Anda di halaman 1dari 65

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Kerja Praktik


P.T Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Saguling merupakan

perusahaan pembangkitan yang bergerak khusus di bidang pembangkitan listrik


tenaga air dan dibawahi oleh P.T Indonesia Power. UBP Saguling memiliki 7
(tujuh) sub unit diantaranya Kracak, Ubrug. Plengan, Lamajan, Cikalong,
Bengkok Dago, dan P.Kondang dengan total daya terpasang sebesar 797,36 MW.
UBP Saguling memilki 4 unit Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dengan
masing-masing berkapasitas 175 MW, dan PLTA ini berfungsi sebagai pemikul
beban puncak karena dapat dengan cepat mengikuti perubahan beban tanpa harus
mengorbankan efisiensi. Suatu unit PLTA memiliki beberapa komponen utama
diantaranya: bedungan; pipa pesat (penstock); turbin air; dan generator.
Suatu rotary equipment (turbin dan generator) yang bekerja secara terus
menerus, membutuhkan sistem pendinginan agar tidak terjadi over temperature
pada bagian-bagian rotary equipment yang bergesekan sehingga tidak terjadi
perubahan sifat material pada peralatan tersebut. Pada PLTA Saguling terdapat 2
sistem pendinginan yaitu, Air Cooler dan Oil Cooler.
Air Cooler berada pada sisi generator yang berfungsi mendinginkan udara
yang sengaja disirkulasikan untuk mendinginkan generator, dengan media
pendinginnya adalah air. Untuk setiap 1 unit generator pada PLTA, terdapat 8 Air
Cooler. Sedangkan Oil Cooler berfungsi mendinginkan oli-oli pendingin pada sisi
bearing dengan media pendingin air, sistem oil cooler mencakup 3 bearing
diantaranya: upper bearing; turbine bearing; thrust and lower bearing.
Saat ini seluruh pipa sistem pendinginan pada PLTA Saguling, baik Air
Cooler maupun Oil Cooler sedang mengalami tahap penggantian material, dengan
material pipa semula berbahan tembaga nikel (CuNi) menjadi berbahan stainless

steel. Penggantian material ini dilakukan karena seluruh sistem air pendingin pada
PLTA Saguling menggunakan air dari waduk saguling yang kualitas airnya
semakin buruk.
Dengan kondisi air tersebut, penggunaan material CuNi dikhawatirkan akan
mengakibatkan korosi pada pipa-pipa sistem pendingin, yang dalam jangka waktu
lama bisa mengakibatkan kebocoran pipa (khususnya pada sistem Oil Cooler).
Akan tetapi penggunaan stainless steel memiliki kelemahan, yaitu kekuatan
material yang rendah, sehingga tidak bisa digunakan dalam jangka waktu yang
lama. Untuk saat ini sistem Oil Cooler penggunaan stainless steel baru diterapkan
pada sisi A thrust dan lower bearing unit 4.
Oleh sebab itu diperlukan analisis pada sistem Oil Cooler (thrust and lower
bearing) efektivitas material CuNi dan stainless steel, sehingga dapat diketahui
material yang lebih efektif diantara kedua material yang sudah digunakan, dalam
proses Cooling Water (air pendingin).

1.2.

Ruang Lingkup Kerja Praktik


Kerja Praktik dilakukan di Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan

Saguling, dengan cakupan pembelajaran dan praktik mengenai operasi PLTA


Saguling,

pemeliharaan-pemeliharaan

rutin

pada

PLTA

Saguling

baik

pemeliharaan preventive maintenance dan corrective maintenance. Secara khusus


tugas yang kami kerjakan ialah menganalisis efektivitas penggunaan material
CuNi dengan stainless steel pada thrust and lower bearing PLTA Unit 4. Metode
perhitungan dan perbandingan yang digunakan ialah analisa perpindahan panas
dengan NTU (Number of Transfer Unit).

1.3.

Tujuan dan Manfaat Kerja Praktik


1.3.1. Tujuan Kerja Praktik
a. Tujuan Umum
Sebagai syarat kelulusan jenjang D III di Politeknik negeri
Jakarta
Untuk mengetahui proses pembangkitan pada PLTA Saguling
2

Untuk mempelajari komponen-komponen pembangkitan pada


PLTA Saguling
Untuk mengetahui kegiatan-kegiatan pemeliharaan mesin pada
sistem PLTA Saguling
Untuk memperoleh pengalaman kerja dan praktik yang
sebelumnya tidak didapatkan di kampus
b. Tujuan Khusus
Membandingkan efektivitas tube bermaterial CuNi dengan
stainless steel pada sistem Oil Cooler sisi thust and lower bearing
PLTA Unit 4, serta untuk menganalisis material yang lebih efektif
untuk digunakan diantara kedua material yang telah diterapkan.
1.3.2. Manfaat Kerja Praktik
Manfaat yang didapatkan dari kerja praktik yang dilakukan,
diantaranya manfaat untuk :

a. Mahasiswa
Menambah

wawasan

tentang

karakterisitik

dari

sistem

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), khususnya di UBP


Saguling
Menambah pengalaman praktik
Menambah rasa keingintahuan tentang unit pembangkitan
Saguling, meningkatkan sara kekompakan, kerjasama dan
gotong-royong saat bekerja di lapangan (unit).

b. Perusahaan
Sebagai bentuk kepedulian perusahaan dalam bidang pendidikan
khususnya bagi Politeknik Negeri Jakarta, sehingga diharapkan
di masa yang akan datang dapat terjalin kerjasama yang baik
antara Indonesia Power UBP Saguling dengan Politeknik Negeri
Jakarta.

Laporan ini diharapkan bisa menjadi bahan rujukan dalam


rangka meningkatkan kualitas serta kuantitas dari produk yang
dihasilkan sekaligus mendapatkan masukan apabila menemukan
suatu potensi improvement.

BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1.

Sejarah dan Kegiatan Operasional Perusahaan


2.1.1. Sejarah Singkat PT. Indonesia Power
Pada awal 1990-an, Pemerintah Indonesia mempertimbangkan perlunya
deregulasi pada sektor ketenagalistrikan. Langkah ke arah deregulasi tersebut
diawali dengan berdirinya Paiton Swasta 1 yang dipertegas dengan
dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 37 tahun 1992 tentang pemanfaatan
sumber dana swasta melalui pembangkit - pembangkit listrik swasta.
Kemudian pada akhir 1993, Menteri Pertambangan dan Energi (MPE)
menerbitkan kerangka dasar kebijakan (sasaran dan kebijakan pengembangan
sub sektor ketenagalistrikan ) yang merupakan pedoman jangka panjang
restrukturisasi sektor ketenagalistrikan. Sebagai penerapan tahap awal, pada
tahun 1994 PLN diubah statusnya dari Perum menjadi Persero.Setahun
4

kemudian tepatnya tanggal 3 Oktober 1995, PT. PLN (Persero) membentuk


dua anak perusahaan yang tujuannya untuk memisahkan misi sosial dan misi
komersial yang diemban oleh BUMN tersebut. Salah satu dari anak
perusahaan itu adalah PT. Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-Bali I, atau
yang lebih dikenal dengan nama PLN PJB I. Anak perusahaan ini ditujukan
untuk menjalankan usaha komersial pada bidang pembangkitan tenaga listrik
dan usaha-usaha lain yang terkait.
Pada tanggal 3 Oktober 2000, bertepatan dengan ulang tahunnya yang
kelima, Manajemen perusahaan secara resmi mengumumkan perubahan nama
PLN PJB I menjadi PT. INDONESIA POWER. Perubahan nama ini
merupakan upaya untuk menyikapi persaingan yang semakin ketat dalam
bisnis ketenagalistrikan dan sebagai persiapan untuk privatisasi perusahaan
yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Walaupun sebagai perusahaan
komersial di bidang pembangkitan baru didirikan pada pertengahan 1990-an,
Indonesia Power mewarisi berbagai sejumlah asset berupa pembangkit dan
fasilitas - fasilitas pendukungnya. Pembangkitan - pembangkitan tersebut
memanfaatkan teknologi modern berbasis computer dengan menggunakan
beragam energi primer, seperti: air, batubara, panas bumi, dan sebagainya.
Namun demikian, dari pembangkit- pembangkit tersebut ada pula pembangkit
paling tua di Indonesia, seperti PLTA Plengan, PLTA Ubrug, PLTA Ketenger
dan sejumlah PLTA lainnya yang dibangun pada tahun 1920-an dan sampai
sekarang masih beroperasi.
Dari sini dapat dipandang bahwa secara kesejahteraan pada dasarnya usia
PT. INDONESIA POWER sama dengan keberadaan listrik di Indonesia.
Pembangkit pembangkit yang dimiliki oleh PT. Indonesia Power dikelola
dan dioperasikan oleh delapan Unit Pembangkitan diantaranya : Perak Grati,
Kamojang, Mrica, Priok, Suralaya, Saguling, Semarang, dan Bali. Secara
keseluruhan, PT Indonesia Power memiliki kapasitas sebesar 8.887 MW. Ini

merupakan kapasitas terpasang terbesar yang dimiliki oleh sebuah perusahaan


pembangkit di Indonesia.

