Anda di halaman 1dari 13

Sumber : academia.

edu
PERBEDAAN HIPERTROFI DAN HIPERPLASIA
A. Hipertrofia
Hipertrofi

adalah

penambahan

jumlah

organel

(misalnya

miofilamen) dan ukuran sel serta karena perubahan itu terjadi


peningkatan ukuran organ. Hipertrofi bisa bersifat fisiologis atau
patologis dan disebabkan oleh :
1. Peningkatan kebutuhan fungsional, misalnya hipertrofi
otot lurik pada binaragawan (fisiologis) atau otot
jantung pada penyakit jantung (patologi).
2. Stimulasi hormonal spesifik, misalnya hipertrofi uterus
selama kehamilan.
Hipertrofi dipicu oleh interaksi membran sel yang pada miokardium
meliputi faktor mekanis (regangan) dan zat kimia trofik (faktor
pertumbuhan) dan zat vasoaktif. Hal ini menyebabkan peristiwa
intraseluler diatur gen yang meliputi tidak hanya penambahan organel
sel tetapi juga perubahan fenotipik pada sel yang hipertrofi. Pada
jantung misalnya, ada perubahan isoform dari miosin ke rantai barat
(heavy chain) dan dari aktif ke bentuk skeletal -keduanya
menghasilkan perlambatan kontraksi yang baik bagi serat otot yang
hipertrofik. Hipertrofi pada akhirnya akan mencapai suatu batas dan
saat itu akan terjadi perubahan degeneratif di sel serta jantung
sehingga terjadilah gagal jantung.

B. Hiperplasia
Hiperplasia menyatakan suatu penambahan jumlah sel didalam
organ atau jaringan. Peristiwa ini biasanya disertai dengan hipertrofi.
Hiperplasia dapat terjadi hanya pada sel yang mampu mensintesis DNA
(seperti sel epitelia, hematropoletik, dan jaringan ikat). Sel saraf, otot
jantung,

dan

kemampuan

otot

rangka

bertumbuh

tidak

memiliki

hiperplastik,

oleh

atau sedikit
karenanya

memiliki
sel

otot

mengalami hipertrofi yang hampir murni bila dirangsang dengan


penambahan beban secara fungsional atau dengan hormon.

Hiperplasia dapat bersifat fisiologis atau patologis.


1. Hiperplasia Fisiologis :
a. Hiperplasia Hormon
Contoh : Proliferasi endometrium setelah rangsang estrogen
b. Hiperplasia Kompensatoris
Contoh : Hiperplasia hati setelah hepatektomi parsial

2. Hiperplasia Patologis :
a. Kelebihan stimulasi hormonal
Misalnya hiperestrinisme dan hiperplasia endometrium atipik.
b. Pengaruh faktor pertumbuhan yang diproduksi secara lokal pada
sel target
Misalnya proliferasi sel jaringan ikat pada penyembuhan luka,
atau proliferasi epitel skuamosa yang diinduksi oleh virus.
Hipertrofi merupakan penambahan ukuran sel dan menyebabkan
penambahan

ukuran

organ.Hipertrofi

adalah

bertambahnya

ukuran suatu sel atau jaringan.


Hipertrofi adalah suatu respon adaptif yang terjadi apabila
terdapat peningkatan beban kerja suatu sel

BAHAYA MINUMAN BERENERGI


Sumber Berita: www.pemkomedan.go.id
1. Ketergantungan kafein
Hal ini umumnya diketahui bahwa kafein adalah bahan utama minuman
berenergi. Tapi apakah kita benar-benar mengetahui berapa banyak kafein
yang kita konsumsi pada mereka minuman energi. Setelah tubuh Anda
terbiasa dengan kelebihan konsumsi kafein ini, tubuh Anda akan mulai
bergantung pada pasokan minuman berenergi itu.
2. Insomnia
Anda mungkin telah mengkonsumsi minuman berenergi untuk
memberikan dorongan tambahan bagi tubuh Anda, namun Anda akhirnya
akan melalui malam tanpa tidur dan mengkonsumsi minuman berenergi

lain di hari berikutnya. Ini akan menyebabkan insomnia.


