Anda di halaman 1dari 24

PERAWATAN LUKA

Oleh:
ROSINA TARIGAN
UKE PEMILA

Ditulis Dalam Rangka Memenuhi Tugas


Mata Ajar ”Trend” Dan ”Issue” Dalam
Keperawatan
Program Magister Ilmu Keperawatan
Kekhususan Keperawatan Medikal Bedah
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
Tahun 2007

DAFTAR ISI

BAB I Pendahuluan
BAB II Konsep luka
2.1 Definisi
2.2 Etiologi
2.3 Jenis-jenis Luka
2.4 Proses Penyembuhan Luka
2.5 Perawatan Luka

BAB III Trend dan Isu Perawatan Luka


3.1 Kecendrungan Perawatan Luka Saat ini
3.2 Moist Wound Healing

BAB IV Penutup
DAFTAR PUSTAKA

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 2


BAB I
PENDAHULUAN

Luka merupakan suatu kerusakan integritas kulit yang dapat terjadi ketika kulit terpapar
suhu atau pH, zat kimia, gesekan, trauma tekanan dan radiasi. Respon tubuh terhadap
berbagai cedera dengan proses pemulihan yang kompleks dan dinamis yang menghasilkan
pemulihan anatomi dan fungsi secara terus menerus disebut dengan penyembuhan luka
(Joyce M. Black, 2001). Penyembuhan luka terkait dengan regenerasi sel sampai fungsi
organ tubuh kembali pulih, ditunjukkan dengan tanda-tanda dan respon yang berurutan
dimana sel secara bersama-sama berinteraksi, melakukan tugas dan berfungsi secara
normal. Idealnya luka yang sembuh kembali normal secara struktur anatomi, fungsi dan
penampilan.
Metode perawatan luka berkembang cepat dalam 20 tahun terakhir, jika tenaga kesehatan
dan pasiennya memanfaatkan terapi canggih yang sesuai dengan perkembangan, akan
memberikan dasar pemahaman yang lebih besar terhadap pentingnya perawatan luka.
Semua tujuan manajemen luka adalah untuk membuat luka stabil dengan perkembangan
granulasi jaringan yang baik dan suplai darah yang adekuat., hanya cara tersebut yang
membuat penyembuhan luka bisa sempurna.
Untuk memulai perawatan luka, pengkajian awal yang harus dijawab adalah, apakah luka
tersebut bersih, atau ada jaringan nekrotik yang harus dibuang, apakah ada tanda klinik
yang memperlihatkan masalah infeksi, apakah kondisi luka kelihatan kering dan terdapat
resiko kekeringan pada sel, apakah absorpsi atau drainage objektif terhadap obat topical
dan lain-lain. Terjadinya peradangan pada luka adalah hal alami yang sering kali
memproduksi eksudat; mengatasi eksudat adalah bagian penting dari penanganan luka.
Selanjutnya, mengontrol eksudat juga sangat penting untuk menangani kondisi dasar luka,

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 3


yang mana selama ini masih kurang diperhatikan dan kurang diannggap sebagai suatu hal
yang penting bagi perawat, akibatnya bila produksi eksudat tidak dikontrol dapat
meningkatkan jumlah bakteri pada luka, kerusakan kulit, bau pada luka dan pasti akan
meningkatkan biaya perawatan setiap kali mengganti balutan.
Keseimbangan kelembaban pada permukaan balutan luka adalah faktor kunci dalam
mengoptimalkan perbaikan jaringan; mengeliminasi eksudat dari luka yang berlebihan
pada luka kronik yang merupakan bagian penting untuk permukaan luka. Untuk itu
dikembangkan suatu metode perawatan luka dengan cara mempertahankan isolasi
lingkungan luka agar tetap lembab dengan menggunakan balutan penahan kelembaban,
yang dikenal dengan Moist Wound Healing. Metode ini secara klinis memiliki keuntungan
akan meningkatkan proliferasi dan migrasi dari sel-sel epitel disekitar lapisan air yang
tipis, mengurangi resiko timbulnya jaringan parut dan lain-lain, disamping beberapa
keunggulan metode ini dibandingkan dengan kondisi luka yang kering adalah
meningkatkan epitelisasi 30-50%, meningkatkan sintesa kolagen sebanyak 50 %, rata-rata
re-epitelisasi dengan kelembaban 2-5 kali lebih cepat serta dapat mengurangi kehilangan
cairan dari atas permukaan luka.
Dari manfaat dan keuntungan metode Moist Wound Healing tersebut, dapat dimanfaatkan
sebagai suatu trend perawatan luka dengan prinsip luka cepat sembuh, kualitas
penyembuhan baik serta dapat mengurangi biaya perawatan luka, dan ini sangat penting
bagi perawat untuk dapat mengembangkan dan mengaplikasikannya di lingkungan
perawatan khususnya perawatan luka yang jelas sangat memberikan kepuasan bagi
kesembuhan luka pasien.

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 4


BAB II
KONSEP PENYEMBUHAN LUKA

2.1 Definisi
Penyembuhan luka adalah respon tubuh terhadap berbagai cedera dengan proses
pemulihan yang kompleks dan dinamis yang menghasilkan pemulihan anatomi dan fungsi
secara terus menerus.(Joyce M. Black, 2001).
Penyembuhan luka terkait dengan regenerasi sel sampai fungsi organ tubuh kembali pulih,
ditunjukkan dengan tanda-tanda dan respon yang berurutan dimana sel secara bersama-
sama berinteraksi, melakukan tugas dan berfungsi secara normal. Idealnya luka yang
sembuh kembali normal secara struktur anatomi, fungsi dan penampilan.

