98)

ARAH DAN TUJUAN RISET


Tabel 1 menunjukkan bahwa East wall (obyek
simulasi; Lihat sub bab Obyek Riset)
dipersyaratkan untuk memiliki u-value = 2,0;
nilai tersebut sulit dipenuhi secara konvensional
karena struktur-dinding yang populer (plesterbata-plester) cenderung memiliki u-value= 2,6
(Gbr 2). Informasi dari peningkatan nilai u-value
hanya mendeskripsikan bahwa nilai resistensi
panas (R) kian mengecil (1/R = u-value)
sedangkan konsekuensi dari peningkatan uvalue terhadap perpindahan panas belumlah
diketahui. Oleh karena itu riset ini diarahkan
untuk mengetahui konsekuensi u-value > 2
(yakni 2,6) dan u-value < 2 (yakni 1,6) terhadap
perpindahan panas pada dinding tersebut, yakni
partial OTTV.

METODE RISET
Obyek Riset

Model simulasi merupakan East-wall yang


berada pada sembarang ruang (dummy) dalam
konteks latitude 7 LS; posisi matahari pada jam
10.00 W.I.B., Maret. (Gbr 1)

123

Alat Simulasi

Deskripsi mengenai struktur material East-wall


divisualisasikan menggunakan software Ecotect
v.5.50; sedangkan untuk menghitung U-value
East-wall
serta
partial
OTTV
maka
dipergunakanlah software OTTV ver 1 (2008).

Prosedur

(a). Model East-wall yang bernilai U-value >2


(yakni 2,6) diformulasi lalu divisualisasikan
menggunakan Ecotect v5.50. (Gbr 2);
nilai WWR = 0,40
(b). Model East-wall yang bernilai
Uvalue < 2 (yakni 1,6) diformulasi lalu
divisualisasikan
menggunakan
Ecotect
v5.50. (Gbr 4); nilai WWR = 0,40
(c). East-Wall dengan u-value=2,6 menjadi
input dalam OTTV ver 1; kalkulasi partial
OTTV menghasilkan nilai 21,28 W/m2. (Gbr
3)
(d). East-Wall dengan u-value=1,6 menjadi
input dalam OTTV ver 1; kalkulasi partial
OTTV menghasilkan nilai 12,95 W/m2. (Gbr
6)

Gbr 1. Konteks Klimatik East-Wall


(Sumber: Ecotect v.5.50)

Gbr 2. Struktur East-Wall, U-Value= 2,6


(Sumber: Penulis menggunakan
Ecotect v.5.50, 2008)

124

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Gbr 3. Kalkulasi U-Value= 2,6 untuk


Partial OTTV
(Sumber: Penulis menggunakan
OTTV v.1, 2008)

Gbr 6. Kalkulasi U-Value= 1,6 untuk


Partial OTTV
(Sumber: Penulis menggunakan
OTTV v.1, 2008)

HASIL DAN DISKUSI


Simulasi
menggunakan
OTTV
ver
1
menunjukkan bahwa u-value 2,6 Watt/m2K
menghasilkan partial OTTV pada facade East
sebesar 21,28 W/m2; pada sisi lain u-value 1,6
Watt/m2K menghasilkan partial OTTV pada
facade East sebesar 12,95 W/m2 .

Gbr 4. Struktur East-Wall, U-Value= 1,6


(Sumber: Penulis menggunakan
Ecotect v.5.50, 2008)

Komparasi Nilai Partial (Wied Wiwoho W.)

Hal tersebut menunjukkan bahwa pada u-value


< 2 (standar u-value untuk East-wall; lihat Tabel
1), yakni 1,6 maka transfer-panas parsial lebih
kecil daripada transfer-panas parsial pada uvalue > 2, yakni u-value = 2,6. Oleh karena itu
penggunakan struktur pada gambar 4 yang
menyertakan insulasi fibre pra-cetak (Gbr 4)
dapat dikatakan menerima panas lebih kecil
ketimbang struktur konvensional tanpa insulasi
(Gbr 2).

125

Hasil-hasil ini selaras dengan hubungan


kasualistik yang diperlihatkan oleh ekuasi OTTVi,
yakni bahwa u-value berbanding lurus dengan
partial OTTV.
Berdasar algoritma yang
dibangun dalam kalkulasi u-value dapat dinalar
bahwa semakin besar nilai
u-value maka
semakin kecil nilai resistensi panas suatu
komponen (R); pada kasus nilai u-value 1,6 (R
= 0,60) 2,6 (R = 0,39) maka dapat dinyatakan
bahwa struktur pada gambar 4 yang
menyertakan insulasi fibre pra-cetak (Gbr 4)
lebih mampu menahan panas ketimbang
struktur konvensional tanpa insulasi (Gbr 2).

KONKLUSI
U-value < 2 menghasilkan partial OTTV lebih
kecil ketimbang u-value > 2; oleh karena itu
struktur ber-u-value < 2 menerima transferpanas parsial jauh lebih kecil karena memiliki
resistensi panas yang jauh lebih besar.

Gbr 7. U-Value= 2,6


OTTV Partial = 21,28 W/m2
(Sumber: Penulis menggunakan
OTTV v.1, 2008)

Gbr 8. U-Value= 1,6


OTTV Partial = 12,95 W/m2
(Sumber: Penulis menggunakan
OTTV v.1, 2008)

126

PERSANTUNAN
Penulis mengucapkan terimakasih kepada (1)
Euis
Marlina
yang
telah
membantu
mengembangkan proposal OTTV, (2) Raditya
Jati, S. Si., M. Si. yang menularkan ide tentang
Decision Support System,
(3) Abdul Aziz,
S. T. yang berbagi informasi tentang genetic
algorithm, dan (4) Agus Haryadi, S.T. yang telah
berkenan berbagi informasi tentang software
teknologi bangunan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1992. Pedoman Tata Cara Perancangan
Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.
Bandung: Departemen Pekerjaan Umum,
Badan
Penelitian
dan
Pengembangan
Permukiman.
Anonim. 1993. SK SNI T-14-1993-03 tentang
Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi
Energi pada Bangunan Gedung. Bandung:
Yayasan LPMB, Departemen Pekerjaan
Umum.
Anonim. 1998. Keputusan Menteri Pekerjaan
Umum
Republik
Indonesia,
Nomor:
441/KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknis
Bangunan Gedung. Jakarta: Penerbit PU.
Anonim. 2000. SNI 03-6389-2000 tentang
Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.
Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Baruch Givoni. 1998. Climate Considerations In
Building and Urban Design. New York: Van
Nostrand Reinhold.
Donald Watson. 1993. The Energy Design
Handbook. Washington: The American
Institute of Architects Press.
Martin Evans. 1980. Housing, Climate, and
Comfort. London: The Architectural Press
Limited.
Mas Santosa, 18 November 2000. Arsitektur
Surya, Sebuah Fenomena Spesifik untuk
Daerah Tropis Lembab. Surabaya: U.K.
Petra.
Prasasto Satwiko, Soesilo Budi Leksono, O.Th.
Kristantoro. 2000/2001. Proposal Collaborative
Research Grant Program: Pengembangan
Sistem Ventilasi Atap Tenaga Angin dan Surya
(SIVATAS). Yogyakarta: Universitas Atmajaya.

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

S.V. Szokolay. 1980. Environmental Science


Handbook for Architects and Builders.
England: The Construction Press Ltd.
Victor Olgyay. 1963. Design with Climate. USA:
Princeton University Press.

Komparasi Nilai Partial (Wied Wiwoho W.)

Wied Wiwoho Winaktoe. 2008. Laporan Akhir


Penelitian Regular: Model Komputasional
Overall
Thermal
Transmittance
Value
(OTTV). Surakarta: Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat, UMS.

127

METODE ANALISA DATA VARIABEL SOSIAL BIDANG PERMUKIMAN


Oleh: Yulinda Rosa

Pusat Litbang Permukiman, Jl. Panyawungan Cileunyi Wetan - Kab. Bandung 40393
E-mail: yulindar@yahoo.co.id
Tanggal masuk naskah: 03 Maret 2009, Tanggal disetujui : 19 Juni 2009

Abstrak

Pembangunan perumahan dan permukiman yang berkelanjutan adalah suatu konsep pembangunan
dengan mempertimbangkan tiga pilar yaitu: ekonomi, sosial dan lingkungan. Analisa sosial merupakan
hal yang penting dilakukan untuk mendapatkan pembangunan perumahan dan permukiman yang
berkelanjutan. Terdapat dua metode analisa data secara statistik yaitu deskriptif dan induktif. Metode
analisa deskriptif merupakan tahap awal untuk melakukan analisa induktif. Hasil analisa deskriptif
memberikan gambaran untuk sejumlah objek yang diteliti, tidak dapat digeneralisasi untuk kelompok
yang lebih besar. Data variabel sosial bidang permukiman merupakan data kualitatif. Untuk data
variabel sosial bidang permukiman yang diukur melalui kuesioner tertutup terstruktur, analisa deskriptif
dilakukan dengan terlebih dahulu membuat distribusi frekwensi. Beberapa metode yang biasa digunakan
dalam pembuatan distribusi frekwensi variabel sosial, diantaranya adalah dengan menggunakan nilai
skor kumulatif dari seluruh item yang digunakan untuk mengukur variabel tersebut, dan metode
strugles. Ukuran letak dan ukuran penyebaran yang digunakan dalam analisa deskriptif data kualitatif
variabel sosial bidang permukiman adalah rata-rata, modus, persentase, proporsi sebagai ukuran letak,
sedangkan ukuran penyebaran diukur melalui nilai range (selisih nilai terbesar dan terkecil). Ukuran
rata-rata dalam analisa data kualitatif variabel sosial bidang permukiman diwakili melalui ukuran modus.
Metode analisa deskriptif yang digunakan dalam pembahasan ini adalah melalui pembuatan distribusi
frekwensi dengan menggunakan nilai skor kumulatif seluruh item yang digunakan untuk mengukur
variabel tersebut.
Kata kunci : Variabel sosial, data kualitatif, kuesioner, analisa deskriptif, skor kumulatif

