Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I (REVISI)

Topik

: Setting Time Gipsum Tipe II Berdasarkan W:P Ratio

Kelompok

: A5a

Tgl. Praktikum

: 9 April 2013

Pembimbing

: Devi Rianti drg.,M.Kes

Penyusun :
No

Nama

Nim

Rega Maurischa A. P

021211131057

Setian Fitri Sayekti

021211131058

Viviana Saputra

021211131059

Risky Anita Oktaviani

021211131060

Cyntia Nur Malikfa N

021211131061

Ardista Rani Lestari

021211131062

Belgiz Anasis

021211131063

DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2013

1. TUJUAN
Setelah praktikum, mahasiswa mampu:
a. melakukan manipulasi gipsum plaster dengan tepat
b. mengukur initial setting time dengan tepat berdasarkan variasi perubahan rasio W/P
c. mengukur final setting time dengan tepat berdasarkan variasi perubahan rasio W/P
2. ALAT DAN BAHAN :
2.1. Bahan
a. Gipsum tipe plaster

Gambar 1. Gipsum plaster


b. Air PAM
2.2 Alat
a. Mangkuk karet
b. Spatula

Gambar 2. Mangkuk karet dan Spatula

c. Gelas ukur

Gambar 3. Gelas ukur


d. Stopwatch
e. Timbangan analitik

Gambar 4. Timbangan analitik


f. Cetakan bentuk cincin

Gambar 5. Cetakan bentuk cincin

g. Vaselin

Gambar 6. Vaseline
h. Vibrator

Gambar 7. Vibrator
i. Jarum Gillmore

Gambar 8. Jarum Gillmore


j. Lempeng Kaca

Gambar 9. Lempeng Kaca

3. Cara Kerja
3.1 Pencampuran gipsum
a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum.
b. Menimbang bubuk gipsum plaster sebanyak 50 gram dan mengukur air PAM sebanyak
30 ml.
c. Memasukkan air yang telah diukur ke dalam mangkuk karet terlebih dahulu, kemudian
memasukkan bubuk gipsum sedikit demi sedikit ke dalam mangkuk karet dan
dibiarkan mengendap selama 30 detik untuk menghilangkan gelembung udara.
d. Menyalakan stopwatch pada saat mulai pencampuran antara gipsum dan air, pada saat itu
mulai dihitung setting time.
e. Mengaduk gipsum dan air sampai homogen menggunakan spatula dengan gerakan
memutar selama 1 menit, bersamaan dengan itu memutar mangkuk karet secara
perlahan-lahan. Kemudian meletakkan adonan gipsum di atas vibrator dengan
kecepatan rendah selama 30 detik untuk menghilangkan gelembung udara.
f. Mengolesi cetakan dengan vaselin, kemudian menuangkan adonan gipsum ke dalam cetakan di
atas vibrator yang sudah dihidupkan dengan kecepatan rendah untuk menghilangkan
udara yang terjebak, lalu meratakan permukaan cetakan.

Gambar 10. Meletakkan cetakkan di atas vibrator

3.2 Pengukuran pengerasan awal (initial setting)


a. Menyalakan stopwatch dan mulai mengukur pada saat adonan dituang ke dalam
cetakan, lalu meletakkan cetakan di bawah jarum Gillmore dengan berat beban
pound dan penampang jarum 1/12 inch. Kemudian menusuk permukaan adonan gipsum dengan
gerakan cepat dan mengangkat jarum kembali, membersihkan ujung jarum dengan
tissue.
b. Mengulangi penusukan pada permukaan adonan setiap 30 detik sambil memutar cetakan
untuk mendapatkan daerah tusukan yang berbeda.
c. Mengulangi gerakan ini sampai jarum tidak dapat menusuk permukaan adonan gipsum,
pada saat itu stopwatch dimatikan dan mencatat waktu.

Gambar 11. Menusuk permukaan cetakan dengan jarum Gillmore


untuk menentukan initial setting

3.3 Pengukuran pengerasan akhir (final setting)


a. Setelah jarum Gillmore dengan ukuran 1/12 inch tidak dapat menusuk permukaan
adonan gipsum lagi, kemudian memindahkan cetakan gipsum ke bawah jarum berukuran
1/24 inch dengan beban 1 pound.
b. Menyalakan stopwatch pada saat menusuk permukaan adonan gipsum dengan cara seperti pada
pengukuran initial setting sampai jarum tidak dapat menusuk permukaan adonan
gipsum. Pada saat itu stopwatch dimatikan dan mencatat waktu.