2.2 Etiologi / Penyebab Luka


Secara alamiah penyebab kerusakan harus diidentifikasi dan dihentikan sebelum memulai
perawatan luka, serta mengidentifikasi, mengontrol penyebab dan faktor-faktor yang
mempengaruhi penyembuhan sebelum mulai proses penyembuhan. Berikut ini akan
dijelaskan penyebab dan faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka :
• Trauma
• Panas dan terbakar baik fisik maupun kimia
• Gigitan binatang atau serangga
• Tekanan
• Gangguan vaskular, arterial, vena atau gabungan arterial dan vena
• Immunodefisiensi
• Malignansi
• Kerusakan jaringan ikat
• Penyakit metabolik, seperti diabetes

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 5


• Defisiensi nutrisi
• Kerusakan psikososial
• Efek obat-obatan

Pada banyak kasus ditemukan penyebab dan faktor yang mempengaruhi penyembuhan
luka dengan multifaktor.

2.3 Jenis-jenis luka


a. Berdasarkan Kategori
Luka Accidental
Adalah cedera yang tidak disengaja, seperti kena pisau, luka tembak, luka bakar;
tepi luka bergerigi; berdarah; tidak steril

Gambar 1. Luka bakar


Luka Bedah
Merupakan terapi yang direncanakan, seperti insisi bedah, needle introduction; tepi
luka bersih; perdarahan terkontrol; dikendalikan dengan asepsis bedah

Gambar 2. Luka post op skin graft


b. Berdasarkan integritas kulit
Luka terbuka
Kerusakan melibatkan kulit atau membran mukosa; kemungkinan perdarahan
disertai kerusakan jaringan; risiko infeksi

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 6


2. Luka tertutup
Tidak terjadi kerusakan pada integritas kulit, tetapi terdapat kerusakan jaringan
lunak; mungkin cedera internal dan perdarahan
c. Berdasarkan Descriptors
1. Aberasi
Luka akibat gesekan kulit; superficial; terjadi akibat prosedur dermatologik untuk
pengangkatan jaringan skar
Puncture
Trauma penetrasi yang terjadi secara disengaja atau tidak disengaja oleh akibat
alat-alat yang tajam yang menusuk kulit dan jaringan di bawah kulit
Laserasi
Tepi luka kasar disertai sobekan jaringan, objek mungkin terkontaminasi; risiko
infeksi
Kontusio
Luka tertutup; perdarahan di bawah jaringan akibat pukulan tumpul; memar
d. Klasifikasi Luka Bedah
Luka bersih
Luka bedah tertutup yang tidak mengenai system gastrointestinal, , pernafasan atau
system genitourinary, risiko infeksi rendah
Bersih terkontaminasi
Luka melibatkan system gastrointestinal, pernafasan atau system genitourinary,
risiko infeksi
Kontaminasi
Luka terbuka, luka traumatic, luka bedah dengan asepsis yang buruk; risiko tinggi
infeksi
Infeksi
Area luka terdapat patogen; disertai tanda-tanda infeksi

Klasifikasi luka

a. Berdasarkan penyebab
1) Luka pembedahan atau bukan pembedahan
2) Akut atau kronik

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 7


Gambar 3. Luka Kronik
b. Kedalaman jaringan yang terlibat
1) Superficial
Hanya jaringan epidermis

2) Partial thickness
Luka yang meluas sampai ke dalam dermis

3) Full thickness
Lapisan yang paling dalam dari jaringan yang destruksi. Melibatkan jaringan
subkutan dan kadang-kadang meluas sampai ke fascia dan struktur yang
dibawahnya seperti otot, tendon atau tulang

2.4 Prinsip Dasar Penyembuhan Luka


Penyembuhan luka adalah proses yang komplek dan dinamis dengan perubahan
lingkungan luka dan status kesehatan individu. Fisiologi dari penyembuhan luka yang
normal adalah melalui fase hemostasis, inflamasi, granulasi dan maturasi yang merupakan
suatu kerangka untuk memahami prinsip dasar perawatan luka. Melalui pemahaman ini
profesional keperawatan dapat mengembangkan ketrampilan yang dibutuhkan untuk
merawat luka dan dapat membantu perbaikan jaringan. Luka kronik mendorong para
profesional keperawatan untuk mencari cara mengatasi masalah ini. Penyembuhan luka
kronik membutuhkan perawatan yang berpusat pada pasien ”patient centered”, holistik,
interdisiplin, cost efektif dan eviden based yang kuat.
Penelitian pada luka akut dengan model binatang menunjukkan ada empat fase
penyembuhan luka. Sehingga diyakini bahwa luka kronik harus juga melalui fase yang
sama. Fase tersebut adalah sebagai berikut:
• Hemostasis
• Inflamasi
• Proliferasi atau granulasi
• Remodeling atau maturasi

