Anda di halaman 1dari 10

INFLUENZA A, B, C VIRUS

Disusun Oleh
KP/ KELOMPOK : A-2
Nama Anggota :
Yulyana Thie (1130405)
Wydia Opsitari (1130484)
Sylvia Silvanus Sie (1130486)
Melissa Stephanie Oetama (1130487)
Adelina Sisilia (1130535)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SURABAYA
2015

1. Struktur Virus
Virus influenza A, B, dan C sangat serupa pada struktur keseluruhannya.Struktur
virus influenza yaitu enveloped
virus berbentuk bundar dengan diameter
virion
beberapa

sekitar

80-120

mungkin

nm

ada

dan

bentuk

filamentosa. Bentuk filamentosa ini


lebih sering terjadi pada influenza C,
yang

dapat membentuk struktur seperti benang

dengan

panjang mencapai 500 mikrometer pada


permukaan dari sel yang terinfeksi.
Asam nukleatnya terdiri dari single
stranded RNA dengan 7-8 segmen
terpisah berbeda panjang dan dilindungi

dengan lapisan dalam berupa protein (kapsid) dan lapisan luar berupa lipid bilayer. 7-8
segmen RNA ini masih dibungkus lagi dengan protein polimerase dan nukleoprotein
(NP). Pada lapisan lipid bilayer terdapat 2 jenis glikoprotein yang menjadi karakteristik
virus influenza. 2 jenis glikoprotein ini adalah hemaglutinin (HA) spikes dan
neuraminidase (NA) spikes.
1.1. Perbedaan Struktur Virus Influenza Tipe A, B dan C
1.1.1 Tipe A
Virus

influenza

diklasifikasikan
berdasarkan

menjadi
respons

subtipe
antibodi

terhadap HA dan NA. Jenis-jenis HA


dan NA tersebut merupakan
pembedaan H dan N
dalam, penamaan virus, misalnya H5N1.
Tipe

mempunyai

segmen genom RNA yaitu :


1. gen PB2 : menyandi
polimerase B2 (PB2)
2.
B1 (PB1)

gen PB1 : menyandi protein polimerase

3. gen PA : menyandi polimerase A Ketiga protein diatas adalah sub unit dari RNA
polimerase yang berperan dalam replikasi virus.
4. gen HA : menyandi protein yang disebut Haemaglutinin (menggumpalkan darah);
fungsi protein ini adalah menempelkan virus pada sel inang.
5. gen NP : menyandi protein nukleokapsid
6. gen NA : menyandi protein dan enzim neuramidase, berperan dalam memotong residu
asam sialat yang ada pada molekul haemoglobin.
7. gen M : menyandi 2 buah protein matriks yang disebut M1 dan M2. M1 berikatan
dengan ribonukleoprotein sedangkan M2 sebagai ion chanel.
8. gen NS : menyandi dua buah protein : NS1 dan NS2. NS1 berperan dalam membantu
transport RNA ke nukleus dan translasi dari RNA. NS2 berperan dalam mentransport
ribonukleoprotein yang baru terbentuk untuk memperlancar perkembangbiakan virus.
Di antara ketiga tipe virus influenza ini, hanya tipe A yang mempunyai subtipe
paling banyak, terdiri dari H1 sampai H16 dan N1 sampai N9. Virus influenza tipe A
cepat bermutasi karena antigennya bersifat drift dan shift. Antigenic shift terjadi karena
terdapat perubahan mayor pada protein HA maupun Na melalui genetic reassortment. Bila
2 virus yang berbeda dari 2 inang berbeda menginfeksi inang ke 3, misalnya babi, maka
akan timbul subtipe virus baru yang mampu menginfeksi sel inang lain termasuk manusia
dan tidak dikenal oleh sistem imun sel inang. Perubahan ini terjadi secara mendadak
sehingga dalam waktu singkat dapat mengenai sejumlah besar populasi yang rentan
sehingga timbul pandemi. Antigenic shift hanya terdapat pada virus influenza A.
Antigenic drift merupakan perubahan minor pada komposisi antigen akibat misens
mutation. Meskipun terjadi perubahan struktur antigen, tetapi fungsinya masih sama
Adanya subtipe disebabkan perbedaan kedua jenis antigen HA (H1H16) dan NA (N1
N9). Kombinasi yang berbeda antara HA dan NA akan membentuk subtipe yang berbeda
beda. Hingga saat ini hanya beberapa virus influenza A yang menimbulkan penyakit pada
manusia yaitu H1N1, H1N2 dan H3N2. Semua subtipe virus influenza A dapat
menginfeksi burung dan ternak, tetapi hanya subtipe H5 terutama H5N1 dan H7N7 yang
sangat patogen dapat menginfeksi manusia serta menimbulkan wabah flu burung yang
berbahaya. Virus influenza tipe B hanya memiliki variasi antigenic drift, sering
menimbulkan epidemi dan hanya menginfeksi manusia. Virus influenza tipe C memiliki
antigen yang stabil sehingga menyebabkan penyakit influenza ringan dan hanya
menginfeksi manusia.
1.1.2

