Anda di halaman 1dari 19

GANGGUAN MOBILITAS FISIK

1. Definisi
a. Mobilisasi
Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang
(Ansari, 2011).
Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah
dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan
kesehatannya (Aziz AA, 2006)
Gangguan Mobilitas fisik yaitu keadaan keika tseseorang mengalami atau bahkan beresiko
mengalami keterbatasan fisik dan bukan merupakan immobile (Doenges, M.E, 2000)
Gangguan mobilitas fisik (immobilisasi) didefinisikan oleh North American Nursing Diagnosis
Association (NANDA) sebagai suatu kedaaan dimana individu yangmengalami atau beresiko
mengalami keterbatsan gerakan fisik. Individu yang mengalami atau beresiko mengalami
keterbatasan gerakan fisik antara lain : lansia, individu dengan penyakit yang mengalami
penurunan kesadaran lebih dari 3 hari atau lebih, individu yang kehilangan fungsi anatomic
akibat perubahan fisiologik (kehilangan fungsi motorik,klien dengan stroke, klien penggunaa
kursi roda), penggunaan alat eksternal (seperti gipsatau traksi), dan pembatasan gerakan
volunteer (Potter, 2005).
2.

Tujuan Mobilisasi
Memenuhi kebutuhan dasar manusia
Mencegah terjadinya trauma
Mempertahankan tingkat kesehatan
Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari - hari
Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh

3.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
4.
a.
1)

Batasan karakteristik
Ketidakmampuan untuk bergerak dengan tujuan di dalam lingkungan, termasuk mobilitas di
tempat tidur, berpindah dan ambulasi.
Keengganan untuk melakukan pergerakan.
Keterbatasan rentang gerak.
Penurunan kekuatan, pengendalian, atau masa otot.
Mengalami pembatasan pergerakan, termasuk protocol-protokol mekanis dan medis
Gangguan koordinasi
Jenis Mobilitas
Jenis Mobilitas :
Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas
sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari. Mobilitas

2)

b.
1)

2)

3)

penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunteer dan sensorik untuk dapat mengontrol
seluruh area tubuh seseorang.
Mobilitas sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan jelas
dan tidak mam.pu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan
sesnsorik pada area tubuhnya. Mobilitas sebagian ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a) Mobilitas sebagian temporer, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan
batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma reversibel
pada system musculoskeletal, contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang.
b) Mobilitas permanen, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan
yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya system saraf yang
reversibel, contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi karena cedera
tulang belakang, poliomilitis karena terganggunya system saraf motorik dan sensorik.
Rentang Gerak dalam mobilisasi
Dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :
Rentang gerak pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan
menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan
kaki pasien.
Rentang gerak aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan
otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya.
Rentang gerak fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan

5. Etiologi
a. Penyebab
Kelainan postur
Gangguan perkembangan otot
Kerusakan system saraf pusat
Trauma lanngsung pada system mukuloskeletal dan neuromuscular
Kekakuan otot
6.

Patofisiologi
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot,
skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur gerakan tulang
karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem
pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik. Pada kontraksi isotonik,
peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. Kontraksi isometrik menyebabkan

peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari
otot. Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik. Meskipun
kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot memendek, namun pemakaian energi meningkat.
Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan
tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan pengaturan
dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari otot yang berlawanan,
sinergis, dan otot yang melawan gravitasi. Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot
yang seimbang.
Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang
bergantian melalui kerja otot. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh dan
mendukung kembalinya aliran darah ke jantung.
7. Tanda Dan Gejala
8. Komplikasi
9. Pemeriksaan Penunjang
b. Pemeriksaan Penunjang
Sinar X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan perubahan hubungan tulang.
CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena
dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera ligament atau tendon. Digunakan
untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang didaerah yang sulit dievaluasi.
MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus, noninvasive, yang
menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan computer untuk memperlihatkan
abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak melalui tulang. Dll.
Pemeriksaan Laboratorium:
Hb pada trauma, Ca pada imobilisasi lama, Alkali Fospat , kreatinin dan SGOT pada
kerusakan otot.