Abstract

Housing and residential sustainable development is a concept of development by considering the three
pillars, economic, social and environmental. Social analysis is important to make sustainable
development of housing and settlement. There are two methods of statistical analysis of data that is
descriptive and inductive. Descriptive method of analysis is to conduct the initial phase of inductive
analysis. Descriptive analysis results provide a number of objects examined, that can not be
generalized for larger groups. Variable data of the structured social settlement is qualitative data. Data
for the residential areas of social variables measured through the closed questionnaire, descriptive
analysis is done by first making a frequency distribution. Some methods use in creating the frequency
distribution of social variables such as using the value of the cumulative score of all items used to
measure these variables, and the strugles method. Location and dispertion measurement used in
descriptive analysis of qualitative data field of variable data social settlement is the average, mode,
proportion, percentage, as the location measurement, while the dispersion measurement is value range
(difference between largest and smallest values). Average measurement in qualitative data analysis of
the social variable of the settlement is represented by mode. Descriptive method of analysis used in this
discussion is through the making of the frequency distribution, using the value of the cumulative score
of all items used to measure these variables.
Keywords : Social variable, qualitative data, questionnaire, descriptive analysis, cumulative score

128

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

PENDAHULUAN
Pembangunan perumahan dan permukiman
berkelanjutan
adalah
pembangunan
perumahan dan permukiman yang dilakukan
dengan mempertimbangkan tiga pilar yaitu:
ekonomi, lingkungan hidup dan sosial
(Deklarasi Johanesburg) secara holistik. Dalam
pembangunan perumahan dan permukiman
yang berkelanjutan, lingkungan hidup adalah
sumber daya yang dimanfaatkan untuk
kepentingan manusia. Dalam pemanfaatan ini
sumber daya akan mengalami perubahan.
Namun perubahan sumber daya harus disertai
dengan usaha agar fungsi ekologinya dapat
berlanjut (Soemarwoto, 2006).
Faktor sosial merupakan satu dari tiga pilar
yang perlu dipertimbangkan secara holistik,
untuk
mencapai
suatu
pelaksanaan
pembangunan perumahan dan permukiman
dalam rangka
memenuhi kebutuhan akan
tempat tinggal bagi manusia (masyarakat) saat
ini, dengan tetap menjaga kualitas lingkungan.
Pembangunan
tersebut
tetap
dapat
dimanfaatkan oleh generasi yang akan datang
untuk
memenuhi
kebutuhan
hidupnya.
Penelitian bidang sosial merupakan suatu hal
penting
yang
perlu
dilakukan
untuk
memberikan solusi terhadap permasalahan
sosial yang terkait dengan pembangunan
perumahan dan permukiman. Pengukuran,
pengolahan dan analisa data merupakan
tahapan yang umumnya dilakukan dalam
penelitian sosial.
Tingkat
akurasi
dan
objektivitas
hasil
pengukuran variabel sosial, sangat dipengaruhi
oleh ketepatan dalam memilih alat (instrumen)
yang digunakan dan cara menggunakan
instrumen
tersebut
ketika
melakukan
pengukuran. Alat ukur variabel sosial pada
umumnya belum distandarkan, oleh karena itu
ketika akan melakukan pengukuran terlebih
dahulu dibuat alat ukurnya.
Langkah selanjutnya dilakukan pengolahan
data. Saat ini berbagai program komputer yang
dapat digunakan untuk membantu pengolahan
data, sehingga dapat dilakukan dengan cepat

Metode Analisa Data (Yulinda Rosa)

diantaranya adalah Exel, SPSS, Systat, dan


Microstat.
Dalam tulisan ini akan dibahas Metode Analisa
Data Variabel Sosial Bidang Permukiman, yang
merupakan
langkah
lanjutan
(setelah
pengukuran dan pengolahan data) yang perlu
dilakukan, untuk mendapatkan kesimpulan dari
hasil penelitian.
Permukiman di bangun untuk memenuhi
kebutuhan manusia akan tempat tinggal.
Adanya kelompok manusia (masyarakat), maka
tidak
akan
terlepas
dengan
adanya
permasalahan sosial. Keamanan lingkungan
merupakan salah satu persyaratan yang harus
di penuhi dan menjadi tuntutan sekelompok
manusia
yang
tinggal
di
lingkungan
permukiman. Persyaratan keamanan berkaitan
dengan aman dari segala bencana yang
mungkin terjadi, seperti aman terhadap
bencana kebakaran, aman terhadap bencana
banjir, aman terhadap bencana longsor dan
bencana lainnya.
Dalam
mencapai
keamanan
lingkungan
terhadap bahaya bencana kebakaran di
lingkungan permukiman, khususnya untuk
permukiman
padat,
adanya
keterlibatan
masyarakat merupakan salah satu langkah
penting yang perlu dipertimbangkan. Ditambah
lagi dengan adanya keterbatasan sarana dan
prasarana lingkungan yang ada di permukiman
padat,
dan
terbatasnya
kemampuan
pemerintah (SDM dan peralatan terbatas)
untuk menangani bencana tersebut, maka
keterlibatan masyarakat menjadi lebih penting
lagi.

Maksud

Melakukan analisa data variabel sosial bidang


permukiman (studi kasus persepsi masyarakat
terhadap keterlibatan mereka dalam penanggulangan
kebakaran
di
lingkungan
permukiman) yang diukur melalui alat ukur
kuesioner. Kuesioner tersebut terdiri dari itemitem pertanyaan dengan pilihan jawaban dari
setiap item pertanyaan telah ditentukan
(instrumen kuesioner tertutup terstruktur).

129

Tujuan

Mendapatkan informasi dari data yang telah


dikumpulkan, sesuai dengan tujuan yang telah
dirumuskan dalam penelitian .

TINJAUAN PUSTAKA
Fase Analisa Data secara Statistik

Metode analisa data yang digunakan dalam


penelitian sosial, tergantung dari informasi
yang dikehendaki dari penelitian tersebut.
Menurut Sudjana (1982), terdapat dua fase
metoda analisa data secara statistik yaitu
analisa deskriptif dan induktif. Penentuan
metode analisa data yang akan digunakan
tergantung dari tujuan penelitian, metode
tersebut yaitu:
1) Analisa data deskriptif adalah suatu teknik
analisa
yang
berfungsi
untuk
mendeskripsikan
atau
memberikan
gambaran terhadap obyek yang diteliti
(berupa data dari sampel atau populasi)
apa adanya, tanpa memberikan atau
membuat kesimpulan yang berlaku untuk
umum. Analisa pada tahap ini sering
digunakan sebagai tahap awal dalam
melakukan analisa data secara induktif.
2) Analisa data induktif adalah suatu metode
yang digunakan dalam rangka melakukan
penarikan kesimpulan dari jumlah objek
penelitian terbatas (sampel) ke dalam
suatu objek penelitian yang lebih besar
(populasi).
Analisa
data
induktif
merupakan tahap lanjutan dari analisa
data deskriptif. Penarikan kesimpulan
secara umum ini dapat dilakukan bila data
yang diteliti (data sampel) memenuhi
persyaratan dalam pengambilan objek
penelitian yang representatif (data sampel
harus
dapat
menggambarkan
data
populasi) dari seluruh objek penelitian
yang ada (populasi).

Variabel Sosial

Objek telaahan penelitian sosial adalah gejalagejala sosial (social phenomena) atau
kenyataan-kenyataan sosial
(social fact)
seperti:
kemiskinan,
kegotong-royongan,

130

konflik,
motivasi,
kepatuhan,
kesetiaan,
kedisiplinan, persepsi dan lain sebagainya
(Faisal, 2005). Permasalahan sosial merupakan
salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan
dalam pengadaan perumahan dan permukiman
bagi masyarakat. Pengukuran permasalahan
sosial dilakukan melalui variabel-variabel yang
yang
membentuknya.
Variabel
adalah
karakteristik unit amatan yang menjadi
perhatian
yang
nilainya
dimungkinkan
bervariasi antara satu unit amatan dengan unit
amatan yang lain (Sitinjak & Sugiarto, 2006).
Karakteristik unit amatan yang dijadikan
pengamatan dalam penelitian permasalahan
sosial adalah karakteristik yang terkait dengan
permasalahan sosial yang telah dirumuskan
dalam tujuan penelitian.
Sedangkan permasalahan sosial menurut
Korotayev
(2006), dapat dikategorikan
menjadi 4 (empat) jenis faktor, yaitu: 1) faktor
ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran,
dan lain-lain; 2) faktor budaya seperti
perceraian, kenakalan remaja, dan lain-lain; 3)
faktor biologis seperti penyakit menular,
keracunan makanan, dan lain-lain; 4) faktor
psikologis seperti penyakit saraf, stres,
persepsi,
partisipasi,
dan
lain-lain.
Permasalahan sosial dapat diukur melalui
variabel-variabel yang membentuk faktor
permasalahan sosial. Variabel yang membentuk faktor permasalahan sosial diturunkan
melalui teori atau pendapat para ahli (Rosa,
2008).

METODOLOGI
Metode analisa data yang akan digunakan
dalam penelitian ini adalah Metode analisa data
kualitatif. Dalam tulisan ini akan dibahas
metode analisa data statistik pada fase
deskriptif untuk data kualitatif dengan
menggunakan frekuensi kumulatif, diukur
melalui alat ukur (instrumen) kuesioner, yang
umumnya digunakan dalam penelitian sosial.
Alat ukur (instrumen) faktor sosial yang
umumnya
digunakan
adalah:
angket
(kuesioner), pedoman wawancara, panduan
observasi, form pencatatan dokumen, dan

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

soal-soal dalam tes (Faisal, 2005). Pengukuran


dilakukan terhadap objek penelitian setelah
alat ukur (instrumen) yang tepat dibuat.
Penelitian dilakukan terhadap sampel dipilih
secara studi kasus, berdasarkan masukan
para ahli (Dinas Pemadam Kebakaran dan
kelurahan). Beberapa hal yang dijadikan
sebagai bahan pertimbangan adalah sampel
terletak di lokasi padat, dan pernah diberikan
program pemerintah terkait dengan partisipasi
masyarakat
dalam
penanggulangan
kebakaran di lingkungan permukiman melalui
pembentukan organisasi SATLAKAR (Satuan
Relawan Kebakaran). Terdapat dua program
yang pernah diberikan oleh pemerintah, yaitu
dalam bentuk peningkatan pengetahuan yang
dilakukan melalui penyuluhan dan bantuan
peralatan
(pompa
jinjing ringan,
alat
pemadam api ringan (APAR). Sejumlah sampel
yang diambil dari lokasi pemilihan dilakukan
secara acak.
Untuk mempermudah dalam pembahasan, di
bawah ini akan diuraikan analisa terhadap
salah satu faktor permasalahan sosial di
lingkungan
permukiman
yaitu
persepsi
masyarakat
terhadap keterlibatan mereka
dalam
penanggulangan
kebakaran
di
lingkungan permukiman. Permasalahan ini
muncul karena tingginya kejadian kebakaran
di lingkungan permukiman padat penduduk,
khususnya di DKI Jakarta. Kejadian kebakaran
di permukiman padat DKI Jakarta rata-rata
dua sampai tiga kali sehari (Dinas Pemadam
Kebakaran,
2006)
dan
terbatasnya
kemampuan pemerintah khususnya Dinas
Pemadam Kebakaran dalam menanggulangi
kejadian kebakaran sehingga dibutuhkan
peran serta masyarakat. Perilaku masyarakat
bersedia untuk terlibat dalam kegiatan
penanggulangan kebakaran di lingkungannya
sangat
tergantung
pada
pembentukan
persepsi positif di masyarakat terhadap
kegiatan tersebut. Persepsi yang baik dan
benar diperlukan, sebab persepsi merupakan
dasar pembentukan sikap yang akan berlanjut
pada perilaku. Thorndike (1968) dikutip oleh
Harihanto (2004).

