Anda di halaman 1dari 24

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015

LAPORAN PRAKTIKUM ASUHAN GIZI KLINIK


Penatalaksanaan Diet pada Pasien ISK, CKD, Hiperurisemia

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK/SHIFT: 7 / 2
NAMA:
1. Atika Sulistyan

(12/329233/KU/15001)

2. Masita Mulianing Tyas

(12/329243/KU/15008)

3. Cintantya Arafah

(12/329249/KU/15013)

4. Tiara Tivany S.

(12/329271/KU/15033)

PROGRAM STUDI GIZI KESEHATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


BAB I
PENGKAJIAN DATA

A. Anamnesis
1. Identitas Pasien
Nama

: Ny. S

No RM

: 218752

Umur

: 57 th

Ruang

: Kenanga

Sex

: perempuan

Tgl Masuk : 3/ 12/ 2012

Pekerjaan

: ibu rumah tangga

Tgl Kasus : 4/ 12/ 2012

Pendidikan : SD

Alamat

Agama

Diagnosis medis : ISK, CKD, Hiperurisemia

: Islam

: Depok

2. Berkaitan dengan Riwayat Penyakit


Keluhan Utama

Nyeri perut, mual (+), muntah (+), belum buang air besar selama 2
minggu

Riwayat Penyakit

1 minggu yll, os mengeluh nyeri perut, susah BAK, sudah ke

Sekarang

puskesmas Depok II diberi obat tapi masih nyeri. Saat ini os


merasakan nyeri perut bagian bawah (+), batuk (+) berdahak
berwarna hijau dan belum BAB selama 2 minggu ini

Riwayat Penyakit

Hipertensi

Dahulu
Riwayat Penyakit

Keluarga

3.

Berkaitan Dengan Riwayat Gizi

Data Sosio

Penghasilan : < 500.000,00

ekonomi

Jumlah anggota keluarga : 1


Suku : Jawa

Aktifitas fisik

Jumlah jam kerja : 8 jam/hari


Jumlah jam tidur sehari : 5 6 jam/hari
Jenis olahraga : senam lansia

Alergimakanan

Frekuensi : 1 kali/minggu

Makanan . : Jenis diet khusus

Penyebab : : Diet rendah garam

Alasan : riwayat hipertensi

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


Yang Menganjurkan : Posyandu Lansia
Masalah

Nyeri ulu hati (ya/tidak),

gastrointestinal

Diare (ya/tidak),

Mual (ya/tidak ),

Muntah (ya/tidak),

Konstipasi (ya/tidak ),

Anoreksia

(ya/tidak )

Perubahan pengecapan/penciuman (ya/tidak ) Durasi: 1 minggu ini


Penyakit kronik

Jenis penyakit : Hipertensi


Modifikasi diet : ya (diet rendah garam)
Jenis dan lama pengobatan : selama 4 tahun

Kesehatan mulut

Sulit menelan

(ya/tidak),

Stomatitis

(ya/tidak),

Gigi lengkap

(ya/tidak)
Pengobatan

Vitamin/mineral/suplemen gizi lain : Frekuensi dan jumlah : -

Perubahan berat

Bertambah/berkurang : sekitar 5 kg

lamanya : 1,5 bulan

badan

disengaja /tidak

Mempersiapkan

Fasilitas memasak

makanan

Fasilitas menyimpan makanan : ada

Riwayat / pola

Makanan pokok 3x/hari dan selingan 3 x sehari

makan

sejak sakit 1 bulan yang lalu,px mengalami penurunan nafsu makan

: ada

hanya sampai beberapa sendok, karena rasa mual dan muntah jika
makan . ketika lelah bekerja, px pasti mengkonsumsi suplemen
berenergi seperti hemaviton dan extra joss.
Keluarga px mengatakan bahwa px menyukai minuman karbonasi saat
sebelum sakit seperti coca-cola, fanta dan sejenisnya walaupun tidak
setiap hari dikonsumsi oleh px.
Berkenaan dengan riwayat HT, px telah diedukasi untuk mengolah
makanan dengan mengurangi garam. Namun, menurut keterangan
keluarga, px suka asin dan ambang batas rasa asinnya sudah
meningkat sehingga tetap menambahkan garam pada masakannya.
Px masih suka makan ikan asin walaupun sangat jarang. Disamping itu
px juga suka mengolah jenis masakan bersantan. Px mengolah sendiri
makanannya di rumah dan biasanya sekali masak untuk makan sehari.
Pola konsumsi px :
Makanan Pokok : nasi 3-4x/hari @ 1 centong
LH : ikan gereh 1x/minggu @ 1 ekor, telur 2x/minggu @ 1 butir dengan

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


digoreng
LN : tempe 3x/minggu @ 2 potong, tahu 4x/minggu @ 2 potong
Sayur : bayam, bayung, kangkung setiap hari ada sayur, timun
5x/minggu @ 1 buah
Minum : susu 1x/minggu @ 1 gelas, susu kedelai 5x/minggu @ 100 ml,
air putih 4-5gelas/hari
Buah : melon 3x/minggu @ 1 potong sedang, pepaya 4x/minggu @ 1
potong

