Anda di halaman 1dari 36

KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

DEPUTI BIDANG AKUNTABILITAS APARATUR

MODUL PELATIHAN

Evaluasi Kinerja Instansi


Berbasis Evaluasi Program

© Tim Studi Pengembangan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

JAKARTA, MEI 2005


DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................. 1

BAB 2 PROSES DAN DESAIN EVALUASI PROGRAM .......... 3

BAB 3 LANGKAH-LANGKAH DAN PETUNJUK


EVALUASI PROGRAM .................................................... 10

BAB 4 METODE PRAKTIS EVALUASI/RIVIU PROGRAM .... 13

LAMPIRAN 1 PENJELASAN DAN CONTOH-CONTOH RIVIU


INDIKATOR KINERJA ............................................... 22
BAB 1
PENDAHULUAN
PERLUNYA EVALUASI PROGRAM

Evaluasi program-program pemerintah merupakan tanggung jawab pemerintah


sebagai pelaksana kemauan politik pemerintah dan dewan yang telah
dirumuskan bersama. Evaluasi terhadap program menjadi sangat penting jika
dikaitkan dengan peningkatan akuntabilitas instansi.

Tujuan dari evaluasi program, paling tidak ada empat tujuan umum, seperti:
1) Memperbaiki pelaksanaan program (penerapan dan hasilnya);
2) Menuntun arah kebijakan dan inisiatif-inisiatif program di masa yang
akan datang;
3) Memperoleh atau meningkatkan pengetahuan, mendapatkan
pemahaman yang lebih baik (insight) atau menguji suatu teori sosial atau
ekonomi;
4) Meningkatkan akuntabilitas.

AKUNTABILITAS PROGRAM

Evaluasi program yang dilakukan oleh pelaksana dan penanggung jawab


program merupakan bentuk dari akuntabilitas para penyelenggara program itu
agar dapat selalu meyakinkan bahwa tujuan program dapat dicapai dan sesuai
dengan misi yang dijalankan oleh instansi. Akuntabilitas program akan dapat
dinilai dari hasil program tersebut yang dinikmati oleh peserta program atau
masyarakat yang menjadi target group program. Ini berarti inti dari akuntabilitas
program adalah akuntabiltias terhadap outcomes yang dapat diwujudkan oleh
program tersebut.

MENONJOLKAN OUTCOME PADA MONITORING PROGRAM

Pelaporan kinerja instansi pemerintah sering kali dilakukan kurang


mengungkapkan pencapaian kinerja yang menggambarkan outcomes yang bisa
dicapai. Hal ini tentulah bagi masyarakat kurang memuaskan, walaupun dari
jaman ke jama keadaan ini selalu saja terjadi. Para pelaksana program dan para
pejabat penanggung jawab program hanya mau kalau dimintai pertanggung
jawaban sebatas pada output saja. Sedangkan jika ditanya mengenai outcomes
mereka cenderung mengelak dengan alasan itu tidak dalam pengendaliannya
(uncontrollable variables). Sedangkan masyarakat berpendapat lain, semestinya
adanya pemerintah tentulah untuk membawa manfaat bagi masyarakat.

1
Beberapa negara dalam OECD (organization for economic cooperation and
development) bersepakat tentang daftar yang menjadi perhatian (concern) yang
menggambarkan “social concern” sebagai berikut:
a. Umur hidup (length of life);
b. Kesehatan hidup;
c. Penggunaan fasilitas pendidikan;
d. Learning (pembelajaran);
e. Kemampuan angkatan kerja;
f. Kondisi kerja;
g. Penggunaan waktu (leisure);
h. Pendapatan (income, including distribution);
i. Kemakmuran;
j. Kondisi perumahan;
k. Akses kepada pelayanan sosial (pendidikan, perumahan, kesehatan, dll.)
l. Mutu lingkungan (environmental nuisances);
m. Social attachment (sense of belonging, marginalization, etc)
n. Exposure to risk and perceive threat (kriminalitas, keamanan pribadi,
kerusuhan, keamanan, keadilan, dll.).

Penggambaran tentang apa yang dibutuhkan, diinginkan dan diharapkan


masyarakat negara-negara itu meliputi hasil-hasil (outcomes) di atas, harus bisa
diciptakan baik melalui intervensi kebijakan pemerintah maupun oleh pihak
masyarakat sendiri. Karena itu, program-program pemerintah-pun diharapkan
menyentuh hal-hal seperti daftar di atas.

APA YANG PERLU DILAKUKAN

Meningkatkan kinerja organisasi dapat dicapai melalui antara lain dengan


meningkatkan kinerja pelaksanaan program. Pelaksanaan program dapat
menjadi sampel apakah suatu organisasi telah melaksanakan misinya dengan
baik dan akuntabel. Oleh karena itu, evaluasi program jika dijalankan akan
merupakan bentuk dari kepedulian para manajer pelaksana program.

Jika evaluasi program sudah dilakukan atau akan dilakukan yang perlu menjadi
perhatian adalah perlunya mengecek kembali cara mengelola program,
termasuk cara memonitor dan mengevaluasi program. Perbaikan sistem dan
metode untuk pelaksanaan akan dapat dilakukan jika secara terus menerus
dilakukan pengamatan dan melihat berbagai kemungkinan perbaikan.

Terdapat dua pendekatan yang dibahas dalam modul ini, yaitu:


1) Evaluasi program yang dilakukan secara mendalam seperti halnya riset
terapan;
2) Evaluasi program yang dilakukan secara pragmatis, yang mengejar
kepraktisan pelaksanaan dan manfaat praktis dari evaluasi ini.
Kedua pendekatan ini di dalam pembahasannya pada modul ini memang
tersebar dari bab 1 sampai dengan bab 4. Bab terakhir yaitu bab 4, membahas
lebih rinci mengenai evaluasi program dengan pendekatan pragmatis.

2
BAB 2
PROSES DAN DESAIN EVALUASI
PROGRAM
OVERVIEW

Tugas yang mendasar dari evaluasi program

Sekali suatu program ditentukan akan dievaluasi, maka itu berarti bahwa
evaluasi program dilakukan atas prinsip dasar bahwa sumber daya dan aktivitas
yang dilakukan untuk melaksanakan program tersebut membuahkan hasil baik
output atau outcomes yang telah ditentukan. Tugas dari evaluasi program
adalah menentukan apakah output dan outcomes tersebut bisa diwujudkan atau
terealisasikan. Evaluasi itu tentulah melalui pengumpulan dan analisis data yang
memadai.

Dalam hal evaluasi program dilakukan secara komprehensif, maka evaluasi itu
mencakup:
a. Monitoring program, ini adalah penilaian apakah suatu program
dilaksanakan sebagaimana direncanakan. Monitoring program ini akan
memberikan umpan balik yang terus menerus pada program yang
dilaksanakan dan mengidentifikasikan masalah begitu muncul.
b. Evaluasi proses; ini merupakan penilaian bagaimana program
dioperasikan; berfokus pada pelaksanaan program kepada peserta
(service delivery).
c. Evaluasi dampak, ini adalah penilaian apakian suatu program telah
mewujudkan pengaruh terhadap individu-individu, rumah tangga,
lembaga atau lingkungan hidup, dan apakah dampak tersebut dapat
secara ilmiah diatribusikan kepada pelaksanaan intervensi program
tersebut.
d. Cost-benefit atau cost effectiveness, adalah penilaian dari biaya program
dan manfaat yang dihasilkan oleh biaya tersebut, untuk menentukan
apakah manfaatnya cukup bernilai dibandingkan biaya yang digunakan.

Komponen-komponen Umum pada Proses Evaluasi

Proses dasar evaluasi biasanya terdiri dari beberapa komponen atau unsur
sebagai berikut:

1. Komponen pertama: Analisis Logika Program (Program Logic)


Bahwa setiap kebijakan publik dirumuskan dan diimplementasikan untuk
menjawab kebutuhan sosial atau permasalahan sosial. Ini akan
mencerminkan tujuan dan sasaran program yang dirancang. Untuk
mencapai tujuan dan sasaran tersebut, program itu menggunakan input
dan proses untuk mengkonversi input tersebut menjadi immediate outputs
dan sampai ke long-term outcomes.

3
2. Komponen kedua: Desain Evaluasi
Desain evaluasi adalah pendekatan atau cara-cara yang diambil dalam
memverifikasi apakah program logic atau program theory itu terjadi dan
direalisasikan dalam kenyataan di lapangan. Wujud dan nuasa dari
control-stage evaluation dari program secara analitikal berbeda dari suatu
planning-stage evaluation untuk kelayakannya. Perbedaan yang penting
adalah bahwa control evaluation adalah secara empiris dan lebih
independen dari pada instansi pelaksana, sedangkan pada planning-
stage evaluation lebih banyak berhubungan dengan kelayakan dan
masalah potensial dari implementasi program.
3. Komponen ketiga: Metode Analisis
Metode analisis untuk pengukuran dan kualifikasi output program dan
outcomes-nya biasanya mengoperasikan analisis dengan alat statistika,
ekonometrika, sosiometrika, dan sebagainya. Teknik statistik biasaya
mencakup analisis korelasi dan regresi dari dua cara yang berbeda
(target group versus kelompok lain yang tidak menjadi peserta program),
dan uji signifikansi dari perbedaan-perbedaan itu.

