Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Yogyakarta terkenal sebagai kota pelajar, tentu saja orang-orang dari
berbagai kota dan luar pulau yang akan menuntut ilmu di kota ini berdatangan ke
kota Yogyakarta. Hal ini menyebabkan para siswa atau mahasiswa akan mencari
tempat tinggal sementara selama berada di kota ini. Banyak diantara para siswa
dan mahasiswa yang lebih memilih kos atau tinggal di asrama. Tetapi tidak
sedikit pula yang lebih memilih untuk mencari rumah kontakan untuk tinggal
sementara waktu selama menuntun ilmu di Yogyakarta. Hal ini juga berlaku bagi
para pasangan muda yang baru menikah dan para pekerja atau karyawan yang
bekerja di kota Yogyakarta, mereka cenderung lebih memilih rumah kontrakan
untuk tinggal sementara waktu di kota Yogyakarta ini.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencari rumah kontrakan, salah
satunya adalah media iklan yang terbukti sangat membantu, baik melalui media
cetak, media elektronik, dan lain-lain. Tentunya dengan cara ini, meskipun efektif
tetapi tidak efisien karena dibutuhkan banyak biaya untuk mengiklankannya.
Dilihat dari sisi pencari rumah kontrakan, banyaknya iklan yang dipasang atau
ditayangkan membuat mereka perlu berpikir beberapa kali untuk
mempertimbangkan rumah kontrakan mana yang sesuai dengan kebutuhan
mereka, supaya tidak salah memilih, dan menyesal di kemudian hari.
Kemajuan dunia informatika sepertinya menjawab kebutuhan mencari
rumah kontrakan ini, dan akan sangat membantu baik dari sisi pemilik maupun
penyewa. Dengan adanya teknologi internet, memungkinkan para pemilik rumah
kontralan mengiklankannya lewat media ini dengan biaya yang relatif murah dan
dapat dilihat langsung oleh calon penyewa di setiap tempat yang menggunakan
teknologi internet ini. Dan bukan hanya itu, dengan teknologi internet ini, para
calon penyewa juga dibantu untuk dapat menghubungi pemilik rumah kontrakan,
baik lewat telepon.

1
Penulis akan membangun suatu sistem informasi berbasis Web, yang
menggunakan teknologi internet, untuk membantu para pemilik rumah kontrakan
memasangkan iklan rumah kontrakan yang akan disewakan, dan yang terutama
membantu para penyewa untuk bisa memutuskan dan menentukan rumah mana
yang akan disewa, yang sesuai dengan kebutuhan dan ekonomi mereka dengan
menggunakan metode Analytical Hierarchy Process. Dimana metode ini
merupakan metode pengambilan keputusan yang menggunakan pendekatan
kolektif dari proses pengambilan keputusannya dan mempunyai kemampuan
untuk memecahkan masalah yang multi objektif dan multi kriteria.

1.2 Perumusan Masalah


Bagaimana cara membantu pengguna untuk memilih rumah kontrakan dengan
menggunakan metode Analytical Hierarchy Process?

1.3 Batasan Masalah


a. Sistem aplikasi ini dibangun hanya untuk pengambilan keputusan dalam
memilih rumah kontrakan di kota Yogyakarta dan tidak mencakup rumah
yang dijual.
b. Data rumah kontrakan diambil dari PT. Ray White Yogyakarta.
c. Permasalahan diselesaikan dengan metode AHP.
d. Sistem aplikasi hanya dapat diakses via Web.
e. Sistem pengambilan keputusan yang dibuat hanya untuk memberikan
alternatif rumah kontrakan yang akan disewa dengan jumlah pilihan
minimal adalah 2 rumah kontrakan dan maksimal adalah 5 rumah
kontrakan.
f. Sistem aplikasi ini hanya akan melakukan perhitungan AHP jika tools-
tools tambahan seperti tools penyaring data rumah kontrakan menemukan
2 atau lebih data rekomendasi rumah kontrakan.