11.
a.
1)
a)
b)

Penatalaksanaan Medis
Terapi
Penatalaksana Umum
Kerjasama tim medis interdisiplin dengan partisipasi pasien, keluarga, dan pramuwerdha.
Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah baring lama, pentingnya latihan
bertahap dan ambulasi dini, serta mencegah ketergantungan pasien dengan melakukan
aktivitas kehidupan sehari-hari sendiri, semampu pasien.
c) Dilakukan pengkajian geriatri paripurna, perumusan target fungsional, dan pembuatan
rencana terapi yang mencakup pula perkiraan waktu yang diperlukan untuk mencapai target
terapi.

d)

Temu dan kenali tatalaksana infeksi, malnutrisi, anemia, gangguan cairan dan elektrolit yang
mungkin terjadi pada kasus imobilisasi, serta penyakit/ kondisi penyetara lainnya.
e) Evaluasi seluruh obat-obatan yang dikonsumsi; obat-obatan yang dapat menyebabkan
kelemahan atau kelelahan harus diturunkan dosisnya atau dihentkan bila memungkinkan.
f) Berikan nutrisi yang adekuat, asupan cairan dan makanan yang mengandung serat, serta
suplementasi vitamin dan mineral.
g) Program latihan dan remobilisasi dimulai ketika kestabilan kondisi medis terjadi meliputi
latihan mobilitas di tempat tidur, latihan gerak sendi (pasif, aktif, dan aktif dengan bantuan),
latihan penguat otot-otot (isotonik, isometrik, isokinetik), latihan koordinasi/ keseimbangan,
dan ambulasi terbatas.
h) Bila diperlukan, sediakan dan ajarkan cara penggunaan alat-alat bantu berdiri dan ambulasi.
i) Manajemen miksi dan defekasi, termasuk penggunaan komod atau toilet.
b.
1)

2)

3)

4)

5)

Penatalaksanaan lain yaitu:


Pengaturan Posisi Tubuh sesuai Kebutuhan Pasien
Pengaturan posisi dalam mengatasi masalah kebutuhan mobilitas, digunakan untuk
meningkatkan kekuatan, ketahanan otot, dan fleksibilitas sendi. Posisi-posisi tersebut, yaitu :
a) Posisi fowler (setengah duduk)
b) Posisi litotomi
c) Posisi dorsal recumbent
d) Posisi supinasi (terlentang)
e) Posisi pronasi (tengkurap)
f) Posisi lateral (miring)
g) Posisi sim
h) Posisi trendelenbeg (kepala lebih rendah dari kaki)
Ambulasi dini
Cara ini adalah salah satu tindakan yang dapat meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot
serta meningkatkan fungsi kardiovaskular.. Tindakan ini bisa dilakukan dengan cara melatih
posisi duduk di tempat tidur, turun dari tempat tidur, bergerak ke kursi roda, dan lain-lain.
Melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri juga dilakukan untuk melatih kekuatan,
ketahanan, kemampuan sendi agar mudah bergerak, serta meningkatkan fungsi
kardiovaskular.
Latihan isotonik dan isometrik
Latihan ini juga dapat dilakukan untuk melatih kekuatan dan ketahanan otot dengan cara
mengangkat beban ringan, lalu beban yang berat. Latihan isotonik (dynamic exercise) dapat
dilakukan dengan rentang gerak (ROM) secara aktif, sedangkan latihan isometrik (static
exercise) dapat dilakukan dengan meningkatkan curah jantung dan denyut nadi.
Latihan ROM Pasif dan Aktif

Latihan ini baik ROM aktif maupun pasif merupakan tindakan pelatihan untuk mengurangi
kekakuan pada sendi dan kelemahan otot.
Latihan-latihan itu, yaitu :
a) Fleksi dan ekstensi pergelangan tangan
b) Fleksi dan ekstensi siku
c) Pronasi dan supinasi lengan bawah
d) Pronasi fleksi bahu
e) Abduksi dan adduksi
f) Rotasi bahu
g) Fleksi dan ekstensi jari-jari
h) Infersi dan efersi kaki
i) Fleksi dan ekstensi pergelangan kaki
j) Fleksi dan ekstensi lutut
k) Rotasi pangkal paha
l) Abduksi dan adduksi pangkal paha
6) Latihan Napas Dalam dan Batuk Efektif
Latihan ini dilakukan untuk meningkatkan fungsi respirasi sebagai dampak terjadinya
imobilitas.
7) Melakukan Postural Drainase
Postural drainase merupakan cara klasik untuk mengeluarkan sekret dari paru dengan
menggunakan gaya berat (gravitasi) dari sekret itu sendiri. Postural drainase dilakukan untuk
mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran napas tetapi juga mempercepat pengeluaran
sekret sehingga tidak terjadi atelektasis, sehingga dapat meningkatkan fungsi respirasi. Pada
penderita dengan produksi sputum yang banyak, postural drainase lebih efektif bila diikuti
dengan perkusi dan vibrasi dada.
8) Melakukan komunikasi terapeutik
Cara ini dilakukan untuk memperbaiki gangguan psikologis yaitu dengan cara berbagi
perasaan dengan pasien, membantu pasien untuk mengekspresikan kecemasannya,
memberikan dukungan moril, dan lain-lain.
12. Pengkajian Keperawatan
a. Aspek biologis
1) Usia.
Faktor usia berpengaruh terhadap kemampuan melakukan aktifitas, terkait dengan kekuatan
muskuloskeletal. Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah postur tubuh yang sesuai dengan
tahap pekembangan individu.
2) Riwayat keperawatan.

Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah riwayat adanya gangguan pada sistem
muskuloskeletal, ketergantungan terhadap orang lain dalam melakukan aktivitas, jenis latihan
atau olahraga yang sering dilakukan klien dan lain-lain.
3) Pemeriksaan fisik, meliputi rentang gerak, kekuatan otot, sikap tubuh, dan dampak
imobilisasi terhadap sistem tubuh.
b. Aspek psikologis
Aspek psikologis yang perlu dikaji di antaranya adalah bagaimana respons psikologis klien
terhadap masalah gangguan aktivitas yang dialaminya, mekanisme koping yang digunakan
klien dalam menghadapi gangguan aktivitas dan lain-lain.
c. Aspek sosial kultural
Pengkajian pada aspek sosial kultural ini dilakukan untuk mengidentifikasi dampak yang
terjadi akibat gangguan aktifitas yang dialami klien terhadap kehidupan sosialnya, misalnya
bagaimana pengaruhnya terhadap pekerjaan, peran diri baik dirumah, kantor maupun sosial
dan lain-lain
d. Aspek spiritual
Hal yang perlu dikaji pada aspek ini adalah bagaimana keyakinan dan nilai yang dianut klien
dengan kondisi kesehatan yang dialaminya sekarang, seperti apakah klien menunjukan
keputusasaannya? Bagaimana pelaksanaan ibadah klien dengan keterbatasan kemampuan
fisiknya? Dan lain-lain (Asmadi, 2008).
e. Kemunduran musculoskeletal
Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system musculoskeletal adalah penurunan
tonus, kekuatan, ukuran, dan ketahanan otot; rentang gerak sendi; dan kekuatan skeletal.
Pengkajian fungsi secara periodik dapat digunakan untuk memantau perubahan dan
keefektifan intervensi.
f. Kemunduran kardiovaskuler
Tanda dan gejala kardivaskuler tidak memberikan bukti langsung atau meyaknkan tentang
perkembangan komplikasi imobilitas. Hanya sedikit petunjuk diagnostic yang dapat
diandalkan pada pembentukan trombosis. Tanda-tanda tromboflebitis meliputi eritema,
edema, nyeri tekan dan tanda homans positif. Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu
gerakan untuk berdiri tegak seperti gejala peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan
darah, pucat, tremor tangan, berkeringat, kesulitandalam mengikuti perintah dan sinkop
g. Kemunduran Respirasi
Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala atelektasis dan pneumonia.
Tanda-tanda awal meliputi peningkatan temperature dan denyut jantung. Perubahanperubahan dalam pergerakan dada, perkusi, bunyi napas, dan gas arteri mengindikasikan
adanaya perluasan dan beratnya kondisi yang terjadi.
h. Perubahan-perubahan integument

i.

j.

k.

13.
a.
b.
c.
d.

Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang pertama adalah reaksi inflamasi. Perubahan
awal terlihat pada permukaan kulit sebagai daerah eritema yang tidak teratur dan
didefinisikan sangat buruk di atas tonjolan tulang yang tidak hilang dalam waktu 3 menit
setelah tekanan dihilangkan
Perubahan-perubahan fungsi urinaria
Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-tanda fisik berupa berkemih
sedikit dan sering, distensi abdomen bagian bawah, dan batas kandung kemih yang dapat
diraba. Gejala-gejala kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk berkemih
dan tekanan atau nyeri pada abdomen bagian bawah
Perubahan-perubahan Gastrointestinal
Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah,
rasa penuh, tekanan. Pengosonganh rectum yang tidak sempurna, anoreksia, mual gelisah,
depresi mental, iritabilitas, kelemahan, dan sakit kepala.
Faktor-faktor lingkungan
Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk intervensi. Di dalam rumah, kamar
mandi tanpa pegangan, karpet yang lepas, penerangan yang tidak adekuat, tangga yang tinggi,
lantai licin, dan tempat duduk toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas klien.
Hambatan-hambatan institusional terhadap mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang,
tempat tidudan posisi yang tinggi, dan cairan pada lantai. Identifikasi dan penghilangan
hambatan-hambatan yang potensial dapat meningkatakan mobilitas
Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
Gangguan mobilitas fisik
Nyeri akut
Intoleransi aktivitas
Defisit perawatan diri (Tarwoto & Wartonah, 2003)