BEBERAPA TAHAPAN EVALUASI PROGRAM

Terdapat pendekatan pemecahan masalah yang dapat dipakai dalam evaluasi


program yang meliputi beberapa masalah yang diidentifikasi sebagai berikut:
1) masalah tujuan; untuk apa evaluasi dilakukan?
2) masalah organisasi (dari sisi evaluator); siapa yang melakukan evaluasi,
dan bagaimana mengorganisasikan?
3) Masalah analisis program; bagaimana program dijelaskan atau ciri-cirinya
bisa diuraikan? Apakan pihak yang dievaluasi mandiri dalam
melaksanakan program ini ataukah bagian dari sekumpulan instansi?
4) Masalah konversi; bagaimana proses implementasi terjadi antara
pencanangan program dan output akhir yang dikehendaki?
5) Masalah hasil; apa saja output dan outcomes program? (immediate,
intermediate, ultimate);
6) Masalah dampak; faktor-faktor apa saja yang dapat menjelaskan hasil?
7) Masalah kriteria; dengan nilai-nilai kriteria apa dan bagaimana program ini
dinilai ? dengan standar kinerja yang mana kriteria berhasil atau gagal
atau memuaskan dari kinerja program ini dinilai?
8) Masalah penggunaan; bagaimana temuan evaluasi dan hasil evaluasi
digunakan?

Secara umum tahapan evaluasi program adalah sebagai berikut:

1) Analisis logika program.


2) Desain Evaluasi.
3) Pengumpulan, analisis, dan interpretasi data.
4) Pelaporan.

Sedangkan sebagai suatu riset terapan, suatu evaluasi program mempunyai


tahapan sebagai berikut:

4
1) Definisi atau perumusan masalah evaluasis.
2) Tujuan dan fokus studi evaluasi.
3) Keseluruhan pendekatan dan metodologi studi:
a. Hypothesis
b. Lingkup dan coverage
c. Desain evaluasi.
4) Metode Pengumpulan data
a. Dokumen-dokumen yang sudah ada dan data sekunder.
b. Pengumpulan Data primer:
- desain survei
- metode sampling
- kuesioner dan pre-testing
- interviu.
5) Analisis data
a. metode kualitatif
- Perangkuman dan konversi catatan-catatan lapangan
- Analisis isi (content analysis)
- Studi kasus dari target group program atau keluarga yang
terpengaruh program.
b. metode kuantitatif
- analsis statistik (central tendencies, level of confidence, dll)
- analisis korelasidan regresi
- benefit-cost analisis.
6) Pengumpulan hasil evaluasi dan penyimpulan
7) Pelaporan dan presentasi hasil evaluasi.

DESAIN DASAR UNTUK EVALUASI PROGRAM

Evaluasi program sebagai suatu evaluasi yang mendalam seperti halnya riset
terapan, perlu didesain agar dapat menjawab:
- Apakah program telah dilaksanakan dan mencapai tujuan/sasarannya;
- Apakah program telah dilaksanakan secara efisien dan efektif serta tepat
(appropriate).
- Apakah hasil yang diamati memang merupakan hasil program dan bukan
confounding factors atau karena program lainnya.

Terdapat paling tidak tiga kategori jenis desain evaluasi, sebagai berikut:

1. Experimental design
2. Quasi-experimental design
3. Non-experimental, misalnya: Ex pest facto design.

Experimental design

Dalam ”eksperimen sosial yang sesungguhnya” keputusan disentralisasikan


berkenaan dengan perlakuan yang akan diterima target group program.
Keputusan ini dibuat oleh manajer program atau evaluator. Metode dalam

5
eksperimen ini baik jenis perlakuannya dan control group-nya ditentukan secara
random. Dan yang paling penting pada desain ini adalah bahwa kondisi saat
program belum ada dibandingkan dengan sesudah program selesai
dilaksanakan, baik pembandingan atas perserta program (experimental group)
maupun dengan control group tertentu.

Pada desain yang sangat sederhana misalnya,`mungkin saja tidak ada data
pada pretest. Kemudian, evaluator hanya membandingkan peserta program
dengan control group pembanding sesudah program dilaksanakan, untuk
menentukan apakah ada perbedaan yang signifikan terhadap keduanya.

Quasi-experimental designs

Quasi-experimental didesain untuk mengganti experimen yang sesungguhnya


dalam situasi dimana pengambilan sampel secara random tidak praktis
dilakukan. Secara fungsional, hal ini didesain untuk menerka hubungan sebab
akibat antara program dan efeknya (dampak). Desin ini memerlukan kejelasan
program sendiri, kelompok pembanding, ukuran outcomes, penilaian hubungan
antara program dan outcome, dan pendemonstrasian dampak yang ada adalah
disebabkan adanya program tersebut.

Desain non-experimental: Ex post facto design

Desian non-experimental ini antara lain dapat meliputi: outcome monitoring, ex


post facto evaluation, studi kasus, survei kepuasan pelanggan atau metode-
metode kualitatif.

Desain ex post facto dalam evaluasi, contoh yang lazim adalah rekonstruksi dari
suatu program, diikuti dengan observasi pasif terhadap subyek yang menerima
treatment (peserta program – target group program) dan yang tidak menerima
treatment, mereka yang menerima lebih banyak dengan mereka yang menerima
lebih sedikit, jika itu terjadi diteliti outcome yang ada. Sebagai contoh adalah
evaluasi atas efek dari anggaran belanja kepolisian terhadap tingkat kriminalitas
di dalam suatu kota.

SUMBER INFORMASI UNTUK EVALUASI PROGRAM

Sumber informasi untuk evaluasi program dapat diperoleh diberbagai tempat


dan pihak, seperti: kantor pencatat, kantor yang memonitor kegiatan,
perpustakaan, pusat data, divisi penelitian, penerangan dan informasi.

Sumber informasi tersebut dapat berupa:


1) Dokumen program: newsletter, rencana kerja, progress report,
accomplishment report, laporan statistik, bukti-bukti tanda terima dan bukti-
bukti catatan, logs, notulen rapat, catatan data personalia, proposal, catatan
proyek dan grant.
2) Pendapat para ahli (expert), fokus group pemerhati dan target group program
sendiri;

6
3) Hasil riset, survei, angket, jajak pendapat yang telah dilakukan terlebih
dahulu.
4) Foto, rekaman video, dokumentasi gambar sebelum dan sesudah program
dilaksanakan.

SINTESA EVALUASI DAN ATAU META ANALISIS

Sebelum melakukan evaluasi lebih jauh dengan mengumpulkan data dan


menganalisisnya, perlu dilakukan perangkuman hasil-hasil evaluasi sebelumnya
terhadap topik yang sama. Perangkuman hasil riset, riviu, kajian, penelahaan,
tinjauan, dan hasil studi terhadap topik yang sama dapat disebut sintesa
evaluasi. Jika mungkin bahkan lebih mendalam dilakukan meta analysis, yaitu
suatu cara riviu dan pengikhtisaran yang sistematis terhadap hasil studi
sebelumnya.

Evaluasi program sebagai kegiatan yang bersifat riset terapan perlu prosedur
meta analysis ini, agar evaluator memperoleh gambaran yang komprehensif
mengenai pelaksanaan studi sebelumnya, sehingga lebih berfokus kepada
menjawab pertanyaan evaluasi yang ada saat ini. Meta analysis dapat dilakukan
dengan melakukan studi kepustakaan yang masif dan melakukan data searching
melaluai media internet.

FAKTOR YG MEMPENGARUHI DESAIN

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pilihan desain yang dipakai
dalam suatu evaluasi program, yaitu:
1) keterbatasan sumber daya;
2) keterbatasan waktu;
3) tahapan program;
4) kemungkinan faktor-faktor yang menutupi, mengurangi atau
mementahkan hasil program (confounding factors);
5) keterbatasan politik dan keadaan.

EVALUASI KELAYAKAN DAN KETEPATAN PROGRAM

Evaluasi ketepatan (appropriateness) suatu program adalah sama saja dengan


menganalisis kelayakan (feasibility) program. Hal ini juga bisa dilakukan
sebelum proposal program disetujui dan diterapkan. Akan tetapi, bisa juga
evalusai ketepatan dan kelayakan ini dilakukan setelah program dijalankan
untuk mengecek apakah:
- program masih dibutuhkan oleh masyarakat di area yang berbeda;
- program masih selaras dengan prioritas nasional atau daerah;
- beberapa perubahan sasaran, target, penyeleksian kelayakan peserta
program atau target group program yang harus dilaksanakan.

Standar atau patokan pembanding yang digunakan dalam evaluasi kelayakan


dan ketepatan program adalah:

7
a. sasaran program dan target-target dibandingkan dengan kebutuhan dari
target group program;
b. rencana kerja dibandingkan dengan :
- kapasiatas implementasi: logistik, pembiayaan, anggaran, lokasi kantor
di area pelaksanaan program;
- best practices baik di dalam maupun luar negeri.
c. keselarasan dan konsistensi tujuan/sasaran program dengan prioritas
kebijakan pemerintah.

Masalah ketepatan program ini dapat diklasifikasikan ke dalam dua bagian yaitu:
a. ketepatan tujuan/sasaran-sasaran program.
b. ketepatan strategi program, rencana kerja dan alokasi sumber daya:
meriviu hasil studi, literatur, praktik terbaik, analisis logika program, cost-
benefit analysis, analisis risiko (apa yang mungkin menjadi keliru dalam
implementasi program, scenario analysis, kemungkinan efek samping
yang negatif, dan sebagainya).

