Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

DISUSUN OLEH :

M.HARIS

: RRA1A114036

WITA MAYA SARI P

: RRA1A114037

JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI


FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014/2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami selalu panjatkan kehadirat Allah Swt. Atas rahmatnya pula kami
mampu menyelesaikan makalah yang berjudul Perkembangan Fisik dan
Psikomotorik Pada Peserta Didik. Tidak lupa pula shalawat serta salam kami
curahkan kepada Baginda Wanabiana Muhammad Saw, kepada keluarganya, kepada
kerabatnya, dan kepada para sahabat-sahabatnya.
Dalam pengerjaan makalah ini, kami mengakui masih banyak kekurangan disana-sini.
Tidak perlu ditutup-tutupi, kami berharap segala tegur dan sapa demi perbaikan
pembelajaran makalah ini disambut dengan tangan terbuka dan pastinya dengan
sangat senang hati.

Jambi, APRIL 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar......................................................................................................................
Daftar isi..............................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN..............................................................................................................
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................
1.2 Rumusan masalah..........................................................................................................
1.3 Tujuan Penulis ...............................................................................................................

BAB II
PEMBAHASAN.................................................................................................................
2.1 Perkembangan Fisik.......................................................................................................
2.2 Perkembangan Psikomoterik.........................................................................................
2.3 Karakteristik Perkembangan Fisik dan Psikomoterik....................................................
2.4 Sistem Endokrin...........................................................................................................
2.5 Karakter Perkembangan...............................................................................................
2.6 Analisis Praktis............................................................................................................
BAB III
PENUTUP...........................................................................................................................
3.1 Kesimpulan..................................................................................................................
3.2 Kritik dan Saran...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN

Agaknya setiap orang akan mengalami perkembangan fisik atau pertumbuhan


biologis. Hal tersebut merupakan salah satu aspek yang penting bagi perkembangan
setiap idividu, khususnya gejala primer dalam pertumbuhan kalangan anak, remaja,
dan dewasa.
Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat
mengagumkan. Semua organ ini terbentuk pada periode fase4l (dalam kandungan).
Adapun

Perilaku

psikomotorik

memerlukan

koordinasi

fungsional

antara

neuronmuscular sistem (persyarafan dan otot) dan fungsi psikis (kognitif, afektif, dan
konatif).
Terpapar jelaslah dalam segi ini, remaja seringkali dianggap sebagai
kelompok yang aneh, karena dalam kehidupannya kelompok ini sering menganut
kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berbeda atau bertentangan dengan kaidah-kaidah
dan nilai yang dianut oleh orang dewasa terutama orang tuanya. Dilihat dari demensi
usia dan perkembangannya, Fase bahwa kelompok ini tergolong pada kelompok
tradisional (masa peralihan) dalam pengertian remaja merupakan fase yang bersifat
sementara yaitu rentang waktu antara usia anak-anak dengan usia dewasa, sehingga
4ias dipahami bahwa pada setiap periode transisi selalu ada gejolak dan badai yang
menyertai perubahan. Dan masa transisi ini pulalah yang mengakibatkan remaja
setelah mengalami gejolak dalam mencari identitasnya, meskipun gejolak pada setiap
remaja memiliki kuantitas dan kualitas yang berbeda.

1
1.1 Latar Belakang

Pada dasarnya, perkembangan merujuk kepada perubahan sistematis tentang


fungsi-fungsi fisik dan praktis. Perubahan sistematik tentang fungsi-fungsi fisik dan
pisikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar sebagai hasil dari
konsepsi, dan hasil dari interaksi proses biologis dan genetika dengan lingkungan.
Sementara perubahan psikis menyangkut keseluruhan karakteristik psikologis
individu, seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan moral.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penyusun merumuskan
beberapa masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan perkembangan fisik dan psikomotorik.
2. Mengapa dan bagaimana perkembangan fisik dan psikomotorik pada peserta
didik berpengaruh kepada penyelenggaraan pendidikan.
3. Bagaimana pengaruh perkembangan fisik dan psikomotorik terhadap tingkah
anak, remaja dan dewasa
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulisan makalah ini disusun
bertujuan hanya untuk mengetahui, sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian perkembangan fisik dan psikomotorik.
2. Mengetahui implikasi perkembangan fisik dan psikomotorik terhadap
penyelenggaraan pendidikan.
2

BAB II
PEMBAHASAN
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Perkembangan Fisik


Perkembangan

fisik

atau

pertumbuhan

biologis

(biological

growth)

merupakan salah satu aspek penting dari perkembangan individu. Pertumbuhan fisik
adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam
pertumbuhan remaja.
Menurut Seifert dan Hoffnung (1994), perkembangan fisik meliputi
perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti: pertumbuhan otak, sistem saraf, organorgan indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon, dan lain-lain), dan perubahanperubahan dalam cara individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti perkembangan
keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta perubahan dalam
kemampuan fisik (seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan dan sebagainya).
Berkaitan dengan perkembangan fisik ini Kuhlen dan Thompson mengemukakan
bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu:
1. Sistem syaraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan
emosi;
2. Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan
motorik;
3. Kelenjar Endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku

3
baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam
suatu kegiatan, yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis;
4. Struktur

Fisik/Tubuh,

yang

meliputi

tinggi,

berat,

dan

proporsi.

Awal dari perkembangan pribadi seseorang asasnya bersifat biologis.


Dalam taraf-taraf perkembangan selanjutnya, normlitas dari konstitusi,
struktur dan kondisi talian dengan masalah Body-Image, self-concept, selfesteem dan rasa harga dirinya.
2.2 Perkembangan Psikomotorik
Perilaku

psikomotorik

memerlukan

koordinasi

fungsional

antara

neuronmuscular sistem (persyarafan dan otot) dan fungsi psikis (kognitif, afektif, dan
konatif).
Loree menyatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang
bersifat universal harus di kuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau awal masa
kanak-kanaknya ialah berjalan (walking) dan memegang benda (prehension).
Kedua

jenis

keterampilan

psikomotorik

ini

merupakan

basis

bagi

perkembangan keterampilan yang lebih kompleks seperti yang kita kenal dengan
sebutan bermain (playing) dan bekerja (working).
Dua prinsip perkembangan utama yang tampak dalam semua bentuk perilaku
psikomotorik ialah :
1. Bahwa perkembangan itu berlangsung dan yang sederhana kepada yang
kompleks.