Metode Analisa Data (Yulinda Rosa)

METODE
ANALISA
PERSEPSI
MASYARAKAT TERHADAP KETERLIBATAN
MEREKA DALAM PENANGGULANGAN
KEBAKARAN
DI
LINGKUNGAN
PERMUKIMAN
Penyediaan lahan merupakan unsur utama yang
dibutuhkan dalam pengadaan perumahan dan
permukiman. Dengan adanya pembangunan
terjadi perubahan fungsi lahan menjadi lahan
perumahan. Dalam pemanfaatan lahan untuk
perumahan
dan
permukiman
harus
dipertimbangkan tiga pilar yaitu: ekonomi,
lingkungan hidup dan sosial. Lahan beserta
unsur-unsur yang ada di dalam dan di atas
lahan merupakan sumber daya yang dapat
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Sumber daya alam termasuk lahan,
jumlahnya terbatas. Keterbatasan ini semakin
terasa bila
pembangunan dilakukan di
perkotaan, sehingga menimbulkan banyak
permasalahan. Berbagai program pemerintah
diciptakan untuk mencapai pembangunan
perumahan dan permukiman berkelanjutan.
Salah satunya melalui program pemeliharaan
keamanan lingkungan dengan penyertaan
masyarakat, yaitu penyertaan masyarakat dalam
penanggulangan kebakaran di lingkungan
permukiman.
Program partisipasi masyarakat dalam penanggulangan kebakaran di lingkungan permukiman,
diawali dengan pelaksanaan sosialisasi untuk
menyamakan persepsi antara pemerintah dan
masyarakat. Pelaksanaan sosialisasi diadakan
untuk membentuk persepsi positif di masyarakat
terkait dengan program ini. Untuk mengetahui
gambaran persepsi masyarakat terhadap
keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan
kebakaran di lingkungan permukiman, dilakukan
penyebaran kuesioner terhadap 40 (sampel
awal) responden yang tinggal di RW-02,
Kelurahan Kampung Rawa yang berjumlah
2.407 orang. Kelurahan Kampung Rawa
merupakan salah satu dari tujuh kelurahan yang
digolongkan rawan bencana yang berada di
wilayah Jakarta Pusat. Kelurahan Kampung
Rawa dipilih sebagai lokasi penelitian atas saran

131

dari Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta.


Karena kelurahan ini sudah diberikan seluruh
program pemerintah terkait dengan pembinaan
masyarakat,
untuk
terlibat
dalam
penanggulangan kebakaran di lingkungannya
melalui pembentukan organisasi SATLAKAR
(Satuan Relawan Kebakaran), serta bantuan
dalam bentuk peralatan sederhana untuk
pemadaman kebakaran tahap awal berupa
pompa jinjing ringan, alat pemadam api ringan
(APAR). Tujuan dari pembinaan masyarakat
tersebut adalah untuk membentuk persepsi
yang baik dan benar (persepsi positif), terkait
dengan
pelibatan
masyarakat
dalam
penanggulangan kebakaran di lingkungannya.
Untuk mengetahui hasil dari sosialisasi yang
telah dilakukan, perlu dievaluasi, salah satunya
dengan mengetahui persepsi masyarakat
terhadap pelibatannya dalam penanggulangan
kebakaran di lingkungan tempat tinggalnya.
Sedangkan pemilihan RW 02, karena RW ini
terletak di lokasi padat penduduk. Penentuan
40 orang (KK) responden dilakukan berdasarkan
pertimbangan keterbatasan dana, tenaga dan
waktu, serta sampel awal tersebut cukup untuk
memberikan informasi awal kondisi Kelurahan
Kampung Rawa (masukan dari Dinas Pemadam
Kebakaran dan Lurah Kampung Rawa).
Terhadap data yang terkumpul, dilakukan
analisa secara deskriptif, sedangkan analisa
selanjutnya yaitu analisa induktif berada di luar
pembahasan tulisan ini.

ANALISA DESKRIPTIF PERSEPSI


MASYARAKAT TERHADAP KETERLIBATAN
MEREKA DALAM PENANGGULANGAN
KEBAKARAN
DI
LINGKUNGAN
PERMUKIMAN
Beberapa metode analisa data deskriptif yang
umumnya digunakan adalah : ukuran letak
dilihat melalui besaran modus, median, mean,
desil, persentil. Sedangkan untuk ukuran variasi
kelompok dilihat melalui besaran simpangan
baku, varians, dan rentang. Hasil analisa data
deskriptif
memberikan
informasi
untuk
memberikan gambaran dari sejumlah sampel
yang diambil, tanpa melakukan generalisir untuk

132

kelompok yang lebih besar. Berdasarkan data


dari 40 responden yang diambil sebagai sampel
awal, didapatkan hasil analisa deskriptif akan
diuraikan di bawah ini.
Untuk mengukur persepsi masyarakat terhadap
keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan
kebakaran di lingkungan permukiman terlebih
dahulu perlu dibuat alat ukur. Alat ukur yang
akan digunakan adalah kuesioner dengan itemitem pertanyaan dan alternatif jawaban yang
telah
ditentukan.
Pembuatan
item-item
pertanyaan dilakukan berdasarkan tahapan
sebagai berikut:
1) Penentuan kawasan indikator ukur persepsi
masyarakat terhadap keterlibatannya dalam
penanggulangan kebakaran di lingkungan
permukiman. Penentuan kawasan indikator
ini dilakukan berdasarkan teori. Persepsi
masyarakat terhadap lingkungan terbentuk
melalui proses kognisi, afeksi dan konasi
(Haryadi & B. Setiawan, 1995);
2) Penyusunan item-item pertanyaan dalam
kuesioner
diturunkan
dari
indikatorindikator kognisi, afeksi dan konasi dalam
keterlibatan
masyarakat
terhadap
penanggulangan kebakaran di lingkungan
permukiman dan keterlibatan masyarakat
dalam penanggulangan kebakaran di
lingkungan permukiman.
3) Tingginya kejadian kebakaran di lingkungan
permukiman (DKI Jakarta 746 kali pada
tahun 2004), dan lebih dari 90% terjadi di
lingkungan permukiman yang padat. Ciri-ciri
umum untuk lokasi permukiman padat
adalah terbatasnya sarana dan prasarana
(jalan,
air
dan
saluran
drainase)
permukiman. Kondisi lingkungan seperti ini
menyebabkan sulitnya bantuan pemadam
kebakaran (mobil pemadam) tiba di lokasi
kebakaran. Disamping itu terbatasnya
sarana dan prasarana serta personal
pemadam kebakaran membuat bantuan
barisan pemadam kebakaran datang
terlambat ke lokasi bencana, sehingga
kejadian bencana kebakaran besar tidak
dapat dihindari. Melihat kondisi ini, maka
perlu dicari solusi untuk menurunkan
frekwensi
kejadian
kebakaran,
salah

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

4)

satunya melalui pelibatan masyarakat


dalam penanggulangan kebakaran di
lingkungannya. Masyarakat di sekitar lokasi
bencana kebakaran lebih dekat dan dapat
lebih
cepat
melakukan
pemadaman
kebakaran di lingku-ngannya. Oleh karena
itu melalui Dinas Pemadam Kebakaran
dengan dibantu oleh pejabat/personil
kelurahan
dan
kecamatan,
serta
Departemen Pekerjaan Umum dibuat
program pelibatan masyarakat dalam
penanggulangan kebakaran dilingkungan
tempat tinggalnya, melalui pembentukan
organisasi SATLAKAR (Satuan Relawan
Kebakaran). Salah satu dari program ini
adalah membentuk persepsi positif di
masyarakat kaitan dengan organisasi
SATLAKAR. Hal tersebut dilakukan dengan
meningkatkan kesadaran masyarakat akan
pentingnya
menjaga
lingkungannya
terhadap bahaya bencana kebakaran, dan
memberikan pengetahuan pada masyarakat
kaitan dengan pemadaman awal ketika
terjadi
kebakaran.
Untuk
mencegah
terjadinya kebakaran besar, yang dilakukan
melalui kegiatan sosialisasi.
Berdasarkan informasi tersebut, disusun 26
item pertanyaan untuk mengukur persepsi
masyarakat
terhadap
penanggulangan
kebakaran di lingkungan permukiman,
dengan lima alternatif jawaban yang telah
ditentukan untuk setiap item (kuesioner
terstruktur dan tertutup).

