Anda di halaman 1dari 10

(Koagulasi Intravaskular Diseminata)

DIC adalah suatu status hiperkoagulasi yang terjadi pada berbagai keadaan penyakit,
termasuk sepsis dan kanker. Di sini terjadi overstimulasi koagulasi normal di mana
trombosis dan perdarahan terjadi sekaligus. Hiperkoagulasi terjadi pada awal proses DIC;
banyak bekuan kecil terbentuk di mikrosirkulasi berbagai organ. Proses ini disusul oleh
fibrinolisis, di mana terjadi konsumsi bekuan dan faktor-faktor pembekuan, sehingga
mengakibatkan perdarahan. Akhirnya tubuh tidak bisa memberi respons terhadap jejas
vaskular dan jaringan melalui pembentukan bekuan yang stabil, dan terjadi perdarahan.
Perdarahan yang berhubungan dengan DIC bisa hebat, namun trombosis
difus(melibatkan mikrovaskular dan makrovaskular) yang menyebabkan morbiditas
menetap dan kematian pada DIC.1 Trombosis lah yang menyebabkan iskemia dan
kerusakan organ.1
DIC bisa bersifat akut dan kronik. DIC kronik umumnya terlihat pada pasien kanker dan
ditunjukkan sebagai kejadian-kejadian trombosis lokal (misal trombosis vena dalam atau
DVT).2. DIC kronik didefinisikan sebagai keadaan koagulasi intravaskular dan hanya
terjadi gangguan imbang hemostasis normal. DIC akut merupakan gangguan mekanisme
hemostasis di mana koagulasi intravaskular mengancam jiwa.

Patofisiologi DIC
Pada kondisi homeostasis, tubuh dipelihara oleh keseimbangan yang baik antara
koagulasi dan fibrinolisis(gambar 1). Aktivasi kaskade pembekuan darah menghasilkan
trombin yang mengubah fibrinogen menjadi fibrin; Bekuan fibrin yang stabil merupakan
produk akhir dari hemostasis. Kemudian sistem fibrinolitik melepaskan plasmin (dengan
adanya trombin), yang berperan untuk menghancurkan bekuan fibrin.3 Pemecahan
fibrinogen dan fibrin menghasilkan polipeptida yang dinamakan FDP (fibrin degradation
products) atau FSP (fibrin split products). Dalam keadaan homeostasis, keberadaan
trombin sangat penting, karena trombin merupakan enzim proteolitik utama dalam
koagulasi dan juga perlu untuk "pelarutan" bekuan, atau fibrinolisis.

Gambar 1 Normal
hemostasis.

Pada DIC, proses koagulasi dan fibrinolisis kehilangan kendali, dan akibatnya terjadai
pembentukan tersebar luas dengan akibat perdarahan (Gambar 2). Apapun faktor pemicu
DIC, setelah dicetuskan,patofisiologinya serupa pada semua kondisi. Satu mediator kritis
dari DIC adalah pelepasan suatu glikoprotein transmembran yang dinamakan tissue
factor(TF). TF berada pada permukaan berbagai jenis sel (antara lain, sel endotel,
makrofag dan monosit) dan biasanya tidak berkontak dengan sirkulasi umum, namun
terpapar ke sirkulasi setelah ada kerusakan pembuluh darah. Sebagai contoh, TF dilepas
sebagai respon terhadap paparan ke sitokin (khususnya interleukin), tumor necrosis
factor, dan endotoksin.4Ini memainkan peran dalam perkembangan DIC pada sepsis. TF
juga banyak dijumpai dalam jaringan paru, otak dan plasenta. Ini membantu menjelaskan
mengapa DIC mudah terjadi pada pasien dengan trauma luas.5,6 Setelah teraktivasi, TF
berikatan dengan faktor-faktor pembekuan yang kemudian memicu lintasan intrinsik dan
ekstrinsik dari koagulasi.

Gambar 2. Proses
Koagulasi Intravaskular
Diseminata.