2. Dan yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan
spesifik tetapi terkoordinasikan (finely coordinated movements).
4
Anak belajar menjadi lelaki atau perempuan bukan hanya dari alat kelamin tapi
juga dari perlakuan sekeliling pada mereka. Fase inilah konon yang berperan besar
dalam menentukan identitas ini karena pengaruh kelamin mulai dirasakan secara
psikologis: Anak lelaki menjadi lebih sayang pada ibu dan tidak begitu senang pada
bapak sementara anak perempuan menjadi dekat bapak dan merasa disaingi ibu.
Anak-anak kecil menjadi sayang guru TK-nya.
1. Pentingnya Perkembangan Psikomotorik dalam Pembelajaran
Beberapa konstelasi perkembangan motorik individu dipaparkan oleh
Hurlock (1996) sebagai berikut :
a)

Melalui ketrampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan

memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang memiliki


ketrampilan memainkan boneka, melempar bola dan memainkan alat alat
mainan.
b)

Dengan keterampilan motorik anak dapat beranjak dari kondisi

tidak berdaya pada bulan bulan pertama dalam kehidupanya kepada kondisi
yang independen. Anak dapat bergerak dari satu tempat ketempat yang lain,
dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya sendiri. Kondisi ini akan menunjang
perkembangan rasa percaya diri.
c)

Melalui peningkatan potensi perkembangan psikomotorik anak

dapat menyesuaikan dangan lingkungan sekolah. Pada masa pra sekolah atau
pada masa awal sekolah dasar, anak sudah dapat dilatih menulis menggambar
melukis dan baris berbaris.

d)

Melalui peningkatan potensi prkembangan psikomotorik yang

normal memungkinkan anak dapat bermain dan bergaul dengan teman


5
sebayanya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat dalam bergaul
dengan teman sebayanya, bahkan dia akan terkucilkan atau menjadi anak yang
terpinggirkan.
e)

Peningkatan potensi perkembangan psikomotorik sangat penting

bagi perkembangan self concept (kepribadian anak)

Faktor yang Mempengaruhi psikomotorik Anak adalah faktor pola asuh orang tu,
gen dari orang tua,pengaruh lingkungan, interior ruang belajar, dan warna
1. Tahapan-tahapan Perkembangan Psikomotorik
a)

Tahap Kognitif
Tahap ini ditandai dengan adanya gerakan gerakan yang kaku dan lambat. Hal

tersebut terjadi karena anak ataupun siswa masih dalam taraf belajar untuk
mengendalikan gerakan gerakanya.
b)

Tahap Asosiatif
Pada tahap ini seorang anak ataupun siswa membutuhkan waktu yang lebih

pendek untuk memikirkan tentang gerakanya, dia mulai dapat mengasosiasikan


gerakan yang sedang dipelajarinya dengan gerakan yang sudah dikenal.
c)

Tahap otonomi

Pada tahap ini seorang siswa telah mencapai tingkat otonomi yang tinggi,
proses belajarnya sudah hampir lengkap meskipun dia masih dapat memperbaiki

6
gerakan garakan yang dipelajarinya. Tahap ini disebut tahap otonomi karena siswa
sudah tidak memerlukan kehadiran instruktur untuk melakukan gerakan gerakan.
Tehnik yang bisa digunakan untuk mengembangkan potensi psikomotorik
pada peserta didik diantaranya adalah model permainan atau out bond, model meniru,
model kelompok belajar dan bermain
Stimulasi untuk meningkatkan potensi psikomotorik

dapat dilakukan

diantaranya dengan cara : diberikan dasar dasar ketrampilan untuk menulis dan
menggambar, ketrampilan berolah raga atau menggunakan alat olah raga, gerakan
geraka permainan, seperti melompat memanjat dan berlari, dan baris berbaris secara
sederhana.
2.3 Karakteristik Perkembangan Fisik dan Psikomotorik
Karakteristik Perkembangan Fisik pada Masa Kanak-kanak (0-5 Tahun).
Perkembangan kemampuan fisik pada anak kecil ditandai dengan mulai
mampu melakukan bermacam macam gerakan dasar yang semakin baik, yaitu
gerakan gerakan berjalan, berlari, melompat dan meloncat, berjingkrak, melempar,
menangkap, yang berhubungan dengan kekuatan yang lebih basar sebagai akibat
pertumbuhan jaringan otot lebih besar. Selain itu perkembangan juga ditandai dengan
pertumbuhan panjang kaki dan tangan secara proporsional.
Karakteristik Perkembangan Fisik pada masa Anak (5-11 Tahun).

Perkembangan waktu reaksi lebih lambat dibanding masa kanak-kanak,


koordinasi mata berkembang dengan baik, masih belum mengembangkan otot otot
kecil, kesehatan umum relatif tidak stabil dan mudah sakit, rentan dan daya tahan
kurang.
7
Karakteristik Perkembangan Fisik pada Masa Anak (8-9 Tahun).
Terjadi perbaikan koordinasi tubuh, ketahanan tubuh bertambah, anak laki laki
cenderung aktivitas yang ada kontak fisik seperti berkelahi dan bergulat, koordinasi
mata dan tangan lebih baik, sistim peredaran darah masih belum kuat, koordinasi otot
dan syaraf masih kurang baik. Dari segi psiologi anak wanita lebih maju satu tahun
dari lelaki
Karakteristik Perkembangan Fisik pada Masa Anak (10-11 Tahun).
Kekuatan anak laki laki lebih kuat dari wanita, kenaikan tekanan darah dan
metabolisme yang tajam. Wanita mulai mengalami kematangan seksual (12 tahun).
Lelaki hanya 5% yang mencapai kematangan seksual.

Karakteristik Perkembangan Fisik pada Masa Remaja.


Pada masa remaja perkembangan fisik yang paling menonjol terdapat pada
perkembangan, kekuatan, ketahanan, dan organ seksual. Karakteristik perkembangan
fisik pada masa remaja ditandai dengan pertumbuhan berat dan tinggi badan yang
cepat, pertumbuhan tanda-tanda seksual primer (kelenjar-kelenjar dan alat-alat
kelamin) maupun tanda-tanda seksual sekunder (tumbuh payudara, haid, kumis, dan
mimpi basah, dan lainnya), timbulnya hasrat seksual yang tinggi (masa pubertas).
Karakteristik Perkembangan Fisik pada Masa Dewasa.

Kemampuan fisik pada masa dewasa pada setiap individu menjadi sangat
bervariasi seiring dengan pertumbuhan fisik. Laki-laki cenderung lebih baik
kemampuan fisiknya dan gerakannya lebih terampil. Pertumbuhan ukuran tubuh yang
8
proposianal memberikan kemampuan fisik yang kuat. Pada masa dewasa
pertumbuhan mencapai titik maksimal.
Karakteristik Perkembangan Psikomotorik pada Masa anak.
Pada masa anak perkembangan keterampilan dapat diklasifikasikan menjadi
empat kategori:
1. Keterampilan menolong diri sendiri; Anak dapat makan, mandi, berpakaian
sendiri dan lebih lebih mandiri.
2. Keterampilan menolong orang lain; Keterampilan berkaitan dengan orang
lain, seperti membersihkan tempat tidur, membersihkan debu dan menyapu.
3. Keterampilan

sekolah;

mengembangkan

berbagai

keterampilan

yang

diperlukan untuk menulis, menggambar, melukis, menari, bernyanyi, dll.


4. Keterampilan bermain; anak belajar keterampilan seperti melempar dan
menangkap bola, naik sepeda, dan berenang.

Karakteristik Perkembangan Psikomotorik Pada Remaja.


Keterampilan psikomotorik berkembang sejalan dengan pertumbuhan ukuran
tubuh, kemampuan fisik, dan perubahan fisiologi. Pada masa ini, laki-laki mengalami
perkembangan psikomotorik yang lebih pesat dibanding perempuan. Kemampuan

psikomotorik laki laki cenderung terus meningkat dalam hal kekuatan, kelincahan,
dan daya tahan. Secara umum, perkembangan psikomotorik pada perempuan terhenti
setelah mengalami menstruasi. Oleh karena itu, kemampuan psikomotorik laki-laki
lebih tinggi dari pada perempuan.

