Anda di halaman 1dari 12

DESAIN EKSPERIMEN

Desain penelitian mempunyai dua batasan, yaitu secara luas dan secara sempit. Secara
sempit berarti penggambaran secara jelas tentang hubungan antara variabel sehingga
diperoleh gambaran keterkaitan antara variabel. Sedangkan secara luas berarti semua proses
yang diperlukan dalam penelitian, yang bermula dari penemuan ide sampai dengan pengujian
hipotesis dan pengambilan kesimpulan atas hasil pengujian tersebut.
Dikenal sejumlah desain penelitian eksperimen, yang dibagi dalam tiga kelompok besar,
yaitu: desain praeksperimen, desain eksperimen mumi, dan desain eksperimen semua.
Desain Eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mempelajari atau menemukan
sesuatu mengenai proses yang ada atau membandingkan efek dari beberapa kondisi terhadap
suatu fenomena (Montgomery,1991). Salah satu rancangan penelitian yang ada di dalam
desain eksperimen yaitu Percobaan Faktorial. Percobaan faktorial adalah suatu percobaan
yang perlakuannya terdiri atas semua kemungkinan kombinasi taraf dari beberapa faktor.
Desain Faktorial (Factorial Design)
Beberapa desain yang telah dibahas sebelumnya merupakan desain yang hanya
menggunakan variabel tunggal. Dalam desain-desain tersebut, peneliti memanipulasi satu
variabel bebas untuk mendapatkan eveknya terhadap variabel terkait. Namun dalam kasus
gejala sosial yang lebih rumit biasanyaterdapat beberapa variabel yang saling berinteraksi
secara simultan, sehingga usaha untuk membatasi kajian hanya satu variabel tertentu akan
sama artinya dengan penyederhanaan situasi sosial yang seharusnya jauh lebih kompleks.
Variabel bebas itu sendiri mungkin berinteraksi dengan variabel lainnya, sehingga penelitian
yang dicapai dari desain satu variabel tunggal mungkin tidak memberikan arti yang
signifikan. Sebagai contoh, koeefektifan metode pembelajaran tertentu mungkin tergantung
pada sejumlah variabel, misalnya tingkat kecerdasan siswa, keperibadian guru, kondisi ruang
kelas, dan sebagainya. Pengajaaran terprogram misalnya, mungkin lebih efektif bagi siswa
yang kurang cerdas daripada siswa yang cerdas. Desain satu variabel tunggal tidak akan dapat
mengungkapkan pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan tingkat kecerdasan
tersebut.
Informasi yang diberikan terhadap suaatu eksperimen dapat ditingkatkan secara nyata
dengan cara menegaskan efek simultan dari dua atau lebih variabel bebas dengan
menggunakan desain faktorial. Dalam desain faktorial dua atau lebih variabel bebas
dimanipulasi secara simultan untuk menyelidiki pengaruhnya terhadap variabel terkait,
disamping itu juga pengaruh yang disebabkan oleh interaksi antara beberapa variabel itu
sekaligus dapat diukur melalui desain faktorial ini.
Dalam desain faktorial peneliti memungkinkan untuk memanipulasi hanya satu variabel
bebas namu dengan mengontrol variabel-variabel atribut yang mempengaruhi variabel bebas
itu. Beberapa contoh variabel atribut yang dikontrol itu adalah umur, jenis kelamin,
kecerdasan, sikap, motivasi, presepsi, status sosial ekonomi, dan debagainya. Penggunaan
variabel atribut dalam desain eksperimen faktorial dimaksud untuk meningkatkan keakuratan
dan ketergeneralisasian hasil penelitian.

Pengaruh interaksi

1.
2.
3.
4.
5.

1.
2.
3.
4.
5.