Gambar 2.1 Gambar Lokasi Unit Pembangkitan PT Indonesia Power

2.1.2. Visi dan Misi PT. Indonesia Power


a. Visi
Menjadi

perusahaan

Energi

Terpercaya

yang

Tumbuh

Berkelanjutan. Penjabaran Visi:


Maju, berarti perusahaan bertumbuh dan berkembang sehingga
menjadi perusahaan yang memiliki kinerja setara dengan
perusahaan sejenis di dunia.
Tangguh, memiliki sumber daya yang mampu beradaptasi
dengan perubahan lingkungan dan sulit disaingi. Sumber daya
PT. Indonesia Power berupa manusia, mesin, keuangan maupun
sistem kerja berada dalam kondisi prima dan antisipatif
terhadap setiap perubahan.
Andal, sebagai perusahaan yang memiliki kinerja memuaskan
stakeholder.

Bersahabat dengan lingkungan, memiliki tanggung jawab


sosial dan keberadaannya bermanfaat bagi lingkungan.
b. Misi
Menyelenggarakan Bisnis Pembangkitan Tenaga Listrik dan Jasa
Terkait Yang Bersahabat dengan Lingkungan.

2.1.3. Tujuan Perusahaan


a. Menciptakan mekanisme peningkatan efisiensi yang terus-menerus
dalam penggunaan sumber daya perusahaan.
b. Meningkatkan pertumbuhan perusahaan secara berkesinambungan
dengan bertumpu pada usaha penyediaan tenaga listrik dan sarana
penunjang yang berorientasi pada permintaan pasar yang
berwawasan lingkungan.
c. Menciptakan

kemampuan

dan

peluang

untuk

memperoleh

pendanaan dari berbagai sumber yang saling menguntungkan.


d. Mengoperasikan pembangkit tenaga listrik secara kompetitif serta
mencapai standar kelas dunia dalam hal keamanan, keandalan,
efisiensi, maupun kelestarian lingkungan.
e. Mengembangkan budaya perusahaan yang sehat di atas saling
menghargai antar karyawan dan mitra mendorong terus terkokohan
integritas pribadi dan profesionalisme.

2.1.4. Motto Perusahaan


Motto PT. Indonesia Power adalah Trust us for power excellence.

2.1.5. Nilai Perusahaan (IP HaPPPI)

a. Integritas
Sikap moral yang menunjukan tekad untuk memberikan yang
terbaik kepada perusahaan.
b. Profesional
Menguasai pengetahuan, ketrampilan, dan kode etik sesuai dengan
bidang pekerjaannya.

c. Harmoni
Serasi, selaras dan seimbang dalam pengembangan kualitas
pribadi, hubungan dan stake holder, dan hubungan dengan
lingkungan hidup.
d. Pelayanan Prima
Memberi pelayanan yang memenuhi kepuasan melebihi harapan
stake holder.
e. Peduli
Peka-tanggap dan bertindak untuk melayani stake holder serta
memelihara lingkungan sekitar.
f. Pembelajar
Terus-menerus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta
kualitas diri yang mencakup fisik, mental, sosial, agama, dan
kemudian berbagi dengan orang lain.
g. Inovatif
Terus- menerus dan berkesinambungan menghasilkan gagasan baru
dalam usaha melakukan pembaharuan untuk penyempurnaan baik
proses maupun produk dengan tujuan peningkatan kinerja.

2.1.6. Logo Indonesia Power

Gambar 2.2 Logo Indonesia Power


Arti warna dari logo Indonesia Power :
a.

Merah : menunjukkan identitas yang kuat dan kokoh sebagai


pemilik sumber daya untuk memproduksi tenaga listrik,
guna dimanfaatkan di Indonesia

b.

Biru

: menggambarkan sifat pintar dan bijaksana, dengan


aplikasi pada kata POWER, maka warna ini
menunjukkan produk tenaga listrik yang dihasilkan
perusahaan memiliki ciri-ciri yaitu berteknologi tinggi,
efisien, aman dan ramah lingkungan.

2.1.7. Sejarah Singkat PT. Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan


Saguling
Karena pertumbuhan ekonomi dan industri di di pulau Jawa, maka
kebutuhan tenaga listrik di seluruh pulau Jawa diperkirakan naik menjadi
2.849 MW pada tahun 1985/1986. Untuk itu, pada Agustus 1981 dimulai
pembangunan proyek PLTA Saguling yang dimaksudkan sebagai salah satu
pemasok utama bagi kebutuhan beban tenaga listrik seluruh Jawa, yang
melalui satu jaringan interkoneksi pada tahun 1985 dan dibangun atas

kerjasama antara Perusahaan Umum Listrik Negara dengan Mitsubitshi


Coorporation.
PLTA Saguling terletak sekitar 30 km sebelah kota Bandung dan 100
km sebelah Tenggara Kota Jakarta dengan kapasitas terpasang 4 x 175,18
MW dan produksi listrik rata rata pertahun 2,158 GWH (CF = 35,12%).
PLTA Saguling terletak di area pegunungan pada hulu Daerah Aliran Sungai
(DAS) Citarum di Desa Rajamandala, Kecamatan Cipatat, Kota Cimahi.
Aliran sungai Citarum mempunyai debit tahunan sebesar 80 m3/s sehingga
berpotensi besar untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Sepanjang
sungai Citarum terdapat PLTA lainnya yang terletak antara PLTA Saguling
dengan bendungan atau PLTA Jaltiluhur, yaitu proyek PLTA Cirata.
Unit Pembangkit Saguling adalah salah satu unit pembangkit yang
berada dibawah PT. Indonesia Power. Unit Pembangkit Saguling adalah unit
pembangkitan yang menggunakan tenaga air sebagai penggerak utama
(prime over). Pengembangan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) merupakan
perwujudan upaya pemerintah untuk melakukan diverifikasi tenaga listrik
dan konversi minyak bumi. Beberapa kelebihan PLTA Saguling adalah :
a. Waktu pengoperasian relatif lebih cepat (15 menit).
b. Sistem operasinya mudah mengikuti dengan frekuensi yang diinginkan
oleh sistem penyalurannya.
c. Biaya produksinya relatif lebih murah, karena menggunakan air dan
tidak perlu membeli.
d. Putaran turbin relatif rendah dan kurang menimbulkan panas, sehingga
tingkat kerusakan peralatan lebih kecil.
e. PLTA adalah jenis pembangkit yang ramah lingkungan, tanpa melalui
proses pembakaran sehingga tidak menghasilkan limbah bekas
pembakaran.
f. PLTA yang dilengkapi dengan waduk yang dapat digunakan secara
multiguna.

10

Sampai saat ini telah beroperasi 3 PLTA sistem kaskade di aliran


sungai Citarum dan salah satunya adalah PLTA Saguling hulu. Sedangkan di
bagian hilirnya berturutturut adalah PLTA Cirata dan PLTA Jatiluhur.
PLTA Saguling dioperasikan untuk mensuplai beban saat keadaan jam
jam beban puncak di daerah bagian barat pulau Jawa melalui saluran
interkoneksi Jawa-Bali. Hali ini dikarenakan karakteristik PLTA yang mampu
beroperasi dengan cepat (untuk unit pembangkitan di Saguling mampu
beroperasi 15 menit sejak start sampai masuk ke jaringan interkoneksi).
Selain itu, berfungsi sebagai pengatur frekuensi sistem dengan menerapkan
peralatan Load Frequency Control (LFC) dan dapat melakukan pengisian
tegangan (Line Charging) pada saat terjadi Black Out pada saluran
interkoneksi 500 kV Jawa-Bali.
Energi Listrik yang dihasilkan PLTA Saguling disalurkan di GITET
Saguling dan diinterkoneksikan ke sistem se-Jawa dan Bali melalui Saluran
Udara Tegangan Tinggi (SUTET 500 kV) untuk selanjutnya melalui GIGI
dan gardu distribusi disalurkan ke konsumen. Generator di PLTA Saguling
terdiri dari 4 unit generator bekapasitas 175, 18 MW/unit dan dapat
menghasilkan jumlah energi listrik 2,56 x 103 MWH per tahunnya. Total
produksi unitunit PLTA Saguling adalah 700,72 MW atau 93% dari total
produksi PT. Indonesia Power (8.450 MW).

Dengan adanya perubahan

struktur organisasi dalam rangka menuju kearah spesialisasi, maka keluar


surat keputusan pemimpin PLN Pembangkit dan penyaluran Jawa bagian
Barat No. 001.K/030DIR/1995 tanggal 16 Oktober 1995, yaitu yang semula
mengelola satu unit PLTA, ditambah tujuh unit PLTA. Sekarang unit bisnis
pembangkit Saguling mengelola delapan unit PLTA.

Berikut tabel

kemampuan daya masing masing uit PLTA uang dikelola UBP Saguling.
No
.