RENCANA KEPERAWATAN
NO
DX
1

DIANGOSA
KEPERAWATAN DAN
TUJUAN (NOC)
KOLABORASI
Gangguan mobilitas fisikSetelah dilakukan asuhan keperawatanLatihan Kekuatan
berhubungan
selama ...x 24 jam klien menunjukkan:
Ajarkan dan berikan doron
dengan Kerusakan
sensoriMampu mandiri total
secara rutin
persepsi.
Membutuhkan alat bantu

Membutuhkan bantuan orang lain


Latihan untuk ambulasi
Membutuhkan bantuan orang lain dan alat Ajarkan teknik Ambulasi
keluarga.
Tergantung total
Sediakan
alat bantu untuk k
Dalam hal :
Beri penguatan positif untuk
Penampilan posisi tubuh yang benar
Pergerakan sendi dan otot
Melakukan perpindahan/ ambulasi : miringLatihan mobilisasi denga
Ajarkan pada klien & kel
kanan-kiri, berjalan, kursi roda
berpindah dari kursi roda k
Dorong klien melakukan lat
Ajarkan pada klien/ keluarg

Latihan Keseimbangan
Ajarkan pada klien & kelua
menjaga keseimbangan sel

Perbaikan Posisi Tubuh y


Ajarkan pada klien/ kelua
untuk menghindari kelelah
Kolaborasi ke ahli terapi fis
2

Nyeri akut berhubunganSetelah dilakukan Asuhan keperawatan


Pain Management
dengan cedera fisik
selama . x 24 jam:
Lakukan pengkajian nyeri s
Pain Level,
durasi, frekuensi, kualitas d
Pain control,
Observasi reaksi nonverbal d
Comfort level
Gunakan teknik komunikas
Kriteria Hasil :
Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab pasien
Evaluasi pengalaman nyeri m
nyeri,
mampu
menggunakan
tehnik
Evaluasi bersama pasien dan
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri,
mencari bantuan)
nyeri masa lampau
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan
Bantu pasien dan keluarga u
menggunakan manajemen nyeri
Kurangi faktor presipitasi ny
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas,
Ajarkan tentang teknik non f
frekuensi dan tanda nyeri)
Evaluasi keefektifan kontrol
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri
Tingkatkan istirahat
berkurang
Kolaborasikan dengan dokte
Tanda vital dalam rentang normal
Monitor penerimaan pasien t

Intoleransi
aktivitasSetelah dilakukan Asuhan keperawatanManagemen Energi
berhubungan
selama . x 24 jam :
Tentukan penyebab keletiha
denganKelemahan umum
Klien mampu mengidentifikasi aktifitas danKaji respon emosi, sosial da
situasi yang menimbulkan kecemasan yangEvaluasi motivasi dan keing
berkonstribusi pada intoleransi aktifitas.
Monitor respon kardiorespi
Klien mampu berpartisipasi dalam aktifitasdiaforesis, pucat.
fisik tanpa disertai peningkatan TD, N, RRMonitor asupan nutrisi untu
dan perubahan ECG
Monitor respon terhadap p
Klien
mengungkapkan
secara
verbal,Respirasi terhadap aktifitas

pemahaman tentang kebutuhan oksigen,Letakkan benda-benda ya


pengobatan dan atau alat yang dapatdijangkau
meningkatkan toleransi terhadap aktifitas. Kelola energi pada klien
Klien mampu berpartisipasi dalam perawatankenyamanan / digendong u
diri tanpa bantuan atau dengan bantuanKaji pola istirahat klien dan
minimal tanpa menunjukkan kelelahan
Terapi Aktivitas
Bantu klien melakukan amb
Rencanakan jadwal antara a
Bantu dengan aktifitas f
perawatan personal, sesuai
Minimalkan anxietas dan st
Kolaborasi dengan medis un
4

