Anda di halaman 1dari 170

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR II
PERCOBAAN 1 - 8

NAMA ASLAB

1. Olivia Stephani (F1C111040)


2. Ernilawati S (F1C111015)
3. Magdalena Normalina S (F1C111053)
4. Lenny Theresia (F1C111041)
OLEH

KELOMPOK 7
NAMA :
1. NADYA FARAH KAMILIA (F1D113018)
2. ADE DHARMA SAPUTRA
3. YUDHA GUSTI WIBOWO
PRODI : TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS JAMBI
JAMBI
2014

DAYA HANTAR LISTRIK LARUTAN ELEKTROLIT


I . TUJUAN PERCOBAAN
1. Mengukur daya hantar listrik berbagai jenis senyawa dan larutan pada
berbagai konsentrasi.
2. Mempelajari pengaruh jenis senyawa dan konsentrasi suatu larutan
terhadap daya hantar listrik.
II. TEORI
Larutan adalah campuran homogen dua zat atau lebih yang saling
melarutkan dan masing-masing zat penyusunnya tidak dapat dibedakan lagi secara
fisik. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau
solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam
larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam
larutan ini dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran
zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi.
(Tony, 1987)
Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik,
sedangkan larutan non-elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan
arus listrik.Untuk mengetahui suatu larutan berelektrolit atau non-elektrolit, dapat
diuji dengan alat penguji elektrolit.
(Chang, 2004)
Larutan elektrolit dapat menyalakan lampu, sedangkan larutan nonelektrolit tidak dapat menyalakan lampu.
Jika alat penguji elektrolit berisi larutan dihubungkan dengan sumber arus
listrik / baterai dan ternyata larutan tersebut dapat menyalakan lampu, berarti
larutan tersebut dapat menghantarkan arus listrik .Hal itu dapat terjadi karena
dalam pelarut air, zat-zat terurai menjadi ion-ion positif dan ion-ion negative .
Elektrolit kuat banyak menghasilkan ion-ion, elektrolit lemah hanya sedikit
menghasilkan ion-ion, sedangkan non-elektrolit tidak menghasilkan ion-ion.
(Cahyadi, 2012)
Larutan elektrolit yang dapat menghantarkan arus listrik karena adanya
pergerakan partikel-partikel bermuatan.
Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang dapat menghantarkan arus
listrik dengan baik. Hal ini disebabkan karena zat terlarut akan terurai sempurna

(derajat ionisasi ? = 1) menjadi ion-ion sehingga dalam larutan tersebut banyak


mengandung ion-ion. Karena banyak ion yang dapat menghantarkan arus listrik,
maka daya hantarnya kuat. pada persamaan reaksi, ionisasi elektrolit kuat ditandai
dengan anak panah satu arah ke kanan.
(Daddy,2008 )
Contoh:
NaCl(s)Na+(aq)+Cl-(aq)
Yang tergolong elektrolit kuat adalah:

Asam-asam kuat, seperti : HCl, HCl03, H2SO4, HNO3 dan lain-lain.

Basa-basa kuat, yaitu basa-basa golongan alkali dan alkali tanah, seperti:
NaOH, KOH, Ca(OH)2, Ba(OH)2 dan lain-lain.

Garam-garam yang mudah larut, seperti: NaCl, KI, Al2(SO4)3 dan lainlain
(Kundari,2006)
Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang dapat menghantarkan arus

listrik dengan lemah. Hal ini disebabklan karena zat terlarut akan terurai sebagian
(derajat ionisasi ? << 1) menjadi ion-ion sehingga dalam larutan tersebut sedikit
mengandung ion. Hal ini disebabkan tidak semua terurai menjadi ion-ion (ionisasi
tidak sempurna) sehingga dalam larutan hanya ada sedikit ion-ion yang dapat
menghantarkan arus listrik. Dalam persamaan reaksi, ionisasi elektrolit lemah
ditandai dengan panah dua arah (bolak-balik).
Contoh:

CH3COOH(aq)CH3COO-(aq)+H+(aq)
Yang tergolong elektrolit lemah:
a. Asam-asam lemah, seperti : CH3COOH, HCN, H2CO3, H2S dan lain-lain
b.Basa-basa

lemah

seperti

NH4OH,

Ni(OH)2

dan

lain-lain

c. Garam-garam yang sukar larut, seperti : AgCl, CaCrO4, PbI2 dan lain-lain

Berdasarkan sifat daya hantar listriknya, larutan dibagi menjadi dua yaitu
larutan elektrolit dan larutan non elektrolit. Sifat elektrolit dan non elektrolit
didasarkan pada keberadaan ion dalam larutan yang akan mengalirkan arus listrik.
Jika dalam larutan terdapat ion, larutan tersebut bersifat elektrolit. Jika dalam
larutan tersebut tidak terdapat ion larutan tersebut bersifat non elektrolit. Pada
larutan non elektrolit, molekul-molekulnya tidak

terionisasi dalam larutan,

sehingga tidak ada ion yang bermuatanyang dapat menghantarkan arus listrik.
Tergolong ke dalam jenis ini misalnya:
-

Larutan Urea

Larutan Sukrosa

Larutan Glukosa

Larutan Alkohol dan lain-lain


(Sutresna, 2007)
Perbedaan larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit dapat dilihat pada

table berikut:
Larutan Elektrolit
Jika zat terlarutnya berupa zat
elektrolit;

Larutan non-Elektrolit
Jika zat terlarutnya berupa zat nonelektrolit;

Zat terlarut dapat terionisasi.


Zat terlarutnya tidak
Larutannya dapat menghantarkan
terionisasi.
Larutannya tidak
listrik.
Meliputi asam, basa, dan garam.
menghantarkan listrik.
Asam, Basa dan Garam
Meliputi zat selain asam,
Asam dan basa merupakan senyawa kimia yang
sangat
penting.Arti
basa,
dan garam(
gula, dari
alcohol, ilmu
dan urea).
istilah asam dan basa berkembang sesuai dengan kemajuan
pengetahuan.
Istilah asam dan basa mula-mula digunakan untuk gugusan zat yang hilang serta
menunjukkan sifat-sifat tertentu Sebagai contoh, beberapa makanan memiliki rasa
asam, seperti asam laktat terdapat dalam susu dam asam sitrat terdapat dalam buah

jeruk. Basa seperti natrium hidroksida, kalium hidroksida, dan kalsium


hidroksida, terasa licin dan pahit
(Chang, 2004)

Asam kuat adalah asam yang dalam

ion H+.Asam-asam ini merupakan

elektrolit kuat.Contohnya, HCl, HNO3, danH2SO4 .


Asam lemah adalah asam yang dalam larutannya sukar melepaskan ion
H+.Asam-asam ini merupakan elektrolit lemah.Contohnya, H2CO3, HCN, H3PO3
dan CH3COOH.
Basa kuat adalah basa yang ion OH - dalam larutannya.Basa- .Contohnya,
NaOH, KOH.
Basa lemah adalah basa yang sukar melepaskan ion OH - dalam
larutannya.Basa-basa ini merupakan elektrolit lemah.Contohnya, Fe(OH)2.
Garam adalah persenyawaan yang terbentuk antara ion logam atau ion
ammonium (NH4+) dengan sisa asam. Contohnya, Na+, Ba2+, Al3+.Larutan garam
yang mudah larut dalam air juga merupakan elektrolit kuat. Dalam larutannya,
garam terionisasi menjadi ion-ion logam dan sisa asam
(Keenan, 1980)

III. PROSEDUR KERJA


3.1 Alat dan Bahan

Alat :
1. Gelas Beker 100 mL : 8 buah
2. Batang Pengaduk: 1 buah
3. Rangkaian alat multimeter
4. Gelas Ukur 100 mL: 1 buah
5. Gelas Ukur 50 mL: 1 buah
6. Kaca arloji: 1 buah
7. Pipet tetes: 5 buah
8. Spatula: 1 buah
Bahan :
1. HCl
2. NaOH
3. NaBr
4. NH4Cl
5. Minyak Tanah
6. Aquades
7. NaCl
8. Air Jeruk Nipis
9. NH4OH
10. N

3.2 Skema Kerja


1. Menentukan Daya Hantar Listrik Berbagai Senyawa

5 buah gelas beker 100 ml

Di isi 25 ml minyak tanah, H2O,


larutanNaCl, kristalNaCl
Multimeter

Di ukur daya hantar listrik


Dirangkai seperti gambar
Di tentukan sifat zat terhadap arus
listrik
Catat hasil
percobaan di
tabel
pengamatan

2. Mempelajari Pengaruh Konsentrasi Terhadap Daya Hantar Listrik


Larutan Elekrolit.
Konsenterasi
0.05M, 0.1M, 0.5M,

Di ukur daya hantar listrik dari


larutan terencer
Grafik
kelompok 1

Di gambar terhadap konsentrasi


Ditentukan senyawa elektrolit kuat
dan lemah
Grafik
kelompok 1

Di gambar terhadap konsentrasi


Dibandingkan daya hantar listrik
anion dan kation
Catat hasil
percobaan di tabel
pengamatan

a Hasil dan Pembahasan


4.1 Data Pengamatan Dan Grafik
V Data Pengamatan
Menentukan Daya Hantar Berbagai Senyawa
Senyawa

(mA)

V (volt)

L=1/R (ohm-1)

Minyak Tanah

H2O

Larutan NaCl

100

33.3

Kristal NaCl

Mempelajari Pengaruh konsentrasi Terhadap Daya Hantar Listrik


Larutan Elektrolit

Kelompok I
[M]

Air Jeruk Nipis

Im
A

NH4OH

I
-1

I
-1

NaOH

L
-1

mA
4

Volt
3

ohm
1.3

mA
100

Volt
3

ohm
33.3

mA
60

volt
3

ohm-1
20

0,05

volt
3

0,1

100

33.3

100

33.3

0,5

2.67

100

3.33

100

3.33

10

3.3

100

3.33

100

3.33

1,0

40

ohm

HCl

0.07

Kelompok II
[M]

NaCl

NaBr

NaI

NH4Cl

Im

0,05

A
60

Volt
3

ohm-1
20

mA
30

volt
3

ohm-1
10

mA
70

Volt
3

ohm-1
23.3

mA
30

Volt
3

ohm-1
10

0,1

80

26.7

80

26.67

80

26.7

100

33.3

0,5

100

33.3

100

33.3

100

33.3

100

33.3

100

33.3

100

33.3

100

33.3

100

33.3

W Grafik Daya hantar listrik terhadap Konsenterasi


Kelompok I

Grafik Larutan Na4OH


3.5
3
2.5
2
Daya Hantar (1/ohm) 1.5
1
0.5
0
0

0.2

0.4

0.6

0.8

Konsentrasi [M]

1.2

Grafik Larutan HCl


35
30
25
20
Daya Hantar (1/ohm) 15
10
5
0
0

0.2

0.4

0.6

0.8

1.2

Konsentrasi [M]

Grafik Larutan NaOH


35
30
25
20
Daya Hantar Listrik (1/ohm) 15
10
5
0
0

0.2 0.4 0.6 0.8


Konsenterasi[M]

Kelompok II

1.2

Grafik Larutan NaCl


40
30
Daya Hantar (1/Ohm)

20
10
0
0

0.2

0.4

0.6

0.8

Konsentrasi [M]

1.2

Grafik Larutan NaBr


35
30
25
20
Daya Hantar Listrik (1/ohm) 15
10
5
0
0

0.2 0.4 0.6 0.8

1.2

1.2

Konsentrasi [M]

Grafik Larutan NaI


35
30
25
Daya Hantar Listrik (1/ohm)

20
15
10
5
0
0

0.2 0.4 0.6 0.8


Konsentrasi [M

C. Untuk Mair jeruk = 0,05 M


M 1 . V 1=M 2 . V 2
V 2=

10 ml
.1 M
0,05 M

V 2=100 ml

Grafik Larutantan
NH4OH
- Menentukan
Daya Hantar
Berbagai Senyawa
Minyak Tanah
30
35

Dik25 : I = 0 mA, V = 3 Volt

20
Jawab
Daya Hantar Listrik (1/ohm)
15

V = I.R
3 = 0.R

10
5

R = 0 ohm

0
0

1
R

0.2 0.4 0.6 0.8

L=

Konsenterasi [M]

Perhitungan
X Dik :

L=

Mair jeruk = 1M

Vair jeruk = 10 ml
A. Untuk Mair jeruk = 0,5 M

Dik

H2O

Jawab :

V = I.R
3 = 3.R
R = 1 ohm

10 ml
.1 M
0,5 M

L=

1
R

L=

1
1

V 2=20 ml
B. Untuk Mair jeruk = 0,1 M
M 1 . V 1=M 2 . V 2
V 2=

10 ml
.1 M
0,1 M

V 2=100 ml

= 0 ohm-1

: I = 3 mA, V = 3 Volt

M 1 . V 1=M 2 . V 2
V 2=

1
0

Dik

= 1 ohm-1

Larutan NaCl

: I = 100 mA, V = 3 Volt

Jawab :

V = I.R
3 = 100.R

1.2

R = 0.03 ohm
L=

1
R

L=

1
0.03

(Konsentrasi 0.1 M)
Dik

: I = 6 mA, V = 3 Volt

Jawab :

3 = 6.R
= 33.3

R = 0.5 ohm

ohm-1

Dik

L=

1
0.5

V = I.R
Dik

R = 0 ohm
L=

1
R

L=

1
0

: I = 8 mA, V = 3 Volt

Jawab :

V = I.R
3 = 8.R
R = 0.375 ohm

-1

= 0 ohm

Mempelajari Pengaruh

L=

1
0.375

L=

1
0.375

Konsentrasi Terhadap Daya


Hantar Listrik Larutan

Dik

(Konsentrasi 1.0 M)
Dik

(Konsentrasi 0.05 M)

Jawab :

: I = 4 mA, V = 3 Volt

: I = 10 mA, V = 3 Volt
V = I.R
3 = 10.R

V = 4.R

R = 0.3 ohm

3 = 4.R
R = 0.75 ohm

-1

ohm

L=

1
0.75

L=

1
0.75

= 2.67

ohm-1

Elektrolit
Larutan NH4OH

Jawab :

= 2 ohm-1

(Konsentrasi 0.5 M)

3 = 0.R

L=

1
0.5

Kristal NaCl

: I = 0 mA, V = 3 Volt

Jawab :

V = 6.R

= 1.33

L=

1
0.3

L=

1
0.3

ohm-1
Larutan HCl
(Konsentrasi 0.05)

= 3.33

Dik

: I = 100 mA, V = 3 Volt

Jawab :

Jawab :

V = I.R

3 = 100.R

3 = 100.R

R = 0.03 ohm

R = 0.03 ohm
L=

L=

1
0.03
1
0.03

= 33.33

: I = 100 mA, V = 3 Volt

Dik

1
0.03

= 33.33

V = I.R

3 = 100.R

3 = 60.R

R = 0.03 ohm

R = 0.05 ohm

L=

1
0.03

L=

1
0.05

L=

1
0.03

L=

1
0.05

= 33.33

= 20

ohm-1
(Konsentrasi 0.1 M)

(Konsentrasi 0.5)
: I = 100 mA, V = 3 Volt

Jawab :

Dik

: I = 100 mA, V = 3 Volt

Jawab :

V = I.R

V = I.R

3 = 100.R

3 = 100.R

R = 0.03 ohm

R = 0.03 ohm

L=

1
0.03

L=

1
0.03

= 33.33

L=

1
0.03

L=

1
0.03

= 33.33

ohm-1

ohm-1

(Konsentrasi 0.5 M)

(Konsentrasi 1.0 M)
Dik

L=

: I = 60 mA, V = 3 Volt

Jawab :

V = I.R

ohm-1
Dik

1
0.03

Larutan NaOH
(Konsentrasi 0.05 M)

(Konsentrasi 0.1)
Jawab :

L=

ohm-1

ohm-1
Dik

V = I.R

: I = 100 mA, V = 3 Volt

Dik

: I = 100 mA, V = 3 Volt

Jawab :

V = I.R

Jawab :

3 = 100.R

3 = 80.R

R = 0.03 ohm

R = 0.0375 ohm

L=

1
0.03

L=

1
0.03

= 33.33

ohm-1

1
0.0375

L=

1
0.0375

(Konsentrasi 0.5 M)

: I = 100 mA, V = 3 Volt

Jawab :

V = I.R

Dik

: I = 100 mA, V = 3 Volt

Jawab :

V = I.R

3 = 100.R

3 = 100.R

R = 0.03 ohm

R = 0.03 ohm

L=

1
0.03

L=

1
0.03

= 33.33

ohm-1

Dik

L=

26.67 ohm-1
(Konsentrasi 1.0 M)

Dik

V = I.R

L=

1
0.03

L=

1
0.03

= 33.33

ohm-1
Larutan NaCl
(Konsentrasi 0.05 M)

Dik

: I = 60 mA, V = 3 Volt

Jawab :

Jawab :

(Konsentrasi 1.0 M)
: I = 100 mA, V = 3 Volt
V = I.R

V = I.R

3 = 100.R

3 = 60.R

R = 0.03 ohm

R = 0.05 ohm
L=

1
0.05

L=

L=

L=

1
0.05

1
0.03
1
0.03

= 33.33

= 20
ohm-1

ohm-1
(Konsentrasi 0.1 M)
Dik

: I = 80 mA, V = 3 Volt

Larutan NaBr
(Konsentrasi 0.05 M)

Dik

: I = 30 mA, V = 3 Volt

Jawab :

Jawab :

V = I.R

3 = 100.R

3 = 30.R

R = 0.03 ohm

R = 0.1 ohm
L=

L=

1
0.1
1
0.1

= 10 ohm-

: I = 80 mA, V = 3 Volt

Dik

1
0.03

V = I.R
3 = 70.R

R = 0.0375 ohm

R = 0.0429 ohm

L=

1
0.0375

L=

1
0.0429

L=

1
0.0375

L=

1
0.0429

= 23.3

ohm-1
(Konsentrasi 0.1 M)

: I = 100 mA, V = 3 Volt

Dik

: I = 80 mA, V = 3 Volt

Jawab :

V = I.R

V = I.R

3 = 100.R

3 = 80.R

R = 0.03 ohm

R = 0.0375 ohm

L=

1
0.03

L=

1
0.03

= 33.33

L=

1
0.0375

L=

1
0.0375

26.67 ohm-1

ohm-1
(Konsentrasi 1.0 M)
Dik

= 33.33

3 = 80.R

(Konsentrasi 0.5 M)
Jawab :

L=

: I = 70 mA, V = 3 Volt

Jawab :

V = I.R

26.67 ohm-1
Dik

1
0.03

Larutan NaI
(Koonsentrasi 0.05 M)

(Konsentrasi 0.1 M)
Jawab :

L=

ohm-1

Dik

V = I.R

: I = 100 mA, V = 3 Volt

(Konsentrasi 0.5 M)

Dik

: I = 100 mA, V = 3 Volt

Jawab :

Dik

V = I.R

Jawab :

3 = 100.R

R = 0.03 ohm

R = 0.03 ohm

L=

1
0.03

L=

1
0.03

= 33.33

L=

1
0.03

L=

1
0.03

= 33.33

ohm-1
(Konsentrasi 1.0 M)

(Konsentrasi 0.5 M)

: I = 100 mA, V = 3 Volt

Jawab :

Dik

V = I.R

: I = 100 mA, V = 3 Volt

Jawab :

V = I.R

3 = 100.R

3 = 100.R

R = 0.03 ohm

R = 0.03 ohm

L=

1
0.03

L=

1
0.03

= 33.33

ohm-1

Dik

V = I.R

3 = 100.R

ohm-1
Dik

: I = 100 mA, V = 3 Volt

L=

1
0.03

L=

1
0.03

= 33.33

ohm-1
Larutan NH4Cl
(Konsentrasi 0.05 M)

Dik

: I = 30 mA, V = 3 Volt

Jawab :

Jawab :

(Konsentrasi 1.0 M)
: I = 100 mA, V = 3 Volt
V = I.R

V = I.R

3 = 100.R

3 = 30.R

R = 0.03 ohm

R = 0.1 ohm
L=

L=

1
0.1

L=

1
0.03

1
0.1

L=

1
0.03

= 10 ohm

ohm-1
1

(Konsentrasi 0.1 M)

= 33.33

4.2 Pembahasan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memahami proses hantaran listrik
dalam larutan dan menentukan daya hantar berbagai jenis larutan elektrolit pada
berbagai konsentrasi. Pada dasarnya proses hantaran listrik dalam larutan karena
adanya pergerakan ion dan perpindahan elektron. Pada katoda terjadi proses
reduksi, dimana ion positif bergerak menuju elektroda negatif untuk mengambil
elektron dari elektroda ini. Pada anoda terjadi proses oksidasi, dimana ion negatif
bergerak manuju elektroda positif untuk menyerahkan elektron. Oleh karena itu,
di dalam larutan elektrolit terjadi penghantaran muatan dari elektroda yang
diangkut oleh ion-ion.
Dari data percobaan yang diperoleh, setelah memperoleh nilai tegangan
keluaran dan arus listrik, maka besarnya hambatan elektrolit (R) dapat ditentukan
dengan menggunakan rumus R = v/I . Setelah nilai hambatan elektrolit (R)
diperoleh, besarnya daya hantar elektrolit (L) dapat ditentukan dengan
menggunakan rumus L = 1/R . Untuk Percobaan I Menentukan daya hantar
listrik : Pada minyak tanah didapat arus listrik pada tegangangan V=3 volt
sebesar 0 mA maka di dapat R = 0 dan L = 0 -1. Pada H2O didapat arus listrik
pada tegangan V=3 volt sebesar 3 mA maka di dapat R = 1 dan L = 1 -1. Pada
larutan NaCl didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 100 mA maka di
dapat R = 0.03 dan L = 33.3 -1. Pada Kristal NaCl didapat arus listrik pada
tegangan V=3 volt sebesar 0 mA maka di dapat R = 0 dan L = 0 -1.
Dari data tersebut dapat kita ketahui bahwa minyak tanah dan Kristal NaCl
tidak dapat mengahntarkan arus listrik atau bersifat non elektrolit yang berarti
pada minyak tanah dan Kristal NaCl tidak terdapat ion elektrolit. Pada H 2O atau
air sedikit sekali dapat mengahantarkan listrik atau bersifat elektrolit lemah karena
mengandung sedikit elektrolit yang dapat mengahntarkan listrik. Dan pada larutan
NaCl bersifat elektrolit kuat karena banyak terkandung elektrolit yang dapat
mengahntarkan listrik dengan cukup besar.
Untuk percobaan II Mempelajari pengaruh konsentrasi terhadap daya
hantar listrik larutan elektrolit :
Larutan NH4OH
Pada larutan NH4OH (0.05 M) didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt
sebesar 4 mA maka di dapat R = 0.75 dan L = 1.33 -1. NH4OH (0.1M) didapat
arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 6 mA maka di dapat R = 0.5 dan L

= 2 -1. NH4OH (0.5M) didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 8 mA
maka di dapat R = 0.375 dan L = 2.67 -1. NH4OH (1.0 M) didapat arus listrik
pada tegangan V=3 volt sebesar 10 mA maka di dapat R = 0.3 dan L = 3.33 1

Larutan asam klorida (HCl)


Larutan HCl dapat menghantarkan arus listrik karena semua molekul HCl
dapat terurai menjadi ion H+ dan Cl- (terionisasi secara sempurna). Akibatnya
daya hantar listrik yang dihasilkan kuat. Sehingga larutan HCl dapat
digolongkan sebagai larutan elektrolit kuat. Larutan asam klorida (HCl. Larutan
HCl dapat menghantarkan arus listrik karena semua molekul HCl dapat terurai
menjadi ion H+ dan Cl- (terionisasi secara sempurna). Akibatnya daya hantar
listrik yang dihasilkan kuat. Sehingga larutan HCl dapat digolongkan sebagai
larutan elektrolit kuat. Pada larutan HCl (0.05 M) didapat arus listrik pada
tegangan V=3 volt sebesar 100 mA maka di dapat R = 0.03 dan L = 33.33 1

. HCl (0.1M) didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 100 mA maka

di dapat R = 0.03 dan L = 33.33 -1. HCl (0.5M) didapat arus listrik pada
tegangan V=3 volt sebesar 100 mA maka di dapat R = 0.03 dan L = 33.33 1

. HCl (1.0 M) didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 100 mA maka

di dapat R = 0.03 dan L =3 3.33 -1.


Larutan natrium hidroksida (NaOH)
Larutan NaOH dapat menghantarkan arus listrik karena semua molekul
NaOH

dapat

terurai

menjadi

ion

Na + dan

OH- (terionisasi

secara

sempurna). Akibatnya daya hantar listrik yang dihasilkan kuat. Sehingga larutan
NaOH dapat digolongkan sebagai larutan elektrolit kuat. Ketika dilakukan
pengukuran daya hantar listrik dengan multimeter terjadi perubahan warna, hal ini
menunjukkan bahwa larutan mengandung unsur logam Na. Pada larutan NaOH
(0.05 M) didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 60 mA maka di dapat
R =0.05 dan L = 20 -1. NaOH (0.1M) didapat arus listrik pada tegangan V=3
volt sebesar 100 mA maka di dapat R = 0.03 dan L = 33.33 -1. NaOH (0.5M)
didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 100 mA maka di dapat R =
0.03 dan L = 33.33 -1. NaOH (1.0 M) didapat arus listrik pada tegangan V=3
volt sebesar 100 mA maka di dapat R = 0.03 dan L = 33.33 -1.