Dalam menilai ketapatan tujuan/ sasaran program ini kita dapat mengacu
kepada apa yang disebut sebagai konsep ”kebutuhan publik (public needs)”.
Kebutuhan publik atau kebutuhan sosial masyarakat (social need) dapat
berwujud dalam tiga bentuk, yaitu: (1) kebutuhan normatif, (2) kebutuhan yang
diekspresikan (expressed need), (3) kebutuhan komparatif.

Kebutuhan publik itu sebagai contoh, misalnya: kebutuhan ketahanan pangan,


kebutuhan perumahan, kebutuhan perbaikan pendapatan, kebutuhan ketenaga
kerjaan, kebutuhan akan keadilan, dsb.

EVALUASI EFISIENSI

Evaluasi efisiensi ini dapat dilakukan jika pencatatan akan data keuangan dan
data kinerja sudah cukup baik, sehingga rincian akuntansi biaya dan analisis
biaya dapat dilakukan.

Evaluasi atas efisiensi ini sering dilakukan pada saat program berjalan, dengan
tujuan untuk melakukan perbaikan, hal ini di dalam literatur disebut sebagai
formative evaluation atau developmental evaluation (dibedakan dari summative
evaluation atau accountability evaluation yang dilakukan oleh pihak eksternal
setelah program berjalan).

Data dan informasi yang digunakan untuk analisis efisiensi dapat diperoleh dari
desain berikut:
a. monitoring program, input, proses/aktivitas, outputs.
b. Gap analysis : output vs sasaran.
c. Benchmarking dengan program yang sejenis.
d. Pilot studies dan studi kasus tertentu.
e. Mid-program review.

EVALUSI EFEKTIVITAS

8
Evaluasi efektivitas yang berfokus teradap outcomes dan dampak dari program
sangat penting untuk dilakukan dan akan menambah nilai bagi peningkatan
akuntabilitas instansi pemerintah pelaksana program. Hal ini karena efektivitas
program merupakan harapan masyarakat dan paling dekat dengan responsivitas
pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Tujuan dari evaluasi efektivitas program adalah untuk mengidentifikasi dan


mengukur outcome dan dampak dari program, serta menentukan hubungan
antara program dan outcome/impact apakah hubungan itu sebab-akibat
langsung atau hanya korelasi dengan banyak lagi faktor pendorong lainnya di
samping program tersebut.

Desain dari evaluasi efektivitas adalah untuk membandingkan antara apa yang
bisa diobservas setelah implementasi program dengan kondisi sebelum
program.

R
Efektivitas = -------
P

Atau:

R-C
Efektivitas = ------------
P–C

R = hasil sesungguhnya (actual results) atau actual outcomes


P = Planned outcomes atau outcomes yang diharapkan (direncanakan).
C = counterfactual, tingkat kuantitatif suatu variabel outcome jika program tidak
dilaksanakan. Data variable outcomes tersebut dapat diambil dari target group
program sebelum program dilaksanakan atau group yang serupa yang tidak
menerima treatment program tersebut.

PENDEKATAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF DALAM EVALUASI


PROGRAM

Untuk memaksimalkan hasil evaluasi program, pendekatan kualitatif dan


kuantitatif hendaknya dikombinasikan, dengan harapan keduanya dapat saling
melengkapi satu sama lain. Waluapun saat ini evalusi program-program instansi
pemerintah masih lebih banyak dilakukan dengan pendekatan kualitatif
dibanding pendekatan kuantitatif, namun demikian untuk menambah ‘external
validiy’ diperlukan pendekatan kuantitatif.

9
BAB 3
LANGKAH-LANGKAH DAN PETUNJUK
EVALUASI PROGRAM
MERIVIU SISTEM

Langkah yang perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum memperlajari lebih


mendalam program yang dievaluasi perlu dievaluasi sistem manajemen kinerja
ataupun sistem AKIP yang diterapkan pada instansi yang bersangkutan,
terutama dalam penataan program-program dan kegiatan-kegiatannya. Untuk itu
pertama yang paling mendesak adalah melakukan pemetaan terhadap program-
program baik yang sudah selesai maupun yang sedang berjalan. Kemudian,
mempelajari logika program apakah dalam penataan programnya instansi telah
memeliki kerangka logis yang sehingga berbagai komponen program dapat
dirumuskan dengan baik.

Setelah melakukan analisis logika program di atas, maka langkah selanjutnya


adalah lebih detail mempelajari sistem monitoring terhadap program tersebut.
Hal ini tentu saja juga mencakup

MENAKSIR EVALUABILITY SISTEM

Evaluability dari sistem yang terbangun dalam rancangan (desain) penataan


program dan pengelolaannya sangat mempengaruh seberapa mudah evaluasi
itu dilaksanakan. Seperti halnya dijelaskan di atas, bahwa informasi dari hasil
sistem monitoring sangatlah membantu proses evaluasi program. Jika secara
terencana (by design) memang sistem tersebut sulit untuk dievaluasi, maka
otomatis pada saat program dilaksanakan atau bahkan program sudah selesai
sekalipun tetap sulit untuk dievaluasi.

Oleh karena itu, faktor penting dalam melakukan evaluasi yang secara
pragmatis dapat dilakukan adalah mendorong agar evaluability program harus
baik, sehingga evaluasi dapat dilaksanakan secara mudah dan murah.

PROSES EVALUASI

Pada dasarnya proses evaluasi secara sederhana adalah perencanaan,


pelaksanaan dan pelaporan. Perencanaan evaluasi dapat dikategorikan menjadi
dua bagian pokok yaitu : (1) perencanaan administratif, dan (2) perencanaan
teknis. Perencanaan administratif menyangkut perencanaan yang berfokus
kepada pengelolaan pekerjaan evaluasi, seperti : penyusunan TOR (teram of
reference), pembuatan jadwal pelaksanaan, dsb. Sedangkan perencanaan

10
teknis menyangkut teknik pengumpulan data, teknik pengolahan data dan
analisis, serta pelaporan.

Dalam evaluasi program para evaluator diharapkan memahami perencanaan


dan desain evaluasi, yang meliputi konsep-konsep :
1) TOR
2) Analisis Logika Program (program logic)
3) Hipotesis
4) Desain evaluasi
5) Sampling design & procedure
6) Penyusunan kuesioner
7) Pelaksanaan survei dengan menggunakan kuesioner yang terstruktur.

Garis besar diagram proses evaluasi program yang dilakukan (sebagai riset
terapan) dapat disajikan seperti berikut:

Analisis logika program

Penyusunan TOR

Merumuskan masalah evaluasi, dengan berbagai


issue dan pertanyaan evaluasi

Memformulasikan null dan alternate hypohteses


untuk masalah evalusai, dan rincian desain evaluasi

Merumuskan model atau tools untuk analisis, seperti:


formula statistik, regresi-korelasi, atau cost benefit
formula, dsb.

Merumuskan data requirements untuk model


(analisis) tersebut : dari data yang ada dan primary
data survey

Mengumpulkan data: dari sumber data atau survei

Menganalisis dengan menggunakan model /formula

Pelaporan Hasil Evaluasi

11
PETUNJUK PENGUMPULAN DATA

Berikut ini diuraikan beberapa petunjuk pengumpulan data baik secara


prosedural maupun substantif, untuk memenuhi tujuan evaluasi :

1. Menyiapkan suatu daftar data requirement dari evaluasi yang akan


dilaksanakan ; Daftar ini semestinya berdasarkan pada :
a. TOR
b. Hypothesis
c. Analytical framework dan formula atau model.
2. Mengumpulkan data sekunder dari sumber data, seperti perpustakaan
umum, kantor-kantor, kantor statistik dan dari internet.
3. Jika survei diperlukan, buat kuesioner.
4. Field interview
5. Data coding, data reduction dan data conversion, klasifikasi data.
6. Cek kelengkapan data terhadap pemenuhan pembuktian hipotesis dan
model analisis atau formula yang telah ditentukan.

12
BAB 4
METODE PRAKTIS EVALUASI/ RIVIU
PROGRAM

LATAR BELAKANG
Dalam bab ini akan disajikan evaluasi secara pragmatis atau bahkan praktis
mengingat kendala evaluasi yang ada. Kendala evaluasi tersebut menyebabkan
desain evaluasi tidak menonjolkan keandalan secara ilmiah hasil evaluasi, akan
tetapi lebih menekankan pemenuhan kebutuhan praktis bagi perbaikan
pelaksanaan program dan hasil-hasil program.

Paling tidak terdapat empat kendala evaluasi saat ini yang dilakukan berbagai
instansi pemerintah dalam rangkat meng-akuntabilitas-kan kinerjanya, yaitu :
1. Biaya.
2. Waktu ;
3. Kemampuan SDM ;
4. Kesulitan koordinasi.

Kendala biaya evaluasi program, memang sering dihadapi instansi pemerintah,


oleh karena ketika program disetujui, ternyata tidak dianggarkan biaya evaluasi
program yang memadai. Di samping itu, mungkin saja sudah dianggarkan,
namun porsi anggarannya dikurangi sehingga tidak memungkinkan untuk
melakukan evaluasi yang mendalam.

Kendala waktu seringkali menjadi hal yang memaksa untuk tidak melakukan
evaluasi. Misalnya saja, pertama, karena kegiatan-kegiatan yang dibiayai
dengan anggaran pembangunan sudah berlalu, maka sudah dipertanggung
jawabkan secara finansial, sehingga evaluasi menjadi kadaluarsa untuk
dilakukan. Sebab yang kedua, desain waktu pelaksanaan evaluasi memakan
waktu yang panjang sehingga mempengaruhi pembiayaan yang tidak bisa
ditanggung oleh instansi pemerintah tersebut.

