Anda di halaman 1dari 17

BAB II

STOMATITIS AFTOSA

2.1 PENGERTIAN
Stomatitis merupakan radang yang terjadi pada mukosa mulut
yang biasanya berupa bercak putih kekuningan dengan permukaan
yang agak cekung. Bercak itu dapat berupa bercak tunggal maupun
kelompok. Stomatitis yang terjadi berulang pada rongga mulut
disebut Reccurent Apthous Stomatitis (RAS). RAS merupakan salah
satu kelainan mukosa yang paling sering terjadi dan menyerang kira
kira 15-20% populasi di Inggris. Penyakit ini umumnya terjadi dan
seringkali mengenai wanita dan lakilaki. Prevalensi yang lebih tinggi
juga didapatkan pada golongan sosial ekonomi atas dan di antara
para mahasiswa selama waktuwaktu ujian.
Manifestasi klinis dari RAS adalah ulser tunggal atau multipel,
dangkal, bulat, lonjong dan sakit. Prevalensi pada populasi secara
umum berkisar 50-66%. Hipotesis dari terjadinya RAS bermacammacam tergantung pada faktor pemicunya, antara lain disebabkan
karena alergi, faktor genetik, kekurangan nutrisi, kelainan hematologi,
hormonal, infeksi, trauma dan stres.
Didalam rongga mulut, RAS merupakan kondisi yang paling banyak
dijumpai pada jaringan lunak mukosa. Diperkirakan sebanyak 15% 20% populasi penduduk diseluruh dunia terserang penyakit seperti
ini. Penyakit ini nampak lebih banyak di Amerika Utara khususnya
pada kelompok sosial ekonomi rendah, insiden ini nampak hingga
mendekati 40%.
2.2 KLASIFIKASI STOMATITIS
1 Stomatitis apthous Reccurent

Stomatitis

yang

sifatnya

berulang

atau

Reccurent

Apthous

Stomatitis dapat diklasifikasikan berdasarkan karakteristik klinis yaitu


ulser minor, ulser major, dan ulser herpetiform:
a Rekuren apthous stomatitis minor
Sebagian besar pasien (80%) yang menderita bentuk minor
ditandai dengan ulser berbentuk bulat atau oval dan dangkal
dengan diameter yang kurang dari 5 mm serta pada bagian
tepinya terdiri dari eritematous. Ulserasi bisa tunggal ataupun
merupakan kelompok yang terdiri atas empat atau lima dan
akan sembuh dalam waktu 10-14 hari tanpa meninggalkan
bekas.5 Ulkus ini mempunyai kecendrungan untuk terjadi pada
mukosa bergerak yang terletak pada kelenjar saliva minor.
Pernah dilaporkan adanya gejala-gejala pendahulu seperti
parastesia

dan

hiperestesia.

Ulkus

ini

sangat

bervariasi,

kambuh, dan pola terjadinya bervariasi.

Gambar 1.1 Minor apthous ulcer


Ulkus yang berkelompok dapat menetap dalam jangka waktu
beberapa bulan. Ulserasi yang menetap seringkali sangat sakit
dan biasanya mempunyai gambaran tak teratur. Frekuensi RAS
lebih sering pada laki-laki daripada wanita dan mayoritas
penyakit terjadi pada usia antara 10 dan 30 tahun. Pasien
dengan ulser minor mengalami ulserasi yang berulang dan lesi
individual

dapat

terjadi

dalam

jangka

waktu

pendek

dibandingkan dengan tiga jenis yang lain. Ulser ini sering


muncul pada mukosa nonkeratin. Lesi ini didahului dengan rasa

terbakar, gatal dan rasa pedih dan adanya pertumbuhan


makula eritematus. Klasiknya, ulserasi berdiameter

3-10 mm

dan sembuh tanpa luka dalam 7-14 hari.