Larutan garam dapur (NaCl)

Larutan NaCl dapat menghantarkan arus listrik karena semua molekul


NaCl

dapat

terurai

menjadi

ion

Na+ dan

Cl- (terionisasi

secara

sempurna). Akibatnya daya hantar listrik yang dihasilkan kuat. Sehingga larutan
NaCl dapat digolongkan sebagai larutan elektrolit kuat. Ketika dilakukan
pengukuran daya hantar listrik dengan multimeter terjadi perubahan warna, hal ini
menunjukkan bahwa larutan mengandung unsur logam Na. Pada larutan NaCl
(0.05 M) didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 60 mA maka di dapat
R = 0.05 dan L = 20 -1. NaCl (0.1M) didapat arus listrik pada tegangan V=3
volt sebesar 80 mA maka di dapat R = 0.0375 dan L = 26.67 -1. NaCl (0.5M)
didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 100 mA maka di dapat R =
0.03 dan L = 33.33 -1. NaCl (1.0 M) didapat arus listrik pada tegangan V=3
volt sebesar 100 mA maka di dapat R = 0.03 dan L = 33.33 -1.

Larutan NaBr

Larutan NaBr dapat menghantarkan arus listrik karena semua molekul


NaBr

dapat

terurai

menjadi

ion

Na+ dan

Br- (terionisasi

secara

sempurna). Akibatnya daya hantar listrik yang dihasilkan kuat. Sehingga larutan
HCl dapat digolongkan sebagai larutan elektrolit kuat. Ketika dilakukan
pengukuran daya hantar listrik dengan multimeter terjadi perubahan warna, hal ini
menunjukkan bahwa larutan mengandung unsur logam Na. Pada larutan NaBr
(0.05 M) didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 30 mA maka di dapat
R = 0.1 dan L = 10 -1. NaBr (0.1M) didapat arus listrik pada tegangan V=3
volt sebesar 80 mA maka di dapat R = 0.375 dan L = 26.67 -1. NaBr (0.5M)
didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 100 mA maka di dapat R =
0.03 dan L = 33.33 -1. NaBr (1.0 M) didapat arus listrik pada tegangan V=3
volt sebesar 100 mA maka di dapat R = 0.03 dan L = 33.33 -1.

Larutan NaI

Larutan NaI dapat menghantarkan arus listrik karena semua molekul NaI
dapat terurai menjadi ion Na+ dan I- (terionisasi secara sempurna). Akibatnya daya
hantar listrik yang dihasilkan kuat. Sehingga larutan HCl dapat digolongkan
sebagai larutan elektrolit kuat. Ketika dilakukan pengukuran daya hantar listrik
dengan multimeter terjadi perubahan warna, hal ini menunjukkan bahwa larutan
mengandung unsur logam Na. Pada larutan NaI (0.05 M) didapat arus listrik pada

tegangan V=3 volt sebesar 70 mA maka di dapat R = 0.0429 dan L = 23.3 -1.
NaI (0.1M) didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 80 mA maka di
dapat R = 0.375 dan L = 26.67 -1. NaI (0.5M) didapat arus listrik pada
tegangan V=3 volt sebesar 100 mA maka di dapat R = 0.03 dan L = 33.33 -1.
NaI (1.0 M) didapat arus listrik pada tegangan V=3 volt sebesar 100 mA maka di
dapat R = 0.03 dan L = 33.33 -1.

Larutan NH4Cl

Larutan NH4Cl dapat menghantarkan arus listrik karena semua molekul


NH4Cl

dapat

terurai

menjadi

ion

NH 4+4 dan

Cl-4 (terionisasi

secara

sempurna). Akibatnya daya hantar listrik yang dihasilkan kuat. Sehingga larutan
HCl dapat digolongkan sebagai larutan elektrolit kuat.

Air (H2O)

Larutan H2O dapat menghantarkan arus listrik karena sebagian molekul


H2O dapat terurai menjadi ion H 2+2 dan O2-(terionisasi tidak sempurna). Akibatnya
daya hantar listrik yang dihasilkan lemah. Sehingga larutan H2O dapat
digolongkan sebagai larutan elektrolit lemah.
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa beda konsentrasi juga sangat
mempengaruhi hambatan dan juga daya hantar elektrolitnya. Hal ini dikarenakan
semakin besar konsentrasi pada larutan elektrolit semakin besar pula elektrolit
yang terkandung di dalamnya, semakin rendah konsentrasi larutan elektrolit maka
semakin kecil pula kandungan elektrolit yang dapat mengahntarkan listrik di
dalamnya.

V. Kesimpulan dan Saran


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut :
o Jenis senyawa dan konsentrasi suatu larutan sangat berpengaruh dalam
penentuan daya hantar listrik larutan elektrolit.
o Larutan elektrolit kuat dapat menghantarkan listrik dengan baik/ sempurna
karena terbentuknya muatan-muatan sempurna yang dibentuk oleh
banyaknya ion-ion secara berlawanan.
o Larutan elektrolit lemah kurang dapat mennghantarkan listrik dengan baik/
sempurna karena muatan-muatan kurang sempurna yang dibentuk oleh
sedikitnya ion-ion secara berlawanan.
o Larutan non elektrolit tidak dapat menghantarkan listrik karena larutanlarutan tersebut tidak terurai menjadi ion-ion, sehingga zat-zat tersebut
tetap berwujud molekul-molekul netral yang tidak bermuatan listrik.
o Besarnya daya hantar elektrolit suatu larutan bergantung pada konsentrasi,
volume dan jenis larutanyya, semakin besar konsentrasi larutan elektrolit
maka semakin besar pula daya hantar ataupun rambatanyya.
o Daya hantar listrik dipengaruhi oleh besar arus listrik dan tegangan
listrik.Dimana daya hantar listrik berbanding lurus dengan arus listrik
dan berbanding terbalik dengan tegangan listrik.
5.2 Saran
Jalannya praktikum berjalan dengan cukup baik, tapi akan lebih baik jika
pihak laboran mempersiapkan dan mengantisifasi kejadian-kejadian yang
mungkin saja bisa terjadi pada saat terjadinya praktikum. Misalnya seperti
pemadaman listrik oleh PLN yang akan mengganggu jalannya praktikum. Dan
agar pada saat sebelum dimulainya praktikum peralatan diperiksa terlebih dahulu,
kelengkapan, kerusakkannya agar tidak menjadi merepotkan jika harus
meminjam-minjam ke kelompok yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA
Bird,Tony.1987.Kimia Fisik Untuk Universitas.Jakarta:PT Gramedia.
Cahyadi Hary. 2012. LarutanElekrolit.
(http://harycahyadi.wordpress.com/2012/03/27/contoh-makalah-tentanglarutan-elektrolit/ , diakses jumat, 11 April 2014 pukul 01.30 WIB)
Daddy.

2008.

LarutanElektrolitdan

Non

Elektrolit.

(http://daddysunsek.com/kimia-kelas-x/larutan-elektrolit-dannonelektrolit-materi-kimia-sma-kelas-x-semester-2 , diakses jumat, 11


April 2014 pukul 01.30 WIB)
Chang . 2004 . Kimia DasarII . Erlangga : Jakarta.
Keenan,C.W. 1980 . General college Chemistry . New Jersey : Harper & Row
Pubilsher.
Kundari,Anis.2006.KimiaDasar.Yogyakarta:STTN-BATAN
Sutresna, Nana. 2007. Cerdas Belajar Kimia. Bandung: Grafindo.

LAMPIRAN
Pertanyaan Prapraktikum
1
2
3

Apa yang dimaksud dengan daya hantar listrik?


Bagaimana suatu larutan elektrolit dapat menghantarkan listrik?
Jelaskan cara kerja pengukuran daya hantar listrik dengan
menggunakan alat multimeter.

Jawab:
1.

Daya hantar listrik adalah parameter yang dipengaruhi oleh salinitas


tinggi rendahnya berkaitan erat dengan nilai salinitas. Kemampuan

2.

untuk menghantarkan listrik mhos/cm (S/cm).


Larutan elektrolit dapat menghantarkan listrik karena larutannya akan
terionisasi menjadi ion-ion bermuatan listrik dan ion-ion tersebut

3.

selalu bergerak bebas.


Larutan dimasukkan kedalam gelas beker, kedua kutub dari alat
multimeter dicelupkan kedalam larutan, lalu amati berapa nilai arus
listrik yang dihasilkan oleh larutan.

STANDARISASI LARUTAN NaOH 0,1 M DAN PENGGUNAANNYA


DALAM PENENTUAN KADAR ASAM CUKA PERDAGANGAN
I

TUJUAN :
Menentukan molaritas larutan Naoh dengan larutan standar

II

asam oksalat.
Menetapkan kadar asam cuka perdagangan.

TEORI

Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih


zatyang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya
dapatbervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer
adalahlarutan yang mengandung sejumlah kecil solute, relatif terhadap jumlah
pelarut.Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar
solute.Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent (pelarut) adalah medium dalam
manasolute terlarut. Pada umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah air,
selainair yang berfungsi sebagai pelarut adalah alkohol amoniak, kloroform,
benzena,minyak, asam asetat.
(Sutresna, 2003)
Titrasi asam basa melibatkan asam mapun basa sebagai titrat ataupun
titran. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Larutan penguji disebut
titran sedangkan larutan yang ingin diuji kadarnya disebut titrat/titret. Kadar
larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titran
ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen
( artinya secara stoikiometri titran dan titrat tepat habis bereaksi ). Keadaan ini
disebut sebagai titik ekuivalen. Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi
dihentikan ,kemudian kita mencatat volume titrat yang diperlukan untuk mencapai
keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran ,volume data
dan konsentrasi titrat maka kita bisa menghitung kadar titran. Terdapat dua cara
untuk mengidentifikasi titik ekuivalen yaitu dengan memakai pH meter untuk
memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan atau memakai indikator asam
basa.

(Padjaatmak
a, 1989)
Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan
larutan baku basa, sedangkan alkalimeteri adalah pengukuran konsentrasi basa
dengan menggunakan larutan baku asam. Oleh sebab itu, keduanya disebut juga
sebagai titrasi asam-basa. Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang
terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui
volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain untuk
mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik
ekivalen adalah saat yang menunjukkan bahwa ekivalen perekasi-pereaksi sama.
Di dalam prakteknya titik ekivalen sukar diamati, karena hanya meruapakan titik
akhir teoritis atau titik akhir stoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberian
indikator asam-basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi dapat diketahui.
Titik akhir titrasi meruapakan keadaan di mana penambahan satu tetes zat
penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator.
(Chang, 2004)
Asidi dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion
hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa
untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan
sebagai reaksi antara pemberi proton (asam) dengan penerima proton (basa).
(Syukri, 1999)
Titrasi asidi-alkalimetri menyangkut reaksi dengan asam kuat-basa kuat,
asam kuat-basa lemah, asam lemah-basa kuat, asam kuat-garam dari asam lemah,
basa kuat-garam dari basa lemah. Titrasi ini menggunakan indikator pH atau
indikator asam-basa sebagai penanda karena memiliki sifat dapat berubah warna
apabila pH lingkungannya berubah. Warna asam ialah sebutan warna indikator
ketika dalam keadaan asam dan warna basa ketika dalam keadaan basa.
(Harjadi,1986)
Analisa titrimetri atau analisa volumetric adalah analisis kuantitatif dengan
mereaksikan suatu zat yang dianalisis dengan larutan baku (standar) yang telah
diketahui konsentrasinya secara teliti, dan reaksi antara zat yang dianalisis dan
larutan standar tersebut berlangsung secara kuantitatif. Larutan baku (standar)

adalah

larutan

yang

telah

diketahui

konsentrasinya

secara

teliti,

dan

konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas).


(Shochichah,2010)
Untuk analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah kalau kita memakai
sistem ekivalen (larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekivalen dari
zat yang dititrasi = jumlah ekivalen zat penitrasi. Berat ekivalen suatu zat sangat
sukar dibuat definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Pada titrasi asam basa,
titik akhir titrasi ditentukan oleh indikator. Indikator asam basa adalah asam atau
basa organik yang mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen lebih tinggi
daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika konsentrasi itu lebih
rendah.
(Sukmariah, 1990)
Larutan standar biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam suatu
erlenmeyer yang mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai reaksi
selesai. Selesainya suatu reaksi dapat dilihat karena terjadi perubahan warna
Perubahan ini dapat dihasilkan oleh larutan standarnya sendiri atau karena
penambahan suatu zat yang disebut indikator. Titik di mana terjadinya perubahan
warna indikator ini disebut titik akhir titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi
seharusnya sama dengan titik akhir teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya
selalu terjadi sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi.
(Daddy,2008 )
Indikator adalah zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir
titrasi telah di capai. Umumnya indikator yang digunakan adalah indicator azo
dengan warna yang spesifik pada berbagai perubahan pH. Titik Ekuivalen adalah
titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara stokiometri antara zat yang dianalisis
dan larutan standar. Titik akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna
pada indikator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yang dianalisis
dan larutan standar. Pada umumnya, titik ekuivalen lebih dahulu dicapai lalu
diteruskan dengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam penentuan titik akhir titrasi
sangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa.
(Shochichah,2010)

Larutan yang mempunyai konsentrasi molar yang diketahui, dapat dengan


mudah digunakan untuk reaksi-reaksi yang melibatkan prosedur kuantitaif.
Kuantitas zat terlarut dalam suatu volume larutan itu, di mana volume itu diukur
dengan teliti, dapat diketahui dengan tepat dari hubungan dasar berikut ini.
Mol = liter x konsentrasi molar atau mmol = mL x konsentrasi
molar.
Perhitungan-perhitungan stoikiometri yang melibatkan larutan yang
diketahui normalitasnya bahkan lebih sederhana lagi. Dengan definisi bobot
ekuivalen, dua larutan akan bereaksi satu sama lain dengan tepat bila keduanya
mengandung gram ekuivalen yang sama yaitu, jika
V1 x N2 = V2 x N2.
Dalam hubungan ini kedua normalitas harus dinyatakan dengan satuan yang sama,
demikian

juga

kedua

volum,

satuan-satuan

itu

dapat

dipilih

secara

sembarang.Larutan-larutan yang mempunyai normalitas yang diketahui sangat


berguna walaupun hanya satu di antara pereaksi itu yang terlarut. Dalam hal ini
jumlah gram ekuivalen (atau miliekuivalen) pereaksi yang tidak terlarut dapat
dihitung dengan cara biasa, yaitu dengan membagi massa contoh dalam gram
(atau miligram) dengan bobot ekuivalennya. Jumlah g-ek (atau mek) satu pereaksi
tetap harus sama dengan g-ek (atau mek) zat yang lain.
(Daddy,2008)
Pada analisis volumetri diperlukan larutan standar. Proses penentuan
konsentrasi larutan satandar disebut menstandarkan atau membakukan. Larutan
standar adalah larutan yang diketahui konsentrasinya, yang akan digunakan pada
analisis volumetri.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis
volumetric adalah sebagai berikut :
1. Reaksinya harus berlangsung sangat cepat.
2. Reaksinya harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi
yang kuantitatif/stokiometrik.
3. Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalen tercapai, baik secara
kimia maupun secara fisika.

4. Harus ada indicator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan kimia atau fisika.
Indikator potensiometrik dapat pula digunakan.
(Sutresna, 2003)
Alat-alat yang digunakan pada analisa titrimetri ini adalah sebagai
berikut :
1. Alat pengukur volume kuantitatif seperti buret, labu tentukur, dan pipet volume
yang telah di kalibrasi.
2. Larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti atau baku
primer dan sekunder dengan kemurnian tinggi.
3.

Indikator atau alat lain yang dapat menunjukkan titik akhir titrasi telah di

capai.
Baku primer adalah bahan dengan kemurnian tinggi yang digunakan untuk
membakukan larutan standar misalnya arsen trioksida pada pembakuan larutan
iodium. Baku sekunder adalah bahan yang telah dibakukan sebelumnya oleh baku
primer, dan kemudian digunakan untuk membakukan larutan standar, misalnya
larutan natrium tiosulfat pada pembakuan larutan iodium.
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant.
Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan
dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titrant ditambahkan titer
sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara
stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai
titik ekuivalen. Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan,
kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan
tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer
maka kita bisa menghitung kadar titrant.
(Hettik, 2010)
Cara Mengetahui Titik Ekuivalen.
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam
basa.
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan,
kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh
kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah titik ekuivalent.

2. Memakai indicator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum


proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik
ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih
sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih
indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. Keadaan
dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut
sebagai titik akhir titrasi.
(Putdjaatmaka, 1989)

III

PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 ALAT DAN BAHAN

3.1.1 ALAT
Labu ukur 100 ml
Buret 50 ml
Erlenmeyer 100 ml
Erlenmeyer 150 ml
Pipet ukur 10 ml
Klem dan standar
Batang pengaduk
Gelas ukur 100 ml
Gelas ukur 50 ml
Kaca arloji
Pipet tetes
Spatula

3.1.2 BAHAN
Asam Oksalat (H2C2O4)
Larutan NaOH
Asam cuka perdagangan (CH3COOH)
Indikator pp

: 1 buah
: 2 buah
: 3 buah
: 2 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 5 buah
: 1 buah

3.2 SKEMA KERJA


A Penetapan Molaritas NaOH
Asam Oksalat
Ditimbang 1,26 gram
Dimasukan kedalam labu ukur 100
mL
Ditambah air suling hingga volume
100 mL
Diisi dalam buret
NaOH

Di

tuang

10

mL

ke

dalam

Erlenmeyer
Ditambah 10 mL air suling dan 1-2
tetes indikator PP
Dititrasi dengan larutan asam oksalat
sebanyak 3 kali hingga warna merah
jambu hilang
Catat hasil
percobaan di tabel
pengamatan

B Penetapan Kadar Asam Cuka Perdagangan

C
D
Cuka Perdagangan
F
ukur
G

Di ambil 10 mL dengan pipet


Di masukan kedalam labu

ukur 100 mL
H
Di encerkan air suling hingga
volume 100 mL
I
LarutanJEncer
K
Cuka

Di masukan ke erlenmeyer

ukuran 125 mL
M
Ditambah 2 tetes indikator pp
N
Dititrasi
dengan
larutan
NaOH
warna
O
Catat hasil P
percobaan
di tabel
Q
R pengamatan

S
T
U
V
W
X
Y
Z

hingga

terjadi

perubahan

IV

Hasil dan Pembahasan


V
4.1 Hasil Pengamatan
Pengamatan 1
VI

VII

VIII

IX

at

at
a

I
X

XI

Na

I
XII

I
1

XIII

O
H
XIV

l
6

XV

XVI

l
6

XVII

l
6

H2

C2

2H

O4.

XVIII

Pengamatan 2
XIX
Merk asam cuka yang dipakai : Cuka makan cap naga
XX

XXI

Titr

XXII

asi I

Titr

XXIII

asi

ra

II

ta
ra
ta

XXIV

Sk

XXV

ala

50

XXVI

ml

50

XXVII

ml

5
0

aw

al

bur
XXVIII

et
Sk

XXIX

18

XXX

20

XXXI

ala

ml

ml

ak

hir

bur
XXXII

et
Vol

XXXIII

32

XXXIV

ml

30
ml

L)

XXXVI
Volume rata-rata NaOH yang digunakan : 31 ml

XXXVIII

4.2 Perhitungan

Volume NaOH awal rata-rata


= 10 ml
Volume NaOH rata-rata hasil Titrasi
= 6,5ml
= 16,5 ml
Volume H2C2O4 . 2H2Oawal
= 50 ml
Volume H2C2O4 . 2H2O sisa Pentitrasi = 50 ml 16,5 ml
= 33.5 ml
XLV

A. Penetapan Molaritas NaOH


XLVI
XLVII
XLVIII
XLIX
L
LI

dik : BM asam oksalat : 126,07 gr/mol


Massa asam oksalat : 1,26 gr

LIII
LIV
LV

V . M . BM asam oksalat
1000

Gram =

LII

M
M

1,26

100 . M .126,07
1000

1000 . 1,26
126,07 . 100

1260
12607
= 0,09 M

LVI

LVII
LVIII
LIX

1
m

(m

XXXIX
XL
XLI
XLII
XLIII
XLIV

Na
H

XXXVII

XXXV

V Oksalat . M Oksalat = V NaOH . M NaOH


6,5 ml . 0,09 M = 10 ml . M NaOH

LX

M NaOH

6,5 ml .0,09 M
10 ml

LXI
LXII
M NaOH
= 0,05 M
LXIII
LXIV B. Penetapan Molaritas Asam Cuka Perdagangan
LXV
32 ml+ 30 ml
LXVI Volume rata-rata NaOH =
= 31 ml
2
LXVII V CH3COOH . M CH3COOH = V NaOH . M NaOH
LXVIII
10 ml
. M CH3COOH =
31 ml . 0,5 M
LXIX
31 ml . 0,5 M
LXX
M CH3COOH =
10 ml
LXXI
LXXII
LXXIII
LXXIV
LXXV

M CH3COOH = 1,55 M
4.3 Pembahasan
Pada percobaan 2 yang membahas tentang Standarisasi

larutan NaOH 0,1 M dan penggunaannya dalam penentuan kadar asam


cuka perdagangan praktikan melakukan analisa kuantitatif untuk
menstandarisasi larutan baku sekunder dengan larutan baku primer.
dimana pada percobaan kali ini larutan baku yang digunakan adalah NaOH
(natrium hidroksida) dan larutan baku primer C2H2O4 (asam oksalat).
LXXVI
Sebelum digunakan untuk mentitrasi asam cuka, larutan
NaOH ini distandarisasi terlebih dahulu karena NaOH merupakan zat yang
mudah terkontaminasi, sehingga mudah menarik uap air dari udara dan
juga mudah bereaksi dengan CO2 dalam udara. Di mana pada kedua proses
ini menyebabkan penimbangan NaOH tidak akan memberikan kepastian
massa yang sesungguhnya, karena jumlah air dan CO2 yang diserap oleh
NaOH tidak diketahui dengan pasti. Hal ini mengakibatkan kensentrasi
NaOH yang dihasilkan juga tidak tepat. Dengan demikian apabila
menggunakan NaOH sebagai pereaksi dalam suatu titrasi maka zat
tersebut harus distandarisasi sebelumnya.
LXXVII
Untuk menstandarisasi larutan NaOH ini digunakan 1,26 ml
larutan asam oksalat, larutan ini digunakan sebagai larutan standar primer

karena larutan ini tidak bersifat higroskopis dan memiliki berat ekuivalen
yang tinggi sehingga dapat mengurangi kesalahan dalam penimbangan zat.
Standarisasi larutan NaOH dilakukan dengan titrasi

LXXVIII

menggunakan 2 tetes

indikator fenolftalein.

Pemilihan indikator

felnolftalein karena pada standarisasi ini merupakan titrasi asam lemah


(C2H2O4) dan basa kuat (NaOH) sehingga titik ekivalennya diatas 7 dan
LXXIX

berada pada trayek indikator fenolftalein.


Pada standarisasi ini NaOH digunakan sebagai titran sementara asam

oksalatnya sebagai titrat karena mengingat indikator yang digunakan adalah


fenolftalein sehingga ketika PP ditambahkan pada asam oksalat, akan
menunjukkan warna bening. Ketika pada titik ekivalen, akan terjadi perubahan dari
bening menjadi merah muda. Jika asam oksalat yang digunakan sebagai titran dan
NaOH sebagai titrat maka akan terjadi perubahan warna dari merah muda ke
bening. Pada dasarnya, perubahan warna dari bening ke merah muda lebih mudah
diamati daripada perubahan warna dari merah muda ke bening. Dan juga
penggunaan asam oksalat sebagai titran kemungkinan besar akan menyebabkan
kesalahan titrasi yang besar karena terjadi kelebihan penambahan titran hingga
melewati titik ekivalen. Kelebihan titran ini disebabkan karena kesulitan
mengamati perubahan warna dari merah muda ke bening. Setelah terjadi perubahan
warna untuk yang pertama kali, titrasi langsung dihentikan dan NaOH yang
berkurang langsung dicatat titrasi dilakukan sebanyak 2 kali pengulangan. NaOH
yang berkurang pada percobaan kali ini adalah 10 ml, sehingga konsentrasi NaOH
dapat diketahui sebesar 0,05M.
LXXX
Setelah larutan baku NaOH tersebut sudah diketahui
konsentrasinya, maka larutan tersebut sudah dapat digunakan untuk
menentukan kadar asam cuka perdagangan. Pada percobaan ini,
menetapkan asam cuka perdagangan untuk mengetahui apakah kadar yang
tertera pada etiket cuka perdagangan sudah sesuai dengan kadar yang
sebenarnya. Analisis dilakukan secara alkalimetri yaitu dengan cara
menitrasi larutan asam asetat perdagangan dengan larutan baku
NaOH.Untuk menganalisis asam cuka dalam cuka perdagangan dapat
dilakukan dengan titrasi netralisasi. Titrasi ini merupakan titrasi

alkalimetri, proses titrasi dengan larutan standar basa untuk mentitrasi


asam bebas.
LXXXI

Setelah kita mengetahui normalitas dari larutan NaOH,

maka dilakukan langkah selanjutnya yaitu menetapkan kadar asam cuka


perdagangan dengan cara mengambil 10 ml asam cuka perdagangan
dengan pipet volume, lalu dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer.
Kemudian ditambah dengan 2 tetes indikator PP. Larutan ini selanjutnya
dititrasi dengan larutan baku NaOH diatas, hingga diperoleh perubahan
warna dari tidak berwarna menjadi merah jambu. Bila sudah terjadi
perubahan warna tersebut maka titrasi langsung dihentikan dan catat
volume NaOH yang digunakan. NaOH yang digunakan pada penetapan
kadar asam cuka perdagangan rata-ratanya adalah 31 ml, sehingga
konsentrasi asam cuka perdagangan (CH3COOH) dapat diketahui sebesar
1,55 M.
LXXXII
LXXXIII

LXXXIV
LXXXV

Kesimpulan dan Saran


5.1 Kesimpulan
LXXXVI
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka
dapat disimpulkan bahwa:

LXXXVII

1. Pada proses standarisasi NaOH terbentuk larutan berwarna

LXXXVIII

merah jambu
dengan konsentrasi NaOH sebesar 0,05 M.
2. Pada proses penetapan kadar asam cuka perdagangan
terbentuk larutan

LXXXIX

berwarna merah jambu dengan konsentrasi

asam cuka perdagangan sebesar 1,55 M


3. Perbedaan hasil titrasi disebabkan oleh :
a. Perubahan skala buret yang tidak konstan.
b. Kurangnya ketelitian dalam memperhatikan perubahan
warna indikator.
XC
XCI

5.2 Saran
1. Perhatikan kebersihan alat dalam setiap praktikum.
2. Lakukan praktikum dengan benar sesuai penuntun praktikum.
3. Lebih memahami percobaan sebelum praktek dimulai
XCII
XCIII
XCIV
XCV
XCVI
XCVII
XCVIII
XCIX
C
CI
CII
CIII
CIV

CV

DAFTAR PUSTAKA
CVI

CVII

Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta:


Bina rupa

CVIII
CIX

aksara

Harja.1986.Kimia dasar jilid 2.Bandung:Gramedia.