Dalam desain faktorial, fariabel eksperimen dan variabel atribut biasanya dibagi atas
beberapa level. Contoh desaim faktorial 2x2 ( 2 level variabel eksperimen dan 2 level
variabel atribut, sebagai berikut
Variabel
Variabel eksperimen
Jumlah
Atribut
(A)
(B)
Perlakuan A1
Perlakuan A2
Level B1
A1B1
A2B1
B1
Level B2
A1B2
A2B2
B2
Jumlah
A1
A2
Berdasarkan desain faktorial 2x2 tersebut peneliti dapat menentukan :
Pengaruh utama (main effect) variabel eksperimen (A) terhadap variabel terikat tanpa
mempertimbangkan pengaruh variabel tersebut.
Pengaruh utama (main effect) variabel atribut (B) terhadap variabel terkait tamoa
mempertimbangkan pengaruh variabel eksperimen
Pengaruh ineraksi antara variabel eksperimen (A) dan variabel atribut (B) terhadap variabel
terikat
Pengaruh sederhana (simple effect) perlakuan A1 terhadap masing-masing level variabel
atribut B (B1,B2,B3)
Pengaruh sederhana (simple effect) perlakuan A2 terhadap maing-masing level variabel
atribut B (B1,B2,B3)
Dalam desain fariabel eksperimen faktorial memungkinkan pula bagi peneliti untuk
memanipulasi lebih dari satu variabel bebas secara bersamaan. Contoh : desain faktorial 2x2
yang memanipulasi dua variabel bebas adalah sebagai berikut
Variabel
Variabel eksperimen
Jumlah
Eksperimen
(A)
(B)
Perlakuan A1
Perlakuan A2
Perlakuan B1
A1B1
A2B1
B1
Perlakuan B2
A1B2
A2B2
B2
Jumlah
A1
A2
Melalui desainini dapat diuji :
Pengaruh utama (main effect) variabel eksperimen (A) terhadap variabel terkait tanpa
mempertimbangkan pengaruh variabel eksperimen (B)
Pengaruh utama (main efect) variabel eksperimen (B) terhadap variabel terikat tanpa
mempertimbangkan variabel eksperimen (A)
Pengaruh interaksi antara variabel eksperimen (A) dan variabel eksperimen (B) terhadap
variabel terkait
Pengaruh sederhana (simple effect) perlakuan A1 terhadap masing-masing level variabel
eksperimen B n(B1 dan b2)
Pengaruh sederhana (simple effect) perlakuan A2 terhadap masing-masing level variabel
eksperimen B (B1 dan b2)
Desain faktorial dapat diperluas menjadi desain eksperimen yang lebih rumit yaitu dengan
melibatkan lebih dari dua variabel bebas, misalnya desain fariabel 2x2x2. Angka-angka

dalam desain ini menunjukan banyaknya lefel variabel bebas yang dilibatkan. Jadi desain
eksperimen faktorial 2x2x2 berarti digunakan tiga variabel bebas yang memiliki 2 level, 2
level dan 2 level.
Keuntungan

Secara teoritis dalam desain fakatorial dapaat dilibatkan variabel bebas berapapun
banyaknya dengan level yang bervariasi pula dan dengan menggunakan rangan faktorial yang
lebih rumit. Hambatan yang mungkin ditemui peneliti jika menggunakan desain faktorial
yang lebih kompleks adalah akan kesultan dalam mengatur subyek dalam kelompokkelompok penelitian serta analisis statistiknya akan menjadi rumit. Namun dengan demikian,
dengan menggunakan desain faktorial ini maka memungkinkan bagi peneliti untuk ;
1. Menguji pengaruh interaksi antara fariabel bebas terhadap fariabel terkait, menguji pengaruh
utama (main effect) variabel bebas terhadap variabel terkait, dan menguji pengaruh sederhana
(simple effect) masing-masing level variabel bebas terhadap variabel terkait.
2. Penggunaan beberapa variabel bebas dengan level yang berbeda menyebabkan variabelvariabel tersebut saling mengintrol antara satu dengan yang lainnya, sehingga hasial
pengujian hipotesis penelitian menjadi lebih akurat.
http://fathullahna.blogspot.com/2012/10/penelitian-eksperimen.html
https://smartstat.wordpress.com/ smartat.info

Percobaan Dua Faktor


Percobaan Faktorial
(Bukan rancangan namun susunan perlakuan?)
Pengertian
Ciri

Plot

Pembagian faktorial dalam RAL dan RAKL

Percobaan faktorial adalah suatu percobaan yang perlakuannya terdiri atas semua
kemungkinan kombinasi taraf dari beberapa faktor. Percobaan dengan menggunakan f faktor
dengan t taraf untuk setiap faktornya disimbolkan dengan percobaan faktorial f t. Dalam
melaksanakan percobaan faktorial, digunakan rancangan dasar, apakah RAL, RAK, RBSL,

