Anda di halaman 1dari 24

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI

FAKULTAS FARMASI
PERCOBAAN V
PENENTUAN KADAR AIR DAN KADAR ABU

OLEH:
NAMA

: HAMZAH AZALI

NIM

: F1F1 13 098

KELOMPOK

: III (TIGA)

KELAS

:C

ASISTEN

: MUHAMMAD SAIFUL ASRAT

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2015

PENENTUAN KADAR AIR DAN KADAR ABU


A. TUJUAN
Tujuan pada percobaan kali ini adalah untuk mengetahui kadar abu
dan kadar air dari simplisia.
B. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a) Tanur
b) Gegep besi
c) Deksikator
d) Oven
e) Cawan porselin
f) Timbangan Analitik
2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini, adalah :
a) Daun Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)
b) Rimpang Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd)
c) Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.)
d) Daun Alpukat (Persea americana Mill)
e) Batang Brotowali (Tinospora crispa, L)
f) Daun Kaki Kuda (Centella asiatica L.)
g) Rimpang Lempuyang Wangi (Zingiber aromaticum Val)
C. KLASIFIKASI DAN DESKRIPSI
1. Klasifikasi Tanaman
a. Daun tapak liman (Elephantopus scaber L.)
Kingdom

Plantae (Tumbuhan)

Divisi

Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Ordo

: Asterales

Famili

Asteraceae

Genus

Elephantopus

Spesies

Elephantopus scaber L. (Tjitrosoepomo, 2000).

b. Rimpang lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd)


Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Order

: Zingiberales

Famili

: Alpinieae

Genus

: Alpinia

Species

: Alpinia galanga (L.) Willd (MMI, 1989)

c. Rimpang kencur (Kaempferia galanga L.)


Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermaiophyta

Kelas

: Monocotyledonae

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae

Genus

: Kaempferia

Spesies

: Kaempferia galanga L. (MMI, 1989)

d. Daun alpukat (Persea americana Mill)


Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Ranunculales

Famili

: Lauraceae

Genus

: Persea

Spesies

: Persea americana Mill (Tjitrosoepomo, 2000).

e. Brotowali (Tinospora crispa, L)


Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonea

Ordo

: Ranunculales

Famili

: Menispermaceae

Genus

: Tinospora

Spesies

: Tinospora crispa, L (Tjitrosoepomo, 2000).

f. Klasifikasi daun tapak kuda (Centella asiatica L.)


Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Apiales

Famili

: Apiaceae

Genus

: Centella

Spesies

: Centella asiatica L. (MMI, 1989)

g. Klasifikasi rimpang lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val)


Regnum

: Plantae

Subkingdom

: Tracheobionta

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae

Genus

: Zingiber

Spesies

: Zingiber aromaticum Val (MMI, 1989)

2. Deskripsi
a. Tapak liman (Elephantophus scaber)

Tapak liman (Elephantophus scaber) merupakan salah satu


tumbuhan obat yang dikenal masyarakat untuk mengobati berbagai
penyakit. Daun tapak liman adalah daun Elephantopus scaber L., suku
Asteraceae, mengandung flavonoid total tidak kurang dari 0,20%
dihitung sebagai kuersetin.
Morfologi daun tapak liman tegak dengan rimpang yang
menjalar, tinggi 10 cm sampai 80 cm, batang kaku, berbulu panjang dan
rapat, bercabang. Daun berkumpul di bawah, membentuk roset, bentuk
daun jorong, bundar telur sunsang, panjang 3 cm sampai 38 cm, lebar 1
cm sampai 6 cm, permukaan daun agak berbulu. Perbungaan berupa
bonggol, banyak, bentuk bulat telur dan sangat tajam, daun pelindung
kaku, daun pembalut dari tiap bunga kepala berbentuk jorong, lanset,
sangat tajam dan berselaput, 4 daun pembalut di bagian luar panjang 5
mm, tidak berbulu, 4 daun pembalut dibagian dalam panjang 10 mm,
berbulu rapat; panjang, mahkota bunga 7 mm sampai 9 mm, berbentuk
tabung, berwarna putih, ungu kemerahan, ungu pucat. Buah merupakan
buah longkah, panjang 4 mm, berbulu; pupus berbulu kasar 5, kadangkadang melebar pada bagian pangkalnya, kaku berbulu, panjang 5 mm
sampai 6 mm.
Penggunaan daun sebagai astringen, disentri, laktagoga, obat
demam, malaria, batuk, sariawan mulut. Akar sebagai obat malaria,
kurang darah, batuk, mencret, sariawan mulut.
Pemerian: tidak berbau, rasa, mula-mula tidak berasa, lamalama agak pahit (MMI, 1989)
b. Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd)
Lengkuas termasuk terna tumbuhan tegak yang tinggi batangnya
mencapai 2 2,5 meter. Tanaman ini memiliki akar tak teratur. Pada
lapisan luar terdapat kulit tipis berwarna coklat sedangkan di bagian
tangkai yang berbentuk umbi berwarna merah. Bagian dalam berwarna
putih

