Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

SPEKTROFOTOMETRI UV

DOSEN PEMBIMBING

: DEWI W

TANGGAL PRAKTIKUM

: 2 APRIL 2015

TANGGAL PENYERAHAN

: 9 APRIL 2015

OLEH
ENDANG YUNIARTI

NIM 141411009

FAISAL RIADI

NIM 141411010

FILIPI ORLANDO

NIM 141411011

KELOMPOK 3
1A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

I. Tujuan Percobaan

Mempunyai pengetahuan dasar dan keterampilan dalam menggunakan peralatan

spektrofotometer
Menganalisis kandungan kafein

II. DASAR TEORI


1. Spectrofotometer
Spektrofotometri UV-VIS adalah pengukuran serapan cahaya di daerah ultraviolet
(200 350 nm) dan sinar tampak (350 800 nm) oleh suatu senyawa. Serapan cahaya
UV atau VIS (cahaya tampak) mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi
elektron- elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan
tereksitasi berenergi lebih tinggi.
Panjang gelombang cahaya UV-VIS bergantung pada mudahnya promosi elektron.
Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron, akan
menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang memerlukan
energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang.
Prinsip dari spektrofotometri UV-VIS senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah
tampak (senyawa berwarna) mempunyai elektron yang lebih mudah dipromosikan dari
pada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang lebih pendek. Jika radiasi
elektromagnetik dilewatkan pada suatu media yang homogen, maka sebagian radiasi itu
ada yang dipantulkan, diabsorpsi, dan ada yang transmisikan. Radiasi yang dipantulkan
dapat diabaikan, sedangkan radiasi yang dilewatkan sebagian diabsorpsi dan sebagian
lagi ditransmisikan.

Spektrofotometer 1500 shimadzu

Absorpsivitas hanya tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul dan panjang
gelombang atau frekuensi radiasi yang digunakan. Spektrum absorpsi (kurva absorpsi)
adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara absorban atau transmitan suatu
larutan terhadap panjang gelombang atau frekuensi radiasi.
Pemilihan panjang gelombang untuk analisis kuantitatif dilakukan berdasarkan pada
spektrum absorpsi yang diperoleh pada percobaan. Pengukuran absorpsi harus
dilakukan pada panjang gelombang absorban maksimum maks karena :
1. Kepekaan maksimum dapat diperoleh jika larutan dengan konsentrasi tertentu
memberikan signal yang kuat pada panjang gelombang tersebut.
2. Perbedaan absorban sangat minimal dengan berubahnya panjang gelombang
disekitar panjang gelombang absorban maksimum sehingga kesalahan pengukuran
sangat kecil.
Pelarut yang digunakan untuk spektrofotometri harus memenuhi persyaratan
tertentu agar diperoleh hasil pengukuran yang tepat. Pertama-tama, pelarut harus dipilih
yang melarutkan komponen analat, tetapi sesuai dengan bahan kuvet.
2. Kafein
Kafein dikenal sebagai trimethylxantine dengan rumus kimia C8H10N4O2 dan
termasuk jenis alkaloida. Bentuk alami kafein adalah Kristal putih, prisma heksagonal
dan dan berbobot molekul 194,19 dalton. Kafein memiliki titik leleh 238 oC dan
mengalami sublimasi pada suhu 178oC. Kafein terdapat secara alami pada biji kopi, biji
coklat, daun teh serta cula nuts.
Stuktur kimia dari kafein:

Kafein adalah kristal putih alkaloida xantina yang pahit, yang merupakan obat
stimulan psychoactive. Alkaloid adalah senyawa organik mirip alkali yang mengandung