Tipe B

Virus influenza B mengalami mutasi 2-3


kali lebih lambat dibandingkan tipe A selain itu
diketahui influenza tipe B hanya
menginfeksi

manusia

dan hewan tertentu dan oleh


karenanya keragaman genetiknya lebih sedikit,
dan hanya terdapat satu serotipe
influenza

B.

Karena

tidak

terdapat

keragaman antigenik, beberapa tingkat


kekebalan ter

hadap influenza B biasanya diperoleh pada usia muda.

Namun, mutasi yang terjadi pada virus influenza B cukup untuk membuat kekebalan
permanen menjadi tidak mungkin. Perubahan antigen yang lambat, dikombinasikan
dengan

jumlah

inang

yang

terbatas

(tidak

memungkinkan perpindahan

antigen antarspesies), membuat pandemi influenza B tidak terjadi. Tipe B memiliki 8


segmen genom RNA juga namun perbedaannya hanya pada segmen ke-7 yaitu gen M
yang menyandi BM2
1.1.3

Virus Influenza Tipe C

Tipe A dan tipe B memiiki 2 glikoprotein: hemaglutinin(HA) dan


neuraminidase (NA) sedangkan Tipe C hanya mempunyai 1
glikoprotein: hemagglutinin-esterase fusion (HEF).
Glikoprotein

ini

berfungsi

penempelan
antara

untuk

dan

virus

dan

fusi
sel

membran. Tipe C adalah satusatunya virus influenza yang memiliki enzim


esterase.

Enzim

ini

mirip

dengan

neuraminidase pada tipe A dan


tipe B karena dua-duanya berfungsi
untuk menghancurkan reseptor sel inang.
Pada influenza tipe A dan B dapat mengalami antigenic drift dan shift. Sedangkan
virus influenza tipe C hanya bisa mengalami atigenic drift . Tipe C ini hanya memiliki
7 segmen genom RNA perbedaannya dengan tipe A dan B adalah tipe C tidak punya
segmen untuk mengkode NA selain itu jika pada tipe lain ada segmen untuk
mengkode HA pada tipe C segmen ini digantikan untuk mengkode HEF.

2. Siklus Hidup Virus


2.1 Influenza tipe A

(a) Influenza tipe A punya lapisan lipid bilayer pada envelopenya yang didalamnya
terdapat genom RNA dengan 8 segmen, yang dengan RNA polimerase trimerik virus
(PB1, PB2, PA) dan dilapisi dengan lapisan ganda nukleoprotein untuk membentuk
vRNP(viral ribonucleoprotein complex). Lapisan luar envelope terdapat spike yaitu
HA, NA dan sejumlah kecil M2, dan M1 yang menjaga vNRP tetap menempel pada
lapisan dalam. (b) Glikoprotein pada permukaan virus yaitu HA berikatan dengan
reseptor asam sialat pada permukaan membran sel inang, dan virus ditrasfer kedalam
sel dalam bentuk vesikel endositik (endositosis). pH yang rendah pada endosom
memicu perubahan konformasi pada protein HA yang menyebabkan terjadinya fusi
antara virus dan membran endosomal. pH yang rendah juga memicu aliran proton ke
virus melalui kanal ion M2, dengan demikian memisahkan vNRPs dari protein
matriks M1. vNRPs yang dilepaskan kedalam sitoplasna kemudian dibawa ke nukleus
melalui pengenalan oleh nuclear localization sequences (NLSs) pada nucleoprotein
hanya ketika molekul M1 sudah terpisah dari vNRPs. (c) dalam nukleus, polimerase
virus memulai sintesis mRNA virus dengan fragmen RNA ujung 5 yang membelah
dari pre-mRNA sel inang. Subunit PB2 kemudian berikatan dengan ujung 5 premRNA, dan daerah endonuklease pada subunitu PA membelah pre-mRNA menjadi
10-13 nukleotida menghilir dari ujung tersebut.