Kendala kemampuan sumber daya manusia pada saat ini juga sangat tinggi.
Pelaku evaluasi diberbagai instansi pemerintah kebanyakan kurang memahami
evaluasi program ini. Pengetahuan tentang riset terapan untuk evaluasi program
ini, mungkin hanya dipunyai dan dimiliki oleh satuan kerja penelitian dan
pengembangan.

Kesulitan koordinasi barangkali merupakan kendala yang paling banyak ditemui


dalam rangka mengevaluasi program. Kesulitan koordinasi ini tidak saja dari
satu intansi dengan instansi yang lain, akan tetapi juga di dalam suatu instansi
sendiri. Hal ini diduga karena selama ini pertanggung jawaban pelaksanaan
tugas pokok dan fungsi unit kerja masih berorientasi pada kegiatan-kegiatan
atau proyek-proyek dan bukan program.

13
Oleh karena adanya kendala-kendala tersebut, perlu dicari segala kemungkinan
untuk mengatasinya tanpa mengurangi kemanfaatan hasil evaluasi program itu
sendiri. Evaluasi program memang sering dikonotasikan sebagai kegiatan yang
memerlukan waktu dan biaya yang besar. Namun demikian bukan berarti
tertutup kemungkinan melakukan evaluasi program. Berikut akan dijelaskan
salah satu skenario yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi program secara
praktis.

TAHAPAN EVALUASI PROGRAM

1) Penelitian sistem;
2) Analisis Logika Program;
3) Desain evaluasi, yang menggunakan teknik riviu pencapaian sasaran dan
riviu indikator kinerja, serta pengecekan hasil secara uji petik.
4) Pelaporan.

Penelitian sistem
Penelitian sistem disini yang dimaksud adalah penelahaan sistem AKIP yaitu
sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Bagaimana instansi pemerintah
mengelola kinerjanya berdasarkan sistem AKIP diriviu dan diamati bagian-
bagian yang rawan atau kurang baik. Penelitian ini akan memperlancar
pelaksanaan evaluasi program.

Analisis Logika Program


Analisis logika program, langkah-langkahnya telah diuraikan pada bab-bab
sebelumnya dan juga dari modul analisis logika program.

Desain Evaluasi

Desain evaluasi program dengan pendekatan yang lebih praktis ini dapat
diuraikan dalam bentuk langkah dan pengoperasian teknik-teknik sebagai
berikut:
1) Penggunaan teknik riviu pencapaian sasaran;
2) Penggunaan teknik riviu indikator kinerja;
3) Pengecekan hasil secara uji petik.

Tahapan evaluasi (riviu) program dengan pendekatan yang lebih praktis, adalah
sebagai berikut:

Evaluasi Analisis Logika Program (Program Logic)


sistem

Riviu Pencapaian Sasaran dan Riviu Indikator


Kinerja

Pengumpulan & analisis data: pengecekan hasil Pelaporan


secara uji petik

14
RIVIU PENCAPAIAN SASARAN
Riviu pencapaian sasaran organisasi instansi beserta indikator kinerjanya.
Riviu ini dilakukan dengan membandingkan antara target-target dengan
realisasinya dan kemudian jika program dan atau kegiatan ini dilakukan
beberapa tahun atau bahkan sepanjang waktu (multi-years) perlu
dibandingkan dengan realisasi tahun lalu. Riviu pencapaian sasaran ini juga
digunakan untuk secara lebih mendalam menguji keselarasan penetapan
sasaran dengan tujuan maupun visi misi organisasi intansi. Di samping itu,
riviu ini dilakukan dengan meneliti ukuran kinerja atau indikator kinerja yang
dipakai dalam mengukur keberhasilan pencapaian sasaran ini.

Dengan demikian, riviu pencapaian sasaran tidak terlepas dari riviu dan studi
terhadap indikator sasaran yang menyertai rumusan sasaran yang
ditetapkan. Karenanya riviu pencapaian sasaran hanya bisa dilakukan bila
berdasarkan riviu dan studi yang dilakukan, indikator kinerja yang terkait
dianggap telah memenuhi kriteria sebagai indikator sasaran yang baik yang
dapat menggambarkan hasil (berupa outcome atau output).

Riviu pencapaian sasaran meliputi analisis informasi/data kinerja yang


meliputi penilaian tingkat pencapaian sasaran secara keseluruhan, menilai
kelayakan sasaran, menilai efisiensi biaya, menilai efektivitas biaya, dan
mencari dan menemukan peluang perbaikan penetapan sasaran.

Riviu pencapaian sasaran sebaiknya juga dilengkapi dengan pembandingan


data, antara lain:

- Rencana dan realisasi


- Realisasi periode ini dan realisasi periode sebelumnya
- Rencana periode ini dengan rencana periode lalu
- Realisasi tahun ini dengan realisasi akumulasi sampai akhir tahun ini
- Realisasi tahun ini dan capaian organisasi lain sejenis (jika ada).

Pembandingan dilakukan dengan tujuan untuk melihat efektivitas


pencapaian sasaran tahunan yang telah ditetapkan. Dengan demikian,
akan diperoleh informasi yang komprehensif mengenai pencapaian
sasaran (accomplishment) dalam rangka untuk mencapai visi dan misi
organisasi.

Analisis tren juga dapat dilakukan yang akan ditujukan untuk melihat
kesesuaian antara tahun suatu tahun dengan capaian tahun-tahun lainnya
secara keseluruhan sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Sedangkan
benchmarking dengan organisasi sejenis ditujukan untuk mengetahui kinerja
organisasi dalam core business-nya, bila dibandingkan dengan organisasi
yang menjadi panutan untuk bidang tersebut.

15
1. Mengukur Pencapaian Sasaran

Dalam mengukur pencapaian sasaran dapat dilakukan dengan


membandingkan antara sasaran yang sudah ditetapkan dengan realisasi atau
kenyataan yang dapat diwujudkan selama dan setelah program dilaksanakan.
Jika sasaran belum dirumuskan secara spesifik dan terukur, maka harus
dilakukan pengukuran dengan merumuskan indikator tercapainya sasaran
tersebut. Jadi mengukur pencapaian sasaran dapat dilakukan sebagai
berikut:

Uraian Sasaran Target Realisasi %

Atau:

Uraian Indikator Target Realisasi Pencapaian


Sasaran

2. Penyimpulan

Penyimpulan hasil pengukuran pencapaian sasaran dapat dilakukan dengan


melihat capaian setiap butir sasaran dan menjelasan angka capaian rata-
rata secara umum, kemudian men-disagregasi dengan merinci kembali
simpulan umum tersebut.

Contoh:

Dari proses pengukuran pencapaian setiap sasaran diperoleh angka sebagai


berikut:

No Uraian sasaran Capaian

1 Sasaran ”pertama” 85%


2 Sasaran ”kedua” 100%
3 Sasaran A 100%
4 Sasaran B 60%
5 Sasaran C 70%
6 Sasaran D 90%
7 Sasaran E 98%
8 Sasaran K 97%
9 Sasaran L 95%

16
Simpulan:

Pada umumnya sasaran-sasaran dinas/instansi ini dapat dicapai dengan


baik, kecuali dua sasaran yaitu sasaran B dan sasaran C yang masing-
masing hanya bisa tercapai 60% dan 70%.

Atau

Sasaran-sasaran tahun .... pada dinas/ instansi .... pada umumnya dapat
dicapai dengan baik. Dari 9 sasaran yang ditetapkan hanya terdapat 2
sasaran yang pencapaian rendah.

RIVIU INDIKATOR KINERJA

Riviu indikator kinerja dilakukan tidak hanya terhadap capaian indikator


kinerja saja, tetapi juga terhadap indikatornya sendiri. Jadi tidak hanya riviu
hasil pengukuran akan tetapi juga dilakukan penelitian terhadap alat ukurnya
sendiri. Sekali kita menggunakan suatu alat ukur hendaknya kita yakin akan
keandalannya. Dengan demikian alat ukur yang digunakan harus dapat
diandalkan. Dalam praktik alat ukur kinerja ataupun tolok ukur kinerja ini
kadang-kadang bukanlah alat ukur terbaik, akan tetapi sering kali alat ukur
yang paling mudah penggunaannya, sehingga terdapat peluang atau
kemungkinan penggunaan alat ukur yang menyesatkan.

Dari uraian tersebut diatas, terdapat dua bagian penting dalam melakukan
riviu indikator kinerja ini, yaitu:

1) Riviu terhadap indikatornya sendiri; dan


2) Riviu terhadap capaian indikator kinerja.

Riviu indikator kinerja ini dilakukan untuk mendukung riviu pencapaian


sasaran yang telah dijelaskan sebelumnya.

Riviu Terhadap Indikator Kinerja

Riviu terhadap masing-masing Indikator Kinerja

Indikator kinerja yang ditetapkan memenuhi kriteria indikator kinerja yang


baik:

- Spesifik, sesuai dengan program dan atau kegiatan sehingga mudah


difahami dalam memberkani informasi yang tepat tentang hasil atau
capaian kinerja dari kegiatan dan atau sasaran

17
- Menggambarkan hasil atau sesuatu yang diinginkan
- Relevan dan langsung berkaitan dengan yang diukur merupakan
faktor yang penting dalam memberikan informasi yang obyektif sesuai
dengan kelaziman sehingga mudah untuk diperbandingkan
- Dapat dikuantifikasi, dapat dihitung, atau dapat diobservasi sesuai
karakteristik hal yang diinformasikan
- Obyektif, Tidak bias, yaitu tidak memberikan informasi yang keliru jika
diinterpretasikan oleh berbagai pengguna.