atom nitrogen yang bersifat basa dalam cincin heterosiklik. Kafein ditemukan di dalam
berbagai macam jenis kacang-kacangan, dedaunan, dan buah dari berbagai tanaman.
Kafein juga bertindak sebagai suatu pestisida alami yang mengusir dan membunuh
serangga-serangga tertentu yang hidup di tanaman tersebut. Kafein paling sering
dikonsumsi oleh manusia dari ekstraksi biji buah kopi dan daun teh, seperti juga
berbagai makanan dan minuman yang berbahan dasar buah kola. Pada manusia, kafein
adalah suatu stimulan sistem saraf pusat (CNS, Central Nervous System), mempunyai
pengaruh temporer untuk menghindari terhadap kantuk dan juga memulihkan keadaan
siaga. .Hidangan-hidangan yang mengandung kafein, seperti kopi, teh, minuman tanpa
alkohol, dan minuman berenergi, mendapat ketenaran yang luas. Kafein mempunyai
efek diuretik, setidaknya ketika diberikan dalam dosis tertentu kepada subjek yang
tidak mempunyai toleransi padanya. Para pemakai reguler, bagaimanapun, telah
mengembangkan suatu toleransi yang kuat pada efek ini dan studi secara umum tidak
dapat membuktikan dugaan umum bahwa mengkonsumsi hidangan yang mengandung
kafein berkontribusi secara signifikan terhadap dehidrasi. sehingga kadar kafein pada
suatu minuman perlu dilakukan.
Rumus Molekul kafein
Kafein sebagai zat stimulan sering dituding sebagai penyebab kecanduan. Hal
tersebut tidak sepenuhnya benar. Kafein hanya dapat menimbulkan kecanduan jika
dikonsumsi dalam jumlah yang sangat banyak dan rutin. Kafein memiliki sifat
antisorporific yang dapat mengatasi sergapan rasa kantuk.
kadar kafein per 240 mL untuk berbagai jenis minuman adalah :
N

Produk

Kadar

o
1

Minuman

23

bersoda

65-120

Kopi

70-85

Minuman

20-90

energy

5-35

Teh

1-15

Cokelat
Susu cokelat

III. Alat dan Bahan


Alat
1. Spektrofotometri Shimadzu UV

Bahan
1. Larutan Induk kafein 100 ppm

1700 dan kuvet kuarsa


2. Labu takar 25 ml (8 buah )
3. Labu Takar 100 ml 1 buah
4. Gelas kimia 250 ml, 100 ml, 50

2. HCl 0,1 N

ml
5. Pipet Volume 10 ml
6. Bola hisap
IV. Skema Kerja
a. Pembuatan larutan Standar

0,5 ml; 1 ml; 1,5 ml


Pengenceran
Larutan blanko

Larutan kafein standar 4 ppm, 8 ppm, 12 ppm, 16 ppm, 20 ppm

b. Menyalakan Alat

Mengeluarkan silica gel dari sample compartement

Nyalakan alat UV-1700 (tombol di bagian samping kanan)

Buka monitor. Bila layer biru putar tombol sebelah kanan alat sampai muncul
'initialization'

Tunggu,sampai keluar tampilan 'mode menu'

c. Pengukuran Spektrum

Pilih menu 'spectrum' tekan 2atur parameter (setting meas mode,scanning


range,rec.range,speed,no.of.scan,display mode)

Masukkan kuvet berisi larutan blangko,kedua-duanya blangko

Tekan tombol 'Base corr' F1, tunggu sampai muncul 0,000 A (alat bunyi bipbip)

Ganti kuvet blangko yang bagian depan dengan larutan sampel (isi kuvet
dengan larutan sampel yang diinginkan)

Tekan tombol 'start',maka muncul spektrum antara Abs dengan Wavelength

Muncul 'wavelength' & 'absorbance',tampilan kurva A vs Lamda

tekan tombol 'data procc' F2,'peak'(3) untuk mengetahui panjang gelombang


maksimum dan absorbansi

d. Pengukuran Photometric

Pilih menu photometric, yaitu tekan 1, go to


Wl (wave length), isikan nilai panjang
gelombang

Masukkan kuvet yang berisi


larutan blangko (kedua-duanya)
pada sample compartment

Tekan tombol auto zero, tunggu sampai


dengan A: 0,000 A (alat bunyi bip-bip)

Ganti kuvet isi blangko dengan kuvet yang


berisi larutan sampel yang akan di
analisis(terletak di bagian depan)

Tekan tombol 'start'

Ganti kuvet sampel dengan larutan sampel


yang lain dan tekan 'start'