Kesimpulan:
Dilihat dari riwayat penyakit, diketahui bahwa pasien S menderita Infeksi Saluran
Kencing (ISK) disertai Chronic Kidney Disease (CKD) dan Hiperurisemia
Pembahasan:
Pasien mengalami masalah gastrointestinal berupa nyeri perut bagian bawah, mual,
muntah, dan belum buang air besar selama 2 minggu. Adanya nyeri perut bagian bawah, mual,
dan muntah merupakan gejala klinik dari Infeksi Saluran Kemih (ISK). Sedangkan pasien belum
buang air besar selama 2 minggu menandakan pasien mengalami konstipasi, yang merupakan
predisposisi dari penyakit ISK (Alatas, 2006).
Selain itu, pasien juga mengalami anoreksia dan kesulitan dalam menelan. Hal itu dapat
mengurangi asupan makan, sehingga berat badan pasien pun mengalami berkurang secara
tidak sengaja. Kesulitan makan yang dialami pasien merupakan efek dari batuk yang diderita.
Batuk berdahak berwarna hijau menandakan adanya infeksi virus (Soetikno, 2007).
Pola makan pasien sudah cukup baik karena sudah mengkonsumsi makanan pokok,
lauk nabati, dan lauk hewani. Pasien juga sudah mengkonsumsi buah dan sayur dengan
teratur. Hanya saja, menurut keterangan keluarga, pasien masih suka asin dan ambang batas
rasa asinnya sudah meningkat sehingga tetap menambahkan garam pada masakannya. Hal ini
sangat berbahaya karena pasien sudah mempunyai riwayat penyakit hipertensi. Selain itu
konsumsi garam/natrium yang berlebihan menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan
ekxtraselular meningkat, sehingga volume darah pun meningkat dan bisa menyebabkan
hipertensi (Sari, 2010). Makanan bersantan juga merupakan makanan tinggi natrium.
Kebiasaan pasien yang suka mengkonsumsi minuman berkarbonasi dan minuman
berenergi juga sangat berbahaya. Efek jangka panjang yang ditimbulkan dari minuman tersebut
salah satunya adalah kerusakan pada ginjal (Eviliananingtyas, 2014). Begitu pula dengan

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


minuman berenergi. Adanya kaffein pada komposisi minuman berenergi, yang bersifat diuretik,
dapat memperparah kondisi penderita penyakit ginjal (Singh, 2010).
B. Antropometri
BB

LLA

Panjang Ulna

63 kg

28 cm

24 cm

Kesimpulan:
Status gizi pasien termasuk gizi baik.
Pembahasan:
Status gizi pasien dapat ditentukan dari hasil pengukuran lingkar lengan atas pasien dengan
rumus sebagai berikut (WHO-NCHS):

Persentil =
Kriteria penilaian:

Lila aktual
Lila persentil

x 100% =

28
30,3

Gizi baik

= > 85 %

Gizi kurang

= > 70 - < 85 %

Gizi buruk

= < 70 %

x 100% = 92,41%

LILA persentil didapatkan dari table WHO-NCHS, untuk perempuan usia 55 64,9 yaitu
30,3. Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan persentil sebesar 92,41%. Maka pasien
memiliki status gizi baik karena lebih dari 85%
Sedangkan tinggi badan pasien dapat ditentukan dari hasil pengukuran panjang ulna
dengan rumus sebagai berikut:
TB estimasi

= 68,777 + 3,536 x panjang ulna (cm)


= 68,777 + 3,536 x 24
= 68,777 + 84,864
= 153,641 cm

C. Pemeriksaan Biokimia
Awal Masuk RS

Pemeriksaan urin/darah

Nilai Normal

masa penjendalan (CT)

5 15 menit

8 40

Normal

masa perdarahan (BT)

1 6 menit

4 0

Normal

0,0 32,0 u/l

9,6

Normal

GOT/ ASAT

(tgl 3/12/12)

Keterangan

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


0,0 33,0 u/l

12,1

Normal

negatif

negatif

Normal

12,0 16,0 g/dl

9,1

Rendah

Leukosit

4,5 11,0 rb/mmk

14,3

Tinggi

Neutrofil

40 75 %

84,1

Tinggi

hematokrit

37 -47 %

26,4

Rendah

4 5,5 juta/mmk

3,36

Rendah

150 400

551

Tinggi

10 5 mg/dl

270,7

Tinggi

kreatinin

0,5 0,9 mg/dl

16,86

Tinggi

asam urat

2,5 5,7 mg/dl

12,10

Tinggi

kolesterol total

< 200 mg/dl

182

Normal

trigliserida

< 150 mg/dl

106

Normal

GPT/ALAT
HbsAg
Hb

eritrosit
trombosit
ureum

Pembahasan:
Berdasarkan pemeriksaan biokimia, pasien mengalami peningkatan kadar leukosit,
neutrofil, trombosit, ureum, kreatinin, dan asam urat. Selain itu juga terdapat penurunan kadar
Hb, hematokrit, dan eritrosit. Peningkatan leukosit, neutrofil, dan trombosit menandakan adanya
infeksi. Peningkatan kadar ureum dan kreatinin merupakan manifestasi dari Chronic Kidney
Disease (CKD) yang diderita pasien. Begitu pula dengan peningkatan asam urat yang
menandakan adanya hiperurisemia. Sedangkan penurunan Hb, hematokrit, dan eritrosit
menandakan adanya anemia. Adanya anemia dan hiperurisemia juga merupakan manifestasi
klinis dari penyakit Chronic Kidney Disease (CKD) (Wahyuningsih, 2013).
D. Pemeriksaan Fisik Klinik
1. Kesan Umum : compos mentis
2. Vital Sign :
Pemeriksaan