Hettik, 2010, Asidi-Alkalimetri dan
Potensiometri, http://hettik07.student.ipb.ac.id/2010/ 06/20/asidialkalimetri-potensiometri/, Senin, 23/10/2011.

CX

Pudjaatmaka,

Hadyana.1989.

KIMIA

UNTUK

UNIVERSITAS.

ERLANGGA: Jakarta.
CXI

Shochichah, 2010,Standarisasi Larutan NaOH dan Penentuan Asam


Cuka
Perdagangan,http://shochichah.blogspot.com/2010/04/standardisasilarutan-naoh-dan.html, 23/10/2011.

CXII

Sukmariah. 1990. Kimia Kedokteran edisi 2. Bina Rupa Aksara,


Jakarta.

CXIII

Sutresna, Nana. 2003. Pintar Kimia Jilid 3 untuk SMU Kelas 3.


Jakarta :Ganeca Exact
CXIV
CXV
CXVI
CXVII
CXVIII
CXIX
CXX
CXXI
CXXII
CXXIII
CXXIV
CXXV
CXXVI
CXXVII

CXXVIII
CXXIX
CXXX
CXXXI

CXXXII

LAMPIRAN

CXXXIII
CXXXIV

Pertanyaan prapraktikum :

1) Apa yang dimaksud dengan molaritas,titrasi dan larutan standar ?


CXXXV Jawab :
Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat
dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang

diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna.


Larutan standar adalah larutan yang diketahui konsentrasinya, yang

akan digunakan pada analisis volumetri.


Molaritas adalah satuan konsentrasi yang banyak dipergunakan, dan
didefinisikan sebagai banyak mol zat terlarut dalam 1 liter (1000

mL) larutan.
CXXXVI
2) Bagaimana cara menghitung molaritas larutan ?
CXXXVII
Jawab :
CXXXVIII
CXXXIX
M = Mol zat terlarut
CXL
1 liter larutan
CXLI
3) Apa tujuan dilakukannnya titrasi dan penggunaan larutan standar dalam
titrasi?
CXLII
Jawan :
CXLIII
Tujuan nya supaya praktikan bisa mengukur volume larutan yang
terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui
volumenya sampai terjadi reaksi dan larutan standar berguna untuk
mengetahui konsentrasi yang akan digunakan dalam larutan yang akan di
titrasi.
CXLIV

CXLV

KINETIKA KIMIA

I.

Tujuan Percobaan
1. Mengukur perubahan konsentrasi pereaksi menurut waktu.
2. Mengamati pengaruh konsentrasi, suhu, dan katalis pada laju reaksi.
3. Menentukan hukum laju suatu reaksi dalam larutan berair.
CXLVI
II. Landasan Teori
CXLVII

Reaksi kimia adalah proses berubahnya pereaksi menjadi hasil

reaksi. Proses itu ada yang lambat dan ada yang cepat. Contohnya bensin terbakar
lebih cepat dibandingkan dengan minyak tanah. Ada reaksi yang berlangsung
sangat cepat, seperti membakar dinamit yang menghasilkan ledakan, dan yang
sangat lambat adalah seperti proses berkaratnya besi. Pembahasan tentang
kecepatan (laju) reaksi disebut kinetika kimia. Dalam kinetika kimia ini
dikemukakan cara menentukan laju reaksi dan faktor apa yang mempengaruhinya.
CXLVIII
CXLIX

(Syukri,1999)

Kinetika kimia merupakan pengkajian laju dan mekanisme reaksi kimia.

Besi lebih cepat berkarat dalam udara lembab dari pada dalam udara kering,
makanan lebih cepat membusuk bila tidak di dinginkan, kulit lebih cepat menjadi
gelap dalam musim panas daripada dalam musim dingin. Ini merupakan tiga
contoh yang lazim dari perubahan kimia yang kompleks dengan laju yang
beraneka menurut kondisi reaksi.
CL
CLI

(Saputro, 2011)

Laju reaksi yaitu perubahan konsentrasi konsentrasi reaktan atau

produk terhadap waktu (m/s). Setiap reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan
umum,
CLII
CLIII

Reakta

Produk

Persamaan ini, memberitahukan bahwa selama berlangsungnya

suatu reaksi, molekul reaktan bereaksi sedangkan molekul produk terbentuk.


CLIV
CLV

Menurut jumlah molekul A dan meningkanya jumlah molekul B

sering dengan waktu yang diperlihatkan dalam sebuah grafik. Secara umum akan
lebih mudah apabila dinyatakan laju dalam perubahan konsentrasi terhadap waktu.
Jadi untuk reaksi diatas dapat dinyatakan lajunya sebagai :
CLVI

CLVII
CLVIII

Laju = - IAJ
t

atau

- IAJ
t
CLIX (Sutresna, 2007)

1. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Laju Reaksi


Luas Permukaan Bidang Sentuh
CLX

Semakin luas permukaan bidang sentuh, reaksi semakin

cepat. Karena bidang sentuh yang luas akan memungkinkan molekul


bertabrakan dengan molekul lain. Hal ini menyebabkan zat yang terbantuk
serbuk reaksinya akan semakin lebih cepat dari pada reaksi zat yang
berbantuk kepingan besar.
CLXI

(Chang, 2004)

Suhu
CLXII

Laju reaksi kimia bertambah dengan naiknya suhu. Dengan

naiknya suhu bukan hanya molekul-molekul lebih sering bertabrakan,


tetapi mereka juga bertabrakan dengan bantuan yang lebih berat karena
mereka bergerak lebih cepat.
CLXIII

(Kundasri, 2006)

1. Sifat Dasar Pereaksi


CLXIV

Zat-zat berbeda secara nyata, dalam lajunya mereka

mengalami perubahan kimia. Molekul-molekul hydrogen dan fluorida


bereaksi secara spontan bahkan pada temperature kamar dengan
menghasilkan hydrogen fluoride.
H2 + F2 2 HF (sangat cepat pada suhu kamar)

CLXV
CLXVI

Pada kondisi serupa, molekul hydrogen dan oksigen

bereaksi sangat lambat, sehingga tak Nampak pertubahan kimianya.


CLXVII

H2 + O2 2 H2O (sangat lambat pada suhu kamar)


CLXVIII

(Keenan, 1990)

CLXIX
2. Katalis
CLXX

Katalis adalah zat yang mempercepat reaksi tanpa

mengalami perubahan kimiayang permanen. Suatu katalis mempengaruhi


kecepatan reaksi dengan jalan:
1. Pembentukan senyawa antara (katalis homogen)
2. Absorbsi (katalis heterogen)
3. Konsentrasi
CLXXI

Perubahan kimia timbul sebagai akibat dari tumbukan

molekul. Semakin banyak tumbukan yang terjadi, semakin besar laju


reaksinya. Jika konsentrasi reaktan semakin tinggi maka tumbukan juga
akan semakin besar.
CLXXII
CLXXIII

Reaksi Umum Laju Reaksi:

CLXXIV

aA + bB

cC + Dd

CLXXV

(Tony,

1987)
4. Orde Reaksi
CLXXVI

Orde reaksi dapat didefinisikan sebagai jumlah satu

eksponen yang menyatakan hubungan antara konsentrasi dengan


kecepatan reaksi. Orde reaksi dikenal dengan tingkat reaksi. Untuk reaksi
umum A+B C. Maka kecepatan reaksi ditentukan oleh konsentrasi A
dan B.
CLXXVII

Metode ini membandingkan persamaan kecepatan reaksi


CLXXVIII

CLXXIX

[ ][ ]

V 1 K 1 A1
=
V 2 K 2 A2

B1
B2

Harga K1 dan K2 (tetapan laju reaksi) pada suhu konstan

adalah sama, sehingga dapat dihilangkan. Dengan demikian perbandingan


konsentrasi zat yang berubah dipangkatkan orde reaksinya masing
masing sama dengan perbandingan kecepatan reaksinya.
CLXXX
1. Reaksi Orde Nol (0)

Untuk metode grafik ada beberapa reaksi yaitu :

CLXXXI

Reaksi orde nol mempunyai laju yang tidak bergantung

pada konsentrasi reaktan. Sebagai contoh, dekomposisi lebih pada


walform panas bertekanan tinggi mempunyai laju pH 3 terdekomposisi
pada laju tetap sampai habis seluruhnya. Hanya reaksi yang
heterogenyang mempunyai hukum laju dengan orde nol secara
keseluruhan.rumus laju reaksi menjadi V.K.
CLXXXII
CLXXXIII V
CLXXXIV
CLXXXV
CLXXXVI
CLXXXVII
CLXXXVIII
CLXXXIX

CXC
(Saputro, 2011)
2. Reaksi Orde Satu
CXCI

Jika laju suatu reaksi kimia berlangsung lurus dengan

konsentrasi jika suatu pereaksi V = K [A]. Maka reaksi itu dikatakan


sebagai reaksi orde pertama jika dinyatakan dengan grafik, maka laju
reaksi dengan orde pertama berupa garis lurus liniear.
CXCII
CXCIII
CXCIV
CXCV
CXCVI
CXCVII

CXCVIII
[A]

(Saputro,
2011)

3. Reaksi Orde Kedua


CXCIX

Jika laju reaksi sebanding dengan pangkat dua suatu

pereaksi atau pangkat satu konsentrasi dua pereaksi V = K [A] 2. Maka


reaksi itu dikatakan sebagai reaksi beranak 2 jika dinyatakan dengan
grafik, maka laju reaksi dengan orde reaksi dua berupa garis lengkung.
CC
CCI
CCII

CCIII
CCIV
CCV
CCVI
CCVII
[A
CCVIII
]

(Saputro,
2011)

5. Hukum Laju dan Kostanta Laju


CCIX

Laju reaksi terukur seringkali sebanding dengan konsentrasi

reaktan suatu pangkat. Contihnya mungkin saja laju itu sebanding dengan
konsentrasi dua reaktan A dan B, sehingga :
CCX
CCXI

V = K [A] [B]
Koefisien K disertai konsentrasinya yang tidak bergantung

pada konsentrasi, tetapi bergantung pada temperature. Persamaan sejenis


ini yang ditentukan secara eksperimen disebut hokum laju reaksi. Secara
formal hukum laju reaksi adalah persamaan yang menyamakan laju reaksi
sebagai fungsi dari konsentrasi semua spesien yang ada termasuk
produknya.
CCXII

Hukum laju reaksi memiliki dua penerapan utama,

penerapan praktisnya setelah kita mengetahui hukum laju dan komposisi


campuran. Penerapan teoritis hukum laju ini adalah hokum laju
menerapkan pemandu untuk mekanisme reaksi. Setiap mekanisme yang
dilanjutkan harus konstan dengan hukum laju yang diamati.
CCXIII

(Kundar
i, 2006)

CCXIV
CCXV
CCXVI
CCXVII
CCXVIII
CCXIX

CCXX
III.

Alat Bahan dan Skema Kerja


CCXXI

3.1 Alat dan Bahan

6. Alat :
1. Erlenmeyer 100 mL
2. Erlenmeyer 150 mL
3. Gelas piala 50 mL
4. Gelas piala 100 L
5. Batang pengaduk
6. Pipet tetes
7. Labu takar 100 mL
8. Stopwatch
9. Tabung reaksi
10. Rak tabung reaksi
11. Gelas Ukur 50 mL
CCXXII
7. Bahan :
1. Na2S2O3
2. Akuades
3. HCl
4. Asam Asetat
5. Asam Sulfat
6. KMnO4
7. Asam Oksalat
8. Pita Mg
CCXXIII
CCXXIV
CCXXV
CCXXVI
CCXXVII
CCXXVIII

: 5 buah
: 5 buah
: 5 buah
: 5 buah
: 1 buah
: 5 buah
: 1 buah
: 10 buah
: 1 buah
: 1 buah

CCXXIX

3.2 Cara Kerja

1. Orde Reaksi dalam Reaksi Natrium Thiosulfat dengan Asam


Hidroklorida
CCXXX
CCXXXI
CCXXXII
CCXXXIII
CCXXXV

Na2S2O3

[0.15, 0.12, CCXXXIV


0.09, 0.06]
(M)

Dibuat campuran seperti table 10.1

CCXXXVI

Dicampurkan Thiosulfat dengan H2O

CCXXXVII

Diputar Erlenmeyer agar homogeny

CCXXXVIII

Dicatatlah waktu saat asam di tambahkan hingga keruh

CCXXXIX Dilakukan percobaan lagi dengan campuran seperti table


10.2
CCXL Dibuat grafik [S2O32-] terhadap t dan [S2O32-] terhadap l/t
CCXLI

2. Orde Reaksi dalam Reaksi Antara Magnesium dengan


Asam Hidroklorida
3.
4.
5.
6.

Mg 8 potong
(2cm/potong)
7.
Dimasukkan masing-masing 1 potong ke dalam 4
erlenmeyer
8.

9.

HCL 2 M

10.

Diencerkan sampai konsentrasi seperti pada table

10.3 di labu takar


11.
DItuangkan 100 ml larutan ke dalam Erlenmeyer
12.
Diacatat waktu dengan stopwatch
13.
Digoyang Erlenmeyer agar magnesium tetap
bergerak
14.
Dihentikan Stopwatch saat Mg benar-benar larut
15.
Diulangi percobaan dengan larutan yang sama
16.
Dicatat waktu untuk melarutkan seluruh pita Mg
17.
18.
19.

Grafik l/t
terhadap

20.

21.Pengaruh Suhu terhadap Laju Reaksi


22.
23.
24.
25.
26.

6 buah tabung reaksi


masing-masing 8 ml
asam oksalat 0.1 N dan
2ml asam sulfat 6 N

27.

Disapkan 3 gelas piala isi separuhnya dengan air

28.

Didihkan gelas piala pertama

29.

Dipanaskan gelas piala kedua hingga 50o C

30.

Dimasukkan 2 tabung ke dalam setiap piala

31.

Setelah 10 menit ditambahkan 3 tetes KMnO4 0.1 M

32.

Diperhatikan warna dan catat waktu dari reaksi

setiap tabung
Data

33.

34.

35.Pengaruh katalis terhadap Laju Reaksi


36.
37.
38.
39.

6 buah tabung
reaksi masingmasing di isi 6 ml

40.

Tabung 1 dan 2 di tambahkan 2 ml H2SO4 1 M

41.

Tabung 3 dan 4 di tambahkan 1 ml H2SO4 1 M

42.

Tabung 5 dan 6 di tambahkan 4 ml H2O

43.

Diberi 3 tetes KMnO4 ke dalam setiap tabung

44.

Diperhatikan perubahan warna

45.

Dicatat waktu reaksi

46.
IV.
Hasil dan Pembahasan
IV.1
Hasil Pengamatan :
A. Orde reaksi dalam reaksi
47.

natrium

tiosulfat

dengan

asam

hidroklorida
Pengamatan terhadap pengaruh konsentrasi Na-tiosulfat

48.

Na2

50.

(Na2

52.

H2

54.

(ml

51.

S2O3)
(M)

53.

(ml

55.

60.

25

61.

0,15

62.

63.

64.

16

65.

66.

20

67.

0,12

68.

69.

70.

21

71.

72.

15

73.

0,09

74.

10

75.

76.

25

77.

78.

10

79.

0,06

80.

15

81.

82.

27

83.

S2O3
49.

H
Cl

56.
57.

(m

t
(det

58.
59.

l/t
(de
t-1)

ik)

l)
0.0
6
0.0
5
0.0
4
0.0
3

84.
85.

Grafik

1. Kosenterasi terhadap t (detik)

86.

30
25
20
t (detik)

15
10
5
0
0.04

0.06

0.08

0.1

0.12

Konsentrasi (M)

0.14

0.16

87.
2. Kosenterasi terhadap 1/t (detik-1)
88.

0.07
0.06
0.05
0.04
0.03
0.02
0.01
0
0.04

0.06

0.08

0.1

0.12

0.14

0.16

89.
90.
91.

Pengamatan

terhadap

pengaruh

konsentrasi

asam

hidroklorida
92.

Na2S
O3 (ml)

93.
94.

H2O
(ml)

95.
96.

HCl
(ml)

97.
98.

[HCl]
(M)

99.
100.

t
(detik

101.
102.
1

)
103.
109.
115.

121.

25
25
25

104.
110.
116.

Grafik :

2
4

105.
111.
117.

5
3
1

106.
112.
118.

3,0
1,8
0,6

107.
113.
119.

l/t
(det)

6.24
8.79
10.22

108.
114.
120.

0.16
0.35
0.09

Kosentrasi terhadap t(detik)

12
10
8
6
4
2
0
0

0.5

1.5

122.
123.

Kosenterasi terhadap 1/t (detik-1)

2.5

3.5

124.

8
7
6
5
4
3
2
1
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

125.
2. Orde reaksi dalam reaksi magnesium dengan asam hidroklorida
126.
Pengamatan terhadap pengaruh konsentrasi asam hidroklorida :
127.
128.

130.

132.

134.

[HCl]
129.

HCl
131.

T1
133.

T2
135.

(M)
136.

(ml)
137.

(detik)
138.

(detik)
139.

0.6
140.

100
141.

54.23
142.

85.48
143.

0.8
144.

100
145.

36.10
146.

58.59
147.

1.2
148.

100
149.

19.13
150.

26.06
151.

2.0

100

14.30

17.44

A. Konsenterasi terhadap t1
152.

60
50
40
30
20
10
0
0.4

0.6

0.8

1.2

1.4

1.6

1.8

2.2

153.
154.

155.
B. Konsenterasi terhadap t2
156.
T

90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
0.4

157.

0.6

0.8

1.2

1.4

1.6

1.8

2.2

158.
C. Konsenterasi2 terhadap 1/ t1
159.

0.08
0.07
0.06
0.05
0.04
0.03
0.02
0.01
0
0

0.5

1.5

D. Konsente rasi2 terhadap 1/ t2

2.5

3.5

4.5

160.

0.06
0.05
0.04
0.03
0.02
0.01
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

4.5

161.
3. Pengaruh suhu terhadap laju reaksi
162.
Waktu reaksi pada berbagai suhu (detik)
163.

Ulangan
166. 100 0C
170. 7.52
174. Bening

164. Suhu Reaksi


167. 50 0C
168. 25 0C
171. 3.28
172. 72.58
175. Bening
176. Bening

169. 1
173. Warna
177.
4. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi
178.
Waktu reaksi dari berbagai suhu (detik)
179.

Ulangan

182. 1ml
185. 1
186. 72.15
189. 2
190. 80.25
193. Warna
194. Bening
IV.2
Perhitungan
197.
198.
199.
200.
201.

180. H2SO4
183. 2 ml
187. 41.15
191. 45.25
195. Bening

184. 14 ml
188. 135.13
192. 150.30
196. Bening

202.

4.3 Pembahasan
203.

Pada percobaan pengaruh konsentrasi Tiosulfat (Na2S2O3)

terhadap kecepatan reaksi yaitu perubahan warna dan waktu yang


diperlukan reaksi yaitu sampai tepat mulai terjadi kekeruhan yaitu
perubahan warna dan waktu yang diperlukan reaksi yaitu sampai tepat
mulai terjadi kekeruhan karena pengaruh HCL adalah Na2S2O3 25 ml
waktunya adalah 16 detik, Na2S2O3 20 ml waktunya adalah 21 detik,
Na2S2O3 15 ml waktunya adalah 25 detik, Na2S2O3 10 ml waktunya adalah
27 detik. Jadi, semakin besar konsentrasinya maka semakin kecil waktu
yang dibutuhkan.
204. Pada percobaan pengaruh konsentrasi HCl dengan volume
yang berubah terhadap kecepatan reaksi yaitu perubahan warna dan waktu
yang diperlukan reaksi yaitu sampai tepat mulai terjadi kekeruhan karena
pengaruh konsentrasi Tiosulfat (Na2S2O3) yaitu perubahan warna dan
waktu yang diperlukan reaksi yaitu sampai tepat mulai terjadi kekeruhan
adalah HCL 5 ml waktunya adalah 6.24 detik, HCL 3 ml waktunya adalah
8.79 detik, HCL 1ml waktunya adalah 10.22 detik. Jadi semakin krcil
konsenterasi asam maka semakin besar waktu laju reasinya.
205.

Pada percobaan reaksi Mg dengan asam hidroksida

pengaruh konsenterasi HCL 0.5 M waktunya adalah 54.23 dan 85.48 detik,
HCL 0.8 M waktunya adalah 36.10 dan 58.59 detik, HCL 1.2 M waktunya
adalah 19.13 dan 26.06 detik, HCL 2.0 M waktunya adalah 14.30 dan
17.44 detik. Jadi, semakin besar konsentrasinya maka semkin lambat yang
dibutuhkan.
206.
207.

Pada percobaan pengaruh temperatur pada reaksi

HCl dengan Na2S2O3 terhadap kecepatan reaksi yaitu perubahan warna dan
waktu yang diperlukan reaksi yaitu pada suhu 100 0C waktunya yaitu 7.52
detik dengan warna berubah menjadi bening. Sedangkan pada percobaan
pengaruh temperatur pada reaksi H2C2O4 dengan KMnO4 dalam suasana
asam adalah pada suhu 50 0C waktunya adalah 3.28 detik dengan warna
berubah menjadi bening. Sedangkan pada suhu 25 0C, waktunya 72.58
detik (warnanya berubah lebih lama), yang dicampurkan dari warna ungu

berubah menjadi warna bening. Jadi semakin kecil suhu reaksinya aka
semakin lama perubahan warna yang terjadi.
208.
Pada percobaan adanya penambahan KMnO4 (katalis
dari luar) pada larutan asam oksalat terhadap kecepatan reaksi yaitu pada
waktu 41.15 dan 45.25 detik tabung 1 dan 2 berubah menjadi bening,
pada waktu 72.15 dan 80.25 detik tabung 3 dan 4 warna ungu berubah
menjadi warna bening dan adanya endapan, Sedangkan pada percobaan
Adanya Autokatalisator adalah pada tabung 5 dan 6 waktunya 135.13
detik dan 160.30 warnanya berubah menjadi bening. Jadi, tabung yang
berisi air lebih lama katalisnya bereaksi.
209.
Reaksi yang terjadi pada percobaan-percobaan
210.

tersebut yaitu:
Na2S2O3 + 2HCl 2NaCl + H2S2O3

CCXLII
Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
211. Pada hasil percobaan dapat diambil kesimpulan dari tujuan
1

praktikum tersebut yaitu:


Menjelaskan dan menghitung laju reaksi yaitu; Laju reaksi adalah
perubahan besarnya konsentrasi zat pereaksi (reaktan) atau zat hasil
reaksi per satuan waktu. Menghitung laju reaksi, v = - = + atau v =

k[A]a[B]b
Tingkat reaksi dan mekanismenya yaitu; perincian serangkaian reaksi
Erlenmeyer, dengan laju yang digabungkan untuk menghasilkan reaksi

keseluruhan.
Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi yaitu; besarnya laju reaksi
sebanding dengan konsentrasi pereaksi. Pengaruh suhu terhadap laju
reaksi yaitu; secara kuantitatif dijelaskan dengan hukum Arrehenius yang
dinyatakan dengan persamaan, k = Ae-Ea/RT atau . Sedangkan pengaruh
katalis terhadap laju reaksi yaitu; katalis biasanya ikut bereaksi sementara

dan kemudian terbentuk kembali sebagai zat bebas.


212.
5.2 Saran
213. Pada saat praktikum hendaknya asisten bisa lebih
memberikan perhatian, arahan, dan bimbingan kepada praktikan
supaya praktikum dapat berjalan dengan baik dan lancar.
214.

215.
216.

Bird,Tony.1987.Kimia

DAFTAR PUSTAKA
Fisik

Untuk

Universitas.Jakarta:PT

Gramedia.
217.

Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Jilid II. Jakarta: Erlangga

218.

Keenan, Charles W. 1990. Kimia Dasar Jilid II. Jakarta: Erlangga

219.

Kundari,Anis.2006.KimiaDasar.Yogyakarta:STTN-BATAN

220.

Saputro, Adi,dkk. 2011. Kinetika Kimia.


Http://cemycalholiccybre.wordpress.com. Diakses tanggal 02 juli
2011

221.

Sutresna, Nana. 2007. Cerdas Belajar Kimia. Bandung: Grafindo.

222.

Syukri S, 1999. Kimia Dasar 2. ITB, Bandung. hal 71-83.

223.

224.