Indikator kinerja ditetapkan melalui proses konsultasi yang memadai dengan


pihak internal maupun dengan pihak eksternal instansi sesuai dengan aspek
yang ditetapkan indikator kinerjanya yang dapat dapat mengukur pencapaian
tujuan dan sasaran sebagai dua hal penting yang ingin dicapai oleh instansi.
Agar tetap dapat berfungsi dengan baik seharusnya indikator kinerja direviu
secara berkala dan berkesinambungan sehingga tetap dapat dipercaya
sebagai bagian dari suatu sistem pengukuran yang handal.

Waktu dan biaya merupakan aspek penting yang harus dipertimbangkan


dalam pengumpulan data agar tercipta cost-effectiveness, sehingga
penetapan indikator kinerja harus mempertimbangkan pengumpulan
datanya. Di samping itu indikator kinerja ditetapkan dengan persetujuan
pimpinan untuk mendapatkan komitmen pimpinan, khususnya dalam alokasi
sumber-sumber daya instansi dalam mencapai tujuan dan sasaran.

Indikator kinerja dikomunikasikan pada setiap tingkatan unit organisasi yang


terkait untuk mengetahui dan menetapkan pihak yang bertanggung jawab
dalam mencapai target kinerja dan untuk memperbaiki kinerja. Jika terdapat
lebih dari satu unit organisasi yang berkepentingan terhadap satu indikator
kinerja, maka harus ditentukan unit organisasi yang berfungsi sebagai leader Comment: Yang akan memberikan
kontribusi paling signifikan
dalam pencapaian target.

Riviu Terhadap Se-set Indikator Kinerja

Penetapan indikator kinerja oleh suatu organisasi hendaknya melihat konteks


penggunaannya. Se-set indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur
keberhasilan program tentulah berbeda dengan se-set indikator kinerja yang
digunakan di dalam mengukur keberhasilan organisasi. Walaupun di sana-
sini terdapat beberapa indikator kinerja yang sama.

Pertimbangan dalam memutuskan untuk menentukan indikator kinerja juga


didasarkan atas suatu kumpulan alat ukur /indikator yang diyakini dapat
digunakan untuk memantau dan mengukur kinerja suatu program ataupun
organisasi secara keseluruhan.

Jumlah indikator cukup memadai dibandingkan kebutuhan akan pengukuran


kinerja. Jumlah indikator yang lebih dari satu bukan masalah sepanjang bisa
memenuhi fungsinya dalam memberikan informasi untuk perbaikan kinerja.
Jadi banyak sedikitnya indikator kinerja memang tergantung kebutuhan
manajemen. Batasan angka yang ”lazim” dipakai sebagai norma untuk
menentukan jumlah indikator kinerja sebenarnya tidak ada. Tiga, empat atau

18
lima indikator saja mungkin bisa dianggap baik. Akan tetapi sebaliknya,
sepuluh, limabelas atau seratus juga mungkin saja baik, asal bisa mengelola
dan menggunakannya.

Riviu Terhadap Capaian Indikator Kinerja

Riviu terhadap capaian indikator kinerja dilakukan dengan melakukan


pembandingan antara realisasi suatu capaian dengan rencananya, standar,
benchmark atau dengan periode yang lalu. Cara yang digunakan dalam
melakukan riviu ini sama saja dengan riviu pencapaian sasaran, yang intinya
menggunakan performance gap analysis, yaitu membandingkan dan kemudian
mencari informasi mengapa terjadi perbedaan (gap) antara realisasi capaian
dengan data pembandingnya.

Hal yang cukup sulit adalah menentukan simpulan terhadap hasil pengukuran
capaian indikator kinerja ini secara keseluruhan. Terdapat beberapa cara yang
bisa ditempuh oleh evaluator dalam menyimpulkan hasil pengukuran
pencapaian indikator kinerja ini secara keseluruhan, yaitu:

1. Menghitung rata-rata semua capaian indikator kinerja yang ada, dengan


perhitungan rata-rata sederhana;
2. Menghitung rata-rata capaian indikator kinerja dengan weighing
(pembobotan) yang hati-hati;
3. Menentukan milestone-milestone kegiatan atau program-nya terlebih dahulu,
kemudian melihat beberapa indikator penting di dalamnya, baru kemudian
secara kualitatif menentukan tingkat capaian (accomplishment) atau
keberhasilan organisasi.
4. Menentukan beberapa indikator penting saja, kemudian membuat daftar
(list)-nya dan menyimpulkan secara umum berdasarkan nilai (angka) capaian
individual, dengan mempertimbangkan frekuensi (modus) dan tingginya nilai.

Cara yang pertama sekedar penyederhanaan yang kurang baik, tapi sangat
mudah untuk melakukannya. Cara kedua bisa jadi evaluator sendiri tidak dapat
melakukan dengan baik, sehingga cara kedua ini tidak disarankan. Cara yang
ketiga, bisa ditempuh oleh evaluator, akan tetapi haruslah berhati-hati karena
penyimpulan dilakukan secara bertingkat. Mulai dari kegiatan atau program
barulah sampai ke tingkat organisasi. Hal ini dapat menimbulkan bias-bias yang
disebabkan agregasi bertingkat tersebut. Cara keempat, dapat juga dilakukan
oleh evaluator, akan tetapi sangat dianjurkan untuk melakukan proses konsultasi
pada pihak ketiga yang ahli dalam bidang ini atau paling tidak berkonsultasi
dengan seluruh tingkatan tim, yaitu ketua tim, supervisor, wakil penanggung
jawab dan penanggung jawab evaluasi. Selanjutnya lihat lampiran: 1 penjelasan
lebih lanjut dan contoh-contoh.

PENGECEKAN HASIL SECARA UJI PETIK

Pengecekan hasil-hasil progrfam secara uji petik diperlukan untuk mengecek


kredibilitas data. Pengecekan secara uji petik ini mungkin saja sampel yang
diteliti untuk dicek hasilnya atau diadakan observasi (jika mungkin) kurang

19
mewakili untuk men-generalisasi keadaan. Akan tetapi, untuk tujuan pemberian
saran perbaikan sudah cukup untuk dimanfaatkan oleh instansi yang dievaluasi.

Pengecekan hasil tidak harus sama dengan pengecekan fisik hasil program.
Boleh jadi hasil program sangat sulit untuk diverifikasi dan diobservasi. Oleh
karena itu pemanfaatan data hasil monitoring

Pada proses pengecekan hasil ini hal yang cukup penting adalah mendapatkan
data dari hasil monitoring atau catatan kinerja instansi. Prosedur-prosedur
perolehan data sekunder yang baik haruslah dilalui agar evaluator mendapatkan
data yang valid. Verifikasi data secara terbatas agaknya diperlukan oleh
evaluator agar dapat dinilai kredibilitas data tersebut. Di sini riviu terhadap
sistem pencatatan /pengumpulan data kinerja menjadi penting untuk dilakukan.

Daftar Bacaan

Arikunto, Suharsimi, (1998), Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Edisi revisi IV,
Penerbit rineka Cipta, Yogyakarta.

BPKP, (2002), Pedoman Pelaksanaan Evaluasi LAKIP.

BPKP, (2002), Evaluating Public Policies: A General Guide, Capacity Building Project.

Cutt, James and Vic Murray, (2000), Accountability and Effectiveness Evaluation in Non-
Profit Organization, Routledge, London and New York.

Davis, G. and Michael Keating, (2000), The Future of Governance, Policy Choices, Allen &
Unwin, St Leonards, NSW, Australia.

Davis, G. et.al. ((1993), Public Policy in Australia, second edition, Allen & Unwin, Singapore.

Department of Health & Human Services, Office of Inspectorat General, (1994), Practical
Evaluation for Public Managers, Getting The Information You Need, Office of Inspector
General.

Doorley III, Thomas L. And John M. Donovan, (1999), Value Creating Growth, How to Lift Your
Company to the Next Level of Performance, Jossey-Bass Publishers, San Fransisco.

Dunn, William N. ((1994), Public Policy Analysis: An Introduction, diterjemahkan oleh Samodra
Wibawa dkk, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

IMF, (1998), External Evaluation of the ESAF, Report by a Group of Independent Experts.

Kadariah, (1988), Evaluasi Proyek, Analisa Ekonomis, Edisi kedua, Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

20
Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara, (2004), Pedoman Umum Evaluasi LAKIP.

Lombardi, Donald N. (1988), Handbook of Personnel Selection and Performance Evaluation


in Healthcare, Guidelines for Hourly, Professional, and Managerial Employees, Jossey-Bass
Publishers, San Francisco.

Miles, Matthew B. dan A. Michael Huberman, (1992), Quantitative Data Analysis, diterjemahkan
Tjetjep Rohendi Rohidi, Penerbit UI-Press, Jakarta.

Moleong, Lexy J. (2001), Metodologi Penelitian Kualitatif, Penerbit PT Remaja Rosdakarya,


Bandung.

Nogel, Stuart S. (1999), Policy Analysis Methods, Nova Science Publisher, Inc. New York.

Owen, John M. and Patricia J. Rogers, (1999), Program Evaluation, Forms and Approaches-
International Edition, SAGE Publications, London.

Rapar, Jan Hendrik, (1995), Pengantar Logika, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Rossi, Peter H. and Howard E Freeman, (1993), Evaluation, A Systematic Approach, Sage
Publication, Inc.