Awal Masuk RS

Tekanan Darah

120/80 mmHg

Respirasi

20x/menit

Nadi

72x/menit

Suhu

afebris

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


3. Kepala/ abdomen/extremitas dll :
Tho : ves +/+ , RBB -/-, RBK -/Status pemeriksaan USG
a. ren dekstra et sinistra : hidronefrosis Gr II peningkatan echostruktur
b. oedema ekstremitas bawah
c. kistoma ovarii
d. tak tampak kelainanan hepar, vesica felea, liean, pancreas
e. pulmo tak berkelainan, cor normal
Kesimpulan:
Secara umum, pasien terlihat compos mentis. Tetapi pasien mengalami keluhankeluhan berupa nyeri perut bagian bawah, mual, muntah, dan belum buang air besar selama 2
minggu.

Pembahasan:
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik klinik, diketahui pasien memiliki tekanan darah
yang normal karena berada berada pada nilai normal yaitu 120/80 mmHg. Respirasi pasien
termasuk eupnea atau normal karena berada di nilai normal yaitu 14-20 kali/menit untuk
dewasa. Nadi pasien termasuk normal karena berada pada nilai normal yaitu 60-100 kali/menit.
Sedangkan suhu tubuh pasien mengalami afebris, yakni terjadinya penurunan suhu tubuh
dibandingkan sebelumnya. Sehingga pasien sudah tidak lagi demam dan suhunya termasuk
normal (Wahyuningsih, 2013).
Pengukuran thorax pasien normal, suara paru vesikuler. Berdasarkan pemeriksaan
USG, pada ginjal kanan dan kiri terdapat hidronefrosis, yaitu pembengkakan ginjal yang terjadi
sebagai akibat akumulasi urin di saluran kemih bagian atas, sehingga menyebabkan
penggembungan. Hidronefrosis pasien sudah mencapai grade II. Pasien juga mengalami
oedema ekstremitas bawah, yang merupakan edema sekitar pergelangan kaki. Edema ini juga
diderita pada pasien CKD (Purwanto, 2013).
Pada pemeriksaan juga ditemukan kistoma ovarii, yaitu tumor jinak yg berada di
ovarium. Tidak ditemukan kelainan pada hati, kantung empedu, lien atau limpa, pancreas, dan
paru-paru. Fungsi jantung juga normal.

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


E. Asupan Zat Gizi
Hasil Recall 24 jam diet : Rumah dan rumah sakit
Tanggal : 3 Desember 2012
Diet RS : RP 30 RG
Implementasi

Energi (kal)

Protein (gr)

Lemak

KH (gr)

(gr)

Natrium
(mg)

Asupan oral RS

385,4

10,2

6,6

70,6

16,9

Luar RS

228,9

5,2

3,3

43,8

23,1

Asupan Enteral

Paranteral

Total Asupan

614,3

15,4

9,9

114,4

40,0

Kebutuhan/Standar

1405

26,7

34,9

244,45

800

43,72%

57,68%

28,37%

46,80%

5%

% Asupan

Kesimpulan:
Asupan kebutuhan pasien inadekuat. Hal ini ditandai dengan pemenuhan energi,
protein, lemak, dan karbohidrat pasien yang kurang meski sudah mengkonsumsi makanan dari
luar RS.

Pembahasan:
Berdasarkan hasil recall diet RS, baik pemenuhan energy, protein, dan lemak pasien
berada di kategori defisit berat karena berada di bawah 70%. Persen asupan energy pasien
hanya 43,72% dari total asupan, sementara persen asupan protein, lemak, dan karbohidrat
pasien masing-masing hanya 57,68%, 28,37% dan 46,80%. Padahal, pemenuhan gizi sehari
yang dianjurkan yaitu tidak lebih dan tidak kurang 10% dari kebutuhan, atau 90 110% dari
total kebutuhan (Depkes RI, 1996). Konsumsi natrium pasien juga rendah, hanya 40 mg.

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


F. TERAPI MEDIS
Jenis Obat/tindakan

Fungsi

Interaksi dengan zat gizi

Ij, ranitidine

Menurunkan kadar asam

dikonsumsi bersama makanan

lambung yang berlebihan, yang

menigkatkan penyerapan

menyebabkan tukak lambung,

bismuth dari tripotassium

tukak duodenum, sakit maag,

dicitratobismuthate

nyeri ulu hati, serta gangguan

pencernaan
Ij. Ondansensran

Mencegah mual dan muntah

akibat jangka panjang:


malabsorbsi vitamin B12

dikonsumsi bersama atau tanpa


makanan

makanan sedikit meningkatkan


jumlah absorbs dan
bioavailability ondansensran

asam folat 3x1

CaCO3 3x1

Menambah folat pada defisiensi

meningkatkan metabolisme

asam folat karena terjadinya

fenitoin sehingga menurunkan

anemia

konsentrasi serum fenitoin

Pencegahan dan pengobatan

gangguan/defisiensi

mengurangi absorbsi tetrasiklon


dan fluoride

metabolisme kalsium
aminefron 3x1

Ij. Lasix

Obat untuk kelainan fungsi ginjal -

Absorbsi terhambat oleh Ca

kronik

karena membentuk senyawa

Obat diuretic yang dapat

meningkatkan urine

Absorbsi menurun bila bersama


makanan

beresiko hilangnya mineral


penting dalam tubuh, missal
kalsium, magnesium, dan kalium

valsartran 1x8g

Obat hipertensi

diberikan bersama makanan


untuk mengurangi rasa tidak
nyaman pada saluran cerna

akibat jangka panjang:


menimbulkan rasa tidak nyaman
pada perut dan lambung, kram
perut, rasa haus, diare

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


ambroxol 3xCI

Untuk mengencerkan dahak

dikonsumsi setelah makan

agar lebih mudah dikeluarkan

meningkatkan kerja atau efektivit

melalui batuk sehingga

as dari antibiotik

melegakan saluran pernapasan


lactulax Sp 1xCII

Obat konstipasi kronik

Inpepsa sirup 3xCI

Obat ulkus duodenum dan

gaster, gastritis kronis

dikonsumsi 1-2 jam setelah


makan

apabila dikonsumsi dengan


ranitidine akan menurunkan
absorbs ranitidine

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


BAB II
DIAGNOSA GIZI

1. NI-2.1 Asupan oral inadekuat berkaitan dengan nyeri perut bagian bawah, mual, muntah
ditandai dengan hasil recall energi (43,72%), protein (57,68%), lemak (28,37%) , dan
karbohidrat (46,80%) dan penurunan berat badan
2. NI-5.4 Penurunan kebutuhan protein berkaitan dengan CKD stadium II, hiperurisemia
ditandai dengan kadar ureum (270,7 mg/dL), kreatinin (16,86 mg/dL) tinggi, dan asam
urat tinggi (12,10 mg/dL).
3. NI-5.4 Penurunan kebutuhan Na berkaitan dengan CKD ditandai dengan riwayat
hipertensi, edema, dan oliguria.

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


BAB III
INTERVENSI GIZI

A. PLANNING
1. Tujuan Diet:
a. Memenuhi kebutuhan energi tanpa memperberat kerja ginjal
b. Mengurangi edema
c. Menurunkan kadar ureum dalam darah

2. Syarat/ Prinsip Diet


a. Energi cukup yaitu 35 kkal/kgBBI
b. Karbohidrat cukup sebesar 65% dari kebutuhan total.
c. Lemak sedang sebesar 25% dari kebutuhan total
d. Protein rendah sebesar 0,75g/kgBBI dengan mengutamakan sumber protein
bernilai biologis tinggi dan rendah purin
e. Natrium rendah 1,2g/hari
f.

Cairan cukup, 500ml + pengeluaran cairan (urine, keringat, muntah) dalam


sehari

g. Tidak merangsang mual dan muntah

3. Perhitungan kebutuhan energi dan zat gizi


Diketahui panjang ulna 24 cm dan berat badan 63 kg.
Rumus perkiraan tinggi badan berdasarkan rentang lengan:
Tinggi badan (cm) = 68,777 + 3,536 x panjang ulna (cm)
= 68,777 + 3,536 x 24
= 68,777 + 84,864
= 153,641 cm 154 cm
Berat badan ideal (BBI) = 90% x (tinggi badan 100)
= 90% x (154 100)
= 48,6 kg
Perhitungan kebutuhan energi
TEE = 35 kkal x BBI
= 30 kkal x 48,6 kg
= 1458,27 kkal 1458

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


Kebutuhan protein = 0,75g x BBI
= 0,75g x 48,6
= 36,45g 36g
Kebutuhan lemak = 25% x TEE
= 25% x 1458 kkal
= 364 kkal/9 = 40,4 g 40g
Kebutuhan karbohidrat = TEE kebutuhan energi dari protein kebutuhan energi
dari lemak
= 1458 kkal 136 kkal 364 kkal
= 958 kkal/4 = 240 g (65%)
Kebutuhan natrium = 1,2g/ hari
Kebutuhan cairan = 500 ml + pengeluaran cairan/hari

4. Rekomendasi Diet
Terapi Diet: RP I RG III
Bentuk makanan: lunak
Cara Pemberian: oral

Rencana Diet :
Pukul

Pukul

Pukul

Pukul

Pukul

07.00

10.00

13.00

16.00

19.00

Es buah

Bubur

Puding roti

Nasi tim

manado

madu

ayam

dengan

Sop kental

jamur

telur

Energi (kkal)

Protein (g)

Lemak (g)

Karbohidrat (g)

Rekomendasi

1377

38

40

224

Kebutuhan

1458

36

40

240

%Asupan

95

105

100

93

Preskripsi Diet:
Rekomendasi diet yang kami buat telah memenuhi 95% energi,105% protein,
100% lemak dan 93% karbohidrat. Pasien mengalami mual, muntah dan batuk

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


berdahak sehingga dalam pemilihan masakan, kami melakukan penyesuaian yakni
dengan tidak memasukan jenis masakan yang tinggi lemak. Konsistensi makanan
yang diberikan lunak (bubur, tim, kukus) karena Ny. S mengalami kesulitan menelan.
Bahan makanan yang digunakan sebagai lauk adalah bahan-bahan bernilai biologis
tinggi namun rendah purin, mengingat Ny. S perlu membatasi asupan protein dan
mengalami hiperurisemi. Dikarenakan Ny. S mengalami sembelit, kami banyak
memberikan olahan buah sebagai selingan yakni dalam bentuk pudding roti madu
dan es buah.