Defisit
perawatan
berhubungan
dengan Kerusakan
neurovaskuler

diriSetelah dilakukan asuhan keperawatanBantuan Perawatan Dir


selama... x24 jm
kulit
Klien mampu :
Kaji kebersihan kulit, kuku,
Melakukan ADL mandiri : mandi, hygieneBantu klien untuk mandi, ta
mulut
,kuku,
penis/vulva,
rambut,gigi dan mulut, perineal da
berpakaian,
toileting,
makan-minum,Anjurkan klien dan keluar
ambulasi
dan bila perlu
Mandi sendiri atau dengan bantuan tanpaKolaborasi dgn Tim Med
kecemasan
mukosa mulut, dan ganggu
Terbebas dari bau badan dan mempertahankan
kulit utuh
Bantuan perawatan diri :
Mempertahankan kebersihan area perineal danKaji dan dukung kemampua
anus
Ganti pakaian klien setelah
Berpakaian dan melepaskan pakaian sendiri yang sakit/ terbatas terlebih
Melakukan keramas, bersisir, bercukur,Berikan terapi untuk m
membersihkan kuku, berdandan
berpakaian sesuai indikasi
Makan dan minum sendiri, meminta bantuan
bila perlu
Bantuan perawatan diri :
Mengosongkan kandung kemih dan bowel Kaji kemampuan klien untu
Fasilitasi alat bantu yg mud
Dampingi dan dorong kelua

Bantuan Perawatan Diri:


Kaji kemampuan toileting:
untuk toileting), fisik (kele
Ciptakan lingkungan yang
jaga privasi selama toiletin
Sediakan alat bantu (pispot,
Ajarkan pada klien dan kelu

DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. 2008. Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta : Salemba Medika.
Perry & Potter. 2006. Buku ajar fundal mental keperawatan konsep, proses dan praktik. Edisi 4. Jakarta
: EGC.
Tarwoto & Wartonah, 2003. Kebutuhan dasar manusia & proses keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku saku diagnosa keperawatan dengan intervensi NIC dan kriteria hasil
NOC. Jakarta : EGC.
Kushariyadi. 2010. Askep pada Klien Lanjut Usia. Jakarta: Salemba Medika
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New Jersey:
Upper Saddle River
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika

ASKEP LANSIA DENGAN MASALAH MOBILISASI, RESIKO JATUH


A. Pengkajian
1. Aktivitas/Istirahat:
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres pada sendi; kekakuan pada
pagi

hari,

biasanya

terjadi

bilateral

dan

simetris.

Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan,
keletihan.
Tanda :Malaise, keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit, kontraktor/ kelaianan pada sendi.
2.
Kardiovaskular:
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten, sianosis, kemudian kemerahan
pada jari sebelum warna kembali normal).
3.
Integritas Ego:
Gejala : Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor
hubungan, keputusan dan ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan ), ancaman pada
konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada orang lain).
4. Makanan/Cairan:
Gejala ; Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat: mual,
anoreksia, kesulitan untuk mengunyah.
Tanda : Penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa.
5. Hygiene:
Gejala :
Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi,
6.
7.
Gejala :
8.
Gejala :

ketergantungan.
Neurosensori:
Gejala :
Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan.
Tanda :
Pembengkakan sendi simetris.
Nyeri/Kenyamanan:
Fase akut dari nyeri ( mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan lunak pada sendi ).
Keamanan:
Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, Lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan dalam ringan dalam
menangani tugas/ pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap Kekeringan pada

9.

mata dan membran mukosa.


Interaksi Sosial:
Gejala :
Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain; perubahan peran;
isolasi.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.

Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan intoleransi aktivitas

2.

Gangguan nyaman nyeri yang berhubungan dengan penyakit rematik seperti pengapuran
tulang atau patah tulang.

3.

Resiko terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan fraktur, pemasangan
traksi pen, imobilitas fisik.

C. INTERVENSI
1. Diagnosa keperawatan; Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan intoleransi
aktivitas, resiko tinggi sindrom disuse
Tujuan atau kriteria hasil yang diharapkan:
1.

Klien mampertahankan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal dan fleksibilitas


sendi-sendi

2.

Klien mampu mempertahankan posisi fungsi, dibuktikan oleh tidak adanya kontraktur
Intervensi keperawatan
Rasional
Observasi tanda dan gejala penurunan Memberikan informasi sebagai dasar
mobilitas sendi, dan kehilangan ketahanan dan pengawasan keefektifan intervensi
Observasi status respirasi dan fungsi
Memberikan informasi tentang status
jantung klien
respirasi dan fungsi jantung klien
Observasi lingkungan terhadap bahaya- Mencegah risiko cedera pada lansia
bahaya keamanan yang potensial. Ubah
Meningkatkan harga diri: meningkatkan
lingkungan untuk menurunkan bahayarasa kontrol dan kemandirian klien
bahaya keamanan
Ajarkan tentang tujuan dan pentingnya Membantu perawatan diri dan
kemandirian pasien
latiha
Ajarkan penggunaan alat-alat bantu yang
tepat

1. Diagnosa keperawatan: Gangguan nyaman nyeri yang berhubungan dengan penyakit rematik
seperti pengapuran tulang atau patah tulang.
Tujuan atau kriteria hasil yang diharapkan:
1.