b Rekuren Apthous Stomatitis Major
Rekuren apthous stomatitis major diderita kira-kira 10% dari
penderita RAS dan lebih hebat dari bentuk minor. Secara klasik,
ulser ini berdiameter kira-kira 1-3 cm dan berlangsung selama
empat minggu atau lebih dan dapat terjadi pada bagian mana
saja

dari

mukosa

mulut

termasuk

daerah-daerah

yang

berkeratin. Dasar ulser lebih dalam, melebihi 0,5 cm dan seperti


ulser minor, hanya terbatas pada jaringan lunak tidak sampai ke
tulang.11

Gambar 2.2 Mayor apthous ulcer


Ulser mayor dikenal sebagai periadenitis mukosa nekrosis yang
rekuren atau disebut juga penyakit Sutton. Penyebabnya belum
diketahui secara pasti, namun banyak bukti yang berhubungan
dengan defek imun. Tanda adanya ulser seringkali dilihat pada
penderita bentuk mayor. Jaringan parut terbentuk karena
keparahan dan lamanya lesi terjadi. Awal dari ulser mayor
terjadi setelah masa puberti dan akan terus menerus tumbuh
hingga 20 tahun atau lebih.
c Herpetiformis apthous stomatitis

Istilah herpertiformis digunakan karena bentuk klinis dari


ulserasi herpetiformis (yang dapat terdiri atas 100 ulser kecil
pada satu waktu) mirip dengan gingivostomatitis herpetik
primer tetapi virus-virus herpes tidak mempunyai peranan
dalam etiologi ulserasi herpertiformis atau dalam setiap bentuk
ulserasi aptosa.

Gambar 2.3 Multiple herpetiform ulcers


Herpertiformis apthous stomatitis menunjukkan lesi yang besar dan
frekuensi terjadinya berulang. Pada beberapa individu, lesi berbentuk
kecil dan berdiameter rata-rata 1-3 mm. Gambaran dari ulser ini
adalah erosi-erosi kelabu putih yang jumlahnya banyak, berukuran
sekepala jarum yang membesar, bergabung dan mnjadi tak jelas
batasnya. Pada awalnya ulkus-ulkus tersebut berdiameter 1-2 mm
dan timbul berkelompok terdiri atas 10-100. Mukosa disekitar ulkus
tampak eritematous dan diperkirakan ada gejala sakit.
2 Oral thrush
Yaitu sariawan

yang

disebabkan

jamur

Candida

Albican,

biasanya banyak dijumpai di lidah. Pada keadaan normal, jamur


memang terdapat di dalam mulut. Namun, saat daya tahan tubuh
anak

menurun,

ditambah

penggunaan

obat

antibioka

yang

berlangsung lama atau melebihi jangka waktu pemakaian, jamur


Candida Albican akan tumbuh lebih banyak lagi.
3 Stomatitis Herpetik

Yaitu sariawan yang disebabkan virus herpes simplek dan


beralokasi di bagian belakang tenggorokan. Sariawan di tenggorokan
biasanya langsung terjadi jika ada virus yang sedang mewabah dan
pada saat itu daya tahan tubuh sedang rendah sehingga sistem imun
tidak dapat menetralisir atau mengatasi virus yang masuk sehingga
terjadilah ulser.12

2.3 ETIOLOGI
Semakin banyaknya penelitian dan teori-teori baru mengenai
faktor predisposisi stomatitis memungkinkan suatu saat nanti apa
yang saat ini masihkita anggap faktor predisposisi telah terbukti
sebagai etiologi. Seperti yang telah diketahui bahwa faktor etiologi
stomatitis adalah idiopatik (belum diketahui) namun telah banyak
dugaan

mengenai

faktor

predisposisi

stomatitis.