5. Rencana Monitoring dan Evaluasi


Yang diukur
Antropometri

BB, LLA

Pengukuran
Pengukuran BB dan

Evaluasi/ target
BB dan LLA normal

LLA
Biokimia

Leukosit, neutrofil,

Cek urin dan darah

hematokrit,

di laboratorium.

Normal

eritrosit, trombosit,
asam urat, Ureum,
Kreatinin, BUN
Fisik klinik

Respirasi, nadi,

Termometer,

Suhu normal: 36-37oC

suhu dan tekanan

tensimeter dan

Respirasi normal: 16-24

darah, edema

palpasi

kali per menit

pada ekstrimitas

Nadi normal: 60-100 kali

bawah

per menit
Tekanan darah normal
Tidak ada edema /
berkurang

Asupan zat gizi

Energi, protein,

Menghitung sisa

lemak, karbohidrat

makanan

Asupan adekuat

6. Rencana Konsultasi Gizi


Masalah gizi
1. (NI-2.1) Asupan oral
inadekuat berkaitan

Tujuan
Memberikan
pengetahuan

Materi konseling
a. Memberikan
pengetahuan mengenai

Keterangan
Konseling gizi
diberikan

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


dengan nyeri perut

mengenai

pentingnya memenuhi

kepada

bagian bawah, mual,

pembatasan

kebutuhan energi dalam

pasien dan

muntah ditandai

asupan protein,

proses penyembuhan

keluarga

dengan hasil recall

natrium dan purin,

energi (43,72%),

dan pemenuhan

pengetahuan pentingnya

protein (57,68%),

kebutuhan energi

membatasi asupan

lemak (28,37%) ,

dan cairan.

natrium

dan karbohidrat

b. Memberikan

c. Memberikan

(46,80%) dan

pengetahuan tentang

penurunan berat

pentingnya membatasi

badan

makanan tinggi protein

2. (NI-5.4) Penurunan

d. Memberikan

kebutuhan Natrium

pengetahuan tentang

berkaitan dengan

sumber makanan tinggi

CKD ditandai dengan

purin

riwayat hipertensi,

e. Memberikan

edema dan oliguria

pengetahuan tentang

3. (NI-5.4) Penurunan

pentingnya mencukupi

kebutuhan protein
berkaitan dengan

kebutuhan cairan
f.

Memotivasi keluarga

CKD stadium II dan

untuk mengingatkan

hiperurisemi ditandai

pasien agar membatasi

dengan kadar ureum

natrium

(270,7 mg/dL),
kreatinin (16,86
mg/dL) tinggi, dan
kadar asam urat
tinggi (12,10 mg/dL)

pasien

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Berdasarkan pemeriksaan antropometri, status gizi pasien baik yang ditunjukkan
dengan nilai persentil LLA sebesar 92,41% (nilai normal > 85 %).
2. Dari hasil pemeriksaan biokimia diketahui pasien mengalami peningkatan kadar
leukosit, neutrofil, trombosit, ureum, kreatinin, dan asam urat, serta mengalami
penurunan kadar Hb, hematokrit, dan eritrosit.
3. Dari data fisik klinis diketahui secara umum, pasien terlihat compos mentis. Vital sign
pasien pun normal yaitu nadi 72x/menit, respirasi 20x/menit, tekanan darah 120/80
mmHg, dan suhu tidak lagi demam. Tetapi pasien mengalami keluhan-keluhan
berupa nyeri perut bagian bawah, mual, muntah, dan belum buang air besar selama
2 minggu. Berdasarkan pemeriksaan USG, pada ginjal kanan dan kiri terdapat
hidronefrosis dan juga ditemukan kistoma ovarii.
4. Asupan gizi pasien inadequate karena energi yang terpenuhi hanya 43,72%, begitu
pula dengan protein hanya 57,68%, lemak 28,37%, dan karbohidrat 46,80%.
B. Saran
1. Memotivasi pasien untuk memperbaiki asupan makannya agar pemenuhan
kebutuhan energy dalam sehari adequate.
2. Memotivasi pasien agar lebih bijak dalam memilih makanan dengan mengikuti saran
diet yang telah dianjurkan.