PLTA

Tahun

Daya Terpasang

Total

Operasi

(MW)

(MW)

11

1
2
3

Saguling
Kracak
Ubrug

1985, 1986
1827, 1958
1924

4 x 175,18
3 x 6,3
2 x 5,95

700,72
18,90
18,36

Plengan

1950
1922

1 x 6,48
3 x 1,08

6,87

1982

1 x 2,02

1996
1925, 1934
1961
1923

1 x 1,61
3 x 6,52
3 x 1,05
3 x 1,05

19,56
19,20
3,85

1955

1 x 0,70
2 x 2,49

9,9

5
6
7

Lamajan
Cikalong
Bengkok dan

Dago
P. Kondang

2 x 2,46
Jumlah Daya Terpasang
797,36
Tabel 2.1 Kapasitras Daya Terpasang pada PLTA Saguling

2.1.8. Kegiatan Operasional PT. Indonesia Power Unit Bisnis


Pembangkitan Saguling
PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Saguling merupakan
perusahaan bidang pembangkitan listrik, yang mengoperasikan jenis
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dengan proses produksi listrik
sebagai berikut :

Gambar 2.3 Skema PLTA

12

a. Air dari aliran sungai Citarum dikumpulkan pada Waduk Saguling,


yang mana air dikumpulkan pada musin hujan untuk persediaan dan
pemakaian air pada musin kemarau atau waktu beban puncak. Isi
efektif dari Waduk Saguling sebesar 609 x 103 m3.

Gambar 2.4 Waduk Saguling


b. Setelah itu air yang ditampung pada Waduk Saguling, di bendung.
Bendungan berfungsi untuk membendung aliran sungai sehingga
terkumpul sejumlah air dan digunakan sesuai kebutuhan.

Gambar 2.5 Bendungan Saguling


Fasilitas bendungan semuanya diawasi dan dikontrol melalui
Dam Control Centre.

13

Gambar 2.6 Dam Control Centre


Apabila air yang ditampung pada waduk melebihi kapasitas
penampungan, maka air akan dibuang melalui Spillway (saluran
pelimpah). Perkiraan air yang harus dibuang adalah 1,2 kali debit
air pada saat banjir.

Gambar 2.7 Spillway (saluran pelimpah) Waduk Saguling


c. Air yang ditampung pada Waduk, akan dialirkan menuju penstock
(pipa pesat) melalui intake yang dilengkapi dengan pintu air untuk
pengaturan

dan penyaring air. Kapasitas maksimum air masuk

sebesar 224 m3/s.

14

Gambar 2.8 Intake

Gambar 2.9 Penstock (pipa pelimpah)


d. Pada penstock terdapat surge tank (tangki pendatar/pipa tegak),
yang berfungsi untuk melindungi saluran penstock dari fluktuasi
tekanan air pada saat jumlah air yang disuplaikan ke turbin berubahubah dengan tiba-tiba akibat gerakan yang cepat dari pintu-pintu
turbin.

Gambar 2.10 Surge Tank


e. Air yang telah melewati penstock akan memasuki turbin air melalui
Main Inlet Valve, dimana untuk 1 buah pentock digunakan untuk
menyuplai 2 buah turbin air.

15

Gambar 2.11 Main Inlet Valve


f. Setelah melewati Main Inlet Valve, air masuk ke dalam turbin air
melalui spiral case (rumah keong), yang berfungsi untuk menahan
daya hidrolik air dan mendistribusikan air ke runner melaui sudu
tetap. Setelah air di distribusikan ke turbin air, maka runner akan
berputar.

Gambar 2.12 Sprial case (rumah keong)


Besarnya debit air yang masuk untuk memutar turbin air, diatur
dengan guide vane.

Gambar 2.13 Guide vane

16

Turbin air yang digunakan pada PLTA Saguling bertipe Francis


dengan vertical shaft, memiliki putaran sebesar 333 rpm, dan debit
maksimum 54,8 m3/s.

Gambar 2.14 Runner Turbin Air pada PLTA Saguling

Gambar 2.15 Sisi pembuangan air pada runner turbin air

g. Saat runner berputar, maka putaran turbin air ditansmisikan melalui


poros turbin-generator, sehingga saat turbin berputar maka
generator akan ikut berputar, dan listrik dihasilkan.

17

Gambar 2.16 Poros turbin-generator

Gambar 2.17 Generator pada PLTA Saguling


h. Listrik yang dihasilkan dari generator dialirkan meuju CB (Circuit
breaker) dengan tegangan 16,5 kV, lalu tegangan dinaikkan pada
STR menjadi 20 kv, selanjutnya tegangan kembali dinaikkan
menjadi 500 kV pada MTR untuk di distribusikan pada jaringan.

18

L
o
P
n
K
a
k
e
tM
is
l
r
Gambar 2.18 Transformator 16,5 kV PLTA Saguling

Gambar 2.19 Proses konversi energi pada PLTA

i. Peralatan bantu pada PLTA Saguling :


Sistem Suplai Tekanan Oli Governor

19

Sistem ini terdiri dari 2 pompa, satu digunakan pada kondisi


normal, dan satu pompa lagi sebagai pompa standby. Setiap
pompa di desain untuk menyuplai 105% kebutuhan oli untuk di
distribusikan ke servomotor guide vane untuk satu kali menutup
penuh membutuhkan waktu 40 detik tanpa membutuhkan
tekanan dari pressure tank.
Sistem Suplai Tekanan Oli Inlet Valve
Sistem ini terdiri dari 2 pompa, satu digunakan pada kondisi
normal, dan satu pompa lagi sebagai pompa standby. Setiap
pompa di desain untuk menyupai kebutuhan oli untuk menutup
dan membuka penuh inlet valve dalam 180 detik tanpa suplai oli
dari pressurre tank. Oli beroperasi pada tekanan 70 kg/cm2.
Ketika tekanan oli turun sampai 66 kg/cm 2 pompa oli yang
standby akan beroperasi dan menirimkan oli ke pressure tank
sampai tekanan oli mencapai 72 kg/cm2.
Sistem Main Water Supply
Sistem ini terdiri dari 2 pompa, satu digunakan pada kondisi
normal, dan satu pompa lagi sebagai pompa standby dan 2
strainer yang bekerja secara otomatis, satu digunakan pada
kondisi normal, dan satu pompa lagi sebagai pompa standby.
Pompa MWS tersebut memompakan air dari draft tube ke
beberapa bagian yang memerlukan pendinginan air, yaitu :
- Pendingin air cooler generator
- Thrust bearing generator
- Upper guide bearing generator
- Turbin guide bearing
dan air tersebut akan dibuang lagi ke draft tube.

Sistem Suplai Air Head Tank


Suplai air head tank diperlukan pada beberapa keperluan, yaitu :
- Shaft seal turbin
- Pemadam kebakaran pada dan transformer
- Hydrant di power house
20

Sistem suplai udara kompresi


Sistem ini terdiri dari 2 pasang kompressor udara dan 2 main
air recievers untuk 4 unit generator. Satu pasang sistem air
compressed terdiri dari 2 kompressor, satu digunakan pada
kondisi normal, dan satu lagi sebagai standby dan satu main air
reciever untuk 2 unit. Satu main air reciever menyuplai udara
bertekanan ke beberapa peralatan untuk 2 unit generator, yaitu :
- Governor oil pressure tank
- Inlet valve oilpressure tank
- Generator air break
- Generator circuit breaker
- Disconnecting switch

Sistem Drainase Power House


Kebocoran air pada turbin, sistem pendingin dan lain-lain
ditampung kedalam draenage pit yang berada di dasar power
house. Air dari drainage pit dipindahkan ke tail race oleh pompa
drainage. Sistem ini terdiri dari 2 pompa, satu digunakan pada
kondisi normal, dan satu lagi sebagai standby. Pengoperasian
pompa tersebut dikontrol oleh float switch yang ada di drainage
pit.

Sistem Dewatering Draft Tube


Sistem Dewatering Draft Tube berfungsi untuk memompakan
air yang berada di draft tube secara langsung ke tail race oleh 2
pompa. 2 pompa dewatering tersebut digunakan untuk 4 unit
generator. Pompa ini dapat dioperasikan secara manual dari
motor control center dan dapat juga dioperasikan dengan
menekan tombol switch yang terdapat pada pompa tersebut.

Sistem Suplai Oli Pelumas


Sistem ini berfungsi untuk menyuplai dam mengosongkan oli
ke/dari bearing oil reservoir. Sistem ini memiliki 2 tanki oli, 2

21

pompa, dan 1 head oil tank untuk 4 generator. Unit pompa oli
pelumas dapat dijalankan dan dimatikan secara manual dengan
menekan tombol switch pada motor control center.

Water Flow Meter


Water flow meter disediakan untuk mendeteksi debit air yang
keluar dari turbin.

22

2.2.

Struktur Organisasi
2.2.1. Struktur Organisasi Unit Pemeliharaan PT. Indonesia Power UBP Sagulin

Manager OPHA

SPS Senior Pemeliharaan

SPS rendal

SPS K3

23

SPS Kontrol

SPS Mesin

SPS Listrik

BAB III
PELAKSANAAN KERJA PRAKTIK

3.1.