Faktorfaktor

predisposisi yang dapat menyebabkan terjadinya stomatitis adalah


sebagai berikut :
1 Genetik
Riwayat keluarga terdapat pada 50% kasus. Insiden tertinggi
terdapat di antara saudara bila kedua orang tua terkena stomatitis.
Beberapa peneliti menyatakan bahwa hubungan genetik berpengaruh
terhadap timbulnya stomatitis. Salah satu penelitian menemukan
bahwa 35% dari orang yang menderita stomatitis memiliki paling
tidak satu orang tua yang juga menderita stomatitis Penelitian lain
menemukan bahwa 91% kembar identik menderita stomatitis dimana
untuk kembar biasa hanya 57%.
2 Imunologik
Respon imun mungkin merupakan peran utama stomatitis umum
terjadi pada pasien dengan imunodefisiensi sel B dan 40% dari
pasien-pasien stomatitis mempunyai kompleks dari sirkulasi imun.

Ulserasi dapat disebabkan oleh pengendapan imonoglobulin dan


komponen-komponen komplemen dalam epitel atau respons imun
seluler

terhadap

komponen-komponen

epitel. Antibodi

tersebut

bergantung pada mekanisme sitoksik atau proses penetralisir racun


yang masuk ke dalam tubuh. Sehingga jika sistem imunologi
mengalami abnormalitas, maka dengan mudah bakteri ataupun
virusmenginfeksi jaringan lunak disekitar mulut.
3 Hematologik
15-20% pasien stomatitis adalah penderita kekurangan zat besi,
vitamin B12 atau folid acid dan mungkin juga terdapat anemia.
Penyembuhan
mengatasi

stomatitis

sering

terjadi

kekurangan-kekurangan

sesudah

tersebut.

terapi

Seperti

untuk

frekuensi

defisiensi pada pasien awalnya akan menjadi lebih buruk pada


pertengahan usia. Banyak pasien yang defisiensinya tersembunyi,
hemoglobulin dengan batasan yang normal dan ciri utama adalaah
mikrositosis dan makrositosis pada sel darah merah.
4 Gastrointestinal
Hanya sebagian kecil dari pasien-pasien mempunyai gejala
gastrointestinal,

terutama

penyakit

pada

usus

kecil

yang

berhubungan dengan malabsorpsi. Walaupun hanya 2-4% pasienpasien stomatitis mempunyai penyakit seliak tetapi terdapat 60%
pasien-pasien dengan penyakit seliak yang menderita stomatitis.
Stomatitis dapat dihubungan dengan penyakit Crohn dan colitis
ulseratif.
5 Hormonal
Pada umumnya penyakit stomatitis banyak menyerang wanita,
khususnya terjadi pada fase stress dengan sirkulasi menstruasi.
Dalam sebuah penelitian, ditemukan kadar hormon progesterone
yang lebih rendah dari normal pada penderita RAS sementara kadar
hormone Estradiol, LH, Prolaktin, FSH pada kedua grup adalah normal.
Pada wawancara didapat adanya riwayat anggota keluarga yang
mengalami RAS dibanding bukan penderita RAS. Dari penelitian