dan

jika

dikeringkan

menjadi

kehijau-hijauan.

Lengkuas

mempunyai batang pohon yang terdiri atas susunan pelepah-pelepah

daun. Daun-daunnya berbentuk bulat panjang dan antara daun yang


terdapat pada bagian bawah terdiri atas pelepah-pelepah saja, sedangkan
bagian atas batang terdiri dari pelepah-pelepah lengkap dengan helaian
daun. Bunganya juga muncul pada pada bagian ujung tumbuhan.
Rimpang umbi lengkuas selain berserat kasar juga memiliki aroma yang
khas.
Lengkuas dikenal sebagai tanaman penghasil bahan pewangi
dan penambah flavor masakan. Rimpang yang muda dan segar dapat
dimanfaatkan untuk mengawetkan masakan. Rimpang lengkuas yang
berwarna putih pemanfaatannya banyak digunakan pada bidang pangan.
Rimpang lengkuas selama ini dikenal sebagai pengempuk daging dalam
masakan dan digunakan sebagai salah satu rempah bagi berbagai jenis
bumbu masakan tradisional Indonesia. Rimpang lengkuas digunakan
sebagai obat tradisional untuk mengobati radang lambung, kolik, panu,
eksim,jerawat, koreng, bisul, kurap dan bercak-bercak kulit (MMI,
1989)
c. Kencur (Kaempferia galanga L.)
Kencur merupakan jenis tanaman obat potensial yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku minuman untuk kesehatan, obatobatan dan penyedap masakan, serta dapat juga dimanfaatkan sebagai
kosmetik.
Daun kencur berbentuk bulat lebar, tumbuh mendatar diatas
permukaan tanah dengan jumlah daun tiga sampai empat helai.
Permukaan daun sebelah atas berwarna hijau sedangkan sebelah bawah
berwarna hijau pucat. Panjang daun berukuran 10 12 cm dengan lebar
8 10 cm mempunyai sirip daun yang tipis dari pangkal daun tanpa
tulang tulang induk daun yang nyata (Backer,1986).
Rimpang kencur terdapat didalam tanah bergerombol dan
bercabang cabang dengan induk rimpang ditengah. Kulit ari berwarna
coklat dan bagian dalam

putih berair dengan aroma yang tajam.

Rimpang yang masih muda berwarna putih kekuningan dengan

kandungan air yang lebih banyak dan rimpang yang lebih tua ditumbuhi
akar pada ruas ruas rimpang berwarna putih kekuningan.
Bunga kencur berwarna putih berbau harum terdiri dari empat
helai daun mahkota. Tangkai bunga berdaun kecil sepanjang 2 3 cm,
tidak bercabang, dapat tumbuh lebih dari satiu tangkai, panjang tangkai
5 7 cm berbentuk bulat dan beruas ruas. Putik menonjol keatas
berukuran 1 1,5 cm, tangkai sari berbentk corong pendek (MMI,
1989).
d. Alpukat (Persea americana Mill)
Pohon alpukat tingginya 3 m sampai 10 m, berakar tunggang,
batang berkayu, bulat, warnanya coklat, dan banyak bercabang. Daun
tunggal letaknya berdesakan di ujung ranting, bentuknya memanjang,
ujung dan pangkal runcing. Tepi rata kadang-kadang agak menggulung
ke atas. Bunganya majemuk, buahnya buah buni, bentuk bola atau bulat
telur, warnanya hijau atau hijau kekuningan. Daging buah jika sudah
masak lunak, warnanya hijau dan kekuningan.
Buah dan daun buah alpukat mengandung saponin, alkaloida,
dan flavonoida. Buah juga mengandung tanin dan daun alpukat
mengandung polifenol, quersetin, dan gula alkohol persit.
Pemanfaatan daging buah untuk mengatasi sariawan dan
melembabkan kulit kering. Daun alpukat berkhasiat untuk kencing batu,
darah tinggi dan sakit kepala, nyeri saraf, nyeri lambung, saluran nafas
membengkak dan menstrusasi tidak teratur. Biji alpukat barkhasiat untuk
sakit gigi dan kencing manis (DM).
e. Brotowali (Tinospora crispa, L)