9
Karakteristik Perkembangan Psikomotorik Pada Masa Dewasa.
Pada usia dewasa keterampilan dalam hal tertentu masih dapat ditingkatkan.
Puncak dari perkembangan psikomotorik terjadi pada masa ini. Latihan merupakan
hal penentu dalam perkembangan psikomotorik. Melalui latihan yang teratur dan
terprogram, keterampilan yang maksimal akan dapat ditingkatkan dan dipertahankan.
Karakteristik perkembagan psikomotorik ditandai dengan peningkatan keterampilan
dalam bidang tertentu. Semua sistem gerak dan koordinasi dapat berjalan dengan
baik.
3.2 Implikasi Perkembangan Fisik dan Psikomotorik Bagi Peserta Didik
Pemahaman terhadap pekembangan fisik dan psikomotorik berkaitan erat dengan
perencanaan pendidikan. Pemahaman terhadap perkembangan ini dapat membantu
upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih efektif dan efisien.
1.Implikasi Pendidikan pada Anak
Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka merasa tertantang
untuk melakukan hal baru. Anak-anak belajar berbuat terhadap lingkungannya
sebelum ia mampu berpikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Masa bermain
anak merupakan masa mereka berlatih dan mempelajari segala hal. Metode
pendidikan yang cocok adalah belajar sambil bermain dengan menggunakan

permainan yang menantang dan menarik bagi anak-anak serta mampu memicu
munculnya kreatifitas anak. Orientasi pendidikan lebih ditekankan pada aspek
sikap dengan materi yang digunakan banyak berkaitan dengan fakta yakni
berkaitan dengan penggalian kasus atau peristiwa serta pengalaman empirik
peserta didik sebagai realitas kehidupan.

10
2. Implikasi Pendidikan pada Remaja
Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan
jiwa remaja. Sekolah selain

mengemban fungsi pengajaran juga fungsi

pendidikan. Dalam kaitan pendidikan sekolah dalam istilahnya rumah kedua


bagi siswa, merupakan tempat rujukan dan perlindungan jika remaja mengalami
masalah. Upaya-upaya yang dapat dilakukan pengajar dalam hal memahami
siswa sebagai sosok remaja, yaitu:
1. Membantu siswa dalam menemukan jati diri dan menghadapi kegagalan yang
dihadapinya.
2. Emosi yang memuncak adalah karakteristik dari remaja. Guru dapat
membimbing remaja untuk pengendalian emosi negatif.
3. Mengajari cara memahami orang lain dan toleransi merupakan cara guru
dalam mendidik remaja.
Dengan mempelajari berbagai karakteristik remaja akan sangat membantu siswa
yang masih dalam masa remaja, untuk keberhasilan proses pengajaran. Karena setiap
remaja berbeda,maka guru mau tidak mau harus bisa menjadi teman dan orang tua

bagi remaja itu sendiri. Diperlukan sikap polos, objektif terhadap siswa,adil dan
menunjukkan perhatian serta rasa simpatik dalam menghadapi remaja.

3. Implikasi Pendidikan pada Orang Dewasa


Orang dewasa mampu menilai diri dan situasi secara realistis, mampu
menerima dan melaksanakan tanggung jawab, memiliki kemandirian (autonomi),
11
dapat mengontrol emosi, penerimaan sosial dan memiliki pandangan hidup.
Masa awal dewasa individu termotivasi untuk berhasil melalui perkembangan social
dan membentuk relasi. Ketidakmampuan melakukan hubungan sosial menjadikan
individu merasa terisolasi dan frustasi. Kita sudah dianggap dewasa dan kita dituntut
untuk bertanggung jawab penuh atas segala keberhasilan dan kegagalan kita.
Orientasi pendidikan lebih ditekankan pada aspek pengetahuan dengan fokus pada
materi generalisasi, yaitu kerangka pengambilan kesimpulan dan formulasi ketentuan
serta bagaimana solusi pemikiran dan tindakan yang dilakukan. Peserta didik dituntut
untuk berpikir kritis agar mampu mengambil kesimpulan rasional. Pada periode
pertengahan dewasa muncul keinginan membantu generasi muda mengembangkan
dan

mengarahkan

kehidupan

yang

berguna

melalui

generativitas/bangkit.

Memberikan asuhan dan bimbingan pada anak-anak dengan mengajarkan


pengetahuan, keahlian dan keterampilan.

2.4 SISTEM ENDOKRIN

Peran system endokrin di masa pubertas melibatkan interaksi dari


hipotamlamus, kelenjar pituitary, dan gonad (kelenjar seks). Hipotalamus adalah
struktur yang terletak di bagian atas otak yang memonitor kegiatan makan, minum,
dan seks. Kelenjar pituary adalah kelenjar endokrin yang mengontrol pertumbuhan
dan meregulasi kelenjar-kelenjar lain. Gonad adalaj kelenjar seks- testis pada lakilaki, indung telur pada perempuan.
Kadar hormone seks diatur oleh 2 sistem hormone yang dihasilkan oleh
kelenjar pitituari, yaitu : FSH (follicle-stimulating hormone) yang merangsang
perkembangan kantung rambut (follicle) pada perempuan dan sperma pada laki-laki,
dan LH (luteininzing hormone) yang meregulasi sekresi estrogen dan perkembangan
12
ovum pada perempuan serta testosterone pada laki-laki (hyde & DeLamater,
2005; Welt dkk., 2003). Di samping itu, hipotalamus menghasilkan hormone sebuah
zat yang disebut GnRH (gonadotropin-realinsing hormone) (Lanes, Soros, &
Jakubowicz, 2004; Tauber dkk., 2003).
Hormon-hormon ini diatur oleh system umpan-balik negatif (negative
feedback system). Apabila munculnya kadar hormone seks terlalu tinggi, hipotalamus
dan kelenjar pituitary akan mengurangi stimulasinya dari gonad, mengurangi
produksi hormone-hormon seks. Apabila kadar hormone seks terlalu rendah,
hipotalamus dan kelenjar pituaritari akan meningkatkan produksi hormone seks.
Hormone pertumbuhan. Di awal masa pubertas, hormone pertumbuhan
dikeluarkan pada malam hari. Selanjutnya di masa pubertas, hormone pertumbuhan
juga dikeluarkan di siang hari, meskipun dalam kadar umumnya sangat rendah.
Kortisol adalah hormon yang dikeluarkan oleh korteks adrenal, juga mempengaruhi
pertumbuhan seperti testosteron dan estrogen.
Adrenarche dan gonadrache. Adrenarche melibatkan perubahan hormonal
yang berlangsung pada kelenjar adrenal di atas ginjal. Gonadrache melibatkan
kematangan seksual dan perkembangan kematangan reproduktif. Pada laki-laki,
gonadrache dimulai di usia sekitar 10 hingga 11 tahun. Di masa pertengahan hingga