Santoso, Singgih, (2000), Buku Latihan SPSS, Statistik Non Parametrik, Elex Media
Komputindo, Jakarta.

Schmid, A. Allan, (1993), Analisis Biaya Manfaat, Pendekatan Ekonomi Politik, diterjemahkan
oleh Nizam A. Yunus, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan Pusat
Antar Universitas Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Suhardono, Edy, 2001, Panorama Survey, Refleksi Metodologi Riset, PT Gramedia Pustaka
Utama bekerja sama dengan Universitas Surabaya.

Supranto, J, (1997), Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan, Untuk Menaikkan Pangsa


Pasar, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Tim Studi Pengembangan Sistem AKIP, BPKP, (2000), Pengukuran Kinerja, Suatu Tinjauan
Pada Instansi Pemerintah.

Walting, Brian (1995), The Appraisal Checklist, Help Your Team to Get The Results You Both
Want, Prentice Hall, London.

Weimer, David L. and Aidan R, Vining, (1998), Policy Analysis, Concepts and Practice, Prentice
Hall, New Jersey.

21
Lampiran: 1

Penjelasan dan Contoh-contoh1


Riviu Indikator Kinerja

Indikator kinerja adalah ukuran-ukuran yang


menggambarkan seberapa jauh suatu program mencapai
tujuannya. Indikator memberikan penjelasan secara khusus apa
yang akan diukur untuk menentukan apakah tujuan sudah
tercapai. Indikator kinerja dapat bersifat kuantitatif tetapi
mungkin pula bersifat kualitatif.
Indikator kinerja adalah inti sistem monitoring kinerja. Indikator
kinerja mendefinisikan data yang akan dikumpulkan untuk
mengukur kemajuan dan memungkinkan hasil aktual yang
dicapai dalam suatu kurun waktu dibandingkan dengan hasil
yang direncanakan. Jadi, indikator kinerja adalah suatu alat
manajemen yang penting untuk menciptakan keputusan berbasis
kinerja mengenai strategi program dan kegiatan. Di samping itu
indikator kinerja juga dapat digunakan untuk memberikan
orientasi dan motivasi kepada pegawai dalam mencapai tujuan,
mengkomunikasikan hasil yang dicapai suatu instansi kepada
stakeholders dan melaporkan hasil capaian kinerja instansi
kepada pihak pihak yang bekepentingan.

Riviu indikator kinerja meliputi riviu terhadap indikator


kinerja itu sendiri dan riviu terhadap capaian indikator kinerja.
Jadi tidak hanya riviu hasil pengukurannya akan tetapi juga
melakukan penelitian terhadap alat ukurnya sendiri. Sekali kita
menggunakan suatu alat ukur hendaknya kita yakin akan
keandalannya, sebab apabila alat ukur kinerja ataupun tolok
ukur kinerja bukan merupakan alat ukur yang baik akan dapat
menyesatkan. Riviu indikator kinerja ini dilakukan untuk
mendukung riviu pencapaian sasaran.

Riviu Terhadap Indikator Kinerja

a. Riviu terhadap masing-masing Indikator Kinerja

Riviu indikator kinerja dilakukan dengan melakukan penilaian


terhadap kualitas dari masing-masing indikator kinerja yang
ditetapkan oleh suatu organisasi /instansi, yaitu dengan melihat

1
Penjelasan dan contoh-contoh ini disadur dari buku “Pengukuran dan Evaluasi Kinerja” , BPKP, dan
Pedoman Evaluasi LAKIP, 2004.

22
pemenuhan kriteria indikator kinerja yang baik. Kriteria indikator
kinerja yang baik adalah :

1. RELEVAN DAN LANGSUNG, suatu indikator kinerja harus


mengukur sedekat mungkin dengan hasil yang akan diukur.
Indikator kinerja tidak seharusnya dikaitkan pada tingkat lebih
tinggi atau lebih rendah dibandingkan dengan hasil yang diukur.

Contoh:

Hasil yang akan diukur Indikator Kinerja


Peningkatan penggunaan metode a. Banyaknya alat kontrasepsi
keluarga berencana yang digunakan.
b. Banyaknya penyuluhan
penggunaan alat kontrasepsi yang
dilakukan oleh BKKBN.

‘Banyaknya alat kontrasepsi yang digunakan adalah ukuran


langsung dari suatu hasil (outcome) ‘peningkatan penggunaan
metode keluarga berencana’. Tetapi banyaknya penyuluhan
penggunaan alat kontrasepsi yang dilakukan oleh BKKBN,
bukanlah ukuran langsung dari suatu hasil (outcome) tetapi
baru merupakan ukuran dari suatu output.
Jika tidak memungkinkan untuk menggunakan pengukuran
langsung, maka satu atau lebih indikator pengganti mungkin
dapat digunakan. Misalnya, kadang-kadang data yang valid dalam
pengukuran langsung tidak dapat diperoleh sesering yang
diperlukan instansi, maka indikator pengganti dapat diperlukan
untuk memberikan informasi mengenai kemajuan suatu hasil
pada saatnya.
Pengukuran pengganti adalah pengukuran pengganti yang
dihubungkan dengan hasil dengan menerapkan satu atau lebih
asumsi.
Contoh:

Hasil yang akan diukur Indikator Kinerja


Peningkatan pendapatan Indikator kinerja langsung
masyarakat di suatu wilayah desa. “tingkat pendapatan masyarakat”
Indikator kinerja pengganti yang
mungkin dapat digunakan
prosentase keluarga di desa yang
rumahnya berlantai semen
Prosentase keluarga di desa yang
memiliki radio, sepede, atau
televisi.

23
Asumsi yang digunakan : Apabila
suatu keluarga memiliki
pendapatan yang lebih, mereka
akan membeli barang tertentu
seperti yang dikemukakan di atas .
Apabila bukti meyakinkan dan
asumsinya adalah memadai ( misal
berdasarkan riset atau pengalaman
di tempat lain) maka indikator
kinerja pengganti dapat merupakan
indikator kinerja yang memadai,
meskipun tidak seakurat
pengukuran langsung.

2. OBYEKTIF DAN TIDAK BIAS, Indikator yang obyektif tidak


memiliki ambiguitas mengenai apa yang akan diukur dan
memiliki relevansi yang kuat dengan yang diukur. Obyektifitas
suatu indikator ditentukan oleh jenis indikator tersebut. Untuk
indikator makro, dapat dikatakan obyektif apabila memiliki satu
atau lebih dimensi dan tepat secara operasional, dimana setiap
dimensi yang ada dapat menggambarkan suatu fenomena tertentu
setiap saat. Sedangkan indikator mikro, dapat dikatakan obyektif
apabila hanya memiliki satu dimensi dan tepat secara operasional.

Tepat secara operasional artinya tidak ada ambiguitas atas


data apa yang akan dikumpulkan untuk suatu indikator.

Contoh makro :
Indikator Kinerja Keterangan
Indeks pembangunan manusia Tepat, karena untuk
menggambarkan kesejahteraan
sosial suatu daerah tertentu diukur
dari sejauh mana pemerintah
berhasil meningkatkan kualitas
pembangunan manusia yang
memiliki dimensi antara lain : mutu
pendidikan, derajat kesehatan, dan
pendapatan per kapita masyarakat.
Indeks Williamson
Tepat karena untuk menggambarkan
pemerataan pembangunan ekonomi
suatu daerah tertentu diukur dari
tingkat penyebaran pertumbuhan
ekonomi antar suatu daerah di
wilayah tertentu yang memiliki
dimensi : pertumbuhan ekonomi dan
pemerataan pembangunan.

Contoh mikro :

24
Indikator Kinerja Keterangan
Jumlah perusahaan eksportir yang Masih argumentatif , karena
berhasil. pengertian eksportir yang berhasil
masih mengandung beberapa
dimensi dan kurang tepat secara
operasional,sehingga dapat
menimbulkan bias.

Jumlah perusahaan eksportir yang Lebih tepat dibandingkan poin a,


mendapatkan peningkatan minimal karena pengertian eksportir yang
sebesar 5% berhasil hanya memiliki satu
dimensi dan tepat secara
operasional, sehingga tidak bias.

3. SPESIFIK , Indikator kinerja harus sesuai dengan program dan


atau kegiatan sehingga mudah dipahami dalam memberikan
informasi yang tepat tentang hasil atau capaian kinerja dari
kegiatan dan atau sasaran.