Gambar 11. Menusuk permukaan cetakan dengan jarum Gillmore


untuk menentukan final setting

4. HASIL PRAKTIKUM
Praktikum kami lakukan sebanyak tiga kali dengan w/p rasio yang berbeda. Praktikum
pertama kami lakukan dengan perbandingan w:p 50:30, praktikum kedua 40:30, dan yang
ketiga 50:35.
Pengukuran initial setting dan final setting pada saat praktikum diamati setiap 30
detik sekali sampai setting time.
Dari praktikum yang kami lakukan kami mendapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Praktikum
Percobaan

Pencampuran

Initial Setting

Final Setting

Gipsum
I

Waktu
1 menit

Putaran
99

Waktu
27.09.00

Tusukan
33

Waktu
30.40.00

Tusukan
6

II

1 menit

109

24.00.00

34

28.00.00

III

1menit

75

23.07.00

31

28.07.00

10

Ket :
Percobaan I

= 50 : 30

Percobaan II

= 40 : 30

Percobaan III

= 50 : 35

Pada percobaan ini, digunakan gipsum tipe II, yaitu dental plaster untuk model.
Temperatur air yang digunakan untuk masing-masing percobaan sama, yaitu pada suhu ruang.
5. PEMBAHASAN
Gipsum adalah mineral yang dihasilkan secara alami di pegunungan,berupa bubuk
putih, dengan rumus kimia kalsium sulfat dihidrat (CaSQ4 2H2O). Gipsum yang banyak
ditemukan di alam ini telah digunakan untuk membuat cetakan gigi sejak tahun 1756.
(Anusavice, 2003. hal 256)
Menurut standar dari ISO tentang produk gipsum kedokteran gigi dapat
diklasifikasikan menjadi lima tipe sebagai berikut: (McCabe, 2008. hal 32)
Tipe 1: Dental plaster, impression
Tipe 2: Dental plaster, model
Tipe 3: Dental stone, die, model
Tipe 4: Dental stone, die, high strength, low expansion
Tipe 5: Dental stone, die, high strength, high expansion
Produk plaster dan stone diproduksi oleh kalsium sulfat dihidrat, atau gipsum. Secara
komersial, gipsum tipe ini akan terbentuk pada temperatur 110 o sampai 120o C (230o

sampai 250o F) yang dibutuhkan air untuk mengubah CaS04 2H2O menjadi CaSO4
H2O. Hal ini sesuai dengan reaksi berikut ini: (Anusavice, 2003. hal 257)

1
2

Dental Plaster (Plaster of parish) diproduksi melalui sebuah proses yang disebut
kalsinasi. Gipsum dipanaskan pada temperatur 120o C untuk menghilangkan bagian dari
air kristalisasi. (McCabe, 2008. hal 33)
Besarnya Partikel dental plaster ini tidak teratur, berpori yang kadang-kadang disebut
sebagai partikel -hemihidrat. Pemanasan berlebih dari gipsum tipe ini dapat
menyebabkan kerugian lebih lanjut dari air untuk membentuk kalsium sulfat anhidrit
(CaSO4), sementara pemanasan yang kurang akan menghasilkan konsentrasi signifikan
dihidrat sisa. Adanya dua pengaruh tersebut akan berpengaruh terhadap karakteristik
terhadap dental plaster yang dihasilkan. (McCabe, 2008. hal 33)
Berikut ini adalah gambar partikel dari dental plaster yaitu -hemihidrat jika
dibandingkan dengan -hemihidrat.

Gambar 10. Partikel kalsium sulfat -hemihidrat (dental plaster) (x235)


(McCabe, 2008 hal 33)

Gambar 11. Partikel kalsium sulfat -hemihidrat (dental stone) (x235)


(McCabe, 2008. hal 33)

Berikut adalah tabel mengenai W/P rasio yang dianjurkan untuk memenuhi reaksi
kimia yang terjadi saat pencampuran dan perbandingan sifat dari semua tipe gipsum.
Tabel 2. W/P rasio untuk model gipsum dan die material
(McCabe, 2008. hal 34)

Tabel 3. Sifat dari produk gipsum (McCabe, 2008. hal 36)

Property

Type 1

Type 2

Type 3

Type 4

Type 5

Initial setting time (min)

5 - 10

5 - 20

5 - 20

5 - 20

Setting time (min)

20

20

20

20

Setting expansion (%)

0 0,15

0 0,30

0 0,20

0 0,15

0,16 0,30

12

25

40

40

Compressive strength 1 h
(MPa)

Compressive strength 24 h
(MPa)
Flexural strength 24 h
(MPa)
Detail reproduction (m)