Klien menyatakan nyeri terkontrol

2.

Klien mampu membatasi fungsi posisi dengan pembatasan kontraktur

3.

Klien mampu mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi kompensasi tubuh

4.

Klien mampu mendemonstrasikan tehnik atau prilaku yang memungkinkan melakukan


aktifitas
1.
2.

3.

Interfensi keperawatan
Evaluasi atau lanjutkan pemantauan
tingkat inflamasi atau rasa sakit pada sendi.
Bantu dan ajari keluarga klien untuk
pertahankan istirahat tirah baring atau
duduk jika diperlukan, jadwal aktifitas
untuk memberikan periode istirahat yang
terus menerus dan tidur dimalam hari yang
tidak terganggu.
Bantu dan ajari keluarga dengan rentang
gerak aktifatau pasif, demikian juga latihan

Rasional
Tingkat aktifitas atau latihan tergantung dari
perkembangan atau resolusi dari proses
inflamasi
Istirahat sistemik dianjurkan selama
eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit
yang penting untuk mencegah kelelahan dan
mempertahankan kekuatan
Mempertahankan atau menigkatkan fungsi

4.

5.
6.

resistif dan isometric jika memungkinkan.


Ajari klien dan keluarga ubah posisi
dengan sering dengan personel cukup serta
demonstrasikan atau bantu tehnik
pemindahan dan penggunaan bantuan
mobilitas, mis: trapeze
Dorong klien mempertahankan postur tegak
dan duduk tinggi, berdiri, berjalan.
Ajarkan keluarga untuk memberikan
lingkungan yang aman, mis: menaikkan
kursi atau kloset, menggunakan pegangan
tangga pada bak atau pancuran dan toilet,
penggunaan alat bantu mobilitas atau kursi
roda

sendi, kekuatan otot dan stamina umum.


Catatan: latihan yang tidak adekuat dapat
menyebabkan kekakuan sendi
Menghilangkan tekanan pada jaringan dan
meningkatkan sirkulasi, tehnik pemindahan
yang tepat dapat mencegah robekan abrasi
kulit
Memaksimalkan fungsi sendi,
mempertahankan mobilitas
Menghindari cedera akibat kecelakaan atau
jatuh

2. Diagnosa keperawatan: Resiko terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan
fraktur, pemasangan traksi pen, imobilitas fisik
Tujuan atau kriteria hasil yang diharapkan:
1.
Klien menyatakan ketidaknyamanan hilang
2. Klien menunjukkan perilaku untuk mencegah kerusakan kulit atau memudahkan
penyembuhan sesuai indikasi
3.
Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu atau penyembuhan lesi terjadi
Intervensi keperawatan
Rasional
1. Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit
kemerahan , perdarahan, perubahan warna, dan pembentukan edema yang membutuhkan
kelabu, memutih.
intervensi medik lanjut
2. Ajarkan keluarga lansia agar mengubah
Mengurangi tekanan konstan pada area yang
posisi sesering mungkin.
sama dam meminimalkan ressiko kerusakan
3. Ajarkan keluarga lansia agar sesering
kulit Menurunkan kadar kontaminasi kulit
mungkin membersihkan kulit dengan air
Mencegah cedera pada bagian tubuh lain
sabun hangat.
Mencegah tekanan berlebihan pada kulit,
4. Tekuk ujung kawat atau tutup ujung kawat
meningkatkan eaporasi kelembapan yang
atau pen dengan karett atau gabus
menurunkan resiko ekskoriasi
pelindung atau tutup jarum
5. Ajarkan keluarga agar memberikan
bantalan atau pelindung dari kulit domba
atau busa.

a.
1)

Pemeriksaan Fisik
Mengkaji skelet tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor tulang.
Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis.
Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya
menandakan adanya patah tulang.
2) Mengkaji tulang belakang
Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang)

Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada)


Lordosis (membebek, kurvatura tulang belakang bagian pinggang berlebihan)
3)

Mengkaji system persendian


Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan,
adanya kekakuan sendi
4) Mengkaji system otot
Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan ukuran masing-masing otot.
Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya edema atau atropfi, nyeri otot.
5) Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu ekstremitas lebih
pendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologist yang berhubungan dengan cara berjalan
abnormal (mis.cara berjalan spastic hemiparesis - stroke, cara berjalan selangkah-selangkah
penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar penyakit Parkinson).
6) Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari lainnya
dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu
dan waktu pengisian kapiler.
7) Mengkaji fungsional klien
Kategori tingkat kemampuan aktivitas
TINGKAT
AKTIVITAS/ MOBILITAS