Bentuk Kegiatan Kerja Praktik


Kegitan Kerja Praktik bertempat di Power House bidang Pemeliharaan

Mesin, PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Saguling. Kerja Praktik


dilakukan pada tanggal 9 maret 2015 sampai dengan 9 April 2015.
Bentuk kegiatan Kerja Parktik ialah pemeliharaan harian seperti preventive
maintenance, corrective maintenance, serta melakukan analisa terhadap
efektivitas penggunaan material CuNi dengan Stainless Steel pada pendinginan
thrust and lower bearing PLTA Unit 4.
Selama pelaksanaan Kerja Praktik, terdapat aturan-aturan diantaranya :
a. Penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) yang terdiri dari safety shoes,
helmet, dan ear plug.
b. Tidak diperkenankan melakukan suatu pekerjaan tanpa seizin dari
c.
d.
e.
f.

pembimbing.
Melakukan semua pekerjaan sesuai dengan IK (Instruksi Kerja).
Mengikuti semua kegiatan yang diadakan perusahaan.
Dilarang merokok di tempat-tempat terlarang
Tidak memotret, memasuki unit pembangkitan tanpa seizin pejabat
berwenang

3.2.
3.3.
No
.

Prosedur Kerja Praktik


Preventive Maintenance dan Corrective Maintenance
Hari/
Tanggal

Uraian Kegiatan

Keterangan

Pemeliharaan Unit

24

1.

Kamis/
12 Maret
2015

Corrective Maintenance,
pembongkaran pompa
Main Water Supply Pump
A (MWSP), Unit 4
a. MWSP merupakan
pompa utama yang
digunakan untuk

Gambar 3.1 Pelepasan baut-baut

memompa air dari

pada casing MWSP A, Unit 4

draft tube yang


digunakan sebagai
pendingin udara
generator, upper
bearing, thrust dan
lower bearing serta
turbin bearing. MWSP
berjumlah 2 buah/unit.

Gambar 3.2 Coupling MWSP A,


Unit 4

b. MWSP A pada unit 4,


memiliki kendala (over
temperature) sehingga
membutuhkan
corrective
maintenance.
c. Proses pembongkaran
MWSP A
menggunakan kunci
pass; kunci ring; dan
crane.
d. Prosedur
pembongkaran

25

Gambar 3.3 Pemasangan crane untuk


mengangkat casing MWSP A, Unit 4

dilakukan dengan:
memastikan pompa
dalam keadaan off;
membuang air yang
masih ada di dalam
pompa; membuka
semua baut pada

Gambar 3.4 Poros MWSP A, Unit 4

casing, dan coupling


menggunakan kunci
pass dan kunci ring;
memindahkan casing
dengan menggunakan
crane.
e. Setelah dilakukan

Gambar 3.5 Cacat pada impeller

pembongkaran,

MWSP A Unit 4, disebabkan gesekan

ditemukan cutter di

antara impeller dengan cutter

dalam pompa (di


bawah impeller),
sehingga sisi-sisi
impeller pompa
mengalami cacat.

Gambar 3.6 Pemasangan packing


pada casing MWSP A, Unit 4

26

Gambar 3.7 Pengangkatan casing


menggunakan crane
(casing di pasang setelah
pembongkaran selesai)
2.

Jumat/
13 Maret
2015

Penggantian bearing 1
(bearing sisi luar) dan
gland packing (sisi poros)
pada Main Water Supply
Pump A (MWSP), Unit 4
a. MWSP merupakan
pompa utama yang
digunakan untuk
memompa air dari

Gambar 3.8 Bearing 1


(bearing pompa luar) yang rusak

draft tube yang


digunakan sebagai
pendingin udara
generator, upper
bearing, thrust dan
lower bearing serta
turbin bearing. MWSP
berjumlah 2 buah/unit.

b. Setelah dilakukan

Gambar 3.9 Sisi pompa bagian luar

corrective maintenance

27

pada tanggal 12 Maret


2015 ditemukan
adanya cutter pada
pompa, setelah
dilakukan pemasangan
unit pompa dan uji
coba operasi pompa,

Gambar 3.10 Pelepasan kopling

temperatur pompa tetap


tinggi.
c. Dilakukan kembali
pembongkaran pada
MWSP A unit 4.
d. Proses pembongkaran

Gambar 3.11 Bearing 2


(bearing pompa dalam)

MWSP A
menggunakan kunci
pass; kunci ring; dan
crane.
e. Prosedur
pembongkaran
dilakukan dengan:
memastikan pompa

Gambar 3.12 Pemasangan bearing 1

dalam keadaan off;


membuang air yang
masih ada di dalam
pompa; membuka
semua baut pada
casing, dan coupling
menggunakan kunci

28

(baru)

pass dan kunci ring;


memindahkan casing
dengan menggunakan
crane; Setelah itu
dilakukan pelepasan
coupling pompa.
f. Ditemukan bahwa
bearing 1 (sisi luar)
longgar, sehingga tidak
dapat menahan beban
aksial.
g. Pemasangan bearing
baru.
h. Gland packing pada
sisi poros di ganti.
3.

Senin/
16 Maret
2015

Penggantian gland packing


ke mechanical seal pada
poros Main Water Supply
Pump A (MWSP), Unit 4
a. MWSP merupakan
pompa utama yang
digunakan untuk

Gambar 3.13 Pelepasan poros MWSP

memompa air dari

A, Unit 4

draft tube yang


digunakan sebagai
pendingin udara
generator, upper
bearing, thrust dan

29

lower bearing serta


turbin bearing. MWSP
berjumlah 2 buah/unit.
b. Setelah corrective
maintenance pada
tanggal 13 Maret 2015,
dilakukan pemasangan

Gambar 3.14 Pemasangan

unit pompa dan uji

mechanical seal pada poros


MWSP A, Unit 4

coba operasi pompa,


namun temperatur
pompa tetap tinggi
sehingga dilakukan
penggantian gland
packing menjadi
mechanical seal.
c. Proses pembongkaran

Gambar 3.15 Mechanical seal

MWSP A
menggunakan kunci
pass; kunci ring; dan
crane.
d. Prosedur penggantian
dilakukan dengan:
memastikan pompa

Gambar 3.16 Gland packing yang

dalam keadaan off;


membuang air yang
masih ada di dalam
pompa; membuka
semua baut pada
casing, dan coupling

30

diganti

menggunakan kunci
pass dan kunci ring;
memindahkan casing
dengan menggunakan
crane; Setelah itu
dilakukan pelepasan
coupling pompa;
melepas gland packing;
pemasangan
mechanical seal.
4.

Kamis/
19 Maret
2015

Pembongkaran Main
Water Supply Pump A
(MWSP)
a. MWSP merupakan
pompa utama yang
digunakan untuk
memompa air dari
draft tube yang
digunakan sebagai
pendingin udara
generator, upper

Gambar 3.17 Pemasangan crane

bearing, thrust dan

pada casing MWSP A, unit 4

lower bearing serta


turbin bearing. MWSP
berjumlah 2 buah/unit.
b. Setelah corrective
maintenance pada
tanggal 16 Maret 2015,

31

dilakukan pemasangan
unit pompa dan uji
coba operasi pompa,
namun temperatur
pompa tetap tinggi
sehingga diindikasikan
poros pompa
mengalami keausan,
dan harus di bubut.
c. Prosedur
pembongkaran
dilakukan dengan:

Gambar 3.18 Pengangkatan poros

memastikan pompa

MWSP A, Unit 4

dalam keadaan off;


membuang air yang
masih ada di dalam
pompa; membuka
semua baut pada
casing, dan coupling
menggunakan kunci
pass dan kunci ring;
memindahkan casing
dan poros dengan
menggunakan crane.
5.

Kamis/
19 Maret
2015

Penggantian oil filter pada


Governor Actuator, PLTA
Unit 4
a. Governor Actuator

32

berfungsi untuk
mengatur bukaan Main
Inlet Valve dengan
menggunakan sistem
hidrolik (menggunakan
pelumas).
b.

Pada Governor
Actuator terdapat oil

Gambar 3.19 Oil tank


pada Governor Actuator

filter yang berfungsi


untuk menyaring oli.
c. Oil filter diganti secara
periodik.
d. Untuk mengganti oil
filter peralatan yang
dibutuhkan ialah kunci

Gambar 3.20 Pelepasan oil filter


yang akan diganti

ring dan majun.


e. Tahap yang dilakukan
untuk penggantian ini
ialah : melepas casing
atas dengan kunci ring;
lepas oil filter;
bersihkan tumpahan
(ceceran) oli; pasang
oil filter yang baru;
pasang casing.

33

Gambar 3.21 Pembersihan


tumpahan oli

Gambar 3.22 Pemasangan oil filter


yang baru
6.