Contoh :

Sasaran Indikator Kinerja Pengukuran Keterangan


Meningkatkan 1. Jumlah Jumlah penduduk Indikator kinerja
tingkat masyarakat yang yang dapat membaca satu sampai tiga
kualitas melek huruf huruf latin / Jumlah dapat
pendidikan dalam tahun x penduduk. dikategorikan
masyarakat mencapai a% spesifik
2. Tingkat Persentase jumlah
partisipasi murid (SD,SLTP,SLTA,
pendidikan PT) terhadap jumlah
masyarakat ( murid
SD,SLTP,SLTA,P (SD,SLTP,SLTA,PT)
T) dalam tahun
x , mencapai a%
3. Tingkat Jumlah murid
ketersediaan (SD,SLTP,SLTA,PT) /
sarana Jumlah ruangan kelas
pendidikan dan (SD,SLTP,SLTA,PT)
tenaga pengajar
dalam tahun x , Jumlah murid
mencapai a% (SD,SLTP,SLTA,PT) /
Jumlah guru
(SD,SLTP,SLTA,PT)

4. CUKUP, Sebagai suatu kelompok indikator kinerja dan indikator


indikator pendukungnya seharusnya secara cukup dapat
mengukur hasil. Pertanyaan yang sering dikemukakan adalah:

25
“Berapa indikator kinerja yang harus digunakan untuk mengukur
suatu hasil?”
Jawaban atas pertanyaan tersebut tergantung pada a)
kompleksitas hasil yang akan diukur; b) sumberdaya yang
tersedia untuk memonitor kinerja; dan c) jumlah informasi yang
diperlukan untuk membuat keputusan yang mamadai. Untuk
hasil yang sifatnya langsung dapat diketahui serta mempunyai
pengukuran yang benar dan terbukti, satu indikator sudah dapat
dianggap cukup. Namun untuk hasil yang sifatnya tidak langsung
, satu indikator mungkin tidak cukup, sehingga perlu beberapa
indikator untuk mengukur hasil. Untuk menentukan beberapa
indikator yang akan digunakan perlu dipertimbangkan
keseimbangan antara sumberdaya yang tersedia untuk
pengukuran kinerja dan jumlah informasi yang diperlukan
manajer untuk membuat keputusan yang memadai. Namun
demikian hindari terlalu banyak indikator.
Contoh:

Satu sasaran dengan satu Indikator Kinerja


Sasaran Indikator Kinerja Cara Pengukuran
Meningkatkan Tingkat partisipasi Persentase
tingkat pendidikan jumlah murid
partisipasi masyarakat ( (SD,SLTP,SLTA,
pendidikan SD,SLTP,SLTA,PT) PT) terhadap
masyarakat dalam tahun 200x. jumlah murid
sebesar % (SD,SLTP,SLTA,
dalam tahun PT)
200x

Satu sasaran dengan beberapa indikator kinerja


Sasaran Indikator Kinerja Cara Pengukuran

Meningkatkan Dimensi Nilai Tambah


Perekonomian Jumlah PDRB dalam tahun Produk Domestik
Daerah 200X (Rp Milyard) Regional Bruto (Rp
Angka persentase Laju Milyar)
Pertumbuhan PDRB tahun % kenaikan
200X dibandingkan tahun
Tingkat distribusi lalu
pendapatan masyarakat
Penggunaan rumus
Koefisien gini
Inventasi
Jumlah Investasi Domestik Pembentukan Modal
dalam tahun 200X (Rp Tetap Bruto
Milyar) % Kenaikan Investasi
Angka Persentase Laju dibanding tahun lalu
Pertumbuhan Investasi tahun
200X

PAD

26
Jumlah angka PAD tahun Jumlah PAD (Rp
200X (Rp Milyard) Milyard)
Laju Pertumbuhan PAD %Kenaikan PAD
tahun 200X dibanding tahun lalu

5. Dapat dikuantifikasi, jika mungkin dan dapat diobservasi


sesuai karakteristik hal yang diinformasikan. Indikator kuantitatif
adalah indikator dalam angka (jumlah atau prosentase nilai dolar,
tonase dlsb). Indikator kualitatif adalah indikator yang bersifat
pengamatan deskriptif (pendapat ahli atas suatu kekuatan
instansi, atau penjelasan mengenai suatu perilaku). Meskipun
indikator kuantitatif tidak lebih obyektif, ketepatan angkanya
memungkinkan kesepakatan atas data mengenai hasil, dan
biasanya lebih disukai. Namun, meskipun indikator kuantitatif
yang efektif digunakan, indikator kualitatif dapat mendukung
angka dan prosentase dengan kekayaan yang dimiliki informasi
yang menghidupkan hasil program.

Contoh:
Hasil yang akan Indikator kinerja Keterangan
diukur
Kualitas Hidup Indeks Pembangunan Kuantitatif, dapat
Manusia (HDI) diukur dan diobservasi.
( Angka rata-rata Kuantitatif, dapat
kualitas SDM ) dikukur dan diobservasi

Populasi penduduk di Kualitatif, dapat diukur


perkotaan ( Prosentase dan diobservasi
penduduk yang tinggal
di perkotaan terhadap
total penduduk)

Kualitas pelayanan ke
kesehatan.
( Tingkat pelayanan
kesehatan di
daerah/propinsi
menurut masyarakat .
Dengan memberikan
kuesioner kepada
masyarakat yang
ditentukan sebagai
responden )
Kapasitas SDM 1. Tingkat pengetahuan Kualitatif, sulit diukur
aparatur dan diobservasi.
Kualitatif, sulit diukur
dan diobservasi
2. Tingkat kepercayaan
masyarakat pada
aparatur

27
Hasil yang akan Indikator kinerja Keterangan
diukur

6. DIRINCI/DIPILAH, jika mungkin. Merinci/memilah hasil


program di tingkat masyarakat dari segi jenis kelamin, umur,
lokasi, atau dimensi lainnya biasanya penting dari sudut pandang
manajer. Pengalaman menunjukkan pengembangan kegiatan
sering memerlukan pendekatan yang berbeda untuk kelompok
yang berbeda dan mempengaruhi kelompok tersebut dengan cara
yang berbeda. Data yang terinci membantu menelusuri apakah
kelompok tertentu berpartisipasi atau tidak, dan manfaat
melibatkan kelompok tersebut dalam kegiatan. Oleh karena itu,
adalah baik bahwa indikator kinerja harus sensitif terhadap
perbedaan tersebut.

Contoh :
Indikator Kinerja tidak Indikator Kinerja yang dirinci
dirinci
Tingkat Partisipasi Pendidikan 1. Angka partisipasi kasar SD
2. Angka partisipasi kasar SLTP
3. Angka partisipasi kasar SLTA
4. Angka partisipasi murni SD
5. Angka partisipasi murni SLTP
6. Angka partisipasi murni SMU +
SMK
Rasio jumlah guru terhadap murid 1. Rasio jumlah guru terhadap murid
SD.
2. Rasio jumlah guru terhadap murid
SLTP.
3. Rasio jumlah guru terhadap murid
SMU + SMK

Mutu hasil pendidikan 1. Rata-rata nilai ujian akhir nasional


SD
2. Rata-rata nilai ujian akhir nasional
SLTP
3. Rata-rata nilai ujian akhir nasional
SMU + SMK
Rasio kualitas guru 1. Rasio guru layak mengajar SD
2. Rasio guru layak mengajar SLTP
3. Rasio guru layak mengajar SMU +
SMK
4. Rasio ketidaksesuaian guru
terhadap mata pelajaran

7. PRAKTIS, Indikator kinerja dikatakan praktis apabila data dapat


diperoleh pada saat yang tepat dengan biaya yang wajar. Manajer

28
memerlukan data yang dapat dikumpulkan sesering mungkin
untuk memberikan informasi kepada mereka mengenai suatu
progres dan untuk mempengaruhi keputusan. Instansi harus
menyadari bahwa untuk mendapatkan informasi kinerja yang
berguna akan mengeluarkan biaya yang wajar, bukan berlebihan.
Berdasarkan pengalaman instansi biaya monitoring kinerja
tersebut jumlahnya antara 3-10% dari jumlah sumberdaya
program.
8. DAPAT DIYAKINI, Pertimbangan terakhir dalam memilih
indikator kinerja adalah apakah kualitas data yang diperoleh telah
cukup memadai untuk pengambilan keputusan. Namun yang
menjadi pertanyaan selanjutnya adalah tentang “standar kualitas
data yang bagaimana yang diperlukan akan berguna? Data yang
diperlukan seorang manajer program untuk membuat keputusan
yang baik mengenai suatu program tidak perlu setara dengan
standar rigid yang dicari ilmuwan sosial.

Contoh :

Data tentang jumlah penduduk yang terserang penyakit demam


berdarah di suatu wilayah untuk kepentingan instansi dinas
kesehatan , data dapat diperoleh cukup dengan suatu survei
singkat dengan biaya tidak perlu penelitian yang rumit.

Sebaliknya data tentang dampak Program Pengurangan Subsidi


BBM bagi masyarakat tidak cukup hanya dilakukan dengan
suatu survei yang sederhana saja , tetapi diperlukan suatu
penelitian yang mendalam .

Hal-hal lain yang juga harus diperhatikan evaluator dalam


melakukan riviu masing-masing indikator kinerja adalah :

1. Meyakinkan apakah indikator kinerja ditetapkan melalui proses


konsultasi yang memadai dengan pihak internal maupun dengan
pihak eksternal instansi sesuai dengan aspek yang ditetapkan
indikator kinerjanya yang dapat dapat mengukur pencapaian
tujuan dan sasaran sebagai dua hal penting yang ingin dicapai
oleh instansi. Agar tetap dapat berfungsi dengan baik seharusnya
indikator kinerja direviu secara berkala dan berkesinambungan
sehingga tetap dapat dipercaya sebagai bagian dari suatu sistem
yang handal.
2. Waktu dan biaya merupakan aspek penting yang harus
dipertimbangkan dalam pengumpulan data agar tercipta cost-
effectiveness, sehingga perlu dianalisis apakah penetapan
indikator kinerja juga telah mempertimbangkan pengumpulan
datanya. Di samping itu indikator kinerja ditetapkan dengan
persetujuan pimpinan untuk mendapatkan komitmen pimpinan,

29
khususnya dalam alokasi sumber-sumber daya instansi dalam
mencapai tujuan dan sasaran.
3. Meyakini apakah indikator kinerja yang telah ditetapkan telah
dikomunikasikan pada setiap tingkatan unit organisasi yang
terkait untuk mengetahui dan menetapkan pihak yang
bertanggung jawab dalam mencapai target kinerja dan untuk
memperbaiki kinerja. Jika terdapat lebih dari satu unit organisasi
yang berkepentingan terhadap satu indikator kinerja, maka harus
ditentukan unit organisasi yang berfungsi sebagai (leader) dalam Comment: Yang akan memberikan
kontribusi paling signifikan
pencapaian target.

b. Riviu Terhadap Satu set Indikator Kinerja

Selain melakukan riviu terhadap masing-masing indikator kinerja


, evaluatan perlu melakukan riviu terhadap satu set indikator
kinerja. Hal ini perlu dilakukan karena penetapan indikator
kinerja oleh suatu organisasi harus melihat konteks
penggunaannya. Satu set indikator kinerja yang digunakan untuk
mengukur keberhasilan suatu program tentulah berbeda dengan
satu set indikator kinerja yang digunakan di dalam mengukur
keberhasilan organisasi.