Trombin yang berlebihan dalam sirkulasi diakibatkan oleh aktivasi berlebihan dari kaskade
pembekuan( coagulation cascade). Trombin yang melimpah ini membelah fibrinogen,
yang akhirnya meninggalkan banyak bekuan fibrin di dalam sirkulasi.1 Bekuan yang
banyak ini menjerat trombosit dan menjadi bekuan yang lebih besar lagi (mirip efek bola
salju) dan akhirnya terjadi trombosis di mikrovaskular dan makrovaskular. Bekuan yang
terjerat di mikrosirkulasi, dalam pembuluh besar dan di dalam organ inilah yang
mengakibatkan iskemia, gangguan perfusi organ dan kerusakan organ yang terjadi pada
DIC.1,7,8
Inhibitor koagulasi juga dipakai dalam proses ini. Penurunan kadar inhibitor akan
memungkinkan lebih banyak bekuan, sehingga suatu sistem umpan balik berkembang di
mana bekuan yang banyak akan menambah pembekuan.3 Pada saat yang sama, terjadi
trombositopenia karena trombosit terjerat dalam bekuan. Faktor-faktor pembekuan
dikonsumsi dalam pembentukan bekuan , sehingga berkontribusi terhadap perdarahan
yang terlihat pada DIC.
Pada saat yang sama, trombin yang berlebihan dalam sirkulasi membantu konversi
plasminogen menjadi plasmin, yang menghasilkan fibrinolisis. Pemecahan bekuan
menghasilkan FDP dalam jumlah berlebihan. FDP memiliki sifat antikoagulan, sehingga
memperberat perdarahan.9 Plasmin yang berlebihan juga mengaktifkan sistem
komplemen dan kinin. Aktivasi sistem-sistem ini menghasilkan banyak gejala klinis yang
diperlihatkan oleh DIC, antara lain syok, hipotensi dan peningkatan permeabilitas
vaskular.10 Bentuk akut DIC dianggap sebagai ekspresi esktrem dari proses koagulasi
intravaskular dengan prognosis buruk dan angka mortalitas tinggi.

Infeksi dan Sepsis


Infeksi dan sepsis merupakan penyebab tersering dari DIC akut dan bisa disebabkan oleh
berbagai infeksi virus, jamur dan bakteri, terutama meningococcemia dan bakteri gramnegatif lain.11 Mediator primer dari DIC pada sepsis gram-negatif adalah endotoksin.
Endotoksin adalah zat pro-koagulan yang mengaktifkan faktor XII (Hageman factor) dari
reaksi pembekuan. Aktivasi terjadi karena berkurangnya bersihan faktor pembekuan yang
terjadi sekunder terhadap peristiwa-peristiwa sistemik, seperti asidosis, hipotensi,
pelepasan makrofag/monosit oleh rangsang endotoksin atau TNF, kerusakan endotel, dan
aktivasi trombosit.12 Faktor XII bisa merangsang fibrinolisis maupun koagulasi, yang bisa
menghidupkan proses DIC.
Mekanisme yang sama ini juga diduga mencetuskan DIC yang disebabkan bakteri grampositif. Mekanisme kerja untuk pembentukan DIC yang disebabkan infeksi virus dan jamur
tidak jelas. Terapi antibiotik juga bisa sebagai inisiator DIC, karena bisa mengubah flora
usus yang merupakan sumber vitamin K, sehingga memodifikasi proses koagulasi.