tersebut dapat disimpulkan bahwa penderita RAS pada umumnya


mempunyai kadar hormon progesteron yang lebih rendah dari normal
dan ada salah satu keluarganya yang menderita RAS.
Stomatitis dapat berlanjut atau berhenti selama kehamilan dan
karena pada sebagian kecil wanita ulserasi berkembang hanya
selama fase luteal dari siklus menstruasi maka kadang-kadang hal ini
berhubungan dengan adanya perubahan-perubahan pada hormonal.
6 Trauma
Terdapat beberapa fakta yang menunjukkan bahwa trauma pada
bagian rongga mulut dapat menyebabkan stomatitis. Dalam banyak
kasus, trauma ini disebabkan oleh masalahmasalah yang sederhana.
Trauma merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan ulser
terutama pada pasien yang mempunyai kelainan tetapi kebanyakan
stomatitis mempunyai daya perlindungan yang relatif dan mukosa
mastikasi adalah salah satu proteksi yang paling umum.
Faktor lain yang dapat menyebabkan trauma di dalam rongga mulut
meliputi:
a Pemakaian gigi tiruan
Rekuren apthous stomatitis disebabkan oleh pemasangan gigi
palsu. Seringkali, gigitiruan yang dipasang secara tidak tepat
dapat mengiritasi dan melukai jaringan yang ada di dalam
rongga mulut. Masalah yang sama sering pula dialami oleh
orang-orang yang menggunakan gigitiruan kerangka logam.
Logam dapat melukai bagian dalam rongga mulut.
b Trauma makanan
Banyak jenis makanan yang kita makan dapar menggores atau
melukai jaringan-jaringan yang ada di dalam rongga mulut dan
menyebabkan RAS. Contohnya adalah keripik, kue yang
keras,dll.
c Trauma sikat gigi
Beberapa pasien berpikir bahwa ulser terjadi karena trauma
pada mukosa rongga mulut yang disebabkan oleh cara
penggunaan dari sikat gigi yang berlebihan dan cara menyikat

gigi yang salah dapat merusak gigi dan jaringan yang ada
dalam rongga mulut.
d Menggigit bagian dalam mulut
Banyak orang yang menderita luka di dalam mulutnya karena
menggigit bibir dan jaringan lunak yanga da di dalam rongga
mulut secara tidak sengaja. Seringkali, hal ini dapat menjadi
kebiasaan yang tidak disadari atau dapat terjadi selama tidur
dan luka juga disebabkan oleh tergigitnya mukosa ketika
makan dan tertusuk kawat gigi sehingga dapat menimbulkan
ulser yang mengakibatkan RAS. Luka tergigit pada bibir atau
lidah akibat susunan gigi yang tidak teratur.
e Prosedur dental
Prosedur dental dapat mengiritasi jaringan lunak mulut yang
tipis dan menyebabkan terjadinya RAS. Terdapat informasi
bahwa hanya dengan injeksi novacaine dengan jarum dapat
menyebabkan timbulnya RAS beberapa hari setelah dilakukan
penyuntikan.
7 Stres
Banyak orang yang menderita stomatitis menyatakan bahwa
stomatitis yang mereka alami disebabkan oleh stres. Terkadang orang
secara

objektif

menghubungkan

timbulnya

stomatitis

dengan

peningkatan stres.
8 HIV
Stomatitis dapat digunakan sebagai tanda adanya infeksi HIV.
Stomatitis

memiliki frekuensi yang lebih tinggi

pada

keadaan

defisiensi imun seperti yang telah dibahas sebelumnya. Namun


infeksi akibat virus HIV biasanya menunjukkan tanda klinis yang
sangat jelas yaitu kerusakan jaringan yang sudah parah.
9 Kebiasaan merokok
Kelainan stomatitis biasanya terjadi pada pasien yang merokok.
Bahkan dapat terjadi ketika kebiasaan merokok dihentikan.
10. Kondisi Medik
Beberapa kondisi medik yang berbeda juga dapat dihubungkan
dengan

timbulnya

stomatitis.

Untuk

pasien

yang

mengalami

stomatitis yang resisten harus mendapatkan evaluasi dan tes dokter


untuk mengetahui ada tidaknya penyakit sistemik. Beberapa kondisi
medik yang dihubungkan dengan stomatitis yaitu seperti penyakit
Behcet, disfungsi neutrofil, radang usus, dan HIV-AIDS.
11. Pengobatan
Penggunaan obat-obatan anti peradangan, beta

bloker,

kemoterapi, dan nicorandil dilaporkan menjadi salah satu pemicu


timbulnya stomatitis.
12. Infeksi
Fakta bahwa zat-zat kimia seperti pada penggunaan kemoterapi
dan radiasi biasanya dihubungkan dengan bakteri seperti ANUG yang
kaya dengan bacillus fusiformis dsn spirochete, dan virus pada Virus
Herpes Simpleks yang meliputi sitomegalovirus, virus voricella zoster,
Epstein Bar ini ternyata dapat menjadi salah satu penyebab dari
stomatitis.
Berikut ini ada beberapa fakta tentang faktor predisposisi dari
penyebab stomatitis (Tabel 2.1) :
Tabel 2.1. Faktor etiologi stomatitis apthosa rekuren
Faktor Predisposisi
Defisiensi