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


BAB V
TINJAUAN PUSTAKA

A. Infeksi saluran kemih (ISK)


1. Definisi
Infeksi saluran kemih (ISK) dibagi menjadi 2 yaitu sederhana dan kompleks. ISK
sederhana yaitu infeksi tanpa adanya penyulit/lesi anatomis maupun fungsional saluran kemih.
Sedangkan ISK kompleks yaitu infeksi saluran kemih disertai adanya penyulit seperti sumbatan
muara uretra, parut ginjal dll. Berdasarkan letaknya, ISK dibagi menjadi ISK atas dan bawah.
ISK atas adalah infeksi pada parenkim ginjal atau ureter, lazimnya disebut sebagai pielonefritis.
ISK bawah adalah infeksi pada vesika urinaria (sistitis) atau uretra. Batas antara atas dan
bawah adalah vesicoureteric junction (Hidayanti, 2008 dan Ocvianti, 2012).
2. Etiologi
Sekitar 50% ISK disebabkan Escherichia coli, penyebab lain adalah Klebsiella, Staphylococcus
aureus, coagulase-negative staphylococci, Proteus dan Pseudomonas sp. dan bakteri gram
negatif lainnya. Terdapat beberapa faktor predisposisi terjadinya ISK kompleks, diantaranya
outflow obstruction (kista ginjal, batu/tumor), kelainan ginjal (parut ginjal, dysplasia ginjal),
metabolic (imunosupresi, gagal ginjal, diabetes) dan adanya benda asing (batu, indwelling
cateter) (Hidayanti, 2008).
3. Patogenesis
Hampir seluruh ISK terjadi secara asenden. Bakteri berasal dari flora feses, berkolonisasi
didaerah perineum dan memasuki kandung kemih melalui uretra. Awal terjadinya ISK adalah
bakteri berkolonisasi di perineum pada wanita atau

di preputium pada laki-laki. Kemudian

bakteri masuk kedalam saluran kemih mulai dari uretra secara asending. Setelah sampai di
kandung kemih, bakteri bermultiplikasi dalam urin dan melewati mekanisme pertahanan
antibakteri dari kandung kemih dan urin. Pada keadaan normal papila ginjal memiliki sebuah
mekanisme anti refluks yang dapat mencegah urin mengalir secara retrograd menuju collecting
tubulus. Akhirnya bakteri bereaksi dengan urotelium atau ginjal sehingga menimbulkan respons
inflamasi dan timbul gejala ISK (Hidayanti, 2008).
4. Penatalaksanaan Medis
Terapi ISK harus segera diberikan untuk mencegah kemungkinan berkembang menjadi
pielonefritis. Apabila gejala yang timbul berat, maka terapi harus segera diberikan sementara
menunggu pemeriksaan hasil biakan urin. Apabila gejala ringan dan diagnosis meragukan,

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


maka terapi dapat ditunda sampai hasil biakan urin diketahui, dan pemeriksaan biakan dapat
diulang apabila hasil biakan pertama meragukan. Terapi inisial dengan trimethoprimsulfamethoxazole selama 3-5 hari efektif pada strain E.coli (Hidayanti, 2008).
5. Tindakan gizi kerusakan jaringan tubuh
Terapi yang diberikan pada infeksi yaitu diet tinggi energi tinggi protein yang bertujuan
memenuhi kebutuhan energi dan protein yang meningkat untuk mencegah dan mengurangi
kerusakan jaringan tubuh. Syarat dietnya yaitu energi tinggi 40-45 kkal/kgBB dan protein tinggi
(2-2,5 g/kgBB) (Almatsier, 2009).
B. Chronic kidney disease (CKD)
1. Definisi
Keadaan dimana terjadi penurunan fungsi ginjal yang cukup berat secara perlahan
(menahun) disebabkan oleh berbagai penyakit ginjal atau penyakit lain. CKD bersifat progresif
dan umumnya ireversibel. Gejala penyakit ini yaitu tidak ada nafsu makan, mual muntah,
pusing, sesak napas, rasa lelah, edema pada kaki dan tangan serta uremia (Almatsier, 2009
dan Hartono, 2006).
Menurut NKF-KDOQI (2002), CKD yaitu kerusakan ginjal lebih dari 3 bulan dengan atau
tanpa penurunan glomerular filtrate rate (GFR) atau GFR <60ml/min/1,73 mm 2 selama 3 bulan
dengan atau tanpa kerusakan ginjal. Kerusakan tersebut ditandai dengan keabnormalan pada
test darah dan urin.
Stage pada CKD berdasarkan glomerular filtrate rate:
GFR

Dengan kerusakan ginjal

(ml/min/1,73
2

mm )

Tanpa kerusakan ginjal

Dengan

Tanpa

Dengan

Tanpa

hipertensi

hipertensi

hipertensi

hipertensi

90

60 89

30 59

15 29

< 15 (dialisis)

Sumber: NKF-KDOQI (2002)

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


2. Faktor risiko
Faktor Klinis

Faktor sosiodemografi

a. Diabetes

a. Usia tua

b. Hipertensi

b. Terpapar

c. Autoimun

zat

kimia

berbahaya/

lingkungan beracun

d. Batu ginjal
e. Infeksi saluran kemih
f.

Gagal ginjal akut

g. Lahir dengan berat badan rendah


h. Riwayat keluarga menderita CKD
i.

Penurunan massa ginjal

j.

