Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah yang paling sering terjadi pada tulang adalah fraktur (patah tulang).
Hal ini bisa terjadi kapan saja dan oleh siapa saja. Biasanya fraktur ini terjadi
akibat cedera, misalnya pukulan, terjatuh atau mungkin akibat gerakan memuntir
saat bermain sepak bola atau lainnya.Tulang manapun bisa patah, tapi keretakan
paling sering terjadi pada lengan, kaki, dan telapak tangan. Terkadang kecelakaan
secara tiba-tiba dapat menyebabkan fraktur juga sering membuat orang panic dan
tidak tahu apa yang harus dilakukan. Karena kurangnya informasi dan
pengetahuan yang dimiliki, akibatnya banyak orang pergi ke dukun pijat karena
mereka beranggapan bahwa gejala fraktur sama dengan gejala terkilir. Oleh
karena penting bagi kita untuk mengetahui apa itu fraktur agar tidak terjadi
masalah yang lebih fatal.

1.2 Rumusan Masalah


1.
2.
3.
4.
5.

Apa pengertian dari fraktur?


Apa saja etiologi fraktur?
Apa gejala dari fraktur?
Bagaimana cara pencegahannya?
Bagaimana pengobatan dari fraktur?

1.3 Tujuan Penulisan


1.
2.
3.
4.
5.

Mampu memahami apa pengertian dari fraktur


Mampu memahami etiologi dari fraktur
Mengetahui apa saja gejala dari fraktur
Mengetahui bagaimana cara pencegahan fraktur
Mampu memahami cara pengobatan dari fraktur

BAB II
ISI
2.1 Pengertian Fraktur

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan
sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer S.C & Bare B.G, 2001) atau setiap retak atau
patah tulang yang utuh (Reeves C.J , Roux G & Lockhart R, 2001)
Fraktur juga merupakan terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer et al, 2000). Sedangkan menurut
Linda Juall C. dalam buku Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan
bahwa Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan
eksternal yang datang lebih besar dari yang diserap oleh tulang.
Fraktur sendiri merupakan kerusakan structural dalam tulang, lapisan epifisis
atau permukaan sendi tulang rawan. Sementara kerusakan pada tulang sering kali
langsung terlihat nyata, kerusakan pada jaringan lunak sekitarnya dapat luput dari
deteksi klinis yang dini. Kerusakan jaringan lunak yang berhubungan dengan
suatu fraktur sangat bermakna secara klinis dan akhirnya dapat memengaruhi hasil
klinis.
Penampilan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis, di
bagi menjadi beberapa kelompok :
A. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan)
1) Fraktur tertutup (closed/sederhana), dikatakan tertutup bila tidak
terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut
juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Atau
permukaan fraktur tidak bersinggungan dengan kulit atau selaput
lendirnya. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang
berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
a) Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera
jaringan lunak sekitarnya.
b) Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit

dan jaringan subkutan.


c) Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio
jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan.
d) Tingkat 3 : Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak
yang nyata dan ancaman sindroma kompartement.
2) Fraktur terbuka (open/compound/majemuk), dikatakan fraktur terbuka
bila tulang yang patah menembus otot dan kulit yang memungkinkan
untuk terjadi infeksi dimana kuman dari luar dapat masuk kedalam
luka sampai ke tulang yang patah.
Derajat patah tulang terbuka :

a) Derajat I , Laserasi < 2 cm, fraktur sederhana, dislokasi


fragmen minimal.
b) Derajat II , Laserasi > 2 cm, kontusio otot dan
sekitarnya, dislokasi fragmen jelas.
c) Derajat III , Luka lebar, rusak hebat, atau hilang
jaringan sekitar.
B. Berdasarkan komlit atau ketidakkomplitan fraktur dibedakan menjadi :
1) Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang atau
melalui kedua korteks tulang.
2) Fraktur inkomplit,bila garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang seperti:
a) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
b) Fraktur tempaan (Buckle/Torus),bila terjadi lipatan dari satu
korteks dengan tulang spongiosa dibawahnya. Atau suatu fraktur
yang satu korteknya terkompresi sementara korteks yang
berlawanan intak. Terjadi pada anak-anak.
c) Green stick fraktur, suatu fraktur tak sempurna yng ditimbulkan
oleh tenaga angulasi. Konteks yang berlawanan masih intak.
Terjadi pada anak-anak.
C. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme
trauma
1) Fraktur Transversal, fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi/langsung. Atau, sumbu panjang
tulang tegak lurus degan bidan fraktur. Biasanya disebabkan karena
cedera lipat dan kecepatan rendah.
2) Fraktur Oblik, fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut
terhadap sumbu tulang dan merupakan akibat trauma angulasi juga.