Fakta
Adanya defisiensi zat besi, asam folat,
vitamin B12, atau B kompleks

Psikologis

Meningkatnya insiden stomatitis pada


populasi mahasiswa menjelang ujian

Trauma

Terbentuknya

ulser

pada

daerah-daerah

setelah bekas terjadinya luka penetrasi


Endokrin

Terbentuknya stomatitis pada fase luteal dari


siklus haid pada beberapa penderita wanita

Alergi

Kenaikan kadar IgE dan keterkaitan antara


beberapa jenis makanan dan timbulnya ulser

Merokok

Pembentukan stomatitis pada perokok yang


dahulunya bebas simtom, ketika kebiasaan
merokok dihentikan

Herediter

Meningkatnya insiden pada anak-anak yang


kedua

orantuanya

menderita

stomatitis,

kesamaan yang tinggi pada anak kembar


Inunologi

Fakta bertentangan, tetapi beberapa informasi


mengenai kadar imunoglobulin abnormal

2.4. GAMBARAN KLINIS


Gambaran klinis SAR penting untuk diketahui karena tidak ada
metode diagnosa laboratoriam spesifik yang dapat dilakukan untuk
menegakkan diagnosa SAR. SAR diawali gejala prodormal yang
digambarkan dengan rasa sakit dan terbakar selama 24-48 jam
sebelum terjadi ulser. Ulser ini menyakitkan, berbatas jelas, dangkal,
bulat atau oval, tertutup selaput pseudomembran kuning keabuabuan, dan dikelilingi pinggiran yang eritematus dan dapat bertahan
untuk beberapa hari atau bulan.
Tahap perkembangan SAR dibagi kepada 4 tahap yaitu:
1) Tahap premonitori, terjadi pada 24 jam pertama perkembangan
lesi SAR. Pada waktu prodromal, pasien akan merasakan sensasi
mulut terbakar pada tempat dimana lesi akan muncul. Secara
mikroskopis sel-sel mononuklear akan menginfeksi epitelium,
dan edema akan mulai berkembang.
2) Tahap pre-ulserasi, terjadi pada

18-72

jam

pertama

perkembangan lesi SAR. Pada tahap ini, makula dan papula


akan berkembang dengan tepi eritematus. Intensitas rasa nyeri
akan meningkat sewaktu tahap pre-ulserasi ini.
3) Tahap ulseratif akan berlanjut selama beberapa hari hingga 2
minggu. Pada tahap ini papula-papula akan berulserasi dan
ulser itu akan diselaputi oleh lapisan fibromembranous yang
akan diikuti oleh intensitas nyeri yang berkurang.
4) Tahap penyembuhan, terjadi pada hari ke - 4 hingga 35. Ulser
tersebut akan ditutupi oleh epitelium. Penyembuhan luka terjadi

dan sering tidak meninggalkan jaringan parut dimana lesi SAR


pernah muncul. Semua lesi SAR menyembuh dan lesi baru
berkembang.
Berdasarkan hal tersebut SAR dibagi menjadi tiga tipe yaitu
stomatitis aftosa rekuren tipe minor, stomatitis aftosa rekuren tipe
mayor, dan stomatitis aftosa rekuren tipe herpetiformis.
1. SAR Tipe Minor
Tipe minor mengenai sebagian besar pasien SAR yaitu 75%
sampai dengan 85% dari keseluruhan SAR, yang ditandai
dengan adanya ulser berbentuk bulat dan oval, dangkal,
dengan diameter 1-10 mm, dan dikelilingi oleh pinggiran yang
eritematous. Ulserasi dari tipe minor cenderung mengenai
daerah-daerah non-keratin, seperti mukosa labial, mukosa bukal
dan dasar mulut. Ulserasi biasa tunggal atau merupakan
kelompok yang terdiri atas 4-5 ulser dan akan sembuh dalam
waktu 10-14 hari tanpa meninggalkan bekas jaringan parut.