2
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membuat sistem informasi penyewaan rumah
kontrakan di kota Yogyakarta berbasis Web yang dilengkapi sistem pendukung
keputusan penyewaan rumah kontrakan dengan menggunakan Metode Analytical
Hierarchy Process.
a. Bagi Peneliti :
1. Peneliti dapat menerapkan ilmu yang sudah diperoleh dalam
perkuliahan dengan membuat sistem informasi berbasis komputer.
2. Peneliti memiliki kemampuan praktis dalam membuat suatu sistem
informasi berbasis komputer secara sistematis, terstruktur dan
terarah sehingga sistem informasi tersebut dapat memberikan
manfaat bagi perusahaan.
3. Melatih peneliti dalam menghadapi suatu permasalahan yang
sesungguhnya di dunia usaha.
b. Bagi Calon Penyewa Kontrakan :
1. Membantu calon penyewa kontrakan untuk memilih rumah
kontrakan yang sesuai dengan keinginan.
2. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam mencari informasi
rumah kontrakan.
c. Bagi Universitas :
1. Agar universitas dapat mengkaji sejauh mana kemampuan
mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu yang diberikan
selama berada di bangku perkuliahan.
2. Menyiapkan mahasiswa sebagai tenaga kerja yang terdidik.
3. Mengetahui perkembangan yang terjadi didalam masyarakat,
sehingga dapat dilakukan kebijaksanaan mengenai matakuliah yang
relevan.

1.5 Metode Penelitian


Metodologi pengembangan sistem yang digunakan dalam penelitian ini untuk
membangun aplikasi pemilihan rumah kontrakan ini terdiri dari analisa dan

3
rekayasa sistem, analisa kebutuhan, perancangan, implementasi hingga tahapan
akhir penelitian ini sampai pada tahapan uji coba.
Metode Penelitian yang digunakan:
a. Studi Literatur
Mempelajari teori-teori tentang sistem pendukung keputusan dengan metode
Analytical Hierarchy Process..
b. Survey / Observasi
Mencari informasi tentang fasilitas, harga, lokasi, dan informasi penting lainnya
tentang rumah konrakan yang ada di Yogyakarta di PT. Ray White Yogyakarta.
Pengambilan data dilakukan di PT. Ray White Yogyakarta yang berlokasi di Jl.
Laksda Adisucipto km 7,5 Yogyakarta.
c. Perancangan Sistem
Perancangan sistem informasi pemilihan rumah kontrakan berbasis Web yang
dilengkapi sistem pendukung keputusan pemilihan rumah kontrakan dengan
metode Analytical Hierarchy Process.
d. Uji coba perangkat lunak yang dibuat

1.6 Sistematika Penulisan


Penyusunan laporan tugas akhir ini akan disusun dalam lima bab dengan
sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab 1 : Pendahuluan
Bab ini menjelaskan latar belakang masalah, batasan masalah,
perumusan masalah, tujuan penelitian, metodologi / pendekatan,
dan sistematika penulisan.
Bab 2 : Landasan Teori
Bab ini menjelaskan mengenai teori-teori serta dasar-dasar
pengetahuan yang berkaitan dengan sistem yang dibuat.
Bab 3 : Perancangan Sistem
Bab ini membahas tentang tahap-tahap dalam perancangan input
dan output dari program yang dibuat.

4
Bab 4 : Implementasi dan Analisis Sistem
Bab ini berisi tentang implementasi sistem yang telah dirancang
dalam Bab 3 dengan menggunakan bahasa pemrograman dan
analisis sistem yang telah dibuat.
Bab 5 : Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi kesimpulan dari tugas akhir ini dan saran untuk
pengembangan sistem lebih lanjut.

5
BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka


Metode AHP pernah digunakan dalam penelitian dengan judul “Sistem
Pendukung Keputusan untuk Pemilihan Laptop dengan Metode Analytical
Hierarchy Process” (Mayasari, 2007). Kesinambungan penelitian tersebut dengan
penelitian ini adalah kesamaan dalam penggunaan metode AHP serta pengamatan
pada metode tersebut bagaimana kesesuaiannya dengan penyelesaian kasus.
Sedangkan perbedaannya adalah pada studi kasus, alternatif dan kriteria yang
dipakai pada penelitian ini berbeda dengan penelitian tersebut. Pengembangan
model pada penelitian tersebut juga tidak dalam bentuk aplikasi berbasis web.
Sistem pendukung keputusan dalam memilih rumah kontrakan juga pernah
dilakukan dalam penelitian dengan judul ”Implementasi Query Fuzzy Tahani pada
Aplikasi Pemilihan Rumah Kontrakan” (Naomi, 2009). Hasil dari penelitian
dengan query fuzzy tahani adalah memberikan rekomendasi pilihan rumah
kontrakan yang terbaik dengan menentukan himpunan dan derajat keanggotaan
setiap himpunan. Kesinambungan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah
kesamaan dalam studi kasus perekomendasian rumah kontrakan di Yogyakarta.
Sedangkan perbedaannya adalah pada metode yang dipakai pada penelitian ini
berbeda dengan penelitian tersebut.

