Anda di halaman 1dari 6

DIAGNOSIS TONSILOFARINGITIS PADA ANAK

I. PENDAHULUAN
Tonsilofaringitis adalah infeksi akut, rekuren atau kronik pada faringotonsil, yang
dapat disebabkan oleh berbagai virus seperti HSV, EBV, sitomegalovirus, adenovirus,
dan oleh bakteri utama yaitu Streptococcus -hemolitikus grup A.(1)
Diagnosis tonsilofaringitis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang.
DIAGNOSIS
Anamnesis
Sebanyak 10-50% infeksi adalah demam tinggi, mual, muntah, dan kolaps
umumnya pada 10% penderita. Toksik yang ekstrim mungkin lebih sering pada keadaan
epidemi, terutama kejadian luar biasa karena makanan, onsetnya akut dan mungkin
ditandai dengan demam, nyeri tenggorokan, sakit kepala atau nyeri abdomen
(kebanyakan pada anak). Jaringan pada regio tonsil tampak meradang atau di tandai
dengan bengkak kemerahan.(2)
a. Anamnesis
Pasien perempuan umur 5 tahun 9 bulan masuk rumah sakit tanggal 5 april 2015
di bawah orang tuanya dengan keluhan demam. Demam dirasakan sejak hari
jumat malam, pada saat demam pasien mengkonsumsi obat penurun panas,
panasnya sempat turun tetapi naik lagi pada hari sabtu malam. Batuk (+) berlendir
berwarna putih sejak hari sabtu flu (+). Sakit menelan (-), Sesak (-), Kejang (-),
mimisan (-), gusi berdarah (-), sakit perut (-), mual (-), muntah (+) makanan pada
awal demam jumat malam. BAK dan BAB normal.
- Riwayat penyakit sebelumnya : riwayat kejang demam (+) waktu berusia 11
-

tahun
Riwayat penyakit keluarga : tidak ada yang mengalami hal yang serupa
Riwayat kehamilan dan persalinan : pasien lahir normal di Rumah sakit, BB

3.400 gram, panjang lahir 52 cm. Anak pertama.


Anamnesis makanan : di beri ASI usia 0-3 bulan, susu 3 bulan-sekarang,

bubur saring usia 6 bulan, nasi usia 1 tahun sampai sekarang


- Riwayat imunisasi : imunisasi dasar lengkap
b. Pemeriksaan fisik :
Keadaan umum sakit sedang, kesadaran composmentis, berat badan 42 kg, tinggi
badan 149 cm, status gizi : CDC 42/42=100% (gizi baik).

Pemeriksaan tanda vital : tekanan darah : 100/80, denyut nadi : 84 x/menit,


respirasi : 28 x/menit, suhu : 36,5 derajat celcius.
- Kepala : normocephal, rambut hitam, ikterik (-), anemis (-)
- Leher : pembesaran getah bening (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), tonsil
-

T2-T1 hiperemis (+)


Kulit : Rumple leede test (+)
Toraks : pergerakan dinding dada : simetris bilateral, wheezing (-), rhonki (-),

perkusi sonor
Abdomen
: Kesan datar, bekas luka (-), peristaltik (+) kesan normal,

timpani (+), nyeri tekan (-).


Jantung
: Bunyi jantung S1-S2 murni regular, batas jantung normal,
ictus cordis tidak tampak, ictus cordis teraba pada palpasi dibawah papilla
mammae SIC V linea midclavicula sinistra.

c. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium ( darah rutin)
Hemoglobin
Leukosit
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit

11,6
7,7
4,60
35,3
199

11,5-16,5
3,5-10,5
3,8-8,5
37-45
150-450

g/dl
/ul
Juta/ul
%
Ribu/ul

d. Terapi :
IVFD RL 20 tpm
Inj. Ceftriaxone 500mg/ 12 jam/ IV
Inj. Dexametasone 3x ampul/ IV
Paracetamol syr 3x2 cth
Ambroxol syr 3 x 5ml cth