Seringnya meminum obat

Sumber: NKF-KDOQI (2002)


3. Tindakan gizi
Terapi diet yang diberikan hanya membantu mencegah/mengurangi progresivitas CKD.
Suplementasi vitamin-mineral seperti Fe, asam folat, kalsium dan vitamin D dapat diberikan
mengacu hasil pemeriksaan laboratorium. Terapi gizi difokuskan untuk menghindari asupan
elektrolit yang berlebihan dari makanan karena kadar elektrolit bisa meninggi akibat klirens
renal menurun (Hartono, 2006).
Terapi diet pada CKD terbagi menjadi 2 yaitu diet pre dialisis dan diet dialisis. Diet pre
dialisis prinsipnya yaitu energy cukup 35 kkal/kg BB, protein rendah (0,6-0,75 g/kgBB), lemak
cukup (20-30%), natrium dibatasi apabila ada hipertensi; edema dan asites, kalium dibatasi dan
cairan dibatasi didasarkan atas banyaknya pengeluaran cairan melalui keringat; penafasan dan
urin (Almatsier, 2009).
Diet dialisis diberikan pada pasien yang menjalani hemodialisis dan dialisis peritoneal
(CAPD) dengan hasil tes kliren kreatinin < 15ml/menit. Anjuran diet didasarkan pada frekuensi
dialisis, sisa fungsi ginjal dan ukuran tubuh. Tujuan diet dialisis yaitu mencegah defisiensi gizi,
menjaga keseimbangan cairan dan elektrilit dan menjaga agar akumulasi produk sisa tidak
berlebihan. Syarat diet dialisis yaitu energy cukup 35 kkal/kgBB, protein tinggi (1-1,2 g/kgBB
ideal/hari) pada HD dan CAPD 1,3 g/kgBB ideal/hari), natrium dan kalium diberikan sesuai
dengan jumlah urin yang keluar, kalsium tinggi dan cairan dibatasi (jumlah urin ditambah 500750ml) (Almatsier, 2009).

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


C. Hiperurisemia
1. Definisi
Hiperurisemia merupakan tahap pertama dari empat perjalanan klinis gout. Pada tahap
hiperurisemia, pasien dapat menunjukkan gejala (simtomatik) dan tidak menunjukkan gejala
(simtomatik) (Wahyuningsih, 2013). Gout merupakan sindrom klinis dengan gambaran khas
peradangan sendi yang akut.peradangan ini disebabkan oleh reaksi jaringan sendi terhadap
pembentukan kristal urat yang bentuknya menyerupai jarum. Hiperurismia berhubungan dengan
adanya gangguan metabolisme purin yang menimbulkan kadar asam urat darah melebihi 7,5
mg/dl (Hartono, 2006).
2. Etiologi
Keadaan ini dapat terjadi karena:
a. Pemecahan jaringan tubuh yang berlebihan sehingga banyak purin yang dibebaskan yang
kemudian dimetabolisme menjadi zat sisa berupa asam urat
b. Ekskresi asam urat menurun karena air seni yang asam (penurunan fungsi ginjal, konsumsi
lemak atau alcohol tinggi).
c. Konsumsi makanan kaya purin secara berlebihan (jeroan, kacang, emping, tape)
3. Tindakan gizi
Prinsip diet pada hiperurisemia yaitu diet rendah purin dengan cara menghindari atau
membatasi jenis makanan tinggi purin, makanan dengan hidratarag lebih banyak dan rendah
lemak (asam urat mudah larut dalam larutan alkalis). Kandungan lemak yang tinggi dapat
menimbulkan asidosis (pembentukan keton bodies seperti asam asetoasetat). Cairan
disesuaikan dengan urin yang dikeluarkan setiap hari (Hartono, 2006 dan Wahyuningsih, 2013).

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


DAFTAR PUSTAKA

Alatas H, dkk 2006. Buku Ajar Nefrologi Anak Edisi 2. Jakarta: Gaya baru.
Almatsier, Sunita. Penuntun Diet edisi baru. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.
Departemen Kesehatan RI. 1996. Pedoman Praktis Pemantauan Gizi. Jakarta: Direktorat Bina
Gizi Masyarakat.
Eviliananingtyas, Erma. 2014. Pengaruh Minuman Berkarbonasi Terhadap Kadar Ureum Darah
Mencit (Mus musculus) Galur Swiss Webste. Universitas Muhammadiyah Surakarta:
Surakarta.
Hartono, Andri. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta: EKG.
Hidayanti, Emma dan Dedi Rachmadi. 2008. Infeksi Saluran Kemih Kompleks. Bagian Ilmu
Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Rumah Sakit Hasan
sadikin Bandung
NKF-DOQI. 2002. Clinical Practice Guidelines for Chronic Kidney Disease: Evaluation,
Classification, and Stratification. Am J Kidney Dis; 39(suppl 1): S1S266
Ocvianti, Dwiana dan Darrel Fernando. 2012. Tatalaksana dan Pencegahan Infeksi Saluran
Kemih pada Kehamilan. J Indo Med Assoc Vol.62 No.12
Purwanto. 2013. Penyakit Ginjal Kronik yang Terjadi Pada Pasien Faktor Risiko Hipertensi.
Universitas Lampung: Lampung
Sari, Citra Zulianda. 2010. Kajian Kandungan Kalium dan Natrium Dalam Daging Sapi dan
Daging Kambing Secara Spektrofotometri Serapan Atom. Universitas Sumatera Utara:
Medan
Singh, Kiran Kaur. 2010. Pengaruh Penggunaan Minuman Berenergi Dikalangan Mahasiswa
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Urara Tahun 2010. Universitas
Sumatera Utara: Medan
Soetikno. Rista D. 2007. Pencitraan Disfagia. Universitas Padjajaran: Bandung
Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksanaan Diet pada Pasien. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