RBGL, dan sebagainya (Gasper, 1999). Namun, pada makalah ini hanya akan membahas
faktorial dalam RAL.
Faktorial dalam RAL

Sebuah penelitian yang menggunakan Percobaan Faktorial dengan Rancangan Dasar RAL
dikarenakan penelitian tersebut dikelompokkan menjadi dua pengaruh utama (noda tinta dan
deterjen) dan bertujuan untuk mengetahui adakah interaksi antara noda tinta dengan deterjen.
RAL?
How?
Latar belakang 5w 1h
Contoh
Bagan
Tabulasi data
Model linear dari faktorial RAL

2.1.1

Model Linear dan Analisis Ragam Percobaan yang Terdiri dari Dua Faktor
dengan RAL
Model statistika untuk percobaan faktorial yang terdiri dari dua factor (factor
A dan B) dengan menggunakan rancangan dasar RAL adakah sebagai berikut :
Yijk i j ij ijk
(2.1)
dimana :
Yijk
= Nilai pengamatan pada satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi

i
j

ij
ijk

perlakuan ij (taraf ke-i dari faktor A dan taraf ke-j dari faktor B).
= Nilai tengah populasi (rata-rata yang sesungguhnya).
= Pengaruh aditif taraf ke-i dari faktor A.
= Pengaruh aditif taraf ke-j dari faktor B.
= Pengaruh interaksi taraf ke-i pada faktor A dan taraf ke-j faktor B.
= Pengaruh galat dari satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi

perlakuan ij.
(Gasper, 1999).
ANOVA (Analysis of Variance)
Dalam melakukan analisis data dilakukan hipotesis sebagai berikut.

1. Interaksi
ij 0
H0 :
H1 : Ada pengaruh interaksi terhadap respon yang diamati.
2. Pengaruh Utama Faktor A
i 0
H0 :
H1 : Ada perbedaan respon diantara taraf faktor A yang dicobakan.
3. Pengaruh Utama Faktor B
j 0
H0 :
H1 : Ada perbedaan respon diantara taraf faktor B yang dicobakan.
Dalam percobaan faktorial, hipotesis tentang interaksi perlu diuji terlebih dahulu. Jika
terdapat pengaruh interaksi (H0 ditolak), maka tidak perlu lagi melakukan pengujian hipotesis
pengaruh utama (hipotesis 2 dan 3). Tetapi jika pengujian terhadap hipotesis mengenai
interaksi (H0 diterima), maka pengujian terhadap hipotesis mengenai pengaruh utama faktor
A dan pengaruh utama faktor B menjadi bermanfaat.
Tabel 2.3 Struktur Analysis of Variance (ANOVA)
Sumber

Derajat Bebas

Keragaman
Perlakuan
A
B
AB
Galat
Total

ab-1
a-1
b-1
(a-1)(b-1)
ab(r-1)
rab-1

Jumlah

Kuadrat

Kuadrat
JKP
JK(A)
JK(B)
JK(AB)
JKG
JKT

Tengah
KTP
KT(A)
KT(B)
KT(AB)
KTG
-

Fhitung
KTP/KTG
KT(A)/KTG
KT(B)/KTG
KT(AB)/KTG

Keterangan :

FK =

Y...2
rab

(2.2)

2
ijk

FK

i , j ,k

JKT =

(2.3)

2
ij.

i, j

JKP =
JKG =

FK

JKT JKP

a
i

JK(A) =

rb

(2.4)
(2.5)

FK
(2.6)

ra

JK(B) =

FK
(2.7)

JKP JK ( A) JK ( B )

JK(AB) =
(Gasper, 1999).

(2.8)

2.2 Uji Perbandingan Berganda (Uji Tukey)


Uji Tukey sering juga disebut dengan uji beda nyata jujur, diperkenalkan oleh Tukey
(1953). Prosedurpengujiannya mirip dengan LSD, yaitu mempunyai satu pembanding dan
digunakan sebagaialternatif pengganti LSD apabila kita ingin menguji seluruh pasangan ratarata perlakuan tanparencana. Uji Tukey digunakan untuk membandingkan seluruh pasangan
rata-rata perlakuan setelahuji Analisis Ragam di lakukan.
Prosedur pengujian dengan Uji Tukey HSD :
1. Langkah pengujian :
Urutkan rata-rata perlakuan (urutan menaik/menurun).
Tentukan nilai Tukey HSD () dengan formula:

q p, v

KTG
r

dimana :
p

= jumlah perlakuan = t.