Penentuan besar nilai ukuran-ukuran variabel,


untuk mempermudah dalam mendapatkan nilai
yang
tepat,
terlebih
dahulu
data
dikelompokkan dalam tabel distribusi frekuensi.
Beberapa cara yang biasa digunakan untuk
membuat
tabel
distribusi
frekwensi,
diantaranya adalah metode strugles, dan
aturan nilai skoring kumulatif.
Dalam tulisan ini akan dibahas penentuan
distribusi frekwensi dengan menggunakan nilai
skoring
kumulatif.
Pengukuran
persepsi
masyarakat terhadap keterlibatan masyarakat
dalam
penanggulangan
kebakaran
di
lingkungan permukiman, dilakukan melalui 26

Metode Analisa Data (Yulinda Rosa)

item pertanyaan yang telah disebarluaskan


pada 40 orang responden. Dengan alternatif
jawaban untuk masing-masing item adalah :
1) Benar sekali, ketika responden menyatakan
sangat mendukung terhadap pernyataan
yang diberikan.
2) Benar, ketika responden menyatakan
mendukung terhadap pernyataan yang
diberikan.
3) Ragu-ragu, ketika responden menyatakan
menerima saja pernyataan yang diberikan.
4) Salah, ketika responden menyatakan
menolak pernyataan yang diberikan
5) Salah sekali, ketika responden menyatakan
sangat menolak terhadap pernyataan yang
diberikan.
Dengan nilai skor untuk masing-masing
alternatif jawaban untuk kalimat positif
(pernyataan benar) adalah sebagai berikut :
No.
1
2
3
4
5

Alternatif Jawaban
Salah sekali
Salah
Ragu-ragu
Benar
Benar sekali

Skoring
1
2
3
4
5

Dan untuk kalimat negatif (pernyataan salah)


adalah sebagai berikut :
No.
1
2
3
4
5

Alternatif Jawaban
Salah sekali
Salah
Ragu-ragu
Benar
Benar sekali

Skoring
5
4
3
2
1

Dengan menggunakan garis bilangan dapat


digambarkan sebagai berikut :
Nilai skor dalam skala pengukuran ordinal
Untuk kalimat pernyataan positif
1
2
3
4
5
Salah
Sekali

Salah

Raguragu

Benar

Benar
Sekali

133

Untuk kalimat pernyataan negatif


1
2
3
4
Benar
Sekali

Benar

Raguragu

hanya berlaku untuk responden tersebut, tidak


dapat ditarik untuk kelompok yang lebih besar
(deskriptif). Interpretasi hasil analisa deskriptif
berdasarkan total skor adalah sebagai berikut :

Salah

Salah
Sekali

Tabel 1.
Interpretasi Analisa Deskriptif Persepsi
Masyarakat terhadap Partisipasi Masyarakat
dalam Penanggulangan Kebakaran Berdasarkan
Total Skor (Kelas Interval)
Kelas
Interpretasi Analisa
Interval
Deskriptif terhadap Persepsi
Total Skor
Masyarakat
26 38
Sangat Salah
39 64
Salah
65 92
Cukup
93 116
Baik
117 130
Sangat Baik

Skor kumulatif nilai dari ke-26-item tersebut


adalah :
Skoring/
Item
1
2
3
4
5

No.
1
2
3
4
5

26

39*

52

Skoring Kumulatif
Untuk 26 Item
26
52
78
104
130

65*

Kalimat positif :
Salah
Salah
Sekali

78

93*

Raguragu

Kalimat negatif :
Benar
Benar
RaguSekali
ragu

104

117*

130

Benar

Benar
Sekali

Salah

Salah
Sekali

Nilai skor minimal 26, di dapatkan bila seorang


responden mendapatkan nilai skor 1 untuk
setiap item pernyataan. Nilai maksimal 130,
didapatkan bila responden mendapatkan nilai
skor 5 untuk setiap item pernyataan. Namun
dalam kenyataannya nilai minimal (persepsi
rendah sekali/persepsi salah sekali) dan
maksimal (persepsi tinggi sekali/persepsi benar
sekali) ini jarang sekali terjadi. Umumnya nilai
total skor responden, yang menyatakan nilai
skor kumulatif setiap responden untuk ke-26
item pernyataan, berada diantara nilai minimal
dan maksimal. Total nilai skor setiap responden
menggambarkan persepsi responden tersebut
terhadap
partisipasi
masyarakat
dalam
penanggulangan kebakaran di lingkungan
permukiman.

Keterengan :
* Nilai tengah kumulatif antara dua skor,
sebagai contoh 39 merupakan nilai skor
kumulatif tengah-tengah antara skor 26 dan
52.
Garis bilangan ini dapat digunakan untuk
menganalisa setiap responden. Hasil analisa

Tabel 2.
Hasil Kodifikasi Data Lapangan Uji Coba Kuesioner Pengukuran Persepsi Masyarakat
terhadap Penanggulangan Kebakaran di Permukiman dari 40 orang Responden di Jakarta
Variabel Presepsi

No
Res

Nomor Item
1

69

75

76

64

88

134

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Total

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Lanjutan Tabel 2
Variabel Presepsi

No
Res

Nomor Item
1

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Total
2

65

71

65

61

10

96

11

84

12

71

13

58

14

59

15

60

16

66

17

85

18

72

19

60

20

66

21

62

22

92

23

78

24

63

25

60

26

69

27

69

28

76

29

77

30

66

31

77

32

64

33

83

34

71

35

58

36

88

37

68

38

79

39

87

40

79

Sumber: Data Lapangan Tahun 2006

Metode Analisa Data (Yulinda Rosa)

135

Tabel 3.
Interpretasi Analisa Deskriptif Persepsi Masyarakat
terhadap Partisipasi Masyarakat dalam
Penanggulangan Kebakaran Berdasarkan Total Skor
untuk 40 Orang Responden
No.
Res

Total
Skor

Kesimpulan

No.
Res

Total
Skor

69

Cukup

21

62

Salah

75

Cukup

22

92

Cukup

76

Cukup

23

78

Cukup

64

Salah

24

63

Salah

88

Cukup

25

60

Salah

65

Cukup

26

69

Cukup

71

Cukup

27

69

Cukup

65

Cukup

28

76

Cukup

61

Salah

29

77

Cukup

10

96

Baik

30

66

Cukup

11

84

Cukup

31

77

Cukup

12

71

Cukup

32

64

Salah

13

58

Salah

33

83

Cukup

14

59

Salah

34

71

Cukup

15

60

Salah

35

58

Salah

16

66

Cukup

36

88

Cukup

17

85

Cukup

37

68

Cukup

18

72

Cukup

38

79

Cukup

19

60

Salah

39

87

Cukup

20

66

Salah

40

79

Cukup

Kesimpulan

Untuk melihat ukuran letak dapat dicari dengan


terlebih dahulu membuat distribusi frekwensi,
dengan menggunakan distribusi frekwensi
berdasarkan kelas interval yang telah ditentukan
pada tabel 1.
Tabel 4.
Distribusi Frekwensi Persepsi Masyarakat terhadap
Penanggulangan Kebakaran di Lingkungan
Permukiman untuk 40 Responden
Kelas
Analisis
Persen
Interval Total
f
Deskriptif
(%)
Skor
Persepsi
26 - 38

39 - 64

11

27,5

Sangat Salah
Salah

65 92

28

70

Cukup Baik

93 116

2,5

Baik

117 - 130

Sangat Baik

Analisa deskriptif berdasarkan 40 responden,


hanya dapat menggambarkan
untuk 40

136

responden, tidak dapat digeneralisir untuk


kelompok yang lebih besar. Dari hasil analisa
deskriptif berdasarkan tabel diatas adalah :
70% responden mempunyai persepsi cukup baik
berkaitan dengan persepsi terhadap partisipasi
masyarakat dalam penanggulangan kebakaran
di lingkungan permukiman; Sedangkan 27,5%
responden mempunyai persepsi yang masih
salah. Kepada 27,5% responden tersebut masih
perlu diberikan informasi untuk memperbaiki
persepsi saat ini; dan 2,5% mempunyai persepsi
yang baik terhadap penanggulangan kebakaran
di lingkungan permukiman. Jadi untuk 40
responden di atas dapat digambarkan bahwa
sebagian besar sudah mempunyai persepsi
cukup baik terhadap penanggulangan kebakaran
di lingkungan permukiman.
Data yang dikumpulkan merupakan data
berbentuk kategori dengan skala pengukuran
ordinal. Ukuran letak yang yang biasa digunakan
untuk data kualitatif adalah nilai modus. Nilai
modus merupakan nilai dengan frekwensi data
tertinggi. Nilai modus dalam data kualitatif
sekaligus memberikan informasi nilai rata-rata.
Jadi rata-rata persepsi masyarakat dalam
penanggulangan kebakaran di lingkungan
permukiman adalah cukup baik, ditentukan
berdasarkan nilai frekwensi modus (frekwensi
terbanyak). Penentuan nilai rata-rata dan modus
dengan menggunakan rumus distribusi frewensi
tidak memberikan informasi yang cukup berarti
untuk data yang berbentuk data kualitatif, jadi
hal ini tidak perlu dilakukan. Sedangkan untuk
mendapatkan gambaran penyebaran data cukup
didapatkan melalui nilai range, yaitu selisih
antara nilai terbesar dan terkecil. Informasi
penyebaran data yang diberikan melalui ukuran
varians atau simpangan baku tidak memberikan
informasi yang cukup berarti.
Tiga tahapan proses yang membentuk persepsi
masyarakat dalam penanggulangan kebakaran
di lingkungan permukiman yaitu: kognisi, afeksi
dan konasi. Analisa deskriptif untuk ketiga faktor
tersebut akan diuraikan di bawah ini.

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Analisa Deskriptif Faktor Kognisi,


Afeksi dan Konasi terhadap Persepsi
Masyarakat dalam Penanggulangan
Kebakaran di Lingkungan Permukiman

Item-item proses kognisi, meliputi item-item


yang digunakan untuk mengukur pemahaman/
pengetahuan
masyarakat;
Proses
afeksi,
meliputi item-item yang digunakan untuk
mengukur keinginan/ nilai-nilai yang ada dalam
diri masyarakat; Sedangkan item-item proses
konasi, meliputi item-item yang digunakan untuk
mengukur
tindakan
yang
diambil
oleh
masyarakat. Terdapat 12 item pernyataan yang
digunakan untuk mengukur proses kognisi, yaitu
item 1, 2, 5, 8, 9, 10, 12, 13, 18, 21, 22, 24; 8
item pertanyaan untuk mengukur proses afeksi;
dan 6 pertanyaan untuk mengukur proses
konasi (Rosa, 2008).
Skor kumulatif untuk ketiga proses: kognisi
(diukur oleh 12 item); afeksi (diukur oleh 8
item); konasi (diukur oleh 6 item) adalah
sebagai berikut :
NO

Skoring/
Item

1
2
3
4
5

1
2
3
4
5

Skoring Kumulatif
Kognisi
Afeksi
Konasi
12
24
36
48
60

8
16
24
32
40

6
12
18
24
30

Garis bilangan untuk proses kognisi


12

18*

24

30*

Kalimat positif :
Salah
Salah
Sekali
Kalimat negatif :
Benar
Benar
Sekali

36

42*

48

54*

60

Raguragu

Benar

Benar
Sekali

Ragu-

Salah

Salah
Sekali

Garis bilangan untuk proses afeksi


8
16
24
32
40
12*
20*
28*
36*

Metode Analisa Data (Yulinda Rosa)