Transkripsi mRNA virus

yang

berikutnya diinisiasi dari ujung 3dari segmen RNA. Pengambila ujung tersebut

terjadi pada pre-mRNA yang baru. (d) mRNA virus kemudian ditransfer ke sitoplasma
untuk translasi menjadi protein virus. Permukaan proten HA, M2, dan Na diproses
didalam reticulum endoplasma diglikosilasi di badan golgi dan ditransfer ke membran
sel. (e) protein NS1 pada virus influenza A ini memiliki peran yang sangat penting
dalam menekan produksi mRNA sel inang dengan menghambat pemrosesan pada
ujung 3, secara terus menerus memblok produksi mRNA sel inang, termasuk
interferon- mRNA. Tidak seperti sel inang , mRNA virus tidak memerlukan
pemrosesan ujung 3 oleh mesin-mesin sel inang

Oleh karena itu, mRNA virus

ditransfer ke sitoplasma, sedangkan sebagian besar sintesis mRNA sel inang diblok.
(f) polymerase virus bertanggung jawab tidak hanya pada sintesis capped RNAprimed mRNA tetapi juga replikasi dari unprimed vRNA dengan langkah steps ()
vRNA (+) cRNA () vRNA. Molekul nucleoprotein dibutuhkan untuk 2
langkah replikasi ini dan disimpan didalam cRNA dan vRNA selama sintesis RNA.
vRNP yang dihasilkan kemudian dibawa ke sitoplasma, dipperantarai oleh kompleks
M1-NS2 yang berikatan pada vNRP; NS2 berinteraksi dengan CRM1 pada sel inang
yang mengeluarkan vNRP dari nukleus. (g) vNRP kemudian sampai di membran sel
untuk digabungkan menjadi virus baru. Protein HA dan NA pada virus baru
mengandung asam sialat pada ujingnya yang membuat virus virus baru berkumpul
dan bersama sama menuju permukaan sel. NA dari virus yang baru terbentuk
membelah residu asam sialat dengan kemudian membebaskan virus baru dari sel
inang.
2.2 Influenza Tipe B
Untuk Influenza tipe B siklus hidupnya sama dengan influenza tipe A hanya saja
perbedaan terdapat pada kanal ion yaitu M2 pada tipe A dan NB pada tipe B RNA
segmen ke 7 yang mengkodekan M1 dan M2 pada influenza tipe A namun
mengkodekan BM2 pada influenza tipe B.
2.3 Influenza Tipe C
Pada influenza tipe C perbedaannya hanya pada proses pelekatan jika tipe A
dan tipe B menggunakan protein HA untuk berlekatan dengan reseptor pada sel inang
tipe C menggunakan HEF (Hemagglutinin-Esterase Fusion).
3. Penyakit yang disebabkan serta patogenesisnya
Dari berbagai penelitan seroprevalensi secara epidemiologis menunjukkan bahwa
beberapa subtipe virus influenza A telah menyebabkan wabah pandemi
antara lain seperti yang ditunjukkan pada tabel 24.1.