Brotowali merupakan jenist umbuhan yang mudah ditemukan


dan mudah dalam perawatan penanamannya, tumbuh secara liar di
hutan, ladang atau ditanam di halaman dekat pagar sebagai tumbuhan
obat. Tanaman ini menyukai tempat terbuka yang terkena sinar matahari.

Brotowali merupakan tumbuhan merambat dengan panjang mencapai


2,5 meter atau lebih.
Batang Brotowali hanya sebesar jari kelingking, berbintil- bintil
rapat dan rasanya pahit. Daun Brotowali merupakan dan tunggal,
tersebar, berbentuk jantung dengan ujung runcing, tepi daun rata,
pangkalnya berlekuk, memiliki panjang 7-12 cm dan lebar 7-11 cm.
Tangkai daun menebal pada pangkal dan ujung, pertulangan daun
menjari dan berwarna hijau (Supriadi, 2001:10). Bunga majemuk
berbentuk tandan, terletak pada batang kelopaktiga. Memiliki enam
mahkota, berbentuk benang berwarna hijau.Benang sari berjumlahe
nam, tangkai berwarna hijau muda dengan kepala sari kuning.Buah
Brotowali keras seperti batu, berwarna hijau.
Brotowali

mengandung

damar

lunak,

pati,

glikosida,

pikroretosid, zat pahit pikroretin, harsa, alkaloid berberin dan palmatin.


Bagian akarnya mengandung alkaloid berberin dan kolumbin.
Batangnya dimanfaatkan untuk rematik, memar, demam,
merangsang, nafsu makan, sakit kuning, cacingan, dan batuk. Air
rebusan daun Brotowali sering dimanfaatkan untuk mencuci luka pada
kulit atau gatal- gatal. Sedangkan rebusan daun dan batang Brotowali
dipergunakan untuk penyakit kencing manis. Seluruh bagian tanaman
ini bisa digunakan untuk mengobati penyakit kolera.
f. Tapak kuda (Centella asiatica L.)
Merupakan tanaman terna atau herba tahunan, tanpa batang
dengan rimpang pendek dan stolon yang merata, panjang 10-80 cm.
Daun tunggal yang tersusun dalam roset terdiri dari atas 2-10 daun, helai
daun berbentuk ginjal, lebar dan bundar dengan garis tengah 1-7
cm.Bunga umumnya 3. Buah pipih, lebar lebih kurang 7 mm, tinggi
lebih kurang 3 mm, berlekuk dua, warna kuning kecoklatan, dan
berdinding agak tebal (Tjitrosoepomo, 2000).
g. Lempuyang Wangi (Zingiber aromaticum Val)
Tanaman ini dapat tumbuh rendah sampai tinggi, perennial, batang
asli berupa rimpang di bawah tanah, tinggi lebih dari 1 meter. Batangnya