Gambar 1. Stomatitis aftosa rekuren tipe minor.


2.

SAR Tipe Mayor


Tipe mayor diderita 10%-15% dari penderita SAR dan lebih
parah dari tipe minor. Ulser biasanya tunggal, berbentuk oval
dan berdiameter sekitar 1-3 cm, berlangsung selama 2 minggu

atau lebih dan dapat terjadi pada bagian mana saja dari mukosa
mulut, termasuk daerah-daerah berkeratin.
Ulser yang besar, dalam serta bertumbuh dengan lambat
biasanya terbentuk dengan bagian tepi yang menonjol serta
eritematous dan mengkilat, yang menunjukkan bahwa terjadi
edema. Selalu meninggalkan jaringan parut setelah sembuh
dan jaringan parut tersebut terjadi karena keparahan dan
lamanya ulser.

Gambar 2. Stomatitis aftosa rekuren tipe mayor.

3. SAR Tipe Herpetiformis


Istilah herpetiformis pada tipe ini dipakai karena bentuk
klinisnya (yang dapat terdiri dari 100 ulser kecil-kecil pada satu
waktu) mirip dengan gingivostomatitis herpetik primer, tetapi
virus-virus herpes tidak mempunyai peran etiologi pada SAR
tipe herpetiformis. SAR tipe herpetiformis jarang terjadi yaitu
sekitar 5%-10% dari kasus SAR. Setiap ulser berbentuk bulat
atau oval, mempunyai diameter 0,5- 3,0 mm dan bila ulser
bergabung bentuknya tidak teratur. Setiap ulser berlangsung
selama satu hingga dua minggu dan tidak akan meninggalkan
jaringan parut ketika sembuh.

Gambar 3. Stomatitis aftosa rekuren tipe herpetiformis.3

Gambar 4. Karateristik gambaran klinis dari stomatitis aftosa


rekuren.
2.5. PATOFISIOLOGI
Pada awal lesi terdapat infiltrasi limfosit yang diikuti oleh kerusakan
epitel dan infiltrasi neutrofil ke dalam jaringan. Sel mononuclear juga
mengelilingi pembuluh darah (perivaskular), tetapi vasculitis tidak
terlihat. Namun, secara keseluruhan terlihat tidak spesifik.
Perjalanan stomatitis aftosa dimulai dari masa prodromal selama 12 hari, berupa panas atau nyeri setempat. Kemudian mukosa berubah
menjadi makula berwarna merah, yang dalam waktu singkat bagian
tengahnya berubah menjadi jaringan nekrotik dengan epitelnya
hilang sehingga terjadi lekukan dangkal. Ulkus akan ditutupi oleh
eksudat fibrin kekuningan yang dapat bertahan selama 10-14 hari.

Bila dasar ulkus berubah warna menjadi merah muda tanpa eksudat
fibrin, menandakan lesi sedang memasuki tahap penyembuhan.
2.6. DIAGNOSIS
Anamnesis dan pemeriksaan klinis yang teliti dari klinisi yang
berpengalaman dapat membedakan jenis stomatitis aftosa, sama
halnya dari penyebab terjadinya ulser rekuren, seperti penyakit
jaringan ikat, reaksi obat-obatan, dan penyakit kulit. Anamnesis harus
ditekankan pada gejala kelainan darah, keluhan-keluhan sistemik, dan
lesi yang berhubungan dengan kulit, mata, genital, atau rektal.
Pemeriksaan laboratorium harus digunakan saat ulser bertambah
parah atau terjadi pada usia di atas 25 tahun. Biopsi hanya dilakukan
untuk menunjang kesembuhan penyakit lain yang menyertainya,
khususnya penyakit granulomatosa seperti Chrons disease atau
sarcoidosis.
Pasien

