Anda di halaman 1dari 20

Hukmy Auliyahc

Membuat yang TIDAK Mungkin MENJADI MUNGKIN


Beranda
About

Beranda > fisika > RANGKUMAN Hukum Archimedes


RANGKUMAN Hukum Archimedes
Mei 29, 2012 Khairunnisa Tinggalkan Komentar Go to comments
A. LATAR BELAKANG
Archimedes dari Syracusa (sekitar 287 SM 212 SM) Ia belajar di kota Alexandria,
Mesir. Pada waktu itu yang menjadi raja di Sirakusa adalah Hieron II, sahabat
Archimedes. Archimedes sendiri adalah seorang matematikawan, astronom, filsuf,
fisikawan ,dan insinyur berbangsa Yunani. Ia dibunuh oleh seorang prajurit Romawi
pada penjarahan kota Syracusa, meskipun ada perintah dari jendral Romawi,
Marcellus bahwa ia tak boleh dilukai. Sebagian sejarahwan matematika memandang
Archimedes sebagai salah satu matematikawan terbesar sejarah, mungkin bersamasama Newton dan Gauss.
Pada suatu hari Archimedes dimintai Raja Hieron II untuk menyelidiki apakah
mahkota emasnya dicampuri perak atau tidak. Archimedes memikirkan masalah ini
dengan sungguh-sungguh. Hingga ia merasa sangat letih dan menceburkan dirinya
dalam bak mandi umum penuh dengan air. Lalu, ia memperhatikan ada air yang
tumpah ke lantai dan seketika itu pula ia menemukan jawabannya. Ia bangkit berdiri,
dan berlari sepanjang jalan ke rumah dengan telanjang bulat. Setiba di rumah ia
berteriak pada istrinya, Eureka! Eureka! yang artinya sudah kutemukan! sudah
kutemukan! Lalu ia membuat hukum Archimedes.
Dengan itu ia membuktikan bahwa mahkota raja dicampuri dengan perak. Tukang
yang membuatnya dihukum mati.
Penemuan yang lain adalah tentang prinsip matematis tuas, sistem katrol yang
didemonstrasikannya dengan menarik sebuah kapal. Ulir penak, yaitu rancangan
model planetarium yang dapat menunjukkan gerak matahari, bulan, planet-planet, dan
kemungkinan rasi bintang di langit.
Archimedes adalah orang yang mendasarkan penemuannyadengan eksperimen
sehingga ia dijuluki Bapak IPA Eksperimental.
B. HUKUM ARCHIMEDES
Hukum Archimedes mengatakan bahwa Jika suatu benda dicelupkan ke dalam
sesuatu zat cair, maka benda itu akan mendapat tekanan keatas yang sama besarnya
dengan beratnya zat cair yang terdesak oleh benda tersebut.
a. Rumus Hukum Archimedes (Gaya Apung )
Ketika suatu benda dimasukkan ke dalam air, ternyata beratnya seolah-olah
berkurang. Peristiwa ini tentu bukan berarti ada massa benda yang hilang, namun
disebabkan oleh suatu gaya yang mendorong benda yang arahnya berlawanan dengan
arah berat benda. Seorang ahli Fisika yang bernama Archimedes mempelajari hal ini
dengan cara memasukkan dirinya pada bak mandi. Ternyata, ia memperoleh hasil,