LAMPIRAN

Pertanyaan Pra Praktek

1. Apa definisi ringkas dari (a) Hukum Laju (b) tetapan laju (c) orde reaksi
(d) energy aktivasi.
2. Apakah satuan tetapan reaksi untuk (a) reaksi orde nol (b) reaksi orde satu
(c) reaksi orde dua
3. Belerang dioksida mereduksi HIO3 dalam larutan asam dengan reaksi
225.
3SO2(g) + 3H2O(l) + HIO3(aq) 3H2SO4(aq) + HI(aq)
226.Pada akhir reaksi, jika terdapat HIO3 berlebih. Zat ini dapat diambil
dengan larutan kanji. Senyawa dan HIO3 segera bereaksi membentuk I2
yang diserap oleh kanji dan menimbulkan warna bir. Dari percobaan
diperoleh data :
227.
228.
233.
236.
239.

242.

[SO2]
(M)
14.6 x 10-4
7.31 x 10-3
14.6 x 10-4

229.
[HIO3] 231.
230.
(M) 232.
234.
3.60 x 10-3 235.
237.
3.60 x 10-3 238.
240.
7.21 x 10-3 241.
Tentukan orede rekasi untuk setiap

pereaksi dan orde keseluruhannya!!!


243.
JAWABAN
1. A. Hukum Laju : Laju Reaksi atau kecepaan reaksi adalah laju atau
kecepatan berkurangnya pereaksi atau terbentuknya produk reaksi yang
dapat dinyatakan dalam satuan (konsentrasi per waktu) mol/L/s (untuk
zat berwujud cair dan padat), atau atm/s (untuk zat berwujud gas).
A. Tetapan Laju : Tetapan Laju reaksi disebut juga koefisien laju atau laju
reaksi jenis, dengan lambing k (konstanta). Tetapan laju adalah tetapan
perbandingan antara laju reaksi dan hasi kali konsentrasi spesi yang
mempengaruhi laju reaksi. Tetapan laju juga merupakan perubahan
konsentrasi pereaktan atau produk reaksi per satuan waktu dalam suatu
reaksi jika konsentrasi semua pereaksi sama dengan satu.

B. Orde reaksi adalah jumlah pangkat konsentrasi dalam hokum laju bentuk
diferensial. Secara teoritis orde reaksi merupakan bilangan bukat kecil, namun
dari hasil experiment hal tertentu orde reaksi merupakan pecahan atau nol.
C. Di dalam ilmu kimia, energi aktivasi merupakan sebuah istilah yang
diperkenalkan oleh Svante Arrhenius, yang didefinisikan sebagai energi yang
harus dilampaui agar reaksi kimia dapat terjadi. Energi aktivasi bisa juga

T
(detik)
25.8
52.8
12.6

diartikan sebagai energi minimum yang dibutuhkan agar reaksi kimia tertentu
dapat terjadi.
2. a. k = v / [X]0 = mol L-1 det-1 / 1 = mol L-1 det-1
b. k = v / [X]2 = mol L-1 det-1 / mol2 L-2 = L mol-1 det-1
c k = v / [X]1 = mol L-1 det-1 / mol L-1 = mol det-1

3. V1 = [SO2]m[HIO3]n
244.
V2 = [SO2]m[HIO3]n

245.

PERBANDINGAN SENYAWA KOVALEN DAN


IONIK

246.
247.

I . TUJUAN PRAKTIKUM

1. Mengenal perbedaan antara senyawa kovalen dan ionik.


2. Mempelajari jenis ikatan dan struktur molekul yang mempengaruhi
senyawa secara langsung.
3. Membandingkan sifat fisis dan kimia beberapa pasang isomer.
4. Mempersiapkan diri untuk memasuki praktikum kimia organik.
248.
249.

II. TEORI
Selain gas mulia di alam unsur-unsur tidak selalu berada sebagai

unsur bebas (sebagai atom tunggal), tetapi kebanyakan bergabung dengan atom
unsur lain. Tahun 1916 G.N. Lewis dan W. Kossel menjelaskan hubungan
kestabilan gas mulia dengan konfigurasi elektron. Kecuali He; mempunyai 2
elektron valensi; unsur-unsur gas mulia mempunyai 8 elektron valensi sehingga
gas mulia bersifat stabil. Atom-atom unsur cenderung mengikuti gas mulia untuk
mencapai kestabilan.Jika atom berusaha memiliki 8 elektron valensi, atom disebut
mengikuti aturan oktet. Unsur-unsur dengan nomor atom kecil (seperti H dan Li)
berusaha mempunyai elektron valensi 2 seperti He disebut mengikuti aturan
duplet. Cara yang diambil unsur supaya dapat mengikuti gas mulia, yaitu:
250.

1. melepas atau menerima elektron;

251.

2. pemakaian bersama pasangan elektron.


252.

253.

(Sukardjo, 1990)

Ikatan kovalen terjadi karena pemakaian bersama pasangan

elektron oleh atom atom yang berikatan. Pasangan elektron yang dipakai bersama
disebut pasangan elektron ikatan (PEI) dan pasangan elektron valensi yang tidak
terlibat dalam pembentukan ikatan kovalen disebut pasangan elektron bebas
(PEB). Ikatan kovalen umumnya terjadi antara atom-atom unsur nonlogam, bisa
sejenis (contoh: H2, N2, O2, Cl2, F2, Br2, I2) dan berbeda jenis (contoh: H2O,
CO2, dan lain-lain). Senyawa yang hanya mengandung ikatan kovalen disebut
senyawa kovalen.Berdasarkan lambang titik Lewis dapat dibuat struktur Lewis
atau rumus Lewis. Struktur Lewis adalah penggambaran ikatan kovalen yang
menggunakan lambang titik Lewis di mana PEI dinyatakan dengan satu garis atau

sepasang titik yang diletakkan di antara kedua atom dan PEB dinyatakan dengan
titik-titik pada masing-masing atom.
254.
255.

(Syukri, 1999)

Ikatan ion terbentuk akibat adanya melepas atau menerima elektron

oleh atom-atom yang berikatan. Atom-atom yang melepas elektron menjadi ion
positif (kation) sedang atom-atom yang menerima elektron menjadi ion negatif
(anion).
256.

Ikatan ion biasanya disebut ikatan elektrovalen. Senyawa yang

memiliki ikatan ion disebut senyawa ionik.Senyawa ionik biasanya


terbentuk antara atom-atom
257.

unsur logam dan nonlogam. Atom unsur logam cenderung melepas

elektron membentuk ion positif, dan atom unsur nonlogam cenderung


menangkap elektron membentuk ion negatif.
258.
259.

(J. E Brady. 1998)

Dua unsur ( satu cenderung melepas elektron dan yang lain

cenderung menerima), bila bersentuhan belum tentu menjadi senyawa ion,


sebab bergantung pada tingkat energi sebelum dan sesudah reaksi.
Senyawa ion bukanlah sederhana, tetapi merupakan molekul raksasa yang
terbentuk dari ion positif dan negatif yang selang seling sedemikian rupa
hingga teratur.
260.
261.

( Syukri, 1999 )

Kecenderungan ion untuk menarik elektron lain yang

muatannya berlawanan dan menolak ion yang muatannya sama


mengkibatkan penataan ion tiga dimensi menjadi teratur. Tiga pengaruh
utama yang dibentuk senyawa ion adalah sebagai berikut :
262.

1. Muatan ion

263.

2. Ukuran relatif kedua ion yang terlibat

264.

3. Kemudahan ion tersebut untuk tedistorsi atau terpolarisasi


265.
266.

( Sukardjo, 1990 )

Senyawa ion yang terbentuk dari ion positif dan negatif

tersususun selang seling membentuk molekul raksasa tersebut akan


mempunyai sifat tertentu, yaitu:

267.

1. Titik lebur dan titik didih, daya tarik antara ion positif dan negatif

dalam senyawa ion cukup besar, satu ion berikatan dengan beberapa ion yang
muatannya berlawanan. Akibatnya, titik lebur dan titik didih senyawa ion lebih
tinggi.
268.

2. Kelarutan, pada umumnya senyawa ion larut dalam pelarut polar

( seperti air dan amonia ), karena sebagian molekul pelarut menghadapkan kutub
negatifnya ke ion positif, dan sebagian lagi menghadapkan kutub positifnya ke ion
negatif, akhirnya ion ion terpisah satu sama lain )
269.

3. Hantaran listrik, hantaran listrik terjadi bila medium mengandung

partikel bermuatan yang dapat bergerak bebas, seperti elektron dalam sebatang
logam, senyawa ion berwujud padat, tidak menghantarkan listrik, karena ion
posittif dan negatif terikat kuat satu sama lain. Akan tetapi cairan senyawa ion
akan menghantarkan lisrik karena ion ionnya menjadi lepas dan bebas. Senyawa
ion juga dapat menghantarkan listrik, bila larut dalam pelarut polar ( senyawa
misalnya air ) karena terionisasi
270.

4. Kekerasan, Karena kuatnya ikatan antara ion positif dan negatif, maka

senyawa ion berupa padatan keras dan berbentuk kristal, permukaan kristal itu
tidak mudah digores atau digeser.
271.
272.

(Syarifuddin, 1994 )

Ikatan kovalen merupakan ikatan yang terjadi antara dua atom

dengan pemakaian bersama sama. Brom, karbon dioksida, Heksana, Amoia, dan
etil alohol merupakan contoh dari senyawa semnyawa kovalen. Titit leleh dan
titik didih senyawa kovalen cenderung lebih rendah daripada senyawa ion. Hal ini
disebabkan oleh fakta bahwa untuk melelehkan dan manguapkan suatu zat padat
maupun cairan molekul hanya membutuhkan energi secukupnya untuk
menglahkan energi gaya tarik Van der waals antar molekul.
273.
274.

(Audrey,1991)

Sebagai syarat pembentukan molekul menurut teori orbital molekul

adalah bahwa orbial yang terlibat dalam pembentukan ikatan harus hanya berisi
satu elektron. Dua atom yang akan terikat harus mempunyai kedudukan
sedemikian rupa hingga satu orbital yang terisi satu elektron mengalami overlap
atau saling tindih dengan orbital yang lain. Bila hal ini terjadi, maka dua orbital

bergabung untuk membentuk orbital ikatan tunggal yang ditempati oleh dua
elektron. Dua buah elektron yang menempati orbital harus mempunyai arah spin
yang berlawan, yaitu berpasangan.Makin besar overlap orbital orbital atom,
makin kuat ikatan yang terbentuk. Ikatan inilah yang seing disebut ikatan kovalen.
275.
276.

( Hardjono, 1987)

Satu atau lebih pasangan elektron disero oleh kedua atom. Ketika

elektron elektron ini megelilingi atom atom tersebut, elektron menghabiskan


waktu lebih lama diantara kedua atom itu, dibandingkan dengan tempat lainnya,
sehingga menghasilkan gaya tarik. Contohnya H2 , molekul hidrogen yang
elektron elektronnya dimiiki bersama oleh kedua proton lebih dari cukup
menyetimbangkan repulsi langsung disekitarnya. Jika proton berdekatan, akan
tetapi repulsinya menjadi dominan dan molekulnya tidak stabil.
277.
278.
279.

( Arthur,1987 )

Perbedaan antara senyawa ion dan senyawa kovalen terletak pada :

1. Pada senyawa ion, titik leleh rendah, sdangkan pada senyawa kovalen

titik leleh tinggi.


280.

2. Senyawa ion larut dalam air dan hanya sebagian yang larut dalam

pelarut no polar, sedangkan pada senyawa kovalen, larut dalam pelarut non polar,
namun hanya sebagian yang larut dalam air.
281.

3. Senyawa ion pada suhu kamar berupa padatan, sedangkan senyawa

kovalen dalam suhu kamar, berupa gas atau cairan.


282.

4. Senyawa ion dapat menghantarkan arus listrik., sedangkan senyawa

kovalen hanya sebagian yang dapat menghantarkan arus listrik.


283.

5. Senyawa ion dapat terbakardan tidak berbau, sedangkan pada senyawa

kovalen dapat terbakar dan berbau


284.
285.
286.
287.
288.
289.
290.
291.

(Petrucci, 1990)

292.
293.
294.
295.
296.
297.
298.
299.

III.

Alat Bahan dan Skema Kerja

III.1
Alat dan Bahan
Alat :
1. Tabung reaksi
: 10 buah
2. Rak tabung reaksi
: 1 buah
3. Pipet tetes
: 5 buah
4. Thermometer 100oC
: 1 buah
5. Gelas piala 100 mL
: 3 buah
6. Gelas piala 150 mL
: 3 buah
7. Erlenmeyer 150 mL
: 2 buah
8. Batang pengaduk
: 1 buah
9. Spatula
: 1 buah
10. Kaca arloji
: 2 buah
Bahan :
300.
301.
III.2
Skema Kerja
302.
A. Perbandingan titik leleh
303. a) Senyawa-senyawa
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Naftalen
C10H8
p-dikorobenzen
C6H4Cl2
NaCl
KI
MgSO4
8. (CH3)2CHOH

9. Akuades
10. n-heksan
11. Sikloheksan
12. n-dekana
13. o-diklorobenzen
14. p-diklorobenzen
15. n-butil alkohol
16. t-butil alkohol

304. 3.2 Skema kerja


305.
306.

A. Perbandingan titik leleh


a. senyawa-senyawa kovalen

307.
308.
309.

Naftalen C10H8

310.
311.

Di masukkan senyawa yang

akan di amati kedalam tabung kapiler


312.

Di perlukan sekitar 3 mm

contoh
313.
Termometer
314.

315.
316.

Di Ikat pipa kapiler dengan


karet gelang

Di Di sejajarkan

dengan ujung air raksa termometer


317.
Air

318.
319.

Dipanaskan air hingga naik


320.

10 C/menit.

321.

Diaduk

322.

Di amati dan di catat suhu

saat contoh mulai meleleh


323.

Catat hasil
324.
percobaan di tabel
pengamatan 325.

326.
327.
328.
329.
330.

331.
332.
333.

B. Perbandingan Kelarutan

334.
335.
6 Tabung
Reaksi 336.
337.

Karbon

338.

Dimasukan 1 ml air

339.

Di aduk dan di amati

340.
341.
342.

Di ulangi percobaan sebagai

pelarut
343.
Catat hasil di
344.
tabel
pengamatan

345.

346.
347.
348.

C. Senyawa karbon berantai lurus dan lingkar (cincin)

349.
n- heksana dan350.
siloheksana 351.
352.

Di bandingankan sifat fisis

larutan (kenampakan dan bau)


n-heksana,n- 353.
pentana,minya

354.

355.
356.

Di teteskan masing-

masing senyawa
357.

Di bandingkan

kekentalan
358.
Catat hasil
pengamatan di
tabel

359.
360.
361.
362.
363.
364.

D. Isomer

Sifat fisis

365.

1-butanol dan 2butanol

366.
367.

368.

Dibandingkan bau dan wujud

larutan
369.

Diteteskan 15 tetes ke dalam

tabung tersebut sampai mengalami


kekeruhan
Catat hasil di 370.
tabel
pengamatan

371.

372.
373.

Sifat kimia

374.

1-butanol dan
2-butanol 375.

376.
377.

Diteteskan larutan di spatula

378.

Dibakar

379.

Dicatat waktu cepat

pembakaran
380.
381.
382.

Catat hasil
pengamatan di
tabel

383.
384.

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Data dan Perhitungan


A. Perbandingan titik leleh
a. Senyawa kovalen
1.
4.

Senyawa

Titik leleh oC

2.

kovalen
Naftalen, C10H8

b.

pustaka oC
6.
80,2 oC

85 C

5.

385.

Titik leleh

3.

b.

Senyawa Ionik ( tidak dilakukan )


387.Titik leleh Pustaka, 0C

386.Senyawa ionik
388.

Garam dapur, NaCl

389. 804

390.

KI

391. 681

MgSO4

393. 1124

392.

394.
c. Perbandingan Kelarutan
395.

Senyawa kovalen
398.

400.
403.
406.
409.
412.

Isopropilalkohol, (CH3)2CHOH
C10H8
NaCl
KI
MgSO4

Air

396.Kelarutan
399.Kabon
Tetraklorida
402.X
405.408.411.414.-

401.X
404.407.X
410.X
413.X

415.
416.
II.

Catatan : Beri tanda X, bila senyawa terlarut


Senyawa karbon berantai lurus dan melingkar (cincin)
417.
420.
423.

Senyawa
n-heksana
sikloheksana

418.
421.

Warna
Tidak

419. Bau
422. Menyengat

berwarna(bening)
424. Tidak berwana

425.

Menyengat

(bening)
426.
427.
430.

Senyawa
n-heksana

433.

sikloheksana

436.

Minyak Bumi
439.

428.
431.

Warna
Tidak

berwarna(bening)
434. Tidak
berwana( bening)
437. Hitam

429. Bau
432. Menyengat
435.
438.

Menyengat
Tidak menyengat

III.
Isomer
Sifat fisis
IV.
Senyawa
VII. 1-butil alcohol
X.

2-butil alcohol

V.
Warna
VIII. Tidak
berwarna(bening)
XI.
Tidak

VI.
IX.
XII.

Bau
Menyengat

Tiak Menyengat

berwarna(bening)
XIII.
XIV.

Sifat kelarutan
XV. Senyawa
XVII. 1-butil alkohol
XIX. 2-butil alkohol

XVI. Kejenuhan larutan


XVIII. 8 tetes
XX. 12 tetes

Sifat kimia
XXI. Senyawa
XXIV. 1-butil alkohol
XXVII.
2-butil

XXII. Bau

XXIII. Kecepatan

XXV. Menyengat
XXVIII.
Tidak

terbakar
XXVI. 1,78 s
XXIX. 1,38 s

alcohol
Menyengat
XXX.
4.3 Pembahasan
A. Perbandingan titik leleh
a. Senyawa kovalen
XXXI. Pada praktikum yang kami lakukan, didapatkan titik leleh
dari senyawa kovalen Naftalen, C10H8 adalah 85oC. hasil yang didapat ini
tentu saja tidak sesuai dengan literature yang ada, bahwa titik leleh dari
Naftalen adalah 80,2 oC. Namun hasil yang kami dapatkan tidak berbeda
jauh dari literature. hal ini dapat terjadi karena adanya zat pengganggu/
zat asing dalam suatu kisi yang mengganggu struktur Kristal naftalena
secara keseluruhan yang memperlemah ikatan-ikatannya, sehingga titik
leleh naftalena lebih rendah dari senyawa murninya ataupun kurang
tepatnya analisis dari praktikan, serta dapat juga disebabkan oleh alat
yang kurang baik.
b. Senyawa ionik
XXXII.

Praktikum

ini

tidak

kami

lakukan

karena

terbatasnya bahan yang dimiliki laboratorium. Berdasarkan literatur, titik


leleh naftalena sebesar 80-82 C, titik leleh NaCl sebesar 801 C, titik
leleh KI sebesar 681 C dan titik leleh MgSO4 sebesar 1124 C.

B. Perbandingan Kelarutan
XXXIII.

Dalam perbandingan kelarutan, kami dapatkan

bahwa hanya KI dan MgSO4 yang dapat terlarut dalam air, sedangkan
sebagian yang lain nya tidak terlarut dan sebagian lagi tidak ada bahan.
Untuk pelarut karbon tetra klorida tidak ditemukan senyawa yang kami
pakai yang dapat terlarut. Hal ini terjadi karena beberapa bahan yang
dipakai adalah bahan yang sukar larut dalam air. Senyawa yang dapat
larut pada pelarut air maupun karbon tetraklorida disebabkan karena
senyawa tersebut bersifat ionik

terhadap pelarutnya dimana pelarut

tersebut termasuk dalam pelarut polar. Sedangkan senyawa yang tidak


larut pada pelarut tersebut dikarenakan senyawa tersebut menjadi bersifat
kovalen sehingga sangat sulit untuk senyawa tersebut berinteraksi dengan
pelarut yang sifatnya polar. Sedangkan untuk kesalahan seperti tidak
adanya yang terarut dengan pelarut karbon tetra klorida mungkin
disebabkan oleh kurang bersihnya alat-alat yang digunakan sehingga
masih ada sisa dari bahan lain yang masih menempel pada alat, dalam hal
ini tabung reaksi.
C. Senyawa karbon
XXXIV.

Percobaan yang kami lakukan hanya melihat warna

dan juga bau dari n-heksana serta sikloheksana, dimana yang kami
dapatkan adalah kedua senyawa ini tidak memiliki warna(bening) dan
sama-sama memiliki bau yang menyengat. Hal ini sesuai dengan
literature.

XXXV.
D. Isomer
XXXVI.

Warna dan bau dari n-butil alcohol dan t-butil dari

praktikum kami adalah bening/tidak berwarna dan baunya cukup


menyengat. Sementara untuk kecepatan terbakar dari pada n-butil alcohol
dan t-butil alcohol sendiri adalah 1,78 s dan 1,38 s. belum saya dapatkan
literature untuk hasil kecepatan terbakar ini. Namun jika ada perbedaan
dalam kecepatan terbakar ini dengan literature maka mungkin perbedaan
ini terjadi karena kesalahan dari praktikan yang kurang teliti dalam
menghitung waktu ataupun melihat api hidup
XXXVII.

XXXVIII. V. Kesimpulan dan Saran


5.1 Kesimpulan
1. Sifat fisika dan kimia senyawa ion dan kovalen bisa dilihat
berdasarkan titik leleh dan titik leburnya, wujud senyawa,
kelarutan, daya hantar listrik, kemudahan terbakar serta dengan

2.

menguji bau dari tiap-tiap senyawa.


Perbedaan sifat fisik yang paling menonjol diantara senyawa
kovalen dan senyawa ion biasanya ialah titik leleh dan kelarutan.

3.

Kedua perbedaan ini antara lain disebabkan oleh kekuatan ion.


kekuatan ikatan di antara partikel menyebabkan perbedaan titik

4.

leleh senyawa kovalen dan senyawa ion.


Ternyata pada asenyawa ion larutan atau leburannya dapat
menghantarkan arus listrik, mempunyai titik leleh dan titik didih
yang tinggi, sangat keras dan getas, pada umumnya larut dalam
pelarut polar dan tidak larut dalam pelarut non polar, sedangkan
pada senyawa kovalen menunjukkan titik leleh rendah, pada suhu
kamar berbentuk cairan atau gas, larut dalam pelarut non polar dan
sedikit larut dalam air, sedikit menghantarkan listrik, mudah

5.

terbakar dan banyak yang berbau.


Jenis ikatan kimia seperti ikatan ion dan kovalen sangat
mempengaruhi sifat fisik dan sifat kimia senyawa.
XXXIX.
XL.

5.2 Saran

1. Perhatikan kebersihan alat dalam setiap praktikum.


2. Bagi laki-laki sebaiknya tidak mencium n-heksana.
3. Lakukan praktikum dengan benar sesuai penuntun praktikum.
XLI.

XLII.
XLIII. DAFTAR PUSTAKA
XLIV. Arthur, Belser. 1987.Konsep Fisika Modern. Erlangga. Jakarta.
XLV. Audrey, Companion, L. 1991. Ikatan kimia. ITB. Bandung.
XLVI. Brady, J. E. 1998. Kimia Universitas Asas dan Struktur . Penerbit : Bina
rupa Aksara.Jakarta Barat
XLVII. Cahyadi Hary. 2012. Senyawa Ionik dan Kovalen (online),
(http://harycahyadi.wordpress.com/2012/03/27/ , diakses jumat, 11 April
2014 pukul 01.30 WIB)
XLVIII. Chang Raymond.2004.Kimia Dasar II. Erlangga : Jakarta.
XLIX. Daddy. 2008. Perbandingan Senyawa Ionik dan Kovalen, (online),
(http://daddysunsek.com/kimia-kelas-x/larutan-senyawa-ionik-dan
kovalen, diakses jumat, 11 April 2014 pukul 01.30 WIB)
L.

Keenan,C.W. 1980 . General college Chemistry . New Jersey : Harper &


Row Pubilsher.

LI.

Petrucci, R.H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. ITB.
Bandung.
LII.

S. Syukri. 1999. Kimia Dasar 1. ITB. Bandung.

LIII.

Sukardjo. 1990. Ikatan Kimia. Rineka Cipta. Yogyakarta.

LIV.

LAMPIRAN

1. Apa sebabnya air disebut molekul polar? Jelaskan dwi kutub air
LV.

berdasarkan bentuk molekulnua?


Jawab:
Air disebut molekul polar karena pada molekul air berikatan atomatom yang memiliki perbedaan keelektronegatifan besar, yaitu antara
atom hidrogen yang elektrostatif dengan atom oksigen yang
elektronegatif. Dimana pasangan elektron akan tertarik ke arah atom
yang lebih tinggi elektronegatifannya. Sehingga distribusi muatannya
tidak merata (pada atom oksigen rapat elektronnya menjadi lebih

besar). Hal inilah yang menyebabkan air sebagai larutan polar


2. Tuliskan beberapa perbedaan antara senyawa ionik dan kovalen.
Jawab:
LVI.
No
LIX.
1

LVII.
LX.

Senyawa Kovalen

Kebanyakan

LVIII. Senyawa Ionik

menunjukkan

titik leleh rendah (<350)

LXI.
LXII.

Kebanyakan menunjukkan

titik leleh tinggi

(<350-

LXIII.

1000)
LXIV. Umumnya cairan atau gas LXV. Semuanya adalah padatan pada

2
LXVI.

pada suhu kamar


suhu kamar
LXVII. larut dalam pelarut non LXVIII.

3
LXIX.

polar, sedikit yang larut dalam air


beberapa larut dalm pelarut non polar
LXX. Sedikit yang menghantarkan LXXI. Menghantarkan listrik

4
listrik
LXXII. LXXIII.

terbakar

5
LXXV. LXXVI.

Banyak

larut dalam air dan

LXXIV.Hampir tidak terbakar

yang LXXVII.