3. Mempengaruhi suasana hati
Studi menunjukkan bahwa konsumsi kafein sering menurunkan kadar
serotonin dalam tubuh. Serotonin ini dikenal sebagai neurotransmitter
yang membuat Anda merasa baik dan itu dikaitkan dengan depresi dan
mood rendah.
4. Kandungan gula yang banyak
Selain merangsang energi, minuman ini juga mengandung banyak gula.
Beberapa minuman ini dapat mengandung sekitar 13 sendok gula dalam
masing-masing minuman. Ini menyebabkan seseorang terkena diabetes
dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, gula dapat membuat orang
dehidrasi, menekan sistem kekebalan tubuh, mengakibatkan pembusukan
gigi dan menyebabkan kenaikan berat badan.
5. Menekan organ
Efek negatif lain dari minuman berenergi adalah bahwa itu bisa menekan
organ tubuh Anda. Bila Anda menempatkan tekanan tambahan pada
organ-organ Anda, mereka akan lelah dan perlu beberapa waktu untuk
bersantai. Tapi, ketika Anda menelan minuman berenergi, Anda mengirim
sinyal ke organ Anda untuk merespon dan bekerja meskipun mereka telah
lelah

http://www.dream.co.id/fresh/sebelum-konsumsi-ketahui-efek-sambungminuman-berenergi-140908z.html

Dr Margaretha Amelia, konsultan untuk MeetDoctor.com menegaskan


minuman berenergi yang dikonsumsi dalam jumlah sangat banyak dan
terus-menerus memiliki efek negatif. Kandungan kafein atau stimulan
yang terkandung di dalamnya dapat memacu kerja jantung dan sistem
saraf dalam tubuh secara berlebihan.
"Pada awalnya tubuh akan merasa berenergi dan menjadi lebih segar,
akan tetapi di sisi lain jumlah yang terlalu banyak akan membuat efek
yang berlipat ganda yang sama halnya dengan overdosis", ucap dr Amel
seperti dilansir MeetDoctor, Senin 8 September 2014.
Selain itu kandungan gula dalam minuman berenergi juga dapat
berpengaruh dalam jangka waktu panjang, seperti memicu penyakit
diabetes dan menggangu metabolisme tubuh. Kandungan kafein
menjadikan minuman ini menimbulkan efek candu bagi mereka yang
mengkonsumsinya.
http://www.frutablend.co.id/blog/dampak-buruk-minuman-energibagi-tubuh/

1. Pada kasus yang ringan dapat menyebabkan ketergantungan,


banyak kandungan kafein di dalam mnuman berenergi yangdapat
mengakibatkan ketergantungan. Anda akan meragsa pusing apabila
tidak mengonsumsinya.
2. Dapat mengakibatkan insomnia, hal ini disebabkan karena minuman
berenergi terus memacu kerja jantung untuk memompa darah.
Sehingga anda tidak bisa meras rileks dan tidak dapat tidur.
3. Menekan organ, karena jantung terus dipacu untuk memompa
darah, mengakibatkan organ yang lainpun terus bekerja meskipun
tubuh anda sudah lelah, hal ini lama kelamaan dapat merusak organ
anda.

Sumber : itb.ac.id
Pada otak kafein akan menghalangi reseptor adenosin. Reseptor adenosin
ini jika terikat pada reseptor sel saraf akan menurunkan aktivitas sel saraf.
Akibat kemiripan struktur molekul
kafein dengan struktur adenosin, kafein dapat terikat pada reseptor tetapi
tidak memberi efek penurunan aktivitas sel saraf. Saraf yang bekerja
secara terus menerus akan menyebabkan pelepasan hormon epinefrin.
Jika hal tersebut terjadi maka akan mengakibatkan beberapa efek, seperti
denyut jantung lebih tinggi, tekanan darah meningkat, aliran darah ke
otot meningkat, aliran darah ke kulit dan organ dalam menurun, dan
pelepasan glukosa oleh hati yang meningkat. Kafein juga bersifat adiksi,
artinya akan mengakibatkan ketergantungan bagi seseorang yang
mengkonsumsinya.