yakni beratnya menjadi lebih ringan ketika di dalam air. Gaya ini disebut gaya apung
atau gaya ke atas (Fa). gaya apung sama dengan berat benda di udara dikurangi
dengan berat benda di dalam air. Persamaan Hukum Archimedes :
Fa = WuWa
Fa = gaya apung atau gaya ke atas (N),
Wu = gaya berat benda di udara (N),
Wa= gaya berat benda di dalam air (N)
Besarnya gaya apung ini bergantung pada banyaknya air yang didesak oleh benda
tersebut. Semakin besar air yang didesak maka semakin besar pula gaya apungnya.
Hasil penemuannya dikenal dengan Hukum Archimedes yang menyatakan bahwa
apabila suatu benda dicelupkan ke dalam zat cair, baik sebagian atau seluruhnya,
benda akan mendapat gaya apung (gaya ke atas) yang besarnya sama dengan berat zat
cair yang didesaknya (dipindahkan) oleh benda tersebut. Secara matematis ditulis :
FA = .g.V
Keterangan :
FA = Tekanan Archimedes = N/M2
= Massa Jenis Zat Cair = Kg/M3
g = Gravitasi = N/Kg
V = Volume Benda Tercelup = M3
C. KEADAAN BENDA
Tiga keadaan benda di dalam zat cair :
a. Melayang
pb, rata-rata = pf
w = Fa
KETERANGAN
pb = massa jenis benda
pf = massa jenis fluida
w = berat benda
Fa = gaya Apung
b. Tenggelam
pb, rata-rata > pf
w > Fa
KETERANGAN
pb = massa jenis benda
pf = massa jenis fluida
w = berat benda
Fa = gaya Apung
c. Terapung
pb, rata-rata < pf
w = Fa
KETERANGAN
pb = massa jenis benda
pf = massa jenis fluida
w = berat benda
Fa = gaya Apung

RANGKUMAN
Penerapan Hukum Archimedes
Setelahnya memahami ilmu tentang pentingnya konsep gaya archimedes kini kita
akan lebih mengetahui seberapa besar ilmu yang ditemukan secara tidak sengaja
ini.Penerapan hukum Archimedes dapat Anda jumpai dalam berbagai peralatan dari
yang sederhana sampai yang canggih.
Hidrometer
Hidrometer merupakan alat untuk mengukur berat jenis atau massa jeniszat cair. Jika
hidrometer dicelupkan ke dalam zat cair, sebagian alat tersebut akan tenggelam.
Makin besar massa jenis zat cair, Makin sedikit bagian hidrometer yang tenggelam.
Hidrometer banyak digunakan untuk mengetahui besar kandungan air pada bir atau
susu.
Hidrometer terbuat dari tabung kaca. Supaya tabung kaca terapung
tegak dalam zat cair, bagian bawah tabung dibebani dengan butiran timbal.
Diameter bagian bawah tabung kaca dibuat lebih besar supaya volume zat
cair yang dipindahkan hidrometer lebih besar. Dengan demikian, dihasilkan
gaya ke atas yang lebih besar dan hidrometer dapat mengapung di dalam
zat cair.
Tangkai tabung kaca hidrometer didesain supaya perubahan kecil dalam
berat benda yang dipindahkan (sama artinya dengan perubahan kecil dalam
massa jenis zat cair) menghasilkan perubahan besar pada kedalaman tangki
yang tercelup di dalam zat cair. Artinya perbedaan bacaan pada skala untuk
berbagai jenis zat cair menjadi lebih jelas.
Jembatan Ponton
Jembatan ponton adalah kumpulan drum-drum kosong yang berjajar sehingga
menyerupai jembatan. Jembatan ponton merupakan jembatan yang dibuat berdasarkan
prinsip benda terapung. Drumdrum tersebut harus tertutup rapat sehingga tidak ada air
yang masuk ke dalamnya. Jembatan ponton digunakan untuk keperluan darurat.
Apabila air pasang, jembatan naik. Jika air surut, maka jembatan turun. Jadi, tinggi
rendahnya jembatan ponton mengikuti pasang surutnya air.
Kapal Laut
Pada saat kalian meletakkan sepotong besi pada bejana berisi air, besi
akan tenggelam. Namun, mengapa kapal laut yang massanya sangat besar
tidak tenggelam? Bagaimana konsep fisika dapat menjelaskannya? Agar
kapal laut tidak tenggelam badan kapal harus dibuat berongga. hal ini
bertujuan agar volume air laut yang dipindahkan oleh badan kapal menjadi lebih
besar. Berdasarkan persamaan besarnya gaya apung sebanding dengan volume zat cair
yang dipindahkan, sehingg gaya apungnya menjadi sangat besar. Gaya apung inilah
yang mampu melawan berat kapal, sehingga kapal tetap dapat mengapung di
permukaan laut.
Kapal Selam dan Galangan Kapal
Pada dasarnya prinsip kerja kapal selam dan galangan kapal sama. Jika kapal akan
menyelam, maka air laut dimasukkan ke dalam ruang cadangan sehingga berat kapal
bertambah. Pengaturan banyak sedikitnya air laut yang dimasukkan, menyebabkan

kapal selam dapat menyelam pada kedalaman yang dikehendaki.