Sebab-sebab lain dari DIC


Leukemia akut dan Adenokarsinoma
Kanker yang terbanyak disertai DIC adalah leukemia akut dan adenokarsinoma penghasil
musin. Mekanisme etiologi yang umum adalah ekspresi abnormal dari TF pada sel tumor
yang beredar atau di dalam permukaan pembuluh darah2 Walaupun APL (acute
promyelocytic leukemia) adalah satu-satunya kanker yang banyak disertai DIC, insiden
nya relatif rendah, karena insiden APL juga rendah.13DIC bisa terjadi sebelum atau

selama pemberian khemoterapi untuk manajemen APL. Suatu zat prokoagulan telah
diidentifikasi pada permukaan sel blast promielosit, yang mirip dengan tromboplastin dan
bisa mencetuskan respons pembekuan darah.14 Zat ini dilepas dari permukaan
promielosit atau selama kerusakan sel oleh khemoterapi.
sel-sel kanker APL juga mengandung kadar abnormal tinggi dari annexin II. Kadar yang
meninggi dari zat ini bisa menyebabkan peningkatan produksi plasmin dengan hasil
perdarahan karena fibrinolisis yang tidak teratasi.15 Annexin II merupakan protein pengikat
fosfolipid yang terdapat pada permukaan sel endotel dan berfungsi mengikat plasminogen
dan aktivatornya, yakni tPA.16 Dengan kedatangan obat antileukemia baru dan obat
antifibrinolitik, morbiditas dan mortalitas dari perdarahan yang disebabkan APL telah
berkurang secara bermakna.17,18
Adenokarsinoma paru, payudara, lambung, prostat, pankreas, ovarium dan saluran
empedu, merupakan tumor padat yang paling banyak disertai DIC.19-21 Mekanisme DIC
pada tumor t ini diduga adanya zat prokoagulan yang yang belum diidentifikasi dan secara
langung merangsang koagulasi. Tumor-tumor tersebut juga bisa melepaskan jaringan
nektrotik atau enzim jaringan ke dalam sirkualsi sistemik, dan dari sana mengaktifkan
kaskade koagulasi.10

Reaksi transfusi
DIC dapat juga berhubungan dengan transfusi darah, termasuk reaksi hemolitik akut dan
transfusi massif whole blood. Jejas endotel geneneralisata yang disebabkan komplemen
aktif, sitokin dan produk neutrofil terjadi selama reaksi transfusi hemolitik akut.22 Semua
aksi ini berpotensi merangsang DIC. Etiologi DIC yang terkait dengan transfusi whole
blood massif tidak diketahui, tetapi insiden sangat rendah karena faktanya sedikit whole
blood yang ditransfusi dalam praktek klinis.

Gagal Hati
Gagal hati yang disebabkan penyakit primer hati, metastasis hati atau kerusakan hati
akibat khemoterapi atau terapi radiasi bisa meningkatkan risiko terjadinya DIC. Hati
mensintesis faktor-faktor pembekuan dan inhibitor koagulasi. Hati juga membersihkan
faktor-faktor koagulasi yang sudah teraktivasi dan FDP. Disfungsi hati bisa mengganggu
imbang normal dari koagulasi, sehingga mengakibatkan DIC.22

Peritoneovenous Shunt
Peritoneovenous shunt digunakan untuk memintas cairan asites ke dalam sirkulasi
sistemik. Ini bisa digunakan pada kanker ovarium lanjut. Cairan asites mengandung
sejumlah zat prokoagulan, yang bila dipintas ke dalam sirkulasi bisa menyebabkan DIC.

Manifestasi klinis
Tanda dan gejala klinis DIC bervariasi dan kompleks. Tidak mengerankan jika proses
sering tidak terdeteksi sebelum perdarahan berat terjadi. Ini merupakan sala satu sebab
DIC sering berakibat fatal. Pengenalan proses pada fase dini akan membantu
memperbaiki prognosis.