24

70

75

75

15

20

20

75

75

50

50

50

Setting time adalah waktu yang diperlukan untuk reaksi akan selesai. Jika laju
reaksi yang terlalu cepat atau materi memiliki setting time singkat, massa campuran
mungkin mengeras sebelum operator dapat memanipulasi dengan benar. Di sisi lain, jika
laju reaksi terlalu lambat, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan manipulasi
terlalu lama. Oleh karena itu, pengaturan waktu yang tepat adalah salah satu karakteristik
paling penting dari bahan gipsum. (Craigs, 2002. hal 397)
Reaksi kimia dimulai pada saat bubuk dicampur dengan air, tetapi pada tahap
awal hanya sebagian kecil dari hemihydrate diubah menjadi gipsum. Massa yang baru
saja dicampur memiliki konsistensi setengah cair dan dapat dituangkan ke dalam cetakan
berbagai bentuk. Semakin lama reaksi, kristal kalsium sulfat dihidrat semakin banyak
diproduksi. Viskositas massa campuran meningkat, dan massa tidak bisa lagi mengalir
dengan mudah ke dalam celah dari cetakan. Hal ini disebut working time. (Craigs, 2002.
hal 398)
Final setting time didefinisikan sebagai waktu di mana materi tersebut dapat
dipisahkan dari kesan tanpa distorsi atau fraktur. Initial setting adalah waktu yang
diperlukan untuk produk gipsum untuk mencapai kekerasan (arbitrary stage) dalam
proses pengaturan mereka. Dalam kasus normal, arbitrary stage ditandai oleh bentuk
setengah keras setelah melewati working time tetapi belum sepenuhnya ditetapkan. Pada
pengaturan akhir, konversi kalsium sulfat hemihidrat ke kalsium sulfat dihidrat hampir
selesai. (Craigs, 2002. hal 398)

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa ada beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi setting time, yaitu:
1. W/p ratio dari campuran
Jika bubuk yang digunakan dalam campuran melebihi aturan yang dianjurkan
dalam hal ini campuran akan menjadi lebih kental. Apabila bubuk yang digunakan lebih
banyak, maka kristal dihidrat yang terbentuk akan lebih cepat terikat akibat dari letak
kristal dihidrat tersebut yang berdekatan. Hal ini yang menyebabkan setting time yang
lebih cepat. Demikian sebaliknya, bila air yang ditambahkan lebih banyak maka setting
time akan menjadi lebih lama dan kekuatan gipsum akan cenderung menurun.
2. Spatulasi
Pada batas batas tertentu peningkatan jumlah spatulasi (baik kecepatan
spatulasi, waktu maupun keduanya) dapat memperpendek setting time. Pada saat bubuk
dimasukkan dalam air yang terdapat pada mangkuk karet, reaksi kimia dimulai, dan
beberapa kalsium sulfat dihidrat terbentuk (Craigs, 2002. hal 395-396).
Selama spatulasi kalsium sulfat dihidrat yang terbentuk mulai hancur menjadi
bagian yang lebih kecil dan terbentuk baru pada pusat dari inti di sekitar kalsium sulfat
dihidrat yang dapat diendapkan. Karena peningkatan jumlah dari spatulasi menyebabkan
pusat inti terbentuk. Konversi kalsium sulfat hemihidrat ke kalsium sulfat dihidrat
membutuhkan waktu yang lama. Jadi, lebih cepat pengadukan akan mempercepat setting
time, lebih cepat pengadukan maka akan menambah setting expansion (Craigs, 2002.
hal 395-396). Pengadukan dilakukan sampai gipsum mengalami pengerasan dan
mengalami proses setting. Pengadukan yang optimal adalah 120 kali dalam 1 menit.
Selain itu, lama pengadukan juga akan mempengaruhi setting time dari gipsum
ini. Pengadukan yang terlalu lama dapat menyebabkan setting time yang semakin cepat.
Lebih jelasnya proses pencampuran ini akan dijelaskan oleh reaksi di bawah ini.
Kalsium sulfat dihidrat + air
(CaSO4)2.H2O

3H2O

kalsium sulfat hemihidrat + panas


2CaSO4.2H2O

3. Suhu
Perlu diperhatikan juga terdapat faktor lain yang berpengaruh dalam penentuan
setting time dari gipsum. Suhu dari air yang digunakan untuk pencampuran, serta suhu
lingkungan memiliki efek pada reaksi setting dari produk gipsum. Suhu memiliki dua
efek utama pada reaksi setting dari produk gipsum. Efek pertama dari peningkatan suhu
adalah perubahan kelarutan relatif dari kalsium sulfat hemihidrat dan kalsium sulfat
dihidrat yang mengubah laju reaksi. Rasio kelarutan dari kalsium sulfat dihidrat dan
kalsium sulfat hemihidrat pada 20