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 8


Hemostasis
Pada penyembuhan luka kerusakan pembuluh darah harus ditutup. Pada proses
penyembuhan luka platelet akan bekerja untuk menutup kerusakan pembuluh darah
tersebut. Pembuluh darah sendiri akan konstriksi dalam berespon terhadap injuri tetapi
spasme ini biasanya rilek. Platelet mensekresi substansi vasokonstriktif untuk membantu
proses tersebut.
Dibawah pengaruh adenosin diphosphat (ADP) kebocoran dari kerusakan jaringan akan
menimbulkan agregasi platelet untuk merekatkan kolagen. ADP juga mensekresi faktor
yang berinteraksi dengan dan merangsang pembekuan intrinsik melalui produksi trombin,
yang akan membentuk fibrin dari fibrinogen. Hubungan fibrin diperkuat oleh agregasi
platelet menjadi hemostatik yang stabil. Akhirnya platelet juga mensekresi sitokin seperti
”platelet-derived growth factor”. Hemostatis terjadi dalam waktu beberapa menit setelah
injuri kecuali ada gangguan faktor pembekuan.

Inflamasi
Secara klinik, inflamasi adalah fase ke dua dari proses penyembuhan yang menampilkan
eritema, pembengkakan dan peningkatan suhu/hangat yang sering dihubungkan dengan
nyeri, secara klasik ”rubor et tumor cum calore et dolore”. Tahap ini biasanya berlangsung
hingga 4 hari sesudah injuri. Pada proses penyembuhan ini biasanya terjadi proses
pembersihan debris/sisa-sisa. Ini adalah pekerjaan dari PMN’s (polymorphonucleocytes).
Respon inflamasi menyebabkan pembuluh darah menjadi bocor mengeluarkan plasma dan
PMN’s ke sekitar jaringan. Neutropil memfagositosis sisa-sisa dan mikroorganisme dan
merupakan pertahanan awal terhadap infeksi. Mereka dibantu sel-sel mast lokal. Fibrin
kemudian pecah sebagai bagian dari pembersihan ini.
Tugas selanjutnya membangun kembali kompleksitas yang membutuhkan kontraktor. Sel
yang berperan sebagai kontraktor pada penyembuhan luka ini adalah makrofag. Makrofag
mampu memfagosit bakteri dan merupakan garis pertahan kedua. Makrofag juga
mensekresi komotaktik yang bervariasi dan faktor pertumbuhan seperti faktor
pertumbuhan fibrobalas (FGF), faktor pertumbuhan epidermal (EGF), faktor pertumbuhan
beta trasformasi (tgf) dan interleukin-1 (IL-1).

Proliferasi (proliferasi, granulasi dan kontraksi)

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 9


Fase granulasi berawal dari hari ke empat sesudah perlukaan dan biasanya berlangsung
hingga hari ke 21 pada luka akut tergangung pada ukuran luka. Secara klinis ditandai oleh
adanya jaringan yang berwarna merah pada dasar luka dan mengganti jaringan dermal dan
kadang-kadang subdermal pada luka yang lebih dalam yang baik untuk kontraksi luka.
Pada penyembuhan luka secara analoginya satu kali pembersihan debris, dibawah
kontraktur langsung terbentuk jaringan baru.
Kerangka dipenuhi oleh fibroblas yang mensekresi kolagen pada dermal yang kemudian
akan terjadi regenerasi. Peran fibroblas disini adalah untuk kontraksi. Serat-serat halus
merupakan sel-sel perisit yang beregenerasi ke lapisan luar dari kapiler dan sel endotelial
yang akan membentuk garis. Proses ini disebut angiogenesis. Sel-sel ”roofer” dan ”sider”
adalah keratinosit yang bertanggungjawab untuk epitelisasi. Pada tahap akhir epitelisasi,
terjadi kontraktur dimana keratinosit berdifrensiasi untuk membentuk lapisan protektif
luar atau stratum korneum.

Remodeling atau maturasi


Setelah struktur dasar komplit mulailah finishing interior. Pada proses penyembuhan luka
jaringan dermal mengalami peningkatan tension/kekuatan, peran ini dilakukan oleh
fibroblast. Remodeling dapat membutuhkan waktu 2 tahun sesudah perlukaan.

Tabel 1. Fase penyembuhan luka


Analogi
Fase Sel-sel yang
Waktu membangun
penyembuhan berperan
rumah
Hemostasis Segera Platelets Capping off
Inflamation Hari 1-4 Neutrophils conduits
Unskilled laborers
to clean uap the site

Proliferation Hari 4 – 21 Macrophages Supervisor Cell


Granulation Lymphocytes Specific laborers at
Angiocytes the site:
Neurocytes Plumber
Electrician