akhir gonadrache pada perempuan terjadi menarche pertama, periode menstruasi


yang pertama; di awal hingga pertengahan gonadrache pada laki-laki, terjadi
spermache, ejakulasi dari air mani yang pertama.
Hormon leptin dapat menjadi sinyal dari dimulainya dan berkembangnya
pubertas. Munculnya leptin dapat mengindikasikan terdapatnya simpanan lemak yang
cukup memadai untuk bereproduksi dan menjaga kehamilan.
PERTUMBUHAN YANG PESAT
Pada perempuan, rata-rata permulaan dari pertambahan tinggi tubuh yang
pesat ini adalah 9 tahun; pada laki-laki adalah 11 tahun. Puncak dari perubahan
13
terjadi di usia 11 tahun pada perempuan dan di usia 13 tahun pada lakilaki. Selama pertambahan tinggi tubuh yang pesat, perempuan bertambah sekitar 3
inci per tahun; laki-laki sekitar 4 inci. Laju pertambahan berat tumbuh remaja kurang
lebih menyerupai laju pertambahan berat tubuhnya. Laju pertambahan berat tubuh
remaja kurang lebih menyerupai 50% dari berat tubuh orang dewasa, ini diperoleh
dimasa remaja (Rogol,Roemmch, & Clark, 1998) selama masa remaja awal, berat
tubuh perempuan cenderung, melebihi berat tubuh laki-laki, namun seperti halnya
dengan tinggi tubuh sekitar usia 14 tahun tinggi tubuh laki-laki mulai melebihi tinggi
tubuh perempuan.
KEMATANGAN SEKSUAL
Para peneliti menemukan bahwa karakteristik pubertas laki-laki berkembang
mengikuti urutan tertentu: membesarnya ukuran penis dan testikel; tumbuhnya
rambut kemaluan yang halus; perubahan suara yang tidak terlalu kentar; ejakulasi
pertama (spermache-hal ini biasanya berlangsung melalui masturbasi atau mimpi
basah); tumbuhnya rambut kemaluan yang keriting; tumbuhnya rambut wajah;
dimulainya pertumbuhan yang maksimum; tumbuhnya rambut di ketiak; perubahan
suara yang lebih kentara; dan tumbuhnya rambut di wajah. Tiga tanda kematangan

seksual yang paling mencolok pada remaja laki-laki adalah perpanjangan penis,
perkembangan testis, dan tumbuhnya rambut di wajah.
Pertumbuhan fisik pada perempuan mengikuti urutan tertentu: membesarnya
payudara; tumbuhnya rambut kemaluan; tumbuhnya rambut di ketiak; pinggul lebih
lebar dari pada bahu; menstruasi pertama (menarche). Awalnya, siklus menstruasi
pertama tidak teratur dan remaja perempuan mungkin tidak mengalami okulasi di
setiap siklus. Dalam beberapa kasus, remaja perempuan belum subur sampai dua
tahun setelah periode dimulai. Perempuan tidak mengalami perubahan suara seperti
yang dialami laki-laki. Dua aspek yang paling terlihat selama perubahan masa
pubertas perempuan adalah tumbuhnya bulu kemaluan dan berkembangnya payudara.
14
Kecepatan pubertas antara individu satu dengan individu lainnya cenderung
bervariasi. Pada laki-laki, rangkaian pubertas dapat dimulai di usia 10 tahun atau usia
13 tahun atau 17 tahun. Pada perempuan rentang usia normal untuk menarche
dapat lebih luas antara usia 9 hingga 15 tahun.
PRIA
1.

tanpa rambut kemaluan. Testis, skrotum, dan penis kurang lebih berukuran dan
berbentuk sama seperti anak-anak.

2.

Rambut kecil, lembut, berwarna terang di pangkal penis. Rambut ini mungkin lurus
atau sedikit ikal. Testis dan skrotum telah membesar, dan kulit skrotum berubah.
Skrotum, kantung berisi testis, turun sedikit. Penis telah tumbuh sedikit.

3.

Rambutnya lebih gelap dan kasar, dan lebih ikal. Rambut itu telah menyebar
meliputi area lebih luas. Penis telah tumbuh terutama panjangnya. Testis dan skrotum
telah tumbuh dan turun lebih jauh daripada tahap 2

4.

Rambutnya kini segelap, seikal, dan sekasar pada lelaki dewasa. Namun ares
liputannya tidak seluas lelaki dewasa; belum menyebar ke selangkangan. Penis telah
tumbuh lebih besar dan panjang. Glans (kepala penis) lebih besar. Skrotum lebih
gelap dan besar karena testis telah membesar.

5.

Rambut telah menyebar ke selangkangan dan kini serupa dengan lelaki dewasa.
Penis, skrotum, dan testis berukuran seperti lelaki dewasa.
WANITA

1.

Puting menonjol sedikit

2.

Tahap mekarnya buah dada. Puting lebih menonjol daripada tahap 1. Payudara
berupa gundukan kecil, areola lebih luas daripada tahap 1.

3.

Areola dan payudara lebih besar daripada tahap 2. Areola tidak menonjol dari
payudara.

4.

Areola dan puting membentuk tonjolan di puncak payudara.

15
5.

Tahap dewasa matang. Payudara telah penuh. Hanya puting yang menonjol. Areola
kembali rata dengan permukaan payudara.
SAAT PUBERTAS DAN PEMELIHARAAN KESEHATAN
Para remaja yang perkembangannya sangat dini atau sangat lambat, seperti
remaja laki-laki yang tidak mengalami pertambahan ketinggian secara pesat di usia
16 tahun atau remaja perempuan yang belum mengalami menstruasi di usia 15 tahun,
cenderung menjadi bahan kajian para dokter. Apabila perkembangan pubertas sangat
lambat, dokter dapat merekomendasikan penanganan hormonal atau pemasukan
hormon.
OTAK
1. Neuron
Neuron atau sel syaraf adalah sebuah unit dasar dari system syaraf. Sebuah
neuron memiliki 3 bagian, yaitu: tubuh sel, dendrit (bagian dari neuron berfungsi
untuk menerima stimulus), axon (bertugas membawa informasi keluar dari tubuh sel
ke sel lain). Membran myelin atau lapisan dari sel-sel lemak berfungsi melindungi

banyak axon. Lapisan tersebut membantu menyekat axon dan mempercepat transmisi
dari impuls syaraf.
Ketika masa pubertas dimulai, kadar neurotransmitter cairan kimia yang
membawa informasi melintas celah sinaps diantara satu neuron ke neuron lainnya
mengalami perubahan.
Pengalaman dan Plastisitas
Lingkungan yang Kurang Stimulasi dan Kaya Stimulasi. Sampai dengan
pertengahan abad ke 20, para ilmuwan berpendapat bahwa perkembangan otak
hampir sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik. Para peneliti juga
menemukan adanya tendensi aktivitas otak yang depresif pada anak-anak yang
tumbuh dalm lingkungan yang kurang responsive dan kurang stimulasi.
16
Dapatkah Sel-Sel Otak Baru Dihasilkan di Masa Remaja
Sampai dengan akhir abad ke 20, para ilmuwan berpendapat bahwa otak tidak
lagi menghasilkan sel-sel (neuron) baru setelah masa awal anak. Meskipun demikian,
akhir-akhir ini para peneliti menemukan bahwa orang dapat menghasilkan sel-sel
otak baru sepanjang kehidupannya. Di samping itu, bukti baru memperlihatkan
bahwa olahraga dan pengalaman yang kaya akan stimulasi dapat menghasilkan sel-sel
otak baru.
Dapatkah Otak Remaja Pulih dari Cedera
Di masa remaja dan bahkan hingga masa remaja akhir, otak memiliki
kemampuan

mengagumkan

untuk

memperbaharui

dirinya.