adalah sekitar 4,5. Dengan peningkatan suhu

maka rasio kelarutan menurun, sampai 100

tercapai. Ketika suhu 100 , tidak

ada reaksi yang terjadi. Apabila rasio kelarutan menurun, reaksi diperlambat, maka
setting time meningkat. (Craigs, 2002. hal 396)
4. Penambahan akselerator dan retarder
Penambahan bahan kimia dalam bentuk akselerator atau retarder, yang biasanya
ditambahkan oleh pabrik untuk mengatur setting time, juga mempunyai efek untuk
menurunkan nilai setting expansion dengan cara mengubah bentuk kristal dihidrat yang
terbentuk. Oleh karena itu, akselerator atau retarder disebut juga sebagai antiexpantion
agent. Bahan kimia yang biasanya digunakan sebagai akselerator adalah potassium
sulfat, sedangkan yang digunakan sebagai retarder adalah boraks. (McCabe and Walls,
2008. hal 37)
5. Kelembaban
Pada teori partikel, nucleus yang bertumbukan pada dental gypsum lebih banyak
dan sering terjadi di tepi cetakan, Dinding cetakan berfungsi sebagai pembatas ruang
gerak partikel atau nucleus. Sehingga pada tepi inilah lebih besar kemungkinan terjadi
tumbukan antar partikel gipsum, sehingga lebih cepat bereaksi dan mencapai final setting.

Berdasarkan data yang diperoleh, hasil menunjukkan bahwa perbedaan w:p rasio
memiliki pengaruh pada setting time. Percobaan ini dilakukan dalam suhu air dan suhu
ruang yang sama dengan mengganti w:p (water:powder).
Jumlah pengadukan yang dianjurkan dalam praktikum ini adalah 120
putaran/menit. Akan tetapi pada saat praktikum, jumlah pengadukan berbeda-beda pada
tiap percobaan. Pada percobaan pertama dilakukan 99 putaran/menit. Pada percobaan
kedua 109 putaran/menit, sedangkan percobaan ketiga dilakukan 75 putaran/menit.
Setting time dibedakan menjadi dua tahap, yaitu tahap initial setting dan tahap
final setting. Pada tabel hasil percobaan pertama didapatkan bahan gipsum dengan
perbandingan w:p rasio 30 ml air : 50 gram membutuhkan waktu 27 menit 9 detik untuk
mencapai initial setting dan membutuhkan waktu 30 menit 40 detik untuk final setting.
Sedangkan pada gipsum dengan w:p rasio 30 ml air : 40 gram membutuhkan waktu 24
menit untuk mencapai initial setting dan untuk mencapai final setting membutuhkan
waktu 28 menit. Untuk w:p rasio 35 ml air : 50 gram, membutuhkan 23 menit 7 detik
untuk mencapai tahap initial setting 28 menit 7 detik untuk mencapai tahap final setting.
Pada percobaan ini terjadi ketidaksesuaian dengan teori. Dengan meninjau teori
yang ada, seharusnya urutan setting time berdasarkan w:p rasio adalah percobaan pertama
yang memiliki setting time tercepat, lalu percobaan ketiga, dan yang terlama adalah
kedua. Sedangkan pada hasil akhir dari percobaan ini, didapatkan data urutan setting time
tercepat, yaitu kedua, lalu percobaan ketiga, dan yang terlama adalah percobaan pertama.
Setelah mengidentifikasi, diduga kejanggalan dari hasil percobaan terletak pada
percobaan pertama dan kedua. Dimana jumlah pengadukan pada percobaan kedua lebih
banyak daripada percobaan pertama. Hal ini sangat berpengaruh karena semakin panjang
pengadukan pada percobaan kedua maka akan mengakibatkan setting time-nya lebih cepat.
Faktor kesalahan manusia dalam melakukan percobaan (human error) juga diduga
menjadi salah satu penyebab ketidaksesuaian hasil praktikum dengan teori sebelumnya.
Setiap percobaan dilakukan oleh operator yang berbeda sehingga menimbulkan
perbedaan persepsi saat menentukan initial dan final setting time dengan menggunakan
jarum Gillmore. Hal inilah yang mengakibatkan ketidakakuratan data dalam menentukan
setting time dari gipsum tipe II.

6. KESIMPULAN
Dari hasil yang kami dapatkan dapat disimpulkan bahwa setting time pada gipsum
plaster dipengaruhi oleh w/p ratio dan lama pengadukan. Semakin banyak air yang
digunakan, setting time gipsum semakin lama. Semakin banyak bubuk gipsum yang
digunakan, setting time semakin cepat. Pengurangan water dan powder dapat
memperlambat setting time, sedangkan penambahan water dan powder dapat
memperlambat setting time. Sama halnya dengan lama pengadukan, semakin lama
pengadukan maka waktu setting time akan semakin cepat dan begitu pula sebaliknya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Anusavice, KJ, 2003, Philips Science of Dental Materials, 11th ed, Westline Industrial
Drive, St. Louis, Missouri.
2. McCabe, JF and Walls, AWG, 2008, Applied Dental Materials 9th ed, Blackwell,
Munksgaard.,
3. Craig, Robert G, and John M. Power. 2002. Restorative Dental Material: 11th edition.
United State of America : Mosby.