Hanya

sedikit

berbau
berbau
3. Gambarkan struktur isomer dari C3H6Cl12 (gambarkan setiap ikatan dengan
garis). Apakah setiap isomer mempunyai jumlah ikatan yang sama?berapa
jumlahnya?
LXXVIII. Jawab :
LXXIX. CH3 CH2 = CH C l
Isomer : CH3 C = CH2 CH = CH2 CH3
Cl Cl
Setiap Isomer jumlah ikatannya sama. Yaitu 4.

yang

LXXX.
4. Diantara senyawa senyawa berikut ini : MgCl 2, C4H10, SO3, Li2O, C3H8,
PCl3, HCl, tentukan mana senyawa ionik dan mana senyawa kovalen.
LXXXI. Jawab :
Sebutkan persenyawaan berikut apakah senyawa kovalen atau ionik:
MgCl2, C4H10, CO2, LiO, C3H8, PCl3, HCl, MgSO4, KI, CCl4,
(CH3)2 CHOH!
Jawab:
Senyawa kovalen

: C4H10, CO2, C3H8, PCl3, HCl, CCl4, (CH3)2

CHOH
Senyawa ion

: MgCl2, LiO, MgSO4, KI

5. Gambarkan ikatan rantai lurus dan siklik dari C 4H8 (setiap ikatan
digambarkan dengan garis).

LXXXII. ANALISA KUALITATIF GUGUS FUNGSI (I)


LXXXIII.
I.
Tujuan Praktikum
A. Alkena
- Untuk menentukan adanya

ikatan rangkap pada

suatu

senyawa
B. Alkohol
- Memahami tentang:
1. Sifat fisika alkohol fenol
2. Reaksi-reaksi alkohol fenol
3. Reaksi-reaksi yang membedakan alkohol dan fenol
II.
Landasan Teori
LXXXIV.
A. Alkena

LXXXV.
LXXXVI.
rangkap/reaksi

Dalam suatu reaksi adisi (penghilangan ikatan


penambahan),

ikatan

phi

akan

diputus

dan

pasangan elektron ikatannya akan digunakan untuk membentuk


dua buah ikatan sigma.
LXXXVII.
LXXXVIII.
LXXXIX.

-CC-

-C-C-

Senyawa yang mengandung ikatan phi biasanya

mempunyai energi lebih tinggi daripada senyawa padanannya yang


hanya mengandung ikatan sigma, karena itu suatu reaksi adisi
biasanya berlangsung eksoterm.

Ikatan rangkap dan ikatan

rangkap tiga dengan mudah akan bereaksi dengan molekul halida


(X2) atau dengan hidrogen halida (HX) pada suhu kamar.

Brom

merupakan reagen yang baik untuk menguji adanya ikatan tak


jenuh karena hilangnya warna brom sesudah bereaksi dengan
ikatan tak jenuh dengan mudah dapat diamati. Ikatan ganda dua
juga bereaksi dengan larutan KMnO 4 sehingga menghasilkan diol
yang ditandai dengan hilangnya warna ungu dari ion permanganat.
XC.
XCI.

Alkena atau olefin dalam kimia

organik adalah hidrokarbon tak


rangkap

(Chang, 2004)

dua

jenuh dengan

antara atom karbon. Alkena

sebuah

asiklik

yang

ikatan
paling

sederhana, yang membentuk satu ikatan rangkap dan tidak


berikatan

dengan gugus

membentuk

suatu

fungsional manapun,

kelompok

maka

hidrokarbon dengan

akan
rumus

umum CnH2n.
XCII. Ciri-ciri fisik alkena tidak berbeda jauh dengan alkana.
Perbandingan utama di antara keduanya adalah alkena mempunyai
tingkat

keasaman

yang

jauh

lebih

tinggi

dibandingkan

alkana. Wujud zat dari alkena tergantung dari massa molekulnya.


tiga

alkena

yang

paling

sederhana

: etena, propena,

dan butena berbentuk gas. Alkena linear yang memiliki 5 sampai 16


atom karbon berwujud cair, dan alkena yang memiliki atom karbon
lebih dari 15 berwujud padat.
XCIII. (Budi, 2004)
XCIV. Alkena yang paling sederhana adalah etena atau etilena
(C2H4),

Senyawa aromatik seringkali

juga

digambarkan

seperti

alkena siklik, tapi struktur dan ciri-ciri mereka berbeda sehingga


tidak dianggap sebagai alkena.
XCV. Untuk mengikuti tatanama IUPAC, maka seluruh alkena
memiliki nama yang diakhiri ena. Pada dasarnya, nama alkena

diambil dari nama alkana dengan menggantikan akhiran ana


dengan ena. C2H6 adalah alkana bernama etena sehingga C2H4
diberi nama etena.
XCVI. Pada alkena yang memiliki kemungkinan ikatan rangkap
di beberapa tempat, digunakan penomoran dimulai dari ujung yang
terdekat dengan ikatan tersebut sehingga atom karbon pada ikatan
rangkap bernomor sekecil mungkin untuk membedakan isomernya.
Contohnya adalah 1-heksena dan 2-heksena. Penamaan cabang
sama dengan alkana.
XCVII.(Bradi, 1999)
XCVIII.

Pada

alkena

terdapat isomer yang

yang

letaknya

lebih

berbeda

tinggi,

dengan

letak

dimana
ikatan

rangkap, maka sistem penomoran berikut ini dipakai:


1. Penomoran rantai karbon terpanjang dilihat dari ujung yang
terdekat dengan ikatan rangkap, sehingga atom karbon pada
ikatan rangkap tersebut mempunyai nomor sekecil mungkin.
2. Ketahui letak ikatan rangkap dengan letak karbon rangkap
pertamanya.
3. Penamaan rantai alkena itu mirip dengan alkana.
4. Beri nomor pada atom karbon, ketahui letak lokasi dan nama
gugusnya, ketahui letak ikatan rangkap, lalu terakhir namai
rantai utamanya.
XCIX. (Kurniati, 2013)

C.

CI.
CII.

Berbagai contoh penamaan isomer 1-heksena. Gambar


kiri:

1-heksena,

gambar

tengah:

4-metil-1-heksena,

gambar kanan: 4-etil-2-metil-1-heksena.


CIII.

Dalam sebuah kasus khusus pada alkena dimana 2

atom karbon mempunyai 2 gugus yang sejenis, maka notasi cistrans dapat dipakai. Jika gugus sejenis terletak pada tempat yang
sama dari ikatan rangkap, maka disebut sebagai (cis-). Jika gugus
sejenis terletak berseberangan, maka disebut sebagai (trans-).

CIV.
CV.
CVI.

Perbedaan antara isomer cis- dan trans-. Kiri: cis-2-butena,


kanan: trans-2-butena
CVII. (Budi, 2008)

B. Alkohol

CVIII.
CIX.
juga

Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang

disebut grain

alcohol;

dan

kadang

untuk minuman yang

mengandung alkohol. Hal ini disebabkan karena memang etanol


yang digunakan sebagai bahan dasar pada minuman tersebut,
bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga dengan
alkohol

yang

digunakan

dalam

dunia

famasi.

Alkohol

yang

dimaksudkan adalah etanol. Sebenarnya alkohol dalam ilmu kimia


memiliki pengertian yang lebih luas lagi.
CX.
CXI.

(Syukri, 1999)

Adanya suatu gugus hidroksil dalam alkohol dan fenol

memungkinkan terjadinya ikatan hidrogen antara molekul-molekul


tersebut dan ikatan hidrogen dengan senyawa lain yang bersifat
polar seperti air.

Hal ini menyebabkan golongan senyawa ini

mempunyai kelarutan yang besar dalam air, terutama untuk


golongan alkohol dengan berat molekul rendah.
CXII. Fenol merupakan alkohol siklik yang bersifat lebih asam
sehingga dapat membentuk garam natrium bila direaksikan dengan
NaOH yang bersifat larut dalam air. Berdasarkan pada jenis atom C
tempat terikatnya gugus hidroksil, alkohol digolongkan menjadi

alkohol

primer,

sekunder,

dan

tersier.

Alkohol

mempunyai

kecepatan reaksi yang berbeda terhadap suatu pereaksi tertentu,


bahkan dapat berbeda dalam hal hasil yang diperoleh, tergantung
kepada jenis atau golongan alkoholnya.
CXIII. (Purna, 2007)
CXIV. Dalam kimia, alkohol atau alkanol adalah istilah yang
umum untuk ssenyawa organik apapun yang memiliki gugus
hidroksi (-OH) yang terikat pada atom hidrogen dan/atau atom
karbon lain.
CXV. Gugus fungsional alkohol adalah gugus hidroksil yang
terikat pada karbon hibridisasi sp3. Ada tiga jenis utama alkohol 'primer', 'sekunder, dan 'tersier'. Nama-nama ini merujuk pada
jumlah karbon yang terikat pada karbon C-OH. Alkohol primer paling
sederhana adalah metanol. Alkohol sekunder yang paling sederhana
adalah 2-propanol, dan alkohol tersier paling sederhana adalah 2metil-2-propanol.
CXVI. (Chang, 2004)
CXVII.Rumus kimia umum alkohol adalah CnH2n+1OH'. alkohol
dapat digunakan sebagai pengawet, untuk bahan gakar otomotif.
Etanol dan metanol dapat dibuat untuk membakar lebih bersih
dibanding bensin atau diesel.

Alkohol

dapat

digunakan

sebagai antibeku pada radiator.


CXVIII.

Dalam sistem tata nama IUPAC, nama-nama

senyawa alkana kehilangan akhiran e dan diganti dengan ol,


contohnya metana menjadi metanol dan etana menjadi etanol.

Ketika dibutuhkan, posisi dari gugus hidroksil dapat diketahui dari


nomor

diantara

nama

alkana

dan

ol:1-propanol untuk

CH3CH2CH2OH, 2-propanol untuk CH3CH(OH)CH3. Jika ada gugus


fungsi

yang

karboksilat,

lebih
maka

tinggi

(seperti aldehida, keton,

awalannya

atau asam

adalah "hidroksi", contohnya:

1-

hidroksi-2-propanon (CH3COCH2OH).
CXIX. (Brady, 1999)
CXX.

CXXI. Beberapa

contoh

senyawa

alkohol

dan

bagaimana

menamainya
CXXII.
CXXIII.

Alkohol adalah asam lemah, karena perbedaan

keelektronegatifan antara

Oksigen

dan

Hidrogen

pada

gugus

hidroksil, yang memampukan Hidrogen lepas dengan mudah. Bila di


dekat

Karbon

Hidroksi

elektron seperti fenil atau halogen,

terdapat gugus
maka

keasaman

penarik
meningkat.

Sebaliknya,

semakin

banyak gugus

pendorong

elektron seperti

CXXIV.

(Kurniati, 2013)

rantai alkana, keasaman menurun.

CXXV.Dua

alkohol

paling

adalah metanol dan etanol (nama

sederhana

umumnya metil alkohol

dan etil alkohol) yang strukturnya sebagai berikut:


CXXVI.

CXXVII.

CXXVIII.

||

H-C-O-H

CXXIX.

CXXX.

CXXXI.

adalah

etanol

H-C-C-O-H
||

metanol

CXXXII.

HH

HH
etanol

Dalam peristilahan umum, "alkohol" biasanya


atau grain

alcohol.

Etanol

dari fermentasi buah atau gandum dengan ragi.

dapat
Etanol

dibuat
sangat

umum digunakan, dan telah dibuat oleh manusia selama ribuan


tahun. Etanol adalah salah satu obat rekreasi (obat yang digunakan
untuk bersenang-senang) yang paling tua dan paling banyak
digunakan di dunia. Dengan meminum alkohol cukup banyak, orang
bisa mabuk. Semua alkohol bersifat toksik (beracun), tetapi etanol
tidak terlalu beracun karena tubuh dapat menguraikannya dengan
cepat.
CXXXIII. (Budi, 2008)
CXXXIV.
CXXXV.

CXXXVI.
CXXXVII.
CXXXVIII.

III.

Alat Bahan dan Prosedur Kerja


3.1

Alat dan bahan

A. Alkena

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Alat

Tabung reaksi
Pipet
Rak tabung reaksi
Batang pengaduk
Gelas piala 100 mL
Gelas Ukur 50 mL

:
:
:
:
:
:

10 buah
5 buah
1 buah
1 buah
2 buah
1 buah

Bahan

1. Bromine dalam CCl4 (air brom 2%)


2. KMnO4
3. Etanol
CXXXIX.
B. Alkohol
Alat
1. Rak tabung reaksi
: 1 buah
2. Tabung reaksi
: 1 buah
3. Penangas air
: 1 buah
4. Gelas piala 100 mL : 3 buah
5. Gelas piala 50 mL
: 2 buah
6. Pipet tetes
: 5 buah
7. Gelas ukur 100 mL : 1 buah
8. Gelas ukur 50 mL
: 1 buah
CXL.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bahan
Etanol, 2-butanol, tersier butil alkohol, dan fenol
Pereaksi Lucas (ZnCl2 dalam HCl)
H2SO4 pekat
Kertas pH
Asam asetat glasial
FeCl3 1%
3.2
Skema kerja
A. Alkena
1. Tes bromine

Tabung reaksi

Dimasukkan 1 mL larutan yang

akan dianalisa

Ditambahkan air brom setetes


demi setetes

Dikocok

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan

2. Tes bromine

Tabung reaksi

Dimasukkan 1 mL larutan yang

akan dianalisa

Ditambahkan

Ditambahkan tetes demi tetes

mL air

atau

etanol
larutan berair kalium


Dikocok

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan


3. Reaksi dengan H2SO4 pekat

Tabung reaksi

Dimasukkan 1 mL asam sulfat

pekat dingin

akan di analisa

Ditambahkan 2 tetes zat yang


Diaduk perlahan-lahan

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan

B. Alkohol

1. Kelarutan dan Keasaman

Tabung reaksi

Dimasukkan 2 mL air dan 0,5

mL senyawa alkohol yang hendak diuji


(etanol, 2-butanol, dan fenol)

Dikocok dan diamati


Dicatat hasil pengamatan
Dilakukan
uji
masing-masing

larutan dengan kertas lakmus

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan

2. Penguji Lucas

Beberapa Tabung
reaksi

Dimasukkan pereaksi lucas

Ditambahkan

kira-kira

mL

alkohol yang hendak diuji (alkohol


primer, sekunder, dan tersier)

Dikocok selama 30 detik

Dicatat waktu yang diperlukan

untuk larutan menjadi keruh atau


memisah menjadi dua lapisan

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan
3. Reaksi fenol dengan FeCl3

Tabung reaksi
yang terpisah

Di larutkan 0,5 mL senyawa yang akan

diuji (etanol, 2-butanol, dan fenol) dengan


5 mL air

Ditambahkan 1-2 tetes FeCl3 kedalam

masing-masing tabung reaksi

Dikocok dan diamati

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan


4. Reaksi esterifikasi

Tabung reaksi

Dicampurkan di dalamnya 2 mL

alkohol dengan 3 mL asam asetat


glasial

Ditambahkan 0,5 mL H2SO4 pekat

Dipanaskan pada penangas air

kira-kira 5 menit

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan

Diamati baunya

IV.

Hasil dan Pembahasan

IV.1

Data Percobaan

A. Alkana

No

enyawa

S
-

KMnO4

Terjadinya dua lapisan.

H2SO4 pekat

Terjadinya prubahan

warna menjadi keruh


Larut
Tidak Jenuh

Lapisan atas reagen ungu

lkana
-

hilang
Terbentuknya endapan

warna coklat
Tes Positif

B. Alkohol
1. Kelarutan/pH

Nam

No

a zat
Etano

Keterangan

pH 5

kekuningan

Larut, berwarna bening

pH 6

Butanol

Butil

Larut, berwarna bening

pH 6

Alkohol

Fenol

Andanya endapan, lapisan

pH 5

2-

Pengamatan
Larut, berwarna

atas berwarna bening dan endapan


berwarna kuning

2. Pereaksi Lucas

Nam

No

a zat
Etano

Larut, Bening

Negatif

2-

Larut, bening

Negatif

Butanol

t-

Larut, bening

Negatif

Pengamatan

Keterangan

butil alkohol

3. Reaksi dengan FeCl3

Pengamatan

Keterangan

No

ama zat
Et

Tidak terjadi reaksi positif

2-

Tidak terjadi reaksi positif

Kuning

Berwarna

Butanol

Terjadi reaksi positif,

Kuning

Berwarna

enol

terbentuk cincin berwarna ungu

anol

Berwarna

Ungu

4. Esterifikasi

Nam

No

a zat
Etano

Baunya menyengat

2-

Baunya menyengat

oren, pink

Kunng,

Butanol

t-

Baunya lebih menyengat

bening

Keruh

Pengamatan

Keterangan
Beningm

butil alkohol

4.2 Pembahasan
A. Alkana

Pada percobaan kali ini zat yang seharusnya digunakan adalah alkena,

tetapi dalam percobaan menggunakan alkana.

Pada percobaan alkana, tes bromine tidak dilakukan, yang dilakukan hanya

tes bayer (KMnO4) dan reaksi dengan H2SO4 pekat saja


1. Tes bayer (KMnO4)

ketika 1 mL zat alkana ditambahkan 2 mL etanol (dalam hal ini kami

menggunakan etanol sebagai pelarut) kemudian ditambahkan kalium permanganat


tetes demi tetes, setelah satu menit warna ungu dari reagen hilang dan terbentuk
endapan coklat. Menurut literatur tes positif jika warna ungu dari reagen hilang
dan terbentuk endapan coklat, maka dapat disimpulkan bahwa hasilnya adalah

positif. Dari percobaan terjadi dua lapis, lapisan atas reagen ungu mengilang dan
lapisan bawah terbentuk endapan berwarna coklat.
2. Reaksi dengan H2SO4 pekat

1 mL (20 tetes) asam sulfat pekat dingin ditambahkan 2 tetes alkana dan
diaduk dengan perlahan-lahan, terjadi perubahan temperatur dari yang
semula dingin menjadi panas. Menurut literatur, jika senyawa larut atau
jika tinbul warna, atau terjadi perubahan temperatur berarti senyawa yang
dianalisa tidak jenuh. Maka dapat disimpulakan bahwa alkana bersifat
tidak jenuh karena pada saat dilakukan percobaan terjadi perubahan
temperatur dari yang semula dingin menjadi panas.

B. Alkohol
1. Kelarutan/pH

Masing-masing senyawa yang diuji ( etanol, 2-butanol, dan fenol )

sebanyak 0,5 mL ketika dicampurkan dengan 2 mL air dan dikocok lalu kenudian
diuji diatas kertas lakmus didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut

Etanol : ketika diaduk dengan air tidak berbuih, berwarna kekuningan dan
larut, menurut hasil uji diatas kertas lakmus nilai pH nya adalah 5

2-butanol : ketika diaduk dengan air larutan berbuih berwarna bening dan
larut, menurut hasil uji diatas kertas lakmus nilai pH nya adalah 6

Butil Alkohol : ketika diaduk dengan air larutan berbuih berwarna bening dan
larut, menurut hasil uji diatas kertas lakmus nilai pH nya adalah 6

Fenol : ketika diaduk dengan air larutan berbuih, terjadi endapan berwarna
kuning dan keruh, menurut hasil uji diatas kertas lakmus nilai pH nya adalah
5
2. Pereaksi lucas

1 mL larutan pereaksi lucas ditambahkan kira-kira 1 mL alkohol yang


hendak diuji, lalu dikocok selama 30 detik dan didiamkan selama kurang
lebih 30 menit, didapatkan hasil uji sebagai berikut:

1 mL larutan pereaksi lucas + 1 mL alkohol primer (etanol) : tidak terjadi


perubahan warna tetap bening dan larut. Maka disimpulkan bahwa hasilnya
negatif

1 mL larutan pereaksi lucas + 1 mL alkohol sekunder (2-butanol) : tidak


terjadi perubahan warna tetap bening dan larut. Maka disimpulkan bahwa
hasilnya negatif

1 mL larutan pereaksi lucas + 1 mL alkohol tersier (t-butil alkohol) : tidak


terjadi perubahan warna tetap bening dan larut. Maka disimpulkan bahwa
hasilnya negatif

3. Reaksi dengan FeCl3


4.

Sebelum ditambahkan 3 tetes FeCl3 terlebih dahulu 0,5 mL dari masing-

masing senyawa yang akan diuji (etanol, 2-butanol, dan fenol) dilarutkan dangan
5 mL air. Dan ketika larutan diteteskan FeCl3, dikocok dan diamati, didapatkan
hasil uji coba sebagai berikut:

Etanol + FeCl3 : Tidak terjadi reaksi positif,tidak terjadi perubahan warna


tetap kuningataupun pembentukan cincin biru sampai ungu. Disimpulkan
bahwa hasilnya adalah negatif

2-butanol + FeCl3 : Tidak terjadi reaksi positif, tidak terjadi perubahan


warna tetap berwarna kuning ataupun pembentukan cincin biru sampai ungu.
Disimpulkan bahwa hasilnya adalah negatif

t-butil alkohol + FeCl3 : Terjadi reaksi positif, terbentuknya cincin berwarna


ungu. Disimpulkan bahwa hasilnya adalah positif

5. Esterifikasi
2 mL etanol + 3 mL asam asetat glasial + 0,5 mL H2SO4 : setelah dipanaskan
kira-kira selama 5 menit larutan mendidih dan menimbulkan bau yang

menyengat dan campuran warnanya bening, pren, pink.


2 mL 2-butanol + 3 mL asam asetat glasial + 0,5 mL H2SO4 : setelah
dipanaskan kira-kira selama 5 menit timbul gelembung diluar tabung reaksi

dan berbau menyengat, campuran warnanya kuning dan bening.


2 mL t-butil alkohol + 3 mL asam asetat glasial + 0,5 mL H2SO4 : setelah
dipanaskan kira-kira selama 5 menit larutan mendidih dan menimbulkan bau
yang lebih menyengat dan warnanya keruh.
6.
7.
8.
9.

V.
Kesimpulan dan saran
10.
V.1 Kesimpulan
11. Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Senyawa alkana tidak jenuh
2. Pada percobaan esterifikasi dapat disimpulkan bahwa fenol memiliki bau
yang lebih pekat.
3. Alkohol primer (etanol) dan alkohol sekunder (2-butanol) tidak dapat
bereaksi dengan FeCl3 sedangkan alkohol tersier (fenol) dapat bereaksi
dengan FeCl3
4. Fenol merupakan alkohol siklik yang bersifat lebih asam sehingga dapat
membentuk garam natrium bila direaksikan dengan NaOH yang bersifat
larut dalam air
5. Pada percobaan esterifikasi dapat disimpulkan bahwa fenol memiliki bau
yang lebih pekat.
6. Fenol merupakan alkohol siklik yang bersifat lebih asam sehingga dapat
membentuk garam natrium bila direaksikan dengan NaOH yang bersifat
larut dalam air
7. Alkohol sekunder (2-butanol) dapat bereaksi dengan pereaksi lucas
sedangkan fenol tidak dapat bereaksi dengan pereaksi lucas
12.
13.
V.2 Saran
14.

Praktikum sudah berjalan cukup baik, akan tetapi akan

lebih baik lagi jika semua pihak dapat bekerja sama dengan baik.
15.
16.
17.
18.

19.
20.

DAFTAR PUSTAKA

21.

Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas. Jakarta: Binarupa

Aksara
22.

Budi, Sentot. 2008. Kimia Berbasis Eksperimen 1.

Solo; Platinum
23.

Chang,

Raymond.

2004.

Kimia

Jilid

II.

Jakarta:

Primagama
24.

Kurniati, Dini, dkk. 2013.Kimia Dasar untuk Sains dan


Teknik. Bandung; Yrama Widya

25.

Purba, Michael. 2007. KIMIA. Jakarta; Erlangga

26.

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid 1. ITB, Bandung.


27.

28.LAMPIRAN
29.Pertanyaan Prapraktikum
30.
31. 1. Apa yang dimaksud dengan senyawa alkena, dan berikan 3 buah
contohnya?
32. Jawab:
Alkena adalah hidrokarbon tak jenuh dengan sebuah ikatan rangkap dua
antara atom karbon. Alkena asiklik yang paling sederhana, yang membentuk
satu ikatan rangkap dan tidak berikatan dengan gugus fungsional manapun,
maka akan membentuk suatu kelompok hidrokarbon dengan rumus
umum CnH2n. Contohnya: Etena, propena dan butena.
33.
2. Jelaskan beberapa uji yang dapat dilakukan untuk uji senyawa alkana.
jawab:
a.Tes

Bromine : yaitu pengujian

dengan menggunakan air

Brom.

b.Tes Bayer
: yaitu pengujian dengan menggunakn KMNO4.
34. c. Reaksi dengan H2SO4 pekat : yaitu pengujian dengan menggunakan
H2SO4
35.
36. 3. Jelaskan sifat fisika alkohol dan fenol.
37. Jawab:
Sifat fisik Alkohol:
a. Tiga suku pertama alkohol (metanol, etanol, dan propanol) mudah larut
dalam air dengan semua perbandingan. Alkohol merupakan cairan tidak
berwarna (jernih) dan berbau khas.
38. b. Titik cair dan titik didihnya meningkat sesuai dengan bertambahnya Mr
alkanol.
39.
sifat fisik Fenol:
a. Fenol murni berbentuk Kristal yang tak berwarna, sangat berbau dan
mempunyai sifat-sifat antiseptic.
b. Agak larut dalam air dan sebaliknya sedikit air dapat juga larut dalam fenol
cair. Karena bobot molekul air itu rendah dan turun titik beku molal dari
fenol itu tinggi, yaitu 7,5 maka campuran fenol dengan 5-6% air telah
terbentuk cair pada temperature biasa. Larutan fenol dalam air disebut air
karbol atau asam karbol.
40. 4. Tuliskan reaksi-reaksi yang membedakan antara alkohol dan fenol.