= derajat bebas galat.

= banyaknya ulangan.

= taraf nyata.
q(p,v) = nilai kritis diperoleh dari tabel wilayah nyata student.
2. Kriteria pengujian :
Bandingkan nilai mutlak selisih kedua rata-rata yang akan kita lihat perbedaannya
dengannilai HSD dengan kriteria pengujian sebagai berikut :
> HSD0.05

maka hasil ui menjadi nyata

< HSD0.05

maka hasil uji tidak nyata

| i j |

Jika

(Setiawan, 2009).

Model tetap
Model Acak
Model Campuran (acak dan lengkap)
Hipotesisnya
Perhitungan Analisis
SPSS

Dasar-Dasar Perancangan Percobaan


Written by Ade Setiawan
Published on 13 January 2011
Category: Dasar-dasar Rancangan Percobaan

Dasar-Dasar Perancangan Percobaan

Perancangan Percobaan

Komponen/Klasifikasi Perancangan Percobaan

Prinsip-prinsip Dasar dalam Perancangan Percobaan

Model Tetap dan Model Acak.

All Pages

Page 1 of 5

Hubungan antara Metode Ilmiah dan Metode Percobaan

Metode Ilmiah adalah studi terhadap kebenaran yang diatur oleh


pertimbangan logis.

Metode Percobaan adalah salah satu metode ilmiah dalam pengumpulan


data empiris untuk memperoleh pengetahuan baru. Jadi metode ilmiah itu
bermacam-macam jenisnya salah satunya adalah metode percobaan.

Istilah-istilah dalam Perancangan Percobaan

Percobaan :

Suatu keadaan yg dicoba pada kondisi/situasi tertentu yg tetapkan


oleh si pencoba.

Suatu uji atau sederetan uji yang bertujuan merubah peubah input
menjadi suatu output yang merupakan respon dari percobaan tersebut

Suatu kegiatan yang dilakukan untuk membangkitkan data yang


merupakan respon dari objek/individu/unit yang dikondisikan tertentu

Perancangan : Usaha atau seluk beluk pembuatan rancangan.

Rancangan : Wujud/hasil dari merancang.

Uji Coba : Digunakan untuk masalah situasi yang bersifat periodik atau
tidak terus menerus. Ex. KIR mobil.

Pengujian : Diarahkan terhadap keberhasilan, bukan untuk menjawab


bagaimana keberhasilanl itu terjadi. Ex. Pengujian daya tumbuh benih.

Percobaan : Diarahkan untuk memahami masalah melalui struktur-struktur


uji yg dianalisis secara keseluruhan. Ex. Percobaan pemupukan.

Hal-hal yg perlu dalam melakukan percobaan:

Apa yg menjadi tujuan percobaan

Apa yg menjadi perlakuan?

Metode

Apa yg menjadi Satuan Percobaan?

Apa yg menjadi Satuan Pengamatan?

Ukuran apa yg akan dicatat?

Apa rancangannya?

Justifikasi untuk rancangan Ulangan

Pengacakan

Rencana

Analisis Statistik yg diusulkan

Apa yg menjadi tujuan percobaan?

Tujuan percobaan ditulis secara jelas, dapat berbentuk pertanyaan,


hipotesis yg hendak diuji atau pengaruh yg hendak diuji

Teladan: "Untuk menduga seberapa jauh perbedaan


pemupukan dengan pupuk A dibanding dengan pupuk B dalam
meningkatkan produksi varietas jagung hibrida"

Apa yg menjadi perlakuan?

Metode atau prosedur yang akan diterapkan kepada unit percobaan

Kadang-kadang sederhana, kadang-kadang berupa kombinasi

Struktur perlakuan:

Tidak terstruktur

Beberapa perlakuan baru dengan kontrol

Semua kombinasi dua faktor

Semua kombinasi dua faktor + kontrol

Semua kombinasi tiga faktor atau lebih


Deskripsikan secara jelas perlakuan yg menjadi perhatian

Metode

Berisi penjelasan bagaimana menerapkan perlakuan ke dalam unit


percobaan, dan apa yg dilakukan sampai seluruh pengukuran diambil
Biasa dilakukan bukan oleh statistisi
Apa yg menjadi unit percobaan?