Contracture Fibroblasts Framers


Keratinocytes Roofers and Siders

Remodeling Hari 21 – 2 Fibrocytes Remodelers


tahun

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 10


Pada beberapa literatur dijelaskan juga bahwa proses penyembuhan luka meliputi dua
komponen utama yaitu regenerasi dan perbaikan (repair). Regenerasi adalah pergantian
sel-sel yang hilang dan jaringan dengan sel-sel yang bertipe sama, sedangkan repair adalah
tipe penyembuhan yang biasanya menghasilkan terbentuknya scar. Repair merupakan
proses yang lebih kompleks daripada regenerasi. Penyembuhan repair terjadi oleh
intention primer, sekunder dan tersier.
Intension primer
Fase-fase dalam penyembuhan Intension primer :
1. Fase Inisial (3-5 hari)
2. Sudut insisi merapat, migrasi sel-sel epitel, mulai pertumbuhan sel
3. Fase granulasi (5 hari – 4 minggu)
Fibroblas bermigrasi ke dalam bagian luka dan mensekresi kolagen. Selama fase
granulasi luka berwarna merah muda dan mengandung pembuluh darah. Tampak
granula-granula merah. Luka berisiko dehiscence dan resisten terhadap infeksi.
Epitelium permukaan pada tepi luka mulai terlihat. Dalam beberapa hari lapisan
epitelium yang tipis bermigrasi menyebrangi permukaan luka. Epitel menebal dan
mulai matur dan luka merapat. Pada luka superficial, reepitelisasi terjadi selama 3
– 5 hari.
4. Fase kontraktur scar ( 7 hari – beberapa bulan )
Serabut-serabut kolagen terbentuk dan terjadi proses remodeling. Pergerakan
miofibroblast yang aktif menyebabkan kontraksi area penyembuhan, membentu
menutup defek dan membawa ujung kulit tertutup bersama-sama. Skar yang matur
selanjutnya terbentuk. Skar yang matur tidak mengandung pembuluh darah dan
pucat dan lebih terasa nyeri daripada fase granulasi

Intension sekunder
Adalah luka yang terjadi dari trauma, elserasi dan infeksi dan memiliki sejumlah besar
eksudat dan luas, batas luka ireguler dengan kehilangan jaringan yang cukup luas
menyebabkan tepi luka tidak merapat. Reaksi inflamasi dapat lebih besar daripada
penyembuhan primer.

Intension Tersier

Adalah intension primer yang tertunda. Terjadi karena dua lapisan jaringa granulasi dijahit
bersama-sama. Ini terjadi ketika luka yang terkontaminasi terbuka dan dijahit rapat setelah

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 11


infeksi dikendalikan. Ini juga dapat terjadi ketika luka primer mengalami infeksi, terbuka
dan dibiarkan tumbuh jaringan granulasi dan kemudian dijahit. Intension tersier biasanya
mengakibatkan skar yang lebih luas dan lebih dalam daripada intension primer atau
sekunder

BAB III
TREND DAN ISU PERAWATAN LUKA

3.1 Kecendrungan Perawatan Luka Saat ini


Pada tatanan pelayanan keperawatan, khususnya dalam perawatan luka, banyak diteliti
metode – metode penyembuhan luka, baik penyembuhan secara medis, maupun secara
komplementer dengan menggunakan media yang ada di alam untuk mempercepat
penyembuhan luka. Semua hasil penelitian memiliki evidence based yang cukup kuat dan
bisa dibuktikan. Namun pada prinsipnya, secara keilmuan seorang perawat professional
harus mengetahui bagaimana proses penyembuhan luka secara alami, kenapa terjadi luka,
proses apa yang terjadi pada luka, berapa lama luka akan sembuh dan kenapa luka tersebut
bisa sembuh dengan meninggalkan jaringan parut atau bahkan sembuh tanpa
meninggalkan jaringan parut. Hal ini akan mempengaruhi persepsi dan kemampuan
perawat dalam melaksanakan perawatan luka, semakin mengerti proses yang terjadi pada
luka, kualitas seorang perawat akan semakin baik dalam melakukan perawatan luka dan
outcomenya juga akan baik, kepuasan pasien meningkat.
Perawatan luka dewasa ini, cenderung menggunakan metode balutan kasa ”wet-to-dry”,
digunakan khusus untuk debridemen pada dasar luka, normal salin digunakan untuk
melembabkan kasa, kemudian dibalut dengan kasa kering. Ketika kasa lembab menjadi
kering, akan menekan permukaan jaringan, yang berarti segera harus diganti dengan
balutan kering berikutnya. Hal ini mengakibatkan tidak hanya pertumbuhan jaringan sehat
yang terganggu, tetapi juga menimbulkan rasa nyeri yang berlebihan, metode wet to dry
dianggap sebagai metode debridemen mekanik dan diindikasikan bila ada sejumlah
jaringan nekrotik pada luka.

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 12


Dari metode perawatan luka saat ini, banyak prinsip-prinsip yang terlupakan atau tidak
menjadi pertimbangan bagi perawat dalam merawat luka, seperti proses fisiologis
pertumbuhan jaringan luka, bagaimana mengoptimalkan perbaikan jaringan,
meningkatkan aliran darah ke permukaan luka, bagaimana cara balutan ideal, jenis balutan
yang dipakai tanpa merusak jaringan yang sehat, tidak menimbulkan nyeri/trauma baru
serta bagaimana agar dapat mempercepat proses penyembuhan luka hingga dapat menekan
biaya perawatan. Karena itulah perlu dilakukan metode perawatan luka yang telah
mempertimbangkan berbagai aspek tersebut demi mencapai perawatan luka yang efektif,
proses penyembuhan yang cepat, outcome yang berkualitas dan biaya yang lebih murah.
3.2 “Moist Wound Healing”
Definisi
Moist Wound Healing adalah mempertahankan isolasi lingkungan luka yang tetap lembab
dengan menggunakan balutan penahan-kelembaban, oklusive dan semi oklusive.
Penanganan luka ini saat ini digemari terutama untuk luka kronik, seperti ”venous leg
ulcers, pressure ulcers, dan diabetic foot ulcers”.
Dan metode moist wound healing adalah metode untuk mempertahankan kelembaban luka
dengan menggunakan balutan penahan kelembaban, sehingga penyembuhan luka dan
pertumbuhan jaringan dapat terjadi secara alami.