41. Jawab :
1. Alkohol
a. Bereaksi dengan asam karboksilat membentuk ester
b. Bereaksi dengan oksidator kuat
- Alkohol primer membentuk aldehida kemudian oksidasi lanjut
membentuk asam karboksilat
- Alkohol sekunder membentuk keton
- Alkohol tersier tidak bereaksi
c. Bereaksi dengan logam atau hidrida reduktor kuat reduktor kuat
seperti Na atau NaH membentuk R-ONa (Ntrium alkoksida)
d. Etanol dengan asam kuat membentuk etilen dan air
e. Bereaksi dengan asam halida membentuk alkil halida
f. Bereaksi dengan PX3 membentuk alkil halida
g. Bereaksi dengan asam sulfat membentuk alkil hidrosulfat
2. Fenol
a. Bereaksi dengan asam nitrat membentuk p-nitrofenol
b. Bereaksi dengan gas halogen membentuk 2,4,6 trihalofenol
c. Bereaksi dengan basa kuat seperti NaOH membentuk garam natrium
fenoksida
42. 5. Jelaskan uji alcohol dengan menggunakan pereaksi lucas
43. Jawab:

Yaitu pengujian alkohol dengan menambahkan pereaksi lucas yang bertujuan


untuk membedakan alkohol primer, sekunder dan tersier. campuran menjadi
keruh atau memisah menjadi 2 lapisan.
44.

45. ANALISA KUALITATIF GUGUS FUNGSI (II)


I. Tujuan Percobaan
1. Tuliskan struktur umum aldehid dan keton serta tunjukkan gugus
fungsinya.
2. Jelaskan reaksi oksidasi pada aldehid dan keton.
II. Landasan Teori
46.

Salah satu gugus fungsi yang kita yaitu aldehid. Aldehid adalah

suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada sebuah
atau dua buah atom hidrogen.Nama IUPEC dari aldehida diturunkan dari alkana
dengan mengganti akhiran ana dengan al. Nama umumnya didasarkan nama
asam karboksilat ditambahkan dengan akhiran dehida.
47.
48.

Gugus aldehida

(Petrucci, 1987)
Gugus Keton

49.
50.

Aldehid dinamakan menurut nama asam yang mempunyai jumlah

atom C sama pada nama alkana yang mempunyai jumlah atom sama. Pembuatan
aldehida adalah sebagai berikut: oksidasi alkohol primer, reduksi klorida asam,
dari glikol, hidroformilasi alkana, reaksi Stephens dan untuk pembuatan aldehida
aromatik.
51.
52.

(Fessenden, 1997)

Salah satu reaksi untuk pembuatan aldehid adalah oksidasi dari

alkohol primer. Kebanyakan oksidator tak dapat dipakai karena akan


mengoksidasi aldehidnya menjadi asam karboksilat. Oksidasi khrompiridin
komplek seperti piridinium khlor kromat adalah oksidator yang dapat merubah
alkohol primer menjadi aldehid tanpa merubahnya menjadi asam karboksilat.
53.
54.

(Petrucci, 1987)

Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah

gugus karbonil terikat pada dua gugus alkil, dua gugus alkil, atau sebuah alkil.
Keton juga dapat dikatakan senyawa organik yang karbon karbonilnya

dihubungkan dengan dua karbon lainnya. Keton tidak mengandung atom hidrogen
yang terikat pada gugus karbonil.
55.
56.

(Wilbraham, 1992)

Pembuatan keton ynag paling umum adalah oksidasi dari alkohol

sekunder. Hampir semua oksidator dapat dipakai. Pereaksi yang khas antara lain
khromium oksida (CrO3), phiridinium khlor kromat, natrium bikhromat
(Na2Cr2O7) dan kalium permanganat (KMnO4).
57.
58.

(Respati, 1986)

Reaksi-reaksi pada aldehida dan keton adalah reaksi oksidasi dan

reaksi reduksi. Reaksi oksidasi untuk membedakan aldehida dan keton. Aldehid
mudah sekali dioksidasi, sedangkan keton tahan terhadap oksidator. Aldehida
dapat dioksidasi dengan oksidator yang sangat lemah. Sedangkan reaksi reduksi
terbagi menjadi tiga bagian yaitu reduksi menjadi alkohol, reduksi menjadi
hidrokarbon dan reduksi pinakol.
59.
60.

(Wilbraham, 1992)

Aldehid dan keton mengandung gugus karbonil C = O. Jika dua

gugus ini menempel pada gugus karbonil adalah gugus karbon, maka senyawa itu
dinamakan keton. Jika salah satu dari kedua gugus tersebut adalah hidrogen, maka
senyawa tersebut adalah golongan aldehid. Oksida parsial dari alkohol
menghasilkan aldehid. Oksidasi alkohol sekunder menghaslkan keton. Oksidasi
bertahap dari etanol menjadi asetaldehida kemudian menjadi asam asetat yang
diilustrasi dengan model molekul.
61.
62.

(Petrucci, 1987)

Sifat kimia dari aldehida dan keton ditentukan oleh gugus karbonil,

oleh karena itu tidaklah mengherankan jika ada beberapa sifat dari aldehida dan
keton yang memilki kesamaan, namun karena adanya perbedaan gugus yang
terikat pada gugus karbonil antara aldehida dengan keton maka timbul beberapa
perbedaan sifat kimia yang paling menonjol antara aldehid dengan keton,
diantaranya :
63. a.

Aldehida mudah teroksidasi sedangkan keton agak sukar teroksidasi

64. b.

Aldehidan lebih reaktif dibandingkan dengan keton terhadap adisi

nukleofiliki.

65. Sifat-sifat fisik dari aldehida dan keton :


66. a.

Aldehida dan keton tidak mengandung hidrogen yang terikat pada

oksigen, sehingga tak dapat terjadi ikatan hidrogen seperti pada alkohol.
Sebaliknya aldehida dan keton adalah polar dan membentuk daya tarik
menarik elektrostatik yang relatif kuat antara molekulnya bagian positif
dari sebuah molekul akan tertaril pada bagian negatif lainnya.
67. b.

Aldehida dan keton mempunyai titik didih intermediet antara

senyawa ikatan hidrogen dan senyawa non polar


68. c.

Kelarutan aldehida dan keton dalam air sama dengan alkohol karena

senyawa ini dapat membenuk ikatan hidrogen dengan ikatan hidrogen dari
air atau fenol
69. (Louis, 1964)
70. REAKSI
71. a.

Kelarutan dalam air

72. 1.

Aldehid dengan air

73.
74. 2.

Keton dengan air

75.
76. b.
77. 1.

Reaksi dengan Pereaksi Tolens


1. Aldehid

79.

1.
2.

3.

80. c.

Reaksi dengan Pereaksi fehling

81. 1.

Aldehid

4.
5.

6.

82.
83.
84.
85. d.

Reaksi dengan Pereaksi KMnO4

86. 1.

Aldehid

87.
88.(Annisafushie, 2009)
89.Reaksi-reaksi pada aldehid dan keton adalah reaksi oksidasi dan reaksi
reduksi. Reaksi oksidasi untuk membedakan aldehida dan keton. Aldehida mudah
sekali dioksidasi, sedangkan keton tahan terhadap oksidator. Aldehida dapat
dioksidasi dengan oksidator yang sangat lemah, sedangkan reaksi reduksi terbegi
menjadi tiga bagian yaitu reaksi menjadi alcohol, reduksi menjadi hidrokarbon,
dan reduksi pinakol. Untuk mendeteksi adanya aldehid dan keton adalah melalui
analisis dengan beberapa uji misalnya dengan menggunakan :
90.

91.

1. Oksidasi dengan KMnO4 (oksidator Kuat)


92.Aldehida dapat dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan oksidator kuat
seperti KMnO4.

Tes positif jika ion MnO4- 9warna ungu) berubah menjadi

endapan MnO2 (warna cokelat).


93.

5 R-CHO + 2 KMnO4 (ungu) + H2SO4 5 R-COOH + MnO2 (coklat)


+ MnSO4 + H2O
94.

95.

2.

Tes Tollens

Aldehida dengan pereaksi Tollens (oksidator lemah) dioksidasi menjadi


asam karboksilat,

yang ditandai dengan terbentuknya endapan cermin

perak.
96.

R-CHO + 2 Ag(NH3)2OH 2 Ag (cermin perak) + R-COO- NH4+

+ 3 NH3 + H2O
97.

3.

Tes Benedict

98. Aldehida alifatik dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan pereaksi


benedict (kompleks ion

Cu (II) sitrat dalam larutan basa). Ion Cu (II) direduksi

menjadi Cu2O (endapan berwarna merah bata). Aldehida aromatic dan keton tidak
bereaksi dengan pereaksi benedict.
99.

R-CHO + 2 Cu2+ (biru) + 5 OH- R-COO- + Cu2O (merah bata)+


3 H2O
100.

4. Tes Fehling

101.Pereaksi fehling merupakan kompleks ion Cu (II) tartrat dalam larutan


asam. Ion Cu (II)
102.

direaksi menjadi Cu2) (endapan merah bata)

R-CHO + Cu2+ (biru) R-COO- + Cu2O (merah bata)

103.
104.
105.

5.

Tes Iodoform

Metil keton menghasilkan endapan berwarna kuning iodoform jika

direaksikan

denganiodine dalam larutan NaOH.


106.

(Hart, 1990)

III.

Alat Bahan dan Prosedur


III.1
Alat dan Bahan
Alat
1. Tabung reaksi
2. Penangas air
3. Gelas kimia 100 mL
4. Erlenmeyer 100 mL
5. Pengaduk
6. Stop watch
7. Gelas ukur 50 mL
8. Pipet tetes
Bahan
1. Larutan NaHSO3 jenuh
2. 2,4-dinitrofenilhidrazin
3. Asetaldehid
4. Benzaldehid
5. KOH 2M
6. Reagen Tollens
7. NaOH 5%
8. Aseton
9. Pereaksi Fehling
10. 2-Pentanon
11. Iodium iodida
107.

108.

: 10 buah
: 1 buah
: 5 buah
: 2 buah
: 2 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 5 buah

III.2

Prosedur Kerja

1. Uji Tolens

Tabung reaksi

109.
110. Dimasukkan 2 mL larutan yang
akan dianalisa
111. Ditambahkan 1-2 mL pereaksi
tollens
112.

Di Uji positif apabila terbentuk cincin

perak

(jika

cincin

perak

tidak/belum

didapatkan)
113. Di panasi larutan tersebut pada penangas
air dan dinginkan).
114.
115.
Catat hasil percobaan
di tabel pengamatan

116.

2. Uji Fehling
Tabung reaksi
117.
118. Dimasukkan 2-4 tetes pereaksi
fehling
119. Ditambahkan bahan yang akan
diuji
120.

Ditempatkan

pada

air

yang

mendidih
121. Di amati perubahan yang terjadi setelah
10-15 menit
122.
Catat hasil percobaan
di tabel pengamatan

3. Adisi Bilsufit

Tabung reaksi

123.
124. Dimasukkan

mL

NaHSO3 jenuh
125. Ditambahkan

beberapa

tetes (2 ml) bahan yang akan diuji


sambil diguncang-guncang
126. Reaksi positif aldehid bila
terbentuk endapan putih
127.
128.
Catat hasil percobaan
di tabel pengamatan

129.

4. Iodomform Tes
Tabung reaksi
130.
131. Dimasukkan 3 ml NaOH
5%
132. Ditambahkan 5 tetes aseton
133. Ditambahkan
larutan
iodium iodida sedikit demi sedikit
sambil

diguncang-guncang

sampai

warna iodium tidak hilang lagi


134.
Reaksi positif bila terdapat
endapan berwarna kuning
135.
136.
Catat hasil percobaan
di tabel pengamatan

5. Uji dengan 2,4-dinitrofenilhidrazin


137.

Tabung reaksi
138.

Dimasukkan

0,5

ml

2,4-

dinitrofenilhidrazin
139.

Ditambahkan 5-10 tetes bahan

yang akan diuji


140.

Dit Tutup tabung reaksi dan kocok

dengan kuat selama 1-2 menit


141.

Reaksi positif aldehid bila terbentuk

endapan merah
142.
Catat hasil percobaan
143.
di tabel pengamatan
144.

Pembahasan
145. Hal

yang membedakan Aldehid dengan keton yaitu kemampuan

kedua senyawa ini apabila dioksidasi. Alhedid dan keton adalah senyawasenyawa yang mengandung gugus-gugus penting di dalam kimia oragnik.
Secara struktural, aldehid dan keton dibedakan oleh substituen pada R, begitu
pula dengan ester dan asam karboksilat
146. Sifat-sifat

aldehid dan keton hampir mirip satu sama lain. Namun,

karena perbedaan gugus yang terikat pada gugus karbonil antara aldehid dan
keton maka menimbulkan adanya perbedaan sifat kimia yang paling menonjol
antara keduanya, yaitu aldehid cukup mudah teroksidasi sedangkan keton sulit
dan aldehid lebih reaktif dari pada keton terhadap adisi nukleofilik, yang mana
reaksi ini merupakan karakteristik terhadap gugus karbonil.
147.

Pada percobaan ini, dilakukan untuk mengidentifaksi

senyawa berdasarkan perbedaan gugus fungsi dan mengidentifikasi secara


kimia senyawa golongan aldehid dan keton pada uji oksidasi dengan tollens,
uji fehling, adisi bisulfit, iodioform tes, uji dengan 2,4- dinitrofenilhidrazin.
Untuk dapat membandingkan senyawa golongan aldehid dan keton digunakan
bahan yang sama yaitu, benzadehid, asetaldehid, 2-pentanon, aseton.

Uji Tollens

148.
149.

Pada Percobaan ini tidak di pratekkan karena mungkin bahannya

tidak ada. Tetapi dari teori yang di dapatkan yaitu Uji tollens adalah salah satu
cara dimana ion kompleks perak ammonia mudah direduksi oleh aldehid menjadi
logam perak. Jika tabung gelas yang digunakan untuk melakukan uji tersebut
benar-benar bersih, maka perak mengendap pada permukaan sebagai cermin. Hal
ini terkait pada percobaan yang dilakukan bahwa pada saat perak nitrat
ditambahkan NaOH dan ammonium hidroksida terdapat endapan cermin perak,
hal ini menunjukan bahwa adanya gugus karbonil dalam pereaksi tollen.
Penambahan ammonia berlebih dihindari agar larutan tidak jenuh.Reaksi dengan
pereaksi tollens mengubah ikatan C-H menjadi ikatan C-O. Aldehida dioksidasi
menjadi asam karboksilat dengan jumlah atom karbon yang sama. Karena keton
tidak mempunyai hydrogen yang menempel pada atom karbonil, keton tidak dapat

dioksidasi dengan pereaksi-pereaksi ini. Aldehida demikian mudah dioksidasi,


sehingga jika ia disimpan lama terdapat sedikit asam karboksilat sebagai hasil
oksidasi udara. Keton dapat dioksidasi dengan keadaan reaksi yang lebih keras
daripada aldehida. Ikatan antara karbon karbonil dan salah satu karbonnya putus,
memberikan hasil-hasil oksidasi dengan jumlah atom karbon yang lebih sedikit
daripada bahan keton asalnya.
150. Reaksi

: R-CHO+2 Ag(NH3)2OH ==> 2 Ag+R-COONH4+ +3NH3+H2O

151.

Cermin perak

Uji Fehling

152.

Pada uji fehling digunakan larutan fehling A dan fehling B.

Dimana fehling A adalah larutan CuSO4, sedangkan fehling B merupakan


campuran larutan NaOH dan kalium natrium tartrat. Pereksi Fehling dibuat
dengan mencampurkan kedua larutan tersebut, sehingga diperoleh suatu
larutan yang berwarna biru. Aldehida yang diuji dengan fehling juga
menghasilkan warna endapan yang sama dengan pereaksi benedict, yaitu
merah bata. Pereaksi fehling merupakan kompleks ion Cu (II) tartrat
dalam larutan asam. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut :
153. R-CHO
154.

+ Cu2+
Biru

------>

R-COO- + Cu2O
merah bata

155.
156.

Dalam pereaksi Fehling, ion Cu2+terdapat sebagai ion

kompleks.

Dari hasil pengamatan ini didapatkan antara pencampuran fehling dengan


Bezaldehid menghasilkan biru pekat dan sesudah pemanasan berubah tidak
menghasilkan endapan, tetapi pada asetaldehid terjadi endapan merah dan larutan
berwarna hijau. hal ini ada yang tidak sesuai dan sesuai dengan teori
yangmenyatakan bahwa didalam pencampuran larutan tersebut terdapat senyawa a
ldehid. Hal inidisebabkan karena aldehid mampu mereduksi ion tembaga (II)
menjadi tembaga(I) oksida dan ang tidak sesuai teori kemunggkinan kesalahan
dalam pratikum. Ketika pencampuran pencampuran dengan aseton dan 2pentanon terdapat dua lapisan yaitu bening pada lapisan atas dan biru pada lapisan
bawah. Sesudah pemanasanwarna berubah menjadi biru tua. Hal ini sesuai dengan
teori karena, aseton merupakan gugus keton. Pencampuran pereaksi fehling

dengan glukosa warna yang dihasilkan tetap biru dan sesudah pemanasan berubah
menjadi

fase

warna biru dan merah dengan terdapat endapan merah bata pada larutan. Hal ini s
esuaidengan teori karena pencampuran antara pereaksi fehling dengan
glukosamenghasilkan dua lapisan warna dikarenakan glukosa teroksidasi dengan
pereaksi.

157.

Adisi Bisulfit
158.

Pada saat 2 ml NaHSO3 ditambahkan dengan Asetaldehid ternyata

tidak terjadi reaksi. Berbeda ketika senyawa NaHSO 3 ditambahkan pada


Asetaldehid yang kemudian membentuk gumpalan putih (gel) dan larutan
berwarna bening. Hal ini akibat terjadinya pemutusan ikatan gugus karbonil pada
reaksi adisi.
159.

Pada umumnya keton kurang reaktif pada nukleofil, kedua gugus

ini merapat sehingga keterikatan yang ditimbulkan pada adisi terhadap aldehid
lebih kecil daripada keton. Tetapi dalam percobaan 2-pentanon tidak terjadi reaksi
dan pada aseton terdapat reaksi endapan putih mungkin ada terjadi kesalahan
dalam pratikum.
160.

Reaksi adisi dengan natrium bisulfit akan menghasilkan senyawa

yang berbentuk kristal. Reaksi yang terjadi sebagai berikut:


161.
162.

CH3
163.

164.

CH3-C-CH3 + NaHSO3CH3- C-SO3Na


165.

166.

OH

Iodoform Tes
167. Iodoform

merupakan salah satu haloform yang terbentuk kristal

berwarna kuning, dan sedikit larut dalam air. Secara umum haloform dibuat
dari suatu senyawa metil keton / metil aldehida atau dari senyawa yang bila
teroksidasi menghasilkan senyawa tersebut. Metil keton menghasilkan endapan
kuning iodoform jika direaksikan dengan iodine dalam larutan NaOH.
R-CO-CH3 + 3 I2 + 4 NaOH

168.

------>

RCOO-Na + 3 NaI + 3 H2O +

CHI3
169.

Metil keton
170.

Iodoform Kuning

Pada percobaan ini

dimana metil keton menghasilkan

endapan kuning iodoform jika direaksikan dengan iodine dalam larutan


NaOH.

Sampel

yang

digunakan

yaitu

formaldehid,aseton

dan

benzaldehid. Pada benzaldehid dan asetaldehid direaksikan dengan NaOH


dan iodine tebentuk gumpalan. Secara teoritis reaksi benzaldehid tersebut
menghasilkan endapan kuning. Pada 2-pentanon yang direaksikan
dengan iodine dan NaOH tidak menghasilkan endapan kuning tapi
larutan atas berwarna kuning muda dan lapisan bawah berwarna
bening. Pada aseton direaksikan dengan iodine dan NaOH larutan
menjadi bening tidak terjadi reaksi positif.

Uji dengan 2,4-dinitrofenilhidrazin


171.
Uji ini akan memperlihatkan adanya ikatan rangkap O dan
C. Uji positif akan ditandai dengan larutan yang berwarna kuning, jingga
atau merah dan terdapat endapan. Jika padatan yang terbentuk berukuran
kecil maka larutan akan berwarna kuning, sedangkan jika padatan
berukuran besar maka larutan akan berwarna mendekati merah. Baik pada
aldehid maupun keton, uji ini akan menunjukkan hasil positif. 2,4dinitrofenilhidrazin sering disingkat menjadi 2,4-DNP atau 2,4-DNPH.
Larutan 2,4- dinitrofenilhidrazin dalam sebuah campuran metanol dan
asam sulfat dikenal sebagai pereaksi Brady. rumus molekul dari hidrazin,
yaitu sebagai berikut:
172. H2N NH2 (hidrazin)
173.
Pada pratikum di dapatkan pada aldehid yaitu benzaldehid
terjadi reaksi negatif terdapat endapan kuning lapisannya yang atas
berwarna kuning dan lapisan bawah bening.Dan pad asetaldehid terjadi
reaksi positing dan terdapan endapan kuning larutannya berwarna kuning.
Pada Keton yaitu 2-pentanon terjadi reaksi negatif larutannya berwarna
kunng dan tidak terjadi endapan. Dan pada aseton tidak terdapan endapan
ettapi terdapat lapisan atas kuning dan lapisan bawah bening.
174.
175.

Kesimpulan dan Saran


1

1
2
3
4

Kesimpulan
176.
Dari hasil percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan :
Senyawa aldehid sangat mudah teroksidasi sedangkan senyawa keton tidak
Senyawa yang mempunyai gugus keton: Aseton dan 2-propanon
Senyawa yang mempunyai gugus aldehid: Benzaldehid dan asetaldehid
Fehling digunakan untuk menguji gugus aldehid dan reaksi positif jika

terdapat endapan merah bata.


Uji iodofom digunakan untuk menguji gugus keton dan reaksi positif jika

terdapat endapan putih.


Adisi bisulfit digunakan untuk analisis gugus fungsi karbonil (aldehid dan

keton), reaksi positif jika terdapat endapan putih.


Uji dengan 2,4-dinitrofenilhidrazin akan terbentuk endapan merah pada
reaksi positif.

177.
178.

5.2 Saran

179.
180.

Praktikum sudah berjalan cukup baik, akan tetapi akan

lebih baik lagi jika semua pihak dapat bekerja sama dengan baik. Dan pratikan
lebih mehamai jalannya pratikum agar tidak banyak kesalahn yang terjadi dalam
pratikum dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan teori.

181.

DAFTAR PUSTAKA
182.

183.
184.

Annisafushie. (2009). Aldehid dan Keton. [Online]. Tersedia :


http://annisanfushie.wordpress.com/2009/01/02/aldehid-dan-keton/

[9 Juli 2013 / 22:00]


185.

Fessenden, Ralph J, dan Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-dasatr Kimia


Organik. Bina Aksara. Jakarta.

186.
187.

Hart, Harold. 1990. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga.

Louis, Hiltman. 1964. Kimia untuk Teknik dan Sains. Bandung :


Primagama

188.
189.

Petrucci. 1987. Kimia Dasar Jilid II. Jakarta : Erlangga

Willbraham, and Michael S. Matta. 1992. Kimia Organik dan Hayati.


Bandung : ITB

190.

191. LAMPIRAN
192. PERTANYAAN PRA PRAKTEK
1

Tuliskan struktur umum aldehid dan keton serta tunjukkan gugus fungsinya?
193.
Jawab:
194.

Jelaskan reaksi oksidasi pada aldehid dan keton.


195.
Jawab: Reaksi-reaksi pada aldehida dan keton adalah reaksi
oksidasi dan reaksi reduksi. Aldehid mudah sekali dioksidasi, sedangkan
keton tahan terhadap oksidator. Aldehida dapat dioksidasi dengan oksidator
yang sangat lemah. Sedangkan reaksi reduksi terbagi menjadi tiga bagian
yaitu reduksi menjadi alkohol, reduksi menjadi hidrokarbon dan reduksi
pinakol.
196.

197.

198.
199.

ESTER

I. Tujuan

1
2

Mensintesis sekurang kurangnya 3 macam ester


Mengetahui pengaruh konsentrasi alkohol terhadap reaksi kesetimbangan

pada pembuatan ester


Mengetahui pengaruh konsentrasi asam karboksilat terhadap reaksi

4
5
6
7

kesetimbangan pada pembuatan ester.


Mengenal bau khas dari beberapa macam ester.
Menggunakan ester sebagai bahan pembuatan sabun.
Mengetahui prinsip saponifikasi.
Membuat berbagai macam sabun untuk bahan pencuci dan untuk

kosmetik.
Menguji daya kerja sabun dalam air sadah.
200.

201.
202.

II. Landasan Teori


Dalam ilmu kimia, ester adalah campuran organik dengan simbol

R yang menggantikan suatu atom hidrogen atau lebih. Ester juga dibentuk dengan
asam yang tidak tersusun teratur; sebagai contoh, dimetil sulfat yang juga disebut
asam belerang, dimethyl ester.
203.
204.

(Anonim, 2006)

Ester diturunkan dari asam karboksilat dengan mengganti gugus

OH dengan gugus OR ( R adalah gugus alkil atau aril ). Ester merupakan turunan
dari asam karboksilat yang diperoleh dengan cara mereaksikan asam karboksilat
dengan alcohol atau phenol.
205.

( Nurul,2012 )

206.
207.

Gambar Rumus umum Ester

208.