Senin/

Perbaikan pompa oil lifter,

23 Maret

PLTA Unit 2

2015

a. Oil lifter pump


berfungsi untuk
memeberikan
pelumasan awal pada
Thrust bearing dengan
tekanan kerja 110

Gambar 3.23 Pembongkaran


pompa oil lifter
(pembukaan casing pompa)

kg/cm2.
b. Penggantian casing
dan coupling pompa
dilakukan karna
tekanan oil lifter thrust
bearing mengalami

Gambar 3.24 Pembongkaran pompa


oil lifter

penurunan. Dan dari


hasil pengecekan,
ditemukan bahwa
coupling patah
dikarenakan impeller
dari gear pump
terhambat oleh
serpihan material

34

dinding casing.
Menyebabkan gear
pump tidak bisa
berputar sedangkan
motor terus memberi
tenaga sehingga
mematahkan coupling
menjadi dua bagian.
c. Peralatan yang
dibutuhkan : kuci pass;
kunci ring; majun.
d. Prosedur kerja :

Gambar 3.25 Impeller pompa oil

Memeriksa

lifter (jenis gear pump)

ketersediaan peralatan
pengganti (Pompa set
& kopling); melepas
cover kopling dan unit
kopling; melepas
saluran masuk dan
keluar pompa; melepas
pompa dari
dudukannya;
memasang unit pompa
dan kopling yang baru
beserta karet kopling
fleksibelnya;
memasang saluran in
dan out pompa;
melakukan pengetesan

35

Gambar 3.26 Casing pompa


(terjadi crack di dalamnya)

tekanan keluar pada


pompa baru.

Gambar 3.27 Terdapat sepihan crack


dari casing pompa di impeller (gear)

Gambar 3.28 Casing (baru) pompa

Gambar 3.29 Pemasangan


pompa oil lifter (baru)

36

Gambar 3.30 Pemasangan coupling

Gambar 3.31 Coupling pompa


mengalami crack

Gambar 3.32 Coupling pompa


mengalami crack
7.

Kamis/
26 Maret
2015

Pembersihan glass pada


ball cleaing pump, PLTA
Unit 1; dan 2
a. Ball cleaning pump
bekerja untuk
mengalirkan bola-bola
kecil berbahan sponge,
yang berfungsi untuk
membersihkan pipa-

37

Gambar 3.33 Autosol

pipa oil cooler pada


sisi thrust dan lower.
b. Tujuan pembersihan
glass ini adalah untuk
melihat lebih jelas
aliran bola pembersih
di sistem ball cleaning.

Gambar 3.34 Ball cleaning system

c. Peralatan yang
dibutuhkan : kuci pass;
kunci ring; majun;
WD; autosol; amplas;
ember.
d. Prosedur kerja : buka
casing glass

Gambar 3.35 Pembersihan glass

menggunakan kunci
pass kunci ring;
tampung air yang
keluar dari sela casing
dengan menggunakan
ember; lepas glass;
bersihkan stainer yang

Gambar 3.36 Strainer pada ball

ada di dalam;

cleaning

semprotkan WD pada
permukaan glass lalu
bersihkan dengan
amplas; setelah bersih,
oleskan autosol dan
bersihkan

38

menggunakan majun;

Gambar 3.37 Pembersihan strainer

pasang kembali glass;


pasang casing.

Gambar 3.38 Glass

Gambar 3.39 Pemasangan glass


3.4.

Kendala Kerja dan Pemecahannya


Saat Kerja Praktik berlangsung, secara umum penulis tidak menemukan

kendala, proses pekerjaan diaksanakan dengan teratur, rapih dan bersih.

39

Pembimbing, teknisi dan helper yang bekerja sangat ramah, interaktif dan
komunikatif, sehingga sering terjadi proses tanya jawab selama pelaksanaan
pekerjaan di lapangan.

BAB IV
DASAR TEORI DAN ANALISA DATA

40

4.1. Dasar Teori


4.1.1. Sistem Air Pendingin
Selain komponen utama, PLTA memiliki komponen-komponen
pendukung yang mempunyai peranan penting, salah satunya ialah sistem air
pendingin. Air pendingin digunakan untuk menjaga temperatur komponenkomponen utama khususnya pada rotary equipment, over heat pada suatu alat
akan menyebabkan penurunan performa dari alat tersebut.
Pada PLTA, sistem air pendingin digunakan untuk mendinginkan udara
pada generator1 (Air Cooler). Panas yang terjadi merupakan bentuk
transformasi dari rugi pada inti ataupun pada belitan stator dan rotor. Panas
yang terjadi akan mempengaruhi terhadap kemampuan generator dalam
menghasilkan energi listrik dan jika dibiarkan terus-menerus hingga
temperature outlet 48 C maka unit akan trip.
Selain pada generator, air pendingin digunakan pada sistem Oil
Cooler yang meliputi turbine bearing, upper bearing, thrust and lower
bearing. Panas yang timbul pada bearing tersebut sebagai akibat adanya
kalor yang timbul karena gesekan antara turbine bearing dengan poros turbin.
Berikut cara kerja cara kerja sistem air pendingin :
a. Distribusi Air Pendingin
Sistem air pendingin masuk ke dalam sequencial preparation relay.
Pada saat unit start maka flow air pendingin harus memenuhi 60%
batas flow yang telah ditetapkan, jika tidak terpenuhi maka unit tidak
dapat dioperasikan. Air yang digunakan untuk sistem pendingin
merupakan air yang dipompakan oleh Main Water Supply Pump
(MWSP) dari draft tube2.

1 Media pendingin pada generator ialah udara


2saluran air buangan setelah memutarkan runner
41

Gambar 4.1 Main Water Supply Pump


Tiap unit terdiri dari 2 buah pompa yang bekerja secara bergantian,
pompa pertama sebagai primary pump dan pompa kedua sebagai stand
by pump. Apabila pada saat operasi primary pump trip maka stand by
pump akan bekerja untuk menggantikan tugas dari primary pump. Jika
kedua pompa trip maka unit juga akan trip. Pergantian/manufer dari
primary ke stand by pump dilaksanakan tiap awal bulan. Distribusi
jumlah air yang masuk ke masing peralatan ialah :
No
.
1
2
3
4

Cooler

Kapasitas (L/m)

Turbine Bearing
260
Upper Bearing
300
Thrust/Lower Bearing
3200
Air cooler
12500
Tabel 4.1 Distribusi air pendingin

42

Gambar 4.2 Distribusi air pendingin


b. Penyaringan Air Pendingin
Setelah dipompakan menggunakan MWSP, air akan di saring oleh
Main Water Supply Strainer (MWSS). Tujuan air disaring adalah agar
bersih dari kotoran sehingga tidak mengganggu aliran air pendingin,
selain itu juga agar tidak mengganggu proses penyerapan panas pada
media yang didinginkan. MWSS bekerja/backwash secara automatis
12 jam sekali atau dapat di setting sesuai kebutuhan dengan batas
range 24 jam. Untuk operasi manual MWSS dapat dilakukan sesuai
keinginan.
Kotoran yang tersaring akan dibuang oleh Main Water Supply
Strainer Purging Valve. Purging Valve beroperasi selama 4 menit
untuk membuang kotoran yang tersangkut pada screen, jika setelah 4
menit purging valve belum menutup (karena ada kotoran yang
menghambat) maka time lag relay for fault of MWSS akan aktif dan
menunggu selama 1 menit. Jika dalam waktu 1 menit kembali
purging valve belum menutup maka akan memberikan sinyal alarm
dan MWSP trip selanjutnya manuver ke stand by pump.
.1.2. Oil Cooler

43

Sistem pelumasan pada sistem pembangkitan digunakan untuk


melumasi bearing yang berfungsi menahan beban vertical, horizontal, dan
axial dari suatu poros yang berputar. Sistem pelumasan mesin adalah suatu
sistem yang bertujuan untuk memberikan oil film (lapisan oli) untuk
mencegah kontak langsung pada komponenkomponen yang bergesekan dan
menyebabkan keausan. Fungsi pelumasan ialah :
a. Membentuk oil film untuk mencegah kontak langsung antara dua
permukaan logam.
b. Mengurangi atau mencegah keausan dan panas.
c. Mendinginkan bagianbagian pada mesin.
d. Memelihara mesin agar tetap bersih.
e. Memaksimumkan kompresi dan mempertahankan tekanan.
f. Mencegah korosi pada bagianbagian mesin.
Adapun sistem pelumasan pada bearing yang menggunakan sistem air
pendingin ialah :
a. Turbine Bearing
Aliran air pendingin: 260 l/min
30A: 160 l/min, 3 menit
Temperatur normal : <65C
86-5: 70C; 86-2: 75C

Gambar 4.3 Turbine bearing


b. Upper Bearing
Aliran air pendingin: 300 l/min

44

30A: 180 l/min, 3 menit


Temperatur normal : <60C
86-5: 65C; 86-2: 70C

Gambar 4.4 Upper bearing


c.Thrust dan Lower Bearing
Aliran air pendingin: 3200 l/min
30A: 1900 l/min, 3 menit
Temperatur normal : <60C
86-5: 65C; 86-2: 70C

Gambar 4.5 Thrust bearing

Gambar 4.6 Lower bearing

45

4.1.1.3. Air cooler


Sistem pendingin pada generator dengan cara mendinginkan udara
disekitar ruang generator. Radial fan yang terpasang pada rotor akan
mendorong udara pada stator menuju ke water cooler. Pada water cooler
udara panas dari stator akan diserap oleh air yang mengalir pada pipa-pipa
kecil (tube), sehingga udara yang keluar dari water cooler/outlet menjadi
dingin. Selanjutnya udara yang telah dingin tersebut akan kembali
bersirkulasi masuk ke rotor generator, begitu seterusnya hingga udara di
dalam generator tetap terjaga temperaturnya. Temperatur pada generator
harus selalu dipantau. Hal-hal yang harus diperhatikan :
Aliran air pendingin: 260 l/min
30A: 160 l/min, 3 menit
Temperatur normal : <65C
86-5: 70C; 86-2: 75C

1.4.4. Perpindahan Panas Konveksi pada Sistem Oil Cooler


Sistem air pendingin pada Oil Cooler merupakan penerapan dan sistem
Heat Exchanger (alat penukar panas), dalam hal ini memanfaatkan
perpindahan panas secara konveksi (media perpindahan panas berupa fluida).
Terdapat 2 jenis perpindahan panas secara konveksi, yaitu :
a.