CIDERA SARAF
Sumber : http://bone.co.id/2011/04/28/ischialgia-sciatica-sarafterjepit-2/

Ischialgia (Sciatica), Saraf Terjepit


Ischialgia atau juga dikenal dengan Sciatica (Sciatic)
fecefdf4d3

yaitu suatu kondisi dimana Saraf Ischiadikus yang mempersarafi daerah


bokong sampai kaki terjepit, dalam kasus itu yang terjepit adalah Saraf
Ischiadikus sebelah kanan ataupun sebelah kiri.

Gejala yang sering ditimbulkan akibat Ischialgia adalah: Nyeri


punggung bawah, Nyeri daerah bokong, Rasa kaku/ terik pada punggung
bawah, Nyeri yang menjalar atau seperti rasa kestrum, yang dirasakan
dari bokong menjalar ke daerah paha, betis bahkan sampai kaki,
tergantung bagian saraf mana yang terjepit. Rasa nyeri sering ditimbulkan
setelah melakukan aktifitas yang berlebihan, terutama banyak
membungkukkan badan atau banyak berdiri dan berjalan. Rasa nyeri juga
sering diprovokasi karena mengangkat barang yang berat. Jika dibiarkan
maka lama kelamaan akan mengakibatkan kelemahan anggota badan
bawah/ tungkai bawah yang disertai dengan mengecilnya otot-otot
tungkai bawah tersebut.
Penyebab terjepitnya saraf ini ada beberapa faktor yaitu antara lain:
kontraksi / radang otot-otot daerah bokong, adanya perkapuran tulang
belakang atau adanya keadaan yang disebut dengan Herniasi Nukleus
Pulposus (HNP). Ketiga sebab diatas adalah kasus yang banyak terjadi
sehingga menyebabkan Ischialgia.

Ischialgia / Sciatica
Penatalaksanaan untuk Ischialgia yaitu:
1. Obat-obatan: analgetik, NSAID, muscle relaxan, obat pemulihan saraf.
2. Program Rehabilitasi Medik terapi fisik
3. Operasi Disektomi: dilakukan pada kasus yang berat/ sangat
mengganggu aktifitas dimana dengan obat-obatan dan program
Rehabilitasi Medik tidak dapat membantu.
Tips untuk penderita Ischialgia:
1. Hindari banyak membungkukkan badan.
2. Hindari sering mengangkat barang-barang berat.
3. Segera istirahat jika telah merasakan nyeri saat berdiri atau
berjalan.
4. Saat duduk lama diusahakan kaki disila bergantian kanan dan kiri
atau menggunakan kursi kecil untuk menumpu kedua kaki.
5. Saat menyapu atau mengepel lantai pergunakan gagang sapu atau
pel yang panjang, sehingga saat menyapu atau mengepel
punggung tidak membungkuk.

6. Jika hendak mengambil barang dilantai, usahakan punggung tetap


lurus, tapi tekuk kedua lutut untuk menggapai barang tersebut.
7. Lakukan Back Exercise secara rutin, untuk memperkuat otot-otot
punggung sehingga mampu menyanggah tulang belakang secara
baik dan maksimal.