berupa kumpulan pelepah daun yang berseling, di atas tanah, beberapa


batang berkoloni, hijau, rimpang; merayap, berdaging, gemuk, aromatik.
Daun: tunggal, berpelepah, duduk berseling, pelepah membentuk batang
semu, helaian; bentuk 1 lanset sempit, terlebar di tengah atau di atas
tengah, panjang 3-7 kali lebar, pangkal runcing atau tumpul, ujung
sangat runcing atau meruncing, berambut di permukaan atas, tulang
daun atau di pangkal. Bunga tersusun majemuk, bentuk bulat telur,
muncul di atas tanah, tegak, berambut halus, ramping tebal. Daun
pelindung sangat lebih besar dari kelopak, sama panjang dengan tabung
mahkota. Mahkota: kuning terang, hijau gelap, atau putih, tabung ; 2-3
cm, cuping bulat telur bulat memanjang, ujung meruncing atau runcing,
bibi- bibiran bulat telur atau membulat, jingga atau kuning lemon.
Buahnya berbentuk bulat telur terbalik, merah, l2 x 8 mm. Biji: bulat
memanjang bola, rata rata 4 mm. Daerah distribusi. Di Jawa dapat
tumbuh di daerah dengan ketinggian 1-1200 meter dpl, banyak tumbuh
sebagai tumbuhan liar di tempat-tempat yang basah di dataran rendah
dan tinggi. Tumbuh baik di bawah hutan jati (Tjitrosoepomo, 2000).

D. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Hasil Pengamatan
a. Kadar Air

Berat
Bahan
Konstan

46,4 gr

46,2 gr

46,2 gr

46,2 gr

1 gr

46,4 gr

46,2 gr

46,2 gr

46,2 gr

141,00 gr

1 gr

142,00 gr

141,77 gr

133,42 gr

137, 59 gr

136,74 gr

1 gr

137,74 gr

133,42 gr

144, 78 gr

139,1 gr

85,62 gr

1 gr

86,62 gr

86,51 gr

86,49 gr

86,5 gr

51,79 gr

1 gr

52,79 gr

52,67 gr

52,66 gr

52,66 gr

Rimpang
Lempuyang
Wangi

142 gr

1 gr

143,63 gr

143,31 gr

143,28 gr

143,29 gr

143,40 gr

1 gr

144,40 gr

144,21 gr

144,22 gr

144,21

Daun
Alpukat

132,6 gr

1 gr

133,6 gr

133,5 gr

133,5 gr

133,5 gr

139 gr

1 gr

140 gr

139,9 gr

139,9 gr

139,9 gr

Tapak
Liman

29,4 gr

1 gr

30,4 gr

29,47 gr

29,84 gr

29,65 gr

27 gr

1 gr

28 gr

27,56 gr

27,43 gr

27,49 gr

Rimpang
Kencur

52,10 gr

1 gr

53,10 gr

52,96 gr

52,94 gr

52,95 gr

30,92 gr

1 gr

31,92 gr

32,07 gr

32,03 gr

32,05 gr

Sampel

Berat
Cawan
Kosong

Berat
Sampel

Berat
Cawan +
Sampel

45,4 gr

1 gr

45,4 gr

Penimbangan

Kaki Kuda

Brotowali

Rimpang
Lengkuas

b.