Kalimat positif :
Salah
Salah
Sekali

Raguragu

Benar

Benar
Sekali

Kalimat negatif :
Benar
Benar
Sekali

Raguragu

Salah

Salah
Sekali

Garis bilangan untuk proses konasi


6
12
18
24
30
9*
15*
21*
27*
Kalimat positif :
Salah
Salah
Sekali

Raguragu

Benar

Benar
Sekali

Kalimat negatif :
Benar
Benar
RaguSalah
Salah
Sekali
ragu
Sekali
Keterangan :
* Nilai tengah kumulatif antara dua skor.
Interpretasi hasil analisa deskriptif berdasarkan
total skor adalah sebagai berikut:
Tabel 5.
Interpretasi Analisa Deskriptif Proses Kognisi, Afeksi,
Konasi Persepsi Masyarakat terhadap Partisipasi
Masyarakat dalam Penanggulangan Kebakaran
Berdasarkan Total Skor (Kelas Interval)
Kelas Interval Total Skor untuk
Interpretasi
Ketiga Proses
Persepsi
Kognisi
Afeksi
Konasi
12 17
8 - 11
6-8
Sangat Salah
18 29
12 - 19
9 - 14
Salah
30 41
20 - 27
15 - 20
Cukup
42 53
28 - 35
21 26
Baik
54 60
36 - 40
27 - 30
Sangat Baik

Nilai skor kumulatif untuk setiap kelas interval


dari ketiga proses pembentukan persepsi yaitu
kognisi, afeksi dan konasi berbeda-beda. Nilai
skor kelas total (kumulatif) ditentukan oleh
jumlah item pernyataan yang digunakan untuk
mengukur proses tersebut, oleh karena itu skor
kelas interval untuk setiap proses berbeda.
Interpretasi nilai skor untuk masing-masing
proses berbeda-beda, harus berdasarkan skor
kelas interval. Lebih lengkap, kriteria nilai skor
kelas interval untuk masing-masing proses
dapat dilihat pada tabel 5 di atas, beserta
interpretasi untuk masing-masing kelas.

137

Interpretasi setiap proses persepsi untuk setiap


responden dapat dilihat pada tabel 6 di bawah
ini.

ketiga proses tersebut, dapat dicari dengan


terlebih dahulu membuat tabel distribusi dengan
kelas interval seperti pada tabel 5.

Tabel 6.
Interpretasi Analisa Deskriptif Untuk Ke-tiga Proses
Persepsi Masyarakat terhadap Partisipasi Masyarakat
dalam Penanggulangan Kebakaran Berdasarkan
Total Skor 40 Orang Responden
Proses Persepsi
No.
Kognisi
Afeksi
Konasi
Res
Inter
Inter
Inter
Skor
Skor
Skor
pretasi
pretasi
pretasi
1
28
Salah
20
Cukup
21
Baik
2
35
Cukup
24
Cukup
16 Cukup
3
33
Cukup
26
Cukup
17 Cukup
4
29
Salah
19
Salah
16 Cukup
5
46
Baik
21
Cukup
21
Baik
6
30
Cukup
21
Cukup
14
Salah
7
34
Cukup
20
Cukup
17 Cukup
8
34
Cukup
15
Salah
16 Cukup
9
28
Salah
16
Salah
17 Cukup
10 50
Baik
23
Cukup
23
Baik
11 43
Baik
23
Cukup
18 Cukup
12 35
Cukup
23
Cukup
13
Salah
13 36
Cukup
12 Sangat Salah 10
Salah
14 29
Salah
16 Sangat Salah 14
Salah
14 29
Salah
16 Sangat Salah 14
Salah
15 29
Salah
16 Sangat Salah 15 Cukup
16 31
Cukup
21
Cukup
14
Salah
17 37
Cukup
29
Baik
19 Cukup
18 33
Cukup
22
Cukup
17 Cukup
19 31
Cukup
16 Sangat Salah 13
Salah
20 32
Cukup
19
Salah
15 Cukup
21 32
Cukup
16 Sangat Salah 14
Salah
22 46
Baik
22
Cukup
24
Baik
23 38
Cukup
20
Cukup
20 Cukup
24 32
Cukup
15 Sangat Salah 16 Cukup
25 29
Salah
17 Sangat Salah 14
Salah
26 32
Cukup
23
Cukup
14
Salah
27 33
Cukup
20
Cukup
16 Cukup
28 36
Cukup
20
Cukup
20 Cukup
29 37
Cukup
22
Cukup
18 Cukup
30 30
Cukup
22
Cukup
14
Salah
31 38
Cukup
24
Cukup
15 Cukup
32 30
Cukup
21
Cukup
13
Salah
33 41
Cukup
22
Cukup
20 Cukup
34 34
Cukup
20
Cukup
17 Cukup
35 28
Salah
15 Sangat Salah 15 Cukup
36 47
Baik
21
Cukup
20 Cukup
37 32
Cukup
24
Cukup
12
Salah
38 41
Cukup
21
Cukup
17 Cukup
39 46
Baik
21
Cukup
20 Cukup
40 36
Cukup
26
Cukup
17 Cukup

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dari 40


responden yang diambil, untuk proses kognisi
dapat digambarkan bahwa 10% responden
masih mempunyai pemahaman yang tidak
sesuai dengan pemahaman yang telah
dirumuskan
dalam
sasaran
program
pelaksanaan
sosialisasi;
sedangkan
75%
masyarakat memiliki pemahaman yang cukup;
dan sisanya 15% responden sudah mempunyai
persepsi yang baik (mempunyai pemahaman
sesuai dengan sasaran yang diharapkan).

Gambaran secara keseluruhan untuk ketiga


proses persepsi dari ke-40 responden, dapat
dilihat melalui ukuran letak. Ukuran letak untuk

Harihanto (2004 mengutip Thorndike 1968)


responden yang mempunyai pemahaman yang
cukup memenuhi untuk terlibat dalam program

138

Untuk proses afeksi, yaitu nilai-nilai yang


semestinya dimiliki oleh masyarakat, dari ke 40
responden dapat digambarkan bahwa 30%
responden masih mempunyai pemahaman yang
tidak sesuai dengan sasaran; sisanya 67,5%
responden mempunyai nilai-nilai yang cukup
memenuhi harapan sesuai sasaran program,
dan 2,5% sudah mempunyai nilai-nilai sesuai
sasaran.
Tabel 6.
Distribusi Frekwensi Proses Kognisi, Afeksi dan
Konasi dalam Persepsi Masyarakat terhadap
Penanggulangan Kebakaran di Lingkungan
Permukiman
Kelas
Analisis
f
%
Interval
Deskriptif
Proses Kognisi
P
12 17
0
0
Sangat Salah
r
18 29
7
10
Salah
o
30 - 41
24
75
Cukup
s
42 53
6
15
Baik
e
54 - 60
0
0
Sangat Baik
s
Proses Afeksi
8 11
0
0
Sangat Salah
12 19
12
30
Salah
P
20 27
27
67,5
Cukup
e
28 35
1
2,5
Baik
r
36 - 40
0
0
Sangat Baik
s
Proses Konasi
e
68
0
0
Sangat Salah
p
9 14
12
30
Salah
s
15 20
24
60
Cukup
i
21 26
4
10
Baik
27 - 30
0
0
Sangat Baik

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

partisipasi masyarakat dalam penanggulangan


kebakaran di lingkungan permukiman, kondisi
tersebut diharapkan dapat membentuk nilai-nilai
yang sesuai sasaran program. Dengan memiliki
nilai-nilai tersebut, diharapkan dapat mendorong
responden agar mempunyai keinginan untuk
terlibat dalam kegiatan partisipasi.
Persentase
responden
yang
mempunyai
keinginan untuk berpartisipasi berjumlah 70%.
Apakah nilai tersebut dihasilkan melalui proses
sesuai dengan teori, atau bukan ? Artinya,
apakah dari 90% responden yang telah
mempunyai pemahaman cukup sesuai dengan
sasaran program, ternyata 70% dapat diserap
oleh responden untuk selanjutnya dapat
membentuk nilai-nilai sesuai sasaran yang
diharapkan, dengan nilai-nilai yang sudah
dimiliki dapat mendorong responden tersebut
untuk berkeinginan turut berpartisipasi yaitu
sejumlah 70%.
Untuk mendapatkan jawaban tersebut tidak
dapat dilakukan melalui analisa deskriptif.
Penelitian
harus
dilanjutkan,
dengan
menggunakan metode analisa induktif, yaitu
melalui pengujian rumusan hipotesis. Dalam
tulisan ini tidak dilakukan pembahasan untuk
analisa induktif, jadi materi tersebut di luar dari
pembahasan tulisan ini.

KESIMPULAN DAN SARAN


1)

2)

Berdasarkan hasil analisa deskriptif dari 40


responden, dapat disimpulkan bahwa
27,5% responden masih mempunyai
persepsi yang tidak sesuai dengan yang
telah dirumuskan dalam sosialisasi terhadap
partisipasi masyarakat dalam penanggulangan
kebakaran di lingkungan permukiman;
sedangkan sisanya 72,5% responden sudah
mempunyai pemahaman yang cukup sesuai
(baik) dan sesuai dengan pemahaman yang
telah dirumuskan program.
Persepsi responden terhadap partisipasi
masyarakat
dalam
penanggulangan
kebakaran dibentuk melalui tiga tahapan
(proses) yaitu: proses kognisi, afeksi dan
konasi.

Metode Analisa Data (Yulinda Rosa)

3)

4)

5)

Gambaran ketiga proses dalam persepsi,


berdasarkan data lapangan dari 40
responden adalah 90% responden sudah
mempunyai pemahaman (proses kognisi)
yang cukup dan telah sesuai dengan yang
dirumuskan
dalam
sosialisasi;
70%
responden cukup dan telah mempunyai
nilai-nilai (afeksi) sesuai dengan sasaran;
dan 70% responden cukup dan telah
mempunyai
keinginan
untuk
turut
berpartisipasi
dalam
penanggulangan
kebakaran di lingkungan permukiman.
Interpretasi yang dihasilkan dari analisa
deskriptif tidak dapat digeneralisir untuk
kelompok yang lebih besar, karena rumus
yang digunakan dalam tahap ini bukan
merupakan rumus taksiran untuk populasi,
jadi hanya berlaku untuk sejumlah
responden yang diambil.
Untuk mengetahui gambaran yang dapat
digeneralisir untuk kelompok yang lebih
besar, perlu dilanjutkan dalam fase analisa
data (secara statistik) tahap selanjutnya
yaitu fase induktif.