Karena

otak

mempertahankan plastisitasnya di masa remaja, semakin awal cedera otak itu terjadi
dan semakin awal didiagnosis cedera otak tersebut maka kemungkinannya untuk
pulih juga semakin besar.
Perkembangan Otak dan Pendidikan
Salah satu bentuk kesalahan penerapan neurosains dalam dunia pendidikan
adalah gagasan mengenai periode kristis atau sensitif-jendela biologis dari peluang-

kapan belajar itu menjadi mudah, efektif, dan siap disimpan. Meskipun demikian,
tidak ditemukan bukti adanya neurosains yang mendukung pendapat tersebut. Salah
seorang ahli neurosains terkemuka pernah mengatakan bahwa meskipun anak-anak
memperoleh informasi dalam jumlah besar selama masa awal kehidupan, sebagian
besar proses belajar berlangsung setelah pembentukan sinaps menjadi stabil, yakni
pada usia 10 tahun ke atas.
PERKEMBANGAN PSIKOMOTORIK
Perkembangan motorik merupakan perubahan tingkah laku motorik yang
terjadi secara terus-menerus sepanjang siklus kehidupan manusia yang dipengaruhi
oleh tuntutan-tuntutan tugas biologis individual dan juga lingkungan.
17
Perkembangan diartikan sebagai satu perubahan individu pada tingkat
fungsional. Sedangkan dalam domain psikomotorik, kognitif dan afektif, tingkat
fungsional yang dimaksud adalah produk keturunan, kematangan, pertumbuhan,dan
pengalaman sebagai pengaruh dari lingkungan.
Domain psikomotorik terdiri atas kemampuan fisik dan motorik yang
didasarkan pada proses biologis (pertumbuhan) dan motorik (fungsional).
Perkembangan Psikomotorik merupakan seluruh kemampuan pokok dalam
memfungsikan keterampilan motorik. Dalam perkembangan psikomotorik terbagi
menjadi tiga bagian yaitu, pertumbuhan dan perkembangan motorik dan
pengembangan persepsi motorik serta kesegaran jasmani.
Pada masa ini merupakan waktu yang tepat untuk mengikuti beragam
pertandingan atau kegiatan olahraga. Mereka memiliki perhatian, kemauan, motivasi
untuk meningkatkan penampilan yang didapat pada masa kanak-kanak kecil hingga
anak-anak. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam masa ini:
1.

Aktifitas yang mengunakan keterampilan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam


hal ini mereka diberikan kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam berbagai
kegiatan.

Aktifitas dengan perkembangan fisik. Program latihan untuk pengembangan fisik dan
motorik:
Bentuk aktivitasnya meliputi pengenalan keterampilan olahraga, mereka di kenalkan
teknik olahraga dan bentuk olahraga. Seperti bermain dengan menggunakan media
bola, misalnya bermain voli, kita sebagai pendidik mengajarkan bagaimana bermain
bola dan tekniknya.
Berlatih dengan situasi berulang-ulang (drill). Seperti menyepak bola dengan sasaran
tertentu secara berulang-ulang. Atau dapat juga melempar bola atau shooting dengan
menggunakan sasaran tertentu secara berulang ulang.
2. Aktifitas dengan perkembangan fisik. Berikut merupakan program latihan
untuk pengembangan fisik.
18
Squat jump (Meningkatkan kekuatan kaki)
Push up (Meningkatkan kekuatan tangan)
Sit up (Meningkatkan kekuatan perut)
Back up (Meningkatkan kekuatan punggung)
3.

Latihan relaksasi

Peregangan otot-otot
Pengendoran otot-otot
4.

Menuju prestasi dengan cara dibina dan masuk klub karena pada masa ini adalah
masa keemasan untuk berprestasi.
Wuest & Combardo (1974) menyatakan bahwa perkembangan aspek
psikomotorik usia remaja ditandai dengan perubahan jasmani dan fisiologis sex yang
luar biasa. Salah satu perubahan luar biasa tersebut adalah perubahan pertumbuhan
tinggi badan dan berat badan, sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga
seringkali mereka terlihat tidak memikirkan akibat dari perbuatan mereka, dan
kadang mengalami proses pencarian jati diri.

2.5 Karakteristik Perkembangan

Karakteristik perkembangan psikomotorik ditandai dengan berkembangnya


rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai
moral dan keyakinan beragama pandangan moral individu makin lama makin menjadi
lebih abstrak, keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada
apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan, penilaian
moral menjadi semakin kognitif, dan penilaian moral menjadi kurang egoistik.
Misalnya matangnya organ reproduksi. Pada permasalahan ini, remaja membutuhkan
pemuasan biologis, kalau tidak terbimbing oleh norma-norma tertentu dapat
mendorong remaja melakukan masturbasi, homosexual, atau mencoba hetero-sexual
19
yang mungkin berakibat lebih jauh lagi berkembang penyakit kelamin, disamping
merupakan pelanggaran atas norma kesusilaan.
Secara garis besar, karakteristik perkembangan psikomotorik pada remaja
yaitu, keterampilan psikomotorik yang berkembang sejalan dengan pertumbuhan
ukuran tubuh, kemampuan fisik, dan perubahan fisiologi. Pada masa ini, pria
mengalami perkembangan psikomotorik yang lebih pesat dibanding wanita.
Kemampuan psikomotorik pria cenderung terus meningkat dalam hal kekuatan,
kelincahan, dan daya tahan. Secara umum, perkembangan psikomotorik pada wanita
terhenti setelah mengalami menstruasi. Oleh karena itu, kemampuan psikomotorik
laki laki lebih tinggi daripada perempuan. Misalnya, tubuh pria lebih cepat
perkembangannya, lebih tinggi ukuran badannya di banding wanita, pria lebih kuat
dalam angkat-angkat barang yang berat di banding wanita yang lemah, dll.
Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan
kecakapankecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan
memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk
dan memperlihatkan identitas diri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim
dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai
penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di

satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap
kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian
peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada
masing-masing anggota.
Implikasi perkembangan psikomotor dan fisik masa anak dalam pendidikan
misalnya dalam membimbing remaja dalam tugas perkembangan masa remaja , yaitu
Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. Mencapai peran sosial
sebagai pria atau wanita. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara
efektif. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
Mencapai jaminan kemandirian ekonomi. Memilih dan mempersiapkan karier.
20
Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga. Mengembangkan keterampilan
intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara. Mencapai perilaku
yang bertanggung jawab secara sosial. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika
sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku.
Faktor yang mempengaruhi
a.