Trombus umumnya berkembang pada vena superfisial dan vena kecil dan mungkin tidak
terdeteksi di klinik. Daerah keras yang nyeri tekan dan merah ditemukan pada berbagai
organ; ini menunjukkan iskemia yang merupakan satu-satunya tanda DIC dini yang
tampak. Kerusakan organ oleh deposit fibrin di mikrorvaskular dapat memperlihatkan
manifestasi kulit (iskemia fokal, akrosianosis, gangrene superfisial, dan gangren yang
mencolok), gangguan ginjal, disfungsi paru (dispnea dapat berlanjut menjadi ARDS),
disfungsi neurologis (sakit kepala dan perubahan kasadaran), manifestasi saluran cerna(
tukak stres dengan perdarahan gastrointestinal), serta ikterus yang disebabkan kelebihan
bilirubin selama perdarahan8
Perdarahan merupakan tanda paling jelas dari DIC, dan bisa berkisar dari pancuran darah
dari sembarang celah atau tempat terbuka di kulit, sampai perdarahan hebat. Perdarahan
kulit dalam bentuk purpura, petekia, ekimosis, dan hematoma bisa menjadi mencolok.
Perdarahan difus dari 3 tempat yang tidak berhubungan tidak jarang pada DIC. Hemolisis,
perdarahan gastrointestinal, perdarahan intraperitoneal dan perdarahan intrakranial
semua nya ini merupakan kejadian yang mengancam jiwa untuk pasien DIC.8
Tanda dan gejala DIC berdasarkan atas patofisiologi yang mendasari proses ini, dan
meliputi demam, hipoksia, asidosis, hipotensi, dan proteinuria. Tergantung pada
keparahan gejala DIC, pasien dapat menunjukkan gambaran klinis syok. Diagnosis DIC
harus dikonfirmasi oleh tes laboratorium.

Dagnosis laboratorium DIC


Diagnosis laboratorium sukar karena tidak satupun tes yang ada bersifat spesifik untuk
DIC. Di samping itu, hampir semua tes rutin yang tersedia hanya menjelaskan masalah
perdarahan yang disebabkan konsumsi faktor pembekuan dan fibrinogen, dan sedikit
yang menyangkut masalah aktivasi sistem prokoagulan.
Hitung trombosit dan kadar fibrinogen hampir selalu menurun jika ada DIC. Walaupun testes ini tidak spesifik untuk DIC, kadar normal menyingkirkan kemungkinan
DIC.3,11Keberadaan skistosit atau fragmen eritrosit sering dijumpai, tetapi bukan
merupakan temuan spesifik. Keberadaan skistosit sering membantu mendukung
diagnosis DIC kronik. Dua tes yang lebih baru dan lebih canggih yang digunakan untuk
mendukung diagnosis DIC (sendiri atau kombinasi) adalah pemeriksaan kadar D-dimer
dan FDP. Peningkatan kadar FDP terjadi pada berbagai kondisi di mana terjadi
pembentukan dan lisis bekuan. . D-dimer diproduksi oleh aksi plasmin teradap fibrin ikatsilang (cross-linked fibrin), bukan dengan aksi plasmin terhadap fibrin yang belum
membeku. Tes-tes ini mencerminkan mikroangiopati DIC dan telah didapatkan sensitif,
spesifik dan efisien dalam diagnosis.22,23 Menurut tinjauan Yu dkk23dari tes-tes
laboratorium yang sering dipesan untuk DIC, pengujian D- dimer dan FDP memberikan
diagnosis yang paling cepat dan spesifik dari DIC
Tes lain telah dikembangkan dan bisa membantu diagnosis dan mengikuti progresi DIC.
Sayangnya banyak di antaranya tidak tersedia untuk klinisi. Tes-tes yang membantu
menentukan koagulasi yang dipercepat (sugestif DIC) mencakup kadar antitrombin III,
kadar fibrinopeptide A , prothrombin activation peptides [F1 & F2],dan kompleks
trombin-antitrombin.
Tes yang membantu menunjukkan fibrinolisis yang dipercepat dalam DIC mencakup
kadar plasminogen dan kadar alfa-2-antiplasmin levels. Kadar yang rendah atau menurun

dari plasminogen dan alfa-2-antiplasmin memberi kesan hiperfibrinolisis.7 Kedua tes ini
merupakan pertanda molekular yang bisa digunakan untuk mendeteksi mula timbul DIC.