DAFTAR PUSTAKA
Harihanto. 2004. Persepsi Masyarakat terhadap
Air Sungai Lingkungan & Pembangunan 24
(3): 171 186.
Dinas Pemadam Kebakaran. 2002. Kegiatan
Kampanye
Pemberdayaan
Masyarakat
dalam Penanggulangan Kebakaran. Jakarta.
Faisal, S. 2005. Format-format Penelitian Sosial.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Korotayev dkk. 2006. Introduction to Social
Macrodynamics. Moscow: URSS.
Rosa. 2008. Validitas Instrumen Ukur Variabel
Sosial
Bidang
Permukiman
Jurnal
Permukiman 3(4):263 279.
Sitinjak Tumpal JR dan Sugiarto. 2006. Lisrel.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Soemarwoto. 2006. Pembangunan Berkelanjutan.
Bandung: Universitas Padjadjaran.
Sudjana. 1982. Metode Statistika. Bandung:
Tarsito.
Sugiyono. 1999. Metode Penelitian Administrasi.
Bandung: Alfabet.

139

KEEFEKTIFAN PENGOLAHAN ANTARA ABU TERBANG DENGAN


KARBON AKTIF TERHADAP KEBUTUHAN OKSIGEN KIMIA (KOK),
WARNA DAN LOGAM BERAT AIR LINDI SAMPAH
Oleh : Tibin R Prayudi

Pusat Libang Permukiman Jl.Panyaungan Cileunyi Wetan-Kab.Bandung 40393


E-mail : aatbn@yahoo.com
Tanggal masuk naskah: 20 Januari 2009, Tanggal disetujui: 21 Agustus 2009

Abstrak

Penelitian pengolahan air lindi sampah dengan menggunakan abu terbang dan karbon aktif pada dosis
tertentu dilatarbelakangi oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mott dan Weber (1992),
Viraraghavan dan Alfaro (1994), Vijender Sahu , R. P. Dahiya, K. Gadgil .(2005), yang menghasilkan
bahwa abu terbang dapat menurunkan kandungan KOK, warna dan logam berat air buangan rumah
tangga. Penelitian eksperimental di laboratorium dilakukan dengan pengadukan abu terbang dan karbon
aktif dengan air lindi sampah pada kecepatan 100 rpm selama satu jam, pada dosis 15, 25, 35, 50, 100
dan 150 mg/liter. Hasil pengadukan didiamkan selama 30 menit lalu diperiksa Kebutuhan Oksigen Kimia
(KOK), Warna dan Logam Beratnya. Efektifitas abu terbang dan karbon aktif ditentukan pada
perbandingan persentase perubahan parameter air baku dengan air hasil pengadukan air lindi sampah
dengan abu terbang dan karbon aktif. Dari analisis data atau pembahasan ternyata dengan pemakaian
abu terbang dapat menurunkan kandungan KOK sampai 100 %, dapat menurunkan kandungan warna
sampai 99,72 %, menambah kandungan Fe sebesar 27,39%, menurunkan kandungan Zn sampai
91,57 %, dan menurunkan kandungan Cu sebesar 94,02 %, sedangkan dengan pemakaian karbon aktif
penurunan KOK hanya 4,62 %, memperbesar kandungan warna, sebesar 14,47 %, menurunkan
kandungan Fe sampai 27,65 %, menurunkan kandungan Zn hanya 40,76 %, menurunkan kandungan
Cu hanya 21,31%. Jadi pemakaian abu terbang akan lebih efektif dalam menurunkan KOK, warna,
Zn,dan Cu air lindi, sedangkan karbon aktif lebih efektif dalam menurunkan Fe air lindi.

Kata Kunci : Abu terbang, karbon aktif, air lindi, kebutuhan oksigen kimia (KOK)

Abstract

Several investigations (Mott and Weber, 1992; Viraraghavan and Alfaro, 1994, Vijender Sahu , R. P.
Dahiya, K. Gadgil .2005) explored the use of fly ash and activated carbon as an adsorbent for the
treatment of wastewater to remove a variety of organic compounds, colour, and heavy metal. However,
a review of the literature showed that very little investigation has been conducted to find out the
suitability of fly ash or activated carbon for the removal of COD, colour and heavy metal from the
leachate. The batch experiments were run in different glass flask of 500 ml capacity using the stirring
speed on 100 rpm. A known volume of sample was treated with different doses of fly ash or activated
carbon 15, 25, 35, 50, 100 and 150 mg/litre. By using fly ash as an adsorbent, the COD removal was
up to 100 %, Colour removal was 99,72 %, , Zn removal was 91,57 %, Cu removal was 94,02 %, and
increased the Fe content to 27,39 %. Compared to utilization the activated carbon as adsorbent, the
results obtained were : COD removal was 4,62 %, Fe removal was 27,65 %, Zn removal was 40,76
%, Cu removal was 21,31%, but colour was increase to 14,47 %. It could be concluded that fly ash is
more effective adsorbent for decreasing COD, Colour, Zn and Cu concentration in leachate but activated
carbon is more effective for decreasing Fe concentration in leachate.

Keywords: Fly ash, activated carbon, leachate, chemical oxygen demand (COD)

140

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Kandungan Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK)


atau Chemical Oxygen Demand (COD) dan
warna pada air lindi sampah ditimbulkan oleh
adanya zat organik, sehingga pengukuran
parameter KOK dan warna pada air lindi
sampah merupakan salah satu indikator yang
diuji dalam mengukur karakteristik air lindi
sampah. Bila kandungan KOK, warna, logam
berat
ini mencemari sumber air yang
dikonsumsi oleh masyarakat maka akan menim
bulkan
penurunan
kondisi
kesehatan
masyarakat.
Penelitian sebelumnya mengenai penggunaan
abu terbang untuk mengolah air buangan
rumah tangga telah dilakukan oleh Mott dan
Weber (1992), Viraraghavan dan Alfaro (1994),
Vijender Sahu , R. P. Dahiya, K. Gadgil .(2005),
yang menghasilkan bahwa abu terbang dapat
menurunkan kandungan KOK, warna dan
logam berat air buangan rumah tangga.
K.Vasanth Kumar dan kawan-kawan (2004),
serta Vijender Sahu , R. P. Dahiya, K. Gadgil
.(2005), telah melakukan penelitian, yang
menghasilkan bahwa karbon aktif dapat
menurunkan KOK air buangan rumah tangga
dengan metoda pengujian secara adsorpsi.
Dengan latar belakang penelitian yang sudah
dilaksanakan
tersebut,
maka
dilakukan
penelitian untuk melihat efektifitas abu terbang
dan karbon aktif dalam mengolah air lindi
sampah. Penerapan abu terbang dan karbon
aktif untuk mengolah air lindi sampah melalui
proses adsorpsi dilakukan dengan cara
menbubuhkan abu terbang atau karbon aktif
ke dalam air lindi sampah lalu diaduk pada
waktu dan kecepatan tertentu
merupakan
suatu
inovasi teknologi yang diperkirakan
dapat mengurangi zat organik yang diukur
sebagai KOK, warna, dan logam berat air lindi
sampah.
Karbon aktif
dipakai sebagai pembanding
untuk abu terbang, karena karbon aktif sudah
umum dipakai sebagai bahan pengolahan air
buangan.

Keefektifan Pengolahan (Tibin R. P.)

Rumusan Masalah

Membandingkan efektifitas antara abu terbang


dan karbon aktif yang digunakan sebagai bahan
pengolahan air lindi sampah dalam mengurangi
kandungan KOK , warna, dan logam berat
yang terkandung pada air lindi sampah.

Tujuan dan Sasaran Penelitian

Tujuan penelitian adalah mendapatkan informasi


tentang :
- perubahan kandungan zat organik
- perubahan warna
- perubahan logam berat,
pada air lindi sampah setelah dicampur dengan
abu terbang dan karbon aktif

Sasaran Penelitian

Memanfaatkan abu terbang sebagai bahan


pengolahan zat organik,
warna, dan logam
berat pada air lindi sampah.

KAJIAN PUSTAKA
Karakteristik Air Lindi Sampah

Air lindi banyak mengandung beban polutan


dibandingkan dengan air kotor rumah tangga
atau buangan cair dari industri. Karakteristik air
lindi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
tipe dan ketinggian sampah ditimbun, umur
sampah, kecepatan pengaliran air, desain dan
operasi pengolahan di Tempat Pembuangan
Akhir sampah, dan keterkaitan air lindi dengan
lingkungannya. Kandungan organik air lindi
secara umum diukur melalui parameter
Kebutuhan Oksigen Biologi (KOB), atau
Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK). Komposisi air
lindi dengan umur penimbunan sampah satu,
lima dan 16 tahun tercantum pada tabel 1.

Tabel 1.
Komposisi Air Lindi Sampah
Umur Landfill
Parameter
BOD
COD
pH

1
Tahun
7,50028,000
10,00040,000

5
Tahun
4,000

16
Tahun
80

8,000

400

6,3

141

Lanjutan Tabel 1
Umur Landfill
Parameter
TDS
TSS
Alkalinity
(CaCO3)

1
Tahun
5,2-6,4
10,00014,000
100-700

Total P

800-4,000

NH4-N

25-35

Nitrate

5-482

Calcium

0.2-0.8

Chloride

900-1,700

Sodium

600-800

Potassium

450-500

Sulfate

295-310

Mangan

400-650

Magnesium

75-125

Besi

160-250

Seng

210-325

Tembaga
Cadmium
Timah

5
Tahun
6,794

16
Tahun
1,200

5,810

2,250

12

0.5

1.6

308

109

1,330

70

810

34

610

39

0.06

0.06

450

90

6.3

0.6

0.4

0.1

<0.5

<0.5

<0.05

<0.05

0.5

1.0

Sumber : Syed R Qasim, Walter Chiang, Sanitary


Landfill Leachate, hal 140
Catatan : satuan dalam mg/l, kecuali pH

Bahan Adsorpsi

Karbon aktif adalah material yang berbentuk


butiran (granular) atau
bubuk yang berasal
dari material
yang mengandung karbon
misalnya
batu-bara, kulit kelapa.
Dengan
pengolahan tertentu (tekanan tinggi),dapat
diperoleh karbon aktif yang memiiliki permukaan
dalam yang luas (proses aktivasi). Berdasarkan
informasi di situs O-Fish:Filter Kimia dinyatakan
bahwa secara umum karbon/arang aktif
biasanya dibuat dari arang tempurung kelapa
dengan pemanasan pada suhu 600-2000C
pada tekanan tinggi. Pada kondisi ini akan
terbentuk rekahan-rekahan (rongga) sangat
halus dengan jumlah yang sangat banyak,

142

sehingga luas permukaan arang tersebut


menjadi besar, sehingga sangat efektif dalam
menangkap partikel-partikel yang sangat halus
berukuran 0.01-0.0000001 mm. Karbon aktif
bersifat sangat aktif dan akan menyerap apa
saja yang kontak dengan karbon tersebut, baik
di air maupun di udara.
Pemakaian karbon aktif untuk bahan adsorpsi
masih mempunyai kelemahan, harganya mahal
dan tidak tahan lama karena sekitar 10-15 %
akan hancur pada saat regenerasi. (K Vasanth
Kumar, 2004).
Adsorben khusus seperti abu terbang, batu
bara muda, serpihan kayu atau saw dust juga
telah dimanfaatkan dalam pengujian pada
kandungan bahan-bahan yang sukar dihilangkan. (Pandey,et al, 1985).
Beberapa penelitian dalam penggunaan abu
terbang sebagai adsorben dalam mengolah air
buangan rumah tangga untuk menghilangkan
materi organik, warna dan logam berat telah
dilakukan oleh oleh Mott dan Weber, (1992);
Viraraghavan dan Alfaro, (1994).