Ester dapat terhidrolisis dengan pengaruh asam membentuk

alkohol danasam karboksilat. Reaksi hidrolisis tersebut merupakan kebalikan


daripengesteran. Disini senyawa karbon mengikat gugus fungsi COOR adalah
alkilalkanoat . Ester diturunkan dari alkohol dan asam karboksilat. Untuk ester

turunan dari asam karboksilat paling sederhana, nama-nama tradisional


digunakan, sepertiformate, asetat,dan propionate.
209.
210.
1
211.

( Vivi Arianti,2013 )

Ester terdiri dari 2 sifat yaitu :

Sifat-sifat fisika ester


1.

Ester suku rendah merupakan zat cair yang mudah menguap dengan

bau harum dari beberapa buah buahan dan bunga bungaan


212.

2.

Ester suku tinggi berupa minyak,lemak,atau lilin

213.

3.

Semakin banyak atom C semakin tinggi titik didihnya.


214.

238.
2

Nama

215.

Struktur

216.

Trivial
217.
Metil

218.

HCO2CH3

Did
219.

metanoat
220.
Metil

221.

CH3CO2CH3

222.

asesat
223.
Etil asetat
226.
Propil

224.
227.

CH3CO2CH2CH3
CH3CO2CH2CH2CH3

225
228.

asetat
229.
Etil butirat
232.
Isoamil

230.
233.

CH3(CH2)2CO2CH2CH3
CH3CO2(CH2)2CH(CH3)2

231.
234.

asetat
235.
Isobutyl

236.

CH3CH2CO2CH2CH(CH3)2

237.

propionat
Tabel 2.1 Titik Didih beberapa senyawa Alkil alkanoat

Sifat kimia ester

239.

1.

Ester pada umumnya bersifat polar.

240.

2.

Ester yang jumlah atom karbonnya sedikit mudah larut dalam air.

241.

3.

Kelarutan ester berkurang dengan bertambahnya atom karbon.

242.

4.

Ester merupakan senyawa karbon yang netral.

243.

5.

Ester dapat mengalami reaksi hidrolisis

244.
245.
246.
hol

Contoh :
RCOOR + H2O
Ester

R COOH

As.Alkanoat

R OH
Alko

247.

6.

Ester dapat direduksi dengan H2 menggunakan katalisator Ni dan

dihasilkan dua buah senyawa alkohol


248. Contoh :
249.

RCOOR + 2H2

250.

Ester

R CH2 OH

+ R OH

Alkohol

Alkohol

251.
252.

7.

Ester khususnya minyak atau lemak bereaksi dengan basa

membentuk garam sabun) dan gliserol. Reaksi ini dikenal dengan reaksi
safonifikasi/penyabunan.
253.

8.

Hidrolisis Ester dapat terhidolisis dengan pengaruh asam membentuk

alkohol dan asam karboksilat. Reaksi hidrolisis merupakan kebalikan dan


pengesteran. Hidrolisis lemak atau minyak menghasilkan gliserol dan asam-asam
lemak. Contoh hidrolisis gliseril tristearat menghasilkan gliserol dan asam stearat.
254.
(Chang, 2004)
255.
256.

Tata nama dalam ester yaitu :

1.

Nama Trivial

257.

Untuk ester sederhana, pemberian namanya didasarkan pada nama

trivial asam karboksilatnya.


258.
259.
260.
N

261.

Rumus

Struktur

262.

Na

ma Trivial

263.

Nama

Trivial

As. Karboksilat

264.

265.

H-CO-O-CH3

Ester
266.
Me

1
268.

269.

CH3-CO-O-

til formiat
270.
Me

271.

Asam asetat

2
272.

CH3
273.

CH3-CH2-

til asetat
274.
Eti

275.

Asam

CO-O-CH2-CH3

267.

Asam formiat

propionat

276.

277.

CH3-(CH2)2-

propionat
278.
Me

279.

Asam butirat

4
280.

CO-O-CH3
281.
CH3-(CH2)3-

tal butirat
282.
Eti

283.

Asam valerat

5
284.

CO-O-CH2-CH3
Tabel 2.2 Tata nama pada ester

l valerat

285.
286.

2.
287.

Nama IUPAC
Bagian dari gugus ester yang mengandung gugus karbonil berasal dar iasam

karboksilat, sedangkan gugusan yang terikat pada oksigen berasal dari alkohol
atau fenol. Ester yang lebih kompleks menggunakan tata nama IUPAC ,yaitu
dengan nama alkil alkanoat . Alkil berasal dari gugus alcohol dan alkanoat berasal
dari gugus karboksilat.
288.

Rantai induk ester adalah rantai terpanjang yang mengandung

gugusester (-COOR). Rantai alkil atau gugus lain yang terikat pada rantai
induk dinamakan rantai cabang. Penomoran rantai induk dimulai dari salah satu
ujung sedemikian sehingga atom C pada gugus ester mendapatkan nomor terkecil,
diberi akhiran -OAT, dari nama rantai hidrokarbonnya.
289.

(Keenan,

1990)
290.

Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan

alkohol membentuk ester. Turunan asam karboksilat membentuk ester asam


karboksilat. Ester asam karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung gugus
-CO2 R dengan R dapat berupa alkil maupun aril. Esterifikasi dikatalisis asam dan
bersifat dapat balik.
291.

Laju esterifikaasi asam karboksilat tergantung pada halangan sterik

dalam alkohol dan asam karboksilat. Kekuatan asam dari asam karboksilat hanya
mempunyai pengaruh yang kecil dalam laju pembentukan ester.
292.
293.

(Harja,1986)

Reaktifitas alkohol terhadap esterifikasi : CH3OH > primer >

sekunder > tersier


294.
295.
296.

HCO2H > CH3CO2H > RCH2CO2H > R2CHCO2H > R3CCO2H

297.

Gambar 2.4 reaktifitas asam karboksilat terhadap esterifikasi

298.
299.

H3C-COOH + HO-CH2-CH3

Reaktifitas asam karboksilat terhadap esterifikasi


H3C-COO-CH2-CH3 + H2O

300.

Seperti kebanyakan reaksi aldehida dan keton, esterifikasi suatu

asam karboksilat berlangsung melalui serangkaian tahap protonasi dan


detonasi. Oksigen karbonil diprotonasi, alkohol nukleofilik menyerang
karbon positif dan eliminasi air akan menghasilkan ester yang dimaksud
seperti reaksi singkat berikut:
301.
302.
303.
304.
1

III. Alat Bahan dan Skema Kerja

Alat dan Bahan


305.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Alat :

Penangas air
Pipettetes
Gelasukur 100 mL
Gelasukur 50 mL
Gelaspiala 200 mL
Gelaspiala 100 mL
Kacaarloji
Tabungreaksi
Raktabungreaksi

: 1 buah
: 5 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 2 buah
: 2 buah
: 1 buah
: 10 buah
: 1 buah

306.
307.

Bahan :

308.6 AsamAsetat
309.7 Isoamil alcohol
310.
8 Etanol
311.
9 Asamsulfat
312.
10 Methanol
313.
11 NaOH
314.
315.
316.
317.
318.
319.
320.
321.
322.

1
2
3
4
5
3

HCl
Aquades
Timbalnitrat
CaCl2
Mg(OH)2

(Fessenden, 1982)

323.
324.
2

Skema Kerja
a Sintesis dan identifikasi ester
325.

Asam asetat dan


isoamil alkohol/etanol
327.

326.

328.

Dimasukan

ml

dalam

tabung reaksi
329.
330.

Asam
Sulfat
332.

Diperhatikan bau setiap zat


331.
Ditambahkan 10 tetes

333.

Diaduk

larutan

dengan

sempurna
334.

Dimasukan

tabung

reaksi

dalam penangas air kurang lebih 10


menit
335.

Diperhatikan

terbentuknya

dua lapisan. Lapisan atas adalah ester


336.

Dipindahkan beberapa tetes

lapisan atas dengan pipet tetes ke


kaca arloji
337.

Dicium baunya
338.
339.
340.
341.
342.
343.
344.
345.
346.
347.
348.
349.
350.

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan

351.
b Esterifikasi dengan alkohol berlebih
352.
353.

3 Tabung Reaksi
354.
355.

Dimasukan 3 ml asamnya
Ditambahkan alkohol dengan

volume 2ml, 3ml, 4ml.


356.

Ditambahkan 10 tetes H2SO4

357.

Dipanaskan di atas pengais

air selama 10 menit


358.

Diamati terbentuknya lapisan

359.

Dibandingkan

bau

yang

terbentuk

362.

360.
Catat hasil percobaan
361.
di tabel pengamatan
363.
c Sintesis beberapa ester
364.
Percobaan A 365.

Dilakukan

sama

seperti

percobaan A
366.

Diteteskan 10 dengan Asam

benzoat 250 ml dengan metanol 3 ml


367.

Diteteskan 10 dengan Asam

asetat 1ml dengan n-butanol 1 ml


368.

Diteteskan 10 dengan Asam

butirat 1ml dengan n-butanol 1 ml


369.
Catat hasil percobaan
370.
di tabel pengamatan
371.
372.
373.
374.

375.
d Esterifikasi dengan asam berlebih
376.
377.

3 Tabung Reaksi
378.

Dimasukan 4 ml, 6 ml, 8 ml

asamnya
379.

Ditambahkan 3 ml alkohol
380.

Diisi 15 tetes H2SO4

381.

Dikocok

merata

dan

di

panaskan di atas pengais air


382.

Dibandingkan

bau

yang

terbentuk dan zat dalam setiap


tabung
383.
Catat hasil percobaan
384.
di tabel pengamatan
385.
386.
e
387.

Saponifikasi ester
NaOH
388.

Dimasukan

ml

dalam

tabung reksi
389.

Ditambahkan 3 ml dalam

pengais air sampai bau ester hilang


dan berkurang lapisan ester
390.
HCL
392.

Dilakukan selama 25 menit

391.
393.

Didinginkan tabung reaksi

394.

Ditambah 1 ml HCL 10% dan

diaduk
395.
lakmus

Diperiksa keasaman dengan

396.

Ditambah1 ml HCL 100%

15-20 tetes sampai larut bersifat


asam
397.
Catat hasil percobaan
398.
di tabel pengamatan
399.
f

Pembuatan sabun

400.
401.

Gelas Piala 500 ml


402.

Dimasukan 5 ml minyak

kelapa
403.

Ditambahkan 15 ml NaOH 3

M dan 20 ml etanol
404.

Diaduk campuran dan atur

suhu 90 0C selama 20 menit, lalu


didinginkan
Padatan

405.
406.
407.

Setelah

terjadi

padatan,

Diambil sedikit dan dimasukan ke


dalam tabung reaksi
408.

Dilarutan dengan air panas

dan dikocok
409.
Gelas piala berisi sabun
410.
411.

Ditambahkan 25 ml larutan

panas NaCL
412.

Didinginkan

dan

diangkat

padatan sabun yang diperoleh


4 tabung reaksi
414.
dalam larutan

413.
Diuji daya kerja sabun

415.

Tabung 1 ditambahkan 1 ml

kalsium klorida 1 M
416.

Tabung 2 ditambahkan 1 ml

magnesium sulfat 1 M
417.

Tabung 3 ditambahkan 1 ml

timbal nitrat 1
418.

Tabung 4 tidak ditambahkan

Catat hasil apapun


percobaan di tabel
pengamatan

419.
420.
421.

IV. Hasil dan Pembahasan

422.

4.1 Data Percobaan

A Sintesis dan Identifikasi Ester


Tuliskan persamaan reaksi esterifikasi :
423.
(CH3)2CH(CH2)2OH + CH3COOH + H2SO4

CH3COO(CH3)3CH(CH2)2 + H2O + H2SO4


Apakah reaksi berjalan seperti yang dituliskan ? Iya
Bukti bukti terjadinya reaksi :
424.

Adanya dua lapisan yang terbentuk pada masing-masimg

tabung, di lapisan atas tampak lapisan ester dan dilapisan bawahnya


tampak air.

Ester yang dihasilkan berbau seperti : Buah Anggur


425.
B Esterifikasi dengan alkohol berlebih
426.

Tabu
ng

433.
438.
443.

1
2
3

427.

Volum

Alkoho

431.

lapisan ester

428. Asam
434. 3
439. 3

430. (ml)
435. 2
440. 3

444.

429.

445.

436.
441.
446.

Tebal

2 cm
1 cm
0,5 cm

432.

437.
442.

Bau

Pisang
Balon

Tiup
447. Rambut
an

448.
449.

Kesimpulan mengenai reaksi kesetimbangan :

450.

Kesimpulan dari reaksi kesetimbangan berdasarkan percobaan

adalah jika volume asam tetap namun larutan alkohol volumenya berbeda
beda tetap akan menghasilkan bau pisang, balontiup, rambutan. Namun yang
dapat digunakan sebagai perbedaan pada masing masing tabung adalah tebal
lapisan ester, Semakin banyak ester yang digunakan tebal lapisan ester
semakin kecil begitu juga sebaliknya, Semakin kecil volume alcohol maka
ester yang dihasilkan semakin tebal.
451.
452.
453.
454.
C Reaksi beberapa ester
455.
458.

Persamaan

456.

reaksi
Asam Asetat

Bereaksi/tak

bereaksi
459. Bereaksi

+ butanol + H2SO4

457.
460.

Ciri fisis dari


produk
Terdapat 2

lapisan, lapisan bawah


berwarna coklat/kuning
lapisan atas berwarna
bening.Berbaubuahapel

461.

Kesimpulan terhadap jalannya esterifikasi :

462.

Dapat disimpulakn bahwa masing-masing senyawa akan bereaksi

dan mengahasilkan sidfat fisis dan produk yang berbeda, tergantung dengan
larutan apa yang akan direaksikan.
D Esterifikasi dengan asam berlebih
463.

Tabung

464. Volume
465. Asam

466. Alkohol
467. (ml)

470. 1
471. 3
472. 2
475. 2
476. 3
477. 3
480. 3
481. 3
482. 4
485.
Kesimpulan mengenai reaksi kesetimbangan :
486.

468.

Tebal

lapisan ester
473. 2 cm
478. 3cm
483. 3,5 cm

Kesimpilan dari reaksi kesetimbangan berdasarkan percobaan

adalah jika volume asam tetap namun larutan butanol volumenya berbeda
beda tetap akan menghasilkan bau yang sama yaitu menghasilkan bau
pisang. Namun yang dapat digunakan sebagai perbedaan pada masing
masing tabung adalah tebal lapisan ester, Semakin banyak ester yang

469.

Bau

474. Pisang
479. Pisang
484. -

digunakan tebal lapisan ester semakin kecil begitu juga sebaliknya,


Semakin kecil volume butanol maka ester yang dihasilkan semakin tebal.
487.

Pertanyaan

1 Tuliskan persamaan reaksi untuk setiap percobaan.


- asamkarboksilat
488.
489.

C6H7O3 +NaOH C6H5NaO3 + H2O


NaOHsisa + HCl NaCl + H2O + HClsisa

- Esterifikasi :
490.

CH3CH2OH +

CH3COOH

CH3COOCH2CH3

H2O

491.
Dari pustaka, tulislah langkah langkah mekanisme reaksi esterifikasi.

2
492.

1.

Langkah

proses

protonisasi.

Karenaprotonasimenambahkanmuatanpositifkegugusankarbonil,
reaktivitasgugusaniniterhadapnukleofillemah

(padareaksiini,

alkohol)

bertambah.
493.
2.
Langkahkeduadalammekanismeadalahadisidarialkoholnukleofilikkegugus
ankarbonil. Hasildarilangkahinimengandunggugussan -OR.
494.
3.
Langkahketiga, hilangnya proton darigugus -OR.
495.
4.
Langkahkeempatprotonasisalahsatugugus

-OH

untukmembentukgugushidroksilterprotanasi, -OH2+.
496.
5.
Langkahkelimaadalahhilangnyagugusanhidroksilterprotanasisebagaigugus
an yang terbaik yang meninggalkanyaitu H2O.
497.
6.
Terbentuk ester
498.
499.
E Saponifikasi Ester
1 Gambarlah rumus bangun metil salisilat dan buatlah persamaan reaksinya
2
3

dengan NaOH.
Tulislah persamaan reaksi dari produk A dengan HCl.
500. CH6O3 + HCL
C7H5O2Cl + H2O
Bagaimana hasil pemeriksaan dengan kertas lakmus.
501. Padahasilpercobaankertaslakmusmerahtetapberwarnamerahdanlak

musbiruberubahmenjadiwarnamerah.
F Pembuatan sabun
1 Gambarlah struktur trigliserida yang anda gunakan dalam percobaan ini,
lalu tulis reaksi penyabunannya

502.
Jelaskan mengapa penambahan campuran reaksi ke dalam air dapat

digunakan sebagai uji kesempurnaan reaksi penyabunan


Ester,
khususnya
ester
lemakdanminyak,
dapatbereaksidenganbasakuatsepertiNaOHatau KOH menghasilkansabun.
Reaksiinidisebutsaponifikasiataupenyabunan.

Hasilsampingreaksiiniadalahgliserol.
Berdasarkanjenisasamdanalkoholpenyusun,

ester

dapatdikelompokkandalam 3 golongan, yaitu ester buah-buahan, lilin,


sertalemakdanminyak. Berikutadalahketigagolongantersebut:
503.
504.

Penggunaan terhadap daya kerja sabun


505.
507.
509.
511.

Sabun dalam larutan


CaCl2
MgSO4
Pb(NO3)2

508.
510.
512.

506.
Pengamatan
Terlarut, mengasilkan busa
Terlarut, menghasilkan busa
Tidak Terlarut, menghasilkan

endapan
513.
514.

Tulislah persamaan reaksi antara larutan sabun dengan MgSO4

2
516.

Pembahasan
515.
A.
517.

Sintesis dan identifikasi ester


Pada percobaan A tentang sintesis dan identifikasi ester, kami akan

mengetahui tentang persamaan reaksi esterifikasi. Apakah reaksi dapat berjalan


sempurna dan bukti adanya reaksi serta bau yang dihasilkan.
518.

Setelah terbentuk lapisan, pindahkan dengan hati-hati

beberapa tetes dan dapat diidentifikasi baunya dengan cara mencium bau
yang dihasilkan.
519.

persamaan reaksi esterifikasi

520.

(CH3)2CH(CH2)2OH + CH3COOH + H2SO4

CH3COO(CH3)3CH(CH2)2 + H2O + H2SO4


521.

Bukti-bukti terjadinya reaksi

522.

Suhu panas dan meningkat, larutan jadi panas, warna bening

berubah menjadi kuning.Adanya dua lapisan yang terbentuk pada masingmasimg tabung, di lapisan atas tampak lapisan ester dan dilapisan
bawahnya tampak air. Ester yang dihasilkan berbau sepertibauanggur.
523.
524.
525.

B. Esterifikasi Dengan Alkohol


Pada percobaan esterifikasi dengan alcohol berlebih kami akan

mengamati tentang perbedaan tebal lapisan ester dari senyawa senyawa yng
digunakan serta bau bau yang dihasilkan . Kami akan melihat apakah dengan
perbedaan volume akan menghasilkan tebal lapisan ester yang berbeda pula.
526.

Dari tabel tersebut terlihatjelas bahwa volume yang berbeda pada

masing masing tabung menghasilkan tebal lapisan ester yang berbeda pula.
Dapat dilihat pada volume alkohol 2 ml menghasilkan tebal lapisan ester yang
besar yaitu 2 cmdenganbaupisang. Sedangkan volume alkohol 3 ml menghasilkan
tebal lapisan ester yaitu 1 cm denganbaubalontiup sedangkan untuk volume
butanol 4 ml menghasilkan tebal lapisan ester 0,5 cmdenganbaurambutan.
527.

Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa jika volume asam

tetap namun larutan butanol volumenya berbeda maka tetap akan menghasilkan
bau yang berbedadan tebal lapisan ester yang berbedajuga.

528.

Semakin banyak alkohol yang digunakan tebal lapisan ester makin

kecil, begitu juga sebaliknya semakin kecil volume butanol maka tebal lapisan
ester yang dihasilkan semakin besar.
529.
530.
531.

C.Reaksi beberapa ester


Dalam percobaan sintesis beberapa ester ini akan teliti

mengenai senyawa yang dapat bereaksi atau tidak dalam mencampurkan


beberapa senyawa serta ciri fisis atau bau yang dihasilkan. Yang
dilakukanmenggunakanasamasetat1 ml dengan n-butanol 1 ml dan
ditambah 10 tetes H2SO4 ke dalam tabung reaksi dan digoyangkan,
kemudian dipanaskan dipenangas air kurang lebih selama 10 menit dan
hasilnya larutan tersebut bereaksi dan menghasilkan warna bening, dan
berbau pisang. Menurut sumber hasil data pengamatan yang kedua ini
sesuai
532.
533.

denganteori.
D. Esterifikasi dngan asam berlebih
Percobaan inimembutuhkan alat dan bahan seperti tabug

reaksi, pengaduk dan penangas air dan bahannya adalah alkohol, H 2SO4.
Langkah pertama pada percobaan ini, kami menyiapkan 3 buahh tabung
reaksi yang masing-masing tabung berisi 2 ml, 4 ml, dan 6 ml asamnya
yaitu asam glasial, kemudian ditambahkan 1 ml alkohol kedalam masingmasing tabung reaksi tersebut. Kemudian teteskan H 2SO4 sebanyak 3 tetes
kedalam masing-masing tabung reaksi, kocok perlahan-lahan, lalu
dipanaskan dipenangas air.
534.

Hasil yang diperoleh adalah campuran tersebut bereaksi

dengan adanya endapan yang diantaranya lapisan atas merupakan lapisan


ester dan lapisan bawah adalah lapisan air. Ester yang terbentuk dalam
percobaan ini bernama etil asetat dan masing-masing tabung tersebut
beraroma bau pisang semuanya namun ada hal yang membedakan antara
tabung yang satu dengan tabung yang lain yaitu ketebalan lapisan endapan
ester tersebut, ester yang 2 ml alkohol memiliki ketebalan endapan ester,2
ml alkohol 2 cm, 3ml alcohol 3 cm, 4 ml alcohol 3,5 cm.

535.

Data yang kami dapatkan telah sesuai dengan teori yang

mengatakan bahwa semakin banyak volume asam dan alkohol yang


ditambahkan, maka semakin tebal pula lapisan ester yang terbentuk.
536.
537.

E. Saponofikasi ester

538.

Pada pecobaan tentang saponifikasi ester kami akan meneliti

tentang rumus bangun dari metil salisilat dan persamaan reaksinya dengan NaOH
dan HCl serta hasil pemeriksaan dengan kertas lakmus. Hal yang kami lakukan
adalah memasukan asam salisilat dan 2 tetes NaOH 10% kedalam tabung reaksi.
Kemudian meletakan larutan itu kedalam penagas air sampai bau ester
menghilang sejalan dengan berkurangnya lapisan ester. Pemanasan dilakukan
kurang lebih 20 menit tabung reaksi kemudian didinginkan dibawah aliran dingin.
Baru setelah dingin ditambahkan 10 tetes HCl 10% dan dapat diidentifikasi
keasamannya dengan menggunakan lakmus. Untuk mengujinya, tambahkan HCl
10% sebanyak beberapa tetes sampai larutan bersifat asam hingga baru dapat di
catat hasilnya. Dan didibawah ini adalah data hasil percobaan :
539.

Rumus bangun metil salisilat

540.

Persamaan reaksi dari produk a dengan HCl

CH6O3 + HCL
541.

C7H5O2Cl + H2O
Hasil pemeriksaan dengan kertas lakmus

Padahasilpercobaankertaslakmusmerahtetapberwarnamerahdanlakmusbiruberubah
menjadiwarnamerah.
542.
543. Dari data diatas dapat dilihat bahwa rumus bangun dapat diketahui
setelah dilakukan percobaan serta dapat dituliskan persamaan reaksi yang terjadi
baik dengan NaOH maupun HCl. Dan yang paling lama dalam percobaan ini
adalah menemukan hasil pemeriksaan dengan kertas lakmus . pada percobaan
pertama pada saat digunakan 1 ml HCl 10% pengukuran dengan kertas lakmus
merahtetapmerahdanlakmusbiruberubahmenjadimerah.
Menandakanlarutantersebutadalahasam
544.
545.

546.

F.

Pembuatan sabun

547. Pada percobaan pembuatan sabun inihasil yang kami dapatkan dari
percobaan yang telah kami lakukan ialah busa yang dihasilkan kurang baik karena
didalam larutan atau padatan sabun masih mengandung asam lemak. hal ini
dikuatkan oleh Teori yang menjelaskan bahwa jika padatan dilarutkan dengan
menggunakan air panas kemidian dikocok dengan kuat maka akan menghasilkan
busa atau buih yang baik berarti didalam padatan sabun tersebut tidak
mengandung asam lemak. Sedangkan hasil buih yang kami dapatkan tidaklah
begitu baik hinggga kami simpulkan bahwa apa yang kami lakukan untuk
percobaan kali ini belum maksimal hingga dapat dikatakan bahwa percobaan yang
kami lakukan ini kurang berhasil. Karena percobaan ini gagal dan kami pun harus
masuk kuliah maka untuk prosedur selanjutnya tidak kami lanjutkan dan
kesalahan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranyakurang baiknya
alat dan juga bahan yag kami gunakan, kurang telitinya kami dalam membuat
takaran dan juga dalam menerjemah maupun mengerjakan prosedur kerja, dan
faktor lainnya.
548.
549.
550.
551.
552.
553.
554.
555.
556.
557.
558.
559.
560.
561.
562.
563.
564. V. Kesimpulandan Saran
565. 5.1 Kesimpulan
566.

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa

kesimpulan :
567.

1. Hidrolisis suatu ester dalam pelarut basa disebut saponifikasi. Hasil

raksi ini adalah garam dan alkohol.