Manajemen DIC
Prinsip-prinsip umum
Tatalaksana DIC diarahkan pada etiologi yang mendasari. Sebelum etiologi diketahui,
terapi juga diarakan pada manifestasi perdarahan dan trombosis25 Karena kebanyakan
kasus DIC tidak jelas gambaran klinisnya sebelum ada perdarahan, manajemen awal
terdiri atas penggantian cairan yang cepat dan adekuat.
Penggantian cairan juga akan mengatasi hipotensi dan membanttu mengelola
proteinuria(dari trombosis yang terjadi di ginjal) yang bisa menyebabkan gagal ginjal.26
Jika sirkulasi cepat memulih, FDP akan dibersihkan dari darah dan pada gilirannya akan
memulikan hemostasis normal. Cairan pengganti dapat mencakup kristaloid seperti
Ringer asetat/ laktat dan koloid seperti dextran dan hydroxyethyl starch, atau human
albumin.27Infusi pengganti plasma(dextran, hydroxyethyl starch, atau protein plasma )
dapat mengakibatkan reaksi samping, mulai dari reaksi alergi urtikaria sampai reaksi
anafilaksis yang mengancam jiwa.27 Oksigen juga dibutuhkan setelah DIC dideteksi untuk
mengatasi hipoksia dan asidosis yang disebabkan perdarahan.
Terapi Komponen Darah
Terapi pengganti komponen darah sering dibutuhkan dan boleh diberikan kepada pasien
yang terus berdarah walaupun etiologi DIC telah diatasi, dan ketika terapi koagulasi (yakni
heparin) telah diberikan. Sel darah merah dapat diberikan jika pasien terus berdarah dan
Hb turun di bawah 8 g/dL. Namun, eritrosit yang disimpan dalam bank darah kekurangan
faktor pembekuan labil V dan VIII. Pada keadaan umum, dianjurkan pada perdahan hebat
untuk memberikan 2 unit fresh frozen plasma (FFP) untuk setiap 4-6 unit eritrosit bank
darah.27,28 Ada kontroversi penggunaan FFP dalam manajemen DIC. Namun karena FFP
berisi fibrinogen, berpotensi meningkatkan kadar FDP yang lebih lanjut akan mengganggu
hemostasis.1,7
Cryoprecipitate dapat digunakan pada pasien dengan hiperfibrinolisis ekstrem,11,14 namun
kandungan fibrinogennya bahkan jauh lebih tinggi daripada FFP. Oleh karena itu ada
kontroversi tentang manfaat cryoprecipitate dalam manajemen perdarahan yang terkait
DIC. Trombosit bisa diberikan jika hitung trombosit < 20,000 cells/mm3 atau ada
perdarahan aktif.
Konsumsi faktor-faktor pembekuan darah pada DIC akan meningkatkan risiko terjadinya
perdarahan. Pemberian plasma dan konsentrat trombosit merupakan terapi yang rasional
untuk DIC sepsis, walaupun belum ada studi klinis yang membuktikan manfaat
penggunaannya.
Rekomendasi : Pertimbangan dalam memberikan transfusi komponen darah disesuaikan
dengan keadaan klinis penderita dan bukan berdasarkan hasil laboratorium semata.
Transfusi plasma beku segar (FFP) dan atau trombosit konsentrat diberikan bila
didapatkan perdarahan atau risiko terjadinya perdarahan(akan menjalani prosedur invasif)
Pada keadaan faktor pembekuan dan trombosit yang sangat rendah (<30.000/mm3)
dipertimbangkan pemberian tranfusi profilaksis30