Jika akan mengapung, maka air laut dikeluarkan dari ruang cadangan. Berdasarkan
konsep tekanan hidrostastis, kapal selam mempunyai batasan tertentu dalam
menyelam. Jika kapal menyelam terlalu dalam, maka kapal bisa hancur karena
tekanan hidrostatisnya terlalu besar. Untuk memperbaiki kerusakan kapal bagian
bawah, digunakan galangan kapal. Jika kapal akan diperbaiki, galangan kapal
ditenggelamkan dan kapal dimasukkan. Setelah itu galangan diapungkan. Galangan
ditenggelamkan dan diapungkan dengan cara memasukkan dan mengeluarkan air laut
pada ruang cadangan.
Balon udara
Balon udara adalah penerapan prinsip Archimedes di udara. Balon udara harus diisi
dengan gas yang massa jenisnya lebih kecil dari massa jenis udara atmosfer sehingga
balon udara dapat terbang karena mendapat gaya ke atas, misalnya diisi udara yang
dipanaskan.
Share this:
Facebook
Twitter
Surat elektronik
Cetak

Like this:
Suka
Be the first to like this.
Categories: fisika Kaitkata:fisika, Hukum Archimedes, RANGKUMAN Hukum
Archimedes, rasi bintang, syracusa, zat cair
Komentar (0) Lacak Balik (0) Tinggalkan Komentar Lacak balik
1. Belum ada komentar.
Tinggalkan Balasan

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA MODERN


umpan RSS

Selamat Datang
Blogroll

blackpink-cafe

Waktu Terus Berjalan


Kategori
Puncak WordPress
Blog pada WordPress.com. Tema: INove oleh NeoEase.
Ikuti
Follow Hukmy Auliyahc
Get every new post delivered to your Inbox.
Powered by WordPress.com

Rumus:

Keterangan:
= volume akhir (m3, cm3)

= volume awal (m3, cm3)


=
= koefisien muai volume (/C)

= selisih suhu (C)

Laporan Praktikum Fisika Dasar Tentang Pengukuran Pada Benda Padat

PRAKTIKUM FISIKA DASAR 1


PENGUKURAN DASAR PADA BENDA PADAT
Disusun Oleh :

1.
Fajar Dwi Fauzi Hidayat (0621 11 058)
2. Yohanes Hutabalian
(0621 11 066)
3.
Entus Rahayu
(0621 11 069)
Tanggal Percobaan : 14 Oktober 2011
Asisten Dosen :
1. Angela Mariam B.,S. Si
2. Anggun A. Sulis
PRODI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2011-2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Tujuan percobaan
Dengan dilakukannya percobaan ini, maka mahasiswa dapat :
1)
Mempelajari dan menggunakan alat-alat ukur
2)
Menentukan volume dan massa jenis zat padat
3)
Menggunakan teori ketidakpastian
1.2.
Dasar Teori
Pengamatan suatu gejala umumnya tidak lengkap bila tidak menghasilkan
informasi kuantitatif. Untuk memperoleh informasi semacam ini dibutuhkan
pengukuran suatu sifat fisis, dan karenanya pengukuran merupakan suatu bagian besar
dari kegiatan rutin para ahli fisika eksperimen. Lord Kevin mengatakan bahwa
pengetahuan kita memuaskan hanya bila kita mampu menyatakan dalam bilangan.
Meskipun tuntutan ini mungkin berlebihan, hal ini menyatakan suatu sifat fisis dalam
bilangan membutuhkan tidak hanya penggunaan matematika untuk menunjukan
hubungan antara berbagai besaran, tetapi juga untuk mengolah hubungan-hubungan
ini. Matematika adalah bahasa dari fisika.
Pengukuran adalah suatu teknik untuk mengkaitkan suatu bilangan pada suatu
sifat fisis dengan membandingkannya dengan suatu besaran standar yang telah
diterima sebagai suatu satuan. Sebelum mengukur sesuatu, pertama-tama kita harus
memiliki suatu satuan bagi masing-masing besaran yang akan di ukur.
Hukum-hukum fisika menyatakan hubungan antara besaran-besaran fisik,
seperti panjang, waktu, gaya, energi, dan suhu. Jadi, kemampuan untuk
mendefinisikan besaran-besaran tersebut secara tepat dan mengukur secara teliti
merupakan suatu syarat dalam fisika. Pengukuran setiap besaran fisik mencakup
perbandingan besaran tersebut dengan beberapa nilai satuan besaran tersebut, yang
telah didefinisikan secara tepat.
Semua besaran fisik dapat dinyatakan dalam beberapa satuan-satuan pokok.
Sebagai contoh, kelajuan dinyatakan dalam satuan panjang dan satuan waktu,
misalnya meter per sekon atau mil per jam. Banyak besaran seperti gaya, momentum,
kerja, energi, dan daya, dapat dinyatakan dalam tiga besaran pokokpanjang, waktu
dan massa. Pemilihan satuan standar untuk besaran-besaran pokok ini mengahasilkan