3) Fraktur Spiral, fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang
disebabkan trauma rotasi dan tenaga putar yang menyebabkan tulang
patah di sepanjang gars robek.
4) Fraktur Kompresi, fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain dan berkurangnya panjang
atau lebar segmen tulang yang disebabkan impaksi dari tulang
trabekula.
5) Fraktur Avulsi, fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau
traksi otot pada insersinya pada tulang. Atau, fraktur yang dihasikan
oleh tenaga traksi pada tulang melalui enthesis
D. Berdasarkan jumlah garis patah
1) Fraktur Komunitif, fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan
saling berhubungan.
2) Fraktur Segmental, fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
3) Fraktur Multiple, fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
pada tulang yang sama.
E. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
1) Fraktur Undisplaced (tidak bergeser), garis patah lengkap tetapi kedua
fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
2) Fraktur Displaced (bergese), terjadi pergeseran fragmen tulang yang
juga disebut lokasi fragmen.
F. Berdasarkan posisi fraktur, sebatang tulang terbagi menjadi 3 bagian
1) 1/3 proksimal
2) 1/3 medial
3) 1/3 distal
G. Fraktur Kelelahan, fraktur akibat tekanan yang berulang ulang
H. Fraktur Patologis, fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.

2.2

Etiologi

Fraktur
Tulang
bila

paling

dikenai

kuat
tenaga

kompresi yang simetris. Beban tekuk atau torsi menyebabkan gagalnya tegangan
dan fraktur.
1) Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang dan retak pada titik
terjadinya kekerasan. Frakttur demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan
garis patah melintang atau miring.
2) Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh
dari tepat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagianyang paling
lemah dalam jalur hantaran vector kekerasan
3) Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat
berupa pemuntiran, penekukuan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya
dan penarikan.
Etiologi patah tulang menurut Barbara C.Long adalah
1) Fraktur akibat peristiwa trauma
Jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi patah pada
tempat yang terkena, hal ini juga mengakibatkan kerusakan pada jaringan
lunak disekitarnya. Jika kekuatan tidak langsung mengenai tulang maka dapat
terjadi fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena dan kerusakan
jaringan lunak ditempat fraktur mungkin tidak ada.
a. Trauma langsung, bila fraktur terjadi ditempat dimana bagian tersebut
terdapat ruda paksa, misalnya : benturan atau pukulan yang
mengakibatkan fraktur
b. Trauma tidak langsung, misalnya pasin tejatuh dengan lengan dalam
keadaan ekstensi, dapat terjadi fraktur pada pergelangan tangan
c. Trauma ringan, dapat menyebabkan fraktur bila tulang itu sendiri
sudah rapuh. Selain itu fraktur juga disebabkan oleh karena metastase
dari tumor, infeksi, osteoporosis atau karena tarikan spontan otot yang
kuat.
2) Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan
Tulang jika bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut
tidak mampu mengabsobsi energi atau kekuatan yang menimpanya.

3) Fraktur Patologis
Fraktur ini adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya
proses pelemahan tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker yang
bermetastase atau osteoporosis.
Sedangkan etiologi dari fraktur menurut Price dan Wilson (2006) ada 3yaitu :
1) Cidera atau benturan
2) Fraktur patologik Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang
telah menjadi lemah oleh karena tumor, kanker dan osteoporosis.
3) Fraktur beban Fraktur baban atau fraktur kelelahan terjadi pada orangorang yang baru saja menambah tingkat aktivitas mereka, seperti baru di
terima dalam angkatan bersenjata atau orang- orang yang baru mulai
latihan lari.