Contoh:

Sasaran : Menurunnya tingkat kematian ibu dan anak

Program Indikator kinerja Keterangan


/Kegiatan
Program 1. Cakupan imunisasi campak Indikator satu (1)
Imunisasi 2. Cakupan imunisasi hepatitis B sampai dengan
3. Cakupan imunisasi BCG dua belas (12)
4. Cakupan perbaikan gizi ibu dan merupakan satu
anak set indikator
5. Angka kematian ibu hamil/ kinerja untuk
melahirkan. mengukur
6. Angka kematian anak. keberhasilan
7. Banyaknya ibu hamil yang program
memeriksakan diri sedini mungkin imunisasi.
8. Banyaknya posyandu aktif.
9. Banyaknya instrumen dan media
penyuluhan kesehatan.
10. Banyaknya kader posyandu.
11. Rasio antara jumlah dokter dengan
jumlah penduduk.
12. Rasio tempat tidur rumah sakit
dengan penduduk.

Riviu terhadap satu set indikator kinerja dilakukan dengan


meneliti atau menelaah duabelas (12) indikator kinerja yang

30
digunakan untuk mengukur keberhasilan program imunisasi
dengan mempertimbangkan ; karakteristik kualitas indikator
kinerja yang baik, penting dan menjadi prioritas program. Dari
ke duabelas indikator kinerja tersebut setelah diteliti/ditelaah
mungkin indikator yang tepat untuk mengukur keberhasilan
dan kegagalan program imunisasi hanya 8 ( delapan )
indikator kinerja.

c. Riviu Terhadap Keselarasan Indikator Kinerja .

Riviu terhadap keselarasan indikator kinerja dilakukan dengan


meneliti atau menelaah keselarasan indikator kinerja antar
komponen Renstra dan keselarasan indikator kinerja unit
organisasi yang terkait dalam mencapai suatu sasaran dan
tujuan yang sama.

Dalam meneliti/menelaah keselarasan indikator kinerja antar


komponen Renstra, evaluator harus memperhatikan gambar
berikut :

P e n e t a p a n in d ik a t o r k in e r ja
p a d a T u ju a n / S a s a r a n m e m -
b u a t p e n ila ia n a t a s p e n c a p a i-
TTuuj juuaann I n d ik a to r a n T u ju a n / S a s a r a n d a p a t
SSt tr raat teej ji k
ik K in e r ja d ila k u k a n s e c a r a la n g s u n g
d a n o b je k t if
SSaassaar raann I n d ik a t o r
SSt tr raat teej ji k
ik K in e r ja

PPr rooggr raamm


K e s e la r a s a n in d ik a t o r k in e r ja
p a d a K e g ia t a n d a n
I n d ik a t o r T u ju a n / S a s a r a n h a r u s s e la lu
KKeeggi a
i at taann d ija g a a g a r m e m a s t ik a n b a h -
K in e r ja
w a p e la k s a n a a n k e g ia t a n m e -
m a n g m e n d u k u n g p e n c a p a ia n
T u ju a n / S a s a r a n o r g a n is a s i

Gambar : Keterkaitan indikator kinerja dalam komponen


Renstra.

Hal lain yang harus diperhatikan dalam riviu satu set indikator
kinerja ini adalah permasalahan bahwa jumlah indikator harus
cukup memadai dibandingkan kebutuhan akan pengukuran
kinerja. Jumlah indikator yang lebih dari satu bukan masalah
sepanjang bisa memenuhi fungsinya dalam memberikan informasi
untuk perbaikan kinerja. Jadi banyak sedikitnya indikator kinerja
memang tergantung kebutuhan manajemen. Batasan angka yang

31
”lazim” dipakai sebagai norma untuk menentukan jumlah
indikator kinerja sebenarnya tidak ada. Tiga, empat atau lima
indikator saja mungkin bisa dianggap baik. Akan tetapi
sebaliknya, sepuluh, limabelas atau seratus juga mungkin saja
baik, asal bisa mengelola dan menggunakannya.

Untuk meneliti/menelaah keselarasan keselarasan indikator


kinerja unit organisasi yang terkait dalam mencapai suatu
sasaran dan tujuan yang sama, evaluator harus memperhatikan
gambar berikut :

Keselarasan Renstra dalam Propeda


Lingkungan Pemerintah Daerah
Melalui Keselarasan IK
Indi-
Indi-
Pemerintah
Renstra Kator
Daerah Pemda
Kiner-
Kiner-
ja
Sekretariat
Badan-badan Dinas-dinas
Daerah
Renstra
Unit Kerja
Unit Unit Unit
Mandiri Mandiri Mandiri

Gambar : Keterkaitan indikator kinerja antar unit organisasi


yang terkait

Untuk melihat keterkaitan dan keselarasan antar indikator kinerja


evaluator dapat menggunakan metode analisis kualitatif dan
metode analisis kuantitatif.

Contoh : Keselarasan indikator kinerja dalam komponen


Renstra.

32
Komponen Rumusan Indikator Kinerja Keterangan
Renstra Komponen
Renstra
Tujuan Stratejik Meningkatnya • Jumlah masyarakat yang secara logis
tingkat kualitas melek huruf dalam tahun terdapat
pendidikan x mencapai a% keselarasan
masyarakat antara
• Tingkat partisipasi indikator
pendidikan masyarakat ( kinerja tujuan,
SD,SLTP,SLTA,PT) dalam sasaran dan
tahun x , mencapai a% program/kegia
tan.

• Tingkat ketersediaan
sarana pendidikan dan
tenaga pengajar dalam
tahun x , mencapai a%
Sasaran Meningkatnya % masyarakat yang melek
Stratejik tingkat melek huruf latin dalam tahun
huruf 200x sebesar a%
masyarakat

Program dan Pendidikan Jumlah anak –anak putus


Kegiatan anak-anak sekolah yang mengikuti
putus sekolah pendidikan di luar sekolah
di luar sekolah dalam tahun 200x sebesar
... orang.

Contoh : Keselarasan indikator kinerja antar unit organisasi.

Pemerintah Propinsi Unit Kerja Ket


Sasaran Indikator Sasaran Indikator
Kinerja Kinerja
Meningkatnya Peningkatan Meningkatnya • Luas Balai Benih Uniit
produktivitas produksi sektor Sarana dan • Induk (BBI) yang kerja
tanaman pangan perkebunan: padi Prasarana • disempurnakan Dinas
dan holtikultura. a% Tanaman • Luas lahan yang Tanam
, palawija b% Pangan Dibantu Saprodi an
dan sayur mayur Pangan
c%
Meningkatnya Terjalinnya Mitra Meningkatnya Teridentifikasinya Unit
Pertumbuhan Usaha dan pemberdayaan usaha kecil kerja
Industri, dan terbentunya Pokja Industri Kecil Terselenggaranya Dinas
Perdagangan, Kemitraan dan Menengah temu usaha Perindu
(PIKM) kegiatan strian
dan
perdaga
ngan

33
Pemerintah Propinsi Unit Kerja Ket
Sasaran Indikator Sasaran Indikator
Kinerja Kinerja
Meningkatnya Rasio puskesmas Meningkatnya Pembangunan Puskes-Unit
derajat kesehatan terhadap jumlah pelayan mas di Kecamatan kerja
masyarakat. penduduk kesehatan Dinas
masyarakat Jumlah masyarakat Kesehat
Jumlah yang Berobat Bantuan
an
masyarakat yang PMT-AS
mempunyai akses
Perbaikan gizi ibu hamil
pelayanan
Jumlah pemantauan
kesehatan
status gizi

Riviu Terhadap Capaian Indikator Kinerja

Riviu terhadap capaian indikator kinerja dilakukan dengan


melakukan pembandingan antara realisasi suatu capaian dengan
rencana, standar, benchmark atau dengan realisasi pencapaian
periode yang lalu. Cara yang digunakan dalam melakukan riviu ini
sama saja dengan riviu pencapaian sasaran, yang intinya
menggunakan performance gap analysis, yaitu membandingkan
dan kemudian mencari informasi mengapa terjadi perbedaan (gap)
antara realisasi capaian dengan data pembandingnya.

Bisa jadi capaian indikator kinerja kegiatan mungkin saja bagus-bagus


(bahkan banyak yang 100%), akan tetapi apakah pencapaian sasaran
juga berhasil? Jika ya, maka riviu kembali apakah indikator-indikator
yang dipakai memang sudah bagus. Jika sudah bagus, maka kita
tinggal menilai kredibilitas data. Jika kredibilitas data bagus, maka
akuntabilitas kinerja instansi yang dievaluasi tentulah sangat baik.

34