dengan

ulser

minor

atau

mayor

yang

parah

harus

mengetahui faktor penyebab yang diperiksa, termasuk penyakit


jaringan ikat dan kadar abnormal zat besi, folat, vitamin B12, dan
ferritin. Pasien dengan kelainan tersebut harus dirujuk ke bagian
penyakit dalam untuk penanganan gangguan absorpsi atau terapi
pengganti yang tepat. Klinisi juga harus dapat memutuskan makanan
apa yang membuat alergi atau sensitif terhadap gluten yang
ditemukan pada kasus-kasus dimana lesi parah dan resisten terhadap
terapi lain. Pasien dengan infeksi HIV, khususnya mereka dengan
kadar CD4 di bawah 100/mm3, dapat menderita ulser aftosa mayor.
2.7. DIFERENSIAL DIAGNOSIS
Diagnosa banding dari RAS adalah Traumatic ulcer, Behets
syndrome, recurrent HSV infection, recurrent erythema multiforme.
1 Traumatic ulser

Lesi SAR berbentuk bulat atau oval, sedangkan traumatic ulcer


irregular. SAR biasanya mengenai mukosa non keratin seperti mukosa
bukal dan labial, sedangkan traumatic ulcer bisa mengenai palatum,
gingiva, dan lidah. Persamaannya dengan SAR adalah etiologinya
yaitu trauma pada mukosa.
2 Behcets Syndrome
Behets Syndrome, ditemukan oleh dermatologis Turki Hulsi
Behet, secara klasik digambarkan sebagai trias gejala yang meliputi
ulser oral rekuren, ulser genital rekuren, dan lesi mata. Behets
syndrome disebabkan oleh imunokompleks yang mengarah pada
vasculitis dari pembuluh darah kecil dan sedang dan inflamasi dari
epitel yang disebabkan oleh limfosit T dan plasma sel yang
imunokompeten. Lesi tunggal yang paling umum terjadi pada
Behets syndrome terjadi di mukosa oral. Ulser oral rekuren muncul
pada lebih dari 90% pasien; lesi ini tidak dapat dibedakan dari RAS.
Beberapa pasien memiliki riwayat lesi oral ringan yang rekuren;
beberapa pasien lainnya memiliki lesi yang besar dan dalam serta
meninggalkan jaringan parut yang mirip dengan lesi RAS mayor.
3 Recurrent HSV infection
Infeksi herpes rekuren dalam rongga mulut (recurrent herpes
labialis [RHL]; recurrent intraoral herpes simplex infection [RIH])
muncul pada pasien yang pernah terinfeksi herpes simpleks dan
memiliki serum antibodi untuk melawan infeksi eksogen primer.
Herpes rekuren bukan merupakan infeksi berulang melainkan reaktivasi virus yang menjadi laten dalam jaringan saraf antara
episode-episode dan masa replikasi. Herpes simpleks dapat dikultur
dari ganglion trigeminal pada jasad manusia, dan lesi herpes rekuren
bisaanya muncul setelah pembedahan yang melibatkan ganglion
tersebut. Herpes rekuren dapat juga diaktivasi oleh trauma pada bibir,
demam, sinar matahari, imunosupresan, dan menstruasi. Virus