Sumber : http://www.pdpersi.co.id/content/article.php?
mid=5&catid=9&nid=839
Nyeri Pinggang dan Herniated Nucleus Pulposus (HNP)
By pdpersi.co.id
Apa itu HNP?
Hernia Nucleus Pulposus (HNP) atau biasa dikenal masyarakat sebagai
syaraf terjepit, suatu gangguan akibat merembes (menonjol) atau
melelehnya (hernia) lapisan atau bantalan permukaan ruas tulang
belakang (nucleus pulposus) dari ruang anatr ruas tulang (discus
intervertebralis).
Tonjolan atau merembesnya HNP tersebut dapat menyebabkan
penekanan pada syaraf tulang belakang dan syaraf tepi (yaitu, saraf yang
berasal dari syaraf tulang belakang).
Seperti halnya nyeri punggung, HNP paling sering terjadi di daerah
punggung bawah atau disebut HNP lumbalis, paling sering (90%)
mengenai diskus invertebralis L5-S1 dan L4-L5. HNP di daerah punggung
atas sampai leher jarang terjadi hanya sekitar 8% dari seluruh kasus HNP.
HNP lumbalis akan membaik dalam waktu kira-kira 6 minggu. Tindakan
pembedahan jarang diperlukan kecuali pada keadaan tertentu.
Bagaimana membedakan dengan nyeri punggung oleh penyebab
lainnya?
Nyeri oleh karena HNP yang menjepit saraf rasanya lebih menggigit,
terasa seperti terbakar atau seperti terkena sengatan listrik. Dirasakan
menjalar ke bagian bawah dan jika lebih parah lagi akan terasa nyerinya
dari belakang paha menyebar ke bagian bawah hingga betis pada satu
sisi. Nyeri dapat timbul setiap saat tidak terbatas apakah sedang
beraktifitas atau lagi istirahat. Berbeda dengan nyeri akibat gangguan di
saluran kemih. Jika hambatan ada di ginjal, nyeri terasa lebih di ats
pinggang, kemeng dan penderita merasa sebatas tidak nyaman saja.
Kalau hambatan berada di dalam saluran bagian bawahnya dapat
menimbulkan nyeri kolik, kumat-kumatan, saat parah hingga
menimbulkan muntah dan susah melokalisir asal nyeri.
Nyeri karena peradangan organ bagian dalam, akan tersebar ke bagian
perut bawah dan bertambah jika disentuh atau ditekan. Waktu munculnya
nyeri relatif lebih konstan. Pada tahap yang lebih ringan, bisa juga
dibedakan dengan nyeri akibat kekakuan atau hanya pegal-pegal pada
otot pinggang.
Apa penyebab terjadinya HNP?
Penyebab HNP ini berbagai macam. Faktor resikonya antara lain adalah
merokok, batuk yang terlalu lama, cara duduk yang salah, menyetir
terlalu sering, cara mengangkat barang yang salah, dll. Seiring denagn
bertambahnya usia, kemampuan cakram untuk menjalankan fungsinya
juga menurun. Faktor-faktor di atas dapat menyebabkan terjadinya

herniasi, yaitu keluarnya suatu organ melalui suatu celah dalam tubuh.
HNP dapat dianalogikan seperti terjadinya turun bero, tetapi pada
daerah tulang belakang. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini bahwa
nukleus pulposus tersebut keluar dari dalam bantalan melalui dinding
bantalan melalui dinding bantalan yang lemah, maka nukleus pulposus
masuk ke dalam rongga ruas tulang belakang; keadaan inilah yang
disebut hernia nukleus pulpolus (HNP). Tergantung besar kecilnya, HNP
dapat menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang saraf tepi.
Gejala Klinis
Gejala klinis HNP berbeda-beda tergantung lokasinya. HNP di daerah leher
lazim menimbulkan gejala berupa nyeri saat leher digerakkan, nyeri leher
di dekat telinga atau di sekitar tulang belikat, dan nyeri yang menjalar ke
arah bahu, lengan atas, lengan bawah dan jari-jari. Selain nyeri, juga
dapat ditemukan rasa kesemutan dan tebal di daerah yang kurang lebih
sama dengan rasa nyeri tersebut. Di daerah punggung bawah, gejala
klinis HNP menyerupai HNP leher. Rasa nyeri terasa di daerah pinggang,
pantat dan menjalar ke arah betis dan kaki. Seringkali juga terasa sensasi
kesemutan dan tebal pada salah satu atau kedua tungkai bawah
.
Gejala-gejala HNP tersebut lazim timbul perlahan-lahan dan semakin
terasa hebat jika duduk atau berdiri dalam waktu lama, pada waktu
malam hari, setelah berjalan beberapa saat, pada saat batuk atau bersin,
serta ketika punggung dibungkukkan ke arah depan. Gejala klinis pada
setiap pasien berbeda-beda tergantung pada lokasi dan derajadnya.
HNP pada punggung bawah di daerah yang disebut L1-L2 dan L2-L3
menyebabkan nyeri dan rasa tebal pada sisi depan-samping luar paha.
Juga dapat terjadi kelemahan otot-otot untuk menggerakkan sendi paha
ke arah perut. HNP di daerah ini jarang terjadi dibandingkan daerah
punggung bawah yang lain.
HNP di daerah L3-L4 menimbulkan nyeri di daerah pantat, sisi samping
luar paha dan sisi depan betis. Rasa tebal atau kesemutan dapat
dirasakan pada sisi depan betis.
Di daerah L4-L5, HNP menyebabkan nyeri di daerah pantat, sisi belakang
paha, sisi depan samoing luar betis sampai daerah punggung kaki.
Sementara HNP L5-S1 mengakibatkan nyeri di daerah pantat, sisi
belakang paha dan betis sampai ke tumit serta telapak kaki. Rasa tebal
dan kesemutan terasa di daerah betis sampai telapak kaki. HNP di kedua
daerah ini (yaitu, L4-L5 dan L5-S1) paling sering terjadi.
Pada kasus yang ekstrem, HNP di daerah punggung bwah dapat
menyebabkan penekanan sekelompok serabut saraf yang disebut kauda
equina (bahasa latin yang berarti ekor kuda). HNP ini disebut sebagi
syndrom kauda equina dengan gejal=gejala nyeri, kesemutan, aras
tebal, serta kelemahan atau kelumpuhan kedua tungkai.
Gejal-gejala tersebut juga disertai ketidakmampuan menahan kencing
(mengompol) dan buang air besar. Sindrom ini merupakan suatu keadaan