suatu sistem satuan. Sistem satuan yang digunakan secara universal dalam masyrakat
ilmiah adalah Sistem Internasional (SI). Dalam SI, standar satuan untuk panjang
adalah meter, satuan untuk waktu adalah sekon dan standar satuan untuk massa adalah
kilogram.
Alat yang digunakan dalam pengukuran :
a.
Jangka sorong
Jangka sorong mempunyai dua rahang dan satu penduga. Rahang dalam digunakan
untuk mengukur diameter dalam atau sisi dalam suatu benda. Rahang luar untuk
mengukur diameter luar atau sisi luar suatu benda. Sedangkan penduga digunakan
untuk mengukur kedalaman. Skala utama pada jangka sorong memiliki skala dalam
cm dan mm. Sedangkan skala nonius pada jangka sorong memiliki panjang 9 mm dan
di bagi dalam 10 skala, sehingga beda satu skala nonius dengan satu skala pada skala
utama adalah 0,1 mm atau 0,01 cm.

Jadi, skala terkecil pada jangka sorong


adalah 0,1 mm atau 0,01 cm. Jangka sorong tepat digunakan untuk mengukur
diameter luar, diameter dalam, kedalaman tabung, dan panjang benda sampai nilai 10
cm.

b.
Mikrometer Skrup
Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur panjang benda yang memiliki
ukuran maksimum sekitar 2,50 cm, Benda yang akan diukur panjangnya dijepit
diantara bagian A dan B. Untuk menggerakan bagian B anda harus memutar sekrup
bagian C. Pada micrometer sekrup dalam 0,5 mm pada skala utama terbagi atas 50
skala putar, dan pada setiap penunjukan tidak selalu terdapat skala utama yang
berimpit dengan skala putar.

c.

Neraca Teknis

Massa benda menyatakan


banyaknya zat yang terdapat dalam suatu benda. Massa tiap benda selalu sama
dimana pun benda tersebut berada. Satuan SI untuk massa adalah kilogram (kg).Alat
untuk mengukur massa disebut neraca. Ada beberapa jenis neraca, antara lain, neraca
ohauss, neraca lengan, neraca langkan, neraca pasar, neraca tekan, neraca badan, dan
neraca elektronik. Setiap neraca memiliki spesifikasi penggunaan yang berbeda-beda.

Jenis neraca yang umum ada adalah neraca tiga lengan dan empat lengan. Pada neraca
tiga lengan, lengan paling depan memuat angka satuan dan sepersepuluhan, lengan
tengah memuat angka puluhan, dan lengan paling belakang memuat angka ratusan.