Pola asuh orang tua


Pola asuh orang tua adalah sebuah faktor penghambat psikomotorik remaja
disaat pola asuh orang tua terlalu otoriter ataupun terlalu memaksa, karena
karakteristik seorang remaja sangat sensitif ditambah setiap remaja tidak dapat secara
langsung dioptimalkan secara cepat dengan kata lain memaksakan kemampuan
dengan waktu yang singkat.
Apabila orang tua memaksakan peningkatan potensi perkembangan
psikomotorik remaja kebanyakan malah menyababkan gangguan mental terhadap
remaja tersebut biasanya remaja akan cenderung merasa canggung, merasa serba
salah tidak percaya pada diri sendiri dan merasa tertekan.
Pola asuh bukan hanya bisa menggangu peningkatan potensi psikomotorik
remaja akan tetapi malah akan menurunkan kemampuan psikomotoroknya, pada saat

remaja dalam kondisi depresi dan ditambah dengan tuntutan dari orang tua yang tidak
dapat dipenuhi oleh remaja, remaja yang sedang dalam keadaan depresi sangat mudah
untuk diketahui hal ini dikarenakan keadaan remaja bisa berubah secara drastis, tanda
tandanya antara lain, yang biasanya remaja tersebut suka bercanda berubah menjadi
pemurung, yang biasanya ceria berubah menjadi gampang marah, yang biasanya aktif
berubah menjadi pemalas.
Diharapkan apabila remaja dalam keadan seperti ini orang tua tidak
memaksakan lagi latihan dalam upaya meningkatkan potensi psikomotorik karena
malah akan membuat si remaja setres.

21
b.

Gen
Gen dari orang tua juga bisa menjadi penghambat dalam upaya meningkatkan
kemampuan psikomotorik remaja, apabila orang tua mempunyai pembawaan sifat
gen yang unggul maka dalam mengembangkan potensu kemempuan psikomotorik
remaja pun juga akan lancar. Hal sebaliknya apabila anak membawa pembawaan gen
dari orang tua dimana gen tersebut adalah gen yang lemah maka kemampuan
meningkatkan potensi psikomotorik remaja itu biasanya juga akan lemah. Atau yang
paling parah apabila remaja itu menderita autis maka akan sulit sekali meningkatkan
potensi kemampuan motorik yang ada.

c.

Pengaruh lingkungan
Lingkungan atau situasi kehidupan. Lingkungan tempat seseorang dibesarkan,
hubungan dengan anggota keluarga dan orang lain turut berpengaruh terhadap
perkembangan psikomotorik pada remaja, diantaranya yaitu lingkungan keluarga,
sekolah, dan lingkungan bergaul.
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi
anak- anak dan remaja. Pendidikan keluarga lebih menekankan pada aspek moral atau
pembentukan kepribadian daripada pendidikan untuk menguasai ilmu pengetahuan.

Proses sosialisasi awal ini di mulai dengan proses belajar menyesuaikan diri dan
mengikuti apa yang diajarkan orang- orang paling dekat. Dalam keluarga dikenal
adanya dua pola sosialisasi yaitu sosialisasi represif yang mengutamakan adanya
ketaatan anak pada orang tua dan pola sosialisasi partisipasi yang mengutamakan
adanya pertisipasi remaja tersebut sebagai anak.
(Supriadi, 2002: 40). Sekolah juga merupakan rumah kedua bagi remaja dan di
tempat ini pula remaja memperoleh pendidikan formal dan berlatih untuk
meningkatkan kemampuan berlandaskan tentang apa yang telah diperoleh dari
keluarga. Di sekolah juga terdapat bermacam ekstrakurikuler sehingga remaja dapat

22
memilih kegiatan itu sesuai bakat yang di miliki. Pada saat inilah remaja
meningkatkan perkembangan psikomotoriknya

Permasalahan yang muncul


Terdapat perubahan psikologis dalam jumlah besar yang menyertai
perkembangan pubertas remaja (Sarigiani & Petersen, 2000; Susman & Rogol, 2004).
a.

Citra Tubuh
Salah satu aspek psikologis dari pubertas yang pasti muncul pada laki-laki dan
perempuan adalah praokupasi (perhatian) remaja terhada tubuhnya (McCabe &
Ricciardelli; , 2003, 2004). Dimasa pubertas, remaja mengembangkan citra individual
mengenai seperti apakah tubuhnya itu. Praokupasi terhadap citra tubuh ini cukup kuat
dimasa remaja; secara khusus kecenderungan ini menjadi akut dimasa pubertas.
Seiring

dengan berlangsungnya

perubahan

dimasa

pubertas, remaja

perempuan sering merasa tidak puas dengan tubuhnya sehubungan dengan


meningkatnya jumlah lemak; sementara itu remaja laki-laki menjadi lebih puas ketika
melewati masa pubertas sehubungan dengan meningkatnya massa otot (Phillips,
2003; Seiffge-Krenke, 1998).

b.

Hormon dan Perilaku


Faktor-faktor hormonal dianggap dapat menjelaskan minimal sebagian dari
meingkatnya emosi-emosi negatif dan emosi yang berubah-ubah, yang merupakan
karakteristik remaja (Archibald, Graber, & Brooks-Gun, 2003; Dorn, Williams, &
Ryan, 2002). Para peneliti telah menemukan bahwa remaja laki-laki memiliki kadar
androgen lebih tinggi yang berkaitan dengan masalah agresivitas dan masalahmasalah perilaku lainnya (Van Goozen dkk. , 1998)

23
c.

Menarche dan Siklus Menstruasi


Menurut keterangan historis mengenai remaja, dimulainya masa pubertas dan
menarche dianggap sebagai peristiwa besar (Erickson, 1968; Freud, 1917/1958;
Hall, 1904). Pada dasarnya, gagasan yang ada menyatakan bahwa perubahan pubertas
dan peristiwa-peristiwa seperti menarche dan siklus menarche, mengakibatkan
perubahan tubuh yang menuntut seseorang untuk mengubah konsep-dirinya, dimana
hak ini dapat mengakibatkan krisis-identitas.

d.

Kematangan Dini dan Lambat


Berdasarkan Berkeley Longitudinal Study yang dilakukan di pertengahan
abad ke-20, remaja laki-laki yang lebih cepat matang memandang dirinya akan lebih
positif dan lebih berhasil dalam relasi dengan kawan-kawan dibandingkan dengan
remaja laki-laki yang yang lambat matang.
Penelitian baru-baru ini menyatakan bahwa kematangan dini (setidaknya
selama masa remaja) cenderung menguntungkan remaja laki-laki dibandingkan
dengan kematangan lambat (Petersen, 1987).

2.6 Analisis Praktis


Implikasi Perkembangan Kepribadian Pada Remaja Dalam Pendidikan
Kenyataan psikologi yang selalu dipegang oleh Kurt Lewin ialah bahwa pribadi
itu selalu ada dalam lingkungannya, pribadi tak dapat dipikirkan lepas dari
lingkungannya. Oleh karena itu, implikasi perkembangan kepribadian masa remaja
dalam pendidikan pun tidak dapat terlepas dari lingkungan remaja tersebut. Dimulai
dari lingkungan keluarga sampai lingkungan masyarakat sangat memberikan andil
besar dalam implikasi perkembangan kepribadian masa remaja dalam pendidikan.
24
Jadi,

apabila

dalam kenyataannya

terdapat ketidak selarasan dalam

perkembangan kepribadian remaja yang akhirnya menjadi suatu permasalahan


lingkungan pun memberikan pengaruhnya pada saat itu.
Conger (dalam Abin, 1975: 11) menegaskan bahwa pemahaman dan pemecahan
masalah yang timbul pada masa remaja harus dilakukan secara interdisipliner dan
antar lembaga. Meskipun demikian, pendekatan dan pemecahannya dari pendidikan
merupakan salah satu jalan yang paling efektif dan strategis, karena bagi sebagian
besar remaja bersekolah dengan para pendidik, khususnya para guru, banyak
mempunyai kesempatan berkomunikasi dan bergaul.
Diantara usaha-usaha pembinaan yang perlu di perhatikan, sekurang-kurangnya
untuk mengurangi kemungkinan tumbuhnya permasalahan yang timbul pada masa
remaja, dalam rangka kegiatan pendidikan yang dapat dilakukan para pendidik
umumnya dan para guru khususnya:
1.