Substansi biokimia pada cairan luka kronik berbeda dengan luka akut. Produksi cairan
kopious pada luka kronik menekan penyembuhan luka dan dapat menyebabkan maserasi
pada pinggir luka. Cairan pada luka kronik ini juga menghancurkan matrik protein
ekstraselular dan faktor-faktor pertumbuhan, menimbulkan inflamasi yang lama, menekan
proliferasi sel, dan membunuh matrik jaringan. Dengan demikian, untuk mengefektifkan
perawatan pada dasar luka, harus mengutamakan penanganan cairan yang keluar dari
permukaan luka untuk mencegah aktifitas dari biokimiawi yang bersifat
negatif/merugikan.

Tujuan Moist Wound Healing


Sesuai dengan pengertiannya, Moist Wound Healing bertujuan untuk mempertahankan
isolasi lingkungan luka yang tetap lembab dengan menggunakan balutan penahan-
kelembaban, oklusive dan semi oklusive, dengan mempertahankan luka tetap lembab dan
dilindungi selama proses penyembuhan dapat mempercepat penyembuhan 45 % dan
mengurangi komplikasi infeksi dan pertumbuhan jaringan parut residual.
Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 13
Mempertahankan kelembaban luka dan balutan yang baik
Bertambahnya produksi eksudat adalah bagian dari fase inflamasi yang normal pada
proses penyembuhan luka. Peningkatan permeabilitas kapiler pembuluh darah,
menyebabkan cairan yang kaya akan protein masuk ke rongga interstitial. Hal ini
meningkatkan produksi dari cairan yang memfasilitasi pembersihan luka dari permukaan
luka dan mempertahankan kelembaban lingkungan lokal yang maksimal untuk
memaksimalkan penyembuhan. Keseimbangan kelembaban pada permukaan balutan luka
adalah faktor kunci dalam mengoptimalkan perbaikan jaringan; mengeliminasi eksudat
dari luka yang berlebihan pada luka kronik yang merupakan bagian penting untuk
permukaan luka.
http://www.google.co.id/search?q=moist+wound+healing&hl=id&start=90&sa=N, diakses
tanggal 20 Maret 2007

Keuntungan dari permukaan luka yang lembab


• Mengurangi pembentukan jaringan parut
• Meningkatkan produksi faktor pertumbuhan
• Mengaktivasi protease permukaan luka untuk mengangkat jaringan
devitalisasi/yang mati
• Menambah pertahanan immun permukaan luka
• Meningkatkan kecepatan angiogenesis dan proliferasi fibroblast
• Meningkatkan proliferasi dan migrasi dari sel-sel epitel disekitar lapisan air yang
tipis
• Mengurangi biaya. Biaya pembelian balutan oklusif lebih mahal dari balutan kasa
konvensional, tetapi dengan mengurangi frekuensi penggantian balutan dan
meningkatkan kecepatan penyembuhan dapat menghemat biaya yang dibutuhkan.

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 14


Gambar 4. Perbandingan permukaan luka yang lembab dan luka terbuka

Perbandingan permukaan luka yang lembab dengan luka yang terbuka


• Kelembaban meningkatkan epitelisasi 30-50%
• Kelembaban meningkatkan sintesa kolagen sebanyak 50 %
• Rata-rata re-epitelisasi dengan kelembaban 2-5 kali lebih cepat
• Mengurangi kehilangan cairan dari atas permukaan luka

Karakteristik penyembuhan luka dengan prinsip moist:


• Memfasilitasi pertumbuhan sel-sel epitel pada permukaan luka
• Mengurangi pada inflamasi permukaan luka

Tanpa lapisan yang lembab/kering:


• Pergerakan pertumbuhan epitelial sebagai debridement enzym membentuk
eskar/parut
• Menambah inflamasi pada luka (eksudat)

Nyeri
Nyeri adalah komplikasi dari perawatan luka. Mengganti balutan yang kering pada luka
menyebabkan rasa nyeri yang lebih hebat/berat dari pada dengan balutan yang lembab.
Hipergranulasi
Beberapa penelitian kini menemukan indikasi berkurangnya inflamasi dan jaringan
granulasi pada luka akut dengan menggunakan prinsip moist.
http://www.burnsurgery.org/Betaweb/Modules/moisthealing/part_2bc.htm 20 Maret 2007

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 15


Teknik Mempertahankan Kelembaban Luka
Prinsip Dasar Perawatan Luka
Ada tiga prinsip dasar penyembuhan luka.
1. Identifikasi dan kontrol penyebab sebaik mungkin
2. Konsen dengan dukungan ”patient centered”
3. Optimalisasi perawatan pada luka

Optimalisasi perawatan pada luka


Mengurangi dehidrasi dan kematian sel. Seperti telah dijelaskan pada fase penyembuhan
luka bahwa sel-sel seperti neutropil dan magrofag membentuk fibroblast dan perisit. Dan
sel-sel ini tidak dapat berfungsi pada lingkungan yang kering.