568.
2. Hasil reaksi garam dan alkohol disebut ester.

569.
570.

3. Ester berbau enak, wangi bunga-bungaan dan buah-buahan berasal

dari ester.
4.
Larutan etil asetat yang merupakan senyawa ester, dapat dibuat dengan
cara mereaksikan senyawa asam karboksilat dengan alkohol dengan katalis asam

sulfat pekat.
571.
572.
5.2 Saran
573.

Dalammelakukanpraktukiminipentingmemperhatikanprosedurkerjauntukketepatan
hasilpraktikum agar hasilnyatidaksalah, agar tidak terjadi pengulangan.
574.

Dalammelakukanpraktikumharusdiperhatikansetiapprosedurkerja yang

adasehinggasetiapacaradapatdilakukansecaramaksimal.
575.
576.
577.
578.
579.
580.

581. DAFTAR PUSTAKA


582.
583.

Anonim.2006.Kimia dasar jilid 2.Bandung:Gramedia.

584.

Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Jilid II. Jakarta: Erlangga

585.

Fessenden, 1981. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta: Bina


rupa aksara

586.

Harja.1986.Kimia dasar jilid 2.Bandung:Gramedia.

587.

Keenan, Charles W. 1990. Kimia Dasar Jilid II. Jakarta: Erlangga

588.

Nurul, Adi,dkk. 2012.


PembuatanSabun.Http://cemycalholiccybre.wordpress.com.
Diakses tanggal 02 juli 2011

589.

Vivi, Arianti. 2013.


Ester.Http://cemycalholiccybre.wordpress.com. Diakses tanggal 22
Januari 2013

590. LAMPIRAN
591. PERTANYAAN PRA PRAKTEK
592.

1.

Tulis rumus umum dari senyawa ester

593.

2.

Tulis struktur umum dari

594.
595.
596.
597.

3.
598.
599.
600.

a.
b.
c.

Alkohol primer
Alkohol sekunder
Alkohol tersier

Tulislah persamaan reaksi antara


a.
b.
c.

Alkohol primer dengan asam karboksilat


Alkohol sekunder dengan asam karboksilat
Alkohol tersier dengan asam kaboksilat

601.

4.

Tuliskan reaksi pembuatan aspirin (asetil salisilat)

602.

5.

Apakah perbedaan esterifikasi dengan netralisasi

603.

6.

Apakah bahan dasar pembuatan sabun

604.

7.

Gambarkan satu molekul khas lemak dan tulislah persamaan reaksi

safonifikasi untuk menghasilkan sabun natrium


605.
607.

606.
1.

Jawab :
Rumus

608.

609.

R C OR

610.
611.
612.

2.
613.
614.

R OH

R CH OH

RC

R
615.
616.

OH

617.
618.

(a)

(b)

619.
620.
621.

3.

a. Alkohol Primer dan Asam Karboksilat

(c)

622.
623.
624.

R OH + R C OH

R C OR + H2O

625.
626.

b. Alkohol Sekunder dan Asam Karboksilat

627.
628.

R C R + R C OH

629.
630.

633.

R C O C R + H2O

OH

c. Alkohol Tersier dan Asam Karboksilat

631.
632.

C C R + R C OH
OH

R C O C R + H2O
R

634.
635.

4.

636.

5.

Esterifikasi adalah reaksi atau metode untuk menghasilkan ester

dengan mereaksikan asam karboksilat dengan alkohol pada suasana basa.


Netralisasi adalah reaksi antara asam dan basa menghasilkan garam dan air.
637.

6.

Ester dan basa kuat.

638.

7.

Reaksi penyabunan

639.
640.
641.

CH(OOR) + 3NaOH CH(OH) + 3NaOOCR

642.

ANALISIS SPECTROSKOPI UV-VIS


PENENTUAN KONSENTRASI KMnO4

Tujuan Percobaan
643.
Penentuan panjang gelombang maksimum, membuat kurva
standar kalibrasi, menentukan konsentrasi cuplikan yang tidak
diketahui.
Landasan Teori

II

644.

Spektrometri UV-Vis adalah salah satu metoda analisis yang

berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media.
Berdasarkan penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media
tergantung pada tebal tipisnya media dan konsentrasi warna spesies yang ada pada
media tersebut. Spektrometri visible umumnya disebut kalori, oleh karena itu
pembentukan warna pada metoda ini sangat menentukan ketelitian hasil yang
diperoleh.
645.

Spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan

energi cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai suatu fungsi dari panjang
gelombang radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada
suatu panjang gelombang tertentu.
646.

Spektrofotometri ini hanya terjadi bila terjadi perpindahan elektron

dari tingkat energi yang rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Perpindahan
elektron tidak diikuti oleh perubahan arah spin, hal ini dikenal dengan sebutan
tereksitasi singlet.
647.
648.

(Khopkar, 1990)

Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan

pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna
pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator
prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton
hampa. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu sutu alat yang
digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun
kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan
sebagai fungsi dari konsentrasi. Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum
dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas
cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi.

649.
650.

(Harjadi, 1990)

Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau

absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran


menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan
spektrofotometri. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu
pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi.
Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombangdan
dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas
untuk komponen yang berbeda.
651.
652.

(Tahir, 2009)

Sinar atau cahaya yang berasal dari sumber tertentu disebut juga

sebagai radiasi elektromagnetik. Radiasi elektromagnetik yang dijumpai dalam


kehidupan sehari-hari adalah cahaya matahari. Dalam interaksi materi dengan
cahaya atau radiasi elektromagnetik, radiasi elektromagnetik kemungkinanan
dihamburkan, diabsorbsi atau dihamburkan sehingga dikenal adanya spektroskopi
hamburan, spektroskopi absorbsi ataupun spektroskopi emisi.
653.

Salah satu contoh instrumentasi analisis yang lebih kompleks

adalah spektrofotometer UV-Vis. Alat ini banyak bermanfaat untuk penentuan


konsentrasi senyawa-senyawa yang dapat menyerap radiasi pada daerah
ultraviolet (200 400 nm) atau daerah sinar tampak (400 800 nm). Analisis ini
dapat digunakan yakni dengan penentuan absorbansi dari larutan sampel yang
diukur.
654.

Prinsip penentuan spektrofotometer UV-Vis adalah aplikasi dari

Hukum Lambert-Beer, yaitu:


655.

A = - log T = - log It / Io = . b . C

656.

Dimana : A = Absorbansi dari sampel yang akan diukur

657.

T = Transmitansi

658.

I0 = Intensitas sinar masuk

659.

It = Intensitas sinar yang diteruskan

660.

= Koefisien ekstingsi

661.

b = Tebal kuvet yang digunakan

662.

C = Konsentrasi dari sampel

663.
664.

(Saputra, 2009)

Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu

pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi.
Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombang dan
dialirkan oleh suatu perekam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas
untuk komponen yang berbeda.
665.

Besi memiliki dua tingkat oksidasi, yaitu Fe2+ (ferro) dan

Fe3+ (ferri). Senyawa-senyawa yang dapat digunakan untuk mereduksi besi(III)


menjadi besi(II) diantaranya seng, ion timah(II), sulfit, senyawa NH 2OH.HCl,
hidrazin, hidrogen sulfida, natrium tiosulfat, vitamin C, dan hidrokuinon.
Pemilihan reduktor ini tergantung suasana asam yang digunakan dan keberadaan
senyawa lain dalam cuplikan yang akan dianalisis. Umumnya besi cenderung
untuk membentuk senyawa dalam bentuk ferri daripada dalam bentuk ferro, dan
membentuk kompleks yang stabil dengan senyawa-senyawa tertentu.
666.
667.

(Othmer, Kirk, 1978)

Penentuan kadar besi dapat dilakukan dengan menggunakan

metode spektrofotometri UV-Vis dengan reaksi pengompleksan terlebih


dahulu yang ditandai dengan pembentukan warna spesifik sesuai dengan
reagen yang digunakan. Senyawa pengompleks yang dapat digunakan
diantaranya molibdenum, selenit, difenilkarbazon, dan fenantrolin. Pada
percobaan ini pengompleks yang digunakan adalah 1,10-fenantrolin. Besi(II)
bereaksi membentuk kompleks merah jingga. Warna ini tahan lama dan
stabil pada range pH 2-9. Metode tersebut sangat sensitif untuk penentuan
besi (Vogel, 1985). Pengukuran menggunakan metode fenantrolin dengan
pereduksi hidroksilamin hidroklorida dapat diganggu oleh beberapa ion logam,
misalnya bismut, tembaga, nikel, dan kobalt.
668.

Senyawa kompleks berwarna merah-orange yang dibentuk antara

besi (II) dan 1,10-phenantrolin (ortophenantrolin) dapat digunakan untuk


penentuan kadar besi dalam air yang digunakan sehari hari. Reagen yang bersifat
basa lemah dapat bereaksi membentuk ion phenanthrolinium, phen H + dalam
medium asam. Pembentukan kompleks besi phenantrolin dapat ditunjukkan
dengan reaksi:

669.

Fe2+ + 3 phen H+ Fe(phen)32+ + 3H+

670. Tetapan pembentukan kompleks adalah 2.510-6 pada 25oC. Besi (II)
terkomplekskan dengan kuantitatif pada pH 3-9. pH 3,5 biasa direkomendasikan
untuk mencegah terjadinya endapan dari garam garam besi, misalnya fosfat.
Kelebihan zat pereduksi, seperti hidroksilamin diperlukan untuk menjamin ion
besi berada pada keadaan tingkat oksidasi 2+.
671.
672.

1.

Saat sinar mengenai larutan bening, maka akan terjadi 2 hal:


Transmisi

673.

Transmitan larutan merupakan bagian dari sinar yang diteruskan

melalui larutan.
674.

2.

Absorpsi

675.

Cahaya akan diserap jika energi cahaya tersebut sesuai dengan

energi yang dibutuhkan untuk mengalami perubahan dalam molekul.


Absorbansi larutan bertambah dengan pengurangan kekuatan sinar.
676.
677.

Syarat-syarat penggunaan hukum Lambert-Beer:

1.

Syarat Konsentrasi

678.

Hukum Beer baik untuk larutan encer. Pada konsentrasi tinggi

(biasanya 0,01M), jarak rata-rata diantara zat-zat pengabsorpsi menjadi kecil


sehingga masing-masing zat mempengaruhi distribusi muatan tetangganya.
Pengaruh interaksi molekul-molekul tak berarti pada konsentrasi dibawah 0,01M
kecuali untuk ion-ion organik tertentu yang molekulnya besar.
679.

2.

Syarat Kimia

680.

Zat pengabsorpsi tidak boleh terdisosiasi, berasosiasi, atau bereaksi

dengan pelarut menghasilkan suatu produk pengabsorpsi spektrum yang berbeda


dari zat yang dianalisis.
681.

3.

Syarat Cahaya

682.

Hukum

Beer

hanya

berlaku

untuk

cahaya

yang

betul-

betul monokhromatik (cahaya yang mempunyai satu panjang gelombang) .


683.

4.

Syarat Kejernihan

684. Kekeruhan larutan yang disebabkan oleh partikel-partikel koloid


misalnya

menyebabkan

penyimpangan

hukum

Beer.

Sebagian

cahaya

dihamburkan oleh hukum pertikel-partikel koloid akibatnya kekuatan cahaya yang


diabsorpsi berkurang dari cahaya yang seharusnya.
685.
III

Alat Bahan dan Skema Kerja


1 Alat dan Bahan
686.

1
2
3
4
5
6

Alat :

Spektrofotometer + kuvet
Labu ukur
Pipet ukur 10 ml
Gelas piala 100 mL
Gelas piala 50 mL
Pipet tetes
687.

1
2

(Harjadi, 1990)

: 2 buah
: 1 buah
: 3 buah

Bahan :

KMnO4
Akuades

688.
689.

3.2 Skema Kerja

a Pembuatan larutan
690.
691.
692.

Larutan KMnO4
693.

Di buat larutan KMnO4 2.10-5

M, 4.10-5 M, 6.10-5 M, 8.10-5 M, 10.10-5


M
694.

Di siapkan larutan blanko

yang hanya berisi pelarut saja


695.
696.
697.
698.
699.
700.
701.

Catat asisten
hasil
percobaan di tabel
pengamatan

Di lihat larutan cuplikan dari

702.
703.
704.
b Pencarian panjang gelombang maksimum
705.
706.

Alat
707.

Di hidupkan dan dibiarkan 15

menit
708.

Di atur panjang gelombang

sesuai yang diinginkan (400 nm


700 nm)
709.

Di atur knop kiri sampai 0%T

710.

Di masukkan kuvet berisi air

(blanko) ke dalam holder


711.

Di atur %T sampai 100

menggunakan knop sebelah kanan


712.
Larutan
713.
KMnO4 8.10-5
714.
715.

Dimasukkan kedalam kuvet

sampai tanda batas


716.

Di ukur absorbansinya (A)

717.

Di ulangi lagi pengukuran

mulai dari langkah 2 menggunakan


panjang gelombang 400 -700 nm
dengan interval 5 nm
718.

Buat kurva antara panjang

gelombang terhadap absorbansi


719.

721.
722.

Catat hasil
percobaan720.
di tabel
pengamatan

723.
724.
725.
726.
c
Pembuatan kurva kalibrasi dan pengukuran cuplikan yang tidak
diketahui
727.
728.
729.

Alat Spektrofotometer
730.

Di atur panjang gelombang

maksimum sesuai pada tahap B


731.

Di ukur pula larutan KMnO4

2.10-5 M, 4.10-5 M, 6.10-5 M, 8.10-5


M, 10.10-5 M dan cuplikan yang
tidak diketahui konsentrasinya
732.

Di buat kurva kalibrasi antara

absorbansi

terhadap

konsentrasi

larutan KMnO4.
733.

Di buat persamaan garis

liniernya.
734.

Di tentukan konsentrasi

cuplikan dengan memasukkan nilai


absorbansi yang diperoleh ke dalam
persamaan yang diperoleh.
735.

736.
737.
738.
739.
740.

Catat hasil
percobaan di tabel
pengamatan

IV

Data Percobaan dan Pembahasan

741.

4.1 Data Percobaan

742.

A. Pembuatan Larutan
743. 744.
Kon
N
sentrasi
KMnO4
746. 747.
2x
1
10-5
749. 750.
4x
2
10-5
752. 753.
6x
3
10-5
755. 756.
8x
4
10-5
758. 759.
10 x
5
10-5

745.

Warna
Larutan

748.

Ungu
bening
751.
Ungu
mendekati bening
754.

Ungu

757.
Ungu
mendekati pekat
760.

Ungu pekat

761.
762.
1

B. Pencarian panjang gelombang maksimum

KMnO4 200 ppm

763.
Panjang
gelombang (nm)
766.
375
769.
380
772.
385
775.
390
778.
395
781.
400
784.
2

764.

Absorbansi

765.

Transmitan(%)

767.
770.
773.
776.
779.
782.

1,264
0,851
0,615
0,398
0,230
0,081

768.
771.
774.
777.
780.
783.

7,3
14,0
24,3
40,1
58,8
82,9

786.

Absorbansi

787.

Transmitan(%)

789.
792.
795.
798.
801.
804.

1,369
1,040
0,762
0,508
0,320
0,144

790.
793.
796.
799.
802.
805.

4,3
9,1
17,3
31,0
48,0
71,5

KMnO4 400 ppm

785.
Panjang
gelombang (nm)
788.
375
791.
380
794.
385
797.
390
800.
395
803.
400
806.

807.
3

KMnO4 600 ppm

808.
Panjang
gelombang (nm)
811.
375
814.
380
817.
385
820.
390
823.
395
826.
400
829.
4

Absorbansi

810.

Transmitan(%)

812.
815.
818.
821.
824.
827.

1,598
1,214
0,89
0,596
0,373
0,174

813.
816.
819.
822.
825.
828.

2,5
6,1
12,9
25,4
42,4
66,8

831.

Absorbansi

832.

Transmitan(%)

834.
837.
840.
843.
846.
849.
852.

1,800
1,378
1,018
0,688
0,440
0,221
0,007

835.
838.
841.
844.
847.
850.
853.

1,6
4,2
9,6
20,6
36,3
60,2
98,5

856.

Absorbansi

857.

Transmitan(%)

859.
862.
865.
868.
871.
874.
877.

2,050
1,584
1,177
0,8
0,52
0,274
0,034

860.
863.
866.
869.
872.
875.
878.

0,9
2,6
6,6
15,8
30,2
53,4
92,3

KMnO4 800 ppm

830.
Panjang
gelombang (nm)
833.
375
836.
380
839.
385
842.
390
845.
395
848.
400
851.
405
854.
5

809.

KMnO4 1000 ppm

855.
Panjang
gelombang (nm)
858.
375
861.
380
864.
385
867.
390
870.
395
873.
400
876.
405
879.
2 Perhitungan dan Grafik
Perhitungan
880.

881.

Rumus : M1 x V1 = M2 x V2

882.

883.

Untuk membuat larutan KMnO4 2 x 10-5


884.

M1 x V1 = M2 x V2

885.

886.

888.

890.

892.

V=

250 x 400
1000

= 100 ml

Untuk membuat larutan KMnO4 6 x 10-5


M1 x V1 = M2 x V2
V=

250 x 600
1000

= 150 ml

Untuk membuat larutan KMnO4 8 x 10-5


M1 x V1 = M2 x V2

891.

= 50 ppm

M1 x V1 = M2 x V2

889.

250 x 200
1000

Untuk membuat larutan KMnO4 4 x 10-5

887.

V=

V=

250 x 800
1000

= 200 ml

Untuk membuat larutan KMnO4 10 x 10-5


M1 x V1 = M2 x V2

893. V =

250 x 1000
1000

= 250 ml

894.

Grafik
1 Kurva kalibrasi absorbansi terhadap panjang gelombang pada larutan
KMnO4 200 ppm
895.

1.4
1.2
1
0.8
Absorbansi

0.6
0.4
0.2
0
370

375

380

385

390

395

400

405

panjang gelombang (nm)

Kurva kalibrasi absorbansi terhadap panjang gelombang pada larutan


KMnO4 400 ppm

896.

1.6
1.4
1.2
1
Absorbansi 0.8
0.6
0.4
0.2
0
370

375

380

385

390

395

panjang gelombang (nm)

897.
898.

400

405

Kurva kalibrasi absorbansi terhadap panjang gelombang pada larutan


KMnO4 600 ppm

899.
2
1.5
Absorbansi

1
0.5
0
370

375

380

385

390

395

400

405

panjang gelombang (nm)

Kurva kalibrasi absorbansi terhadap panjang gelombang pada larutan


KMnO4 800 ppm

900.

2
1.5
Absorbansi

1
0.5
0
370

375

380

385

390

395

400

405

410

panjang gelombang (nm)

Kurva kalibrasi absorbansi terhadap panjang gelombang pada larutan


KMnO4 1000 ppm

901.

2.5
2
1.5
Absorbansi

1
0.5
0
370

375

380

385

390

395

400

405

410

panjang gelombang (nm)

902.

4.3 Pembahasan
903.

Pada percobaan kali ini yang membahas tentang analisa

spectroskopi UV VIS menggunakan alat Spektrofotometer UV-VIS .


Tetapi, karena pada saat pratikum alat tersebut mengalami kendala maka,
di ganti menggunakan spektronik genesis 20 untuk mencari panjang,
absorbansi,

dan

transmitan.

Dengan

menggunakan

KMnO4

200

ppm,KMnO4 400 ppm, KMnO4 600 ppm, KMnO4 800 ppm, KMnO4 1000
ppm.
904.

Hal pertama yang dilakukan yaitu dipanaskan selama 15

menit, lalu mengkalibrasi buvet dengan blanko. Blanko yanbg digunakan


yaitu aquades. Setelah itu, isi buvet dengan KMnO4 200 ppm. Kemudian,
dimasukan kedalam spektronik 20. Lalu, tentukan panjang gelombangnya
sampai hasilnya adalah minus. Dicari absorbansinya dengan menekan
tombol A/T/C sekali, dan cari transmitannya dengan menekan tombol
A/T/C dua kali. Lalu dicatat hasil yang di ketahui pada table percobaan,
lalukan percobaan tersebut dengan mengganti panjang gelombangnya
sampai 1000 ppm. Hasil yang di dapat sudah tertera pada table percobaan.
Percobaan selanjutnya adalah membuat kurva kalibrasi. Untuk membuat
kurva kalibrasi digunakan larutan KMnO4 standar dengan konsentrasi yang
berbeda-beda yang diperoleh melalui pengenceran. Dari kurva kalibrasi

absorbansi terhadap konsentrasi larutan ini kita dapat menentukan


konsentrasi dari suatu sampel, yang telah diukur besar absorbansinya
karena kita menggunakan alat spektronik 20 makan membuat grafik
panjang gelombang terhadap absorbansi secara manual.
905.

Pada percobaan pembuatan larutan kelompok kamui tidak

melakukannya karena alat spektronik 20 hanya bisa menghitung panjang


gelombang maka kami mengambil data dari kelompok sebelumnya yaitu
dengan mengencerkan KMnO4 1000 ppm menjadi KMnO4 200 ppm, dan
juga larutan KMnO4 400 ppm, KMnO4 600 ppm, dan 800 ppm gingan di
dapat 5 larutan KMnO4 yang mempunyai ppm yang berbeda yaitu 200
ppm , 400 ppm , 600 ppm , 800 ppm , dan 1000 ppm. Pengenceran ini
kami lakukan dengan cara mencampurkan larutan KMnO4 1000 ppm
sebanyak yang tertera pada bab perhitungan untuk masing-masing larutan
yang akan dibuat menggunakan aquades harus sampai titik miniskus dari
labu ukur. Kemudian disiapkan juga larutan yang hanya berisi aquades
saja yang digunakan sebagai blanko. Dari semua larutan ini, dari
konsentrasi KMnO4 yang lebih rendah ke konsentrasi KMnO4 yang lebih
tinggi mempunyai warna yang sesuai berurutan dimana makin rendah
konsentrasi KMnO4 maka warna ungu dari KMnO4 makin memudar,
begitu juga saat konsentrasi KMnO4 makin tinggi, maka warna ungu dari
KMnO4 juga semakin pekat. Kemudian untuk nilai absorbansi dari
masing-masing konsentrasi dari yang terkecil ke yang paling besar
berturut-turut adalah 1.642, 1.725, 1.680, 1.687, 1675. Semua bahan yang
kami dapat telah memenuhi literatur yang ada seperti warna dan jumlah
ppm yang di butuhkan untuk tiap percobaan yang akan dilakukan.
906.

Kesimpulan dan Saran


1 Kesimpulan
1 Spektrofotometer di gunakan untuk menentukan panjang
2

gelombang maksimum suatu larutan.


Spektrofotometer di gunakan untuk pembuatan kurva standar

kalibrasi
Cara kerja

dari

spektrofotometer

yaitu,

dengan

sinar

monokromatik menembus larutan yang berada di dalam kuvet,


banyaknya cahaya yang diteruskan maupun diserap oleh
larutan akan dibaca oleh detector yang akan dimunculkan ke
4

layar.
Panjang gelombang maksimum yang didapat pada praktikum

ini adalah 600 nm.


Larutan blanko digunakan

sebagai

pembanding

dalam

pengukuran menggunakan spektrofotometer.


907.
2 Saran
1 Alat yang ada perlu di lakukan perbaikan rutin supayang
2

alat yang ada tidak rusak.


Perlu adanya peningkatan

alat-alat

yang

laboraturium demi menunjang ke efektifan data.


908.
909.
910.

ada

di

911.
912.
913.

DAFTAR PUSTAKA

Harjadi. 1990. Kimia dasar jilid 2. Bandung:Gramedia.


Khopkar. 1990. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta: Bina
rupa aksara

914.
915.

Othemer, Kirk. 1978. Kimia Organik Jilid 1. Erlangga. Jakarta.


Saputra. 2009. Ilmu Kimia untuk Universitas . Jakarta:Erlangga

916.
917.

Tahir. 2009. Kimia dasar jilid 2.Bandung:Gramedia.

918.
LAMPIRAN
Pertanyaan Prapraktek

919.

1 Bagaimana prinsip kerja alat spektrofotometer UV-VIS ?


920.
Jawab : Cara kerja spektrofotometer dimulai

dengan

dihasilkannya cahaya monokromatik dari sumber sinar. Cahaya tersebut


kemudian menuju ke kuvet (tempat sampel/sel).Banyaknya cahaya yang
diteruskan maupun yang diserap oleh larutan akan dibaca oleh detektor
2

yang kemudian menyampaikan ke layar pembaca.


Apa yang dimaksud dengn panjang gelombang maksium dan kurva

standar kalibrasi ?
921.
Jawab : Panjang gelombang maksimum adalah panjang gelombang
yang didapatkan dimana titik absorban suatu larutan yang diteliti paling
tinggi. Sedangkan kurva standar kalibrasi adalah kurva yang didapatkan
3

setelah didapat nilai-nilai absorban dari larutan yang diteliti.


Jelaskan Hukum Lamber-Beer !
922.

Jawab : hukum lamber beer dapat menyatakan hubungan antara

serapan cahaya dengan konsentrasi zat dalam larutan. Di bawah ini adalah
persamaan Lamber- Beer :
923.
924.

A = Log T = a b c
A = absorban, T = transmitan, a = absortivitas molar (Lcm-1mol-

1), b = panjang sel (cm), dan c = konsentrasi zat (mol/L)


4 Kenapa larutan berwarna dapat diukur absorbansinya ?
925.
Jawab : karena larutan yang tidak berwarna tidak memiliki nilai
absorbansi/ sebagai pembanding. Larutan yang berwarna akan dapat
membaca banyaknya sinar yang diteruskan maupun sinar yang diserap
oleh larutan berwarna itu.
926.
927.
928.
929.