Hendaknya seorang guru mengadakan program dan perlakuan layanan khusus bagi
siswa remaja pria dan siswa remaja wanita (misalnya dalam pelajaran anatomi, fisiologi dan pendidikan olahraga) yang diberikan pula oleh para guru yang dapat menyelenggarakan penjelasannya dengan penuh dignity. Tujuan dari usaha tersebut ada-

lah untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul


bertalian dengan perkembangan fisik dan psikomotorik remaja.
2.

Memperhitungkan segala aspek selengkap mungkin dengan data atau informasi


secermat mungkin yang menyangkut kemampuan dasar intelektual (IQ), bakat khusus
(aptitudes), disamping aspirasi atau keinginan orangtuanya dan siswa yang bersangkutan. Terutama pada masa penjurusan atau pemilihan dan penentuan program studi.
Upaya tersebut bertujuan untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang
mungkin timbul bertalian dengan perkembangan bahasa dan perilaku kognitif.
3. Seharusnya seorang guru bisa mengaktifkan dan mengkaitkan hubungan
25
rumah dengan sekolah (parent teacher association) untuk saling mendekatkan
dan menyela-raskan system nilai yang dikembangkan dan cara pendekatan
terhadap siswa remaja serta sikap dan tindakan perlakuan layanan yang
diberikan dalam pembinaannya. Tujuannya adalah untuk memahami dan
mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan
perkembangan perilaku social, moralitas dan kesadaran hidup atau
penghayatan keagamaan.

4.

Seorang guru atau pendidik untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah


yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan fungsi-fungsi konatif, afektif
dan kepribadian, seyogyanya seorang guru memberikan tugas-tugas yang dapat
menumbuhkan rasa tanggung jawab, belajar menimbang, memilih dan mengambil keputusan /tindakan yang tepat akan sangat menunjang bagi pembinaan kepribadiannya.
Berikut ini beberapa faktot yang mempengaruhi perkembangan kepribadian
remaja :

1.

Faktor Intelektual Terhadap Penyelengaaraan Pendidikan

Ditinjau dari segi pendidikan khususnya dalam segi pembelajaran yangg penti
ng adalah bahwa potensi setiap peserta didik (termasuk ke

mampuan intelektualnya) harus dipupuk dan dikembangkan. Untuk itu sangat diperlu
kan kondisikondisi lingkungan yang memungkinkan berkembanganya kemampuan in
telektual tersebut.
Conny Semiawan (1994) mengemukakan bahwa dua buah kon-disi yaitu kea
manan psikologis dan kebebasan psikologis. Peserta didik akan merasa aman secara p
sikologis apabila:
1.Pendidik dapat menerima peserta didik sebagaimana adanya tanpa syarat
dengan segala kekuatan dan kelemahannnya serta memberi kepercayaan padanya
bahwa ia baik dan mampu.
26
2. Pendidik mengusahakan suasana dimana peserta didik tidak merasa dinilai oleh
orang lain.
3. Pendidik memberi pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran, perasaan
dan perilaku peserta didik, dapat menempatkan diri dalam situasi anak, dan
melihat dari sudut pandang anak.
Teori Pieget mengenai perkembangan kognitif, sangat erat dan
penting hubungannya dengan umur serta perkembangan moral. Konsep tersebut
menunjukan bahwa aktifitas adalah sebagai unsure
pokok dalam perkembangan kognitif. Pengalaman belajar yang aktif
cenderung untuk memajukan perkembangan kognitif, sedangkan pengalaman belajar
yang pasif dan hanya menikmati pengalaman orang lain saja akan mempunyai konsek
uensi yang minimterhadap perkmbangan kognitif termasuk didalamnya perkembanga
n intelektualnya.
Model Pendidikan yang aktif adalah model yang tidak
menunggu sampai peserta didik siap sendiri. Tetapi sekolah yang mengatur lingkunga
n belajar sedemikan rupa sehingga dapat memberi

kemungkinan maksimal pada peserta didik untuk berinteraksi. Dengan


lingkungan yang penuh rangsangan untuk belajar tersebut, proses pembelajaran yang
aktif akan terjadi sehingga mampu membawa
peserta didik utuk maju ke taraf/tahap berikutnya. Dalam hal ini pendidik handaknya
menyadari benar-benar bahwa perkembangan intelektual anak berada ditangannya.

Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:


1.Menciptakan interksi atau hubungan yang akrab dengan peserta didik.
2. Memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk berdialog dengan orang-orang

27
yang ahli dan berpengalaman dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan akan sanga
menunjang perkembangan intelaktual anak.
3.Menjaga dan meningkatkan pertumbuhan fisik peserta didik baik melalui kegiatan olah
raga maupun menyediakan gizi yang cukup sangat penting bagi perkembangan
berfikir peserta didik
4. Meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik baik melalui media cetak maupun
menyediakan situasi yang memungkinkan peserta

didik berpendapat atau

mengemukakan ide-idenya, sengat besar pengaruhnya bagi perkembangan intelektual


peserta didik.
Faktor Fisik Teerhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Dalam penyelenggaraan pendidikan, perlu diperhatikan sarana dan prasarana
yang ada jangan sampai menimbulkan gangguan pada peserta didik. Misalnya tempat
didik yang kurang sesuai, ruangan yang gelap dan terlalu sempit yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan.
Disamping itu juga perlu diperhatikan waktu istirahat yang cukup. Penting
juga untuk menjaga supaya fisik tetap sehat adanya jam-jam olahraga bagi peserta

didik di luar jam pelajaran. Misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler kelompok
olahraga, bela diri dan sejenisnya.
Faktor Emosional terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Perkembangan emosi peserta didik sengat erat kaitannya dengan factor-faktor
diantaranya perubahan jasmani, perubahan dalam hubungannya dengan orang tua,
perubahan dalam hubungannya dalam teman-teman, perubahan pandangan luar
(dunia luar) dan perubahan dalam hubungannya dengan sekolah. Oleh karena itu
perbedaan individual dalam
Perkembangan emosi sangat dimungkinkan terjadi, bahkan diramalkan pasti dapat
terjadi.
28
Dalam rangka menghadapi luapan emosi remaja, sebaiknya ditangani dengan
sikap yang tenang dan santai. Orang tua dan pendidik harus bersikap tenang,
bersuasana hati baik dan penuh pengertian. Orang tua dan pendidik sedapat mungkin
tidak memperlihatkan kegelisahannya maupun ikut terbawa emosinya dalam
menghadapi emosi remaja.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa untuk mengurangi luapan emosi
peserta didik perlu dihindari larangan yang tidak terlalu penting. Mengurangi
pembatasan dan tututan terhadap remaja harus disesuaikan dengan kemampuan
mereka. Sebaiknya memberi tugas yang dapat diselesaikan dan jangan memberi tugas
dan peraturan yang tidak mungkin di lakukan.
4. Faktor Sosial-Kultural terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Usia remaja adalah usia yang sedang tumbuh dan berkembang baik
secara kuantitatif maupun secara kualitatif, baik fisik maupun psikisnya
Menganggap dirinya bukan anak-anak lagi, tetapi sekelilingnya menganggap
mereka belum dewasa. Dengan beberapa problem yang dialaminya pada masa