yang serius dan gawat, serta membutuhkan tindakan pembedahan


secepatnya.
Diagnosis
Selain berdasarkan gejala-gejala yang dialami oleh penderita, cara terbaik
untuk mengetahui ada tidaknya HNP adalah dengan melakukan
pemeriksaan MRI. Selain itu, untuk memastikan bahwa HNP yang
ditemukan pada MRI memang menjadi penyebab keluhan penderita, perlu
dilakukan pemeriksaan EMG (pemeriksaan fungsi hantaran saraf).
Perlu diketahui bahwa HNP tidak terlihat pada foto rontgen biasa. Pada
pasien HNP, foto rontgen dilakukan untuk menentukan ada tidaknya HNP,
tetapi untuk mengesampingkan kelainan-kelainan lain (selain HNP) yang
dapat menyebabkan nyeri punggung.
Pengobatan
Sebagian besar HNP dapat diobati dengan pengobatan tanpa operasi,
terutama jika ditemukan secara dini. Kasus yang telah lama dan berat
biasanya memerlukan tindakan operasi.
Pengobatan non-bedah meliputi istiraht berbaring jika nyeri benar-benar
berat. Istiraht sebaiknya tidak lebih dari 2 hari karena jika lebih lama akan
memperlemah otot-otot punggung. Selain istirahat, nyeri dapat dikurangi
dengan obat-obat anti nyeri.
Fisioterapi dapat bermanfaat, khususnya pada keadaan nyeri akut ( mulai
timbul tau bertambah berat secara mendadak). Fisioterapi dapat berupa
diatermi untuk membuat otot punggung rileks dan TENS (Transcutaneous
Electrical Nerve Stimulation) uanutk mengurangi nyeri. Dan di Instalasi
Rehabilitasi Medik RS Darmo, penderita akan mendapatkan penanganan
secara menyeluruh mulai dari diagnosis pemeriksaan awal seperti EMGNCV sampai dengan penanganannya. Instalasi Rehabilitasi Medik ini dapat
melayani penderita setiap hari dengan perjanjian, oleh dokter spesialis di
bidang tersebut.
Instansi Rehab Medik juga didukung oleh para terapis yang profesioanal
dan berpengalaman di bidanganya.
Para ahli sepakat bahwa waktu yang diperlukan untuk menilai apakah
pengobatan non-bedah berhasil atau tidak adalah 3-6 minggu. Jika tidak
berhasil, maka pembedahan perlu dilakukan untuk menyembuhkan HNP.
Dewasa ini, para ahli di bidang bedah sedang berlomba-lomba untuk
menciptakan suatu teknik operasi yang menghasilkan suatu sayatan yang
minimal, atau bahkan tanpa sayatan. Teknik ini dinamakan minimally
invasive surgery.
Teknik ini memungkinkan masa perawatan yang jauh lebih cepat daripada
operasi terbuka. Dan bagi pasien yang mengutamakan segi estetik, teknik