Muncul tabel photometric

Pengukuran Quantitativ

Pilih menu 'quantitative' dengan cara tekan (3),


(jika dari menu 'spectrum' tekan ' return' lebih
dahulu

Atur parameter:
1. Meas, 1 lamda: isikan panjang gelombang ; tekan 'enter'
2. Method; multi point (3); isi jumlah larutan standar yang
digunakan 'enter' ;
orde 1 'enter' ; zero intept NO 'enter'
3. No of meas. 1
4. Unit ppm
5. Data print NO

Masukkan kuvet isi larutan blangko pada kedua sisi 'reference


sample'
Tekan tombol 'Auto zero' , tunggu sampai dengan 0,000A
Tekan 'start', masukkan nilai konsentrasi larutan standar,
tekan 'enter' (pekarjaan tersebut dilanjutkan/diulang sampai
selesai
Muncul tampilan : NO I Conc I ABS

Tekan 'meas' (2)


Ganti kuvet blangko (bagian depan) dengan larutan standar
yang pertama
Tekan 'start' ; maka akan keluar nilai ABS
Ganti kuvet dengan larutan standar yang berikutnya, tekan '
start' , demikian seterusya sampai pengukuran selesai
Tekan 'cal.curve' F1 untuk melihat tamilan kurva kalibrasi

e. Pengukuran Konsentrasi Sampel

tekan RETURN sampai


menggati kuvet
Tekan START
kembali ke menu utama
depan dengan
quantitatif
larutan
sampelkonsentrasi sampel
*Prosedur dilakukan kembali untuk
mengukur
yang lain
f. Mematikan Alat
Mengosongkan
compartment cell

Silica gel
dimasukan kembali

memutar tombol
hingga layar menjadi
biru

V. Data Pengamatan

No

Konsentrasi (ppm)

Abscis ( )

ABS

1
2
3
4
5
6
7

0
2
4
6
8
10
12

204,6
204,6
204,6
204,6
204,6
204,6
279,2

0,008
0,197
0,419
0,666
0,922
1,134
1,414

Pengukuran Sampel
Sampel
1 (2 ppm dan 4 ppm)
2 (6 ppm dan 8 ppm)
3(10 ppm dan 12 ppm)

Absorbansi
0,396
0,805
1,319

Konsentrasi (ppm)
3,5845
7,0607
11,424

Kurva
1.6
1.4

f(x) = 0.12x - 0.03


R = 1

1.2
1
Absrbansi

0.8
0.6
0.4
0.2
0
0

Konsentraasi (ppm)

Konsentrasi sampel berdasarkan perhitungan


Sampel 1 :
A = 0,396
y = 0,1178x-0,0266
0,396 = 0,1178x-0,0266
0,1178x = 0,4226
x = 3,58
Sampel 2 :
A = 0,805
y = 0,1178x-0,0266
0,805 = 0,1178x-0,0266
0,1178x = 0,8316
x = 7,06
Sampel 3 :
A = 1,319

10

12

14

y = 0,1178x-0,0266
1,319 = 0,1178x-0,0266
0,1178x = 1,3456
x = 11,423

VI. Pembahasan
Endang Yuniarti NIM 141411009
Pada praktikum spektrofotometri-UV, dilakukan analisa Kafein dengan
menggunakan Spektofotometer-UV. Spektrofotometer

yang digunakan adalah

Spektrofotometer UV 1700 Shimadzu. Kafein merupakan senyawa yang berasal


dari alam yang tersebar luas dan tergolong dalam senyawa Alkaloid dengan rumus
molekul C8H10N4O2, termasuk basa lemah berbentuk serbuk putih yaitu kristalkristal panjang, rasanya pahit dan memiliki titik leleh sebesar 234-239C serta
menyublim pada temperatur 180-200C.
Larutan Blanko yang digunakan adalah larutan HCl 0,1 N. Larutan Kafein
standar yang digunakan adalah Larutan kafein 1000 ppm. Larutan kafein tersebut
diencerkan dengan HCl 0,1 N hingga larutan kafein memiliki konsentrasi 2, 4, 6,
8, 10, dan 12 ppm. Larutan ini merupakan larutan standar kafein untuk mengukur
panjang gelombang dan absorbansi. Sebelum proses pengukuran dilakukan, Kuvet
yang akan digunakan dibilas terlebih dahulu dengan HCl dan larutan yang akan
diukur. Proses pembilasan dilakukan 2 kali. Setelah dibilas, larutan yang akan
diukur dimasukkan secukupnya dan kuvet dikeringkan dengan menggunakan tisu
sampai tidak terdapat butiran air diluar permukaan kuvet. Kemudian, Kuvet
dibersihkan dengan menggunakan tisu khusus yang memiliki serat halus sehingga
tidak mengakibatkan permukaan luar dari kuvet tergores.
Untuk mengukur panjang gelombang maksimum, larutan standar kafein
yang digunakan adalah larutan kafein 8 ppm. Panjang gelombang maksimum
yang diperoleh adalah 204,6 nm. Data tersebut digunakan sebagai acuan untuk
larutan standar yang lain dan larutan kafein cuplikan. Pada literatur, panjang
gelombang maksimumnya adalah 210 nm, namun data yang diperoleh adalah