berjalan ke bawah menuju batang saraf untuk menginfeksi sel epitel,


menyebar dari sel ke sel dan menyebabkan lesi.
4 Recurrent erythema multiforme
Erythema multiforme (EM) adalah penyakit inflamasi akut pada
kulit dan membran mukosa yang menyebabkan berbagai macam lesi
kulit-karenanya dinamakan multiforme. Lesi pada mulut pada
umumnya adalah inflamasi yang dibarengi vesikel dan bulla yang
ruptur dengan cepat dan bisanya adalah komponen penting dari
gambaran khas dan seringkali adalah satu-satunya komponen.
Erythema multiforme dapat terjadi sekali atau kambuh an harus
dipertimbangkan dalam diagnosa multiple acute oral ulcers, ada atau
tidaknya riwayat dari lesi yang sama.
2.8. PENANGANAN STOMATITIS
Terapi stomatitis aftosa rekuren tidak memuaskan dan tidak ada
yang pasti. Terapi dilakukan secara siptomatik. Telah banyak obat
yang dicoba menanggulangi stomatitis namun tidak ada yang efektif.
Penatalaksanaan

stomatitis

aftosa

rekuren

ditujukan

untuk

mengurangi rasa sakit, atau mencegah timbulnya lesi baru. Rasa


sakit dapat dikurangi dengan cara menghindari makanan yang
berbumbu, asam, atau minuman beralkohol. Anastetikum topikal
merupakan obat yang umumnya digunakan dalam pengobatan
stomatitis.

Pengolesan

anastetikum

sebelum

makan

dapat

mengurangi rasa sakit.


Faktor predisposisi yang berperan perlu ditelusuri agar dapat
meringankan penderitaan pasien. Tujuan dari pengobatan adalah
untuk meringankan penderitaan pasien yang harus berdampingan
engan ulserasi sepanjang hidupnya. Pasien perlu diyakinkan bahwa
stomatitis aftosa rekuren bukan suatu penyakit yang berbahaya
walaupun

merepotkan.

Dengan

adanya

keyakinan

tersebut

kemungkinan tidak diperlukan pengobatan sistemik, covering agent


atau kumur antiseptik.
Masa

perjalanan

dapat

dipersingkat

dengan

pemberian

kortikosteroid topikal, seperti triamcinolone acetonide 0,1% dalam


orabase yang bersifat adesif. Contoh lain adalah fluocinonide gel yang
lebih kuat dan rasanya lebih enak. Obat dioleskan pada ulserasi 48
kali sehari. Untuk lesi yang parah dapat diberikan kortikosteroid
sistemik.

Lesi

akan

segera

sembuh

sehingga

memperpendek

perjalanan lesi selama obat digunakan. Penggunaan secara sistemik


perlu berhatihati karena apabila terlalu lama digunakan dapat
menimbulkan efek samping. Beberapa ahli ada yang mencoba
tetrasiklin yang dipakai secara topikal atau sistemik. Penggunaan
secara topikal dilakukan dengan melarutkan obat dalam 30 mL air
dan digunakan sebagai obat kumur.
Obatobat

sistemik

seperti

levamisole,

inhibitor

monoamine

oksidase, thalidomide atau dapsone digunakan untuk penderita yang


sering mengalami ulserasi oral yang serius. Tetapi, penggunaan obat
obat ini harus dipertimbangkan efektifitas serta efek sampingnya.
Untuk pasien dengan gangguan hematologi maka terapi yang
diberikan kepada pasien anemia karena kekurangan zat besi adalah
tablet zat besi yang berisi ferrous sulfate, ferrous gluconate, dan
ferrous fumarate yang diberikan peroral. Respon tubuh pada terapi
biasanya cepat, sel darah merah akan kembali normal setelah 1-2
bulan. Oleh sebab itu pasien diberikan sulemen yang berisi zat besi
2x1 sehari yang diminum selama dua minggu.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa lidah buaya memiliki
khasiat bagi kesehatan terutama untuk mukosa mulut antara lain
sebagai analgesik, antiseptik, dan antiinflamasi karena bahan yang
terkandung antara lain aloktin A dan asam salisilat.

Anda mungkin juga menyukai