ini dapat dibuat dengan sayatan dan bekas luka kecil. Perkembangan
teknik ini di dunia penyakit HNP menghasilkan berbagai macam teknik
antara lain nucleotome, laser central decompression dan directed
fragmentectomy. Setiap teknik pasti mempunyai kelebihan dan
kekurangannya tersendiri.
Seperti contohnya teknik central decompression yang salah satunya dapat
menggunakan suatu zat kimia bernama cymopapain yang dapat
menyebabkan reaksi alergi dan spasme (ketegangan) dari otot. Pada
prinsipnya, teknik minimally invasive ini menggunakan suatu alat yang
dinamakan artroskopi. Alat ini merupakan suatu alat yang menggunakan
suatu alat yang menggunakan suatu tabung berdiameter kecil yang
panjang sehingga memungkinkan untuk dimasukkan ke dalam tubuh
dengan sayatan yang kecil. Tabung ini dilengkapi dengan alat yang
dibutuhkan untuk operasi serta kamera yang memungkinkan dokter
bedah melihat organ di dalam tubuh melaui layar. Keuntungan teknik ini
selain dari kecilnya sayatan yang ditimbulkan, gambar yang terlihat dari
layar dapat diperbesar puluhan kali sehingga kelainan yang kecilpun
dapat terlihat dengan jelas.
Bagi anda yang sangat terganggu dengan nyeri pinggang yang
disebabkan oleh HNP, anda dapat memikirkan untuk menjalani operasi ini.
Tetapi tentunya anda harus menemui dokter spesialis ortopaedi dan
traumatologi terlebih dahulu untuk mendiskusikan tentang teknik yang
akan dipilih serta mengetahui keuntungan dan resiko dari operasi itu.
Untuk anda yang takut akan di operasi ada banyak cara pengobatan
alternatif yang bisa anda pilih..

Trauma medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang


disebabkan seringkali oleh kecelakaan lalu lintas. Apabila Trauma itu
mengenai daerah L1-L2 dan/atau di bawahnya maka dapat
mengakibatkan hilangnya fungsi motorik dan sensorik serta kehilangan
fungsi defekasi dan berkemih.
Trauma medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang
disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner &
Suddarth, 2001). Trauma medulla spinalis adalah kerusakan tulang dan
sumsum yang mengakibatkan gangguan sistem persyarafan didalam
tubuh manusia
A. Etiologi cedera spinal adalah:
1. Trauma misalnya kecelakaan lalu lintas, terjatuh, kegiatan olah
raga, luka tusuk atau luka tembak.

2. Non

trauma

seperti

spondilitis

servikal

dengan

myelopati,

myelitis, osteoporosis, tumor.

TABEL Kondisi Patologis Saraf Spinal Akibat Cedera

Batas Cedera
C1 C 4

Fungsi yang Hilang


Hilangnya fungsi motorik dan sensorik
leher ke bawah. Paralisis pernafasan,

C5

tidak terkontrolnya bowel dan blader.


Hilangnya fungsi motorik dari atas bahu
ke bawah. Hilangnya sensasi di bawah
klavikula. Tidak terkontrolnya bowel dan

C6

blader.
Hilangnya fungsi motorik di bawah batas
bahu dan lengan. Sensasi lebih banyak
pada lengan dan jempol.

C7

Fungsi motorik yang kurang sempurna


pada

bahu,

bagian

siku,

dari

banyak

lengan.

pada

dibandingkan

pergelangan
Sensasi

lengan
pada

dan

C6.

dan
lebih

tangan

Yang

lain

mengalami fungsi yang sama dengan


C8

C5.
Mampu

mengontrol

beberapa

hari

lengan

lengan

tetapi

mengalami

kelemahan. Hilangnya sensai di bawah


T1-T6

dada.
Hilangnya
sensorik

kemampuan
di

bawah

motorik
dada

dan

tengah.