II. RESUME
Pasien perempuan umur 5 tahun 9 bulan masuk rumah sakit tanggal 5 april 2015
di bawah orang tuanya dengan keluhan febris. Febris dirasakan sejak hari jumat
malam, pada saat febris pasien mengkonsumsi obat penurun febris, febrisnya
sempat turun tetapi naik lagi pada hari sabtu malam. Batuk (+) berlendir berwarna
putih sejak hari sabtu flu (+). muntah (+) makanan pada awal demam jumat
malam. BAK dan BAB normal. Pemeriksaan fisik Rumple leede test (+), tonsil
T2/T1. Pemeriksaan laboratorium hematokrit menurun 35,3%.
Diagnosis Kerja : Tonsilofaringitis

FOLLOW UP
06 April 2015
S : batuk (+), flu (+)
O : Keadaan umum : sakit sedang, Kesadaran : kompos mentis

III.

TD

: 100/80 mmHg

Suhu

Nadi

: 84x/menit

pernapasan

: 36,50C
: 28x/menit

DISKUSI
Berbagai bakteri dan virus dapat menjadi etiologi faringitis, baik faringitis
sebagai manifestasi tunggal maupun sebagai bagian dari penyakit lain. Virus merupakan
etiologi terbanyak faringitis akut, terutama pada anak berusia 3 tahun. Virus penyebab
penyakit respiratorik seperti adenovirus, rhinovirus, dan virus parainfluenza dapat
menjadi penyebab faringitis. EBV dapat menyebabkan faringitis, tetapi disertai dengan
gejala infeksi mononucleosis seperti splenomegaly dan limfadenopati generalisata.
Infeksi sistemik seperti infeksi virus campak, CMV, rubella, dan berbagai virus lainnya
juga dapat menunjukkan gejala faringitis akut. Streptococcus -hemolitikus grup A
merupakan bakteri penyebab terbanyak tonsilofaringitis akut. Bakteri tersebut mencakup
15-30% dari penyebab faringitis akut pada anak, sedangkan pada dewasa hanya berkisar
5-10% kasus.(3)
Pada kasus ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang.
Manifestasi dari tonsillitis akut ialah odinofagia, demam dan menggigil, rasa
kering pada faring, disfagia, otalgia, sakit kepala, malaise dan myalgia. Pada faringitis
akibat virus, dapat juga ditemukan ulkus di palatum mole dan dinding faring serta
eksudat di palatum dan tonsil, tetapi sulit dibedakan dengan eksudat pada faringitis
Streptococcus. Gejala yang timbul dapat hilang dalam 24 jam, berlangsung 4-10 hari,
jarang menimbulkan komplikasi dan memiliki prognosis yang baik. (2)(3)
Faringitis Streptococcus sangat mungkin jika dijumpai tanda berikut:
-

Awitan akut, disertai mual dan muntah

Faring hiperemis

Demam

Nyeri tenggorokan

Tonsil bengkak dengan eksudasi

Kelenjar getah bening anterior bengkak dan nyeri

Uvula bengkak dan merah

Ekskoriasi hidung disertai lesi impetigo sekunder

Ruam skarlatina

Petekia palatum mole

Bila dijumpai gejala dan tanda berikut, maka kemungkinan besar bukan faringitis
Streptococcus:
-

Usia dibawah 3 tahun

Awitan bertahap

Kelainan melibatkan beberapa mukosa

Konjungtivitis, diare, batuk, pilek, suara serak

Mengi, ronki di paru

Eksantem ulseratif
Tanda khas faringitis difteri adalah membrane asimetris, mudah berdarah, dan

berwarna kelabu pada faring. Membrane tersebut dapat meluas dari batas anterior tonsil
hingga palatum mole dan/atau ke uvula. Pada anak diatas umur 2 tahun mulai dengan
keluhan nyeri kepala, nyeri perut, dan muntah. Gejala-gejala ini dapat disertai dengan
demam setinggi 400C. Beberapa jam sesudah keluhan awal, tenggorokan dapat menjadi
nyeri.