Terdapat 2 cara untuk mengukur besaran fisis volume zat yaitu pengukuran
langsung (untuk benda dengan bentuk teratur) dan pengukuran tak langsung.
Pengukuran secara langsung dikenal sebagai cara statis, sedangkan pengukuran tak
langsung dikenal sebagai cara dinamis dan menggunakan hukum-hukum fisika seperti
hukum Archimedes sebagai bantuan. Akibat cara langsung tersebut, maka ketelitian
dan kesalahan pengukuran volume bergantung pada kesalahan dan ketelitian
pengukuran rusuk-rusuknya.
Massa jenis adalah massa per satuan volume dari suatu zat. Jika benda
mempunyai struktur dalam homogeny (mungkin sebagai anggapan saja), maka :

Dimana = massa jenis (kg/m3)


m = massa benda (kg)
V = volume benda(m3)
Pengukuran massa benda diukur dengan alat yang disebut neraca. Seperti juga
alat ukur lain, neraca juga bermacam-macam dan tiap-tiap macam mempunyai
ketelitian sendiri-sendiri.
Hukum Archimedes
Suatu benda yang terbenam dalam fluida akan terangkat ke atas oleh gaya yang
sama besar dengan berat fluida yang dipindahkan, dijabarkan oleh Archimedes (287
212 SM) yang disebut Hukum Archimedes.
FA = Vb .f.g
Dimana :
FA : gaya ke atas (gaya angkat Archimedes) (Newton)
Vb : volume benda yang tercelup dalam fluida (m3)
f : massa jenis fluida (kg/m3)
g : percepatan gravitasi (m/s2)
Hukum ini selain untuk menghitung volume juga dapat untuk mengukur massa
jenis zat cairatau zat padat.
Disamping menggunakan prinsip Archimedes, massa jenis zat cair dapat
ditentukan dengan alat yang disebut Aerometer. Pengukuran massa jenis zat cair
dengan Aerometer menggunakan prinsip-prinsip hokum Archimedes

Jika sebuah tangki berisi air


diletakan di atas sebuah timbangan pegas missal beratnya W. sebuah benda yang
beratnya w yang tergantung pada seutas tali diturunkan masuk ke dalam air tadi (tanpa
menyinggung dinding dan dasar tangki), perhatikan gambar 4.
s

F pegas + F apung = w
Dengan :
: gaya tegangan dalam tali
F apung
: gaya apung
w
: berat benda

F pegas

Jika S adalah gaya yang dikerjakan terhadap sistem. Menurut hukum ketiga
Newton, gaya ini sama besar dan berlawanan arah dengan gaya yang bekerja terhadap
timbangan.
Artinya, jarum skala timbangan menunjukan pertambahan berat sebesar gaya
apung.

BAB II
ALAT DAN BAHAN
2.1.

Peralatan yang Digunakan


1)
Jangka Sorong

2)

Mikrometer Skrup
3)
Neraca Teknis
4)
Bejana Gelas
5) Thermometer
6)
Bangku penumpu

2.2.

Bahan yang Digunakan


1)
Balok Almunium
2)
Silinder Besi
3)
Kunci

BAB III
METODA KERJA
3.1.
Cara Statis
1)
Diukur panjang dan lebar benda padat dengan tempat yang berlainan. Dibuat hasil
pengukuran dalam bentuk tabel masing-masing tersendiri.
2)
Diukur tebalnya dengan mikrometer skrup juga seperti nomor 1.
3)
Ditentukan massa benda padat dengan cara menimbang cukup sekali saja.
4)
Dicatat suhu ruangan pada awal dan akhir percobaan.
5)
Diukurlah benda padat yang lain dengan harga rata-rata masing-masing
penyimpangan.

3)

3.2.
Cara Dinamis
1)
Ditentukan massa benda padat dengan cara menimbang.
2)
Ditimbang sekali lagi benda tersebut tergantung pada tali tipis.
Ditimbang sekali lagi benda yang tergantung tersebut terendam seluruhnya di dalam
air. Ingat airnya tidak ikut tertimbang dan benda tidak mengenai dasar bejana.
4)
Dicatat suhu air pada ruangan pada awal dan akhir percobaan.
5)
Diulangi seluruh pengukuran tersebut di atas untuk benda padat yang lain.

BAB IV
DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
4.1.
Data Pengamatan
Berdasarkan data percobaan dan perhitungan yang telah dilakukan tanggal 14 Oktober
2011, maka dapat dilaporkan hasil sebagai berikut.
Keadaan ruangan
P (cm)Hg
T (oC)
Sebelum percobaan
74,6 Hg
30oC
Sesudah percobaan
74,6 Hg
31oC

C (%)
40 %
66 %

a.