Meningkatkan angiogenesis. Tidak hanya sel-sel yang dibutuhkan untuk angiogenesis


juga dibutuhkan lingkungan yang lembab tetapi juga angiogenesis terjadi pada tekanan
oksigen rendah, balutan ”occlusive” dapat merangsang proses angiogenesis ini.
Meningkatkan debridement autolisis. Dengan mempertahankan lingkungan lembab sel
neutropil dapat hidup dan enzim proteolitik dibawa ke dasar luka yang memungkinkan
mengurangi/menghilangkan rasa nyeri saat debridemen. Proses ini dilanjutkan dengan
degradasi fibrin yang memproduksi faktor yang merangsang makrofag untuk
mengeluarkan faktor pertumbuhan ke dasar luka.
Meningkatkan re-epitelisasi. Pada luka yang lebih besar, lebih dalam sel epidermal harus
menyebar diatas permukaan luka dari pinggir luka serta harus mendapatkan suplai darah
dan nutrisi. Krusta yang kering pada luka menekan/menghalangi suplai tersebut dan
memberikan barier untuk migrasi dengan epitelisasi yang lambat.
Barier bakteri dan mengurangi kejadian infeksi. Balutan oklusif membalut dengan baik
dapat memberikan barier terhadap migrasi mikroorganisme ke dalam luka. Bakteri dapat
menembus kasa setebal 64 lapisan pada penggunaan kasa lembab. Luka yang dibalut
dengan pembalut oklusif menunjukkan kejadian infeksi lebih jarang daripada kasa
pembalut konvensional tersebut.
Mengurangi nyeri. Diyakini luka yang lembab melindungi ujung saraf sehingga
mengurangi nyeri.

Memilih Balutan yang ideal


Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 16
Pada tahun 1979 Tumer menggambarkan balutan yang ideal dengan karakteristik sebagai
berikut:
• Dapat mengangkat eksudat yang berlebihan dan toksin
• Kelembaban tinggi pada permukaan luka
• Memungkinkan pertukaran gas
• Memberikan insulasi termal
• Melindungi terhadap infeksi sekunder
• Bebas dari partikel-partikel dan komponen toksik
• Tidak menimbulkan trauma saat mengangkat/mengganti balutan

Walau bagaimanapun tidak ada suatu balutan yang dapat berfungsi magis ”one-size-fits-
all”. Sebagai praktisi klinis sangat penting untuk memahami karakteristik dari perbedaan
balutan dan penggunaannya sesuai dengan perkembangan fase penyembuhan luka,
karakteristik luka, dan faktor risiko dari pasien yang mempengaruhi penyembuhan dan
ketrampilan dari perawat itu sendiri.
Balutan Luka
Balutan luka yang moist seperti ”foam/busa, alginate, hydrocolloid, hydrogel, dan film
transparant.” hydrocolloid merupakan balutan yang tahan terhadap air yang membantu
pencegah kontaminasi bakteri. Hydroclloid menyerap eksudat dan melindungi lingkungan
dasar luka secara alami.
Hydrogel merupakan gel hydropilik yang meningkatkan kelembaban pada area luka.
Hydrogel rehidrasi dasar luka dan melunakkan jaringan nekrotik.
Film transparan merupakan balutan yang tahan terhadap air yang semi oklusive, berarti air
dan gas dapat melalui permukaan balutan film transparan ini dan termasuk juga dapat
mempertahankan lingkungan luka yang tetap lembab.
Pada luka tekan balutan luka sangat berperan penting dengan fungsi sebagai berikut:
• Membantu melindungi luka dari injuri yang berulang
• Membantu melindungi luka dari kuman penyakit dan mencegah luka terinfeksi
• Membantu menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung penyembuhan luka
• Menambal bagian luka terutama bagian yang mati
Balutan luka yang tersedia sangat bervariasi. Tidak seperti balutan atau pembalut kasa
yang biasa, balutan luka khusus karena mereka membantu menciptakan tingkat
kelembaban pada luka. Pada masa kini hasil-hasil dari penelitian menyatakan bahwa

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 17


tingkat kelembaban mendukung kesehatan kulit, kelembaban memberi kesempatan yang
lebih baik untuk proses penyembuhan. Konsep inilah yang disebut dengan ”moist wound
healing.”
Perlindungan untuk Luka
Meskipun kita berfikir sebaliknya, membiarkan balutan tidak dibuka/diganti dalam
beberapa hari sangat membantu dalam proses penyembuhan awal karena luka tidak
terganggu. Hal ini sangat penting karena situasi kelembaban lingkungan luka dapat
dipertahankan dengan baik sesuai dengan suhu tubuh, kondisi ini akan mendukung
penyembuhan luka. Untuk penjelasan lebih lanjut, penggantian balutan yang lebih sering
mengakibatkan suhu luka menurun/dingin akibat terpapar dengan udara. Hal ini akan
mengakibatkan perlambatan proses penyembuhan hingga suhu luka menjadi hangat
kembali. Jadi, penggantian balutan duka yang tidak terlalu sering sudah sangat jelas dapat
membantu proses penyembuhan.
Sebagai ilustrasi untuk menunjukkan bagaimana kelembaban dapat menyembuhkan lebih
ceat adalah dengan melidungi/membalut luka akan tercipta lingkungan yang lembab yang
diikuti oleh pergerakan sel-sel epidermal dengan mudah menyebrangi permukaan luka,
untuk menyembuhkan luka. Pada lingkungan luka yang kering, sel-sel epidermal harus
menyusup melalui terowongan yang lembab dan mensekresi enzym untuk kemudian
mengangkat keropeng dari permukaan luka sebelum sel-sel bermigrasi dan selanjutnya
baru memulai proses penyembuhan.