Kadar Abu

Sampel

Berat
Cawan
Kosong

Berat
Sampel

Berat
Cawan +
Sampel

Berat
ratarata

Penimbangan

Kaki Kuda

79,4 gr

1 gr

80,4 gr

79,5 gr

79,5 gr

79,5 gr

Brotowali

132,67 gr

1 gr

133,67 gr

136,70 gr

136,71 gr

136,7 gr

Rimpang
Lengkuas

47 gr

1 gr

48 gr

47,09 gr

47,09 gr

47,09 gr

59 gr

1 gr

60 gr

59,42 gr

59,42 gr

59,42 gr

33,3 gr

1 gr

34,3 gr

33,30 gr

33,30 gr

33,30 gr

17,6 gr

1 gr

18,6

18,61 gr

17,72 gr

18,16 gr

33,27 gr

1 gr

34,28

37,50 gr

37,50 gr

37,50 gr

Rimpang
Lempuyang
Wangi
Daun
Alpukat
Tapak
Liman
Rimpang
Kencur

2. Perhitungan
a. Kadar Air
1. Kaki Kuda

Cawan I

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %
=

46,4 g46,2 g
1g

0,2 g
1g

x 100%

= 20%

Cawan II

x 100%

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %
=

46,4 g46,2 g
1g

0,2 g
1g

x 100%

x 100%

= 20%

2. Batang Brotowali

Cawan I

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %
=

142 g137 ,59 g


1g

4,41 g
1g

x 100%

x 100%

= 441%

Cawan II

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %
=

137,74 g139,1 g
1g

x 100%

1,36 g
=
1g

x 100%

= -136%

3. Rimpang Lengkuas

Cawan I

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %
=

86,62 g86,5 g
1g

0,12 g
1g

x 100%

x 100%

= 12%

Cawan II

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %
=

52,79 g52,66 g
1g

0,13 g
1g

x 100%

x 100%

= 13%

4. Rimpang Lempuyang Wangi

Cawan I

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %

143,63 g143,29 g
=
1g

0,34 g
1g

x 100%

x 100%

= 34%

Cawan II

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %
=

144,4 g144,21 g
1g

0,19 g
1g

x 100%

x 100%

= 19%

5. Daun Alpukat

Cawan I

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %
=

133,6 g133,5 g
1g

x 100%

0,1 g
1g

x 100%

= 10%

Cawan II

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %
=

140 g139,9 g
1g

0,1 g
1g

x 100%

x 100%

= 10%

6. Tapak Liman

Cawan I

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %
=

30,4 g29,65 g
1g

0,75 g
1g

= 75%

Cawan II

x 100%

x 100%

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %

28 g27,49 g
=
1g

0,51 g
1g

x 100%

x 100%

= 51%

7. Rimpang Kencur

Cawan I

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %
=

31,92 g32,05 g
1g

0,13 g
1g

x 100%

x 100%

= -13%

Cawan II

b . sampel+ cawan sblm dipanaskanb . sampel +cawan stlh dipanskan


b . sampel
x 100 %
=

53,10 g52,95 g
1g

x 100%

0,15 g
1g

x 100%

= 15%

b. Kadar Abu
1. Daun Kaki Kuda

Cawan I
berat sampel+cawan setelah dipanaskanberat cawankosong
berat sampel

100%
=

79,5 g79,4 g
1g

0,1 g
1g

x 100%

x 100%

= 10%

2. Batang Brotowali

Cawan I
berat sampel+cawan setelah dipanaskanberat cawankosong
berat sampel

100%
=

136,7 g132,67 g
1g

4,03 g
1g

x 100%

x 100%

= 403%

3. Rimpang Lengkuas

Cawan I
berat sampel+cawan setelah dipanaskanberat cawankosong
berat sampel

100%

47,09 g47 g
1g

0,09 g
1g

x 100%

x 100%

= 9%
4.

Rimpang Lempuyang Wangi

Cawan I
berat sampel+cawan setelah dipanaskanberat cawankosong
berat sampel

100%
=

59,42 g59 g
1g

0,42 g
1g

x 100%

x 100%

= 42%
5.

Daun Alpukat

Cawan I
berat sampel+cawan setelah dipanaskanberat cawankosong
berat sampel

100%
=

33,30 g33,3 g
1g

0g
1g

x 100%

= 0%
6.

Daun Tapak Liman

Cawan I

x 100%

berat sampel+cawan setelah dipanaskanberat cawankosong


berat sampel

100%
=

18,16 g17,6 g
1g

0,56 g
1g

x 100%

x 100% = 56%

E. PEMBAHASAN
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain
simplisia merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia terdiri dari simplisia
nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan atau mineral.
Simplisia bersumber dari nabati, hewani, dan pelikan. Nabati adalah
simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman.
Yang dimaksud dengan eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan
keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya.
Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan
atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia
murni. Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia yang merupakan bahan
pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara
sederhana dan belum berupa zat kimia murni.
Sampel yang digunakan adalah sample daun kaki kuda, batang brotowali,
rimpang lengkuas, rimpang lempuyang wangi, daun alpukat, dan tapak liman.
Kadar air yang terkandung dalam sampel merupakan banyaknya air yang
terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air juga salah
satu karakteristik yang sangat penting pada bahan pangan, karena air dapat
mempengaruhi penampakan, tekstur, dan citarasa pada bahan pangan. Kadar
air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan
pangan tersebut, kadar air yang tinggi mengakibatkan mudahnya bakteri,
kapang, dan khamir untuk berkembang biak, sehingga akan terjadi perubahan
pada bahan pangan.