Konveksi alami (Natural/Free Convection)


Konveksi alamiah dapat terjadi karena ada arus yang mengalir
akibat gaya apung, sedangkan gaya apung terjadi karena ada
perbedaan densitas fluida tanpa dipengaruhi gaya dari luar sistem.
Perbedaan densitas fluida terjadi karena adanya gradien suhu pada
fluida. Contoh konveksi alamiah antara lain aliran udara yang
melintasi radiator panas [McCabe,1993]. Dalam sistem Oil Cooler
tidak ada yang mengalami konveksi alami.

46

b. Konveksi paksa (Forced Convection)

Konveksi paksa terjadi karena arus fluida yang terjadi digerakkan


oleh suatu peralatan mekanik (contoh : pompa, pengaduk), jadi arus
fluida tidak hanya tergantung pada perbedaan densitas. Contoh
perpindahan panas secara konveksi paksa antara lain: pemanasan air
yang disertai pengadukan. Dalam sistem Oil Cooler yang
mengalami konveksi alami ialah oli pada turbine bearing, dan
upper bearing. Dalam sistem Oil Cooler yang mengalami konveksi
paksa ialah: oli dan air pendingin pada thrust dan lower bearing; air
pendingin dan peluumas pada turbine bearing dan upper bearing.
Rumus perpindahan panas secara konveksi secara umum, ialah :
= h A T
Q
Dengan

= besar laju perpindahan panas (kJ/s)


h

= koefisien perpindahan panas


konveksi (W/m2K)

= luasan bidang perpindahan panas (m2)

= perbedaan temperatur (C)

4.1.1.5. Efektivitas Penggunaan Marterial CuNi dan Stainless steel pada


Thust and Lower Bearing
Sistem pendinginan pelumas pada Thrust and Lower Bearing
menggunakan alat penukar panas (heat exchanger) tipe tube and shell dengan
banyak tube dan 4 pass pada shell. Dimana pelumas dialirkan melalui oil
cooler shell dengan gaya sentrifugal dari Thrust and Lower Bearing ke sisi
shell dari oil cooler dan air pendingin diambil dari sisi draft tube oleh Main
Water Supply Pump (MWSP) ke sisi tube dari oil cooler.

47

Gambar 4.7 Heat Exchanger tipe tube and shell


Jumlah Thrust and Lower Bearing oil cooler pada masing-masing unit
PLTA Saguling adalah 2 buah, yakni unit A dan B. Pada unit 4 Thrust and
Lower Bearing oil cooler memakai bahan untuk tube tembaga-nikel (CuNi)
pada unit oil cooler A, dan memakai bahan tube stainless steel pada unit oil
cooler B.
Sebelumnya perlu diketahui bahwa efektivitas adalah kemampuan
melaksanakan tugas, fungsi (operasi kegiatan program atau misi) dari pada
suatu organisasi atau sejenisnya yang tidak adanya tekanan atau ketegangan
diantara pelaksanaannya (Kurniawan, 2005:109)3. Dalam hal ini, efektivitas
yang di maksud ialah ukuran kemampuan dari metarial CuNi dengan
stainless steel sebagai media penukar panas dalam sistem pendinginan pada
thrust and lower bearing.
Analisa perbandingan efektivitas heat exchanger berbahan CuNi dan
Stainless steel dengan Effectiveness-NTU method. Metode ini berdasarkan
parameter yang tak berdimensi yang disebut heat transfer effectiveness
dengan symbol .

laju PP aktual
laju PP maksimum

aktual
Q
maks
Q

Qmaks ditentukan berdasarkan beda temperature maksimum kedua fluida. Qmaks


dicapai apabila :
- Fluida dingin dipanaskan hingga mencapai temperatur inlet fluida
panas
3Sumber: http://madhienyutnyut.blogspot.com/2012/02/pengertian-efektifitas-menurutpara.html
48

Fluida panas didinginkan hingga mencapai temperature inlet fluida


dingin
Semakin kecil nilai kapasitas panas suatu fluida maka semakin besar

beda temperaturnya, agar laju perpindahan panas menjadi maksimum.

maks

= cmin (Thin Tcin)

Metode ini juga ditentukan dari bilangan C atau rasio kapasitas panas
yakni perbandingan antara kapasitas panas minimum dan kapasitas panas
maksimum
c

C min
C maks

Menentukan tahanan panas bahan tube oil cooler dengan perhitungan


sebagai berikut :

Perpindahan panas secara konveksi paksa


- Pemanasan fluida dalam tabung dengan aliran turbulen
(Re > 2300)
Nu = 0,023 Re0,8 Pr0,4
- Pemanasan dan pendinginan fluida dalam tabung dengan aliran
laminer
Nu = 0,664 Re0,5 Pr0,3 (d/l)0,5
Keterangan :
Re (bilangan Reynold)=
Dengan

= kecepatan fluida (m/s)

= panjang lintasan (m)

= viskositas kinematik (m2/s)

Pr (bilangan Praudth)
Dengan

V xl

x Cp
k

= viskositas dinamis (kg/ms)

49

Cp

= kapasitas panas spesifik (J/kgK)

= koefisien konduktivitas (W/mK)

Nu (bilangan Nurselt)
Dengan

hx l
k

= koefisien perpindahan panas


konveksi (W/m2K)

= panjang lintasan (m)

= koefisien konduktivitas (W/mK)

Perpindahan panas overall


1
1
= h
U
1

ln (D o / D i )
+
2 kL

1
h2

Keterangan :
U
= perpindahan panas overall (W/m2K)
k
= koefisien konduktivitas (W/mK)
L
= panjang lintasan/tube (m)
h1
= koefisien perpindahan panas konduksi pada fluida1
(W/m2K)
h2
= koefisien perpindahan panas konduksi pada fluida2
(W/m2K)
Do
= diameter luar tube (m)
Di
= diameter dalam tube (m)

Setelah mengetahui koefisien perpindahan panas overall dari masing


masing bahan tube air cooler, selanjutnya bisa diketahui bilangan tak
berdimansi yang menentukan efektivitas sebuah Heat Exchanger,
yaitu Number Transfer Unit (NTU). NTU adalah jumlah satuan
perpindahan panas yang merupakan tolak ukur perpindahan panas
suatu penukar panas. Harga NTU semakin besar maka penukar panas
mendekati batas termodinamikanya (Kreith, 1973).
NTU =

50

U As
Cmin

Keterangan NTU
U
As
Cmin

= Number of Transfer Unit


= perpindahan panas overall (W/m2K)
= luasan bidang perpindahan panas (m2)
= koefisien pansa spesifik minimal dari 2 jenis
fluida (kJ/kgK)

Besarnya efektivitas () sebuah heat exchanger didapat berdasarkan


fungsi NTU (Number Transfer Unit) dan c (Capacity ratio). Untuk
tipe shell and tube persamaan effektivitas adalah
=2

Keterangan
c
NTU

1 + c+ 1+c

1+exp [NTU 1+c 2 ]


1exp [NTU 1+c 2 ]

= efektivitas perpindahan panas (%)


= perbandingan antara cmin/cmax
= Number of Transfer Unit

.2. Analisa Data


4.2.1. Thrust and Lower Bearing
Jumlah Thrust and Lower Bearing oil cooler pada masing-masing unit
PLTA Saguling adalah 2 buah, yakni unit A dan B. Pada unit 4 Thrust and
Lower Bearing oil cooler memakai bahan untuk tube tembaga-nikel (CuNi)
pada unit oil cooler A, dan memakai bahan tube stainless steel pada unit oil
cooler B. Pergantian ini bertujuan untuk menanggulangi keadaan sungai
Citarum yang semakin parah akibat polusi dan menyebabkan tingkat
korosifitas nya semakin tinggi.
Dalam analisa ini, efektivitas ditinjau dari konduktivitas meterial yang
digunakan, serta pengamatan terhadap temperatur oli yang keluar dari sistem
pendinginan.
Tanggal

Unit 4A (CuNi)
Oli

Unit 4B (stainless steel)


Oli
Air

Air

51

Beban
(MW)

23/03/2015
23/03/2015
23/03/2015
24/03/2015
24/03/2015
24/03/2015
25/03/2015
25/03/2015
25/03/2015
26/03/2015
26/03/2015
26/03/2015
31/03/2015
31/03/2015
31/03/2015