No
1.
2.
3.
4.
5.
X
x

p (cm)
3,06
3,05
3,05
3,05
3,065
3,055
0,79

Cara Statis
Balok Almunium
Massa = 12,4 gram
= 2,7 gr/cm3
l (cm)
1,5
1,52
1,55
1,5
1,51
1,52
0,94

t (cm)
1
1,05
1,05
1,1
1,05
1,05
0,09

V (cm3)
4,59
4,87
4,96
5,03
4,86
4,86

(gr/cm3)
2,7
2,55
2,50
2,46
2,55
2,55

No
1.
2.
3.
4.
5.
X
x

2)
Silinder Besi
Massa = 61,6 gram

= 7,9 gr/cm3
D (cm)
r (cm)
1,82
0,91
1,84
0,92
1,82
0,91
1,80
0,90
1,79
0,89
1,81
0,91
0,89
0,55

t (cm)
4,025
4,025
4,04
4,025
4,02
4,03
0,96

V (cm3)
10,46
10,7
10,50
10,24
10
10,38

(gr/cm3)
5,89
5,76
5,87
6,01
6,16
5,94

1)

No
1.
2.

b.
Benda
Kunci
Balok

Cara Dinamis
Mudara (gr)
13,5
12,4

4.2.
Perhitungan
a.
Cara Statis
1)
Balok Almunium
Massa = 12, 4 gram

Mair (gr)
11,45
8,5

V (cm3)
2,05
3,9

(g/cm3)
6,58
3,17

= 2,7 gr/cm3
x pada panjang (p)

= 0,79

x pada lebar (l)

= 0,94

x pada tinggi (t)

= 0,09
Percobaan 1
Vbalok

=p.l.t

= (3,06).(1,5).(1)
= 4,59 cm3

gr/cm3
Percobaan 2

Vbalok

=p.l.t

= (3,05).(1,52).(1,05)
= 4,87 cm3
Percobaan 3
Vbalok

gr/cm3

=p.l.t
= (3,05).(1,55).(1,05)

= 4,96 cm3

gr/cm3
Percobaan 4

Vbalok

=p.l.t

= (3,05).(1,5).(1,1)
= 5,03 cm3

gr/cm3
Percobaan 5

Vbalok

=p.l.t

= (3,065).(1,51).(1,05)
= 4,86 cm3

gr/cm3
Ketelitian Balok

Ketelitian

=
= 95 %
2)
Silinder Besi
Massa = 61, 6 gram

= 7,9 gr/cm3
x pada panjang (D)

= 0,89

x pada lebar (r)

= 0,55

x pada tinggi (t)

= 0,96
Percobaan 1
Vbalok

= xr2.t

= (3,14).(0,91)2.(4,025)
= 10,46 cm3

gr/cm3
Percobaan 2

Vbalok

= xr2.t

= (3,14).(0,92)2.(4,025)
= 10,7 cm3

gr/cm3
Percobaan 3

Vbalok

= xr2.t

= (3,14).(0,91)2.(4,04)
= 10,50 cm3

gr/cm3
Percobaan 4

Vbalok

= xr2.t

= (3,14).(0,90)2.(4,025)
= 10,24 cm3

gr/cm3
Percobaan 5

= xr2.t

Vbalok

= (3,14).(0,89)2.(4,02)
= 10 cm3

gr/cm3

Ketelitian Silinder
Ketelitian

=
= 72 %
b.