KATEGORI

Mampu merawat sendiri secara penuh

Memerlukan penggunaan alat

Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain

Memerlukan bantuan, pengawasan orang lain, dan


peralatan

Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau


berpartisipasi dalam perawatan

Rentang gerak (range of motion-ROM)


GERAK SENDI

DERAJAT RENTANG
NORMAL

Bahu

Adduksi: gerakan lengan ke lateral dari


posisi samping ke atas kepala, telapak
tangan menghadap ke posisi yang paling
jauh.

180

Siku

Fleksi: angkat lengan bawah ke arah


depan dan ke arah atas menuju bahu.

150

Pergelangan Fleksi: tekuk jari-jari tangan ke arah


tangan
bagian dalam lengan bawah.

80-90

Ekstensi: luruskan pergelangan tangan


dari posisi fleksi

80-90

Hiperekstensi: tekuk jari-jari tangan ke


arah belakang sejauh mungkin

70-90

Abduksi: tekuk pergelangan tangan ke


sisi ibu jari ketika telapak tangan
menghadap ke atas.

0-20

Adduksi: tekuk pergelangan tangan ke


arah
kelingking
telapak
tangan
menghadap ke atas.

30-50

Tangan dan Fleksi: buat kepalan tangan


jari
Ekstensi: luruskan jari

90
90

Hiperekstensi: tekuk jari-jari tangan ke


belakang sejauh mungkin

30

Abduksi: kembangkan jari tangan

20

Adduksi: rapatkan jari-jari tangan dari


posisi abduksi

20

Derajat kekuatan otot


SKALA

PERSENTASE KEKUATAN
NORMAL (%)

Paralisis sempurna

10

Tidak ada gerakan, kontraksi otot dapat di


palpasi atau dilihat

25

Gerakan otot penuh melawan gravitasi


dengan topangan

50

Gerakan yang normal melawan gravitasi

75

Gerakan penuh yang normal melawan


gravitasi dan melawan tahanan minimal

100

Kekuatan normal, gerakan penuh yang


normal melawan gravitasi dan tahanan
penuh

KARAKTERISTIK

KATZ INDEX
AKTIVITAS

KEMANDIRIAN

KETERGANTUNGAN

(1 poin)

(0 poin)

TIDAK ADA pemantauan, perintahDengan pemantauan,


ataupun didampingi

pendampingan

perintah,

personal

atau

perawatan total
MANDI

(1 poin)

(0 poin)

Sanggup mandi sendiri tanpa bantuan,Mandi dengan bantuan lebih dari satu
atau hanya memerlukan bantuan padabagian tuguh, masuk dan keluar kamar
bagian

tubuh tertentu (punggung, mandi. Dimandikan dengan bantuan

genital, atau ekstermitas lumpuh)

total

BERPAKAIAN (1 poin)

(0 poin)

Berpakaian lengkap mandiri. Bisa jadiMembutuhkan


membutuhkan bantuan unutk memakaiberpakaian,

TOILETING

(1 poin)

(0 poin)
ke

kamar
pakaian,

kecil

dalam
baju

(toilet),Butuh bantuan menuju dan keluar

membersihkantoilet, membersihkan

genital tanpa bantuan

menggunakan telepon

(1 poin)

(0 poin)

sendiri

atau

Masuk dan bangun dari tempat tidur / Butuh bantuan dalam berpindah dari
kursi

tanpa

bantuan.

Alat

bantutempat tidur ke kursi, atau dibantu

berpindah posisi bisa diterima

total

KONTINENSIA (1 poin)
Mampu

MAKAN

dipakaikan

secara keseluruhan

mengganti

POSISI

atau

sepatu

Mampu

PINDAH

bantuan

(0 poin)
mengontrol

secara

baikSebagian

atau

perkemihan dan buang air besar

bowel dan bladder

(1 poin)

(0 poin)

total

inkontinensia

Mampu memasukkan makanan keMembutuhkan bantuan sebagian atau


mulut tanpa bantuan. Persiapan makantotal dalam makan, atau memerlukan
bisa jadi dilakukan oleh orang lain.

makanan parenteral

Total Poin :
6 = Tinggi (Mandiri); 4 = Sedang; <2 = Ganggaun fungsi berat; 0 = Rendah (Sangat tergantung)

Indeks ADL BARTHEL (BAI)

NO
1

FUNGSI

SKOR

KETERANGAN

Mengendalikan rangsang
pembuangan tinja

Tak terkendali/ tak teratur (perlu


pencahar).
Kadang-kadang tak terkendali (1x
seminggu).
Terkendali teratur.