In
(C)

Out
(C)

(C)

In
(C)

Out
(C)

(C)

In
(C)

Out
(C)

(C)

In
(C)

46,5
45,2
46
46,9
46,2
45,9
45,7
45,2
45,1
45,3
45,1
45,4
45,2
43,1
45,6

40,6 5,9
21,3 25,3
4
45,2 43,2
2
21,6
40,7 4,5
21,6 25,7 4,1
45,9 43,1
2,8 22,2
40,7 5,3
22,1 25,5 3,4
46,3 43,3
3
21,8
40,9
6
21,5 25,2 3,7
45,9 43,1
2,8 21,1
40,4 5,8
21,1 24,6 3,5
45,6 42,8
2,8 20,6
40,2 5,7
20,9 24,3 3,4
45,4 42,7
2,7 20,6
40,3 5,4
22,6 24,3 1,7
45,4 42,5
2,9 21,4
40,3 4,9
20,8 24,6 3,8
45,3 42,5
2,8 21,4
40,4 4,7
20,8 24,3 3,5
45,4 42,8
2,6 20,4
40
5,3
21,5 28,4 6,9
45,1 42,2
2,9
21
40,2 4,9
21
24,7 3,7
45,5 42,5
3
21,4
40,2 5,2
21,6 24,9 3,3
45,3 42,5
2,8 21,7
39,9 5,3
21,4 24,2 2,8
45
42,2
2,8 20,6
40
3,1
20,9 24,3 3,4
45,1 42,3
2,8 20,9
39,9 5,7
20,6 24,2 3,6
44,5 42,2
2,3 20,7
Tabel 4.1 Data temperatur oli dan air pada sistem air pendingin
pada Thrust and Lower Bearing

Out
(C)

(C)

26,4
26,6
26,5
26,2
25,9
25,9
25,9
25,8
25,9
25,9
26,2
26,4
25,8
26,1
26,1

4,8
4,4
4,7
5,1
5,3
5,3
4,5
4,4
5,5
4,9
4,8
4,7
5,2
5,2
5,4

Pergantian bahan tube ini memiliki dampak terhadap efektivitas


perpindahan panas oil cooler tersebut. Hal ini bisa terlihat dari grafik
temperatur oli keluar dari oil cooler pada oil cooler A dan B unit 4 PLTA
Saguling.
Data Temperatur Oli Keluar Oil Cooler
Unit 4 PLTA Saguling

Temperatur (C)

44
42
40
38

Tanggal

Gambar 4.8 Grafik data temperatur oli dan air pada sistem air pendingin
pada Thrust and Lower Bearing

52

161

130

170

162

168

Perbadaan temperature oli keluar ini disebabkan oleh perbedaan bahan


tube antara unit A dan B. Secara sederhana bisa ditinjau dari sisi
konduktivitas bahan panas tersebut.
Dari tabel bahan, tube CuNi memiliki konduktivitas panas maksimal
sebesar 350 W/m K4, sedangkan stainless steel hanya memiliki konduktivitas
panas sebesar 14 W/ m K5. Analisa perbandingan efisiensi heat exchanger
berbahan CuNi dan Stainless steel dengan Effectiveness-NTU method.
Metode ini berdasarkan parameter yang tak berdimensi yang disebut heat
transfer effectiveness dengan symbol .
=

maks

laju PP aktual
laju PP maksimum

aktual
Q
maks
Q

ditentukan berdasarkan beda temperature maksimum kedua

maks dicapai apabila :


fluida. Q
- Fluida dingin (air) dipanaskan hingga mencapai temperatur outlet
fluida panas (oli)
Fluida panas (oli) didinginkan hingga mencapai temperature inlet

fluida dingin (air)


Semakin kecil nilai kapasitas panas suatu fluida maka semakin besar
beda temperaturnya, agar laju PP menjadi maksimum.

maks

= cmin (Thin Tcin)

Dimana Cmin adalah nilai kapasitas panas terkecil baik dari fluida air maupun
oli.
cpoli= 1.924,9 J/kgC
m

Coli

oli

cpair

= 90 kg/s

= cpoli x m

= 4.180 J/kgC

Cair

oli

air

= 26,633 kg/s

= cpair x m

4 Tabel A-2. Nilai Konduktivitas Logam Tertentu pada Temperatur Standar


5 Tabel A-2. Nilai Konduktivitas Logam Tertentu pada Temperatur Standar
53

air

= (1.924,9)(90)

= (4.180)(26,633)

= 173.241 Watt/C

= 111.325 Watt/C
(Sumber : Kalorindo)

Sehingga Cmin adalah Cair = 111.325 Watt/C


Metode ini juga ditentukan dari bilangan C atau rasio kapasitas panas
yakni perbandingan antara kapasitas panas minimum dan kapasitas panas
maksimum
C=

C min
C maks

111.325
173.241

= 0,6426

Menentukan tahanan panas bahan tube oil cooler . dengan perhitungan


sebagai berikut:
Nilai koefisien perpindahan panas konveksi air adalah
Temperatur air masuk rata-rata adalah 20C - 21C, maka
properties air dapat dianggap sebagai berikut :
= 959 x 10-6 m2/s; Pr = 6,62; k = 0,606 W/mK
Bilangan Reynold
( 4 ) (26,633)
4m

Re =
=
= 14.927,376
L
( 3,14 ) (2,37 ) (959 x 106 )
Karena Re > 2300 maka aliran turbulen dan konveksi paksa karena
fluida dialirkan oleh pompa.
Bilangan Nurselt
Nu = 0,023 Re0,8 Pr0,4
Nu = (0,023) (14.927,376)0,8 (6,62)0,4
Nu = 106,969
Koefisien perpindahan panas konveksi
( 0,606 ) (106,969)
kNu
hair =
=
= 2.946,509 W/m2K
3
D
22 x 10

54

Karena pada sisi shell tidak diketahui jumlah fulida yang masuk, setiap
waktunya, maka diambil data dari laporan PT. Kalorindo yakni koefisien

perpindahan panas holi = 1.622,28 W/m2 K dan laju massa m

oli

= 90 kg/s.

Dimensi dari oil cooler tube adalah :


Ao

= 51,9 m2

Thickness = 2,1 mm

Ai

= 42,1206 m2

Length

= 2,37 mm

holi

= 1.622,28 W/m2K

= 314

hair

= 2.949,29 W/m2K

Do

= 22,225 mm

(Sumber : Kalorindo)
Didapat tahanan panas dari tube oil cooler berbahan stainless steel
adalah :

Do
)
Di
2 kL

ln (

Rstainless =

Bahan Stainless steel memiliki nilai konduktivitas panas k = 14


W/mK, dengan perhitungan ini didapat :
ln

Rstainless =

22,225
( 18,025
)

= 1,00522 x 10-3 C/Watt

( 2 ) ( 3,14 )( 14 ) (2,37)
Maka koefisiensi perpindahan panas keseluruhan pada material
stainless steel dapat ditentukan dengan :
1
U stainless
1
U stainless
1
U stainless
Ustainless

1
hair

1
2.946,509

+ Rstainless +

1
holi

+ 1,00522 x 10-3 +

= 1,961 x 10-3
= 509,992 W/m2K

55

1
1.622,28

Dengan perhitungan yang sama digunakan untuk mencari tahanan


panas tube air cooler berbahan CuNi (k = 350 W/mK)
D
ln ( o )
RCuNi =
Di
2 kL
22,225
ln
18,025
RCuNi =
= 4,021x 10-5 C/Watt
( 2 ) ( 3,14 )( 350 ) (2,37)

Perhitungan koefisien perpindahan panas keseluruhan CuNi :


1
U CuNi
1
U CuNi
1
U CuNi
UCuNi

1
hair

1
2.946,509

+ RCuNi +

1
holi

+ 4,021x 10-5 +

1
1.622,28

= 9,96 x 10-4
= 1.004,016 W/m2K

Setelah mengetahui koefisien perpindahan panas overall dari masingmasing bahan tube air cooler, selanjutnya bisa diketahui bilangan tak
berdimensi yang menentukan efektivitas sebuah Heat Exchanger, yaitu
Number of Transfer Unit (NTU). NTU adalah jumlah satuan perpindahan
panas yang merupakan tolak ukur perpindahan panas suatu penukar panas.
Harga NTU semakin besar maka penukar panas mendekati batas
termodinamikanya (Kreith, 1973).
U stainless A o
C min
( 509,992 ) (51,9)
NTUStainless =
111.325
NTUStainless = 0,238

NTUStainless =

NTUCuNi =
NTUCuNi =

U CuNi As
C min
( 1.004,016 ) (51,9)
111.325

56

NTUCuNi = 0,468
Besarnya efektivitas () sebuah heat exchanger didapat berdasarkan
fungsi NTU (Number Transfer Unit) dan c (Capacity ratio). Untuk tipe shell
and tube persamaan efektivitas adalah :

=2

1 + c+ 1+c

1+exp [NTU 1+c 2 ]

1exp [NTU 1+c 2 ]

Dengan C = 0,6426 dan NTU CuNi = 0,468 maka nilai efektivitas


() Oil Cooler Unit 4 A berbahan tube CuNi adalah:
=2

2
2 1+exp [0,468 1+(0,6426) ]
1+ 0,6426+ 1+(0,6426)
1exp [ 0,468 1+(0,6426)2 ]

= 0,331898 33,1898 %
Dengan C = 0,6426 dan NTU Stainless = 0,238 maka nilai
efektivitas () Oil Cooler Unit 4 A berbahan tube Stainless adalah :
=

2 1+0,6426+ 1+( 0,6426)

1+exp [0,238 1+(0,6426)2 ]


1exp [0,238 1+(0,6426)2 ]

= 0,197978 19,7978%

Dari perhitungan yang telah dilakuakan, terlihat bahwa material CuNi


lebih efektif dibandingkan material stainless steel.