Hasil Pengunaan Bahan Adsorpsi Abu


Terbang

Dari penelitian yang sudah dilakukan dalam


mengolahan air buangan rumah tangga dengan
menggunakan abu terbang,
yang telah
dilakukan oleh Banerjee (1995), dinyatakan
bahwa kandungan karbon dalam abu terbang
berperan penting selama proses adsorpsi
kandungan organik air buangan rumah tangga.
Kapasitas adsorpsi akan meningkat sesuai
dengan peningkatan kandungan karbon dalam
abu terbang.

Volume Abu terbang

Menurut data Direktorat Pengusahaan Mineral


dan Batubara, Departemen Energi dan Sumber
Daya Mineral pada tahun 2004, di Laporan
Studi Pengelolaan Limbah Fly Ash (Abu
Terbang) dan Bottom Ash Sisa Pembakaran
Batubara, bahwa kebutuhan batubara dalam
negeri adalah sebesar 36,1 juta metrik ton dan
apabila
dari
total
kebutuhan
tersebut
menghasilkan limbah abu terbang (fly ash)

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

sebesar 1% - 5%, maka akan ada sekitar


360.000 1.800.000 metrik ton abu terbang
yang harus dikelola dan masih berpotensi untuk
dimanfaatkan.
Angka itu belum ditambah
dengan limbah abu dasar (bottom ash) yang
juga dihasilkan pada saat pembakaran batubara
yaitu berkisar antara 5% - 10% sehingga total
volume abu terbang (fly ash) dan bottom ash
menjadi sekitar 720.000-3.600.000 metrik
ton.(Sukandarrumidi,2006).
Sebagian besar dari abu terbang tersebut hanya
dimanfaatkan
sebagai
tanah
penimbun,
sehingga menimbulkan masalah lingkungan
antara lain pelepasan unsur-unsur beracun ke
dalam air tanah, penurunan aktivitas mikroba
dan peningkatan pH tanah.

Sifat-sifat Fisik, Kimia dan Mineral


Abu Terbang
Sifat-sifat fisika, kimia dan mineralogi abu
terbang tergantung pada komposisi batubara
awal, kondisi pembakaran, kinerja dan efisiensi
alat pengontrol emisi, penanganan dan
penyimpanan serta iklim. Abu terbang terdiri
dari partikel-partikel dengan ukuran antara 0,01
100 um, berat jenis bervariasi antara 2,1-2,6
g/cm3 dan luas permukaan antara 0,17 1,00
m2/kg. Warna abu terbang abu-abu hingga
hitam tergantung pada jumlah karbon yang
tidak terbakar dalam abunya. Semakin cerah
warnanya
semakin
rendah
kandungan
karbonnya. Sebagian besar partikel penyusun
abu terbang berbentuk bola, sebagian berongga
dan lainnya terisi oleh partikel amorf dan kristalkristal yang lebih kecil. Komposisi kimia unsur
utama abu terbang secara umum dapat
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
Oksida logam seperti SiO2, Al2O3, TiO2
Oksida logam basa seperti Fe2O3,CaO, MgO,
K2O, Na2O
Oksida unsur lainnya seperti P2O5, SO3.
Sisa karbon dan lain-lain.
(Sukandarrumidi,2006).
Secara kimia, unsur utama penyusun abu
terbang Si, Al, Fe, serta CA, K, Na dan Ti dalam
prosentase yang cukup berarti, selain komponen
utama tersebut, abu terbang (fly ash) juga

Keefektifan Pengolahan (Tibin R. P.)

mengandung unsur lain dalam jumlah sedikit,


yaitu As, Be, Se.(Studi Pengelolaan Limbah Fly
Ash (Abu Terbang) dan Bottom Ash Sisa
Pembakaran Batubara, Direktorat Pengusahaan
Mineral dan Batubara, Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral,2004)

METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penelitian

Penelitian eksperimental di laboratorium dilakukan melalui pengamatan terhadap beberapa


gelas kimia volume 500 ml yang diisi air
lindi dan ditambah abu terbang atau karbon
aktif dengan dosis 15, 25, 35, 50, 100 dan 150
mg/liter.
Campuran tersebut akan diaduk
dengan
kecepatan
100 rpm dan
lama
pengadukan
60 menit. Setelah diaduk,
campuran didiamkan
sekitar 30 menit,
kemudian dilakukan pengukuran
kandungan
KOK dengan metode refluks terbuka yang
dilanjutkan dengan
titrasi dengan
ferro
alumunium sulfat,
warna
diukur dengan
spektrometer, dan logam berat dengan Atomic
Absorption Spectrometer (AAS) pada setiap
dosis pemakaian abu terbang atau karbon
aktif.
Pada penelitian ini, tidak diperiksa karakteristik
abu terbang dan karbon aktif.

Data yang Dikumpulkan Parameter


Karakteristik Air Lindi Sampah
Parameter karakteristik air lindi sampah yang
diperiksa adalah KOK, warna, logam berat Fe,
Zn dan Cu.

Metode Analisis

Secara deskriptif, yaitu suatu data yang akan


disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan hasil
pengadukan air lindi sampah ditambah abu
terbang
atau
karbon
aktif,
sedangkan
perhitungan
efisiensi
proses
penurunan
kandungan KOK, warna, Fe, Zn, dan Cu, adalah
nilai yang menunjukkan perbandingan antara
besarnya nilai parameter yang masuk ke suatu
proses dengan nilai yang keluar dari proses
tersebut. Besarnya efisiensi dinyatakan dalam
bentuk prosentase (%), dengan rumusan :

143

DATA HASIL PEMERIKSAAN

Co Ci
Ef =-------------- X 100 %,
Co
dimana :
Ef = efisiensi proses penurunan parameter (%)
Co= konsentrasi parameter saat masuk ke
proses
Ci = konsentrasi parameter saat keluar dari
proses

Pemeriksaan
Pengadukan

Kualitas

Air

Hasil

Data hasil pemeriksaan karakteristik air lindi,


tercantum seperti pada tabel 2, dan 4. Tabel 3
dan 5 menyajikan persentase perubahan
parameter karakteristik air lindi sampah yang
diperiksa.

Tabel 2.
Hasil Pemeriksaan dan Pengamatan Pengadukan Air Lindi Sampah dengan Abu Terbang
terhadap Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) , Warna, Fe, Zn, dan Cu
Parameter

Sumber/hasil pengadukan
100 rpm, t = 1 jam
Baku Air Lindi

KOK
(mg/l)

Warna
(PtCo)

Fe
(mg/l)

Zn
(mg/l)

Cu
(mg/l)

446,2

4630

3,183

0,368

0,502

Dosis Abu terbang = 15 mg/l + Air Lindi

278,16

370

3,092

0,315

0,386

Dosis Abu terbang = 25 mg/l + Air Lindi

273,6

321

3,237

0,232

0,322

Dosis Abu terbang = 35 mg/l + Air Lindi

220,16

280

3,214

0,175

0,282

Dosis Abu terbang = 50 mg/l + Air Lindi

147,44

183

3,703

0.146

0,173

Dosis Abu terbang = 100 mg/l + Air Lindi

115,52

79

3,97

0,077

0,064

Dosis Abu terbang = 150 mg/l + Air Lindi

tt

13

4,055

0,031

0,03

Sumber : Hasil pemeriksaan kualitas air kotor di Lab. Balai LP, 2008
Catatan : tt = tidak terdeteksi
Tabel 3.
Persentase Perubahan Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) , Warna, Fe, Zn, dan Cu pada
Pengadukan Air Lindi Sampah dengan Abu Terbang
Hasil pengadukan
100 rpm, t = 1 jam

Parameter (%)
KOK

Warna

Fe

Zn

Cu

Dosis Abu terbang = 15 mg/l

37,56

92

2,86

1,44

23,11

Dosis Abu terbang = 25 mg/l

38,68

93,31

-1,69

36,95

35,86

Dosis Abu terbang = 35 mg/l

50,66

93,95

-0,97

52,44

43,82

Dosis Abu terbang = 50 mg/l

66,96

96,05

-16,33

60,32

65,54

Dosis Abu terbang= 100 mg/l

74,11

98,89

-24,72

79,26

87,25

Dosis Abu terbang= 150 mg/l

100

99,72

-27,39

91,57

94,02

Sumber : Hasil perhitungan dari tabel 2, 2008


Catatan : (-) terjadi penambahan kandungan parameter

144

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

Tabel 4.
Hasil Pemeriksaan dan Pengamatan Pengadukan Air Lindi Sampah dengan Karbon Aktif
terhadap Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) , Warna, Fe, Zn, dan Cu
Parameter
Sumber/hasil pengadukan
100 rpm, t = 1 jam
KOK
Warna
Fe
Zn
Cu
(mg/l)
(PtCo)
(mg/l)
(mg/l)
(mg/l)
Baku Air Lindi