Unit terkecil dalam suatu percobaan yang diberi suatu perlakuan

Bisa berupa petak lahan, individu, sekandang ternak, dll tergantung


dari penelitiannya
Apa yg menjadi unit amatan?

Anak gugus dari unit percobaan tempat dimana respons perlakuan

diukur
Pada beberapa kasus, unit percobaan = unit amatan

Tentunya, harus diketahui terlebih dahulu ukuran apa yg akan


dicatat
Ukuran apa yg akan dicatat?

Persiapkan ukuran yang akan dicatat

Hal yg baik adalah dengan membuat data sheet,


baris untuk unit amatan dan kolom untuk setiap pengukuran

Hindari melakukan kalkulasi sewaktu mencatat pengukuran

Misal jangan melakukan rata-rata sewaktu mengukur unit

amatan
Apa rancangannya?

Berisi deskripsi rancangan percobaan yang akan diterapkan

Baku : RTL, RKTL, RBSL, FAKTORIAL, dll

Tidak baku : model linier


dibahas lebih lanjut dalam pertemuan selanjutnya

Rancob I : rancangan-rancangan baku

Justifikasi Rancangan Ulangan

Jika terlalu banyak ulangan boros waktu dan uang


Jika terlalu sedikit perbedaan antar perlakuan tertutupi oleh
perbedaan antara unit percobaan
dibahas dalam setiap rancangan

Pengacakan?

Mengapa perlu?

Untuk menghindari :

Bias sistematik

Bias seleksi

Bias ketidaksengajaan

Kecurangan oleh pelaksana percobaan


Bagaimana caranya?

Tuliskan rencana secara sistematik

Pilih bilangan acak

Terapkan bil. Acak dalam rencana sistematik

Rencana

Berisi deskripsi secara detail bagaimana perlakuan dialokasikan ke


dalam unit percobaan biasanya dalam gambar skema
dibahas lebih lanjut untuk setiap rancangan

Analisis Statistik yg diusulkan

Berisi panduan untuk analisis statistika yang akan diusulkan


sebelum data dikumpulkan

Mis : ekplorasi, Anova, Uji Lanjut, Regresi, dll

RAL Faktorial
Written by Ade Setiawan
Published on 16 January 2011
Category: RAL Faktorial

Pada pembahasan sebelumnya kita sudah mendiskusikan mengenai pengaruh perlakuan


tunggal terhadap respons tertentu. Perlakuan tunggal tersebut dinamakan faktor, dan taraf
atau level dari faktor tersebut dinamakan taraf. Faktor disimbolkan dengan huruf
kapital sedangkan taraf dari faktor tersebut disimbolkan dengan huruf kecil. Apabila secara
serempak kita mengamati pengaruh beberapa faktor dalam suatu penelitian yang sama, maka
percobaan tersebut dinamakan denganpercobaan faktorial.
Percobaan faktorial adalah suatu percobaan yang perlakuannya terdiri atas semua
kemungkinan kombinasi taraf dari beberapa faktor. Percobaan dengan menggunakan f faktor
dengan t taraf untuk setiap faktornya disimbolkan dengan percobaan faktorial f . Misalnya,
percobaan faktorial 2 artinya kita menggunakan 2 faktor dan taraf masing-masing faktornya
terdiri dari 2 taraf. Percobaan faktorial 2 juga sering ditulis dalam bentuk percobaan
faktorial 2x2. Penyimbolan yang terakhir sering digunakan untuk percobaan faktorial
dimana taraf dari masing-masing faktornya berbeda, misalnya 2 taraf untuk faktor A dan 3
taraf untuk faktor B, maka percobaannya disebut percobaan faktorial 2x3. Percobaan
faktorial 2x2x3 maksudnya percobaan faktorial yang terdiri dari 3 faktor dengan taraf untuk
masing-masing faktornya berturut-turut 2, 2, dan 3. Dengan demikian, dalam percobaan
faktorial, ada dua tahap yang perlu dilakukan, pertama yaitu rancangan perlakuannya, seperti
yang sudah diuraikan sebelumnya, dan selanjutnya tahap pemilihan rancangan lingkungannya
yaitu yang menyangkut bentuk desain percobaan seperti RAL, RAK, Rancangan Bujur
Sangkar Latin (RBSL), Rancangan Petak Terbagi (Split Plot), Rancangan Petak Berjalur
(Strip Plot).
t

Anda mungkin juga menyukai