Sifat dari metode analisa kadar air dengan menggunakan metode oven
berdasarkan pada gravimetri, dan kadar abu dengan menggunakan metode
tanur. Dimana pada metode-metode ini didasarkan pada selisih berat sebelum
pemanasan dan setelah pemanasan. Sehingga sebelum dilakukan analisa,
terlebih dahulu dilakukan penimbangan cawan yang akan dipergunakan untuk
mengeringkan sample. Penimbangan dilakukan sampai berat cawan konstan,
yaitu dengan memanaskan cawan dalam oven pada suhu 150 0C selama 45
menit. Dilakukan diplo dengan menggunakan dua cawan yang berbeda dan
kadar air yang diperoleh pada daun kaki kuda yaitu sebesar 20%, dan 20%,
batang brotowali sebesar 441% dan -136%, rimpang lengkuas sebesar 12%
dan 13%, rimpang lempuyang wangi sebesar 34% dan 19%, daun alpukat
sebesar 10% dan 10%, tapak liman sebesar 75% dan 51%, dan kencur sebesar
-13% dan 15%.
Kadar abu pada bahan pangan menggambarkan kandungan mineral dari
sampel bahan makanan. Kadar abu ialah material yang tertinggal bila bahan
makanan dipijarkan dan dibakar pada suhu sekitar 500-800C. dalam hal ini
metode pengabuan dengan metode tanur adalah dengan cara membakar bahan
hingga mencapai suhu 600-750oC hingga bahan berwarna abu-abu. Semua
bahan organik akan terbakar sempurna menjadi air dan CO 2 serta NH3
sedangkan elemen-elemen tertinggal sebagai oksidannya. Dengan mengetahui
berat cawan ketika mula-mula kosong, dapat dihitung berat abu yang telah
terjadi. Bila berat dinyatakan dalam persen berat asal sampel pada permulaan
pengabuan,

terdapatlah

kadar

berat

abu

dalam

persen.

Pengerjaan

penimbangan harus dilakukan cepat, karena abu yang kering ini umumnya
bersifat higroskopik, sehingga bila pengerjaan dilakukan lambat, abu akan
bertambah berat karena mengisap uap air dari udara. Dilakukam triplo dengan
tiga cawan berbeda untuk hasil yang lebih akurat.
Syarat kadar air menurut materia medika indonesia yaitu tidak boleh lebih
dari 10% sedangkan untuk kadar abu tidak boleh lebih dari 5,8%. Dari hasil
percobaan yang telah dilakukan didapatkan bahwa dari tujuh sampel yang
dipakai hanya satu sampel yang memenuhi persyaratan kadar air dan kadar

abu yaitu sampel alpukat dimana kadar airnya tidak lebih dari 10% dan kadar
abunya tidak lebih dari 5,8%.
Manfaat yang diperoleh dari uji penentuan kadar air dan kadar abu yaitu
agar kita memperoleh suatu zat yang murni dari suatu sampel tanpa
terkontaminasi sehingga dapat digunakan untuk membuat suatu sediaan yang
baik khususnya bagi farmasi.

F. PENUTUP
1 KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh pada praktikum kali ini yaitu kadar
air dan kadar abu pada daun kaki kuda yaitu sebesar 20%, dan 20%,
batang brotowali sebesar 441% dan -136%, rimpang lengkuas sebesar
12% dan 13%, rimpang lempuyang wangi sebesar 34% dan 19%, daun
alpukat sebesar 10% dan 10%, tapak liman sebesar 75% dan 51%, dan
kencur sebesar -13% dan 15%.
2.

SARAN
Saran yang dapat diberikan yaitu saat pengujian organoleptik
diharapkan mahasiswa dapat lebih serius dalam proses pengerjaannya
sehingga kesalahan dalam proses pengujian dapat diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009, Farmakope Herbal Indonesia Edisi I, Departemen Kesahatan


Republik Indonesia, Jakarta.
Anonim, 1989, MateriaMedika Indonesia Jilid V, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.