Kemungkinan beberapa otot interkosta


mengalami kerusakan. Hilangnya kontrol
T6 T12

bowel dan blader.


Hilangnya kemampuan
sensasi

di

bawah

motorik

pinggang.

dan

Fungsi

pernafasan sempurna tetapi hilangnya

L1 L3

fngsi bowel dan blader.


Hilannya fungsi motorik dari plevis dan
tungkai.

Hilangnya

sensasi

dari

abdomen bagian bawah dan tungkai.


L4 S1

Tidak terkontrolnya bowel dan blader.


Hilangnya bebrapa fungsi motorik pada
pangkal paha, lutut dan kaki. Tidak

S2 S4

terkontrolnya bowel dan blader.


Hilangnya fungsi motorik ankle plantar
fleksor. Hilangnya sensai pada tungkai
dan

perineum.

Pada

keadaan

terjadi gangguan bowel dan blader.

awal

.Jenis cidera saraf perifer


Tanda dan gejala bergantung dari jenis cidera saraf perifer, yaitu:
1) Neuropraksi
Pada umumnya neuropraksia disebabkan oleh adanya penekanan pada
myeline sheet yang relative ringan dan singkat dimana akan terjadi
kompresi akut di sekitar saraf. Kondisi neuropraksia ini akan mengalami
demyelinasi pada saraf itu sendiri tanpa adanya degenerasi pada saraf.
Hal tersebut masih memungkinkan terjadinya konduksi pada saraf.
Adapun gangguannnya dapat berupa gangguan motorik seperti
penurunan otot-otot wajah sampai menimbulkan kelainan bentuk wajah
(asimetri) dimana penderita sangat terganggu pada saat
mengekspresikan wajahnya. Pada kondisi ini biasanya bagian sensorik
kurang terkena sehingga dapat terlihat prognosis yang baik dalam 3
minggu pertama.
2) Aksonotmesis
Adapun pada axonotmesis didapatkan gangguan axon, tetapi selubung
myelin masih utuh. Tanda gejala penekanan saraf tepi pada kondisi ini
disertai dengan gangguan motorik. Dimana gangguan ini sama halnya
dengan jenis cidera neuropraksia. Akan tetapi, pada kondisi ini ditemukan
adanya gangguan sensorik seperti adanya nyeri di belakang telinga,
hilangnya sensasi wajah, sensasi pengecapan pada 2/3 anterior lidah,
dengan prognosis baik dalam 3 bulan
3) Neurotmesis
Terjadinya neurotmesis diikuti oleh hilangnya seluruh kontinuitas axon dan
jaringan penghubung, sehingga terjadi gangguan yang lebih berat pada
saraf tersebut. Dimana kondisi ini sering menunjukkan gejala sisa yang
moderat sampai berat, yang disebakan oleh proses regenerasi yang salah.
Yang disertai dengan prognosis buruk atau kesembuhannya jelek dalam 3
bulan selanjutnya.
Tmbhan:
. Neuropraxia
Kerusakan jenis ini merupakan kerusakan saraf yang paling ringan. Axon dan sel myelin tidak
mengalami kerusakan. Tidak terjadi degenerasi saraf. Akibat lebih lanjut kadang timbul paralisis
sementara. Kerusakan pada tipe ini biasanya disebabkan oleh adanya tekanan yang bersifat
sementara. Keluhan atau cidera saraf akan hilang seiring dengan hilangnya tekanan.
2. Axonotmesis
Pada kerusakan saraf jenis ini, terjadi kerusakan pada sistem axon. Selubung myelin masih utuh dan
terjadi proses degenerasi.
3. Neurotmesis
Ini adalah tipe kerusakan pada sistem saraf yang paling berat. Terjadi kerusakan axon dan selubung
myelin. Pada kondisi ini terjadi proses degenerasi.
Read more: http://www.artikel.indonesianrehabequipment.com/2011/11/derajat-kerusakansaraf.html#ixzz3WWujr93f