57

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Oil Cooler untuk Thrust and Lower Bearing (T/L Bearing) Unit 4
memiliki bahan tube yang berbeda, unit A menggunakan bahan
tembaga-nikel (CuNi) dan unit B menggunakan bahan Stainless steel.
Penggantian dimaksudkan agar sisi tube lebih tahan terhadap korosi,
imbas memburuknya kondisi air sungai Citarum yang digunakan.
Performa kedua Oil Cooler untuk T/L Bearing berbeda dapat ditinjau
langsung pada data temperatur oli keluar kedua unit Oil Cooler,
dimana Oil Cooler yang menggunakan bahan CuNi (unit A) mampu
mengeluarkan oli bertemperatur lebih rendah daripada Oil Cooler yang
menggunakan bahan stainless steel.
Melalui NTU-effectiveness method, didapat efektivitas Oil Cooler
thrust and lower bearing unit 4A berbahan CuNi memiliki efektivitas
() sebesar 33,189 % sedangkan Oil Cooler thrust and lower bearing
unit 4B berbahan stainless steel memiliki efektivitas () sebesar 19,797
ffl%.
Ditinjau dari perpindahan panas maka Oil Cooler thrust and lower
bearing

unit

4A bermaterial

CuNi

lebih

efektif

digunakan

dibandingkan unit 4B yang bermaterial stainless steel, karena proses


perpindahan panas pada unit 4A berlangsung lebih cepat, dan selisih
temperatur oli yang masuk dan keluar lebih besar.
Dengan lebih efektifnya material CuNi (unit 4A), maka oli pada thrust
and lower bearing akan lebih dingin dibandingkan dengan Oil Cooler
thrust and lower pada unit 4B.
5.2. Saran
Perlunya memiliki flowmeter untuk mengukur sisi aliran oli, agar ketika
temperature thrust and lower bearing panas bisa ditinjau selain dari
58

tingkat kebersihan tube tapi juga dari jumlah aliran oli, apakah sesuai
dengan spesifikasi pabrikan atau tidak.

59

Tabel A-1. Kegiatan Lapangan


Berikut lampiran kegiatan Kerja Praktik yang dilakukan selama 24 hari :
No
.

2
3
4

Tanggal

Senin/
9 Maret 2015

Selasa/
10 Maret 2015
Rabu/
11 Maret 2015
Kamis/
12 Maret 2015
Jumat/
13 Maret 2015

Uraian Kegiatan

Lokasi

Laporan ke bagian Humas dan Keamanan


Pengurusan administrasi Kerja Praktik
Pengenalan mengenai sistem Air Cooler dan Oil
Cooler

Humas dan Keamanan


Humas dan Keamanan
Ruang Pemeliharaan
Mesin

PIC
Pak Asep
Pak Asep
Pak Jajang, Pak
Syaikhu, dan Pak

PLTA, Unit 2
PLTA, Unit 1

Afri
Bapak Afri
Bapak Afri

Kunjungan ke Dam Control Center (DCC)

Dam Control Center

Bapak Afri

Data Record Unit 4


Corrective Maintenance, pembongkaran pompa

PLTA, Unit 4
PLTA, Unit 4

Bapak Afri
Bapak Dian

Main Water Supply Pump A (MWSP), Unit 4


Penggantian bearing 1 (bearing sisi luar) dan gland

PLTA, Unit 4

Bapak Dian dan

Data Record Unit 2


Penjelasan peralatan untuk sistem Air Cooler dan
Oil Cooler

packing (sisi poros) pada Main Water Supply Pump


A (MWSP), Unit 4

60

Bapak Syamsul

7
8

Senin/
16 Maret 2015
Selasa/
17 Maret 2015
Rabu/
18 Maret 2015

Kamis/
19 Maret 2015

Data Record pada sistem Oil Cooler

Unit 1; 2; 3; dan 4,

Bapak Yudi

Penggantian gland packing ke mechanical seal pada

PLTA Saguling
PLTA, Unit 4

Bapak Teguh, Bapak

poros Main Water Supply Pump A (MWSP), Unit 4


Data Record parameter alat ukur
Penjelasan mengenai Tailrace

PLTA, Unit 2
Tailrace PLTA, Unit 2

Syamsul
Bapak Afri
Bapak Afri

Data Record sistem Oil Cooler

PLTA, Unit 1

Bapak Afri

Penggantian oil filter pada Governor Actuator


Pembongkaran Main Water Supply Pump A

PLTA, Unit 4
PLTA, Unit 4

Bapak Syamsul
Bapak Teguh, dan

(MWSP)
Data Record parameter alat ukur, sistem Air Cooler

PLTA, Unit 3; dan 4

dan Oil Cooler


Penginputan laporan Preventive Maintenance
Data Record parameter alat ukur, sistem Oil Cooler,

10

Senin/
23 Maret 2015

Dian, dan Bapak

dan sistem Air Cooler


Perbaikan pompa oil lifter
Penjelasan mengenai single diagram sistem PLTA
Saguling
Pengambilan data sampel sistem Air Cooler dan Oil
Cooler

61

Bapak Syamsul

Ruang Pemeliharaan

Bapak Soemantri

Mesin
PLTA, Unit1

Bapak Afri

PLTA, Unit 2
Ruang Pemeliharaan

Bapak Teguh, bapak

Mesin
PLTA, Unit 4

Syamsul
Bapak Afri

Dian, dan Bapak

Data Record parameter alat ukur, sistem Air Cooler


11

Selasa/
24 Maret 2015

dan Oil Cooler


Input laporan hasil Preventive Maintenance
Pengambilan data sampel sistem Air Cooler dan Oil
Cooler
Data Record parameter alat ukur, sistem Air Cooler

12

Rabu/
25 Maret 2015

dan Oil Cooler


Pengambilan data sampel sistem Air Cooler dan Oil
Cooler
Data Record parameter alat ukur, sistem Air Cooler

13

14

15
16

Kamis/
26 Maret 2015
Jumat/
27 Maret 2015

dan Oil Cooler


Pengambilan data sampel sistem Air Cooler dan Oil

PLTA, Unit 2

Bapak Afri

Ruang Pemeliharaan

Bapak Somantri

Mesin
PLTA, Unit 4
PLTA, Unit 3

Bapak Afri

PLTA, Unit 4
PLTA, Unit 4
PLTA, Unit 4

Cooler
Pembersihan glass pada ball cleaing pump

PLTA, Unit 1; dan 2

Penyusunan laporan Kerja Praktik

Komplek Cioray

Pembersihan glass pada ball cleaing pump

PLTA, Unit 3; dan 4

Pengambilan data sampel sistem Air Cooler dan Oil

PLTA, Unit 4

Cooler
Pengukuran dimensi Oil Cooler dan Air Cooler
Input laporan hasil Preventive Maintenance

PLTA, Base 1
Ruang Pemeliharaan

Senin/
30 Maret 2015
Selasa/
31 Maret 2015

62

Bapak Afri

Bapak Syamsul

Bapak Syaikhu, dan


Bapak Teguh

Bapak Somantri

17

18

19

20

Rabu/
1 April 2015

Kamis/
2 April 2015

Senin/
6 April 2015
Selasa/

Diskusi perhitungan perpindahan panas pada Oil

Mesin
Ruang Pemeliharaan

Cooler
Data Record parameter alat ukur, sistem Air Cooler

Mesin
PLTA, Unit 2; dan 3

dan Oil Cooler


Penyusunan laporan Kerja Praktik

Ruang Pemeliharaan

Bapak Afri

Mesin
Data Record parameter alat ukur, sistem Air Cooler

PLTA, Unit 4

dan Oil Cooler


Pengukuran dimensi tube air pendingin pada turbine

PLTA, Based 2

bearing
Penyusunan Laporan Kerja Praktik

Bapak Afri

Ruang Pemeliharaan

Preventive Maintenance pengambilan data Air

Mesin
PLTA, Unit 1; 2; 3;

Cooler dan Oil Cooler


Penyusunan Laporan Kerja Praktik

dan 4
Ruang Pemeliharaan

Monitoring Generator
Penyusunan Laporan Kerja Paktik

Mesin
PLTA, Unit 1; dan 2
Ruang Pemeliharaan

7 April 2015

Mesin

63

Bapak Yudi

Bapak Rudi

Tabel A-2. Nilai Konduktivitas Logam Tertentu pada Temperatur Standar

64