446,2

4630

Dosis Karbon Aktif = 15 mg/l + Air Lindi

324,1

5200

Dosis Karbon Aktif = 25 mg/l + Air Lindi

368,7

Dosis Karbon Aktif = 35 mg/l + Air Lindi

357,5

Dosis karbon Aktif = 50 mg/l + Air Lindi

3,183

0,368

0,502

2,976

0.342

0,473

5480

2,99

0,341

0,484

4800

2,983

0,345

0,491

434,9

5010

2,99

0,266

0,483

Dosis Karbon Aktif = 100 mg/l + Air Lindi

423,8

5330

2,491

0,256

0,423

Dosis Karbon Aktif = 150 mg/l + Air Lindi

425,6

5300

2,303

0,218

0,395

Sumber : Hasil pemeriksaan kualitas air kotor di Lab. Balai LP, 2008
Tabel 5.
Persentase Perubahan Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) , Warna, Fe, Zn, dan Cu pada
Pengadukan Air Lindi Sampah dengan Karbon Aktif
Parameter (%)
Hasil pengadukan
100 rpm, t = 1 jam
KOK
Warna
Fe
Zn

Cu

Dosis Karbon Aktif = 15 mg/l

27,36

-12,31

6,5

7,06

5,78

Dosis Karbon Aktif = 25 mg/l

17,37

-18,36

6,06

7,34

1,59

Dosis Karbon Aktif = 35 mg/l

19,88

-3,67

6,28

0,01

2,19

Dosis Karbon Aktif = 50 mg/l

2,53

-8,21

6,06

27,71

3,78

Dosis Karbon Aktif = 100 mg/l

5,02

-15,12

21,74

30,43

15,73

Dosis Karbon Aktif = 150 mg/l

4,616

-14,47

27,65

40,76

21,31

Sumber : Hasil perhitungan dari tabel 4, 2008


Catatan : (-) terjadi penambahan kandungan parameter

Dosis
(mg/l)

Tabel 6.
Persentase Perubahan Kandungan KOK, Warna, Fe, Zn, dan Cu Air Lindi Sampah
Kebutuhan
Warna
Fe
Zn
Cu
Oksigen Kimia
(%)
(%)
(%)
(%)
(KOK) (%)
Abu
Karbon
Abu
Karbon
Abu
Karbon
Abu
Karbon
Abu
Karbon
Terbang Aktif Terbang
Aktif
Terbang Aktif Terbang Aktif Terbang
Aktif

15

37,56

27,36

92,00

(12,31)

2,86

6,50

1,44

7,06

23,11

5,78

25

38,68

17,37

93,31

(18,36)

(1,69)

6,06

36,95

7,34

35,86

1,59

35

50,66

19,88

93,95

(3,67)

(0,97)

6,28

52,44

0,01

43,82

2,19

50

66,96

2,53

96,05

(8,21)

(16,33)

6,06

60,32

27,71

65,54

3,78

100

74,40

5,02

98,89

(15,12)

(24,72)

21,74

79,26

30,43

87,25

15,73

150

100,00

4,62

99,72

(14,47)

(27,39)

27,65

91,57

40,76

94,02

21,31

Sumber : Tabel 3 dan Tabel 5, 2008

Keefektifan Pengolahan (Tibin R. P.)

145

ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Analisis dan pembahasan didasarkan pada
tabel 6.
a) Persentase Perubahan Kandungan
Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) Air
Lindi Sampah
Pada pemakaian abu terbang dengan dosis
15 mg/liter, kandungan KOK turun 37,56 %
sedangkan pemakaian karbon aktif dengan
dosis 15 mg/liter kandungan KOK turun
27,36 %. Dengan pemakaian abu terbang,
kandungan KOK terus menurun hampir 100
% pada dosis 150 mg/liter sebaliknya
dengan pemakaian karbon aktif 150
mg/liter, penurunan kandungan KOK makin
kecil hanya 4,62 %. Jadi makin besar dosis
abu terbang yang digunakan makin besar
pula persentase penurunan kandungan KOK
air lindi sampah, sebaliknya, makin besar
dosis karbon aktif yang digunakan, makin
kecil pula persentase penurunan kandungan
KOK air lindi sampah. Keadaan ini perlu
dikaji lebih mendalam, faktor apa yang
terdapat dalam karbon aktif yang dapat
memperkecil penurunan kandungan KOK
bila terus ditambah dosis.
b) Persentase Perubahan Warna Air Lindi
Sampah
Pemakaian abu terbang dengan dosis 15
mg/liter sampai 150 mg/liter, warna turun
dari 92 % sampai 99,72 %. Sedangkan
pemakaian karbon aktif dengan dosis 15
mg/liter sampai 150 mg/liter, warna air lindi
sampah menjadi bertambah persentasenya,
yaitu sebesar 12,31 % sampai 14,47 %.
Jadi dengan pemakaian abu terbang, makin
besar dosis yang digunakan makin besar
pula persentase penurunan warna air lindi
sampah dan terbalik dengan karbon aktif,
semakin besar dosis yang digunakan makin
memperbesar
persentase
penambahan
warna.
c)

146

Persentase Perubahan Fe di Air Lindi


Sampah
Pemakaian abu terbang dengan dosis 15
mg/liter dapat menurunkan kandungan Fe
sekitar
2,86
%,
tetapi
dengan

bertambahnya dosis sampai 150 mg/liter,


kandungan Fe menjadi bertambah dengan
persentase kenaikannya sebesar 27,39 %.
Penambahan kandungan Fe air lindi sampah
mungkin akibat
kandungan Fe di abu
terbang.
Kandungan Fe pada abu terbang sekitar
13,12 sampai 45,38 % sebagai Fe2O3.
Sedangkan pemakaian karbon aktif pada
dosis 15 mg/liter sampai 150 mg/liter, Fe
air lindi sampah, persentase penurunannya
semakin besar yaitu dari 6,50 % menjadi
27,65 %. Jadi dengan pemakaian abu
terbang, makin besar dosis abu terbang
yang
digunakan
akan
memperbesar
kandungan Fe air lindi sampah, terbalik
dengan karbon aktif, makin besar dosis
karbon aktif yang digunakan maka akan
memperkecil kandungan Fe.
d) Persentase Perubahan Zn di Air
Lindi Sampah
Pemakaian abu terbang dengan dosis 15
mg/liter sampai 150 mg/liter, kandungan Zn
turun 1,44 % sampai 91,57 %, sedangkan
pemakaian karbon aktif dengan dosis 15
mg/liter sampai 150 mg/liter, kandungan Zn
turun 7,06 % sampai 40,76 %. Dari data
tersebut menunjukkan, bahwa pemakaian
abu terbang lebih besar menurunkan
kandungan
Zn
air
lindi
sampah
dibandingkan dengan pemakaian karbon
aktif.
e) Persentase Perubahan Cu di Air
Lindi Sampah
Pemakaian abu terbang dengan dosis 15
mg/liter sampai 150 mg/liter, kandungan Cu
turun 23,11 % sampai 94,02 %, dengan
dosis 15 mg/liter sampai 150 mg/liter,
kandungan Cu turun 5,78 % sampai 21,31
%. Dari data tersebut menunjukkan, bahwa
dengan pemakaian abu terbang, kandungan
Cu air lindi sampah akan lebih besar
penurunannya
dibandingkan
dengan
pemakaian karbon aktif.

Jurnal Permukiman Vol. 4 No. 2 September 2009

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

a.

Banerjee K., Cheremisinoff P. N. and Cheng S.L.


1995. Sorption of Organic Contaminants by
Fly Ash in a Single Solute System.
Environmental Science Technology. 29.
K. Vasantth Kumar, K. Subanandam, V. Ramamuthi
and S. Sivanesan. 2004. Solid Liquid
Adsorpation for Wastewaster Treatment
Principle Design and Operation. Departemen of
Chemical Engineering, Anna University.
Chennai, India.
Mott H.V. and Weber W.J. 1992. Sorption of
Low
Molecular
Weight
Organic
Contaminants by Fly Ash: Consideration of
Enhancement
of
Cut
of
Barrier
Performance.
Environmental
Science
Technology. 26.
R. Qasim, Syed. Walter Chiang. 1994. Sanitary
Landfill Leachate, Generation, Control and
Treatment. Technomic Publishing Company,
Inc. Switzerland.
Sukandarrumidi.
2006.
Batubara
dan
Pemanfaatannya. Gajah Mada University
Press. Yogyakarta.
Viraragharan T. and Dronamraju M.M. 1992.
Utilization of Coal Ash. Water Pollution
Control. Journal Environmental Studies. 40.
Vijender Sahu, R.P. Dahiya, K. Gadgil. 2005. Fly
Ash Based Low Cost Method for COD
Removal from Domestic Waste Water.
Centre for Energy Studies, Indian Institute
of Technology, New Delhi.
--------, 2004. Studi Pengelolaan Limbah Fly Ash
(Abu Terbang) dan Bottom Ash Sisa
Pembakaran
Batubara.
Direktorat
Pengusahaan
Mineral
dan
Batubara.
Departemen Energi dan Sumber Daya
Mineral.
--------, 2009. O-FISH: Filter Kimia, http://OFish.Com/Filter/filter_kimia.php.

b.

c.

d.

e.

Dalam menurunkan KOK air lindi sampah,


pemakaian abu terbang lebih efektif
dibandingkan dengan pemakaian karbon
aktif, misalnya pada pemakaian dosis 50
mg/lt, kemampuan abu terbang dapat
menurunkan KOK adalah 26,46 kali lebih
efisien dibandingkan dengan pemakaian
karbon aktif.
Dalam
menurunkan
warna air lindi
sampah, pemakaian abu terbang lebih
efektif dibandingkan dengan karbon aktif,
misalnya pada pemakaian dosis 50 mg/lt,
kemampuan
abu
terbang
dapat
menurunkan warna adalah 12,7 kali lebih
efisien dibandingkan dengan pemakaian
karbon aktif.
Dalam menurunkan Zn air lindi sampah,
pemakaian abu terbang lebih efektif
dibandingkan dengan karbon aktif, misalnya
pada
pemakaian
dosis
50
mg/lt,
kemampuan
abu
terbang
dapat
menurunkan Zn adalah 2,2 kali lebih efisien
dibandingkan dengan pemakaian karbon
akfif.
Dalam menurunkan Cu air lindi sampah,
pemakaian abu terbang lebih efektif
dibandingkan dengan pemakaian karbon
aktif, misalnya pada pemakaian dosis 50
mg/lt, kemampuan abu terbang dapat
menurunkan Cu adalah 17,3 kali lebih
efisien dibandingkan dengan pemakaian
karbon aktif.
Dalam menurunkan Fe air lindi sampah,
pemakaian karbon aktif lebih efektif
dibandingkan dnegan pemakaian abu
terbang, misalnya pada pemakaian sosis 50
mg/lt, kemampuan karbon aktif dapat
menurunkan Fe adalah 3,7 kali lebih efisien
dibandingkan dengan pemakaian abu
terbang.

Keefektifan Pengolahan (Tibin R. P.)

147