Manajemen Pembekuan Intravaskular


Meskipun tidak ada algoritme yang diakui untuk manajemen DIC, banyak kepustakaan
mendukung manajeman proses pembekuan intravaskular segera setelah terapi etiologi
dimulai.17,22,28 Proses trombosis yang luas pada DIC inilah yang memberi dampak paling
bermakna terhadap morbiditas dan mortalitas. Walaupun heparin paling banyak
digunakan sebagai antikoagulan dalam manajemen DIC, penggunaanya masih
kontroversial karena tidak ada bukti meningkatkan survival..
Heparin umumnya tidak diberikan jika ada trombositopenia moderat atau berat.29
Diberikan IV atau subkutan, heparin dosis rendah lebih aman dan disertai risiko
perdaharan minimal.1,29 Efek heparin bisa terlihat sekitar 3 atau 4 jam setrelah terapi
dimulai, pertama dengan koreksi nilai laboratorium dan kemudian dengan menghentikan
perdarahan dan trombosis. Terapi heparin dikontraindikasikan pada pasien dengan
gangguan SSP(sakit kepala atau baru mengalami cerebral vascular accident), luka
terbuka atau baru operasi.
Hingga saat ini belum ada kesesuaian pendapat mengenai penggunaan heparin pada
sepsis. Berbagai studi kasus yang pernah dilaporkan (tanpa kontrol dan populasi sampel
kecil) menunjukkan hasil yang bertentangan, dan belum ada studi yang menunjukkan
manfaat heparin dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas.
Sebagian institusi pengobatan memberikan heparin dengan tujuan menghambat proses
koagulasi, sebagian lagi tidak. Manfaat pemberian heparin hingga saat ini masih
diperdebatkan. Beberapa keadaan yang menyebabkan heparin tidak menguntungkan
diberikan pada keadaan sepsis adalah: (1). aktivitas antitrombin III menurun sehingga
kerja heparin tidak efektif; (2). pemberian heparin meningkatkan risiko terjadinya
perdarahan dan trombositopenia. (3) Pemberian heparin menyebabkan pelepasan
prostasiklin dari endotel terhambat.
Rekomendasi: Heparin tidak diberikan pada DIC karena sepsis, kecuali didapatkan bukti
terjadinya tromboemboli.
Cara pemberian heparin : dosis 100 IU/kgBB bolus dilanjutkan 15-25IU/kgBB/jam (7501250 IU/jam) dengan infus kontinu, dosis lanjutan disesuaikan untuk mencapai aPTT 1,52 kali kontrol 30
Inhibitor fibrinolisis
Perdarahan berlebihan dapat menetap sekalipun sudah dilakukan tindakan mengatasi
DIC(misal terapi etiologi, terapi heparin dan komponen darah). Pada kasus ini, bisa
digunakan obat penghambat fibrinolisis.31 Dua obat demikian adalah epsilon
aminocaproic acid (EACA, Amicar) dan tranexamic acid. Kedua obat ini efektif
mengatasi perdarahan tetapi bisa menyebabkan deposisi fibrin tersebar luas dalam
mikrosirkulasi dan mengakibatkan disfungsi organ akibat iskemia.8,11 Epsilon
aminocaproic acid diberikan dengan bolus IV perlahans etiap jam selama 24 jam sampai
perdarahan berhenti. Obat ini bisa menyebabkan hipotensi berat, hiperkalemia berat dan
aritmia ventrikular. Tranexamic acid disetujui US FDA untuk perdarahan yang
disebabkan hemofili, tetapi digunakan" off-label" untuk perdarahan yang disebabkan
hiperfibrinolisis seperti pada DIC. Obat ini memberi harapan dan efek sampingnya
sedikit.17