Cara Dinamis

Vkunci = Mudara - Mair

= 13,5 11,45
= 2,05 cm3

gr/cm3

Vbalok = Mudara Mair

= 12,4 8,5
= 3,9 cm3

gr/cm3
Ketelitian Kunci

Ketelitian

=
= 74 %

BAB V
PEMBAHASAN

Pengukuran adalah kegiatan membandingkan besaran untuk mendapatkansatuan


yang dibutuhkan dengan menggunakan alat bantu yaitu alat ukur., semua pengukuran
sedikit banyak dipengaruhi oleh kesalah eksperimental karena ketidaksempurnaan
yang takterelakan dalam alat ukur atau karena batasan tadi.
Ketelitian atau ketidakpastian suatu besaran fisis memungkinkan kita untuk
mendefinisikan jumlah angka yang menentukan yang terkait dengan besaran tadi.
Contohnya, jika suatu pengukuran dinyatakan menghasilkan 642,54389 1%, ini
berarti bahwa ketidak pastian 6,4. Karena itu kita dibenarkan untuk hanya mengambil
angka-angka dalam bilangan yang menentukan tadi. Dalam hal ini bilangan yang
diambil adalah 642 1% atau 642 6.
Pada pengukuran lebar dianjurkan untuk menggunakan mikrometer skrup
daripada menggunakan jangka sorong, karena ketelitian mikrometer sekrup lebih baik
dibandingkan jangka sorong, yaitu 0,01 milimeter. Jika digunakan untuk mengukur
tebal benda dengan maksimal 2,5 cm,maka mikrometer sekruplah yang digunakan,
sedangkan jangka sorong digunakan untuk mengukur panjang atau lebar suatu bahan
dengan ketelitian 0,05 milimeter.
Untuk mempermudah dalam penghitungan, kita dapat menggunakan kalkulator
dengan menggunakan fungsi standar deviasi. Massa tali tipis tidak dapat diabaikan
dalam tingkat ketelitian 1%, karena massa tali yang 1% itumempengaruhi ketelitian
pengukuran.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil yang buruk dalam suatu pengukuran,
salah satunya ialah kesalahan pada pembacaan suatu pengukuran. Dalam percobaan
ini pengukuran dilakukan dengan beberapa orang yang berbeda dan dilakukan
pengulangan sebanyak 5 kali.
Pada percobaan yang telah dilakukan dianggap sukses karena tingkat ketelitian
yang dihasilkan melebihi tingkat kepercayaan pada teori ketidakpastian.
Volume benda padat dapat ditentukan dengan 2 cara.
a. Cara Statis
Balok Almunium
Vbalok = p . l . t
= (3,055).(1,52).(1,05)
= 4,86 cm3
Silinder Besi
Vbalok = xr2.t
= (3,14).(0,91)2.(4,03)
= 10,38 cm3
b. Cara Dinamis
Pengukuran dilakukan dengan cara mencelupkan benda ke dalam air
Vkunci = Mudara - Mair
= 13,5 11,45
= 2,05 cm3
Vbalok = Mudara Mair
= 12,4 8,5
= 3,9 cm3
Dari kedua cara di atas, cara statis memiliki tingkat ketelitian yang sangat besar,
karena pengukuran dengan cara ini memiliki perhitungan dan dilakukan dengan
alat bantu yang memiliki ketelitian yang signifikan. Pada saat menghitung

tingkat ketelitian, percobaan dengan menggunakan cara statis akan lebih teliti
dibandingkan cara dinamis.
Pada pengukuran balok almunium dengan cara statis massa jenisnya berbeda
dengan pengukuran balok almunium dengan nilai massa jenis cara dinamis, sebab
pada cara statis di ukur hanya dalam keadaan di udara dengan nilai gravitasi yang 9,8
m/s2. Sedangkan pada cara dinamis diukur pada dua tempat yaitu di udara dan di air.
Pada saat diukur dalam air, massa jenis benda akan kecil karena terpengaruhi oleh
gaya Archimedes.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari percobaan, pengamatan dan perhitungan yang telah dilakukan, maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut.
Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur ketebalan suatu benda sedangkan
jangka sorong digunakan untuk mengukur panjang serta lebar suatu benda.
Pengukuran volume benda dapat dilakukan dengan dua cara,yaitu statis dan dinamis.
Ketelitian pengukuran secara statis lebih besar dari pada cara dinamis.
Perhitungan hasil pengukuran dilakukan dengan bantuan fungsi SD pada kalkulator
6.2. Saran
Sebelum melakukan percobaan dan pengukuran disarankan untuk memahami dulu
konsep besaran dan satuan.
Lakukan pengukuran sebanyak 5 kali dari sudut yang berbeda agar mendapat hasil
maksimal.