1
2
2

Mengendalikan rangsang
berkemih

0
1
2

Tak terkendali atau pakai kateter


Kadang-kadang tak terkendali (hanya
1x/24 jam)
Mandiri

Membersihkan diri (seka


muka,
sisir
rambut,
sikat gigi)

0
1

Butuh pertolongan orang lain


Mandiri

Penggunaan
jamban,
masuk
dan
keluar
(melepaskan, memakai
celana, membersihkan,
menyiram)

0
1

Tergantung pertolongan orang lain


Perlu pertolongan pada beberapa
kegiatan tetapi dapat mengerjakan
sendiri beberapa kegiatan yang lain.
Mandiri

Makan

0
1
2

Tidak mampu
Perlu ditolong memotong makanan
Mandiri

Berubah
sikap
berbaring ke duduk

0
1
2
3

Tidak mampu
Perlu banyak bantuan untuk bias duduk
Bantuan minimal 1 orang.
Mandiri

Berpindah/ berjalan

0
1
2
3

Tidak mampu
Bisa (pindah) dengan kursi roda.
Berjalan dengan bantuan 1 orang.
Mandiri

Memakai baju

0
1
2

Tergantung orang lain


Sebagian dibantu (mis: memakai baju)
Mandiri.

Naik turun tangga

0
1
2

Tidak mampu
Butuh pertolongan
Mandiri

10

Mandi

0
1

Tergantung orang lain


Mandiri

dari

Total Skor
Skor BAI :
20
: Mandiri
12 - 19 : Ketergantungan ringan
9 - 11 : Ketergantungan sedang
5 - 8 : Ketergantungan berat
0 - 4 : Ketergantungan total
Gangguan Mobilitas Fisik

10. Pencegahan
a. Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic.
Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan, moblilitas dan aktivitas
tergantung pada fungsi system musculoskeletal, kardiovaskuler, pulmonal. Sebagai suatu
proses episodic pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat
tmbul akibat imoblitas atau ketidak aktifan.
Hambatan terhadap latihan
Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur. Bahayabahaya interpersonal termasuk isolasi social yang terjadi ketika teman-teman dan keluarga
telah meninggal, perilaku gaya hidup tertentu (misalnya merokok dan kebiasaan diet yang
buruk) depresi gangguan tidur, kurangnya transportasi dan kurangnya dukungan. Hambatan
lingkungan termasuk kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang
tidak mendukung.
Pengembangan program latihan
Program latihan yang sukses sangat individual, diseimbangkan, dan mengalami peningkatan.
Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan
suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat
memberikan efek latihan.
Ketika klien telah memiliki evaluasi fisik secara seksama, pengkajian tentang factor-faktor
pengganggu berikut ini akan membantu untuk memastikan keterikatan dan meningkatkan
pengalaman;
o Aktivitas sat ini dan respon fisiologis denyut nadsi sebelum, selama dan setelah aktivitas
diberikan)
o Kecenderungan alami (predisposisi atau penngkatan kearah latihan khusus)
o Kesulitan yang dirasakan
o Tujuan dan pentingnya lathan yang dirasakan

o Efisiensi latihan untuk dirisendiri (derajat keyakinan bahwa seseorang akan berhasil)

b.

Keamanan
Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien, instruksi
tentang latihan yang aman harus dilakukan. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-tanda
intoleransi atau latihan yang terlalu keras sama pentingnya dengan memilih aktivitas yang
tepat.
Pencegahan Sekunder
Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dkurangi atau
dicegah dengan intervensi keperawatan. Keberhasilan intervensi berasal dri suatu pengertian
tentang berbagai factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan
penuaan. Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan
komplikasi. Diagnosis keperawaqtan dihubungkan dengan poencegahan sekunder adalah
gangguan mobilitas fisik
Selain itu, Upaya mencegahkan terjadinya masalah akibat kurangnya mobilisasi
antara lain:
Perbaikan status gisi
Memperbaiki kemampuan monilisasi
Melaksanakan latihan pasif dan aktif
Mempertahankan posisi tubuh dengan benar sesuai dengan bady aligmen (Struktur tubuh).
Melakukan perubahan posisi tubuh secara periodik (mobilisasi untuk menghindari terjadinya
dekubitus / pressure area akibat tekanan yang menetap pada bagian tubuh.