Kesimpulan
Pengenalan dini dari tanda dan gejala DIC memungkinkan diagnosis dan intervensi cepat,
sehingga membantu meminimalkan morbiditas dan mortalitas. Tanda dan gejala sistemik
DIC meliputi demam, hipoksia, asidosis, hipotensi dan proteinuria dan bervariasi dan
menyerupai kondisi klinis lain seperti sepsis.
Pembekuan lebih halus dan tidak sejelas perdaraan pada DIC. Pemantauan ketat untuk
tanda-tanda trombosis meliputi identifikasi daerah-daerah indurasi, nyeri tekan, merah
pada banyak organ. Saat trombosis lebih menyebar, ia dapat bermanifestasi sebagai
gagal ginjal akut, disfungsi paru dan disfungsi neurologis.
Perhatian ketat terhadap tanda dan gejala perdarahan yang terkait dengan DIC mutlak
perlu untuk meminimalkan perdarahan. Perdarahan bisa ringan sampai berat. Semua
ekskresi tubuh diperiksa untuk melihat adanya perdarahan makroskopik dan mikroskopik.
Hitung darah pasien dipantau untuk menaksir jumlah darah yang hilang, untuk mengganti
cairan dan terapi komponen darah.
Tabel 1. Sebab-sebab umum dari Koagulasi Intravaskular Diseminata
Infeksi
Bakteri gramnegatif

Meningococcus, Pseudomonas, Salmonella, Haemophilus,


Enterobacteriaceae

Bakteri grampositif

Pneumococcus, Staphylococcus, Hemolytic Streptococcus

Virus

Hepatitis, varicella, cytomegalovirus, hemolytic streptococcus

Jamur
Terkait Kanker
Leukemia

Acute promyelocytic, acute myelogenous, chronic


myelogenous, acute lymphoblastic

Tumor padat

paru, payudara, lambung,prostat, pankreas,ovarium, saluran


empedu

Reaksi transfusi
darah

Reaksi transfusi hemolisis akut, transfusi massif whole blood

Penyakit hati

Gagal hati sekunder teradap penyakti hati primer atau


metastasis

Prostetik

Peritoneovenous shunts

Tabel 2. Tes Laboratorium yang digunakan untuk Diagnosis Koagulasi


Intravaskular Diseminata
Pemeriksaan

Hasil pada Koagulasi Intravaskular


Diseminata

Tes umum
Hitung trombosit

menurun

Kadar Fibrinogen

menurun

Sediaan apus darah tepi

skistosit

D-dimer assay

meninggi

FDP assay

meninggi

Tes untuk menentukan Pembekuan


yang dipercepat
Antithrombin III

menurun

Fibrinopeptide A

meninggi

Prothrombin activation peptides (F1 & meninggi


F2)
Thrombin-antithrombin complexes

meninggi

Tes untuk menentukan


Fibrinolisisw yang dipercepat
Plasminogen

menurun

Alfa-2-antiplasmin

menurun

Rujukan
1. Bick RL. Disseminated intravascular coagulation: objective clinical and laboratory diagnosis,
treatment, and assessment of therapeutic response. Semin Thromb Hemost. 1996;22:69-88.

2. Bick RL, Strauss JF, Frenkel EP. Thrombosis and hemorrhage in oncology patients. Hematol Oncol
Clin North Am. 1996;10:875-907.

3. Mammen EF. Disseminated intravascular coagulation (DIC). Clin Lab Sci. 2000;13:239-245.
4. Rodgers GM. Hemostatic properties of normal and perturbed vascular cells. FASEB J. 1988;2:116123.

5. Carey MJ, Rogers GM. Disseminated intravascular coagulation: clinical and laboratory aspects. Am
J Hematol. 1998;59:65-73.