2.3 Gejala Fraktur


Tanda dan gejala dari fraktur antara lain nyeri, hilangnya fungsi,
deformitas, pemendekan ekstremitas, krepitasi, pembengkakan lokal dan
perubahan warna.
1) Nyeri terus menerus dan bertabah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme tulang yang menyertai fraktur untuk meminimalkan
gerakan antara fragmen tulang.
2) Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa), bukan tetap rigid seperti
normalnya.Pergeseran frakmen pada fraktur lengan atau tungkai
menyebabkan deformitas (terlahat maupun teraba). Ekstremitas yang bisa
diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal.
3) Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah tempat fraktur. Frakmen
sering saling melengkapi satu sama lain sampai 2,5 5 cm (1 2).
4) Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derki tulang yang
dinamakan krepitasi/krepitus yang teraba akibat gesekan antara frakmen
satu dengan yang lain.
5) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma
dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah
beberapa jam atau hari setelah cidera.

6) Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur.
Kebanyakan justru tidak ada pada fraktur linier atau fraktur impaksi
(permukaan patahan saling terdesak satu sama lain).

2.4 Pencegahan Fraktur


Pencegahan fraktur dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Pada
umumnya disebabkan oleh peristiwa trauma benturan atau terjatuh baik ringan
maupun berat. Pada dasarnya upaya pengendalian kecelakaan dan trauma adalah
suatu tindakan pencegahan terhadap peningkatan kasus kecelakaan yang
menyebabkan fraktur.
a) Pencegahan Primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan upaya menghindari terjadinya
trauma benturan, terjatuh atau kecelakaan lainnya. Dalam melakukan aktifitas
yang berat atau mobilisasi yang cepat dilakukan dengan cara hati hati,
memperhatikan pedoman keselamatan dengan memakai alat pelindung diri.
b) Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan untuk mengurang akibat-akibat yang lebih
serius dari terjadinya fraktur dengan memberikan pertolongan pertama yang tepat
dan terampil pada penderita. Mengangkat penderita dengan posisi yang benar agar
tidak memperparah bagian tubuh yang terkena fraktur untuk selanjutnya
dilakukan pengobatan. Pemeriksaan klinis dilakukan untuk melihat bentuk dan
keparahan tulang yang patah. Pemeriksaan dengan foto radiologis sangat
membantu untuk mengetahui bagian tulang yang patah yang tidak terlihat dari
luar. Pengobatan yang dilakukan dapat berupa traksi, pembidaian dengan gips atau
dengan fiksasi internal maupun eksternal.
c) Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier pada penderita fraktur yang bertujuan untuk mengurangi
terjadinya komplikasi yang lebih berat dan memberikan tindakan pemulihan yang
tepat untuk menghindari atau mengurangi kecacatan. Pengobatan yang dilakukan
disesuaikan dengan jenis dan beratnya fraktur dengan tindakan operatif dan
rehabilitasi. Rehabilitasi medis diupayakan untuk mengembalikan fungsi tubuh
untuk dapat kembali melakukan mobilisasi seperti biasanya. Penderita fraktur

yang telah mendapat pengobatan atau tindakan operatif, memerlukan latihan


fungsional perlahan untuk mengembalikan fungsi gerakan dari tulang yang patah.
Upaya rehabilitasi dengan mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan
mempertahankan reduksi dan imobilisasi antara lain meminimalkan bengkak,
memantau status neurovaskuler, mengontrol ansietas dan nyeri, latihan dan
pengaturan otot, partisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari, dan melakukan
aktivitas ringan secara bertahap

2.5 Pengobatan Fraktur


Sebelum dilakukan pengobatan definitif pada satu fraktur, maka diperlukan:
1) Pertolongan Pertama
Pada penderita dengan fraktur yang penting dilakukan adalah membersihkan
jalan napas, menutup luka dengan verban yang bersih dan imobilisasi fraktur pada
anggota gerak yang terkena agar penderita merasa nyaman dan mengurangi nyeri
sebelum diangkut dengan ambulans. Bila terdapat perdarahan maka dapat
dilakukan pertolongan sebelumnya.
2) Penilaian Klinis
Sebelum menilai fraktur itu sendiri, perlu dilakukan penilaian klinis, apakah
luka itu luka tembus tulang, adakah trauma pembuluh darah/saraf ataukah ada
trauma alat-alat dalam yang lain.
3) Resusitasi
Kebanyakan penderita dengan fraktur multibel tiba di RS dengan syok,
sehingga diperlukan resusitasi sebelum diberikan terapi pada frakturnya sendiri
berupa pemberian transfusi darah dan cairan lainnya serta obat-obat anti nyeri.
Prinsip Umum Pengobatan Fraktur :
1. Recognition; diagnosis dan penilaian fraktur. Prinsip pertama adalah
mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis, pemeriksaan
klinik dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan: lokasi
fraktur, bentuk fraktur, teknik yang sesuai untuk pengobatan, dan
komplikasi yang mungkin terjadi selama/sesudah pengobatan.