Sifat dari Virus Influenza Tipe A yaitu bisa melakukan antigenic drift dan antigenic
shift menyebabkan virus tipe ini memiliki banyak strain yang menyebabkan terjadinya
endemik maupun pandemik. Sedangkan virus tipe B B jarang dikabarkan menyebabkan
pandemik begitu pula virus tipe C
Patogenesis Virus Influenza
Infeksi virus Influenza Tipe A contohnya H5N1 dimulai ketika virus memasuki sel sel
inang setelah terjadi penempelan spikes virion dengan reseptor spesifik yang ada di
permukaan sel inangnya. Virion akan menyusup ke sitoplasma sel dan akan
mengintegrasikan materi genetiknya di dalam inti sel inangnya, dan dengan menggunakan
mesin genetik dari sel inangnya, virus dapat bereplikasi membentuk virion-virion baru,
dan virion-virion ini dapat menginfeksi kembali sel-sel disekitarnya. Fase penempelan
(attachment) adalah fase yang paling menentukan apakah virus bisa masuk atau tidak ke
dalam sel inangnya untuk melanjutkan replikasinya. Virus influenza A melalui spikes
hemaglutinin (HA) akan berikatan dengan reseptor yang mengandung sialic acid (SA)
yang ada pada permukaan sel inangnya. Ada perbedaan penting antara molekul reseptor
yang ada pada manusia dengan reseptor yang ada pada unggas atau binatang. Pada virus
flu burung, mereka dapat mengenali dan terikat pada reseptor yang hanya terdapat pada
jenis unggas yang terdiri dari oligosakharida yang mengandung N-cethylneuraminic acid
-2,3-galactose (SA -2,3-Gal), dimana molekul ini berbeda dengan reseptor yang ada
pada manusia. Reseptor yang ada pada permukaan sel manusia adalah SA -2,6-galactose
(SA -2,6-Gal), sehingga secara teoritis virus flu burung tidak bisa menginfeksi manusia

karena perbedaan reseptor pesifiknya. Namun demikian, dengan perubahan hanya 1 asam
amino saja konfigurasi reseptor tersebut dapat dirubah sehingga reseptor pada manusia
dikenali oleh HPAI-H5N1. Potensi virus H5N1 untuk melakukan mutasi inilah yang
dikhawatirkan sehingga virus dapat membuat varian-varian baru dari HPAI-H5N1 yang
dapat menular antar manusia ke manusia (Russel CJ and Webster RG.2005, Stevens J. et.
al. 2006).
Patogenesis virus influenza baik tipe A, B maupun C hampir serupa yang
membedakan adalah kemampuan virus ini untuk melakukan mutasi. Semakin tinggi
kemampuan mutasinya maka semakin banyak jenis strain baru yang akan berkembang
menjadi penyakit baru.
4. Vaksin atau Antivirus Disertai Mekanismenya
4.1 Mekanisme Kerja Vaksin Influenza
Vaksin yang digunakan untuk virus influenza adalah vaksin virus mati. Vaksin
virus mati sangat berhasil dipakai untuk mencegah penyakit influenza. Virus yang sudah
mati ini bekerja dengan cara memicu sistem imunitas tubuh untuk menghasilkan antibodi
yang berguna selanjutnya jika pasien terserang penyakit flu dengan virus/ antigen. Setiap
dosis vaksin mati saat ini mengandung 15 g virus influenza A H1N1, H3N2, dan virus
influenza B contohnya flubio. Untuk virus influenza tipe C karena jarang mengalami
mutasi dan sifatnya yang tidak terlalu berbahaya bagi manusia dan tidak menyebabkan
pandemic maka virus tipe C tidak memiliki vaksin khusus. Vaksin mati diperkirakan
mempunyai efikasi protektivitas 60-90% pada anak-anak dan orang dewasa, dan lebih
rendah pada orang tua. Vaksin ini sudah diakui sangat aman dan ditoleransi dengan sangat
baik. Karena terjadinya mutasi shift atau drift pada protein HA dan NA virus influenza
tidak dapat diramal, maka WHO mengorganisasi sistem surveilans influenza secara global
untuk memilih virus influenza A H1N1 dan H3N2 dan virus influenza B yang mangalami
mutasi drift yang terakhir untuk dipakai membuat vaksin trivalen. Pemilihan virus
dilakukan antara bulan Februari dan April setiap tahun, kemudian vaksin diproduksi, dan
didistribusikan bulan September atau Oktober pada tahun yang sama. Hal ini untuk
mencegah agar pembuatan vaksin jangan sampai terlambat seperti pada pandemi-pandemi
yang lalu. Ada 2 tipe vaksin yaitu TIV (Trivalent Inactived Influenza Vaccine) dan QIV
(Quadrivalent Inactived Influenza).
Trivalent berisi 2 virus influenza tipe A (H1N1 dan H3N2) dan 1 virus influenza
tipe B. tersedia dalam bentuk:

Standard-dose trivalent shots (IIV3) yang diproduksi dengan menumbuhkan virus


didalam telur. Beberapa ada yang diperbolehkan untuk semua umur. Tetapi ada juga
yang disetujui hanya untuk umur 6 bulan keatas.

Intradermal trivalent shot, disuntikkan lewat kulit bukan otot dan menggunakan jarum
suntik yang lebih kecildibanding yang biasanya. Untuk umur 18-64 tahun.

Trivalent shots dosis tinggi, untuk umur 65 tahun keatas

Trivalent shot yang mengandung virus yang tumbuh dari kultur sel, untuk 18 tahun ke
atas.

Trivalent shot rekombinana (egg-free), untuk umur 18 tahun keatas.


Vaksin flu quadrivalent yang untuk melawan 2 jenis influenza a dan 2 jenis

influenza b yang tersedia adalah :

Quadrivalent flu shot dan

Quadrivalent nasal spray vaccine, untuk umur 2 sampai 49 tahun.

4.2 Mekanisme Kerja Antivirus


Virus influenza tipe A dilengkapi dengan 3 protein: kanal ion M2, lektin
hemaglutinin dan enzim sialidase. Biasanya, virus influenza menuju ke target sel
inang dengan menggunakan hemaglutinin untuk mengenali dan menempel pada sel
inang. Kemudian virus masuk melalui endositosis, kemudian fusi terjadi dan mesinmesin sel inang digunakan untuk memproduksi bagian virus yang dibutuhkan.
Sintesis protein dan partikel virus selanjutnya yang dipasang di sel inang
mempersiapkan virion untuk proses budding keluar dari sel inang. Enzim sialidase
membelah residu Neu5Ac baik dari glikoprotein virion yang baru disintesis dan
permukaan sel inang. Aksi sialidase memungkinkan kumpulan virion baru untuk
keluar dari sel inang yang sudah terinfeksi sehingga bisa menginfeksi sel inang baru.
Baik hemaglutinin dan sialidase sudah di jadikan sebagai target potensial obat anti-

influenza.
Misalnya
zanamivir dan
oseltamivir
yang memblok
kerja

dari

sialidase

dan

secara
signifikan
menghambat
mekanisme
rilis. Obat golongan adamantan memblok kanal ion M2 contohnya amantadin dan
rimantadin.terakhir, ribavirin juga diga dapat menghambat replikasi virus dengan
beraksi pada fungsi RNA polimerase.

Daftar Pustaka
Das, Kaylan, 2010. Structures of Influenza A Proteins and Insights into
Antiviral Drug Targets. Nature Structural & Molecular Biology. 11 April 2010.
Radji, Maksum, 2006. Avian Influenza A (H5N1): Patogenesis, Pencegahan
dan Penyebaran Pada Manusia. Majalah Ilmu Kefarmasian Vol III, No 2. Hal 59-60
Setiawan, I Made, 2008. Vaksin Virus Influenza. Majalah Kedokteran
Indonesia, Vol 58, No 12. Hal 519
Tortora, Gerard. J, 2013. Microbiology : An Introduction 11th edition. Pearson
Education : Illinois,USA.
http://www.cdc.gov/flu/about/qa/flushot.htm
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC521833/
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2794490/
http://www.cdc.gov/flu/about/viruses/types.htm
http://viralzone.expasy.org/viralzone/all_by_species/80.html
http://viralzone.expasy.org/viralzone/all_by_species/6.html
http://viralzone.expasy.org/viralzone/all_by_species/81.html