204,6 nm. Hal ini disebabkan oleh perbedaan konsentrasi zat yang digunakan dan
pembuatan larutan yang berbeda.
Pengukuran absorbansi larutan dimulai dari konsentrasi larutan standar
yang paling rendah sampai konsentrasi larutan standar yang paling tinggi. Data
absorbansi yang diperoleh berbentuk linier setelah dibuat kurva. Setelah itu,
pengukuran absorbansi dilakukan pada larutan kafein cuplikan. Setelah data
dimasukkan kedalam kurva, kurva yang diperoleh tetap linier. Kurva yang
diperoleh memiliki regresi sebesar 0,9976 yang artinya kurva standar ini
merupakan kurva standar untuk penentuan konsentrasi/kadar sampel, karena kurva
yang diperoleh sudah linear sehingga absorbansi memiliki korelasi dengan
konsentrasi dan merupakan suatu fungsi. Absorbansi yang didapatkan berdasarkan
hasil percobaan ini linear, artinya tidak terlalu banyak terjadi kesalahan saat
pembuatan larutan. Kurva yang didapat sesuai dengan literatur. Berdasarkan
pengamatan, dapat dilihat bahwa semakin besar nilai absorbansi maka semakin
besar pula konsentrasi sampel yang didapat, dan semakin pekat larutan maka
semakin besar konsentrasi zat pada larutan tersebut.

VII. Simpulan
1. Panjang gelombang maksimum berdasarkan praktikum adalah 204,6 nm.
2. Absorban yang diperoleh dari hasil praktikum
No

Konsentrasi (ppm)

Abscis ( )

ABS

1
2
3
4
5
6
7

0
2
4
6
8
10
12

204,6
204,6
204,6
204,6
204,6
204,6
279,2

0,008
0,197
0,419
0,666
0,922
1,134
1,414

Sampel
1 (2 ppm dan 4 ppm)
2 (6 ppm dan 8 ppm)
3(10 ppm dan 12 ppm)

Absorbansi
0,396
0,805
1,319

Konsentrasi (ppm)
3,5845
7,0607
11,424

3. Semakin besar nilai absorbansi maka semakin besar pula konsentrasi sampel
yang diperoleh.
4. Semakin pekat larutan maka semakin besar konsentrasi zat pada larutan
tersebut.
5. Metode spektrofotometri memerlukan larutan standar yang telah diketahui
konsentrasinya.

VIII. Daftar Pustaka


Anonim,2012a. Spektrofotometri. http://wwkhusnul.blogspot.com/2012/06/spekt
rofotometri.html. Diakses Pada tanggal 4April 2015 Cimahi.
Anonim, 2012b. Laporan Praktikum Kimia Analis.http://tumpahanideku
.blogspot.com/2012/06/laporanpraktikumkimiaanalisis_3869.html.Diakses
Pada tanggal 4 April 2015 Cimahi.
Basset, J., 1994, Vogel .Buku Teks Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik,
Edisi ke- 4, Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Mentari, Sri Rahayu. 2012. Absorbansi. http://www.scribd.com /doc/95126973/m
Absorbansi. Diakses pada tanggal 4 April 2015 Cimahi.
http://www.scribd.com/doc/83285827/Lap-1-Klorofil.
2015 Cimahi .

Diakses tanggal 4 April