LAMPIRAN
Tugas Akhir
1.
Berikan keterangan mengapa tebal benda tidak diukur dengan jangka sorong,
melainkan dengan mikrometer skrup?
2.
Apakah massa tali tipis dapat diabaikan dalam ketelitian 1 %?
3.
Tentukan volume benda-benda padat dengan kedua cara!
4.
Dari kedua cara di atas, manakah menurut pengamatan yang paling teliti?
5.
Tentukan massa jenis benda-benda padat tersebut?
6.
Dari langkah 5, tentukan jenis benda-benda tersebut!
7.
Tentukan volume benda-benda tersebut pada suhu oC, langkah 6?
8.
Sebutkanlah salah satu cara lain untuk menentukan volume benda padat!
Jawab

1.

2.

Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur tebal suatu bahan yang tipis, karena
ketelitian mikrometer sekrup lebih baik dibandingkan jangka sorong, yaitu 0,01
milimeter. Jika digunakan untuk mengukur tebal benda dengan maksimal 2,5
cm,maka mikrometer sekruplah yang digunakan, sedangkan jangka sorong
digunakanuntuk mengukur panjang atau lebar suatu bahan dengan ketelitian 0,05
milimeter.
Massa tali tipis tidak dapat diabaikan dalam tingkat ketelitian 1%, karena massa tali
yang 1% itu mempengaruhi ketelitian pengukuran.
3. Volume benda padat dapat ditentukan dengan 2 cara.
a. Cara Statis
Balok Almunium
Vbalok = p . l . t
= (3,055).(1,52).(1,05)
= 4,86 cm3
Silinder Besi
Vbalok = xr2.t
= (3,14).(0,91)2.(4,03)
= 10,38 cm3
b. Cara Dinamis
Pengukuran dilakukan dengan cara mencelupkan benda ke dalam air
Vkunci = Mudara - Mair
= 13,5 11,45
= 2,05 cm3
Vbalok = Mudara Mair
= 12,4 8,5
= 3,9 cm3
4.
Cara Statis, karena pengukuran dengan cara ini memiliki perhitungan dan
dilakukan dengan alat bantu yang memiliki ketelitian yang signifikan.
5.
Massa jenis benda-benda yang diukur.
a.
Balok Almunium
=
b.

Silinder Besi
=
c.

=
6.

8.

= 2,55 gr/cm3
= 5,94 gr/cm3
Kunci
=

gr/cm3

Balok almunium, silinder besi, dan kunci (campuran)


7.

Dicelupkan ke dalam wadah berisi air yang telah dicatat volum eawalnya
dan volume benda dapat dilihat dari besar perubahan volume air dalam wadah
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Alonso, Marcello & Edward J. Finn. 1980. Dasar-Dasar Fisika Universitas. Erlangga.
Jakarta
Buku Penuntun Praktikum Fisika Dasar . Universitas Pakuan. Bogor
Hilliday, David & Robert Resnick. 1985. Fisika. Erlangga. Jakarta
Suhada, Resa Taruna. 2009. Modul Fisika Dasar. Universitas Mercu Buana. Jakarta
Tiper, Paul A. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Erlangga. Jakarta
Diposkan oleh Fajar Dwi Fauzi Hidayat di 20:41
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Label: Kimia
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar

a
F
= Gaya keatas / berat fluida yang dipindahkan (Newton)
f
m
= massa fluida (kg)g = percepatan grafitasi (9,8 m/s
2
)
f

= massa jenis fluida (kg/m


3
)
bf
V
= volume benda tercelup (m
3
)5.Tuliskanlah rumus yang digunakan untuk menentukan volume benda
dengan carastatis dan dinamis.Jawab :
a.
Cara statis (cara langsung) menggunakan rumus volumev = s.s.s atau p.l.t (m
3

) b. Cara dinamis (cara tidak langsung) menggunakan hukum Archimedes


gV F
bf f a
..

=
(N)

Hukum Archimedes berbunyi :Benda yang tercelup sebagian atau seluruhnya ke


dalam fluida mengalami gayake atas sebesar fluida yang dipindahkan oleh benda yang
tercelup tersebut.