LAMPIRAN
Nutrisurvey Rekomendasi Diet

==================================================================

Analysis of the food record


==================================================================
Food
Amount
energy
carbohydr.
___________________________________________________________________________
BREAKFAST
bubur nasi
bayam merah'
wortel rebus *
telur ayam'

200 g
50 g
30 g
60 g

145,8 kcal
18,5 kcal
8,4 kcal
93,1 kcal

32,0
3,7
1,9
0,7

g
g
g
g

Meal analysis: energy 265,8 kcal (19 %), carbohydrate 38,2 g (17 %)

1. BREAK
puding roti
karamel
madu'

100 g
50 g
30 g

153,0 kcal
46,0 kcal
91,2 kcal

23,3 g
11,7 g
24,7 g

Meal analysis: energy 290,2 kcal (21 %), carbohydrate 59,7 g (27 %)

LUNCH
nasi tim*
daging ayam*
jamur coklat mentah'
tahu'
minyak kelapa sawit

150 g
20 g
30 g
20 g
10 g

180,0 kcal
59,6 kcal
8,1 kcal
15,2 kcal
86,2 kcal

39,0
0,0
1,5
0,4
0,0

g
g
g
g
g

2,1
2,8
2,5
15,8
22,2

g
g
g
g
g

Meal analysis: energy 363,2 kcal (26 %), carbohydrate 42,7 g (19 %)

2. BREAK
Semangka*
Orange fresh
Melon fresh
jelly
setrup / sirup'

30 g
30 g
30 g
40 g
40 g

8,4 kcal
14,1 kcal
11,5 kcal
63,6 kcal
85,6 kcal

Meal analysis: energy 183,1 kcal (13 %), carbohydrate 45,4 g (20 %)

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015

DINNER
kentang kukus RS
daging sapi*
buncis rebus *
wortel rebus *
Margarine for cooking

150 g
20 g
40 g
40 g
10 g

140,2 kcal
40,2 kcal
12,0 kcal
11,2 kcal
71,0 kcal

32,4
0,0
2,6
2,5
0,0

g
g
g
g
g

Meal analysis: energy 274,5 kcal (20 %), carbohydrate 37,6 g (17 %)

==================================================================

Result
==================================================================
Nutrient
analysed
recommended
percentage
content
value
value/day
fulfillment
___________________________________________________________________________
energy
1376,8 kcal
1458 kcal
95 %
protein
38,0 g(11%)
36 g(12 %)
105 %
fat
40,4 g(25%)
40 g(< 30 %)
100 %
carbohydr.
223,5 g(64%)
240 g(> 55 %)
93%
water
501,7 g
2700,0 g
19 %
dietary fiber
6,1 g
30,0 g
20 %
iron
9,5 mg
15,0 mg
63 %
zinc
2,4 mg
7,0 mg
35 %
calcium
382,2 mg
1000,0 mg
38 %
phosphorus
417,9 mg
700,0 mg
60 %
magnesium
151,9 mg
310,0 mg
49 %
tot. fol.acid
180,2 g
400,0 g
45 %
Vit. A
957,5 g
800,0 g
120 %
Vit. C
57,9 mg
100,0 mg
58 %
Vit. D
1,4 g
5,0 g
28 %
Vit. B12
0,7 g
3,0 g
22 %

Kasus Asuhan Gizi Klinik 2015


TATA LAKSANA DIET PADA PASIEN
DIABETES MELLITUS, EFUSI PLEURA, SYOK HIPOGLIKEMIA
KELOMPOK

:7

CP KELOMPOK

: Atika S. (087780493919)

ASISTEN INSTRUKTUR PRAKTIKUM

: Samsul Maarip; Nurul Putri Utami, S.Gz;


Cita Eri, S.Gz

NO
1

WAKTU
MAKAN
Pukul
07.00

Pukul
10.00

Pukul
13.00

Pukul
16.00

Pukul
19.00

MENU

BAHAN

Bubur
Manado
dengan telur

-Beras
-Bayam merah
-Wortel
-Telur ayam
Puding
roti -Bubuk agar-agar
madu
-Roti 2 lembar
-Madu
-Gula
Nasi
tim -Beras
ayam jamur
-Daging ayam
-Jamur kuping
-Tahu
-Minyak
kelapa
sawit
Es buah
-Semangka
-Jeruk
-Melon
-Sirup
-Bubuk nutrijell
Sop kental
-Kentang
-Daging sapi
-Buncis
-Wortel
-Mentega
TOTAL

JUMLAH
50 gram
50 gram
30 gram
60 gram
7 gram
25 gram
30 gram
30 gram
50 gram
20 gram
30 gram
20 gram
10 gram

HARGA
SATUAN
600
500
500
1500
3000
2300
1000
400
600
2000
2000
500
400

30 gram
30 gram
30 gram
10 gram
7 gram
150 gram
20 gram
40 gram
40 gram
10 gram

500
1000
500
500
2000
2500
5000
500
500
300

HARGA
3100

6700

5500

4500

8800

28600