Berbagai tipe ”moist wound dressing” (balutan luka yang mampu mempertahankan
kelembaban)
Ada beberapa tipe balutan luka dan lebih dari satu dapat direkomendasikan untuk dipakai
merawat luka hingga sembuh. Untuk hal ini, kita perlu memahami tentang tipe balutan
luka yang dapat kita pilih dan gunakan, yang akan dijelaskan berikut ini.
Foam/Busa
Balutan foam/busa dapat menyerap banyak cairan, sehingga digunakan pada tahap awal
masa pertumbuhan luka, bila luka tersebut banyak mengeluarkan drainase. Balutan busa
nyaman dan lembut bagi kulit dan dapat digunakan untuk pemakaian beberapa hari.
Bentuk, ukuran, dan ketebalan dari busa tersebut sangat bervariassi, dengan atau tanpa
perekat pada permukaannya.
Contoh :

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 18


Foam silikon lunak/balutan yang menyerap
Balutan jenis ini menggunakan bahan silikon yang direkatkan, pada permukaan yang
kontak dengan luka. Silikon membantu mencegah balutan foam melekap pada permukaan
luka atau sekitar kulit pada pinggir luka. Hasilnya menghindarkan luka dari trauma akibat
balutan saat mengganti balutan, dan membantu proses penyembuhan. Balutan luka silikon
lunak ini dirancang untuk luka dengan drainase dan luas.
Contoh :

Balutan wafer berperekat/ balutan hydrocolloid


Balutan hidrokoloid ”water-loving” dirancanga elastis, merekat, dan dari agen-agen gell
(seperti pectin atau gelatin) dan bahan-bahan absorben/penyerap lainnya. Bila dikenakan
pada luka, drainase dari luka berinteraksi dengan komponen-komponen dari balutan untuk
membentuk seperti gel yang menciptakan lingkungan yang lembab untuk penyembuhan
luka. Balutan hidrokoloid ada dalam bermacam bentuk, ukuran, dan ketebalan, dan
digunakan pada luka dengan jumlah drainase sedikit atau sedang. Balutan jenis ini
biasanya diganti satu kali selama 5-7 hari, tergantung pada metode aplikasinya, lokasi
luka, derajad paparan kerutan-kerutan dan potongan-potongan, dan inkontinensia. Balutan
hidrokoloid tidak biasa digunakan pada luka yang terinfeksi.
Contoh :

Hydrogels

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 19


Hidrogel tersedia dalam bentuk lembaran, seperti serat kasa, atau gel. Gel akan memberi
rasa sejuk dan dingin pada luka, yang akan meningkatkan rasa nyaman pasien. Gel sangat
baik menciptakan dan mempertahankan lingkungan penyembuhan luka yang moist/lembab
dan digunakan pada jenis luka dengan drainase yang sedikit. Gel diletakkan langsung
diatas permukaan luka, dan biasanya dibalut dengan balutan sekunder (foam atau kasa)
untuk mempertahankan kelembaban sesuai level yang dibutuhkan untuk mendukung
penyembuhan luka.
Contoh :

Hydrofibers
Hidrofiber merupakan balutan yang sangat lunak dan bukan tenunan atau balutan pita
yang terbuat dari serat sodium carboxymethylcellusole, beberapa bahan penyerap sama
dengan yang digunakan pada balutan hidrokoloid. Komponen-komponen balutan akan
berinteraksi dengan drainase dari luka untuk membentuk gel yang lunak yang sangat
mudah dieliminir dari permukaan luka. Hidrofiber digunakan pada luka dengan drainase
yang sedang atau banyak, dan luka yang dalam dan membutuhkan balutan sekunder.
Hidrofiber dapat juga digunakan pada luka yang kering sepanjang kelembaban balutan
tetap dipertahankan (dengan menambahkan larutan normal salin). Balutan hidrofiber dapat
dipakai selama 7 hari, tergantung pada jumlah drainase pada luka.
Contoh :

Alginates
Alginat lunak dan bukan tenunan yang dibentuk dari bahan dasar ganggang laut. Alginate
tersedai dalam bentuk ”pad” atau sumbu. Alginate dan hidrofiber merupakan tipe produk
yang sama. Paa kasus ini, alginate akan menjadi lunak, tidak lengket dengan luka.
Alginate juga digunakan pada luka dengan drainase sedang hingga berat dan tidak dapat
digunakan pada luka yang kering. Balutan dapat dipotong sesuai kebutuhan, bentuk luka
yang akan dibalut, atau dapat dilapisi untuk menambah penyerapan.