(2)(3)

Pada pasien ini, pasien berumur 5 tahun 9 bulan. Berdasarkan umur ini,

kemungkinan tonsilofaringitis cenderung diakibatkan oleh infeksi bakteri. Dari gejalagejala yang dialami pasien, mengarah ke infeksi bakteri.
Pada pemeriksaan terdapat tonsil yang membesar, hyperemia. Sulit untuk
membedakan antara faringitis Streptococcus dan virus hanya berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Baku emas penegakkan diagnosis faringitis bakteri atau virus adalah
melalui pemeriksaan kultur dari pemeriksaan apusan tenggorokan. Pada saat ini terdapat
metode yang cepat untuk mendeteksi antigen Streptococcus grup A (rapid antigen
detection test). Metode uji cepat ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang cukup
tinggi (90-95%) dan hasilnya dapat diketahui dalam 10 menit, sehingga metode ini
setidaknya dapat digunakan sebagai pengganti pemeriksaan kultur.

(1)(2)

Pada pasien ini,

pemeriksaan kultur tidak dilakukan.


Kriteria tonsilektomi berdasarkan Childrens Hospital of Pittsburgh Study, yaitu tujuh
atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik pada tahun
sebelumnya, lima atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik
setiap tahun selama 2 tahun sebelumnya, dan tiga atau lebih episode infeksi tenggorokan

yang diterapi dengan antibiotik setiap tahun selama 3 tahun sebelumnya. Tonsilektomi
sedapat mungkin dihindari pada anak berusia dibawah 3 tahun. Bila ada infeksi aktif,
tonsilektomi harus ditunda hingga 2-3 minggu. Indikasi lainnya adalah bila terjadi
obstructive sleep apnea.

(3)

Pada pasien ini, tonsilofaringitis masih tergolong akut karena

baru kali ini terjadi, sehingga tidak diindikasikan untuk tonsilektomi.


Komplikasi tonsillitis terkait dengan Streptococcus -hemolitikus grup A adalah
demam rematik akut dan glomerulonephritis akut, dan komplikasi yang lain ialah infeksi
peritonsilar, infeksi retrofaring, infeksi parafaring, sindrom lemierre, obstruksi saluran
pernapasan atas. Komplikasi lainnya adalah demam scarlet, yaitu sekunder terhadap
tonsillitis Streptococcus akut atau faringitis dengan produksi endotoksin oleh bakteri.
Manifestasi termasuk ruam eritematosa, limfadenopati berat dengan sakit ternggorokan,
muntah, sakit kepala, demam, eritema tonsil dan faring, takikardia, dan eksudat kuning
pada tonsil dan faring. (2) (3)
Prognosis faringitis virus tergolong baik karena komplikasinya jarang. Beberapa
kasus dapat berlanjut menjadi otitis media purulen bakteri. Pada faringitis bakteri dan
virus dapat ditemukan komplikasi ulkus kronik yang cukup luas. Sedangkan jika akibat
bakteri, dapat terjadi perluasan secara langsung atau hematogen. Akibat perluasan
langsung dapat berlanjut menjadi rinosinusitis, otitis media, mastoiditis, adenitis servikal,
abses retrofaringeal atau pneumonia. Penyebaran hematogen dapat mengakibatkan
meningitis, osteomyelitis, atau artritis septik, sedangkan komplikasi nonsupuratif berupa
demam rematik dan glomerulonephritis.

(3)

Pada pasien ini, prognosisnya baik bila

komplikasi tidak muncul. Namun, risiko komplikasi pada pasien ini muncul tergolong
besar karena pada pasien ini dicurigai infeksi bakteri sebagai penyebab tonsilofaringitis
yang memiliki lebih banyak komplikasi dibandingkan virus sebagai penyebabnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Widagdo. Masalah dan Tatalaksana Penyakit Anak Dengan Demam. Jakarta: Sagung
Seto, 2012.
2. Poorwo, S. Garna, H. Rezeki, S. Irawan, H. 2010, Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis
Edisi Kedua, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta.
3. Naning, R, Triasih, R, Setyati, A. Faringitis, Tonsilitis, dan Tonsilofaringitis Akut, in:
Rahajoe, NN, Supriyatno, B, Setyanto, DB (Eds.): Buku Ajar Respirologi Anak Edisi
Pertama. Jakarta: badan Penerbit IDAI, 2012: 288-95.

Anda mungkin juga menyukai