ini, akibatnya mereka melepaskan diri dari orang tau dan mengarahkan
perhatiannya pada lingkuan di luar keluarganya untuk bergabung dengan
teman sekebudayaannya, guru dan sebagainya. Lingkungan teman memgang
peranan dalam kehidupan remaja.
Selanjutnya sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang diserahi
tugas untuk mendidik, tidak kecil peranannya dalam rangka mengembangkan
hubungan social peserta didik. Jika dalam hal ini guru tetap berpegang sebagai
tokoh intelektual dan tokoh otoritas yang memegang kekuasaan penuh seperti
ketika anak-anak belum menginjak remaja, maka sikap social atau hubungan
social anak akan sulit untuk dikembangkan. Untuk itu rambu-rambu berikut
29
dapat digunakan sebagai titik tolak untuk pengembangan hubungan social
peserta didik:
1. Sekolah harus merupakan dasar untuk perkembangan kepribadian
peserta didik.
2. Saling menghargai merupakan kunci yang dapat digunakan untuk
menanggulangi masalah-masalah yang timbul dalam hubungan dengan
peserta didik yang bertabiat apapun.
3. Pola pengajaran yang demokratis merupakan alternatif yang sangat
bermanfaat bagi guru.
5. Faktor Bakat Khusus terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Berbeda dengan kemampuan yang menunjuk pada suatu performance
yang dapat dilakukan sekarang, bakat sebagai potensi masih memerlukan
latihan dan pendidikan agar suatu performance dapat dilakukan pada masa
yang akan datang (Semiawan, 1987; Munandar, 1992). Hal ini memberikan
pemahaman bahwa bakat khusus sebagai potential ability untuk dapat
terwujud sebagai performance atau perilaku yang nyata dalam bentuk suatu
prestasi yang menonjol masih memerlukan latihan dan pengembangan lebih
lanjut.

Dalam kaitan ini untuk menunjang perkembangan bakat umum


maupun bakat khusus terlebih supaya mencapai titik optimal di kalangan
peserta didik usia sekolah menengah perlu dilakukan langkah-langkah antara
lain:
1. Dikembangkan suatu situasi dan kondisi yang memberikan kesempatan bagi peserta
didik untuk mengembangkan bakat-bakatnya, dengan selalu mengusahakan adanya
dukungan psikologis maupun fisiologis.
2. Dilakukan usaha menumbuh kembangkan minat dan motivasi berprestasi yang tinggi
serta kegigihan dalam melakukan usaha dikalangan anak dan remaja, baik dalam
30
lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat oleh semua pihak yang terkait
secara terpadu.
3. Dikembangkannya program pendidikan berdiferensi di lingkungan lembaga
pendidikan formal (sekolah) guna memberikan pelayanan secara lebih efektif kepada
peserta didik yang memiliki bakat khusus menojol.
6. Faktor Komunikasi terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Tiga tingkatan kemampuan peserta didik sebagaimana dikemukakan di
atas tentunya akan sangat mempengaruhi aktivitas komunikasi dua arah antara
pendidik dengan peserta didik. Persoalannya adalah bagaimana untuk menjadi
pendidik yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik? Beberapa hal
dibawah ini dapat digunakan sebagai acuan oleh orang-orang yang
berkecimpung dalam dunia pendidikan, diantaranya :
1. Memberi penjelasan dalam menyampaikan informasi kepada
peserta didik yang berkaitan dengan iptek, hendaknya:
- Menentukan hal-hal pokoknya dan hubungannya satu sama lainnya.
- Memberi penjelasan yang meyakinkan artinya menerangkan hal-hal yang
benar dan menghindari penjelasan yang salah baik disengaja maupun tidak.
- Memberi penjelasan secara gambling dan sederhana sehingga semua peserta
didik dapat menangkapnya dengan baik.

- Menghindari berbicara dengan bahasa yang muluk, dan mengusahakan


berbicara dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta didik.
- Menghindari penggunaan kata-kata yang tidak jelas, tidak pasti dan tidak
tegas.
- Memeriksa kembali penjelasan apakah semua peserta didik telah mengerti
terhadap informasi yang disampaikannya.

31
4. Mengajukan pertanyaan
Pertanyaan yang diajukan oleh pengajar dapat digolongkan dalam dua
jenis, yaitu pertanyaan tingkat tinggi dan pertanyaan tingkat rendah.
Pertanyaan tingkat tinggi adalah pertanyaan yang menuntut pemikiran abstrak,
sedangkan pertanyaan tingkat rendah adalah pertanyaan yang menyangkut
fakta, pengetahuan sederhana, dan penerapan pengertian.
Hal yang perlu diusahakan oleh pendidik dalam kaitannya dengan
kegiatan ini adalah :
- Mengulangi pertanyaan yang diajukan oleh peserta didik dengan
maksud agar peserta didik yang lain mengetahui secara jelas
masalah yang ditanyakan.
- Menempatkan pertanyaan peserta didik dalam konteks keseluruhan
bahan pelajaran.
- Merangsang peserta didik agar mau mengajukan pertanyaan.
- Merespon pertanyaan dengan baik.
- Memberikan umpan balik dengan umpan balik akan diketahui
apakah komunikasi dua arah sudah tercapai dengan baik atau belum.
Umpan balik ini berlaku baik dari pengajar kepada peserta didik atau
sebaliknya.

32
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan
merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja.
Perkembangan psikomotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional
antara neuronmuscular system (persyarafan dan otot) dan fungsi psikis (kognitif,
afektif, dan konatif).
Dengan mempelajari berbagai karakteristik remaja akan sangat membantu
siswa yang masih dalam masa remaja, untuk keberhasilan proses pengajaran. Karena
setiap remaja berbeda, maka guru mau tidak mau harus bisa menjadi teman dan orang
tua bagi remaja itu sendiri. Diperlukan sikap polos, objektif terhadap siswa,adil dan
menunjukkan perhatian serta rasa simpatik dalam menghadapi remaja.

3.1 Kritik dan Saran

Dalam makalah ini, kami berharap agar para pembaca, khususnya kami selaku
pembuat makalah ini bisa lebih memahami serta mengetahui akan perkembangan
fisik dan psikomotorik. Lebih dari itu pula, sebagai calon pengajar (Guru) pengertian
akan kedua segi perkembangan ini, terutama bagi peserta didik sangatlah penting bagi
kami.
33
DAFTAR PUSTAKA

Desmita. 2007. Psikologi Perkembangan. Bandung : Rosda Karya.


Sugandhi, Nani M & Yusuf, Syamsu LN. 2011. Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Sunarto & Hartono. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.5

34