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 20


Contoh :

Gauze
Balutan kasa terbuat dari tenunan dan serat non tenunan, rayon, poliester, atau kombinasi
dari serat lainnya. Berbagai produk tenunan ada yang kasar dan berlubang, tergantung
pada benangnya. Kasa berlubang yang baik sering digunakan untuk membungkus, seperti
balutan basah lembab normal saline. Kasa katun kasar, seperti balutan basah lembab
normal saline, digunakan untuk debridement non selektif (mengangkat debris dan atau
jaringan yang mati). Banyak kasa yang bukan tenunan dibuat dari poliester, rayon, atau
campuran bermacam serat yang ditenun seperti kasa katun tetapi lebih kuat, besar, lunak,
dan lebih menyerap. Beberapa balutan, seperti kasa saline hipertonik kering digunakan
untuk debridemen, berisi bahan-bahan yang mendukung penyembuhan. Produk lainnya
berisi petrolatum atau elemen penyembuh luka lainnya dengan indikasi yang sesuai
dengan tipe lukanya.
Dengan memahami hal tersebut diatas maka perawat dapat memilih balutan yang tepat
untuk digunakan saat merawat luka.
Transparan Film
Contoh:

Pembersih Luka
Membersihkan permukaan luka dengan mengangkat bakteri dan drainase. Produk yang
digunakan dapat mengandung deterjen. Dapat juga digunakan normal saline untuk
membersihkan luka tanpa membahayakan jaringan yang baru tumbuh.
Contoh :

Penyembuhan luka membutuhkan pendekatan :

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 21


1. Patient centered: ingat selalu bahwa apa yang menyebabkan sesorang menderita
luka dan atau luka kronik. Kita dapat mengembangkan rencana penanganan yang
baik tetapi bila pasien tidak melibatkan pasien akan berhasil.
2. Holistic: praktek yang baik membutuhkan pengkajian pasien ”whole”/secara
menyeluruh, bukan ”lubang pada pasien”/”hole in the patient”. Semua
kemungkinan faktor-faktor yang berkontribusi harus dieksplorasi.
3. Interdisciplinary: perawatan luka adalah bisnis yang komplek membutuhkan
ketrampilan dari berbagai disiplin, ketrampilan perawatan, fisioterapis, terapi
okupasi, dietisian, dan dokter umum dan spesialis (dermatologis, bedah plastik,
dan bedah vaskular sesuai dengan yang dibutuhkan). Kadang-kadang
memerlukan/melibatkan pekerja sosial.
4. Evidence based: pada saat ini lingkungan penanganan harus berdasarkan pada
kebaikan dan ”cost efekctive”.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Moist Wound Healing adalah mempertahankan isolasi lingkungan luka yang tetap lembab
dengan menggunakan balutan penahan-kelembaban, oklusive dan semi oklusive.
Penanganan luka ini saat ini digemari terutama untuk luka kronik, seperti ”venous leg
ulcers, pressure ulcers, dan diabetic foot ulcers”.
Keseimbangan kelembaban pada permukaan balutan luka adalah faktor kunci dalam
mengoptimalkan perbaikan jaringan, mengeliminasi eksudat dari luka yang berlebihan
pada luka kronik yang merupakan bagian penting untuk permukaan luka. Dan metode
moist wound healing adalah metode untuk mempertahankan kelembaban luka dengan
menggunakan balutan penahan kelembaban, metode ini memiliki prinsip penyembuhan
luka secara alami, karena dengan mempertahankan kelembaban dapat menyembuhkan
lebih cepat dengan melidungi/membalut luka akan tercipta lingkungan yang lembab yang
diikuti oleh pergerakan sel-sel epidermal dengan mudah menyeberangi permukaan luka,
untuk menyembuhkan luka. Keuntungan dengan mempertahankan luka tetap lembab dan

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 22


dilindungi selama proses penyembuhan dapat mempercepat penyembuhan 45 % dan
mengurangi komplikasi infeksi dan pertumbuhan jaringan parut residual.

4.2 Saran
Dari manfaat dan keuntungan metode Moist Wound Healing tersebut, dapat dimanfaatkan
sebagai suatu trend perawatan luka dengan prinsip luka cepat sembuh, kualitas
penyembuhan baik serta dapat mengurangi biaya perawatan luka, dan ini sangat penting
bagi perawat untuk dapat mengembangkan dan mengaplikasikannya di lingkungan
perawatan khususnya perawatan luka yang jelas sangat memberikan kepuasan bagi
kesembuhan luka pasien.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.wounds1.com/care/procedure20.cfm/35 , diakses tanggal 20 Maret 2007


http://www.google.co.id/search?q=moist+wound+healing&hl=id&start=90&sa=N ,
diakses tanggal 20 Maret 2007
http://www.google.co.id/search?
hl=id&q=moist+wound+healing&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta= , diakses
tanggal 24 Maret 07
http://www.worldwidewounds.com/1999/june/Steve-Thomas/Meningococcal-
Meningitis.html, diakses tanggal 24 Maret 07
http://www.clevelandclinic.org/health/healthinfo/docs/3800/3820.asp?
index=12223&src=newsp , diakses tanggal 24 Maret 07
http://www.burnsurgery.org/Betaweb/Modules/moisthealing/part_2bc.htm, diakses
tanggal 20 Maret 2007
http://www.worldwidewounds.com/2004/september/Ryan/Psychology-Pain-Wound-
Healing.html, diakses tanggal 4 April 2007

Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 23


Moist Wound Healing, Trend n Isu, 2007 24