6. Gando S, Nanzaki S, Sasaki S, Kemmotsu O. Significant correlations between tissue factor and
thrombin markers in trauma and septic patients with disseminated intravascular coagulation. Thromb
Haemost. 1998;79:111-115.
7. Staudinger T, Locker GJ, Frass M. Management of acquired coagulation disorders in emergency
and intensive care medicine. Semin Thromb Hemost. 1996;22:93-104.
8. Bick RL. Disseminated intravascular coagulation: objective criteria for diagnosis and management.
Med Clin North Am. 1994;78:541-548.
9. Gobel BH. Disseminated intravascular coagulation. Semin Oncol Nurs. 1999;15:174-182.
10. Gobel BH. Disseminated intravascular coagulation. In: Yarbro CH, Frogge MH, Goodman M,
Groenwald S, eds. Cancer Nursing Principles and Practice. 5th edition. Sudbury, Mass: Jones and
Bartlett; 2000:869-875.
11. Williams EC, Mosher DF. Disseminated intravascular coagulation. In: DeVita VT, Hellman S,
Rosenberg SA, eds. Cancer Principles and Practice of Oncology. 5th edition. Philadelphia, Pa:
Lippincott-Raven; 1997:1758-1769.
12. Kempin SJ. Hemostatic defects in cancer patients. Cancer Invest. 1997;15:23-36.
13. Murphy-Ende K. Disseminated intravascular coagulation. In: Chernecky CC, Berger BJ, eds.
Advanced and Critical Care Oncology Nursing Managing Primary Complications. Philadelphia, Pa:
WB Saunders Company; 1998:119-139.
14. Kitchens CS. Disseminated intravascular coagulation. In: Brain MC, Carbone PP, Kelton JG, Schiller
JH, eds. Current Therapy in Hematology-Oncology. St. Louis, MO: Mosby; 1995:182-187.

15. Menell JS, Cesarman GM, Jacovina AT, et al. Annexin II and bleeding in acute promyelocytic
leukemia [see comments]. N Engl J Med. 1999;340:994.

16. Hajjar KA, Menell JS. Annexin II: A novel mediator of cell surface plasmin generation. Ann N Y Acad
Sci. 1997;811:337-349.

17. Seto AH, Dunlap DS. Tranexamic acid in oncology. Ann Pharmacother. 1996;30:868-870.
18. Shpilberg O, Blumental R, Sofer O, et al. A controlled trial of tranexamic acid therapy for the
reduction of bleeding during treatment of acute myeloid leukemia. Leuk Lymph. 1995;19:141-144.
19. Ludwig J, Kentos A, Creiner I, et al. Disseminated intravascular coagulation syndrome as
manifestation of breast adenocarcinoma metastasis. Rev Med Brux. 1997;18:385-388.
20. Ohtake N, Kurita S, Fukabor Y, et al. Clinical study on prostate cancer initially presenting with
disseminated intravascular coagulation syndrome. Hinyokika Kiyo. 1998;44:387-390.
21. Gouin-Thibault I, Achkar A, Samama MM. The thrombophilic state in cancer patients. Acta
Haematol. 2001;106:33-42.
22. Bick RL. Disseminated intravascular coagulation: pathophysiological mechanisms and
manifestations. Semin Thromb Hemost. 1998;24:3-18.
23. Yu M, Nardella BS, Pechet L. Screening tests of disseminated intravascular coagulation: guidelines
for rapid and specific laboratory diagnosis. Crit Care Med. 2000;28:1777-1780.
24. Wada H, Sakuragawa N, Mori Y, et al. Hemostatic molecular markers before the onset of
disseminated intravascular coagulation. Am J Hematol. 1999;60:273-278.
25. Levi M, Ten Cate H. Disseminated intravascular coagulation. N Engl J Med. 1999;341:586-592.
26. Hewitt PE, Machin SJ. Massive blood transfusion. In: Contreras M, ed. ABC of Transfusion. 3rd
edition. London, UK: BMJ Books; 1998:49-52.
27. Letsky EA. Disseminated intravascular coagulation. Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol.
2001;4:623-644.
28. Riewald M, Riess H. Treatment options for clinically recognized disseminated intravascular
coagulation. Semin Thromb Hemost. 1998;24:53-59.
29. DeSancho MT, Rand JH. Bleeding and thrombotic complications in critically ill patients with cancer.
Crit Care Clin. 2001;17:599-622.
30. Tambunan KL, Sudoyo AW, Mustafa I, Pudjiadi A, Khie Chen, Govinda A, Sukrisman L. Konsensus
Nasional Koagulasi Intravaskular Diseminata (DIC) pada Sepsis 2001
31. Arkel YS. Thrombosis and cancer. Semin Oncol. 2000;27:262-268.