2. Reduction; reduksi fraktur bila perlu restorasi fragmen fraktur dilakukan


untuk mendapatkan posisi yang dapat diterima. Posisi yang baik adalah
bila terdapat alignment dan aposisi yang sempurna.
3. Retention; imobilisasi fraktur.
4. Rehabilitation; mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin
Fraktur langsung mulai pulih setelah peristiwa patah terjadi. Kalus (kapalan)
terbentuk di sekitar bagian yang patah untuk melindungi tulang selama proses
penyembuhan berlangsung. Proses ini dapat terlihat pada foto rontgen paling
cepat 2 minggu setelah kecelakaan terjadi.
Perawatan utama untuk fraktur adalah menstabilkan tulang agar dapat pulih
keposisi yang benar. Gips dari plester/resin sangat umum digunakan. Namun
kadang-kadang batang atau baut logam bisa disispkan untuk menyatukan bagian
yang patah/kerangka eksternal bisa ditanamkan pada tulang.
Proses penyembuhan ini memakan waktu satu sampai tiga bulan, tergantung
pada usia dan kesehatan, serta jenis fraktur. Antibiotic biasanya diperlukan jika
terjadi fraktur terbuka, karena fraktur jenis itu rentan terhadap infeksi.

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan
sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer S.C & Bare B.G, 2001) atau setiap retak atau
patah tulang yang utuh (Reeves C.J , Roux G & Lockhart R, 2001)
Fraktur juga merupakan terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer et al, 2000). Sedangkan menurut
Linda Juall C. dalam buku Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan
bahwa Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan
eksternal yang datang lebih besar dari yang diserap oleh tulang.
Etiologi fraktur menurut Price dan Wilson (2006) ada 3 yaitu :
1) Cidera atau benturan
2) Fraktur patologik Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang
telah menjadi lemah oleh karena tumor, kanker dan osteoporosis.
3) Fraktur beban atau fraktur kelelahan terjadi pada orang- orang yang baru
saja menambah tingkat aktivitas mereka, seperti baru di terima dalam
angkatan bersenjata atau orang- orang yang baru mulai latihan lari.
Perawatan utama untuk fraktur adalah menstabilkan tulang agar dapat pulih
keposisi yang benar. Gips dari plester/resin sangat umum digunakan. Namun
kadang-kadang batang atau baut logam bisa disispkan untuk menyatukan bagian
yang patah/kerangka eksternal bisa ditanamkan pada tulang.

3.2 Saran
Pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) fraktur sangat
perlu untuk diketahui. Hal ini mengantisispasi adanya kecelakaan secara tiba-tiba
dan menyebabkan fraktur. Dengan adanya pengetahuan tersebut, kita bisa
memberikan pertolongan secara darurat jika tidak ada pos kesehatan atau rumah
sakit terdekat agar korban kecelakaan bisa diselamatkan.

LAMPIRAN

10

11

Keterangan
No 1. Fraktur Tertutup
No.2 Fraktur Terbuka
No.3 Fraktur Transversal
No.4 Fraktur Spiral
No.5 Fraktur Oblik

12

DAFTAR PUSTAKA
Susan J. Garrison (Ed): Handbook of Physical Medicine and Rehabilitation
Basics.

First Edition. Copyright 1995 J. B. Lipppincott Company

Davies Kim: 2007. Buku Pintar Nyeri Tulang dan Otot, Dina Mardiana,
Erlangga. Jakarta
http://www.scribd.com/doc/86545197/makalah-askep-fraktur
http://makalahperawat.blogspot.com/2011/02/fraktur.html
http://aceh.tribunnews.com/2013/06/23/pengobatan-patah-tulang
http://heyaristi.tumblr.com/post/21492219673

13