2.2 Landasan Teori


2.2.1 Sistem Pendukung Keputusan ( SPK )
Konsep sistem pendukung keputusan diperlenalkan pertama kali oleh
Michael S. Scoott Morton pada tahun 1970-an dengan istilah Management
Decision System (Sprague,1982). SPK dirancang untuk mendukung seluruh tahap
pengambilan keputusan mulai dari mengidentifikasi masalah, memilih data yang
relevan, dan menentukan pendekatan yang digunakan dalam proses pengambilan

6
keputusan, sampai mengevaluasi pemilihan alternatif. Sistem tersebut adalah
suatu sistem yang berbasis komputer yang ditujukan untuk membantu pengambil
keputusan dengan memanfaatkan data dan model tertentu untuk memecahkan
berbagai persoalan yang tidak terstruktur.
Istilah SPK mengacu pada suatu sistem yang memanfaatkan dukungan
komputer dalam proses pengambilan keputusan. Untuk memberikan pengertian
yang lebih mendalam, akan diuraikan beberapa difinisi mengenai SPK yang
dikembangkan oleh beberapa ahli, diantaranya oleh Man dan Watson yang
memberikan definisi sebagai berikut, SPK merupakan suatu sistem yang
interaktif, yang membantu pengambil keputusan melalui penggunaan data dan
model model keputusan untuk memecahkan masalah yang sifatnya semi
terstruktur maupun yang tidak terstruktur.
Dengan berbagai karakter khusus diatas, SPK dapat memberikan berbagai
manfaat dan keuntungan. Manfaat yang dapat diambil dari SPK adalah :
a. SPK memperluas kemampuan pengambil keputusan dalam
memproses data atau informasi bagi pemakainya.
b. SPK membantu pengambil keputusan untuk memecahkan masalah
terutama berbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak
terstruktur.
c. SPK dapat menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya
dapat diandalkan. Walaupun suatu SPK, mungkin saja tidak
mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh pengambil
keputusan, namun ia dapat menjadi stimulan bagi pengambil
keputusan dalam memahami persoalannya, karena mampu
menyajikan berbagai alternatif pemecahan.
Di samping berbagai keuntungan dan manfaat seperti dikemukakan diatas, SPK
juga memiliki beberapa keterbatasan, diantaranya adalah :
a. Ada beberapa kemampuan manajemen dan bakat manusia yang tidak dapat
dimodelkan, sehingga model yang ada dalam sistem tidak semuanya
mencerminkan persoalan sebenarnya.

7
b. Kemampuan suatu SPK terbatas pada perbendaharaan pengetahuan yang
dimilikinya (pengetahuan dasar serta model dasar).
c. Proses-proses yang dapat dilakukan SPK biasanya juga tergantung pada
perangkat lunak yang digunakan.
d. SPK tidak memiliki kemampuan intuisi seperti yang dimiliki manusia.
Sistem ini dirancang hanyalah untuk membantu pengambil keputusan
dalam melaksanakan tugasnya.
Jadi secara dapat dikatakan bahwa SPK dapat memberikan manfaat bagi
pengambil keputusan dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja terutama
dalam proses pengambilan keputusan.

2.2.2 Multi Attribute Decision Making (MADM)


MADM digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam ruang
diskrit. Oleh karena itu, pada MADM biasanya digunakan untuk melakukan
penilaian atau seleksi terhadap beberapa alternative dalam jumlah yang terbatas.
Pada dasarnya, proses MADM dilakukan melalui 3 tahap, yaitu
penyusunan komponen-komponen situasi, analisis, dan sintetis informasi
(Rudolphi, 2000).
Pada tahap penyusunan komponen-komponen situasi akan dibentuk table
taksiran yang berisi identifikasi alternatif dan spesifikasi tujuan, criteria dan
atribut. Tahap analisis dilakukan melalui 2 langkah, pertama mendatangkan
taksiran dari besaran potensial, kemungkinan dan ketidakpastian yang
berhubungan dengan dampak-dampak yang mungkin pada setiap alternatif. Kedua
meliputi pemilihan dan preferensi pengambilan keputusan untuk setiap nilai, dan
ketidakpedulian terhadap resiko yang timbul (Kusumadewi, 2006).

2.2.3 AHP (Analytic Hierarchy Process)


Metode AHP merupakan salah satu model untuk pengambilan keputusan
yang dapat membantu kerangka berfikir manusia. Metode ini mula-mula
dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 70-an. Dasar berpikirnya metode
AHP adalah proses membentuk skor secara numerik untuk menyusun rangking

8
setiap alternatif keputusan berbasis pada bagaimana sebaiknya alternatif itu
dicocokkan dengan kriteria pembuat keputusan. Adapun struktur hirarki AHP
ditampilkan pada gambar 1. berikut (Saaty, 1970):

Gambar 2.1
Hirarkhi AHP
Adapun langkah-langkah metode AHP adalah :
Dalam metode AHP dilakukan langkah-langkah sebagai berikut (Kadarsyah
1998):
a. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
Dalam tahap ini berusaha menentukan masalah yang akan dipecahkan
secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari masalah yang ada dicoba
tentukan solusi yang mungkin cocok bagi masalah tersebut. Solusi dari
masalah mungkin berjumlah lebih dari satu. Solusi tersebut nantinya
dikembangkan lebih lanjut dalam tahap berikutnya.
b. Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama.
Setelah menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan disusun level
hirarki yang berada di bawahnya yaitu kriteria-kriteria yang cocok untuk
mempertimbangkan atau menilai alternatif yang kita berikan dan
menentukan alternatif tersebut. Tiap kriteria mempunyai intensitas yang

9
berbeda-beda. Hirarki dilanjutkan dengan subkriteria (jika mungkin
diperlukan).
c. Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan
kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau
kriteria yang setingkat di atasnya. Matriks yang digunakan bersifat
sederhana, memiliki kedudukan kuat untuk kerangka konsistensi,
mendapatkan informasi lain yang mungkin dibutuhkan dengan semua
perbandingan yang mungkin dan mampu menganalisis kepekaan prioritas
secara keseluruhan untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan
matriks mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi
dan didominasi. Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment dari
pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen
dibandingkan elemen lainnya. Untuk memulai proses perbandingan
berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling atas hirarki misalnya
K dan kemudian dari level di bawahnya diambil elemen yang akan
dibandingkan misalnya E1,E2,E3,E4,E5.
d. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah
penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah
banyaknya elemen yang dibandingkan. Hasil perbandingan dari masing-
masing elemen akan berupa angka dari 1 sampai 9 yang menunjukkan
perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen. Apabila suatu elemen
dalam matriks dibandingkan dengan dirinya sendiri maka hasil
perbandingan diberi nilai 1. Skala 9 telah terbukti dapat diterima dan bisa
membedakan intensitas antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan
pada sel yang bersesuaian dengan elemen yang dibandingkan. Skala
perbandingan perbandingan berpasangan dan maknanya yang
diperkenalkan oleh Saaty bisa dilihat di Tabel 2.1 :

10
Tabel 2.1
Skala Saaty

e. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak


konsisten maka pengambilan data diulangi.
Matriks bobot yang diperoleh dari hasil perbandingan secara berpasangan
tersebut harus mempunyai hubungan kardinal dan ordinal. Hubungan
tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut (Suryadi & Ramdhani, 1998):
Hubungan kardinal : aij . ajk = aik
Hubungan ordinal : Ai > Aj, Aj > Ak maka Ai > Ak
Hubungan diatas dapat dilihat dari dua hal sebagai berikut :
a. Dengan melihat preferensi multiplikatif, misalnya bila anggur
lebih enak empat kali dari mangga dan mangga lebih enak dua
kali dari pisang maka anggur lebih enak delapan kali dari
pisang.

11
b. Dengan melihat preferensi transitif, misalnya anggur lebih
enak dari mangga dan mangga lebih enak dari pisang maka
anggur lebih enak dari pisang.
Pada keadaan sebenarnya akan terjadi beberapa penyimpangan dari
hubungan tersebut, sehingga matriks tersebut tidak konsisten sempurna.
Hal ini terjadi karena ketidakkonsistenan dalam preferensi seseorang.
f. Mengulangi langkah c,d, dan e untuk seluruh tingkat hirarki.
g. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan
berpasangan yang merupakan bobot setiap elemen untuk penentuan
prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai mencapai
tujuan. Penghitungan dilakukan lewat cara menjumlahkan nilai setiap
kolom dari matriks, membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom
yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks, dan
menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah
elemen untuk mendapatkan rata-rata.
h. Memeriksa konsistensi hirarki. Yang diukur dalam AHP adalah rasio
konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi yang diharapkan
adalah yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang
mendekati valid. Walaupun sulit untuk mencapai yang sempurna, rasio
konsistensi diharapkan kurang dari atau sama dengan 10 %.
Rumusnya:
Indeks Konsistensi (CI) = (λmaks-n) / (n-1)

Rasio Konsistensi (CR) = CI/ RI, di mana RI adalah indeks random


konsistensi, yang dapat dilihat di Tabel 2.2 di bawah ini:
Tabel 2.2
Nilai Indeks Random

N 1,2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

RI 0,00 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49 1,51 1,48 1,56

Jika hasil rasio konsistensi ≤ 0.1, hasil perhitungan data dapat dibenarkan.

12